Chapter 1
Penghujung Libur Musim Dingin
Desa
tanpa nama di wilayah Krauzel, sebuah tanah perbatasan yang dipercayakan kepada
ayah Ren, Roy Ashton.
Mengingat
perkembangan wilayah sekitarnya belakangan ini, sebutan "perbatasan"
hanyalah cerita masa lalu.
Kini,
jalan raya di dekat sana telah dibenahi, menjadikannya tempat serupa
pesanggrahan yang perlahan mulai dikenal sebagai titik transit dari berbagai
daerah, termasuk bekas wilayah Viscount Givan.
Selain
itu, orang-orang mulai bicara bahwa sudah saatnya desa ini diberi nama. Tak
sedikit aspirasi senada yang datang melalui permohonan dari para pengembara,
pedagang, hingga penduduk desa sendiri.
Desa di
musim dingin yang diselimuti keriuhan yang kian meningkat dari tahun ke tahun.
Di tanah yang tertutup salju yang bisa digambarkan berwarna seputih murni
maupun perak itu,
"Hah…… hah……!"
Seorang ksatria
muda datang memacu kudanya melintasi jalan raya. Dia datang dari pusat wilayah
ini, Krauzel, dengan menunggangi kuda cepat.
Banyak orang yang
melihatnya melintasi jalan utama desa tampak penasaran, bertanya-tanya apa yang
sebenarnya telah terjadi. Melihat ksatria itu menghentikan kudanya di depan
kediaman keluarga Ashton,
"Ada
apa?"
Ksatria yang
bertugas menjaga desa pun menghampiri dan menyapa.
"Apa ada
insiden?"
"Kau
terlihat sangat terburu-buru……"
Namun, wajah
ksatria yang baru datang itu justru dihiasi senyuman.
"Tidak
masalah! Ini bukan
insiden, jadi tidak perlu khawatir!"
Sambil
berkata demikian, ia mengambil tas yang tergantung di pelana kuda, menyerahkan
kendali kudanya kepada ksatria lain, lalu melangkah masuk ke halaman kediaman.
Di taman,
Roy yang baru pulang berburu sebelum matahari terbit sedang memeriksa hasil
tangkapannya.
Belakangan
ini Roy sibuk mengelola desa yang terus berkembang, namun memastikan sendiri
kondisi hutan seperti ini masih menjadi rutinitas harian yang ia jalani.
"Kau tampak
tergesa-gesa sekali."
Roy berucap
demikian, lalu bertanya dengan nada tenang.
"Jadi, apa
ada sesuatu yang terjadi?"
Wajahnya yang
gagah dan tak berubah sejak dulu itu memancarkan ekspresi yang sama tenangnya
dengan suaranya. Di
sisi lain, ada hal yang berbeda dari dirinya yang dulu.
Sebagai
orang yang memegang tanggung jawab atas tanah yang ukurannya sudah hampir bisa
disebut sebagai kota ini, pria bernama Roy Ashton telah tumbuh menjadi sosok
yang jauh lebih bisa diandalkan. Sebagian besar pekerjaan yang dulu tidak ia
kuasai, kini bisa ia selesaikan hampir tanpa kesulitan.
"Mohon maaf.
Ada sesuatu yang ingin segera saya sampaikan."
Ksatria itu
berdiri di depan Roy, membuka tasnya, dan mengeluarkan surat kabar dari hari
tertentu.
Itu adalah surat
kabar yang biasanya tidak beredar di Krauzel, melainkan hanya dijual di
kota-kota besar seperti Ibukota atau Erendil.
"Surat
kabar? Belakangan ini aku juga kadang membacanya, sih……"
Hingga
beberapa tahun yang lalu, tidak ada kesempatan untuk melihat surat kabar di
desa ini.
Namun
seiring perkembangan desa, para pedagang mulai membawanya masuk, sehingga
sekarang mereka punya kesempatan untuk membacanya.
Meski
begitu, apa yang tertulis di sana biasanya hanyalah informasi yang tidak
berhubungan dengan desa ini.
"Kenapa kau
sampai membawa surat kabar kemari?"
"Ada artikel
yang ingin saya tunjukkan pada Anda."
Roy diperlihatkan
sebuah tajuk utama, lalu ia menggumam "Oh" dan mulai membaca.
Kejutan itu
datang tak lama kemudian. Setelah meminta izin kepada sang ksatria untuk
membawa surat kabar tersebut, ia berseru "Aku masuk dulu!" dan
bergegas menuju ke dalam kediaman.
Melihat suaminya
datang dengan terburu-buru namun tampak senang, tidak seperti biasanya, ibu
Ren, Mireille Ashton, berujar, "Lho?"
Dengan ekspresi
lembut di wajahnya, ia melangkah mendekati suaminya.
"Ada
apa?"
"Ah! Coba
lihat ini!"
Di atas meja yang
terletak di pintu masuk yang masih baru, sebuah artikel di surat kabar yang
terbentang menarik perhatian pasangan Ashton tersebut.
Semakin dibaca,
semakin banyak hal yang tertulis di sana yang hanya bisa merujuk kepada Ren.
