NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 10

Chapter 10

Mendengar Kabar Tak Terduga dari Orang-Orang Tak Terduga


Akhir Mei telah tiba, dan ujian pertama bagi Ren dan Licia pun dilaksanakan.

Begitu selesai, semuanya terasa begitu cepat. Mereka berdua meninggalkan lokasi ujian dan berjalan menyusuri Ibu Kota dengan santai seperti biasanya.

Ujian berikutnya akan diadakan pada bulan Juli, lalu September, dan November. Setelah itu, ujian akhir telah menunggu di bulan Januari tahun depan.

"Karena ujian sudah selesai, bagaimana kalau sore ini kita ke markas Shishi Seicho? Akhir-akhir ini kita jarang menggerakkan tubuh."

"Mau!"

Selain sebagai penyegaran, Licia merasa senang karena Ren yang mengajaknya.

 

Licia juga merupakan pemilik bakat istimewa yang disambut hangat oleh para ksatria Shishi Seicho. Entah sudah berapa kali mereka berdua menginjakkan kaki di sana.

Sebagai gadis pekerja keras, pertumbuhannya tidak kalah dari Ren; ia terus berkembang dengan kecepatan yang tak tertandingi oleh orang biasa.

Belakangan ini, ia sudah hampir mencapai tahap di mana ia bisa menggunakan teknik Matoi (selubung mana) pada tangannya, sama seperti Ren dulu.

Bum! Sebuah suara tumpul terdengar saat pedang raksasa milik seorang pria jatuh ke tanah. Pria itu adalah sosok berbadan besar yang juga pernah beradu pedang dengan Ren di hari Ren menguasai teknik Matoi.

"Sebenarnya, terbuat dari apa tubuhmu itu?"

Pria itu terduduk di tanah dengan wajah kelelahan. Napasnya tersengal-sengal dan seluruh tubuhnya bersimbah keringat.

"Kalau ditanya terbuat dari apa…… aku hanya bisa bilang, seperti yang Paman lihat sekarang……"

Ren mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

Namun, pria itu menolak dengan sopan. Sepertinya ia masih ingin beristirahat sambil duduk.

"Usahamu benar-benar di luar nalar. Bagaimana bisa tubuhmu bergerak sejauh itu……? Saat musim dingin lalu, aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau akulah yang akan tumbang lebih dulu."

"Aku harus berusaha keras, kalau tidak, Nona Licia akan segera menyalipku."

Ren berucap demikian sambil memandang sosok Licia yang sedang mengayunkan pedang di tempat lain.

◇◇◇

Minggu berikutnya, langit Ibu Kota tertutup awan abu-abu, dan hujan mulai turun rintik-rintik.

Hari itu, Ren baru saja menyelesaikan sebuah prosedur di Akademi Militer Kekaisaran.

Begitu ia keluar dan membuka payung, seseorang memanggilnya setelah ia melangkah beberapa tindak.

"Ren-kun. Selamat atas pendaftaran ujian tahap keduanya."

Itu adalah Fiona, yang mengenakan seragam musim panas Akademi Militer Kekaisaran.

Karena Ibu Kota hari ini diguyur hujan, cahaya matahari yang menyilaukan tidak sampai ke sana.

Sebagai gantinya, sosok Fiona dalam balutan seragam musim panas tampak begitu bersinar. Kemeja lengan pendeknya terdorong oleh lekuk dadanya yang mulai terbentuk.

Keanggunan yang tersirat itu seolah dipertegas oleh butiran air hujan yang menempel di lengan atasnya.

"Ini surat titipan dari Ayah. Maaf…… sepertinya hari ini Edgar juga sedang sibuk, jadi aku yang membawakannya sebagai gantinya."

"Jangan dipikirkan. Ini surat untuk Tuan Lezard, kan?"

"Iya, begitulah yang kudengar."

"Baiklah. Akan kusampaikan dengan baik kepada Tuan Lezard. Kalau begitu, mari kita pergi."

"Pergi ke mana?"

"Tentu saja, mengantar Nona Fiona kembali ke asrama putri."

"Duh…… nanti Ren-kun malah harus kerja dua kali, lho?"

"Tidak apa-apa. Tolong jangan dipikirkan."

Keduanya berbincang sambil berjalan.

Awalnya Ren ingin membahas soal surat itu, tapi karena belakangan ini mereka jarang punya kesempatan bicara, mereka memulai dengan topik ujian tahap pertama Ren.

Ren lulus dengan hasil yang memuaskan, dan Fiona sudah tahu bahwa Ren berhasil melewati tahap pertama.

Tentu saja, mengingat Ren sudah mendaftar untuk ujian tahap kedua.

"Bagaimana hasil ujian tahap pertamanya?"

"Yah, syukurlah aku dan Nona Licia sama-sama mendapat nilai sempurna."

"Luar biasa! Aku sudah yakin kalian berdua pasti lulus, tapi tidak menyangka kalau nilainya sempurna……! Kalau begitu, ujian tahap kedua──── tidak! Ujian akhir pun pasti akan baik-baik saja!"

"Kuharap begitu…… Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ujian tahap pertama Nona Fiona?"

Ren merasa pertanyaannya mungkin kurang sopan, dan ia menyesal tepat setelah mengucapkannya.

"Ah, lupakan saja!" Ren mencoba meralatnya dengan terburu-buru, namun Fiona hanya tersenyum malu dan menjawab bahwa ia juga mendapat nilai sempurna.

"Ahaha…… karena dulu fisikku lemah, tidak banyak yang bisa kulakukan selain belajar……"

Suaranya yang sedikit merendah membuat Ren agak sulit menanggapi.

Ren pun menjawab, "Itu adalah buah dari usaha keras Nona Fiona."

Fiona yang dipuji tampak tersipu malu dengan tulus, membuat rambut hitamnya yang selembut sutra bergoyang pelan.

"Ngomong-ngomong, sepertinya Tuan Ulysses akhir-akhir ini sangat sibuk, ya."

"Ayah? Benar, beliau memang terlihat sangat sibuk."

"Apakah karena keributan tempo hari makanya tidak ada kabar sama sekali……"

Fiona yang berjalan di samping menatap profil samping wajah Ren. Melihat Ren yang tampak semakin dewasa, pipinya merona merah.

Ia menempelkan tangan ke pipi untuk menyembunyikan rona merah itu. Di sampingnya, Ren menyadari bahwa ia sempat terdiam sejenak.

"Ah, maaf. Aku malah melamun."

Begitu Ren menoleh ke arah Fiona, mata mereka bertemu.

"────A-Aku tidak melihat apa-apa, kok!"

"Eh?"

"Ti-Tidak! Bukan apa-apa! Aku hanya salah paham sendiri……!"

Lebih dari apa pun, Ren ingin tahu alasan mengapa Ulysses dan Radius sangat diam.

Ren sedikit memiringkan kepalanya menanggapi ucapan Fiona yang tampak salah tingkah, namun ia kembali tenggelam dalam pikirannya.

(Padahal dulu sudah kukirimi surat, tapi jawabannya malah menghindar……)

Ia pernah bertanya melalui surat kepada Ulysses tentang kelanjutan masalah kelompok bandit tersebut.

Jawaban Ulysses hanyalah, "Jangan khawatir!", yang jika diringkas intinya seperti itu. Sisanya hanya berisi obrolan ringan atau pujian berlebih untuk Fiona.

"Tapi Ren-kun, kenapa kamu begitu penasaran dengan kabar Ayah?"

"Anu, apakah Nona Fiona sudah dengar kabar bahwa Kultus Raja Iblis mungkin bersembunyi di balik kasus kelompok bandit itu?"

Fiona mengangguk mantap.

"Aku mengkhawatirkan hal itu. Tuan Ulysses kabarnya bekerja sama dengan Radius untuk bergerak, tapi sama sekali tidak ada kabar."

"……Maaf. Nama yang barusan kamu sebut itu, Pangeran Ketiga, kan?"

"Benar."

"Eh!? Kenapa kamu memanggilnya tanpa gelar!?"

"Radius sendiri yang menyuruhku memanggilnya begitu, jadi kupikir lebih baik aku tidak sungkan lagi."

Ren memanggil Pangeran Ketiga tanpa gelar, dan sang Pangeran sendiri yang mengizinkannya.

Fiona benar-benar tidak habis pikir dengan fakta ini.

"Padahal aku juga tidak keberatan dipanggil tanpa gelar…… terus, gaya bicaranya juga……"

Ia bergumam pelan sambil mengenang interaksinya dengan Ren di Pegunungan Balder.

Ia merasakan semacam rasa iri terhadap Pangeran Ketiga.

"……Ah, benar. Ren-kun."

Fiona mengatakan sesuatu yang baru saja ia ingat.

"Kabarnya, benda yang dicuri sebelumnya adalah dokumen-dokumen yang disimpan di setiap bengkel."

Apa yang Fiona katakan adalah isi pembicaraan antara Ulysses dan Radius saat mereka bertemu di Eupeheim tempo hari.

Semua dokumen yang dicuri berisi informasi tentang alat magis yang dibuat oleh berbagai perusahaan dagang atau pengrajin alat magis.

Fakta yang mencuat adalah seolah-olah hanya informasi mengenai alat magis yang terpasang di seluruh kota sajalah yang menjadi sasaran.

"Apa mereka sedang mencari celah dalam sistem keamanan?"

