Chapter 4
Erendil, Kota Doa
Keberangkatan
berikutnya adalah bulan Desember, satu bulan lebih sedikit setelah Ren kembali
ke Clausel.
"……Rasanya
bakal sepi, tapi bukan berarti aku tidak akan pernah pulang, kan?"
Pagi itu,
di hari kepindahannya dari Clausel ke Erendil, Licia menatap lurus ke arah
kediaman yang telah menaunginya sejak lahir.
Rasa
sedih itu nyata. Dia berdiri mematung cukup lama, memandangi setiap sudut
bangunan tersebut.
Pada
akhirnya, dia memasang ekspresi gagah seperti biasanya, lalu—plak!—menepuk
kedua pipinya sendiri.
"Ayo
pergi! Mulai sekarang aku harus berjuang lebih keras lagi!"
Dengan
wajah yang tampak cerah, dia akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan Clausel.
◇◇◇
Beberapa
hari kemudian……
Setelah
sampai di taman langit yang merupakan stasiun raksasa kebanggaan Erendil, Ren
dan orang-orang dari keluarga Clausel memeriksa barang bawaan mereka.
Yuno,
sang pelayan, sudah lebih dulu membawa Kukur bersama pelayan lainnya menuju
kediaman di Erendil.
Di sana, Lessard
menghampiri Licia.
"Licia,
besok kita harus pergi ke Ibukota."
"Ayah?
Seingatku tidak ada jadwal khusus."
"Ada
urusan pekerjaan dengan sebuah perserikatan dagang. Pulangnya, kita mampir ke penjahit. Pakaian
harianmu sudah mulai kekecilan, harus dijahit ulang dengan kain baru."
Pakaian harian
yang dimaksud adalah baju yang Licia warisi dari mendiang ibunya.
Pakaian yang
menyerupai seragam militer putih itu sangat menonjolkan kecantikan Licia yang
polos namun berwibawa.
"Hei, hei,
Ren mau ikut juga tidak?"
"Anu…… aku akan melakukan survei di sekitar sini dulu. Aku ingin melihat-lihat situasinya supaya
siap saat pergi berburu bersama Licia-sama nanti."
Rombongan pun
menuju bagian dalam taman langit, turun ke lantai dasar, lalu menaiki kereta
kuda.
Pemandangan kota
di sana memadukan jajaran bangunan bersejarah yang penuh nuansa klasik dengan
gedung-gedung baru yang modern, menciptakan suasana kota besar namun tetap
tenang.
Di pusat kota
itulah terletak kediaman Baron Clausel yang mereka tuju.
Berbeda dengan
rumah di Clausel, kediaman di Erendil ini menghadap ke jalan raya utama.
Tidak ada
bangunan yang menempel di sampingnya; sebuah bangunan putih yang seluruh
areanya dikelilingi pagar tinggi.
Begitu kereta
kuda melewati gerbang, sebuah taman yang diselimuti lapisan salju menyambut
mereka.
Melihat
pemandangan ini, Ren hanya bisa bergumam kagum, "Luar biasa."
Setelah
melangkah masuk ke dalam rumah, Ren diberikan sebuah kamar tamu yang luas
sebagai tempat tinggalnya mulai sekarang.
◇◇◇
Keesokan paginya,
sesaat setelah matahari terbit, mereka sarapan bersama. Ren kemudian mengantar Licia dan
yang lainnya di depan gerbang kediaman.
Kereta
kuda yang membawa Licia, Lessard, dan Weiss pun perlahan menjauh. Begitu kereta
kuda sudah tak terlihat lagi, Ren kembali ke kamar tamunya dan mulai
bersiap-siap untuk keluar kota.
Sudah lama ia
tidak melakukan persiapan seperti ini. Jari-jarinya secara alami memberikan
tenaga lebih saat mengikat tali sepatu.
Ren keluar kamar
dan sekali lagi menuju ke luar kediaman.
Begitu ia
mengembuskan napas, uap putih langsung mengepul.
"Aku
harus mensurvei tempat berburu efisien yang waktu itu."
Sambil
berjalan menuju jalan keluar Erendil, Ren menatap menara jam yang menjulang
tinggi di pinggiran kota.
Tiga
orang itu berjalan menyusuri Ibukota yang bersalju.
"……Bola
kristalnya masih sama seperti biasa, ya."
Licia bergumam
sambil menatap botol kecil pemberian Edgar—yang sama dengan milik Ren—untuk
latihan Great Sword Technique.
"Licia,
botol kecil apa yang akhir-akhir ini selalu kamu pegang setiap hari?"
"Ini pemberian dari Ren. Katanya ini untuk latihan Great
Sword Technique…… Tuan Edgar menyiapkannya juga untukku. Tapi, belum ada
tanda-tanda bisa tergores."
"Jadi itu botol yang kamu ceritakan sebelumnya. Apa Ren juga sama, belum bisa
menggoresnya?"
"Iya. Tapi
karena Tuan Edgar bilang Ren punya bakat, mungkin itu hanya masalah waktu.
Andai aku juga punya bakat Great Sword Technique."
"Nona Muda,
sepertinya Anda tidak perlu terlalu khawatir. Anda mulai mahir menggunakan Holy
Magic, yang merupakan bagian dari kemampuan White Saintess. Itu adalah
jenis sihir yang membutuhkan pengendalian mana paling presisi. Bagi Anda yang
juga mahir menggunakan pedang, tidak aneh jika Anda punya bakat dalam Great
Sword Technique."
"Iya…… kuharap begitu."
Lessard memberikan senyuman pada Licia yang bergumam cemas,
lalu berkata, "Sudah lama juga ya tidak mengunjungi toko itu."
Toko pakaian yang mereka tuju adalah tempat yang sering
dikunjungi Lessard, dan di masa lalu, di sanalah ia bertemu dengan mendiang
istrinya. Pakaian Licia yang diwarisi dari ibunya juga dibuat di toko tersebut.
"Licia sudah tumbuh besar, jadi mari kita pesan
beberapa potong baju lagi. Pasti ada
baju yang ingin kamu pamerkan pada Ren, jadi pilihlah yang kamu suka."
"A-Ayah!"
Mendengar suara Licia yang tersipu malu, Lessard pun
tertawa.
◇◇◇
Waktu di penjahit berlalu dalam sekejap. Setelah memilih beberapa pakaian untuk Licia,
mereka pun keluar dari toko.
Karena kebetulan
sudah jam makan siang, mereka bertiga makan di sebuah restoran di sepanjang
jalan utama.
"Licia,
setelah ini kita akan pergi ke distrik pandai besi."
"Distrik
pandai besi?"
Di tengah
keramaian Ibukota, Licia berbincang dengan Lessard.
"Sudah lama
aku dan Weiss mendiskusikan soal pedangmu. Lalu, Weiss meminta kenalannya,
seorang pandai besi, untuk membuatkan pedang. Aku ingin menyapa orangnya."
Bukannya selama
ini Licia tidak punya pedang sendiri. Namun seiring pertumbuhannya, bilah
pedangnya mulai terasa terlalu pendek dan tidak lagi sesuai dengan gaya
bertarungnya.
Angin musim
dingin bertiup di antara mereka bertiga.
Licia merapikan
rambutnya yang berantakan karena angin tiba-tiba itu. Merasakan dingin di ujung
jarinya, ia melontarkan sebuah pertanyaan.
"Pandai besi
kenalan Weiss itu orang yang seperti apa?"
"Dwarf
yang eksentrik, aneh, dan malas bekerja."
"……Mendengarnya saja sudah membuatku ragu apa dia
benar-benar mau menempa pedang."
Mereka terus
berjalan sambil mengobrol. Sekitar sepuluh menit kemudian……
"……?"
Licia
menghentikan langkahnya. Begitu masuk ke jalan yang lebih padat meski agak
keluar dari jalan utama, ia merasakan sedikit kejanggalan di sudut matanya.
"Licia? Ada
apa?"
"……Cuma
sedikit penasaran."
Licia mengalihkan
pandangannya ke arah kejanggalan itu.
Di depannya
terdapat sebuah toko barang bekas tua yang sedang dalam proses pembongkaran.
Ada perancah kayu
yang digunakan untuk pembongkaran di sekitarnya, dan beberapa anak kecil
berjalan di dekat sana.
Wush…… perancah itu tiba-tiba bergoyang, lalu mulai
roboh ke arah anak-anak yang berjalan di bawahnya.
"Weiss, tetaplah di samping Ayah!" teriak Licia.
Bahkan sebelum Weiss dan Lessard sempat menghentikannya, ia
sudah melesat dengan tubuh yang diperkuat oleh Holy Magic.
"Harus sempat!"
Licia mencabut pedang yang ia bawa untuk perlindungan diri
sambil berlari. Ia menebas perancah yang jatuh tepat di depan anak-anak yang
mematung ketakutan setelah mendongak ke atas, dan berhasil melindungi mereka.
Saat Licia yang memegang pedang itu tertutup debu, tiba-tiba
hawa dingin merambat dari bawah kakinya.
Hawa dingin itu menciptakan pilar es raksasa yang menyangga
perancah yang runtuh.
Pemandangan di depannya tampak seperti kuil es. Pilar es
yang tumbuh dari tanah memantulkan cahaya matahari, menyangga reruntuhan itu
dengan gagah.
Itu adalah sihir luar biasa yang membuat siapa pun berdecak
kagum.
Terdengar
suara seorang gadis yang mendekat dengan langkah cepat ke arah Licia.
"Syukurlah
saya sempat────!"
Suara itu
ringan dan bening seperti kicauan burung, suara yang pernah Licia dengar
sebelumnya.
Licia
yang pakaiannya berdebu berbalik dan terkejut mendengar suara itu.
"Fi-Fiona-sama!?"
"Eh──── Licia-sama!?"
Di sana
berdirilah Fiona Ignat, yang belum pernah ia temui lagi sejak pesta waktu itu.
