NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 8

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Tanaka-san dari Keluarga Shiratama


 Sepulang sekolah di gedung sekolah. Aku merapikan kembali dasiku di depan ruang OSIS.

 

…Di dalam ada tanda-tanda keberadaan seseorang.

 

Memang tujuanku datang untuk menyerahkan dokumen, tapi siapa yang ada di dalam itu yang jadi masalah.

 

Saat ini anggota OSIS terdiri dari tiga orang: ketua Tiara, wakil ketua Sakurai-kun, dan sekretaris Shiratama.

 

Kalau yang ada di dalam cuma Tiara sendirian, suasananya bakal jadi aneh, jadi sebisa mungkin ingin kuhindari.

 

SSR Sakurai gacha, tolong muncul dong…

 

"…Permisi."

 

Saat membuka pintu ruang OSIS, di sana berdiri seorang siswi. Shiratama Riko.

 

Shiratama menarik kembali tangannya yang tadi menjangkau rak buku, lalu tersenyum manis kepadaku. Imut.

 

"Ketua klub, ada perlu apa?"

 

"Eh, aku datang buat menyerahkan laporan keuangan bulan lalu."

 

"Yah, kukira datang buat menemuiku."

 

Shiratama berjalan mendekat dengan langkah ringan, lalu menggenggam tanganku bersamaan dengan menerima dokumen.

 

"Ayo bilang saja kalau datang buat menemuiku."

 

Hei hei, jangan menggoda senior. Masa cuma karena tanganku digenggam aku bakal bilang begitu—

 

"Iya, aku datang buat menemuimu."

 

?! Kata-kata itu keluar sendiri dari mulutku…?

 

Saat aku merinding menyadari kekuatan menggoda Shiratama, dia menekan genggamannya.

 

"Kalau begitu, Ketua Klub. Akhir pekan nanti, mau datang bermain ke rumah pacar yang sangat kamu sukai?"

 

Pacar? Oh iya, kebohongan kalau aku sedang berpacaran dengannya ternyata masih berlanjut ya. Kenapa orang-orang di sekitarku suka sekali pura-pura punya pacar sih…

 

"Eh, soal itu. Bukannya lebih baik kita cepat meluruskan kesalahpahaman ini?"

 

"Tapi, kakakku ingin bertemu dengan pacarku."

 

Eh, kakaknya Shiratama mau bertemu denganku? Atau… Tanaka ya?

 

"Maaf, tapi tidak bisa. Kebohongan seperti ini tidak mungkin bertahan lama, lebih baik kita jujur saja."

 

"Kalau aku jadi jomblo, aku tidak bisa lagi manja seperti sekarang ke Onii-chan. Yang menyuruhku mendekati Onii-chan itu Ketua Klub, kan?"

 

"Itu—"

 

Melihat aku terdiam, Shiratama mendekat hingga jarak pita di rambutnya hampir menyentuhku.

 

"—Mau bertanggung jawab?"

 

 

…Kenapa jadi begini.

 

Tiga hari kemudian, hari Minggu. Aku berada di lingkungan perumahan asing, tiga stasiun dari SMA Tsuwabuki lewat jalur Atsumi, lalu berjalan kaki sepuluh menit.

 

"Eh, di sini ya…"

 

Saat mengalihkan pandangan dari peta di ponsel, yang ada di depanku adalah rumah dua lantai tua tapi terawat. Di papan nama tertulis "Shiratama", jadi sepertinya tidak salah.

 

Aku menghentikan jari yang hendak menekan bel tepat sebelum menyentuhnya.

 

—Kali ini aku datang dengan setting sebagai pacar Shiratama.

 

Aku yang bahkan hampir tidak mengenalnya, apakah bisa berperan sebagai pacar di depan kakak kandungnya?

 

Kalau di light novel atau manga, biasanya bakal dicurigai lalu disuruh membuktikan hubungan dengan berciuman di depan mata—situasi seperti itu. Pola itu sudah kubaca sekitar tiga kali.