Ren mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Radius waktu itu.

Namun Fiona segera menyanggahnya, "Aku rasa tidak sesederhana itu."

"Sebab, mereka adalah Kultus Raja Iblis. Aku tidak yakin orang-orang yang berani melakukan hal gila di Pegunungan Balder hanya akan berhenti setelah menemukan celah keamanan."

Setelah itu, mereka berdua terdiam dan berpikir sejenak.

Memang benar bahwa mereka mungkin mencari celah keamanan, karena banyak dari informasi yang dicuri bersifat rahasia. Terutama informasi yang didapat dari ahli pemecah kutukan yang ditangkap Edgar atas perintah Ulysses.

Hanya segelintir orang yang mengetahuinya.

(Sebenarnya, apa tujuan mereka?)

Dalam perjalanan pulang, Ren terus tenggelam dalam pikirannya di atas kereta magis yang bergoyang.

◇◇◇

Di dalam sebuah kereta kuda yang berhenti di suatu tempat di Ibu Kota.

Radius dan Ulysses bertemu secara rahasia untuk bertukar pendapat mengenai insiden kelompok bandit yang terjadi pada musim semi lalu.

"Nona Chronoa akan pulang pada bulan Oktober. Masuk akal jika mereka ingin bergerak sebelum itu."

"Tapi aku tidak mengerti. Apakah mereka lupa akan keberadaan Sword King yang ada di istana?"

"Mungkin mereka berpikir bahwa beliau tidak akan pernah meninggalkan sisi Yang Mulia Kaisar. Atau mungkin, mereka merasa cukup jika hanya bisa mengulur waktu sebentar saja."

"……Hmm, mungkin itu tidak sepenuhnya salah. Raja Pedang memang jarang sekali meninggalkan istana kecuali untuk urusan yang sangat mendesak."

"Kalau begitu, masalahnya adalah di tahap mana kita akan menyergap mereka."

Berbeda dengan para bandit, Kultus Raja Iblis masih belum menampakkan ekornya.

Jika mereka tidak bisa diselidiki sampai musim panas—saat mereka diperkirakan akan beraksi—maka pergerakan Radius dan Ulysses pun harus berubah.

"Ulysses, kau ingat apa yang kita bicarakan sebelumnya, kan?"

"Tentu saja. Kali ini, kitalah yang akan memancing mereka."

"Benar. Dalam situasi ini, tidak ada pilihan lain selain kita yang memancing mereka keluar dan menghancurkan mereka."

Percakapan mereka pun berlanjut.

◇◇◇

Hari itu cuaca sangat panas tidak seperti biasanya. Ibu Kota, maupun Erendil, dipenuhi oleh orang-orang yang mencari es serut atau camilan dingin di pinggir jalan.

Di hari seperti itu, Licia mengunjungi kamar Ren sambil menggendong Kukul yang tampak lengah di dadanya.

Wajah Kukul yang ada di pelukan Licia terlihat bengong.

"Ada apa tiba-tiba?"

"Mandi."

"Hah…… mandi?"

Ren menatap Licia sambil berpikir 'kenapa tidak mandi saja sendiri?', tapi Licia segera menyela.

"Sepertinya kamu salah paham, tapi bukan aku yang mandi, ya!"

Ia berucap sambil tertawa kecil karena kesal.

"Berarti, Kukul?"

"Iya."

"Ku────Kuu!?"

Tubuh Kukul tersentak kaget.

Sejak dulu, Kukul sangat benci mandi. Namun karena ia sangat suka bermain di taman keluarga Clausel, ada beberapa kotoran yang belum bersih sempurna di bulunya.

Baik Licia maupun Ren ingin membersihkan kotoran-kotoran itu.

"Kuu! Ku ku kuu!"

Kukul meronta di pelukan Sang White Saintess, mencari bantuan dari pemuda pengguna pedang sihir yang hanya bisa tertawa kecut.

Namun, Ren juga berpikiran sama. Melihat Kukul bermain dengan riang di luar memang menggemaskan, tapi sesekali ia harus dibersihkan.

Melihat Ren mengangguk, Kukul pun tertunduk lesu di pelukan Licia.

"Haa……"

"Duh, jangan terlalu kecewa begitu dong! Meskipun alasan 'kamu itu anak perempuan' tidak berlaku bagi binatang suci Ratatoskr, tapi ini demi kebaikanmu!"

Wajah Kukul yang mengerucutkan mulut itu membuat Ren ingin tertawa.

 

Langit begitu cerah tanpa awan sedikit pun.

Kontras dengan taman yang hijau rimbun terasa menyilaukan, dan kehadiran Licia di sana membuatnya tampak semakin bersinar.

Mengenakan kemeja tanpa lengan khas musim panas, ia terlihat lebih dewasa dibanding saat musim semi lalu.

Sebuah tong kayu besar diletakkan di atas rumput hijau yang segar. Air hangat untuk mencuci bulu Kukul telah dituangkan ke dalamnya.

"Ren, ternyata kamu di sini."

Lezard datang dari dalam kediaman. Karena hari ini panas, ia juga tidak mengenakan jasnya.

"Aku ingin meminta tolong mengantarkan surat ke pos ksatria…… oh, apa kalian sedang memandikan Kukul?"

Ren sempat terdiam karena merasa tidak enak jika harus menolak.

"Tidak apa-apa kok. Aku akan dibantu Yuno, jadi Ren antarkan saja suratnya."

"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi sebentar."

"Maaf ya. Ini urusan mendesak."

Ren segera menerima surat itu dan langsung meninggalkan kediaman.

Lezard tersenyum minta maaf kepada Licia yang ditinggal sendirian, lalu kembali ke ruang kerjanya. Tak lama, Yuno datang dan mulai melarutkan sabun khusus bulu ke dalam tong air hangat.

Satu, dua gelembung sabun beterbangan tertiup angin sepoi-sepoi.

◇◇◇

Dari depan gerbang kediaman pun, gelembung-gelembung sabun itu terlihat melayang.

Seorang gadis bangsawan baru saja tiba di sana dengan diantar oleh Edgar.

Fiona Ignat. Ia datang ke Erendil setelah menyelesaikan urusannya di akademi, mengenakan seragam musim panas Akademi Militer Kekaisaran.

Begitu diizinkan masuk oleh penjaga gerbang dan hendak melintasi taman.

"Kuuu!"

"Ah, sudah! Jangan meronta!"

Suara pekikan lucu dan suara Licia terdengar.

Fiona memberikan isyarat mata kepada Edgar, lalu meminta izin kepada ksatria yang hendak mengantarnya ke dalam kediaman untuk menuju ke arah suara tersebut.

Di taman yang dipenuhi tarian gelembung sabun, ia menemukan Licia yang sedang kepayahan.

"Nona Licia?"

Mendengar gumaman Fiona, mata mereka pun bertemu.

Licia tersenyum malu-malu.

"A-Ahaha…… anu…… selamat pagi, Nona Fiona."

"Selamat pagi. Mohon maaf, Ayah memerintahkanku untuk segera mengantarkan surat kepada Baron Clausel……"

Selain saling bertukar senyum kecut, Fiona berjalan mendekati tong kayu tersebut.

Melihat Kukul yang sudah berhenti meronta dan duduk pasrah di dalam tong.

"Lucu sekali……!"

Ucapnya dengan senyum lebar yang merekah.

Kukul yang setengah tubuhnya terendam air hangat menatap Fiona, lalu menyahut dengan suara sayu, "Kuu."

"Aku sudah dengar dari Ayah. Inikah Kukul-chan yang sering dibicarakan itu?"

Licia mengangguk mantap.

"Anak ini benci sekali mandi, jadi kami sedang berusaha keras membersihkan lumpur di bulunya."

"Ah, ya ampun…… jadi begitu ya."

Fiona menekuk lututnya di depan tong kayu.

Edgar entah sejak kapan sudah asyik mengobrol dengan Yuno.

"Nona, saya akan mengantar Tuan Edgar menemui Tuan Besar."

"Baiklah. Kalau begitu Nona Fiona…… mumpung di sini, bagaimana kalau menemani Kukul sebentar?"

"Boleh!? Tapi, aku harus mengantar surat────"

"Serahkan saja pada Edgar ini. Lagipula pihak keluarga Clausel sudah berbaik hati menawarkan, bukan?"

Yuno dengan tanggap memastikan tidak ada laki-laki yang mendekat ke sana.

Kini yang tersisa di taman hanyalah dua orang gadis cantik.

Licia yang sedikit lelah setelah perjuangan tadi.

Serta Fiona yang memancarkan senyum seindah permata karena gemas melihat Kukul.

"Boleh aku ikut membantu?"

Bukan sekadar basa-basi, Fiona terlihat sangat ingin melakukannya.

Luluh oleh keimutan Kukul, Fiona tidak bisa menahan diri lagi.

Licia tidak punya alasan untuk menolak, dan rasanya kasihan jika ia menolaknya.

"Dia akan senang kalau diusap seperti ini."

"Wah…… sepertinya dia merasa nyaman sekali……!"

Begitu bulunya diusap oleh Fiona.

"Kuu……"

Kukul mengeluarkan suara yang terdengar nyaman, membuat Fiona semakin gemas.

"Padahal benci mandi, tapi kalau diusap begini kamu merasa enak ya? Ayo, ayo, Kukul-chan."

