NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Side Story

Potret Dia dan Gadis Itu


Ini adalah kisah di masa lampau, pada suatu era yang telah lama berlalu.

"Hei, tempat apa ini?" tanya seorang gadis yang tengah berjalan di tengah kota kepada pria di sampingnya.

"Bisakah kau memanggil namaku saja? Masa memanggilku 'pria itu' terus," keluh si pria.

"Tidak mau, malu."

"...Padahal kau cukup memanggilku Cecil saja, lho."

"Masih belum bisa."

Meski menjawab dengan ketus, sang gadis sebenarnya sedang tersipu. Bagi pria bernama Cecil itu, mengetahui fakta tersebut saja sudah terasa cukup baginya.

"Jadi, ini di mana?"

"Ini adalah kota yang terbentuk dari perluasan kota besar di dekat sini. Bisa dibilang kota baru."

Tempat yang mereka lalui adalah kota yang masih dalam tahap perkembangan.

Namun, karena letaknya yang bertetangga dengan kota metropolitan, kecepatan pembangunannya belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, kabarnya sudah banyak bangsawan yang tinggal di sana.

Sambil berbincang, keduanya berjalan menyusuri jalanan dengan tubuh yang terbungkus jubah.

Sekilas, penampilan mereka tampak seperti pelancong biasa, melebur sempurna di antara orang-orang yang berlalu-lalang.

"Seandainya ada ksatria yang bertanya, kita lari saja ya."

"Mana mungkin mereka bertanya. Memangnya apa yang mau mereka tanyakan?"

"Misalnya... soal aku yang membawamu pergi secara paksa?"

"Bagaimana caranya? Menurutmu, apa yang akan ditanyakan para ksatria itu tentang aku, padahal keberadaanku saja disembunyikan dari dunia?"

Faktanya, Sang Putri Korosi memang dikurung sampai baru-baru ini, dan hanya segelintir orang yang mengetahui eksistensinya.

"Ya, tapi mereka setidaknya bisa menjadikan kita berdua sebagai buronan."

"Ah... mungkin kau benar."

Setelah mengatakan itu, sang gadis berjalan mendahului Cecil. Dia melangkah dengan ringan, ton, ton, ton, membuat ujung jubahnya bergoyang lembut.

"Tapi, tarik kembali satu hal."

"Apa itu?"

"Soal kau yang membawaku pergi secara paksa. Jangan salah paham, ya, aku mengikutimu atas kemauanku sendiri."

Gadis itu kembali berucap ketus untuk menutupi rasa malunya. Melihat sang gadis yang kian hari kian sering menunjukkan senyum ramah, hati Cecil pun terasa hangat.

"...Kau dengar tidak?"

Merasa tidak puas karena jawabannya lambat, sang gadis mengarahkan telunjuknya tepat ke depan hidung Cecil.

Tujuan mereka adalah sebuah bangunan yang terletak di sudut kota.

"Temanmu ada di sini?"

"Iya. Dia orang paling penting di panti asuhan ini."

"...Panti asuhan?"

Tidak ada papan nama yang menunjukkan identitas panti asuhan tersebut. Para pengunjung ini tidak tahu bahwa papan itu patah akibat cuaca buruk belakangan ini dan sedang dalam proses pembuatan yang baru.

"Mari lewat pintu belakang. Anak-anak sepertinya sedang tidur, aku tidak mau membangunkan mereka."

"......Iya."

Begitu sampai di bagian belakang bangunan, Cecil mengetuk pintu kayu yang ada di sana. Pintu terbuka, dan seorang pengurus panti asuhan menampakkan wajahnya.

Cecil berbicara dengan pengurus itu dengan nada yang akrab, lalu mereka masuk melalui pintu belakang. Keadaan di dalam sangat sunyi.

Mungkin karena anak-anak sedang tidur, tak ada satu suara pun yang terdengar. Cecil dan sang gadis berjalan menuju ruangan yang berada paling ujung di panti asuhan tersebut.

Setelah si pengurus membungkuk hormat dan pergi, Cecil berkata,

"Ada satu hal yang harus aku minta maaf padamu."

"...Aku ingin memaafkan apa pun yang kau lakukan, tapi boleh aku dengar alasannya dulu?"

"Ini berkaitan dengan apa yang akan kulakukan sekarang. Mungkin lebih baik jika kau melihatnya sendiri secara langsung."

Mereka berdua memasuki ruangan paling ujung tersebut.

"——!"

Begitu melihat pria yang sudah menunggu di sana, sang gadis... Sang Putri Korosi, nyaris kehilangan kendali atas kekuatannya.

Namun, amukan kekuatan itu tertahan oleh barang perjanjian yang dijaga oleh Cecil. Berkat Cecil yang menggenggam tangannya, segalanya berakhir dengan aman.

Dari saku jubah sang putri, sebuah koin mithril yang telah terkorosi jatuh dan berdenting di lantai.

Setelah tenang dan mendengar penjelasan, Sang Putri Korosi bersembunyi di balik punggung Cecil sambil mengintip sosok pria di depannya. Pria itu tertawa kecut melihat tingkah adiknya.

"Sepertinya kau akrab dengan adikku, ya."

"...Berani-beraninya kau bersikap seperti seorang kakak sekarang. Padahal selama ini kau menganggapku seolah-olah tidak ada."

