Chapter 6
Reuni Saat Salju Turun
Pagi
hari, Ren menatap langit cerah dari balik jendela kamarnya. Saat itulah, Lezard
datang menyapanya.
"Selamat
pagi. Terima kasih sudah menjaga Licia kemarin."
"Tidak
perlu sungkan. Kemarin juga jadi pengalaman berharga bagiku."
Dua hari
yang lalu, Ren resmi menjadi seorang pengguna Gouken.
Kemarin, ia
membawa Licia untuk melakukan latihan melawan monster. Licia berkali-kali
berseru "Hebat!" atau "Memang Ren yang terbaik!", ia ikut
senang seolah-olah dirinyalah yang baru saja menguasai teknik itu.
Ren sempat
menjelaskan tentang sensasi Matoi saat ditanya olehnya; ia
menggambarkannya seperti mendapatkan zirah atau otot yang tak kasatmata.
"Bagaimana
dengan Mana? Apa terkuras banyak?" tanya Licia kemarin.
"Tidak
sebanyak yang kubayangkan. Kalau Nona Licia yang punya jumlah Mana lebih banyak
dariku, mungkin akan lebih mudah lagi," jawab Ren.
Latihan kemarin
berjalan lancar sambil diiringi obrolan dengan Licia yang sangat antusias
terhadap Gouken-gi. Bahkan setelah pulang ke kediaman pun, mereka terus
mengobrol hingga larut malam.
"Omong-omong
Ren, kudengar hari ini kau punya rencana."
"Iya. Aku
berniat pergi ke Ibu Kota. Aku ingin mengambil formulir pendaftaran sebelum tahun ini
berakhir."
"Begitu ya.
Akademi Militer Kekaisaran, kah?"
Tujuannya
adalah mengambil formulir untuk ujian masuk. Bagi Ren yang memutuskan untuk
mengambil ujian kelas beasiswa, dokumen ini tidak boleh terlambat diserahkan.
Licia
yang sudah lebih dulu memutuskan untuk ikut ujian telah menyelesaikan
prosedurnya.
◇◇◇
Begitu
tiba di stasiun Ibu Kota, Ren langsung terjun ke tengah keramaian.
Di tengah
hiruk-pikuk stasiun yang sibuk sejak pagi, ia berjalan untuk berpindah jalur
kereta magis.
Mantel
berdesain modern yang dibelinya setelah pindah ke Erendill berkibar tertiup
angin dingin.
Tiba-tiba,
sebuah suara yang memanggilnya bergema di sekitar.
"Ooh!
Bocah yang ba—maksudku, bukannya ini Ren?!"
Suara
berat yang menggelegar itu milik Werlich. Ia berjalan sambil membawa kantong
kertas di kedua tangannya, sepertinya baru pulang belanja.
Ren
segera menghampiri Werlich di antara kerumunan dan mengambil alih satu kantong
kertas darinya.
"Anda
mau pulang ke distrik pandai besi?"
"Tentu saja!
Maaf ya, malah merepotkanmu."
"Tidak
apa-apa. Lagipula itu pasti mengganggu saat berjalan."
Ren menganggap
pertemuan ini sebagai jodoh, jadi ia memutuskan membantu Werlich sebelum pergi
ke Akademi Militer Kekaisaran. Mereka berjalan bersisian di stasiun dan naik ke
kereta magis menuju arah distrik pandai besi.
Setibanya di
stasiun distrik pandai besi, mereka berjalan menuju bengkel Werlich.
"Sebentar
lagi bahan yang itu akan sampai, ya."
"Sepertinya
begitu. Tapi aku dengar pengirimannya sedikit terlambat karena salju."
"Yah,
mau bagaimana lagi. Anggap saja itu waktu tambahan untuk persiapan."
"Dulu
aku juga pernah berpikir begini, tapi Pak Werlich ini meski bilang benci
bekerja, sebenarnya sangat tulus dalam pekerjaan, ya."
"Gahahahaha!
Jangan salah paham! Aku hanya ingin mengerjakan pekerjaan yang ingin aku
lakukan saja!"