"Kuu, kuu~~……"

"Gali, gali. Fufu, anak pintar ya."

Sosok putri keluarga Ignat yang menunjukkan sisi kekanak-kanakan sesuai usianya.

Meskipun merasa aneh sedang melakukan apa dengan rival cintanya, Licia merasa senang melihat Fiona yang tampak ceria dan ia pun tertawa.

"Ternyata Kukul-chan cuma benci bagian awal mandinya saja ya."

"Kalau sudah begini sih gampang, tapi proses menuju sininya yang lama sekali."

"Aduh-aduh. Mungkin dia tidak suka bulunya basah ya?"

Tapi begitu sudah basah kuyup dan mulai dipijat dengan busa, ia langsung senang.

Di dalam tong kayu yang penuh busa, Kukul membiarkan dirinya hanyut dalam kenyamanan dengan wajah bahagia.

"Kuu!"

Lama-kelamaan, mungkin karena terlalu senang dan bersemangat, Kukul mengubah posisinya dan mengibaskan tubuhnya.

Cipratan air dan busa pun meledak, mengenai pipi kedua gadis tersebut.

"Kyaa!?"

Kata yang sama keluar dari mulut kedua gadis itu secara bersamaan.

"Duh! Kukul!"

"Tahaha! Dingin sekali!"

Licia yang biasanya berpakaian rapi kini mengenakan pakaian santai karena hari ini panas, begitu juga dengan Fiona yang kemeja musim panasnya terkena cipratan air hingga sedikit menempel di kulit.

Di tengah tawa manis mereka di bawah sinar matahari yang terik.

"Maaf! Aku terlambat──── eh? Nona Fiona?"

Suara Ren yang baru kembali ke kediaman terdengar.

Begitu ia melihat pemandangan para gadis yang terkena air dan busa.

"……Begitu ya. Ulah Kukul, kan."

"Ren? Kenapa kamu malah memalingkan muka?"

"Anu…… apa ada yang salah dengan kami?"

Rok kedua gadis itu sedikit menempel di paha dan itu terlihat kurang pantas.

Terlebih lagi, ia pura-pura tidak melihat pakaian mereka yang mulai menerawang karena basah, lalu segera pergi mengambil handuk cadangan yang sudah disiapkan Licia. Itu adalah handuk yang cukup besar.

Begitu handuk besar itu disampirkan di bahu mereka berdua, ternyata cukup untuk menutupi tubuh bagian bawah mereka juga.

Meskipun mereka tampak menikmati musim panas dengan sehat, bagi Ren sulit untuk menatap mereka secara langsung.

 

Mereka berdua berada di salah satu kamar tamu di kediaman.

Mungkin karena teringat kejadian tadi, pipi mereka berdua masih memerah bahkan setelah pakaian mereka kering.

Ren datang ke sana sambil mengamati situasi dengan hati-hati.

"Permisi."

Keduanya berusaha tetap tenang dan menyambut Ren dengan senyum yang dipaksakan.

Jika lengah sedikit saja, rasa malu tadi rasanya ingin membuat mereka membenamkan wajah ke bantal sofa.

"Kukul sudah tidur dengan nyenyak setelah dikeringkan."

"Be-Begitu…… syukurlah!"

"Benar sekali! Aku juga senang Kukul-chan menikmatinya!"

Ren tidak mengomentari nada suara mereka yang naik-turun secara tidak alami, lalu duduk di sofa tunggal di dekat mereka.

Ia tidak membiarkan pembicaraan terputus.

"Tuan Lezard langsung pergi ke Ibu Kota setelah membaca surat tadi. Katanya beliau akan bertemu dengan Tuan Ulysses."

"Ayah akan bertemu dengan Marquis Ignat? Nona Fiona, apa Anda tahu soal itu?"

"Tidak, aku juga tidak dengar soal itu. Aku bahkan tidak tahu kalau Ayah ada di Ibu Kota."

Setelah kedua gadis itu saling pandang, pandangan mereka serentak tertuju pada Ren.

Ren pun menduga, mungkin soal itu……

"Bukankah ini tentang masalah kelompok bandit itu?"

"Mungkin saja. Tentang masalah yang informasinya sengaja tidak sampai ke telinga kita itu, ya."

"Tapi jika melihat situasi ini, sepertinya Baron Clausel sudah mendengar sesuatu dari Ayah."

"Sepertinya begitu. Akhir-akhir ini, komunikasi dari Tuan Ulysses ke Tuan Lezard meningkat, jadi sepertinya mereka sedang merundingkan sesuatu tanpa memberitahu kita."

Kalau bicara soal itu, surat hari ini juga termasuk.

Sebab Lezard langsung berangkat ke Ibu Kota segera setelah menerima surat tersebut.

"Aku juga merasa keributan itu bukan sekadar mencari celah keamanan saja."

Licia sudah mendengar gambaran besarnya dari Ren.

Fiona mengangguk pelan menanggapi ucapan tadi.

"Mungkin Ayah dan yang lainnya berniat melakukan sesuatu dengan menggunakan informasi yang telah didapat sebagai pijakan."

"Benar…… masalahnya, 'sesuatu' itu masih belum jelas."

"Apakah Marquis Ignat tidak memberitahu Ren juga?"

"Saat aku bertanya melalui surat sebelumnya, beliau menghindar. Mungkin beliau tidak ingin melibatkan kita karena khawatir. Sepertinya beliau juga bergerak secara rahasia dari Nona Fiona, kan."

"Iya…… Marquis Ignat memang orang yang sangat baik."

Namun kebaikan sang pria bertangan besi itu hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu saja.

Terlepas dari itu, mereka menyadari bahwa Ulysses sedang bersikap perhatian dan mereka menghargai kebaikan tersebut.

Fiona membuka suara.

"Tapi, Nona Chronoa akan pulang pada bulan Oktober. Jika musuh hendak bergerak, bukankah itu dilakukan sebelum beliau kembali?"

"Benar juga…… Beliau adalah salah satu penyihir terbaik di dunia, sih. Tapi, di Leomel kan juga ada Raja Pedang?"

"Raja Pedang tidak akan bergerak. Ayah juga berkata demikian."

Raja Pedang tidak mengabdi pada Leomel, ia berada di negara ini karena tujuan tertentu.

Bahkan Kaisar sekalipun tidak memiliki hak untuk memerintahnya, dan tidak ada yang berani menyinggung perasaannya dengan memberikan perintah.

Bahkan bagi negara militer terbesar di dunia, Leomel sekalipun.

Sebab, Raja Pedang adalah sosok yang absolut.

Fiona melanjutkan.

"Aku dengar Raja Pedang adalah sosok yang transenden. Bahkan jika organisasi bernama Kultus Raja Iblis menampakkan diri, mungkin beliau tidak akan terlalu memikirkannya."

Kultus Raja Iblis akan melakukan sesuatu.

Pada akhirnya, pembicaraan kembali pada apa yang akan mereka lakukan.

(────Hmm?)

Dari barang-barang yang dicuri, sebuah pemikiran melintasi benak Ren.

Pada periode tertentu di Erendil, ada sebuah pekerjaan besar yang dijadwalkan.

"Nona Licia, tolong beritahu aku tentang batu sihir di tempat itu, yang katanya akan diganti saat musim panas."

Pertanyaan itu sebenarnya sudah hampir merupakan jawaban.

Sebab dari barang-barang yang dicuri, ia bisa sampai pada sebuah kesimpulan tertentu.

Licia dan Fiona menatap Ren dengan wajah terkejut.

"Bukan. Bukan berarti Menara Jam Besar itu adalah senjata atau semacamnya, tapi kabarnya menara itu memiliki efek untuk mencegah monster kuat mendekati area ini. Kamu tahu kan kalau salah satu dari Tujuh Pahlawan adalah seorang pengrajin alat magis? Menara Jam Besar itu juga merupakan alat magis yang diciptakan oleh orang tersebut."

Itu adalah kata-kata yang pernah Ren dengar dari Licia sebelumnya.

Fiona juga tahu arti sebenarnya dari keberadaan Menara Jam Besar.

"Maksudmu mereka mengincar Menara Jam Besar."

"Apakah mereka memeriksa situasi keamanan saat keributan di musim semi lalu demi hari itu…… begitukah?"

Ren memperingatkan mereka berdua bahwa, "Ini belum pasti," namun ia tidak bisa memikirkan hal lain.

Mungkin di Ibu Kota, Ulysses, Lezard, dan juga Radius sedang merundingkan bagaimana musuh akan bergerak dan bagaimana cara mengatasinya.

"Haruskah kita berpura-pura tidak menyadarinya……?"

Licia menyuarakan apa yang dipikirkan oleh Fiona dan Ren.

◇◇◇

Malam harinya, Licia mengayunkan kakinya di tepi tempat tidur Ren.

"Rasanya menyebalkan ya, kita seperti ditinggalkan di luar."

Ucap Licia dengan nada dingin, namun dengan senyum manis yang hanya ia tunjukkan pada Ren.

Ren yang duduk di kursi menyahut.

"Apa yang dilakukan Tuan Lezard dan yang lainnya itu memang agak samar, ya."

"Samar apanya?"

"Mungkin untuk saat ini, belum ada hal yang diputuskan. Mereka masih dalam tahap hendak memutuskan, dan sedang dalam tahap mempertimbangkan bagaimana pergerakan selanjutnya."

