Chapter 10
Mendengar Kabar Tak Terduga dari Orang-Orang
Tak Terduga
Akhir Mei telah
tiba, dan ujian pertama bagi Ren dan Licia pun dilaksanakan.
Begitu selesai,
semuanya terasa begitu cepat. Mereka berdua meninggalkan lokasi ujian dan
berjalan menyusuri Ibu Kota dengan santai seperti biasanya.
Ujian
berikutnya akan diadakan pada bulan Juli, lalu September, dan November. Setelah
itu, ujian akhir telah menunggu di bulan Januari tahun depan.
"Karena
ujian sudah selesai, bagaimana kalau sore ini kita ke markas Shishi Seicho?
Akhir-akhir ini kita jarang menggerakkan tubuh."
"Mau!"
Selain sebagai
penyegaran, Licia merasa senang karena Ren yang mengajaknya.
Licia juga
merupakan pemilik bakat istimewa yang disambut hangat oleh para ksatria Shishi
Seicho. Entah sudah berapa kali mereka berdua menginjakkan kaki di sana.
Sebagai gadis
pekerja keras, pertumbuhannya tidak kalah dari Ren; ia terus berkembang dengan
kecepatan yang tak tertandingi oleh orang biasa.
Belakangan ini,
ia sudah hampir mencapai tahap di mana ia bisa menggunakan teknik Matoi
(selubung mana) pada tangannya, sama seperti Ren dulu.
Bum! Sebuah suara tumpul terdengar saat pedang
raksasa milik seorang pria jatuh ke tanah. Pria itu adalah sosok berbadan besar
yang juga pernah beradu pedang dengan Ren di hari Ren menguasai teknik Matoi.
"Sebenarnya,
terbuat dari apa tubuhmu itu?"
Pria itu terduduk
di tanah dengan wajah kelelahan. Napasnya tersengal-sengal dan seluruh tubuhnya bersimbah keringat.
"Kalau
ditanya terbuat dari apa…… aku hanya bisa bilang, seperti yang Paman lihat sekarang……"
Ren mengulurkan
tangan untuk membantunya berdiri.
Namun, pria itu
menolak dengan sopan. Sepertinya ia masih ingin beristirahat sambil duduk.
"Usahamu
benar-benar di luar nalar. Bagaimana bisa tubuhmu bergerak sejauh itu……? Saat
musim dingin lalu, aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau akulah yang akan
tumbang lebih dulu."
"Aku harus
berusaha keras, kalau tidak, Nona Licia akan segera menyalipku."
Ren
berucap demikian sambil memandang sosok Licia yang sedang mengayunkan pedang di
tempat lain.
◇◇◇
Minggu
berikutnya, langit Ibu Kota tertutup awan abu-abu, dan hujan mulai turun
rintik-rintik.
Hari itu, Ren
baru saja menyelesaikan sebuah prosedur di Akademi Militer Kekaisaran.
Begitu ia keluar
dan membuka payung, seseorang memanggilnya setelah ia melangkah beberapa
tindak.
"Ren-kun.
Selamat atas pendaftaran ujian tahap keduanya."
Itu adalah Fiona,
yang mengenakan seragam musim panas Akademi Militer Kekaisaran.
Karena Ibu Kota
hari ini diguyur hujan, cahaya matahari yang menyilaukan tidak sampai ke sana.
Sebagai gantinya,
sosok Fiona dalam balutan seragam musim panas tampak begitu bersinar. Kemeja
lengan pendeknya terdorong oleh lekuk dadanya yang mulai terbentuk.
Keanggunan yang
tersirat itu seolah dipertegas oleh butiran air hujan yang menempel di lengan
atasnya.
"Ini surat
titipan dari Ayah. Maaf…… sepertinya hari ini Edgar juga sedang sibuk,
jadi aku yang membawakannya sebagai gantinya."
"Jangan
dipikirkan. Ini surat untuk Tuan Lezard, kan?"
"Iya,
begitulah yang kudengar."
"Baiklah.
Akan kusampaikan dengan baik kepada Tuan Lezard. Kalau begitu, mari kita pergi."
"Pergi ke
mana?"
"Tentu saja,
mengantar Nona Fiona kembali ke asrama putri."
"Duh…… nanti Ren-kun malah harus kerja dua kali,
lho?"
"Tidak
apa-apa. Tolong jangan dipikirkan."
Keduanya
berbincang sambil berjalan.
Awalnya Ren ingin
membahas soal surat itu, tapi karena belakangan ini mereka jarang punya
kesempatan bicara, mereka memulai dengan topik ujian tahap pertama Ren.
Ren lulus dengan
hasil yang memuaskan, dan Fiona sudah tahu bahwa Ren berhasil melewati tahap
pertama.
Tentu saja,
mengingat Ren sudah mendaftar untuk ujian tahap kedua.
"Bagaimana
hasil ujian tahap pertamanya?"
"Yah,
syukurlah aku dan Nona Licia sama-sama mendapat nilai sempurna."
"Luar biasa!
Aku sudah yakin kalian berdua pasti lulus, tapi tidak menyangka kalau nilainya
sempurna……! Kalau begitu, ujian tahap kedua──── tidak! Ujian akhir pun pasti
akan baik-baik saja!"
"Kuharap begitu…… Ngomong-ngomong, bagaimana dengan
ujian tahap pertama Nona Fiona?"
Ren merasa pertanyaannya mungkin kurang sopan, dan ia
menyesal tepat setelah mengucapkannya.
"Ah, lupakan saja!" Ren mencoba meralatnya dengan
terburu-buru, namun Fiona hanya tersenyum malu dan menjawab bahwa ia juga
mendapat nilai sempurna.
"Ahaha…… karena dulu fisikku lemah, tidak banyak yang
bisa kulakukan selain belajar……"
Suaranya yang sedikit merendah membuat Ren agak sulit
menanggapi.
Ren pun menjawab, "Itu adalah buah dari usaha keras
Nona Fiona."
Fiona yang dipuji tampak tersipu malu dengan tulus, membuat
rambut hitamnya yang selembut sutra bergoyang pelan.
"Ngomong-ngomong, sepertinya Tuan Ulysses akhir-akhir
ini sangat sibuk, ya."
"Ayah? Benar, beliau memang terlihat sangat
sibuk."
"Apakah karena keributan tempo hari makanya tidak ada
kabar sama sekali……"
Fiona
yang berjalan di samping menatap profil samping wajah Ren. Melihat Ren yang
tampak semakin dewasa, pipinya merona merah.
Ia
menempelkan tangan ke pipi untuk menyembunyikan rona merah itu. Di sampingnya,
Ren menyadari bahwa ia sempat terdiam sejenak.
"Ah,
maaf. Aku malah
melamun."
Begitu Ren
menoleh ke arah Fiona, mata mereka bertemu.
"────A-Aku
tidak melihat apa-apa, kok!"
"Eh?"
"Ti-Tidak!
Bukan apa-apa! Aku hanya salah paham sendiri……!"
Lebih dari apa
pun, Ren ingin tahu alasan mengapa Ulysses dan Radius sangat diam.
Ren sedikit
memiringkan kepalanya menanggapi ucapan Fiona yang tampak salah tingkah, namun
ia kembali tenggelam dalam pikirannya.
(Padahal dulu
sudah kukirimi surat, tapi jawabannya malah menghindar……)
Ia pernah
bertanya melalui surat kepada Ulysses tentang kelanjutan masalah kelompok
bandit tersebut.
Jawaban Ulysses
hanyalah, "Jangan khawatir!", yang jika diringkas intinya seperti
itu. Sisanya hanya berisi obrolan ringan atau pujian berlebih untuk Fiona.
"Tapi
Ren-kun, kenapa kamu begitu penasaran dengan kabar Ayah?"
"Anu, apakah
Nona Fiona sudah dengar kabar bahwa Kultus Raja Iblis mungkin bersembunyi di
balik kasus kelompok bandit itu?"
Fiona
mengangguk mantap.
"Aku
mengkhawatirkan hal itu. Tuan Ulysses kabarnya bekerja sama dengan Radius untuk
bergerak, tapi sama sekali tidak ada kabar."
"……Maaf.
Nama yang barusan kamu sebut itu, Pangeran Ketiga, kan?"
"Benar."
"Eh!? Kenapa
kamu memanggilnya tanpa gelar!?"
"Radius
sendiri yang menyuruhku memanggilnya begitu, jadi kupikir lebih baik aku tidak
sungkan lagi."
Ren
memanggil Pangeran Ketiga tanpa gelar, dan sang Pangeran sendiri yang
mengizinkannya.
Fiona
benar-benar tidak habis pikir dengan fakta ini.
"Padahal
aku juga tidak keberatan dipanggil tanpa gelar…… terus, gaya bicaranya
juga……"
Ia
bergumam pelan sambil mengenang interaksinya dengan Ren di Pegunungan Balder.
Ia merasakan
semacam rasa iri terhadap Pangeran Ketiga.
"……Ah,
benar. Ren-kun."
Fiona mengatakan
sesuatu yang baru saja ia ingat.
"Kabarnya,
benda yang dicuri sebelumnya adalah dokumen-dokumen yang disimpan di setiap
bengkel."
Apa yang Fiona
katakan adalah isi pembicaraan antara Ulysses dan Radius saat mereka bertemu di
Eupeheim tempo hari.
Semua dokumen
yang dicuri berisi informasi tentang alat magis yang dibuat oleh berbagai
perusahaan dagang atau pengrajin alat magis.
Fakta yang
mencuat adalah seolah-olah hanya informasi mengenai alat magis yang terpasang
di seluruh kota sajalah yang menjadi sasaran.
