Chapter 2
Menuju Ibukota Kekaisaran
Beberapa hari
sebelum pesta yang disebutkan Lessard, tepat saat memasuki bulan Juli.
Bagi Ren, Ibukota
Kekaisaran adalah tempat yang memicu rasa enggan karena keberadaan Institusi
Militer Kekaisaran di sana. Namun, ia tetap ikut sebagai pengawal, sekaligus
agar bisa segera bertindak jika Marquis Ignat mendadak memanggilnya.
"Sesaat lagi
kita akan melewati Ibukota dan tiba di Erendil."
Lampu gantung
mewah yang terpasang di langit-langit ternyata juga berfungsi sebagai alat
magis penyampai suara.
Mendengar
pengumuman itu, Ren menatap keluar jendela kamar tamu tempatnya menghabiskan
waktu hampir seharian penuh. Di sampingnya, berdiri Licia yang baru saja
selesai menyantap sarapan.
"Ren,
semalam tidurnya nyenyak?"
"Berkat
Anda. Aku langsung tertidur segera setelah Nona Licia kembali ke kamar."
"Perjalanan
jauh dengan kereta memang melelahkan, ya. Seandainya suatu saat nanti di
Clausel juga ada dermaga kapal magis."
Namun, untuk
wilayah seukuran Clausel, membangun dan mengelola dermaga kapal magis adalah
hal yang sangat sulit, terutama karena kendala biaya. Licia pun menyadari hal
itu, sehingga ia mengucapkannya sambil tertawa kecut sebagai lelucon.
"Ibukota
benar-benar luar biasa, ya."
Sang Saintess
bergumam sambil melongok ke luar jendela.
"Ren, apa
kesan pertamamu saat pertama kali melihat Ibukota?"
"Aku──── ya,
tentu saja."
"Tentu saja
apa?"
"Aku merasa
tempat ini luar biasa. Maaf, aku tidak bisa memikirkan kesan lain selain
itu."
"Fufu,
begitulah rupanya."
Meskipun
pemandangannya sama dengan apa yang ia lihat di Seven Heroes Legend,
menyaksikannya secara langsung memberikan sensasi yang berbeda.
Ibukota Leomel,
negara militer terkuat di dunia, memiliki skala yang tidak tertandingi oleh
negara lain mana pun.
Ibukota yang
terbagi menjadi banyak distrik ini terasa puluhan kali lebih luas daripada kota
Clausel.
Distrik bangsawan
tempat kediaman para petinggi berjajar benar-benar memukau. Penginapan mewah
raksasa, laboratorium ternama, serta berbagai markas pusat guild berdiri di
sini.
Belum lagi
sekolah-sekolah elit, termasuk Institusi Militer Kekaisaran.
Jalur kereta
magis yang menyebar seperti kipas untuk menerima kereta dari luar Ibukota juga
tak kalah menakjubkan.
Stasiun raksasa
tempat jalur-jalur itu berkumpul bertahta tepat di tengah jalan utama. Rel
kereta magis yang mengelilingi kota dibangun di atas jembatan layang,
membentangkan jaringan transportasi ke seluruh penjuru Ibukota yang luas.
Sebuah perpaduan
antara teknologi mutakhir dan bangunan bersejarah yang bisa disebut artistik.
Di belahan dunia
mana pun, tidak ada kota yang teknologinya lebih maju daripada Ibukota ini.
Dan di Ibukota
itulah, simbol yang membuktikan mengapa Leomel menyandang gelar terkuat di
dunia berdiri dengan megahnya.
◇◇◇
Simbol
Ibukota──── Istana Kekaisaran.
Seluruh bangunan
berwarna abu-abu pucat itu dihiasi menara-menara lancip yang menjulang tinggi
menembus awan.
Jalan-jalan
berbentuk lengkungan dibangun jauh di atas permukaan tanah, menciptakan
struktur yang rumit namun tetap terlihat anggun.
Kerumitan
desainnya merupakan puncak dari teknik arsitektur, menciptakan suasana fantasi
yang seolah-olah bukan berasal dari dunia manusia. Tak akan ada yang merasa
aneh jika dikatakan para dewa tinggal di sana, saking agungnya atmosfer yang
terpancar.
"Tiap kali
ke sini, aku selalu berpikir kalau Istana itu sendiri hampir bisa menutupi
seluruh kota Clausel."
Licia
bergumam kagum di samping Ren.
Setelah menikmati
pemandangan selama beberapa puluh menit, ketinggian kapal magis mulai menurun.
"Ayo berangkat. Ayah dan yang lainnya sudah
menunggu."
Saat keluar dari kamar tamu, lorong penghubung di luar
terasa begitu tenang, seolah mereka tidak sedang berada di atas kapal yang
terbang di langit. Kenyamannya tidak kalah dengan kediaman di Clausel, mewah
namun tidak berlebihan.
Dalam perjalanan menuju pintu keluar kapal magis, mata Ren
kembali tertuju pada pemandangan di luar jendela.
Kapal magis telah meninggalkan wilayah udara Ibukota dan
mendekati kota tetangga.
"Nona Licia,
sepertinya sudah kelihatan."
"Iya! Itu
dia dermaga kapal magis Erendil, wilayah kekuasaan keluarga Clausel yang
satunya lagi!"
Di tengah lahan
luas yang dilapisi ubin batu, berdiri sebuah bangunan raksasa dari batu putih
yang sekilas tampak seperti benteng atau menara.
Menara-menara
lancip yang berdiri di beberapa titik memberikan kesan yang luar biasa.
Keseluruhan
bangunannya mengingatkan pada gaya Gotik, dihiasi dengan aliran air dan tanaman
hijau yang membuatnya tampak megah.
Dari
lantai atas, sebuah jalan yang menyerupai landasan pacu panjang membentang ke
arah langit.
Beberapa kapal magis yang datang ke Erendil
bersandar di udara dengan jarak yang teratur, seolah menjepit jalan tersebut
dari kedua sisi.
Bentuk
kapal-kapal yang bersandar pun beragam. Ada yang berbentuk peluru, ada yang
menyerupai perahu air raksasa, dan ada pula yang memamerkan tubuh raksasanya
dengan sayap berlapis-lapis mirip sirip ikan.
◇◇◇
Saat
melangkah ke jembatan penghubung menuju bangunan luar didampingi Lessard, angin
di ketinggian membelai pipi dan rambut Ren.
Ren
menatap ke bawah dari pagar jembatan menuju daratan yang jauh di bawah sana.
Di bawah
bangunan tersebut, banyak kereta kuda yang terparkir dan berbagai toko
berjejer.
Beberapa
jalur rel yang membentang dari lantai dasar gedung itu juga menarik
perhatiannya.
"Ren,
kau tahu nama dermaga kapal magis ini?"
"Kalau
tidak salah, namanya Sky Garden, ya?"
Tepat
setelah melewati jembatan penghubung, Licia yang berjalan beberapa langkah di
depan berbalik menatap Ren.
"Benar!
Sky Garden tempat kita berada sekarang adalah salah satu simbol Erendil!"
Menurut Licia,
Sky Garden tidak hanya berfungsi sebagai dermaga kapal magis, tetapi
juga sebagai stasiun kereta magis.
Jika naik
kereta magis dari Sky Garden, mereka bisa tiba di Ibukota dalam waktu
sekitar satu jam.
Ini
adalah fasilitas kompleks raksasa yang penting secara komersial, tempat banyak
bangsawan dan pedagang besar berlalu-lalang.
"Apa kau
berpikir kota ini terlalu megah untuk dikelola oleh seorang Baron?"
"E-eh,
tidak, aku tidak berpikir begitu..."
"Maaf.
Aku tidak bermaksud jahat. Aku
hanya berpikir, karena Ren itu pintar, mungkin saja kau memikirkan hal semacam
itu."
Jujur saja,
bukannya Ren tidak berpikir demikian. Jika mendengar ada bangsawan yang
mengelola titik sepenting ini, wajar jika orang-orang membayangkan bangsawan
kelas atas.
Melihat Ren yang
tampak bingung mencari kata-kata, Lessard pun memberikan penjelasan.
"Sejak
dermaga kapal magis mulai populer di berbagai tempat, nilai Sky Garden
ini mulai menurun. Memang benar ini tetap menjadi titik penting menuju langit
di dekat Ibukota, tapi tingkat kesulitan pengelolaannya luar biasa tinggi.
Padahal tanggung jawabnya besar, jadi tidak banyak bangsawan yang menginginkan
tempat yang nilainya sudah turun ini."
"Meskipun
begitu, kupikir memiliki Erendil akan meningkatkan martabat sebagai
bangsawan."
"Benar.
Seperti yang kau katakan, ini meningkatkan martabat, tapi pendapatan dari
mengelola Sky Garden tidak seberapa. Biaya perawatannya setiap tahun
sangat luar biasa. Memang ada pendapatan pajak dari kota, tapi jika
mempertimbangkan biaya perawatan kota juga, bangsawan yang mencari keuntungan
akan lebih besar rasa takutnya terhadap kegagalan."
