Chapter 11
Musim Panas di Erendil, Pertempuran Menara Jam
Raksasa
Bulan Juli pun
tiba. Karena banyak hal yang harus dilakukan, waktu berlalu dalam sekejap mata.
Pada sore hari
setelah ujian tahap kedua Akademi Perwira Kekaisaran berakhir, wajah Ren yang
pulang ke kediaman bersama Licia tampak semakin tegang seiring berjalannya
waktu.
"Dalam
situasi seperti ini, andai aku bukan bangsawan, mungkin aku bisa pergi
bersamamu."
Mendengar
gumaman Licia yang duduk di sofa ruang tengah, Ren bertanya, "Ada apa,
Nona?"
Licia
menjawab, "Aku hanya baru menyadari betapa tidak berdayanya diriku,"
lalu ia menyesap cangkir yang terletak di atas meja.
"Ah, bicara soal itu."
"Apa?"
"Saat
ujian tadi, Anda tidak bertemu dengan teman Anda, ya?"
Reaksi Licia
sedikit terlambat mendengar panggilan lama itu. Ia mengerjapkan mata
berkali-kali sambil menatap wajah Ren yang duduk di sampingnya, lalu tertawa.
"Pasti teman
murniku itu mendaftar lebih awal. Makanya dia ujian di ruangan yang berbeda dengan kita."
Ren
mengangguk mengerti mendengar jawaban itu.
"……Entah
kenapa, aku hanya mendadak ingin memanggil Anda seperti dulu lagi."
"Fufu,
rasanya sedikit segar. Lagipula, aku jadi senang karena tahu kalau Ren juga
bisa merasa gugup."
"Gu-Gugup?"
"Iya.
Kamu sedang gugup, kan?"
Licia
tidak mengucapkan kata-kata yang lebih spesifik. Ia menyimpan pikirannya di
dalam hati karena tidak ingin ucapannya menjadi beban bagi Ren.
Beberapa
puluh menit berlalu. Dua orang tamu mengunjungi kediaman keluarga Clausel. Yuno
mengantar Fiona Ignat masuk, dengan Edgar yang berjaga di belakangnya.
Kedatangan Fiona
ke kediaman ini adalah demi keamanannya. Meski panggung pertempuran berada di
Menara Jam Besar Erendil, ada satu alasan kuat mengapa ia lebih baik berada di
sini. Yaitu keberadaan sosok yang akan memberikan bantuan saat Ren terjun ke
medan perang.
"Mohon maaf.
Aku izin undur diri sebentar."
Suara Ren
terdengar sedikit lebih kaku dari biasanya saat ia meninggalkan sisi kedua
gadis itu. Ia
bertukar pandang dengan Edgar dan mengajaknya keluar dari ruang tengah.
Fiona dan
Licia yang ditinggalkan kini duduk berhadapan di sofa.
"Gaun
musim panas Nona Fiona, seperti yang kupikirkan sebelumnya, sangat cocok untuk
Anda."
"Ti-Tidak!
Menurutku Nona Licia jauh lebih cocok memakainya!"
Itu
bukanlah sekadar basa-basi atau upaya mengambil hati, melainkan kata-kata tulus
dari lubuk hatinya. Saat Licia
mengenakan seragam akademi nanti, ia pasti akan memikat hati lawan jenis sama
seperti Fiona.
Setelah
berbincang santai, keduanya saling bertukar ekspresi sedih.
Memang
benar mereka jauh lebih kuat dibanding gadis seusianya, namun kekuatan tempur
yang ada sudah cukup.
Tidak ada yang
bisa mereka lakukan di sini selain menjadi pihak yang dilindungi.
Meski
begitu, bukan berarti mereka hanya diam.
Mereka
melakukan apa yang bisa dilakukan di sini; membantu pekerjaan Ulysses dan
Lezard, serta terus bersiap agar bisa bergerak jika keadaan menjadi darurat.
Namun,
rasa tidak berdaya karena tidak bisa mendukung Ren dari dekat tetap terasa
menyesakkan.
◇◇◇
Beberapa
menit setelah mereka berbincang, Ren kembali ke ruang tengah.
Penampilan
Ren kini benar-benar berbeda, sosok yang telah menyelesaikan persiapan untuk
pergi bertempur.
Kukuru
yang terbang di sekitarnya merasakan ketegangan yang menyelimuti dan menatap
Ren dengan cemas, lebih dari biasanya.
"Tidak
apa-apa, kok."
"……Kuu?"
Suara itu seolah
bertanya, Benarkah?
Ren mengelus
kepala Kukuru, membuat makhluk itu menggeliat kegelian. Saat Ren berjalan
mendekati para gadis, Kukuru mengikutinya dan melayang-layang di sekitar
mereka.
"Kalau
begitu, aku berangkat sekarang."
"Hati-hati
di jalan. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu pulang dengan luka-luka."
"Tolong
berhati-hatilah. ……Kalau kamu melakukan hal nekat, aku juga akan marah."
Mereka
tidak melepasnya dengan ringan. Ada banyak keraguan di hati mereka, dan memilih kata-kata yang tepat untuk
disampaikan pada Ren pun terasa sulit.
Namun tetap saja,
mereka percaya. Bagi mereka, Ren adalah penyelamat nyawa. Mereka memercayai
kekuatan dan kata-kata Ren melebihi siapa pun.
Dilepas oleh
kedua gadis itu, Ren meninggalkan kediaman seorang diri. Licia dan Fiona
bergegas ke jendela, terus menatap punggung Ren hingga ia tidak lagi terlihat.
Ulysses
tidak ada di Erendil. Ia saat ini berada di Ibu Kota, bergerak secara terpisah
agar bisa melakukan tindakan besar jika keadaan mendesak.
Di sisi lain, Ren
meninggalkan kediaman dan menuju sebuah bangunan tua yang terbengkalai di
pinggiran kota. Di bagian dalam bangunan ini, tersembunyi jalan menuju ruang
bawah tanah rahasia.
Begitu Ren
menyentuh lantai kayu yang usang, sebagian lantai menghilang bagaikan kabut dan
menampakkan tangga menuju bawah tanah. Ren menuruni tangga tersebut dan membuka
pintu kayu tua di bawahnya.
"Ren-dono?"
Seorang pria
berbadan besar yang sering beradu pedang dengannya di Shishi Seicho ada di
sana. Selain dia, para pengguna pedang hebat lainnya yang juga sering berlatih
dengan Ren tampak berkumpul. Semuanya tidak mengenakan seragam Shishi Seicho,
melainkan berpakaian layaknya petualang.
"Kenapa
Ren-dono ada di sini?"
"Ah…… bagaimana bisa……"
Para ksatria itu mulai bertanya-tanya, namun kesunyian
segera menyelimuti ruangan saat Radius, yang duduk di kursi paling ujung ruang
bawah tanah, memberikan jawaban.
"Aku yang memanggilnya. Malam ini, Ren akan menjadi
kawan seperjuanganku yang kujaga punggungnya."
Semua orang
terperangah, namun segera bisa menerima kenyataan tersebut. Bagi mereka yang
sudah merasakan sendiri kekuatan Ren, tidak ada alasan untuk meragukan
kemampuannya.
"Jika
ada Ren-dono, ini benar-benar melegakan."
"Ini sama
saja dengan mendapatkan seribu ksatria. Sungguh menggembirakan."
Para ksatria
menyambut kedatangan Ren dengan penuh suka cita. Kalimat-kalimat penyemangat
dilontarkan setiap kali Ren berpapasan dengan mereka menuju tempat Radius
berada.
Ren berjalan
membalas sapaan itu, hingga akhirnya ia sampai di samping Radius.
"Radius."
Para ksatria
Shishi Seicho membelalakkan mata saat Ren memanggil Radius tanpa gelar
kehormatan. Namun, melihat Radius hanya menyahut "Ada apa?" dengan
santai, mereka pun tetap diam mengamati.
"Apa
orang-orang di sini adalah kekuatan tempur untuk hari ini?"
"Benar,
tapi jangan bilang kamu merasa tidak puas."
"Aku
hanya terkejut. Jika kekuatan yang dikerahkan adalah para pengguna pedang hebat
ini, aku malah jadi merasa kasihan pada musuhnya."
Hanya
karena Ren tumbuh dengan kecepatan monster, bukan berarti para ksatria Shishi
Seicho itu lemah.
Mereka
semua adalah orang-orang berbakat atau jenius yang telah berusaha sejak kecil,
dan kemampuan rata-rata mereka bahkan melampaui Ksatria Pengawal Kerajaan.
Waktu
berlalu sedikit lagi, Radius melihat jam tangannya lalu beranjak dari kursi.
"Tuan-tuan
sekalian, sudah waktunya."
Suara
serentak para ksatria yang menegakkan posisi bergema di ruang bawah tanah.
Mata mereka
seketika berubah menjadi tajam dan penuh kekuatan. Ren dibuat takjub oleh
kekuatan dan koordinasi yang begitu rapi dari orang-orang yang biasanya ia
lihat berlatih tersebut.
Inilah wajah
para ksatria Shishi Seicho saat menuju medan perang, pikir Ren.
Para ksatria
kemudian membuka jalan dan menghunuskan pedang, memegangnya tegak di depan
dada.
Jalan yang
tercipta adalah jalan bagi Ren dan Radius. Radius bertanya kepada mereka sambil
berjalan berdampingan dengan Ren.
"Aku
bertanya pada kalian. Malam ini, apa yang akan kalian tegakkan?"
『Keadilan Raja
Singa!』
"Aku
bertanya pada kalian. Malam ini, apa yang akan kalian tegakkan?"
『Keadilan Pedang
Hebat!』
"Kalau
begitu, hancurkanlah mereka. Dengan pedang yang kalian genggam, tunjukkanlah
murka Sang Pendiri Bangsa, Raja Singa!"
Kekuatan tempur
istimewa yang dibanggakan Leomel, yang bahkan tidak dimiliki oleh tujuh
keluarga bangsawan agung. Ksatria Shishi Seicho terkadang terjun ke misi khusus
atas perintah keluarga kekaisaran seperti ini.
Dan saat itu
tiba, mereka akan menunjukkan kekuatan mereka seperti yang dikatakan Radius.
Setelah seruan
yang tanpa cela itu, mereka keluar dari ruang bawah tanah menuju luar bangunan
tua. Tepat sebelum
operasi benar-benar dimulai secara resmi.
"Ren."
Semua
orang berhenti di tempat itu.
"Aku juga
akan bertanya padamu. Malam ini, apa yang akan kamu tegakkan?"
Ren membutuhkan
waktu beberapa detik untuk menjawab pertanyaan itu.
Di hadapan para
ksatria Shishi Seicho dan keturunan Raja Singa, ia ragu apakah pantas
mengucapkan apa yang ada di pikirannya.
Namun, ia
mengikuti gejolak di hatinya. Ren menatap langit, lalu berseru kepada Radius
dan para ksatria.
"Aku akan
menjadi singa yang menundukkan semua musuh tanpa sisa."
Mungkin bagi
sebagian orang, ucapan itu terdengar sombong. Namun, tidak ada yang
mencemoohnya. Semua orang justru terintimidasi oleh aura yang terpancar dari
sosok dan suara Ren.
◇◇◇
Di sekitar Menara
Jam Besar terdapat alun-alun dengan air mancur di tengahnya serta taman alam.
Ada satu jembatan yang menghubungkan area tersebut dengan kota.
Akan sangat ideal
jika seluruh kota bisa disterilkan dari warga, namun itu hampir mustahil. Jika
dilakukan, Kultus Raja Iblis pasti akan curiga dan rencana awal bisa berantakan
total.
Area di sekitar
Menara Jam Besar terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sejak sore hari,
wilayah sekitarnya telah diblokade dengan alasan tertentu.
『Ditemukan
kejanggalan pada batu jalanan di alun-alun dan jembatan, dilarang memasuki area
sekitar.』
Itulah tulisan
pada papan pengumuman besar yang dipasang di jalan.
Tidak ada
bangunan tempat tinggal warga sipil di sekitar Menara Jam Besar; yang ada
hanyalah fasilitas komersial dan kantor publik. Pemilik toko yang diperintahkan mengungsi akan
diberikan uang kompensasi nantinya.
Orang-orang
suruhan Ulysses telah memastikan tidak ada warga sipil yang tertinggal. Persiapan sudah matang agar tidak ada
korban jiwa di tempat lain.
Apa yang
dipikirkan para anggota Kultus Raja Iblis melihat ini?
Sebuah Perangkap?
Atau ini pertanda
penggantian batu sihir Menara Jam Besar?
Radius tidak bisa
memastikan apa yang dipikirkan musuh, tapi ada satu hal yang pasti. Mereka
sudah berada di tahap di mana tidak mungkin lagi membatalkan operasi.
Di dekat jembatan
menuju Menara Jam Besar, ada sepasang pria dan wanita.