◇◇◇
Licia yang sudah
kotor karena debu tidak mungkin dibawa ke distrik pandai besi.
Berkat kebaikan
hati Fiona, Licia kini berada di kamar asrama putri Institusi Militer
Kekaisaran tempat Fiona tinggal.
Sambil mandi di
kamar mandi di dalam kamar Fiona, Licia berbicara melalui pintu kaca buram.
"Terima kasih banyak…… untuk shower-nya."
Setelah Licia menyampaikan terima kasih karena dipinjami air
hangat, Fiona yang berada di luar pintu tersenyum.
"Silakan
hangatkan diri pelan-pelan. Pakaian ganti dan handuk sudah saya siapkan di sini!"
"Terima
kasih banyak! Bukan hanya aku, Ayah dan Weiss juga jadi merepotkan Tuan Edgar
untuk menjamu mereka……!"
"Fufu,
jangan dipikirkan."
Fiona
sebenarnya sedang belanja, namun secara kebetulan ia berada di lokasi saat Licia
menyelamatkan anak-anak itu.
Lessard
dan Weiss sendiri sedang dijamu di salon yang terletak di antara asrama putri
dan putra. Tempat itu memang biasa digunakan oleh wali murid maupun pedagang
yang keluar-masuk akademi.
Licia
selesai mandi, melilitkan handuk, lalu keluar. Pakaian yang ia kenakan tadi
sedang dicuci di asrama putri. Itu juga berkat pengaturan Fiona, dan sebagai
gantinya Licia meminjam baju milik Fiona.
Melihat
bagian dada yang terasa lebih longgar dari biasanya, Licia merasakan sedikit
kekalahan.
"Tidak apa-apa…… tidak lama lagi, aku juga
pasti……"
Gumam Licia sambil duduk di kursi depan wastafel.
Fiona mengetuk pintu ruang ganti setelah memperhitungkan
waktu, lalu membukanya setelah mendengar jawaban Licia.
"Tahaha,
saya lupa menjelaskan cara menggunakan sisirnya."
Di wastafel depan
kursi yang diduduki Licia, selain sisir, terdapat produk kosmetik untuk setelah
mandi dan alat magis untuk mengeringkan rambut.
Sisirnya terbuat
dari perak putih tanpa noda sedikit pun, dengan desain yang unik untuk ukuran
sebuah sisir.
"Itu adalah Magic
Item."
"Bukankah
ini sisir biasa untuk merapikan rambut?"
"Ini
barang yang sedikit spesial…… jika tidak keberatan, bolehkah saya yang menyisir
rambut Anda?"
"Anu────
eh?"
"Rambut
saya juga panjang jadi saya paham. Pasti sulit jika menyisir sendirian, jadi kalau Anda berkenan, izinkan saya
membantu."
Fiona merasa
cemas apakah bantuannya ini dianggap tidak peka, sementara Licia merasa ragu
karena adanya perbedaan status sosial.
Namun, kedua
gadis yang jatuh hati pada pemuda yang sama ini akhirnya mengikuti suasana dan
menyetujui tawaran tersebut.
Pertama,
mereka mengeringkan rambut Licia dengan alat magis. Setelah bertukar senyum
kecut melalui cermin, Fiona mulai menggerakkan sisir di rambut Licia.
Suara
sisir yang meluncur pelan terdengar sangat jelas di ruangan itu.
"Apa
ini benar-benar bukan sisir biasa?"
"Sepertinya
begitu. Katanya, rambut akan jadi lebih berkilau dibanding disisir dengan sisir
biasa."
Suara
Fiona terdengar kurang yakin.
"Ayah
memberikannya padaku saat ulang tahun tahun lalu. Tapi aku sendiri tidak terlalu merasakan
bedanya. Bagaimana dengan Licia-sama? Apa rasanya berbeda dari biasanya?"
Jujur
saja, kesan Licia adalah ia tidak terlalu merasakan perbedaannya.
Rambut Licia
yang sedang disisir tetap terlihat seperti sutra seperti biasanya, dengan
tekstur halus dan kilau yang tampak lembap.
"Rasanya,
entah kenapa jadi lebih cantik dari biasanya."
"Ya ampun, Licia-sama
bisa saja."
Keduanya kembali bertukar senyum lewat cermin. Kali ini bukan senyum kecut, melainkan
tawa ceria.
"Hari
ini aku benar-benar terkejut. Kukira Licia-sama ada di Clausel, ternyata Anda ada di Erendil, ya."
Setelah
menyelesaikan urusan di ruang ganti, Licia menuju ruang tamu dan duduk di sofa
atas ajakan Fiona.
Sama seperti saat
pesta hari itu, keduanya kembali terpesona oleh kecantikan satu sama lain.
Karena tidak menemukan topik obrolan sehari-hari yang pas, mereka berdua pun menatap ke arah jendela tanpa alasan yang jelas.
Salju mulai turun
di balik jendela. Butiran-butiran besar yang tampak empuk menari-nari perlahan
dari langit.
"────Ah."
Pandangan Licia
tanpa sengaja tertuju pada sudut ruangan ini. Di sepanjang dinding, berdiri
sebuah rak buku besar yang dipenuhi oleh berbagai macam koleksi buku.
"Apakah
Fiona-sama sangat menyukai buku?"
Fiona yang
ditanya hanya bisa tertawa kecut.
"Karena dulu
tubuhku sangat lemah, aku tumbuh besar dengan terus membaca buku."
Masa kecil Fiona
hampir seluruhnya ia habiskan di atas tempat tidur. Karena itu, satu-satunya
hiburannya hanyalah membaca buku dan berbincang dengan Ulysses.
Mendengar sejarah
hidup Fiona secara langsung, hati Licia terasa seperti tertusuk.
Mengingat Fiona
mungkin sudah tiada jika Ren tidak ada di sana, ia merasakan sebuah ikatan yang
istimewa. Sebab, Licia sendiri pun pernah diselamatkan nyawanya oleh Ren.
Bagi mereka
berdua saat ini, topik tersebut adalah kesempatan obrolan yang sangat berharga.
Mereka mendekati rak buku itu sambil berpura-pura tenang.
"Beberapa
buku di sini kelihatannya sangat sulit, ya."
"Tapi,
kebanyakan adalah buku-buku yang belum bisa kubaca dengan baik. Aku mencoba
memberanikan diri untuk membacanya, tapi karena sulit, aku sering harus
membacanya sambil membuka kamus. ────Ah, benar juga. Jika Licia-sama tertarik,
maukah Anda melihat-lihatnya?"
Demi mencairkan
suasana kaku di antara mereka, Licia langsung menjawab, "Dengan senang
hati."
Di rak itu
berjejer buku-buku akademik yang tampak rumit, novel-novel tebal, hingga buku
referensi yang masih memiliki banyak pembatas buku di dalamnya.
Di antara semua
itu, pandangan Licia tercurah pada satu buku referensi tertentu.
"Ini... buku
untuk persiapan masuk Institusi Militer Kekaisaran, kan?"
"Itu buku
referensi yang kugunakan untuk ujian masuk dulu."
Fiona tersenyum
malu-malu. Ia mengambil buku itu dari rak dan memperlihatkan sampulnya kepada Licia.
"Ahaha,
sedikit memalukan, ya."
Licia yang
awalnya bingung kenapa Fiona merasa malu, segera memahami alasannya.
Buku referensi
itu masih dipenuhi banyak pembatas buku, dan di banyak halamannya terdapat
catatan kaki yang ditulis oleh Fiona sendiri. Fiona pasti merasa malu karena
jejak usahanya saat belajar masih tertinggal di sana.
"Bagian
ini... di buku referensi lain yang kupelajari, aku tidak begitu
memahaminya."
"Hmm? Ah,
bagian ini ya! Kalau yang ini────"
Berdiri
berdampingan, sebuah sesi les privat dadakan dimulai begitu saja. Cara mengajar
Fiona sangat luar biasa, hingga bagian yang tidak dipahami Licia langsung
terselesaikan dalam sekejap.
Hal itu
membuat Licia refleks bertanya, "Apakah Anda punya pengalaman mengajar
seseorang sebelumnya?"
"Ini
adalah pertama kalinya. Karena
muridnya adalah Licia-sama, aku jadi bersemangat."
Fiona memiringkan
kepalanya sedikit dan berkata dengan senyuman yang tenang.
Keduanya merasa
lega di dalam hati karena topik pembicaraan berubah berkat buku tersebut, lalu
mereka berbalik kembali menuju sofa.
"Ujian Licia-sama
akan dimulai musim semi depan, kan? Apakah Anda akan menggunakan surat
rekomendasi?"
Jika memiliki
surat rekomendasi, beberapa tahap ujian kelas beasiswa khusus bisa dibebaskan.
Keluarga Clausel
sebenarnya bisa saja meminta Ulysses menyiapkannya, namun perbedaan faksi
politik adalah hal yang harus dipertimbangkan.
Lagipula, bagi Licia,
ujian tahap awal bukanlah sesuatu yang sangat sulit.
Jika tujuannya
untuk membiasakan diri dengan suasana ujian, keberadaan surat rekomendasi
bukanlah masalah besar.
"Di musim
semi dua tahun lagi, mungkin kita akan sering bertemu di akademi, ya."
"Iya. Jika
aku lulus nanti, pasti."
Setelah
pembicaraan soal ujian berakhir, keheningan sesaat menyelimuti mereka berdua.
Ada topik yang tidak bisa mereka hindari, dan mereka merasa harus menyentuhnya.
"……Fiona-sama."
"……Licia-sama."
Keduanya
memanggil nama satu sama lain secara bersamaan, lalu kembali tertawa kecut
untuk kesekian kalinya. Setelah saling mempersilakan, akhirnya Licia yang
membuka suara.
"Aku terus
memikirkan bagaimana sebaiknya kita bersikap."