"Mengenai pergerakan musuh," jawab Licia.

"Iya. Habisnya kalau Menara Jam Besar sampai terlibat, mustahil bagi Tuan Ulysses untuk merahasiakannya dari aku dan Nona."

Licia seolah sedang gelisah; ia mendekap bantal Ren sambil mengayun-ayunkan kakinya. Itu adalah gestur yang sering ia tunjukkan belakangan ini.

"Mungkin beliau berniat menyelesaikan semuanya di luar kota. Makanya beliau berpikir bisa merahasiakannya dari kita."

"Kalau begitu, tidak ada alasan untuk memanggil Tuan Lezard ke sini."

"Bukankah karena ada kemungkinan targetnya adalah Menara Jam Besar?"

"Meski begitu, jika beliau berniat menuntaskan segalanya di luar Erendil, aku tahu sifat Tuan Ulysses. Beliau bahkan tidak akan memberi tahu Tuan Lezard."

"……Benar juga, ya."

Rasanya tidak bisa dipungkiri bahwa Erendil punya keterkaitan besar dalam masalah ini.

Prediksi Ren adalah Ulysses—atau mungkin bersama Radius—merasa perlu memberi tahu Lezard agar tidak terjadi kekacauan besar nantinya.

◇◇◇

Di kamarnya di Istana Kekaisaran, Radius menghela napas.

Keadaan telah jatuh ke dalam situasi di luar dugaan. Seperti yang diprediksi Ren dan Licia, ada rencana di mana Erendil tidak bisa tidak terlibat, namun ada satu kekhawatiran di sana.

Singkatnya, menjaga kerahasiaan. Agar rencana mereka tidak bocor ke pihak musuh, memancing lawan ke tempat yang menguntungkan adalah kuncinya.

Yang dibutuhkan adalah kekuatan tempur absolut yang bisa menjamin keamanan.

Raja Pedang. Kekuatan tempur tertinggi di Leonel.

Radius tahu betul fakta bahwa wanita itu tidak akan membantu atas perintah negara, meski ia sadar tidak ada kekuatan yang melebihi dirinya.

"Apa yang harus kulakukan?"

Radius yang bimbang pun keluar dari kamarnya.

Ia menyusuri koridor luas, berniat meminta kaisar untuk membujuknya.

Di ujung jalan──── wanita itu berdiri di koridor istana.

Seolah tahu Radius akan datang ke sana, Sword King berdiri sendirian.

Cahaya bintang yang masuk dari jendela besar menerangi Radius, sementara Sword King berada dalam bayang-bayang.

"Tak kusangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."

Radius terkejut, namun ini waktu yang tepat.

Setelah sapaan singkat, Radius langsung menyatakan intinya.

"Apa yang aku dan Ulysses pikirkan, apakah sudah sampai ke telingamu?"

"Ya. Mengenai rencana kalian untuk menghunuskan pedang pada Kultus Raja Iblis, semuanya sudah kudengar."

"Kalau begitu aku bicara terus terang saja. Tolong pinjamkan kekuatanmu untuk operasi yang aku dan Ulysses rencanakan."

Namun, Sword King menjawab:

"Aku tidak punya kewajiban untuk meminjamkan kekuatanku."

Penolakan telak. Bahkan meski itu dikatakan oleh Pangeran Ketiga dari kekaisaran besar, pemuda yang dikenal sebagai calon kaisar berikutnya.

Namun Radius tidak hanya merasa kecewa, ia juga penasaran dengan situasi di mana Raja Pedang seolah sedang menunggunya di sini.

Tidak mungkin dia ada di sini hanya untuk menolak.

Pembuktiannya muncul dari mulut Sword King sendiri.

"Namun, aku ingin melihatnya dari dekat."

"Dia? Siapa yang kau maksud?"

Radius bertanya, dan bayangan Sword King bergoyang.

"Ren Ashton. Jika dia berpartisipasi dalam operasi ini, aku akan mengawasi medan perangnya."

Hal itu membuat Pangeran Ketiga yang dijuluki jenius itu terperangah.

Bagaimana Raja Pedang bisa tahu tentang Ren? Mengapa dia ingin Ren ikut bertarung?

Sword King tidak menjelaskan satu patah kata pun.

"Guh…… Ba-Bagaimana mungkin!?"

Seorang ksatria Shishi Seicho terdesak di hadapan pedang hebat milik Ren.

Tak lama kemudian, ksatria lain maju menghadapi Ren. Ya, "menghadapi".

Kini, bukan lagi Ren yang berada di posisi menghadapi lawan. Mereka yang kini harus berjuang menghadapinya adalah orang-orang yang baru setengah tahun lalu masih mengajari Ren apa itu pedang hebat.

"Hah…… hah…… Ren-dono akhir-akhir ini jauh lebih hebat dari sebelumnya."

"Apa yang terjadi……? Auranya terasa begitu mencekam."

"Hmm…… apakah dia berniat menjadi singa sejati? Sejak musim dingin, Ren-dono terus mengayunkan pedangnya seolah ingin menghabiskan stamina yang tak terbatas itu."

Ren yang masih terus mengayunkan pedang membatin.

(────Lagi. Lebih kuat lagi.)

Peluh mengalir, napas terengah.

Selama tubuhnya masih bisa bergerak, ia berusaha sekuat tenaga.

Mana pekat yang menyelimuti seluruh tubuh Ren memang tidak terlihat. Namun, para pengguna pedang hebat itu memahaminya.

Anak laki-laki itu sedang mencoba untuk berevolusi kembali.

Secara paksa, demi tujuan tertentu.

Mereka menahan napas, merasa seolah diperlihatkan momen perubahan itu secara langsung.

Saat itulah, seorang pria tua yang anggun muncul.

"Edgar-san?"

Edgar yang muncul mendadak itu melepas jasnya dan mengambil dua bilah pedang latihan di kedua tangannya.

"Kebetulan saya punya sedikit waktu luang, jadi saya datang untuk menemui Anda. Ngomong-ngomong, tadi itu adalah permainan pedang yang luar biasa."

"Terima kasih. Akhir-akhir ini aku memang merasa lebih bersemangat dari biasanya."

"Hmm, apakah ada perubahan dalam perasaan Anda?"

"Itu…… tentu saja."

Tidak ada gunanya bersembunyi.

Ren memutuskan untuk bicara jujur.

"Belum lama sejak keributan musim semi lalu. Aku sedang mengasah kemampuan pedangku agar siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi."

Kata-katanya terdengar biasa.

Namun di baliknya, Ren sengaja memberi petunjuk bahwa ia menyadari Ulysses dan yang lainnya sedang merencanakan sesuatu.

"……Anda tetaplah orang yang sulit ditebak."

"? Anda bilang sesuatu?"

"Tidak, abaikan saja."

Pria berseragam pelayan itu memantapkan posisinya.

"Bagaimana? Maukah Anda beradu pedang denganku setelah sekian lama?"

Itu adalah ajakan yang tiba-tiba.

"Aku berterima kasih, tapi ini mendadak sekali."

"Hahaha, seperti yang kukatakan tadi, ini karena saya punya waktu luang."

"……Benarkah begitu?"

Ren menyeka keringat dan menatap Edgar.

Suara Edgar terdengar sangat kuat, tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan.

"Lupakan saja. Kalau aku bisa meminjam bantuan seorang Sword Saint, aku sudah sangat puas."

"……Hmm."

Seperti yang diduga, Ren menyadari bahwa orang dewasa sedang merencanakan sesuatu.

Begitu Edgar menangkap sikap Ren tersebut, ia berkata:

"Aku sangat menantikan pedang Tuan Ren yang telah diasah sejak musim panas lalu────!"

Edgar-lah yang mengambil inisiatif.

Persis seperti hari di musim panas itu, ia menerjang ke hadapan Ren seperti angin dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang luar biasa.

Ia mengayunkan kedua pedangnya, melancarkan serangan beruntun kanan dan kiri.

Suara benturan yang memekakkan telinga bergema ke seluruh ruangan.

Ren menangkis serangan beruntun itu tanpa mengalihkan pandangan, lalu menatap Edgar tajam. Wajah Edgar tampak masih santai.

"Aku melihat keraguan di pedang Anda, Tuan Ren!"

"Tentu saja begitu!"

Kilatan pedang tajam menari berulang-ulang.

Semuanya adalah ketajaman pedang hebat yang lahir dari tangan Ren.

"Setelah apa yang terjadi di musim semi, Tuan Ulysses dan yang lainnya pasti melakukan sesuatu! Ada banyak hal yang mengganjal di pikiranku, jadi wajar saja kalau ada sedikit keraguan!"

Edgar yang sudah menduga hal itu tersenyum lembut, namun tekanan dari dua pedang di tangannya sama sekali tidak lembut.

Ren meringis merasakan teknik dari petarung kuat yang jarang ia temui.

"Sampai hari ini, Anda hanya berdiri di posisi sebagai pihak yang melindungi! Itulah sebabnya sekarang Anda merasa goyah karena menyadari ada sisi di mana Anda justru dilindungi!"

"Mungkin──── begitu!"

Kali ini Ren yang membalas, mengayunkan pedangnya untuk melawan.

Perlawanan itu, berbeda dengan musim panas lalu, kini hampir mendesak Edgar.

