NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 5

Chapter 5

Belajar dari Pedang Sang Raja Singa


Suatu hari di musim dingin, Ren mengunjungi bengkel Werlich di Ibu Kota Kekaisaran. Dalam perjalanan pulang, ia memutuskan untuk mampir ke Ordo Singa Suci.

"Sudah lama tidak berjumpa, Tuan Ren."

Seorang ksatria muda dari Ordo Singa Suci menyambut Ren.

Meski sosoknya tampak mengintimidasi dengan zirah yang dikenakannya, ksatria itu justru menunjukkan senyum lembut yang bertolak belakang dengan penampilannya.

"Apakah hari ini Anda datang sendirian?"

"Benar. Aku dengar dari Pak Edgar kalau aku boleh memakai tempat latihan di dalam. Jadi, kalau waktunya pas, aku berniat melihat latihan kalian sekalian belajar sendiri."

"Kebetulan Pak Edgar juga ada di sini hari ini, jadi saya kira Anda sudah punya janji dengannya. Tadi pagi begitu sampai, beliau langsung bilang ingin bersiap-siap untuk memberi bimbingan pada Tuan Ren."

"Itu hanya kebetulan. Aku sedang beruntung saja."

Langkah kaki Ren kembali memasuki Ordo Singa Suci setelah sekian lama. Suasananya masih sama seperti dulu; megah dan sunyi.

Tempat latihan yang ia tuju berada di ujung koridor luas.

Setelah berjalan sedikit, ia bisa melihat tempat latihan luas di bawah sana melalui pagar pembatas.

Tempat itu dibangun di lantai semi-basement dengan cahaya matahari yang menyiram masuk melalui langit-langit kaca yang tinggi.

Ren merasakan tekanan kuat yang dipancarkan para ksatria yang sedang berlatih hingga ke pori-pori kulitnya. Ia kembali menyadari bahwa ini adalah tempat yang spesial.

"Oh?"

Edgar, yang sedang berbincang dengan para ksatria, menyadari kehadiran Ren dan segera berlari menghampiri.

Di sisi lain, Ren yang dipandu oleh ksatria tadi menuruni tangga menuju lantai bawah dan bertemu Edgar di bordes tangga.

"Anda bisa memanggil saya, maka saya yang akan menjemput Anda."

Jika ingin memanggil Edgar, Ren cukup menghubungi lokasi yang sudah ditentukan.

Selama tinggal di Ibu Kota, Edgar biasanya menginap di penginapan yang sama.

"Hari ini aku datang karena ingin melihat latihan, atau mungkin kalau ada yang mau meminjamkan tenaga untuk melatihku."

"Itu bagus. Kebetulan hari ini saya ada di sini, jadi biarkan saya yang menemani Anda."

Karena musim ini penuh dengan pesta di Ibu Kota, majikannya, Ulysses, tidak terkecuali. Tidak seperti biasanya, Edgar jadi lebih sering berada di Ibu Kota.

Ren pun melangkahkan kakinya ke tempat latihan luas yang berada di bawah area terbuka tersebut.

◇◇◇

"Jadi Anda yang bernama Tuan Ren."

Seorang pria bertubuh besar dan berwibawa menghampiri dan menyapa Ren.

"Iya. Nama saya Ren Ashton."

Ren menjawab tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Melihatmu secara langsung, kau memang terlihat menjanjikan di masa depan, tapi ini membuatku sedikit bimbang."

"Bimbang, maksudnya?"

"Pak Edgar memintaku untuk menjadi lawan tanding jika Tuan Ren datang. Tapi, aku khawatir akan membuatmu terluka."

Ksatria lain pun ikut menimpali.

"Jika kau adalah ksatria di sini, kami tidak akan sungkan. Tapi jika menggunakan Gouken-gi, staminamu akan terkuras habis."

"Meski begitu, aku dengar dia bisa menahan pedang Pak Edgar, jadi..."

Para ksatria yang berkumpul satu per satu itu setuju, namun keraguan terpancar jelas di wajah mereka.

Edgar membuka suara untuk menenangkan situasi.

"Biar saya yang menjawab keraguan mereka. Tuan Ren, silakan bersiap-siap. Ada pedang latihan yang berjejer di dinding, pilihlah yang Anda sukai."

Begitu Ren mengangguk dan pergi, Edgar menceritakan bagaimana Ren telah menghancurkan kristal di dalam botol kecil hingga menjadi debu.

