Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Biarkan Kenangan Tetap Indah
Sekitar 20 menit naik bus dari Stasiun Barat. Fasilitas pameran di Pelabuhan Mikawa, Kamomeria.
Bagi
siswa SD di Toyohashi, tempat ini adalah lokasi klasik untuk kunjungan studi
sosial, berdampingan dengan museum sumber daya bawah tanah.
Di
ruang pamerannya, terlihat siswi kelas dua SMA Tsuwabuki, Yakishio Lemon.
Dengan
mulut sedikit terbuka, ia menatap sekoci penyelamat raksasa yang paling
mencolok di ruang pameran itu.
Dari
belakang, seorang gadis berkacamata dengan rambut kepang mendekat. Yakishio
Nagi, siswi kelas satu SMP Momozono.
Saat
menemukan kakaknya, ia menutup buku catatan yang sedang ia tulis.
"Kak,
sudah waktunya pindah ke tempat berikutnya."
"Nagi,
lihat ini?! Yang bisa menyelam ke laut!"
Lemon
berbalik dengan mata berbinar. Melihat kakaknya yang polos, Nagi menghela
napas.
"Itu
bukan kapal selam, tapi sekoci penyelamat."
"Ooh,
jadi menyelam buat menolong ya."
Sepertinya
Nagi menyerah menjelaskan. Ia berdiri di samping Lemon sambil menatap sekoci
itu.
"Waktu
kelas lima SD kita pernah ke sini, kan? Kamu nggak dengar penjelasannya?"
"Nggak
dengar sih. Kayaknya sempat dimarahin guru."
Dengan
nada ceria Lemon berkata begitu, lalu mengintip buku catatan di tangan Nagi.
"Sampai
di sini pun kamu masih belajar ya."
"Aku
kan sudah bilang, aku lagi meneliti tentang Teluk Mikawa buat tugas bebas
pelajaran IPS."
Mengabaikan
ekspresi kesal adiknya, Lemon melipat tangan sambil mengangguk-angguk.
"Jadi
karena itu kamu datang ke sini. Kalau ada yang nggak kamu ngerti, tanya kakak
saja!"
"Eh...
nggak usah."
Nagi
menggeleng keras.
"Nggak
usah sungkan gitu. Lihat, di sana ada mobil keren. Toyota ya."
"Di
situ tertulis Volkswagen sih."
"Di
Aichi semua mobil itu Toyota. Kamu sudah catat belum?"
Nagi
mengangguk lalu berpura-pura menulis di buku. Pengalamannya menjadi adik selama
12 tahun bukan tanpa alasan.
"Kak,
lantai satu sudah selesai dilihat. Boleh ke menara observasi?"
"Boleh!
Ayo lomba naik, aku lewat tangga, kamu lewat lift!"
Nagi
menatap kakaknya yang bersemangat dengan mata dingin di balik kacamata.
"Naik
lift saja yang benar. Kakak kan baru dimarahin Mama waktu itu."
"...Iya."
Lemon
mengangguk patuh lalu mengikuti Nagi menuju lift.
Yakishio
Nagi, 12 tahun. Ia sudah terlalu berpengalaman menjadi adik Lemon selama
bertahun-tahun.
◇
Lantai
yang dicapai lift adalah ruang observasi, dari ketinggian lantai empat,
pelabuhan Mikawa bisa terlihat jelas.
Sambil
melirik kakaknya yang berseru gembira berlari ke jendela, Nagi mulai membaca
panel pameran di dinding.
"Eh,
mobilnya banyak banget dan rapi ya. Apa orang yang kerja di pelabuhan jago
nyetir semua ya?"
Nagi
melirik Lemon sekilas lalu kembali menatap pameran.
"Itu
motor pool. Katanya tempat parkir mobil yang mau diekspor ke luar negeri."
"Ooh.
Berarti itu mobil luar negeri?"
Gerakan
pensil Nagi di buku catatan berhenti.
"...Kalau
di negara tujuan ekspor, mungkin dianggap mobil luar negeri."
"Berarti
semuanya mobil luar ya. Keren."
SMA
Prefektur Tsuwabuki. Sekolah favorit terbaik di daerah ini, sekaligus sekolah
yang ingin dimasuki Nagi──dan juga almamater Lemon.
Beberapa
pikiran kurang sopan sempat muncul, tetapi Nagi memaksanya menghilang dari
kepalanya.
"Nagi
nggak lihat pemandangan? Kalau cuma baca tulisan terus kan bosan."
"Aku
mau lihat ini."