"Jadi
biarpun martabat naik, keuntungannya tidak seberapa, ya."
"Tapi tempat
ini tidak bisa dibiarkan tanpa pengelola. Penguasa sebelumnya tidak punya anak,
dan segera setelah dia pensiun, posisi penguasa Erendil menjadi kosong. Itu
terjadi beberapa tahun sebelum kau dan Licia bertemu."
Karena para
bangsawan dari berbagai faksi saling menjatuhkan, pemilihan pengganti memakan
waktu lama. Namun, situasi berubah saat bangsawan dari faksi netral menyebut
nama Lessard.
Penunjukan
Lessard untuk mengelola Erendil bisa dibilang merupakan jalan tengah.
Prestasinya cukup
kompeten untuk gelarnya, dan karena ia memiliki seorang Saintess sebagai putri,
semua orang mengenalnya dengan baik.
Bisa ditebak
bahwa ada pihak dari dua faksi besar lainnya yang berpikir untuk menarik
keluarga Clausel ke faksi mereka suatu saat nanti.
"Belakangan
ini pendapatan pajak terus meningkat sedikit demi sedikit, dan angkanya
akhirnya mulai menunjukkan tren positif."
Bagi Ren, Lessard
terlihat sangat keren saat mengatakan hal itu dengan nada datar tanpa nada
sombong sedikit pun.
Selanjutnya, mata
Ren tertuju pada menara jam raksasa yang bertahta di pinggiran Erendil.
Menara yang
dibangun dari tumpukan bata berwarna gading itu ditopang oleh pilar-pilar
silinder yang mengelilinginya.
Sosoknya yang
menjulang tinggi adalah sebuah karya seni dengan sejarah panjang.
Di sekelilingnya
terdapat taman alam dan alun-alun, yang bisa diakses melalui sebuah jembatan
yang memisahkan kota dengan alun-alun tersebut.
Jarum jam tepat
menunjuk ke angka dua belas, melantunkan suara lonceng misterius yang terdengar
seperti lagu pujian.
"Kita harus
segera bergerak, jadi wisatanya lain kali saja, ya."
Karena Licia
mendesaknya, Ren pun bergegas melangkahkan kakinya untuk mengikuti gadis itu.
Saat itu, ia melirik ke ujung jalan yang menyerupai landasan pacu tadi.
(Itu ada juga,
ya.)
Ada sesuatu yang
ditutupi kain seperti tenda. Bentuk yang terlihat dari balik kain itu
menyerupai kapal magis berbentuk peluru. Benda itu juga ada di tempat yang sama
saat era Seven Heroes Legend.
(Mungkin kapal
magis atau semacamnya, tapi apa sedang diperbaiki, ya?)
Sambil merasakan
nostalgia dengan pemandangan di dalam Sky Garden, Ren menaiki kereta
magis menuju Ibukota dari stasiun yang terletak di lantai dasar.
Alasan mereka
langsung menuju Ibukota tanpa mampir ke kediaman di Erendil adalah karena ada
agenda yang sudah menanti.
◇◇◇
Mereka menuju
sebuah penginapan besar di sepanjang jalan utama Ibukota.
Alasan tidak
mampir ke kediaman di Erendil adalah karena Lessard punya beberapa jadwal
pertemuan dengan bangsawan lain hingga saat ini.
Karena ada jamuan
malam setelah pesta, hari ini mereka akan menginap di Ibukota. Mereka baru akan
menuju kediaman di Erendil besok.
Ren masuk ke
kamar Lessard dan duduk di sofa atas ajakan sang Baron. Malam ini, Ren tidak
akan ikut bersama Lessard dan yang lainnya; ia berencana menghabiskan waktu
sendirian untuk sementara.
"Aku akan
pergi jalan-jalan sendirian."
"Apa kau
tidak akan tersesat kalau tidak ada pemandu?"
Keputusan untuk
memberi pengawal pada Ren atau tidak sudah bisa dibilang terlambat sekarang.
Di Clausel, dia
sudah melakukan investigasi monster di hutan timur, dan saat musim dingin dia
juga beraksi di Pegunungan Balder.
Di Ibukota, di
mana banyak ksatria patroli berlalu-lalang, bukan hal aneh jika putra atau
putri bangsawan berjalan sendirian.
"Kupikir
tidak apa-apa. Aku hanya akan pergi ke tempat seperti jalan utama saja."
Ren berdiri untuk
keluar dari kamar Lessard demi kembali ke kamarnya sendiri. Tiba-tiba, Licia
muncul dari kamar sebelah. Mendengar bahwa Ren akan pergi jalan-jalan di
Ibukota, Licia menatapnya dengan iri.
"Enaknya……
aku juga mau ikut."
"Tidak
boleh. Nona Licia harus ikut ke pesta."
"Iya…… aku tahu, kok."
Sambil
berkata demikian, Licia mengerucutkan bibirnya tanda tidak puas.
"Jika
Nona berkenan, bagaimana kalau di kesempatan berikutnya Anda yang memandu aku
keliling Ibukota?"
"Iya!
Serahkan padaku!"
Licia
hampir saja mengulurkan tangan ke arah punggung Ren yang menjauh, namun ia
teringat bahwa pesta hari ini adalah acara yang penting.
"Aku
selalu dibantu oleh Ren, jadi aku juga harus bersikap semestinya."
Setelah
memantapkan tekadnya, Licia terus melepas kepergian Ren hingga sosoknya yang
kembali ke kamar tidak terlihat lagi.
◇◇◇
Kereta kuda serta
para tuan dan nyonya berkumpul di taman sebuah kediaman mewah.
Perpaduan kostum
megah para tamu membuat pemandangan di sekeliling tampak berkilauan ke mana pun
mata memandang.
Di bawah rona
senja yang kemerahan, semuanya memancarkan kemewahan bangsawan.
Setelah selesai
menyapa banyak bangsawan tanpa memandang faksi, Licia akhirnya bisa menghela
napas saat waktu istirahat tiba.
Penampilannya
yang luar biasa menarik perhatian semua orang. Di antara para putri bangsawan
berparas cantik yang hadir di aula tersebut, dia tetap terasa istimewa.
Melihat putrinya
yang tampak lelah, Lessard tersenyum sambil memegang gelas.
"Besok otot
pipiku pasti akan terasa pegal."
"Duh, Ayah
ada-ada saja."
Saat itulah,
seorang bangsawan lain datang dan menyapa mereka berdua.
"Selamat
sore, Baron Clausel."
Dia adalah Saila
Riohard, yang ditemui kembali oleh Licia di musim semi lalu. Sebagai putri dari
keluarga Duke agung, sudah sewajarnya ia diundang ke pesta ini.
"Kudengar
tempo hari putriku melakukan hal yang tidak sopan. Aku benar-benar bingung
harus meminta maaf seperti apa."
"U-uhh…… ti-tidak tidak sopan sama sekali, kok, jadi
tolong jangan dipikirkan!"
Apa yang dimaksud Lessard adalah duel yang terjadi di pos
penjagaan Erendil.
Meskipun Saila yang memintanya, Lessard merasa harus bicara
seperti itu mengingat posisinya.
Walau Lessard sama sekali tidak berniat menyindir, kata-kata
itu terasa agak menusuk bagi Saila yang menderita kekalahan telak.
"Ngomong-ngomong, di mana ayahmu, Nona Riohard?"
"Ayah ada di
tempat lain. Beliau
sedang bicara dengan orang-orang dari Faksi Pahlawan. Karena aku bilang ingin
mengobrol dengan tenang, aku melarang keras Ayah untuk mengikutiku. ……Lagipula
ada perbedaan faksi juga, kan."
Licia dan
Lessard berpikir bahwa itu adalah alasan yang agak ekstrem. Namun, karena mereka tahu Saila sedang
berusaha menjaga perasaan mereka, mereka tidak menggali lebih dalam.
"Jadi Saila,
apa alasanmu sampai berpisah dengan ayahmu demi menemuiku?"
"Aku cuma
merasa lelah sama seperti Licia, jadi kupikir akan lebih nyaman bagi kita
berdua jika bersama-sama."
Terlihat sedikit
gurat kelelahan di pipi Saila saat ia mengatakan hal itu. Keduanya saling
tersenyum lalu melakukan toast, membasahi tenggorokan dengan jus buah
yang dituangkan ke gelas mereka.
"Latihan
seperti apa yang kau lakukan di Clausel, Licia?"
"Biasa saja.
Aku cuma mengayunkan pedang di taman."
"────Bohong,
kan? Kau tidak
berlatih dengan ksatria atau petualang terkenal?"
"?
Tidak, tuh?"
Sebagai
orang yang lahir di keluarga Riohard, Saila telah menerima pendidikan elit
mengenai pedang sejak kecil, meski ia tidak pernah menyombongkannya. Tidak
terbatas pada Duke Riohard saat ini saja, ia juga meminta bimbingan dari
pendekar pedang ternama yang hanya bisa dipanggil karena lokasi mereka di
Ibukota.