Mereka adalah
Vane dan Sarah. Setelah menyelesaikan ujian tahap kedua hari ini, mereka
langsung meninggalkan Ibu Kota dan berkunjung ke Erendil.
Tujuannya adalah
untuk saling mengapresiasi kerja keras mereka dan melepas penat.
"Sayang
sekali. Sepertinya kita tidak bisa ke alun-alun."
Sarah menghela
napas. Bahkan untuk mendekati jembatan saja tidak bisa.
Para prajurit
penjaga telah memblokade jalan dan mengawasi dengan tajam agar tidak ada orang
yang tidak berkepentingan mendekat.
"Ayo pulang.
Kita bisa pergi lain kali saja."
Saat mereka
hendak berbalik menuju Taman Langit, mereka berdua tersentak dan menghentikan
langkah ketika mendengar suara teriakan kemarahan, suara benda meledak, dan
suara yang terdengar seperti penggunaan sihir.
"Vane!"
"Ya, aku
mendengarnya!"
Meski ada
penjaga, mereka mencoba mendekati jembatan untuk mencari tahu. Namun, para
penjaga menghentikan mereka.
"Mungkin
telah terjadi sesuatu. Kami yang akan memastikannya, jadi Anda berdua tenang
saja."
"Saya
melihat Anda adalah putri dari keluarga Riohard. Serahkan semuanya pada
kami."
"Kalau
begitu, beri tahu aku."
Sarah berkata
dengan tegas, "Kenapa kalian bisa menjelaskan padaku dengan begitu tenang?
Padahal ada keributan besar di sana, tapi kalian tidak terlihat panik sedikit
pun."
"Kami telah
dilatih untuk tetap tenang meski menghadapi situasi tak terduga demi melindungi
semua orang."
"Begitu ya.
Ya sudahlah kalau begitu. Tapi, bolehkah aku bertanya satu hal lagi?"
Nada bicara Sarah
mengandung permusuhan. Bukan permusuhan karena dihalangi oleh para penjaga,
melainkan karena identitas asli para penjaga itu terasa mencurigakan baginya.
"Aneh
sekali. Aku belum pernah dengar kalau semua penjaga adalah pengguna pedang
hebat."
Para
penjaga tetap berlagak tenang. Tanpa menggerakkan alis sedikit pun, mereka terus mendengarkan.
"Keberanian
kalian luar biasa. Tapi jangan remehkan putri keluarga Riohard. Aku sudah tidak
terhitung berapa kali beradu pedang dengan para pengguna pedang hebat. Dari
setiap gerak-gerik kalian, aku merasakan aura yang sama."
"……Sarah,
kenapa ada pengguna pedang hebat di sini?"
"Entahlah,
aku pun tidak tahu. Tapi
aku tidak berniat mengabaikan ini demi gadis itu, Licia."
Itulah alasan
utama Sarah menaruh permusuhan. Sarah merasa berhutang budi pada Licia atas
kasus Viscount Givin yang dulunya berada di faksi yang sama.
Ia sudah
bertekad, jika hal serupa terjadi lagi, ia pasti akan membantu. Bahkan jika
dilarang oleh ayahnya sekalipun.
"Para
pengguna pedang hebat ini…… bukan, mungkinkah kalian faksi kekaisaran? Jawab
aku, apa yang kalian lakukan di sini bersama-sama?"
"……"
"Baiklah.
Kalau tidak mau menjawab, aku akan memastikannya sendiri. Vane, tunggu di
sini."
"Jangan
bicara bodoh. Jika ini demi teman penting Sarah, aku juga tidak bisa tinggal
diam."
Tepat sebelum
mereka berdua melewati papan pengumuman, sikap para penjaga berubah drastis.
"Kami tidak
mengizinkan Anda melangkah lebih jauh."
Suara penjaga
itu──── bukan, suara ksatria Shishi Seicho berubah.
"Kami tahu
Anda memiliki hubungan akrab dengan putri keluarga Clausel. Namun kali ini,
serahkan pada kami."
"Besok
mungkin pihak keluarga Riohard akan menerima pemberitahuan."
Para ksatria
Shishi Seicho juga kesulitan menghadapi Sarah. Karena lawannya adalah putri
dari keluarga Riohard yang merupakan salah satu dari tujuh keluarga agung,
bersikap terlalu keras bisa memicu pertikaian antar faksi.
Mengganggu Radius
dan yang lainnya adalah hal yang paling harus dihindari.
────Namun, tepat
sebelum mereka berpapasan. Sesaat sebelum kata-kata ksatria itu sampai di
telinga Sarah, sebuah ledakan besar terdengar dari arah alun-alun
Menara Jam Besar,
disusul dengan munculnya beberapa pilar api.
Sesosok
orang mencurigakan muncul dari balik bayangan.
"Tch…… Vane!"
Orang itu mengincar punggung Sarah dan berlari dalam
kegelapan malam, namun—
"Tangkap hidup-hidup penyusup itu! Tidak perlu dibunuh,
tapi tidak masalah jika harus mematahkan tangan atau kakinya!"
Incaran para
ksatria Shishi Seicho seketika beralih ke sana.
"Gah!?"
Orang yang diduga
anggota Kultus Raja Iblis itu tertangkap dengan mudah.
Terkejut dengan
kejadian mendadak itu, Vane dan Sarah segera menghunus pedang dan masuk ke
posisi tempur. Sambil diliputi ketegangan, mereka bertanya:
"Apa yang
sebenarnya terjadi di sana?"
Hampir bersamaan
dengan pertanyaan itu, belasan anggota Kultus Raja Iblis baru muncul. Ksatria
Shishi Seicho berdiri menghalang untuk melindungi Vane dan Sarah.
Saat itulah,
beberapa orang dari keluarga Riohard muncul untuk melindungi mereka berdua.
Mereka adalah ksatria yang mengenakan jubah perak.
Mungkin mereka
adalah orang-orang yang melindungi dari bayang-bayang yang pernah diingat Ren
dulu. Dengan ini, munculnya belasan anggota Kultus Raja Iblis pun tidak menjadi
masalah.
Saat
beberapa anggota Kultus hendak menyerang pelindung Vane dan yang lainnya……
"Bisa
kuserahkan padamu?"
"Ya, tidak
apa-apa."
Begitu terdengar
suara dari arah belakang, Ren muncul di antara para pelindung Vane dan Sarah
dan para anggota Kultus yang mendekat.
Vane maupun Sarah
terbelalak melihat sosok Ren. Karena dia adalah anak laki-laki yang pernah
mereka temui di hutan pinggiran jalan dulu.
"Bahaya!"
"Lari! Kalau
di sana────!"
Meski mereka
mencoba memperingatkan, mereka merasa ada yang aneh.
Di tengah situasi
ini, Ren tampak sangat tenang mengamati ksatria Shishi Seicho, dan para ksatria
itu pun tidak bergerak untuk menolong Ren.
Namun, mereka
segera mengerti alasannya.
"Aku tidak
akan memberi ampun."
Anak laki-laki
yang pernah berbincang dengan mereka hari itu ternyata adalah seorang praktisi
bela diri yang luar biasa kuat.
Ren
mengayunkan pedang sihir besinya ke depan dengan kuat. Gelombang kejut yang
dihasilkan menyebar membentuk kipas dan membuat anggota Kultus yang mendekat
gentar.
Dengan
sigap, Ren memantapkan kuda-kuda dan menerjang cepat, menumbangkan beberapa
orang dalam sekejap mata.
Ada yang
dihantam ulu hatinya, ada yang dipukul telak di bagian leher.
Musuh
benar-benar ditundukkan tanpa perlawanan berarti. Berbeda dengan saat ia
berlatih di Shishi Seicho, kini Ren benar-benar melakukan penghancuran total.
Vane dan Sarah
kehilangan kata-kata menyaksikan kekuatan Ren.
"Benar-benar
kekuatan yang luar biasa."
Setelah
semua musuh tumbang, Radius muncul dengan menunggang kuda dan berbicara di
samping Ren.
"Tidak
perlu memujiku, sebaiknya cepat selidiki mereka."
"Aku tahu
itu."
Vane baru pertama
kali melihat Radius yang muncul tiba-tiba. Sarah yang menyadari kehadiran
anggota keluarga kekaisaran pun menjadi sangat gugup dan terbelalak.
"Orang-orang
di sini saja tidak cukup. Masih banyak lagi."
Setelah
menempelkan tangan pada segel anggota Kultus yang tumbang dan membuatnya
bersinar biru redup, Radius kembali menaiki kudanya. Di sampingnya ada kuda
yang tadi dibawa Ren, dan Ren pun ikut naik.
"Kamu
di sana, Sarah Riohard, kan?"
"Eh, a…… ya! Benar!"
Sarah terburu-buru melakukan salam hormat kepada Radius yang
berada di atas kuda. Vane yang berada di sampingnya pun melakukan hal yang
sama.
"Aku tidak mengizinkan kalian pergi lebih jauh dari
sini. Aku tahu kalian mengkhawatirkan keluarga Clausel, tapi itu tidak perlu.
Atas namaku, aku menjamin keamanan mereka sepenuhnya."
Jika sudah dikatakan begitu, Sarah tidak bisa membantah
lagi. Lawannya bukan sekadar faksi
kekaisaran, melainkan anggota keluarga kekaisaran itu sendiri. Sebesar apa pun
rasa khawatirnya pada Licia, wilayah di depan sana bukanlah tempat di mana
Sarah bisa ikut campur secara pribadi.
Melihat Sarah
sudah mengerti, Radius bertukar pandang dengan Ren lalu meninggalkan tempat
itu.
"Sarah, anak
itu kan yang waktu itu……"
"Iya…… kekuatannya benar-benar tidak masuk akal, aku
sampai tidak tahu harus bilang apa."
Sarah dan Vane terpaksa pulang sambil menahan rasa khawatir
pada Licia, dikawal oleh pasukan pribadi keluarga Riohard secara semi-paksa.
◇◇◇
Dampak pertempuran ini secara mengejutkan hanya bisa
dirasakan jika berada di dekat alun-alun Menara Jam Besar.
Hal ini karena alat magis khusus telah dipasang untuk
mengelola agar daya hancur, suara, dan pengaruh api tidak menyebar ke
lingkungan sekitar.
Fakta bahwa Kultus Raja Iblis berani menyerang dengan daya
tempur sebesar ini tanpa takut terlihat publik sungguh mengejutkan.
"Bajingan-bajingan
itu, di mana mereka bersembunyi selama ini?"
"Mungkin
menyamar jadi pelancong atau petualang, atau mungkin bersembunyi di dalam
muatan barang──── apa pun itu, apa yang harus kita lakukan tidak berubah."
Para ksatria
Shishi Seicho sama sekali tidak goyah. Karena mereka adalah ksatria di antara
ksatria, kelompok elit yang terdiri dari orang-orang terpilih.
"A-Apa-apaan
orang-orang ini!?"
"Aku
tidak dengar soal ini! Apa yang sebenarnya terjadi!?"
"Bukannya
penjagaannya seharusnya longgar────"
Orang-orang
berjubah hitam itu panik. Munculnya para petarung kuat yang tidak terduga
membuat kegemparan di antara anggota Kultus Raja Iblis.
"Meski
sekumpulan sampah berkumpul, hasilnya tidak akan berubah."
Ksatria
Shishi Seicho membereskan mereka secara efisien tanpa sedikit pun
terengah-engah. Para anggota Kultus dipukul pingsan dan dilumpuhkan di atas
batu jalanan.
"Yang
Mulia! Yang Mulia telah datang!"
Radius memacu
kudanya bersama Ren melintasi alun-alun Menara Jam Besar.
Tujuan mereka
adalah pintu masuk Menara Jam Besar. Area sekitar pintu masuk sudah menunjukkan
bekas-bekas kehancuran, menandakan musuh sudah menyusup ke dalam.
"Jangan
biarkan siapa pun menghalangi jalan Yang Mulia!"
"Atas nama
Raja Singa! Sapu bersih mereka semua!"
Para ksatria
Shishi Seicho yang menggunakan pedang hebat meraung dengan aura yang semakin
kuat. Tidak ada satu pun penghalang.
Di depan Ren dan
Radius, hanya ada satu jalan lurus menuju pintu masuk Menara Jam Besar.
"Ren,
setelah ini akan sedikit merepotkan!" seru Radius sambil memacu kudanya.
"Di
dalam Menara Jam Besar tidak ada lift!"
"Ha-Hah!?
Jangan-jangan maksudmu, kita harus lari menaiki tangga sampai ke puncak menara
yang tingginya tidak masuk akal ini!?"
"Tepat
sekali! Tapi jangan khawatir! Sampai hari ini, aku sudah giat melatih fisikku
di dalam istana!"
"Tch! Mana
cukup cuma dengan latihan mendadak begitu!"