"Apa mereka
sedang mencari celah dalam sistem keamanan?"
Ren mengucapkan
kalimat yang sama dengan yang diucapkan Radius waktu itu.
Namun Fiona
segera menyanggahnya, "Aku rasa tidak sesederhana itu."
"Sebab,
mereka adalah Kultus Raja Iblis. Aku tidak yakin orang-orang yang berani
melakukan hal gila di Pegunungan Balder hanya akan berhenti setelah menemukan
celah keamanan."
Setelah itu,
mereka berdua terdiam dan berpikir sejenak.
Memang benar
bahwa mereka mungkin mencari celah keamanan, karena banyak dari informasi yang
dicuri bersifat rahasia. Terutama informasi yang didapat dari ahli pemecah
kutukan yang ditangkap Edgar atas perintah Ulysses.
Hanya
segelintir orang yang mengetahuinya.
(Sebenarnya,
apa tujuan mereka?)
Dalam
perjalanan pulang, Ren terus tenggelam dalam pikirannya di atas kereta magis
yang bergoyang.
◇◇◇
Di dalam
sebuah kereta kuda yang berhenti di suatu tempat di Ibu Kota.
Radius
dan Ulysses bertemu secara rahasia untuk bertukar pendapat mengenai insiden
kelompok bandit yang terjadi pada musim semi lalu.
"Nona
Chronoa akan pulang pada bulan Oktober. Masuk akal jika mereka ingin bergerak
sebelum itu."
"Tapi
aku tidak mengerti. Apakah mereka lupa akan keberadaan Sword King yang ada di
istana?"
"Mungkin
mereka berpikir bahwa beliau tidak akan pernah meninggalkan sisi Yang Mulia
Kaisar. Atau mungkin, mereka merasa cukup jika hanya bisa mengulur waktu
sebentar saja."
"……Hmm,
mungkin itu tidak sepenuhnya salah. Raja Pedang memang jarang sekali
meninggalkan istana kecuali untuk urusan yang sangat mendesak."
"Kalau
begitu, masalahnya adalah di tahap mana kita akan menyergap mereka."
Berbeda dengan
para bandit, Kultus Raja Iblis masih belum menampakkan ekornya.
Jika mereka tidak
bisa diselidiki sampai musim panas—saat mereka diperkirakan akan beraksi—maka
pergerakan Radius dan Ulysses pun harus berubah.
"Ulysses,
kau ingat apa yang kita bicarakan sebelumnya, kan?"
"Tentu saja.
Kali ini, kitalah yang akan memancing mereka."
"Benar.
Dalam situasi ini, tidak ada pilihan lain selain kita yang memancing mereka
keluar dan menghancurkan mereka."
Percakapan mereka
pun berlanjut.
◇◇◇
Hari itu cuaca
sangat panas tidak seperti biasanya. Ibu Kota, maupun Erendil, dipenuhi oleh
orang-orang yang mencari es serut atau camilan dingin di pinggir jalan.
Di hari seperti
itu, Licia mengunjungi kamar Ren sambil menggendong Kukul yang tampak lengah di
dadanya.
Wajah Kukul yang
ada di pelukan Licia terlihat bengong.
"Ada apa
tiba-tiba?"
"Mandi."
"Hah…… mandi?"
Ren menatap Licia sambil berpikir 'kenapa tidak mandi saja
sendiri?', tapi Licia segera menyela.
"Sepertinya kamu salah paham, tapi bukan aku yang
mandi, ya!"
Ia berucap sambil tertawa kecil karena kesal.
"Berarti,
Kukul?"
"Iya."
"Ku────Kuu!?"
Tubuh Kukul
tersentak kaget.
Sejak dulu, Kukul
sangat benci mandi. Namun karena ia sangat suka bermain di taman keluarga
Clausel, ada beberapa kotoran yang belum bersih sempurna di bulunya.
Baik Licia maupun
Ren ingin membersihkan kotoran-kotoran itu.
"Kuu! Ku ku
kuu!"
Kukul meronta di
pelukan Sang White Saintess, mencari bantuan dari pemuda pengguna pedang sihir
yang hanya bisa tertawa kecut.
Namun, Ren juga
berpikiran sama. Melihat Kukul bermain dengan riang di luar memang
menggemaskan, tapi sesekali ia harus dibersihkan.
Melihat
Ren mengangguk, Kukul pun tertunduk lesu di pelukan Licia.
"Haa……"
"Duh,
jangan terlalu kecewa begitu dong! Meskipun alasan 'kamu itu anak perempuan'
tidak berlaku bagi binatang suci Ratatoskr, tapi ini demi kebaikanmu!"
Wajah Kukul yang
mengerucutkan mulut itu membuat Ren ingin tertawa.
Langit begitu
cerah tanpa awan sedikit pun.
Kontras dengan
taman yang hijau rimbun terasa menyilaukan, dan kehadiran Licia di sana
membuatnya tampak semakin bersinar.
Mengenakan kemeja
tanpa lengan khas musim panas, ia terlihat lebih dewasa dibanding saat musim
semi lalu.
Sebuah tong kayu
besar diletakkan di atas rumput hijau yang segar. Air hangat untuk mencuci bulu
Kukul telah dituangkan ke dalamnya.
"Ren,
ternyata kamu di sini."
Lezard
datang dari dalam kediaman. Karena
hari ini panas, ia juga tidak mengenakan jasnya.
"Aku ingin
meminta tolong mengantarkan surat ke pos ksatria…… oh, apa kalian sedang
memandikan Kukul?"
Ren sempat
terdiam karena merasa tidak enak jika harus menolak.
"Tidak
apa-apa kok. Aku akan dibantu Yuno, jadi Ren antarkan saja suratnya."
"Baiklah.
Kalau begitu, aku permisi sebentar."
"Maaf ya.
Ini urusan mendesak."
Ren segera
menerima surat itu dan langsung meninggalkan kediaman.
Lezard tersenyum
minta maaf kepada Licia yang ditinggal sendirian, lalu kembali ke ruang
kerjanya. Tak lama, Yuno datang dan mulai melarutkan sabun khusus bulu ke dalam
tong air hangat.
Satu, dua
gelembung sabun beterbangan tertiup angin sepoi-sepoi.
◇◇◇
Dari depan
gerbang kediaman pun, gelembung-gelembung sabun itu terlihat melayang.
Seorang
gadis bangsawan baru saja tiba di sana dengan diantar oleh Edgar.
Fiona
Ignat. Ia datang ke Erendil setelah menyelesaikan urusannya di akademi,
mengenakan seragam musim panas Akademi Militer Kekaisaran.
Begitu diizinkan
masuk oleh penjaga gerbang dan hendak melintasi taman.
"Kuuu!"
"Ah, sudah!
Jangan meronta!"
Suara pekikan
lucu dan suara Licia terdengar.
Fiona memberikan
isyarat mata kepada Edgar, lalu meminta izin kepada ksatria yang hendak
mengantarnya ke dalam kediaman untuk menuju ke arah suara tersebut.
Di taman yang
dipenuhi tarian gelembung sabun, ia menemukan Licia yang sedang kepayahan.
"Nona Licia?"
Mendengar gumaman
Fiona, mata mereka pun bertemu.
Licia tersenyum malu-malu.
"A-Ahaha…… anu…… selamat pagi, Nona Fiona."
"Selamat pagi. Mohon maaf, Ayah memerintahkanku untuk
segera mengantarkan surat kepada Baron Clausel……"
Selain saling bertukar senyum kecut, Fiona berjalan
mendekati tong kayu tersebut.
Melihat Kukul yang sudah berhenti meronta dan duduk pasrah
di dalam tong.
"Lucu sekali……!"
Ucapnya dengan senyum lebar yang merekah.
Kukul yang setengah tubuhnya terendam air hangat menatap
Fiona, lalu menyahut dengan suara sayu, "Kuu."
"Aku sudah dengar dari Ayah. Inikah Kukul-chan yang sering dibicarakan
itu?"
Licia
mengangguk mantap.
"Anak
ini benci sekali mandi, jadi kami sedang berusaha keras membersihkan lumpur di
bulunya."
"Ah, ya ampun…… jadi begitu ya."
Fiona
menekuk lututnya di depan tong kayu.
Edgar
entah sejak kapan sudah asyik mengobrol dengan Yuno.
"Nona,
saya akan mengantar Tuan Edgar menemui Tuan Besar."
"Baiklah.
Kalau begitu Nona Fiona…… mumpung di sini, bagaimana kalau menemani Kukul
sebentar?"
"Boleh!?
Tapi, aku harus mengantar surat────"
"Serahkan
saja pada Edgar ini. Lagipula pihak keluarga Clausel sudah berbaik hati
menawarkan, bukan?"
Yuno dengan
tanggap memastikan tidak ada laki-laki yang mendekat ke sana.
Kini yang tersisa
di taman hanyalah dua orang gadis cantik.
Licia yang
sedikit lelah setelah perjuangan tadi.
Serta Fiona yang
memancarkan senyum seindah permata karena gemas melihat Kukul.
"Boleh aku
ikut membantu?"
Bukan sekadar
basa-basi, Fiona terlihat sangat ingin melakukannya.
Luluh oleh
keimutan Kukul, Fiona tidak bisa menahan diri lagi.
Licia tidak punya
alasan untuk menolak, dan rasanya kasihan jika ia menolaknya.
"Dia akan senang kalau diusap seperti ini."
"Wah…… sepertinya dia merasa nyaman sekali……!"
Begitu bulunya diusap oleh Fiona.
"Kuu……"
Kukul mengeluarkan suara yang terdengar nyaman, membuat
Fiona semakin gemas.
"Padahal
benci mandi, tapi kalau diusap begini kamu merasa enak ya? Ayo, ayo,
Kukul-chan."
