NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Bonus Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Padahal Aku Keturunan Penyihir Agung!


Lizred Arkhey, yang baru saja masuk ke Akademi Militer Kekaisaran, adalah keturunan dari seorang penyihir hebat.

Bukan hanya itu, ia sendiri adalah bakat luar biasa yang kelak akan menjadi penyihir hebat pula.

Saat upacara penerimaan siswa di Akademi Militer Kekaisaran, ia menjabat sebagai perwakilan siswa baru bersama dengan para keturunan Tujuh Pahlawan yang juga masuk ke kelas beasiswa.

(……Astaga, kalian kelihatan senang sekali ya.)

Wajah para senior yang duduk di kursi lantai dua hampir tidak terlihat sama sekali. Meski begitu, Lizred tetap bisa mengenali sosok-sosok keturunan Tujuh Pahlawan yang sudah ia kenal sejak kecil.

Lizred mengembuskan napas pendek saat melihat senyum yang dilemparkan oleh teman-teman lamanya itu ke arahnya yang sedang bertugas sebagai perwakilan.

Lalu, di antara para senior... matanya secara alami tertuju pada dua orang yang berada di dekat Sarah.

(Oh? Jangan-jangan, mereka berdua orangnya?)

Mereka adalah sang pemuda pengguna Magic Sword dan White Saintess.

◇◇◇

Beberapa hari telah berlalu sejak upacara penerimaan, dan Lizred tampak berjalan sempoyongan di koridor gedung sekolah. Benar-benar seperti orang yang kehilangan arah dan tenaga.

Masih ada waktu sebelum pelajaran dimulai. Di tengah waktu luang itu, pikirannya berkecamuk memikirkan tingkat kesulitan pelajaran di akademi ini.

Semalam ia mengerjakan tugas sampai larut, lalu bangun pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan sisanya.

Sambil membayangkan tugas apa lagi yang akan diberikan hari ini, ia juga teringat pada pelatihan sihir dari neneknya. Ia terus menyemangati diri sendiri bahwa ia pasti akan terbiasa kelak.

"Fu-fufu…… Karena aku akan menjadi penyihir hebat, hadapilah aku wahai pelajaran……"

Hanya kata-katanya saja yang bersemangat, namun langkah kakinya tetap lunglai.

Sambil membetulkan posisi topi penyihir yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya, ia melihat sosok pemuda yang sudah tidak asing lagi.

Kebetulan, ada juga sosok pemuda yang kehadirannya sempat ia sadari saat upacara penerimaan. Mumpung ada kesempatan, ia pikir tidak ada salahnya mencoba mengobrol sedikit. Lizred pun mengubah gaya berjalannya yang sempoyongan kembali menjadi normal.

"Selamat pagi. Kai────"

"Sip! Kalau begitu, hari ini juga aku akan bersemangat────"

Namun, sayang sekali waktunya terlalu pas.

Gara-gara itu, tubuh mungil Lizred menabrak punggung Kaito yang baru saja berbalik dengan telak! Dugh!

"Beburaft!?"

Ia merasa telah mengeluarkan suara jeritan yang memalukan, tapi ia tidak sempat memikirkan hal itu.

"U-ughhh~~!!"

Ujung hidungnya sakit sekali…… tidak perlu berkaca pun ia tahu. Pasti sudah merah padam.

Lizred nyaris menangis, tapi ia sadar ini kesalahannya karena mendekat tanpa suara. Ia pun membuka mulut untuk menutupi rasa sakitnya.

Beruntung baginya, Ren yang berada di samping Kaito langsung menyapanya, jadi ini waktu yang sangat tepat.

Karena pelajaran hampir dimulai mereka tidak bisa bicara banyak, tapi Lizred merasa sudah sedikit memahami tentang Ren.

(Tapi…… benar-benar berbeda dari bayanganku ya.)

Lelaki di depannya ini adalah pengguna Great Sword yang sering keluar-masuk Saint Palace.

Menurut rumor, ia sudah berada di tingkat Sword Saint dan musim dingin lalu ia membasmi monster kuat sendirian di Eupheim. Namun saat bicara langsung, aura seperti itu sama sekali tidak terasa.

Kesannya hanyalah seorang senior berwajah tampan yang lembut dan mudah diajak bicara, tipe yang sepertinya sangat populer di kalangan siswi.

"Ada apa?"

Melihat Lizred yang mendongak menatap Ren dengan melamun, pemuda itu bertanya karena merasa penasaran.

"Ti-tidak! Aku hanya merasa mual karena memikirkan pelajaran saja!"

"Oi, oi…… padahal kamu baru saja masuk sekolah lho."

Ia sempat kesal saat Kaito menatapnya dengan heran, tapi ia memutuskan untuk bersikap masa bodoh saja.

Di sisi lain, Ren tidak seperti itu. Sambil tertawa kecut, ia memberikan kata-kata penyemangat, "Awalnya memang begitu kok."

Lizred pun berani berasumsi sendiri bahwa Ren tidak berkepala otot seperti Kaito.

"Yah, kalau dibilang mirip Kaito, memang mirip dia sih."

"On? Aku kenapa?"

"Aku cuma merasa lega karena di akademi pun Kaito tetap menjadi dirinya sendiri."

"Apaan tuh, apa aku terlihat sangat bisa diandalkan?"

"Padahal aku tidak bilang begitu sama sekali, tapi aku rasa kemampuanmu untuk berpikir sepositif itu adalah hal yang bagus."

Entah kenapa Ren juga ikut mengangguk mendengar ucapannya, sebuah hal yang aneh bagi Lizred. Namun ia memutuskan untuk menganggap itu terjadi karena hubungan Ren dan Kaito yang memang lebih akrab dari yang ia dengar.

Saat berjalan menuju kelas karena pelajaran akan segera dimulai, Lizred mendapatkan sebuah ide.

(Mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau aku minta mereka ikut dalam perjalananku nanti?)

Jika ada kesempatan, ia akan langsung membicarakannya saat jam istirahat makan siang.

Hanya saja, sang keturunan penyihir hebat akhirnya menyadari ada hal penting yang harus dilakukan sebelum itu.

"A-aku bodoh sekali, aku bahkan belum memperkenalkan diri!"

Jadi, saat bertemu lagi nanti ia harus memulainya dari perkenalan diri.

Untuk itu, pertama-tama ia harus berusaha agar semangatnya tidak habis terkuras oleh pelajaran di jam pagi ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close