Licia melanjutkan
perkataannya.
"Aku dan
Fiona-sama sama-sama bangsawan. Meskipun faksi kita berbeda, kita adalah putri
dari keluarga yang memiliki hubungan persahabatan."
"Apalagi,
kita berasal dari keluarga yang ikatannya tidak mungkin diputus begitu saja,
kan?"
"Iya. Dan
itu bukan ikatan yang boleh diputus."
"……Ayahku,
dan pasti Baron Clausel pun berpikir demikian."
Saat ini, kedua
belah pihak mendapatkan keuntungan dan menjaga hubungan yang tulus. Tentu saja,
kedua gadis di sini pun tidak menginginkan hubungan mereka menjadi buruk.
Mereka berdua memahami hal itu tanpa perlu mengatakannya.
◇◇◇
"────Cintaku
ini mempertaruhkan nyawa. Demi Ren yang telah melindungiku dengan nyawanya, aku
bisa melakukan apa saja."
"────Aku
pun, kepada Ren-kun yang telah memberikanku dunia ini, aku bisa menyerahkan
segalanya."
Kata-kata yang
mereka tukarkan di hari pesta itu terlintas di benak keduanya.
Mereka tahu bahwa
mereka tidak bisa mengabaikan keberadaan satu sama lain, dan harus mengakuinya.
Tidak mungkin
bagi mereka untuk saling menjauh, apalagi memicu pertengkaran.
Terlebih lagi,
sebagai sesama gadis yang mencintai Ren dengan mempertaruhkan nyawa, mereka
sama sekali tidak berniat merendahkan perasaan cinta yang kuat itu.
Sebab,
merendahkannya sama saja dengan menghina perasaan cinta mereka sendiri terhadap
Ren.
Sebagai sesama
orang yang baru saja menyelamatkan anak-anak di kota, mereka juga tidak bisa
membenci rasa keadilan satu sama lain.
Melihat
kepribadian keduanya, kecil kemungkinan mereka akan jatuh ke dalam situasi yang
penuh kebencian.
Namun, bagi dua
gadis yang di depan Ren hanyalah seperti gadis desa biasa, ada kegalauan yang
tidak terelakkan.
Yaitu keraguan
tentang bagaimana mereka harus memandang satu sama lain dan bagaimana harus
berinteraksi.
"Sebenarnya,
apa hubungan antara aku dan Fiona-sama?"
Hanya sekadar
rival cinta? Rasanya hubungan mereka lebih rumit dari itu. Kemudian, suara
mereka kembali tumpang tindih.
"Teman……"
Keduanya saling
menatap, lalu yakin bahwa istilah 'teman sesama bangsawan' jelas-jelas tidak
terasa pas.
Lalu, apakah
rival?
Tapi istilah ini
pun terasa kurang tepat, membuat mereka memutar otak.
Sebenarnya,
memberi nama pada hubungan mereka tidaklah mengubah banyak hal. Namun bagi
mereka berdua, hal ini sangatlah penting.
"Kudengar,
jika menyukai lawan jenis yang sama, kebanyakan orang akan saling
membenci……"
"Fiona-sama,
dari mana Anda mendapatkan informasi itu?"
"……N-novel... roman……"
"……Kebetulan
sekali. Aku juga punya banyak sumber informasi serupa."
Licia
berdeham kecil.
"Tapi,
rasanya itu pun tidak pas."
Sudah
jelas tidak ada untungnya bagi mereka berdua untuk saling membenci. H
anya saja, di
sana ada sosok pria idaman yang membuat perasaan mereka tidak bisa tenang.
Keduanya kemudian
mulai mengutarakan apa yang mereka pikirkan sedikit demi sedikit.
Dimulai dari Licia.
"Ada
perasaan yang tidak bisa kuserahkan……"
Menyambung hal itu, Fiona membuka suara.
"Kalau begitu…… apakah rival cinta……?"
"Iya, tapi
bukan hanya itu."
"Sisanya,
mungkin sesama anak dari bangsawan yang akrab…… atau semacamnya."
Mereka merasa
kata-kata yang diucapkan sudah tidak bisa dirapikan lagi. Rasanya salah jika
ada satu bagian yang hilang, namun sebaliknya, menekankan satu bagian saja juga
terasa tidak benar.
"Mungkin,
aku dan Licia-sama adalah gabungan dari semua itu."
Bukannya menyerah
mencari kata yang jelas, namun memang semua itulah hubungan mereka.
"Karena di
dunia ini tidak ada kata yang spesifik, jadi kita adalah 'kita'──── begitu
ya?"
"Iya.
Kupikir, itu jauh lebih baik."
Sebuah hubungan
yang tidak terikat oleh bentuk apa pun.
Yang mendasarinya
adalah perasaan tulus untuk tidak mau menyerahkan Ren dan ingin menjadi nomor
satu di hatinya.
Di atas itu
semua, adalah jalinan berbagai posisi yang saling terkait seperti yang mereka
ucapkan.
Jika memang
hubungan mereka adalah semua hal yang telah disebutkan tadi, maka mereka harus
kembali pada masalah bagaimana mereka harus berinteraksi.
Namun, ternyata
ada bagian yang cukup jelas. Mereka memutuskan untuk mengutarakan hal yang
paling tidak bisa diserahkan, lalu menyerahkan sisanya pada aliran waktu.
"────Karena
aku, benar-benar tidak akan kalah darinya."
Hiasan bulu perak
yang menghiasi rambut Licia bergoyang pelan.
"────Aku
pun, tidak bisa membohongi perasaan ini."
Kalung Star
Agate yang menghiasi dada Fiona bergoyang tanpa suara.
Keduanya saling
menatap dengan wajah serius, memahami betapa kuatnya perasaan lawan mereka.
Saat ini, mereka bukan lagi sebagai putri bangsawan, melainkan hanya sebagai Licia
dan Fiona.
"R-Ren
memberikan hiasan rambut ini khusus untukku! Di hari ulang tahunku tahun lalu,
dia mencarinya sendiri, lho!"
"A-aku
juga…… Ren-kun yang menolongku dari Asval, memberikan ini supaya aku punya
setidaknya satu kenangan indah saat pulang nanti!"
Keduanya sama
sekali tidak berniat merendahkan pemberian masing-masing, tidak juga bermaksud
membandingkan mana yang lebih baik atau buruk.
Mereka hanya
ingin menyatakannya. Sebagai rival cinta pertama, apalagi di depan musuh yang
kuat, deklarasi semacam ini harus dilakukan.
Sama seperti saat
pesta hari itu, ketika mereka menumpahkan emosi seperti ini, dari leher hingga
pipi bahkan telinga mereka memerah karena malu.
Tanpa sadar,
kedua gadis yang lehernya sudah memerah padam itu menyadari bahwa mata mereka
pun mulai berkaca-kaca karena rasa malu.
Sebagai sesama
orang yang baru pertama kali jatuh cinta, mustahil mereka tidak tersipu setelah
melakukan deklarasi tersebut.
Hanya
suara detak jam dan suara napas mereka yang terdengar.
"Wajah Anda
sangat merah, Fiona-sama."
"Aku tahu!
T-tapi, Licia-sama juga merah padam, lho!"
"A-aku cuma
masih merasa gerah setelah mandi tadi!"
Keduanya ingin
menghindari pergi ke salon dengan keadaan seperti ini. Dalam keheningan setelah
itu, mereka berdua diam menahan diri sampai rona merah di kulit mereka mereda.
Waktu baru menunjukkan lewat jam dua siang, belum terlalu
sore, namun rencana pergi ke distrik pandai besi ditunda.
Saat Licia dan
Fiona menuju salon asrama putri, Lessard dan yang lainnya menyambut mereka.
Salon ini pun
dilapisi karpet merah tua, tampak mewah layaknya penginapan kelas atas.
"Jika boleh,
bisakah saya melihat botol kecil itu?"
Edgar yang sedang menunggu di salon bertanya kepada Licia.
"Botol kecil? Maksudmu yang untuk latihan Great
Sword Technique?"
"Benar. Saya
ingin memastikan kondisinya, apakah diperbolehkan?"
"……Boleh
saja, tapi tidak ada perubahan pada bola kristal di dalamnya, lho."
Sambil berkata
demikian, Licia merogoh saku pakaian yang ia pinjam dari Fiona.
Ia mengeluarkan
botol kecil yang akhir-akhir ini selalu ia pegang setiap ada waktu luang, lalu
menyerahkannya kepada Edgar.
Tepat saat ia
hendak melakukan hal itu, suara prang! bergema dari tangannya. Pada saat
itulah, bola kristal di dalam botol tersebut pecah menjadi dua.
◇◇◇
Sekitar tiga jam
perjalanan dari kota Erendil, di tengah alam yang luas, Ren melangkah
sendirian.
Setelah menyusuri
jalan besar dan masuk jauh ke dalam hutan, ia sampai di sebuah danau.
Danau yang
dikelilingi pegunungan rendah itu membeku dengan lapisan es yang tebal karena
musim dingin.
Sambil berjalan
di atas es, Ren memanggil Magic Sword of Iron.
Ia butuh belasan
menit untuk sampai ke titik tengah, lalu menggunakan pedang besinya untuk
membelah es dan membuat lubang besar.
Begitu
Ren mengembuskan napas, ia mendengar suara.
"Kyu!"
"Loh,
Kukur."
Saat Ren
hendak meletakkan tasnya di atas es, tutup tas itu terbuka sendiri dan Kukur
menampakkan wajahnya sambil mengeong.
Kukur
mengeluarkan kaki depannya dari tas dan menatap Ren.
"Kapan kamu
sembunyi di situ?"
"Kyu
kyu!"
Karena Ren sempat
mampir ke toilet sebelum meninggalkan kediaman, Kukur pasti menyelinap ke dalam
tas saat itu.
Ren
tertawa sendiri menyadari dirinya tidak menyadarinya sampai sekarang.