"Kuu,
kuu~~……"
"Gali, gali.
Fufu, anak pintar ya."
Sosok putri
keluarga Ignat yang menunjukkan sisi kekanak-kanakan sesuai usianya.
Meskipun merasa
aneh sedang melakukan apa dengan rival cintanya, Licia merasa senang melihat
Fiona yang tampak ceria dan ia pun tertawa.
"Ternyata Kukul-chan cuma benci bagian awal mandinya
saja ya."
"Kalau sudah
begini sih gampang, tapi proses menuju sininya yang lama sekali."
"Aduh-aduh.
Mungkin dia tidak suka bulunya basah ya?"
Tapi begitu sudah
basah kuyup dan mulai dipijat dengan busa, ia langsung senang.
Di dalam tong
kayu yang penuh busa, Kukul membiarkan dirinya hanyut dalam kenyamanan dengan
wajah bahagia.
"Kuu!"
Lama-kelamaan,
mungkin karena terlalu senang dan bersemangat, Kukul mengubah posisinya dan
mengibaskan tubuhnya.
Cipratan
air dan busa pun meledak, mengenai pipi kedua gadis tersebut.
"Kyaa!?"
Kata yang sama
keluar dari mulut kedua gadis itu secara bersamaan.
"Duh!
Kukul!"
"Tahaha!
Dingin sekali!"
Licia yang
biasanya berpakaian rapi kini mengenakan pakaian santai karena hari ini panas,
begitu juga dengan Fiona yang kemeja musim panasnya terkena cipratan air hingga
sedikit menempel di kulit.
Di tengah tawa
manis mereka di bawah sinar matahari yang terik.
"Maaf! Aku
terlambat──── eh? Nona Fiona?"
Suara Ren yang
baru kembali ke kediaman terdengar.
Begitu ia melihat
pemandangan para gadis yang terkena air dan busa.
"……Begitu
ya. Ulah Kukul, kan."
"Ren? Kenapa
kamu malah memalingkan muka?"
"Anu…… apa ada yang salah dengan kami?"
Rok kedua gadis itu sedikit menempel di paha dan itu
terlihat kurang pantas.
Terlebih lagi, ia pura-pura tidak melihat pakaian mereka
yang mulai menerawang karena basah, lalu segera pergi mengambil handuk cadangan
yang sudah disiapkan Licia. Itu adalah handuk yang cukup besar.
Begitu handuk besar itu disampirkan di bahu mereka berdua,
ternyata cukup untuk menutupi tubuh bagian bawah mereka juga.
Meskipun mereka tampak menikmati musim panas dengan sehat,
bagi Ren sulit untuk menatap mereka secara langsung.
Mereka berdua
berada di salah satu kamar tamu di kediaman.
Mungkin karena
teringat kejadian tadi, pipi mereka berdua masih memerah bahkan setelah pakaian
mereka kering.
Ren
datang ke sana sambil mengamati situasi dengan hati-hati.
"Permisi."
Keduanya
berusaha tetap tenang dan menyambut Ren dengan senyum yang dipaksakan.
Jika
lengah sedikit saja, rasa malu tadi rasanya ingin membuat mereka membenamkan
wajah ke bantal sofa.
"Kukul
sudah tidur dengan nyenyak setelah dikeringkan."
"Be-Begitu…… syukurlah!"
"Benar sekali! Aku juga senang Kukul-chan
menikmatinya!"
Ren tidak mengomentari nada suara mereka yang naik-turun
secara tidak alami, lalu duduk di sofa tunggal di dekat mereka.
Ia tidak
membiarkan pembicaraan terputus.
"Tuan Lezard
langsung pergi ke Ibu Kota setelah membaca surat tadi. Katanya beliau akan
bertemu dengan Tuan Ulysses."
"Ayah akan
bertemu dengan Marquis Ignat? Nona Fiona, apa Anda tahu soal itu?"
"Tidak,
aku juga tidak dengar soal itu. Aku bahkan tidak tahu kalau Ayah ada di Ibu
Kota."
Setelah
kedua gadis itu saling pandang, pandangan mereka serentak tertuju pada Ren.
Ren pun
menduga, mungkin soal itu……
"Bukankah
ini tentang masalah kelompok bandit itu?"
"Mungkin
saja. Tentang masalah yang informasinya sengaja tidak sampai ke telinga kita
itu, ya."
"Tapi
jika melihat situasi ini, sepertinya Baron Clausel sudah mendengar sesuatu dari
Ayah."
"Sepertinya
begitu. Akhir-akhir ini, komunikasi dari Tuan Ulysses ke Tuan Lezard meningkat,
jadi sepertinya mereka sedang merundingkan sesuatu tanpa memberitahu
kita."
Kalau bicara soal
itu, surat hari ini juga termasuk.
Sebab
Lezard langsung berangkat ke Ibu Kota segera setelah menerima surat tersebut.
"Aku juga
merasa keributan itu bukan sekadar mencari celah keamanan saja."
Licia sudah
mendengar gambaran besarnya dari Ren.
Fiona mengangguk
pelan menanggapi ucapan tadi.
"Mungkin
Ayah dan yang lainnya berniat melakukan sesuatu dengan menggunakan informasi
yang telah didapat sebagai pijakan."
"Benar…… masalahnya, 'sesuatu' itu masih belum
jelas."
"Apakah Marquis Ignat tidak memberitahu Ren juga?"
"Saat aku bertanya melalui surat sebelumnya, beliau
menghindar. Mungkin beliau tidak
ingin melibatkan kita karena khawatir. Sepertinya beliau juga bergerak secara
rahasia dari Nona Fiona, kan."
"Iya…… Marquis Ignat memang orang yang
sangat baik."
Namun
kebaikan sang pria bertangan besi itu hanya ditujukan kepada orang-orang
tertentu saja.
Terlepas
dari itu, mereka menyadari bahwa Ulysses sedang bersikap perhatian dan mereka
menghargai kebaikan tersebut.
Fiona
membuka suara.
"Tapi,
Nona Chronoa akan pulang pada bulan Oktober. Jika musuh hendak bergerak,
bukankah itu dilakukan sebelum beliau kembali?"
"Benar juga…… Beliau adalah salah satu penyihir terbaik
di dunia, sih. Tapi, di
Leomel kan juga ada Raja Pedang?"
"Raja
Pedang tidak akan bergerak. Ayah juga berkata demikian."
Raja
Pedang tidak mengabdi pada Leomel, ia berada di negara ini karena tujuan
tertentu.
Bahkan
Kaisar sekalipun tidak memiliki hak untuk memerintahnya, dan tidak ada yang
berani menyinggung perasaannya dengan memberikan perintah.
Bahkan
bagi negara militer terbesar di dunia, Leomel sekalipun.
Sebab,
Raja Pedang adalah sosok yang absolut.
Fiona
melanjutkan.
"Aku
dengar Raja Pedang adalah sosok yang transenden. Bahkan jika organisasi bernama Kultus Raja Iblis
menampakkan diri, mungkin beliau tidak akan terlalu memikirkannya."
Kultus Raja Iblis
akan melakukan sesuatu.
Pada akhirnya,
pembicaraan kembali pada apa yang akan mereka lakukan.
(────Hmm?)
Dari
barang-barang yang dicuri, sebuah pemikiran melintasi benak Ren.
Pada
periode tertentu di Erendil, ada sebuah pekerjaan besar yang dijadwalkan.
"Nona
Licia, tolong beritahu aku tentang batu sihir di tempat itu, yang katanya akan
diganti saat musim panas."
Pertanyaan
itu sebenarnya sudah hampir merupakan jawaban.
Sebab
dari barang-barang yang dicuri, ia bisa sampai pada sebuah kesimpulan tertentu.
Licia dan
Fiona menatap Ren dengan wajah terkejut.
"Bukan.
Bukan berarti Menara Jam Besar itu adalah senjata atau semacamnya, tapi
kabarnya menara itu memiliki efek untuk mencegah monster kuat mendekati area
ini. Kamu tahu kan kalau
salah satu dari Tujuh Pahlawan adalah seorang pengrajin alat magis? Menara Jam
Besar itu juga merupakan alat magis yang diciptakan oleh orang tersebut."
Itu adalah
kata-kata yang pernah Ren dengar dari Licia sebelumnya.
Fiona juga tahu
arti sebenarnya dari keberadaan Menara Jam Besar.
"Maksudmu
mereka mengincar Menara Jam Besar."
"Apakah
mereka memeriksa situasi keamanan saat keributan di musim semi lalu demi hari
itu…… begitukah?"
Ren
memperingatkan mereka berdua bahwa, "Ini belum pasti," namun ia tidak
bisa memikirkan hal lain.
Mungkin di Ibu
Kota, Ulysses, Lezard, dan juga Radius sedang merundingkan bagaimana musuh akan
bergerak dan bagaimana cara mengatasinya.
"Haruskah
kita berpura-pura tidak menyadarinya……?"
Licia menyuarakan
apa yang dipikirkan oleh Fiona dan Ren.
◇◇◇
Malam harinya, Licia
mengayunkan kakinya di tepi tempat tidur Ren.
"Rasanya
menyebalkan ya, kita seperti ditinggalkan di luar."
Ucap Licia dengan
nada dingin, namun dengan senyum manis yang hanya ia tunjukkan pada Ren.
Ren yang duduk di
kursi menyahut.
"Apa yang
dilakukan Tuan Lezard dan yang lainnya itu memang agak samar, ya."
"Samar
apanya?"
"Mungkin
untuk saat ini, belum ada hal yang diputuskan. Mereka masih dalam tahap hendak
memutuskan, dan sedang dalam tahap mempertimbangkan bagaimana pergerakan
selanjutnya."
