NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 5

Chapter 5

Kota yang Hidup di Tengah Perairan


Ren kembali mengunjungi Department of Mysteries, tempat yang juga ia datangi kemarin.

Hari ini ia datang sendiri tanpa Radius, namun tidak ada rasa tegang sedikit pun.

Seharusnya jam segini ia sudah berada di kediaman Marquis Ignart, namun ia mendadak harus mampir ke Department of Mysteries.

Sebab tadi pagi, hampir bersamaan dengan kedatangan Edgar yang menjemputnya dengan kereta kuda, orang dari Department of Mysteries juga muncul dan mengatakan bahwa Ragna memanggilnya.

Utusan Ragna itu sempat berkata dengan nada menyesal bahwa ia akan datang lagi nanti, tapi—

"Biar saya saja yang menyampaikannya kepada Tuan saya," usul Edgar.

"Saya dengar ini adalah rekomendasi dari Yang Mulia Pangeran, jadi akan lebih baik jika Anda memenuhinya." Begitulah percakapan yang terjadi saat itu────.

 

Di ruangan yang sama di lantai tinggi seperti kemarin.

"Aku sudah menunggumu." Ren disambut oleh Ragna yang duduk dengan sikap angkuh, persis seperti kemarin.

Setelah mengucapkan salam pagi, Ren mengangkat topik tentang apa yang dikatakan utusan Ragna di penginapan tadi.

"Ragna-san, ternyata Anda terkadang dipanggil Kepala Ruangan, ya?"

"Kadang-kadang, dalam artian kepala laboratorium ini. Ada juga yang memanggilku Profesor, tapi ini hanyalah satu dari sekian banyak laboratorium di bawah naungan Department of Mysteries. Kalau dipikir-pikir, orang-orang di departemen ini memang aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Mereka mau menyambut pria sepertiku dengan perlakuan setara Kepala Ruangan, kan?"

Ren mengingat kembali percakapan kemarin, dan hari ini ia bersikap sedikit lebih santai... namun tetap menjaga batasan tertentu agar tidak salah menempatkan diri.

"Bukankah itu perlakuan yang wajar karena 'Kebijaksanaan dan Romansa' yang Anda kejar sangatlah berharga?"

"Hou." Mendengar itu, suasana hati Ragna langsung membaik.

Pipinya mengendur setelah mendengar kata-kata yang sering ia ucapkan sendiri.

"Mataku tidak salah. Ren, ternyata kau memang pria yang bisa memahami romansa. Tidak sia-sia aku memanggilmu pagi-pagi begini."

"Soal itu, kenapa Anda memanggil saya?" Ren melangkah mendekati meja tempat Ragna menunggu.

"Apa kau tertarik dengan Kota Tua?"

Kota Tua adalah tempat yang kemarin dibahas sebagai lokasi penemuan Mithril misterius. Itu juga tempat yang sempat dipandang Licia saat mampir kemarin.

"Saya dengar itu tempat yang indah, tapi hanya sebatas itu kesan saya. Saya ingin melihatnya, tapi saya tidak terlalu tahu bagaimana kondisi di sana."

"Tempat itu sangat menarik. Banyak bangunan terendam air yang terbuat dari batu, dan tidak sedikit yang masih mempertahankan bentuk aslinya dari masa itu."

Pemandangan bangunan yang tersisa di dalam air, dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang di sekitarnya, menciptakan suasana yang fantastis.

"Sepertinya masih banyak barang langka yang terkubur di sana, ya."

"Tepat sekali. Dikatakan bahwa Eupeheim kala itu bahkan lebih ramai daripada Ibu Kota. Karena merupakan titik penting perdagangan, tempat itu juga menjadi pusat pertukaran teknologi baru dari dalam maupun luar negeri."

"Kalau begitu, apakah laboratorium-laboratorium juga ikut tenggelam?"

"Tentu saja, ada banyak sekali."

Itulah alasan mengapa tempat tersebut berada di bawah pengawasan publik.

Ren sekarang paham betul mengapa Department of Mysteries sampai repot-repot melakukan penyelidikan berkala. Ketertarikan Ren kini lebih terusik dibandingkan saat melihat Mithril "mati" kemarin.

"Kala itu adalah masa kejayaan Tujuh Pahlawan. Artinya, itu adalah zaman di mana teknologi Milim Althea, yang dijuluki Dewa Perangkat Magis, masih berjaya."

"……Apakah perangkat pertahanan yang dibuat Milim Althea juga masih berfungsi?"

"Ya, di rumah-rumah besar atau laboratorium, ada perangkat magis yang ia buat secara langsung. Perangkat itu melindungi seluruh bangunan tersebut."

Bahkan setelah ratusan tahun berlalu, masih sangat sulit untuk menembus teknologinya. Itulah faktor utama mengapa penyelidikan Kota Tua memakan waktu lama.

Kota yang sebagian besar terendam air itu sepertinya menyimpan warisan yang lebih besar dari bayangan Ren.

Ia pun mendeskripsikan tempat yang dilindungi perangkat pertahanan Milim Althea itu sebagai berikut:

"Kalau disebut sebagai 'Pintu yang Tak Terbuka', kedengarannya keren ya."

Mendengar kata-kata itu, alis Ragna sedikit berkedut.

"Ah…… keren sekali. Aku sangat ingin membuka pintu itu, tapi di sisi lain, ada bagian dari diriku yang berharap pintu itu tidak pernah terbuka."

"Rasanya bagian paling menyenangkan adalah saat-saat sebelum pintu itu terbuka."

"Khu…… seleramu bagus juga, ya."

Karena merasa sefrekuensi, suasana hati Ragna semakin melambung.

"Baiklah. Akan kuberikan sesuatu yang bagus. Tentu saja gratis."

Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah perkamen tua yang terlipat.

"Ini apa?"

"Peta rahasia. Bagaimana? Kau mulai merasa berdebar, kan?"

Ren tidak bisa bilang tidak. Ia menerima benda yang disebut peta itu dan segera membukanya.

Ukurannya pas, tidak terlalu besar maupun kecil.

Saat direntangkan dengan kedua tangan, lebarnya masih berada di dalam jangkauan bahu Ren.

Bekas lipatan pada peta itu terlihat sangat dalam.

"Ini... Kota Tua, kan?"

"Kau tahu?"

"Saya hanya menebak dari topografinya saja. Saya kan belum pernah ke sana."

"Hoo, pemahamanmu cepat juga kalau begitu."

Di atas peta rahasia—atau lebih tepatnya peta Kota Tua—tersebut, terdapat beberapa tanda merah.

Ada juga catatan tulisan tangan Ragna tentang kapan penyelidikan dilakukan, sehingga melihatnya saja sudah cukup membuktikan bahwa peta ini memiliki nilai yang cukup tinggi.

"Tanda merah ini apa?"

"Itu adalah lokasi di mana terdapat pintu-pintu yang tertutup oleh perangkat magis kuno."

"Anda tidak mencoba meledakkannya atau membukanya dengan paksa?"

"Aku paham keinginan itu. Kalau diledakkan, isinya bisa langsung dipastikan. Tapi, aku ingin menghindari kerusakan pada bangunan bersejarah dan lingkungan. Selain itu, cara tersebut dilarang keras menurut hukum Kekaisaran."

"Poin terakhir itu sama sekali bukan sekadar tambahan, kan?" Justru itu harusnya menjadi prioritas utama.

"Lalu sebagai catatan saja, bukan berarti aku tertarik dengan peledakan ya." Ren hanya bergumam karena rasa ingin tahu, tidak lebih dan tidak kurang.

"Ngomong-ngomong, kenapa Anda memberikan peta sepenting ini kepada saya?"

"Itu cadangan milikku. Karena sudah tua, aku sudah menyiapkan peta yang baru."

"Bukan itu, maksud saya alasan kenapa Anda mendadak memberikannya kepada saya."

"Bisa dibilang ini hadiah kecil untuk Ren yang memahami romansaku. Tidak ada alasan lain."

"……Saya mengerti. Saya tidak tahu apakah akan ada kesempatan untuk menggunakannya, tapi jika saat itu tiba, saya akan memanfaatkannya."

Setelah berkata demikian, Ren mengajukan pertanyaan polos kepada Ragna.

"Penyelidikan kota yang tenggelam itu biasanya dilakukan bagaimana?"

"Tentu saja dengan kaki sendiri. Terkadang kami memakai peralatan menyelam, tapi di banyak tempat yang memiliki perangkat pertahanan, biasanya masih ada udara di dalamnya meski sudah tenggelam."

"Berarti ada udara di dalam air dan kita bisa berjalan di sana, ya."

"Tepat sekali. Kau bisa menikmati pemandangan yang menarik jika pergi melihatnya langsung." Ragna menekankan bahwa melihat langsung akan lebih jelas.

"Masalahnya hanyalah soal izin masuk, ya."

"Anggap saja itu untuk jika ada kesempatan nanti. Peta itu adalah bukti romansa yang kita bagi bersama. Itu adalah catatan pribadiku dan bukan rahasia negara, jadi pakai saja sesukamu."

"────Kalau begitu, saya terima tanpa sungkan."

Setelah Ren menyimpan peta itu ke dalam bajunya, ia mulai teringat alasan mengapa ia dipanggil pagi-pagi begini.

Ternyata memang ada alasan lain selain pembicaraan tadi. Ragna menyerahkan beberapa buku tentang Holy Magic dan mitologi kuno kepada Ren.

"Ambil ini. Semua ini buku yang sudah kubaca berkali-kali."

"Te-terima ka──── maaf, ini bahasa apa?"

"Bahasa yang digunakan di bagian selatan Benua Martel, dan bahasa para Beastman yang tinggal di Benua Barat. Cobalah baca sambil membuka kamus. Itu bagus untuk belajar."

"……Apakah Ragna-san bisa membacanya tanpa kamus?"

"Ini kan cuma bahasa yang digunakan manusia dan kaum lain. Semua itu bisa dikuasai jika dipelajari selama beberapa minggu."

Ren memutuskan untuk mengabaikan kata-kata pria ini karena standarnya yang tidak masuk akal.

Namun Ragna berkata bahwa ia tidak bisa memberi informasi lebih banyak dari apa yang sudah dibicarakan kemarin.

Meski begitu, ia tetap menyiapkan materi tersebut sebagai referensi jika Ren ingin menyelidikinya sendiri.

Ren berterima kasih dalam hati dan bertekad untuk membeli kamus bahasa di suatu tempat.

"Ah, benar juga." Ragna menghentakkan kakinya ke atas meja dan tertawa. Ekspresinya tampak sedikit provokatif.

"Kalau kau berhasil membuka 'Pintu yang Tak Terbuka' itu, aku akan memberimu hadiah."

"Uwaa…… cara bicara Anda terdengar seperti sedang meremehkan dan yakin saya tidak akan bisa membukanya."

"Yah, sekitar setengahnya begitu. Tapi kalau terbuka, itu juga bagus."

"Anda serius? Kalau dengar soal hadiah dari Pengelana Tas Besar, saya akan sangat berharap banyak."

"Tidak masalah. Jika saat itu tiba, aku berjanji akan memberikan barang menarik dari koleksiku." Ragna tertawa setelah mengatakan itu.

◇◇◇

Di dalam kereta kuda Department of Mysteries menuju distrik bangsawan Eupeheim.

Meskipun penguasa kota ini adalah Ulysses, ada beberapa kediaman bangsawan lain di sini.

Sebab memiliki kediaman di Eupeheim merupakan simbol status bagi para bangsawan, tanpa memandang faksi mana pun.

"────" Ren menguap lebar saat kereta bergoyang. Menurut kusir, perjalanan menuju kediaman Marquis Ignart memakan waktu sekitar dua puluh menit.

Karena kemarin adalah malam pertamanya di Eupeheim, ia begadang dan sekarang merasa sedikit mengantuk. Istirahat sejenak di waktu seperti ini sepertinya ide yang bagus.

"……Tidur saja, deh." Cukup santai selama dua puluh menit. Ia memejamkan mata agar tidak menunjukkan wajah mengantuk di depan Ulysses nanti.

 

Aku sedang bermimpi ya—kesadaran itu datang dengan cepat. Begitu memejamkan mata, Ren langsung terlelap, dan hampir pada saat yang sama ia bermimpi.

Anehnya, tidak seperti mimpi biasanya, mimpi ini terasa sangat nyata bagi panca indranya. Ren berada di sana sebagai pengamat, menyaksikan situasi di sekitarnya.

Di sana, banyak sekali ksatria yang dikerahkan. Kemampuan pedang mereka sudah pasti kelas satu.

Mereka yang bisa menggunakan sihir pun memiliki kemampuan tingkat tinggi.

Seluruh kekuatan tempur yang terkumpul itu adalah alasan mengapa Leomel menjadi negara militer terkuat di dunia.

Ditambah dengan senjata sihir, negara mana pun pasti akan menghindari peperangan.

Tempatnya kemungkinan besar adalah di depan gerbang kediaman Marquis Ignart.

"Berisik sekali saat Tuan rumah tidak ada."

Berbeda dengan kenyataan, sepertinya saat itu sedang puncak musim dingin karena salju tipis menumpuk di atas jalan batu.

Seorang pria tua berpakaian rapi berdiri di depan gerbang menyambut para ksatria. Tidak sedikit ksatria yang tubuhnya gemetar karena tegang.

Di barisan terdepan, barisan yang menatap Edgar, berjejer ksatria kebanggaan Shishiseicho.

Namun mereka pun berkeringat dingin dan tidak bisa mengalihkan pandangan dari Edgar, terjebak dalam ketegangan yang ekstrem. Satu orang ksatria melangkah maju.

"Tuan Edgar, ikutlah dengan kami ke Ibu Kota."

"Atas alasan apa?"

"Anda pasti mengerti soal insiden penculikan Yang Mulia Pangeran."

"Sepertinya, kalian sangat mengkhawatirkan hubungan antara keluarga ini dengan kejadian tersebut, ya."

"Khu──── Saya tidak yakin orang sehebat Anda tidak mengerti bahwa ini bukan tempat untuk bercanda!"