Kukur
keluar dari tas dan terbang berputar di sekitar Ren. Ren sekali lagi meletakkan tasnya di atas es.
"Yah, sudah
terlanjur ikut, apa kamu bisa tenang di situ?"
Melihat Kukur
mengangguk mantap, Ren memutuskan untuk melaksanakan rencananya.
Sudah cukup lama
berlalu sejak ia mengetahui bahwa evolusi Magic Sword telah terbuka.
Karena tahun ini
ia terus bolak-balik antara Clausel dan kota besar, ia tidak bisa berburu
sesering tahun-tahun sebelumnya.
Akibatnya, ia
sudah lama tidak naik level.
- Magic
Sword Summoning (Level 4: 3481 / 3500)
Level Magic Sword Summoning sudah hampir naik.
Untuk teknik pemanggilan ini, ia bisa mendapatkan kemahiran
dengan cara memanggil Magic Sword dan berlatih dengannya, jadi kemahirannya
bertambah sedikit demi sedikit berbeda dengan Magic Sword itu sendiri.
Ren
membuat lubang besar di es dan melemparkan daging mentah yang ia beli dari toko
daging. Beberapa belas detik setelah daging itu jatuh ke danau, segerombolan
ikan terlihat di dalam air.
Ikan-ikan
itu semuanya berukuran besar, hingga Ren harus menggunakan kedua tangan jika
ingin memeluknya.
Kulit
mereka berwarna biru dan ditutupi sisik tebal, dengan taring tajam layaknya
hewan karnivora di mulut mereka.
Itu
adalah monster bernama Berserk Fish, dan pemandangan mereka yang berenang dalam
kelompok terasa agak mengerikan.
Sambil
meringis, Ren melemparkan potongan daging lagi ke dalam air.
"Kakakakak!"
"Kakak!"
Suara itu
berasal dari gesekan taring para Berserk Fish. Mengejar daging yang
dilemparkan, beberapa ekor melompat ke permukaan air dengan kecepatan seperti
peluru.
Ren
melihat hal itu dan mulai mengayunkan Magic Sword of Iron.
Berulang
kali, ia terus mengayunkannya setiap kali Berserk Fish muncul. Satu
ekor, dua ekor…… sepuluh, hingga lima belas ekor.
Tumpukan Berserk Fish yang telah diburu terkumpul dengan
cepat di atas es. Akhirnya, setelah memburu sembilan belas ekor, pergerakan
mereka mulai mereda.
"Kyuuu……!"
Kukur yang sejak tadi menonton dengan penuh rasa ingin tahu
mengeluarkan suara kekaguman.
"Apa boleh
aku bersantai semudah ini?"
Monster Berserk
Fish tadi memasuki musim kawin di musim dingin.
Di danau ini,
musim itu dimulai setelah permukaan air tertutup es tebal. Benih-benih ikan
yang menetas akan saling memakan satu sama lain setiap kali lapar.
Mereka
adalah monster yang terkenal dengan keganasan dan kekuatan serangan taring
tajamnya.
Nama
Berserk Fish diberikan karena sifat mereka saat masih benih tersebut.
Namun
setelah menjadi dewasa, anehnya mereka menjadi tenang. Sifat buasnya hanya ada
saat masih benih; saat es mencair, mereka mungkin memangsa burung yang hinggap
di permukaan air, tapi jarang sekali menyerang manusia secara sengaja.
"Ternyata
benar-benar evolusi."
Seperti
biasa, jumlah kemahiran yang dibutuhkan untuk level berikutnya masih terasa
jauh dan menyedihkan, tapi ia sangat menantikan Physical Ability UP (Large)
yang akan didapatkan nanti. Selain
itu, ia senang karena terjadi perubahan pada Magic Sword kayu miliknya.
Namanya pun berubah, berevolusi menjadi Magic Sword of
the Great Tree. Nature Magic (Small) juga telah diperkuat menjadi Nature
Magic (Medium).
Ren menancapkan Magic Sword of Iron ke es──── namun
karena ketajamannya justru menghancurkan es dan pedang itu tenggelam, ia
menghilangkannya dan memanggil Magic Sword of the Great Tree sebagai
gantinya. Pedang kayu yang muncul di udara itu kini memiliki ukiran yang indah,
berbeda dari sebelumnya, dengan penampilan yang tampak seperti pedang
seremonial.
Ren memperhatikan sekeliling dengan saksama, memastikan
tidak ada orang, lalu mengayunkan Magic Sword of the Great Tree.
Dengan niat untuk menumbuhkan akar atau tanaman merambat
seperti biasa…… ia merapalkan Nature Magic sambil berusaha tidak
berharap terlalu tinggi agar tidak kecewa.
"Ooh?"
Ujung pedang Magic Sword of the Great Tree yang
diayunkan mengarah ke bawah lubang besar di es.
Dari
kedalamannya, guncangan tanah tercipta. Beberapa detik setelah Ren menggunakan
kekuatan barunya itu sambil kebingungan melihat situasi.
"Eeeehhh!?"
"Kyuuuuuu!?"
Berbagai akar
pohon muncul membelah es di sekitar, masing-masing memiliki ketebalan luar
biasa yang sanggup melilit bahkan Mana Eater raksasa sekalipun.
Hal itu terjadi
di berbagai penjuru danau yang luas.
Kukur
yang terkejut dengan perkembangan mendadak ini hanya bisa berpegangan erat di
belakang leher Ren sambil mengamati situasi.
Es tebal
yang menutupi danau retak di mana-mana, dan bongkahan es yang pecah mengalir
dengan tenang.
Ren merasa ia
bisa berkali-kali merasa bahagia atas evolusi Magic Sword-nya ini.
Tak lama kemudian, ia menghilangkan efek Nature Magic
dan melenyapkan Magic Sword of the Great Tree.
"……Tinggal
yang satu itu saja ya."
Magic Sword api.
Sejak musim semi ia sudah berkali-kali mencoba memanggilnya, namun hasilnya
selalu berakhir dengan sakit kepala yang hebat. Ia menderita rasa sakit yang
mirip seperti saat kehabisan mana.
***
[NAMA]
Ren Ashton
[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton
[ SKILL ]
■ Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)
■ Magic Sword Summoning Arts Lv. 5 (95 / 5000)
- Mendapatkan kemahiran dengan menggunakan pedang sihir yang dipanggil.
- Level 1: Dapat memanggil [Satu] pedang sihir.
- Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
- Level 3: Dapat memanggil [Dua] pedang sihir.
- Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
- Level 5: Membuka Evolusi Pedang Sihir.
- Level 6: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Large)] saat memanggil gelang.
- Level 7: ********************
[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]
■ Great Tree Magic Sword Lv. 3 (114 / 2000)
- Memungkinkan
serangan setingkat Nature Magic (Medium).
- Jangkauan efek serangan akan
meluas seiring meningkatnya level.
■ Iron Magic Sword Lv. 3 (3039 / 4500)
- Ketajaman
meningkat seiring dengan kenaikan level.
■ Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)
- Merampas
item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.
■ Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)
- Membentangkan
dinding sihir pelindung.
- Kekuatannya meningkat dan jangkauan
efeknya meluas seiring kenaikan level.
■ Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)
- Api nerakanya adalah perwujudan dari
kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.
***
(Meskipun bukan Asval, mungkin karena dasarnya memang
pedang yang sangat kuat ya.)
Tadi aku sempat mencoba memanggilnya lagi, dan rasanya rasa
sakitnya sedikit lebih ringan dibanding sebelumnya.
Namun, karena
masih merasa kurang kuat, aku menyimpulkan untuk tidak terlalu memaksakan diri
memikirkan pedang api itu sekarang.
Aku membentangkan
karung rami yang tadi kusimpan di dalam tas ke atas es, lalu memasukkan semua
hasil buruan Berserk Fish tanpa sisa.
Setelah karung
itu penuh sesak, aku memanggulnya dan berjalan menuju tepi danau.
"Ayo
pulang."
"Kyu!"
Dalam perjalanan,
aku berpikir bahwa perburuan seperti hari ini tidak bisa dilakukan terlalu
sering.
Dunia ini
adalah realitas, bukan gim, jadi jumlah monster pun terbatas. Jika berburu
berlebihan, ekosistemnya bisa terganggu.
"Tapi,
benar-benar tidak ada orang ya."
Berbeda
dengan musim panas, kebanyakan monster tidak menampakkan diri di musim dingin.
Para
petualang yang mengincar monster musim dingin pun jarang sekali berkunjung ke
daerah ini.
Tidak ada
orang yang sengaja datang hanya untuk memancing benih Berserk Fish yang
ganas, dan tidak banyak juga yang suka bertarung berbahaya melawan kawanan
monster di atas es.
Karena
merasa bosan hanya dengan berjalan, sambil memikirkan tentang Magic Sword of
the Great Tree, aku tanpa sadar merogoh sakuku.
Aku
mengeluarkan botol kecil pemberian Edgar dengan gerakan terbiasa, lalu
menggenggamnya di telapak tangan.
"……Lho?"
Prang. Bunyi pelan seperti kaca yang
pecah terdengar dari tanganku. Aku pun menghentikan langkah dan melihat ke arah
tangan.
"Ah,
pecah ternyata."
Bukan
hanya terbelah dua, bola kristal di dalam botol itu hancur berkeping-keping.
◇◇◇
Setelah makan
malam selesai, Licia yang baru saja selesai mandi mengunjungi kamar Ren.
"Tadi di
Ibukota, terjadi banyak hal lho."
"Ngomong-ngomong, memangnya ada kejadian apa?"
"Masih rahasia. Rasanya agak kesal kalau langsung
memberitahumu, jadi biarkan aku jadi anak manja hanya untuk hari ini."
"Anak manja……?"
Setelah berkata begitu, Licia duduk di tepi tempat tidur
Ren.