Namun, mereka
sudah tidak bisa berhenti. Mereka tidak mungkin membatalkan operasi di tahap
ini, dan keduanya pun akhirnya menginjakkan kaki di dalam Menara Jam Besar.
◇◇◇
Setelah turun
dari kuda dan masuk ke dalam, pemandangan balok-balok kayu yang membentang jauh
di atas kepala menuju lapisan tertinggi menciptakan pemandangan yang megah.
Ada area di mana
roda gigi raksasa dan kecil menyatu, serta banyak dinding yang dihiasi
pola-pola rumit.
Beberapa ksatria
yang ada di luar mengikuti mereka berdua sesuai rencana.
Sambil menaiki
tangga yang mengelilingi ruangan, Ren menoleh ke arah Radius yang ada di
belakangnya.
"Kamu
baik-baik saja?"
"……Mulai
besok, aku terpikir untuk melatih fisikku lebih giat lagi."
"……Sebaiknya
memang begitu. Olahraga mendadak itu ada batasnya, tahu."
Dengan butiran
keringat besar di dahi, Radius yang lebih condong sebagai pejabat sipil
berusaha keras menaiki tangga. Lima menit, sepuluh menit berlalu, namun puncak
masih terasa jauh.
"Nuh……"
Saat Radius
tersandung dan hampir jatuh ke belakang, tangan Ren mencengkeram lengannya dan
menahannya.
"────Kamu
kan sudah menunjukkan tekad sebesar itu."
"Jangan jadi
beban, ya."
Yang terlihat
adalah keseriusan Ren. Bagi Radius yang juga serius datang ke sini dan terus
memikirkan rencana hingga hari ini, kata-kata itu terasa menusuk.
Namun alih-alih
merasa sombong, ia justru berterima kasih karena telah disemangati.
Radius
menyipitkan mata dan memacu tubuhnya yang kelelahan. "Jangan remehkan
aku."
"Bicara saja
sepuasmu. Kalau kamu nanti melakukan kesalahan di puncak, aku akan membalas
kata-kata itu."
"Iya, iya…… aku berdoa semoga itu tidak terjadi."
Jalan masih
panjang.
Lebih jauh ke
depan.
"Ren! Kita
akan sedikit memutar!"
Radius berkata
bahwa pintu di dekat sana adalah untuk mengelola area dial jam, dan mereka bisa
keluar ke jalur yang terpasang di bagian luar dial tersebut.
"Bukannya
kita harus cepat-cepat ke atas!?"
"Kalau lewat
jalur di depan dial, kita bisa mengejar Kultus Raja Iblis dari jalan yang
berbeda dengan orang-orang yang pergi lebih dulu! Selain itu, ada hal yang
ingin kupastikan!"
"Ah! Begitu
rupanya!"
Pertempuran juga
terjadi di dekat pintu menuju luar. Di luar pun ada seseorang yang sedang bertarung. Para anggota Kultus Raja Iblis pasti sudah
menyadari bahwa mereka telah dipancing ke sini. Meski melihat para ksatria yang
sudah menunggu di dalam menara, mereka tidak bisa mundur lagi dan terus
bertempur.
Strategi
Radius dan Ulysses tidak salah. Orang-orang sehebat mereka tentu punya alasan
kuat sengaja memancing musuh masuk dan bertempur di sini.
"────Anginnya……!"
Ren yang
memimpin di depan berlari melewati orang-orang yang bertarung dan keluar ke
luar gedung.
Jalur
yang dimaksud adalah jalur sederhana yang menghubungkan angka jam sembilan dan
jam tiga pada dial jam, hanya terdiri dari lantai dan pagar pegangan yang
tebal.
Meski
terlihat ringkih, namun karena terbuat dari logam khusus yang kokoh, jalur itu
tidak bergoyang.
Ada juga
jalur yang bercabang dari tengah menuju pusat dial jam. Angin musim panas
bertiup kencang menerpa Ren.
Dari dial
jam yang berada di dekat puncak Menara Jam Besar yang raksasa itu, ia memandang
pemandangan malam Erendil.
Seperti
ungkapan kotak perhiasan yang tumpah, pemandangan itu penuh dengan cahaya lampu
malam yang indah.
"Ren!"
Radius
berteriak saat melihat anggota Kultus Raja Iblis yang mendekat.
Pertempuran
juga terjadi di sini. Pengguna pedang hebat mencoba maju, namun Ren lebih dulu
mengayunkan pedang sihir besinya dan merobohkan musuh dalam sekejap.
Di depan
dial jam, Ren yang terjun ke pertempuran di pijakan yang sempit itu berkata:
"Tenang
saja. Ini bagianku."
Ia
membiarkan para ksatria mengawal Radius, sementara ia sendiri mengayunkan
pedang untuk menyelesaikan apa yang harus dilakukan.
Ketajaman
pedang yang terasah dan kegarangan yang tidak terlihat seperti milik seorang
remaja itu membuat Radius merasa lebih terkejut dibanding saat melihat pedang
Ren di dataran dulu.
"────Haaaaah!"
Satu per satu
anggota Kultus Raja Iblis dibuat pingsan oleh Ren. Radius yang terpana oleh
kekuatannya pun bergumam lirih.
"……Menjadi
singa, ya."
Itulah kata-kata
yang diucapkan Ren sebelum berangkat ke malam Erendil ini.
Melihat kekuatan
pedang yang hampir tidak bisa dipercaya sebagai teknik remaja, Radius kembali
teringat ucapan itu.
Sambil melakukan
hal itu, Radius maju menyusuri jalan yang dibuka Ren dan menuju ke arah jalur
yang bercabang di dekat dial jam untuk memastikan sesuatu.
"Ternyata
benar, di sini pun mereka mencoba membongkar sistem pelindung kota."
Ia mengangguk
setelah memastikan pergerakan musuh sesuai dengan dugaannya.
◇◇◇
Pintu menuju
puncak menara terletak di depan lantai yang berupa roda gigi raksasa. Lantai
roda gigi ini tidak bergerak, melainkan hanya sebuah desain artistik.
Namun roda-roda gigi di sekelilingnya tetap berputar dengan irama yang konstan hingga saat ini.
"Mereka
pasti ada di depan."
Radius
berkata sambil mengatur napasnya yang memburu.
Untuk
mendapatkan informasi dari Crest Kultus Raja Iblis, sebenarnya anggota
yang ada di luar tadi sudah lebih dari cukup.
Pemikiran
itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak sepenuhnya benar juga. Radius memiliki
keyakinan tertentu, sehingga ia merasa harus menyeret kakinya sendiri ke atap
ini meski harus bersusah payah.
Karena
itulah, ia tidak boleh membiarkan sosok yang kemungkinan besar adalah dalang
dari kerusuhan ini—orang yang menggerakkan kelompok bandit dan memutuskan untuk
menyerang Menara Jam Besar—lolos begitu saja.
"Aku yang
maju duluan."
Ren membuka pintu
yang menghubungkan ke taman atap menara.
Wush! Angin musim panas yang hangat menerpa
mereka berdua.
Jika seseorang
menengadah dari taman ini ke arah kubah langit yang pekat, bintang-bintang yang
bertaburan akan terlihat jelas. Tempat ini benar-benar kursi kelas utama untuk
memandang langit.
Namun, di kursi
kelas utama itu, ada belasan tamu tak diundang.
Seorang pria
berseru saat melihat Ren dan yang lainnya muncul tiba-tiba.
"Oyaaa?"
Di bagian
terdalam taman, sebuah prasasti yang tampak terbuat dari batu obsidian berdiri
dengan megah. Tempat itu dikelilingi oleh bunga warna-warni, memberikan suasana
yang misterius.
Sosok yang
berdiri di depan prasasti itulah yang baru saja bersuara.
Pria itu
mengenakan jubah hitam pekat seperti yang lainnya, namun tangannya menggenggam
sebatang tongkat mewah.
Kulit kepalanya
yang dicukur plontos layaknya biksu prajurit dihiasi oleh tato dengan pola yang
rumit.
Tubuhnya sangat
tinggi, meski tidak sampai dua kali lipat tinggi Ren, namun ia berjalan dengan
punggung membungkuk seperti kucing, memberikan kesan yang sangat ganjil.
"Oya oya
oyaa? Tak kusangka, bukankah ini Pangeran Ketiga?"
Radius, yang baru
saja selesai mengatur napas, memaksa kakinya yang kelelahan untuk terus
melangkah.
Para ksatria
Shishi Seicho berjalan di depannya, sementara Ren berjalan di sampingnya.
"……Uskup
Lenidas."
Nama yang
diucapkan Radius adalah nama yang pernah didengar Ren sebelumnya.
Itu juga
merupakan nama uskup yang sempat menjadi topik pembicaraan saat Fiona mengobrol
dengan teman-temannya waktu itu.
"Oh! Anda
masih mengingatku!"
"Mana
mungkin aku lupa. Bagaimana bisa aku melupakanmu yang dulu menjabat sebagai
uskup di Katedral Agung Ibu Kota?"
Mendengar
percakapan itu, Ren mulai memahami situasinya.
Yang mengganjal
di pikirannya adalah, mengapa orang seperti itu bisa menjadi pengikut Kultus
Raja Iblis?
Radius
menyuarakan pertanyaan itu seolah mewakili perasaan Ren.
"Kamu yang
dulu melayani Dewa Utama Elfen adalah orang suci yang namanya dikenal hingga ke
Tanah Suci. Tapi kenapa kamu menjatuhkan dirimu ke dalam sesuatu yang rendah
seperti Kultus Raja Iblis?"
"────Rendah?
Kami?"
"Benar. Kamu
pasti tidak lupa bahwa posisimu sekarang adalah bersekutu dengan Raja
Iblis."
Lenidas yang
terperangah kini menegakkan punggungnya yang tadi membungkuk.
Pria ini ternyata
luar biasa tinggi. Kemungkinan besar, ia bukan manusia murni melainkan memiliki
darah ras lain yang mengalir di tubuhnya.
"Aku baru
menyadarinya! Ternyata yang sebenarnya bodoh itu adalah Elfen!"
"……Apa yang
kamu sebut bodoh?"
"Tak perlu
ditanya lagi! Bagi Yang Mulia Radius yang menganggap Raja Iblis itu bodoh,
sepertinya tidak ada gunanya aku menjelaskan betapa mulianya beliau!"
Lenidas
memerintahkan para pengikutnya untuk mengintimidasi Radius dan Ren, sementara
ia sendiri berjalan perlahan sambil menyeringai licik.
"Pangeran……
aneh sekali, batu sihir Menara Jam Besar ini masih yang lama…… kenapa?"
"Kamu pasti
sudah tahu. Itu karena kami sudah menyadari rencanamu dan bersiap menunggu
kalian."
"……Kalau
begitu, kenapaaa? Kekuatan pelindung yang diciptakan oleh Milim Althea yang
termasyhur itu, kenapa tidak terlihat juga……?"
Kekuatan
pelindung tidak ada?
Ren mengernyit
mendengar hal yang berbeda dari cerita Licia sebelumnya.
"Tak perlu
ditanya. Bagi pria bodoh yang memihak Raja Iblis, aku tidak merasa perlu
menjelaskan alasannya."
Saat Radius
membalas dengan meminjam kata-kata Lenidas, pria itu mendadak berhenti. Para
pengikut Kultus yang mengelilingi Lenidas juga ikut berhenti.
"Baiklah.
Aku hanya perlu membawa Yang Mulia ke hadapan Pemimpin Besar kami dan
menanyakannya di sana. Ini justru lebih menguntungkan."
Pemimpin Besar
Kultus Raja Iblis? Saat
Radius mempertegas suaranya,
(Apa orang
itu?)
Ren teringat akan
sesuatu……
Begitu
Lenidas mengangkat tangan dan memberi instruksi, para pengikutnya mulai
mempersempit jarak. Melihat
hal itu, para ksatria Shishi Seicho maju ke depan.
Lenidas pun sama.
Ia tertawa congkak sambil dilindungi oleh para pengikutnya.
"Yang Mulia,
orang-orang di sini sepertinya lebih ahli daripada mereka yang di bawah."
Ucap salah satu
ksatria.
"Sepertinya
begitu. Tapi tetap saja, prioritaskan tangkap hidup-hidup."
Radius yang
memerintahkan hal sulit seolah itu mudah, bukannya tidak bertanggung jawab. Ia tetap berdiri bersama semua
orang yang berpartisipasi dalam operasi ini.
"Semuanya,
jika maut menjemput, itu akan terjadi bersamaku. Jika kalian tidak keberatan,
tunjukkanlah pedang hebat yang kalian warisi dari Raja Singa!"
Seruan itu adalah
kehormatan bagi para pengguna pedang hebat. Bagi ksatria yang mengabdi di
Shishi Seicho, tidak ada seorang pun yang tidak akan bersemangat mendengar
kata-kata anggota keluarga kekaisaran yang mempertaruhkan nyawa bersama mereka.