"Fuu," pria tua itu menghela napas dan melepas jasnya. Tanpa memedulikan dinginnya musim dingin, ia menunjukkan kemeja putihnya. Ia menggulung lengan kemejanya, mengembuskan napas putih, dan berkata:

"Mohon maaf, saya tidak bisa menuruti perintah Anda."

Para ksatria serentak mencabut pedang mereka. Ratusan ksatria seketika mengambil posisi tempur. Edgar menatap langit musim dingin dengan ekspresi sedih, lalu menoleh ke arah kediaman Marquis Ignart.

Tangannya gemetar, ujung jarinya gemetar, ia tidak bisa menahan bibir dan matanya yang bergetar. Tidak ada satu orang pun di dalam rumah itu.

Edgar baru saja mengunci pintunya tadi. Meskipun ia tahu saat untuk membukanya kembali mungkin tidak akan pernah datang, ia menyimpan kuncinya dengan hati-hati.

Saat Edgar berbalik menatap para ksatria, mereka melihat air mata mengalir di pipi Edgar.

"Saya peringatkan untuk terakhir kalinya. Jika Anda sekalian mundur, saya juga tidak akan mengayunkan pedang."

"Anda pasti tahu bahwa kami tidak bisa melakukannya."

"Kalau begitu, apakah kita memang harus bertarung?"

"Jika itu keinginan Tuan Edgar. Kami harus menahan Anda dan memeriksa kediaman ini."

"……Itu merepotkan ya." Pria tua itu tetap tidak mau bergeser dari depan gerbang.

"Rumah ini adalah jiwaku sendiri. Aku ingin kalian membiarkan bukti pengabdianku pada keluarga Ignart tetap tenang. Meskipun kalian punya alasan, aku juga tidak bisa mengalah."

Kini, tidak ada jalan lain selain beradu pedang. Meski tidak ada kata-kata yang terucap, hal itu sudah pasti. ────Tepat di saat para ksatria melangkah maju agar tidak kehilangan inisiatif.

Sosok pria tua itu menghilang. Hanya di tempat sepatunya berpijak salju tidak menumpuk. Salju yang bercampur dengan angin di sekitarnya bergoyang tidak beraturan sejenak.

"……Eh?"

Sebelum darah segar muncrat dari dada ksatria di barisan terdepan, dua bilah pedang perak telah menembus tubuhnya.

 

Setelah itu, pemandangan berubah drastis. Edgar berhasil melarikan diri meski mengalami luka parah dalam pertempuran di kediaman Marquis Ignart, dan ia berada di tempat persembunyian yang telah disiapkan oleh Ulysses.

Pelayan keluarga Ignart merawat Edgar yang terluka parah, dan nyawanya berhasil terselamatkan.

Sebagai gantinya, ia kehilangan satu mata dan memakai penutup mata, serta lengan kirinya telah diganti dengan lengan buatan (prosthetic).

Namun Edgar tidak memedulikan hal itu dan bertanya datar kepada sang pelayan.

"Sudah berapa lama waktu berlalu?"

"Waktu yang sangat, sangat lama."

"Beri tahu saya. Apa yang terjadi selama saya tertidur."

Ulysses tewas di Pegunungan Baldur, dan pahlawan baru telah lahir di Leomel.

Mengetahui kenyataan itu, Edgar merasa malu karena hanya dirinya yang bertahan hidup, dan ia pun menangis.

"Tuan Edgar harus melakukan apa yang bisa Tuan Edgar lakukan," ucap pelayan itu sambil menunduk.

"Tidak ada yang bisa saya lakukan. Sebagai seorang kepala pelayan, saya gagal mengabdi pada Tuan dan Nona Fiona. Setelah itu, apa yang Anda suruh saya lakukan?"

"Kami para pelayan pun tidak tahu. Tapi jika Tuan Edgar bunuh diri, Tuan kami pasti tidak akan menyambut Anda di sana."

Jika itu Ulysses, pasti akan begitu. Dua orang yang mengenal baik anggota keluarga Ignart itu saling bertukar pandang dan kembali menangis dalam diam.

 

Tak lama setelah itu, Edgar menjadi pengembara tanpa tujuan. Keluarga Ignart sudah tidak ada lagi di Leomel, dan ia menghabiskan hari-harinya memikirkan sang Tuan dan Fiona.

Namun, di sudut sebuah kota di luar negeri Leomel, ia mendapatkan sebuah buku tua dan……

"Sepertinya masih banyak hal yang harus diselidiki yang masih tersembunyi, ya." Sambil membaur ke dalam keramaian kota.

"Tubuh tua ini akan melakukan pekerjaan terakhirnya. Sebelum aku pergi menemui Tuan, mari selesaikan apa yang harus diselesaikan."

Meskipun maksud dari gumaman itu tidak jelas, dalam pemandangan yang disaksikan Ren, Edgar pergi ke berbagai tempat.

Waktu panjang yang terus berputar diringkas menjadi satu momen singkat.

 

Akhirnya, Edgar kembali ke Leomel setelah sekian lama. Ksatria Leomel pun menemukannya.

Berdasarkan informasi tersebut, kekuatan tempur termasuk ksatria Shishiseicho dikirim ke tempat persembunyiannya.

Tentu saja, Edgar menyadarinya dan melarikan diri.

Namun karena kehilangan satu mata dan memakai lengan buatan, ia tidak bisa bertarung sesuai keinginannya, dan ia tidak berhasil melarikan diri seperti dulu.

Saat melarikan diri ke daerah kumuh di kota itu, ia menyandarkan punggungnya pada dinding luar rumah yang kotor.

Ia yang memulai perjalanan untuk mengejar informasi tentang suatu keberadaan, pada saat itu—

"Sudah waktunya Tuan menjemputku."

Ia memejamkan mata, bersiap menghadapi kematian. Langkah kaki yang terburu-buru semakin mendekat. Ia menunggu saat-saat terakhirnya, namun—

……Na-napas!? ……Kau, tidak ada────.

Para ksatria yang seharusnya mengejar tiba-tiba tumbang ke tanah tanpa terkecuali. Tidak ada darah yang mengalir.

Semuanya hanya kehilangan kesadaran karena leher atau perut mereka dihantam keras oleh sesuatu.

Menyaksikan pemandangan yang tak terduga itu, Edgar melihat seseorang yang mengenakan jubah kotor berdiri di dekatnya.

Meski berada dalam situasi mendadak, pria tua itu tetap tenang. Suara seorang pemuda menyapa pria tua itu, dan pria tua itu menyahutnya.

"────Anda adalah Tuan Edgar, bukan?" "────Anda sepertinya sama sekali tidak terlihat seperti seorang ksatria."

Dengan tenang. Pemuda dan pria tua itu bertemu di sini. Setelah percakapan singkat, pemuda itu berkata:

"Aku lebih tepatnya musuh ksatria…… tidak, mungkinkah aku musuh Leomel?"

Yang muncul di depan Edgar adalah seseorang yang menyembunyikan dirinya dalam jubah.

Orang tersebut membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajahnya.

Ternyata ia adalah seorang pemuda berwajah tampan yang sedikit cantik (androgynous).

 Pemuda itu menghampiri Edgar, lalu menggendongnya dan mulai berjalan. Itu terjadi saat Edgar masih belum bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Aku mencari Anda. Aku pikir Anda pasti tahu beberapa informasi yang sedang kukejar."

"……Saya tidak mengerti. Kenapa Anda juga mengejarnya?"

"Tentu saja karena aku juga punya tujuan sendiri."

Pemuda itu dengan kuat menjejak jalan batu dan berlari di atas atap-atap rumah.

Edgar bergumam 'Hum' melihat gerakan kakinya yang cepat dan lincah seolah terbang di angkasa. Sepertinya masih terlalu pagi baginya untuk menyusul Tuannya yang telah tiada.

"Tuan Muda, tolong beri tahu saya nama Anda." Saat mereka hendak keluar dari kota itu. Entah kenapa Edgar menanyakan nama pemuda yang mencarinya dan menolongnya itu. Pemuda yang ditanya tidak menghentikan langkahnya dan membuka mulut.

"Aku Ren Ashton. Penjahat besar──── yang telah merenggut nyawa White Saintess dan Kepala Akademi."

Mendengar nama pemuda itu, Edgar kehilangan kata-kata karena kenyataan yang teramat mengejutkan.

◇◇◇

"────Tuan... Tuan Ashton." Bahu Ren diguncang, dan ia terbangun oleh suara kusir yang mencoba membangunkannya.

……Barusan itu.

Apakah itu mimpi?

Atau memori dari garis dunia yang lain?

Di sana, Ren Ashton dan Edgar memiliki hubungan tertentu dan akhirnya beraksi bersama──── hanya itu yang ia tahu.

Ia sama sekali tidak tahu mengapa ia melihat atau diperlihatkan pemandangan seperti itu.

Jika diibaratkan, itu adalah kejadian mendadak yang mirip dengan mimpi yang ia lihat saat diculik oleh Yerkqu dulu.

Ren yang masih linglung mengusap matanya, lalu menatap kusir dengan perasaan tidak menentu.

"Maaf. Saya tadi sedikit tertidur."

"Tidak apa-apa, saya yang mohon maaf. Kita sudah hampir sampai di kediaman yang dituju."

Kereta kuda yang membawa Ren berhenti sekitar sepuluh menit perjalanan kaki dari kediaman Marquis Ignart. Kereta tidak bisa melaju lebih jauh karena ksatria memblokir jalan.

Menurut ksatria, terjadi masalah pada saluran air bawah tanah. Saat ini mereka sedang melakukan pemeriksaan situasi darurat.

"Sepertinya untuk sementara waktu, jalan ke depan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki……"

"Kalau begitu, saya jalan kaki saja. Lagipula ada banyak ksatria di sekitar sini."

Ren membuka pintu kereta dengan tangannya sendiri, lalu menjejakkan kaki dengan ringan ke jalan batu. Ia mengangguk kecil kepada kusir yang memegang kendali di depan kereta, lalu mulai berjalan.

……Benar juga.

Sepuluh mel ke depan, jalanan diblokir. Saat berjalan di dekat para ksatria, salah satu dari mereka menyapa Ren.

"Hei kau, mau pergi ke mana?"

"Saya mau pergi ke kediaman Marquis Ignart yang ada di depan sana."

"Ke... kediaman Yang Mulia Marquis?"

Percakapan berakhir singkat, namun ksatria itu tampak tercengang.

Meski para ksatria itu mengabdi pada negara Leomel, bagi mereka Ulysses adalah atasan langsung.

Itu adalah kejutan yang tidak bisa diabaikan. Ksatria itu tidak berpikir Ren berbohong. Mereka melihat sendiri Ren turun dari kereta kuda Department of Mysteries.

Karena tidak ada larangan dari ksatria, Ren terus melangkah maju tanpa ragu.

Setelah berjalan beberapa menit, terlihat kediaman Marquis Ignart yang skalanya mungkin sebesar kastil negara kecil. Ren bergumam 'Gede banget' dalam hati. Tapi tidak hanya itu, ia sekali lagi berkata—

"……Gede banget." Ia mengulangi keterkejutannya dengan suara yang sengaja dikeluarkan.

Di depan gerbang utama yang raksasa, terlihat tentara pribadi keluarga Ignart yang berdiri berjaga.

Melihat Ren mendekat, mereka diam-diam mengambil sikap waspada. Mungkin mereka sudah mendengar ciri-ciri Ren.

Tetap saja, sebagai penjaga gerbang yang mumpuni, mereka tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan menarik kesimpulan sebelum memastikan.

Di mata Ren, para penjaga gerbang itu tampak mulai sedikit gelisah. Saat ia berdiri sepuluh mel dari gerbang utama, seorang tentara menyapa.

"Tolong beri tahu nama Anda."

"Saya Ren A──── yang diundang oleh Marquis Ignart."

Meski berkata begitu, itu hanyalah ucapan lisan. Jika dipikir-pikir, Ren tidak menerima surat undangan kali ini selain untuk naik ke kapal Gardiknight.

Penampilannya memang sudah rapi agar tidak tidak sopan, tapi tetap saja ia terlihat seperti pemuda biasa.

Atau setidaknya, terlihat seperti anak bangsawan dari antah berantah.

……Ah, benar juga.

Ren tiba-tiba teringat. Ia sudah menyimpan sesuatu di balik bajunya untuk berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi.

Melihat Ren memasukkan tangannya ke dalam baju, beberapa tentara di depannya menelan ludah.

Bukan karena haus atau lapar, tapi karena membayangkan apa yang akan dikeluarkan Ren.

Mereka tidak menyangka Ren akan mengeluarkan senjata. Mereka bersikap waspada karena ketegangan menghadapi situasi yang sudah diprediksi.

"Maaf. Tolong lihat ini." Kartu hitam legam.

Undangan lama. Itu adalah undangan yang ditinggalkan Edgar untuk Ren beberapa tahun lalu saat mengunjungi Clausel sebagai wakil Marquis Ignart, yang belakangan ini juga ia lihat bersama Fiona di dalam Gardiknight.

Kertas hitam mewah dengan cetakan emas memberikan kesan prestisius, namun tetap saja itu hanyalah selembar kertas.

Di sisi lain, para ksatria sudah sering mendengar tentang penampilan Ren dan tahu bahwa ia sedang berada di Eupeheim, jadi sepertinya tidak ada masalah berarti.

Ren sempat bertanya-tanya apakah satu undangan ini cukup untuk mengunjungi bangsawan besar... tapi ia yakin Ulysses tidak mungkin melakukan kecerobohan.

Tak lama kemudian, terjadi perubahan pada lambang cetak emas yang terukir di undangan lama tersebut.

Lambang keluarga Ignart muncul secara tiga dimensi di atas kartu undangan dan memancarkan cahaya.

Cahaya itu bergerak indah seolah ditulis dengan pena bulu di sebelah lambang tersebut.

Selamat datang, kami menanti kunjungan Anda.

Kata-kata sambutan tertulis dengan ringkas.

Gerbang yang mengelilingi pekarangan rumah itu pun memancarkan cahaya yang sama, lalu terbuka dengan sendirinya bahkan sebelum para ksatria sempat mengulurkan tangan.