Para ksatria terdiam seribu bahasa, mereka hanya bisa terpaku keheranan.

Bukannya tidak percaya, tapi karena rasa ketertarikan pada Ren, pria bertubuh raksasa itu tertawa dan berkata.

"Tuan Ren, jika boleh, bertandinglah denganku."

Ren yang sudah kembali menatap wajah Edgar, menyerahkan keputusan padanya.

"Mari kita gunakan format di mana saya akan mengamati cara bertarung Tuan Ren, lalu memberikan saran teknis di setiap jedanya."

Ren merasa jantungnya berdebar penuh semangat karena bisa langsung bertanding.

Menghadapi pengguna Gouken yang memegang pedang raksasa di depan matanya, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut dan langsung memasang kuda-kuda.

Seketika, atmosfer di sekitar para ksatria berubah.

Secara insting, mereka menyadari bahwa bakat Ren adalah sesuatu yang nyata.

◇◇◇

Pertandingan antara pria bertubuh raksasa itu dan Ren segera dimulai.

Gerakan Ren jauh lebih tajam dan cepat dari yang dibayangkan pria itu.

Pria itu membelalakkan mata. Meski tubuhnya besar, ia bergerak lincah dan memasang pedang raksasanya secara horizontal untuk menahan serangan pedang Ren dari depan.

"Gkh... ini...!"

Tidak ada guncangan khas Gouken-gi yang menyerang bagian inti tubuhnya.

Ren tampaknya belum menguasai teknik Matoi, tapi justru itu yang mengerikan. Padahal belum menguasai Matoi, tapi dampaknya seperti menerima tebasan dari pengguna Gouken

Keringat mulai muncul di dahi pria itu saat membayangkan seberapa kuat Ren jika ia sudah menguasai teknik tersebut.

"Sepertinya kekhawatiranku soal melukaimu itu sangat tidak sopan!"

Menyadari kekuatan Ren dalam sekejap, pria itu membalas dengan mengayunkan pedang raksasanya.

Meski ada perbedaan postur yang jauh, kekuatan otot inti Ren membuat tubuhnya tidak terpental jauh. Pedang raksasa yang diayunkan pria itu mengarah tajam ke arah pinggang Ren.

Ren memasang pedangnya secara horizontal untuk menahan tebasan yang kecepatannya seolah meninggalkan suara belahan udara tersebut.

(—!)

Wajah Ren sesaat meringis karena guncangan yang menggetarkan seluruh tubuhnya.

Terlebih lagi, tubuhnya terlempar ke depan oleh tenaga pria itu. Ia berguling beberapa kali di tanah sebelum akhirnya memperbaiki posisi.

Tidak ada rasa sakit. Meski tangannya terasa sangat mati rasa, ia memaksa dirinya untuk kembali mengangkat pedang.

"Belum selesai!"

"Tsk... Meski aku sudah menahan diri, kau bisa langsung bangkit setelah menerima serangan pedang raksasa level Kenkaku!"

Kekuatan yang dilepaskan oleh pedang raksasa level Kenkaku secara harfiah mampu mengguncang tubuh hingga ke sumsum tulang. Jika ini adalah Ren di musim panas lalu, ia pasti tidak akan bisa merespons pedang raksasa lawan seperti itu.

(—Sepertinya, ada sesuatu yang mulai tertangkap.)

Kalau dipikir-pikir, saat ia beradu pedang dengan Edgar pun begitu.

Saat menahan Gouken-gi, ia tidak hanya sekadar merasakan guncangan yang belum pernah dialami sebelumnya tanpa berpikir. Setiap kali tubuhnya merasakan guncangan itu, entah bagaimana tubuhnya mulai belajar.

Sambil tetap menjaga jarak, Ren menyeka keringat di dahinya.

"Bisa minta tolong sekali lagi?"

Permintaan itu membuat para ksatria terkejut.

◇◇◇

Setelah menyelesaikan latihan dan kembali ke Erendill, Ren hampir saja tertidur di bak mandi kamarnya.

Sambil menyeret tubuhnya yang terasa berat sehabis berendam, ia bersiap-siap dan ikut makan malam bersama Licia dan Lezard yang baru pulang malam itu.

"Ren? Kamu kelihatan capek sekali, ada apa?"

"Tadi mampir ke Ordo Singa Suci saat jalan pulang. Karena tubuhku terasa lebih lincah dibanding musim panas lalu, aku jadi kebablasan berlatih."

