NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Prolog

Prolog


Di balik anak tangga batu yang terletak di sebuah gunung, terdapat sebuah dataran luas nan megah yang seolah merobek tebing gunung tersebut.

Di alun-alun yang beralaskan ubin batu itu, berdiri beberapa patung dewa setinggi puluhan meil yang mengelilingi tempat tersebut.

Dahulu kala, tempat ini adalah lokasi berkumpulnya para penganut ajaran Elfen dari seluruh dunia.

Konon, penganut yang tak terhitung jumlahnya mendaki anak tangga batu yang panjang, lalu semuanya akan meneteskan air mata saat menyaksikan keajaiban yang terpancar dari patung-patung dewa yang muncul di depan mata mereka.

Nama tempat itu adalah Roses Kaitas. Dalam bahasa kuno, itu berarti "Tempat Audiensi dengan Tuhan".

Roses Kaitas bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh seseorang, melainkan sebuah tempat mistis yang sudah ada sejak awal.

Raja Iblis melepaskan ajudannya ke Roses Kaitas dan memamerkan taringnya kepada Tuhan. Banyak patung dewa yang hancur total maupun sebagian hingga tak menyisakan bentuk aslinya.

Sejak saat itu, penganut yang paling taat sekalipun tidak lagi bisa menginjakkan kaki di Roses Kaitas.

Karena khawatir tempat ini akan kembali diincar oleh Raja Iblis, pihak ajaran Elfen dan Leomel bekerja sama menyegel seluruh topografi di sekitarnya dengan kekuatan khusus.

◇◇◇

Beberapa ratus tahun kemudian, sepasang pemuda-pemudi berada di Roses Kaitas.

Di depan sosok yang hanya bisa digambarkan sebagai sebuah "ketidakadilan", keduanya bertukar kata seperti biasanya.

"Hei, Ren."

Liccia membuka suara dan mendongak menatap wajah Ren.

"Kalau tahu akan jadi begini, apa kamu lebih memilih ikut festival di ibu kota? Kalau di sana, lawanmu pasti cuma teman sebaya yang ikut turnamen bela diri, dan mungkin saat ini kita sedang bertarung di babak final."

"Tidak, aku sama sekali tidak menyesal."

"Fufu, sudah kuduga Ren akan bilang begitu."

"Meski begitu, rasanya aku ingin menambahkan kata 'Sisi Lain' di akhir nama festivalnya."

Keduanya saling bertatapan dan tertawa.

Siapa yang menyangka jika di balik kemeriahan acara raksasa yang berlangsung di ibu kota, hal semacam ini sedang terjadi.

Sambil menertawakan diri sendiri, sesaat sebelum memulai pertarungan maut di balik panggung utama itu, Ren berkata,

"Mungkin ini memang gaya kita yang biasanya."

"Ya. Bertarung jauh dari panggung utama... itu benar-benar gaya kita."

"....Mungkin sudah terlambat, tapi bisakah Anda mengungsi saja?"

"Bodoh. Kamu sendiri yang bilang ini sudah terlambat, dan Ren pasti tahu itu tidak mungkin."

Liccia tersenyum kecut mendengar perkataan Ren, lalu mempererat genggamannya pada Byakuen.

Tangannya yang memegang pedang ternama—yang bisa dibilang sebagai simbol dirinya—sama sekali tidak gemetar. Tak ada rasa takut yang terpancar dari senyum tipisnya saat menatap Ren yang berdiri di sampingnya.

Sambil menatap sosok "ketidakadilan" di balik badai pasir yang menari di sekitar mereka, dia berujar,

"Ataukah, kamu merasa tidak puas jika rekan yang berdiri di sampingmu adalah aku?"

Ren menebaskan pedang iblis besinya ke arah badai pasir.

Begitu angin kencang yang merupakan bagian dari sihir itu sirna, Liccia melangkah maju mendahului Ren dan menoleh. Dengan senyum yang tetap manis dan indah, dia mengulurkan tangan kepada Ren.

Gelombang cahaya yang tercipta dari ujung jarinya mulai menyelimuti tubuh Ren.

"Bagaimana?" tanya Liccia secara provokatif melalui tatapan matanya tanpa mengeluarkan suara.

"Dalam situasi seperti ini pun, Nona Liccia tetap seperti biasanya, ya."

"Kalaupun harus mati, selama Ren ada di sampingku, itu sudah cukup. Lagipula, itu hanya membuat kematianku datang puluhan tahun lebih awal saja."

"────Begitu rupanya."

Ren menyambut tangan Liccia.

Kilatan cahaya yang sangat kuat menyelimuti mereka berdua, dan kekuatan pun meluap di tubuh masing-masing.

"Jangan marah padaku kalau nanti Anda terluka, ya."

"Kamu berisik sekali. Karena sudah menggandeng tangan seorang Saintess, Ren juga harus bersiap."

Banyak patung dewa yang telah terkikis zaman, dan banyak pula yang hancur di tangan ajudan Raja Iblis.

Ketegangan di tempat itu seolah tak ada habisnya, namun Liccia tetap tersenyum di samping Ren.

"Nantikan sihir suciku yang sudah jadi lebih kuat dari dulu. Mungkin, ketajaman pedang iblis Ren juga akan sedikit meningkat."

Sang White Saintess tertawa kecil di tengah situasi yang genting ini.

Di tanah yang dikelilingi oleh banyak patung dewa ini. Terdapat sebuah pertarungan yang berlangsung di balik sebuah cerita.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close