Para ksatria
meraung. Mereka mencabut pedang dan menerjang seperti ksatria sang raja
penakluk.
Suara dentuman
pedang yang beradu. Suara sihir angin yang membelah udara.
Api yang muncul dari sihir mulai menari-nari dan mendistorsi
pemandangan sekitar. Taman atap yang semula tertata rapi, dalam sekejap berubah
menjadi medan perang.
Sambil
memperhatikan situasi itu, Radius memanggil Ren.
"Ren."
Suaranya
datar dan tenang. Suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, tanpa
terbawa angin.
"Ada hal
yang harus kuminta maaf padamu."
"Padaku?"
"Ya. Kamu
masih ingat kemampuanku, kan? Dan kamu ingat kita pernah bersalaman setelah
itu."
Mendengar hal
itu, Ren menyadari apa yang ingin dikatakan Radius.
"Jika lawan
mengenakan pelindung yang memiliki kekuatan pertahanan sihir, kemampuanku akan
sangat tumpul. Namun saat itu kamu tidak memakainya, jadi aku sempat mengintip
sedikit kekuatanmu."
Radius tidak
sengaja melihat kekuatan Ren. Ia tidak berniat mengintip sejak awal saat mereka
bersalaman. Saat itu, ia benar-benar hanya ingin bersalaman secara tulus.
"Berarti,
kamu tidak melihatnya secara utuh?"
"Ya. Aku
merasa takut untuk melihat seluruh kekuatanmu. Sesaat setelah bersalaman, aku
merasa mengintip sebuah kekuatan yang berbeda dari apa pun yang kukenal……
kekuatan yang tidak berada di dimensi dunia manusia."
Kemungkinan besar
itu adalah tentang Magic Sword Summon, namun Radius tidak bisa
memahaminya.
Satu-satunya yang
ia pahami adalah betapa dahsyatnya kekuatan Ren. Sampai-asmpai ia terpikir
bahwa itu adalah kekuatan yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.
"Berkat
tidak bisa memahami seluruh kekuatanmu, aku jadi bisa memahami hal lain."
Di tengah
pertempuran antara ksatria dan Kultus. Mereka berdua melihat Lenidas yang
berada di posisi terdalam mulai mengulurkan tangan ke arah mekanisme Menara Jam
Besar.
"Dulu,
pernah ada cahaya yang menembus langit dari wilayah Clausel. Itu terjadi di
waktu yang hampir bersamaan dengan kerusuhan yang disebabkan oleh Viscount
Givin."
"…………"
"Cahaya itu
tidak hanya mencapai Ibu Kota, tapi juga sampai ke Benua Langit. Kudengar
cahaya itu melintasi Samudra Elfen dan bahkan bisa diamati dari Benua
Barat."
Radius menatap
Ren. Ren pun membalas tatapan Radius.
"Beralih
dari topik itu, Ulysses pun sama. Sampai sekarang ia masih menyembunyikan
kekuatan putrinya rapat-rapat. Aku mengerti bahwa menunjukkan kekuatan sama
saja dengan membeberkan kelemahan, tapi tetap saja perilaku Ulysses membuatku
penasaran."
"……Ya."
Jarak antara
keduanya menyempit setengah langkah. Radius seolah ingin mengatakan bahwa
pembicaraan ini tidak bisa ditawar, sementara para ksatria yang bertempur di
samping mereka tetap mendominasi musuh.
"Pegunungan
Baldur mengalami kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aku tidak
yakin itu semua adalah perbuatan Kultus Raja Iblis. Jika mereka bisa melakukan
hal seperti itu, mereka pasti sudah mengincar Ibu Kota sejak awal. Maka dari
itu, itu pasti bencana yang disebabkan oleh pihak lain."
Sambil
mendengarkan suara pertempuran, pembicaraan tetap berlanjut. Hingga sampai pada
kesimpulan yang dicapai oleh Pangeran Ketiga.
"Misalnya,
Naga Merah Asvar yang konon tertidur di Pegunungan Baldur."
Ren tidak
lagi menjawab dengan kata-kata.
"Jika
seandainya Asvar bangkit, semua potongan teka-teki akan menyatu. Jika putri
Ulysses memiliki kekuatan yang membuatnya harus disembunyikan, maka semuanya
akan terhubung."
"Tidak,
itu belum menyatu."
"Ho,
kenapa?"
"Seandainya
pun Asvar bangkit, siapa yang mengalahkannya? Asvar adalah naga legendaris.
Lawan yang bahkan Tujuh Pahlawan harus bekerja sama untuk bisa
melawannya."
"Itu sudah
jelas."
Radius
mengepalkan satu tangannya dan menekankannya ke dada Ren.
"Ren, itu
kamu."
Suaranya penuh
dengan keyakinan.
"Fakta bahwa
kamu melarikan diri dari Pegunungan Baldur bersama putri Ulysses dan sekarang
masih hidup adalah buktinya. Begitu juga dengan kasus Viscount Givin, kamulah
kunci dari segalanya."
Ren tidak
menjawab. Karena itu bukan masalah yang bisa dijawab dengan mudah, ia
mengalihkan pandangannya dari Radius dan menatap Lenidas yang berada di ujung
taman.
"Kalau tidak
mau menjawab, aku tidak akan bertanya lagi."
Namun, di situ
Radius mundur.
"Tapi Ren,
tak bisa dipungkiri bahwa kamu telah mempertaruhkan nyawa untuk melewati
situasi maut melawan musuh-musuh besar selama ini."
"Kalau
memang begitu, lalu kenapa?"
"Bukan
berarti aku akan melakukan sesuatu. Aku hanya berpikir bahwa malam ini, Ren
pasti akan menunjukkan pertarungan yang berbeda dari sebelumnya."
Ren kembali
menatap Radius. Namun kali ini Radius mengarahkan pandangannya ke arah Lenidas
sehingga mata mereka tidak bertemu. Sebagai gantinya, profil wajah Radius
tampak tenang.
"Aku tidak
butuh pertarungan hidup dan mati seperti biasanya. Yang harus kamu lakukan
adalah seperti yang kamu katakan sendiri. Kali ini, ini akan menjadi
pertarungan di mana kamu melumat musuh-musuhmu."
Ren memang
mengatakannya.
『────Aku
akan menjadi singa yang menundukkan semua musuh tanpa sisa.』
Ini adalah bukti
bahwa ini akan menjadi pertarungan yang berbeda dari biasanya.
Bukannya Ren
tidak pernah melumat musuhnya selama ini. Tapi karena ia selalu menang setelah
mempertaruhkan nyawanya, maka kemenangan Ren hanyalah hasil akhir.
Tapi dalam
pertarungan kali ini, hal itu tidak diperlukan.
Yang diminta dari
Ren, dan yang harus dilakukan Ren, adalah menunjukkan kekuatan mutlak itu.
"Edgar
pernah bilang padaku. Dalam hal teknik pedang hebat, Ren mungkin masih kalah
darinya, tapi jika sampai pada pertarungan hidup dan mati, ia tidak bisa
membayangkan hasilnya."
"Aku
tersanjung. Tak sangka Tuan Edgar yang hebat itu akan berkata begitu."
Setelah
mengambil napas sejenak,
"Tak
perlu merendah lagi. Jadi,
Ren,"
Radius memanggil
kembali dua ksatria ke sisinya, lalu berkata pada Ren.
"Tunjukkanlah
kepada kami kekuatan sejati dari singa yang kamu bicarakan itu."
Tugas yang
diminta adalah menangkap Lenidas hidup-hidup. Begitu Radius menyampaikannya,
Ren melangkah maju satu demi satu.
"Maukah kamu
menuntunku? Kawan seperjuangan, Ren."
"Ya. Aku
akan menuntunmu, kawan seperjuangan, Radius."
Sesaat setelah
percakapan pribadi mereka berakhir.
Baik ksatria
maupun pengikut Kultus yang sedang bertarung di depan, konsentrasi mereka
teralih oleh tekanan yang mendekat dan menghentikan gerakan mereka.
Seiring Ren yang
menjadi sumber tekanan itu mendekat langkah demi langkah, situasi medan perang
berubah dalam sekejap.
Para ksatria
menyadari sesuatu dan menarik diri ke posisi Radius agar tidak menghalangi Ren.
Para pengikut
Kultus merapatkan barisan, menyiapkan pedang dan tongkat mereka.
"────Bunuh
dia."
"────Bunuh
dia."
Suara-suara dari
pengikut Kultus bergema. Angin, api, es—berbagai sihir elemen memperlihatkan
taringnya ke arah Ren.
Radius
memperhatikan tanpa berkedip pemandangan di mana semua serangan itu hampir
mengenai Ren. Begitu juga dengan para ksatria.
Mereka tidak
meragukan kemampuan Ren yang mereka pahami lebih dalam daripada Radius.
(Masih sangat
jauh dibanding kekuatan Naga Merah.)
Menghadapi
sihir yang mendekat, Ren merasa yakin. Meski menghadapi sihir yang tidak bisa
dipotong secara fisik, semua itu masih kurang kuat untuk membuatnya merasa
takut.
Ren
mengangkat pedang sihir besinya dengan santai, menatap ke langit────
"Hari
ini, bintang-bintang terlihat sangat jelas."
Mengucapkan
kata-kata itu, ia melakukan satu tebasan horizontal.
Angin kencang,
atau mungkin badai. Angin yang tercipta dari tebasan itu berubah menjadi
gelombang tekanan yang menunjukkan kekuatannya pada kumpulan sihir yang
menyerbu.
Hal berikutnya
yang terjadi adalah kilatan cahaya yang muncul akibat hancurnya sihir-sihir
tersebut.
Radius dan para
ksatria menutup mata sejenak…… saat mereka membukanya kembali, di hadapan
mereka berdiri Ren dengan pedang sihir besi di tangannya.
Radius
merasa merinding. Teknik barusan benar-benar……
"Aku
belum pernah mendengar ada remaja yang bisa menggunakan Hoshisogi
(Penebas Bintang)──── Ren."
Itu
adalah teknik tingkat tinggi dalam ilmu pedang hebat yang ditunjukkan Edgar
kepada Ren musim panas lalu.
Menggunakannya
berarti seseorang sudah setara dengan tingkat pendekar pedang ahli dalam ilmu
pedang hebat.
Dengan
kata lain, setara dengan tingkat Sword Saint di aliran pedang lain.
Radius
tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas pertumbuhan Ren yang terlalu
cepat, namun bagaimana kenyataannya?
Memang
benar Ren tumbuh sebagai pengguna pedang hebat dengan kecepatan yang tidak
normal, namun jika mengingat usaha dan pengalamannya sebelumnya, kecepatan
pertumbuhan seperti ini justru adalah hal yang wajar.
Ren telah
berulang kali melewati pertarungan maut yang tidak dialami orang biasa, dan
menjalani latihan berat yang tidak sanggup ditahan orang biasa sejak kecil.
Bakat dan
teknik yang telah dipupuk itu kini mekar dengan indahnya dalam teknik pedang
hebat. Berkat usaha dan
pertaruhan nyawa selama inilah Ren bisa membanggakan kecepatan pertumbuhannya.
"Sihir
setingkat kalian tidak akan bisa menjangkauku."
Akan kupangkas
semuanya. Tanpa pengecualian.
Para pengikut
Kultus yang ketakutan mencoba merapalkan sihir bertubi-tubi, namun tidak ada
satu pun yang mengenai Ren.
Ren melesat
bagaikan angin.
"Ho!?"
Ujung pedang
sihir besi itu kini mengarah ke Lenidas yang mengeluarkan suara panik.
Tidak perlu
mempedulikan kroco-kroco lainnya, Ren langsung mengincar sang pemimpin.
Namun Lenidas
sudah bersiap, pedang sihir besi itu tertahan oleh dinding sihir hitam.
"Bunuh dia! Bunuh pria ini!"
Lenidas
berteriak memanggil para pengikutnya. Dalam sekejap, para pengikut Kultus
menyerbu dari belakang Ren, namun—
"Minggir."
Hanya
kroco-kroco yang bahkan tidak masuk ke dalam pandangannya.
Sambil
berputar, Ren mengayunkan pedang sihir besinya dan dengan mudah memotong pedang
serta tongkat musuh.
Ia
memberikan tekanan pedang kepada mereka yang goyah karena serangan balik, lalu
menghempaskan mereka semua hingga tak sadarkan diri.
Kembali ke
Lenidas. Namun kali ini tubuh Ren terhempas oleh sesuatu. Angin hitam yang
dilepaskan Lenidas membuat Ren menjauh beberapa meter.
"Kenapa,
kenapa ada pengguna pedang hebat seperti ini!?"
Di depan
Lenidas yang terkejut, Ren tetap tenang.
(Tadi itu,
sihir hitam ya?)
Faktanya,
kekuatan itu bukanlah kekuatan Raja Iblis, melainkan sekadar elemen yang
berlawanan dengan sihir suci.