『Monster
yang muncul di wilayah Marquis Ignat dan wilayah Earl Leonard adalah ulah Kultus
Dewa Iblis──── dan semuanya telah berhasil dibasmi────』
Bagi mereka
berdua, bagian selanjutnya jauh lebih penting.
『Dalam
insiden kali ini, Direktur Saint Palace Lion diutus dan membasmi monster
tersebut secara langsung, namun banyak orang yang melihat sosok seorang pemuda
yang mendampinginya. Pemuda ini dikabarkan sering keluar-masuk Saint Palace
Lion setiap harinya────』
Ada rasa syukur
karena putra tunggal mereka baik-baik saja, sekaligus tawa kecut karena
sepertinya anak itu melakukan sesuatu yang mencolok lagi.
Ksatria yang
sedang bekerja di dalam kediaman melihat pemandangan itu dan tersenyum ikut
merasa senang. Namun, melihat Roy dan Mireille saling bertatapan lalu melipat
tangan dengan wajah bingung, ksatria itu bertanya.
"Ada
apa dengan Anda berdua?"
Padahal
tidak aneh jika mereka bersorak gembira, namun perubahan reaksi yang tiba-tiba
membuat ksatria itu bingung.
"Ah, tidak……"
"Iya…… anu……"
Mereka tampak
sulit mengatakannya, namun akhirnya Roy membuka mulut.
"Begini,
soal apa yang tertulis di sini."
Ksatria yang
melayani keluarga Krauzel. Sword Saint. Selain kalimat yang tadi,
kata-kata seperti itu berderet di sana……
"Sebenarnya,
seberapa kuat sih Sword Saint itu?"
Di sampingnya,
Mireille mengangguk-angguk setuju dengan penuh semangat. Pertanyaan yang sangat
tiba-tiba dan tak terduga itu membuat sang ksatria tertegun, namun ia pun tidak
bisa tinggal diam.
"A-apakah Anda tidak tahu!?"
"Yah, begitulah…… Mireille juga tidak tahu, kan?"
"Iya…… karena kami selalu tinggal di desa ini, jadi
kami tidak begitu paham soal urusan di kota besar."
"Tapi, itu
pasti sesuatu yang hebat, kan?"
"T-tentu
saja! Terlebih jika mencapai tingkat Sword Saint dalam ilmu Great
Sword, tidak peduli berapa banyak orang seperti kami yang berkumpul, kami
tidak akan bisa memberikan satu luka pun pada Tuan Ren…… ah tidak, kalau bicara
begitu kehebatannya sama sekali tidak tersampaikan ya……"
Pada akhirnya,
ksatria itu berkata, "Beliau adalah salah satu dari segelintir orang
terkuat di negara besar Leomel ini."
"Ooh! Sampai
sehebat itu?"
"Luar biasa!
Ternyata dia sudah sesukses itu ya!"
"Iya…… tidak diragukan lagi……"
Ksatria itu bukan
merasa heran, melainkan merasa lega karena bisa menyampaikan kabar kesuksesan
Ren kepada pasangan Ashton.
Namun ksatria itu
sendiri pun tidak sepenuhnya memahami seberapa kuat Ren yang sekarang, dan ada
bagian yang ia jelaskan hanya berdasarkan imajinasi.
Meski begitu,
dengan ilmu Great Sword itu, sudah sewajarnya jika hal tersebut berada
di luar nalar sang ksatria.
Ksatria itu juga
hampir tidak tahu apa-apa soal monster yang berhasil dibasmi oleh putra mereka,
dan hanya bisa membayangkan lewat informasi di surat kabar, namun itu tidak
masalah.
"Yah, itu
memang gaya Ren sekali."
Roy merangkum
semuanya dalam kalimat itu.
Cahaya yang
menyelinap dari sela awan di langit musim dingin menyinari Batu Tsurugi yang
menjadi simbol tanah ini.
Tak lama
kemudian, Roy menyipitkan mata dengan nyaman saat sinar matahari menyirami
seluruh desa, lalu ia teringat pada Ren yang berada di tanah yang jauh.
◇◇◇
Pada saat yang
sama, dia berada di sebuah kota netral yang terletak di sepanjang perbatasan
negara.
Tempat ini
dikenal sebagai terminal yang tidak hanya dikunjungi warga Leomel, tetapi juga
orang-orang dari negara sekitar.
Hanya dengan
berjalan saja, orang bisa merasakan suasana eksotis yang tidak bisa ditemukan
di kekaisaran.
Selain hidangan
di restoran, pakaian orang-orangnya pun adalah hal-hal yang biasanya tidak bisa
dilihat sehari-hari.
Ren mengenakan
jubah sederhana yang tidak mencolok, berjalan menyusuri jalanan dengan
penampilan pengembara. Sambil
mendengarkan suara orang-orang yang berlalu-lalang, ia menuju ke pelabuhan
kapal sihir.
Di tengah
hiruk-pikuk itu, sebuah suara sampai ke telinganya.