Telapak tangan Edgar mulai berkeringat. Menghadapi kekuatan yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya, ia secara alami mulai mengerahkan tenaga lebih.

(Benar-benar anak yang terlalu baik……!)

Tentu saja Ren memikirkan itu, tapi:

"Tapi lebih dari itu, aku rasa aku takut jika di tempat yang tidak kuketahui, di samping orang-orang yang harus kulindungi, terjadi sesuatu yang berbahaya!"

Seru Ren lantang.

Pedang itu kini mengandung kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.

Kekuatan dan ketajaman pedang yang sangat berbeda dari saat awal—seolah milik orang lain—terus meningkat seiring dengan perasaan Ren yang perlahan mulai jernih.

Muncul sedikit kegelisahan di wajah Edgar.

"Bahkan saat Tuanku telah menjadi sekutu, Anda masih mengatakan bahwa Anda merasa cemas!"

"Bukan begitu! Edgar-san salah paham!"

"Salah paham, katamu……?"

Ren terkejut dengan ringannya tubuhnya sendiri.

Dalam pertarungan melawan petarung kuat sekelas Sword Saint, bakat baru miliknya mulai bermekaran.

"Aku juga mengkhawatirkan Tuan Ulysses dan yang lainnya! Makanya aku merasa tidak bisa hanya diam dilindungi!"

Satu tebasan yang sangat kuat menyerang Edgar.

Edgar yang menangkisnya dari depan terkejut dengan kekuatan pedang hebat Ren, sekaligus terkejut dengan pernyataan Ren.

"────"

Edgar tertegun.

Tuannya, Ulysses Ignat, dikenal sebagai sosok bertangan besi dengan kekuasaan dan pengaruh yang diakui dunia. Namun, ia kehilangan kata-kata saat mendengar sang Tuan dikhawatirkan.

Meskipun di masa lalu Ren pernah melindungi Fiona dan Ulysses secara tidak langsung.

"Hah-hah-hah-hah-hah!"

Edgar berhenti dan tertawa terbahak-bahak di tempat yang agak jauh dari Ren.

Itu adalah tawa tulus dari lubuk hatinya.

"A-Aku sudah duga bakal ditertawakan……!"

"Mohon maafkan saya. Hanya saja, bagaimana ya…… kukkukku! Tak disangka Tuan Ren sampai memikirkan Tuanku sedalam itu!"

"……Tentu saja aku khawatir. Kalau lawannya Kultus Raja Iblis, aku jadi kepikiran apakah Tuan Ulysses akan baik-baik saja."

"Luar biasa. Kata-kata yang begitu mulia, lembut, dan hangat itu benar-benar menyentuh hati saya."

Edgar memantapkan kembali kuda-kuda dua pedangnya. Ren mengikuti.

"Sebenarnya, hari ini saya datang karena ada permintaan untuk Tuan Ren."

"Ternyata benar, bukan cuma karena punya waktu luang ya."

"Mohon maaf. Saya hanya ingin memastikan isi hati Tuan Ren."

Sambil tersenyum, ia menyelimuti dirinya dengan aura keberanian yang menyerupai monster raksasa────

Pria berseragam pelayan itu berucap dengan lantang.

"Namun sebelum ke permintaan itu, bagaimana kalau kita selesaikan dulu pertarungan hari ini?"

"Setuju. Mumpung lagi seru-serunya, sayang kalau dihentikan sekarang."

Walaupun:

"Sepertinya cuma aku yang merasa ini lagi seru-serunya."

"Sama sekali tidak. Ini adalah adu pedang yang mendebarkan, membuat saya teringat masa muda saya dulu."

Pedang Edgar berubah.

Bukan hanya teknik Matoi, tapi berubah menjadi teknik pedang hebat milik seorang pengguna sihir.

"Jika Tuan Ren bisa menahan serangan spesialku, maka Tuan Ren menang. Mari kita buat ini sederhana."

"Serangan itu berbeda dari yang tadi, ya?"

"Ya. Ini adalah pedang dan teknik bagi mereka yang sudah kuakui sebagai petarung kuat. Ada kemungkinan Anda akan terluka, jadi saya tidak memaksa."

Jawaban Ren sudah pasti.

"Mohon bantuannya."

Para ksatria yang mengawasi merasa antusias.

Mereka menantikan pedang macam apa yang akan ditunjukkan Ren terhadap Edgar. Ada yang menduga-duga berapa ronde pertarungan ini akan bertahan.

Namun, mereka semua menyadari bahwa pemikiran mereka salah besar.

"Pedang macam apa yang akan ditunjukkan"──── ekspektasi itu terlalu rendah. "Berapa ronde pertarungan ini akan bertahan"──── itu benar-benar sebuah penghinaan.

Ren yang telah menyadari perasaannya dan menghilangkan ganjalan di hatinya mulai menunjukkan sifat aslinya.

Di dasar tubuhnya…… jika konsep bernama jiwa itu ada, di sanalah sumber kekuatannya berdenyut.

Jika ada "Singa yang Tak Pernah Kalah", pasti seperti ini rasanya.

"Silakan ambil langkah pertama. Aku akan menjadikannya sebagai tanda dimulainya pertarungan."

"Kalau begitu──── aku datang!"

Keberanian itulah inti sejati dari Ren.

Hanya dengan memahami hasrat sejatinya, jalan menuju evolusi baru akan terbuka.

Ren hendak memekarkan kekuatannya di sini.

(Tidak perlu menahan diri. Terjang saja.)

Ren meyakinkan dirinya sendiri, lalu akhirnya menerjang maju.

"Guh──── i-ini,"

Tubuh Edgar yang menahan pedang Ren perlahan-lahan terdorong mundur.

Kecepatan pedang itu lebih gesit dari gerakan Thief Wolfen. Kekuatan fisiknya memang masih kalah dari Asvar, namun sudah melampaui dua anggota Kultus Raja Iblis yang pernah ia lawan sebelumnya.

"Belum selesai!"

Serangan beruntun yang dahsyat menyerang Edgar.

Setiap tebasan terasa sangat kuat hingga mustahil dipercaya, sebuah pedang hebat yang merampas tenaga hingga ke inti tubuh.

Lintasan pedangnya begitu tajam, hingga bayangan setelah pedang itu lewat tampak seperti pedang asli.

Mengatakan ini berbeda dari sebelumnya adalah sebuah pernyataan yang terlalu meremehkan. Bahkan tidak bisa dibilang seperti orang yang berbeda lagi. Ini adalah perubahan yang layak disebut sebagai konsep yang berbeda.

"Haaaaah!"

"……Berevolusi secepat ini!"

Pedang diayunkan dari bawah, lalu disusul satu tebasan horizontal.

Bahkan bagi Edgar yang sudah menyaksikan ribuan lintasan pedang sekalipun:

"Menilai kekuatan Anda setara dengan singa, ternyata memang bukanlah sebuah kesalahan!"

Semuanya adalah teknik orisinal milik Ren.

Bahkan tebasan horizontal biasa pun, jika Ren yang melakukannya, akan terasa seperti sebuah teknik tingkat tinggi.

Namun, Edgar tetaplah petarung yang kuat. Ia masih menyembunyikan kekuatannya, dan jika tuannya memerintahkan untuk mengalahkan Ren di sini, ia punya kepercayaan diri untuk segera memutus kesadaran pemuda itu.

Dibandingkan dengan Ren yang terus berevolusi dengan kecepatan tak wajar, perbedaan pengalaman mereka masih terlalu jauh.




Namun berbanding terbalik dengan itu, sebuah perasaan menjalar di punggung Edgar. Perasaan yang tidak masuk akal karena ia merasa tidak mungkin kalah, namun rasa takut yang tak kasatmata itu tetap menghantuinya.

Di sisi lain, ia bahkan merasakan secercah kegembiraan.

"Fufu──── Aku masih ingat hari saat aku menuntun Anda ke sini pada musim panas itu, seolah-olah baru kemarin terjadi!"

Edgar beralih ke serangan penuh.

Padahal itu adalah pedang latihan──── seharusnya begitu, namun pedang di kedua tangannya justru menebas pedang yang dipegang Ren. Secara harfiah, ia membelah bilah pedang itu hingga setengahnya.

"Haha, ini konyol! Edgar-san!"

"Konyol? Hah! Kita lihat siapa yang sebenarnya lebih konyol!"

Melihat Ren yang terkejut, Edgar melemparkan kedua pedang di tangannya ke arah pemuda itu.

Ren menangkis serangan tersebut dengan pedangnya yang kini hanya tersisa gagang dan sedikit bilah, lalu melangkah mundur.

Pada saat itu, hawa dingin yang luar biasa menerjang dari arah Edgar.

Bilah-bilah es yang diciptakan Edgar di udara bertujuan untuk menembus pakaian Ren dan memakukannya ke tanah. Setelah menggenggam bilah es itu, Edgar berniat menodongkannya ke arah Ren sebagai bentuk pujian atas pertarungan mereka.

"Akan kutunjukkan padamu! Inilah pedang hebat milik mereka yang mampu menguasai sihir!"

Setiap bilah es yang ia lepaskan setara dengan tebasan pedang dari seseorang yang telah menguasai teknik Matoi.

Karena itu, menangkisnya adalah hal yang mustahil.

Benar, maksudnya, Ren tidak mungkin bisa melawan.