Sihir itu bisa
memengaruhi hati manusia atau melemahkan lawan dengan kekuatan sihir. Sihir itu
juga memiliki kemampuan menyerang.
Kekuatan hitam
itu bisa menggerogoti tubuh, bahkan melepaskan api yang mampu membakar kulit.
Para pengikut
Kultus yang masih sadar mulai mundur perlahan bersama Lenidas sambil terus
melindunginya. Sambil mendekati mereka,
(Jangan
buru-buru begitu.)
Ren memusatkan
perhatiannya pada Gauntlet of the Flame King yang menutupi tangan
kirinya. Pelindung tangan itu terasa panas, bergejolak seolah hampir membakar
kulitnya.
"Tuan
Lenidas……! Melawan dia adalah……!"
Para pengikut
Kultus mulai takut pada Ren. Namun Lenidas berbeda.
Pria itu sudah
benar-benar jatuh menjadi orang gila yang fanatik. Meski terkejut dengan
kekuatan Ren, ia tidak punya sedikit pun niat untuk menyerah.
"Bertarung
demi Raja Iblis yang agung. Apakah kalian semua memiliki tekad itu?"
Jawabannya adalah
"Ya".
Meski takut pada
Ren, para pengikut itu tetaplah orang-orang fanatik.
Mereka tidak
takut untuk mengerahkan sebagian kekuatan Raja Iblis yang bersemayam dalam Crest
mereka meski harus mempertaruhkan nyawa.
Ketakutan mereka
hanyalah tentang kemungkinan tidak bisa menyelesaikan apa yang harus dilakukan.
"Demi raja
agung di Benua Iblis!"
"Demi
satu-satunya raja yang menguasai iblis!"
Para
pengikut Kultus menyentuh Crest mereka. Deg-deg, detak jantung
mereka berdegup kencang di suatu bagian tubuh. Crest itu ada di bahu,
wajah, punggung tangan, bahkan ada yang di dada.
Berbagai
sihir dikerahkan, dan di antaranya ada sihir yang sangat kuat hingga
memengaruhi cuaca.
Bintang-bintang
yang tadinya bertaburan kini tertutup awan yang tiba-tiba muncul, dan hujan
mulai turun setetes demi setetes.
Kekuatan
supernatural itu semua tertuju pada satu remaja.
Namun, remaja itu
adalah pahlawan pembunuh Naga Merah.
Pahlawan itu
tidak berniat membiarkan para pengikut Kultus berbuat sesuka hati.
Ia memangkas
sihir yang menyerang dan mengincar Lenidas.
Ren menembus
penghalang hitam dengan sangat mudah, lalu menusuk bahu kanan Lenidas dengan
pedang sihir besi di tangannya.
"Gahhhhh!?"
Mantan uskup yang
jatuh ke jalan kegelapan itu mengguncang tubuh besarnya dan berlutut.
Para pengikut
Kultus yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk mengaktifkan bukti pengabdian
pada Raja Iblis teralihkan perhatiannya sesaat.
Satu momen itu
mengubah nasib mereka. Ren memanggil Magic Sword of the Great Tree dan
mengayunkannya, membuat sulur-sulur yang mengandung sihir muncul dari segala
arah.
"Guh, oh……"
"Sihir alam…… masa sih……"
Para pengikut
Kultus itu lehernya terikat kencang dan semuanya jatuh tak sadarkan diri.
"Ku,
kukuku."
Lenidas yang
bersimbah darah dan menahan sakit tertawa dengan ngeri.
"Ah,
ini kegagalan! Sepertinya kamilah yang meremehkan dan menganggap enteng kalian!
Tapi…… ini belum berakhir!"
Lenidas
memukulkan tongkatnya ke lantai taman. Sebuah lingkaran sihir yang rumit muncul
di bawah kakinya, dan dalam sekejap menyebar ke seluruh taman.
Ren yang berada
di dekat lingkaran sihir terhempas mundur oleh tekanan yang dilepaskan.
"Saint
Seal Formula!?"
Suara
terkejut Radius terdengar saat ia mengamati situasi.
"Kufufufu!
Aku ini adalah orang yang pernah melayani Elfen! Sudah sewajarnya aku bisa
menggunakan Saint Seal Formula tingkat ini!"
Ren yang
terhempas mundur berdiri menghalang untuk melindungi Radius dan para ksatria
sambil teringat sesuatu.
(Saint
Seal Formula adalah kekuatan para pendeta yang melayani Dewa Utama.)
Awalnya
itu adalah kekuatan yang digunakan dengan menggunakan media tongkat atau pedang
khusus buatan Tanah Suci melalui kekuatan sihir pendeta.
Itu
adalah perwujudan kekuatan suci dari senjata yang telah diasah dengan air suci
yang dibuat di Ginseikyuu, Katedral Agung di pusat Tanah Suci.
Kekuatannya
menyerupai sihir suci dan sangat besar. Melalui efek sinergi antara sihir
pendeta itu sendiri dan senjata yang telah disiapkan, kekuatannya bisa
ditingkatkan tanpa batas.
Namun,
"Itu tidak
masalah bagiku."
Ren berkata tanpa
melepaskan pandangannya dari Lenidas, meski rambutnya basah karena hujan.
"Bodoh! Sepertinya kamu tidak tahu kekuatan Saint
Seal Formula!"
"Aku tahu,
kok. Pasti sama atau bahkan lebih baik darimu."
Kilatan cahaya
yang menyilaukan muncul dari berbagai sisi lingkaran sihir. Selain
Lenidas…… kaki semua orang, termasuk Ren, terasa berat.
"Radius, kamu percaya padaku?"
Tiba-tiba, saat melihat Ren yang menoleh di tengah guyuran
hujan, Radius menjawab tanpa ragu:
"Lakukan
sesukamu. Tapi kalau kamu punya rencana, beri tahu aku dulu lain kali. Ini
sedikit buruk bagi jantungku."
"Ah…… maaf. Aku akan melakukannya lain kali."
Ren
mengangguk dengan senyum segar layaknya remaja seusianya.
Kekuatan Naga Merah yang agung, Magic Sword of Flame.
Pedang sihir yang memberikan konsumsi energi dan serangan
balik besar bagi penggunanya akhirnya menampakkan wujudnya.
Sejak ia tahu
bahwa mantan pendeta seperti Lenidas adalah musuhnya, Ren sudah memikirkan satu
hal.
……Dalam
Legenda Tujuh Pahlawan juga begitu. ……Jika seorang pendeta menggunakan kartu as-nya, itu pasti Saint Seal
Formula.
Ia juga berpikir
bahwa jika orang setingkat uskup yang menggunakannya, kekuatannya pasti akan
luar biasa.
Pasti Lenidas
sudah bersiap untuk mengaktifkan Saint Seal Formula kapan saja sejak ia
menyerang Menara Jam Besar ini untuk berjaga-jaga.
Ren sudah
memprediksi hal itu sejak awal pertempuran dimulai.
Semua formula
yang disiapkan musuh harus dimusnahkan selama pertempuran ini.
"Aku
memang menunggu kamu menggunakan Saint Seal Formula."
Begitu
sudah diaktifkan, ia hanya perlu menonaktifkan formula tersebut. Dengan begitu,
ia yakin kemenangan mutlak akan tercapai────
"Aku
hanya akan menunjukkan kekuatanku sendiri."
Bakar
sampai habis. Seolah berkata demikian, permata merah tua yang menghiasi Gauntlet
of the Flame King memberikan sinyal dengan cahaya redup tentang kekuatan
panas yang membara.
Ren, yang
dulu disebut Ashton yang lemah, tahu lebih baik daripada siapa pun betapa
mengerikannya api dari naga tersebut.
"Baktikanlah
dirimu dan terbakar habislah oleh cahaya Dewa Utama yang bodoh ini! Walau bagi
orang Leomel, ini mungkin keinginan yang kalian dambakan!"
Lenidas kembali
memukulkan tongkatnya ke tanah. Dari lingkaran sihir yang menyebar dari bawah
kakinya, cahaya dari Saint Seal Formula hendak memancar.
Membakar habis dengan kekuatan suci. Karena menyadari tidak
bisa menang hanya dengan bertarung biasa, ini adalah serangan yang dilepaskan
dengan niat untuk mati bersama.
Namun, itu tidak akan berhasil.
Ren menghilangkan dua pedang sihirnya dan memanggil Magic
Sword of Flame.
Baik bagi Lenidas, Radius, maupun para ksatria Shishi
Seicho, semua gerakan Ren yang memegang Magic Sword of Flame dengan
posisi terbalik terlihat sangat lambat, seperti adegan yang diputar perlahan.
Hanya sesaat setelah Lenidas memukulkan tongkatnya ke
lingkaran sihir, Ren berseru.
"Tunjukkan padaku."
Magic Sword of Flame yang dipegang dengan posisi
terbalik itu menusuk lingkaran sihir yang menyebar di bawah kaki Ren.
Api emas yang membuat cahaya Saint Seal Formula
terlihat seperti bayangan belaka.
"Api apa
itu……!?"
Dari bawah kaki
Ren, api itu menyebar mengikuti pola lingkaran sihir.
Api emas yang
membakar lingkaran sihir itu menyelimuti sekitar.
Api itu tidak
membakar makhluk hidup, melainkan hanya membakar habis lingkaran sihir
tersebut.
Api emas yang
berlarian di lingkaran sihir itu tampak seperti naga.
Api emas itu
berubah menjadi gelombang──── Hingga saat lingkaran sihir itu terbakar habis
sepenuhnya.
Taman yang
seharusnya bermandikan pancaran cahaya Saint Seal Formula yang menembus
langit, kini justru menjadi panggung bagi api emas yang membubung tinggi ke
cakrawala.
"Ko-Konyol…… ini tidak mungkin……!"
Seketika, hujan berhenti mengguyur hanya di sekitar Menara
Jam Besar.
Uap air yang menguap membuat udara terasa gerah dalam
sekejap, namun hujan kembali turun saat angin kencang berhembus mengiringi
perginya api emas tersebut.
"Bukan tidak
mungkin. Ini adalah kenyataan."
Rambut
yang basah menempel di dahi Ren.
Ren
menyisir rambutnya dengan jari, sementara sepasang matanya memancarkan aura
keberanian yang luar biasa di balik wajahnya yang rupawan.
Lenidas,
yang Saint Seal Formula-nya telah dinetralkan, tidak bisa melepaskan
pandangannya dari Ren.
Selain
karena konsumsi sihir yang berlebihan, pendarahan yang dialaminya membuat pria
itu jatuh terduduk di lantai tanpa tenaga.
"K-Kau……"
Lenidas
sempat memelototi Ren dengan penuh dendam, namun sejurus kemudian ia justru
tertawa sambil melepaskan sihir.
"Hihi!
Ini belum berakhir!"
"Tidak!
Aku akan mengakhirinya sekarang!"
Namun,
Ren mengayunkan pedang sihirnya, kembali menggunakan teknik Hoshisogi.
Ren
memperpendek jarak dalam sekejap bagaikan angin, lalu meraung.
"────Ini
yang terakhir! Lenidas!"
Ren
menghantamkan pangkal gagang pedang sihir di tangannya tepat ke ulu hati
Lenidas dengan keras.
Tubuh
Lenidas terguncang hebat akibat dampak tersebut. Tepat sebelum kesadarannya
hilang, ia menggumam,
"……Kufufu."
Sambil
jatuh terjerembab, ia melanjutkan,
"Suatu hari
nanti kamu pun akan mengetahui kebenarannya…… dan berputus asa………
pastinya……"
Pendeta yang
jatuh ke jalan Kultus Raja Iblis itu pun tergeletak.
Para pengikut
Kultus lainnya yang sebelumnya ditumbangkan oleh Ren juga masih dalam keadaan
pingsan.
Hasil ideal yang
direncanakan oleh Radius dan Ulysses telah tercapai sepenuhnya, hampir
seluruhnya berkat tangan Ren seorang diri.
Ren berbalik ke
arah Radius dan yang lainnya yang masih terpaku takjub.
"Sepertinya…… sudah berakhir, ya."
Ucapnya
dengan nada lega.
"……Kamu
benar-benar pria yang luar biasa, Ren."
"Tapi Yang
Mulia, bukankah dia sangat bisa diandalkan?"
Mendengar pujian
mereka, Ren akhirnya bisa mengembuskan napas panjang, merasa semuanya telah
usai.
(Tapi bicara
soal itu)
Di mana
keberadaan sang Sword King?
Hingga akhir,
sosok itu tidak mengulurkan bantuan, namun Ren penasaran dari mana dia
mengawasi situasi ini.
Tak lama setelah
Ren berpikir demikian.
『────』
Suara itu datang
dari langit yang jauh.
Pekikan monster
bergema di seluruh area, menampakkan sosok raksasa dari balik awan hujan.