……Katanya
orang-orang yang dibilang Kultus Dewa Iblis itu cuma kawanan perampok biasa. ……Baru-baru ini juga ada
serangan di Eupheim, apa mereka cuma memanfaatkan situasi itu ya?
Itu
tentang keributan yang baru saja berakhir pagi ini. Mereka hanyalah sekumpulan mantan petualang yang
tersesat. Kelompok itu memang ahli dalam pedang dan sihir, namun mereka hancur
hanya dalam satu malam.
Di guild
petualang tempat permintaan tersebut dipajang, permintaan itu dinyatakan telah
selesai.
Dikabarkan bahwa
setelah menerima pemberitahuan, para ksatria segera datang dan membawa para
perampok itu ke penjara.
Entah siapa yang berhasil melakukan hal tersebut……
berdasarkan protokol kerahasiaan khusus, guild petualang tidak memberitahu para
ksatria tentang siapa yang mengakhiri keributan itu.
"Ah…… salju."
Sambil
mendengarkan suara orang-orang, Ren mengulurkan tangannya.
Wajahnya
yang tampan dengan kesan netral dan rambut cokelat tuanya tersembunyi di balik
tudung jubah. Jika senyuman menghiasi wajah itu, pasti akan terlihat aura
lembut yang diwarisi dari ibunya.
Ia
menatap butiran salju kecil yang mendarat di telapak tangannya, dan berpikir
bahwa ini memang masih musim dingin.
Berbeda
dengan topik pembicaraan orang-orang di sekitarnya, gerak-geriknya terasa
sangat santai, dan yang terpenting, itu sangat khas dirinya.
Ia
berulang kali mendengar topik serupa dalam perjalanan menuju pelabuhan kapal
sihir, namun ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terusik.
◇◇◇
Tak lama
kemudian, suara pengumuman menggema di pelabuhan kapal sihir yang telah ia
capai.
『Tujuan
Erendil──── sesaat lagi────』
Di dalam
pelabuhan kapal sihir yang menyambut tamu dari berbagai negara itu, terdapat
area resepsionis yang menyerupai lobi penginapan mewah.
Mendengar
pengumuman tadi, Ren mencari resepsionis yang kosong, lalu tubuhnya tanpa
sengaja bersenggolan dengan seseorang yang juga sedang melihat ke sekeliling.
"Maaf! Apa
Anda tidak apa-apa?"
"Aku tidak
apa-apa. Lagipula, aku juga yang salah, jadi tolong jangan dipikirkan."
Suaranya
terdengar menyenangkan di telinga, dengan nada bicara yang entah kenapa terasa
seperti anak laki-laki.
Dia adalah
seorang wanita cantik berkacamata dengan rambut berwarna ungu cerah yang
panjangnya sedikit di atas belikat. Usianya tampak sekitar lima tahun lebih tua
dari Ren.
Saat wanita itu
membungkukkan lutut untuk memungut buku yang terjatuh akibat tabrakan tadi, Ren
segera mengikuti langkahnya.
"Apakah
bukunya kotor?"
"Hm,
sepertinya baik-baik saja. Maaf ya sudah membuatmu repot."
Setelah memungut beberapa buku dan berdiri, wanita itu
mendekap buku-buku tersebut di depan dadanya sambil tersenyum manis.
"Aku suka buku. Kudengar di sini ada buku langka, jadi
aku datang kemari."
"Aku juga suka buku. ……Tapi yah, aku cuma membaca apa
pun yang membuatku penasaran saja, sih."
"Menurutku itu sangat keren. Aku juga mencari buku di
berbagai belahan dunia karena ingin membaca macam-macam buku, jadi mungkin kita
mirip ya."
"Kalau begitu, Anda sudah berkelana demi buku sejak
dulu?"
"Benar. Karena buku adalah────"
Wanita itu berbicara seolah merasa senang dengan jawaban
Ren.
"Satu-satunya memori dunia yang tidak terpengaruh oleh
para dewa."
Ren yang terperangah mendengar ekspresi filosofis yang
tiba-tiba itu hanya bisa mengerjapkan mata, sementara sang wanita tersenyum
karena menganggap reaksi itu lucu.
Bingung harus menjawab apa, Ren melihat salah satu
resepsionis sudah kosong, lalu ia mempersilakan wanita itu, "Silakan
duluan."
Wanita itu
tersenyum manis lalu segera menuju resepsionis. Setelah menyelesaikan prosedur,
ia kembali ke arah Ren.
"Terima
kasih. Semoga perjalananmu menyenangkan."
"Iya. Kalau
begitu, saya permisi dulu."
Karena waktu
keberangkatan kapal sihir masing-masing sudah dekat, salam perpisahan mereka
pun singkat saja.
Wanita itu mulai
berjalan membelakangi Ren, namun tiba-tiba ia menghentikan langkah dan menoleh
ke arahnya.
Sambil
menatap punggung Ren yang berjalan menuju resepsionis, ia bergumam pelan.
"────Padahal
masih remaja tapi sudah pengguna Great Sword, jarang sekali ya."