 

………

………………Yah, terlambat dari janji juga tidak baik. Ya.

 

Saat aku berusaha menenangkan diri dan hendak menekan bel, seseorang memanggilku dari belakang.

 

"Ooh, Nukumizu. Tepat waktu ya."

 

"Sensei?!"

 

Tidak heran aku kaget. Di sana ada Amanatsu-sensei. Amanatsu-sensei tanpa memedulikanku langsung menekan bel.

 

"Ya, tunggu sebentar."

 

Suara perempuan yang terdengar sangat menggoda keluar dari interkom. Seperti suara yang pernah kudengar. Aku punya firasat buruk…

 

Yang membuka pintu adalah—guru UKS SMA Tsuwabuki, Konuki Sayo.

 

Konuki-sensei mengedipkan mata lalu menarik lenganku.

 

"Selamat datang. Minori dan Riko-chan sudah menunggu."

 

"Kenapa sensei ada di sini?"

 

"Nukumizu, sudah sampai sini jangan kabur."

 

Dalam keadaan hampir pasrah, aku diseret masuk ke dalam rumah oleh dua guru itu.

 

Tempat yang mereka bawa adalah ruang tamu rumah Shiratama. Di seberang meja pendek ruang tatami itu—ada dua perempuan.

 

Keduanya berdiri saat melihatku.

 

"Kazuhiko-san, selamat datang!"

 

Satu adalah (pacar palsuku), Shiratama Riko. Dan yang satu lagi—

 

"Selamat datang, Nukumizu-kun. Terima kasih sudah selalu menjaga Riko."

 

Shiratama Minori—atau sekarang Tanaka Minori. Aku dengan ragu membalas jabat tangan yang dia ulurkan.

 

 

"Silahkan, Kazuhiko-san."

 

"Ah, terima kasih…"

 

Sambil menyeruput teh hijau yang disiapkan Shiratama, aku mengamati para sensei yang duduk berjejer di depanku.

 

Di tengah ada kakak Riko, Tanaka Minori, dan di kanan kirinya duduk Konuki-sensei serta Amanatsu-sensei.

 

Saat aku merasa tidak nyaman, Shiratama yang duduk di sebelahku diam-diam meletakkan tangannya di pahaku.

 

"Sedikit tegang ya?"

 

"Yah, begitulah…"

 

Melihat aku terbata-bata, kakak Riko tersenyum seolah merasa bersalah.

 

"Maaf ya, mendadak menyuruhmu datang. Kamu pasti punya rencana kan."

 

Tidak punya.

 

Setelah akhirnya bisa sedikit tenang dalam situasi yang terasa familiar ini, aku meletakkan cangkir teh yang masih kugenggam.

 

"Eh, sebenarnya hari ini ada keperluan apa… kenapa aku dipanggil ke sini?"

 

"Karena kamu pacar pertama Riko, aku ingin sekali berbicara denganmu."

 

"Kakak sudah lama menantikan bertemu Kazuhiko-san."

 

Dengan bantuan adiknya, kakak Riko menunjukkan senyum yang lebih santai.

 

"Riko juga maaf ya. Padahal ini akhir pekan."

 

"Tidak kok. Bisa kencan di rumah dengan Kazuhiko-san, malah terasa beruntung."

 

Begitu ya, ini disebut kencan di rumah. Kalau benar-benar berpacaran dengan Shiratama, berarti bisa punya kencan rumah seperti ini ya… begitu…

 

Saat aku kembali menyeruput teh, kakak Riko tiba-tiba berkata,

 

"Nukumizu-kun, bagian mana dari Riko yang membuatmu jatuh hati?"

 

"Eh?"

 

Bagian yang kusukai dari seseorang yang bahkan bukan pacarku…?

 

Shiratama menatapku dengan wajah menikmati situasi, sementara para guru Tsuwabuki menunggu jawabanku dengan ekspresi menilai. Ini tidak boleh dijawab sembarangan.