"Mengenai
pergerakan musuh," jawab Licia.
"Iya.
Habisnya kalau Menara Jam Besar sampai terlibat, mustahil bagi Tuan Ulysses
untuk merahasiakannya dari aku dan Nona."
Licia seolah
sedang gelisah; ia mendekap bantal Ren sambil mengayun-ayunkan kakinya. Itu
adalah gestur yang sering ia tunjukkan belakangan ini.
"Mungkin
beliau berniat menyelesaikan semuanya di luar kota. Makanya beliau berpikir
bisa merahasiakannya dari kita."
"Kalau
begitu, tidak ada alasan untuk memanggil Tuan Lezard ke sini."
"Bukankah
karena ada kemungkinan targetnya adalah Menara Jam Besar?"
"Meski
begitu, jika beliau berniat menuntaskan segalanya di luar Erendil, aku tahu
sifat Tuan Ulysses. Beliau bahkan tidak akan memberi tahu Tuan Lezard."
"……Benar
juga, ya."
Rasanya tidak
bisa dipungkiri bahwa Erendil punya keterkaitan besar dalam masalah ini.
Prediksi Ren
adalah Ulysses—atau mungkin bersama Radius—merasa perlu memberi tahu Lezard
agar tidak terjadi kekacauan besar nantinya.
◇◇◇
Di kamarnya di
Istana Kekaisaran, Radius menghela napas.
Keadaan telah
jatuh ke dalam situasi di luar dugaan. Seperti yang diprediksi Ren dan Licia,
ada rencana di mana Erendil tidak bisa tidak terlibat, namun ada satu
kekhawatiran di sana.
Singkatnya,
menjaga kerahasiaan. Agar rencana mereka tidak bocor ke pihak musuh, memancing
lawan ke tempat yang menguntungkan adalah kuncinya.
Yang dibutuhkan
adalah kekuatan tempur absolut yang bisa menjamin keamanan.
Raja Pedang.
Kekuatan tempur tertinggi di Leonel.
Radius tahu betul
fakta bahwa wanita itu tidak akan membantu atas perintah negara, meski ia sadar
tidak ada kekuatan yang melebihi dirinya.
"Apa yang
harus kulakukan?"
Radius yang
bimbang pun keluar dari kamarnya.
Ia menyusuri
koridor luas, berniat meminta kaisar untuk membujuknya.
Di ujung
jalan──── wanita itu berdiri di koridor istana.
Seolah
tahu Radius akan datang ke sana, Sword King berdiri sendirian.
Cahaya
bintang yang masuk dari jendela besar menerangi Radius, sementara Sword King
berada dalam bayang-bayang.
"Tak
kusangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."
Radius
terkejut, namun ini waktu yang tepat.
Setelah
sapaan singkat, Radius langsung menyatakan intinya.
"Apa
yang aku dan Ulysses pikirkan, apakah sudah sampai ke telingamu?"
"Ya.
Mengenai rencana kalian untuk menghunuskan pedang pada Kultus Raja Iblis,
semuanya sudah kudengar."
"Kalau
begitu aku bicara terus terang saja. Tolong pinjamkan kekuatanmu untuk operasi
yang aku dan Ulysses rencanakan."
Namun, Sword
King menjawab:
"Aku
tidak punya kewajiban untuk meminjamkan kekuatanku."
Penolakan
telak. Bahkan meski itu dikatakan oleh Pangeran Ketiga dari kekaisaran besar,
pemuda yang dikenal sebagai calon kaisar berikutnya.
Namun
Radius tidak hanya merasa kecewa, ia juga penasaran dengan situasi di mana Raja
Pedang seolah sedang menunggunya di sini.
Tidak mungkin dia
ada di sini hanya untuk menolak.
Pembuktiannya
muncul dari mulut Sword King sendiri.
"Namun,
aku ingin melihatnya dari dekat."
"Dia? Siapa
yang kau maksud?"
Radius bertanya,
dan bayangan Sword King bergoyang.
"Ren Ashton.
Jika dia berpartisipasi dalam operasi ini, aku akan mengawasi medan
perangnya."
Hal itu membuat
Pangeran Ketiga yang dijuluki jenius itu terperangah.
Bagaimana Raja
Pedang bisa tahu tentang Ren? Mengapa dia ingin Ren ikut bertarung?
Sword King tidak menjelaskan satu patah kata pun.
"Guh…… Ba-Bagaimana mungkin!?"
Seorang
ksatria Shishi Seicho terdesak di hadapan pedang hebat milik Ren.
Tak lama
kemudian, ksatria lain maju menghadapi Ren. Ya, "menghadapi".
Kini, bukan lagi
Ren yang berada di posisi menghadapi lawan. Mereka yang kini harus berjuang
menghadapinya adalah orang-orang yang baru setengah tahun lalu masih mengajari
Ren apa itu pedang hebat.
"Hah…… hah…… Ren-dono akhir-akhir ini jauh lebih hebat
dari sebelumnya."
"Apa yang
terjadi……? Auranya terasa begitu mencekam."
"Hmm…… apakah dia berniat menjadi singa sejati? Sejak
musim dingin, Ren-dono terus mengayunkan pedangnya seolah ingin menghabiskan
stamina yang tak terbatas itu."
Ren yang masih terus mengayunkan pedang membatin.
(────Lagi. Lebih kuat lagi.)
Peluh mengalir, napas terengah.
Selama tubuhnya masih bisa bergerak, ia berusaha sekuat
tenaga.
Mana pekat yang menyelimuti seluruh tubuh Ren memang tidak
terlihat. Namun, para pengguna pedang hebat itu memahaminya.
Anak laki-laki itu sedang mencoba untuk berevolusi kembali.
Secara paksa,
demi tujuan tertentu.
Mereka menahan
napas, merasa seolah diperlihatkan momen perubahan itu secara langsung.
Saat itulah, seorang pria tua yang anggun muncul.
"Edgar-san?"
Edgar yang muncul mendadak itu melepas jasnya dan mengambil
dua bilah pedang latihan di kedua tangannya.
"Kebetulan saya punya sedikit waktu luang, jadi saya
datang untuk menemui Anda. Ngomong-ngomong, tadi itu adalah permainan pedang
yang luar biasa."
"Terima kasih. Akhir-akhir ini aku memang merasa lebih
bersemangat dari biasanya."
"Hmm, apakah
ada perubahan dalam perasaan Anda?"
"Itu…… tentu saja."
Tidak ada gunanya bersembunyi.
Ren memutuskan untuk bicara jujur.
"Belum lama
sejak keributan musim semi lalu. Aku sedang mengasah kemampuan pedangku agar
siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi."
Kata-katanya
terdengar biasa.
Namun di
baliknya, Ren sengaja memberi petunjuk bahwa ia menyadari Ulysses dan yang
lainnya sedang merencanakan sesuatu.
"……Anda
tetaplah orang yang sulit ditebak."
"?
Anda bilang sesuatu?"
"Tidak,
abaikan saja."
Pria
berseragam pelayan itu memantapkan posisinya.
"Bagaimana?
Maukah Anda beradu pedang denganku setelah sekian lama?"
Itu adalah ajakan
yang tiba-tiba.
"Aku
berterima kasih, tapi ini mendadak sekali."
"Hahaha,
seperti yang kukatakan tadi, ini karena saya punya waktu luang."
"……Benarkah
begitu?"
Ren menyeka
keringat dan menatap Edgar.
Suara Edgar
terdengar sangat kuat, tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan.
"Lupakan
saja. Kalau aku bisa meminjam bantuan seorang Sword Saint, aku sudah
sangat puas."
"……Hmm."
Seperti yang
diduga, Ren menyadari bahwa orang dewasa sedang merencanakan sesuatu.
Begitu
Edgar menangkap sikap Ren tersebut, ia berkata:
"Aku
sangat menantikan pedang Tuan Ren yang telah diasah sejak musim panas
lalu────!"
Edgar-lah
yang mengambil inisiatif.
Persis
seperti hari di musim panas itu, ia menerjang ke hadapan Ren seperti angin
dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang luar biasa.
Ia mengayunkan
kedua pedangnya, melancarkan serangan beruntun kanan dan kiri.
Suara benturan
yang memekakkan telinga bergema ke seluruh ruangan.
Ren menangkis
serangan beruntun itu tanpa mengalihkan pandangan, lalu menatap Edgar tajam.
Wajah Edgar tampak masih santai.
"Aku melihat
keraguan di pedang Anda, Tuan Ren!"
"Tentu saja
begitu!"
Kilatan pedang
tajam menari berulang-ulang.
Semuanya adalah
ketajaman pedang hebat yang lahir dari tangan Ren.
"Setelah apa
yang terjadi di musim semi, Tuan Ulysses dan yang lainnya pasti melakukan
sesuatu! Ada banyak hal yang mengganjal di pikiranku, jadi wajar saja kalau ada
sedikit keraguan!"
Edgar yang sudah
menduga hal itu tersenyum lembut, namun tekanan dari dua pedang di tangannya
sama sekali tidak lembut.
Ren meringis
merasakan teknik dari petarung kuat yang jarang ia temui.
"Sampai hari
ini, Anda hanya berdiri di posisi sebagai pihak yang melindungi! Itulah
sebabnya sekarang Anda merasa goyah karena menyadari ada sisi di mana Anda
justru dilindungi!"
"Mungkin────
begitu!"
Kali ini Ren yang
membalas, mengayunkan pedangnya untuk melawan.
Perlawanan itu,
berbeda dengan musim panas lalu, kini hampir mendesak Edgar.