Ren tertawa mendengar jawaban yang sangat khas Werlich itu.
Setelah sampai di bengkel, Werlich menjamunya sebagai rasa terima kasih, dan
Ren menghabiskan waktu melihat-lihat karya lama sang pandai besi.
Ren baru
meninggalkan bengkel sekitar jam tiga sore. Begitu keluar, ia mengembuskan
napas pendek yang langsung memutih karena udara musim dingin.
Saat menengadah
ke langit, salju tipis mulai turun. Di musim dingin, matahari terbenam lebih
cepat, dan ufuk langit perlahan mulai tergerus oleh warna biru gelap yang
pekat.
Mungkin saat ia
sampai di Akademi Militer Kekaisaran dan pulang membawa dokumen, hari sudah
benar-benar gelap.
Setelah berjalan
sekitar tiga puluh menit, pemandangan orang-orang di sekitarnya mulai berubah.
Banyak remaja
putra dan putri yang mengenakan seragam, terkadang terlihat juga orang dewasa
yang tampaknya adalah pengajar.
Meski liburan
musim dingin, rupanya banyak yang tetap datang untuk kelas tambahan.
(..........)
Di luar
dugaan, Ren tidak merasa tegang. Ia hanya berjalan seperti biasa.
Ia tidak tersesat
maupun berhenti dalam perjalanannya menuju Akademi Militer Kekaisaran.
Di antara remaja
yang berpapasan dengannya, mulai terlihat mereka yang mengenakan seragam
sekolah tersebut.
Ren terus
berjalan, bahkan ia masih sempat terpikirkan menu makan malam apa yang
menantinya hari ini.
"Ada
keperluan apa di akademi kami?" tanya penjaga yang berdiri di gerbang
depan Akademi Militer Kekaisaran yang memiliki lahan sangat luas itu.
Tentu saja
pertanyaan itu wajar diajukan kepada seorang remaja yang datang sendirian tanpa
seragam.
"Saya
datang untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk ujian masuk."
"Baiklah.
Boleh saya lihat kartu identitas atau dokumen pembuktian diri?"
"Iya,
sudah saya siapkan."
Setelah
memeriksa surat rekomendasi singkat yang ditulis oleh Lezard, penjaga itu
berkata, "Mari saya antar," lalu berjalan di depan Ren.
Tempat
yang mereka tuju adalah salah satu bangunan yang terhubung dengan gedung
sekolah.
Ini
adalah aula semacam ruang tamu untuk orang luar, seperti wali murid atau
pedagang yang berkunjung.
Gedung
itu begitu mengagumkan, bahkan tak kalah dengan kediaman bangsawan kelas atas.
Ren
melangkah masuk sambil mengagumi gedung kebanggaan akademi yang mulai
diselimuti salju tipis.
Cahaya
jingga dari lampu kristal menghiasi ruangan dengan suasana yang hangat.
"Silakan
tunggu di sini."
Ren duduk
di sofa yang ditunjukkan. Penjaga itu pamit pergi untuk memanggil petugas
administrasi. Ren hanya
menunggu selama beberapa menit.
"Maaf
membuat Anda menunggu."
Seorang
staf akademi menghampirinya dan mengantar Ren menuju konter luas di bagian
dalam aula.
Di
samping konter tersebut, terdapat jendela kaca besar yang memberikan kesan
terbuka.
Sesaat
Ren menatap ke arah koridor penghubung yang biasa digunakan untuk berpindah
gedung, lalu seorang staf lain dari balik konter menyapanya.
"Dokumen
terkait ujian masuk, benar begitu?"
◇◇◇
Akademi
Militer Kekaisaran memiliki perpustakaan besar dengan koleksi buku yang sangat
langka di seantero Reomel. Saat ini, Fiona baru saja keluar dari perpustakaan
tersebut.
Caranya
mengenakan seragam sangat sempurna hingga setiap langkahnya tampak seperti
sebuah lukisan.
Meski
libur musim dingin, murid-murid lain yang datang untuk belajar mandiri—baik
laki-laki maupun perempuan—tak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya dengan
penuh kekaguman.