Kartu itu bukan sekadar undangan biasa. Sebenarnya itu hal yang wajar jika dipikir-pikir, tapi Ren hanya bisa tersenyum kecut melihat pertunjukan yang terasa agak berlebihan tersebut.

Melihat hal itu, pria yang memimpin para ksatria di sana kembali membuka suara. Para ksatria yang berada di dekatnya pun langsung berbaris rapi secara serentak.

"Kami telah menanti kedatangan Anda."

Ini adalah undangan yang disiapkan oleh Edgar sebagai perwakilan tuannya, dan merupakan jenis undangan kasta tertinggi yang bisa dikeluarkan oleh keluarga Ignart.

Setelah menerima sambutan yang di luar dugaan, Ren kembali menengadah menatap kastil kediaman Ulysses.

 

Taman itu sangat luas.

Rumput yang menutupi permukaan tanah ditanam dengan mencampurkan berbagai varietas agar tetap rimbun di hampir setiap musim. Banyak yang layu saat musim dingin tiba, tapi di akhir musim gugur ini pun, semuanya masih terlihat hijau dan segar.

Selain itu, mungkin karena ada perangkat magis di suatu tempat, taman ini tidak terasa dingin meski sudah memasuki musimnya.

Fiona dan Licia tampak sangat serasi berada di ruang tersebut. Keduanya bertukar kata di taman itu, terlihat lebih menawan daripada bunga-bunga di sekitar mereka.

"Maafkan saya…… Ayah sudah menantikan hari ini sejak lama sekali……"

Bisa dibilang Ulysses sudah mendambakan hari ini selama bertahun-tahun. Sejak nyawa Fiona terselamatkan, ia bahkan sampai memimpikannya.

Tidak mengherankan jika ia menyambut dua orang dari keluarga Clausel dengan sangat antusias. Saking semangatnya ingin menunjukkan isi rumah, ia sampai membawa pergi Lezard dengan sedikit memaksa.

Fiona sempat khawatir apakah sambutan yang terlalu totalitas ini akan membuat tamu mereka merasa tertekan, namun karena Ulysses bersikeras tidak ingin setengah-setengah, beginilah jadinya sekarang.

Licia tersenyum sambil mengingat kembali saat ia menerima sambutan tersebut.

"Melihat Marquis Ignart tampak begitu bahagia, aku juga ikut senang."

"Fufu, aku lega mendengarnya."

Kaki jenjang mereka yang menyembul dari balik rok berhenti di depan petak bunga musim gugur yang sedang bermekaran.

"Bunga yang cantik, ya."

"Ini bunga yang hanya mekar di musim gugur. Namanya adalah────"

Tak disangka, suasana di antara mereka tetap seperti biasa. Licia sedikit membungkuk di samping Fiona yang mendekatkan wajahnya ke arah bunga.

Licia merasa percaya diri bahwa dialah gadis yang paling memahami pesona Fiona. Sosok cantik nan imut yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun kecuali Ren.

Itu pasti saat-saat paling menawan dari seorang Fiona. Sosok putri bangsawan tinggi yang jatuh cinta dengan mempertaruhkan nyawa, penampilannya sekarang terasa begitu manis.

Keindahannya begitu memikat sampai-sampai terasa sedikit mistis.

"Ada apa?"

Fiona yang menyadari tatapan itu tampak kebingungan. Sosoknya yang seperti itu pun terlihat sangat luar biasa di mata Licia.

"Bukan! Bukan apa-apa!"

Licia menjawab dengan terburu-buru, tentu saja karena pesona mereka berdua terlihat setara saat berdiri berdampingan.

Para pelayan keluarga Ignart yang melihat mereka dari kejauhan sampai terpukau. Pemandangan kedua gadis yang berdiri di antara berbagai bunga itu terasa seperti bukan berasal dari dunia manusia biasa.

Para pelayan keluarga Ignart sudah sering mendengar dan tahu tentang Licia. Saat melihat Licia secara langsung pagi tadi, mereka terkejut karena merasakan dampak yang sama kuatnya dengan pesona yang dimiliki Fiona.

Licia dan Fiona tidak hanya mengobrol soal bunga, tapi juga soal rumah dan hal lainnya. Setelah beberapa saat berlalu...

"Nona-nona sekalian, Tuan Ren Ashton telah tiba."

Seorang pelayan keluarga Ignart datang dengan terburu-buru untuk melapor. Setelah melihat keduanya mengangguk, pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan tempat.

Ren diperkirakan akan datang ke sini dengan dipandu oleh Edgar. Untuk menyambutnya, kedua gadis itu mulai melangkah hampir di waktu yang bersamaan.

Atmosfer yang sudah lama tidak terasa kini muncul kembali. Terakhir kali suasananya seperti ini mungkin saat mereka pertama kali bertemu di pesta Ibu Kota.

Sama seperti malam itu, hiasan rambut bulu platinum dan kalung Star Agate milik mereka tampak bergoyang.

Mereka berdua menghentikan langkah sambil saling memandang.

"Hari ini, bisakah kamu mengalah────"

Fiona baru saja akan mengatakan sesuatu, namun Licia langsung menjawab dengan cepat.

"Aku tidak akan mengalah, ya."

"Be-belum! Aku belum selesai bicara!"

Bukannya mereka memperlakukan Ren seperti barang dan memintanya untuk mengalah.

Kedua gadis ini tidak mungkin mengatakan hal sebodoh itu. Hanya saja, Licia menjadi terlalu waspada saat berhadapan dengan rival kuatnya, Fiona.

"Maksudku adalah membiarkan aku membalas budi pada Ren-kun! Karena sejak dulu, aku sudah berjanji ingin menjamunya minum teh di rumah ini……!"

"Ma-maaf! Ternyata soal itu, ya!"

Tanpa sadar ketegangan di tubuh mereka pun mengendur. Kaki yang tadi terhenti kembali melangkah untuk menjemput Ren.

"Duh," Fiona menghela napas dengan sikap layaknya gadis seusianya. Bukan helaan napas dendam, melainkan sikap merajuk yang terasa imut.

Licia yang terkejut sempat bersikap agak santai tanpa sadar, namun keduanya tidak menyadarinya.

Sebaliknya, mereka juga belum sadar bahwa sekarang mereka justru bisa berinteraksi dengan lebih apa adanya satu sama lain.

Kedua gadis itu menarik napas sejenak, lalu saling bertukar kata terakhir untuk menutup situasi ini.

"Aku tidak akan kalah, lho."

Licia mengungkapkan isi hatinya yang kuat dan menyentuh, berbeda dari biasanya.

"Aku juga, pasti tidak akan kalah."

Fiona yang biasanya lebih sering mengalah dan tertutup pun menegaskan posisinya tanpa mundur sedikit pun.

Apakah ini deklarasi perang baru setelah malam beberapa tahun yang lalu? Atau hanya sekadar pernyataan tekad?

Apa pun itu, perasaan mereka tidak pernah berubah sejak lama. Mereka sampai di titik ini karena terus melangkah maju sedikit demi sedikit, meski perlahan.

Tiba-tiba, suara pria yang mereka cintai terdengar di telinga.

"Maaf. Aku terlambat…… eh?"

Ren yang datang dipandu oleh Edgar melihat wajah mereka dan menyadari sesuatu. Tidak seperti biasanya, pipi kedua gadis itu memerah dan entah kenapa mereka tampak tidak tenang.

"Wajah kalian berdua memerah, apa kalian baik-baik saja?"

Keduanya merasa agak rumit karena Ren tidak menyadari perasaan mereka. Namun, mereka tidak mengeluh dan menganggap itu hal yang wajar.

Mereka mendekati Ren yang baru saja tiba, lalu...

"……Bukan apa-apa, kok."

"……Iya. Tidak ada apa-apa."

Mereka menghela napas panjang secara bersamaan. Helaan napas itu mengandung dua hal: rasa malu terhadap diri sendiri yang pasif, serta keinginan hati seorang gadis agar ia segera menyadarinya.

Menurut Fiona, ia tidak punya ingatan tentang pernah diadakannya pesta di rumah ini. Dulu, Ulysses yang mengkhawatirkan kondisi kesehatannya akan menyiapkan tempat lain. Sejak saat itu pun, Ulysses tidak terlalu suka mengundang orang lain ke rumahnya.

Di aula tempat pesta yang dihiasi dengan megah────. Tempat yang dikelilingi perabotan langka ini terasa jauh lebih prestisius daripada tempat pesta mana pun yang pernah mereka datangi sebelumnya. Perilaku para pelayan di sini pun tidak ada tandingannya.

Mengenai diadakannya acara seperti pesta di rumah ini...

"Hahaha! Ini pertama kalinya sejak sebelum aku mewarisi rumah ini dari ayahku!"

Itu sudah terjadi sangat lama sekali. Ulysses tertawa lebar dengan wajah penuh kegembiraan, sementara suara Edgar terdengar sangat ceria.

"Tuan, penantian panjang kita tidak sia-sia, ya."

"Tentu saja! Mengadakan pesta di rumah sendiri biasanya merepotkan, tapi hari ini rasanya menyenangkan sekali sampai aku sulit memahaminya!"

Bagi keluarga Clausel yang masih termasuk bangsawan kelas bawah, pembicaraan ini terasa cukup berat. Satu-satunya hal yang bisa disyukuri adalah mereka sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan Ulysses.

Obrolan dengan anggota keluarga Ignart berlanjut selama beberapa jam berikutnya. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Cahaya yang masuk dari jendela besar sudah melewati sinar matahari sore, dan perlahan mulai meredup.

"Viscount Clausel."

Ulysses membuka suara sesaat sebelum jamuan ini berakhir.

"Bagaimana? Setelah ini, jika tidak keberatan, ada urusan bisnis yang ingin saya bicarakan sedikit."

"Apakah tidak apa-apa? Tapi, matahari sudah mulai terbenam."

"Ah tidak, jangan khawatir soal keluarga kami."

Pelayanan keluarga Ignart sangat sempurna, bahkan jauh melampaui kata cukup.

"Bagaimana kalau Anda sekalian menginap saja?"

"Menginap? Maksud Anda, di rumah ini?"

"Iya. Saya dan para pelayan akan senang jika Anda bersedia, jadi silakan."

 

Ada sebuah ruang kerja milik Ulysses yang sebelumnya juga pernah dikunjungi oleh Chronoa dan Radius. Ren yang dipanggil pun ikut hadir dan mendengarkan pembicaraan di sana.

Malam sudah benar-benar tiba, dan cahaya jingga hanya tersisa sedikit di luar jendela.

"Permisi."

Edgar datang di tengah pembicaraan dan menyerahkan setumpuk kertas yang diikat tali kepada Ulysses.

"Ini laporan mengenai Kota Tua."

Edgar segera meninggalkan ruang kerja. Hanya tersisa Ulysses selaku pemilik ruangan, bersama Ren dan Lezard.

"Ternyata sudah waktunya, ya."

Ren bereaksi terhadap gumaman Ulysses.

"Ada sesuatu yang terjadi di Kota Tua?"

"Bukan hal besar. Semacam laporan rutin saja. Bukankah hal ini sempat dibahas di Department of Mysteries? Bahwa Kota Tua adalah tempat yang diawasi."

"Iya. Karena itulah saya jadi penasaran sekarang."

"Kalau begitu ceritanya jadi mudah. Kota Tua perlu dipatroli secara berkala, dan ini adalah laporan mengenai hal itu."

Ulysses yang membaca isi kertas tersebut berucap, "Sudah kuduga."

Mungkin karena isinya sesuai dengan perkiraannya sehingga ia bisa memastikannya dengan cepat, atau mungkin karena ada Ren dan Lezard di sini sehingga ia hanya membacanya sekilas.

"Tapi tetap saja, reaksi yang sama lagi, ya."

Ren bertanya kembali.

"Reaksi yang sama?"

"Ah tidak, ini hal yang sudah sering terjadi sebelumnya. Penyelidikan Department of Mysteries menyimpulkan bahwa cahaya itu berasal dari perangkat magis yang tenggelam yang menunjukkan reaksi tertentu. Tentu saja, sudah diperiksa apakah cahaya itu merupakan sinyal bahaya atau bukan. Sepertinya itu hanya cahaya yang menunjukkan bahwa perangkat tersebut masih beroperasi."

Laporan tersebut sampai ke tangan Ulysses untuk berjaga-jaga. Selain itu, sekarang memang sudah waktunya mengirim personel secara rutin, tapi Ulysses memprioritaskan waktu bersama tamu-tamunya dan memutuskan untuk memikirkannya nanti.

Namun...

"Kota Tua────"

Ren menggumamkan kata-kata yang menunjukkan ketertarikannya.

"Kalau kau penasaran, mau coba pergi ke sana?"

Mendengar gumaman itu, Ulysses memberikan tawaran dengan nada suara yang santai seperti biasanya.

"Saya memang penasaran, tapi bukankah masuk ke Kota Tua memerlukan izin?"

"Kalau soal itu, tenang saja. Kota Tua bukan tempat yang sama sekali tidak boleh dimasuki orang luar. Biasanya ada kesempatan untuk berkunjung dengan syarat-syarat tertentu."

Sebagai aset budaya yang penting, tidak sedikit orang yang ingin melihat Kota Tua secara langsung. Karena itu, kesempatan untuk berkunjung dibuka secara berkala. Saat ini memang bukan jadwalnya, tapi itu bukan masalah besar.

"Anggap saja kalian pergi sekalian untuk membantu melihat-lihat keadaan di sana."

Ulysses merujuk pada patroli yang tadi dibahas. Ini bisa dianggap sebagai pemberian kemudahan, tapi bisa juga dianggap sebagai permintaan bantuan pekerjaan.

"Aku dengar kau pernah melakukan pekerjaan serupa di Clausel. Aku yakin kau akan baik-baik saja meski pergi ke Kota Tua, jadi tidak masalah. Pergilah berkunjung sekalian menganggapnya sebagai pekerjaan setengah waktu. Aku akan memberi tahu detail pekerjaan yang kuinginkan nanti."

Seperti biasa, keputusannya sangat cepat dan ia penuh dengan inisiatif. Ulysses terus melanjutkan pembicaraan tanpa ragu sedikit pun.