 

"Eh, dia baik… keibuan… lalu…"

 

Deg. Empat pasang mata menatapku.

 

"Dia mau memungutkan penghapus… dan tipe yang membuatku khawatir sampai tidak bisa mengalihkan pandangan, mungkin itu."

 

Setelah entah bagaimana berhasil menyelesaikan jawabanku, aku diam-diam melirik kakak Riko.

 

…Hari ini pertama kali aku benar-benar melihat wajahnya dengan jelas, dan dia sangat mirip Shiratama.

 

Rambutnya sedikit lebih panjang dari adiknya, kecantikannya memadukan kesan dewasa dan polos, pasti sangat mencolok saat berdiri di podium guru. Kalau tidak ada hubungan apa-apa, aku mungkin ingin menukar wali kelas.

 

Kakak Riko memandang adiknya dengan tatapan geli.

 

"Fufu, begitu ya. Riko, bagaimana pendapatmu?"

 

"Hmm, masih kurang sedikit. Masih bisa lanjut kan, Kazuhiko-san?"

 

Eh, dia menyuruhku menambah kebohongan lagi?

 

Amanatsu-sensei menatapku dengan mata setengah menyipit, Konuki-sensei malah mengedipkan mata, membuatku makin tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.

 

—Pada akhirnya, sampai dibebaskan aku dipaksa menyebutkan sepuluh hal lagi yang kusukai, lalu ketika kakak beradik itu berdiri untuk menyiapkan kopi, aku langsung ambruk menelungkup di meja.

 

"…Hei, Nukumizu."

 

"Iya, ada apa?"

 

Saat mengangkat wajah, Amanatsu-sensei yang bertopang siku melambaikan tangannya.

 

"Kamu dengan Basori dari kelas F itu sebenarnya hubungan apa?"

 

"Tidak… cuma teman."

 

"Hoh, cuma teman tapi bisa masuk rumahnya? Lawannya perempuan, lho?"

 

Kalau mau bilang begitu, tolong atasi dulu kamarku yang sudah jadi ruang bebas. Mereka bahkan menambahkan bookmark di browser komputerkku seenaknya.

 

Saat aku menghindari jawaban, Konuki-sensei menyela.

 

"Ah, meskipun tidak pacaran, bukan berarti tidak boleh masuk kamar. Justru rasa bersalahnya terasa menggairahkan, bukan?"

 

Aku berterima kasih atas upaya kalian menjaga situasi, tapi sebisa mungkin tolong hindari ungkapan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.

 

Amanatsu-sensei melotot ke arah Konuki-sensei, lalu kembali menghadapku.

 

"Lalu, hubunganmu dengan Yakishio bagaimana? Kamu masih ingat kejadian gudang olahraga tahun lalu, kan."

 

Tentu saja, sensasi itu──bukan, maksudku situasi yang mengancam nyawa itu, mana mungkin kulupakan.

 

"Eh, itu benar-benar salah paham. Dari awal pun aku dan Yakishio tidak punya hubungan seperti itu."

 

"Bukankah itu justru bagus. Karena bukan hubungan seperti itu, jadi bisa makin membara."

 

Konuki-sensei, tolong diam sebentar.

 

Ekspresi Amanatsu-sensei makin lama makin tegang. Padahal aku tidak bersalah.

 

"Dengar, Nukumizu. Kalau pacaran, bisa saja putus, lalu mungkin pacaran lagi dengan orang lain. Tapi kalau sampai gonta-ganti perempuan di sekitarmu, menurutku itu tidak baik."

 

"Aku tidak melakukan hal seperti itu."

 

…Kenapa aku mendapat kesalahpahaman seperti itu?

 

Memang musim panas tahun lalu aku terlihat memeluk Yakishio yang setengah telanjang di gudang olahraga, lalu tersebar juga kalau aku pernah pergi ke rumah Tiara, dan aku juga pernah berbohong kalau sedang pacaran dengan Shiratama.