Keluarga
Duke agung tidak memiliki panduan pasti setara dengan bangsawan tingkat atas
yang mana, namun secara umum mereka sering dianggap setara dengan tingkat
Marquis, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk memanggil ksatria terkenal.
"Aku cuma
berlatih dengan anak laki-laki seumuranku. Selalu begitu."
"Kalau
begitu, berarti kau belum pernah kalah sekali pun, ya."
"Mana
mungkin. Aku kalah hampir setiap hari, tahu."
Saila kembali
membasahi tenggorokannya dengan jus buah sebelum akhirnya berujar,
"Hah?"
Ada jeda sejenak
karena ia butuh waktu untuk mencerna perkataan itu.
"T-tapi,
maksudmu itu Licia kalah dalam pertarungan yang sengit, kan……? Mana mungkin Licia
kalah dari anak laki-laki seumuran."
"Sudah
kubilang, aku kalah. Padahal dia sudah menahan diri, tapi aku tetap kalah
telak."
Saila terpaku,
benar-benar kehilangan kata-kata. Meski masih setengah tidak percaya, ia
kemudian tertawa ceria.
"Aku jadi
tidak sabar menunggu hari di mana kita bertemu di akademi. Jika ada aku, Vain,
lalu ada Licia dan anak laki-laki yang lebih kuat dari Licia, suasana pasti
akan jadi sangat menarik."
"Kami dan
akademi? Apa yang kau bicarakan?"
"Apa lagi
kalau bukan Institusi Militer Kekaisaran."
Saila
tertawa dengan ekspresi terkejut.
"Melihat
reaksimu, kau belum memutuskan untuk masuk ke sana?"
"Aku
mengerti nilai dari bersekolah di Institusi Militer Kekaisaran. Tapi, akademi
itu bukan segalanya."
"Benar.
Tidak semua menteri lulus dari akademi itu. Tapi Licia, kau harus mengincar
tempat itu."
Saat Saila yang
berbicara dengan nada kuat itu mendekatkan tubuhnya ke arah Licia untuk
memberitahukan alasannya……
Aula pesta
mendadak riuh oleh bisik-bisik yang jauh lebih besar. Yang muncul di aula
adalah sosok yang dikenal bertangan besi, Ulysses Ignat.
Ia berjalan
perlahan di aula sambil menggandeng sosok di sampingnya yang merupakan
perwujudan kecantikan dan keimutan yang tidak kalah dari Licia.
Ulysses segera
menemukan Licia dan yang lainnya, menyunggingkan senyum, lalu melangkah ke arah
mereka.
"Halo,
senang bertemu dengan kalian──── dua orang dari keluarga Clausel."
Marquis Ignat,
atau lebih tepatnya Ulysses, berujar dengan senyum segar di wajahnya yang
memancarkan daya tarik maskulin.
"Oh?
Bukankah yang ada di sana itu dari keluarga Riohard?"
"S-saya
Saila."
"Tentu saja
aku tahu! Aku sudah beberapa kali melihat wajahmu di pesta-pesta
sebelumnya."
Seluruh tubuh
Saila menegang karena gugup.
"Maaf, apa
aku boleh ikut berbincang dengan kalian berdua?"
Tekanan yang ia
rasakan dari Ulysses yang berdiri di depannya terus menyerang seluruh tubuhnya.
Tepat saat
napasnya hampir memburu, Saila menyadari kekuatan Ulysses. Inilah kehebatan
sang "Tangan Besi" yang ditakuti oleh banyak bangsawan.
"Gawat.
Sepertinya aku membuatmu tegang."
Ulysses
mengalihkan pandangannya dari Saila yang terdiam karena gugup, lalu menoleh ke
arah Fiona yang berdiri di belakangnya.
"Ini salah Ayah, lho. Tolong introspeksi diri."
Senyum Fiona begitu manis hingga Saila yang sesama perempuan
pun tanpa sadar terpesona dan melupakan rasa gugupnya.
"Mohon maaf
karena telah mengganggu pembicaraan kalian. Bolehkah kami juga ikut berbincang
dengan kalian?"
Fiona merendahkan
diri dengan nada menyesal, mengulangi kembali pertanyaan yang diucapkan ayahnya
tadi. Di saat itulah, Lessard berkata pada Saila.
"Nona
Riohard, terima kasih sudah menyapa malam ini. Aku sangat berharap ke depannya
Anda bisa tetap menjalin hubungan baik dengan Licia."
"E-eh, iya…… baiklah."
Mendapat bantuan
seperti itu, Saila menyadari suasana di sana dan memutuskan untuk undur diri.
Namun, hingga akhir pun, dia tidak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa
Ulysses datang ke sana.
Ulysses kembali
memutar tubuhnya ke arah Lessard.
"Tuan-tuan,
bagaimana kalau kita pindah ke teras?"
"Apakah
tidak apa-apa? Orang-orang mungkin akan mengira kita sedang merencanakan
sesuatu yang rahasia."
"Haha,
sekarang ini aku hanyalah penjahat yang sedang menginterogasi Baron
Clausel."
Misalnya, dengan
berpura-pura melayangkan keluhan kepada Baron Clausel yang memiliki Pegunungan
Balder di wilayahnya terkait insiden musim dingin lalu.
Teras tempat
mereka berempat pindah dalam keadaan kosong. Tidak ada satu pun orang yang
berani mencoba menguping, mungkin karena sosok yang ada di sana adalah Ulysses.
Di dekat bagian
belakang pagar tanaman di sudut taman, Ulysses dan Fiona menghentikan langkah
mereka, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.
Saat mereka
mengangkat wajah, pandangan mata Fiona dan Licia saling beradu.
……Aku belum
pernah melihat wanita secantik ini.
Tanpa diucapkan,
kalimat itu terlintas di hati mereka berdua secara bersamaan.
Angin malam
berembus di sekitar mereka.
Hiasan rambut
berbentuk bulu platina yang menghiasi rambut Licia bergoyang, begitu pula
kalung Star Agate yang menghiasi dada Fiona. Berbeda dengan Star
Agate biasa, batu milik Fiona itu memiliki semburat warna merah tua.
"Aku sudah
dengar dari Fiona, Baron Clausel. Katanya dia tertolong di Pegunungan Balder
berkat Ren Ashton, dan dia sudah menyampaikan terima kasih secara langsung
kepadanya."
"Mengenai
kejadian saat itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak punya pembelaan
apa pun atas keributan yang terjadi di wilayah saya sendiri."
"Hentikan.
Kalau kau berkata begitu, akulah yang kurang pertimbangan. Seandainya aku
berpikir sedikit lebih jernih, Fiona tidak akan terlibat dalam kekacauan
seperti itu."
"Namun, jika
Marquis Ignat saja tidak menyadarinya, orang lain pun pasti akan mengalami hal
yang sama."
"Kalau
begitu, kurasa Baron Clausel juga tidak bersalah, bagaimana menurutmu?"
Mendengar balasan
yang begitu cepat, Lessard hanya bisa terdiam dengan senyum kecut.
"Jangan
rendah hati begitu. Aku sudah mendengar betapa kompetennya Baron Clausel."
"Kalau boleh
tahu, dalam hal apa itu?"
"Bukankah
ada rumor kalau belakangan ini kau mulai merangkul para pedagang di wilayah
sekitar?"
"Memang
benar belakangan ini banyak pedagang yang datang dan pergi, tapi saya tidak
melakukan sesuatu yang istimewa."
"Lalu, untuk
apa perbaikan jalan raya di sekitar Pegunungan Balder yang selama ini menjadi
sumber sakit kepala para pedagang itu?"
"Itu hanya
untuk memudahkan akses dari wilayah Clausel ke wilayah lain di masa
depan."
"Hanya itu?
Begitu pembangunan selesai, perjalanan antara wilayah di baliknya dengan bekas
wilayah Viscount Given akan menjadi sangat mudah. Para pedagang yang ingin
melintasi area sekitar, bahkan wilayah yang bisa dijangkau dengan kapal magis
dari kedua wilayah itu pun akan terpengaruh."
"Tepat
seperti yang Anda katakan. Karena itulah, belakangan ini banyak bangsawan yang
menyapa saya."
"Bukankah
kau sudah membuat beberapa kesepakatan dengan para bangsawan yang menyapamu
itu? Dengan syarat pembukaan jalan baru sebagai rute transit yang aman, kau
memberikan berbagai keistimewaan dalam perdagangan, bukan?"
"Mohon maaf,
saya belum bisa mengatakan apa-apa soal itu."
"Astaga,
benar-benar pria yang licik. Padahal berstatus Baron, tapi bisa mewujudkan
kesepakatan yang melibatkan bangsawan tingkat atas sendirian."
Licia sama sekali
tidak tahu mengenai urusan-urusan tersebut.