Setelah pembicaraan selesai, Ren yang sedang berjalan di dalam kediaman Marquis Ignart menemukan seorang pelayan di dekatnya.

"Permisi. Saya ingin pergi ke tempat Nona Fiona dan yang lainnya, tapi saya tidak tahu di mana mereka sekarang."

"Kedua nona ada di kamar pribadi Nona Fiona. Mari saya antar."

"Heh…… di kamar Nona Fiona……"

Tiba-tiba Ren bergumam "Hm?" dan menghentikan langkahnya. Pelayan itu pun segera berhenti dan menoleh ke arah Ren.

"Tuan Ashton, ada apa?"

"Anu, tadi Anda bilang di kamar Nona Fiona, kan?"

"Benar." Jawaban singkat yang sangat mudah dimengerti.

"Sepertinya Nona Clausel juga sedang asyik mengobrol bersama di kamar pribadi Nona kami. Karena waktu makan malam sebentar lagi tiba, saya akan memanggil mereka kembali saat waktunya tiba."

"Be-begitu ya……"

Ren tidak terlalu memedulikan soal waktu makan malam, tapi lokasi mereka lah yang membuatnya kepikiran.

Tidak masalah jika Licia pergi ke kamar putri Marquis. Dia adalah putri dari keluarga Viscount, dan melihat hubungan mereka berdua, hal itu tidaklah aneh.

Di sisi lain, Ren adalah anak seorang ksatria. Ia merasa tidak sopan jika harus melangkahkan kaki ke kamar pribadi putri seorang Marquis.

"Sepertinya, aku akan pergi ke kamar tamu yang sudah disiapkan untukku saja."

Baru saja Ren hendak berbalik, pelayan itu langsung menyahut tanpa jeda.

"Ada apa tiba-tiba?"

"Tidak, aku merasa tidak pantas jika seorang lawan jenis pergi ke kamar seorang putri bangsawan."

"Tenang saja. Saya rasa tidak akan ada masalah."

"……Haa."

Tidak masalah, ya. Begitukah.

Ren sudah berkali-kali mendengar sendiri bahwa mereka ingin menjamunya karena ia adalah sosok penyelamat. Dan jika Licia juga diundang ke sana, mungkin tidak aneh jika ia masuk ke kamar Fiona dalam posisi seperti pengiringnya.

Setelah memikirkan beberapa hal, Ren menarik kesimpulan.

"Nggak, tetap saja tidak mungkin."

Namun karena pelayan itu terus mendesaknya dengan berkata "Mari, mari", akhirnya Ren berjalan sampai ke depan kamar Fiona.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besar.

"Kalau begitu Tuan Ashton, silakan nikmati waktu Anda dengan santai."

Pelayan itu pergi meninggalkan Ren di depan kamar Fiona. Itu adalah bentuk perhatian sang pelayan agar tidak mengganggu Fiona dan Ren, namun Ren tidak mengetahuinya.

Meskipun bagi Ren yang ditinggalkan ini adalah situasi yang tak terduga, ia menganggapnya memang sudah prosedurnya dan mengetuk pintu.

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan Fiona melongokkan wajahnya dari celah pintu.

"Ren-kun, silakan masuk!"

Ren masuk ke dalam kamar seolah diajak olehnya. Di dalam, barang-barang tertata dengan sangat rapi, seolah mencerminkan kepribadian gadis itu. Aroma bunga yang manis tercium dari rambut Fiona setiap kali ia bergerak.

"Eh? Licia tidak ada di sini?"

Fiona tidak bisa tiba-tiba memintanya memanggil namanya tanpa embel-embel "Sama". Ia sendiri merasa sedih karena merasa tertinggal dalam hal kedekatan, namun ia menyemangati dirinya sendiri dalam hati bahwa semua tergantung usahanya mulai sekarang.

"Nona Licia tadi sempat pergi ke kamarnya sebentar. Sepertinya barang-barangnya dari penginapan sudah sampai, jadi ia pergi untuk mengeceknya."

Pantas saja dia tidak ada. Kalau begini, berarti mereka hanya berdua saja di dalam kamar. Ren menyadari hal itu dan...

"Eh."

Ia terpana dan bertanya-tanya apakah situasi ini benar-benar diperbolehkan. Namun karena Fiona tampak tidak keberatan, Ren jadi pusing sendiri memikirkan apakah dia yang terlalu berlebihan dalam merespons.

Di sisi lain, Fiona hanya tidak menunjukkannya di wajah. Kenyataannya, jantungnya berdebar sangat kencang sampai ia merasa dadanya akan meledak.

Di samping Ren yang dipersilakan duduk di kursi dekat jendela, Fiona menempelkan tangan ke dadanya yang berlimpah untuk menenangkan diri. Ia tidak boleh terus-menerus menjadi gadis yang hanya bisa gugup atau tersipu.

"Re-Ren-kun!"

"Iya, ada apa?"

Mendengar suara Fiona yang terasa lebih bersemangat dari biasanya, Ren berusaha menjawab dengan suara setenang mungkin.

"Balas budi yang aku janjikan sebelum meninggalkan Pegunungan Baldur, bolehkah aku melakukannya sekarang……?"

Kata-kata itu diucapkan dengan sungguh-sungguh, dengan suara yang gemetar dan kedua mata yang lebih berkilau dari permata serta digenangi air mata.

Ren terkejut mendengar suara yang begitu mendalam itu, lalu ia teringat akan masa lalu. Saat ia menghabiskan satu malam bersama Fiona di Pegunungan Baldur.

Kita akan bertemu lagi. Karena aku sudah diundang oleh Marquis Ignart.

Benar! Kalau begitu, izinkan aku menjamumu saat itu! Untuk tehnya…… aku akan berlatih setiap hari sampai hari itu tiba! Aku akan terus berjuang agar kemampuanku diakui oleh semua pelayan juga……!

Di musim dingin itu, setelah pertempuran di mana Naga Legendaris bangkit kembali...

────Itu janji, ya?

Keduanya memang benar-benar bertukar janji itu sebelum berpisah.

Di atas meja, satu set peralatan teh sudah disiapkan. Begitu Ren mengangguk, Fiona mulai bergerak dan menyeduh teh dengan gerakan tangan yang sedikit tegang.

Ia sudah berjuang demi hari ini. Baik di Ibu Kota maupun di akademi, ia bisa saja menjamu Ren dengan teh kapan pun ia mau. Namun demi hari ini, Fiona tidak menyerah dan terus berusaha meski ia tidak pandai dalam hal itu.

Aroma uap yang keluar dari teko teh memiliki keharuman yang tidak bisa dibandingkan dengan saat di Pegunungan Baldur dulu. Ren mengamati Fiona dalam diam.

Terdengar suara air yang dituangkan. Warna teh yang dituang ke dalam cangkir adalah warna cerah yang bening, antara cokelat dan oranye. Cangkir yang diletakkan di atas piring kecil itu kemudian disodorkan dengan lembut ke depan Ren.

"Kalau tidak enak, jangan dipaksa minum ya……!"

Ren tertawa mendengar suara itu. Wajah Fiona yang tadinya terlihat cemas kini tampak terkejut.

"Kamu mengatakan hal yang sama seperti waktu itu."

"Habisnya…… aku khawatir……"

"Aku kan sudah bilang kalau aku juga suka teh di malam itu. Jadi, aku ingin kamu jangan khawatir…… boleh aku mencicipinya?"

Mendengar hal itu, Fiona tampak memantapkan hatinya────

"Silakan!"

Ia kembali menempelkan tangan ke depan dadanya, mengangguk sambil merasakan detak jantungnya sendiri. Saat Ren mengangkat cangkir teh, terdengar suara gesekan pelan dengan piring kecilnya.

Meskipun jelas hanya butuh beberapa detik baginya untuk membawa cangkir teh itu ke mulut, bagi Fiona rasanya sangat lama, seperti hitungan menit atau bahkan jam. Jakun Ren bergerak naik turun saat ia menelan satu tegukan.

Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum lembut.

"Ini teh paling enak yang pernah kuminum seumur hidupku."

Itu bukan sekadar basa-basi, ia benar-benar merasakannya dari lubuk hati terdalam.

Entah apakah perasaan Ren tersampaikan pada Fiona, gadis itu tidak bertanya apakah itu benar atau tidak. Ia hanya merasa sangat bahagia.

Dada Fiona yang tadi berdegup kencang seperti alarm kini dipenuhi oleh perasaan hangat yang tak terlukiskan karena cinta.

Seluruh tenaganya seolah menghilang. Fiona pun langsung jatuh terduduk di atas karpet begitu saja.

"Nona Fiona!?"

Ren yang khawatir segera berdiri dan berjongkok di depannya. Kaki ramping dan lembutnya yang menyembul dari balik rok tampak tertekuk dengan kedua lutut yang saling menempel rapat.

"……Ahaha."

Fiona tertawa sambil menyipitkan mata.

"Itu…… saking senangnya, tenagaku sampai hilang."

Ia mengatakannya sambil menggoyangkan rambut hitamnya.

Beberapa menit kemudian Licia kembali, dan mereka bertiga mengitari satu meja yang sama.

Topik tentang Kota Tua yang tadi dibahas sebelum datang ke kamar Fiona pun terangkat. Keduanya secara serentak bersuara bahwa mereka ingin ikut pergi bersama, bahkan lebih antusias dari yang Ren bayangkan!

"Nanti aku akan tanyakan pada Ayah dan yang lainnya, ya."

Saat ditanyakan di meja makan, Ulysses dan Lezard menjawab "Boleh saja" dengan nada santai seperti biasanya.

 

Bagi Fiona, itu adalah malam yang spesial. Hanya dengan fakta bahwa Ren berada di rumah yang sama sampai larut malam saja sudah membuatnya sangat gugup sampai rasanya kepalanya akan meledak, sekaligus merasa sangat senang.

Karena ingin percaya bahwa ini bukan mimpi dan ingin mendengar suaranya sebelum tidur, ia membayangkan kamar tamu tempat Ren berada.

Bagi Ren yang biasanya, jam segini pasti belum waktunya tidur. Namun, meskipun ia tahu tidak baik mengunjungi tamu di jam seperti ini, ia tidak bisa menahan diri dan berjalan di koridor. Saat itulah hal itu terjadi.

"────Ah."

"────Ah."

Fiona dan Licia yang muncul dari sisi kiri dan kanan koridor menuju kamar tamu Ren mengeluarkan suara secara bersamaan.

Mereka berhenti di depan kamar tamu, saling bertatapan, lalu mencoba memainkan ujung rambut mereka atau mengeluarkan tawa kering yang dibuat-buat.

Apakah ini namanya mencuri start? Tidak ada kesepakatan resmi memang, tapi sikap mereka berdua menjadi kaku satu sama lain. Pada akhirnya, sebuah jalan tengah muncul di kepala mereka.

"……Bagaimana kalau untuk hari ini, kita mengobrol bertiga saja?"

Tanya Licia yang kembali bersikap santai seperti saat siang hari.

"……Iya. Sepertinya lebih baik begitu," jawab Fiona, dan mereka pun melakukan gencatan senjata.

Karena dia adalah anggota keluarga Marquis Ignart, Fionalah yang mengetuk pintu kamar Ren. Namun karena tidak ada jawaban, mereka berdua berpikir mungkin Ren sudah tertidur.

……Pada saat itulah, Ren yang baru kembali dari mandi di pemandian besar atas kebaikan Ulysses, melihat kedua gadis itu saat ia berbelok di koridor.

"Lagi apa ya, mereka berdua?"

Ia memiringkan kepalanya melihat mereka berdiri di depan kamar tamu. Sehabis mandi, ia menyeka setetes keringat yang mengalir di dahinya dengan handuk.

 

Embusan napas putih keluar di pagi hari yang penuh dengan embun beku.

Para gadis yang merasakan angin dingin masuk melalui leher merasa sedikit menyesal karena seharusnya mereka memakai syal tadi.

"Ngomong-ngomong tadi Tuan Edgar bilang kalau begitu matahari terbit, udaranya akan langsung jadi hangat……"

"Iya. Aku juga berpikir begitu, tapi……"

"Tetap saja, dingin ya……"

Fiona yang lahir di Eupeheim dan sudah terbiasa dengan iklim daerah ini pun mengatakannya sambil tersenyum kecut. Beruntungnya, tubuh mereka perlahan mulai hangat saat mulai berjalan. Entah kenapa punggung mereka bertiga juga tampak semakin tegak.

Pagi buta di Eupeheim terasa ramai seperti di Erendil, namun pemandangannya berbeda.

"Dibandingkan Ibu Kota atau Erendil, di sini banyak kereta yang ditarik monster ya."

Ren menyadarinya saat sedang memperhatikan suasana kota.

"Karena banyak barang dari pelabuhan yang harus dipindahkan, sepertinya lebih baik jika ditarik oleh monster."

"Ah, Eupeheim kan kota pesisir terbesar di Leomel, ya."

Mereka menyusuri jalanan kota anggun yang dijuluki Mahkota Putih dan juga disebut Kota Air tersebut.

Perjalanan menuju Kota Tua yang menjadi tujuan mereka memang jauh, tapi rasanya tidak buruk jika dianggap sebagai jalan-jalan santai yang panjang.

Fiona terus berjalan memandu keduanya menuju luar kota sambil sesekali menjelaskan tentang kota tersebut, namun tiba-tiba ia berhenti dan melihat ke arah saluran air yang mengalir di samping mereka.

"……Sepertinya alirannya masih belum lancar."

Di Eupeheim terdapat banyak saluran air sejak zaman dahulu, namun sejak kemarin aliran airnya memburuk dan penyelidikan sedang dilakukan di berbagai titik di kota.

Ada instansi publik yang menangani infrastruktur kehidupan seperti saluran air. Anggota instansi tersebut sudah melakukan penyelidikan sejak kemarin dengan memanfaatkan perangkat magis.

"Maaf ya, aku tiba-tiba berhenti."

"Tidak apa-apa. Kemarin aku juga sempat melihatnya karena penasaran."

Saat sedang mengamati situasi, Ren yang mulai berjalan lebih dulu menemukan sosok yang ia kenal di seberang saluran air.

