Chapter 1
Pemandangan yang Dirindukan
April
telah berlalu, dan wilayah Clausel mulai diselimuti oleh hangatnya suasana
musim semi.
Musim
dingin yang baru saja lewat menyisakan banyak kenangan.
Berkat
material dari Thief Wolfen yang diburu Ren, nyawa seorang putri
bangsawan berhasil diselamatkan.
Dia
adalah Fiona Ignat, putri tunggal dari Marquis Ignat—sosok yang seharusnya
menjadi Last Boss dan mengibarkan bendera pemberontakan melawan Leomel
dalam legenda Seven Heroes I.
Ren
bertemu dengannya di Pegunungan Balder karena suatu alasan, dan berakhir harus
bertarung demi melindunginya.
Kala itu,
Pegunungan Balder tengah menjadi lokasi ujian akhir bagi Kelas Khusus
kebanggaan Institusi Militer Kekaisaran.
Insiden
di mana seluruh peserta dijebak oleh Kultus Raja Iblis tersebut masih
meninggalkan sisa-sisa kegemparan di berbagai penjuru Kekaisaran Leomel hingga
saat ini.
Setelah
insiden tersebut, Ren sesekali bertukar surat dengan Marquis Ignat.
Mengenai
informasi tentang Kultus Raja Iblis, Ren memberikan laporan bohong bahwa ia
hanya tidak sengaja mencuri dengar rumor di Serikat Petualang.
Beruntung,
Marquis Ignat tidak bertanya lebih jauh. Belum pasti apakah sang Marquis enggan
merusak hubungannya dengan Ren, atau karena ia memang sudah menaruh kepercayaan
penuh padanya.
Meski
begitu, sejujurnya Ren tetap tidak akan bisa menjawab jika dimintai informasi
lebih mendalam.
Sebagai
seseorang yang hanya memainkan gimnya sampai seri Seven Heroes II, ia
tidak tahu lebih banyak tentang Kultus Raja Iblis.
Walau ia
ingat beberapa lokasi di mana mereka akan muncul, sulit untuk memberitahukannya
di tahap ini, apalagi situasi sekarang sudah berubah menjadi tidak terduga
akibat adanya irregular.
Ren yang
sedang teringat berbagai hal itu kini berada di bangunan lama kediaman Clausel.
Sebagai sosok yang dipercaya mengelola gedung lama ini, ia berniat untuk segera
mulai menyapu area dalamnya.
Sambil
bermandikan cahaya matahari siang yang menembus jendela, ia merenung.
"……Rasanya
api Asval itu jauh lebih menyilaukan daripada sinar matahari ini."
Saat insiden
musim dingin, Naga Merah Asval sempat bangkit kembali dalam kondisi tidak
sempurna berkat kekuatan Fiona.
Kekuatan itu disebut Black Priestess. Menurut Fiona, Black
Priestess adalah sosok yang setara dengan Saintess bagi para
monster.
Seharusnya itu bukanlah kekuatan untuk membangkitkan orang
mati menjadi undead. Namun,
mungkin karena Asval memiliki kekuatan yang sangat jauh melampaui monster lain,
ia bisa bangkit kembali.
Bisa jadi efek
'memberikan kekuatan kepada monster' milik Black Priestess memberikan
pengaruh ajaib tertentu.
Sebagai gantinya,
Asval hanya bangkit secara tidak sempurna.
Tetap saja, naga
yang melegenda sejak era Seven Heroes masih hidup itu tetap sangat kuat
meski belum pulih sepenuhnya. Jika Asval bangkit dengan kekuatan aslinya, Ren
pasti tidak akan bisa menang.
"Aku juga
ikut diperkuat oleh kekuatan Nona Fiona, ya."
Ren kembali
mengenang.
Saat itu, darah
hitam yang mengalir dari tubuh Fiona memberikan semacam kekuatan kepada Ren.
"Sebenarnya
itu apa, ya?"
Dunia yang ia
masuki saat kehilangan kesadaran, serta Pedang Iblis hitam yang ia temukan di
sana.
Ditambah lagi
fakta bahwa Pedang Iblis api yang didapat dari Magic Stone milik Asval
telah berubah nama menjadi Flame Sword Asval—semuanya masih menjadi
misteri.
Bagi Ren, ia
tidak punya pilihan selain menganggap hal-hal itu terpengaruh oleh kekuatan Black
Priestess.
Apalagi mengingat
mana pemberi kekuatan pada monster—yang merupakan bagian dari kekuatan Black
Priestess—telah lenyap sejak insiden itu, ia merasa semua ini saling
berkaitan.
Ketika cahaya
jingga mulai menyelinap masuk dari luar jendela, Ren mengistirahatkan tubuhnya
sejenak di kursi yang ada di lorong lantai dua gedung lama.
Cahaya matahari
yang kian miring selagi ia asyik bersih-bersih kini terpantul di gelang milik
Ren.
Ia mengalihkan
pandangan ke gelang tersebut, menatap tulisan yang terpampang pada kristalnya.
Kekuatan Ren
telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan sebelum musim dingin
berakhir.
Di Pegunungan
Balder, ia tidak hanya mendapatkan proficiency dari Asval, tapi juga
dari Iron-Eater Gargoyle.
Ditambah lagi, ia
sudah mengumpulkan banyak proficiency dari hasil berburu lainnya.
Setelah
pertarungan melawan Asval yang meningkatkan level Magic Sword Summoning,
ia mendapatkan satu informasi yang menarik perhatiannya.
Level 5: Membuka Evolusi Pedang Iblis.
Level Wooden Magic Sword miliknya sempat berhenti
meningkat meski proficiency sudah terkumpul penuh.
Jika itu memang
karena syarat evolusi, maka semuanya menjadi masuk akal.
***
[NAMA]
Ren Ashton
[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton
[ SKILL ]
■ Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)
■ Magic Sword Summoning Arts Lv. 4 (2549 /
3500)
- Memperoleh kemahiran dengan menggunakan pedang sihir yang dipanggil.
- Level 1: Dapat memanggil [Satu] pedang sihir.
- Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
- Level 3: Dapat memanggil [Dua] pedang sihir.
- Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
- Level 5: Membuka Evolusi Pedang Sihir.
- Level 6: ********************
[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]
■ Wooden Magic Sword Lv. 2 (1000 / 1000)
- Memungkinkan
serangan setingkat Nature Magic (Small).
- Jangkauan efek serangan akan
meluas seiring meningkatnya level.
■ Iron Magic Sword Lv. 3 (2390 / 4500)
- Ketajaman
meningkat seiring dengan kenaikan level.
■ Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)
- Merampas
item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.
■ Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)
- Membentangkan
dinding sihir pelindung.
- Kekuatannya meningkat dan jangkauan
efeknya meluas seiring kenaikan level.
■ Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)
- Api nerakanya adalah perwujudan dari
kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.
***
Namun, sulit membayangkan pedang iblis api bisa berevolusi.
(Rasanya Flame Sword Asval punya mekanisme yang
berbeda.)
Tak seperti pedang iblis lainnya, pedang iblis api tidak
bisa lagi mendapatkan proficiency. Penyebabnya sederhana; sosok Asval
sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Kukira, perubahan pada pedang iblis api ini pasti ada
sangkut pautnya dengan kekuatan Fiona atau pedang iblis hitam itu.
"Reeennn!"
Sebuah teriakan sampai ke telinganya dari luar jendela.
Saat jendela dibuka, tampak sosok Licia yang tengah
mendongak sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Rambutnya yang berwarna ungu kecubung masih sehalus sutra,
dan matanya yang mengingatkan orang pada batu safir yang telah dipoles itu
berkilau indah hari ini.
Setelah melewati musim semi, pesona dan kecantikan gadis itu
tampak semakin bersinar.
"Ayah memanggilmu. Kalau ada waktu, bisa datang ke
gedung utama? Beliau bilang, kalau
kau mau, mari makan malam bersama!"
"Baik! Aku
akan membersihkan diri dulu sebelum ke sana!"
Mendengar jawaban
Ren, Licia pun menyunggingkan senyum yang sangat manis.
◇◇◇
Di meja makan,
pesta ulang tahun Ren yang ke-12—yang baru saja berakhir beberapa hari
lalu—menjadi topik pembicaraan.
Tahun lalu, Licia
sangat menyesal karena tidak bisa merayakan ulang tahun Ren. Itulah sebabnya
tahun ini ia berinisiatif memimpin jalannya pesta tersebut.