Telapak
tangan Edgar mulai berkeringat. Menghadapi kekuatan yang tidak bisa
dibandingkan dengan sebelumnya, ia secara alami mulai mengerahkan tenaga lebih.
(Benar-benar
anak yang terlalu baik……!)
Tentu saja Ren
memikirkan itu, tapi:
"Tapi lebih
dari itu, aku rasa aku takut jika di tempat yang tidak kuketahui, di samping
orang-orang yang harus kulindungi, terjadi sesuatu yang berbahaya!"
Seru Ren lantang.
Pedang itu kini
mengandung kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.
Kekuatan dan
ketajaman pedang yang sangat berbeda dari saat awal—seolah milik orang
lain—terus meningkat seiring dengan perasaan Ren yang perlahan mulai jernih.
Muncul sedikit
kegelisahan di wajah Edgar.
"Bahkan saat
Tuanku telah menjadi sekutu, Anda masih mengatakan bahwa Anda merasa
cemas!"
"Bukan
begitu! Edgar-san salah paham!"
"Salah
paham, katamu……?"
Ren
terkejut dengan ringannya tubuhnya sendiri.
Dalam
pertarungan melawan petarung kuat sekelas Sword Saint, bakat baru
miliknya mulai bermekaran.
"Aku
juga mengkhawatirkan Tuan Ulysses dan yang lainnya! Makanya aku merasa tidak
bisa hanya diam dilindungi!"
Satu
tebasan yang sangat kuat menyerang Edgar.
Edgar
yang menangkisnya dari depan terkejut dengan kekuatan pedang hebat Ren,
sekaligus terkejut dengan pernyataan Ren.
"────"
Edgar
tertegun.
Tuannya,
Ulysses Ignat, dikenal sebagai sosok bertangan besi dengan kekuasaan dan
pengaruh yang diakui dunia. Namun,
ia kehilangan kata-kata saat mendengar sang Tuan dikhawatirkan.
Meskipun
di masa lalu Ren pernah melindungi Fiona dan Ulysses secara tidak langsung.
"Hah-hah-hah-hah-hah!"
Edgar berhenti
dan tertawa terbahak-bahak di tempat yang agak jauh dari Ren.
Itu adalah tawa
tulus dari lubuk hatinya.
"A-Aku sudah duga bakal ditertawakan……!"
"Mohon
maafkan saya. Hanya saja, bagaimana ya…… kukkukku! Tak disangka Tuan Ren sampai
memikirkan Tuanku sedalam itu!"
"……Tentu
saja aku khawatir. Kalau lawannya Kultus Raja Iblis, aku jadi kepikiran apakah
Tuan Ulysses akan baik-baik saja."
"Luar biasa.
Kata-kata yang begitu mulia, lembut, dan hangat itu benar-benar menyentuh hati
saya."
Edgar memantapkan
kembali kuda-kuda dua pedangnya. Ren mengikuti.
"Sebenarnya,
hari ini saya datang karena ada permintaan untuk Tuan Ren."
"Ternyata
benar, bukan cuma karena punya waktu luang ya."
"Mohon maaf.
Saya hanya ingin memastikan isi hati Tuan Ren."
Sambil tersenyum,
ia menyelimuti dirinya dengan aura keberanian yang menyerupai monster
raksasa────
Pria berseragam
pelayan itu berucap dengan lantang.
"Namun
sebelum ke permintaan itu, bagaimana kalau kita selesaikan dulu pertarungan
hari ini?"
"Setuju.
Mumpung lagi seru-serunya, sayang kalau dihentikan sekarang."
Walaupun:
"Sepertinya
cuma aku yang merasa ini lagi seru-serunya."
"Sama sekali
tidak. Ini adalah adu pedang yang mendebarkan, membuat saya teringat masa muda
saya dulu."
Pedang Edgar
berubah.
Bukan hanya
teknik Matoi, tapi berubah menjadi teknik pedang hebat milik seorang
pengguna sihir.
"Jika Tuan
Ren bisa menahan serangan spesialku, maka Tuan Ren menang. Mari kita buat ini
sederhana."
"Serangan
itu berbeda dari yang tadi, ya?"
"Ya. Ini
adalah pedang dan teknik bagi mereka yang sudah kuakui sebagai petarung kuat.
Ada kemungkinan Anda akan terluka, jadi saya tidak memaksa."
Jawaban Ren sudah
pasti.
"Mohon
bantuannya."
Para ksatria yang
mengawasi merasa antusias.
Mereka menantikan
pedang macam apa yang akan ditunjukkan Ren terhadap Edgar. Ada yang menduga-duga berapa ronde
pertarungan ini akan bertahan.
Namun, mereka
semua menyadari bahwa pemikiran mereka salah besar.
"Pedang
macam apa yang akan ditunjukkan"──── ekspektasi itu terlalu rendah.
"Berapa ronde pertarungan ini akan bertahan"──── itu benar-benar
sebuah penghinaan.
Ren yang telah
menyadari perasaannya dan menghilangkan ganjalan di hatinya mulai menunjukkan
sifat aslinya.
Di dasar tubuhnya…… jika konsep bernama jiwa itu ada, di
sanalah sumber kekuatannya berdenyut.
Jika ada
"Singa yang Tak Pernah Kalah", pasti seperti ini rasanya.
"Silakan
ambil langkah pertama. Aku akan menjadikannya sebagai tanda dimulainya
pertarungan."
"Kalau
begitu──── aku datang!"
Keberanian itulah
inti sejati dari Ren.
Hanya dengan
memahami hasrat sejatinya, jalan menuju evolusi baru akan terbuka.
Ren hendak
memekarkan kekuatannya di sini.
(Tidak perlu
menahan diri. Terjang saja.)
Ren meyakinkan
dirinya sendiri, lalu akhirnya menerjang maju.
"Guh────
i-ini,"
Tubuh Edgar yang
menahan pedang Ren perlahan-lahan terdorong mundur.
Kecepatan pedang
itu lebih gesit dari gerakan Thief Wolfen. Kekuatan fisiknya memang masih kalah
dari Asvar, namun sudah melampaui dua anggota Kultus Raja Iblis yang pernah ia
lawan sebelumnya.
"Belum
selesai!"
Serangan
beruntun yang dahsyat menyerang Edgar.
Setiap
tebasan terasa sangat kuat hingga mustahil dipercaya, sebuah pedang hebat yang
merampas tenaga hingga ke inti tubuh.
Lintasan
pedangnya begitu tajam, hingga bayangan setelah pedang itu lewat tampak seperti
pedang asli.
Mengatakan
ini berbeda dari sebelumnya adalah sebuah pernyataan yang terlalu meremehkan.
Bahkan tidak bisa dibilang seperti orang yang berbeda lagi. Ini adalah
perubahan yang layak disebut sebagai konsep yang berbeda.
"Haaaaah!"
"……Berevolusi
secepat ini!"
Pedang
diayunkan dari bawah, lalu disusul satu tebasan horizontal.
Bahkan
bagi Edgar yang sudah menyaksikan ribuan lintasan pedang sekalipun:
"Menilai
kekuatan Anda setara dengan singa, ternyata memang bukanlah sebuah
kesalahan!"
Semuanya
adalah teknik orisinal milik Ren.
Bahkan
tebasan horizontal biasa pun, jika Ren yang melakukannya, akan terasa seperti
sebuah teknik tingkat tinggi.
Namun,
Edgar tetaplah petarung yang kuat. Ia masih menyembunyikan kekuatannya, dan
jika tuannya memerintahkan untuk mengalahkan Ren di sini, ia punya kepercayaan
diri untuk segera memutus kesadaran pemuda itu.
Dibandingkan dengan Ren yang terus berevolusi dengan kecepatan tak wajar, perbedaan pengalaman mereka masih terlalu jauh.
Namun
berbanding terbalik dengan itu, sebuah perasaan menjalar di punggung Edgar.
Perasaan yang tidak masuk akal karena ia merasa tidak mungkin kalah, namun rasa
takut yang tak kasatmata itu tetap menghantuinya.
Di sisi lain, ia
bahkan merasakan secercah kegembiraan.
"Fufu────
Aku masih ingat hari saat aku menuntun Anda ke sini pada musim panas itu,
seolah-olah baru kemarin terjadi!"
Edgar
beralih ke serangan penuh.
Padahal
itu adalah pedang latihan──── seharusnya begitu, namun pedang di kedua
tangannya justru menebas pedang yang dipegang Ren. Secara harfiah, ia membelah
bilah pedang itu hingga setengahnya.
"Haha,
ini konyol! Edgar-san!"
"Konyol?
Hah! Kita lihat siapa yang sebenarnya lebih konyol!"
Melihat
Ren yang terkejut, Edgar melemparkan kedua pedang di tangannya ke arah pemuda
itu.
Ren
menangkis serangan tersebut dengan pedangnya yang kini hanya tersisa gagang dan
sedikit bilah, lalu melangkah mundur.
Pada saat itu,
hawa dingin yang luar biasa menerjang dari arah Edgar.
Bilah-bilah es
yang diciptakan Edgar di udara bertujuan untuk menembus pakaian Ren dan
memakukannya ke tanah. Setelah menggenggam bilah es itu, Edgar berniat
menodongkannya ke arah Ren sebagai bentuk pujian atas pertarungan mereka.
"Akan
kutunjukkan padamu! Inilah pedang hebat milik mereka yang mampu menguasai
sihir!"
Setiap bilah es
yang ia lepaskan setara dengan tebasan pedang dari seseorang yang telah
menguasai teknik Matoi.
Karena itu,
menangkisnya adalah hal yang mustahil.
Benar,
maksudnya, Ren tidak mungkin bisa melawan.