Sarah, Vain, Kaito, Nemu, dan Charlotte—seluruh anggota dari keluarga bangsawan agung ada di sana. Seperti yang kudengar dari Licia kemarin, mereka pasti hendak menuju gua itu sekarang.

"……Yah, kalau tidak salah ingat, memang ada barang bagus yang tertidur di sana."

Gumamanku tidak sampai ke telinga Licia.

Aku mengatakan 'kalau tidak salah ingat' karena pengetahuan mengenai Legend of Seven Heroes di kepalaku sudah mulai memudar, sehingga aku tidak terlalu percaya diri.

Di dalam gua yang tersembunyi di balik tanjung itu, tertidur sebuah perlengkapan tertentu.

Sebuah benda spesial yang disebut Hero Equipment.

Perisai besar yang dulu digunakan oleh leluhur Kaito Leonard, salah satu dari Tujuh Pahlawan, kini tertidur di bagian terdalam gua tersebut.

Ada berbagai teori mengapa benda itu bisa tertidur di tempat seperti itu.

Dikatakan bahwa setelah leluhur keluarga Leonard menyelesaikan pertempuran melawan Raja Iblis dan kembali ke negaranya, perisai besar itu selalu berada di tangannya. Namun, benda itu tidak pernah diwariskan ke generasi berikutnya.

Entah dicuri oleh perampok, atau tertidur di dalam gua karena alasan lain, tidak ada yang tahu pasti. Di keluarga Leonard sendiri, ada tradisi lisan yang mengatakan bahwa sang Pahlawan sengaja menidurkan perisai besar itu setelah tugasnya selesai.

Vain dan yang lainnya pergi menuju luar kota tanpa menyadari keberadaan kami.

Mereka menunggangi kuda yang telah disiapkan untuk menuju gua di sepanjang garis pantai, sementara kami bertiga berjalan santai sambil menikmati pemandangan.

 

Kami menyusuri jalan raya sambil berbincang ringan tentang hal-hal tidak penting.

Tak lama kemudian, ujung jalan raya mulai terlihat. Itu adalah jalan yang menuju ke Kota Tua yang tenggelam di dalam air.

Aku merogoh saku dalam jaketku. Sambil menghentikan langkah, aku membentangkan peta Kota Tua yang kuterima dari Ragna kemarin.

Dari sisi kiri dan kananku, Fiona dan Licia mengintip ke peta itu hampir secara bersamaan.

"Ini peta yang kamu dapatkan dari orang Department of Mysteries itu?"

"Tanda merah ini menunjukkan tempat di mana ada pintu yang tidak bisa dibuka?"

Aku mengangguk.

"Tuan Ulysses bilang aku boleh melihat-lihat sesukaku, tapi kalau dipikir-pikir, karena sebagian besar sudah tenggelam, kita hanya bisa melihat dari dekat saja, kan?"

"Tidak juga, lho. Tergantung lokasinya, kita bahkan bisa pergi sampai ke dasar air."

Seingatku, Ragna juga pernah mengatakan hal yang serupa.

"Masih ada beberapa perangkat magis yang berfungsi sampai sekarang, jadi ada tempat-tempat yang memiliki udara, ya?"

Fiona mengangguk mendengar pertanyaanku.

"Iya. Karena area itu diperluas dengan perangkat magis yang dipasang oleh Department of Mysteries, kita bisa berjalan dengan kaki sendiri bahkan di dasar air."

Di Kota Tua yang tenggelam, terdapat banyak lapisan membran udara yang dihasilkan oleh perangkat magis. Itu adalah salah satu jenis Defense System untuk melindungi bangunan.

Berkat itu, bagian dalam bangunan maupun jalanan yang tenggelam bisa dilewati seperti di atas tanah tanpa perlu perlengkapan khusus────.

◇◇◇

Di pintu masuk Kota Tua, tepat di bagian depan kota di mana orang-orang dulunya melangkahkan kaki.

Saat aku sedang menatap deretan bangunan tua dari jalan raya ke arah air, Fiona yang berdiri di sampingku dan Licia berucap.

"Silakan lihat ke sana."

Jika diperhatikan baik-baik di dasar kota yang tenggelam itu, memang ada. Di tengah air tempat ikan-ikan berenang, terdapat bagian yang dilapisi membran udara.

Ruang-ruang yang dipenuhi udara tersebar di sana-sini, dan terlihat pula jalanan dengan pemandangan serupa yang menghubungkan ruang-ruang tersebut. Di tengahnya, tergeletak perangkat magis yang masih terus beroperasi.

Dari sini tidak terlalu kelihatan jelas, tapi benda itu berupa logam seukuran lampu jalan dengan Magic Stone di dalamnya.

"Jika pergi ke sana, kita bisa melihat Kota Tua dari dasar air."

"Ngomong-ngomong, apakah ada cara untuk pergi ke dasar air tanpa menjadi basah?"

"Tentu saja. Serahkan panduannya kepadaku, ya."

Di dekat kami terdapat dermaga yang masih baru, dan beberapa perahu tertambat di sana. Setelah kami semua naik ke perahu, aku mulai mendayung dengan dayung atas arahan Fiona.

Licia bergumam sambil menatap tepat ke bawah Kota Tua dari pinggiran perahu.

"Kelihatannya benar-benar berbeda dari tempat yang kulihat sebelumnya."

Beberapa hari yang lalu Licia hanya memandangnya dari dekat jalan raya, bukan melihat tepat dari atas seperti ini.

Kota Tua yang membentang di bawah mata menciptakan dunia misterius dengan ikan-ikan yang berenang di langit air.

Rasanya seperti tersesat di dunia lain. Bangunan-bangunan yang hancur total atau sebagian akibat serangan menciptakan pemandangan yang aneh.

Sambil mendayung perahu, aku berkata.

"Kita juga harus melakukan pekerjaan patroli, ya."

"Pekerjaan untuk memastikan kondisi monster di sekitar, atau memastikan tidak ada monster di dalam air, kan?"

"Lalu, tergantung situasinya, kita harus melakukan Subjugation…… atau begitulah yang dikatakan Tuan Ulysses."

Setelah mendayung perahu selama belasan menit.

"Ren-kun, di sini tempatnya."

Perahu berhenti di sebuah tempat yang dulunya adalah perpustakaan sebelum Kota Tua tenggelam.

Di atas atap yang tinggi terdapat dek observasi berbentuk lingkaran, dan di saat tenggelam seperti sekarang, tingginya pas untuk menambatkan perahu.

Batu bata abu-abu yang kusam tampak berlumut di beberapa bagian.

◇◇◇

Aku berdiri lebih dulu dari mereka berdua, lalu turun dari perahu menuju dek observasi.

Aku mengulurkan tangan membantu mereka berdua naik ke dek.

Pertama, Fiona menyambut tanganku dengan wajah sedikit tersipu, lalu melompat turun dengan langkah ringan. Selanjutnya Licia turun menyusul Fiona ke dek observasi sambil tersenyum malu-malu.

Dek observasi ini dirancang berbentuk lingkaran agar orang bisa melihat ke segala arah, dan di tengahnya terdapat tangga spiral yang menuju ke lantai bawah.

Aku kembali berjalan di depan mereka berdua untuk mengawal.

Di dalam terasa remang-remang, cahaya dari luar hanya masuk sedikit melalui air lewat jendela-jendela yang ada. Jika tidak hati-hati, rasanya bisa salah melangkah.

Tempat ini pun banyak yang runtuh akibat dampak peperangan, tapi masih tergolong cukup rapi.

"Di perpustakaan ini, Department of Mysteries memasang perangkat magis agar orang-orang bisa berjalan."

Jika perangkat magis yang dikatakan Fiona dipasang di seluruh area Kota Tua, itu sama saja dengan menguras seluruh air dari sana.

Namun, hal itu tidak direalisasikan karena perangkat tersebut sangat mahal dan dampaknya terhadap topografi sekitar terlalu besar.

Dalam hal ini, memang pantas disebut sebagai teknologi Tujuh Pahlawan, Milim Althea.

Teknologi untuk terus mempertahankan Kota Tua yang tenggelam dengan tepat adalah sesuatu yang agung, bahkan melampaui teknologi zaman sekarang.

◇◇◇

Meski tangga spiral dikelilingi oleh pegangan tangan, tidak ada dinding di sekitarnya sehingga kami bisa menikmati pemandangan yang penuh rasa kebebasan.

Begitu sampai di lantai dasar yang dulunya paling luas, kami tiba di tempat di mana rak-rak buku berjajar rapi. Bentuk dindingnya menyerupai kipas, mengikuti bentuk bangunan.

"Rak bukunya ada banyak, tapi buku yang penting malah tidak ada satu pun ya."

"Sepertinya sebagian besar hanyut terbawa air atau terbakar…… Tapi, buku-buku yang tersisa sudah disimpan oleh Department of Mysteries. Karena perpustakaan ini juga digunakan oleh orang-orang dari Department of Mysteries, pengelolaannya sangat terjaga."

Aku mengangguk paham mengapa tempat ini begitu bersih, lalu menemukan sebuah pintu besar di depan. Itu adalah pintu untuk keluar dari perpustakaan.

Aku perlahan mengulurkan tangan dan menggenggam gagang pintunya.

 

Begitu pintu ganda yang besar itu terbuka────

"……Inikah, Kota Tua."

Pemandangan kota yang fantastis menyambut kami.

Langit air menutupi seluruh kota. Saat permukaan air bergoyang, cahaya yang menyerupai aurora turun dengan lembut ke kota.

"Lihat, Ren. Ikan-ikannya seperti berenang di langit air."

"Benar juga…… Ikan-ikan yang tadi kita lihat dari perahu, sekarang bisa kita lihat dari dasar air."

Aku tidak bermaksud bicara puitis, tapi memang kenyataannya begitu.

Selain itu, di sisi dalam udara pun terdapat aliran air. Saluran air dari taman alam yang dibangun di dalam Kota Tua juga terhubung hingga ke luar membran udara.

Ikan-ikan berwarna-warni berenang di saluran air bagian dalam. Sedikit tanaman hijau yang tersisa tampak merayapi rumah-rumah yang hancur sebagian.

"Aku juga sangat terkejut saat pertama kali melihatnya."

Pemandangan yang tidak biasa dilihat, pemandangan yang tidak ada duanya bahkan di Leomel sekalipun.

Fiona tampak menyelaraskan perasaannya dengan kami berdua yang terkejut melihat Kota Tua, dan ia berjalan setengah langkah di depan kami.

 

Cahaya seperti gelombang terus-menerus turun dari langit air.

Air yang terpisah oleh dinding udara juga bergoyang pelan dan benar-benar bergerak. Kota Tua seolah-olah waktu telah berhenti, namun sebenarnya ia terus berdenyut.

Mungkin bisa digambarkan sebagai sebuah wilayah tersembunyi buatan.

Kota ini memberikan kesan sejarah yang berbeda dengan "Penjara Waktu" di Roses Kaitas tempat aku dan Licia terjebak musim panas lalu.

Gaya arsitekturnya mencolok, tipe yang tidak bisa ditemukan di Eupeheim modern, Ibu Kota, maupun Erendil.

Banyak bangunan batu yang memiliki kesan lebih kokoh daripada zaman sekarang, mirip dengan kuil.

Di antara semuanya, yang menarik perhatianku adalah pelabuhan batu yang telah runtuh.

"Di sini dulu ada pelabuhan juga, ya."

"Iya. Tadinya Eupeheim memegang peran sebagai pelabuhan utama, tapi karena Kota Tua adalah kota baru yang diharapkan pertumbuhannya, pelabuhan segera dibangun di sini."

Di pelabuhan yang hancur itu, terlihat beberapa bagian yang menembus keluar membran udara.

Ada rumput laut yang tumbuh, dan bekas-bekas yang terkikis ombak dalam waktu lama.

Pemandangan yang membentang di luar sana jelas berbeda dengan sisi dalam membran udara tempat kami berdiri.

Fiona yang menjelaskan hal itu mengalihkan pandangannya ke ujung pelabuhan.

"Di laut lepas tepat di depan pelabuhan ini, ada pulau terpencil tempat dibangunnya sebuah kuil kecil."

Meskipun disebut kuil kecil, ukurannya tidak sekecil yang biasa ada, melainkan seukuran rumah penduduk biasa.

 

Kami bertiga melangkah dengan hati-hati agar tidak tersandung jalan batu yang retak.

Kami berjalan lurus di jalan besar membelakangi perpustakaan tadi, tanpa sengaja berbelok meski sesekali melirik ke jalan samping.

Di tengah jalan, aku mengeluarkan peta Kota Tua.

"Sepertinya kita harus terus lurus."

Laporan yang diterima Ulysses kemarin menyebutkan bahwa ada cahaya yang terkonfirmasi di dalam air.

Karena aku sudah mendengar lokasinya dari Ulysses kemarin, kami menuju ke arah tersebut.

Perbatasan antara udara dan air terlihat persis seperti pola cahaya yang turun dari permukaan air yang bergoyang tenang. Sensasi masuk ke dunia lain ini tidak bisa dibandingkan dengan hanya melihatnya dari luar.

"Eh?"

Aku yang sedang melihat peta menghentikan langkah dan mengalihkan pandangan ke arah tertentu.

Kota Tua memiliki banyak rumah batu yang mirip dengan Eupeheim.

Di antaranya, berdiri satu bangunan yang ditandai dengan titik merah oleh Ragna di peta.

Fiona yang berada di sampingku menyadari hal itu dan memanggil, "Ren-kun?".

"Ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Sedikit saja. Katanya tempat di mana cahaya itu terkonfirmasi ada di depan sini, tapi────"

Aku menatap peta dengan saksama dan berulang kali memastikan.

……Ya. Tidak salah lagi.

Tanda merah yang dibuat Ragna dan lokasi di mana cahaya itu terkonfirmasi berada di tempat yang sama.

Begitu aku menyadari hal itu dan menceritakannya kepada mereka, keduanya pun terkejut dengan kebetulan ini dan ikut menatap peta.

"Berarti itu tempat yang katanya pintunya tidak bisa dibuka, ya."

"Kalau begitu Ren-kun, yang bisa kita lakukan mungkin hanya melihatnya dari luar…… saja, kan?"