 

Ditambah lagi musim dingin tahun lalu, aku sampai dicurigai terlibat hubungan segitiga dengan Shikiya dan Tiara di gymnasium. Tapi tetap saja, aku tidak pantas mendapat kesalahpahaman seperti ini.

 

Saat aku bingung bagaimana meluruskannya, Konuki-sensei membuka suara.

 

"Kami khawatir karena sudah mengenal Riko sejak lama. Setelah masa skorsingnya berakhir, dia belum bisa berbaur di kelas, lalu langsung mulai pacaran denganmu."

 

Dengan nada menenangkan, dia meletakkan tangan di bahu Amanatsu-sensei.

 

"Menurut sensei sih, walaupun sudah punya pacar tapi masih belum benar-benar putus dengan mantan, lalu bersenang-senang cosplay dengan Basori-san, itu juga tidak masalah lho."

 

"Tentu saja bermasalah?!"

 

Amanatsu-sensei langsung menimpali. Aku sepenuhnya setuju, dan itu juga sepenuhnya salah paham.

 

Konuki-sensei menatapku dengan mata yang sedikit lebih serius.

 

"Tapi, aku ingin kamu tetap menjadikan Riko sebagai yang paling penting. Anak itu jauh lebih mudah terluka daripada yang kamu bayangkan."

 

"Sensei…"

 

Aku benar-benar paham kalau Konuki-sensei dan yang lain sangat menyayangi Shiratama. Masalahnya cuma satu, semua ini berdasar pada kesalahpahaman.

 

Tapi suasananya terasa bagus, jadi mungkin lebih baik aku diam saja…

 

Mungkin karena mengira aku mengerti, Konuki-sensei melunak lalu mengangkat jari telunjuknya.

 

"Kalau suatu saat diperlukan, bolehkah aku memberi satu saran?"

 

"Tidak, tidak perlu."

 

Walau aku menolak tegas, Konuki-sensei tetap melanjutkan.

 

"Kalau tertusuk, yang paling penting adalah mencegah putaran."

 

Saran yang benar-benar melenceng jauh datang.

 

"…Eh, maksudnya?"

 

"Kalau ujung pisau yang sudah masuk ke tubuh diputar, kerusakan pada pembuluh darah dan saraf bisa jadi sangat besar. Usahakan menahan bilahnya agar tidak bergerak, sambil mencegah lawan mengambil posisi di atas."

 

"Begitu ya."

 

Ternyata pengetahuan yang berguna. Dan sepertinya dalam waktu dekat aku akan tertusuk.

 

"Selain itu, kalau tidak ada saksi, bentuk luka pertahanan juga penting untuk membuktikan niat membunuh. Tidak perlu memaksakan diri menghindari luka di tangan, pegang saja pisaunya dengan kuat."

 

"Saran itu terdengar seperti dengan asumsi aku sudah mati? Aku bakal dibunuh ya?"

 

Konuki-sensei hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Aku tidak ingin mati.

 

Saat mengirim tatapan minta tolong, Amanatsu-sensei memberi senyum paling lembut hari ini.

 

"…Mau kukenalkan asuransi yang bagus?"

 

 

Setelah meletakkan bantal lucu berwarna pink, Shiratama menepuk-nepuknya.

 

Kencan di rumah sudah memasuki paruh akhir, dan aku diajak ke kamar Shiratama Riko.

 

"Silakan duduk, Kazuhiko-san."

 

"A-ah, iya. Permisi…"

 

"Maaf ya kakakku banyak bicara. Capek, kan?"

 

"Iya, capek."

 

Aku menjawab jujur sambil duduk di bantal.

 

Masuk ke kamar pribadi perempuan, ini kedua kalinya bagiku (kalau tidak menghitung rumah Komari), setelah kamar Tiara.

 

Kamar Shiratama berlantai kayu dengan dominasi warna putih, dan di sisi dinding ada meja rias.

 

Aroma parfum yang lembut memenuhi ruangan, dan setiap kali Shiratama bergerak, udara di kamar terasa bergoyang dengan nyaman.