Karena Ren sang pemilik kamar sedang duduk di kursi bundar
di dekatnya, Licia menepuk-nepuk sisi tempat tidur, memberi isyarat agar Ren
mendekat.
Ren sempat terdiam heran melihat gelagat yang tidak biasa
itu, namun Licia menepuk tempat tidur sekali lagi.
Meski tidak menyadari kalau itu adalah bentuk keagresifan Licia,
Ren pun akhirnya duduk di sampingnya karena merasa bingung.
"Ini dari Tuan Edgar."
Licia menyerahkan sepucuk amplop kepada Ren. Ren membuka segelnya dan
membentangkan kertas perkamen di dalamnya.
"Minggu
depan, aku ada janji bertemu Tuan Ulysses di Ibukota."
"Dengan
Marquis Ignat? Mau makan bersama?"
"Bukan.
Sepertinya ini tentang konsultasi soal tanduk Asval tempo hari. Beliau
bilang akan memperkenalkanku pada seorang pandai besi."
Memperkenalkan
pandai besi berarti ini berkaitan dengan perlengkapan pelindung Ren.
Melihat
senyum Ren yang merekah, Licia berlagak seperti seorang kakak perempuan dan
berkata, "Ren ternyata benar-benar seorang laki-laki ya."
Tiba-tiba, Licia
menepukkan tangannya seolah baru teringat sesuatu. Ia merogoh saku,
mengeluarkan botol kecil miliknya, lalu berkata dengan nada riang.
"Lihat! Sepertinya aku juga punya bakat Great Sword
Technique!"
Sifatnya yang pekerja keras memang sudah bawaan, tapi Licia
memang diberkati dengan bakat alami yang setara.
Melihat bola kristal yang terbelah dua dengan rapi, itu
benar-benar bisa disebut sebagai bakat yang luar biasa.
"Hei, hei,
bagaimana dengan milik Ren?"
"Ah, kalau
milikku sih biasa saja……"
"Kenapa
reaksimu begitu? Ah! Jangan-jangan, kamu sudah berhasil menggoresnya?"
"Y-ya, mirip
seperti itulah!"
"Kalau
begitu tidak apa-apa, kan? Tolonglah, perlihatkan padaku?"
Mendengar suara Licia
yang sedikit merajuk manja, Ren berdiri dan berjalan menuju meja. Ia membuka
laci, mengambil botol kecil yang disimpan di sana, lalu menyerahkannya pada Licia.
"Ini bukan
cuma tergores, tapi hancur berkeping-keping!"
"Begitu
selesai berburu tadi, tiba-tiba jadi begitu."
Bagi Licia,
melihat bola kristal yang hancur lebur itu benar-benar sebuah kejutan besar.
Namun, ia juga
merasa senang. Bukannya ia tidak merasa kesal dengan perbedaan kemampuan
mereka, tapi ia sudah terbiasa dibuat takjub oleh Ren, dan sejujurnya, ada
bagian dari dirinya yang menyukai hal itu.
"Padahal aku
pikir dalam hal jumlah mana aku tidak akan kalah…… tapi kalau ditunjukkan
begini, mungkin dugaanku itu pun salah ya."
"Tidak, ini
bukan latihan yang hasilnya ditentukan hanya oleh jumlah mana."
Mana yang telah
diolah disalurkan melalui botol kecil untuk memengaruhi bola kristal di
dalamnya.
Yang diutamakan
adalah kemahiran dalam mengendalikan mana tersebut, jadi jumlah mana yang besar
saja tidak menjamin hasil yang bagus.
Faktanya, Ren
berpikir bahwa jika bicara soal total mana yang bersemayam dalam tubuh, Licia-lah
yang lebih unggul.
Kasus bola
kristal kali ini hanyalah karena Ren lebih mahir dalam pengendalian mana yang
diperlukan.
"Memangnya
begitu?"
"Iya. Jadi
jangan terlalu dipikirkan."
Kabarnya, surat
rekomendasi untuk Licia juga akan segera sampai di kediaman Erendil.
"Ngomong-ngomong Ren, apa kamu sudah mencoba pergi ke
Adventurer Guild?"
"Tadi
pagi aku sempat mampir. Ternyata Adventurer Guild di kota besar memang beda
ya."
"Ternyata
benar ya. Eh, omong-omong berapa Rank Guild milik Ren?"
"Aku
masih belum apa-apa. Soalnya aku belum melakukan hal-hal yang diperlukan untuk
menaikkan peringkat."
Sama
seperti peringkat monster, para petualang yang terdaftar di Guild pun diberikan
peringkat.
Namun,
peringkat itu tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan aslinya.
Ada
beberapa syarat untuk mencapai peringkat tinggi, dan seberapa kuat pun
seseorang, peringkatnya tidak akan naik jika tidak memenuhi syarat tersebut.
Karena itulah,
peringkat Ren masih E-Rank. Jika berhasil mencapai peringkat tinggi
seperti B atau A, petualang bisa mendapatkan prioritas dalam
mengambil permintaan, dan bahkan mendapatkan diskon biaya penginapan di
Ibukota.
Selain itu, jika
menjadi petualang yang bernaung di bawah seorang bangsawan, pengaruh suaranya
pun mungkin akan bertambah.
◇◇◇
Distrik pandai
besi yang dipenuhi uap di mana-mana adalah tempat yang dikunjungi tidak hanya
oleh para petualang, tapi juga ksatria, pelajar yang bercita-cita menjadi
ksatria, hingga koki yang mencari pisau tajam.
Karena
gang-gangnya yang sempit dan banyaknya tanjakan, kereta kuda tidak bisa
digunakan.
Mereka bertiga
berjalan kaki menuju bengkel tujuan. Di tengah jalan, Edgar menyinggung soal bola kristal yang dihancurkan
Ren.
"Saya sudah
menduga kalau itu Ren-sama pasti akan cepat. Tapi saya tidak menyangka Anda
akan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Hari di mana Anda menguasai Aura
mungkin sudah tidak jauh lagi."
"Tidak aneh
jika kamu segera mencapai level Swordsman Class, atau bahkan Swordmaster
Class."
Ren menjawab
pujian Edgar dan Ulysses dengan rendah hati, "Aku akan berusaha keras agar
bisa mencapainya."
Selanjutnya,
topik beralih ke agenda utama hari ini.
"Pandai besi
seperti apa yang akan kita temui nanti?"
"Tentu saja
pandai besi yang sangat hebat. Masalahnya, dia itu eksentrik dan malas
bekerja."
Ulysses
mengangkat bahu dengan gerakan teatrikal yang, dikombinasikan dengan parasnya
yang rupawan, tampak sangat artistik.
"Kedengarannya
dia punya jiwa pengrajin yang kuat ya."
"Kamu
terlalu memujinya. Memang kurcaci itu tipe yang memilih pekerjaan, tapi dia
tipe pria yang menggunakan alasan 'jiwa pengrajin' untuk
bermalas-malasan."
"……Apa
dia benar-benar mau memproses tanduk Asval?"
"Entahlah.
Aku sudah mengirim surat berkali-kali tapi tidak pernah dibalas. Haha! Mungkin cuma dia satu-satunya orang
yang berani mengabaikan suratku!"
Bagi
Ulysses yang menyukai orang-orang unik, hal ini sepertinya sangat menyenangkan.
Sambil menyimpan harapan itu
dengan sedikit helaan napas, Ren melihat sekeliling.
(Kalau dari sini,
Distrik Akademik terlihat jelas ya.)
Dari area yang
penuh tanjakan ini, mereka bisa melihat ke bawah ke arah distrik tempat
sekolah-sekolah berjejer. Institusi Militer Kekaisaran yang memancarkan wibawa
paling besar pun berdiri megah di sana, sama seperti hari itu.
"Bagaimana?
Apa kamu jadi berminat untuk masuk ke akademi itu?"
Menyadari Ren
sedang menatap ke arah Distrik Akademik, Ulysses bertanya sambil mengenang
pertemuan mereka di musim panas lalu.
Sejak
malam itu, Ren sering memikirkan hal ini. Ada hal-hal yang ia perbaiki setelah
mendengar kata-kata Ulysses, dan ia pun mulai menemukan beberapa jawaban
tentang apa yang harus ia lakukan ke depannya.
"Yah,
bisa dibilang aku jadi sedikit lebih positif."
"Hee…… berbeda dengan sebelumnya, sekarang kamu bisa
menjawab dengan cukup jelas ya."
"Karena saat aku membandingkan kekurangan dan
kelebihannya, kelebihan yang didapat memang jauh lebih banyak."
"Misalnya,
kelebihan yang kuberikan padamu?"
"Eh?
Memangnya Tuan Ulysses juga akan memberiku sesuatu?"
Melihat wajah
polos Ren saat mengatakan itu, Ulysses berkata dengan nada lemas seolah
kehilangan tenaga.
"Jika kamu
ada di sana, aku pun bisa tenang soal Fiona. Apa kamu tidak berpikir kalau aku
akan memberikan kemudahan bagimu?"
"Sama sekali
tidak ada niat terselubung soal Fiona-sama. Tapi kalau diberi kemudahan, aku
sih senang-senang saja."
"……Hmm,
pantas saja kedua gadis itu jatuh cinta padanya."
Suara gumaman itu
hanya terdengar oleh Edgar.
Ren yang hendak
bertanya kembali justru disela oleh Edgar yang berkata, "Bagi kami, bisa
mengenal Ren-sama adalah harta yang sangat berharga," membuat Ren bingung
mendapatkan pujian mendadak.
"Sepertinya
aku baru saja mendengar alasan kenapa aku ingin selalu berada di pihakmu. Ayo
kita kembali ke topik utama."
Ulysses berkata
dengan suasana hati yang baik.
"Kamu itu
baik hati. Sebelumnya, kamu yang bilang kalau akademi itu tidak pantas untukmu
sebenarnya sedang berusaha melindungi diri sendiri karena suatu alasan. Tapi,
sejak malam itu, matamu memancarkan sebuah perasaan tertentu."