"Mungkin memang hanya itu yang bisa kita lakukan."

"Tapi Ren, bagaimana kalau pintu masuknya terbuka?"

Bukannya memikirkan apa yang harus dilakukan jika terbuka, aku malah terpana duluan.

Pertanyaan Licia memang masuk akal, tapi……

"Sebaliknya, kenapa kamu berpikir pintunya akan terbuka?"

"Cuma perasaan saja, tidak ada alasan khusus kok."

Licia tertawa, menyiratkan bahwa kata-katanya tadi bukan dari lubuk hati. Mungkin dia hanya ingin menjahiliku saja.

"Pokoknya, kita coba pergi sampai ke dekat sana saja. Siapa tahu pintunya terbuka karena suatu hal, atau setidaknya kita harus memastikan apakah ada perubahan lain."

"Lagipula kita ke sini juga dalam rangka pekerjaan, kan."

"Benar juga. Kalau begitu Nona Fiona, bolehkah kita pergi ke sana?"

"Iya. Mari kita pergi melihat keadaannya."

Setidaknya aku ingin memastikan dari dekat.

Aku berjalan memimpin mereka berdua yang menyetujui usulanku.

Ikan-ikan berwarna-warni di luar membran udara tersinari oleh cahaya matahari yang menembus air. Sosok mereka yang berenang dengan anggun dan bebas terlihat di dekat kami bertiga.

"Kota yang benar-benar indah…… Seandainya tidak ada serangan pasukan Raja Iblis, mungkin sekarang pun kota ini masih makmur."

"Ngomong-ngomong, suasananya mulai berubah lagi sejak kita meninggalkan area perpustakaan ya."

"Etto──── aku rasa itu karena area di sekitar sini dulunya adalah distrik tempat para bangsawan tinggal."

Kami menyusuri distrik bangsawan tua itu sesuai peta, lalu menghentikan langkah di depan tempat yang sepertinya ditandai dengan titik merah.

Di ujung distrik bangsawan tua, ada sebuah bangunan yang tersisa dengan tenang di antara rumah-rumah yang telah lapuk.

Pada kaca patri di atas pintu masuknya, terdapat motif yang menyerupai adegan dari lukisan suci atau semacamnya.

Entah siapa, tapi ada gambar seorang gadis kecil yang berjalan di atas rumput hijau.

"Mungkin ini bangunan gereja?"

Licia berucap setelah memikirkan penampilan bangunan tersebut.

Di sekitar bangunan yang diduga Licia sebagai gereja itu terdapat sebuah taman. Pohon-pohon yang dulunya ditanam sudah tidak ada lagi, namun rumputnya tetap hijau segar.

Tetapi aku menyahut, "Mungkin bukan," sambil menatap peta.

"Karena sepertinya ada area di dekat perpustakaan di mana kuil-kuil berjejer, jadi mungkin ini bangunan lain."

Meski ada banyak sekali dewa, pada dasarnya semua kuil itu besar. Besarnya sampai-sampai kediaman bangsawan biasa tidak akan bisa menandinginya.

"Sepertinya kita bisa masuk ke dalam pekarangannya, mau coba ke sana?"

Gerbang besi itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan perangkat magis, karena aku pun bisa membukanya.

Kami bertiga menyusuri jalan setapak dari ubin batu yang berjejer di atas rumput di balik gerbang, lalu berdiri di depan pintu berwarna cokelat tua yang tidak terlalu korosi.

Di sini Fiona menyadari sesuatu.

"Mungkin tempat ini adalah panti asuhan."

"Eh? Bagaimana Anda bisa tahu?"

Saat aku bertanya, Fiona menyahut, "Coba lihat ke sana."

Yang kami lihat adalah sebuah papan kayu tua. Papan yang berdiri di tengah jalan yang menghubungkan taman dengan pintu bangunan itu sudah hampir tidak berbentuk lagi akibat kerusakan dari serangan.

Panti Geno

Begitulah yang tertulis di papan itu. Hanya dengan ini memang belum bisa dipastikan bahwa ini adalah panti asuhan, tapi begini dugaan Fiona.

"Ada juga mainan dengan ukuran yang biasa digunakan anak kecil…… dan namanya juga tidak terdengar seperti nama gereja."

Department of Mysteries juga memiliki dugaan serupa, namun karena pintunya tidak bisa dibuka, bagian dalam bangunan belum bisa diselidiki. Karena itu, Department of Mysteries pun belum bisa memastikan bahwa tempat ini adalah panti asuhan.

Kami bertiga melangkah lebih jauh sambil berpikir bahwa tempat ini mungkin panti asuhan, lalu berdiri di depan pintu yang dikatakan Ragna sebagai "Pintu yang Tak Terbuka".

Ukuran pintunya beberapa kali lipat lebih besar dibanding rumah rakyat biasa, namun tetap saja skalanya lebih kecil dan terasa imut jika dibandingkan dengan kuil atau gereja pada umumnya.

"Apakah tidak apa-apa kalau aku menyentuh pintu ini?"

"Iya. Tidak apa-apa kok."

Licia mengulurkan tangannya ke arah pintu dan menyentuh pengetuk pintu logam yang ada di samping gagang pintu.

Tok, tok────.

Ia mencoba mengetuk pintu dengan pengetuk itu, namun tidak ada reaksi sama sekali.

Licia pun sudah tahu hasilnya akan begitu, tapi ia merasa segan untuk langsung menggenggam gagang pintu. Jika dipikirkan apakah kesopanan seperti itu diperlukan di sini, memang ada keraguan, tapi ini masalah perasaan.

"……Tidak terbuka."

Ia lanjut menggenggam gagang pintu dan mencoba memutarnya, tapi hasilnya pun sesuai dugaan.

Karena ini adalah kunci yang menggunakan perangkat magis, pintu itu tidak bergerak sedikit pun.

"Ngomong-ngomong, kenapa Licia kelihatan tidak puas begitu?"

"Sebenarnya tadi aku sedikit berharap pintunya tiba-tiba terbuka."

"Ah…… pantas saja."

Meski Licia sedikit memanyunkan bibirnya, dia tidak serius.

"Tapi, pintu yang selama ini tidak bisa terbuka tidak mungkin terbuka tiba-tiba, ya."

Ia segera tertawa dan melepaskan tangannya dari gagang pintu, lalu menengadah menatap bangunan ini. Karena bangunan ini tidak setinggi perpustakaan, membran udara terlihat sedikit jauh di atas.

Selain itu, pandangan Licia tertuju pada kaca patri.

Gambar apa itu? Aku bertanya-tanya.

"Apakah kalian berdua merasa pernah melihat gambar pada kaca patri itu?"

"Aku rasa gambarnya indah, tapi sepertinya aku belum pernah melihatnya."

"Aku juga baru pertama kali melihat gambar itu."

Apakah gambarnya memang tidak meniru sesuatu yang spesifik?

(Mungkin saja memang begitu.)

Karena ini adalah hiasan untuk memperindah bagian depan panti asuhan, mungkin desainnya lebih mengutamakan ketenangan yang sesuai dengan tempat ini daripada meniru sesuatu.

"Mungkin orang-orang dari Department of Mysteries tahu itu gambar apa."

Aku menengadah menatap kaca patri itu bersama mereka berdua.

Karena ingin melihat dari tempat yang sedikit lebih jelas, mereka berdua menjauh dari Pintu yang Tak Terbuka.

Sedangkan aku...

"Pintu yang Tak Terbuka, ya."

Aku tetap berada di depan pintu dan menatap pengetuk yang ada di samping gagang pintu.

Pada pengetuk logam berwarna kuningan itu, tertanam sebuah batu yang memancarkan warna mirip Sapphire biru. Pasti inilah perangkat magisnya, yang membuat pintu ini menjadi Pintu yang Tak Terbuka. Selain itu, bukan hanya pintu, kaca jendela bangunan ini pun dilindungi oleh kekuatan sihir yang tidak kasat mata.

Membran udara pada awalnya hanyalah efek samping dari struktur yang dibuat sebagai semacam pelindung. Itu adalah fungsi tambahan untuk melindungi orang-orang di dalamnya.

"Walaupun diketuk seperti ini, tidak akan ada arti────"

Bukannya aku berpikir bahwa pintunya akan terbuka.

Aku hanya mengulurkan tangan kanan yang menganggur seolah ingin menghibur diri, sambil berpikir bahwa sangat jarang terjadi reaksi cahaya akibat bekerjanya perangkat magis yang terkonfirmasi seperti ini.

Namun────

Begitu aku mengetuk pintu yang kokoh itu, terjadi perubahan yang tidak terduga.

"Eh?"

Di depan pandanganku, saat aku mengeluarkan suara yang terdengar payah, batu yang terpasang pada pengetuk pintu itu berkedip-kedip.

Melihat batu itu memancarkan cahaya biru berulang kali, Licia dan Fiona yang menyadari hal itu segera berlari menghampiriku.

"Ren!? Apa yang kamu lakukan!?"

"Ren-kun!? Apakah kamu tahu cara membukanya!?"

"Ti-tidak tahu! Aku hanya mengetuk pengetuk pintunya saja!"

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Saat kami bertiga yang kebingungan saling menatap wajah satu sama lain dan menatap pintu secara bergantian……

Sebuah suara terdengar dari pintu. Pintu itu terbuka dengan sendirinya sambil mengeluarkan suara gesekan kayu yang berat dan dalam.

Kami semua yang melihat ruang luas yang membentang di dalam sana terdiam dengan mata terbelalak selama belasan detik.

Pintu yang seharusnya tidak bisa terbuka, kini──── terbuka lebar.

Entah mengapa, tiba-tiba saja karena aku menyentuhnya.

Karena aku masih menyentuh pengetuk pintunya dan pintu itu terbuka ke arah dalam, aku pun melangkahkan kaki sekitar dua langkah ke dalam bangunan begitu saja.

"Aku tanya sekali lagi ya."

Licia menatapku.

Aku yang berada selangkah di depan menoleh ke arah Licia.

"Bagaimana kalau pintu masuknya terbuka?"

"Apa yang seharusnya kita lakukan ya kalau begini."

Di sini Fiona memberikan usul.

"Sebagai putri penguasa wilayah, karena pintunya tiba-tiba terbuka, ada keinginan untuk sedikit memastikan keadaan di dalam……"

Meskipun poros utama penyelidikan Kota Tua ada di tangan Department of Mysteries, pengelolaannya sebagian besar dipegang oleh keluarga Marquis Ignart.

Tapi, kami tidak bisa membiarkan Fiona mengeceknya sendirian.

Ren dan Licia juga tertarik dengan Panti Geno, dan juga penasaran mengapa Ren bisa membuka pintunya, jadi ini adalah kesempatan yang bagus.

Kami bertiga sepakat untuk melihat keadaan di dalam sebentar dengan hati-hati agar tidak merusak isinya.

Setelah menenangkan diri dan melihat ke dalam bangunan, pertama-tama sebuah aula luas menyambut kami.

Meskipun ada kesan dingin karena terbuat dari batu, namun terasa juga kehangatan dari karpet tua yang ada.

Ini adalah pertama kalinya suara langkah kaki bergema di sini setelah ratusan tahun. Kami berdua melihat sekeliling sambil menjaga jarak agar tidak terlalu jauh satu sama lain.

"Sepertinya benar-benar panti asuhan ya."

Di depan arah pandanganku terdapat sebuah pintu masuk berbentuk lengkungan tanpa daun pintu.

Fiona dan Licia mengintip ke dalam ruang tinggal yang terlihat di balik sana untuk mengamati keadaan.

Aku tetap berada di dekat para gadis sambil melihat ke dalam aula yang luas.

Di sini diletakkan banyak meja besar, dan peralatan makan berserakan di lantai.

Apakah anak-anak sedang makan saat serangan pasukan Raja Iblis terjadi dulu? Mengingat tidak ditemukan satu pun jenazah, sepertinya mereka berhasil mengungsi.

……Itu.

Di ujung aula.

Terpisah dari jalan menuju ruang tinggal, ada sebuah pintu kayu berwarna putih kekuningan.

"Licia, Nona Fiona."

"Iya."

Keduanya menyahut panggilanku secara bersamaan dan menoleh.

Mereka berdua berjalan beberapa langkah di belakangku sambil menghindari pecahan peralatan makan yang berserakan.

Kami berdiri di depan pintu yang ada di ujung aula, sebuah pintu yang dari kelihatannya pasti terkunci.

Sama seperti pintu di luar, saat Licia menggenggam gagang pintu, hanya terdengar suara gemerincing saja dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka.

Saat Fiona mencoba pun hasilnya sama, hanya suaranya saja yang bergema di dalam panti asuhan.

"Tapi kalau Ren-kun yang menyentuh, mungkin akan terbuka lagi ya."

"Aku juga memikirkan hal yang sama dengan Nona Fiona, bagaimana menurutmu, Ren?"

Fiona berucap sambil terkekeh pelan, dan Licia menganggukkan kepalanya.

Aku berpikir sejenak, lalu...

"Bukankah kalau yang ini jelas-jelas kunci fisik?"

Aku memberikan jawaban yang tidak membantah maupun membenarkan.

Tidak ada pengetuk pintu, dan tidak terlihat benda lain yang menyerupai perangkat magis. Karena pada gagang pintunya terdapat lubang kunci, aku merasa tinggal masukkan saja kuncinya.

"Mungkin saja begitu, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?"

"Fufu, hebat sekali ya kalau ini terbuka lagi."

"Meskipun kalian berharap begitu, kunci yang di luar tadi mungkin terbuka hanya karena kebetulan……"

"Jadi, kamu tidak mau mencoba?"

Itu masalah lain. Aku menggenggam gagang pintu setelah mereka berdua.

Lalu begitu terdengar suara dari gagang pintu, gagang itu berputar tanpa perlawanan sama sekali. Butiran kekuatan sihir yang bercahaya sempat muncul dari tanganku menuju lubang kunci sesaat…… persis seperti pintu di luar.

Untuk yang kedua kalinya, ini bukan lagi kebetulan, melainkan sebuah keniscayaan.

…………

…………

Seolah sudah direncanakan, Licia dan Fiona menatapku dengan mata yang menatap tajam dan dingin.