Gadis
yang menjadi pusat perhatian itu bergumam pelan.
"Saljunya
cantik sekali."
Perpustakaan
itu adalah gedung terpisah yang terhubung dengan gedung utama melalui koridor
penghubung.
Saat
menatap salju dari balik jendela koridor, kenangan setahun yang lalu melintas
di kepalanya. Itu adalah hal yang sering ia ingat setiap kali musim dingin
tiba.
Fiona
ingat betul hari-hari di Pegunungan Baldur terasa sangat berat dan pahit. Tidak
ada hal yang menyenangkan sama sekali di sana.
Namun,
bertemu dengan Ren dan mendapatkan Star Agate darinya saat pulang adalah
kenangan yang sangat berharga.
Tangan
Fiona menyentuh kalung di dadanya. Saat ia menggenggamnya erat, ia merasa dadanya pun ikut sesak oleh rasa
rindu.
"...Ren-kun."
Ia ingin bertemu
dengannya. Karena rasa bersalah telah merepotkan Ren, ia kehilangan hitungan
berapa kali ia ingin mengirim surat namun akhirnya mengurungkan niat.
Meski begitu, ia
tetap ingin berterima kasih. Jadi, ia selalu menitipkan pesannya setiap kali
Ulysses mengirim surat.
Walaupun ia tidak
sanggup menuliskan kata "aku ingin bertemu" atau "datanglah ke
Eupeheim".
Fiona menggigit
bibirnya, menengadah ke langit musim dingin, lalu memejamkan mata perlahan.
Saat
melakukannya, kenangan waktu musim dingin bersama Ren terus bermunculan di
balik kelopak matanya.
Namun, ia tidak
bisa terus begini. Fiona memantapkan hatinya dan mulai berjalan menuju asrama
putri. Langkahnya terasa berat, seolah mewakili perasaannya yang pilu.
"...?"
Tiba-tiba ia
berhenti. Ia kembali menoleh ke jendela yang tadi ia lihat, namun kali ini ia
menatap lurus ke arah aula tamu yang berada di balik taman luas.
Mungkin itu hanya
halusinasi karena ia terus memikirkannya. Atau mungkin, itu hanyalah ilusi yang
diciptakan hatinya untuk menertawakan dirinya sendiri.
Fiona bergumam,
"Eh?"
Di bawah cahaya
jingga di sana, sosok Ren terlihat nyata. Ia berkali-kali mengucek matanya,
namun sosok itu tidak hilang.
Tanpa sempat
memakai mantelnya, Fiona berlari melewati koridor penghubung menuju aula tamu.
Begitu sampai, ia
membuka pintu tanpa sempat mengatur napas. Ia merasa ingin memuji dirinya
sendiri karena berhasil membukanya tanpa menimbulkan suara keras.
Namun, Ren tidak
ada di sana. Ia melihat ke arah konter tempat pemuda itu berada tadi, mencari
ke kursi-kursi di sekitarnya, namun sosok itu tetap tidak ditemukan.
Fiona berjalan
berkeliling aula tamu. Ternyata, itu memang hanya salah lihat.
Dengan perasaan
kecewa, Fiona meninggalkan tempat itu. Alih-alih kembali ke koridor, ia justru
melangkah ke luar.
"Ternyata
sosok Ren tadi cuma halusinasi yang lahir dari kelemahan hatiku."
Sambil
menertawakan diri sendiri, setidaknya ia ingin melihat salju.
Ia ingin
merasakan kembali suasana Pegunungan Baldur, meski hanya sedikit. Ia berjalan
sambil mengembuskan napas putih.
Di tengah taman,
terdapat sebuah pohon besar.
Sebelum
pergantian tahun, pohon itu dihiasi oleh cahaya dari alat magis, menciptakan
pemandangan indah bersama cahaya jingga dari jendela gedung sekolah.
Fiona menengadah
menatap pohon itu. Tidak
ada orang di sekitarnya. Lagi pula ini libur musim dingin, dan jam segini
memang tidak ada siapa-siapa.
"...Melihat
halusinasi adalah bukti kalau hatimu lemah, Fiona."
