Bonus
E-book: Cerita Pendek Tambahan
Di
Atas Kapal Guardian Knight
Kapal Guardiknight—sebuah mahakarya
yang upacara peresmiannya baru saja dilangsungkan kemarin.
Sebagai moda transportasi darat baru
yang menghubungkan langsung Ibu Kota Kekaisaran dengan Eupeheim, kereta ini
diharapkan akan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Leomel di masa
depan.
Kini, di dalam perjalanan perdananya,
kereta tersebut dipenuhi oleh para tamu undangan Marquis Ulysses Ignat, sosok
yang menjadi poros utama dalam rencana besar ini.
Setelah melewati hari pertama yang
sibuk dengan berbagai pesta, Ren terbangun di kamar tamunya pada keesokan
harinya dan menyibakkan tirai jendela.
"Ooh..."
Sambil mengusap matanya yang masih
terasa mengantuk, dia memandang pemandangan yang terus melesat di luar sana.
Kereta ini
terus melaju bahkan saat para penumpangnya terlelap, dan kini mereka telah
berada jauh meninggalkan Ibu Kota maupun Erendil.
Pemandangan
alam yang asing baginya—hamparan dataran hijau yang subur dan danau luas—kini
tengah mereka lalui.
Setelah
sejenak menikmati pemandangan, Ren beranjak dari tempat tidur dan segera
merapikan penampilannya.
Saat dia
melirik jam, waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Masih ada sekitar tiga
puluh menit sebelum waktu perjanjiannya untuk sarapan bersama Licia dan yang
lainnya.
Meski masih
agak awal, Ren keluar dari kamarnya menuju lorong penghubung.
Area ini
adalah bagian yang tenang karena tidak banyak tamu undangan yang menginap di
sini.
Ini
semua berkat pengaturan dari Ulysses yang mengundang Ren dan teman-temannya.
Terlebih
lagi, di lorong penghubung ini, suara roda yang menggilas rel hampir tidak
terdengar sama sekali.
Sesuai
dengan reputasinya sebagai kereta yang dijejali dengan teknologi mutakhir,
perjalanan darat ini terasa sangat nyaman.
Tepat
saat Ren hendak memandang pemandangan luar dari jendela yang lebih besar
daripada yang ada di kamarnya, dia menemukan gadis-gadis itu.
"Selamat
pagi. Kalian berdua cepat sekali, ya."
"Iya.
Selamat pagi."
"Selamat
pagi. Aku dan Nona Licia juga terbangun lebih awal, lalu kebetulan bertemu di
sini."
Menarik juga
melihat mereka bertiga bisa bertemu secara kebetulan seperti ini padahal waktu
yang dijanjikan masih lama.
Setelah
bertukar sapa dan senyum di pagi hari, seolah sudah direncanakan, mereka
bertiga pun memandang ke luar jendela.
Pemandangannya
masih belum banyak berubah dari yang dilihat Ren tadi. Paling-paling, hanya
sudut pandangnya saja yang berlawanan dengan jendela kamar.
Begitu mereka
membuka sedikit jendela karena ingin merasakan embusan angin, aroma hutan dan
semilir angin pagi yang sejuk pun menyambut. Rambut mereka bertiga bergoyang
lembut diterpa angin pagi tersebut.
Ren yang
merasa sangat nyaman pun meregangkan tubuhnya. Saat dia melihat jam tangan,
waktu yang dijanjikan pun akhirnya tiba.
Di dalam
kereta ini, terdapat restoran-restoran yang memiliki cabang di jalan utama Ibu
Kota.
Setelah
menikmati menu yang hanya bisa disantap di Kapal Guardiknight, mereka bertiga
meminum teh sejenak sebelum meninggalkan gerbong restoran.
Karena asyik
berbincang santai, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat.
Alih-alih
berpisah di sini, mereka memutuskan untuk pergi menuju gerbong lain.
Kapal
Guardiknight kebanggaan Ulysses ini tidak hanya menawarkan hidangan lezat dan
pemandangan indah, tetapi juga memiliki berbagai fasilitas untuk menghibur para
penumpang.
Misalnya,
toko pernak-pernik hingga museum seni kecil.
Keberadaan
fasilitas yang biasanya tidak mungkin ada di dalam kereta ini adalah bukti
betapa istimewanya kereta ini.
Di toko
pernak-pernik, mereka memuaskan diri dengan melihat berbagai barang kebanggaan
dari berbagai daerah, seperti alat makan yang langka.
Mereka juga
mengasah kepekaan seni dengan melihat lukisan dan karya tiga dimensi di museum
seni kecil yang terletak di lantai dua.
Meski mereka
sudah berkumpul sejak pagi buta, ternyata waktu sudah melewati tengah hari.
Setelah
menyantap makan siang di restoran yang berbeda dari tadi pagi...
"Hei,
hei, sore ini kita mau ke mana?" tanya Licia kepada Ren dan Fiona.
Meski
fasilitas yang belum mereka kunjungi tinggal sedikit, tetap saja masih ada
beberapa yang tersisa.
Saat mereka
ragu hendak melangkah ke mana, Fiona tiba-tiba mengeluarkan buku catatannya.
"Kalau
tidak salah... sebentar lagi kita akan bisa melihat pemandangan yang sangat
indah!"
Apa yang
dimaksud Fiona baru terjawab beberapa puluh menit kemudian.
Saat mereka
bertiga melangkah masuk ke gerbong observasi, apa yang tertangkap oleh mata
mereka adalah—sebuah wilayah tersembunyi.
Warna hijau
zamrud dan biru safir seolah memeluk Kapal Guardiknight yang tengah melewati
sebuah ngarai.
Pepohonan
yang membentang di sisi kiri dan kanan tampak mengenakan jubah hijau muda yang
segar.
Air tanah
yang meluap dari sela-sela tebing batu membentuk air terjun, yang kemudian
berubah menjadi aliran sungai jernih di bawahnya.
Jika melihat
ke atas, berkas cahaya jatuh dari langit biru yang terjepit di antara
dinding-dinding ngarai.
Kereta
melambatkan kecepatannya, melintasi jembatan ini dengan perlahan.
"Wah...
luar biasa...!"
"Aku
tidak menyangka bisa melihat pemandangan seindah ini...!"
Licia dan Fiona berseru kagum.
Di samping
mereka, Ren pun ikut terpesona oleh pemandangan itu.
Keindahan
yang seolah datang mendesak dari segala arah ini melahirkan rasa haru yang
belum pernah mereka rasakan sebelumnya, membuat mereka berbagi perasaan tulus
tersebut di sana.
Sekitar
belasan menit kemudian, muncul sebuah sensasi aneh seolah-olah mereka baru saja
kembali dari dunia lain.
Setelah
melewati ngarai dan pemandangan kembali berubah, mereka bertiga kembali
berbincang sambil berjalan meninggalkan gerbong observasi menuju lorong
penghubung.
"Anu,
sepertinya masih ada tempat indah lainnya, lho—!"
Mendengar
suara Fiona, Ren pun ikut merasa antusias.
Saat melirik jam tangan, hari masih sore. Meski mereka telah menghabiskan waktu yang sangat padat sejak pagi, sepertinya waktu menyenangkan ini masih belum akan berakhir.



Post a Comment