Selama beberapa detik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Anu…… kalian berdua?"

Mereka berdua adalah gadis yang cantik dan juga imut.

Meski Ren ditatap dengan tatapan dingin yang langka dari para gadis itu, dia tetap tidak mengerti situasinya meskipun ditatap. Tidak ada hal yang dia tahu selain fakta bahwa pintunya terbuka.

Ren yang bingung harus berbuat apa hanya menggaruk pipinya dan memalingkan wajah.




"Ren, jujur padaku."

"Ren-kun…… apa kamu benar-benar melakukan sesuatu?"

"Sayang sekali, aku tidak melakukan apa-apa."

Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan. Ren melangkah lebih dulu memasuki ruangan di balik pintu yang terbuka.

Tempat itu tampak seperti ruang kerja dengan jendela besar. Beberapa rak buku berjejer di dinding, dan hanya ada satu meja tua yang diletakkan di tengah ruangan.

Pemandangan luar tidak terlihat dari jendela besar itu. Mungkin karena ruangan ini spesial, dinding sihir pada kaca jendela menghalangi segalanya kecuali sinar matahari.

Lantai, dinding, dan langit-langitnya terbuat dari batu yang sama dengan aula.

Ada perapian di dinding, lengkap dengan kursi goyang dan karpet di bawahnya.

Seluruh permukaan dinding di bagian dalam ruangan dihiasi dengan lukisan yang sama dengan kaca patri di luar. Di depannya, terdapat sebuah altar untuk memanjatkan doa.

Sebuah kanvas kecil menyerupai bingkai foto yang diletakkan di atas altar tampak terjatuh.

Ren menegakkan kembali kanvas itu, lalu tersenyum saat melihat lukisan yang tergambar di sana.

Selagi dia melakukannya, Licia menyadari keberadaan laci di meja dan menariknya ke depan.

Di dalamnya tersimpan beberapa pucuk surat dan satu koin hitam berkarat, mirip yang ada di laboratorium Ragna.

"Biar aku yang periksa."

"Iya, aku mengerti."

Khawatir jika ada jebakan, Ren mengulurkan tangannya untuk memeriksa. Amplop itu tampak seperti kertas biasa, bukan alat sihir atau semacamnya.

Di dalamnya terdapat perkamen tua yang terlipat. Saat membukanya, isinya ternyata bukan dokumen rahasia yang istimewa.

"Geno, apa maksudmu dengan surat tempo hari? Padahal kamu sendiri yang bilang kalau kamu menyukai kisah petualanganku."

"Makanya aku mengirimkan paket karena kupikir sesekali ingin memberimu oleh-oleh…… tapi ya sudahlah. Ngomong-ngomong, perjalananku di Benua Langit sudah berakhir."

Surat pertama berakhir di sana. Ada sedikit bekas kerutan di sudut perkamen, seolah penerimanya sempat meremasnya karena memikirkan sesuatu.

"Geno ini, apa dia kepala panti asuhan ini?"

Licia bertanya sambil mengintip surat itu dari samping. Fiona ikut mengintip dari sisi berlawanan dan menanggapi ucapan Licia.

"Jika benar, sepertinya ini surat dari teman kepala panti. Padahal di zaman serangan Raja Iblis, sangat sedikit orang yang bisa pergi ke Benua Langit……"

"Benar juga……. Katanya saat itu teknologi kapal sihir belum secanggih sekarang……"

Dahulu ada masa di mana bepergian lewat laut bisa dilakukan dengan cara apa pun. Namun, bepergian melalui jalur udara adalah hal yang berbeda pada zaman itu.

Keberadaan Benua Langit memang sudah diketahui dunia, tetapi aksesnya tidak mudah. Orang-orang tidak bisa datang dan pergi dengan gampang seperti saat ini.

"Ayo lihat surat yang lain juga."

Ren yang penasaran mengambil surat lainnya. Licia dan Fiona pun kembali mengintip surat itu dari kedua sisi Ren.

"Aku memaafkanmu karena sudah menyerahkan benih Dragon Eater yang kukirim ke laboratorium alih-alih menanamnya. Mungkin itu memang salahku."

"Tapi itu bunga langka, jadi tolong jaga baik-baik. Lalu, kemarin aku bertemu Milim Althea di Benua Martel. Aku menemuinya diam-diam tanpa sepengetahuan enam orang lainnya dan memintanya membuatkan berbagai hal. Dengan ini, aku bisa pulang ke sana."

Milim Althea. Nama itu adalah leluhur dari teman sekelas Ren, Nem Althea, sekaligus salah satu dari Tujuh Pahlawan.

Ren, Licia, dan Fiona tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat nama itu muncul.

"Lagi pula, Dragon Eater bukannya monster yang sudah punah……?"

Licia bergumam dengan suara tercengang, lalu Fiona menyambung.

"Itu monster bunga raksasa yang memangsa bangsa naga. Seharusnya benih berharganya disimpan di Museum Kekaisaran……"

"Kenapa benih seperti itu diberikan kepada kepala panti asuhan? Ren, apa tidak ada nama pengirim di amplopnya?"

"……Tidak ada. Baik nama pengirim maupun nama penerimanya tidak tertulis."

Ketiga remaja itu dikuasai rasa terkejut karena skala informasi yang tertulis jauh melampaui dugaan mereka. Fiona kemudian menyadari sesuatu yang mungkin menjadi alasan hal tersebut.

"Mungkin memang ada situasi seperti ini."

Kemungkinan surat ini dikirim melalui lembaga resmi atau serikat petualang sangatlah rendah. Menurut Fiona, pertukaran surat pribadi seperti ini biasanya dilakukan secara rahasia melalui pelayan khusus.

Artinya, orang yang berkirim surat dengan sang kepala panti memiliki alasan khusus untuk bersembunyi. Jika apa yang tertulis di surat itu benar, maka sudah pasti begitu adanya.

Masih ada satu surat terakhir yang tersisa. Ren mengeluarkan isinya dan mulai membaca.

"Apa anak itu mau bicara denganku lagi? Dulu dia cuma mencari alasan untuk mengusirku…… ah tidak, aku tidak bermaksud menjelekkan adik perempuan Geno, tapi hatiku rasanya tidak tenang karena khawatir."

"Aku tahu. Mungkin Geno yang sedang membaca surat ini juga berpikir agar aku diam saja dan segera pulang. Jadi untuk sekarang, aku akan bergegas kembali."

Surat kali ini memiliki perbedaan suasana yang terlalu jauh dengan sebelumnya. Ketegangan di tubuh mereka bertiga pun sedikit mengendur.

Ren membaca lembaran terakhir.

"Karena perang melawan Raja Iblis masih berlanjut, aku mengerti kalau jumlah anak yatim piatu sangat banyak. Tapi menurutku Geno juga pasti kesulitan karena posisi aslimu."

"Kamu pasti tidak suka dibilang begini olehku yang selalu bertindak nekat, tapi tolong jangan memaksakan diri."

Bahkan setelah selesai membaca, identitas Geno dan pengirim surat itu tetap tidak jelas. Yang mereka tahu hanyalah si pengirim mengenal Milim Althea dan menyukai adik perempuan Geno.

Meski begitu, entah kenapa Ren merasa si pengirim adalah petualang bernama Ashton.

"Sebaiknya kita bawa pulang surat-surat ini."

"Karena Departemen Misteri juga akan terlibat, kurasa itu lebih baik. Apa sebaiknya Ren-kun yang membawanya?"

"Akulah yang dititipi peta, jadi surat-surat ini akan kuberikan pada Ragna-san."

Ren memasukkan surat-surat itu ke dalam saku dalam jaketnya.

"Aku akan memberitahu ayahku nanti."

Setelah itu, perhatian mereka beralih ke lukisan dinding. Lukisan yang memenuhi dinding itu digambarkan tepat di atas altar.

Namun, perhatian Ren kembali teralihkan pada kanvas kecil yang ada di altar. Gadis-gadis itu pun ikut memperhatikan benda yang tadi ditegakkan kembali oleh Ren.

Di sana, tergambar sosok sepasang pria dan wanita.

"Keduanya terlihat sangat bahagia."

"Dan lukisannya terasa sangat lembut…… aku bisa merasakan kalau pelukisnya sangat menyayangi mereka berdua."

Fiona dan Licia berbicara dengan senyum yang hangat. Tempat yang digambarkan dalam lukisan itu tampak seperti bagian luar panti asuhan ini.

Itu adalah lukisan pemandangan seorang gadis yang duduk di ayunan di sudut taman, dan seorang pria yang menjaganya dari dekat. Pakaian santai si pria dan gaun si gadis tampak kontras, namun lukisan itu memberikan perasaan hangat bagi siapa pun yang melihatnya.

Gaya lukisannya sangat mirip dengan lukisan dinding, kemungkinan besar dibuat oleh orang yang sama. Licia dan Fiona tidak mengatakannya, namun mereka merasa wajah dan aura lembut pria di lukisan itu mirip dengan Ren.

 

"Apa kamu mau bergabung dengan kami setelah lulus nanti?"

"Tidak mau."

Ragna sedang menjamu Ren di laboratorium Departemen Misteri setelah mendengar laporan tentang panti asuhan Geno. Di luar jendela raksasa ruangan itu, terbentang pemandangan malam Eupheim yang indah.

"Lagi pula, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku direkrut."

"Kamu sudah membuka pintu yang tidak bisa dibuka. Itu penjelasan yang cukup. Apa kamu benar-benar tidak mau mempertimbangkannya? Aku menyukai kepribadianmu. Bergabunglah sebagai asistenku."

"Itu tidak cocok untukku."

"……Begitu ya."

Ragna tampak menyerah dengan mudah, namun dia terus menatap Ren.

"Lalu, bagaimana kalau sebagai pegawai tidak tetap?"

Dia ternyata belum benar-benar menyerah.

"……Kalau aku punya waktu luang, mungkin aku bisa membantu sedikit."

"Itu sudah cukup. Kamu tetap mau berteman denganku, kan?"

"Yah, kurang lebih begitu."

"Baguslah kalau begitu. ──Tapi tetap saja, ini sangat menarik."

Setelah meninggalkan panti asuhan, mereka mencoba memeriksa apakah pintu-pintu lain yang tersegel juga bisa dibuka.

Namun, pintu-pintu lain tidak bergerak sedikit pun, hanya panti asuhan yang bereaksi terhadap Ren.

Ragna pun menyebut ini sebagai fenomena yang penyebabnya tidak diketahui. Meski saat ini ketertarikannya terhadap isi panti asuhan jauh lebih besar daripada mencari penyebabnya.

"Aku tidak mengerti lukisannya, dan aku belum pernah mendengar nama Geno. Mungkin itu nama panggilan, jadi aku harus mencari di buku sejarah."

"Apalagi si pengirim surat mengenal Milim Althea."

"Itu tidak bisa dijadikan patokan utama. Menyelidiki hubungan manusia di zaman itu sangatlah sulit. Jika dia hanya klien yang membayar jasa, maka tidak ada cara untuk melacaknya."

"Ah…… kalau begitu, sepertinya Departemen Misteri harus menyelidikinya pelan-pelan."

"Itu tidak buruk. Masa persiapan sebelum festival adalah saat yang paling menyenangkan. Mengejar romansa sejarah juga sama saja."

Ragna terlihat sangat gembira, seolah-olah dia ingin menari saat itu juga.

"Ah benar. Kamu boleh membawa pulang lukisan yang tadi."

Maksudnya adalah lukisan di kanvas kecil itu. Ren membawanya karena berpikir mungkin dia bisa mengenali siapa sosok yang digambarkan di sana.

Mungkin itu hanya alasan saja karena ukurannya kecil dan mudah dibawa. Sulit dijelaskan, tapi Ren merasakannya lewat indra keenam yang tidak berdasar.

……Aku tidak bisa bilang kalau lukisan itu seolah-olah minta dibawa pulang.

Berpikir bahwa sebuah lukisan memiliki keinginan sendiri terasa gila, namun itulah yang dia rasakan.

"Lukisan itu indah, tapi hanya itu saja. Bahannya tidak spesial, tintanya pun tidak ajaib. Aku sudah memeriksa apakah ada sesuatu yang tersembunyi di kanvasnya, tapi tidak ada apa-apa."

"Mungkin punya nilai sejarah sebagai karya seni. Bukankah itu jenis romansa yang Ragna-san sukai?"

"Aku tidak membantahnya, tapi aku tidak lupa menghargai benda yang memberiku romansa. Akan sangat mubazir jika hanya ditaruh di laboratorium."

"Tapi apa boleh aku membawa pulang barang hasil penggalian?"

"Departemen Misteri memang mengelola barang dari sana, begitu juga keluarga Ignart. Pengelolaan benda seni tanpa nilai sihir adalah urusan mereka."

Itu artinya Ren hanya perlu bicara pada Ulysses. Segala kejadian di kota tua juga sudah disampaikan kepada Ulysses melalui Fiona.

"Pria itu pasti akan bilang 'lakukan sesukamu'. Pajang saja baik-baik di kediaman Erendil. Bukankah bagus melihat kedua orang di lukisan itu tampak bahagia?"

"Benar juga sih."

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ragna tiba-tiba menguap lebar.

"Lalu ada juga soal koin hitam berkarat di dalam meja. Apa benda-benda berkarat itu ada hubungannya dengan panti asuhan…… menarik sekali."

"Yah sudahlah, akan kuperiksa nanti," ucap Ragna sambil menguap lagi. Ren kemudian menanyakan soal pintu panti asuhan yang berhasil dia buka.

"Kenapa ya hanya aku yang bisa membuka pintu itu?"

"Sudah kubilang aku tidak tahu. Mungkin Ren menyentuhnya tepat saat alat sihirnya berhenti bekerja, atau ada faktor lain. Seperti yang kau tahu, alat sihir Milim Althea hampir tidak bisa dianalisis."

"……Benar juga ya."

"Bahkan bagi keluarga Althea yang sekarang, itu adalah teknologi misterius yang sulit dipahami. Di Leomell yang punya riset alat sihir terbaik dunia saja belum tahu, jadi jangan terlalu berharap bisa tahu jawabannya saat masih hidup."