Monster itu
mengepakkan empat pasang sayap. Seluruh tubuhnya tertutup sisik berwarna kuning
kecokelatan yang tampak berlumut.
Bentuk tubuhnya
menyerupai ubur-ubur dengan tentakel tak terhitung jumlahnya yang tumbuh dari
sekujur tubuh.
Ukurannya begitu
masif, seolah sanggup menelan Menara Jam Besar bulat-bulat. Monster buruk rupa dengan deretan
mata yang banyak itu memamerkan taring-taring buas di mulutnya.
"Tyrant of the Corrupted Void!?"
Ren menyebutkan nama monster yang muncul tersebut—makhluk
yang muncul di fase akhir dalam Legend of Seven Heroes II.
Monster dari Benua Iblis yang dikendalikan oleh Pemimpin
Besar Kultus Raja Iblis seperti yang dikatakan Lenidas.
Peringkatnya adalah B-Rank.
"Cih……"
Bertarung melawan monster udara sangatlah menyulitkan. Meskipun Ren tahu pasti bahwa makhluk itu
lebih lemah daripada Asvar.
Ternyata bukan Saint
Seal Formula, melainkan monster itulah kartu as mereka.
Mungkin musuh
sengaja menyiagakannya di langit karena mengira pertahanan Ibu Kota masih
berfungsi.
Begitu Saint
Seal Formula dilepaskan, kemungkinan semacam instruksi diberikan sehingga
monster itu menampakkan diri.
Bagaimanapun, Ren
berniat bertarung dan berniat untuk menang. Namun—
"Ren! Tidak
apa-apa! Dia tidak
bisa menembus penghalang!"
"Tidak,
tidak, tidak! Radius tadi bilang kalau di Menara Jam Besar itu tidak
ada────!"
"Soal itu
akan kujelaskan nanti! Intinya, monster itu tidak bisa melewati
pertahanan!"
Seolah
membuktikan kata-kata Radius, Tyrant of the Corrupted Void tidak bisa
mendekat lebih dari jarak tertentu.
Jauh di atas
lantai tertinggi Menara Jam Besar, monster itu berkali-kali menabrakkan
tubuhnya pada dinding yang tak terlihat.
Ren
benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia merasa harus
melakukan sesuatu terhadap monster itu.
Namun,
Ren tidak perlu berpikir lebih jauh lagi. Karena saat ini, "dia" ada di tanah ini.
"────"
Ren merasa aliran
udara di sekitarnya seolah berhenti bergerak.
"……Apa-apaan
tekanan tadi itu."
Sambil merasakan
tekanan yang belum pernah ia alami sebelumnya dan firasat bahwa sesuatu yang
besar akan terjadi, Ren menoleh ke arah Taman Langit yang letaknya jauh dari
sana.
Meskipun terlalu
jauh untuk melihat apa pun, ia merasa seolah-olah baru saja bertatapan dengan
seseorang di sana.
Sesaat
kemudian──── di angkasa, Tyrant of the Corrupted Void yang tengah
mengibaskan tentakelnya.
Tubuh raksasanya
tiba-tiba terbelah.
『AAAAARRRRGGGGHHHHHH』
Raungan memilukan
bergema di angkasa. Sesaat setelah distorsi ruang yang seolah membelah kubah
langit hitam itu terlihat, suara di seluruh area mendadak senyap.
Seolah-olah
semuanya tersedot ke dalam cahaya putih menyilaukan yang muncul dari distorsi
tersebut.
Tubuh monster
yang tadi eksis kini terpotong menjadi dua, lalu lenyap ke dalam cahaya putih
bersama angin dan suara tanpa menyisakan apa pun.
『────Ren Ashton.
Jika dia ikut dalam operasi ini, maka aku akan mengawasi medan perangnya.』
Ren hanya
bisa tersenyum kecut.
Ada banyak hal
yang ia pikirkan, namun ada satu hal yang ia rasakan paling kuat.
Itukah
kekuatan pengguna pedang hebat terkuat di dunia?
Atau mungkinkah
itu adalah bukti dari kekuatan mutlak yang hanya dimiliki oleh lima orang di
dunia, tanpa memandang aliran pedang mereka?
◇◇◇
Banyak
pendekar pedang ternama yang menciptakan teknik bertarung (Skill) mereka
sendiri.
Teknik
yang baru saja membinasakan Tyrant of the Corrupted Void adalah teknik
dengan daya hancur paling dahsyat di antara semua teknik yang ia miliki, bisa
dibilang sebagai serangan pamungkasnya.
Itu
adalah teknik khusus yang menghancurkan monster jahat tersebut tanpa merusak
kekuatan pelindung yang disebutkan Radius tadi.
Nama
teknik itu adalah Re-Verna.
Dalam bahasa kuno
Benua Langit, tempat kelahirannya, nama itu berarti "Murka Langit".
Di salah satu
sudut Taman Langit, bangunan raksasa kebanggaan Erendil.
Di lantai yang
sangat tinggi yang tidak bisa dimasuki warga sipil biasa, terdapat landasan
pacu tempat kapal magis khusus keluarga kekaisaran bersandar.
Gadis yang tadi
bertatapan dengan Ren dari kejauhan ada di sana. Sambil menikmati angin malam
seorang diri, ia bergumam.
"Dia…… Ren Ashton."
Wanita cantik itu memiliki suara semerdu denting lonceng.
Rambut peraknya
lebih halus daripada sutra. Sosok dengan kecantikan misterius itu bergumam
seperti tadi sembari menatap langit malam.
Di lantai batu di
sampingnya, tertancap sebilah pedang perak yang panjangnya hampir menyamai
tinggi tubuhnya yang semampai.
Itu adalah pedang
legendaris yang membuat pandai besi ternama, Werllich, menyatakan bahwa dirinya
tidak bisa menciptakan pedang yang lebih baik dari itu.
Gadis itu
menutupi pedangnya dengan kain alat magis sebagai pengganti sarung pedang, lalu
mulai berjalan sambil menentengnya.
"────Ternyata,
klan Ashton memang benar-benar ada, ya."
Sword King Urutan Kelima, White Dragon Princess
Loutreche.
Mengapa dia menunjukkan ketertarikan pada klan Ashton? Semuanya hanya dia yang tahu.
◇◇◇
Kembali ke taman
di atap Menara Jam Besar, sekitar sepuluh menit telah berlalu sejak kejadian
itu.
Tak hanya Ren,
semua orang masih terpaku takjub melihat kekuatan sang Sword King.
Namun, mereka segera tersadar begitu teringat tujuan utama operasi ini.
Sembari membantu
proses pengangkutan para tahanan, Ren mengamati keadaan sekeliling.
Para ksatria juga
tengah melakukan tugas terakhir mereka, menggunakan alat magis penyelidik untuk
menyisir area tersebut dengan saksama.
Tetap saja,
kekuatan sang Sword King itu benar-benar luar biasa. Ren yakin ia bisa
memutar kembali pemandangan itu di kepalanya berkali-kali.
Dulu, ia pernah mengobrol dengan Lezard tentang keinginannya
menjadi seorang Sword King, tapi... (Ternyata ucapanku dulu itu
lancang sekali, ya.)
Yah, karena sosok itu adalah salah satu yang terkuat di
dunia, kekuatannya yang di luar nalar memang sudah sewajarnya.
Bukannya Ren meremehkan kekuatan itu, namun pemandangan tadi
lebih dari cukup untuk membuatnya merombak ulang standar kekuatannya.
Saat Ren
mengembuskan napas, Radius memanggilnya. "Ren."
"Aku sudah
melarang para ksatria untuk membicarakan kekuatanmu."
"Terima
kasih. Tapi, apa tidak apa-apa?"
"Karena kamu
terlihat ingin menyembunyikannya. Meski begitu, semakin sering kamu bertarung,
kekuatan itu akan semakin terekspos. Kurasa suatu saat nanti aku tidak akan
bisa membungkam mulut mereka lagi."
"Aku tahu.
Aku juga tidak berpikir bisa menyembunyikannya sampai mati, kok."
Saat baru lahir,
ia waspada karena ingin melindungi kekuatan spesial ini.
Kemudian, Ren
belajar bahwa mengungkap kekuatan sama saja dengan membeberkan kelemahan,
sehingga ia merahasiakan identitas asli dari Magic Sword Summon.
Meski sekarang ia
belum menceritakan niat aslinya kepada Radius, sang pangeran tetap
mengkhawatirkannya.
Radius bahkan
menunjukkan kebaikan hati dengan tidak bertanya lebih jauh. "Suatu hari
nanti, ceritakanlah sendiri padaku," ucapnya.
"Lalu, apa
yang sedang kamu pikirkan sampai melamun begitu?"
"Tentang Sword
King. Setelah diperlihatkan kekuatan seperti itu, aku jadi merasa kalau
kekuatanku masih sangat kurang."
Radius tampak
terperangah sejenak. "Bagiku, kamu sendiri sudah merupakan orang kuat yang
kekuatannya sulit kupahami."
Radius
memberi isyarat agar Ren mendekat. Mereka berdua melangkah menuju mekanisme
yang mengendalikan Menara Jam Besar di bagian terdalam taman.
Radius
memasang ekspresi serius dan menyuruh orang-orang di sekitar untuk menjauh.
"Aku harus memberitahumu satu hal."
"Tentang
pembicaraan tadi? Bahwa tidak ada kekuatan pelindung di Menara Jam Besar
ini?"
"Benar.
Terima kasih karena sudah cepat tanggap."
"Tapi
bukan berarti tidak ada pelindung, kan? Tadi saat monster itu muncul di langit,
pelindungnya terlihat bekerja."
Radius
mengangguk, lalu mengulurkan tangan ke arah perangkat pengendali Menara Jam
Besar.
Di sana
terdapat sebuah kotak batu hitam pekat dengan ukiran pola yang rumit.
Begitu
ujung jarinya menyentuh kotak itu, pola-pola tersebut bersinar.
Bagian
atas dan bawah kotak terangkat dari dalam, memperlihatkan sebuah meja kecil
yang terpasang di dalamnya.
Di tengah
meja terdapat sebuah tumpuan kecil yang dikelilingi oleh ukiran rumit.
"Ini
adalah perangkat pengendali Menara Jam Besar yang diciptakan Milim Althea. Ada
satu perangkat lagi yang berhubungan di bagian jarum jam."
"Ah, pantas
saja tadi kita sempat mampir ke bagian jarum jam—tapi, eh? Tidak ada batu sihir
di atas tumpuannya."
"Wajar saja
jika tidak ada. Karena kekuatan yang ada di menara ini sudah tidak berada di
sini lagi."
"……Apa
karena sudah rusak dimakan usia?"
"Ku... kuku... Ren, kumohon, jangan mengatakan hal
konyol dengan wajah serius begitu."
"Eeeh... padahal aku bersungguh-sungguh..."
Melihat Ren yang tampak tidak puas, Radius masih sedikit
tertawa. "Habisnya, perbedaan sikapmu dengan yang tadi terlalu jauh."
Ia kemudian mengungkap fakta yang selama ini disembunyikan.
"Ini sudah terjadi sejak lebih dari lima puluh tahun
lalu. Keluarga Kekaisaran dan
keluarga Althea bekerja sama untuk memindahkan kekuatan di menara ini dan
mengelolanya di tempat lain. Termasuk mekanisme System yang ada di jarum
jam tadi."
"Berarti,
menyerang tempat ini sebenarnya sia-sia saja."
"Ya. Kultus
Raja Iblis pun tidak akan bisa menyelidiki hal sejauh ini."
Radius berkata,
"Ini hanya bisa dioperasikan oleh orang-orang tertentu," lalu
mengembalikan perangkat tersebut ke posisi semula.
Setelah itu, ia
menyerahkan sisa pekerjaan di sana kepada para ksatria dan mengajak Ren
meninggalkan taman menuju tangga panjang.
"Kalau
dipikir-pikir, tidak mungkin Leonel membiarkan fasilitas lama tetap seperti
aslinya tanpa perubahan..."
Meskipun tua,
jika itu adalah perangkat pertahanan yang harus berhenti beroperasi setiap kali
penggantian batu sihir, sudah sewajarnya jika dilakukan pengembangan.
Karena alasan kerahasiaan, Radius tidak bisa
mengatakannya sampai sekarang, namun senyumnya seolah mengiyakan pemikiran Ren.
Sesampainya
di tangga yang membentang di dalam menara, Ren berjalan di depan Radius. Ia
bersikap seolah ingin menjadi perisai bagi Radius jika terjadi sesuatu,
namun...
"O-Oopps."
Kaki Ren
yang kelelahan tiba-tiba terpeleset dan meleset dari anak tangga. Seharusnya ia
bisa segera menyeimbangkan diri, namun sebuah tangan mencengkeram lengan dan
menopangnya dari belakang.
"Jangan
jadi beban, ya?"
Mendengar
ucapan Radius yang tertawa geli, wajah Ren memerah karena malu.