Pertarungan akan berakhir dengan kemenangan Edgar…… seharusnya begitu.

"────Ini adalah pedang yang kutunjukkan padamu, sang Sword Saint. Aku juga tidak akan menahan diri."

Hanya "seharusnya", dan hanya sebatas itu saja.

Kekuatan seorang pemuda yang hingga hari ini telah menumbangkan banyak musuh kuat. Kekuatan seorang pemuda yang hingga hari ini telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati.

Paru-paru yang dipaksa bekerja keras dalam pelatihan selalu terasa kering kerontang, seolah ditinggalkan di padang pasir yang panas membara. Ditambah lagi, kecepatan evolusi yang jauh dari akal sehat manusia, hasil dari memacu diri tanpa ampun hingga otot-otot di sekujur tubuh terasa terbakar.

Semua itu adalah bukti dari bakat luar biasa yang kelak akan dijuluki sebagai mahakarya terbaik Shishi Seicho.

Karena itu, jangan pernah meremehkannya.

Sebab dia adalah Ren Ashton, sosok yang terus tumbuh meski telah melewati berbagai pertarungan maut.

◇◇◇

Para ksatria Shishi Seicho hanya bisa terperangah dan terdiam seribu bahasa menyaksikan kehebatan tadi.

Bahkan setelah duel berakhir, suasana itu tidak berubah.

"Aku bangga pada Tuanku yang telah mengundang Anda ke sini," ujar Edgar mengulanginya.

"Aku bangga karena bisa menjadi guru bagi Tuan Ren."

Setelah menyatakan hal itu, Edgar membelakangi Ren. Ia mengibaskan debu dari jas yang sempat dilemparnya, lalu berjalan pergi sambil mendekap jas tersebut di ketiaknya.

"Permintaan yang Anda bicarakan tadi, apa itu?"

"Mengenai hal itu────"

Edgar menengadah ke arah balkon di atas atrium.

"Biar aku yang bicara, Ren Ashton."

Ternyata Ulysses berada di balkon tersebut. Begitu melihat sosoknya, Ren bergegas berlari menemuinya.

"Tuan Ulysses!"

Saat mereka bertemu muka, Ulysses menyunggingkan senyum.

"Kepada kamu yang sudah berkali-kali membantu, aku ingin meminjam kekuatanmu lagi. Sebentar saja tidak apa-apa. Maukah kamu setidaknya mendengarkan penjelasanku?"

"Apa yang Anda katakan, Tuan Ulysses," jawab Ren sambil menghela napas, terdengar sedikit tidak puas.

"Mana mungkin aku tidak mendengarkan permintaan Anda."

"……Kamu benar-benar bisa diandalkan."

Suara langkah kaki mereka berdua menggema. Meninggalkan tempat latihan dan menyusuri lantai batu hitam di dalam Shishi Seicho, suara sepatu kulit mereka saling bersahutan.

"Ngomong-ngomong, kudengar kamu mengkhawatirkanku juga, ya."

"Ah, Anda mendengarnya?"

"Tepat sekali. Yah, aku jadi merasa senang. Rasanya dadaku sampai terasa panas, padahal aku sudah tidak muda lagi."

Mereka berdua merasa kini lebih saling memahami daripada sebelumnya.

"Punya tebakan tentang apa yang ingin kuminta?"

"Untuk menjadi kekuatan tempur dalam masalah itu, kah?"

"Hampir tepat. Tapi sebenarnya, kekuatan tempur kami sudah cukup. Kami sudah menyiapkan segalanya dengan saksama agar bisa menghadapi Kultus Raja Iblis sendiri tanpa merepotkan kalian sebisa mungkin."

Namun, lanjutnya.

"Selain itu, ada hal yang ingin kukonsultasikan padamu. Karena jika ada bantuanmu, akan ada situasi yang menjadi jauh lebih baik."

Mereka keluar dari gedung Shishi Seicho. Di luar, kereta kuda hitam pekat milik Ulysses sudah menunggu. Edgar yang datang menyusul kemudian duduk di kursi kusir.

"Mari kita bicara lebih detail di penginapan."

Kereta kuda itu melaju menuju sebuah penginapan. Di dalam kereta, Ulysses tersenyum bahagia saat mengingat kembali kata-kata Ren yang mengkhawatirkannya.

◇◇◇

Nama penginapan itu adalah Arnea. Penginapan milik Persekutuan Dagang Arneverde, salah satu penginapan termewah di Ibu Kota.

Di salah satu ruangannya, Radius dan Lezard sudah menunggu.

"Lama tidak jumpa, Ren."

"Ya, lama tidak jumpa."

Lezard, yang belum pernah melihat langsung mereka berdua mengobrol, merasa terkejut dan menyadari bahwa Ren benar-benar telah menjalin persahabatan yang erat dengan Radius.

"Permintaan ini, datang dari Radius?"

"Dari aku dan Ulysses."

Setelah keduanya mengangguk bersamaan, Radius mulai menjelaskan kepada Ren.

"Aku ingin menyusun informasi. Ren, apa kamu sudah menebak apa yang ingin kami lakukan?"

"Kurang lebih begitu. Aku sudah membicarakannya dengan Nona Licia dan Nona Fiona, dan memikirkan beberapa kemungkinan."

Ren menceritakan dugaannya tentang keterlibatan Menara Jam Besar dan batu sihir yang rencananya akan diganti pada musim panas ini.

Ia juga menambahkan prediksi bahwa operasi ini akan melibatkan Erendil.

"Bulan depan, batu sihir di lantai teratas Menara Jam Besar akan diganti. Kudengar saat penggantian itu, Menara Jam Besar akan berhenti beroperasi sepenuhnya."

Kekuatan yang melindungi Ibu Kota dan Erendil juga akan berhenti.

"Benar. Mereka sepertinya berniat menjadikan Menara Jam Besar—yang dibangun dengan teknologi salah satu dari Tujuh Pahlawan, Milim Althea—sebagai pijakan untuk menyerang Ibu Kota."

Itulah tujuan dari Kultus Raja Iblis yang selama ini menyelidiki informasi alat-alat magis yang digunakan di kota-kota, termasuk Ibu Kota dan Erendil.

Ini adalah rencana besar yang membuat kelompok bandit sebelumnya terpaksa menampakkan diri karena terdesak.

Di sini, Ulysses angkat bicara.

"Menghancurkan kekuatan pelindung Ibu Kota dan Erendil, itulah tujuan mereka. Akan lebih baik lagi bagi mereka jika bisa memodifikasi kekuatan pelindung itu untuk memancing monster, tapi aku tidak yakin mereka bisa melampaui teknologi Milim Althea."

Milim Althea telah mengembangkan banyak teknologi penting yang masih tersisa hingga saat ini.

Contohnya adalah sistem Kartu Guild. Sistem itu memungkinkan berbagi informasi di semua cabang, meski terbatas pada rangkaian teks sederhana.

Bukan berarti mustahil, namun kemungkinan pihak musuh memiliki pengetahuan untuk memodifikasi alat magis buatan Milim Althea sangatlah rendah.

Jika mereka punya teknologinya, mereka pasti sudah melakukannya dengan lebih baik saat insiden bandit kemarin.

Radius berucap, lalu Ulysses melanjutkan.

"Lagi pula, alasan Kultus Raja Iblis mengincar Leomel masih belum diketahui."

"Bukankah tujuannya untuk menyingkirkan kekuatan suci? Di Leomel, jejak kekuatan Tujuh Pahlawan yang berhubungan erat dengan Raja Iblis masih tersisa di berbagai tempat, dan Katedral Agung Ibu Kota juga merupakan wilayah suci yang penting. Tidak aneh jika mereka ingin mengikis kekuatan ini demi kebangkitan Raja Iblis."

"Begitu ya. Mungkin itu tidak sepenuhnya salah."

Bagi Ren yang mengetahui kisah Legenda Tujuh Pahlawan, ia hanya bisa memikirkan hal serupa.

Ambisi utama Kultus Raja Iblis adalah kebangkitan Raja Iblis.

Hal ini tidak berubah, namun alasan mereka mengincar Leomel tidak pernah diceritakan secara mendalam bahkan dalam Legenda Tujuh Pahlawan.

Bagi mereka, tindakan selama ini pasti memiliki tujuan tertentu, tapi……

(Dalam Legenda Tujuh Pahlawan, menyeret Tuan Ulysses ke pihak mereka juga bertujuan untuk menjatuhkan Leomel.)

Artinya, ada sesuatu yang jika Leomel berhasil dikuasai, maka kebangkitan Raja Iblis akan semakin dekat. Hanya sejauh itu yang ia ketahui saat ini.

"Kembali ke pembicaraan awal."

Radius berdehem sejenak untuk mengalihkan topik.

"Kali ini, dengan otoritas yang kumiliki, aku secara rahasia menunda penggantian batu sihir tersebut. Pada hari yang dijadwalkan, kita akan menggantinya dengan batu sihir palsu."

"Jadi, penggantian aslinya akan dilakukan di hari lain."

"Begitulah. Tapi, personel yang bisa dikerahkan sangat terbatas. Kami tidak tahu dari mana informasi bisa bocor. Karena itu, awalnya aku dan Ulysses berniat menyelesaikannya sendiri. Orang yang tahu soal penggantian batu sihir palsu ini juga sangat terbatas."