 

──Inilah kamar perempuan yang sesungguhnya.

 

Diajak masuk kamar memang bagus, tapi apakah pacar palsu sepertiku pantas berada di sini… Saat aku gugup karena rasa bersalah, Shiratama meletakkan satu bantal lagi di sampingku lalu duduk.

 

"Eh, kenapa duduk di sebelahku?"

 

"Aku kan pacarnya Kazuhiko-san, jadi wajar, kan?"

 

Oh iya. Shiratama itu pacarku, jadi duduk di sebelah tidak masalah──

 

"Tidak, kita cuma pura-pura pacaran, kan? Lagi pula kita berdua saja di kamar, tidak perlu memanggil dengan nama depan."

 

"Hmm, tapi bisa saja ada yang mendengar. Lagi pula mumpung kita berdua saja──"

 

Shiratama menyandarkan kepalanya di bahuku.

 

"Boleh kita berpura-pura jadi pacar sedikit lebih lama?"

 

"Heh?!"

 

Berdua saja di kamar pacar. Kalau begitu, tindakan yang biasanya dilakukan pacar adalah────

 

Tunggu, itu bahaya. Aku juga laki-laki. Kalau sampai tanpa sadar menyentuh bagian belakang lutut atau semacamnya, bisa jadi masalah besar.

 

"Shiratama, lelucon seperti itu tidak baik."

 

"Kalau pura-pura sebagai lelucon… tidak boleh?"

 

"Ya bukan tidak boleh sih…"

 

"…Karena cuma pura-pura, kamu boleh melupakannya besok."

 

Berat kepalanya di bahuku terasa sedikit bertambah.

 

Ini mungkin cuma leluconnya. Karena lelucon, aku tidak akan menganggapnya serius, tapi aromanya manis dan harum, jadi mungkin tidak apa-apa kalau tetap seperti ini sedikit lebih lama──

 

Saat aku membeku dalam kegugupan, terdengar suara langkah mendekat ke kamar dari lorong.

 

Langkah yang agak besar itu berhenti di depan pintu, lalu terdengar ketukan pelan.

 

"Kalian berdua, boleh bicara sebentar?"

 

"!!"

 

Suara itu milik Tanaka-sensei. Shiratama buru-buru berdiri lalu membuka pintu.

 

"Onii-chan, ada apa?"

 

"Aku dengar Nukumizu-kun datang, jadi kupikir sekalian menyapa──"

 

Ucapan Tanaka-sensei terhenti saat pandangannya jatuh pada dua bantal yang berjajar. Dia segera mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tenang.

 

"Selain itu, aku membeli kue, mau turun makan bersama?"

 

Shiratama berdiri menutupi pandangan Tanaka-sensei sambil menepuk tangan dengan senang.

 

"Wah, terima kasih. Kazuhiko-san, ayo kita turun."

 

"I-iya."

 

Aku mengangguk canggung lalu keluar kamar bersama Shiratama.

 

Tanaka-sensei terlihat sedikit canggung… tapi aku juga canggung.

 

 

──Kencan di rumah yang terasa seperti membuat perut bolong akhirnya berakhir.

 

Aku menolak dengan tegas untuk diantar pulang, lalu menundukkan kepala kepada para sensei di depan pintu masuk rumah keluarga Shiratama.

 

"Hari ini terima kasih sudah mengundangku."

 

"Aku senang bisa banyak mengobrol. Sampai jumpa lagi di sekolah."

 

Saat aku berjabat tangan dengan Tanaka-sensei, Amanatsu-sensei menepuk-nepuk bahuku.

 

"Oi, Nukumizu, yang tegas ya. Kalau sudah situasi serius, konsultasi saja ke Konuki-chan."

 

"Ya, dengan senang hati. Tempat tidur di UKS selalu siap kok."

 

Aku mengangguk sambil tersenyum, sembari berjanji dalam hati untuk tidak mendekati UKS untuk sementara waktu.

 

Saat hendak pulang, kakaknya Riko mendekat secara santai lalu berbisik di telingaku.

