NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 9

Chapter 9

Protagonis dan Heroine


Pertengahan April telah tiba. Kabar mengenai ujian masuk Ren dan Licia sampai di kediaman keluarga Clausel. Ujian pertama akan dilaksanakan pada akhir Mei di gedung Akademi Militer Kekaisaran.

Ren merasa harus meneguhkan tekad karena ujian akan berlangsung dalam beberapa minggu lagi, namun────

Tepat setelah sarapan.

"……Ren, aku…… ngantuk banget……"

"……Aku juga, Nona."

Belakangan ini mereka belajar jauh lebih giat dibanding sebelumnya, bahkan sampai memangkas waktu tidur dengan drastis.

Namun, tidak ada gunanya jika mereka jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri. Akhirnya, Ren dan Licia memutuskan untuk menjadikan hari ini sebagai hari libur setelah sekian lama.

Keduanya kembali ke kamar masing-masing dengan langkah gontai untuk memulihkan stamina dengan tidur lagi.

Saat Ren bangun lebih dulu dan melirik jam, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Licia masih terlelap.

Tak lama setelah itu, surat dari Verrich pun tiba.

Itu adalah sebuah gauntlet berwarna abu-abu.

Ren yang melihatnya langsung di bengkel Verrich tak bisa menahan napas.

Ini bukan sekadar soal keindahan bentuknya. Hanya dengan menatap gauntlet itu, kekuatan yang memancar darinya langsung membangkitkan ingatan tentang Asvar.

"Kuberi nama Flame King Gauntlet."

Warna dari tanduk Asvar yang tampak melapuk—atau sengaja dibuat terlihat melapuk—masih tersisa jelas pada gauntlet tersebut.

Pada bagian jempol, terdapat dekorasi serupa cincin dengan permata merah tua berukuran kecil yang tersemat indah. Bentuk keseluruhannya mirip dengan pelindung tangan ksatria berbaju zirah lengkap, namun telah disesuaikan untuk perlengkapan ringan.

Meski Ren sudah kelelahan karena belajar ujian, Verrich terlihat jauh lebih lelah darinya.

Namun, ia berkata dengan bangga:

"Itu yang untuk tangan kiri, dan ini yang kanan."

Karena Ren mengenakan gelang Magic Sword Summoning di tangan kanan, ia ingin sebisa mungkin agar sensasi gerakannya tidak berubah. Sebenarnya, bagi ksatria yang biasa mengayunkan pedang sambil memakai pelindung tangan, tidak akan ada perbedaan sensasi yang mencolok. Setidaknya bagi orang awam.

Namun, Ren ingin memprioritaskan insting yang ia miliki selama ini.

Gauntlet tangan kanan dibuat dengan luas permukaan seukuran sarung tangan biasa. Verrich membuatnya dari bahan tanduk Asvar yang telah diproses dan dicampur dengan benang khusus. Warna dan desain dasarnya tetap senada dengan tangan kiri, dengan bagian punggung tangan dan sekitar jari ditutupi oleh tanduk yang telah diolah. Dengan begini, Ren tidak perlu memindahkan gelangnya ke tangan kiri.

"Permata kecil ini apa?"

"Itu adalah benda yang ada di dalam tanduk. Bagian terpenting dari tanduk Asvar…… entah tepat atau tidak menyebutnya sebagai organ, tapi yang jelas itu benda penting. Awalnya jauh lebih besar, lho. Sekitar sebesar kepalaku."

"Berarti sekarang jadi jauh lebih kecil, ya."

"Habisnya setiap hari aku bangun hanya untuk mengikir dan memolesnya. Sebenarnya untuk bahan gauntlet juga, tapi kalau bisa aku ingin menggunakannya untuk bagian lain."

Verrich melanjutkan penjelasannya.

"Bubuk dari hasil kikir organ di dalam tanduk itu aku cairkan, lalu dicampur dengan bulu Thief Wolfen dan diolah menjadi benang. Setelah ditenun, bagian punggung tangan dan jari dilapisi lagi dengan tanduk yang sudah diproses ekstra."

"Thief Wolfen……"

"Iya. Kamu tahu? Walau peringkatnya cuma D, bulunya sangat berguna jika diolah dengan benar. Pas sekali jika dicampur dengan bahan lain. Ini adalah teknik yang hanya bisa dilakukan oleh pengrajin ahli."

"Heh…… Begitu ya……"

"Nanti sampaikan terima kasih pada bocah tengik itu. Bulu Thief Wolfen itu pemberian darinya. Harusnya beberapa tahun terakhir ini tidak beredar di pasar, tapi katanya dulu dia beruntung bisa mendapatkannya."

Mendengar hal yang sangat familiar baginya, Ren berusaha keras agar ekspresinya tidak berubah.

Ren memakai Flame King Gauntlet di kedua tangannya. Tidak ada rasa janggal sedikit pun, dan saat ia menggerakkan lengannya, perlengkapan itu seolah mengikuti gerakan tubuhnya sendiri.

"Bagaimana rasanya?"

"Aku sudah beberapa kali memakai perlengkapan lain, tapi baru kali ini rasanya tidak ada kejanggalan sama sekali."

"Tentu saja begitu, kan sudah kuukur ukurannya!"

Meski begitu, Ren tetap mengepalkan dan membuka jemarinya berkali-kali. Ia yakin bisa mengayunkan pedang seperti biasa.

Mata Ren tertuju pada jempol kirinya. Saat menyentuh permata merah tua di jempol kirinya dengan tangan kanan, ia merasa seolah ada kehangatan yang lembut mengalir.

"Okeeeee! Dengan ini pekerjaan pertamaku selesai! Aku mau tidur! Begitu bangun nanti aku mau minum sepuasnya dan libur seminggu penuh!"

"Terima kasih banyak! Kalau begitu, saya permisi dulu."

Tepat saat Ren bicara, Verrich teringat sesuatu.

Katanya, ia pernah mendengar sebuah info dari Ulysses.

"Katanya putri beliau dan pelayannya, Edgar, sedang bekerja hari ini dan mendatangi sebuah perusahaan dagang. Kalau beruntung, mungkin kamu bisa bertemu mereka di jalan pulang?"

"Mungkin sa────ah, tidak. Karena mumpung ada kesempatan, saya akan coba mencari mereka sedikit."

"Begitu ya? Tapi aku tidak tahu mereka tepatnya ada di mana, lho."

"Tidak apa-apa, saya hanya berpikir ingin menyapa saja. Saya juga penasaran bagaimana kabar Nona Fiona."

"Sip. Kalau begitu hati-hati di jalan!"

Sebenarnya Ren ingin mengucapkan terima kasih sedikit lagi sebelum pergi, tapi Verrich tampak sangat mengantuk dan seolah bisa jatuh tertidur kapan saja, jadi ia mengurungkan niatnya.

Ren menyimpan Flame King Gauntlet ke dalam kotak kayu, lalu mendekapnya sambil keluar dari bengkel.

Setelah menutup pintu, ia membungkuk dalam-dalam sekali ke arah dalam bengkel.

◇◇◇

Saat Ren meninggalkan area pandai besi dan berjalan di Ibu Kota.

"Ah, Nona Fiona!"

Ia melihat Fiona dan Edgar, lalu segera memanggil mereka.

Begitu mendengar suara Ren, Fiona langsung melihat ke arahnya dan menghampirinya dengan langkah kaki yang ringan.

"Halo! Jadi kamu sedang berada di Ibu Kota, ya!"

"Tadi saya baru dari tempat Verrich-san. Karena mendengar Nona Fiona sedang bekerja di luar, saya mencari-cari siapa tahu bisa bertemu."

"…………"

Berbeda dengan Ren yang bicara seperti biasa, Fiona tampak mematung.

Mendengar Ren mencarinya, rasa senang yang luar biasa membuatnya sulit mencerna situasi dengan cepat.

"……Fue!?"

Setelah sadar dari kekakuannya, ia menjadi panik. Pipinya perlahan mulai merona merah sambil matanya mengerjap-ngerjap.

"Anu, apa saya mengganggu?"

"E-Eh, tidak! Sama sekali tidak mengganggu! Justru sebaliknya……!"

Sepasang mata yang menyerupai permata itu menatap Ren dengan lurus.

Fiona terpikir untuk mencoba bergerak sedikit lebih aktif. Saat hendak mengucapkannya, debaran jantungnya terasa semakin cepat karena gugup.

"Kebetulan pekerjaanku sudah selesai dan aku hendak pulang. Jika tidak keberatan, bolehkah aku jalan bersama Ren-kun sampai di tengah jalan nanti?"

"Tentu saja."

Ren tidak punya alasan untuk menolak, namun jawaban itu membuat senyum Fiona bersinar jauh lebih terang.

Fiona berbisik pelan, "Berhasil."

"Ngomong-ngomong, pekerjaannya untuk keluarga Ignat?"

"Iya. Aku memang rutin membantu pekerjaan Ayah."

"Saya kira biasanya Nona pergi menggunakan kereta kuda."

"Fufu. Karena akhirnya aku sudah sehat kembali, aku senang sekali bisa berjalan dengan kakiku sendiri."

Itulah alasan mengapa meskipun ia seorang putri Marquis, ia lebih sering berjalan kaki daripada naik kereta kuda.

Lalu, Edgar merogoh saku pakaian pelayannya dan mengeluarkan jam saku.

Ia memberitahu mereka berdua dengan nada yang dibuat-buat.

"Mohon maaf. Ada hal yang baru saja saya lupakan."

"Edgar? Ada apa?"

"Setelah ini saya harus pergi ke tempat lain atas perintah Tuan Besar. Tuan Ren, jika berkenan, bolehkah saya menitipkan Nona untuk Anda antar sampai ke asrama?"

"Eh…… Eh!?"

"Boleh saja. Tapi, bagaimana dengan pengawalannya?"

Keduanya terus berbicara tanpa menghiraukan Fiona yang terkejut.

Fiona sendiri sibuk mengalihkan pandangannya ke kiri dan ke kanan antara Ren dan Edgar.

"Tentu saja tidak masalah. Jika ada Tuan Ren, semuanya akan aman."

"Baiklah. Kalau begitu, anu, apa Nona Fiona tidak keberatan?"

Fiona yang terkejut karena perubahan situasi yang mendadak itu sempat kehilangan kata-kata sejenak.

Ia menghadap ke arah Ren, lalu dengan gugup melanjutkan:

"……Boleh aku memintanya?"

Begitu ia berkata dengan jujur karena ingin bermanja, Ren langsung mengangguk tanpa jeda.

Ren mengangguk karena tidak berpikir terlalu dalam, sementara Fiona memang sudah tidak punya ruang untuk berpikir jernih.

Keduanya tidak tahu bahwa Edgar sengaja menyingkir demi Fiona, persis seperti sebelumnya.

Mereka menuju stasiun terdekat dan menaiki kereta magis yang tiba beberapa menit kemudian.

Bagian dalam kereta sangat ramai, tidak ada tempat duduk untuk mereka berdua. Beruntung di tengah kerumunan itu mereka bisa berdiri di dekat dinding di samping pintu, sehingga ada sedikit ruang luang.

"Ren-kun sebentar lagi akan mengikuti ujian pertama, ya."

"Iya…… Saya ingin lulus tanpa ada masalah apa pun."

"Fufu, tidak apa-apa kok. Aku dengar Ren-kun sudah berjuang keras."

"Jangan-jangan, dengar dari Tuan Ulysses?"

"Iya! Beliau bilang…… tidak mungkin kamu gagal!"

Kenyataannya memang begitu jadi itu tidak salah, namun Ren tetap ingin waspada dan tidak meremehkan ujian tersebut.

"Karena Nona Chronoa juga akan pulang tahun ini, mungkin di upacara penerimaan siswa baru tahun depan, Ren-kun bisa bertemu dengannya."

"……Benar juga, mungkin saja bisa bertemu."

Ren sebenarnya sudah pernah bertemu dan bicara dengan Chronoa. Terlebih lagi, ia tidak tahu bahwa ia cukup disukai oleh wanita itu.

Fakta bahwa ia sudah dua kali bertemu Chronoa—tepat sebelum memburu Steel-Eating Gargoyle dan saat membersihkan pohon tumbang di sungai desa bersama Licia—masih menjadi rahasia.

Meski begitu, waktu itu Ren juga sempat berpikir bahwa orang itu mungkin saja Chronoa.

Namun karena sekarang tidak ada cara untuk memastikannya, ia hanya bisa menunggu sampai wanita itu kembali ke Ibu Kota.

Lalu, kereta magis bergoyang sedikit.

Kereta berhenti, dan para penumpang yang hendak keluar mendorong dari belakang. Tubuh Ren terdorong ke depan.

Tepat sebelum ia menimpa Fiona yang ada di sampingnya, ia menyadarinya dan mengangkat tangan yang tidak membawa barang.

Ia menumpukan tangannya ke dinding, menahan diri agar tidak menghimpit Fiona ke dinding.

Jarak mereka berdua kini sangat dekat, sampai-sampai jumlah bulu mata pun rasanya bisa dihitung.

"────!?"

Bon! Sepertinya suara seperti itu bisa terdengar dari Fiona.

Melihat Ren yang berada tepat di depan matanya, tengkuk dan pipi Fiona seketika berubah merah padam.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan sangat malu.

"Aa──── Maaf!"

"E-Eh, tidak apa-apa! Tidak apa-apa, tapi…… tapi…… uuuu~……!"

Dalam beberapa menit, mereka tiba di stasiun tempat mereka harus turun.

Jantung Fiona terus berdegup kencang seperti lonceng peringatan untuk waktu yang cukup lama.

 

Tiap kali angin musim semi membelai pipi, kesegarannya seolah menghidupkan kembali semangat.

Setelah mengantar Fiona sampai ke asrama, Ren menuju ke sebuah tempat yang berjarak puluhan menit dari jalan utama. Di sana, ia mengeluarkan Flame King Gauntlet dan memakainya di kedua tangan.

Saat menggerakkan lengan dan jemarinya, rasanya benar-benar pas. Tidak ada rasa janggal sama sekali.

(Pas sekali, karena ini tidak jauh dari hari ulang tahunku.)

Bulan April adalah bulan ulang tahun Ren, namun ulang tahun kali ini tidak semeriah tahun lalu.

Karena baik Ren maupun Licia adalah calon peserta ujian, mereka hanya mengadakan perayaan kecil. Karena Fiona juga sangat ingin ikut merayakan, mereka semua hanya makan bersama di sebuah restoran di Ibu Kota.

Ren memastikan tidak ada orang di sekitarnya, lalu memanggil pedang sihirnya.

Ia memanggil pedang sihir tipe perisai di lengan kiri dan mencoba mengerahkan kekuatannya sejenak.

"……Hm?"

Itu adalah sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi ia merasa bisa melakukannya.

Saat memakai Flame King Gauntlet, entah kenapa ia memiliki insting seperti itu.

Oleh karena itu, Ren menjulurkan tangan kanannya ke depan sambil berpikir, 'jangan-jangan……'.

"────!?"

Permata merah tua di dekat jempol tangan kirinya memancarkan panas. Rasanya seperti api neraka. Panas yang mirip saat ia terkena api Asvar.

Namun, muncul kontradiksi di mana ia merasakan panas namun tidak merasa kepanasan.

Udara di depannya seolah retak, dan sebuah pedang sihir berwarna perunggu dengan corak merah tua di seluruh permukaannya mulai menampakkan diri.

"Inikah…… pedang sihir api."

Tampilannya tidak semewah Flame Sword Asvar, namun ini tetaplah pedang sihir yang memukau.

Dulu ia kesulitan karena konsumsi mana yang terlalu besar saat mencoba memanggilnya, namun kali ini tidak terasa sama sekali.

Meski begitu, jika ia asal mengayunkannya dan menggunakan kekuatannya tanpa berpikir, ia bisa saja pingsan seketika.

Ia bisa membayangkan bahwa ini adalah pedang sihir yang menyimpan kekuatan besar dan melahap banyak mana.

Tiba-tiba────

Pemandangan di depan mata Ren yang sedang menggenggam gagang pedang itu berubah total.

Puluhan mil di depan…… ia melihat sosok Naga Merah yang bertahta di puncak perak.

"Wahai manusia bodoh yang dikendalikan oleh nafsu. Jika menginginkan tandukku, tunjukkanlah kekuatanmu dan rebutlah dariku."

Naga Merah itu berbicara kepada seorang pria.

Ren tidak melakukan apa-apa. Lebih tepatnya ia tidak bisa melakukan apa-apa, dan hanya diperlihatkan punggung pria itu.

"……"

"Kenapa diam? Jika kau merasa takut, maka keangkuhanmu itu────"

"Aku merasa tidak enak jika harus menggunakan kekerasan, makanya aku bimbang. Tapi memang benar aku menginginkannya. Jadi akan kutanya sekali lagi. Serpihannya pun tidak apa-apa. Bisakah kau memberikannya padaku?"

"Ku, kuku…… Hah-hah-hah-hah-hah-hah! ────Sudahlah. Menjadilah abu."

Naga Merah itu menyemburkan api neraka.

Daya hancurnya sama sekali tidak mirip dengan api Asvar yang pernah dilihat Ren.

Api itu seolah bisa membakar habis segalanya di akhir dunia, tak salah lagi itu adalah api yang dikeluarkan oleh Asvar di masa kejayaannya.

Namun, saat api itu mereda.

"Kau, seorang pahlawan?"

Pria itu berdiri tegak sambil memegang sebilah pedang, tanpa luka bakar sedikit pun.

"Bukan. Aku hanyalah seorang petualang biasa."

Dunia yang ia saksikan itu pun mulai menjauh.

Seolah-olah hanya Ren yang terseret oleh angin kencang, dunia yang ia lihat tadi menghilang.

Begitu sadar, ia berada di dalam hutan di pinggiran jalan utama.

Tadi itu tak salah lagi adalah Asvar. Dan pria yang dihadapinya pasti adalah Sang Petualang Ashton. Ashton yang kuat, seperti yang dikatakan Asvar.

Kenapa ia diperlihatkan pemandangan itu? Apakah itu ingatan Asvar yang ditunjukkan melalui pedang sihir api?

"────Aku memang tidak bisa protes kalau dibilang lemah."

Sangat mustahil untuk membandingkan kekuatan Ren dengan kekuatan Petualang Ashton yang berani menghadapi api neraka sedahsyat itu tanpa rasa gentar sedikit pun.

Ia jadi semakin penasaran tentang siapa sebenarnya sosok Petualang Ashton itu.

Ingin masuk ke perpustakaan terlarang suatu saat nanti rasanya terlalu muluk, tapi ia benar-benar ingin menyelidikinya.

Tepat saat Ren sedang memikirkan hal itu, telinganya menangkap suara:

"Hei! Dia pergi ke arah sana!"

"Giring ke arah jebakan! Ayo ayo!"

Suara pria-pria terdengar.

Sudah agak lama sejak penangkapan kelompok bandit, jadi Ren yang penasaran berlari sambil tetap memegang pedang sihir apinya.

Sedikit di depan, terlihat beberapa petualang sedang sibuk berburu menggunakan jebakan.

(Ada juga ya monster seperti itu di sini.)

Yang sedang diburu adalah monster terbang bernama Wing Wyvern.

Sesuai namanya, monster itu memang Wyvern, salah satu spesies naga dengan tubuh berwarna hijau tua yang membanggakan.

Peringkatnya adalah D, yang tergolong langka untuk area sekitar sini.

Ren yang mengamati situasi para petualang di sekitarnya pun berseru, "Eh!?"

Area itu merupakan tempat terbuka dengan pepohonan yang sengaja ditebang, dan semua orang baru saja menyelesaikan perburuan mereka, namun……

"Berhasil! Kita menangkapnya!"

"A-Akhirnya selesai juga……!"

Di antara para petualang dewasa, terlihat sepasang pemuda dan gadis yang usianya tidak jauh berbeda dari Ren.

(Ve-Vein dan Sarah!?)

Sang tokoh utama, Vein, dan pahlawan wanita utama, Sarah.

Keduanya berada tepat di depan pandangan Ren, tampak gembira karena telah menyelesaikan pembasmian.

Ren segera menghilangkan pedang sihir apinya sebelum terlihat oleh mereka semua.

"Oh? Kamu yang di sana! Maaf, bisa bantu kami sebentar?"

Tepat saat Ren hendak pergi, seorang petualang dewasa melihatnya dan memanggilnya.

Karena petualang itu menghampiri Ren, rasanya tidak enak jika ia lari begitu saja.

Ren yang sudah menyerah pun melangkah maju ke area terbuka.

"Ada yang terluka, dan mengangkut Wing Wyvern ini cukup merepotkan. Maaf, bisa bantu kami melakukan pekerjaan mudah yang tersisa? Kami akan membagi imbalannya dengan adil."

Ren tahu apa pekerjaan mudah itu. Yaitu mencatat situasi sekitar dan melaporkannya ke Perserikatan. Pekerjaan itu dilakukan untuk menyampaikan besarnya kerusakan akibat Wing Wyvern.

Ren yang merasa goyah mencoba bertahan dan berpikir apakah ia bisa membantu dalam pekerjaan kasar saja.

"Maaf. Bisa tolong bantu aku di sini?"

Namun atas permintaan Sarah, Ren terpaksa melangkah ke arah Sarah dan Vein berada.

"Apa yang bisa saya bantu?"

Ren merasa pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Ini sangat mirip dengan event pertemuan pertama antara Vein dan Sarah dengan Ren Ashton.

Melalui kejadian ini, mereka akan menjalin persahabatan dan berjanji untuk bertemu kembali di akademi.

Ren yang mengalami pertemuan yang bisa dibilang sebagai event yang sama itu pun tersenyum kecut dalam hati sambil memeriksa situasi sekitar.

(……Ah, rupanya situasinya sedikit berbeda dari yang ada di game.)

Dalam Legend of Seven Heroes, Ren Ashton seharusnya memang sudah menerima misi yang sama dengan mereka berdua sejak awal dan datang ke tempat ini.

Dalam artian itu, kemunculan Ren kali ini sedikit berbeda.

Bagaimanapun, Ren ingin menyelesaikannya dengan cepat dan memeriksa keadaan sekitar.

Tak lama kemudian, pekerjaan yang harus dilakukan di sini pun selesai. Para petualang dewasa mulai bersiap mengangkut korban luka dan Wing Wyvern, sehingga ada jarak antara ketiga remaja itu dengan para petualang dewasa.

(Seingatku setting-nya ada pengawal yang bersembunyi.)

Sepanjang cerita, para tokoh utama memang mengalami banyak petualangan, namun anggota dari keluarga Tujuh Bangsawan Agung termasuk Sarah adalah pewaris dari bangsawan kelas atas.

Mereka sendiri tidak mempedulikan hal itu dan bertarung dengan berani sebagai keturunan Tujuh Pahlawan, namun ada orang-orang yang bergerak di balik layar.

Meski sebatas kemampuan yang ada, pengawal Sarah dan yang lainnya memang bersembunyi dalam situasi seperti ini.

Ada sebuah event di masa game dulu di mana sang tokoh utama yang menemukan pengawal tersebut akan disapa dengan kalimat, "Mohon rahasiakan ini dari Nona."

Tepat saat pekerjaan terakhir selesai, Ren teringat sesuatu.

Bahwa tepat setelah ini, ia pasti akan bertarung melawan monster.

"Sarah!"

"Iya!"

Di hadapan beberapa monster yang muncul dari balik semak-semak, keduanya segera mencabut pedang.

Di sinilah momen di mana ketiganya pertama kali bertarung bersama, namun jika level keduanya sudah tinggi, Ren Ashton tidak akan ikut bertarung. Sebelum dia sempat ikut campur, mereka berdua sudah menghabisi monsternya duluan.

Ketiganya hanya akan bertarung bersama jika tingkat kekuatan tempur mereka tidak mencukupi.

Karena ini adalah monster yang muncul tepat setelah pertarungan melawan Wing Wyvern, banyak pemain yang merasa kesal.

"Serahkan pada kami! Kamu yang tidak membawa senjata sembunyi saja!"

"Benar! Kami akan menyelesaikannya dalam sekejap!"

Keduanya memamerkan teknik pedang yang luar biasa di depan Ren.

Sepertinya mereka berada di level di mana Ren Ashton tidak perlu ikut campur, jika menggunakan istilah dalam game.

"Ternyata kita memang lebih kuat!"

"Iya! Baguslah kita bisa menang!"

Kalimat ikonik saat akhir pertarungan pun masih sama, membuat Ren tersenyum tipis.

(Ooh, level mereka sudah di atas level yang disarankan.)

Ia menggali ingatan itu sambil menganalisis secara tenang.

Tepat setelah monster terakhir berhasil dibasmi, keduanya mengangkat tangan dan melakukan high-five!

"Luar biasa, saya tidak menyangka kalian seumuran dengan saya."

"Terima kasih. Tapi ini masih belum seberapa, lho."

"Sarah──── soal gadis yang ada di dekatku, katanya temannya jauh lebih kuat lagi. Makanya kita harus berjuang lebih keras lagi."

"……Apakah teman Anda itu juga seorang bangsawan?"

"Putri dari keluarga Clausel, penguasa Erendil. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Kalau kusebut nama Orang Suci Licia, mungkin kamu pernah mendengarnya."

(Pernah dengar banget.)

Sarah dan Vein mengajak Ren pergi dari tempat itu dan menawarkan untuk mengobrol sambil jalan pulang ke kota.

"Tadi kamu bilang kami tidak terlihat seperti orang seumuran, kan. Tapi katanya ada anak yang lebih kuat dari Licia, lho."

"Kalau dari cerita yang Sarah dengar, anak itu adalah putra ksatria yang melayani keluarga Clausel, ya?"

"Benar, benar. Anak itu sepertinya jadi tujuan utama Licia. Katanya dia berjuang keras supaya bisa menang melawan anak laki-laki itu. Anak itu sangat kuat, sampai-sampai dia selalu terpesona melihat pedangnya."

"Heh…… Begitu ya."

Ren hanya mendengarkan sambil lalu, atau lebih tepatnya ia berpura-pura tenang.

Sepanjang jalan pulang, ia merasa sangat kikuk dan tidak karuan.

 

Ia kembali ke kediaman saat hari sudah lewat petang, dan disambut oleh Licia yang sudah bangun.

Kepada Licia yang tampak senang karena kagum dengan kehebatan Flame King Gauntlet dan bilang itu cocok untuk Ren.

"Saya jadi senang mendengar Nona Licia sampai terpesona melihat pedang saya."

Deg, pipi Licia mendadak menegang.

Ia seolah membeku seketika.

"────Da-Dari mana kamu dengar itu?"

"Tadi saat pulang aku pergi ke luar kota untuk memastikan kondisi gauntlet-nya. Lalu, kebetulan aku bertemu dengan Nona Liohard yang sedang bertarung melawan monster────"

"Tidak tahu, tidak tahu! Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu bicarakan!"

"Eh, anu."

"Pokoknya aku tidak tahu! Te-Terpesona atau semacam itu…… aku tidak tahu apa maksudnya!"

Ini juga hal yang rumit, sebenarnya tidak masalah jika Licia mengatakannya langsung pada Ren.

Namun, fakta bahwa kata-kata yang ia ucapkan kepada orang lain sampai ke telinga Ren secara tidak langsung, memberikan rasa malu yang tak terhingga bagi Licia.

Ia sendiri tidak tahu alasannya. Mungkin itu masalah kesiapan mentalnya……

"Benar juga, apa Sarah tahu tentang Ren!?"

"Tidak. Karena kami tidak sempat saling memperkenalkan diri, bisa dibilang kami mengobrol tanpa tahu identitas satu sama lain."

"Uu~~ ja-jadi, kamu dengar semuanya!?"

Licia juga tidak membicarakan hal-hal yang memalukan. Ia hanya merasa malu karena hal yang dibicarakan tanpa sepengetahuannya itu ternyata sampai terdengar olehnya.

Ia duduk di sofa yang ada di lobi sambil melipat kakinya, lalu memeluk bantal di antara lutut dan lengannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close