Mendengar
pembicaraan itu, dia terkejut akan pekerjaan ayahnya dan tanpa sadar mendongak
menatap pria di sampingnya itu.
"Ayah……?"
"Yah, Ayah
tidak bisa terus-menerus mengandalkan bantuan Ren saja, kan."
Melihat ayahnya
menunjukkan kekuatan yang luar biasa dalam memperluas pengaruh sebagai
bangsawan demi memakmurkan wilayah mereka, Licia merasa sangat bangga.
Pembicaraan
mereka akhirnya beralih ke masalah tanduk Asval.
"Saya
bingung bagaimana harus menangani material tersebut."
Ulysses yang
mendengarkan hal itu bersedekap.
"Siapa
yang memegang hak kepemilikan tanduk itu?"
"Menurut
saya, hak kepemilikannya ada pada Ren. Namun ceritanya akan berbeda jika itu
harus dipersembahkan kepada negara."
"Kalau
begitu tidak perlu cemas. Tanduk itu milik Ren Ashton."
Karena Ulysses
yang merupakan pemimpin Faksi Kekaisaran yang mengatakannya, maka urusan sepele
semacam itu pasti tidak akan menjadi masalah.
Yang tersisa
hanyalah topik utama: penggunaannya.
"Aku juga
akan ikut memikirkannya, jadi serahkan padaku. Biar begini, kenalanku itu
banyak."
Meskipun Ulysses
berkata 'biar begini', Lessard dan Licia hanya tersenyum kecut tanpa mengatakan
sepatah kata pun.
"Bisa
sampaikan pada Ren Ashton? Katakan padanya untuk datang ke kediamanku. Aku
ingin menjamunya di kediaman kebanggaanku."
"Baik, saya
mengerti. Akan saya sampaikan kata demi kata tanpa ada yang diubah────"
"Lakukanlah.
Tentu saja bukan hanya aku, putriku juga sangat ingin bertemu dengannya."
Kata-kata yang
diucapkan Ulysses dengan nada mendesak itu sendiri tampaknya tidak memiliki
arti yang terlalu besar.
Namun, karena
niat asli yang tersembunyi di balik kata-kata tersebut, kedua ayah itu terpaksa
melakukan adu strategi yang tidak ada dalam rencana.
Di dalam hati
mereka berdua, benih persaingan yang tenang mulai tumbuh.
"Ren sedang
berusaha keras demi desa asalnya, jadi mungkin dia tidak bisa segera
datang."
"Jangan
bicara begitu dingin. Sampaikan padanya kalau aku bersedia membantu
mendiskusikan apa pun mengenai desanya."
"Saya sangat
berterima kasih. Namun mengenai desa keluarga Ashton, saya rasa sayalah yang
harus bertanggung jawab hingga akhir, karena dialah yang telah menyelamatkan
putri saya dan keluarga Clausel."
"Haha, kalau
bicara soal itu, putriku pun telah diselamatkan olehnya. Bukan hanya sekali,
tapi dua kali."
Meski nada bicara
mereka tidak terdengar berbahaya, keduanya terus melakukan serangan balik yang
tenang tanpa mau mengalah sedikit pun.
Kedua putri
mereka pun memahami situasi tersebut sepenuhnya. Mereka menjauh sedikit dari
para ayah yang sedang bertarung dalam diam itu, lalu memperhatikan situasi.
"Karena Ren
yang memegang surat undangannya, dia pasti akan datang ke Eupeheim pada waktu
yang tepat."
"Ah, bukan,
bukan hanya itu. Surat undangan itu kan hanya untuk ucapan terima kasih pertama
soal material obat, kan? Yang aku bicarakan adalah masalah di Pegunungan
Balder."
"Kalau
begitu, bukankah tadi kita sudah bicara kalau itu adalah ketidaksengajaan dari
pihak kita masing-masing?"
"Jika
itu masalah antara aku dan Baron Clausel, memang benar begitu. Tapi, apa kau
lupa? Ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan Fiona di Pegunungan Balder
adalah masalah lain lagi."
Melihat
para ayah yang suaranya mulai memanas, kedua putri mereka saling berpandangan
sambil tersenyum kecut.
"Tuan Putri
Ignat."
"Fiona saja
tidak apa-apa."
"Kalau
begitu Fiona-sama, panggil aku Licia saja."
Berbeda dengan
para ayah, kedua gadis ini tampak jauh lebih kaku.
Setelah itu,
keduanya terdiam tanpa membuka mulut.
Padahal ada
banyak hal yang ingin mereka tanyakan satu sama lain, tapi entah kenapa
kata-kata itu tidak mau keluar.
Sebagai sesama
orang yang nyawanya diselamatkan oleh Ren, berbagai pikiran berkecamuk di
kepala mereka.
Di antara dua gadis yang terdiam itu, angin malam kembali
berembus.
Hiasan rambut Licia dan kalung Fiona kembali bergoyang.
"Itu…… Star Agate, ya?"
Licia membuka percakapan.
"Iya. Ini adalah benda berhargaku, aku selalu
memakainya kecuali saat sedang mandi. Hiasan rambut Licia-sama adalah bulu
platina…… benarkah?"
"E-eh. Ini adalah benda yang sangat penting
bagiku."
Keduanya adalah barang yang sangat langka, dan merupakan
harta karun bagi mereka.
Dari ekspresi wajah mereka saat menyentuh benda tersebut,
terlihat betapa mereka sangat menyayangi dan menghargai barang itu. Melihat ekspresi satu sama lain, keduanya
pun secara alami mulai menyadari sesuatu.
……Gadis ini juga,
menyukainya. ……Sama sepertiku, sesama orang yang nyawanya diselamatkan. ……Gadis
secantik ini. Menyukainya.
Perasaan itu
tersampaikan meski tanpa kata-kata.
Mereka
berdua tidak mungkin memperebutkan Ren di sini dan melakukan pertengkaran yang
dangkal.
Di
hadapan Ren yang telah menyelamatkan nyawa mereka, sangat tidak mungkin bagi
mereka untuk bertengkar memperebutkannya dengan cara yang bodoh.
Bahkan, mereka
menaruh rasa hormat terhadap kepribadian dan sikap satu sama lain.
"…………"
"…………"
Hal yang
menguntungkan bagi mereka berdua adalah, sebelum mereka sempat bicara lebih
jauh, ayah mereka sudah lebih dulu melakukan perang lidah yang tenang
seolah-olah sedang memperebutkan Ren.
Berkat itulah
mereka bisa berpikir secara objektif dan tenang.
Meski begitu,
mereka tidak bisa membohongi seluruh perasaan yang mereka miliki untuk Ren.
"────Cintaku
ini mempertaruhkan nyawa. Demi Ren yang telah mempertaruhkan nyawa untuk
melindungiku, aku bisa melakukan apa saja."
Licia, dengan
gaya bicaranya yang biasa, tanpa sadar melupakan bahasa formal dan
mengungkapkan seluruh isi hatinya.
Namun, karena dia
mengucapkannya di depan Fiona yang baru pertama kali ditemuinya—terlebih dalam
hubungan yang misterius ini—rona merah langsung menjalar dari leher hingga ke
pipinya.
"────Aku
pun, demi Ren-kun yang telah memberiku dunia ini, aku bersedia mempersembahkan
segalanya."
Fiona pun ikut
merona merah, tidak hanya di leher dan pipi, tapi hingga ke daun telinganya.
Apakah mengungkapkan perasaan cinta yang tak bisa dikompromikan secara jujur akan memberikan dampak yang begitu besar? Licia dan Fiona terus saling menatap dengan wajah yang memerah padam.
Angin malam
berembus, menyapu lembut kulit kedua gadis yang masih memerah itu.
Sesaat sebelum
kembali ke aula pesta, Ulysses berkata.
"Aku ingin
menanyakan sesuatu untuk memastikannya. Nona Clausel, bisa bicara
sebentar?"
"Iya,"
jawab Licia sambil mengangguk.
"Nona
Clausel, apa aku boleh berasumsi kalau kamu akan menempuh pendidikan di
Institusi Militer Kekaisaran?"
"Tidak. Aku
masih belum bisa memutuskannya."
Kalau
dipikir-pikir, tadi Saila juga sempat ingin mengatakan sesuatu soal itu.
"Kalau
begitu, sebaiknya kamu mengincar kelas beasiswa khusus di Institusi Militer
Kekaisaran. Dulu aku mungkin akan menghargai pemikiran keluarga Clausel, tapi
belakangan ini situasi sedang tidak aman."
Ulysses menghela
napas, suaranya terdengar seolah sedang membicarakan hal yang sangat
merepotkan.
"Terlepas
dari insiden di Pegunungan Balder, konflik antar-faksi dalam beberapa tahun ke
depan pasti akan jauh lebih sengit dari sebelumnya."
Mendengar
itu, Lessard mengernyitkan dahi dan bertanya balik.
"Apa terjadi
sesuatu di Ibukota?"