Mendengar itu, Licia tertawa kecil dan berkata, "Itu sangat khas dirimu, ya."

Lezard kemudian berujar.

"Aku tahu Licia juga ingin menggerakkan tubuh, tapi tolong bersabarlah sebentar. Dengan adanya keributan faksi kemarin, aku ingin sebisa mungkin menyelidiki pergerakan para bangsawan. Kita juga harus menghadiri pesta."

"Iya, aku mengerti."

Licia mengangguk meski terlihat agak kecewa.

◇◇◇

Keesokan harinya, meski masih pagi buta, banyak ksatria sudah berada di tempat latihan Ordo Singa Suci seperti kemarin.

Pria bertubuh besar yang sama menyapanya.

"Kau datang awal sekali."

"Karena aku masih dalam tahap pelatihan, aku harus bekerja keras selagi bisa."

"Sikap yang bagus. Aku ingin para ksatria resmi yang muda-muda mendengarnya juga."

Meski tidak semua ksatria muda seperti itu, pria itu menambahkan.

"Tidak sedikit yang menganggap menjadi ksatria resmi adalah garis finis. Menyedihkan sekali rasanya sampai ingin mempertanyakan jati diri kami sebagai ksatria. Itu benar-benar 'lemak' yang tumbuh di dalam hati."

Ini hanyalah pendapatnya tanpa memandang aliran pedang mana pun.

Ren yang mendengarkan dengan antusias mulai melakukan pemanasan mengikuti pria tersebut.

Selama itu, langit pagi musim dingin yang gelap perlahan-lahan mulai terang.

—Hari-hari seperti itu berlalu selama dua hari, tiga hari, hingga satu minggu.

Ren tetap tenggelam dalam latihan Gouken-gi.

Awalnya ada rencana latihan melawan monster bersama Licia, tapi karena Licia dan Lezard terlalu sibuk dengan tugas bangsawan, jadwal mereka jadi saling menguntungkan.

Meskipun Edgar tidak bisa selalu berada di sisi Ren, Ren terus mengasah kemampuannya melawan para pengguna Gouken di Ordo Singa Suci ini.

Suatu pagi, Edgar yang datang melihat keadaan Ren mengelus jenggotnya sambil bergumam, "Hmm."

"Apa Anda menyadarinya, Pak Edgar?"

Seorang ksatria mendekatinya dan bertanya.

"Sejak kapan?"

"Sejak kemarin. Tuan Ren bekerja keras setiap hari sampai tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Sepertinya saat ini dia sedang mencoba mendapatkan semacam pencerahan."

"Pantas saja auranya terasa berbeda."

Tubuh Ren pasti sudah sangat terkuras karena terus menahan serangan Gouken, tapi ia tidak pernah menyerah dan terus tenggelam dalam latihannya.

"Aku merasa dia akan menguasai Matoi dengan kecepatan yang luar biasa."

"Itu tidak mengherankan. Mengingat bakat Tuan Ren yang pernah saya ceritakan, ditambah kepribadiannya yang tidak kenal lelah dalam berusaha, tidak ada yang aneh sama sekali."

"Dengan terus-menerus menahan Gouken, tubuhnya pasti mulai mengingat sensasi itu."

Mendengar perkataan ksatria itu, Edgar segera berbalik dan berjalan keluar.

"Anda tidak ingin bicara dengannya?"

"Ya. Mungkin lebih baik jika saat ini saya tidak menyapanya."

Melihat Ren yang mandi keringat dan berlutut di depan serangan Gouken namun tetap menunjukkan semangat membara, Edgar merasa tidak sabar menantikan hasilnya.

Saat ini, Ren sedang berjuang mati-matian untuk menangkap sesuatu.

Ia tidak sanggup menyela dan mengganggu momen itu.

◇◇◇

Setelah siang berlalu.

"Sedikit lagi, rasanya aku hampir menangkap sesuatu, tapi..."

Karena ada rencana di sore hari, Ren meninggalkan Ordo Singa Suci lebih awal dari biasanya.

Meski berlatih sampai tidak bisa bergerak, berkat kemampuan pemulihan Ren yang luar biasa, saat pulang ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa masalah.

Sejak hari di mana ia merasa akan mendapatkan pencerahan, perasaannya masih tetap tidak sabar. Belakangan ini, saat makan, sebelum tidur, bahkan saat mandi pun ia hanya memikirkan tentang Gouken.