Nagi
mendorong kacamatanya sambil menghela napas.
"Aku
memang berterima kasih sudah diajak ke sini, tapi kalau bosan kakak nggak perlu
memaksakan diri."
"Soalnya
Nagi dari dulu pengen ke sini, kan?"
Saat
Nagi hendak membalas, ia terdiam, dan Lemon melanjutkan.
"Waktu
kelas lima SD kamu sakit, jadi nggak ikut kunjungan studi sosial."
"Kak,
kamu ingat ya."
Lemon
mendekat lalu memeluk Nagi dari belakang.
"Nagi
waktu itu kelihatan sangat menantikannya. Kalau bilang ke Papa, pasti langsung
diajak ke sini kok."
"Bilang
kalau aku menantikan kunjungan studi itu... agak memalukan."
Nagi
menutup buku catatannya dengan kasar.
"Waktu
itu kakak yang merawat aku, kan?"
"Ah,
iya, ada ya."
"Kamu
mau masakin aku, tapi dapurnya jadi berantakan banget. Lupa?"
"Ah...
kayaknya memang ada ya."
Lemon
tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.
"Ah,
ingat. Aku bikin bubur, kan?"
"Rasanya
parah banget."
Nagi
berkata begitu sambil tertawa. Lemon ikut tertawa. Setelah tertawa sejenak,
Nagi melepas kacamatanya dan mengusap sudut matanya.
"Kak,
hari ini makas──"
"Ah,
ada teropong! Nagi, ayo lihat juga!"
"...Aku
nggak mau."
Menanggapi
kakaknya yang bersemangat dengan dingin, Nagi kembali membuka buku catatannya.
12
tahun menjadi adik. Ia sudah lama menemani kakak seperti ini.
Ceria,
cepat lari, cantik, dan populer. Hanya karena menjadi adik Lemon, ia sering
menjadi pusat perhatian orang sekitar.
Namun
kakak seperti itu juga pernah melepas sekumpulan jangkrik yang ditangkapnya ke
dalam kamar saat musim panas, dan membuat manusia salju di tengah kamar saat
musim dingin──sepanjang tahun, selalu saja membuat keributan di keluarga
Yakishio.
...Tapi
belakangan ini kakaknya terasa sedikit lebih dewasa. Ia sudah tidak memanjat
pohon di depan umum, dan tidak lagi berjalan keliling rumah hanya dengan handuk
setelah mandi.
Mungkin
dia sudah punya orang yang disukai. Tapi laki-laki yang datang ke rumah tempo
hari terlihat tidak bisa diandalkan dan dikelilingi banyak perempuan, jadi
sebaiknya dihindari──
Saat
Nagi memikirkan itu, Lemon tiba-tiba berteriak dari belakang.
"Kak,
berisik. Kamu nemu kejadian apa?"
"...Aku
nemu mayat."
"Hah?"
Lelucon
macam apa ini. Saat Nagi berbalik, Lemon memegang teropong dengan wajah pucat
dan gemetar.
"...Kak,
maksudnya mayat itu apa?"
Saat
Nagi bertanya dengan hati-hati, Lemon seperti tersadar lalu bergerak.
"Aku
cek ke sana dulu, Nagi tetap di sini!"
Setelah
menyodorkan teropong ke Nagi, Lemon langsung berlari menuju tangga darurat.
◇
Beberapa
menit berjalan kaki dari Kamomeria terdapat gedung konser Lifeport Toyohashi.
Hari ini tampaknya tidak ada acara, sehingga suasana sekitar sepi.
Lemon
berlari menyeberangi area parkir yang luas, lalu mendekati gedung.
Di
depan bangunan terdapat kolam dangkal dengan air mancur, dan di
depannya──seorang wanita muda terbaring.
Sosoknya
persis sama seperti yang terlihat dari ruang observasi lewat teropong, membuat
keringat dingin mengalir di punggung Lemon.
Lemon
menelan ludah lalu mendekat perlahan.
Wanita
yang terbaring itu memiliki rambut panjang cokelat muda. Pakaiannya dengan
bagian dada terbuka lebar memberi firasat seperti sebuah insiden──
"Orang
ini, anggota OSIS...?"
Kata-kata
itu tanpa sadar keluar, dan ingatan Lemon pun tersentak.
Yang
terbaring adalah siswi kelas tiga yang pernah bertengkar dengan
Tsukinoki-senpai. Kalau tidak salah, Shikiya-senpai.
Saat
itu, ujung jari Shikiya sedikit bergerak. Lemon buru-buru mendekat dan
mengangkat tubuhnya.