"Ren, mulai
minggu depan kau boleh libur bekerja untuk sementara."
Lessard Clausel,
sang pemegang gelar Baron, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"────Jangan-jangan,
Anda berniat memecatku..."
"Mana
mungkin aku mengatakan itu bahkan sebagai lelucon. Ini soal rencana yang kita
bicarakan saat musim dingin lalu."
"Musim dingin…… Ah! Soal aku pulang kampung, ya?"
"Umu,"
Lessard mengangguk setuju.
"Seperti
yang kubilang sebelumnya, ada beberapa proyek konstruksi yang sedang berjalan
di sekitar desa keluarga Ashton. Mulai dari jalan raya hingga tembok yang
mengelilingi desa."
"Jadi,
aku boleh pergi membantu desa?"
"Ya.
Hubunganku dengan Marquis Ignat sekarang juga sudah semakin akrab. Untuk saat
ini, sulit membayangkan desa keluarga Ashton akan diserang lagi. Karena itu, kau tidak perlu menyembunyikan
identitasmu dan pergi sebagai ksatria kiriman. Jangan cemaskan apa pun,
nikmatilah kepulanganmu."
Sebenarnya
Lessard ingin Ren pulang lebih awal, namun insiden di Pegunungan Balder saat
musim dingin membuat rencananya tertunda.
"Selama
waktu itu, kami juga tidak akan ada di Clausel, jadi bersantailah tanpa perlu
merasa sungkan."
"Ayah? Siapa
yang Ayah maksud dengan 'kami'?"
"Tentu saja,
termasuk Licia."
Sepertinya Licia
juga belum diberitahu apa-apa, karena ia memiringkan kepalanya dengan imut.
"Aku
harus pergi ke Erendil. Seperti yang kalian tahu, berbagai faksi sedang sibuk
setelah keributan kemarin, ditambah lagi ada urusan Viscount Given tahun lalu.
Sudah saatnya aku menunjukkan batang hidungku di sana."
Erendil
adalah kota yang terletak di dekat Ibukota Kekaisaran.
Dulu, Ren
pernah memiliki prasangka kuat bahwa di sanalah seharusnya letak wilayah
keluarga Clausel.
(Berarti,
mereka akan lewat wilayah bangsawan lain lalu naik kapal magis, ya?)
Lessard
dan rombongannya akan menuju ke kota di sisi selatan Clausel—wilayah bangsawan
lain yang berjarak sepuluh hari perjalanan kuda—lalu naik kapal magis dari sana
menuju Erendil.
Hal ini
dikarenakan Erendil memiliki dermaga kapal magis, sama seperti Ibukota.
"Hei, hei,
Ren juga mau coba pergi ke Erendil?"
Saat
ditanya, Ren menyilangkan tangan dan menatap langit-langit.
(Erendil,
ya—)
Bisa
dibilang, tempat itu hampir seperti Ibukota.
Bagi Ren
yang selama ini menghindari Institusi Militer Kekaisaran, tempat itu
menimbulkan rasa enggan yang sama besarnya dengan Pegunungan Balder.
Meski
begitu, jika ditanya apakah ia bisa terus menghindarinya di masa depan...
(Sepertinya
mustahil.)
Selama
Ren masih mengabdi di keluarga Clausel, rasanya sulit untuk mengabaikan Erendil.
Apalagi sekarang
ia punya koneksi dengan Marquis Ignat. Jangan lupakan juga pertemuan
dramatisnya dengan Fiona saat insiden sebelumnya.
"Kalau
kubilang tidak tertarik, mungkin aku berbohong."
"Benarkah?
Kalau begitu, lain kali kita pergi bersama, ya!"
Jika ada
kesempatan bagi Licia untuk pergi ke sana, pada akhirnya Ren tidak akan bisa
mengelak.
Ditambah lagi
dengan ancaman Kultus Raja Iblis yang baru saja menyerang, ia merasa lebih
mudah melindungi Licia jika ia berada di sisinya. Tak mungkin baginya untuk
membiarkan Licia sendirian sekarang.
"Nantikan
saja, ya. Erendil itu kota yang sangat cantik."
"Licia,
mengingat Ren adalah anak yang tekun, bukankah dia mungkin sudah tahu soal Erendil?"
"Iiiih,
Ayah! Padahal aku sudah susah payah ingin memberitahunya...!"
"Haha, tapi
ya begitulah Ren, kan?"
Karena penasaran
dengan kenyataannya, Licia menatap Ren lekat-lekat.
Karena Licia
tampak sangat ingin mengajarinya, rasanya tidak enak jika ia menjawab tahu
segalanya dari sudut ke sudut. Setelah bimbang, Ren akhirnya memilih
kata-katanya.
"Aku dengar
di sana ada tempat berburu yang efisien."
Mendengar
ucapannya, Licia dan Lessard hanya bisa memasang ekspresi melongo.
◇◇◇
Di hari
kepulangan Ren, ia keluar dari gedung lama didampingi Licia yang ingin
mengantarnya.
"Kasihan
anak itu, tapi selama aku dan Ren pergi, dia harus tinggal bersama Yuno
dulu."
Saat Licia
merendahkan suaranya dengan nada menyesal, Ren pun mengangguk dengan nada
serupa, "Benar juga."
Tak lama kemudian
Weiss datang, dan mereka bertiga menaiki kuda melewati gerbang menuju luar
kediaman.
Sambil memacu
kuda di tengah kota menuju gerbang luar Clausel, ketiganya saling berbincang.
"Namun,
ini benar-benar disayangkan."
Saat
Weiss berujar seolah baru teringat sesuatu, Licia memiringkan kepalanya
sedikit.
"Ada
apa tiba-tiba?"
"Soal
insiden Asval. Aku dan Tuan Besar merasa sangat menyesal karena tidak bisa
mengumumkan pencapaian anak muda ini kepada publik. ……Yah, aku baru saja
teringat hal itu."
Hanya
segelintir orang di seluruh Leomel yang tahu soal insiden Asval.
Selain
Ren dan Fiona, ada Weiss, Licia, Lessard, Marquis Ignat, serta kepala
pelayannya, Edgar.
Karena Kultus
Raja Iblis terlibat, informasi tersebut diputuskan untuk dikelola dengan sangat
hati-hati.
Tentu saja,
detail selain soal Asval sudah dibagikan kepada pihak berwenang.
"Mengingat
kekuatan Nona Fiona juga, lebih baik semuanya tetap rahasia agar semua orang
bahagia," Ren tertawa kecut.
Kekuatan Black
Priestess yang dimiliki Fiona adalah informasi yang dirahasiakan oleh
Marquis Ignat demi keselamatannya.
Lebih baik
menyembunyikan keterkaitannya dengan Asval yang bangkit secara tidak sempurna
itu.
"Lagi pula,
meskipun kebangkitannya tidak sempurna, lawannya adalah Asval, lho. Kenapa
kalian berdua langsung percaya saat mendengar aku yang mengalahkannya?"
Ini levelnya
berbeda jauh dari Thief Wolfen atau Iron-Eater Gargoyle.
Musuhnya adalah
Asval. Meski tidak sempurna, dia tetaplah sesosok legenda.
"Karena Ren
yang mengatakannya. Tidak ada alasan untuk ragu, kan?"
Pertama, Licia
menunjukkan wajah tenang seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya.
Kalimat Weiss
berikutnya barulah terasa seperti jawaban normal yang dicari Ren.
"Nona Muda
Ignat sendiri yang bilang bahwa ia diselamatkan olehmu. Para ksatria dan
petualang memang tidak melihat Asval, tapi mereka melihat api yang menyerang
jembatan gantung di pegunungan itu."
Melihat
situasi dan informasi yang ada, tidak ada ruang untuk ragu.
"Meski
begitu, para ksatria dan petualang itu tetap dalam kesalahpahaman."
Para
ksatria, petualang, serta peserta ujian yang ada di Pegunungan Balder saat itu
mengira gunung berapi yang tertidur telah dibangkitkan oleh pengikut Kultus
Raja Iblis.
Mereka
tidak punya cara untuk tahu bahwa Asval pernah ada di sana.
"Tapi aku
penasaran, kekuatan seperti apa yang kau gunakan untuk menjatuhkan Asval."
"Weiss,
jangan."
"Aku
mengerti. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak berniat memaksa
bertanya."
Weiss buru-buru
meralat ucapannya dengan nada sedikit panik.