Ren tidak
membantah, ia malah menunggu Ulysses mengucapkan jawabannya.
"────Yaitu
pengabdian. Kamu lebih memikirkan keberadaan orang lain daripada dirimu
sendiri."
Meskipun begitu,
alasan Ren menghindari Institusi Militer Kekaisaran tetap menjadi misteri.
"Benar-benar
ya, sampai sejauh mana Anda bisa membaca pikiranku?"
"Sampai
sejauh mataku bisa memandang," Ulysses tersenyum.
Ren sekali lagi
bersyukur bahwa pria ini bukanlah musuh.
"Aku sangat
menghargai pengabdianmu itu. Itu setara dengan keberanianmu untuk mengubah
prinsip dasar pemikiranmu, sebuah kristalisasi dari kebaikanmu. Justru karena
aku mengenalmu, tidak aneh jika kamu membuang pemikiran lamamu dan mengincar
akademi itu──── itulah yang kupikirkan."
Bagi Ren yang
kini memiliki banyak hal untuk dilindungi, dirinya sendiri tidak lagi berada di
puncak skala prioritasnya.
Orang tuanya,
desa, Licia, dan Fiona berada jauh di atasnya. Seandainya Ren hanya terobsesi
untuk melindungi dirinya sendiri, pemikirannya pasti masih sama seperti saat ia
masih bayi.
(Apalagi ada
masalah Gereja Iblis yang pergerakannya lebih cepat dari perkiraan.)
Takdir baru yang
tercipta karena Ren menyelamatkan nyawa Fiona.
Seperti yang
telah ia pikirkan berkali-kali hingga hari ini, diam tanpa melakukan apa-apa
adalah kebodohan yang nyata, dan hanya akan membuat segala sesuatunya
terlambat.
Ia sudah sering
mengalami kerugian akibat hal itu. Ren bersumpah tidak mau hal seperti itu
terulang lagi.
Karena itulah ia
memantapkan tekad. Keputusannya bukan hanya soal pengabdian atau pengorbanan
diri, tapi juga bukti bahwa ia waspada terhadap situasi yang tidak terduga.
Jika memikirkan
orang-orang yang harus dilindungi, tidak ada pilihan lain selain Institusi
Militer Kekaisaran.
Selain untuk
mengasah diri, tidak ada jawaban lain agar ia bisa tetap melindungi Licia dari
dekat.
"Kalau kamu
mau ikut ujian, jalur mana yang akan kamu ambil? Jalur Umum? Atau Jalur
Beasiswa Khusus?"
"Awalnya aku
pikir Jalur Umum saja sudah cukup, tapi seingatku Jalur Beasiswa Khusus punya
kebebasan waktu yang lebih banyak. Jadi kalau masuk, aku memikirkan Jalur
Beasiswa Khusus."
"Pilihan
yang tepat. Jalur Umum memang memberikan pendidikan yang cukup, tapi levelnya
masih di bawah Jalur Beasiswa Khusus. Jika kamu ingin belajar banyak hal,
jangan setengah-setengah, lebih baik masuk Kelas Beasiswa Khusus saja."
Sambil
mendengarkan kebisingan jalanan, mereka terus berjalan menuju bengkel tujuan.
"Jika itu
Kelas Beasiswa Khusus pun, kamu pasti akan lulus."
"Anda
terdengar sangat yakin, apa Anda tidak berpikir aku bisa saja gagal?"
"Tidak. Ini
hanya firasat, tapi kamu pasti akan lulus dengan nilai yang sangat
memuaskan."
"────Hanya
firasat ya."
"Firasatku
selalu tepat. Dulu, aku menang telak dalam perang dagang dengan suatu negara
juga karena firasat itu. Pada akhirnya, mengandalkan firasat itu tidak buruk
juga kok."
Dalam kasus
Ulysses, 'firasat' itu lebih seperti: "Ah, kalau situasinya begini,
akhirnya pasti akan jadi begitu"──── semacam intuisi yang dalam kondisi
tertentu terasa seperti ramalan masa depan.
Itu adalah
kata-kata yang didasari oleh informasi yang mendalam dan strategi yang matang,
sebuah keyakinan akan kemenangan.
"Ngomong-ngomong,
ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Tuan Ulysses."
"Tanyakan
saja apa pun. Apalagi kalau soal Fiona, aku akan beritahu segalanya. Tenang
saja, meskipun putriku mungkin akan malu, kamu tidak perlu khawatir! Karena
kalau itu kamu, aku sangat ingin memberitahukannya."
"Iya. Memang
ini ada hubungannya dengan Fiona-sama, tapi────"
Mendengar
pertanyaan Ren selanjutnya, Ulysses menghentikan langkahnya. Edgar pun ikut
berhenti dan mereka berdua terdiam. Ulysses mendekat setengah langkah ke arah
Ren.
"Akan
kujawab apa pun. Apa pun itu."
Suara yang
terdengar saat ia mulai berjalan lagi itu terasa memiliki emosi yang lebih
dalam.
"Aku
penasaran, apa alasan Tuan Ulysses mengizinkan Fiona-sama bersekolah di
Institusi Militer Kekaisaran?"
"……Ah, jadi
pertanyaannya ke arah sana ya."
Ulysses yang
merasa sedikit kecewa kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku sudah
menempatkan pengawal sebanyak mungkin, dan aku sendiri sudah memastikan
keamanannya. Tapi, selain itu, kamu merasa aneh kenapa dia dibiarkan jauh
dariku, kan?"
"Iya."
"Jawabannya
sederhana. Agar Fiona bisa mendapatkan kekuatan untuk melindungi dirinya
sendiri. Manusia suatu saat akan mati. Begitu juga denganku, jadi aku tidak
bisa melindunginya selamanya."
Adalah hal wajar
bagi orang tua untuk melindungi anaknya. Namun di saat yang sama, sangat
penting bagi orang tua untuk mendidik anak agar bisa melindungi diri mereka
sendiri.
Ulysses
menggerakkan bibirnya dengan ekspresi serius.
"Aku
memang sangat memanjakan Fiona, tapi aku tidak ingin menjadi orang tua yang
tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ngomong-ngomong, bagaimana
menurutmu soal Fiona? Dia manis, kan?"
Topik
berubah secara tiba-tiba. Ren tidak bisa memberikan jawaban sembarangan, tapi
sebenarnya tidak ada kemungkinan jawabannya akan buruk. Siapa pun yang
melihatnya akan setuju kalau Fiona adalah gadis yang sangat cantik dan manis.
Tentu saja, begitu pula di mata Ren.
"Menurutku
beliau adalah orang yang sangat cantik dan manis."
"Boleh tidak
kalau apa yang kamu katakan barusan kuberitahu pada Fiona nanti?"
"Hah?"
"Jangan
dipikirkan. Anggap saja itu cuma bicara sendiri."
Jelas-jelas itu
bukan bicara sendiri. Karena Ren tidak punya cara untuk mendesak Ulysses yang
berpura-pura dengan begitu gamblang, ia hanya terus melangkah dalam keheningan
yang menyusul.
◇◇◇
Tempat yang
mereka kunjungi adalah sebuah rumah batu tua yang terletak di sudut distrik
pandai besi, tempat yang sama sekali tidak tampak seperti bangunan yang akan
didatangi oleh seorang Marquis.
Dinding luarnya
dipenuhi retakan di sana-sini, dengan bekas perbaikan kasar menggunakan papan
kayu.
"Edgar,
tolong jaga pintu belakang ya."
"Baik,
laksanakan."
"Rasanya
seperti Anda sedang bilang kalau kurcaci di dalam akan melarikan diri ya."
"Memang
begitu. Kalau lengah, dia bakal kabur meskipun aku ada di depannya. Dia itu
pria yang luar biasa menyusahkan."
Bisa
punya nyali untuk melarikan diri dari pria seperti Ulysses ini benar-benar
keberanian yang hebat.
Ren jadi
sangat penasaran dengan kepribadian kurcaci tersebut, hingga jantungnya
berdegup kencang karena antusias.
Tepat saat pintu
kayu tua itu dibuka────
"JANGAN
BUKA, WOI! NGGAK ADA ORANG DI SINI!"
(Ada
orang toh.)
Ren
menyahut dengan tenang di dalam hati. Ia merasa mengenali suara barusan.
"Hahahaha!
Kamu ada di situ kan, Werlich! Ini aku! Ulysses!"
"APA────
k-kamu, pulang sana! Nggak ada yang perlu dibicarakan sama bocah ingusan kayak
kamu!"
Suara
provokatif terdengar dari bagian dalam rumah yang kotor dan penuh sesak dengan
berbagai barang.
Ulysses
melangkah masuk ke dalam rumah sambil tertawa semakin keras.
"Kukuku…… hahahaha! Hari ini aku tidak akan membiarkanmu lolos! Pintu belakang sudah dijaga,
lho!"
Suara
gaduh yang kurang bersahabat menggema dari dalam ruangan. Suara piring pecah
dan benturan logam bertemu logam.
Tak lama
setelah suara-suara itu terdengar, dari balik tumpukan sampah yang tingginya
melebihi tinggi orang dewasa, muncul sosok kurcaci yang dulu pernah dibantu
oleh Ren.
"Kalau
gitu biar aku yang habisi kam──── nng-oh!? Ternyata bukan cuma si bocah
ingusan, ada si bocah baik juga di sini!?"
"Oi,
apa maksudmu dengan 'bocah baik'?"
Kali ini
Ren tidak tahan untuk tidak langsung menyahut.
Werlich,
sang kurcaci, meredam luapan emosinya sebelumnya dan meletakkan palu raksasa
yang ia pegang ke lantai.
Melihat
palu yang diletakkan Werlich di lantai, Ren membatin. Apa dia tadi
benar-benar berniat menyerang Tuan Ulysses dengan benda itu?