Pertarungan
akan berakhir dengan kemenangan Edgar…… seharusnya begitu.
"────Ini
adalah pedang yang kutunjukkan padamu, sang Sword Saint. Aku juga tidak
akan menahan diri."
Hanya
"seharusnya", dan hanya sebatas itu saja.
Kekuatan
seorang pemuda yang hingga hari ini telah menumbangkan banyak musuh kuat.
Kekuatan seorang pemuda yang hingga hari ini telah melewati banyak pertarungan
hidup dan mati.
Paru-paru
yang dipaksa bekerja keras dalam pelatihan selalu terasa kering kerontang,
seolah ditinggalkan di padang pasir yang panas membara. Ditambah lagi,
kecepatan evolusi yang jauh dari akal sehat manusia, hasil dari memacu diri
tanpa ampun hingga otot-otot di sekujur tubuh terasa terbakar.
Semua itu
adalah bukti dari bakat luar biasa yang kelak akan dijuluki sebagai mahakarya
terbaik Shishi Seicho.
Karena itu,
jangan pernah meremehkannya.
Sebab dia adalah
Ren Ashton, sosok yang terus tumbuh meski telah melewati berbagai pertarungan
maut.
◇◇◇
Para ksatria
Shishi Seicho hanya bisa terperangah dan terdiam seribu bahasa menyaksikan
kehebatan tadi.
Bahkan setelah
duel berakhir, suasana itu tidak berubah.
"Aku bangga
pada Tuanku yang telah mengundang Anda ke sini," ujar Edgar mengulanginya.
"Aku bangga
karena bisa menjadi guru bagi Tuan Ren."
Setelah
menyatakan hal itu, Edgar membelakangi Ren. Ia mengibaskan debu dari jas yang
sempat dilemparnya, lalu berjalan pergi sambil mendekap jas tersebut di
ketiaknya.
"Permintaan
yang Anda bicarakan tadi, apa itu?"
"Mengenai
hal itu────"
Edgar menengadah
ke arah balkon di atas atrium.
"Biar
aku yang bicara, Ren Ashton."
Ternyata
Ulysses berada di balkon tersebut. Begitu melihat sosoknya, Ren bergegas
berlari menemuinya.
"Tuan
Ulysses!"
Saat
mereka bertemu muka, Ulysses menyunggingkan senyum.
"Kepada
kamu yang sudah berkali-kali membantu, aku ingin meminjam kekuatanmu lagi.
Sebentar saja tidak apa-apa. Maukah kamu setidaknya mendengarkan
penjelasanku?"
"Apa
yang Anda katakan, Tuan Ulysses," jawab Ren sambil menghela napas,
terdengar sedikit tidak puas.
"Mana
mungkin aku tidak mendengarkan permintaan Anda."
"……Kamu
benar-benar bisa diandalkan."
Suara
langkah kaki mereka berdua menggema. Meninggalkan tempat latihan dan menyusuri
lantai batu hitam di dalam Shishi Seicho, suara sepatu kulit mereka saling
bersahutan.
"Ngomong-ngomong,
kudengar kamu mengkhawatirkanku juga, ya."
"Ah,
Anda mendengarnya?"
"Tepat
sekali. Yah, aku jadi merasa
senang. Rasanya dadaku sampai terasa panas, padahal aku sudah tidak muda
lagi."
Mereka berdua
merasa kini lebih saling memahami daripada sebelumnya.
"Punya
tebakan tentang apa yang ingin kuminta?"
"Untuk
menjadi kekuatan tempur dalam masalah itu, kah?"
"Hampir
tepat. Tapi sebenarnya, kekuatan tempur kami sudah cukup. Kami sudah menyiapkan
segalanya dengan saksama agar bisa menghadapi Kultus Raja Iblis sendiri tanpa
merepotkan kalian sebisa mungkin."
Namun, lanjutnya.
"Selain itu,
ada hal yang ingin kukonsultasikan padamu. Karena jika ada bantuanmu, akan ada
situasi yang menjadi jauh lebih baik."
Mereka keluar
dari gedung Shishi Seicho. Di luar, kereta kuda hitam pekat milik Ulysses sudah menunggu. Edgar
yang datang menyusul kemudian duduk di kursi kusir.
"Mari
kita bicara lebih detail di penginapan."
Kereta kuda itu
melaju menuju sebuah penginapan. Di dalam kereta, Ulysses tersenyum bahagia
saat mengingat kembali kata-kata Ren yang mengkhawatirkannya.
◇◇◇
Nama penginapan
itu adalah Arnea. Penginapan milik Persekutuan Dagang Arneverde, salah satu
penginapan termewah di Ibu Kota.
Di salah satu
ruangannya, Radius dan Lezard sudah menunggu.
"Lama tidak
jumpa, Ren."
"Ya, lama
tidak jumpa."
Lezard, yang
belum pernah melihat langsung mereka berdua mengobrol, merasa terkejut dan
menyadari bahwa Ren benar-benar telah menjalin persahabatan yang erat dengan
Radius.
"Permintaan
ini, datang dari Radius?"
"Dari
aku dan Ulysses."
Setelah keduanya
mengangguk bersamaan, Radius mulai menjelaskan kepada Ren.
"Aku ingin
menyusun informasi. Ren, apa kamu sudah menebak apa yang ingin kami
lakukan?"
"Kurang
lebih begitu. Aku sudah membicarakannya dengan Nona Licia dan Nona Fiona, dan
memikirkan beberapa kemungkinan."
Ren menceritakan
dugaannya tentang keterlibatan Menara Jam Besar dan batu sihir yang rencananya
akan diganti pada musim panas ini.
Ia juga
menambahkan prediksi bahwa operasi ini akan melibatkan Erendil.
"Bulan
depan, batu sihir di lantai teratas Menara Jam Besar akan diganti. Kudengar
saat penggantian itu, Menara Jam Besar akan berhenti beroperasi
sepenuhnya."
Kekuatan yang
melindungi Ibu Kota dan Erendil juga akan berhenti.
"Benar.
Mereka sepertinya berniat menjadikan Menara Jam Besar—yang dibangun dengan
teknologi salah satu dari Tujuh Pahlawan, Milim Althea—sebagai pijakan untuk
menyerang Ibu Kota."
Itulah tujuan
dari Kultus Raja Iblis yang selama ini menyelidiki informasi alat-alat magis
yang digunakan di kota-kota, termasuk Ibu Kota dan Erendil.
Ini adalah
rencana besar yang membuat kelompok bandit sebelumnya terpaksa menampakkan diri
karena terdesak.
Di sini,
Ulysses angkat bicara.
"Menghancurkan
kekuatan pelindung Ibu Kota dan Erendil, itulah tujuan mereka. Akan lebih baik
lagi bagi mereka jika bisa memodifikasi kekuatan pelindung itu untuk memancing
monster, tapi aku tidak yakin mereka bisa melampaui teknologi Milim
Althea."
Milim
Althea telah mengembangkan banyak teknologi penting yang masih tersisa hingga
saat ini.
Contohnya
adalah sistem Kartu Guild. Sistem itu memungkinkan berbagi informasi di semua
cabang, meski terbatas pada rangkaian teks sederhana.
Bukan
berarti mustahil, namun kemungkinan pihak musuh memiliki pengetahuan untuk
memodifikasi alat magis buatan Milim Althea sangatlah rendah.
Jika mereka punya
teknologinya, mereka pasti sudah melakukannya dengan lebih baik saat insiden
bandit kemarin.
Radius
berucap, lalu Ulysses melanjutkan.
"Lagi pula,
alasan Kultus Raja Iblis mengincar Leomel masih belum diketahui."
"Bukankah
tujuannya untuk menyingkirkan kekuatan suci? Di Leomel, jejak kekuatan Tujuh
Pahlawan yang berhubungan erat dengan Raja Iblis masih tersisa di berbagai
tempat, dan Katedral Agung Ibu Kota juga merupakan wilayah suci yang penting.
Tidak aneh jika mereka ingin mengikis kekuatan ini demi kebangkitan Raja
Iblis."
"Begitu ya.
Mungkin itu tidak sepenuhnya salah."
Bagi Ren yang
mengetahui kisah Legenda Tujuh Pahlawan, ia hanya bisa memikirkan hal serupa.
Ambisi utama
Kultus Raja Iblis adalah kebangkitan Raja Iblis.
Hal ini tidak
berubah, namun alasan mereka mengincar Leomel tidak pernah diceritakan secara
mendalam bahkan dalam Legenda Tujuh Pahlawan.
Bagi mereka,
tindakan selama ini pasti memiliki tujuan tertentu, tapi……
(Dalam Legenda
Tujuh Pahlawan, menyeret Tuan Ulysses ke pihak mereka juga bertujuan untuk
menjatuhkan Leomel.)
Artinya, ada
sesuatu yang jika Leomel berhasil dikuasai, maka kebangkitan Raja Iblis akan
semakin dekat. Hanya sejauh itu yang ia ketahui saat ini.
"Kembali ke
pembicaraan awal."
Radius
berdehem sejenak untuk mengalihkan topik.
"Kali
ini, dengan otoritas yang kumiliki, aku secara rahasia menunda penggantian batu
sihir tersebut. Pada hari
yang dijadwalkan, kita akan menggantinya dengan batu sihir palsu."
"Jadi,
penggantian aslinya akan dilakukan di hari lain."
"Begitulah.
Tapi, personel yang bisa dikerahkan sangat terbatas. Kami tidak tahu dari mana
informasi bisa bocor. Karena itu, awalnya aku dan Ulysses berniat
menyelesaikannya sendiri. Orang yang tahu soal penggantian batu sihir palsu ini
juga sangat terbatas."
Ren mendengarkan
penjelasan itu dengan saksama.