Sejak
insiden di Pegunungan Baldur, Fiona terus berusaha keras dalam segala hal.
Ia terus
menyesal karena telah banyak merepotkan Ren saat itu, sehingga ia bertekad
menjadi kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri.
Itulah alasan
kenapa ia tidak mencoba pergi menemui Ren secara langsung. Ia takut akan
merepotkan Ren lagi seperti dulu.
"Tapi, aku
memang ingin bertemu dengannya..."
Hari ini, tak apa
jika perasaan jujurnya meluap sedikit. Air mata hampir menetes, namun ia
berusaha keras menahannya.
Air mata itu
hanya menggenang di pelupuk matanya, tidak sampai tumpah.
Bahu Fiona
gemetar. Karena keluar tanpa mantel, ia mulai merasa kedinginan dan hampir
bersin.
Meski ia ahli
sihir es dan percaya diri tahan terhadap dingin, berdiri di luar saat puncak
musim dingin tanpa mantel tetap saja menyiksa tubuhnya.
Ia
benar-benar harus segera kembali. Saat ia memeluk bahunya sendiri dan hendak
beranjak dari pohon itu—
Tiba-tiba,
sesuatu yang hangat menyelimuti bahunya.
Sebuah
mantel yang bukan miliknya membungkus lengan yang sedang memeluk bahu itu.
Fiona
yang kebingungan menoleh, dan di sana, pemuda itu berdiri.
"Nanti Anda
bisa masuk angin, Nona Fiona."
Ia tersenyum
lembut, sama seperti dulu.
"Ren-kun...?"
"Sudah lama
tidak bertemu. Aku Ren Ashton."
Semuanya adalah
kenyataan yang tak terbantahkan.
Kehangatan yang
merambat dari mantel yang dipakaikannya, juga suaranya. Bukan ilusi maupun
mimpi, dia benar-benar ada di dekatnya.
Tangan Fiona yang
tadi memeluk bahu turun sedikit, lalu mencengkeram ujung mantel Ren.
"—Aku
benar-benar, benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi."
Air mata
yang tadi hampir tumpah akhirnya mengalir melewati pipinya. Pipinya merona
tanpa sadar.
Fiona
yang tersenyum manis di depan Ren memiliki kilau kecantikan yang belum pernah
ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya, sebuah kecantikan yang sanggup
membuat siapa pun menahan napas.
Fiona
sekuat tenaga menahan keinginannya untuk langsung memeluk Ren. Air mata yang
kini jatuh adalah air mata kebahagiaan.
"Nona
Fiona?! Kenapa Anda menangis?!"
"Tidak...
bukan apa-apa! Hanya saja, banyak hal yang terjadi, jadi jangan khawatir!"
Setelah menyeka
air matanya, mata Fiona berkilau bagaikan permata. Ini adalah pertemuan pertama
mereka setelah hampir satu tahun.
Ren yang memang
memiliki pertumbuhan fisik yang cepat, kini terlihat lebih tinggi dan wajahnya
tampak jauh lebih dewasa.
Tinggi mereka
yang dulu hampir sama, kini membuat Fiona harus sedikit mendongak untuk
menatapnya.
Menyadari
perubahan itu, Fiona sedikit membungkukkan punggungnya untuk menyembunyikan
pipinya yang semakin memerah.
"O-oh, iya!
Kenapa Ren-kun ada di sini?!" tanya Fiona setelah akhirnya mulai tenang.
"Aku
datang untuk mengambil dokumen ujian masuk."
Alasan itu cukup
untuk mengejutkan Fiona, namun ia juga penasaran kenapa Ren bisa muncul di
taman ini.
"Aku datang
ke depan pohon ini karena tadi melihat Nona Fiona."
"Melihat...
aku?"
"Iya. Saat
mau pulang, aku tidak sengaja melihat Nona Fiona. ...Lagipula, kalau tidak
pakai mantel begini nanti bisa masuk angin, lho. Kenapa Anda ada di sini?"
"—Itu,
karena aku pikir aku mungkin bisa bertemu denganmu..."