"Itu tidak benar. Kasihan Geno jika kau bicara begitu," sela Cecil sambil menyebut nama kakak sang putri.

Pria bernama Geno itu ternyata telah berkorban banyak demi adiknya.

Di tempat yang tidak diketahui sang gadis, selama ini dia terus mencari berbagai cara untuk menyegel kekuatan adiknya. Bahkan hari ini pun, dia ingin memastikan seberapa jauh kekuatan itu bisa ditekan sebelum mereka berdua meninggalkan kota.

"Geno menganalisis barang-barang yang telah terkorosi oleh kekuatanmu dan menelitinya demi mencari cara untuk menahannya. Pena yang dulu kau gunakan pun, kabarnya dia sendiri yang memesannya untuk tujuan itu."

"Be... begitu... rupanya..."

"Aku tidak memintamu untuk percaya. Tapi... begitulah kenyataannya," ucap Geno dengan nada sedih sebelum menghela napas.

Dia kemudian mengajak mereka berdua untuk pergi ke luar.

Sesampainya di dekat alat bermain di luar panti asuhan, Geno berdiri di depan kanvas yang telah disiapkan.

"Izinkan aku melukis sambil kita mengobrol."

"Melukis kami? Untuk apa?"

"Melukis adalah satu-satunya hobiku. Tak ada salahnya kan, membiarkanku melukis satu gambar saja sebelum melepas adikku pergi?"

Cecil dan Sang Putri Korosi saling berpandangan, lalu mengangguk setuju jika hanya sebatas itu.

Sembari melihat keduanya menghabiskan waktu dengan tenang, Geno menggerakkan kuasnya di atas kanvas kecil. Di tengah aktivitas itu, mereka bertukar kata.

"Cecil, kau benar-benar tidak berniat kembali ke panggung utama?"

"Tentu saja. Aku berniat hidup di tempat yang tenang bersamanya."

"...Apa kau yakin? Orang sehebat dirimu——"

"Geno, cukup sampai di situ."

"...Maafkan aku."

Sang Putri Korosi memiringkan kepalanya sedikit, bingung dengan percakapan penuh makna antara keduanya.

Namun, karena merasakan suasana yang tidak boleh diganggu, dia memilih duduk di ayunan dan memperhatikan dari jauh.

"Tapi, jika bicara soal itu, kau juga sama, Geno."

"Aku?"

"Di era seperti ini, menyelamatkan anak-anak di panti asuhan memang sangat berarti. Tapi kau pun sebenarnya bukan orang yang seharusnya berada di sini."

Geno tertawa mendengar itu.

"Justru karena era seperti inilah aku ada di sini. Di sini pun, ada banyak pekerjaan yang bisa kulakukan."

Beberapa saat kemudian, Geno menghentikan tangannya yang sedang melukis.

"Sudah selesai?"

"Jangan konyol. Ini belum jadi. Masih banyak bagian latar belakang yang harus dikerjakan. Ini baru tahap awal."

Saat mereka kembali ke kamar Geno di dalam panti asuhan, Geno mulai merenung di depan dinding yang dipenuhi lukisan dan sebuah altar.

Perkataan tiba-tiba yang keluar dari mulutnya mengejutkan Cecil dan Sang Putri Korosi.

"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah mengadakan upacara?"

"U-Upacara!?"

"——Eh!?"

Geno tersenyum melihat wajah cengo sahabatnya dan ekspresi terkejut yang pertama kali diperlihatkan oleh adiknya setelah sekian lama.

"Dilihat dari reaksi kalian, sepertinya memang belum. Dan sepertinya kalian juga tidak punya rencana untuk itu."

Cecil menyahut di samping sang gadis yang pipinya sudah merah padam.

"...Mengingat situasi kami, rasanya sulit untuk dilakukan, bahkan untuk ke depannya."

"Fuu... sudah kuduga akan begitu. Aku senang bisa mendapatkan kesempatan ini. Jika kalian berkenan, izinkan aku memberikan berkat bagi kalian berdua."

Tak ada sedikit pun alasan maupun keinginan bagi mereka berdua untuk menolak tawaran itu.

Upacara di sini adalah sebuah seremoni kecil yang tak tertangkap mata siapa pun. Upacara di sini adalah sebuah prosesi rahasia yang takkan pernah tercatat dalam sejarah.

Namun, bagi mereka, itu sudah cukup. Yang mereka butuhkan bukanlah tumpukan tamu undangan maupun jamuan makan yang mewah. Yang mereka butuhkan hanyalah sebuah bukti.

"Aku bertanya kepada Cecil Ashton. Dalam pernikahan ini——"

Upacara berlangsung tanpa hambatan, dan tak lama kemudian, keduanya meninggalkan kota tersebut.

Geno tidak menanyakan ke mana mereka akan pergi, tidak pula bertanya apa yang akan mereka lakukan. Namun, Geno merasa itu sudah cukup.

Beberapa hari berlalu, dia menatap kanvas di sudut taman seperti hari itu. Begitu lukisannya selesai, dia bergumam.

"Aku berhasil membuat lukisan yang bagus."

Dengan ekspresi cerah di wajahnya, dia menatap langit biru yang membentang luas.

——Ini adalah kejadian di masa yang sangat lampau. Jauh sebelum Ren menemukan lukisan tersebut.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close