"Kekuatan
istimewa akan menarik perhatian orang. Terlalu banyak bicara dan membeberkan
kelemahan adalah hal yang harus dihindari."
Jika Ren sampai
menderita kerugian karena dirinya…… memikirkan hal itu saja sudah membuat Weiss
merasa lancang jika harus bertanya lebih jauh.
Sambil
terus berbincang, ketiganya sampai di dekat gerbang kota.
"Sepertinya sudah waktunya," ucap Licia dengan
nada sedih.
Dari sini, Ren akan menuju luar kota bersama para ksatria
yang sudah menunggu di gerbang.
Kuda yang dulunya milik Jerukku dan kini diberi nama Io oleh
Ren itu meringkik pelan sambil menatap ke luar gerbang.
"Hati-hati
di jalan ya, Ren."
"Nona Licia
juga, semoga perjalanan ke Erendil aman."
◇◇◇
Semenjak
meninggalkan Clausel, Ren melewati beberapa desa.
Hal itu bukan
permintaan Lessard, melainkan usul dari Ren sendiri.
Mengunjungi
desa-desa di dalam wilayah kekuasaan pastilah merupakan salah satu tugas
penting, seperti saat Licia mengunjungi desa keluarga Ashton dulu.
Karena itu, Ren
menyempatkan diri singgah di desa-desa tersebut, terkadang memburu monster,
atau membantu pekerjaan fisik warga.
Seiring
berjalannya waktu, desa keluarga Ashton pun semakin dekat.
"Tuan Ren,
silakan lihat ke sana."
Di tengah dataran
luas di bawah langit cerah, salah satu ksatria berujar sambil memacu kuda.
Melihat jalan
raya baru yang mulai tampak di hadapan mereka, Ren berseru kagum,
"Ooh!"
"Apa itu
jalan raya yang sedang dibangun?"
"Benar.
Sepertinya pengerjaannya sudah hampir sampai ke desa."
Jika sudah sampai
sini, berarti desa keluarga Ashton sudah di depan mata.
Meskipun jalan
raya tidak menjamin keamanan mutlak, standarnya jalan tersebut dirawat
sedemikian rupa agar monster sulit muncul.
Untuk menuju desa
keluarga Ashton, mereka juga harus melewati hutan.
Karena jalan raya
tersebut menembus hutan menuju desa, Ren bisa melihat bahwa ini adalah proyek
konstruksi skala besar.
Sambil terus
memacu kuda, Batu Tsurugi yang dirindukan pun mulai terlihat.
Kenangan saat ia
bertarung melawan Thief Wolfen di tempat itu masih teringat jelas.
Rombongan mereka
tidak melewati sisi Batu Tsurugi, melainkan menyusuri jalan raya yang baru
dibangun.
Dulu tempat ini
hanya berupa jalan setapak hewan yang agak lebar, tapi sekarang sudah menjadi
jalan yang sangat layak.
"Hei! Di
sebelah sana!"
Tiba-tiba
terdengar teriakan dari arah yang sedikit melenceng dari jalan raya.
Mendengar
suara itu, Ren saling bertukar pandang dengan para ksatria dan mengangguk.
Mereka
memacu kuda ke arah suara tersebut, dan dalam hitungan menit...
"Hari ini
jumlahnya banyak sekali!"
"Tuan Roy!
Tolong jangan memaksakan diri!"
"Ah! Aku
tahu!"
Begitu mendengar
suara itu, Ren sempat menduga, dan suara yang semakin jelas tersebut
mengonfirmasinya.
"Ayah!?"
Ren menarik tali
kekang Io agar berlari lebih cepat. Karena Io adalah kuda yang memiliki darah
monster, ia melesat sangat cepat hingga meninggalkan kuda-kuda para ksatria
jauh di belakang.
Ren melesat ke
arah sumber suara.
Tampak Roy
bersama dua ksatria lainnya tengah menghadapi belasan ekor Little Boar.
Dengan gerakan
lincah bak angin, Ren melompat menggunakan pepohonan di sekitar sebagai tumpuan
dan menghabisi para Little Boar tersebut dalam sekejap mata.
Roy dan yang
lainnya hanya bisa melongo karena terkejut dengan kejadian yang sangat
tiba-tiba itu.
Begitu Ren
berhenti setelah menyelesaikan pembasmian, Roy segera berlari menuju putra
tercintanya dan memeluknya erat.
"Ayah,
berbahaya kalau memelukku saat masih memegang pedang."
Sambil sedikit
menutupi rasa malunya, Ren pun merentangkan tangan ke punggung ayahnya,
merayakan reuni mereka setelah sekian lama.
Roy tertawa
gembira sambil mengusap salah satu matanya. Air mata tampak menggenang di sudut
matanya karena rasa sukacita yang meluap.
"Untuk
ukuran anakku, ini benar-benar kepulangan yang meriah!"
"Aku
juga kaget, tahu. Begitu sampai, tiba-tiba saja ada banyak Little Boar."
"Ah,
di desa mana pun begitu. Saat jalan raya sedang dibangun, monster-monster akan
merasa terusik. Tidak bisa dihindari."
Ren yang
sudah menduga hal itu hanya bisa mengembuskan napas.
Para
ksatria yang tertinggal karena Ren memacu Io terlalu cepat akhirnya sampai dan
tersenyum lega.
Namun, sebuah
kejadian kecil merusak suasana. Seekor Little Boar muncul dari celah
pepohonan dan dengan nekat mengincar punggung Ren.
Saat Ren dan Roy
baru saja hendak bergerak untuk mengatasinya dengan mudah...
Whinny!
Io, yang sedari
tadi ditunggangi Ren, mengangkat kaki belakangnya dan menendang Little Boar
itu hingga terpental dengan mudahnya.
Setelah itu, ia
meringkik bangga dan mulai mengunyah rumput di tanah.
Melihat Little
Boar yang terpental itu, Ren dan Roy hanya bisa berdiri termangu.
◇◇◇
Di tengah
perjalanan menuju desa, Roy bercerita.
"Apa kau
ingat jembatan yang memisahkan desa dan hutan? Itu lho, tempatku melarikan diri
saat diserang Thief Wolfen dulu."
"Aku ingat.
Ada apa dengan jembatan itu?"
"Jembatan
itu baru saja diperkuat baru-baru ini. Tadi aku berniat menuju ke hulu sungai
itu, tapi tiba-tiba gerombolan Little Boar muncul."
"Mungkin
mereka gelisah karena pembangunan jalan raya?"
"Entahlah.
Sebenarnya tadi aku belum sempat mengatakannya, tapi sepertinya bukan cuma
itu."
Ren menatap wajah Roy dengan bingung. "Eh? Apa maksud
Ayah?"
"Aku
kurang mengerti, tapi belakangan ini banyak Little Boar yang melarikan
diri dari hulu sungai. Menurut para tukang bangunan yang datang ke desa,
sepertinya ini bukan sekadar karena pembangunan jalan."
"Jangan-jangan,
ada monster kuat lagi yang datang?"
"Hmm…… sepertinya tidak. Aku belum pernah dengar ada
laporan kerusakan di sekitar sini."
Bukannya tidak percaya pada Roy, tapi Ren merasa ia harus
pergi mengeceknya sendiri demi berjaga-jaga. Tidak ada keraguan sedikit pun saat ia menarik tali kekang Io.
"Tunggu,
tunggu! Biar kami saja yang cek! Kau baru saja sampai, jangan langsung bekerja
begitu, dong!"
"Meskipun
Ayah bilang begitu, aku tetap penasaran!"
Para
ksatria yang ikut dari Clausel menawarkan diri untuk menemani.
Namun Ren
meminta mereka untuk menjaga keamanan desa saja demi mengantisipasi hal yang
tidak diinginkan.
Bagi para
ksatria, Ren adalah subjek yang harus dilindungi, namun mereka akhirnya
mengangguk karena tertekan oleh aura yang terpancar dari kata-kata Ren.
◇◇◇
Melewati
area dekat Batu Tsurugi, Ren menyusuri jalan setapak hewan di sepanjang sungai
menuju bagian hutan yang lebih dalam.
Setiap
langkah Io membuat pepohonan di sekitar bergoyang tertiup angin yang
dihasilkan.
Begitu
sampai di hulu sungai, yang terlihat di depan mata Ren adalah sebuah kolam air
terjun yang besar. Tidak ada tanda-tanda keberadaan monster di sekitar sana.