"Baru
beberapa hari yang lalu. Baron Clausel pasti sudah tahu kalau setelah keributan
di Pegunungan Balder, hubungan antara petinggi Faksi Pahlawan dan Faksi
Kekaisaran menjadi sangat tegang──── ah, tentu saja Anda sudah tahu."
"Benar.
Saya dengar bahkan di dalam faksi yang sama pun terjadi perbedaan pendapat, dan
adu mulut bukan lagi hal yang jarang terjadi."
"Sebenarnya,
masalahnya tidak sesederhana itu lagi. Aku sendiri baru mendapatkan
informasinya kemarin────"
Informasi
yang bahkan bagi Ulysses pun masih sangat baru. Menurutnya, jumlah orang yang
mengetahui hal ini masih bisa dihitung dengan jari.
"Beberapa
bangsawan dari Faksi Netral dikabarkan akan berpindah haluan ke Faksi Pahlawan
dan Faksi Kekaisaran."
Rupanya
para bangsawan itu memutuskan untuk pindah faksi karena khawatir Faksi Netral
akan semakin melemah akibat insiden tempo hari.
"Terima
kasih atas informasi berharganya."
Ulysses
kembali menatap Licia.
"Karena
itulah, sebaiknya kamu mengincar Institusi Militer Kekaisaran. Dengan
memperdalam hubungan antar-bangsawan, pilihan yang bisa diambil keluarga
Clausel pun akan bertambah dengan sendirinya."
Meski dalam hati
Ulysses ingin mempererat hubungan kedua keluarga, ia tidak melakukan tipu
muslihat apa pun kepada keluarga Clausel yang telah sangat berjasa padanya.
Ia memikirkan
keluarga Clausel dan menghargai masa depan yang mereka rencanakan. Yang ia
ucapkan hanyalah nasihat terbaik yang bisa ia berikan.
"Hari
ini aku datang hanya karena ingin bertemu Baron Clausel. Fiona, ayo kita pulang. Ayah akan mengantarmu
sampai asrama."
◇◇◇
Di salah satu
sudut Ibukota Kekaisaran.
"Enak
banget."
Ren
bergumam saat keluar dari sebuah restoran populer. Itu adalah restoran
yang juga muncul di Seven Heroes Legend.
Karena ia sudah terlanjur datang ke Ibukota yang selama ini
ia hindari, ia pikir tidak ada salahnya menikmati makanan enak. Namun di tengah jalan menuju jalan utama...
"Aduh,
sakit!"
"Woi! Hati-hati dong, Tua Bangka!"
Saat
melewati gang, di depan matanya seorang pria tua dan sekelompok pria yang
tampak seperti petualang muda baru saja bersenggolan bahu.
"Hah!? Kita
kan sama-sama salah!"
Meskipun si pria
tua memprovokasi para petualang muda itu, Ren justru mengkhawatirkan
keselamatan para petualang tersebut.
(Orang itu...
seorang Dwarf.)
Tingginya hampir
sama dengan Ren, tapi berbanding terbalik dengan itu, tubuhnyaç‹éª¨éš†ã€… (kekar) dan tegap. Janggut panjangnya
tampak kusut seolah habis terkena api.
"Tunggu
sebentar!"
Mungkin karena
ada anak kecil yang menengahi, amarah petualang muda itu mereda. Ia hanya
meninggalkan makian, "Lain kali hati-hati, Kek," lalu pergi begitu
saja.
Ren menghela
napas lega dan menatap si Dwarf tua.
"Hebat,
hebat! Ternyata Ibukota masih punya orang baik sepertimu!"
"Kalau tidak
dihentikan, petualang muda tadi bisa terluka, lho."
"Hah?
Maksudmu bukan aku yang bakal terluka?"
(Aku...?)
Ren
hampir saja tertawa getir, namun ia menahannya dan menjawab dengan tenang.
"Mau
sehebat apa pun petualang itu, kalau adu kekuatan fisik, Dwarf pasti lebih
unggul."
"Hooo,
masih kecil tapi mengerti juga, ya."
Lalu si
Dwarf menyuruh Ren untuk membungkuk. Sambil bertanya-tanya, Ren terpaksa
menurut, dan tanpa sungkan si Dwarf langsung naik ke punggungnya.
Tentu saja, Ren
tercengang.
"Kakiku baru
saja terkilir. Karena kamu anak baik, aku beri hak istimewa untuk
menggendongku."
(Apa-apaan orang
ini?)
"Ayo, ayo,
jalan!"
Sepertinya ia
tidak punya pilihan untuk menolak. Sambil menghela napas panjang, Ren terpaksa
mulai berjalan.
"Ke arah
sana. Bengkelku ada di Distrik Pandai Besi."
Si Dwarf menunjuk
jalan dengan lagak bosan dari atas punggung Ren. Ren mengikuti instruksi itu
tanpa melawan dan berjalan menyusuri Ibukota selama puluhan menit.
"Hei,
Bocah."
"Iya, iya,
ada apa?"
"Kamu
punya Skill yang berhubungan dengan penguatan tubuh, kan?"
Pertanyaan
mendadak yang tepat sasaran itu membuat hati Ren dipenuhi keterkejutan.
"Entahlah.
Aku belum pernah memeriksa Skill-ku."
"Hooo...
belum pernah memeriksa, ya?"
"……Nada
bicara Anda seperti sedang mencurigai sesuatu."
"Maaf, ya.
Ini semacam penyakit akibat kerja."
"Tadi
Anda bilang punya bengkel, apa ada hubungannya dengan itu?"
"Ya.
Aku ini seorang Pandai Besi sekaligus Teknisi Kapal Magis. Karena sering
berurusan dengan pengguna pedang, aku jadi terbiasa menyadarinya."
"Jarang
sekali ada orang yang merangkap Pandai Besi dan Teknisi Kapal Magis."
"Sebagai
balasan yang tadi, kapan-kapan aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Tapi
sebaiknya selain pedang."
"Eh? Kenapa
selain pedang?"
Ren heran karena
sebagai Pandai Besi, orang ini pasti juga menempa pedang, namun ia justru
mengecualikannya sejak awal.
"Benda
itu... alat magis atau semacamnya, kan?"
Si Dwarf menunjuk
ke arah pedang hitam yang tergantung di pinggang Ren.
"Bukan."
"Bukan,
ya... tapi aku tidak bisa mendengar suara material dari benda itu. Baik suara
logam, maupun suara material monster."
"Pedang
bisa bersuara?"
"Tentu
saja. Kalau sudah di levelku, kau akan mengerti."
Ren tidak
menjawab lebih jauh. Si Dwarf bergumam "Ya sudahlah" seolah sudah
puas sendiri.
"Oho,
sepertinya sudah sampai."
Ia turun dari
punggung Ren dan memijakkan kaki ke ubin batu. Ia sempat meringis kesakitan
saat menyentuh tanah, dengan sedikit air mata di sudut matanya. Rupanya ia
hanya berlagak kuat.
"Dari sini
aku akan lari pulang! Sampai jumpa lagi!"
Ren yang sedari
tadi hanya bisa mengikuti arus kegilaan si Dwarf baru tersadar sesaat kemudian.
Tadi ia hanya
mengikuti instruksi si Dwarf mendaki jalan tanjakan, dan kesadarannya
teralihkan oleh kata-kata penuh makna orang itu.
Sekarang
setelah tenang dan melihat sekeliling, pemandangan yang sangat ia kenal
terhampar di depannya.
Sekitarnya
adalah distrik tenang dengan deretan bangunan yang mengikuti kontur tanah. Jika
menatap ke bawah dari tanjakan itu, terlihat deretan rumah dan berbagai toko
yang diterangi lampu jalan antik berwarna hitam.
Ren
menarik napas dalam-dalam dan menatap ke arah tanah datar yang tak jauh dari
sana.
Ia tidak
bisa mengalihkan pandangan dari bangunan raksasa yang berdiri di sana.
"────Institusi
Militer Kekaisaran."
Sekolah
elit dari segala yang elit yang namanya menggema hingga ke luar negeri. Di
Distrik Akademis ini, Ren menatap gedung sekolah terbesar itu dari kejauhan
tanjakan.
Taman
luas yang hijau, gugusan fasilitas penelitian, dan gedung pembelajaran raksasa
beratap biru tua itu ia pandangi dalam diam.
Berbagai
emosi rumit yang belum pernah ia rasakan berkecamuk di dalam dadanya.
Perasaan
pengecut yang ingin segera melarikan diri, berbaur dengan tekad kuat untuk
melawan takdir dan tidak akan kalah meski harus menghadapinya secara langsung.
Tiba-tiba...
"────Halo,
Ren Ashton."
Sebuah
langkah kaki terdengar dari belakang Ren, diikuti oleh suara seorang pria.
Ren belum
pernah mendengar suara itu sebelumnya, namun entah kenapa ia mengenali suara
tersebut.