Fiona menunduk,
sengaja menjawab dengan suara pelan agar tidak terdengar.
Memanfaatkan
suara dahan pohon yang bergoyang tertiup angin untuk menyamarkan kata-katanya,
ia lalu berkata:
"Hehe,
rahasia, dong."
Ia menempelkan
jari telunjuk di depan bibirnya. Tingkah laku Fiona itu membuatnya tampak
seperti peri nakal yang sedang bermain di tengah salju.
"Tapi
aku benar-benar terkejut. Selain karena bisa bertemu denganmu, aku tidak
menyangka Ren-kun akan mendaftar ke akademi ini."
"Eh? Aku kira Anda sudah dengar dari Tuan Ulysses."
"Eh!?
Ja-jadi, Anda menjalin kontak dengan Ayahanda!?"
"Bukan
sekadar kontak, kami benar-benar bertemu dan mengobrol langsung, lho."
"……Ayah ini
sungguh keterlaluan. Aku sama sekali tidak diberi tahu soal itu."
Meski Ren
menyebutkan pertemuannya dengan Ulysses musim panas lalu, Fiona rupanya tidak
tahu apa-apa. Bahkan
sampai detik ini, dia tidak menyadari kalau Ren berada di Erendil.
(Kukira dia sudah bilang…… tapi kenapa dia diam saja, ya?)
Ulysses
sebenarnya hanya bertindak sesuai prinsipnya sendiri. Dia tahu perasaan Fiona terhadap Ren, namun dia
tidak ingin memaksakan reuni mereka demi kepentingannya sendiri.
Dia juga
menghormati keberadaan Licia yang selama ini berada di sisi Ren. Ini hanyalah
bentuk sportivitas khas dirinya, sesuatu yang tidak butuh pemahaman orang lain.
Bahkan jika
ditanya pun, Ulysses pasti hanya akan memberikan jawaban yang samar.
"Ngh……"
Angin salju yang
kencang mendadak bertiup, menyapu rambut hitam panjang Fiona. Melihat gadis itu
tersiksa hawa dingin sesaat, Ren yang merasa khawatir pun mengajaknya bicara
sambil berjalan.
"Omong-omong,
kenapa Kamu tidak memakai mantel?"
"……Aku
meninggalkannya di akademi."
"……Di hari
bersalju seperti ini?"
"I-iya! Sepertinya aku sedang melamun
tadi!"
Ren
menyadari adanya gelagat kebohongan yang nyata. Namun, karena Fiona tampak tidak ingin ditanya
lebih lanjut, Ren pun urung mencari tahu.
Saat Fiona hendak
mengambil mantelnya, lampu di koridor penghubung menuju perpustakaan mendadak
padam. Mereka berdua pun mengeluarkan suara terkejut di saat yang bersamaan.
Karena sedang
libur musim dingin, jam tutup perpustakaan memang lebih awal dari biasanya.
"Apa Kamu
punya mantel lain di asrama?"
"Ya…… ada beberapa pasang, tapi……"
"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu sampai asrama.
Aku ini tipe yang tahan panas, jadi aku tidak apa-apa."
Ren
langsung melangkah pergi begitu saja. Fiona merasa dirinya lagi-lagi hanya bisa
bermanja pada pemuda itu.
Namun,
saat Ren mengajaknya dengan kalimat "Ayo pergi", Fiona akhirnya
mengangguk pelan seolah didorong oleh kehangatannya.
"……Terima
kasih banyak."
Situasi
di mana dia dikawal oleh Ren membuat Fiona tidak sanggup menolak. Terlalu
sungkan juga hanya akan menginjak-injak kebaikan hati pemuda itu, maka dia pun
mengikuti Ren dengan langkah malu-malu.
Hanya
dengan menatap punggung Ren saja, pipinya sudah merona karena rasa bahagia yang
meluap.
"Kalau
dipikir-pikir, apa pengawalmu tidak apa-apa?"
Fiona mengangguk
pelan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Di dalam
area akademi tidak ada pengawal, dan jalan menuju asrama juga dijaga oleh
ksatria patroli, jadi aman."