"!
Kamu nggak apa-apa?!"
Saat
dipanggil, bulu mata panjang Shikiya sedikit bergerak.
"Kamu...
anak klub atletik ya...?"
"Aku
Yakishio dari klub atletik. Ada apa?"
"Lebih
panas dari yang kukira... lalu kehabisan tenaga..."
Shikiya
mengangkat satu tangan dengan lemah.
"Aku
mau ke mesin penjual minuman di sana..."
"Mesin
penjual? Baik, serahkan padaku!"
Lemon
mengangkat tubuh Shikiya dengan tenaga penuh lalu berlari ke bangku di samping
mesin penjual minuman.
"Senpai
duduk di sini saja. Aku yang beli."
"Air...
yang rasa persik..."
"Baik!
Ini, silakan!"
"Tolong
minumkan...?"
"Baik!
Tolong buka mulut!"
Yakishio
memasuki mode junior klub olahraga. Saat ia menyuapkan minuman dari botol
plastik, minuman yang tumpah dari mulut Shikiya jatuh ke bagian dada pakaiannya
yang terbuka lebar.
"Maaf,
jadi tumpah."
Saat
Lemon hendak menyerahkan saputangan, jari ramping Shikiya menangkap tangannya.
"Tolong
lapkan...?"
"Baik──eh,
bagian itu Senpai lap sendiri saja boleh?"
Mungkin
karena naluri liar, Lemon berhasil menghindari bahaya tipis sekali, lalu
memeriksa wajah Shikiya.
"Kepalanya
pusing nggak? Heatstroke itu bahaya loh."
"Aku
tidak apa-apa... sudah membaik..."
Shikiya
berdiri dengan goyah lalu berjalan dengan langkah yang jelas belum pulih.
"Mau
ke mana?"
"Pulang...
ke rumah..."
Mendengar
itu, Lemon memutar ke depan Shikiya lalu berjongkok membelakanginya.
"Aku
gendong saja ya."
"Boleh...?"
"Aku
sudah terbiasa, jadi tidak masalah!"
Bagi
Lemon yang pernah berlari beberapa kilometer sambil menggendong Komari, ini
bukan hal sulit. Namun saat Shikiya naik ke punggungnya──tubuh Lemon langsung
diliputi hawa dingin.
Tanpa
sadar Lemon membeku, dan Shikiya menyandarkan hidungnya ke tengkuknya.
"Hya?!"
"Wangi..."
"Tangan
Senpai dingin──jangan-jangan Senpai sudah mati?!"
"Kalau
begitu... hangatkan...?"
Tangan
Shikiya meraih bagian dada seragam Lemon.
"Karena
dingin bukan berarti boleh memasukkan tangan ke bajuku ya?!"
"Rasanya...
bukan pertama kali menyentuh..."
"Ini
pertama kalinya ada yang menyentuh di situ!"
Saat
itu, seseorang berlari mendekat. Itu Yakishio Nagi. Setelah menenangkan napas
sambil menekan dadanya, ia mendorong kacamatanya dengan kesal.
"Kak,
aku cari-cari kamu. Jangan tiba-tiba lari... dong..."
Nagi
kehilangan kata-kata, wajar saja.
Ia
akhirnya menemukan kakaknya yang tiba-tiba kabur, tetapi malah melihat kakaknya
menggendong wanita asing sambil diraba-raba. Bagi Nagi yang masih berada di
masa wajib belajar, informasi ini terlalu berlebihan.
"Nagi?!
Ini, ehm, Senpai dari sekolah!"
"Ngapain
kamu sama Senpai sekolah?!"
Melihat
Nagi yang panik, Shikiya bergumam pelan.
"Tidak...
baik untuk pendidikan..."
Lalu
ia turun dari punggung Lemon dan berjalan lemas.
"Senpai,
sendirian nggak apa-apa?"
"Tidak
apa-apa... sudah panggil taksi..."
Saat
pergi, Shikiya menoleh sekali lalu melambaikan tangan.
"Sampai...
nanti."
"Ah,
iya."
Saat
Lemon membalas lambaiannya dengan bingung, Nagi menabraknya sambil memeluk.
"Kak,
orang itu siapa sih?!"
"Entahlah...
siapa ya."
Shikiya
Yumeko, siswi kelas tiga SMA Tsuwabuki.
Sambil
merasakan aroma parfum yang entah kenapa terasa familiar di sekitar lehernya,
Lemon menatap punggungnya yang semakin menjauh.



Post a Comment