Saat Ren
hendak berbalik untuk menjawab, si pemilik suara berkata, "Tetaplah
seperti itu," sehingga Ren tetap menatap Institusi Militer Kekaisaran
sambil menunggu orang itu mendekat.
Tanpa
menoleh ke arah pria yang kini berdiri di sampingnya, Ren membuka suara.
"Kalau
begitu, ucapan terima kasih untukku juga tidak perlu. Anda sudah
menyampaikannya berkali-kali lewat surat."
"Begitukah.
Kalau begitu, biarlah seperti keinginanmu."
Ini adalah
perasaan aneh yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Meskipun ini
pertama kalinya mereka bertemu, dan meskipun orang di sampingnya ini adalah
sosok dengan kedudukan istimewa, ada semacam ikatan kepercayaan di antara
mereka berdua.
"Melihat
sekolah yang ditawarkan Viscount Given padamu, apa yang kamu pikirkan?"
"Aku jadi
ragu, apa dia benar-benar bisa menulis surat rekomendasi untukku."
"Ku, kuku... Hahahaha! Ah, kalau itu sih kamu tidak
perlu khawatir! Pria itu pasti bisa
menyiapkan surat rekomendasi semacam itu! Tentu saja, di masa itu!"
"Begitukah?"
"Ya! Biar
begitu, dia adalah pria yang pernah menjabat sebagai asisten Menteri Kehakiman!
Meski begitu, surat rekomendasi hanya akan membebaskanmu dari beberapa ujian
tertulis saja. Kamu tidak akan bisa menghindari ujian akhir seperti yang
dialami Fiona."
Tak lama
kemudian, entah siapa yang memulai duluan, mereka berdua saling menatap.
"Salam kenal, Ren Ashton."
"Salam kenal, Marquis Ulysses Ignat."
Akhirnya, mereka berdua benar-benar bertemu muka.
"Aku sudah menduga kamu juga akan datang ke
Ibukota."
Ulysses
mengatakannya dengan nada penuh keyakinan.
"Aku di sini
hanya karena kebetulan. Tapi, bagaimana Anda tahu kalau aku ada di
Ibukota?"
"Aku tahu
setelah bicara dengan Baron Clausel. Dari cara bicaranya, aku tidak merasa kamu
berada di tempat yang jauh. Tapi, pertemuan kita di sini memang murni
kebetulan. Aku baru saja mengantar Fiona ke asrama putri sekolah itu, dan tidak
sengaja melihatmu saat jalan pulang."
Dalam percakapan
di pesta tadi, Lessard sama sekali tidak melakukan kesalahan bicara.
Paling-paling hanya sedikit gertakan saat memperebutkan Ren.
Ulysses
menyadarinya murni karena instingnya yang terlalu tajam.
"Lagi pula,
aku yakin bisa bertemu denganmu meskipun tanpa hal itu."
"Kenapa
begitu?"
"Jika
keluarga Clausel datang ke Ibukota, tidak mungkin kamu tidak ikut. Begitulah
pikiranku."
"……Padahal
kita belum pernah bertemu, sejauh mana Anda memahami tentang diriku?"
"Sejauh yang
bisa kupahami. Tambahan lagi, karena itulah aku tidak mengirimkan undangan
pribadi untukmu. Aku pikir itu justru akan merepotkanmu, jadi aku
membatalkannya."
Namun, Ulysses
memasukkan tangan ke saku dalam jasnya.
"Bagaimana
kalau aku memberikannya langsung? Contohnya seperti ini."
Ren menerima
sebuah undangan berbentuk kartu berwarna hitam, dan matanya tertuju pada
tulisan emas di atasnya.
『Malam
hari di Ibukota. Mari bicara berdua saja.』
Ulysses bilang
dia sudah menyimpan kartu itu di saku dalamnya sejak berminggu-minggu yang
lalu. Sebuah kejutan yang apik.
"Meskipun
agak terlambat, maukah kamu menerimanya?"
"Tentu saja.
Sebuah kehormatan bisa menerima undangan dari Marquis Ignat."
"Baguslah.
Kalau begitu, mulai sekarang panggullah aku Ulysses."
Dalam
percakapan yang mengalir datar itu, Ulysses diam-diam tersenyum puas. Ia
merasakan kekuatan yang melebihi bayangannya dari sosok Ren yang berdiri tegap
di sampingnya.
"Dunia
manusia itu menarik. Sosok sepertimu bisa terseret ke panggung utama hanya
karena sebuah kebetulan."
"Padahal
aku hanya ingin hidup tenang di desa."
"Haha,
itu sangat mirip denganmu! Tapi coba pikirkanlah. Selain mereka yang bertikai
dalam faksi, keberadaanmu adalah sebuah kesalahan perhitungan bagi orang-orang
dari Kultus Iblis. Kamu mengerti? Mereka menyentuh wilayah yang tidak
seharusnya disentuh, dan akhirnya menciptakan seorang pahlawan yang seharusnya
tidak pernah lahir."
"Anda
terlalu berlebihan. Aku hanyalah putra dari seorang ksatria desa."
"Tapi, itu
sudah menjadi masa lalu. Sebagai anak yang pintar, kau pasti sudah
menyadarinya, kan?"
"Entahlah. Aku tidak terlalu
memikirkannya."
Ulysses
melirik Ren yang memberikan jawaban mengambang. Ia tertawa sekali, lalu menatap ke arah Institusi
Militer Kekaisaran.
"Ngomong-ngomong,
kenapa kamu sendirian menatap gedung sekolah itu?"
"Seperti
yang Ulysses-sama katakan tadi, ini hanya kebetulan. Alasan aku ada di sini pun
sama."
"Hmm.
Padahal aku mengira kamu mulai tertarik pada Institusi Militer
Kekaisaran."
"……Tidak,
tidak mungkin begitu."
Saat Ren menjawab
dengan tawa getir, Ulysses mengamati profil wajahnya dari samping.
"Sepertinya
kamu memikirkan sesuatu. Tadinya aku pikir kamu menolak ajakan Viscount Given
semata-mata karena tidak ingin meninggalkan desa, tapi sepertinya bukan hanya
itu saja."
"Tidak,
itu benar-benar hanya karena aku tidak ingin meninggalkan desa."
"Itu
mungkin alasan dasarnya. Tapi yang aku tanyakan adalah, kenapa kamu
tidak mau meninggalkan desa?"
Kasih
sayang keluarga, atau karena menyukai lingkungan desa.
Ulysses
memberikan nada bicara yang mengisyaratkan bahwa ia tidak sedang menanyakan
fakta-fakta umum tersebut.
Namun, ia
menghindari desakan yang tidak menyenangkan.
"Berbeda
dengan sebelumnya, apa sekarang kamu tertarik pada sekolah itu? Bagaimana? Di matamu, bagaimana rupa sekolah elit
terbaik di dunia ini?"
"Kesanku,
itu adalah tempat belajar yang luar biasa."
"Hanya itu?
Tidak punya keinginan untuk bersekolah di sana?"
"Mana
mungkin. Sekolah itu tidak pantas untukku."
Mendengar
kerendahhatian itu sekali lagi, Ulysses tidak menerimanya mentah-mentah.
Ia merasa
menemukan rasa enggan yang tersimpan di balik alam bawah sadar Ren terhadap
Institusi Militer Kekaisaran.
"Astaga.
Kamu benar-benar sangat menarik."
Ulysses
mengulurkan tangan ke bahu Ren, dan untuk pertama kalinya mereka saling
berhadapan.
"Di
hadapan sekolah ternama di dunia ini, jelas sekali kamu mengakui nilainya namun
di saat yang sama kamu berusaha menghindarinya. Kamu yang tidak takut pada
Viscount Given, tidak takut pada Asval──── kamu yang tetap tegap di hadapan
Ulysses ini, sebenarnya apa yang sedang kamu hindari?"
Kata-kata
Ulysses mengguncang hati Ren.
(Aku……)
Alasannya
menghindar dari Institusi Militer Kekaisaran adalah karena takut akan akhir
yang sama dengan cerita Seven Heroes Legend.
Namun ia sendiri
tidak tahu apakah hal itu masih relevan sekarang. Karena Ren telah
menyelamatkan banyak orang dan mengubah takdir banyak nyawa di masa lalu.
"Aku hanya
berpikir kalau aku akan lebih bahagia hidup tenang di desa daripada harus
menderita karena melakukan hal yang tidak pantas untukku."
Mendengar ejekan
diri Ren yang tidak bisa mengubah pemikiran dasarnya dengan mudah, Ulysses
tertegun. Ia mengerjapkan mata berkali-kali sebelum akhirnya tertawa
terbahak-bahak.
"Hahahaha!
Tidak pantas, katamu!?"
Ia memegang dahi
sambil menatap langit, tertawa lepas dari lubuk hatinya. Ulysses menyeka air
mata yang muncul karena terlalu banyak tertawa, lalu menatap Ren.
"Maaf
ya, aku tidak sengaja menertawaimu."