Kali ini,
wanita itu benar-benar naik ke atas kapal sihir.
◇◇◇
Setelah
menyelesaikan prosedur keberangkatan, Ren berjalan sejenak lalu menaiki kapal
sihir dan langsung menuju kamar yang telah ia pesan. Begitu masuk ke dalam, ia
akhirnya melepas jubahnya.
Akhirnya
ia bisa bernapas lega. Ia meletakkan jubah bersama tasnya di tempat yang
sesuai, lalu menggerakkan tubuhnya untuk melemaskan otot-otot yang tanpa sadar
sempat menegang.
Tak lama
setelah masuk kamar, pelayan kapal datang berkunjung untuk menanyakan layanan
servis seperti makan malam, namun itu segera berakhir dan ia pun menyandarkan
kedua sikunya pada bingkai jendela.
Pemandangan
yang membentang luas di jendela semakin menjauh seiring kapal membubung menuju
langit.
Sambil melihat
pemandangan itu, ia memikirkan perjalanan jauh kali ini. Beberapa perasaan
muncul di hatinya, namun semuanya terasa tidak memuaskan.
Terutama, fakta
bahwa ia baru sempat memainkan Legend of Seven Heroes II hanya sekali
membuatnya terpikirkan.
"……Ternyata
tidak semudah itu yaー."
Sambil
menatap ke luar jendela, ia bergumam dengan nada pasrah. Kapal sihir yang telah selesai lepas landas kini
melaju di atas awan. Karena daratan tidak terlihat, pemandangannya tetap sama
tidak peduli seberapa jauh mereka melaju.
◇◇◇
Tanpa sadar ia
tertidur sambil duduk di kursi dekat jendela, dan langit di luar jendela sudah
gelap gulita.
Bintang-bintang
terlihat, namun tidak jelas apakah saat ini sudah malam atau dini hari. Ren
melihat jam tangannya dan akhirnya bisa memastikan bahwa saat ini adalah tengah
malam menjelang dini hari.
Sambil merasakan
kekakuan pada tubuhnya akibat tidur sambil duduk, ia bersiap-siap untuk
mendarat. Setelah mandi, merapikan diri, dan selesai sarapan, cakrawala mulai
terang dan ketinggian kapal sihir perlahan menurun.
Meski masih
remang-remang, pemandangan yang sudah dikenalnya mulai terpantul di kedua
matanya.
『Sesaat
lagi, kita akan tiba di Taman Gantung』
Mendengar
pengumuman yang sampai ke kamarnya, sepuluh menit berlalu. Akhirnya Ren turun
dari tangga kapal sihir yang mendarat di Taman Gantung, menginjakkan kaki di
lantai tingkat tinggi.
Sambil
membiarkan angin yang sedikit lebih kencang dibanding lantai dasar menggoyang
rambutnya, ia benar-benar merasa telah pulang.
◇◇◇
Beberapa
hari berlalu, masih di tengah liburan musim dingin.
Di
akademi yang tenang, salju lembut turun dari langit. Di sana, tampak seorang
gadis yang berjalan mengenakan mantel putih di atas seragamnya.
Dia baru saja
keluar dari perpustakaan Akademi Militer Kekaisaran bersama Ren. Setiap kali ia
melangkah, rambut hitamnya yang berkilau bak sutra bergoyang ditiup angin
dingin.
"Saljunya
sudah sedikit mereda ya."
Fiona Ignat────
gadis yang terlahir dengan kekuatan Black Priestess, yang di masa lalu
nyawanya pernah diselamatkan oleh Ren.
Penampilannya
yang menggabungkan keimutan yang memikat lawan jenis dengan kecantikan penuh
martabat, membuatnya tampak misterius seperti malaikat.
Namun di depan
Ren yang berusia dua tahun lebih muda darinya, ia adalah seorang nona muda yang
menunjukkan senyum manis khas gadis seusianya, tanpa memperlihatkan martabat
tersebut.
Di
sampingnya, Ren mendongak ke langit dan berujar, "Benar juga."
"Padahal
sampai tadi saljunya lebat sekali."
"Tepat
setelah kita sampai di perpustakaan, badai saljunya langsung mulai, sih."
"Tapi
untunglah. Kalau terus begitu, keretanya mungkin bisa berhenti
beroperasi."
Mendengar
kata-katanya, Fiona tersenyum kecil. Senyum yang terpancar di wajah Ren membuat
jantung Fiona berdegup kencang.
"────Kalau
itu terjadi, mungkin aku akan menyewa kamar di penginapan, atau menghabiskan
malam dengan mengayunkan pedang di Saint Palace Lion."
"Anu…… Ren-kun, bukankah kamu bilang masih merasa lelah
setelah melawan Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung? Tapi kamu malah mau latihan semalaman?"
"I-itu cuma
bercanda kok."
"……Benarkah?"
Tatapan mata yang
lucu itu mengandung kemauan yang lebih kuat dari biasanya.
"Sampai
beberapa hari lalu kamu juga habis bepergian jauh, jadi jangan berbuat nekat
ya."
"Haha…… baiklah."