"Oya?
Kalian berdua ternyata sudah saling kenal?"
"Tentu
saja. Bocah baik di sana itu sudah mengantarku sampai dekat sini. Tidak seperti
kamu, si bocah ingusan yang malah mencoret-coret rumahku. Dia ini benar-benar
bocah yang baik."
"Kapan
kejadian itu? Itu kan waktu aku masih kecil saat diajak Ayah berkunjung ke
sini."
"Aku
ini tipe pendendam, tahu! Gara-gara itu, saat aku membersihkan dinding luar,
aku jadi pakai tenaga berlebih sampai dindingnya rusak!"
"Aduh, aduh…… Ren Ashton, menurutmu siapa yang salah di
sini?"
"Tuan Ulysses," jawab Ren tanpa ragu karena merasa
tidak perlu lagi berbasa-basi, yang justru memicu tawa Ulysses.
Ulysses
tampak senang mendengar jawaban jujur itu.
"Aku
juga berpikir begitu. Aku sendiri sadar kalau kepribadianku memang agak
bengkok."
"Jadi,
ada urusan apa? Bocah ingusan membawa bocah baik────"
"Nama
saya Ren Ashton."
"────Kalau
begitu, Ren. Hei bocah
ingusan, untuk apa kamu membawa Ren ke sini?"
"Pekerjaan.
Karena Werlich sudah mengenal dia, pembicaraan ini jadi lebih mudah."
"P-pekerjaan……? Ampun, deh…… Beli makan saja rasanya
malas, apalagi kerja……"
"Jangan bicara begitu. Karena Werlich-lah yang menempa
pedang milik sang Sword King, aku baru berani menitipkan pekerjaan Ren
Ashton, sang penyelamatku, kepadamu."
"Tuan
Ulysses!? Dia yang menempa pedang sang Sword King……!?"
"Kamu tahu
pahlawan wanita yang selalu mendampingi Kaisar? Itulah orangnya."
"Iya. Pedang
itu aku yang buat."
Werlich
mengatakannya dengan nada biasa saja, seolah itu adalah hal yang memang sudah
sewajarnya.
"Dia juga
melakukan banyak pekerjaan luar biasa lainnya. Tapi seperti yang kubilang, dia malas bekerja.
Agar kemampuannya tidak tersebar luas, dia bahkan menolak penganugerahan medali
dan memilih hidup menyepi agar tidak mencolok."
"Tapi yaaa…… tetap saja aku malas kerjaaa……"
Tiba-tiba, Ren
teringat kejadian di musim panas lalu.
"Bukankah
waktu itu Anda bilang mau membuatkan sesuatu untukku?"
"Bukannya
mau cari alasan, tapi jujur saja, waktu itu aku agak mabuk. Kalau urusannya
membuatkan sesuatu untuk pendekar pedang sepertimu, ceritanya jadi lain
lagi~"
"Pendekar
pedang sepertiku? Padahal aku belum pernah menunjukkan kemampuan pedangku pada
Tuan Werlich, kan?"
"Hal seperti
itu, tidak perlu dilihat pun aku sudah tahu. Memang sudah begitu
instingnya."
Ren menatap
Ulysses di sampingnya dengan wajah bingung.
"Dalam hal
yang berkaitan dengan tempa-menempa, Werlich bisa dipercaya. Tapi, jangan
pernah percaya kalau dia meminjam uang untuk minum. Begitu dia mabuk, dia akan
lupa kalau pernah meminjamnya."
"Oi, oi,
jangan buat aku terdengar seperti orang yang berbahaya begitu, dong."
"Syukurlah
kalau pesanku tersampaikan. Tapi Werlich, yang ingin kami buatkan bukanlah
pedang. Karena dia bilang tidak butuh pedang baru, aku ingin kamu membuatkan
perlengkapan pelindung untuknya."
"Tetap saja
sama saja. Kalau materialnya tidak kuakui, mau dibayar gunung emas pun aku
tidak tertarik. Uangku sudah menumpuk tidak karuan. Bocah ingusan, kamu kan
juga punya uang, sana cari satu atau dua material hebat."
"Jangan
salah paham dulu. Materialnya sudah kusiapkan."
"Kenapa
tidak bilang dari tadi…… Jadi, material apa itu?"
Sesaat
setelah Werlich bertanya, pintu bengkel yang berantakan itu tertutup rapat.
Setelah
Edgar yang berjaga di luar berkata, "Tidak ada yang menguping,"
Ulysses mengangguk puas.
Kemudian,
Ulysses menatap Ren.
"Meskipun
sudah sedikit lapuk, kami memiliki tanduk Red Dragon Asval."
Mata
Werlich terbelalak, mulutnya menganga lebar.
"Kalau itu,
ceritanya jadi lain lagi, nih!"
Werlich
menyeringai lebar dan mempersilakan semuanya masuk ke bagian dalam rumahnya.
"Ceritakan
detailnya. Material legendaris pantas ditangani oleh pandai besi
legendaris."
Dia secara
tersirat menyatakan kesediaannya menerima pekerjaan itu.
"Jadi,
seberapa banyak yang kalian punya? Apa cuma pecahan besar?"
"Hampir
satu tanduk utuh."
"Hooh!
Benar-benar mimpi yang jadi nyata! Tinggal masalahnya, apakah material itu akan
bersumpah setia pada Ren atau tidak!"
"Material
bersumpah setia? Apa maksudnya?"
"Aku
tidak bilang material monster kelas legendaris punya kesadaran, tapi terkadang
material itu menolak penggunanya dan tidak mau mengeluarkan kekuatannya. Itu sudah jadi perdebatan lama di kalangan
peneliti, alasannya masih dalam tahap penelitian."
"Hee…… Kalau soal itu, sepertinya tidak masalah."
"Hm?"
"Ren
Ashton inilah yang telah mengalahkan Asval dan mengambil
tanduknya."
"……H-hm? Apa
kamu mau bilang kalau Asval bangkit kembali?"
"Ada banyak
kejadian rumit. Maaf, tapi jangan bertanya lebih jauh dan jangan beritahukan
hal ini pada siapa pun."
Werlich
tidak membantah dan langsung mengangguk mantap.
"Ya
sudahlah. Lalu rencananya bagaimana? Aku cuma pernah dengar dari legenda, tapi
tanduk Asval itu pasti sangat besar, kan? Kalau cuma buat perlengkapan
pelindung Ren, sisanya bakal banyak sekali."
"Kalau aku,
inginnya material itu bisa dihabiskan semua."
"Aku juga
setuju."
Baik Ren maupun
Ulysses merasa bingung bagaimana menghabiskan sisa tanduk tersebut. Namun,
membuang material sehebat itu benar-benar hal yang mustahil.
"Apa
sebaiknya sisa materialnya dijadikan perlengkapan orang lain atau pedang
saja?"
"Bukan
berarti tidak bisa dibuat, tapi karena tanduk itu punya 'kesetiaan', aku tidak
menyarankannya. Lebih baik menambang Orichalcum di Benua Iblis, hasilnya
bakal jauh lebih bagus. Perlengkapan yang paling pas digunakan adalah yang
terbaik."
Jika begitu, sisa
materialnya benar-benar terasa sayang jika dibiarkan.
"Bagaimana kalau digunakan untuk Magic Ship atau
Magic Train? Kalau Ren juga
menggunakannya, mungkin materialnya akan jadi lebih patuh."
"Aku
tidak punya barang seperti itu. Lagipula aku tidak punya uang untuk
membelinya."
"Eh? Ren Ashton, kalau soal Magic Ship, itu
urusan mudah kan?"
Ulysses tidak berniat memaksa. Ia tidak mengatakannya
berdasarkan nilai materi yang dangkal, melainkan murni serius.
"Keluarga
Clausel mengelola Erendil, kan? Kalau begitu, mereka pasti punya satu kapal."
"Anu…… kalau memang punya, tidakkah Anda berpikir kalau
kami akan menggunakannya untuk bepergian?"
"Mungkin tidak bisa. Seingatku, Magic Ship milik
keluarga Clausel sudah rusak."
Rusak? Sementara Ren memiringkan kepalanya bingung,
Ulysses menatap Werlich. Tampaknya ia sama sekali tidak sedang berbohong atau
bercanda.
"Aku tidak yakin Baron Clausel sudah membuangnya. Harusnya masih disimpan di Taman Langit.
Jadi Werlich, bagaimana kalau sisa materialnya digunakan untuk memperbaiki Magic
Ship itu?"
Werlich
pun mengelus jenggot panjangnya yang bergoyang.
"Begitu
ya. Lemuria, kah."
◇◇◇
Di atas
landasan tempat Magic Ship berlabuh di Taman Langit, lima orang berdiri
di sana. Mereka adalah Ren, Ulysses, Werlich, Edgar, dan Lessard.
Sudah
cukup lama waktu berlalu sejak pembicaraan di distrik pandai besi.
Sekarang
sudah lewat tengah malam, dan tidak ada satu pun pengunjung di Taman Langit
ini.
Di tengah
kegelapan dan kesunyian, rombongan itu berbincang sambil diterpa angin malam
musim dingin yang menusuk.
"Jadi,
Lemuria masih belum dibuang, ya?"
"Benar. Saya
merasa tidak sopan jika membuang Magic Ship pemberian Yang Mulia Kaisar,
jadi saya berencana memperbaikinya suatu saat nanti."
Semuanya
melangkah menuju salah satu sudut dari jalan panjang yang menyerupai landasan
pacu ini.
Jangan-jangan,
itu ya.
Ren melihat
sesuatu yang baru pertama kali ia saksikan di Taman Langit. Dari siluetnya di
balik kain penutup, kapal itu tampak berbentuk seperti peluru.
Ketika beberapa
ksatria keluarga Clausel menyingsingkan kainnya, sebuah Magic Ship
muncul persis seperti dugaan Ren.