"Prinsip
utama bagiku dan Ulysses adalah, idealnya kami ingin menghabisi anggota Kultus
Raja Iblis sebelum mereka masuk ke Erendil. Kami berniat melakukannya jika
memungkinkan pada hari itu, tapi mereka menyusup bagaikan kabut. Meski bodoh,
kerumitan sebagai pengikut Raja Iblis tetap tidak berubah."
Karena itulah
tempat itu akan diincar. Mereka akan muncul saat penggantian batu sihir Menara
Jam Besar untuk menjadikannya pijakan dalam menyerang Leomel.
"Maka dari
itu, kitalah yang akan menunggu mereka."
"Karena
sudah jelas mereka akan datang ke Menara Jam Besar, kalian memutuskan untuk
bergerak demi hal itu, ya?"
"Ya. Kami
akan menjadikan tempat itu sebagai medan perang yang menguntungkan bagi
kami."
Mereka berkata
akan berusaha semaksimal mungkin untuk membereskan masalah ini di luar kota.
Namun, mereka
tidak bisa menjamin bisa membereskan semuanya dengan pasti, dan karena tidak
tahu berapa banyak personel musuh yang akan datang, mereka tidak memiliki
kepastian mutlak.
Seandainya musuh muncul dalam jumlah besar:
"Aku sudah
menempatkan pengintai di mana-mana dan bersiap untuk terus mendapatkan
informasi. Tergantung situasinya, aku akan menggunakan otoritasku untuk
menggerakkan pasukan. Karena Erendil berada di dekat Ibu Kota, kita bisa
merespons dengan kecepatan yang cukup. Aku tidak akan membiarkan rakyat terluka
sedikit pun."
"Dengan
persiapan sesaksama ini, apa alasan kalian tidak melibatkan pasukan dari
awal?"
Mendengar
pertanyaan itu, Radius menjawab dengan suara mantap.
"Jika kita
menyiapkan pasukan sejak awal, kita bisa mencegah serangan mereka sepenuhnya.
Itu sudah pasti. Tentara Leomel adalah yang terkuat di dunia, dan itu terbukti
dari fakta bahwa mereka tidak berani menyerang secara terang-terangan."
Aura keberanian
terpancar dari ekspresi wajahnya.
"Namun,
apakah mereka akan tetap menyerang jika melihat hal itu? Jika mereka berniat
menghadapi kita secara langsung, mereka pasti sudah melakukannya sejak awal.
Jika kita menyiapkan pasukan, mereka hanya akan mengubah rencana mereka.
Daripada begitu, lebih baik mereka bergerak dalam jangkauan yang bisa kita
prediksi."
Lagipula,
tambahnya.
"Aku dan
Ulysses tidak berniat hanya selesai dengan menangani mereka seperti sebelumnya.
Kami akan menangkap mereka hidup-hidup untuk mendapatkan informasi. Untuk itu,
kita harus bergerak secara rahasia agar tidak tercium oleh Kultus Raja Iblis."
Rasa percaya
dirinya benar-benar luar biasa. Ren memahami maksud Radius, namun itu juga
seperti pedang bermata dua.
(Begitu ya.
Biasanya ini akan jadi pedang bermata dua, tapi bagi mereka berdua, itu tidak
masalah.)
Ulysses Ignat
sang Tangan Besi, ditambah Pangeran Ketiga yang digadang-gadang sebagai kaisar
berikutnya, telah bekerja sama.
Fakta bahwa dua
orang yang saling bunuh di garis waktu yang diketahui Ren kini menjadi sekutu
adalah hal yang sangat krusial.
Semua ini demi
mencegah Kultus Raja Iblis berbuat semena-mena. Jika sudah jelas mereka akan
menyerang, maka mereka berdua berkata akan memanfaatkan hal itu.
"Aku sudah
menjelaskan semuanya kepada Baron Clausel. Aku dan Yang Mulia akan mengerahkan
kekuatan tempur yang bisa kami mobilisasi semaksimal mungkin. Untuk
berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."
Ren menanggapi
ucapan Ulysses.
"Mendengar
kalian berdua mengerahkan kekuatan maksimal, terdengar sangat hebat."
"Meski
begitu, ini adalah tim kecil yang elit. Tapi jika terjadi sesuatu, seperti yang dikatakan Yang Mulia, kami siap
menggerakkan pasukan seketika. Jadi, anggaplah ini sebagai perwujudan tekadku
dan Yang Mulia."
"Eh────
tunggu sebentar. Radius juga akan pergi ke lokasi?"
"Tentu
saja."
"Tidak, dari
awal sampai akhir ini benar-benar di luar akal sehat."
"Dalam
keadaan normal memang begitu, tapi kali ini ada alasannya. Dan Ren, kamu sendiri juga sering
melakukan hal-hal di luar akal sehat, kan. Jangan bicara seolah kamu bukan
bagian dari itu."
"Aku
memang tidak bisa membantah soal itu…… tapi kalau begitu, kenapa harus repot-repot pergi ke tempat
berbahaya?"
"Sama
seperti kejadian di dataran waktu itu. Ada hal yang belum kuberitahukan padamu,
Ren."
Radius berucap
demikian, lalu mengungkapkan rahasia yang ia sembunyikan. Itu adalah tentang
Skill yang dimiliki Pangeran Ketiga Radius Vin Leomel, yang bahkan tidak pernah
diungkapkan dalam Legenda Tujuh Pahlawan.
"Aku
memiliki kekuatan spesial bernama Analyze."
Kekuatannya
terletak pada kemampuan untuk menyelidiki informasi dari benda yang
disentuhnya.
Meskipun
disebut "informasi", hal itu cukup abstrak. Misalnya, jika ia
menyelidiki pedang, ia akan tahu logam apa yang digunakan. Namun, bukan berarti
kata-kata seperti "besi" atau "baja" muncul begitu saja di
kepalanya.
Sulit
untuk menggambarkannya dengan kata-kata, namun ia berkata itu seperti perasaan
di mana jawaban ditarik berdasarkan pengetahuan Radius dan kemudian terbayang
di benaknya.
Jika ia
tidak memiliki pengetahuan yang relevan, hal itu akan tetap tersimpan di
kepalanya sebagai informasi baru.
"Dengan ini,
aku akan memastikan Segel Kultus Raja Iblis. Apa pun itu. Aku ingin mendapatkan
informasi mereka sebanyak mungkin."
"Kalau
begitu, kamu tinggal menunggu saja. Radius harus menunggu di tempat yang aman
sampai seseorang membawakan pengikut Kultus Raja Iblis yang sudah
pingsan."
"Lalu, siapa
yang bisa menjamin hasil yang kuinginkan? Apa kamu ingat bidak buang dari
kelompok bandit yang kamu tangkap? Aku tidak mengatakannya padamu, tapi dia
juga mati tak lama setelah kamu pergi akibat amukan kekuatan itu. Segelnya pun
menghilang sebelum aku sempat menyelidikinya."
Bukan karena
serangan Ren yang merenggut nyawa, melainkan nyawa anggota bandit itu dirampas
oleh kekuatan Raja Iblis.
Karena berpikir
bahwa hal serupa mungkin terjadi lagi sebelum tawanan dibawa pulang, Radius
tidak ingin melewatkan kesempatan ini apa pun taruhannya.
"Jika aku
bisa memperdalam pemahaman tentang Segel Kultus Raja Iblis, maka ke depannya
akan lebih mudah untuk melacak jejak mereka."
"……Jadi,
kamu tetap tidak berniat tinggal di tempat yang aman?"
"Ya.
Siapa pun yang melarang, aku tidak berniat mundur di hadapan Kultus Raja Iblis.
Aku adalah keturunan Raja Singa. Aku tidak bisa tinggal diam saat seseorang
mencoba mencelakai rakyatku."
Yang diinginkan
Radius adalah jaminan. Ia sangat mengkhawatirkan kegagalan mendapatkan
informasi seperti sebelumnya, karena itu ia berargumen bahwa dirinya harus
berada di lokasi, dan semua orang memahami hal itu. ……Setidaknya, untuk argumen
itu sendiri.
"Tuan Lezard
sudah mendengar detail operasinya dan menyetujuinya, kan?"
"Tenang
saja. Aku sudah memastikannya dengan sangat mendetail, dan isinya adalah
sesuatu yang bisa kuyakini keberhasilannya."
"……Baiklah.
Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi soal itu."
Kalau begitu, Ren
mengangguk.
"Apakah aku
cukup menjaga kediaman saja?"
Seperti yang
dikatakannya di awal, ia tidak berniat menghalangi operasi kali ini. Ren hanya
ingin tahu.
Bagaimana ia
harus bergerak agar tidak menjadi penghalang.
Bagaimana ia
harus bergerak agar bisa memberikan kontribusi terbaik untuk melindungi mereka.
"Ah…… itu……"
Radius
memberikan jawaban yang tidak pasti.
"Ulysses,
apa yang sudah kamu bicarakan dengan Ren?"
"Aku
hanya menyampaikan bahwa jika dia datang, situasinya akan menjadi jauh lebih
baik."
"Hmm…… kalau begitu, bolehkah aku yang menjelaskan
kelanjutannya?"
"Ya. Justru lebih baik jika Yang Mulia yang
menyampaikannya."
Radius mengangguk. Ada alasan lain mengapa Ren diminta
datang ke sini. Lezard pun belum mendengar bagian cerita ini, sehingga ia
memiringkan kepalanya dengan heran.
"Seperti yang Ren tahu, kegagalan tidak diizinkan dalam
operasi kita."
"Karena jika gagal, fungsi pertahanan Ibu Kota dan Erendil
akan hilang, kan."