Hanya
suara aliran air jernih yang bergema, menyajikan pemandangan alam yang sangat
asri.
Ia turun dari Io
dan mencoba mencari-cari, namun tetap tidak menemukan apa pun.
Mungkin hanya
perasaannya saja bahwa para Little Boar melarikan diri dari hulu ke arah
desa. Tepat saat Ren hendak menyimpulkan demikian, tubuhnya mendadak kaku.
Ia menyiapkan
pedang iblis besinya, lalu mengernyitkan dahi sambil menatap tajam ke arah
kolam air terjun.
(────)
Ada sesuatu.
Sesuatu yang sangat besar.
Sambil menahan
napas, ia mendekati kolam air terjun tersebut.
"Hm?"
Kira ia akan
menemukan monster di dalam air, namun yang ia temukan adalah sesuatu yang
tenggelam dan memancarkan kilauan yang sangat indah.
Ren memanggil Wooden
Magic Sword dan menggunakan sihir alam untuk menciptakan jalan dari akar
pohon di atas permukaan air. Ia mendekati air terjun dan memastikan identitas
kilauan indah tersebut.
"Star
Agate?"
Kilauan permata
yang ia lihat di Pegunungan Balder saat musim dingin lalu benar-benar ada di
dasar air.
Ren mengayunkan
pedang iblis kayunya ke arah dasar kolam, menciptakan sulur-sulur tanaman yang
melilit Star Agate tersebut.
Ia mencengkeram
sulur-sulur itu dengan kedua tangannya dan mencoba menariknya ke atas, namun
rasanya luar biasa berat.
Ia mengerahkan
seluruh tenaga di lengan, kaki, dan pinggangnya.
Sedikit demi
sedikit…… Star Agate itu mendekat ke permukaan, hingga akhirnya────
"Eh……
EEEHHH────!?"
Terseret keluar
dari kolam, Star Agate itu ternyata memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari
yang diperkirakan Ren.
Sebagian
besar permata itu ternyata terkubur di dasar kolam. Ukurannya kira-kira setara
dengan empat ekor kuda yang dijajarkan.
Meskipun
ada bagian yang hancur di sana-sini, bentuknya panjang, melintir, dan memiliki
ujung yang tajam.
Sulit
dibayangkan berapa harga yang pantas untuk Star Agate sebesar ini.
Neigh!
Io yang
menunggu pun ikut terkejut dan meringkik di samping Ren.
"Besar
sekali. Tapi kenapa ada Star Agate di dekat desa…… Seharusnya ini hanya bisa
terbentuk di lingkungan khusus seperti di Pegunungan Balder……"
Ren
memiringkan kepala sambil bersedekap menatap Star Agate tersebut.
Matanya
beralih dari ujung yang tajam ke sisi sebaliknya. Di sana, kerusakannya jauh
lebih parah dibandingkan bagian lain, bahkan terlihat bekas irisan tajam yang
memotong permata tersebut, namun...
(────!)
Tiba-tiba
suara naga terngiang di benak Ren.
Mungkinkah,
pikirnya sambil mendekati penampang Star Agate tersebut. Rasanya ia pernah
melihat bentuk potongan seperti ini.
Sebuah
retakan menjalar di Star Agate tersebut. Lapisan permata yang menutupi bagian itu hancur.
Jika benda
semacam ini ada di kolam air terjun, pantas saja para Little Boar
ketakutan dan melarikan diri.
"……Lalu,
bagaimana ceritanya tanduk ini bisa hanyut dari Pegunungan Balder sampai ke
sini?"
Ren berjongkok
dan terhanyut dalam pemikiran yang dalam untuk waktu yang cukup lama.
Memikirkan
bagaimana bisa tanduk Asval yang ia patahkan bisa terdampar di tempat ini.
◇◇◇
Karena tidak
mungkin membawa tanduk yang ditemukannya ke desa sendirian, Ren memanggil para
ksatria ke hulu sungai.
"Sungguh
Star Agate yang luar biasa indah."
"Tapi, apa
ini? Apa benda ini menempel pada material monster yang sudah lapuk atau
semacamnya?"
Kepada
para ksatria yang terheran-heran di depan tanduk tersebut, Ren mengajukan
permintaan.
"Karena ada
alasan tertentu, aku ingin membawa ini ke Clausel."
"Hmm…… Untungnya saat ini sedang ada pembangunan jalan
raya dan tembok luar. Kereta barang yang mengangkut material ukurannya lebih
besar dari kereta biasa, jadi jika kita menggabungkan dua kereta, kita bisa
memuat benda ini."
"Jika diletakkan di atas kereta yang digabung lalu
ditutup rapat dengan kain, sepertinya tidak akan terlalu mencolok."
Bagi Ren, ini adalah soal keterkaitannya dengan Asval. Bagi
para ksatria, ini adalah soal kelangkaan Star Agate tersebut.
Setelah selesai membicarakan detail pengangkutan Star Agate
dengan para ksatria, mereka berkata:
"Tuan Ren,
serahkan sisanya kepada kami. Silakan nikmati kepulangan Anda dengan tenang."
"Baik! Kalau
begitu, aku serahkan sisanya pada kalian!"
Ren memacu Io
sendirian menuju desa.
Jalan menuju desa
mulai ditata rapi seperti jalan raya, dan tembok batu yang akan melindungi
seluruh desa dari ancaman luar juga sedang dalam proses pembangunan.
Sambil memacu
kudanya membelah angin, Ren merasa senang dan terharu melihat pemandangan desa
yang berbeda dari sebelumnya.
Jalan di tengah
desa kini dilapisi ubin batu. Tidak ada lagi jalan setapak ladang yang berubah
jadi kubangan lumpur saat hujan.
Itu adalah jalan
megah yang menuju ke arah rumah besar baru yang berdiri di atas bukit kecil di
bagian dalam desa.
Hampir semua
rumah tua juga sudah dibangun kembali. Kampung halamannya tengah mengalami
pemulihan yang luar biasa.
Melihat Ren
memacu kuda melewati jalan tersebut, orang-orang desa yang tengah bekerja di
ladang menyapanya.
Ren membalas
sapaan mereka dengan senyuman sambil terus memacu Io.
Gerbang rumah
besar yang baru mulai terlihat. Gerbang kayu reyot yang dulu bisa roboh kapan
saja kini telah digantikan dengan gerbang batu yang kokoh.
Di luar gerbang
tersebut, kedua orang tuanya sudah berdiri menunggu kedatangannya.
"────Ren!"
Mireille berlari
menghampiri Ren, mendahului Roy yang sudah bertemu lebih dulu.
Begitu Ren turun
dari Io di dekat gerbang, Mireille langsung memeluknya erat-erat karena tak
sanggup lagi menahan rindu.
"Ibu!
Aku pulang!"
"Iya!
Selamat datang di rumah!"
Bertemu kembali
setelah sekian lama membuat Mireille tak kuasa membendung air matanya.
Di dalam area
rumah, kini terdapat kandang kuda yang dulu tidak ada.
Ren memberi tahu
Mireille bahwa sebaiknya ia membawa Io ke sana dulu.
"Tapi
kuda ini punya fisik yang sangat bagus, ya."
"……I-iya, bagus sekali ya…… hehe……"
"Lho, ada
apa? Kenapa tiba-tiba memalingkan muka begitu?"
Itu karena Io
adalah kuda milik si pelaku yang dulu menyerang desa ini.
Saat Ren sedang
bingung bagaimana menjelaskannya...
"Kuda
ini dulunya milik si Beast Tamer yang menyerang rumah kita, kan? Kau
berhasil merebut kuda yang hebat, ya."
"Ayah!?
Bagaimana Ayah bisa tahu soal itu!?"
"Tentu
saja karena aku mendengarnya dari ksatria yang datang ke desa ini sebelumnya. Ksatria itu perhatian padamu, dia pikir
kau mungkin akan sulit mengatakannya sendiri, jadi dia memberitahuku."
"Kuda
tidak punya dosa. Ren tidak perlu merasa tidak enak, kok."
Mireille
bahkan mengusap surai Io yang tampak ingin bermanja-manja dengannya.
◇◇◇
Masakan
di rumah kini sudah berbeda. Selain daging Little Boar hasil
buruan di hutan, berbagai macam bahan makanan lain juga mulai digunakan.
Usai makan, Ren memandangi ruang makan yang baru di rumah
tersebut.