Ukurannya jauh
lebih kecil dari Magic Ship pengangkut penumpang pada umumnya.
Bagian atasnya
yang berbentuk peluru memiliki sayap transparan yang terlipat layaknya sirip
ikan, dengan dekorasi mewah di sekujur tubuhnya.
Bagian bawahnya
merupakan area penumpang yang terhubung, mengingatkan pada kapal layar tanpa
layar dan tiang. Benar-benar agung layaknya kapal terbang.
"Saat
dipercaya mengelola Erendil, Lemuria ini diberikan kepada kami. Karena kata
teknisi Magic Ship sebaiknya dirawat di tempat yang terkena angin, kami
meletakkannya di sini."
"Ouh. Itu
karena material yang digunakan. Karena memilih material monster yang ahli
mengendalikan angin, memang lebih baik diletakkan di luar. Terima kasih sudah
merawatnya."
Lemuria adalah
kapal kecil yang dulu dibuat oleh Werlich atas permintaan Kaisar sebelumnya.
Kaisar saat itu
berhenti menaikinya setelah kesehatannya menurun, dan setelah itu sempat
dinaiki oleh anggota keluarga kekaisaran lainnya.
Namun, karena
penggunaan paksa yang berulang-ulang, tungku mesin dan area sekitarnya
terbakar, sehingga membutuhkan perbaikan besar.
Akibat kekurangan
dana dan material, kapal itu akhirnya ditelantarkan di Taman Langit tanpa
pernah diperbaiki.
Saat Lessard
menjadi penguasa Erendil, kapal tersebut diserahkan kepadanya beserta hak
kepemilikannya.
"Boleh aku
perbaiki Lemuria ini? Aku
tidak butuh uang. Anggap saja seperti mengobati luka anak sendiri."
Yah,
meskipun aku tidak punya anak sih, tawa sang kurcaci.
"Memperbaikinya
tidak masalah, tapi saya tidak bisa menerima jika Anda tidak dibayar sama
sekali."
"Jangan
dipikirkan. Kalau memang harus, beri saja aku makanan enak dan minuman
keras."
Menyiapkan
makanan lezat dan minuman berkualitas tinggi tentu jauh lebih murah dibanding
biaya perbaikan normal.
Apalagi jika yang
memperbaikinya adalah Werlich, nilainya tidak bisa diukur dengan uang.
Lessard menatap
Ulysses dengan ekspresi bingung, namun Ulysses hanya tersenyum seolah
menyuruhnya untuk tidak khawatir.
"Ngomong-ngomong,
Saintess di tempat Tuan Lessard ada di sini kan? Pedang untuk Saintess itu akan
segera selesai, jadi nanti akan kubawakan."
Berbeda dengan
Ren yang terkejut mendengar pembicaraan mendadak itu, Lessard tampak sudah
tahu.
"Terima
kasih banyak. Maaf saya terlambat menyapa secara langsung. Mengenai pedang
putri saya────"
"Sudahlah,
jangan pakai salam kaku begitu! Aku paling tidak suka itu, makanya aku tidak
mau menemuimu sampai hari ini!"
Ternyata pria
inilah pandai besi yang rencananya akan ditemui oleh Licia dan yang lainnya di
distrik pandai besi tempo hari.
"Weiss dulu
pernah menolongku saat aku terjebak badai salju di gunung dekat sini sewaktu
dia masih di pengawal istana. Aku berjanji akan membuatkan pedang untuknya
suatu saat nanti. Tapi si bodoh itu bilang tidak butuh karena sudah punya
pedang pemberian."
(Berarti, pedang itu dibuat oleh Tuan Werlich, ya.)
Meskipun hanya berdasarkan pengetahuan dari era Seven
Heroes, pedang yang dimiliki Saintess Licia masih terekam jelas dalam
ingatannya.
"Omong-omong Werlich, di mana kamu akan memperbaiki
Lemuria?"
"Pakai dok yang ada di Taman Langit ini saja. Tuan
Lessard tinggal menutup sebagian area agar hanya kami yang bisa masuk, itu
sudah cukup."
"Tadi bukannya kamu bilang lebih baik dirawat di tempat
terbuka?"
"Namanya juga mau diperbaiki, ya harus dipindah, dong.
Ke depannya aku yang akan berusaha merawatnya. Jadi Tuan Lessard, tolong segera
pindahkan Lemuria dalam waktu dekat. Selain itu, begitu tanduk Asval
sampai, aku akan buatkan dulu perlengkapan pelindung untuk Ren. Sebulan juga
jadi."
Ren teringat kembali soal pedang yang materialnya harus
memiliki kesetiaan. Saat Ren menanyakan keraguannya, Werlich menjawab,
"Situasinya berbeda."
"Aku tidak bilang kualitas material itu buruk. Hanya
saja, agar bisa dimanfaatkan maksimal, memang paling bagus jika Ren yang
menjadi pusatnya. Tapi untuk Magic Ship, material tulang atau tanduk
bangsa naga itu sangat cocok karena kuat dan ringan."
"Ngomong-ngomong, bagaimana cara menggunakan tanduk Asval
untuk Magic Ship?"
"Bisa dengan melarutkan permukaannya dengan obat agar
rata, atau menyerutnya menjadi satu pilar utuh. Kali ini, itu akan jadi material sempurna untuk memperkuat area sekitar
tungku mesin. Tanduk dan tulang bangsa naga itu kegunaannya sangat
banyak."
Werlich menjamin
bahwa jika mereka bisa memasang tungku mesin berkekuatan tinggi, ketahanannya
pun akan meningkat pesat.
"Kalau
begitu Tuan Lessard, tolong segera urus pengiriman tanduk Asval-nya."
Di tengah malam
yang semakin larut, sebuah kesepakatan besar tercapai dalam sekejap. Sambil
memperhatikan Werlich dan yang lainnya yang tertawa riang, Ren menatap langit
malam yang dingin.
(Aku harus
memberitahu Licia-sama dan yang lainnya soal rencanaku masuk Institusi Militer
Kekaisaran.)
Semua ini bukan
demi dirinya sendiri, melainkan untuk melindungi segalanya yang berharga. Ia
tidak bisa lagi menghindar atau melarikan diri.
◇◇◇
Suatu sore,
Werlich mengunjungi kediaman Clausel. Setelah bertukar salam rindu dengan Weiss
di lobi rumah, Werlich segera pergi meninggalkan sebuah kotak dari kayu putih.
"Tuan Werlich benar-benar tidak berubah. Nona Muda,
silakan diterima."
Licia menerima pedang lurus bersarung dari tangan Weiss. Ia
mencabut pedang itu dari sarungnya, menampakkan bilah pedang putih tanpa noda
sedikit pun.
"Indah sekali……"
Licia bergumam melihat kecantikan pedang lurus tersebut. Melihat profil samping Licia yang
terpesona, Weiss tersenyum tipis.
"Namanya
adalah Byakuen, pria itu mengatakannya saat hendak pergi tadi."
Itu adalah pedang
yang dalam legenda Seven Heroes bisa dibilang menjadi identitas bagi Licia,
pedang dengan performa kelas tertinggi dalam cerita tersebut.
Byakuen: Sebuah karya agung yang dibuat dari Orichalcum
yang ditempa dalam waktu lama dan dipoles dengan air suci dari Silver Palace.
Ketajamannya adalah yang terbaik di antara pedang-pedang ternama. Karena
memiliki sifat menolak mana penggunanya, sangat sedikit orang di dunia ini yang
bisa menguasai Byakuen.
Itulah penjelasan
tentang Byakuen yang diingat oleh Ren. Pemain tidak memiliki cara untuk
mendapatkan pedang itu.
Sama seperti Licia
yang disebut sebagai heroine yang tidak bisa ditaklukkan, pedang itu adalah
keberadaan yang tak tergapai.
Ren dan
Weiss berjalan mengikuti Licia yang melangkah riang dengan hati berbunga-bunga.
(Kupikir,
hari ini adalah waktu yang tepat.)
Ren
merasa lebih baik mengatakannya sebelum Licia berangkat untuk latihan membasmi
monster.
Karena
latihan besok adalah latihan bagi Licia untuk ujian masuk Kelas Beasiswa Khusus
Institusi Militer Kekaisaran, maka momen saat Ren juga sudah memantapkan tekad
untuk ikut ujian yang sama seharusnya adalah waktu yang paling pas. Ia tidak
ingin melewatkan kesempatan ini dan harus mencari waktu yang tepat lagi.
◇◇◇
Malam itu, di
meja makan, Ren kembali memantapkan tekadnya sambil menikmati hidangan lezat.
Tinggal sedikit
lagi sampai ia mengutarakan keputusan yang diambil dari berbagai pertimbangan
dan dorongan dari Ulysses dan yang lainnya.
Setelah mulai
berbincang santai seusai makan bersama Licia dan Lessard, Ren mencari waktu
yang tepat, lalu berkata:
"Ada sesuatu
yang ingin saya sampaikan kepada Anda berdua."
Mendengar jawaban
dari Licia dan Lessard yang duduk di sampingnya, Ren menarik napas dalam-dalam.
Saat ia
mengutarakan kata-kata yang telah ia tetapkan di dalam hati, suaranya terdengar
jernih tanpa keraguan.
"Saya juga
memutuskan untuk mengincar Kelas Beasiswa Khusus di Institusi Militer
Kekaisaran."
Kata-kata itu
membawa kesunyian di meja makan. Licia menatap Ren, lalu bergumam:
"……Aku bisa
bersekolah bersama Ren?"
"Yah, itu
pun kalau aku lulus."
"Ih! Kalau
soal itu, aku pun sama tahu!"
Saking senangnya, Licia sempat memeluk Ren yang duduk di sampingnya sejenak. Namun ia segera merasa malu, pipinya merona merah, dan ia pun langsung memalingkan wajahnya.



Post a Comment