Prolog
Di balik anak tangga batu
yang terletak di sebuah gunung, terdapat sebuah dataran luas nan megah yang
seolah merobek tebing gunung tersebut.
Di alun-alun yang beralaskan
ubin batu itu, berdiri beberapa patung dewa setinggi puluhan meil yang
mengelilingi tempat tersebut.
Dahulu
kala, tempat ini adalah lokasi berkumpulnya para penganut ajaran Elfen dari
seluruh dunia.
Konon,
penganut yang tak terhitung jumlahnya mendaki anak tangga batu yang panjang,
lalu semuanya akan meneteskan air mata saat menyaksikan keajaiban yang
terpancar dari patung-patung dewa yang muncul di depan mata mereka.
Nama
tempat itu adalah Roses Kaitas. Dalam bahasa kuno, itu berarti
"Tempat Audiensi dengan Tuhan".
Roses Kaitas bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh seseorang, melainkan
sebuah tempat mistis yang sudah ada sejak awal.
Raja
Iblis melepaskan ajudannya ke Roses Kaitas dan memamerkan taringnya
kepada Tuhan. Banyak patung dewa yang hancur total maupun sebagian hingga tak
menyisakan bentuk aslinya.
Sejak
saat itu, penganut yang paling taat sekalipun tidak lagi bisa menginjakkan kaki
di Roses Kaitas.
Karena
khawatir tempat ini akan kembali diincar oleh Raja Iblis, pihak ajaran Elfen
dan Leomel bekerja sama menyegel seluruh topografi di sekitarnya dengan
kekuatan khusus.
◇◇◇
Beberapa
ratus tahun kemudian, sepasang pemuda-pemudi berada di Roses Kaitas.
Di
depan sosok yang hanya bisa digambarkan sebagai sebuah
"ketidakadilan", keduanya bertukar kata seperti biasanya.
"Hei,
Ren."
Liccia
membuka suara dan mendongak menatap wajah Ren.
"Kalau
tahu akan jadi begini, apa kamu lebih memilih ikut festival di ibu kota? Kalau
di sana, lawanmu pasti cuma teman sebaya yang ikut turnamen bela diri, dan
mungkin saat ini kita sedang bertarung di babak final."
"Tidak,
aku sama sekali tidak menyesal."
"Fufu,
sudah kuduga Ren akan bilang begitu."
"Meski
begitu, rasanya aku ingin menambahkan kata 'Sisi Lain' di akhir nama
festivalnya."
Keduanya
saling bertatapan dan tertawa.
Siapa
yang menyangka jika di balik kemeriahan acara raksasa yang berlangsung di ibu
kota, hal semacam ini sedang terjadi.
Sambil
menertawakan diri sendiri, sesaat sebelum memulai pertarungan maut di balik
panggung utama itu, Ren berkata,
"Mungkin
ini memang gaya kita yang biasanya."
"Ya.
Bertarung jauh dari panggung utama... itu benar-benar gaya kita."
"....Mungkin
sudah terlambat, tapi bisakah Anda mengungsi saja?"
"Bodoh.
Kamu sendiri yang bilang ini sudah terlambat, dan Ren pasti tahu itu tidak
mungkin."
Liccia
tersenyum kecut mendengar perkataan Ren, lalu mempererat genggamannya pada Byakuen.
Tangannya
yang memegang pedang ternama—yang bisa dibilang sebagai simbol dirinya—sama
sekali tidak gemetar. Tak ada rasa takut yang terpancar dari senyum tipisnya
saat menatap Ren yang berdiri di sampingnya.
Sambil menatap sosok "ketidakadilan" di balik badai
pasir yang menari di sekitar mereka, dia berujar,
"Ataukah, kamu merasa tidak puas jika rekan yang berdiri
di sampingmu adalah aku?"
Ren menebaskan pedang iblis besinya ke arah badai pasir.
Begitu angin kencang yang merupakan bagian dari sihir itu
sirna, Liccia melangkah maju mendahului Ren dan menoleh. Dengan senyum yang
tetap manis dan indah, dia mengulurkan tangan kepada Ren.
Gelombang cahaya yang tercipta dari ujung jarinya mulai
menyelimuti tubuh Ren.
"Bagaimana?"
tanya Liccia secara provokatif melalui tatapan matanya tanpa mengeluarkan
suara.
"Dalam
situasi seperti ini pun, Nona Liccia tetap seperti biasanya, ya."
"Kalaupun
harus mati, selama Ren ada di sampingku, itu sudah cukup. Lagipula, itu hanya
membuat kematianku datang puluhan tahun lebih awal saja."
"────Begitu
rupanya."
Ren
menyambut tangan Liccia.
Kilatan
cahaya yang sangat kuat menyelimuti mereka berdua, dan kekuatan pun meluap di
tubuh masing-masing.
"Jangan
marah padaku kalau nanti Anda terluka, ya."
"Kamu berisik sekali. Karena sudah menggandeng tangan
seorang Saintess, Ren juga harus bersiap."
Banyak patung dewa yang telah terkikis zaman, dan banyak pula
yang hancur di tangan ajudan Raja Iblis.
Ketegangan di tempat itu seolah tak ada habisnya, namun
Liccia tetap tersenyum di samping Ren.
"Nantikan sihir suciku yang sudah jadi lebih kuat dari
dulu. Mungkin,
ketajaman pedang iblis Ren juga akan sedikit meningkat."
Sang
White Saintess tertawa kecil di tengah situasi yang genting ini.
Di tanah yang dikelilingi oleh banyak patung dewa ini. Terdapat sebuah pertarungan yang berlangsung di balik sebuah cerita.



Post a Comment