Ragna mengatakannya dengan nada kecewa, lalu melanjutkan dengan malas.

"Intinya, teknologi Shergard yang kubenci pun tidak akan bisa menganalisisnya."

Ren bergumam heran dan bertanya.

"Ternyata Anda membenci Shergard?"

"Tentu saja. Shergard sering melakukan intervensi militer ke negara lain. Pernah suatu kali reruntuhan yang ingin kugali hancur karena terjebak perang mereka."

"……Ah."

"Saat itu, pasukan Kekaisaran Shergard-lah yang paling gencar menggunakan kekuatan militer."

Ren bertanya-tanya bagaimana reaksi Ragna saat mendengar reruntuhan itu hancur. Apakah dia dikuasai amarah, atau terdiam karena kehilangan semangat, atau mungkin keduanya.

Ren mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Teknologi Shergard ternyata sehebat itu ya."

"Meski menyebalkan, mereka adalah kekuatan militer nomor dua di dunia. Mereka bangga dengan teknologi di segala bidang. ……Ngomong-ngomong, bukankah musim panas lalu kamu bertemu dan bicara dengan orang Shergard?"

Ren mengangguk dan mengingat kembali masa Festival Raja Singa.

"Atas rekomendasi Ulysses-sama, aku bertemu dengan orang bernama Richter Leonhardt."

"Hooh, itu orang besar."

Jarang-jarang Ragna menunjukkan ketertarikan pada orang lain selain Ren atau Radius.

"Keluarga Leonhardt adalah keluarga yang bekerja keras saat kerusuhan tempo hari, kan?"

"Kerusuhan yang meledak di keluarga Adipati Shergard itu maksudnya?"

"Ya," Ragna mengangguk setuju.

Di keluarga Adipati Kekaisaran Shergard, ada dua saudara yang berselisih. Sang kakak berpendapat Shergard harus melakukan intervensi di daerah konflik demi keuntungan negara.

Sebaliknya, sang adik menentang karena menganggap pemikiran kakaknya sudah ketinggalan zaman. Hal ini memicu perebutan takhta yang melibatkan bangsawan lain.

Keluarga Richter Leonhardt dikenal sebagai keluarga ksatria yang setia melayani Shergard secara turun-temurun. Meski mereka berjuang menghentikan kerusuhan, akhirnya kedua saudara Adipati itu sama-sama meninggal dunia.

"Entah ke mana perginya istri dan anak perempuan sang adik."

"Bukankah mereka menghilang untuk melindungi nyawa saat perebutan kekuasaan?"

"Benar. Jika anak perempuannya masih hidup, dia pasti sudah dewasa sekarang."

Ragna sang pengembara tas berkata dengan nada sinis.

"Semuanya adalah ketidakadilan yang merajalela di dunia ini. Seseorang memang harus menjadi kuat seperti Raja Pedang atau Penyihir Akademi Militer Kekaisaran agar punya kebebasan."

Setelah pembicaraan berat itu, mereka meminum teh untuk menenangkan diri. Ren berdiri dan berpamitan.

"Aku pulang sekarang. Beritahu aku jika ada perkembangan lain."

"Ya. Maaf sudah merepotkanmu hari ini──tidak, tunggu. Aku juga ikut."

Ragna menghentikan Ren dan ikut berdiri meninggalkan ruangan. Dia berjalan menuju tas raksasa miliknya di lorong dan mengulurkan tangan.

Tas itu terbuka dengan sendirinya, dan Ragna merogoh ke dalamnya.

"Akan kuberikan satu barang bagus dari koleksiku sebagai hadiah yang kujanjikan."

Itu adalah kotak kayu kecil dengan ukiran yang mudah dipegang dengan satu tangan. Ren menerima kotak itu sambil bertanya.

"Ini hadiahnya ada di dalam, kan?"

"Pertanyaan bagus. Di dalamnya ada……"

Baru saja dia ingin menjelaskan dengan ceria, pintu lift di ujung koridor terbuka. Seorang peneliti Departemen Misteri muncul dan berlari mendekat.

"Ketua, ada hal mendesak soal kejadian di kota tua."

"……Waktunya buruk sekali. Ren, maaf tapi detail barangnya ada di catatanku di dalam kotak. Baca saja sendiri."

"O-oke."

Tepat sebelum Ren benar-benar pergi, sang peneliti kembali ke lift. Ren memutuskan untuk menanyakan satu hal lagi sebelum mereka berpisah.

"Maaf menanyakan hal aneh, tapi apa Anda pernah mendengar nama petualang bernama Ashton?"

"Apa itu ─Ren! Jangan-jangan kamu sebenarnya punya keinginan untuk menjadi sepertiku?! Makanya kamu menyebut petualang?!"

Ragna terkejut luar biasa dan bertanya dengan suara penuh kegembiraan.

"……Maaf. Lupakan saja."

"Yah, tidak masalah…… tapi siapa Ashton si petualang itu?"

"Eeeh…… sepertinya dia leluhurku."

Ren menghindari detail yang sulit dijelaskan dan hanya mengakuinya sebagai leluhur.

Dia tidak menceritakan soal Kakek Naga yang didengarnya dari ayahnya, Roy, karena Fiona juga terlibat dalam insiden di Pegunungan Baldor.

Meski dia mengatakannya, sepertinya tidak akan ada jawaban yang jelas. Ragna mencoba berpikir kembali, namun tetap tidak menemukan apa pun.

"Aku benar-benar belum pernah mendengarnya."

Bahkan di dalam gudang pengetahuan Ragna, nama itu tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Petualang Ashton adalah sosok yang sangat misterius.

Mengingat sosok yang bisa mengalahkan Asvar di masa kejayaannya tidak tercatat dalam sejarah, pasti ada alasan yang sangat khusus. Ketidaktahuan Ragna justru mempertegas betapa istimewanya sosok Ashton.

◇◇◇

Saat keluar dari gua di sepanjang garis pantai, hari sudah gelap gulita. Berdiri di atas pasir pantai, Sarah meregangkan tubuhnya dan menatap langit malam dengan suara lega.

Langit malam di sini berbeda dengan yang biasa dia lihat di Ibukota Kekaisaran.

Meskipun dia tidak terlalu memperhatikan posisi bintang, dia tahu tempat ini sangat jauh dari Ibukota.

Aroma air laut menyelimuti mereka semua.

"Hei! Sarah-chan!" panggil Nem dengan seringai jahil.

Sarah menoleh, tepat saat Nem yang berdiri di tepi pantai memercikkan air laut ke arahnya.

"Bagaimana kala──hei Nem! Jangan menyiramkan air!"

"Fufufu! Sarah-chan sendiri yang salah karena lengah!"

Melihat keduanya mulai bermain, Charlotte pun ikut bergabung. Ketiga gadis itu saling memercikkan air di tepi pantai dengan ceria.

Melihat mereka bersenang-senang, Kaito tersenyum pada Vane. Wajah mereka tampak sedikit lelah.

"Apa mereka tidak capek ya? Aku sendiri rasanya ingin langsung tidur."

"Kita sudah menjelajahi gua seharian, mungkin mereka ingin bermain karena pemandangan di sini indah."

"Ooh…… begitu ya. Tapi air laut itu musuh alami perisai-ku."

"Bukankah Anda bilang perisainya menggunakan logam spesial? Apa masih bisa berkarat?"

"Yah, begitulah. Hanya saja jauh lebih tahan karat dibanding logam biasa."

Kaito duduk di sebuah batu besar di pantai. Ada batu serupa di sebelahnya, dan Vane ikut duduk di sana. Gadis-gadis itu masih asyik bermain.

"Ngomong-ngomong, Licia Krauzel kemarin kuatnya bukan main ya."

"Dia pengguna pedang berat, dan sepertinya sudah di level Master Pedang."

"Ya. Itu berarti kalau dia menggunakan teknik pedang suci, dia bisa sampai ke level Sword Saint. Gila ya? Bagaimana orang seumuran kita bisa mencapai level Sword Saint?"

"……Mungkin dia sudah berusaha dengan sangat keras."

"……Kau benar."

Selain bakat, usaha keraslah yang paling menentukan. Vane saling melempar senyum dengan Kaito, dan dalam hati dia bertekad untuk berusaha lebih keras lagi.

Vane berdiri dan mendekati para gadis. Kaito melihat punggungnya sambil bertanya-tanya siapa yang nantinya akan memenangkan hati Vane.

Vane memanggil mereka yang sedang bermain.

"Teman-teman, sudah waktunya pulang."

"Eeeh?! Vane-kun juga ikut main…… wa-waa?! Sarah-chan?! Aku kan sedang bicara!"

"Kamulah yang lengah, Nem!"

"Aaah, menyebalkan! Kalau begitu, aku akan membalasmu habis-habisan!"

"A-anu, kalian berdua…… ini sudah larut."

Melihat keduanya terus saling menyiram air, Charlotte Lopheria berkata pada Vane dengan nada menggoda.

"Mustahil, mereka sedang asyik-asyiknya berma──kyaa?!"

"Kamu penuh celah, Shalo!"

"……Baiklah, akan kulayani! Rasakan ketajaman teknik memanah aliran Lopheria di tubuhmu!"

Entah apakah teknik memanah berguna dalam perang air, tapi bidikannya pasti akurat. Mungkin.

Keesokan paginya, mereka kembali ke tempat yang sama. Mereka datang ke gua selama beberapa hari berturut-turut untuk eksplorasi sekaligus latihan.

Mereka melawan monster yang direkomendasikan dan maju lebih jauh dari hari sebelumnya.

Saat siang hari, mereka mulai menyantap bekal. Sambil beristirahat dengan bantuan cahaya obor, Kaito mulai berbicara.

"Jadi, untuk pertarungan berikutnya, aku dan Vane akan maju lebih depan──"

Kaito yang duduk di atas batu terguling sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Uwaa?"

Karena menjelaskan taktik dengan gerakan tubuh yang terlalu semangat, dia kehilangan keseimbangan.

"Owa-wa-wa-wa?!"

"Kaito-senpai?!"

Kaito berguling menuruni lereng di dekatnya. Mungkin karena dia berusaha keras agar bekalnya tidak jatuh, dia tidak bisa menjaga keseimbangan dan mengeluarkan suara pasrah.

"Bukan masalah besar!"

Saat berhasil menstabilkan posisi, Kaito mengangkat makanannya ke langit seolah berhasil melindunginya. Dia berdiri, menyeringai bangga, lalu melahap sisanya.

Dia menelan makanannya, lalu bersandar pada dinding di dekatnya.

"Yah, kalau levelku sih, hal begini gampang."

"Kaito-kun terkadang percaya dirinya kelewatan ya~"

"Haha, terima kasih, Nem."

"Aku tidak memujimu, tapi ya sudahlah."

Tiba-tiba…… terdengar bunyi klatik, dan kerikil mulai berjatuhan dari dinding batu. Dinding itu mulai runtuh sedikit demi sedikit, tepat di titik di mana Kaito menyandarkan tangannya dengan kuat.

Tanah di bawah kakinya pun mulai bergetar. Percikan air dari dinding mengenai pipinya.

"Hei Kaito?! Kamu terlalu banyak mengeluarkan tenaga!"

Charlotte berteriak kesal, sementara Sarah mulai panik.

"Benar! ……Tapi ini bukan saatnya membicarakan itu, Nem!"

"U-uhun! Ini sepertinya cukup berbahaya?!"

Dalam skenario terburuk, gua ini bisa runtuh. Kelima orang itu mulai panik, namun untungnya dampaknya tidak meluas ke area sekitar. Kaito yang sudah memasang perisai besarnya bergumam heran.

"Apa ini? Sepertinya ada jalan di balik ini."

Sebuah jalan baru yang tadinya tidak ada kini tercipta, dan embusan angin terasa melewati mereka. Dinding yang runtuh tadi mengungkap sebuah jalan rahasia yang tersembunyi.

"Shalo, bukannya kamu bilang sudah menghafal peta gua ini?"

"Memang sudah! Tapi aku tidak tahu ada jalan seperti ini."

"……Tapi kalau dilihat dari kondisinya……"

"Ya~ sepertinya ini jalan tersembunyi."

Charlotte bertanya "Bagaimana? Mau coba masuk?", dan keempat lainnya mengangguk setuju untuk sekadar memeriksa keadaan.

Setelah merapikan sisa makan siang dan memperketat kewaspadaan, mereka melangkah masuk.

Tempat itu memiliki suasana yang berbeda. Padahal hanya gua, namun lantai, dinding, dan langit-langitnya memancarkan partikel mana perak yang bercahaya.

Setelah berjalan sekitar belasan menit, mereka sampai di sebuah ujung jalan. Di depan mereka terbentang sebuah koridor batu yang halus.

Segalanya tampak mengkilap seperti sudah dipoles, membentuk ruang berbentuk bola yang sempurna tanpa cela sedikit pun. Di tengah ruangan itu, sesuatu tampak melayang.

Kaito-lah yang pertama kali bergumam.

"……Jangan-jangan."

"Kaito-senpai, ada apa?"

"……Benda itu. Benda yang melayang di sana."

Partikel mana yang sama dengan yang ada di jalan tadi memancar lebih kuat dari benda tersebut. Sekelilingnya terhalang oleh dinding kristal tebal yang tidak membiarkan apa pun mendekat.

Kaito melangkah maju dengan wajah tercengang.

"Persis seperti yang tertulis di buku! Itu pasti……"

Salah satu dari Tujuh Pahlawan yang melindungi Sang Pahlawan Luin, leluhur keluarga Leonhardt. Perisai besar yang digunakan oleh pahlawan hebat dalam perang melawan Raja Iblis.

"Perisai besar yang dulu digunakan leluhurku──Aeria, Perisai Raja Perak!"

Di tempat yang jauh dari Ren, perisai besar yang disebut perlengkapan pahlawan itu akhirnya disebut namanya lagi setelah ratusan tahun.

Sebagai keturunan keluarga Leonhardt, Kaito adalah pengguna yang diakui oleh perisai tersebut.

Seolah-olah perisai milik Wright Leonhardt itu telah memilih tuan barunya, dinding kristal yang menutupinya mulai hancur berjatuhan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close