"Tanpa
dibantu pun, aku bisa mengatasinya sendiri, kok. ……Tapi, ya, terima
kasih."
"Aku juga
cuma bercanda. Mana mungkin aku bisa berkata begitu pada Ren yang sudah bekerja
sekeras ini."
Keduanya pun
tersenyum, meredakan ketegangan di wajah mereka yang kelelahan.
Namun,
ini bukan sekadar lelah. Bagi
Ren maupun Radius, rasa pencapaian mereka jauh lebih besar daripada rasa lelah
itu sendiri.
◇◇◇
Ren baru bisa
kembali ke kediaman saat tengah malam lewat.
Di tengah jalan,
Radius berkali-kali menyuruhnya pulang duluan, namun sebagai orang yang
terlibat dalam operasi hari ini, Ren menemaninya hingga tuntas.
Dampak kerusuhan
telah menyebar ke seluruh kota, namun itu adalah tugas Ulysses dan yang
lainnya.
Menara
Jam Besar berdiri di pinggiran Erendil. Jika jalan di sekitarnya diblokade,
kecil kemungkinan pengikut Kultus bisa bergerak masuk ke tengah kota.
Faktanya,
mereka menyusup langsung dari luar Erendil menggunakan taman alam dan saluran
air di sekitar menara.
Tujuan
untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan korban di kalangan warga sipil
telah tercapai sepenuhnya.
Kesuksesan
operasi secara keseluruhan ini pastilah berkat kemampuan Ulysses dan Radius.
(────Capeknya.)
Saat menoleh,
jarum jam besar menunjukkan pukul tiga dini hari. Begitu sampai di kediaman
keluarga Clausel, Ren berpapasan dengan ksatria yang berjaga di depan gerbang
besi.
Melihat Ren yang
tampak sangat kelelahan, sang ksatria teringat akan dampak kerusuhan yang
sampai ke sini dan memberi tahu: "Semua orang masih terjaga, lho."
Ren melihat
sebuah kereta kuda yang bukan milik keluarga Clausel di dalam halaman kediaman.
Itu adalah kereta yang dinaiki Fiona. Sepertinya dia juga masih berada di sini.
"Padahal sudah jam segini?"
"Tentu saja. Entah kenapa hari ini terjadi keributan
luar biasa di kota, sehingga tuan besar sepertinya harus menyelesaikan banyak
pekerjaan akibat dampaknya."
"Apa ada
tamu, seperti bangsawan dari Ibu Kota?"
"Banyak
utusan bangsawan yang datang berkunjung. Sepertinya untuk menanyakan kejadian malam ini."
Namun, sepertinya
tidak ada orang yang sampai berbuat onar di kediaman.
Mungkin itu pun
karena Ulysses telah menyiapkan semacam rencana. Hal-hal seperti itu bukan
tugasnya.
Jika Ulysses yang
menanganinya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Sambil memutar
otaknya yang kelelahan, ksatria penjaga gerbang itu tersenyum.
"Pertama-tama, Anda harus menemui Tuan Lezard."
"Kalau soal
itu, beliau bilang tidak perlu untuk hari ini. Tuan besar sudah berangkat
menuju Ibu Kota beberapa saat yang lalu."
Saat Ren mulai
berpikir apakah ia juga harus pergi ke Ibu Kota, sang ksatria berkata:
"Istirahatlah malam ini. Hanya itu hal yang perlu Tuan Ren lakukan."
Ren tertegun
mendengar kata-kata ksatria di depannya, lalu ikut tersenyum. Itu adalah senyum
yang terlihat jauh lebih lemah dari biasanya karena rasa lelah.
◇◇◇
Ren berjalan
melewati taman dengan langkah yang sudah hafal di luar kepala. Setibanya di
kediaman, bukan pelayan yang menyambutnya, melainkan Edgar.
"Tuan
Edgar?"
"Saya sudah
menunggu Anda. Mari, bersihkan diri dengan air hangat dan istirahatkan tubuh
Anda."
Ia baru bisa
tidur satu jam lagi... tidak, mungkin sekitar dua jam lagi setelah ini itu. Ren
hanya bisa tersenyum kecut saat menyadari ia baru akan tidur saat pagi
menjelang.
"Baron
Clausel berpesan agar Anda beristirahat dan menggunakan pemandian besar."
Pemandian besar
itu sangat luas sesuai namanya, pilihan terbaik untuk memulihkan tubuh Ren yang
kelelahan.
Begitu Ren
kembali ke koridor setelah mandi mewah sendirian, Edgar menyapanya lagi.
"Para pelayan sudah menyiapkan makanan di aula."
"Kwu
kwu!" Kukulu juga sudah menunggu Ren.
Ren mengusap
lembut kepala Kukulu yang melayang di samping Edgar, sama seperti sebelum ia
berangkat.
Seperti biasa,
Kukulu berbunyi seolah merasa geli, merasa senang karena Ren tidak terluka, dan
terbang mengelilinginya dengan riang.
"Dia
anak yang pintar. Begitu saya bilang Tuan Ren aman, dia langsung berbunyi
dengan suara ceria."
"Benar...
dia anak yang sangat baik, kecuali bagian dia benci mandi."
Mendengar
itu, Kukulu menutup mulut dengan kedua tangannya dan tertawa kecil. Kukulu
kemudian mengikuti Yuno yang kebetulan lewat. Ia menurut saat Yuno berkata,
"Tuan Ren sedang lelah."
Setiap langkah
Ren menuju aula terasa berat karena rasa lelah yang baru terasa sekarang.
Langkahnya
semakin lama semakin lambat. Edgar yang berjalan di sampingnya berkata:
"Bolehkan
saya menganggap bahwa malam ini Anda kembali menjadi pahlawan?"
"Entahlah.
Tapi, aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Meski pada akhirnya aku dibuat
takjub oleh kekuatan sang Sword King."
"Haha, kalau
soal itu memang tidak ada jalan lain."
Begitu melangkah
masuk ke aula, uap mengepul dari hidangan yang tersaji di atas meja.
"Nona Fiona
sepertinya masih di Erendil, ya."
"Tentu saja.
Beliau ada di ruangan ini."
Ren sempat
mengira Fiona sudah pulang ke Ibu Kota saat ia dalam perjalanan kembali dari
Menara Jam Besar.
Namun,
dipikir-pikir itu tidak mungkin. Mana mungkin gadis itu pulang ke Ibu Kota
segera setelah operasi selesai tanpa menunggu kepulangan Ren.
Lalu, di mana dia
sekarang? Ternyata ada di sofa aula. Karena sofa itu membelakangi pintu, Ren
harus memutar untuk melihat keadaan mereka.
Dua permata
cantik, Licia dan Fiona, duduk berdampingan dengan bahu saling menempel,
berbagi satu kain selimut kecil. Kepala mereka saling bersandar, napas mereka
terdengar tenang dan teratur dalam tidur.
"Kenapa
mereka berdua ada di sini?"
"Mereka
melakukan apa yang bisa dilakukan di kediaman tanpa beristirahat. Selain
berkomunikasi dengan berbagai pihak, mereka juga bekerja keras menyelesaikan
urusan dokumen. Terlebih lagi, kudengar akhir-akhir ini Nona Fiona kurang tidur
karena belajar untuk ujian, begitu juga dengan Nona Suci yang belajar untuk
ujian masuk."
Begitu
mendengar perang telah usai dan Ren aman, ketegangan mereka pun kendur. Bagi
dua gadis yang masih remaja, kejadian malam ini terlalu berat bagi mereka.
Ren
menatap wajah dua gadis yang tertidur karena kelelahan itu. "Aku akan
bicara pelan-pelan dengan mereka nanti."
Sekarang,
agar tidak mengganggu tidur mereka, ia memutuskan untuk menyantap makanan yang
telah disediakan. Karena banyak makanan yang bisa dimakan dengan satu tangan,
Ren yang kelaparan segera menghabiskannya.
"Sebelum
pertempuran, aku sempat bertemu dengan putri dari keluarga Riohard."
"Saya juga
sudah menerima laporannya. Tuan besar sepertinya sudah mulai bergerak di balik
layar terhadap keluarga Riohard setelah menerima laporan itu, jadi Anda tidak
perlu khawatir."
"……Memang
tidak ada yang lebih menakutkan daripada Tuan Ulysses yang bergerak di balik
layar. Serius."
Saat Ren sedang
merenungi kembali kekuatan politik Ulysses, Edgar berkata: "Sepertinya
malam ini juga menjadi malam pembuktian bahwa Tuan Ren adalah seorang pendekar
ahli, baik secara nama maupun kenyataan."
"Mungkin
begitu, tapi sebagai gantinya, aku juga jadi tahu betapa jauhnya perbedaan
kekuatan sang Sword King."
"Melihat
sekilas kekuatan Sword King akan menjadi harta yang berharga bagi Tuan
Ren. Musim semi depan, Komandan Shishi Seicho juga akan kembali ke Ibu Kota.
Itu akan menjadi kesempatan bagus bagi Tuan Ren untuk belajar pedang."
Mendengar nama
Komandan Shishi Seicho, Ren tenggelam dalam pikirannya.
Membayangkan
musim semi depan akan kembali menjadi ramai, Ren meregangkan punggungnya sambil
tetap duduk.
Edgar kemudian
pamit dengan berkata, "Saya akan pergi menghubungi tuan besar."
Tinggal
sendirian, Ren bangkit perlahan dan mendekati sofa. Ia menuju sofa lain yang
berhadapan dengan kedua gadis yang sedang tertidur.
Mungkin
mendekati mereka yang sedang tidur adalah perilaku yang kurang sopan, namun Ren
yang sudah sangat kelelahan tidak tahan lagi duduk di kursi kayu dan ingin
duduk di sofa yang empuk.
Begitu
merasakan sensasi empuk yang tidak terlalu tenggelam, kelopak matanya terasa
sangat berat.
Sebentar saja,
sampai Edgar kembali. Ia tidak bisa melawan kelopak mata yang turun mengikuti
gravitasi, dan napas Ren perlahan menjadi dalam.
Tak butuh waktu
lama bagi Ren untuk kehilangan kesadaran.
◇◇◇
Beberapa menit
setelah ia tertidur. Di sofa depan Ren yang sedang bernapas teratur dalam
tidurnya, mata Licia tiba-tiba terbuka.
Beberapa detik
kemudian Fiona juga terbangun, dan keduanya saling berpandangan dengan
terkejut.
Padahal mereka
berniat menunggu Ren, tapi malah mereka yang tertidur duluan.
Menyadari
hal itu, keduanya menyalahkan diri sendiri dalam hati dan merasa sangat
menyesal, tapi...
"……Re-Ren?"
"Ren,
kamu……?"
Mereka
bergumam hampir bersamaan dan berdiri.
Keduanya
duduk di samping Ren yang kelelahan, menatapnya dengan senyum lembut dan
tenang, saling berbagi rasa terima kasih kepada Ren dalam hati.
Mereka tidak
mengungkit rasa sesal karena tidak bisa bersama Ren di sana. Sekarang, mereka
hanya perlu menghargai kerja keras Ren.
"……Nona Licia.
Apa sebaiknya kita mengantarkan Tuan Ren ke kamarnya?"
"Ya…… tapi kalau kita mengangkatnya, mungkin dia akan
terbangun……"
Keduanya menjadi bimbang. Karena baru bangun tidur, mereka
melupakan hal sederhana seperti memanggil Edgar atau ksatria, dan malah
berpikir harus melakukannya sendiri. Mungkin karena mereka terlalu fokus
memikirkan Ren.
Karena bimbang, mereka berpikir apakah mereka berdua bisa
membantu menggendong Ren ke kamarnya. Namun, saat itulah Yuno datang.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"
Tanya Yuno saat melihat mereka berdua yang kebingungan.
Mendengar pertanyaan yang sangat masuk akal itu, wajah keduanya memerah.
Tangan
mereka yang hampir terulur ke arah Ren langsung berhenti seketika.
"Ya
ampun."
Yuno tertawa
pasrah setelah menyadari apa yang mereka pikirkan. Mungkin karena menyadari
suasana di sekitarnya, Ren terbangun.
Meskipun tidur
singkat itu terasa kurang, ia menyadari kehadiran Licia dan Fiona yang duduk di
kedua sisinya.
"Maaf.
Aku tidak mengerti situasinya."
Ren mengungkapkan
perasaannya apa adanya. Melihat Ren terbangun, Yuno yang peka segera
meninggalkan ruangan.
"A-Aku
itu... karena Ren pasti lelah, kupikir lebih baik tidur di tempat tidur!"
"Aku juga!
Aku sedang berpikir bagaimana caranya memindahkan Ren-kun, tapi……!"
Melihat keduanya
yang panik, Ren merasa tenang. Setelah paham situasinya, ia tidak terkejut
lagi.
Namun ia merasa
canggung karena berada di antara mereka berdua, mengingat posisi masing-masing.