Dinding bercat putih, lantai kayu cokelat tua, dan dapur
baru yang lengkap. Ruang
makan ini tidak lagi memiliki area lantai tanah yang langsung terhubung ke luar
seperti dulu.
"Aku
mau menaruh barang-barangku di kamar dulu."
"Oh,
kalau begitu biar kami bantu."
Mireille bilang
ia akan membereskan peralatan makan. Meski Ren dan Roy menawarkan bantuan, ia
hanya tertawa sambil berkata "tidak apa-apa".
Saat Ren keluar
dari ruang makan dan berjalan di koridor bersama Roy, tidak terdengar lagi
suara lantai yang berderit seperti dulu.
"Rumah
ini benar-benar jadi baru, ya."
"Berkat
kau dan Tuan Baron. Tapi karena semua buku habis terbakar, hanya ruang
perpustakaan yang belum bisa dibangun ulang."
"Mau
bagaimana lagi. Apinya memang sebesar itu."
Struktur
rumah baru ini mirip dengan rumah yang lama. Meski begitu, koridor yang
seharusnya menuju perpustakaan kini terputus di tengah jalan dan digantikan
dengan jendela yang lebar.
"Bicara
soal buku, buku-buku di kamarku juga ikut terbakar, ya."
Di tengah
tangga menuju kamar Ren di lantai dua, Roy berujar sambil menghela napas.
"Memangnya
ada buku di kamar Ayah?"
"Jumlahnya
memang sedikit. Aku menyimpan buku harian kakekmu dan buku-buku peninggalan
leluhur."
"He~,
buku peninggalan leluhur itu isinya tentang apa?"
"Entah
itu kisah nyata atau cuma karangan, semacam catatan petualangan leluhur kita.
Sepertinya leluhur keluarga Ashton dulu adalah seorang petualang. Dia pergi ke
benua langit, mencari kota kuno yang katanya tertidur di dasar laut, dan
semacamnya."
Hingga
akhirnya mereka sampai di depan kamar Ren.
"Nah,
kamarmu juga sudah baru, lho."
Kamar
barunya terasa sedikit lebih luas dibandingkan yang lama.
Penataan perabot
dan tampilannya dibuat sama persis seperti sebelum rumah itu terbakar, membuat
Ren merasa tenang.
Satu-satunya yang
berubah adalah ukuran tempat tidurnya yang kini lebih besar menyesuaikan
pertumbuhan Ren. Sambil merasa terharu melihat kamar barunya, Ren bertanya.
"Ayah,
tolong lanjutkan ceritanya."
Mendengar Ren
yang berkata demikian sambil membuka jendela kamarnya, Roy menjawab, "Ah,
iya."
"Selain itu,
kalau tidak salah ada juga cerita tentang Tetua Naga."
Mengingat
soal tanduk Asval tadi, jantung Ren berdegup kencang sesaat.
"Katanya
dia naga tua yang sangat kuat, sangat suka bertarung, dan selalu mencari lawan
yang tangguh."
"…………"
"Hm? Kenapa
tiba-tiba diam?"
Melihat Ren yang
tidak berkata apa-apa, Roy bertanya.
"Kalau kau
tidak enak badan atau lelah, ceritanya bisa dilanjutkan nanti────"
"Ti-tidak,
tidak, tidak! Aku baik-baik saja, jadi tolong ceritakan!"
Mendengar Ren
yang panik, Roy menjawab, "Kalau begitu baiklah," lalu melanjutkan.
"Leluhur
kita katanya pernah bertarung dengan Tetua Naga itu. Karena dia sangat
menginginkan tanduk naga itu, dia menundukkan kepala dan memohon agar diberikan
kepingannya saja."
"He-he~…… tanduknya…… lalu bagaimana?"
"Tetua Naga
itu menolak, dan leluhur kita tentu saja tertunduk lesu. Tapi, Tetua Naga itu
malah berujar 'Coba rebutlah dariku dengan kekuatan'."
Ren
mendengarkan sambil memasang senyum kecut.
"Lalu,
leluhur kita menerima tantangan itu dan berhasil menebas putus satu tanduk
utuhnya."
Mendengar cerita
itu, Ren hanya bisa menyahut dengan gaya linglung, "O-oh... begitu
ya..."
"Leluhur
kita memenangkan pertarungan itu, lalu berteman dengan si Tetua Naga."
"Berteman?
Lalu ceritanya selesai begitu saja?"
"Iya.
Seingatku, cuma itu yang tertulis di catatan petualangan yang tersisa di rumah
kita."
"O-oooh... Tapi tetap saja, itu pertarungan yang luar
biasa heboh, kan?"
"Makanya aku
tidak tahu itu nyata atau cuma karangan. Entah naga macam apa yang dia lawan,
tapi kalau memang sekuat itu, harusnya namanya terukir dalam sejarah Leomel.
Aneh kalau keluarga kita tidak menjadi keluarga ternama."
Kata-kata Roy
terdengar masuk akal, sehingga Ren tidak bisa begitu saja menganggapnya sebagai
lelucon.
"Sayaaaang!
Ksatria memanggilmuuu!"
Mendengar suara
Mireille dari lantai bawah, Roy pun bergegas meninggalkan kamar.
Tinggal
sendirian, Ren menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela.
Sambil
merasakan angin musim semi di punggungnya dan bersedekap, ia teringat kembali
kata-kata yang diucapkan Asval.
'────Ashton? Kenapa…… rasanya nama itu terdengar sangat
akrab.'
'……Eh? Kau tahu…… nama keluargaku?'
'Aku tidak ingat apa pun…… tapi, aku tidak suka makhluk
lemah sepertimu mengucapkan nama itu.'
Fakta bahwa salah satu tanduk Asval sudah patah sejak awal
menjadi masuk akal jika memang leluhurnya yang mematahkannya.
Secara
kronologis, itu pasti terjadi sebelum para Pahlawan menaklukkan Asval.
Ren teringat
betapa ia harus berjuang mati-matian untuk mematahkan tanduk yang tersisa
setelah menyadari bahwa Asval akan melemah jika tanduknya patah.
Saat itu pun, ia
baru bisa melakukannya karena Asval bangkit dalam kondisi tidak sempurna.
Di sisi lain,
leluhur keluarga Ashton kabarnya berhasil menang melawan Asval di masa
kejayaannya.
"Wajar saja
kalau aku disebut makhluk lemah…… tapi kenapa ini tidak tercatat dalam sejarah,
ya?"
Jangankan di buku
sejarah, dalam pengetahuan dari masa saat ia masih memainkan gim pun tidak ada
informasi mengenai leluhurnya.
Sangat janggal
jika seseorang dengan kemampuan sehebat itu sama sekali tidak muncul namanya
dalam catatan sejarah.
"Sengaja tidak dicatat…… mungkin?"
Ia memikirkan
kemungkinan bahwa nama itu dihapus dari sejarah Leomel karena alasan tertentu.
Namun jika
begitu, ada kejanggalan lain: mengapa keluarga Ashton masih bertahan hingga
sekarang?
Jika leluhurnya
dihapus dari sejarah, pasti ada alasan yang sangat kuat. Alasan itu kemungkinan
besar adalah sesuatu yang merugikan pihak Leomel.
Fakta bahwa
keluarga Ashton masih diperbolehkan eksis terasa kontradiktif dengan
kemungkinan tersebut.
◇◇◇
Keesokan paginya,
Ren bangun dengan perasaan yang sangat segar. Meski ini rumah baru dan ia belum
merasa terlalu akrab, tetap saja kampung halaman adalah yang terbaik.
Begitu membuka
jendela, angin yang membelai ladang membawa aroma tanah dan rumput ke arahnya.
"Belakangan
ini, pedagang juga mulai datang ke sini, lho."
Saat
mereka sedang menikmati sarapan bersama, Mireille berujar seolah baru teringat,
dan Roy menyambungnya.
"Berbeda
dengan dulu, sekarang sebulan sekali mereka pasti mampir. Ini sangat
membantu."
"Pedagang
itu datang untuk mengirim material bangunan?"
"Bukan
cuma itu. Mereka datang untuk berdagang secara resmi. Lihat saja, bahan makanan kita sekarang ada yang
berbeda dari sebelumnya, kan? Karena jalan raya mulai tertata, para pedagang
merasa lebih mudah untuk datang ke sini."
Di dalam wilayah
Clausel yang dianggap pelosok pun, desa keluarga Ashton terletak di bagian yang
paling terpencil.