"Benar,
lho. Aku kaget karena Anda tiba-tiba tertawa."
"Jangan
memasang wajah merengut begitu. Mendengar kata-kata tadi, aku tidak bisa
menahan tawa!"
Ulysses
memberi isyarat agar Ren mengikutinya. Pria itu tiba-tiba mulai berjalan, dan entah kenapa Ren mengikuti
punggungnya.
"Kamu
mengubah takdir kampung halamanmu, mengubah takdir keluarga Clausel secara
besar-besaran. Tidak berhenti di situ, kamu bahkan mengubah takdir Fiona yang
bahkan aku, Ulysses ini, tidak bisa mengubahnya──── itulah kamu, Ren
Ashton."
"Aku katakan
sekali lagi, Anda terlalu berlebihan."
"Mungkin ini
terdengar agak sombong, tapi hanya dengan elemen tidak pasti yang disebut
keberuntungan, tidak akan ada orang yang bisa melakukan lebih dari apa yang aku
bisa. Kamu tahu kenapa?"
"Sebab,
satu-satunya individu yang mampu menyudutkan imperium terbesar di dunia,
Leomel, adalah Anda sendiri."
Mendengar Ren
yang tanpa ragu melontarkan kalimat tersebut, Ulysses merasakan luapan
kegembiraan yang entah untuk keberapa kalinya.
"Kalau
begitu, akan kukatakan sekali lagi. Kamu telah mengubah takdir banyak orang, termasuk aku sendiri."
Di bawah
bukit tempat mereka melangkah, sebuah kereta kuda telah menanti.
Itu
adalah kereta kuda hitam pekat dengan Edgar, kepala pelayan Ulysses, yang duduk
di kursi kusir.
"Lalu,
kamu bilang tempat belajar seperti itu tidak pantas untukmu? Tentu saja aku
ingin tertawa! Meminjam kata-katamu sendiri, padahal kamu sudah mengubah takdir
negara terbesar di dunia ini!"
Ulysses
membuka sendiri pintu kereta dan masuk ke dalam.
Ia
mengajak Ren masuk dengan berkata, "Akan kuantar," dan
mempersilakannya masuk ke dalam kereta.
Entah
karena pengaruh wibawanya atau bukan, kata-kata dari sang pria perkasa yang
mampu menyudutkan Imperium Leomel sendirian itu meresap ke dalam hati Ren,
mulai membawa perubahan pada cara berpikirnya.
◇◇◇
Begitu
kereta mulai bergerak, suara roda yang menggilas jalan berbatu mulai terdengar.
"Jangan
pernah lupakan ini. Meski terkadang seseorang bisa mendapat balasan pahit
karena bersikap melampaui batas, kamu hampir tidak termasuk dalam kategori
itu."
Ulysses
melanjutkan.
"Status
sebagai putra ksatria desa hanyalah masalah kelahiran. Terlepas dari
situasinya, saat ini kamu adalah ksatria perkasa yang berhasil menang melawan
Asval. Dengan kekuatan itu, setidaknya kamu bisa menundukkan berbagai kerepotan
atau ketidakadilan yang menghadang."
"Aku
mengerti maksud ucapan Ulysses-sama, dan aku pun berpikir harus mengubah sudut
pandangku, tapi..."
Ren
menatap wajah Ulysses.
Ia
mengubah ketegasannya tadi menjadi nada bicara yang blak-blakan, seolah merasa
sedikit tidak berdaya.
"Meskipun
Institusi Militer Kekaisaran adalah tempat yang aku pandangi tadi, sepertinya
Ulysses-sama sangat ingin merekomendasikan akademi itu padaku. Alasannya bukan
hanya karena akademi itu adalah yang terbaik di Leomel, kan?"
"Oya,
ketahuan ya."
Ulysses
memasang wajah kikuk, sementara Ren yang duduk di hadapannya menatap dengan
tatapan penuh arti.
"Itu karena
putriku bersekolah di sana. Aku merasa akan sangat menenangkan jika ada orang
sepertimu di dekatnya."
"……Sudah
kuduga."
"Tapi jangan
salah paham. Meski ada faktor putriku, fakta bahwa Institusi Militer Kekaisaran
akan berguna bagimu itu juga benar. Sebagai putra ksatria, itu akan menjadi
pelajaran yang bagus untuk meneruskan posisi itu di masa depan."
Ren hanya diam
dan menyimak kata-kata Ulysses sembari memikirkan masa depannya sendiri.
"Selain itu,
aku juga sempat meragukan pemikiranmu."
Bukannya Ulysses
melakukan tipu muslihat demi memaksa Ren mendaftar. Sekitar satu jam yang lalu,
ia juga merekomendasikan hal yang sama kepada Licia, namun itu terbatas pada
peringatan dini dengan mempertimbangkan masa depan faksi mereka.
"Kamu masih
punya waktu. Tidak ada salahnya memikirkannya sedikit lebih lama."
"Benar
juga," Ren mengangguk setuju, lalu ia bertanya teringat akan sang nona
muda yang tidak ada di sini.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Fiona-sama?"
Ulysses merasa senang karena Ren memperhatikan putrinya,
suasana hatinya pun menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Seperti yang kukatakan tadi, aku baru saja
mengantarnya ke asrama putri. Di pesta tadi, aku juga sempat menyapa dua orang
dari keluarga Clausel."
"Seandainya aku diundang ke pesta, aku juga berniat
menyapa Fiona-sama."
"Kurasa
begitu. Karena kamu anak yang baik, aku yakin kamu akan melakukannya. Tapi, itu
tidak boleh. Itu tidak adil, dan yang terpenting, Fiona akan terus-menerus
bermanja padamu."
"Apa
maksudnya itu?"
"Haha,
jangan dipikirkan."
Ulysses memang
sangat memanjakan putrinya dan mendukung cintanya.
Namun, ia
menghormati keberadaan Licia, dan ia juga mempertimbangkan perasaan Fiona yang
telah bekerja keras demi hari pertemuannya kembali dengan Ren sejak insiden di
Pegunungan Balder.
Pada saat yang
tepat, Fiona pasti akan bergerak dengan usahanya sendiri.
"Mungkin ini
terdengar berbelit-belit, tapi ini adalah bentuk ketulusanku."
Ulysses merogoh
saku jasnya, mengeluarkan amplop lain, dan menyerahkannya kepada Ren.
"Aku dengar.
Katanya kamu tidak cocok dengan Holy Sword Technique, ya?"
"Bagaimana
Anda bisa tahu soal itu?"
"Dulu Baron
Clausel pernah menceritakannya lewat surat. Jika Nona Clausel mau, aku juga
berniat memberikannya padanya, tapi untuk saat ini, aku ingin memberikan surat
rekomendasi ini kepadamu terlebih dahulu."
"Terima
kasih banyak. Apa boleh aku melihat isinya?"
"Tentu
saja."
Setelah Ulysses
mengangguk, Ren membuka amplop tersebut.
Ia membentangkan
perkamen di dalamnya, lalu matanya terbelalak heran.
"Ini...
Anda serius?"
"Aku
serius. Ada banyak aliran di dunia ini, tapi jika Holy Sword Technique
tidak cocok untukmu, maka aliran inilah yang seharusnya kurekomendasikan,
bukan?"
Di dalam surat
rekomendasi itu tertulis:
『Kepada
orang berikut ini, diizinkan untuk menginjakkan kaki ke dalam Lion Saintess
Palace. ──── Ren Ashton.』
Lion Saintess
Palace adalah institusi
yang mengelola dokumen dan peninggalan yang berkaitan dengan Lion King.
Bagi Ren, ini adalah institusi yang berkali-kali membuatnya mencicipi kepahitan
saat masih di zaman game.
Sangat kontras
dengan Holy Sword Technique yang disebarkan oleh sang Pahlawan, Ruin;
ini adalah aliran khusus, Great Sword Technique yang didirikan oleh Lion
King.
Lion Saintess
Palace adalah pusat utama
dari aliran tersebut.
◇◇◇
Malam keesokan
harinya, di dalam kapal magis.
Sebenarnya mereka
berencana menetap beberapa hari lagi, namun Lessard sangat memikirkan konflik
faksi yang ia dengar dari Ulysses.
Hari itu, tanpa
mampir ke kediaman di Erendil, mereka menyelesaikan urusan selagi hari masih
terang dan bergegas menempuh perjalanan pulang.
Ren saat ini
berada di kamar tamu milik Lessard.
Di dalam kamar
itu, Licia sedang menatap lurus ke arah Ibukota dari balik jendela.
"Ayah,
mungkin lebih baik jika aku bersekolah di akademi di sini."
Keluarga Clausel
dilindungi oleh hubungan mereka dengan Ulysses.
Namun setelah
insiden musim dingin lalu, segalanya berubah karena keberadaan Kultus Iblis
kini telah diketahui publik.