Sambil tertawa kecut, Ren mengeluarkan sebuah buku dari
tasnya dan berkata, kali ini tanpa bercanda.
"Kalau keretanya berhenti, sepertinya aku akan membaca
buku ini di penginapan. Soalnya, aku dengar dari Radius sebelum libur musim
dingin kalau buku ini menarik."
"Ah, jadi
itu alasan kita pergi mencarinya ya!"
Saran dari
Pangeran Ketiga yang sudah seperti sahabat karib bagi Ren itu benar-benar
menarik minatnya.
Buku tersebut
adalah kumpulan cerita pendek yang merangkum episode-episode para tokoh besar.
Beberapa kisah yang tertulis di dalamnya sangat terkenal, bahkan ada yang sudah
diadaptasi menjadi pertunjukan teater.
Percakapan mereka
berlanjut sembari berjalan berdampingan keluar dari akademi.
"Musim
dingin tahun ini juga terasa ramai ya."
Fiona
berujar sambil menatap wajah Ren.
Musim
dingin belum benar-benar berakhir. Ren menanggapi dengan sedikit gurauan
terhadap perkataan Fiona yang seolah memberikan ilusi bahwa waktu telah berlalu
begitu lama tanpa disadari.
"Meskipun
tidak se-mengejutkan kejadian di Pegunungan Baldur dulu, sih."
"Fufu...
aku juga berpikir begitu. Tapi,
kejadian yang kemarin itu juga insiden yang hebat."
Insiden hebat
yang dimaksud adalah kejadian saat Ren mencapai tingkat Sword Saint.
Masih segar dalam
ingatan bagaimana Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung yang muncul di
wilayah Marquis Ignat telah diperkuat, berbeda dengan individu normal lainnya.
Melihat situasi saat itu, sudah bisa dikatakan jelas bahwa Kultus Dewa Iblis
terlibat di dalamnya.
◇◇◇
Setelah
pertempuran pertama, Ren menaiki kapal sihir milik Estelle, sang Direktur Saint
Palace Lion, dan meninggalkan Eupheim.
Tujuannya adalah
mengunjungi wilayah laut lain yang tidak terlalu jauh untuk bertarung melawan
satu lagi Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung.
"Humu... Seperti dugaan, individu yang muncul di
Eupheim memang lebih kuat."
Terdengar sebuah suara di geladak kapal sihir keluarga Drake
yang sedang menurunkan ketinggian hingga dekat dengan permukaan laut.
Pemilik suara itu adalah Estelle Osloes Drake, Direktur
kebanggaan Saint Palace Lion yang dijuluki ksatria terkuat di Leomel.
Sosok wanita dengan wajah menawan dan rambut panjang
berwarna merah scarlet. Ia memancarkan keanggunan sekaligus kehebatan
khas seorang pengguna Great Sword.
Wanita itu menguap lebar, tampak begitu santai seolah-olah
hendak tidur siang. Meskipun
monster kuat berada di dekatnya, ia sama sekali tidak tegang, bahkan bersikap
seperti biasanya.
"Rasanya
perbedaan kekuatannya terlalu jauh, bagaimana menurutmu, Ren?"
Ren, yang
ditanya, menggenggam Mithril Magic Sword miliknya dan mencurahkan
seluruh tenaga dalam pertarungan melawan monster laut yang mengamuk—Wadatsumi,
Sang Utusan Dewa Agung.
Sambil menebas,
ia melontarkan kata-kata kepada Sang Direktur yang agung itu.
"Ma-mana aku
tahu!"
"Pasti ini
ada hubungannya dengan Kultus Dewa Iblis, tapi aku harus memikirkannya
baik-baik."
"Aku juga berpikir begitu! ...Lagipula, Estelle-sama,
ikut bertarunglah juga!"
Hanya helaan napas pendek "Haa" yang diterimanya
sebagai jawaban.
"Apa kau
takut kalau aku tidak ikut bertarung bersamamu?"
"Bukan
begitu, sih!"
"Kalau
begitu tidak masalah, kan. Ayo,
jangan melirik ke arah lain."
Bukannya ingin
berlagak kuat, namun Ren yang telah mencapai tingkat Sword Saint
memiliki keinginan kuat untuk menguji kemampuannya sendiri.
Ia tidak
merasakan sensasi hampa seolah kekuatan yang digenggamnya merosot dari
sela-sela jari. Namun, agar tidak lupa, ia ingin menanamkan sensasi itu ke
dalam tubuhnya sejauh mungkin.
Tentu saja,
Estelle bukannya bersikap santai tanpa alasan. Ia juga ingin Ren meresapi
sensasi kekuatan yang baru mekar itu, karena itulah ia bersikap demikian
sembari tetap mengawasi keadaan.
Karena Ren pun
merasa tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan terburuk, ia bisa mengayunkan
pedangnya tanpa kegalauan sedikit pun.
Saat
pertarungan berakhir,
"Monster
selevel ini sepertinya sudah bukan tandinganmu lagi ya."
Estelle
tertawa sambil memuji Ren.