Karena itulah,
sebelumnya para pedagang merasa tidak ada gunanya membuang waktu ke sana.
Namun...
"Desa ini
bisa menjadi titik persinggahan baru. Jika jalan raya sudah jadi, perjalanan
akan jauh lebih aman daripada sebelumnya."
Bagi para
pedagang dan petualang yang berkeliling dari kota Clausel menuju pemukiman
sekitar hingga ke bekas wilayah Viscount Given, pembangunan di sekitar desa ini
sangatlah menguntungkan.
Jika desa menjadi
ramai oleh petualang, para pedagang pun akan berdatangan untuk mencari peluang
bisnis.
Selain itu, meski
monster yang hidup di sekitar desa tergolong lemah, material mereka tetap
selalu dibutuhkan.
Contohnya
material dari Little Boar; kulitnya bisa menjadi alat penahan dingin
yang murah, dan dagingnya pun lezat.
Material dari
monster lemah biasanya diperdagangkan dengan harga murah, namun itu tetap
penting karena menopang kehidupan rakyat jelata.
Roy bilang, ini
adalah pekerjaan sampingan yang bagus bagi petualang muda maupun petualang
veteran untuk mencari uang saku.
"Sebagai
gantinya, pekerjaan Ayah sepertinya bakal bertambah, nih."
"Hah?"
"Kalau desa
makin ramai, pekerjaan juga makin banyak. Apalagi kalau pedagang dan petualang mulai
sering mampir."
"Gawat.
Aku benar-benar lupa soal itu."
Roy
memegangi kepalanya. Melihat tingkah ayahnya yang memang tidak suka pekerjaan
administratif itu, Ren pun tersenyum.
Ren
merasa ia tidak bisa hanya sekadar mengirim uang saku lalu selesai. Sebagai
anggota keluarga Ashton, ia juga harus memikirkan masa depan desa ini.
"Ngomong-ngomong
Ren, kudengar di Pegunungan Balder terjadi banyak hal, ya?"
"Kami juga sudah dengar ceritanya. Awalnya kami kaget sekali, tapi kau hebat ya!
Katanya kau melindungi putri dari keluarga Marquis?"
"Kultus Raja
Iblis, ya? Aku tidak terlalu paham, tapi cerita soal orang-orang aneh yang
membangkitkan gunung berapi itu benar-benar mengejutkan. Tapi aku lebih
terkejut lagi karena Ren bisa melindungi gadis itu sampai akhir! Hahaha! Memang
anakku!"
"Ahaha……
iya. Benar-benar banyak yang terjadi saat itu……"
Kedua orang
tuanya memang sudah tahu soal insiden itu karena Lessard telah mengirimkan
laporan.
Namun, bagian
yang melibatkan kekuatan Fiona tetap dirahasiakan—termasuk fakta tentang
kemunculan sosok bernama Asval.
Yang orang tuanya
ketahui terbatas pada ancaman dari Kultus Raja Iblis.
Sebenarnya Ren
ingin menggali lebih dalam soal kisah Petualang Ashton, tapi karena tidak ada
catatan yang tersisa, ia tidak bisa berharap banyak selain cerita kemarin.
Malah, ia merasa
hal itu lebih baik karena kemungkinan besar berkaitan dengan informasi yang
memang sengaja dirahasiakan.
◇◇◇
Beberapa hari
kemudian, di Erendil, kota yang terletak dekat dengan Ibukota.
Licia tengah
berjalan menyusuri kota bersama Weiss di bawah sinar matahari siang.
"Memang
jauh berbeda dengan Clausel, ya."
"Ini
adalah kota bersejarah yang perkembangannya sangat pesat. Saya tidak sabar menantikan hari saat Nona Muda
mewarisinya."
"Lho, bisa
saja aku menunjuk pejabat pengganti seperti yang dilakukan Ayah, kan?"
"Bagi
bangsawan yang memiliki beberapa wilayah kekuasaan, hal itu sudah sewajarnya.
Namun, fakta bahwa Nona adalah penguasa tempat ini tidak akan berubah. Karena
itu, Nona juga sebaiknya menuntut ilmu di sebuah institusi pendidikan."
"……Contohnya,
seperti Institusi Militer Kekaisaran?"
"Benar. Jika
Nona lulus dari akademi itu, martabat Nona sebagai pewaris Erendil akan semakin
diakui."
Licia mengangguk
mendengar ucapan Weiss, lalu bergumam lirik.
"────Ngomong-ngomong,
kenapa ya Ren dulu sangat menghindari akademi itu?"
Tepat saat ia
bergumam sambil memiringkan kepalanya, terdengar suara keributan dari salah
satu sudut jalan besar.
Licia segera berlari bersama Weiss menuju sumber suara.
Di sana, ia melihat kerumunan orang yang tengah menatap ke
arah gang sempit. Sepertinya
seorang pencopet baru saja melarikan diri ke dalam gang tersebut.
Orang-orang
di sekitar bilang ada seorang gadis yang mengejarnya.
"Weiss,
ayo!"
"N-Nona
Muda────! Aduh, mau bagaimana lagi!"
Sebelum
Weiss sempat mencegahnya, Licia sudah melesat masuk ke dalam gang sempit tempat
pencopet itu kabur.
Suara
langkah kaki beberapa orang bergema di jalan yang sempit itu. Riuh rendah jalan
besar tiba-tiba lenyap, seolah-olah mereka telah melangkah ke dunia lain.
Licia
mendengarkan arah langkah kaki si pencopet, lalu ia berlari ke arah yang
berbeda.
"Kita akan
memutar ke depannya."
"Saya
mengerti. Kita jepit dia dari dua arah."
Licia memutuskan
untuk mempercayai orang-orang yang sudah mengejar lebih dulu dan memilih untuk
menghadang di depan.
Begitu sampai di
titik penghadangan, Licia dan Weiss bersiap dengan pedang di tangan.
Sesuai dugaan, si
pencopet muncul dan terkejut melihat kehadiran mereka.
"A-Apa-apaan
kalian!?"
Pria itu tampak
seperti mantan petualang, terlihat dari perlengkapan yang terbuat dari material
monster yang dikenakannya.
Sambil mendekap
tas mewah yang tampaknya hasil curian, ia mencabut pisau dan memasang
kuda-kuda.
"Hei Weiss,
apa keamanan di Erendil ini buruk?"
"Tidak juga.
Sama seperti di Clausel, orang yang berniat jahat bisa ada di mana saja."
"Kalau
begitu, mau bagaimana lagi."
Licia berujar
sambil menghela napas, lalu melangkah maju.
Sebelum Weiss
sempat bergerak, Licia sudah menodongkan tangannya ke depan. Seketika, kilatan
cahaya yang sangat terang memancar dari tangannya.
Itu hanya cahaya
biasa tanpa daya bunuh, namun kilatan tiba-tiba itu membuat mata si pria silau
hingga langkah kakinya tersandung.
"G-Guaaaakh!?"
Pria itu terjatuh
berguling di tanah, tepat di depan kaki Weiss.
Weiss segera
mengulurkan tangan sebelum pria itu sempat bangkit, lalu mengunci tangannya ke
belakang dan mengikatnya kuat-kali.
"A-aduh-duh-duuuh!" Si pria merintih payah.
"Sepertinya orang yang mengejarnya juga sudah
sampai."
Terdengar
suara langkah kaki yang mendekat.
Sebagai
putri dari penguasa kota ini, Licia merasa harus berterima kasih kepada orang
yang telah bersusah payah mengejar si pencopet.
Awalnya
ia berniat langsung membawa pria itu ke kantor keamanan, namun begitu melihat
gadis yang muncul, Licia tersenyum kecil. "Eh?"
"Jangan
harap bisa lari la────"
Gadis
yang tadi berteriak dengan penuh semangat itu mendadak terhenti saat melihat Licia.
"L-L-Licia
Clausel!? Kenapa kau bisa ada di sini!?"
Suaranya
melengking karena terkejut, dan wajah cantiknya tampak syok.
Sambil mengatur
napasnya yang terengah-engah setelah mengejar si pencopet, ia merapikan rambut
cokelatnya yang berantakan dengan jari-jarinya lalu membetulkan posisinya.
Melihat gadis berambut cokelat itu, Licia membuka suara.
"Sudah lama
ya, Saila."
Licia menyebutkan
nama gadis itu.
◇◇◇
Setelah
menyerahkan si pencopet ke pos penjagaan ksatria...