Ren mendengarkan penjelasan itu dengan saksama.

"Prinsip utama bagiku dan Ulysses adalah, idealnya kami ingin menghabisi anggota Kultus Raja Iblis sebelum mereka masuk ke Erendil. Kami berniat melakukannya jika memungkinkan pada hari itu, tapi mereka menyusup bagaikan kabut. Meski bodoh, kerumitan sebagai pengikut Raja Iblis tetap tidak berubah."

Karena itulah tempat itu akan diincar. Mereka akan muncul saat penggantian batu sihir Menara Jam Besar untuk menjadikannya pijakan dalam menyerang Leomel.

"Maka dari itu, kitalah yang akan menunggu mereka."

"Karena sudah jelas mereka akan datang ke Menara Jam Besar, kalian memutuskan untuk bergerak demi hal itu, ya?"

"Ya. Kami akan menjadikan tempat itu sebagai medan perang yang menguntungkan bagi kami."

Mereka berkata akan berusaha semaksimal mungkin untuk membereskan masalah ini di luar kota.

Namun, mereka tidak bisa menjamin bisa membereskan semuanya dengan pasti, dan karena tidak tahu berapa banyak personel musuh yang akan datang, mereka tidak memiliki kepastian mutlak.

Seandainya musuh muncul dalam jumlah besar:

"Aku sudah menempatkan pengintai di mana-mana dan bersiap untuk terus mendapatkan informasi. Tergantung situasinya, aku akan menggunakan otoritasku untuk menggerakkan pasukan. Karena Erendil berada di dekat Ibu Kota, kita bisa merespons dengan kecepatan yang cukup. Aku tidak akan membiarkan rakyat terluka sedikit pun."

"Dengan persiapan sesaksama ini, apa alasan kalian tidak melibatkan pasukan dari awal?"

Mendengar pertanyaan itu, Radius menjawab dengan suara mantap.

"Jika kita menyiapkan pasukan sejak awal, kita bisa mencegah serangan mereka sepenuhnya. Itu sudah pasti. Tentara Leomel adalah yang terkuat di dunia, dan itu terbukti dari fakta bahwa mereka tidak berani menyerang secara terang-terangan."

Aura keberanian terpancar dari ekspresi wajahnya.

"Namun, apakah mereka akan tetap menyerang jika melihat hal itu? Jika mereka berniat menghadapi kita secara langsung, mereka pasti sudah melakukannya sejak awal. Jika kita menyiapkan pasukan, mereka hanya akan mengubah rencana mereka. Daripada begitu, lebih baik mereka bergerak dalam jangkauan yang bisa kita prediksi."

Lagipula, tambahnya.

"Aku dan Ulysses tidak berniat hanya selesai dengan menangani mereka seperti sebelumnya. Kami akan menangkap mereka hidup-hidup untuk mendapatkan informasi. Untuk itu, kita harus bergerak secara rahasia agar tidak tercium oleh Kultus Raja Iblis."

Rasa percaya dirinya benar-benar luar biasa. Ren memahami maksud Radius, namun itu juga seperti pedang bermata dua.

(Begitu ya. Biasanya ini akan jadi pedang bermata dua, tapi bagi mereka berdua, itu tidak masalah.)

Ulysses Ignat sang Tangan Besi, ditambah Pangeran Ketiga yang digadang-gadang sebagai kaisar berikutnya, telah bekerja sama.

Fakta bahwa dua orang yang saling bunuh di garis waktu yang diketahui Ren kini menjadi sekutu adalah hal yang sangat krusial.

Semua ini demi mencegah Kultus Raja Iblis berbuat semena-mena. Jika sudah jelas mereka akan menyerang, maka mereka berdua berkata akan memanfaatkan hal itu.

"Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Baron Clausel. Aku dan Yang Mulia akan mengerahkan kekuatan tempur yang bisa kami mobilisasi semaksimal mungkin. Untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."

Ren menanggapi ucapan Ulysses.

"Mendengar kalian berdua mengerahkan kekuatan maksimal, terdengar sangat hebat."

"Meski begitu, ini adalah tim kecil yang elit. Tapi jika terjadi sesuatu, seperti yang dikatakan Yang Mulia, kami siap menggerakkan pasukan seketika. Jadi, anggaplah ini sebagai perwujudan tekadku dan Yang Mulia."

"Eh──── tunggu sebentar. Radius juga akan pergi ke lokasi?"

"Tentu saja."

"Tidak, dari awal sampai akhir ini benar-benar di luar akal sehat."

"Dalam keadaan normal memang begitu, tapi kali ini ada alasannya. Dan Ren, kamu sendiri juga sering melakukan hal-hal di luar akal sehat, kan. Jangan bicara seolah kamu bukan bagian dari itu."

"Aku memang tidak bisa membantah soal itu…… tapi kalau begitu, kenapa harus repot-repot pergi ke tempat berbahaya?"

"Sama seperti kejadian di dataran waktu itu. Ada hal yang belum kuberitahukan padamu, Ren."

Radius berucap demikian, lalu mengungkapkan rahasia yang ia sembunyikan. Itu adalah tentang Skill yang dimiliki Pangeran Ketiga Radius Vin Leomel, yang bahkan tidak pernah diungkapkan dalam Legenda Tujuh Pahlawan.

"Aku memiliki kekuatan spesial bernama Analyze."

Kekuatannya terletak pada kemampuan untuk menyelidiki informasi dari benda yang disentuhnya.

Meskipun disebut "informasi", hal itu cukup abstrak. Misalnya, jika ia menyelidiki pedang, ia akan tahu logam apa yang digunakan. Namun, bukan berarti kata-kata seperti "besi" atau "baja" muncul begitu saja di kepalanya.

Sulit untuk menggambarkannya dengan kata-kata, namun ia berkata itu seperti perasaan di mana jawaban ditarik berdasarkan pengetahuan Radius dan kemudian terbayang di benaknya.

Jika ia tidak memiliki pengetahuan yang relevan, hal itu akan tetap tersimpan di kepalanya sebagai informasi baru.

"Dengan ini, aku akan memastikan Segel Kultus Raja Iblis. Apa pun itu. Aku ingin mendapatkan informasi mereka sebanyak mungkin."

"Kalau begitu, kamu tinggal menunggu saja. Radius harus menunggu di tempat yang aman sampai seseorang membawakan pengikut Kultus Raja Iblis yang sudah pingsan."

"Lalu, siapa yang bisa menjamin hasil yang kuinginkan? Apa kamu ingat bidak buang dari kelompok bandit yang kamu tangkap? Aku tidak mengatakannya padamu, tapi dia juga mati tak lama setelah kamu pergi akibat amukan kekuatan itu. Segelnya pun menghilang sebelum aku sempat menyelidikinya."

Bukan karena serangan Ren yang merenggut nyawa, melainkan nyawa anggota bandit itu dirampas oleh kekuatan Raja Iblis.

Karena berpikir bahwa hal serupa mungkin terjadi lagi sebelum tawanan dibawa pulang, Radius tidak ingin melewatkan kesempatan ini apa pun taruhannya.

"Jika aku bisa memperdalam pemahaman tentang Segel Kultus Raja Iblis, maka ke depannya akan lebih mudah untuk melacak jejak mereka."

"……Jadi, kamu tetap tidak berniat tinggal di tempat yang aman?"

"Ya. Siapa pun yang melarang, aku tidak berniat mundur di hadapan Kultus Raja Iblis. Aku adalah keturunan Raja Singa. Aku tidak bisa tinggal diam saat seseorang mencoba mencelakai rakyatku."

Yang diinginkan Radius adalah jaminan. Ia sangat mengkhawatirkan kegagalan mendapatkan informasi seperti sebelumnya, karena itu ia berargumen bahwa dirinya harus berada di lokasi, dan semua orang memahami hal itu. ……Setidaknya, untuk argumen itu sendiri.

"Tuan Lezard sudah mendengar detail operasinya dan menyetujuinya, kan?"

"Tenang saja. Aku sudah memastikannya dengan sangat mendetail, dan isinya adalah sesuatu yang bisa kuyakini keberhasilannya."

"……Baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi soal itu."

Kalau begitu, Ren mengangguk.

"Apakah aku cukup menjaga kediaman saja?"

Seperti yang dikatakannya di awal, ia tidak berniat menghalangi operasi kali ini. Ren hanya ingin tahu.

Bagaimana ia harus bergerak agar tidak menjadi penghalang.

Bagaimana ia harus bergerak agar bisa memberikan kontribusi terbaik untuk melindungi mereka.

"Ah…… itu……"

Radius memberikan jawaban yang tidak pasti.

"Ulysses, apa yang sudah kamu bicarakan dengan Ren?"

"Aku hanya menyampaikan bahwa jika dia datang, situasinya akan menjadi jauh lebih baik."

"Hmm…… kalau begitu, bolehkah aku yang menjelaskan kelanjutannya?"

"Ya. Justru lebih baik jika Yang Mulia yang menyampaikannya."

Radius mengangguk. Ada alasan lain mengapa Ren diminta datang ke sini. Lezard pun belum mendengar bagian cerita ini, sehingga ia memiringkan kepalanya dengan heran.

"Seperti yang Ren tahu, kegagalan tidak diizinkan dalam operasi kita."

"Karena jika gagal, fungsi pertahanan Ibu Kota dan Erendil akan hilang, kan."