"Jadi tidak
selamanya ada seseorang di sisimu saat berangkat sekolah, ya."
"Iya,
begitulah adanya."
Entah apakah
Fiona sebenarnya dijaga dari tempat yang tidak terlihat atau tidak. Namun di
sisi lain, daerah ini memang banyak dipatroli oleh para ksatria.
Karena banyaknya
putra dan putri bangsawan di sini, sistem keamanan telah dipastikan sangat
ketat sejak lama. Jalan keluar sekolah menuju asrama pun bisa dibilang sangat
aman.
Fiona yang tampak
sangat senang karena bisa berbincang lagi setelah sekian lama, berulang kali
mengajak Ren bicara dengan suara yang ceria.
"Anu,
anu!" serunya dengan nada bersemangat, setiap percakapan itu terasa
menghangatkan hatinya. Dunia yang hingga kemarin terasa kelabu, kini tampak
berkilauan di matanya.
"Tidak
menyangka Anda juga pergi ke Markas Besar Ksatria Suci. Mungkin saja kita
pernah berpapasan di jalan."
"Bisa jadi.
Aku juga terkadang pergi ke restoran di sepanjang jalan utama, jadi saat
Fiona-sama pulang, mungkin saja────"
"Be-benarkah!?"
Fiona juga
bercerita bahwa dia merasa pernah melihat Ren sebelumnya. Ren pun mengingat
hari yang dimaksud dan berpikir bahwa mungkin itu memang benar terjadi.
Saat Fiona
menyesali kejadian hari itu dan mengeluarkan suara "Ugh……" yang
menggemaskan, Ren pun berkata:
"Tapi
sekarang, kita sudah bisa bertemu seperti ini."
Ren melemparkan
senyum tulus kepada Fiona. Hatinya dihangatkan oleh kelembutan itu, dan jiwanya
seolah tercuri oleh senyuman sang pemuda.
Fiona pun
mengangguk malu-malu dan tersenyum simpul, "……Iya!"
Semakin dekat
mereka dengan asrama, suasana hati Fiona perlahan mulai meredup. Itu karena
waktu perpisahan dengan Ren sudah semakin dekat.
"……Apa kita
bisa mengobrol lagi?"
"Ibukota dan
Erendil itu sangat dekat, aku bisa menjadi teman bicaramu kapan saja."
Suara Ren
terdengar santai, seperti biasanya. Mendengar hal itu, segala kebimbangan yang
dirasakan Fiona seolah sirna, seperti embusan angin segar yang menyejukkan
hatinya.
Di dalam
benaknya, kini muncul kata-kata terang yang berbeda dari sebelumnya.
(────Aku juga,
boleh berjuang, kan?)
Gumamnya yang
tersapu angin salju adalah tanda perubahan yang terjadi di dalam hatinya.
◇◇◇
Setelah berjalan
beberapa menit, mereka tiba di depan asrama. Fiona mengembalikan mantel yang
dipinjamnya kepada Ren, dan saat mereka hendak berpisah────
Dengan
langkah ringan seolah ingin menari, dia melangkah beberapa tindak di depan Ren.
"Mulai
besok, aku akan berjuang lebih keras lagi."
Fiona
mengatakannya dengan nada penuh makna tanpa menatap Ren. Saat dia berbalik
dengan rok yang berkibar tertiup angin, butiran salju tampak menari di
sekelilingnya seperti serpihan diamond dust.
Di hadapan Fiona
yang tersenyum, rambut hitamnya yang sehalus sutra tampak melambai.
"Berjuang?"
Ren bertanya
heran mendengar kata-kata yang tiba-tiba itu, dan Fiona menjawabnya dengan
suara yang riang. Di akhir kalimatnya, Fiona berujar, "Karena────"
"Aku
benar-benar ingin Anda melirikku."
Dengan ekspresi
cantik penuh tekad yang belum pernah dia perlihatkan pada siapa pun.
Dia mengucapkannya dengan suara yang bermartabat, sebuah bukti dari perasaannya yang tak tergoyahkan.



Post a Comment