"Saila,
terima kasih sudah membantu. Aku sangat menghargainya."
"Aku tidak
melakukan apa-apa, kok. Lagipula, sebagai anggota keluarga Duke, sudah
sewajarnya aku melakukan ini."
Di antara Seven
Heroes, ada seorang pendekar pedang bernama Gazil Riohard.
Dia adalah pria
yang dikatakan melampaui sang Pahlawan dalam hal teknik pedang murni, dan
banyak berjasa dalam perjalanan menaklukkan Raja Iblis.
Keluarga Riohard
adalah salah satu dari tujuh keluarga Duke yang agung, dan Saila adalah putri
dari keluarga tersebut.
Dalam legenda Seven
Heroes, dia menjabat sebagai main heroine dan merupakan gadis
populer karena kepribadiannya yang ceria.
"Sudah
berapa tahun, ya? Sejak terakhir kali aku kalah darimu…… sudah cukup lama
berlalu."
Pertama kali
mereka bertemu adalah saat pesta yang diadakan di Ibukota beberapa tahun lalu.
Saila, yang
kemampuannya dalam berpedang sudah dipuji sejak kecil, menantang Licia—sang White
Saintess yang reputasinya tak kalah hebat—untuk menguji kemampuan.
Namun dalam duel
yang diadakan di kediaman keluarga Riohard di Ibukota keesokan harinya, Saila
justru kalah telak oleh Licia.
Sejak saat itulah
mereka berdua saling mengakui kemampuan masing-masing dan menjalin hubungan
persahabatan hingga sekarang.
"Aku kaget
sekali. Aku datang ke kota ini karena urusan pekerjaan Ayah, tak menyangka akan
bertemu Saila."
"Aku juga.
Aku baru saja mengantar Vain jalan-jalan lalu kejadian tadi terjadi, dan malah
bertemu Licia."
"Vain?"
"Dia temanku
sekaligus penolongku. Saat aku pergi ke dekat desanya, Vain menyelamatkanku
saat aku hampir diserang monster. Kami datang ke Erendil bersama-sama, tapi
tadi kami terpisah."
Wajah Saila
tampak melunak dengan cara yang imut saat menceritakan hal itu.
"Diserang
monster? Ke mana pengawalmu?"
"……Aku
pikir aku bisa bertarung sendiri jadi aku masuk ke hutan, tapi ternyata aku
tidak bisa bertarung dengan baik……"
Licia
hampir saja menghela napas dan berujar "Kau bodoh ya," dengan nada
jengkel.
Namun, ia
teringat bahwa dirinya pun pernah melakukan hal serupa dan merepotkan Ren, jadi
ia mengurungkan niatnya.
"Nona
Riohard. Jika Anda berkenan, biarkan ksatria kami membantu mencari teman
Anda."
Mendengar
usulan Weiss, Saila mengangguk senang dan menyebutkan ciri-ciri pemuda bernama
Vain itu.
Usianya
sebaya dengan Saila, tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya dan ramping. Rambut
cokelat pekat dan matanya berwarna hijau.
Weiss pun
undur diri menuju ksatria yang berjaga di depan pos penjagaan.
"Hei Licia,
mumpung ada kesempatan, ayo temani aku."
Saila melangkah
masuk ke dalam pos penjagaan.
"Akan
kutunjukkan seberapa kuat aku setelah berkembang sejak hari itu! Mari pinjam
tempat latihan di pos ini!"
Karena faksi
keluarga mereka berbeda, Licia sebenarnya bimbang untuk berduel di tempat yang
jauh dari pengawasan orang tua.
Nanti bisa saja
ada komplain yang merepotkan──── walau kalau Saila yang melakukannya, rasanya
ia tidak akan mengadu……
"……Kalau
pulang ke Clausel nanti, aku harus minta maaf pada Ren."
Perasaan yang ia
rasakan saat ini mungkin mirip dengan apa yang dirasakan Ren dulu saat
menghadapinya.
Karena bimbang,
akhirnya Licia pun terpaksa melangkah masuk ke dalam pos penjagaan.
Beberapa puluh
menit kemudian, Vain, pemuda yang datang ke Erendil bersama Saila, tiba di pos
penjagaan.
Ia terkejut
melihat Saila yang terduduk lemas dengan wajah linglung di atas lantai tempat
latihan di dalam pos tersebut.
"Sampai
jumpa, Saila."
Licia melambaikan
tangan dengan anggun sambil berjalan pergi.
Setelah
memamerkan selisih kekuatan yang bahkan lebih besar daripada pertemuan mereka
sebelumnya, Licia pun meninggalkan tempat itu.
Pemandangan itu
bagaikan sebuah ilustrasi dari gim Seven Heroes Legend.
Sebuah adegan di
mana Saila—sang main heroine—dan pemuda yang membantunya—sang
protagonis, Vain—mengantar kepergian Licia dengan pandangan mata mereka.
◇◇◇
Sekitar satu
bulan kemudian, setelah Ren dan Licia kembali ke Clausel, tepatnya sesudah sesi
latihan mereka berakhir.
Licia duduk di
bangku kayu di taman, menceritakan pengalamannya di Erendil kepada Ren.
"────Begitulah
kejadiannya."
Mendengar cerita
itu, Ren mencoba tetap tenang meski dalam hati berujar "Begitu ya~".
Di dalam gim pun,
Vain memang melindungi Saila Riohard yang berkunjung ke dekat desanya.
Saat itulah
kekuatan Pahlawan di dalam tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan,
sehingga ia menarik perhatian orang tua Saila.
Mengingat kembali
event yang terjadi di pos penjagaan ksatria itu, Ren merasakan kerinduan
yang mendalam.
"Hei
Ren, kau dengar tidak?"
"Maaf.
Aku cuma terpana mendengar betapa luar biasanya kota besar."
Ren menatap Licia
dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
"Terima
kasih."
"Sama-sama.
Jadi, Anda berduel dengan Nona Riohard, ya?"
"Cuma
sebentar, tapi beberapa kali. Padahal begitu, tapi, haaa……"
Sambil
mengerucutkan bibirnya dan menatap wajah Ren, Licia merasakan perbedaan tinggi
badan mereka yang semakin mencolok.
"……Kau makin
keren saja tanpa izin."
Ia
bergumam pelan agar tidak terdengar oleh Ren.
"Saila
itu ksatria yang punya reputasi hebat di Ibukota, tapi aku bisa menang telak
melawannya."
"Itu pasti
buah dari usaha keras Nona Licia selama ini. Aku juga ikut senang."
"Ih! Bukan
itu maksudku!"
Licia semakin
mendekatkan jaraknya dengan Ren, hingga jarak mereka sangat dekat sampai-sampai
ia bisa menghitung jumlah bulu mata Ren.
"Maksudku,
aku yang sekuat itu saja bisa kalah telak melawan Ren! Baru beberapa menit
lalu! Seperti biasanya!"
Ia menatap Ren
dengan wajah sedikit kesal namun tanpa amarah.
Sikap Licia saat
ini entah kenapa terasa seperti sedang bermanja-manja.
"Ren, kau
makin kuat lagi, kan?"
"Eh,
anu?"
"Jangan
memalingkan muka! Jangan mengalihkan pembicaraan, lihat aku baik-baik!"
Begitu Ren
menuruti permintaannya dan menatapnya, pandangan mata mereka bertemu tepat di
depan satu sama lain.
Barulah saat itu Licia
menyadari betapa dekat jarak mereka, dan seketika wajahnya memerah padam.
Karena malu, ia buru-buru mundur dengan panik.
Yuno, pelayan
yang mengamati kejadian itu dari jendela kediaman, tersenyum simpul dari balik
kaca.
"Tiba-tiba
menatapku begitu kan curang namanya!"
Ren hanya bisa
tertawa kecut menanggapi protes Licia yang tidak masuk akal itu.
"Tapi aku
lega mendengar situasi tidak menjadi gawat akibat masalah Viscount Given."
"Soal itu,
Saila sudah berkali-kali minta maaf padaku."
Karena Viscount
Given bergerak dengan sangat cerdik, Saila baru mengetahui seluruh duduk
perkaranya setelah kejadian itu berakhir.
Begitu mendengar
ceritanya, Saila sangat marah dan mencoba berkali-kali untuk menghubungi
keluarga Clausel, namun...
