NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Di Atas Kapal Guardian Knight


Kapal Guardiknight—sebuah mahakarya yang upacara peresmiannya baru saja dilangsungkan kemarin.

Sebagai moda transportasi darat baru yang menghubungkan langsung Ibu Kota Kekaisaran dengan Eupeheim, kereta ini diharapkan akan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Leomel di masa depan.

Kini, di dalam perjalanan perdananya, kereta tersebut dipenuhi oleh para tamu undangan Marquis Ulysses Ignat, sosok yang menjadi poros utama dalam rencana besar ini.

Setelah melewati hari pertama yang sibuk dengan berbagai pesta, Ren terbangun di kamar tamunya pada keesokan harinya dan menyibakkan tirai jendela.

"Ooh..."

Sambil mengusap matanya yang masih terasa mengantuk, dia memandang pemandangan yang terus melesat di luar sana.

Kereta ini terus melaju bahkan saat para penumpangnya terlelap, dan kini mereka telah berada jauh meninggalkan Ibu Kota maupun Erendil.

Pemandangan alam yang asing baginya—hamparan dataran hijau yang subur dan danau luas—kini tengah mereka lalui.

Setelah sejenak menikmati pemandangan, Ren beranjak dari tempat tidur dan segera merapikan penampilannya.

Saat dia melirik jam, waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum waktu perjanjiannya untuk sarapan bersama Licia dan yang lainnya.

Meski masih agak awal, Ren keluar dari kamarnya menuju lorong penghubung.

Area ini adalah bagian yang tenang karena tidak banyak tamu undangan yang menginap di sini.

Ini semua berkat pengaturan dari Ulysses yang mengundang Ren dan teman-temannya.

Terlebih lagi, di lorong penghubung ini, suara roda yang menggilas rel hampir tidak terdengar sama sekali.

Sesuai dengan reputasinya sebagai kereta yang dijejali dengan teknologi mutakhir, perjalanan darat ini terasa sangat nyaman.

Tepat saat Ren hendak memandang pemandangan luar dari jendela yang lebih besar daripada yang ada di kamarnya, dia menemukan gadis-gadis itu.

"Selamat pagi. Kalian berdua cepat sekali, ya."

"Iya. Selamat pagi."

"Selamat pagi. Aku dan Nona Licia juga terbangun lebih awal, lalu kebetulan bertemu di sini."

Menarik juga melihat mereka bertiga bisa bertemu secara kebetulan seperti ini padahal waktu yang dijanjikan masih lama.

Setelah bertukar sapa dan senyum di pagi hari, seolah sudah direncanakan, mereka bertiga pun memandang ke luar jendela.

Pemandangannya masih belum banyak berubah dari yang dilihat Ren tadi. Paling-paling, hanya sudut pandangnya saja yang berlawanan dengan jendela kamar.

Begitu mereka membuka sedikit jendela karena ingin merasakan embusan angin, aroma hutan dan semilir angin pagi yang sejuk pun menyambut. Rambut mereka bertiga bergoyang lembut diterpa angin pagi tersebut.

Ren yang merasa sangat nyaman pun meregangkan tubuhnya. Saat dia melihat jam tangan, waktu yang dijanjikan pun akhirnya tiba.

Di dalam kereta ini, terdapat restoran-restoran yang memiliki cabang di jalan utama Ibu Kota.

Setelah menikmati menu yang hanya bisa disantap di Kapal Guardiknight, mereka bertiga meminum teh sejenak sebelum meninggalkan gerbong restoran.

Karena asyik berbincang santai, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat.

Alih-alih berpisah di sini, mereka memutuskan untuk pergi menuju gerbong lain.

Kapal Guardiknight kebanggaan Ulysses ini tidak hanya menawarkan hidangan lezat dan pemandangan indah, tetapi juga memiliki berbagai fasilitas untuk menghibur para penumpang.

Misalnya, toko pernak-pernik hingga museum seni kecil.

Keberadaan fasilitas yang biasanya tidak mungkin ada di dalam kereta ini adalah bukti betapa istimewanya kereta ini.

Di toko pernak-pernik, mereka memuaskan diri dengan melihat berbagai barang kebanggaan dari berbagai daerah, seperti alat makan yang langka.

Mereka juga mengasah kepekaan seni dengan melihat lukisan dan karya tiga dimensi di museum seni kecil yang terletak di lantai dua.

Meski mereka sudah berkumpul sejak pagi buta, ternyata waktu sudah melewati tengah hari.

Setelah menyantap makan siang di restoran yang berbeda dari tadi pagi...

"Hei, hei, sore ini kita mau ke mana?" tanya Licia kepada Ren dan Fiona.

Meski fasilitas yang belum mereka kunjungi tinggal sedikit, tetap saja masih ada beberapa yang tersisa.

Saat mereka ragu hendak melangkah ke mana, Fiona tiba-tiba mengeluarkan buku catatannya.

"Kalau tidak salah... sebentar lagi kita akan bisa melihat pemandangan yang sangat indah!"

Apa yang dimaksud Fiona baru terjawab beberapa puluh menit kemudian.

Saat mereka bertiga melangkah masuk ke gerbong observasi, apa yang tertangkap oleh mata mereka adalah—sebuah wilayah tersembunyi.

Warna hijau zamrud dan biru safir seolah memeluk Kapal Guardiknight yang tengah melewati sebuah ngarai.

Pepohonan yang membentang di sisi kiri dan kanan tampak mengenakan jubah hijau muda yang segar.

Air tanah yang meluap dari sela-sela tebing batu membentuk air terjun, yang kemudian berubah menjadi aliran sungai jernih di bawahnya.

Jika melihat ke atas, berkas cahaya jatuh dari langit biru yang terjepit di antara dinding-dinding ngarai.

Kereta melambatkan kecepatannya, melintasi jembatan ini dengan perlahan.

"Wah... luar biasa...!"

"Aku tidak menyangka bisa melihat pemandangan seindah ini...!"

Licia dan Fiona berseru kagum.

Di samping mereka, Ren pun ikut terpesona oleh pemandangan itu.

Keindahan yang seolah datang mendesak dari segala arah ini melahirkan rasa haru yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, membuat mereka berbagi perasaan tulus tersebut di sana.

Sekitar belasan menit kemudian, muncul sebuah sensasi aneh seolah-olah mereka baru saja kembali dari dunia lain.

Setelah melewati ngarai dan pemandangan kembali berubah, mereka bertiga kembali berbincang sambil berjalan meninggalkan gerbong observasi menuju lorong penghubung.

"Anu, sepertinya masih ada tempat indah lainnya, lho—!"

Mendengar suara Fiona, Ren pun ikut merasa antusias.

Saat melirik jam tangan, hari masih sore. Meski mereka telah menghabiskan waktu yang sangat padat sejak pagi, sepertinya waktu menyenangkan ini masih belum akan berakhir.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close