◇◇◇
Kenangan
musim dingin seperti itu melintas di benak Ren.
Setelah
itu, ia melewati hari-hari yang sibuk, mulai dari Licia yang terburu-buru
mengunjungi Eupheim, hingga dirinya yang harus menampakkan diri dalam
pengurusan pasca-insiden. Untungnya, libur musim dingin belum berakhir.
Hari ini,
karena ada urusan yang harus dibicarakan dengan Fiona, mereka pergi ke
perpustakaan bersama. Setelah pembicaraan selesai, Ren mencari buku yang
membuatnya penasaran. Setelah itu pun, mereka sempat menghabiskan waktu dengan
tenang sambil mengobrol di kantin akademi.
Namun,
karena ingin menghindari berjalan di tengah badai salju, mereka memutuskan
untuk meninggalkan akademi sedikit lebih awal.
"Izinkan aku
mengantarmu sampai ke asrama."
Mendengar
tawaran Ren, Fiona berujar dengan ekspresi senang, "Terima kasih
banyak!"
Dalam
perjalanan, gadis itu bertanya kepada Ren.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana upacara penganugerahan kemarin?"
"Sedikit
tegang. Tapi, karena yang memberikan medali adalah Estelle-sama, aku merasa
bisa tetap bersikap seperti biasanya."
"Fufu,
apakah Estelle-sama terlihat lebih berwibawa dari biasanya?"
"……Ah—"
Bukan hal
yang masalah jika dibicarakan. Karena musim dingin ini Fiona dan Estelle sudah
saling memanggil nama masing-masing, dan mereka sudah berhubungan dengan sikap
yang santai.
"Cuma
di awal saja. Di tengah-tengah dia malah senyum-senyum nakal melihatku
tegang."
"E-eh... itu
terdengar sangat khas Estelle-sama ya."
Ren tidak hanya
teringat wajah menyeringai Estelle, tapi juga mengenang suasana hari itu.
Tempatnya adalah ruang kerja Estelle yang berada di lantai atas Saint Palace
Lion.
Para ksatria
Saint Palace Lion juga hadir di sana, namun anehnya rasa tegang hanya muncul di
awal.
Meskipun suasana
ruang kerjanya sekilas terasa sakral, Ren ingat bahwa gara-gara Estelle,
atmosfernya segera berubah menjadi santai seperti biasa.
"Mungkin
saja, beliau melakukan itu untuk mencairkan ketegangan."
Fiona memberikan
senyum kecil kepada Ren yang sedang bercerita dengan nada sedikit menggerutu,
mencoba menyelami perasaan pemuda itu.
"……Hanya
saja, meskipun sudah menerima medalinya, sekarang benda itu cuma dipajang di
kamar saja."
"Mungkin
karena medali itu bukan jenis barang yang biasa dipasang di seragam...?"
"Benar juga
ya—"
Akademi Militer
Kekaisaran memberikan kebebasan tertentu dalam cara mengenakan seragam.
Faktanya, tidak
sedikit siswa yang berangkat sekolah dengan gaya berpakaian yang unik.
Mengenakan satu
medali saja sebenarnya tidak masalah, namun medali yang ia dapatkan sangat
mencolok. Tentu saja, Ren merasa enggan untuk mengenakannya sehari-hari.
Ditambah lagi,
Estelle sendiri tidak memakai medali kecuali pada jaket seragam militernya.
Ia hanya
memakainya di tempat-tempat yang mengharuskan pakaian formal, dan sepertinya
penerima medali lainnya juga melakukan hal yang sama, jadi Ren mengikuti contoh
tersebut.
"Medali
seperti apa yang Ren-kun terima?"
"Kalau tidak salah... namanya Saint Grimdall Sword
Emblem."
"Kalau itu
aku juga tahu! Jadi karena itulah acaranya di Saint Palace Lion ya!"
Itu adalah medali
yang hanya bisa dianugerahkan oleh Direktur Saint Palace Lion, dengan desain
pedang hitam di bagian tengah yang dihiasi benang emas. Medali ini diberikan
kepada pengguna Great Sword yang telah mencapai tingkat Sword Saint
saat mereka meraih pencapaian perang yang luar biasa.
Hanya saja,
perlakuannya berbeda dengan medali yang dianugerahkan oleh Kekaisaran.
Karena Saint
Palace Lion adalah institusi yang berhubungan dengan sang pendiri Leomel,
"Lion King", negara tidak bisa mencampuri urusannya dengan mudah.
Karena Saint
Palace Lion dianggap sebagai institusi semi-independen, Sword Emblem
tersebut tidak dianggap sebagai medali yang dianugerahkan oleh Kekaisaran.
Kesimpulan Ren
setelah memikirkan perbedaan tersebut adalah...
...Kalau cuma
menjalani hidup normal, kurasa tidak ada pengaruhnya, sih.
Nama Sword
Emblem yang dianugerahkan kepada Ren tersebut berasal dari nama seorang
ksatria buta bernama Grimdall, yang konon kekuatannya hanya kalah dari sang
Lion King.