"Sepertinya
Marquis Ignat menekan keluarga Duke itu agar tidak bisa bergerak. Ditambah lagi
faksi mereka sedang kacau karena masalah Viscount Given, orang tua Saila
mati-matian menahannya demi melindunginya."
"Ah~ kalau
Marquis Ignat yang melakukannya, aku tidak heran."
Ternyata memiliki
Marquis Ignat sebagai sekutu benar-benar menenangkan hati.
Entah seberapa
besar kekuatan yang ia kerahkan hingga keluarga Duke sekalipun dibuat tidak
berkutik.
"Sepertinya
Nona Riohard sangat mencemaskan Anda, ya."
"Iya. Anak
itu memang baik hati."
Bagi Licia yang
tidak punya kesan baik terhadap faksi Pahlawan, meskipun ia tidak bisa membenci
Saila secara pribadi, ada perasaan rumit tak terbendung yang bergejolak di
dalam hatinya.
Meski disebut
satu faksi, ternyata mereka tidaklah sejalan, dan semakin dipikirkan,
situasinya terasa semakin kompleks.
"Hei, hei!
Sekarang gantian ceritakan tentangmu! Bagaimana keadaan di desa?"
Mendengar
pertanyaan dengan nada ceria itu, Ren pun mulai menceritakan kenangannya dengan
semangat.
◇◇◇
Malam
harinya, Weiss datang ke ruang kerja tempat Ren dan Lessard sedang berbincang
dengan ekspresi yang sangat serius.
"Semuanya
sesuai dengan laporan Tuan Muda. Tanduk itu memang milik Asval."
Mendengar
itu, Lessard yang sedang duduk di sofa tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!
Aku sudah tidak kaget lagi! Apa
pun yang Ren lakukan, aku hanya perlu menertawakannya! Malah, aku merasa senang
benda itu terdampar di desa keluarga Ashton."
"Baguslah
kalau benda itu tidak mencolok, tapi pertanyaannya kenapa bisa terdampar di
desaku?"
"Lihatlah
ini. Kemungkinan besar, benda itu terbawa aliran sungai bawah tanah."
Lessard
membentangkan peta di atas meja di depan sofa.
Pada peta
yang menggambarkan topografi wilayah kekuasaan itu, terdapat banyak garis biru
yang digambar.
Sungai
tersebut adalah jalan keluar yang bisa dicapai melalui jalur bawah tanah Star
Agate—sebuah hidden map di Pegunungan Balder yang dulu dituju Ren saat
melarikan diri bersama Fiona.
"Sungai
bawah tanah di sekitar sana terhubung dengan urat air besar yang ada di wilayah
kita."
"Memang
masuk akal jika tanduk itu hanyut ke sana…… tapi apa bisa terdampar di desaku
secara kebetulan?"
"Sejujurnya
aku juga merasa ini terlalu kebetulan sampai-sampai terasa seperti disengaja.
Tapi nyatanya memang begitu. Fakta bahwa benda itu terdampar di desa keluarga
Ashton tidak bisa dibantah."
Tidak ada
penjelasan lain yang lebih masuk akal.
(Mungkin karena
ada ikatan dengan keluarga Ashton, jadi benda itu tertarik ke sana…… atau
semacamnya.)
Meski itu pun
terdengar tidak masuk akal, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja mengingat
besarnya kekuatan Asval.
Masalah utamanya
sekarang adalah apa yang harus dilakukan terhadap tanduk berharga yang nilainya
tidak terkira ini.
Sulit untuk
menjualnya ke pasar. Mengingat jenis materialnya serta masalah yang melibatkan
Marquis Ignat dan Fiona, ia ingin menghindari konflik tidak perlu yang mungkin
timbul jika benda ini beredar di pasar umum.
"Sepertinya
aku harus berkonsultasi langsung dengan Marquis Ignat nanti."
"Berarti
Anda akan pergi ke Eupeheim?"
"Tidak,
di musim panas nanti akan ada pesta yang diadakan oleh seorang bangsawan rekan
dekat Marquis Ignat. Beliau yang memintanya agar kami punya kesempatan untuk
bicara."
Marquis
Ignat sengaja menggunakan perantara bangsawan lain karena faksi mereka berbeda
dengan keluarga Clausel.
Setelah
urusan dengan Marquis Ignat dianggap beres, Ren masih punya hal lain yang ingin
ia bicarakan.
"Maaf, aku
ingin mengganti topik pembicaraan."
Ren menceritakan
apa yang ia dengar dari Roy kepada Lessard. Termasuk apa yang pernah diucapkan
oleh Asval, karena ia merasa bisa mempercayai kedua orang ini.
"Petualang
yang merupakan leluhur keluarga Ashton…… sayangnya aku belum pernah mendengarnya.
Bagaimana denganmu, Weiss?"
"Saya
juga belum pernah mendengarnya. Namun, sulit untuk tidak menghubungkan
kata-kata Asval dengan cerita Tuan Roy. Hanya saja, sangat aneh jika identitas leluhur sehebat itu tidak diketahui
sama sekali."
"Benar.
Seharusnya namanya terukir dalam sejarah."
Keduanya pun
mengaku tidak ingat pernah membaca buku yang menyebutkan hal tersebut di
perpustakaan kediaman.
"Dulu,
setelah keributan Viscount Given berakhir, aku sempat menyelidiki ulang tentang
desa Ren. Aku mencari alasan kenapa desa itu menjadi incaran, tapi tidak
menemukan informasi apa pun. Apa para tetua di desa tidak tahu apa-apa?"
"Aku sudah
mencoba bertanya secara tersirat kepada Nenek Ligg, sang tabib desa, tapi
sepertinya dia juga tidak tahu apa-apa."
"……Kalau
begitu, mungkin memang tidak ada cara untuk menyelidikinya."
"Hanya
sedikit pihak di Leomel ini yang mampu menghapus nama pemenang atas Asval dari
sejarah. Mungkin ada latar belakang yang sangat rumit di baliknya."
"Jika benar
begitu, mungkin informasinya hanya tersisa di Ruang Buku Terlarang."
Ternyata di
Perpustakaan Kekaisaran yang juga bisa dikunjungi dalam gim Seven Heroes
Legend, ada sebuah area yang disebut Ruang Buku Terlarang.
Disebut
'katanya', karena itu bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh pemain. Tempat
itu berada di bawah pengawasan yang sangat ketat sesuai namanya, sehingga
pemain hanya mengetahuinya lewat informasi saja.
"Begitu
ya."
"Tuan
Besar, kenapa Anda malah tersenyum?"
"Karena
akhirnya aku mulai mengerti sedikit. Weiss pun pasti tahu siapa saja orang yang
memiliki otoritas untuk memasuki Ruang Buku Terlarang."
"Jangan-jangan
maksud Anda saat Viscount Given masih menjabat sebagai Wakil Menteri
Kehakiman?"
"Tepat
sekali. Selain kepala perpustakaan, hanya ada segelintir orang yang bisa masuk
ke sana. Kaisar, Putra Mahkota yang belum ditentukan, Menteri Kehakiman, dan
Wakilnya."
Memikirkan
kembali alasan kenapa dulu Viscount Given mengincar desa keluarga Ashton.
(Viscount Given
mengetahui sesuatu tentang keluarga Ashton di Ruang Buku Terlarang, lalu
sengaja mengincar wilayah pelosok itu.)
Hanya saja, ia
tidak tahu apa 'sesuatu' itu. Hal itu benar-benar membuatnya gemas.
"Punya leluhur yang bahkan bisa mendominasi Asval.
Wajar saja jika ia mengincar Ren yang lahir di keluarga Ashton. Bisa jadi dia
malah berpikir bahwa keluarga kalian mewarisi darah Pahlawan Ruin."
(Kalau yang itu
sih salah besar~.)
Dalam hati Ren
membantah hal itu sambil membayangkan sosok Vain, sang protagonis asli Seven
Heroes Legend.
Sambil tersenyum
kecut, ia berkata.
"Meskipun
ada kemungkinan informasinya tersisa di sana, kalau di Ruang Buku Terlarang sih
kita tidak bisa berbuat apa-apa, ya."
Kecuali jika Ren
atau kenalannya bisa menjadi sosok yang punya otoritas masuk ke sana, ceritanya
akan berbeda.
"Informasi
ini sebaiknya kita bagikan juga kepada Marquis Ignat untuk berjaga-jaga."
"Sepertinya
itu ide yang bagus."
Ren dan Lessard pun saling bertukar sepakat.



Post a Comment