 

"──Tolong jaga Riko ya, Ketua Klub."

 

Ia tersenyum lembut pada diriku yang membeku, lalu menepuk punggungku pelan sebelum menjauh.

 

...Seperti dugaanku, orang ini memang kakaknya Shiratama Riko.

 

Sambil mengkhawatirkan masa depan Tanaka-sensei, aku pun bergegas meninggalkan rumah keluarga Shiratama.

 

 

Aku berjalan menuju stasiun terdekat di jalan satu lajur tanpa trotoar.

 

Saat mobil melintas, aku menepi di pinggir jalan sambil menatap langit yang mulai tenggelam oleh matahari.

 

...Kali ini aku berhasil melewatinya, tapi kalau begini terus bakal merepotkan.

 

Memang sebaiknya dibicarakan dengan serius dan mengatakan yang sebenarnya.

 

Memang benar Shiratama-san itu lembut dan harum, tapi aku bukan tipe yang mudah terpengaruh hal seperti itu.

 

...

............

..................Ya, aku bukan tipe yang mudah terpengaruh.

 

"Kazuhiko-saaan, tunggu dong!"

 

Saat aku menoleh karena suara itu, Shiratama-san berlari dari belakang. Begitu menyusulku, ia menempelkan tangan di dadanya sambil mengatur napas.

 

"Ada apa? Apa ada barang yang tertinggal?"

 

"Aku berpikir, sebagai pacar, aku harus mengantar Kazuhiko-san sampai stasiun."

 

Shiratama-san menunjukkan senyum sempurna, tapi kali ini aku tidak akan terpengaruh lagi.

 

"Kali ini para sensei sudah tidak ada, jadi tidak perlu berpura-pura lagi kok."

 

"Selama belum sampai rumah, aku tetap pacarmu, tahu?"

 

Mengatakannya dengan nada usil, ia mencoba berjalan mendahuluiku.

 

...Yah, karena aku tidak terpengaruh, mungkin tidak apa-apa menemaninya sedikit lagi.

 

"Tunggu, bukan lewat situ."

 

"Bukannya kita mau ke stasiun?"

 

"Jalan itu berbahaya karena banyak mobil, jadi kita lewat jalan lain saja."

 

Kalau cuma aku sendiri sih tidak masalah, tapi kalau berjalan bersama Shiratama-san tentu beda cerita.

 

Saat kami kembali melalui jalan yang tadi dilewati, Shiratama-san tiba-tiba menundukkan kepala.

 

"Kazuhiko-san, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku benar-benar terbantu."

 

"Ah, ya, semacam sudah terlanjur ikut campur saja sih. Hal seperti ini cukup sering terjadi."

 

"Fufu, sering terjadi ya. Pacarku ternyata populer."

 

Nada bercanda Shiratama-san membuat sudut bibirku tanpa sadar ikut terangkat.

 

Yah, bertemu keluarga teman bukan kebohongan juga. Aku pernah membuat kue dengan ibu Yakishio, disembur susu oleh Yakimo-chan, bermain dengan Chibisuke, bahkan pernah ketahuan adik Basori saat melakukan play telinga kucing.

 

"Kalau begitu, izinkan aku membalas kebaikanmu kali ini. Kamu ingin apa?"

 

"Kalau kamu mengantarku sampai stasiun saja, itu sudah cukup kok."

 

Sejujurnya, aku ingin menghindari hutang budi lebih dari ini.

 

Aku mengatakannya setengah bercanda, tapi Shiratama-san tiba-tiba terdiam menatapku.

 

Eh, apa ucapanku tadi terdengar menjijikkan ya? Entah kenapa rasanya begitu.

 

"Eh, maksudku tadi tidak punya arti khusus──"

 

"Sejujurnya, aku kabur karena kalau di rumah pasti dihujani pertanyaan."

 

Setelah mengatakan itu, Shiratama-san kembali terdiam.

 

...Yah, memang begitu jadinya.