Ia dikenal
sebagai sosok besar yang paling pantas digunakan namanya untuk memuji
kemunculan Sword Saint baru.
"Saat aku
bilang mungkin medalinya tidak akan kupakai untuk sementara, Estelle-sama
menatapku dengan wajah sedih."
"……Ahaha.
Aku bisa langsung membayangkan ekspresi itu."
Mereka
meninggalkan dua pasang jejak kaki di jalanan yang tertutup salju, terus
melangkah sembari bertukar percakapan ringan. Saat napas putih terus terembus
dari mulut mereka, asrama putri yang mulai terlihat di ujung pandangan juga
telah berhias salju, sama seperti area akademi.
◇◇◇
Setelah
mengantar Fiona ke asrama putri dan selesai berbelanja di Ibukota, Ren melirik
sebuah bangunan besar di sepanjang jalan utama.
Markas Pusat
Kekaisaran Leomel, Guild Petualang.
Di dalam bangunan
tersebut tersedia ruang yang sama dengan guild pada umumnya. Dari sekian banyak
permintaan yang dipasang di seluruh guild petualang di kekaisaran, permintaan
berskala besar bisa diterima di sini.
Begitu melangkah
masuk, Ren melihat interior yang lebih maju dibandingkan dengan Krauzel maupun Erendil.
Sambil memperhatikan sekitar, percakapan yang jarang terdengar di guild lain
masuk ke telinganya.
"Ah tidak,
bagian ini bukan di bawah yurisdiksi Pengadilan Kekaisaran atau Gereja
Elfen────"
"Kami
menerima konsultasi seperti ini dari para bangsawan Barat."
Di sini, berbeda
dengan guild lainnya, banyak terlihat sosok bangsawan, ksatria, dan pegawai
sipil. Hal ini dikarenakan mereka bisa mengajukan permintaan di sini untuk
kemudian dipasang di guild-guild di berbagai daerah.
...Aku pikir
mungkin akan ada sesuatu. ...Tapi sepertinya tidak mudah ditemukan ya.
Sama seperti saat
ia meninggalkan Erendil beberapa waktu lalu, Ren mulai memperhatikan papan
pengumuman dengan tujuan tertentu, namun ia menghela napas karena tidak ada
informasi yang menarik.
Saat ia sedang
melakukan itu, sebuah suara memanggilnya.
"Anda Tuan
Ren Ashton, bukan?"
Suara
seorang wanita yang bekerja di guild ini terdengar dari belakang Ren.
Wanita
itu menunjukkan senyum dewasa saat melihat wajah Ren yang menoleh sembari
menyahut "Ya?".
"Di sini
hanya tersedia permintaan normal, apakah tidak apa-apa?"
Mendengar
kata-katanya yang penuh makna, Ren menjawab dengan nada suara yang menunjukkan
bahwa ia paham maksudnya.
"Aku pikir
di sini mungkin ada informasi tertentu."
"Informasi────
ternyata Anda memang sedang mencari sesuatu ya."
"Ada sedikit urusan. ...Eh, omong-omong, Anda
mengenalku ya."
"Tentu saja.
Karena informasi tersebut juga sampai ke tangan kami."
Informasi yang dimaksud adalah hal-hal yang berkaitan dengan
Saint Grimdall Sword Emblem.
- Izin khusus untuk menerima permintaan
di Guild Ibukota.
- Izin
untuk memasuki Garden of Swords.
Itu adalah hak istimewa yang didapat dari memperoleh Saint
Grimdall Sword Emblem.
Hak ini tidak hanya diberikan kepada Sword Saint yang
menggunakan Great Sword, namun karena Leomel menjamin identitas
seseorang sebagai individu dengan kemampuan tertentu, pihak guild menerimanya
sebagai bukti kredibilitas di atas rata-rata.
Sebenarnya ada beberapa cara lain untuk mendapatkan hak
tersebut, namun semuanya adalah cara istimewa yang tidak mudah dilakukan.
"Jika
Anda mencari permintaan dengan Emblem, silakan datang ke resepsionis di
sana. Kami akan mengantar Anda ke ruang dalam."
Permintaan
khusus yang memiliki cap segel Guild Ibukota pada surat kontraknya. Itu adalah
berbagai permintaan yang lebih profesional, berbeda dengan permintaan khusus
yang pernah Ren terima sebelumnya.
Semuanya,
tanpa pengecualian, melibatkan masalah yang merepotkan atau situasi berbahaya
yang patut diperhatikan.
Dalam Legend
of Seven Heroes, jika berhasil menyelesaikannya, pemain bisa mendapatkan
perlengkapan bagus; semuanya adalah hal-hal yang layak untuk diambil.
Ren masih
memperhatikan papan permintaan bahkan setelah staf guild pergi, lalu ia melirik
jam yang tergantung di dinding.
Sudah
tiga puluh menit ia di sini, dan bagian dalam guild mulai ramai oleh para
petualang yang baru kembali.
Ren
memutuskan untuk meninggalkan guild dan akan datang lagi saat suasana lebih
tenang.
