NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Permintaan Chronoa (Sisi Lain)


Angin yang terasa nyaman dan cahaya matahari yang hangat. Di taman dalam area akademi, musim semi telah tiba dengan bunga-bunga yang bermekaran warna-warni.

Di musim saat para murid baru yang mengenakan seragam gres berdatangan ini, Chronoa sedang memandang ke luar dari jendela ruang Kepala Akademi.

Sebagai pemilik ruangan tersebut, pandangannya menyapu pemandangan di luar. Tak lama kemudian, dia pun teringat akan masa lalu.

"Bernostalgia juga, ya...."

Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi dia ingat pernah mengunjungi Clausel untuk memilih lokasi ujian masuk tepat di musim seperti ini.

Di guild petualang kota itulah dia pertama kali bertemu dengan Ren. Tak lama kemudian, mereka bertemu untuk kedua kalinya di sebuah desa.

Kala itu, dia sama sekali tidak menyangka masa depan seperti ini akan menanti.

Perasaan itu menguat saat dia melihat Ren, Liscia, dan Fiona yang sedang berjalan di bawah sana.

Tak satu pun yang bisa memprediksi di mana takdir akan terikat dan ke mana masa depan akan menuntun.

Saat itu pulalah, ketika Chronoa Highland sedang menatap ke luar jendela sambil tersenyum simpul.

Pintu ruang Kepala Akademi diketuk, dan setelah mendengar jawaban, seorang staf administrasi wanita melangkah masuk.

"Kepala Akademi, ini dokumen mengenai acara yang akan diadakan musim panas nanti."

Begitu menerima dokumen tersebut, Chronoa seketika terseret kembali ke realitas.

Pipinya berkedut, dan staf yang memahami alasan di balik reaksi itu hanya bisa tersenyum pahit.

"Tahun ini pun Anda harus berjuang keras, ya," ujar sang staf.

"Ahaha.... Benar juga, ya...."

"Kalau begitu, mohon bantuannya untuk memeriksa dokumen tersebut."

"Iya, aku mengerti."

Staf tersebut segera meninggalkan ruangan setelah mendengar jawaban Chronoa.

Chronoa, dengan rambut emas berkilau yang terayun oleh angin musim semi, melirik kembali ke arah dokumen itu.

Ternyata, penglihatannya memang tidak salah. Dia mengembuskan napas panjang seolah pasrah.

Waktunya menikmati pemandangan di balik jendela sudah berakhir.

Dia melangkah menuju meja kerja dan meletakkan dokumen yang baru saja diterimanya.

Setelah membuka laci meja, dia mulai bersiap untuk bekerja.

Pertama-tama, Chronoa menyelesaikan dokumen-dokumen yang perlu dia periksa dan tandatangani.

Saat beralih ke dokumen yang bisa dibilang sebagai menu utama hari ini, dia bergumam pelan.

"....Tahun ini pun, rasanya sulit mengumpulkan orang."

Kalimat itu diucapkannya tanpa tertuju pada siapa pun, bercampur dengan hela napas.

◇◇◇

Beberapa hari kemudian, diadakan pertemuan yang dihadiri seluruh murid di auditorium besar.

Di sana, Chronoa tersenyum lembut ke arah para murid yang tengah berisik.

Hal yang dia sampaikan adalah mengenai Festival Besar Lion King yang akan diadakan di ibu kota musim panas ini.

Festival itu adalah acara besar setiap beberapa tahun sekali, di mana perwakilan tiap sekolah akan saling bersaing.

Di Akademi Militer Kekaisaran ini pun, pemilihan perwakilan untuk tiap cabang lomba akan segera dilakukan.

Dan, mereka harus menentukan perwakilan murid untuk Komite Pelaksana Festival Besar Lion King.

Inilah bagian yang paling sulit bagi sang Kepala Akademi.

Murid-murid di sini adalah anak-anak yang berhasil lolos dari ujian masuk yang sangat ketat.

Hampir tidak ada murid yang tidak ingin berpartisipasi dalam acara semeriah itu.

Namun, bagi mereka yang tidak ikut bertanding, mereka lebih memilih menikmati festival sebagai pengunjung.

Tapi bagaimanapun juga, Komite Pelaksana tetap wajib dibentuk.

Tahun ini pun situasinya sama, di mana tanda-tanda munculnya sukarelawan hampir nihil.

Untungnya, Ren dan Liscia bersedia mengambil tugas tersebut.

Bagi Chronoa, keberadaan mereka berdua saja sudah sangat membantunya.

Namun, beberapa hari setelah Ren mengatakan akan mencari orang lain untuk membantu.

Tepatnya di siang hari saat pendaftaran komite akan segera ditutup.

Hingga saat itu, Chronoa belum menerima laporan mengenai pendaftar selain Ren dan Liscia.

Perasaannya mulai terasa pilu. Sesaat sebelum istirahat makan siang berakhir, dia melangkah menuju ruang guru.

Dia membawa harapan tipis, berpikir betapa senangnya jika ada pendaftar baru.

Lalu tiba-tiba saja para guru menghampirinya dengan panik.

"Ke-Kepala Akademi!"

"Sebenarnya, metode apa yang Anda gunakan!?"

Beberapa guru bergegas memanggil Chronoa dengan nada terkejut.

Chronoa yang merasa heran pun ikut bergabung dalam lingkaran para guru yang berkumpul.

"Ada apa?"

"Bukan 'ada apa'! Ini soal komite pelaksana!"

"Ugh...."

Chronoa mengira keributan ini terjadi karena tidak ada pendaftar baru, namun dugaannya meleset.

"Anggotanya sungguh luar biasa, ya."

"Benar.... Jumlahnya memang sedikit, tapi mereka benar-benar elit."

Reaksi para guru ternyata sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan.

Salah satu guru pun mulai membacakan daftar namanya.

"Dua orang perwakilan murid baru tahun ini, Pangeran Ketiga, lalu si Ignat itu."

"Ditambah Archeise yang menjabat sebagai Ketua OSIS sampai tahun lalu."

"Jumlahnya memang hanya lima orang, tapi bukankah ini sudah lebih dari cukup?"

"Tentu saja. Kalau begini tidak akan ada masalah sama sekali."

"Luar biasa, seperti yang diharapkan dari Kepala Akademi."

"Padahal, saya sudah meminta satu pekerjaan lagi kepada Ren Ashton, tapi—Kepala Akademi?"

Chronoa yang mendengar penjelasan itu hanya bisa melongo terdiam.

Dengan tatapan kosong, dia hanya menggumamkan sepatah kata.

"....Iya."

"Maaf, ya. Aku baru ingat ada pekerjaan sedikit."

Hanya itu yang dia katakan sebelum meninggalkan ruang guru dengan terburu-buru.

Dengan perasaan yang masih melayang, Chronoa kembali ke ruangannya.

Dia menatap pemandangan musim semi di luar jendela untuk menenangkan diri.

Tak lama kemudian, setelah akhirnya dia berhasil menguasai diri kembali.

"Eeeeeeeee—EEEEEEEEEEEEEH!?"

Sambil memikirkan kelima orang yang dikumpulkan oleh Ren, Chronoa Highland berteriak saking terkejutnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close