"Bukan, bukan itu. Justru soal itu, kamu bisa
menganggapnya tidak bermasalah sama sekali."
"……Apa
maksudmu?"
"Detailnya
akan kujelaskan setelah semuanya selesai. Kepada Ren, dan juga kepada
Lezard."
Radius memberikan
satu petunjuk yang penuh teka-teki.
"Milim
Althea adalah pengrajin alat magis legendaris, tapi hanya bergantung pada
Menara Jam Besar adalah cerita lama. Kamu cukup mengingat hal itu saja. Kami,
Leomel, bukannya tidak melakukan apa pun selama ini."
Sepertinya ada
sebuah rahasia, namun kelanjutannya belum diceritakan.
Namun, itu tetap
menjadi poin penting dalam operasi. Jika ia sudah bicara sampai sini, mungkin
pada akhirnya ia berniat memberitahu Ren dan Lezard.
Ulysses pun
tampak mengetahui situasi tersebut, ia duduk dengan ekspresi wajah yang penuh
arti.
(Mungkin
karena alasan itu juga, tindakan rahasia ini menjadi mungkin dilakukan.)
Setelah Ren dan
Lezard mengangguk setuju, pembicaraan kembali berlanjut.
Operasi kali ini
akan dilakukan secara rahasia sebisa mungkin, namun ada sosok yang tidak
mungkin tidak diberitahu.
Sang pemegang
kekuasaan absolut yang memerintah Leomel, yaitu sang kaisar.
Radiuslah yang
bertugas menjelaskan kepada kaisar.
"Aku sudah
menyampaikan semua maksudku dan Ulysses kepada Baginda. Mengenai hal itu,
beliau memberikan izin pelaksanaan. Beliau juga sudah memastikan detail operasi
dan menganggapnya tidak bermasalah."
Rasanya ada
kejanggalan atau pertanyaan mengapa seseorang yang digadang-gadang sebagai
kaisar berikutnya malah pergi ke tempat berbahaya.
Namun, Ren mulai
bisa memahami setelah mendengar rangkaian kejadian ini. Meskipun begitu,
ksatria pengawal kaisar juga dikirim untuk mendampingi Radius. Ini adalah
cerita yang menunjukkan bahwa formasi yang sangat rapat telah disusun tanpa
celah.
"Saat itu,
kami juga mendiskusikan bagaimana menjelaskan hal ini kepada faksi lain.
Baginda berjanji akan menangani hal itu nanti setelah semuanya selesai. Ren,
peranmu akan dimulai setelah itu. Aku dan Ulysses telah memikirkan banyak hal
untuk memastikan segalanya sempurna."
Radius
terdiam sejenak untuk mengambil napas. Ren mendengarkan kelanjutan ceritanya sambil menatap mata Radius.
"Untuk itu,
aku berpikir apakah bisa mendapatkan bantuannya."
Kata
"bantuannya" (dia perempuan) merujuk pada sosok yang sangat samar. Tapi Ren segera mengerti. Hanya
satu orang yang terlintas dalam pikirannya.
"Dulu, dia
tidak pernah membantu siapa pun meskipun diperintah oleh Baginda. Namun kali
ini, dia sendiri yang berkata akan membantu dengan syarat tertentu."
"Syaratnya
bukan aku, kan?"
"Tepat
sekali. Dia──── Sword King berjanji akan memberikan bantuan secara tidak
langsung jika Ren ikut bertarung di sampingku."
"Aku
tidak mengerti. Kenapa dia bilang begitu jika aku ikut membantu?"
"Aku pun…… bahkan Ulysses pun tidak tahu."
Dari nada suara dan ekspresi Radius, terlihat bahwa ia
benar-benar merasa bingung.
"Dia tidak akan bertarung di sisi kita, tapi dia akan
berada di dekat sini untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."
Semua orang tidak bisa memahami niat sebenarnya dari Raja
Pedang, namun ada satu fakta yang tak terbantahkan.
"Jika dia
memberikan bantuannya, operasi ini akan menjadi semakin kokoh."
Terlepas dari apa
pun niat Raja Pedang, di hadapan bantuan yang tak terduga ini, Ren tidak bisa
mundur.
"Tuan
Lezard, aku memutuskan untuk bertarung di samping Radius."
Lezard juga
sempat bimbang untuk menjawab.
Tentu saja ia
berpikir apakah ia akan meminjam kekuatan Ren lagi, namun bagi seorang Baron
seperti dirinya, pembicaraan kali ini terlalu besar.
Saat ia terdiam
mencari jawaban:
"Sebagai
imbalannya, bagaimana jika Anda membayar biaya sekolahku?"
Ini adalah
pertama kalinya Ren meminta imbalan atas keinginannya sendiri. Semua orang tahu
bahwa kata-kata itu jelas diucapkan karena mengkhawatirkan Lezard. Namun,
menghadapi perhatian dan keteguhan tekad Ren, Lezard tidak bisa lagi bersikap
keras kepala.
Ren bukan
lagi anak kecil yang dulu ada di desa.
"Aku akan
memberikan imbalan sesuai keinginanmu. Karena itu Ren, bolehkah aku meminjam
kekuatanmu demi Leomel?"
Menanggapi hal
itu, Ren menjawab:
"Serahkan
padaku."
Ia menjawab
seketika, seolah-olah sudah menunggu saat itu tiba. Setelah mereka berdua
bertukar janji, Radius berkata:
"Namun
Lezard, jika terjadi sesuatu, mungkin kalian akan dianggap sebagai bagian dari
faksi kekaisaranku. Aku dengar keluarga Clausel dekat dengan keluarga Riohard,
jadi aku juga akan menyebarkan informasi bahwa kalian tidak memihak……"
"Kalau
begitu, mohon kiranya keluarga Clausel tetap mendapatkan perlindungan dari Anda
di masa mendatang."
Bukannya ingin
menyebutnya sebagai pencemaran nama baik, namun Lezard mengajukan permintaan
mengenai opini publik yang mungkin muncul.
"Oho, apa
tujuanmu?"
"Yang
kuinginkan adalah kekuatan politik. Jika hanya mengandalkan idealisme, kita
akan terseret lagi ke dalam ketidakadilan. Karena itu, meski tetap di faksi
netral, aku harus membangun posisi yang kokoh."
"……Maka dari
itu, tidakkah kamu berniat menjadi bagian dari faksi kekaisaranku?"
"……"
"Hmm,
sepertinya itu adalah pembahasan yang berbeda lagi, ya."
"……Mohon
maaf, izinkan saya untuk tidak menjawabnya di sini. Saat ini, saya masih
disibukkan dengan urusan di sekitar saya."
Ketidakmampuan
untuk berpindah faksi dengan mudah memang berasal dari pengalamannya selama
ini.
Karena belakangan
ini ia berhasil memperluas pengaruhnya dengan lancar, ia tidak ingin
terburu-buru mengambil keputusan di sini.
Terutama, ini
bukan hal yang harus diputuskan hanya karena terbawa suasana saat itu.
Menghadapi Lezard
yang berbicara dengan tegas di depan Pangeran Ketiga, Radius justru tersenyum
menantang.
"Pada
dasarnya, kaum bangsawan tidak seharusnya terikat oleh faksi. Kamu adalah pria
yang mewujudkan hal itu."
"Jika Anda
menyebut ini sebagai tindakan tidak hormat, saya tidak punya pilihan lain.
Namun, kesetiaan saya kepada Leomel dan kepada Yang Mulia Pangeran Ketiga akan
tetap abadi selamanya."
"Aku
tidak menganggapnya tidak hormat. Aku justru merasa sangat senang bisa mengenal
pelayan yang setia sepertimu."
Radius memutuskan
untuk menjanjikan satu hal terlebih dahulu.
"Setelah
semuanya selesai, aku akan menyampaikannya kepada Baginda agar keluarga Clausel
mendapatkan imbalan yang sepantasnya. Netralitasmu adalah sesuatu yang murni
dan membanggakan. Aku sangat memahami bahwa posisi itu diambil demi kecintaan
sejatimu pada Leomel."
Kemudian Radius
mengulurkan tangan kepada Lezard yang berada di hadapannya.
"Teruslah
berbakti demi Leomel."
"────Baik!"
Seharusnya,
bersalaman dengan anggota keluarga kekaisaran bukanlah hal yang biasa.
Namun di sini,
keduanya bersalaman dengan erat. Setelah itu, Radius memutar tubuhnya ke arah
Ren dan menatap matanya.
"Seharusnya
Edgar yang berada di sampingku untuk menjagaku. Tapi, sebaiknya Edgar menjaga
keamanan keluarga Clausel. Dengan begitu Ren juga akan merasa tenang."
"Mm, terima
kasih. Kalau begitu aku────"
"Yang akan
melindungiku di sisiku adalah kamu, Ren."
Radius tidak
merasa Ren kurang kemampuan sedikit pun, sebaliknya, ia merasakan keandalan
darinya. Meskipun belum bertahun-tahun sejak mereka bertemu, keduanya sudah
saling memahami banyak hal.
"Aku
memercayakan punggungku padamu. Namun aku tidak memintamu berdiri di sampingku
sebagai seorang ksatria."
"Lalu, aku
berdiri sebagai apa? Pengawal?"
Menanggapi
pertanyaan jujur Ren, Radius tertawa penuh percaya diri.
"Bagaimana
kalau sebagai kawan seperjuangan?"
Ren sempat
berpikir apakah pantas menyebut Pangeran Ketiga sebagai kawan seperjuangan.
Tapi ia juga berpikir, rasanya sudah terlambat untuk memikirkan hal itu
sekarang.
Tangan mereka
berdua kini saling bertautan.



Post a Comment