◇◇◇
Angin
dingin membelai pipinya dan menggoyangkan rambutnya.
"Hei,
hei, mau lihat menu baru di toko sebelah sana tidak?"
"Belakangan
ini banyak ya. Mungkin karena sebentar lagi musim semi."
Sambil
mendengarkan suara gadis-gadis berseragam sekolah yang melintas, ia melewati
jalan raya yang ramai. Ren berniat makan malam sekalian di Ibukota, lalu pulang
sebelum terlalu larut.
Sebagai
penutup kunjungannya ke Ibukota, ia berjalan melewati kawasan perkantoran
pemerintahan menuju Saint Palace Lion untuk menyapa Estelle sebelum pergi ke
stasiun.
Saat
melewati jalan, ia hendak melintasi area di mana kuil-kuil berderet.
...Ngomong-ngomong,
ini mungkin pertama kalinya aku kemari.
Berjalan
sendiri di daerah ini untuk pertama kalinya, ia merasa area ini memang dipenuhi
oleh orang-orang seperti pendeta. Musim panas tahun lalu, segel Roses Kaitas
terlepas.
Hingga
kini, hanya sedikit orang yang tahu bahwa Ren dan Licia terlibat dalam hal itu,
namun Gereja Elfen terus mengatakan bahwa keributan itu adalah kehendak Dewa
Utama hingga hari ini.
Kuil
Agung Ibukota yang berada lebih jauh di dalam sana kini jauh lebih ramai oleh
para peziarah dibandingkan sebelumnya.
"Dan juga...
mungkin karena kekuatan Vain."
Tanpa sadar ia
menggumamkan nama keturunan Pahlawan Ruin tersebut. Ren sempat mendengar sedikit tentang kejadian
di kapal sihir keluarga Leonard.
Sebuah
fragmen kekuatan yang ditunjukkan Vain saat insiden Wadatsumi, Sang Utusan
Dewa Agung────.
Kekuatan
yang seharusnya ia gunakan untuk membuat Asvar—yang coba dibangkitkan oleh
Ulysses Ignat—tertidur kembali, serta kebangkitan kekuatan tersebut.
Namun,
karena lawannya adalah Wadatsumi, mungkin itu barulah sekadar pertanda
kebangkitannya saja.
Cahaya
dari lampu jalan bergaya antik warna hitam yang berderet rapi menerangi jalan
Ren yang sedang berjalan sambil melamun. Jejak kaki tertinggal di atas jalan
berbatu yang tertutup salju tipis setiap kali ia melangkah.
Tiba-tiba,
...Eh?
Melihat
seorang wanita yang berjalan dari arah depan, Ren refleks menghentikan
langkahnya. Wanita yang sedang berjalan itu juga melihat Ren, lalu menghentikan
langkahnya.
"────"
"────"
Ren yang
terdiam merasa terkejut hingga tak mampu bersuara, bertanya-tanya mengapa dia
ada di sini. Wanita itu pun menatap Ren dengan perasaan yang sama.
Namun,
sang wanita lah yang mulai melangkah lebih dulu, mendekati Ren. Rambut peraknya
yang murni berkibar lembut setiap kali ia melangkah.
Kecantikan
yang anggun, suci, dan misterius. Hal itu berpadu dengan pakaiannya yang
didominasi warna putih, semakin menonjolkan kemuliaannya.
Sepasang
mata indah yang tak tertandingi oleh permata apa pun menatap ke arah Ren.
Ia
membuka mulutnya beberapa langkah di depan Ren,
"Kau
adalah orang yang aneh ya."
Bibirnya
bergerak sembari ia menatap Ren.
"Aku
bisa tahu kau sudah menjadi jauh lebih kuat sejak saat di Menara Jam Besar
itu."
"……Kenapa
Anda────"
Ren ingin
bertanya mengapa saat itu ia meminjamkan kekuatannya.
Namun, sebelum ia
sempat bertanya, wanita itu sudah mulai melangkah pergi. Saat berpapasan,
wanita itu──── sang Sword King, Lutreche—meninggalkan kata-kata sebagai
pengganti jawaban.
"Sampai
jumpa lagi, di suatu tempat."
Sambil
menggoyangkan rambut peraknya, ia mengarahkan wajahnya yang terlampau cantik
itu ke arah ujung jalan.
Meskipun Ren
berbalik untuk mencari Lutreche, sosok wanita itu sudah tidak ada di mana pun.
Seolah-olah telah menghilang ditelan salju yang turun dari langit musim
dingin──── ia sudah tidak ada di sana lagi.
◇◇◇
Setibanya di
Taman Gantung, stasiun komposit raksasa kebanggaan Erendil, Ren langsung menuju
ke kediaman.
Cahaya jingga
dari lampu-lampu yang berderet di jalan menyinari jalan berbatu yang tertutup
salju.
Kediaman keluarga
Viscount Krauzel juga berhias salju sama seperti jalanan, dan salju putih
menumpuk di rumput taman.
Saat ia masuk ke
kediaman dan berjalan di koridor, seorang gadis muncul dan menyapanya.
"Selamat
datang kembali, