Chapter 5
Menikmati Kehidupan Akademi
di Awal Musim Panas
Ketika tugas panitia pelaksana mulai berjalan serius, mereka
harus mengoordinasikan para siswa perwakilan yang ikut dalam berbagai cabang
lomba, serta bekerja sama dengan staf pengajar untuk mempersiapkan cabang yang
membutuhkan seleksi ketat.
Hari-hari itu pun berlalu sedikit demi sedikit di dalam
akademi. Menjelang seleksi perwakilan Festival Lion King yang akan dilaksanakan
pada awal Juli, ketegangan dan antusiasme mulai menyelimuti atmosfer di antara
para murid.
"────Ngomong-ngomong, perwakilan turnamen bela diri itu
berapa orang, ya?"
"────Bukannya empat? Seingatku per sekolah maksimal
empat orang. Tidak peduli tingkat berapa pun kelasnya."
Saat
Ren berjalan di koridor saat jam istirahat siang, percakapan semacam itu
terdengar di mana-mana.
(Sekolah yang menghasilkan juara di turnamen sebelumnya dapat jatah satu
orang tambahan, jadi aslinya cuma tiga orang, kan?)
Ia
menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela koridor, mencoba mengingat kembali
alur di dalam hatinya.
Selama
beberapa puluh tahun terakhir, Akademi Militer Kekaisaran selalu menjadi juara
di turnamen bela diri Festival Lion King.
Hal
ini sebenarnya wajar, mengingat status sekolah ini sebagai institusi elit yang
namanya tersohor hingga ke luar negeri. Bisa dibilang, mereka memang tidak
boleh kalah.
Tepat
saat Ren sedang menikmati waktu tenang sambil memandang ke luar jendela—
"Yo,
Ashton."
Ren
menoleh ke arah suara di sampingnya dan mendapati Kaito Leonard berdiri di sana
dengan gaya santai. Meski sempat terkejut karena disapa mendadak, Ren tidak
menunjukkannya dan langsung merespons.
"Kakak Kelas Leonard?"
"Yo! Aku melihatmu, jadi aku menyapa! Sedang apa kau di
tempat seperti ini?"
"Hanya berjemur setelah makan siang untuk mengumpulkan
energi."
Mendengar jawaban santai Ren, Kaito ikut mengalihkan
pandangannya ke luar jendela. Sepertinya Kaito tergoda oleh hangatnya sinar matahari
hingga ia menguap lebar.
"Seleksi
perwakilan akan segera dimulai, tapi karena kau dan Saintess tidak ikut, aku
hanya bisa menantikan bertarung melawan murid sekolah lain atau Vane dan yang
lainnya di turnamen utama nanti."
"Apakah seleksi internal di akademi tidak terasa
menyenangkan?"
"Yah...
bagaimanapun juga, aku ini putra mahkota keluarga Earl."
Kaito
sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia mengatakannya sambil tersenyum pahit.
Sebenarnya
ia tidak bermaksud merendahkan murid lain, namun ia sadar akan kekuatan dan
tanggung jawab yang ia emban sebagai anggota keluarga Earl.
Itu
adalah harga diri dan martabat sebagai keturunan keluarga Leonard, salah satu
dari Tujuh Keluarga Earl Agung. Bagi mereka, kalah dari remaja sebaya adalah
hal yang tidak bisa ditoleransi.
"Ngomong-ngomong,
ganti topik. Ashton, kau tahu tidak kalau di kelasku juga ada satu lagi orang
dari keluarga Earl Agung?"
Ren
teringat kelas beasiswa tahun kedua, lalu mengangguk.
"Maksud
Anda siswi itu? Katanya dia sangat menyukai Vane, ya?"
"Iya.
Kalau tidak menghitung Vane dan yang lainnya, dia itu sangat kuat.
Kalau
dia sudah memegang busur andalannya, aku pun kesulitan untuk mendekat. Tapi
yah... aku pribadi lebih suka beradu secara langsung dengan pedang dan
perisai."
Seleksi
perwakilan di setiap cabang olahraga dilakukan melalui beberapa tahap.
Meski
kriteria penilaian tiap cabang berbeda-beda, sistemnya rata-rata menggunakan
sistem poin melalui turnamen round-robin, di mana peringkat teratas akan
terpilih sebagai perwakilan.
Ren
bisa membayangkan dengan mudah bahwa Vane, Sera, dan Kaito pasti akan terpilih
sebagai perwakilan utama di akhir nanti.
"Baguslah
kalau begitu, Anda bisa bertarung di seleksi maupun di turnamen utama
nanti."
"Jangan
bicara sedingin itu dong!"
"E-eh...?"
"Aku
ini selalu ingin bertarung dengan orang kuat──── oh, gawat! Aku harus bersiap
untuk pelajaran selanjutnya! Bisa bahaya kalau aku dapat nilai merah lagi, jadi
aku pergi dulu ya! Sampai jumpa!"
Setelah
melepas kepergian Kaito yang pundaknya lesu, Ren melihat dua teman
seangkatannya di luar jendela. Vane dan Sera berjalan dengan penuh semangat
menuju lapangan latihan. Sepertinya mereka akan mengikuti pelajaran ilmu pedang
yang tidak diikuti oleh Ren dan Licia. Keduanya pasti sedang giat-giatnya
berlatih demi seleksi perwakilan nanti.
Ren
mengangkat kedua sikutnya dari bingkai jendela, melakukan peregangan kecil,
lalu mulai berjalan.
Karena
Licia bilang akan menyusul nanti, Ren berjalan sendirian menyusuri koridor
menuju perpustakaan.
"Ah!
Ren-kun!"
Ren
dihentikan oleh Fiona yang sedang turun dari lantai atas. Mereka pun
bertemu di bordes tangga.
"Apakah
Nona Fiona juga mau ke perpustakaan?"
"Iya,
benar sekali."
Ren
berkata sebelum mereka mulai melangkah.
"Kebetulan
aku juga mau ke perpustakaan. Kalau tidak keberatan, mau pergi bersama?"
"I-iya!
Mau!"
Fiona
tampak sangat senang diajak oleh Ren sampai-sampai suaranya terdengar ceria
tanpa ia sadari.
Saat
mereka berjalan bersama, sesekali ada murid yang melirik ke arah mereka. Fiona
sudah menjadi pusat perhatian bahkan sebelum Ren masuk ke sekolah ini.
Melihatnya
berjalan di samping seorang laki-laki dengan ekspresi yang jauh lebih manis
dari biasanya, membuat murid laki-laki maupun perempuan merasa penasaran.
Baik
Ren maupun Fiona yang berjalan dengan riang tidak menyadari tatapan-tatapan
itu. Meski begitu, Ren menyadari langkah kaki Fiona yang terasa ringan.
"Anda terlihat senang, apa ada sesuatu yang baik yang
terjadi?"
"Tentu saja ada. Fufu, dan itu masih berlangsung sampai
sekarang."
"Masih berlangsung...?"
"Iya. Masih berlanjut dengan baik saat ini."
Mungkin tadi itu terdengar sedikit terlalu agresif. Namun,
reaksi Ren justru agak di luar dugaan.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal baik yang dimaksud
Fiona ada hubungannya dengan dirinya sendiri, sehingga ia hanya memiringkan
kepala heran.
Bahkan saat melihat wajah bingung Ren dari samping, Fiona
justru mendongak dengan bahagia.
"Sekarang, hal baiknya baru saja bertambah satu
lagi," ucapnya dengan suara merdu seolah sedang bernyanyi.
Sepulang sekolah, di ruangan yang baru saja selesai
dibersihkan beberapa hari lalu, Radius berbicara kepada semua orang yang telah
berkumpul.
"Ini
untuk kalian. Dari pihak akademi."
Ia
menginstruksikan mereka untuk mengambil satu per satu ban lengan yang
diletakkan di dalam kotak kayu kecil di atas meja. Ban lengan itu tidak
bertuliskan 'Panitia Pelaksana' secara mencolok, melainkan didesain elegan
sebagai tanda pengenal resmi. Keempat orang itu mulai memasangkan ban lengan
tersebut ke seragam mereka sambil mendengarkan penjelasan Radius.
"Selama
kegiatan panitia pelaksana berlangsung, kita diwajibkan oleh peraturan untuk
mengenakan ban lengan ini. Sampai kemarin memang belum perlu, tapi karena
seleksi perwakilan sudah dimulai, ini menjadi hal yang wajib."
"Begitu ya," gumam Ren sambil selesai memasang ban
lengannya. Saat melihat pantulan dirinya di kaca jendela, penampilannya terasa
sedikit berbeda dari biasanya.
"Tiba-tiba
terasa seperti panitia sungguhan."
"Aku
pun berpikir begitu. Selama ini aku memang meminta kalian berempat membantu
persiapan, tapi mulai hari ini adalah pertunjukan yang sebenarnya. Mari kita
bagi tugas masing-masing."
Radius
sudah membagi pekerjaan untuk hari ini.
"Aku
dan Mirei akan berkeliling memantau seleksi perwakilan, mengurus pekerjaan
dokumen, serta merapikan status seleksi bekerja sama dengan pihak akademi.
Untuk kalian bertiga, aku minta tolong untuk merapikan informasi yang
dibutuhkan untuk seleksi cabang olahraga berikutnya, serta memeriksa dokumen
yang akan diserahkan saat kami kembali nanti."
"Bagaimana dengan ruang
panitia yang disediakan sekolah?" tanya Licia.
Maksudnya
adalah ruangan lain, bukan ruangan kecil di sudut perpustakaan ini.
"Pekerjaan
di sana sudah kuserahkan pada Mirei. Ada pertanyaan lain?"
Setelah
memastikan tidak ada masalah, Radius pergi meninggalkan ruangan bersama Mirei.
Di meja besar di tengah ruangan, dokumen sudah menumpuk
tinggi.
Tak lama setelah mereka bertiga mulai bekerja, sayup-sayup
keramaian dari seleksi perwakilan di luar jendela mulai terdengar.
Di tengah hari-hari sibuk sepulang sekolah yang nyaris tanpa
waktu istirahat, ada hari di mana Ren dan Radius melakukan patroli berdua.
"Apa
saja yang dilakukan saat patroli?"
"Terkadang
ada murid yang terbawa suasana dan menjadi terlalu emosional. Dalam kasus
tertentu, kita harus turun tangan."
Sambil
berjalan menyusuri area akademi di kala senja, Radius membuka suara.
"Ngomong-ngomong."
"Saat
aku meninggalkan ibukota untuk urusan resmi, selalu ada pengguna Great Sword
di sisiku. Sekarang aku berada di sini sebagai seorang murid, bagaimana
menurutmu soal adanya pengguna Great Sword di dekatku?"
"Yah,
mau ditanya bagaimana pun, ini kan cuma kebetulan saja kalau aku ini pengguna Great
Sword."
"Aku
mengandalkanmu. Jika seandainya ada murid yang terlalu berlebihan energinya,
kau harus menghentikannya."
"Ngomong-ngomong,
menghentikannya dengan cara apa?"
"Pihak akademi bilang,
jika memang perlu, tidak apa-apa membungkam mereka dengan kekuatan fisik."
Di antara murid yang
mengincar posisi perwakilan turnamen bela diri, sering kali muncul mereka yang
akhirnya terlibat perkelahian.
Jika diperingati dengan
kata-kata tidak mempan, sepertinya diperbolehkan untuk menghentikan mereka
meski dengan cara yang agak kasar.
Ren pun hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.
"Ternyata lebih────"
"Kau pikir ternyata lebih ke arah adu otot, ya?"
"────Yah, begitulah."
Radius menyadari apa yang dipikirkan Ren, lalu melanjutkan
pembicaraan sambil tertawa.
"Aku
pun berpikiran sama denganmu, tapi jika ada murid yang sudah keterlaluan, kita
tidak punya pilihan lain."
"Untuk
saat ini, aku berdoa semoga kesempatan seperti itu tidak pernah datang."
"Aku
setuju."
Sambil
melanjutkan patroli, mereka berdua tiba di lapangan sekolah.
"Ah."
Ren
menyadari sesuatu saat melihat ke salah satu sudut lapangan. Di sana sedang
berlangsung seleksi perwakilan turnamen bela diri, dan tempat itu dikerumuni
oleh sangat banyak murid.
Para
murid yang menonton seleksi tersebut meneriakkan dukungan dengan sangat
antusias.
"Mau
melihat lebih dekat?"
"Tidak
perlu. Dari sini pun kelihatan."
Saat
memperhatikan dari kejauhan, terlihat Vane yang sedang mengayunkan pedangnya
melawan kakak kelas dan berhasil meraih kemenangan.
Di
dekat sana, Sera dan Kaito juga ikut menonton, mereka tersenyum dan bertepuk
tangan melihat kemenangan Vane. Ren yang memperhatikan mereka kemudian duduk di
salah satu bangku taman, dan Radius pun duduk di sampingnya.
(……Sebenarnya, di mana ya Vane akan membangkitkan kekuatannya?)
Pertanyaan
itu muncul karena Ren sadar dia telah banyak mengubah alur cerita. Karena Fiona
masih hidup, kemungkinan Marquis Ignat untuk mengamuk hampir mendekati nol.
Sisa-sisa
Asval pun sekarang hanyalah tanduk yang dibawa oleh Ren, jadi kebangkitannya
sangat sulit dibayangkan. Jelas sekali bahwa Vane tidak akan mendapatkan
kesempatan untuk bangkit di Pegunungan Baldur.
(……Festival Lion King ini
juga salah satu momen penting, biarlah. Dia pasti akan bangkit di suatu
tempat nanti.)
Karena
bukan niat Ren untuk merenggut kesempatan bangkit milik Vane, ia tidak bisa
berbuat apa-apa selain merenung.
Sambil
memperhatikan jalannya seleksi dengan berbagai pikiran, Radius yang duduk di
sampingnya menoleh ke arah Ren.
"Sepertinya
kau tidak menonton karena ingin ikut berpartisipasi, ya."
"Eh?
Apa maksudmu?"
"Saat
ini kau terlihat sangat senang. Tapi anehnya, kau tidak terlihat seperti ingin
ikut masuk ke dalam pertandingan itu. Aku jadi penasaran."
"Aah—"
Ren
menyandarkan sikutnya di sandaran bangku dengan posisi yang agak santai.
"Bukankah
seperti ini terasa menyenangkan?"
"Apa yang kau maksud dengan 'seperti ini'?"
"Situasi di mana kita berpatroli sebagai orang di balik
layar sebuah festival. Melihat orang lain berjuang sekuat tenaga, sementara
kita sendiri berpikir setelah ini harus berjuang mengerjakan tugas
administrasi—aku sangat menyukai momen seperti sekarang ini."
Berbeda dengan Ren, Radius justru menunjukkan ekspresi serius
sambil melipat tangan.
Sesekali ia melirik ekspresi Ren, mencoba merapikan
pikirannya sendiri. Namun pada akhirnya, tidak ada kata-kata yang tepat yang
terlintas di benaknya.
"Lihat saja, melihat keramaian orang-orang di bawah
langit senja yang kemerahan, atau melihat ke arah gedung sekolah, para profesor
pun sedang memperhatikan dari jendela, kan?"
"Memang benar, tapi kita tidak ikut berpartisipasi
langsung dalam festival ini."
"Justru itulah bagian bagusnya. Berada di posisi di mana
kita bisa menikmati hal-hal yang tidak biasa dilakukan murid lain, seperti
pulang terlambat demi menyelesaikan pekerjaan akademi—hanya kita yang bisa
merasakan posisi ini."
Radius
kembali memperhatikan keadaan sekelilingnya. Di bawah langit senja yang merah,
keramaian para murid yang biasanya tidak terlihat.
Begitu pula dengan pemandangan dari jendela gedung sekolah.
Ia terkesan melihat para murid yang memperdalam hubungan mereka dengan raut
wajah yang lebih bahagia dari biasanya.
"……Ini
pertama kalinya aku melakukan pekerjaan di balik layar seperti ini."
"Lalu,
bagaimana menurutmu?"
Radius
akhirnya mengendurkan posisinya. Ia menyilangkan kaki dengan gaya santai yang
jarang ia tunjukkan.
Meski
begitu, aura kebangsawanan yang tak bisa disembunyikan tetap terpancar,
ditambah dengan ketampanannya yang luar biasa memberikan kesan karisma yang
kuat.
"Tidak
buruk juga."
Melihat senyum Radius yang terlihat seperti remaja laki-laki seumurannya, Ren pun ikut tersenyum dengan cara yang sama.
Saat
keduanya sedang beristirahat sejenak—
"Permisi!"
Melihat
kepanikan siswi yang berlari ke arah mereka, Ren dan Radius segera bertanya apa
yang terjadi. Siswi itu menjawab bahkan sebelum napasnya kembali teratur.
"Ada
orang-orang yang bertengkar di lapangan latihan! Aku berniat memanggil para
profesor, tapi aku melihat kalian berdua di jalan……!"
"Lapangan latihan itu tempat persiapan bagi para murid
yang mengikuti seleksi bela diri, kan."
Saat mereka bangkit dari bangku, Mirei yang seharusnya berada
di tempat lain pun datang mendekat. Dia sendiri sepertinya memiliki suatu
urusan.
"Pangeran, aku ingin memanggilmu untuk sedikit
berkonsultasi──── Nya-nya? Ada apa ini Nya?"
Ren
merasa penjelasan yang terlalu panjang akan membuang waktu, maka ia berkata
kepada Radius.
"Biar
aku yang pergi melihatnya, Radius tolong urus bagian sini."
"Apa
kau tidak apa-apa sendirian?"
"Kurasa begitu. Para profesor juga pasti akan segera
datang."
Ren pun berlari kencang sendirian. Di tengah atmosfer akademi
yang berbeda dari biasanya, rasa tegang perlahan mulai menyelimuti dirinya.
Lapangan
latihan yang biasanya digunakan untuk pelajaran ilmu pedang. Kini tempat itu
menjadi lokasi persiapan para murid seleksi bela diri, dengan pintu besar yang
selalu terbuka lebar.
"Apa
katamu!?"
"Hah!
Berani-beraninya kau menyuruhku minta maaf!"
"Na────
bukannya kau yang duluan cari gara-gara!"
Ren
mengembuskan napas panjang sambil melongok ke dalam lapangan latihan. Di salah
satu sudut, ia melihat para murid yang sedang bersitegang.
Saat
Ren melangkah menuju lokasi keributan, perhatian para murid yang menonton
langsung terpusat padanya. Baik karena kedatangan panitia pelaksana, maupun
karena sosok Ren sendiri.
"Ada
masalah apa?"
Para
murid yang sedang bertengkar itu awalnya tampak enggan menjawab. Baru setelah
ban lengan Ren yang tak sengaja terlihat oleh mereka, mereka akhirnya menoleh
menatap Ren.
"Orang-orang ini seenaknya menuduh kami!"
"Benar! Mereka bilang kami sengaja menabrak
mereka!"
"Begitu
ya. Lalu, kalau dari pihak kalian bagaimana……"
"Pelindung badan yang mereka lempar sembarangan mengenai
tasku. Di dalam tas itu ada perlengkapan untuk seleksi, jadi tentu saja aku
protes. Teman-temanku di sini juga melihatnya."
"Tidak
salah lagi. Mereka jelas-jelas melemparnya ke arah kami."
Kedua
belah pihak terus terbawa emosi. Aura kemarahan yang begitu pekat menyelimuti
mereka hingga rasanya salah satu dari mereka bisa saja menarik kerah baju lawan
kapan saja.
Karena
mereka semua adalah kakak kelas, sepertinya semangat mereka menghadapi Festival
Lion King jauh lebih besar dibanding murid tahun pertama.
"Dia yang duluan menabrakku dari belakang!" seru
murid yang melempar pelindung badan.
"Kan
sudah kubilang aku minta maaf! Lihat sendiri, lapangan latihan ini penuh sesak dengan
orang dan barang! Aku juga didorong seseorang sampai menabrak kalian!"
balas murid lainnya tak kalah keras.
Mendengarnya, dalam hati Ren merasa ini masalah yang sepele,
tapi ia tidak lupa pada tugasnya.
Ketegangan di antara keduanya melampaui batas dalam sekejap,
dan akhirnya────
"Kalian, jangan mentang-mentang kalah di penyisihan lalu
cari gara-gara dengan kami!"
"Apa────
Keparat! Kalau kau bicara sampai sejauh itu……!"
Keduanya
meraih senjata latihan yang bilahnya sudah ditumpulkan.
Melihat
mereka yang sudah hilang kendali, Ren sedikit melonggarkan dasi seragamnya.
Ia
menoleh ke arah seorang murid di dekatnya yang membawa pedang latihan di
pinggang. "Pinjam ya," ucapnya, lalu mencabut pedang itu bahkan
sebelum si pemilik sempat menjawab.
Sebelum
kedua pihak itu sempat mengayunkan pedang, bahkan di saat mereka baru saja
memulai gerakan untuk mengangkat senjata, Ren langsung mengintervensi.
Tepat
sesaat sebelum pedang kedua belah pihak terangkat lebih tinggi dari pinggang.
"……Eh?"
"Barusan
itu……"
Klang, suara dua bilah pedang yang jatuh berdenting di lantai.
Saking
cepatnya, tidak ada yang tahu kapan Ren mengayunkan pedangnya.
Para
penonton hanya paham bahwa Ren telah melakukan sesuatu, tapi hanya sebatas itu
yang bisa mereka tangkap.
Kenyataan
yang tersisa hanyalah si murid tahun pertama yang dirumorkan itu telah
melumpuhkan para kakak kelas dengan sangat mudah tanpa menunjukkan kekuatan
aslinya sedikit pun.
"Lebih
dari ini, tidak akan ada yang merasa bahagia."
Ren
yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara keduanya berkata dengan nada
datar, lalu mengembalikan pedang latihan itu kepada pemilik aslinya.
Melihat para murid yang bertengkar tadi terdiam, Ren
mengembuskan napas lagi. Tekanan yang tadi ia pancarkan lenyap seolah-olah hanya
ilusi.
Ia
melanjutkan—
"Kurasa
ini hanya kecelakaan kecil karena serangkaian kebetulan yang tumpang tindih. Tolong, tenanglah sedikit."
"A-ah, iya……"
"Mungkin…… kau
benar……"
Kedua
perwakilan itu menjawab pelan dan saling menggumamkan kata maaf kepada lawan
mereka.
Apakah
tadi itu terlalu mengandalkan kekuatan fisik?
Ren
mengejek dirinya sendiri, berpikir mungkin Radius bisa menghentikan mereka
hanya dengan kata-kata.
Ren
memutuskan untuk mengawasi sebentar sambil menunggu kedatangan instruktur, lalu
menoleh ke arah pintu masuk lapangan latihan.
Saat
itu juga, suara bel yang lembut bergema di seluruh lapangan latihan.
(Suara ini)
Mendengar denting bel yang familiar itu, Ren tahu bahwa dia
telah datang.
Begitu mendengar suara bel tersebut, sisa-sisa amarah dari
para murid yang tadi dihentikan Ren benar-benar lenyap.
Tak lama kemudian, seorang instruktur datang dan menghampiri
Ren setelah melihat keberadaannya.
"Ada pedang tergeletak di lantai, pertengkaran macam apa
ini?"
"Saya sudah menghentikannya, jadi hanya percobaan saja.
Lagi pula, kalaupun mereka mengangkat pedang, mungkin hanya berniat memasang
kuda-kuda saja. Intinya tadi hanya adu
mulut."
"Fuu…… Apa kau berusaha
menjaga perasaan kakak kelasmu karena ini festival dua tahunan?"
Ren tidak menjawab, hanya
memiringkan kepala seolah tidak tahu apa-apa. Instruktur itu mengerti
maksudnya dan tidak berniat bertanya lebih jauh.
"Saya akan pergi sekarang, tolong hubungi jika terjadi
sesuatu."
"Baiklah. Terima kasih atas kerja kerasmu sebagai panitia
pelaksana."
Saat
Ren berbalik untuk meninggalkan lapangan latihan, salah satu murid yang tadi
kehilangan ketenangannya menghampiri Ren. Dengan wajah yang tampak tidak enak,
ia berniat mengucapkan terima kasih karena telah dihentikan, namun—
"Aku
mengerti semangat kalian jadi meluap-luap karena ini festival dua tahun sekali.
Tapi tolong berhati-hatilah."
Ren
mengatakannya lebih dulu dengan senyum kecut, namun murid kelas dua itu bisa
menangkap makna lainnya. Sosok Ren saat ini seolah-olah sedang berkata────
────Karena,
tidak akan ada kesempatan kedua.
Mendengar itu, si kakak kelas refleks bergumam, "Maafkan
aku." Meski Ren tidak memegang pedang, ia merasa seolah-olah tubuhnya
diselimuti tekanan yang bisa mencabik-cabiknya.
Murid kelas dua itu hanya bisa mengantar kepergian Ren dalam
diam.
Keluar dari lapangan latihan, Ren membiarkan dirinya diterpa
angin. Udara luar terasa sedikit dingin seiring mendekatnya malam.
Bagi Ren, itu sangat membantu untuk mendinginkan rasa panas
sisa kejadian tadi. Saat Ren sedang mendinginkan diri—
"Aku datang karena dipanggil teman, tapi ternyata malah
dikasih kejutan!"
Seorang gadis bersuara ke arah punggung Ren.
"Teman seangkatan yang dirumorkan sedang menghentikan
para senior, dan hebatnya teman seangkatan itu sama sekali tidak terpengaruh
oleh Magic Tool milik Nemu. Apa maksudnya ini?"
"Bukannya
itu hanya kebetulan?" jawab Ren tanpa berbalik.
"Hee,
jadi Ashton-kun meragukan efek Magic Tool buatanku?"
"Mana
mungkin. Aku sama sekali tidak meragukan kualitas Magic Tool buatan nona
muda keluarga Althea. Suara bel tadi kemungkinan memiliki efek untuk menenangkan
orang, kan?"
"Tepat
sekali! Seperti yang diharapkan dari lulusan terbaik, Ashton-kun!"
Ren pun berbalik menatap sang pemilik suara. Berdiri di dekat
pintu masuk lapangan latihan adalah seorang gadis bertubuh pendek namun
memiliki lekuk tubuh yang menonjol.
Ia mengenakan atasan berkerudung besar di atas seragamnya,
dengan sabuk tebal di pinggang tempat botol-botol uji dan berbagai perkakas
terikat. Gadis itu tampak ceria dan imut seperti hewan kecil.
"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita bicara
langsung, kan?"
"Iya,
iya! Tapi Nemu sudah tahu soal Ashton-kun lho! Kamu kan lulusan terbaik, dan
sering bicara dengan Licia-chan atau Sera-chan! Belum lagi dengan
Vane-kun!"
Namanya
adalah Nemu. Nama keluarganya, Althea. Keluarga Althea adalah keturunan dari
salah satu Seven Heroes yang berjasa besar dalam perancangan Jam Raksasa
di Erendil serta manajemen informasi Kartu Guild.
Nemu
yang menyapa Ren pun memiliki kemampuan luar biasa sebagai pengrajin Magic
Tool sebagai pewaris darah pahlawan tersebut.
Dalam
party yang berpusat pada Vane, ia berperan penuh sebagai pendukung (Support).
"Bagaimana
caranya? Rasanya aneh kalau kau tidak terpengaruh sedikit pun oleh Magic
Tool milik Nemu."
"Bagaimana
caranya? Bukannya Anda sendiri yang mengatakannya tadi."
"Eh? Aku?"
"Suara bel itu memberikan efek tenang bagi yang
mendengarnya. Tadi kubilang mungkin itu kebetulan, tapi kalau dipikir-pikir,
sejak awal aku memang sudah tenang."
"……Jadi, karena kau tidak butuh ditenangkan, makanya
efeknya tidak ada?"
"Benar.
Tidak ada penjelasan lain selain itu."
"Huuun…… begitu
ya."
Ren tidak memberi penjelasan lebih lanjut dan tidak berniat
memperpanjang obrolan.
Selain
karena ia merasa harus menjaga sikap di depan anggota keluarga Earl, tugas
panitia pelaksananya pun belum selesai. Ren berkata "Kalau begitu saya
permisi" lalu meninggalkan Nemu.
"Aneh.
Untuk orang yang katanya tidak butuh ditenangkan, tadi dia memancarkan tekanan
yang luar biasa lho." Nemu bergumam dengan heran.
Seiring
berjalannya hari sebagai panitia pelaksana, seleksi perwakilan untuk beberapa
cabang seperti debat telah berakhir.
Kesibukan
Ren saat jam istirahat siang yang biasanya penuh pekerjaan pun mulai berkurang.
Seleksi
untuk turnamen bela diri masih berlangsung, namun semuanya berjalan lancar.
Hampir
dua minggu telah berlalu sejak seleksi perwakilan mulai diadakan sepulang
sekolah.
Suatu
siang, Ren yang tidak mengikuti pelajaran ilmu pedang memanfaatkan waktu
luangnya untuk pergi ke ruang kecil panitia pelaksana.
Di
dalam tasnya, penuh dengan tugas-tugas dari berbagai mata pelajaran.
Fiona,
yang berada sendirian di ruangan itu, juga tengah mengerjakan tugasnya. Radius
dan Mirei tidak terlihat. Mereka bilang harus absen dari kelas karena ada
urusan resmi.
Namun,
mereka berjanji akan datang sepulang sekolah saat tugas panitia dimulai.
"Boleh
aku ikut belajar di sini?"
"Tentu
saja boleh, mana mungkin aku melarang."
Mendengar suara Fiona, Ren duduk di kursi di hadapannya. Di
atas meja, selain buku referensi milik Fiona, sudah berjajar berbagai dokumen
panitia pelaksana yang biasa mereka gunakan.
"Lho? Di mana Nona Licia?"
"Nona Licia sedang ada urusan resmi di Erendil, jadi
hari ini dia absen dari akademi. Radius juga absen karena urusan resmi. Sepertinya mereka
pergi jauh menaiki kapal sihir dan akan pulang hari ini juga."
"Kalau begitu…… apakah
Nona Mirei juga?"
"Benar."
Melihat Ren yang menjawab
dengan tenang, Fiona hanya bisa mengerjap-ngerjap dalam diam.
Ia menatap dalam-dalam ke
arah Ren yang hendak mulai mengerjakan tugas, lalu buru-buru menunduk agar
pipinya yang mulai memerah tidak terlihat.
Tiba-tiba ia berdiri dan
berkata sambil menutupi wajahnya, "Aku buka jendelanya dulu ya."
Lalu────
(Hanya berdua dengan
Ren-kun……!?)
Setelah membuka jendela, ia
menggerakkan bibirnya tanpa suara agar tidak terdengar oleh Ren. Ia bisa merasakan detak
jantungnya yang mulai bertalu-talu semakin kencang.
Di
saat yang sama, ia menyemangati dirinya sendiri bahwa sebagai orang yang dua
tahun lebih tua dari Ren, tidak pantas baginya untuk hanya menjadi gadis
menyedihkan yang gampang tersipu.
"Tenang. Sudah tidak
apa-apa."
Setelah rasa panas di
wajahnya mereda, ia berbalik menatap Ren. Tanpa ia sadari, Ren sudah berdiri
dan mulai menyeduh teh menggunakan peralatan yang tersedia di ruangan tersebut.
"Nona
Fiona mau juga?"
"Tolong
ya. Aku sangat menantikan teh buatan Ren-kun."
Fiona
sebenarnya ingin membantu, tapi Ren sudah hampir menyelesaikan semuanya, jadi
tidak ada yang bisa ia lakukan.
Beberapa
menit kemudian. Aroma harum tercium dari cangkir teh yang dihidangkan di
depannya.
Tentu
saja rasanya juga enak. Berbeda dengan buatan Fiona, teh ini tidak memiliki
rasa sepat yang berlebihan—benar-benar seduhan yang sempurna.
Fiona
sebenarnya sudah jauh lebih mahir sejak kejadian di Pegunungan Baldur, tapi Ren
masih jauh di atasnya.
"Anu──────"
Ren
yang sudah kembali ke tempat duduknya mulai bicara. Fiona yang sedang meminum
teh buatan Ren dengan wajah bahagia bertanya, "Ada apa?"
"Ada bagian dari tugas yang tidak kumengerti. Kalau boleh, aku ingin
minta diajarkan."
Merasa
senang karena diandalkan, Fiona menjawab dengan suara ceria.
"Tentu! Dengan senang hati aku akan membantumu!"
Ia mengangguk dengan senyum yang berbinar. Saat itu, kalung
di leher Fiona bergoyang.
Itu bukanlah Kalung Penolak Bala yang ia pakai di Pegunungan
Baldur, melainkan kalung dengan liontin batu Star Agate pemberian Ren.
Melihat hal itu, Ren berkata dengan agak malu.
"Aku senang Anda menjaganya dengan baik, tapi apa tidak
apa-apa kalau tidak diproses dengan benar?"
Batu Star Agate yang menghiasi leher Fiona itu hampir
menyerupai bongkahan mentah. Rasanya sedikit terlalu sederhana untuk menghiasi
leher seorang putri Marquis. Namun—
"Aku lebih suka bentuk yang seperti ini."
Karena Fiona mengatakannya dengan wajah bahagia, Ren merasa
tidak sopan jika bicara lebih jauh.
Lagi pula, Fiona segera mengalihkan topik seolah ingin
menunjukkan betapa senangnya ia diandalkan oleh Ren, sehingga Ren tidak
membahas kalung itu lagi.
"Bagian mana yang tidak kau mengerti?"
Fiona sedikit mencondongkan tubuhnya di atas meja, mendekat
ke arah Ren.
"Ini
tugas dari profesor Alkimia, aku tidak mengerti kenapa harus menggunakan obat
kimia yang ini."
"Hmm, begini…… bagian
itu memang perhitungan dengan bahan lainnya agak sulit. Dengan rumus seperti ini, obat
kimia itu jadi dibutuhkan karena────"
Pena
Fiona mulai menari di atas buku catatan. Tulisannya sangat rapi, dengan bentuk
huruf yang agak bulat dan manis.
"Bagaimana?"
"……Eh."
Ren
yang ditanya hanya bisa memasang wajah kaku karena belum sepenuhnya paham.
Melihat senyum kecut Ren,
Fiona tertawa kecil "Ahaha……" dengan nada bersalah lalu bangkit dari
kursinya. Ia tidak tertawa karena Ren lambat paham.
Bagi Fiona, hal semacam itu tidak mungkin
terjadi. Ia berdiri untuk pindah ke kursi di sebelah Ren.
"Mari
kita periksa dari perhitungan yang ini."
Fiona
kembali menggerakkan penanya di buku catatan Ren. Kali ini ia menjelaskan
dengan lebih hati-hati dan dari sudut pandang yang berbeda.
Fiona menyelipkan rambutnya yang menjuntai ke telinga, lalu
mencuri pandang ke wajah Ren dari samping. Melihat wajah serius Ren yang
menatap buku catatan, pipinya kembali merona merah.
"……Kira-kira
seperti itu."
Ren
menoleh menatap Fiona yang baru saja selesai menjelaskan. Karena jarak mereka
yang secara fisik sangat dekat, aroma bunga yang lembut tercium dari rambut
Fiona.
"Terima
kasih banyak! Akhirnya aku paham!"
"Iya,
syukurlah kalau begitu."
Fiona
segera berdiri dan kembali ke kursinya semula, meninggalkan aroma manis di
tempat duduk Ren.
Sebenarnya
ia ingin terus duduk di samping Ren, tapi jika terus begitu pipinya pasti akan
memerah lagi, jadi ia sudah sampai batasnya. Hanya saja, ia tidak bisa berbuat
apa-apa soal jantungnya yang masih berdegup kencang.
Waktu
mengerjakan tugas berlalu satu, dua jam. Ren yang ingin beristirahat
sejenak berdiri dan berjalan menuju jendela yang terbuka.
Sambil
menikmati hembusan angin, ia teringat saat mereka membersihkan ruangan ini. Ia
teringat satu buku di rak yang membuatnya penasaran.
Ren
segera melangkah ke rak buku di dinding, lalu mengambil buku yang ia susun
tempo hari.
Buku
berjudul 'Pasukan Monster Raja Iblis' itu ia bawa kembali ke tempat
duduknya lalu ia buka.
(……Semuanya monster yang tidak kukenal.)
Terdapat banyak ilustrasi yang sangat kuat, namun mulai dari
nama hingga wujudnya, semuanya baru pertama kali ia lihat. Hampir semua monster
yang digambarkan di sana tidak ada lagi di masa sekarang.
Tertulis bahwa mereka telah dimusnahkan oleh party Pahlawan
Ruin serta perlawanan dari berbagai negara.
Di dalamnya juga terdapat informasi tentang monster yang
dikatakan tinggal di wilayah yang disebut Benua Iblis, tempat di mana Kastil
Raja Iblis berada.
Ujung
jari Ren berhenti di sebuah halaman. Matanya terpaku pada monster yang digambarkan sedang
berjalan di padang pasir yang tampak seperti medan perang. Fiona ikut melongok
buku yang dipegang Ren dari belakang.
"Buku ensiklopedia?"
"Aku
penasaran sejak kita membersihkan ruangan ini. Sepertinya monster yang tertulis
di sini adalah salah satu jenderal yang memimpin Pasukan Raja Iblis."
Zirah
raksasa setinggi lima mail itu berwarna hitam pekat dengan hiasan emas. Aura mengerikan
yang terpancar darinya bisa dirasakan bahkan hanya dari gambar tersebut. Ia
memiliki empat lengan.
Memikul pedang raksasa dalam jumlah yang sama, dengan kain
biru kusam yang tersampir di salah satu bahunya.
Di dalam zirah itu tidak ada tubuh daging, melainkan dipenuhi
oleh mana yang pekat. Katanya, Batu Sihir
(Magic Stone) miliknya melayang di dalam mana tersebut.
"Sepertinya monster ini
tidak diberikan peringkat (Rank) karena informasinya terlalu
sedikit," ucap Ren.
Fiona yang ikut mengintip
buku tersebut membacakan sebuah kalimat.
"……Monster yang menjadi
jauh lebih kuat setelah mengabdi kepada Raja Iblis. Ia tidak pernah mengabdi
kepada siapa pun selain Raja Iblis, dan sebelum itu ia dijuluki sebagai Kenma
(Iblis Pedang)…… katanya."
Kalimat
berikutnya dibacakan oleh Ren.
"Klasifikasinya
sepertinya adalah Dragon Race. Dari penampilannya sama sekali tidak
terlihat seperti naga, tapi katanya di dekat Batu Sihirnya terdapat organ yang
sama dengan spesies naga."
Yah,
itu hanyalah klasifikasi. Karena jumlah monsternya sedikit, pembagian
kategorinya pasti sulit, jadi mereka menentukannya berdasarkan struktur tubuh.
Ciri
lainnya yang disebutkan adalah daya tahan hidup (Vitality) yang luar
biasa. Mengingat buku itu menuliskan ada beberapa monster sejenis pada masa
itu, kekuatan Pasukan Raja Iblis benar-benar tak terbayangkan.
Katanya
Seven Heroes berhasil menang setelah bertarung melawan salah satu dari
mereka di Benua Iblis. Ren segera menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak.
Setelah
menghela napas lega, Fiona bertanya.
"Ren-kun,
apa rencanamu untuk liburan panjang besok?"
Setelah
melewati hari-hari sibuk seleksi perwakilan Festival Lion King, minggu depan
akademi akan libur panjang. Ini bukan liburan khusus tahun ini saja, melainkan
liburan yang umum terjadi.
"Aku
tidak punya rencana khusus. Hanya saja, Nona Licia sepertinya punya pekerjaan
keluarga Clausel hampir setiap hari. Bagaimana
dengan Nona Fiona?"
"Ahaha…… sebenarnya aku
sama dengan Nona Licia."
Sejujurnya ia ingin mengajak
Ren pergi berbelanja atau semacamnya, tapi karena ada pekerjaan, itu tidak
mungkin terwujud. Fiona sempat merasa lesu sejenak, namun—
"Oh
iya! Aku membawa surat dari Ayah untuk Ren-kun!"
Tiba-tiba
ia teringat dan mengeluarkan amplop dari tasnya untuk diberikan kepada Ren.
Mengetahui surat itu dari Ulysses, Ren segera membukanya.
Di
dalam surat tertulis, 'Minggu depan, ayo pergi ke kawasan pandai besi
bersama'. Mendapat ajakan mendadak itu, Ren berpikir—
(……Apa ini soal pelindung badan yang baru, ya?)
Ulysses menentukan waktu minggu depan sore hari, dan mereka
akan bertemu di ibukota.
Sore hari di salah satu hari libur panjang tersebut, Ren
sedang berjalan bersama Ulysses di ibukota.
"Apa
tidak apa-apa tanpa pengawal?"
"Kan ada kau di sampingku…… itu cuma setengah bercanda,
sebenarnya mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat. Pasti."
"Ah, sudah kuduga."
"Ngomong-ngomong, perkataanku tadi itu bermaksud bahwa
selama ada kau, tidak apa-apa meski pengawalku tidak terlihat, kau paham
maksudnya kan?"
"Tolong hentikan itu."
Ulysses yang membuat Ren tersenyum kecut itu tampak menang
dan terkekeh.
"Bagaimana
pekerjaan panitia pelaksana?"
"Menyenangkan
kok. Awalnya aku berniat tidak melakukan apa-apa, jadi aku senang bisa ikut
terlibat dalam festival sebagai panitia."
Ulysses yang mendengarkan dengan penuh minat tersenyum.
"Mendengar
ceritamu, aku jadi teringat masa-masa saat aku sendiri menjabat sebagai panitia
pelaksana dulu."
"Eh?"
"Oya?
Kenapa wajahmu kaget begitu?"
"Aku
hanya terkejut mengetahui Tuan Ulysses juga pernah jadi panitia pelaksana. Apa
Anda tidak ikut kompetisi seperti lomba debat?"
"Pernah
sekali. Tapi menurutku jadi panitia jauh lebih menyenangkan."
"Hee…… apa yang
menyenangkannya?"
"Tentu saja melihat
tingkah laku para bangsawan sebaya. Ah, ternyata kalau mereka sedang
bersemangat akan bertingkah seperti ini ya~…… saat melihat itu, aku ingat
merasakan perasaan yang mirip dengan kenikmatan."
"Waduuh……"
Ren menatap Ulysses dengan tatapan agak ngeri. Ulysses
sepertinya justru senang melihat tatapan jujur dari Ren, ia menyunggingkan
senyum lebar.
"Saat ini, melihat wajahmu yang seperti itu adalah hal
yang paling menyenangkan bagiku."
(Apa orang ini pernah kehilangan ketenangannya?) Ren bertanya-tanya dalam hati
sambil terus berjalan di sampingnya.
"Aku
baru bertanya sekarang, tapi kau tahu kan alasanku memanggilmu hari ini?"
"Aku
pikir ini soal pelindung badan yang dibuat dari tanduk Asval."
"Tepat
sekali. Aku baru dikabari kalau barangnya sudah hampir selesai, jadi aku
menghubungimu minggu lalu."
Mendengar itu, Ren mulai merasa antusias dan bibirnya
menyunggingkan senyum. Melihat Ren yang biasanya bersikap dewasa kini
menunjukkan sisi yang sesuai dengan usianya, Ulysses menampakkan ekspresi
lembut yang sama sekali tidak menunjukkan sosok kejam yang pernah membuat
banyak bangsawan menangis.
Semakin dekat dengan Festival Lion King, keramaian di pusat
kota terasa semakin meningkat. Begitu tiba di bengkel milik Wellrich—
"Aku sudah menunggumu."
Menyadari kedatangan tamu, Wellrich muncul dari dalam bengkel
dengan senyum lebar. Ia tampak jauh lebih lelah dari biasanya. Ada lingkaran
hitam di bawah matanya, dan cara jalannya pun terasa jauh lebih lamban.
Ren yang melangkah masuk ke dalam bengkel yang berantakan
seperti biasa itu melihat sebuah meja kayu bulat yang terletak tepat di
tengah-tengah bengkel.
Di atas meja itu, diletakkan sesuatu yang sepertinya baru
saja selesai dibuat oleh Wellrich.
"Apakah itu produk
jadinya?"
"Yo! Kali ini aku
membuatnya menjadi sepatu bot! Kaki Ren sepertinya tidak akan bertambah besar
lagi secara drastis, jadi penyesuaian kecil tidak akan jadi masalah!"
Ulysses kabarnya telah menyiapkan bahan-bahan pendukung
seperti benang khusus untuk proses ini. Begitu bahan-bahan itu sampai, Wellrich
langsung bekerja tanpa henti, bahkan merelakan waktu tidurnya.
Sepatu bot itu menggunakan banyak bagian dari tanduk Asval
yang telah diproses. Sekilas mungkin tidak terlihat, tapi bagian tumit, ujung
jari, hingga punggung kaki dilapisi dengan material yang sangat kokoh.
Desainnya menyerupai sepatu kulit yang cocok dipadukan dengan
seragam sekolah. Wellrich juga tidak melupakan aspek kemudahan bergerak yang
sangat diprioritaskan oleh Ren. Setelah mendengar penjelasan Wellrich yang
tampak bangga, Ren mencoba memakai sepatu bot itu untuk merasakan sensasinya.
"Tidak ada bagian yang terasa mengganjal, dan ini sangat
ringan."
"Kan, kan? Kau jadi semakin mengagumiku, kan?"
"Bukannya semakin mengagumi, tapi aku memang tidak
pernah meragukan kemampuanmu."
"Ooh?
Begitukah? Yah, pakai saja sesukamu. Dengan bot itu, kurasa tidak akan terlalu
mencolok meski dipakai di balik seragam. Pokoknya gunakanlah senyaman mungkin.
Aku membuatnya agar mudah disesuaikan nanti, jadi jangan ragu untuk terus
tumbuh besar ya."
"Anu…… terima
kasih?"
Pertumbuhan tubuh adalah
sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh Ren sendiri, jadi peduli atau tidak
pun hasilnya akan sama saja. Ren tersenyum kecut dan menjawab "Akan
kupakai pulang" saat Wellrich bertanya apakah ia ingin langsung mengenakannya.
Sepatu yang ia pakai sebelumnya ia masukkan ke dalam tas rami pemberian
Wellrich.
"Berbeda dengan Flame King's Gauntlet, yang ini
tidak punya nama. Yang itu memang jauh lebih istimewa secara keseluruhan.
────Nah, sudah cukup, kan?"
Wellrich berkata sambil menyempoyongkan tubuhnya.
"Aku sudah tidak tidur seperti orang bodoh, jadi
sekarang aku mengantuk seperti orang bodoh."
Belum sempat Ren menyelesaikan ucapan terima kasihnya,
Wellrich sudah tidak kuat menahan kantuk. Ia jatuh terlentang membentuk huruf
'X' dan mulai mendengkur keras. Bukan di atas tempat tidur, melainkan di atas
lantai kayu yang kotor terkena jelaga.
"Sepertinya dia benar-benar kelelahan."
"Iya. Hap──── seup."
Ren mengangkat tubuh Wellrich dan memindahkannya ke tempat
tidur. Ia meminjam kunci yang terletak di meja bundar, lalu mengunci pintu
bengkel setelah keluar.
"Aku langsung menguncinya tanpa berpikir panjang, tapi
bagaimana cara mengembalikan kuncinya?"
"Kalau tidak salah kaca jendela di sebelah sana…… lihat,
ada kaca yang ujungnya pecah. Kau bisa melemparkannya masuk lewat situ.
Lagipula, dengan kondisi jendela pecah begitu, fungsi keamanannya sudah nol
besar."
Ren
tidak bisa membantah kata-kata Ulysses.
"Kau
tidak butuh pelindung dada atau semacamnya?"
"Karena
tubuhku masih dalam masa pertumbuhan, aku merasa bagian-bagian besar lebih baik
dibuat nanti saat postur tubuhku sudah tidak butuh banyak penyesuaian
lagi."
Sebenarnya
bot itu pun mengalami hal yang sama, namun menurut pemikiran Wellrich, bagian
kaki adalah bagian yang paling sedikit membutuhkan penyesuaian. Sisa material
lainnya pasti akan berguna di lain waktu.
(……Dengan ini, mungkin pedang sihir api itu akan lebih mudah digunakan.)
Pertanyaan
yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu mengingatkannya pada saat ia pertama
kali mendapatkan Flame King's Gauntlet. Ren berpikir mumpung libur,
tidak ada salahnya mencoba kekuatannya besok.
Keesokan
paginya. Karena belakangan ini ia tidak sempat pergi berburu, ini adalah waktu
yang tepat untuk mencoba efek sepatu bot barunya.
"Oya,
Tuan Ren?"
Ren
yang sedang menuju aula utama untuk keluar rumah disapa oleh Yuno, pelayan yang
juga bangun pagi.
"Fajar bahkan belum menyingsing, mau ke mana Anda jam
segini?"
"Belakangan ini aku tidak pernah keluar kota, jadi aku
ingin mencari suasana baru. Sekalian ingin memetik buah yang hanya bisa diambil
pada jam-jam seperti ini."
"Buah yang hanya bisa dipetik jam segini……?"
Yuno memiringkan kepalanya heran, namun karena Ren tampak
terburu-buru, ia membiarkannya pergi tanpa bertanya lebih lanjut. Setelah
keluar dari kediaman, Ren menuju kandang kuda yang berada di area yang sama.
Di
antara kuda-kuda milik para ksatria, ada Io, kuda yang dulunya milik Jelkuku.
Io yang tumbuh besar seiring perkembangan Ren, hari ini pun tampak memiliki
bulu cokelat kemerahan yang berkilau indah.
Melihat Ren mendekat, Io meringkik pelan, 'Bruuu'. Saat surainya disentuh,
ia mendekatkan kepalanya ke arah Ren untuk bermanja-manja.
"Ayo
kita pergi agak jauh setelah sekian lama."
Io
yang membawa Ren di punggungnya mulai berjalan dengan riang, meninggalkan area
kediaman sambil menggaungkan suara tapal kudanya. Begitu sampai di gerbang
menuju luar kota, seorang ksatria yang berjaga di sana menyapanya.
"Oya?
Mau ke mana sepagi ini?"
"Ke
hutan sebentar. Ingin mencari suasana baru."
"Baguslah
kalau begitu! Tolong berhati-hatilah!"
Ksatria
itu melepas kepergian Ren tanpa curiga sedikit pun.
Setelah
memacu Io selama satu jam, ufuk langit mulai sedikit terang. Sepuluh menit
kemudian, mereka memasuki hutan dan langsung menyusuri jalan setapak.
Di
area ini, Io harus berjalan perlahan. Tak lama kemudian, mereka sampai di
sebuah area terbuka yang luasnya kira-kira cukup untuk satu rumah warga—tidak
terlalu luas namun tidak sempit juga.
Ren
membiarkan Io bergerak bebas, lalu menatap langit fajar sambil mengamati buah
yang tumbuh di pohon terdekat.
Buah
yang tadinya berwarna hijau perlahan berubah menjadi merah pekat seiring
menyebarnya cahaya fajar.
Menunggu
waktu yang tepat, Ren memanennya dan memasukkannya ke dalam tas rami.
Namun,
buah itu hanyalah bonus bagi Ren, tujuan aslinya ada pada hal lain. Ia
memetiknya hanya sebagai oleh-oleh untuk semua orang di kediaman.
Ren
yang sudah memakai sepatu bot barunya, kini memasangkan Flame King's
Gauntlet di lengannya dan mengikat talinya.
"────Datanglah."
Ia
sengaja bersuara untuk menyemangati diri sendiri. Yang muncul kemudian adalah
sebuah pedang berwarna perunggu dengan ukiran pola di berbagai bagiannya.
Dulu
sebelum ada Flame King's Gauntlet, pedang sihir api ini tidak bisa
dipanggil karena recoil-nya yang terlalu besar.
Ren
berpikir bahwa dengan menambah perlengkapan yang menggunakan material Asval,
mungkin akan ada perubahan baru yang terjadi. Itulah alasan mengapa ia keluar
rumah pagi-pagi sekali.
"Benar
saja. Sama sekali tidak ada recoil."
'Bruuu'.
Io yang diajak bicara sepertinya tidak tertarik, ia hanya menyahut tanpa
menoleh ke arah Ren dan terus mengibaskan ekornya sambil memakan rumput di
kakinya.
Ren
menyadari bahwa sekarang ia bisa memanggil pedang sihir api itu jauh lebih
mudah dari sebelumnya.
Senang dengan hasil yang sesuai ekspektasi, Ren mengayunkan
pedangnya dengan ringan.
Lalu, bukannya api keemasan seperti yang ia tunjukkan di
Menara Jam, melainkan api merah pekat yang bergelombang tipis di hadapannya
sebelum akhirnya menghilang.
Saat ia mencoba mengayunkan pedang lagi dengan niat menahan
api, tidak ada gelombang api yang keluar, hanya bayangan pedangnya saja yang
terlihat.
"Kalau saja aku bisa menguasai pedang sihir ini sesuai
keinginan dan cepat menjadi Sword Saint, segalanya akan sempurna."
Bahkan dengan bakat dan usaha selevel Ren, mencapai tingkat Sword
Saint dalam teknik Great Sword adalah hal yang sangat sulit.
Memang
benar bahwa latihan harian adalah jalan pintas menuju pertumbuhan, namun Ren
merasa ia perlu memikirkan hal lain juga. Ia teringat pertarungannya saat
menunjukkan level Sword Master di depan Edgar.
Kalau
tidak salah, itu terjadi saat Ulysses dan Radius sedang mengurus masalah Menara
Jam secara rahasia.
"Akan
kutunjukkan padamu! Great Sword milik pengguna sihir!"
Saat
itu, Edgar menunjukkan teknik Great Sword milik pengguna sihir sesuai
perkataannya.
Bilah
es yang dilepaskan secara terpisah dari dua pedang di tangannya masing-masing
memiliki kekuatan yang setara dengan tebasan pedang dari seseorang yang telah
menguasai teknik Matoi.
Jika
Ren saat itu terkena serangannya, ia pasti akan langsung bertekuk lutut dalam
satu serangan.
"────Ini
adalah pedang yang kutunjukkan padamu, sang Sword Saint. Aku juga tidak
akan menahan diri."
Ren
mengatakan itu dan mengayunkan pedangnya tanpa mundur selangkah pun.
Awalnya
ia membalas bilah es Edgar dengan adu pedang menggunakan teknik Matoi.
Namun,
jumlahnya terlalu banyak dan bilah es itu bergerak terlalu cepat. Ia berhasil
bertahan dari beberapa serangan.
Tepat
saat semua orang berpikir demikian—
"Ugh……"
Akibat
aura keberanian (Haki) yang lahir dari tekad kuat Ren, pedang latihan di
tangannya bergetar hebat.
Di
depan mata semua orang, ia melangkah ke ranah yang baru dan mengayunkan
pedangnya mengikuti insting.
"Hah…… hah……"
Ia berhasil bertahan────
tidak, ia berhasil menekannya.
Pedang Ren melenyapkan semua
bilah es tepat sebelum serangan itu menyentuh tubuhnya.
Bilah es itu kehilangan
kekuatannya sebagai sihir karena kemampuan Star Slayer. Es sihir itu
mencair dan berubah menjadi air biasa di depan mata Ren.
"K-kau sudah menjadi Sword
Master secepat ini……!?" Edgar berseru kaget.
"Bagaimana…… aku
berhasil bertahan dengan baik, kan……!"
Ren
masih mengingat sensasi hari itu.
Momen
ketika ia membiarkan seluruh tubuhnya dikuasai oleh gairah yang membuatnya
sadar bahwa ia telah berevolusi—itu adalah saat yang tak terlupakan.
Ren menatap telapak tangannya yang tidak memegang pedang
sihir api, lalu terdiam. Meski hanya satu kali bentrokan, kekuatan Edgar benar-benar
nyata.
Star Slayer tidak selalu bisa membatalkan sihir apa pun. Jika
Edgar bertarung dengan serius, hasilnya mungkin akan berbeda. Namun, yang
dipikirkan Ren adalah hal lain.
"Aku juga────"
Ia pun harus mencapai ranah tersebut. Karena ia sudah bersumpah untuk
menjadi kuat, ia harus melakukannya.
Demi
menjadi Sword Saint dan membuka pintu yang menghalanginya, ia ingin
mencoba segala hal yang bisa ia lakukan saat ini, bukan hanya latihan harian.
Ada
keraguan dalam hatinya, apakah ini masih terlalu dini.
Ada
sisi dirinya yang berpikir bahwa saat ini ia masih di tahap latihan dasar, dan
masih terlalu pagi untuk mengagumi kekuatan seperti milik Edgar.
Namun,
perkataan Edgar tentang 'Great Sword milik pengguna sihir' tidak bisa
hilang dari kepala Ren.
Ia
ingin merasakan lagi getaran pertumbuhan yang merayapi seluruh tubuhnya saat
itu.
Sambil
menatap pedang sihir api dan membayangkan masa depannya, suara raungan monster
terdengar dari sela-sela pepohonan.
Sepertinya
mereka mencium aroma manis dari buah yang ada di dalam tas rami yang baru saja
diletakkan Ren di tanah.
Namun,
monster yang muncul itu sudah tidak tertarik pada buah. Mereka tertarik pada
daging empuk milik Ren dan Io.
"Kalau
kalian tidak menyerang duluan, aku tidak akan turun tangan."
Monster-monster
yang muncul itu tidak memedulikan perkataan Ren dan langsung menyerang secara
bersamaan.
Monster
itu berbentuk seperti kadal dengan sisik cokelat yang menutupi seluruh
tubuhnya. Mereka adalah monster Rank E yang memiliki kecerdasan rendah
dan tidak terlalu kuat.
"Kiiiiiiiiii!"
"Kii!"
Cukup
jarang bagi monster Rank E untuk menggunakan sihir. Mereka membuat tanah
sedikit menonjol agar lebih mudah berlari, dan mengepung area sekitar dengan
gumpalan tanah agar Ren sulit bergerak.
Sambil mengembuskan napas, Ren mengayunkan pedang sihir
apinya dan melepaskan api untuk menggertak.
Ia berpikir, tidak ada salahnya jika ia menggunakan Star
Slayer untuk membatalkan sihir monster itu dan mengejutkan mereka.
Mungkin
karena pengaruh itu—
"Gueh!?"
Jalan
tanah menonjol yang dilewati salah satu monster yang mendekat tiba-tiba kembali
menjadi tanah biasa saat terkena percikan api kecil. Akibatnya, monster itu
terjatuh.
Namun,
itu hanya sebagian kecil saja. Jalan tanah yang muncul karena sihir itu pada
dasarnya tetap terjaga, hanya bagian di bawah kaki satu monster itu saja yang
sedikit runtuh.
Ren
mengerjap berkali-kali, padahal ia merasa tidak menggunakan api yang terlalu
kuat. Tapi, itu memang terlihat seperti kehilangan kekuatan sihirnya.
"……Api barusan itu."
Mungkin karena terkejut dengan api yang aneh, monster-monster
itu pun bergegas lari melarikan diri.
Ren menatap pedang sihir apinya, merenungkan pemandangan yang
diciptakan oleh api barusan. Itu jelas bukan salah lihat.
Sangat nyata dan pasti bahwa api kecil tadi memberikan
pengaruh pada sihir lawan. Sepertinya sebagian kecil dari api yang dilepaskan
Ren mengeluarkan kekuatan khusus dan menghancurkan sihir lawan.
Sifat itu tidak lain adalah Star
Slayer. Sama seperti bilah es milik Edgar, api Ren pun mengandung
kekuatan Great Sword.
"…………"
Saat Ren merenungkan kenyataan itu, sedikit guncangan yang
biasa dirasakan saat menggunakan banyak mana merayapi tubuhnya.
Meski efeknya sangat kecil dan belum praktis digunakan, namun
hanya dengan sedikit kekuatan Star Slayer yang bercampur ke dalam pedang
sihir api saja sudah menghabiskan banyak tenaga. Meski masih jauh dari kata teknik
orisinal dan ia belum tahu cara menggunakannya, ia tetap merasa senang.
"Io! Lihat yang tadi tidak!?"
Karena terlalu senang, ia mengajak Io bicara.
'Bruuu'. Io tidak menoleh ke arah Ren, ia hanya menyahut
dengan asal sambil terus mengunyah rumput yang tumbuh di tanah.
Jangan-jangan,
selama pertarungan tadi ia terus melakukan hal itu?
"……Seperti biasa, nyalimu benar-benar besar."
Ren mencoba mengulangi teknik tadi pada monster lain yang
menyerang.
Hasilnya,
ia tidak bisa mengulanginya sama sekali, dan kata 'latihan' pun muncul di
kepalanya. Ia sudah tahu sejak awal bahwa konsumsi mana-nya terlalu boros.
Sudah lama ia tidak merasa pening seperti ini.
Meski
ia sangat percaya diri dengan staminanya, namun mana adalah hal yang berbeda.
Ini
terjadi karena konsumsi mana-nya jauh lebih banyak dibandingkan saat ia
menggunakan teknik Matoi dalam latihan di Markas Besar Ksatria Suci (Shishi
Seitou).
"……Ayo
pulang."
Ia
naik ke punggung Io dan memulai perjalanan pulang. Meski lelah, kepala Ren
dipenuhi dengan rencana latihan berikutnya.
Ren
mampir ke Guild Petualang untuk menyerahkan monster yang ia buru selama latihan
agar dinilai harganya. Sambil menunggu penilaian, suara seorang wanita
terdengar di telinga Ren.
"Bukannya
itu Ren!"
Mendengar
suara itu, Ren meninggalkan konter setelah urusannya selesai dan menuju ke
tempat makan di fasilitas yang sama.
Ia
melihat ekspresi ceria Estelle yang sedang menenggak minuman keras bersama
makanan mewah sejak pagi hari, serta senyum kecut Chronoa yang duduk di
sampingnya.
"Anda sedang ada di Erendil ya."
"Umu. Aku mengajak Chronoa setelah selesai
bekerja."
"Aku tadi ada urusan pekerjaan dan bicara sedikit dengan
Viscount Clausel. Lalu saat jalan pulang di jalan besar, aku ditangkap oleh Estelle."
Jadi,
bisa dibilang Chronoa adalah korbannya.
"Ren mau makan sesuatu? Aku yang traktir."
"Kalau begitu, dengan senang hati."
Chronoa yang sedang menghabiskan waktu liburnya tampak
mengenakan pakaian yang anggun seperti biasanya. Di sisi lain, Estelle terlihat
sangat keren.
Ia
mengenakan kemeja dan celana hitam, dengan mantel yang biasa ia pakai tersampir
di sandaran kursi. Gaya Estelle saat menenggak gelas besar sangatlah gagah.
"Tapi
Ren, apa yang kau lakukan sepagi ini di hari libur?"
"Ada
beberapa urusan, jadi aku pergi ke hutan."
"Hou,
berburu?"
"Dan
juga, aku sedang memikirkan banyak hal untuk menjadi Sword Saint."
Estelle
kembali menenggak minumannya, lalu memakan steik besar dengan lahap.
Jika
digambarkan dengan kata-kata mungkin terdengar kasar, namun ia tetap tidak
melupakan keanggunan di balik gerakannya yang gagah. Terutama saat ia
menggerakkan pisau di atas steiknya.
"Fuhfuhfuh,
berjuanglah anak muda. Itulah satu-satunya jalan untuk menjadi Sword Saint."
Chronoa
berkata "Hei, hei" kepada Estelle.
"Estelle
sendiri kapan menjadi Sword Saint?"
"Sudah
lama sekali, memangnya kenapa?"
"Kalau
kau memberi tahu Ren-kun sensasi saat itu, pasti akan jadi referensi yang bagus
baginya, kan?"
"Tiba-tiba
kau bicara hal yang benar ya. Kau sudah seperti seorang pendidik saja."
"Bukannya 'seperti', tapi aku memang seorang pendidik
yang sah tahu……"
Estelle memakan satu suap lagi potongan steiknya sebelum
berbicara. Ren pun mulai memakan camilan yang baru saja sampai.
"Aku
menjadi Sword Saint saat masih menjadi perwira biasa."
Diceritakan
bahwa saat ia sudah bergabung dengan Markas Besar Ksatria Suci, ia pernah
hampir mati dalam sebuah misi.
"Saat
itu aku membawa beberapa bawahan, dan aku mengerahkan seluruh tenagaku agar
setidaknya para bawahanku bisa pulang dengan selamat."
Tekadnya
yang siap mati membuahkan hasil, ia berhasil menyelesaikan misi tanpa ada satu
pun bawahan yang gugur.
"Setelah
bertarung mempertaruhkan nyawa, aku berhasil membuka pintu. Pintu yang
menghalangi jalan menuju ranah Sword Saint. Dalam kasusku, sepertinya
aku membutuhkan rasa terancam yang memisahkan hidup dan mati untuk bisa maju.
Keinginan kuat untuk hidup membangkitkan sesuatu yang ada jauh di dalam
diriku."
Estelle
melanjutkan.
"Kudengar
Ren sudah pernah merasakan pengalaman mempertaruhkan nyawa. Kalau begitu,
mungkin yang kau butuhkan bukanlah rasa terancam."
"Kalau
begitu, yang kubutuhkan adalah……"
"Ren
sepertinya butuh pemicu lain. Menurutku Ren yang sekarang sudah lebih kuat
daripada aku yang dulu. Latihan berulang itu penting, tapi cobalah segala hal
yang bisa kau lakukan."
"Wah!
Tumben sekali Estelle bicara hal yang benar!"
"Jangan
menggodaku. Lagipula kan Chronoa yang menyuruhku untuk membimbing Ren."
Setelah
pembicaraan tentang Sword Saint mereda, Ren mulai penasaran dengan
kedekatan dua orang di hadapannya.
"Kalian
berdua sangat akrab ya."
"Karena
kami sudah beberapa kali bekerja sama," jawab Chronoa.
Ren mengangguk paham dan terus menikmati obrolan bersama
mereka berdua.
Entah
sudah gelas keberapa Estelle memesan minuman, namun saat pulang ia sama sekali
tidak terlihat mabuk. Ia bahkan mengeluh karena merasa belum cukup minum,
benar-benar luar biasa.
"Akan
kutahan sampai di sini saja. Suamiku juga bilang aku tidak boleh minum terlalu
banyak."
"……Nona
Chronoa."
"Ahaha~……
jangan dipikirkan, jangan dipikirkan……"
Melihat
Estelle yang bisa menahan diri setelah menenggak alkohol sebanyak itu, Chronoa
yang sangat mengenal Estelle menyarankan Ren untuk tidak memikirkannya terlalu
dalam.
Setelah
mandi pagi untuk mengusir kantuk, Licia berjalan menyusuri kediaman. Pagi ini
ia belum melihat Ren.
Ia
berpikir akan lebih baik jika mandi dulu sebelum menyapa Ren agar penampilannya
rapi, namun bahkan setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, sosok Ren
tetap tidak terlihat.
"Hei,
kau tahu di mana Ren?" tanya Licia pada Yuno yang kebetulan lewat.
"Tuan
Ren sudah berangkat meninggalkan kediaman sebelum fajar tadi."
"Ada
apa ya. Apa dia pergi ke Markas Besar Ksatria Suci?"
"Tidak.
Katanya ada buah yang hanya bisa didapatkan jika pergi pada jam-jam seperti
itu……"
"Anu…… buah?"
Yuno sepertinya juga tidak
terlalu paham, ia ikut memiringkan kepalanya bersama Licia. Tak lama kemudian,
terdengar suara pintu aula utama dibuka.
'Tuan
Ren, selamat datang kembali.' 'Oya? Itukah barang
yang Anda maksud?'
Mendengar suara Ren yang sedang berbincang dengan ksatria,
Ren pun muncul di koridor tempat Licia dan Yuno berada.
"Ah, Nona Licia."
Ren membawa sebuah tas rami yang tidak terlalu besar. Dari
mulut tas yang tidak tertutup rapat, tampak sesuatu yang berwarna merah
mengintip keluar.
Licia yang rambutnya masih menyisakan sedikit kelembapan
berjalan mendekat ke arah Ren dengan langkah ringan.
"Selamat
datang kembali. Dari mana saja kau?"
"Ke
hutan di luar kota. Aku teringat buah ini dan tiba-tiba saja sangat ingin
memakannya, jadi aku berangkat sebelum fajar untuk memetiknya."
Ren menunjukkan tas raminya dengan senyum bangga. Melihat
buah di dalamnya, Licia terkejut.
"Buah Asayake (Fajar)?"
"Benar.
Nona Licia pasti tahu, kan? Buah ini hanya akan berwarna merah selama beberapa
puluh menit di pagi hari. Katanya kalau dipanen selain di waktu itu, rasanya
tidak enak."
Metode
budidaya buah Asayake belum ditemukan, jadi buah ini sering menjadi
rebutan di hutan.
Melihat
Ren yang tersenyum bangga, Licia membalasnya dengan senyuman bahagia. Tanpa
disadari Yuno sudah kembali bekerja, meninggalkan mereka berdua bicara.
"Kau
pasti lelah, kan?"
"Tidak
terlalu karena aku naik Io. ……Tapi tidak bisa dibilang tidak lelah juga karena tadi
sempat bertarung dengan monster."
"Fufu,
kalau begitu, pergilah mandi dan istirahat."
Tepat
sebelum berpisah dengan Ren, Licia teringat sesuatu.
(Kalau dia bertarung dengan monster, apa dia menggunakan pedang misterius
itu?)
Licia tahu bahwa Ren memiliki
pedang semacam itu. Karena saat pelarian mereka setelah meninggalkan kediaman
Jelkuku, ia berkali-kali melihatnya secara langsung.
"Nona
Licia? Aku mau menaruh buah Asayake ini di dapur────"
"U-um!
Sampai jumpa nanti!"
Sadar
bahwa ia sempat melamun di depan Ren, Licia menjawab dengan terburu-buru.
Sejenak
Ren sempat bingung dengan sikapnya, namun melihat Licia kembali bersikap
seperti biasa, ia pun pergi meninggalkan Licia.
Licia bergumam di koridor yang kosong.
"……Benar-benar,
kekuatan macam apa itu ya."
Akar
dari rasa penasarannya bukanlah karena ketertarikan pada kekuatan misterius,
melainkan karena itu adalah kekuatan milik Ren.
Licia bergumam sambil menatap ke luar jendela, memandangi matahari pagi.



Post a Comment