Mengasah diri
baik dalam ilmu pengetahuan maupun militer di akademi ternama di Ibukota;
selain itu, kekuatan politik yang didapat dari hubungan antar bangsawan serta
informasi yang bisa diperoleh di Ibukota adalah hal yang sangat berharga.
Itu adalah
pemikiran yang wajar jika mempertimbangkan sengitnya persaingan faksi yang
dikhawatirkan.
Di sisi lain, di
dalam kepala Ren, terbayang sosok dua gadis yang telah ia lindungi dengan
taruhan nyawa: Licia dan Fiona.
Tentu saja,
meskipun tanpa Ren, akan ada pengawal di dekat mereka. Namun, ia merasa tidak
bisa berdiam diri tanpa melakukan apa pun.
Ren telah
melindungi mereka berdua dengan nyawanya dan menjalin ikatan. Tidak ada sedikit
pun rasa kewajiban di sana.
Mungkin karena
itulah, rasa enggan yang selama ini ia rasakan terhadap Ibukota mulai memudar
dengan cepat.
Licia mengalihkan
pandangannya dari jendela kembali ke dalam kamar.
"Ren, itu...
apa pendapatmu kalau aku tinggal di sini?"
Suaranya
mengecil, nyaris hilang, sementara bahunya sedikit gemetar karena cemas.
Kedua tangannya
tertangkup di depan dada seolah sedang berdoa, menanti jawaban Ren.
Jika tempat
tinggalnya berubah, ia akan terpisah dari Ren. Namun Licia menekan perasaan
pedih itu karena ia tahu bahwa dengan berjuang di sini, ia bisa berguna bagi
Ren.
Bukan hanya
mengikuti keinginan hati, tapi demi melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Sedikit saja
tidak apa-apa. Jika Ren merasa kehilangan saat mereka harus berpisah, ia akan
bisa berjuang.
"Aku juga
berpikir itu yang terbaik untuk Licia-sama. Aku akan mendukungmu dari
jauh."
Ren
mengatakannya dengan nada tenang seperti biasanya.
Namun, hanya itu
saja. Licia merasa kecewa karena tidak ada kata-kata selanjutnya. Di saat yang
sama, ia merasa seolah ada lubang besar di hatinya, namun ia tetap mencoba
tersenyum tegar.
"Iya. Aku
mengerti."
"Karena itu,
meskipun Anda meninggalkan Clausel, aku akan tetap berada di sisi Anda untuk
melindungi Anda seperti biasanya."
Licia tertegun,
matanya bergetar.
"Melindungi...
apa maksudnya?"
"Sesuai
perkataanku tadi. Itu berarti aku juga akan meninggalkan Clausel untuk
melindungi Licia-sama."
"……!?"
Berbeda dengan
Ren yang mengatakannya dengan santai, Licia mendadak kehilangan kata-kata.
Gadis itu
menunduk dan mulai berjalan dalam diam.
Begitu sampai
tepat di hadapan Ren yang baru saja selesai menyiapkan teh dan mulai
menyusunnya di meja, Licia tiba-tiba mendaratkan tinjunya ke dada Ren.
Berkali-kali, tanpa tenaga.
"……Bodoh."
Lalu ia
melanjutkan,
"Bodoh...
bodoh, bodoh, bodoh... dasar bodoh!"
Saat ia mendongak, air mata besar telah membasahi pipinya.
Ekspresinya tampak kesal, namun juga bahagia, tampak cerah
seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
"Tiba-tiba ada apa!?"
Melihat Ren yang tidak peka bertanya begitu, Licia menjawab
dengan manja, "Bukan apa-apa! Pokoknya aku tidak mau kasih tahu!"
"E-ehhh……"
"Fufu…… tapi, terima kasih. Aku senang."
Ia melanjutkan dengan suara penuh kegembiraan dan duduk di
sofa.
"Ren juga duduk."
Ren berniat duduk di sudut ruangan, bukan di samping Licia
ataupun Lessard.
Namun, Licia menepuk-nepuk kursi di sampingnya.
"Di sini."
"Eh?"
"Kubilang, ke sini."
Karena dipaksa dengan nada bicara Licia yang kuat, Ren
akhirnya duduk di sampingnya.
"Kenapa aku
harus duduk di sini?"
"……Memang
sudah seharusnya begitu."
Aku tidak
paham, tapi sepertinya memang begitu, pikir Ren sambil menghela napas tanpa berpikir terlalu dalam.
"Tapi Ren,
apa kamu tidak apa-apa dengan itu? Kupikir kamu lebih mementingkan kehidupan di
Clausel atau di desa."
"Sampai
baru-baru ini aku memang berpikir begitu, tapi aku merasa aku juga tidak bisa
terus seperti ini."
Seandainya Licia
berkata ingin mengincar Institusi Militer Kekaisaran, maka Ren pun akan
meninggalkan Clausel bersamanya sebagai pengawal.
Tidak ada alasan
atau dalih tertentu, Ren hanya tidak bisa membayangkan dirinya memilih pilihan
selain itu.
"Aku juga
punya alasan lain, dan sejak tadi malam aku sudah memikirkan banyak hal."
Ren mengeluarkan
amplop yang diberikan Ulysses di dekat Institusi Militer Kekaisaran tadi malam,
lalu meletakkannya di meja.
Melihat nama
Ulysses Ignat yang tertulis di permukaan amplop, Lessard dan Licia sama-sama
terkejut.
"Kamu
bertemu dengan Marquis Ignat!?"
Ren mengangguk
kepada Lessard yang terperangah, lalu menceritakan apa yang terjadi di Ibukota.
Ia baru bisa
melapor sekarang karena Lessard dan Licia tampak sangat sibuk hingga waktu
keberangkatan tadi.
"Mungkin
ceritanya agak melompat, tapi di desaku terjadi hal seperti ini."
Ren menceritakan
bahwa desa kelahirannya telah berkembang dan diperkirakan akan terus maju di
masa depan.
Ia menyampaikan
pemikirannya bahwa karena ia menyadari kurangnya kemampuan dalam urusan
administrasi, ia merasa perlu untuk belajar di luar.
"Seperti
yang kamu katakan, itu adalah kemampuan yang tidak akan rugi jika dimiliki.
Tapi mengelola tanah yang dipercayakan padamu tidak bisa dilakukan sendirian
oleh sang tuan tanah. Aku pun dibantu oleh banyak pegawai sipil, tahu."
"Tapi
Lessard-sama memiliki kemampuan untuk mengelola wilayah sendirian jika
diperlukan."
"Seorang
penguasa wilayah memang harus bisa melakukan pekerjaan sipil sendirian untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga."
"Kalau
begitu, bukankah keluarga Ashton yang dipercaya mengelola desa juga harus
begitu?"
Lessard tidak
langsung mengangguk. Itu adalah beban yang terlalu berat bagi kepala keluarga
ksatria yang mengelola sebuah desa.
Namun, karena ia
tidak bisa membantah argumen tersebut, Lessard akhirnya bersedekap.
"Kalau
begitu Ren, apakah kamu akan mengincar Institusi Militer Kekaisaran?"
Mendengar
pertanyaan itu, Ren hanya tersenyum kecut dan membuang muka.
Meski masih
terlihat sedikit enggan, ia tidak lagi menolaknya mentah-mentah seperti
sebelumnya. Sebagai pilihan masa depan, ia sudah tidak bisa lagi mengecualikan
akademi tersebut.
"……Tapi Ren,
apa hubungan antara barang yang kamu dapat dari Marquis Ignat dengan
pembicaraan tadi?" ujar Licia dengan mata yang masih merah dan sembab.
◇◇◇
Di kamar tamu Licia,
mereka mengobrol sedikit sebelum tidur.
"Tapi, aku
merasa tidak enak jika hanya aku yang pergi belajar Great Sword Technique."
"Tapi
Marquis Ignat bilang kan, kalau aku mau, dia juga akan menyiapkan surat
rekomendasi? Kalau begitu lebih baik kamu yang belajar duluan saja, Ren."
Itu adalah
pembicaraan yang terjadi setelah Ren menerima surat rekomendasi.
"Dulu kita
kan pernah berjanji untuk mencari aliran lain bersama-sama."
"Iya.
Itu saat Ksatria Ordo datang ke Clausel, kan?"
Namun,
bukan berarti Ren akan belajar Great Sword Technique sendirian
selamanya. Lagi pula, belum tentu juga Ren memiliki bakat dalam aliran
tersebut.
"Aku
bisa kan belajar Great Sword Technique darimu setelah kamu menguasainya
nanti?"
"Tapi,
belajar tanpa melalui perantara aku juga akan lebih baik bagi Licia-sama."
"Jangan
bilang begitu. Aku bisa menjadi diriku yang sekarang karena terus berlatih
tanding denganmu, Ren."
Licia sebenarnya juga ingin belajar Great Sword Technique bersama Ren, namun selain karena surat rekomendasi yang belum siap, ada alasan lain yang membuatnya terpaksa mengurungkan niat kali ini.



Post a Comment