 

Kami pun terus berjalan berdampingan tanpa bicara.

 

Saat berhenti di lampu merah persimpangan, Shiratama-san menatap kendaraan yang lalu-lalang dengan pandangan jauh.

 

"Menjadi diriku yang anak baik di depan kakak perempuan dan kakak laki-lakiku──sedikit melelahkan."

 

"................Begitu ya."

 

Ekspresi yang sesekali ditunjukkan Shiratama-san ini adalah ekspresi seorang gadis yang rapuh dan sensitif sesuai usianya.

 

Aku tidak bisa mengatakan apa pun, hanya bisa berdiri di sampingnya.

 

Lampu lalu lintas berubah hijau, dan kami kembali berjalan dalam diam. Saat berjalan di trotoar sepanjang sawah, aku mengutarakan hal yang sempat kupikirkan tadi.

 

"Mungkin kakakmu menyadari kalau kita sebenarnya tidak berpacaran."

 

"...Kenapa kamu berpikir begitu?"

 

Nada serius Shiratama-san membuatku sedikit gugup.

 

"Saat perpisahan tadi, dia memanggilku Ketua Klub."

 

"Ketua Klub──"

 

Setelah mendengarnya, Shiratama-san berpikir sejenak lalu membuka mulutnya.

 

"──Apa kamu tidak membocorkan sesuatu?"

 

"Hah?"

 

Melihat jawabanku yang bodoh, Shiratama-san menunjukkan senyum penuh percaya diri.

 

"Dia sedang memancing. Kakakku menunggu Kazuhiko-san membuat kesalahan."

 

"Berarti dia sudah tahu?"

 

Shiratama-san tetap menatap ke depan sambil menggeleng.

 

"Kalau kakakku sudah yakin, dia tidak akan menggertak seperti itu. Menyimpan rahasia justru membuatnya memegang kendali."

 

"B-begitu ya."

 

...Kakak beradik ini hidup di dimensi yang berbeda dariku.

 

Baiklah, ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhirku ke rumah keluarga Shiratama.

 

Aku akan menghabiskan waktuku di rumah keluarga Nukumizu sambil menyentuh gumpalan bulu lembut bersama Kaju.

 

Tanpa sadar langkahku menjadi lebih cepat, tapi Shiratama-san tiba-tiba menarik lenganku.

 

"Kazuhiko-san, tolong jalan sedikit lebih pelan."

 

"Ah, maaf."

 

Saat aku berhenti, Shiratama-san justru memaksakan diri menyilangkan lengannya dengan lenganku.

 

"Fufu, sekarang kamu tidak bisa kabur ya."

 

"Hei, meskipun cuma pura-pura, tidak perlu sampai segitunya."

 

Tanpa menghiraukan kebingunganku, Shiratama-san tetap berjalan sambil menggandeng lenganku.

 

Aku pun melangkah seolah ditarik olehnya.

 

"Itu, Shiratama-san. Kalau ada orang sekolah yang melihat kita..."

 

"Kalau sudah dicurigai──mungkin sekalian jadi sungguhan juga tidak masalah."

 

"Hah? Maksudnya apa?"

 

Menanggapi pertanyaanku yang bodoh, Shiratama-san menatapku dengan senyum paling manisnya.

 

"──Kalau Ketua Klub benar-benar jadi pacarku, kira-kira kakakku akan terkejut tidak ya?"

 

Haa, pacar sungguhan ya.

 

Eh, maksudnya itu berarti aku dan Shiratama-san benar-benar berpacaran, bukan pura-pura lagi. Kalau begitu memang kecurigaan kakaknya akan hilang, dan kita tidak perlu berbohong lagi──

 

"Hah?! Tidak, tidak, lebih baik kamu lebih menghargai dirimu sendiri ya?!"

 

"Ini cuma bercanda kok, Kazuhiko-san."

 

Melihat reaksiku yang gagap, Shiratama-san tertawa kecil sambil melepaskan lenganku.

 

"──Untuk saat ini, sih."




Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close