Di kediaman, Licia sering memberinya kata-kata perhatian.

"Tolong, jangan sampai terluka, ya?"

Bisa dibilang, kelembutan Licia yang selalu mengawasinya itulah yang mendukung Ren untuk tetap fokus pada pedangnya.

Ren berjalan menyusuri jalan utama sambil masih ingin melamun sedikit. Ia ingin makan ringan di restoran yang ada di gang di depan sana sambil merenungkan latihan hari ini.

Tak lama setelah Ren meninggalkan jalan utama menuju restoran.

Meskipun sedang masa libur musim dingin, gadis-gadis yang bersekolah di Akademi Militer Kekaisaran yang bergengsi tampak berjalan di dekat sana.

Mungkin mereka ada kelas tambahan atau semacamnya. Di antara mereka, seorang gadis yang sangat cantik menarik perhatian semua orang, baik pria maupun wanita.

Fiona Ignat.

Gadis cantik yang berjalan dengan rambut hitam yang berkilau sehalus sutra.

"—Eh?"

Ia menghentikan langkahnya karena merasa melihat sosok Ren di sudut matanya.

Fiona yang mendadak berhenti itu menoleh ke seberang jalan utama.

Sulit untuk menemukan seorang anak laki-laki di tengah keramaian jalan utama Ibu Kota Kekaisaran.

Namun, didorong oleh rasa penasaran, Fiona mulai berlari. Ia mencoba menuju seberang jalan melawan arus orang-orang, tapi sosok Ren sudah tidak ada.

"Cuma salah lihat... ya?"

Suaranya terdengar lesu, dan dadanya terasa sesak.

"Nona Ignat! Ada apa mendadak lari begitu!?"

"Ma... maaf. Bukan apa-apa, kok."

Saat ia meminta maaf kepada teman-teman sekelasnya dengan senyum yang dipaksakan, rasa sakit di dadanya terasa semakin kuat.

Ia menengadah ke langit. Langit Ibu Kota tertutup banyak awan, persis seperti hari-hari yang ia habiskan di Pegunungan Baldur.

Fiona berusaha menenangkan diri dan berjalan menyusuri jalan utama bersama teman-temannya sambil membicarakan banyak hal.

Mulai dari urusan akademi, lingkungan bangsawan, dan berbagai hal lainnya. Hingga kemudian, ketiga temannya mulai merasa sedih saat membicarakan topik baru.

"Katanya beliau adalah seorang uskup yang sangat taat. Sudah lama sejak beliau menghilang, orang-orang khawatir beliau diserang oleh Kultus Raja Iblis..."

"Aku juga pernah dengar. Katanya beliau dibawa pergi ke suatu tempat."

"Kejam sekali... Padahal Uskup Lenidas adalah orang yang sangat aktif tidak hanya di Ibu Kota, tapi juga sampai ke daerah-daerah... Kenapa orang seperti beliau jadi incaran Kultus Raja Iblis..."

Sambil mendengarkan suara teman-temannya, Fiona membatin.

"Semoga ancaman Kultus Raja Iblis segera menghilang secepat mungkin."

Mengingat pengalamannya menghadapi dua orang pengikut Kultus Raja Iblis di Pegunungan Baldur, Fiona merasakan hal itu dengan sangat kuat.

◇◇◇

Keesokan harinya, Edgar berencana menemani latihan Ren seharian penuh.

Ia menyapa pria bertubuh besar yang sedang berlatih dengan ksatria lain, lalu memintanya untuk melakukan duel latihan sebagai tinjauan ulang.

Duel hari ini terasa sama seperti sebelumnya, namun entah kenapa terasa berbeda.

Ren masih kesulitan menghadapi tenaga lawan dan kekuatan Gouken-gi, tapi gerakannya sudah berubah total.

Meski masih ada sisa kelelahan di tubuhnya, tidak ada kekakuan lagi. Kelonggaran yang ada pada tebasan pedangnya berhasil menepis guncangan dari pedang raksasa.

Berbeda dari sebelumnya, Ren kini memiliki sedikit celah saat menahan pedang raksasa, dan pusat gravitasinya pun lebih stabil.

Di tengah adu kekuatan yang entah sudah keberapa kalinya.

Saat pedang raksasa diayunkan ke bawah, untuk pertama kalinya Ren menahan kekuatan itu tepat dari depan.

(Tadi itu...)

Ia tidak tahu.