Licia, dan juga
Fiona, bertanya pada Ren.
"Apa boleh
aku bertanya tentang kejadian hari ini……?"
"Bolehkah
aku mendengar tentang kejadian di Menara Jam Besar……?"
Keduanya
berbicara hampir bersamaan.
"Tapi,
jangan dipaksakan! Karena Ren-kun pasti sedang lelah!"
"Benar. Jadi
besok-besok juga tidak apa-apa..."
Meski dibilang
begitu, Ren sudah merasa ingin bercerita.
Tidur singkat
tadi ternyata cukup menyegarkan pikirannya, dan ia tidak tega untuk tidur
begitu saja tanpa menceritakan apa pun kepada dua orang yang sudah berjuang
keras di tempat yang berbeda dengannya.
"Banyak
hal yang terjadi, tapi..."
Setidaknya, aku
harus mulai dari sini.
"Bisa memacu
kuda sekencang mungkin di tengah kota adalah pengalaman yang cukup berharga
bagiku."
Ren
menyunggingkan senyum tanpa kehilangan ketenangannya.
Ketegangan
seketika luruh dari tubuh kedua gadis cantik di hadapannya.
"Ya ampun…… dasar Ren."
"Tahaha,
tapi itu sangat khas Ren-kun."
Sambil
mendengarkan cerita Ren, keduanya memandangi profil wajah pemuda itu dengan
ekspresi wajah yang melembut.
◇◇◇
"Apa tidak
apa-apa kita bicara di tempat seperti ini?"
Beberapa hari
telah berlalu. Ren sedang menikmati makan malam bersama Radius di kedai yang
sama seperti sebelumnya.
"Tempat
seperti ini katamu? Kedengarannya buruk sekali. Ini adalah kedai yang
menyajikan masakan favoritku, tahu."
"Maksudku
bukan soal kelas kedainya, tapi karena kita mau membicarakan kejadian tempo
hari."
Ren
mengkhawatirkan kemungkinan ada telinga yang mencuri dengar, namun kecemasan
itu ternyata tidak perlu.
"Jangan
khawatir. Orang-orang yang duduk di kursi sekitar kita adalah para pengguna
pedang hebat dari Shishi Seicho. Kebetulan sekali jadwal reservasi mereka
bersamaan."
"Kebetulan
itu pasti bohong besar…… yah, aku mengerti kamu sudah mengerahkan segala upaya,
jadi sudahlah."
Hidangan pun
diantarkan ke meja mereka. Sambil melahap steik dan meminum sari buah, Radius bercerita.
"Kami sudah
menginterogasi para pengikut Kultus, termasuk Lenidas—tapi, kondisi mereka
semakin melemah dari hari ke hari. Tidak peduli seberapa banyak makanan atau Potion
yang kami berikan, tidak ada tanda-tanda membaik."
"……Maksudmu,
mereka mencoba mati dengan sengaja?"
"Sepertinya
bukan begitu. Tampaknya Crest
Kultus Raja Iblis itu sedang mengisap kekuatan mereka."
Menurut Radius,
mereka sudah berusaha sangat keras agar para tahanan itu tidak bisa bunuh diri.
Penjagaan, alat
magis, hingga persiapan pengobatan seperti Potion sudah dikerahkan.
Namun tetap saja,
kondisi mereka terus merosot. Ibarat menuangkan air ke dalam gelas bocor, vitalitas yang diberikan
langsung lenyap begitu saja.
"Tapi ada hasil yang didapat."
Radius menenggak
sari buahnya sekaligus, lalu melanjutkan.
"Setengah
tahun yang lalu, sepertinya mereka sempat bentrok dengan orang-orang dari Tanah
Suci. Untuk merebut sebuah relik suci tertentu, para pengikut Kultus menyerang
kuil tempat relik itu disimpan dan merampasnya."
"Itu
bukan informasi yang didapat dari Crest milik Lenidas, kan?"
"Tentu saja
itu hasil interogasi. Sisa-sisa pengaruh air suci ditemukan pada Crest
milik Lenidas. Saat bentrokan terjadi, kekuatan yang tersegel di dalam Crest
miliknya sepertinya terluka. Fakta bahwa mereka bentrok di Tanah Suci sudah
tidak diragukan lagi."
Tanah Suci, pusat
dari ajaran Elfen, tidak berada di bawah komando Leonel. Karena sifatnya yang
sangat tertutup, sebagian besar insiden penyerangan di sana dirahasiakan. Meski
suatu saat pasti akan terungkap ke publik juga……
Mendengar cerita
itu, Ren ikut menenggak sari buahnya, mengikuti cara Radius. Mengenai relik
suci yang disebutkan Radius tadi,
"Sepertinya
itu adalah sesuatu yang disebut 'Air Mata Elfen'."
Menurut legenda,
itu adalah cairan yang menyimpan kekuatan spesial untuk menyucikan apa pun. Ren
tidak mengerti alasan Kultus Raja Iblis mengincarnya. Bagi mereka, cairan itu
seharusnya tidak lebih dari racun yang sangat mematikan.
"Mereka
menyerang kuil bersama sosok yang mereka puji sebagai Pemimpin Besar, dan
berhasil merampasnya meski kedua belah pihak jatuh banyak korban."
"Aku tidak
paham tujuannya."
"Aku juga
sama. Aku tidak punya gambaran sedikit pun tentang apa yang akan dilakukan oleh
orang-orang seperti mereka dengan sesuatu yang hanya memiliki kekuatan
penyucian."
Radius mengatakan
bahwa dirinya tengah bergerak untuk memberi peringatan kepada kuil-kuil di
seluruh Leonel, termasuk Katedral Agung Ibu Kota.
Tentu saja,
berkat kerja sama Ulysses, semuanya berjalan lancar.
Setelah selesai
makan dan menyantap hidangan penutup berupa es serut, Radius berbicara dengan
nada serius.
"Ren. Jika
saatnya tiba nanti, maukah kamu bertarung bersamaku lagi?"
"Jika
pertarungan itu demi melindungi orang-orang yang berharga bagiku, aku akan
dengan senang hati mempertaruhkan nyawa."
"Itu sudah
cukup. Tidak ada jawaban yang lebih baik dari itu."
Lalu, Radius
melanjutkan lagi.
"Sebagai
imbalan atas pertarungan sebelumnya, aku punya satu hadiah untuk keluarga
Clausel. Aku sudah menuliskannya di surat ini, jadi sampaikan pada Lezard agar
dia datang ke istana pada hari yang ditentukan. Tidak boleh terlambat,
ya."
"Anu…… aku tidak begitu mengerti, tapi intinya Tuan
Lezard cukup datang ke istana, kan?"
"Umu. Lalu,
ada satu lagi. Secara pribadi aku ingin memberimu hadiah, apa ada sesuatu yang
kamu inginkan?"
Ditanya tiba-tiba
seperti itu membuat Ren kebingungan. Namun, Ren teringat posisi Radius dan
memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu
sudah menjadi putra mahkota nanti, cukup carikan aku sebuah buku di
perpustakaan terlarang."
"Perpustakaan
terlarang? Kalau soal itu, aku tidak bisa mengangguk dengan mudah, tapi buku
seperti apa yang kamu inginkan?"
Ren sendiri tidak
tahu buku macam apa yang ada di sana, atau apakah informasinya masih tersisa.
Meski begitu, ia menginginkan informasi apa pun mengenai keluarga Ashton.
Ia ragu apakah
boleh memberitahu Radius, namun akhirnya ia memilih kata-kata yang tepat.
"Tentang
keluarga Ashton tempatku dilahirkan. Entah itu silsilah keluarga atau apa pun,
jika ada yang tersisa, aku ingin melihatnya. Pokoknya, informasi apa pun yang
berkaitan dengan keluarga Ashton."
"Fumu……
kurasa kalau cuma itu tidak masalah, tapi sebaliknya, aku merasa benda seperti
itu tidak akan ada di perpustakaan terlarang……"
Meski Radius
merasa ada yang janggal, ia tidak menampik permintaan itu.
Karena ini adalah
permintaan dari Ren, ia ingin memenuhinya sebisa mungkin.
"Demi
membalas budi atas bantuan Ren, aku harus menjadi putra mahkota bagaimanapun
caranya."
Ucapnya sambil
tertawa.
"Yah,
asalkan nanti kamu masih ingat dengan kata-katamu barusan."
"Aku
mengerti. Faktanya, silsilah kuno keluarga bangsawan terkadang dimasukkan ke
perpustakaan terlarang karena alasan tertentu. Mungkin saja ada dokumen yang
ingin Ren lihat di sana."
Pertemuan mereka
hampir berakhir, dan Radius pun berdiri.
"Lain kali
mari kita berkeliling kota bersama. Bukan untuk memikirkan soal perang, tapi
sebagai teman."
"Tidak,
tidak, tidak. Apa yang dibicarakan oleh Pangeran Ketiga ini, sih."
"Kamu pikir
itu mustahil? Tapi kalau kita menyamar, seharusnya tidak masalah. Lagipula
dibanding pertarungan di Menara Jam Besar, itu cuma masalah sepele."
"Kalau itu……
yah, benar
juga."
"Kalau
begitu…… bagaimana kalau Ren merekomendasikan kedai yang menyajikan sari buah
yang enak? Kamu sepertinya
sangat tahu soal kedai-kedai di ibu kota."
"Sari buah?
Bukan minuman keras?"
"Aku memang
tidak dilarang jika ingin minum alkohol, tapi aku tidak punya ketertarikan
khusus pada hal itu."
Radius
membelakangi Ren, lalu melanjutkan bicaranya sambil berjalan. Karakter aslinya yang terlihat
sekarang sangat berbeda dengan sosok Radius yang Ren kenal di gim Legend of
Seven Heroes.
"Sari buah,
bukankah itu bagus? Sari buah juga ada yang kelas atas, tapi umumnya lebih
murah dari alkohol. Kudengar alkohol juga bagus untuk tubuh jika diminum dalam
porsi yang tepat, tapi sari buah jauh lebih baik. Aku tahu keduanya punya
kelebihan, tapi aku lebih suka sari buah."
"Pangeran
Ketiga yang disebut jenius ternyata suka sari buah, ya."
Mendengar
ucapan Ren, langkah Radius terhenti. Radius menolehkan wajahnya saja ke arah Ren, lalu berkata:
"Ya, aku
suka sesuatu yang manis. ────Rahasiakan hal ini dari rakyat, ya?"
Radius
menunjukkan senyum yang sesuai dengan usianya sebelum akhirnya meninggalkan
kedai tersebut.
Terdengar suara
kursi ditarik saat para pelanggan di sekitar juga mulai berdiri. Para pengguna
pedang hebat yang "kebetulan" ada di sana sepertinya juga akan pergi.
Ren mendengarkan
suara-suara itu sambil meminum habis sari buah yang tersisa di gelasnya.
Mirei, ajudan
Radius, sudah menunggu saat pangeran itu masuk ke dalam kereta kuda.
"Sepertinya
waktu yang sangat menyenangkan ya, Nya."
"Ya.
Aku tidak menyangka waktu berbincang dengan teman bisa terasa seindah
itu."
Suara
roda kereta yang melindas jalanan batu terdengar. Suara sayup-sayup aktivitas
rakyat dari luar menyusup masuk. Radius mengalihkan pandangannya dari jendela
ke dalam kereta, lalu berbicara pada Mirei yang duduk di sampingnya.
Ia ingin
menceritakan tindakan Ren yang ia lihat di Menara Jam Besar.
"Ren itu
pemuda yang luar biasa. Apa yang sebenarnya menjadi dasar dari kekuatan yang
tak terduga itu, ya?"
Senyum terukir di
wajah Radius saat bercerita. Sisa-sisa kegembiraan dari makan malam tadi
sepertinya masih membekas.
"Apa
seperti Sword King, Nya?"
"Tidak,
dia juga luar biasa…… tapi ini berbeda. Sulit untuk mengungkapkannya……
andai ada perumpamaan yang pas. Aku ingin membicarakan tentang kekuatan
misterius yang menjadi dasar dari diri Ren."
Setelah terdiam sejenak, Radius pun membuka mulutnya.
"Kekuatan Ren sangat mirip dengan gadis yang muncul di
cerita itu."
"Cerita itu, Nya?"
"Mirei yang melayaniku pasti pernah mendengarnya juga. Cerita rakyat kuno yang diceritakan oleh
Baginda Kaisar kepada kami, anak-anak dari keluarga kekaisaran."
"Ah! Cerita
rakyat yang itu, Nya!"
Radius
mengangguk dengan senyum lebar.
"Putri
Korosi. Kekuatan Ren benar-benar seperti dirinya."
Radius akhirnya bisa mengingatnya dan mulai bercerita. Cerita rakyat yang dulu pernah dikisahkan oleh ayahnya, Sang Kaisar, saat Radius masih kecil.



Post a Comment