"Bukan, bukan itu. Justru soal itu, kamu bisa menganggapnya tidak bermasalah sama sekali."

"……Apa maksudmu?"

"Detailnya akan kujelaskan setelah semuanya selesai. Kepada Ren, dan juga kepada Lezard."

Radius memberikan satu petunjuk yang penuh teka-teki.

"Milim Althea adalah pengrajin alat magis legendaris, tapi hanya bergantung pada Menara Jam Besar adalah cerita lama. Kamu cukup mengingat hal itu saja. Kami, Leomel, bukannya tidak melakukan apa pun selama ini."

Sepertinya ada sebuah rahasia, namun kelanjutannya belum diceritakan.

Namun, itu tetap menjadi poin penting dalam operasi. Jika ia sudah bicara sampai sini, mungkin pada akhirnya ia berniat memberitahu Ren dan Lezard.

Ulysses pun tampak mengetahui situasi tersebut, ia duduk dengan ekspresi wajah yang penuh arti.

(Mungkin karena alasan itu juga, tindakan rahasia ini menjadi mungkin dilakukan.)

Setelah Ren dan Lezard mengangguk setuju, pembicaraan kembali berlanjut.

Operasi kali ini akan dilakukan secara rahasia sebisa mungkin, namun ada sosok yang tidak mungkin tidak diberitahu.

Sang pemegang kekuasaan absolut yang memerintah Leomel, yaitu sang kaisar.

Radiuslah yang bertugas menjelaskan kepada kaisar.

"Aku sudah menyampaikan semua maksudku dan Ulysses kepada Baginda. Mengenai hal itu, beliau memberikan izin pelaksanaan. Beliau juga sudah memastikan detail operasi dan menganggapnya tidak bermasalah."

Rasanya ada kejanggalan atau pertanyaan mengapa seseorang yang digadang-gadang sebagai kaisar berikutnya malah pergi ke tempat berbahaya.

Namun, Ren mulai bisa memahami setelah mendengar rangkaian kejadian ini. Meskipun begitu, ksatria pengawal kaisar juga dikirim untuk mendampingi Radius. Ini adalah cerita yang menunjukkan bahwa formasi yang sangat rapat telah disusun tanpa celah.

"Saat itu, kami juga mendiskusikan bagaimana menjelaskan hal ini kepada faksi lain. Baginda berjanji akan menangani hal itu nanti setelah semuanya selesai. Ren, peranmu akan dimulai setelah itu. Aku dan Ulysses telah memikirkan banyak hal untuk memastikan segalanya sempurna."

Radius terdiam sejenak untuk mengambil napas. Ren mendengarkan kelanjutan ceritanya sambil menatap mata Radius.

"Untuk itu, aku berpikir apakah bisa mendapatkan bantuannya."

Kata "bantuannya" (dia perempuan) merujuk pada sosok yang sangat samar. Tapi Ren segera mengerti. Hanya satu orang yang terlintas dalam pikirannya.

"Dulu, dia tidak pernah membantu siapa pun meskipun diperintah oleh Baginda. Namun kali ini, dia sendiri yang berkata akan membantu dengan syarat tertentu."

"Syaratnya bukan aku, kan?"

"Tepat sekali. Dia──── Sword King berjanji akan memberikan bantuan secara tidak langsung jika Ren ikut bertarung di sampingku."

"Aku tidak mengerti. Kenapa dia bilang begitu jika aku ikut membantu?"

"Aku pun…… bahkan Ulysses pun tidak tahu."

Dari nada suara dan ekspresi Radius, terlihat bahwa ia benar-benar merasa bingung.

"Dia tidak akan bertarung di sisi kita, tapi dia akan berada di dekat sini untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."

Semua orang tidak bisa memahami niat sebenarnya dari Raja Pedang, namun ada satu fakta yang tak terbantahkan.

"Jika dia memberikan bantuannya, operasi ini akan menjadi semakin kokoh."

Terlepas dari apa pun niat Raja Pedang, di hadapan bantuan yang tak terduga ini, Ren tidak bisa mundur.

"Tuan Lezard, aku memutuskan untuk bertarung di samping Radius."

Lezard juga sempat bimbang untuk menjawab.

Tentu saja ia berpikir apakah ia akan meminjam kekuatan Ren lagi, namun bagi seorang Baron seperti dirinya, pembicaraan kali ini terlalu besar.

Saat ia terdiam mencari jawaban:

"Sebagai imbalannya, bagaimana jika Anda membayar biaya sekolahku?"

Ini adalah pertama kalinya Ren meminta imbalan atas keinginannya sendiri. Semua orang tahu bahwa kata-kata itu jelas diucapkan karena mengkhawatirkan Lezard. Namun, menghadapi perhatian dan keteguhan tekad Ren, Lezard tidak bisa lagi bersikap keras kepala.

Ren bukan lagi anak kecil yang dulu ada di desa.

"Aku akan memberikan imbalan sesuai keinginanmu. Karena itu Ren, bolehkah aku meminjam kekuatanmu demi Leomel?"

Menanggapi hal itu, Ren menjawab:

"Serahkan padaku."

Ia menjawab seketika, seolah-olah sudah menunggu saat itu tiba. Setelah mereka berdua bertukar janji, Radius berkata:

"Namun Lezard, jika terjadi sesuatu, mungkin kalian akan dianggap sebagai bagian dari faksi kekaisaranku. Aku dengar keluarga Clausel dekat dengan keluarga Riohard, jadi aku juga akan menyebarkan informasi bahwa kalian tidak memihak……"

"Kalau begitu, mohon kiranya keluarga Clausel tetap mendapatkan perlindungan dari Anda di masa mendatang."

Bukannya ingin menyebutnya sebagai pencemaran nama baik, namun Lezard mengajukan permintaan mengenai opini publik yang mungkin muncul.

"Oho, apa tujuanmu?"

"Yang kuinginkan adalah kekuatan politik. Jika hanya mengandalkan idealisme, kita akan terseret lagi ke dalam ketidakadilan. Karena itu, meski tetap di faksi netral, aku harus membangun posisi yang kokoh."

"……Maka dari itu, tidakkah kamu berniat menjadi bagian dari faksi kekaisaranku?"

"……"

"Hmm, sepertinya itu adalah pembahasan yang berbeda lagi, ya."

"……Mohon maaf, izinkan saya untuk tidak menjawabnya di sini. Saat ini, saya masih disibukkan dengan urusan di sekitar saya."

Ketidakmampuan untuk berpindah faksi dengan mudah memang berasal dari pengalamannya selama ini.

Karena belakangan ini ia berhasil memperluas pengaruhnya dengan lancar, ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan di sini.

Terutama, ini bukan hal yang harus diputuskan hanya karena terbawa suasana saat itu.

Menghadapi Lezard yang berbicara dengan tegas di depan Pangeran Ketiga, Radius justru tersenyum menantang.

"Pada dasarnya, kaum bangsawan tidak seharusnya terikat oleh faksi. Kamu adalah pria yang mewujudkan hal itu."

"Jika Anda menyebut ini sebagai tindakan tidak hormat, saya tidak punya pilihan lain. Namun, kesetiaan saya kepada Leomel dan kepada Yang Mulia Pangeran Ketiga akan tetap abadi selamanya."

"Aku tidak menganggapnya tidak hormat. Aku justru merasa sangat senang bisa mengenal pelayan yang setia sepertimu."

Radius memutuskan untuk menjanjikan satu hal terlebih dahulu.

"Setelah semuanya selesai, aku akan menyampaikannya kepada Baginda agar keluarga Clausel mendapatkan imbalan yang sepantasnya. Netralitasmu adalah sesuatu yang murni dan membanggakan. Aku sangat memahami bahwa posisi itu diambil demi kecintaan sejatimu pada Leomel."

Kemudian Radius mengulurkan tangan kepada Lezard yang berada di hadapannya.

"Teruslah berbakti demi Leomel."

"────Baik!"

Seharusnya, bersalaman dengan anggota keluarga kekaisaran bukanlah hal yang biasa.

Namun di sini, keduanya bersalaman dengan erat. Setelah itu, Radius memutar tubuhnya ke arah Ren dan menatap matanya.

"Seharusnya Edgar yang berada di sampingku untuk menjagaku. Tapi, sebaiknya Edgar menjaga keamanan keluarga Clausel. Dengan begitu Ren juga akan merasa tenang."

"Mm, terima kasih. Kalau begitu aku────"

"Yang akan melindungiku di sisiku adalah kamu, Ren."

Radius tidak merasa Ren kurang kemampuan sedikit pun, sebaliknya, ia merasakan keandalan darinya. Meskipun belum bertahun-tahun sejak mereka bertemu, keduanya sudah saling memahami banyak hal.

"Aku memercayakan punggungku padamu. Namun aku tidak memintamu berdiri di sampingku sebagai seorang ksatria."

"Lalu, aku berdiri sebagai apa? Pengawal?"

Menanggapi pertanyaan jujur Ren, Radius tertawa penuh percaya diri.

"Bagaimana kalau sebagai kawan seperjuangan?"

Ren sempat berpikir apakah pantas menyebut Pangeran Ketiga sebagai kawan seperjuangan. Tapi ia juga berpikir, rasanya sudah terlambat untuk memikirkan hal itu sekarang.

Tangan mereka berdua kini saling bertautan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close