Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Permintaan Chronoa (Sisi Lain)
Angin yang terasa
nyaman dan cahaya matahari yang hangat. Di taman dalam area akademi, musim semi
telah tiba dengan bunga-bunga yang bermekaran warna-warni.
Di musim saat
para murid baru yang mengenakan seragam gres berdatangan ini, Chronoa sedang
memandang ke luar dari jendela ruang Kepala Akademi.
Sebagai pemilik
ruangan tersebut, pandangannya menyapu pemandangan di luar. Tak lama kemudian,
dia pun teringat akan masa lalu.
"Bernostalgia
juga, ya...."
Sudah
bertahun-tahun berlalu, tapi dia ingat pernah mengunjungi Clausel untuk memilih
lokasi ujian masuk tepat di musim seperti ini.
Di guild
petualang kota itulah dia pertama kali bertemu dengan Ren. Tak lama kemudian,
mereka bertemu untuk kedua kalinya di sebuah desa.
Kala itu, dia
sama sekali tidak menyangka masa depan seperti ini akan menanti.
Perasaan itu
menguat saat dia melihat Ren, Liscia, dan Fiona yang sedang berjalan di bawah
sana.
Tak satu pun yang
bisa memprediksi di mana takdir akan terikat dan ke mana masa depan akan
menuntun.
Saat itu pulalah,
ketika Chronoa Highland sedang menatap ke luar jendela sambil tersenyum simpul.
Pintu ruang
Kepala Akademi diketuk, dan setelah mendengar jawaban, seorang staf
administrasi wanita melangkah masuk.
"Kepala
Akademi, ini dokumen mengenai acara yang akan diadakan musim panas nanti."
Begitu menerima
dokumen tersebut, Chronoa seketika terseret kembali ke realitas.
Pipinya berkedut,
dan staf yang memahami alasan di balik reaksi itu hanya bisa tersenyum pahit.
"Tahun ini
pun Anda harus berjuang keras, ya," ujar sang staf.
"Ahaha....
Benar juga, ya...."
"Kalau
begitu, mohon bantuannya untuk memeriksa dokumen tersebut."
"Iya, aku
mengerti."
Staf tersebut
segera meninggalkan ruangan setelah mendengar jawaban Chronoa.
Chronoa, dengan
rambut emas berkilau yang terayun oleh angin musim semi, melirik kembali ke
arah dokumen itu.
Ternyata,
penglihatannya memang tidak salah. Dia mengembuskan napas panjang seolah
pasrah.
Waktunya
menikmati pemandangan di balik jendela sudah berakhir.
Dia melangkah
menuju meja kerja dan meletakkan dokumen yang baru saja diterimanya.
Setelah membuka
laci meja, dia mulai bersiap untuk bekerja.
Pertama-tama,
Chronoa menyelesaikan dokumen-dokumen yang perlu dia periksa dan tandatangani.
Saat beralih ke
dokumen yang bisa dibilang sebagai menu utama hari ini, dia bergumam pelan.
"....Tahun
ini pun, rasanya sulit mengumpulkan orang."
Kalimat itu
diucapkannya tanpa tertuju pada siapa pun, bercampur dengan hela napas.
◇◇◇
Beberapa hari
kemudian, diadakan pertemuan yang dihadiri seluruh murid di auditorium besar.
Di sana, Chronoa
tersenyum lembut ke arah para murid yang tengah berisik.
Hal yang dia
sampaikan adalah mengenai Festival Besar Lion King yang akan diadakan di ibu
kota musim panas ini.
Festival itu
adalah acara besar setiap beberapa tahun sekali, di mana perwakilan tiap
sekolah akan saling bersaing.
Di Akademi
Militer Kekaisaran ini pun, pemilihan perwakilan untuk tiap cabang lomba akan
segera dilakukan.
Dan, mereka harus
menentukan perwakilan murid untuk Komite Pelaksana Festival Besar Lion King.
Inilah bagian
yang paling sulit bagi sang Kepala Akademi.
Murid-murid di
sini adalah anak-anak yang berhasil lolos dari ujian masuk yang sangat ketat.
Hampir tidak ada
murid yang tidak ingin berpartisipasi dalam acara semeriah itu.
Namun, bagi
mereka yang tidak ikut bertanding, mereka lebih memilih menikmati festival
sebagai pengunjung.
Tapi bagaimanapun
juga, Komite Pelaksana tetap wajib dibentuk.
Tahun ini pun
situasinya sama, di mana tanda-tanda munculnya sukarelawan hampir nihil.
Untungnya, Ren
dan Liscia bersedia mengambil tugas tersebut.
Bagi Chronoa,
keberadaan mereka berdua saja sudah sangat membantunya.
Namun, beberapa
hari setelah Ren mengatakan akan mencari orang lain untuk membantu.
Tepatnya di siang
hari saat pendaftaran komite akan segera ditutup.
Hingga saat itu,
Chronoa belum menerima laporan mengenai pendaftar selain Ren dan Liscia.
Perasaannya mulai
terasa pilu. Sesaat sebelum istirahat makan siang berakhir, dia melangkah
menuju ruang guru.
Dia membawa
harapan tipis, berpikir betapa senangnya jika ada pendaftar baru.
Lalu tiba-tiba
saja para guru menghampirinya dengan panik.
"Ke-Kepala
Akademi!"
"Sebenarnya,
metode apa yang Anda gunakan!?"
Beberapa guru
bergegas memanggil Chronoa dengan nada terkejut.
Chronoa yang
merasa heran pun ikut bergabung dalam lingkaran para guru yang berkumpul.
"Ada
apa?"
"Bukan 'ada
apa'! Ini soal komite pelaksana!"
"Ugh...."
Chronoa mengira
keributan ini terjadi karena tidak ada pendaftar baru, namun dugaannya meleset.
"Anggotanya sungguh luar biasa, ya."
"Benar....
Jumlahnya memang sedikit, tapi mereka benar-benar elit."
Reaksi
para guru ternyata sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan.
Salah
satu guru pun mulai membacakan daftar namanya.
"Dua orang
perwakilan murid baru tahun ini, Pangeran Ketiga, lalu si Ignat itu."
"Ditambah
Archeise yang menjabat sebagai Ketua OSIS sampai tahun lalu."
"Jumlahnya
memang hanya lima orang, tapi bukankah ini sudah lebih dari cukup?"
"Tentu saja.
Kalau begini tidak akan ada masalah sama sekali."
"Luar biasa,
seperti yang diharapkan dari Kepala Akademi."
"Padahal,
saya sudah meminta satu pekerjaan lagi kepada Ren Ashton, tapi—Kepala
Akademi?"
Chronoa yang mendengar penjelasan itu hanya bisa melongo
terdiam.
Dengan tatapan
kosong, dia hanya menggumamkan sepatah kata.
"....Iya."
"Maaf, ya.
Aku baru ingat ada pekerjaan sedikit."
Hanya itu yang
dia katakan sebelum meninggalkan ruang guru dengan terburu-buru.
Dengan perasaan
yang masih melayang, Chronoa kembali ke ruangannya.
Dia
menatap pemandangan musim semi di luar jendela untuk menenangkan diri.
Tak lama
kemudian, setelah akhirnya dia berhasil menguasai diri kembali.
"Eeeeeeeee—EEEEEEEEEEEEEH!?"
Sambil memikirkan kelima orang yang dikumpulkan oleh Ren, Chronoa Highland berteriak saking terkejutnya.



Post a Comment