Berbeda dengan sebelumnya, kenapa kali ini ia bisa menahan pedang raksasa itu sepenuhnya?

Edgar yang mengawasi merasa kagum dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

Pria yang menjadi lawannya bergumam, "Akhirnya, ya."

Tubuh Ren sedikit goyah. Karena terus berlatih tanpa henti, tubuhnya mulai menuntut istirahat.

"Cukup sampai di sini. Mari kita lanjutkan setelah makan siang."

Ren mengucapkan terima kasih pada pria yang menjadi lawan tandingnya, lalu meninggalkan tempat latihan mengikuti Edgar. Karena tidak ada kantin di Ordo Singa Suci, mereka pergi ke luar.

Ksatria lain menghampiri pria yang menjadi lawan Ren tadi.

"Hei, yang terakhir tadi itu, jangan-jangan..."

"Ya... tidak salah lagi."

Di tangan pria itu, masih tersisa rasa mati rasa yang tajam.

Tanpa tahu bahwa mereka sedang membicarakan hal itu, Ren tetap bungkam sambil mengikuti Edgar, pikirannya hanya terisi oleh Gouken-gi.

Panas yang dirasakan Ren saat mencoba mengejar "sesuatu" yang ia rasakan tadi pagi.

Kekuatan yang mirip dengan guncangan saat ia menerima Gouken-gi di lubuk hatinya, kali ini terasa muncul dari tangan Ren sendiri.

Sesuatu memenuhi ujung jari dan tangannya yang menggenggam pedang.

"...Apakah ini?"

Otot-ototnya yang kelelahan menahan denyutan hebat, dan panas yang menumpuk seketika lenyap.

Rasa lelah menghilang dari tangannya, ujung jarinya, dan seluruh tubuhnya yang tadi sangat terkuras.

"Kau sudah membuka pintunya?"

Edgar yang melihat pertandingan itu bergumam. Ksatria lain yang mulai menyadari perubahan pada Ren juga ikut menahan napas sambil mengawasi.

Di tengah tempat latihan, Ren yang sedang mengayunkan pedang mendadak berhenti dan berdiri terpaku.

"Bisa minta tolong sekali lagi?"

"Tentu! Mari kita mulai!"

Tanpa sadar, pria itu mengerahkan lebih banyak tenaga pada tangan yang menggenggam pedang raksasa.

Tanpa sadar pula, seluruh tubuhnya menjadi semakin panas membara.

Ren yang menunggu ayunan tajam pedang raksasa itu bergerak dengan tenang, namun di saat yang sama ia menunjukkan kontradiksi dengan memasang kuda-kuda dalam sekejap mata, lalu menahannya sambil tetap berdiri tegak.

"Ap—?!"

Pedang beradu dengan pedang, menciptakan dentuman keras yang memekakkan telinga.




Tangan Ren yang menahan hantaman pedang raksasa itu tidak bergeming sedikit pun. Sebaliknya, justru pria yang mengayunkan pedang raksasa itulah yang terdorong mundur.

Kali ini, Ren mengubah posisi pegangan pedangnya dan merangsek maju menghadapi pria itu.

"Haaaaaaaaaaaaaakh!"

Tepat saat pria itu menahan satu tebasan dari Ren.

Gelombang kejut yang mengguncang udara memancar dari sela-sela benturan mereka, memenuhi seluruh area terbuka di tempat latihan tersebut.

Pria itu menjatuhkan pedang raksasanya ke tanah dengan bunyi dentang nyaring. Sambil mengatur napasnya yang terputus-putus, ia menyeringai lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih.

"Tak disangka, kau bisa mencapainya secepat ini."

Momen ini hanyalah buah dari kerja keras Ren yang menghabiskan hari-harinya demi melatih Gouken-gi.

Tentu saja, bakat yang ia miliki juga berperan besar di sana.

Setelah melewati adu pedang dengan Edgar, dan melalui duel-duel latihan hingga hari ini...

"Pak Edgar, apakah ini—"

"Benar. Tidak salah lagi."

Sensasi yang selama ini terasa nyaris tergapai, akhirnya kini telah jatuh ke dalam genggamannya.

Pemuda yang terus mengasah pedangnya itu, kini—

"——Mulai hari ini, Tuan Ren adalah seorang pengguna Gouken."

Pedang sang pendiri, sang Raja Singa.

Seorang pengguna Gouken yang baru, kini telah lahir di Ordo Singa Suci.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close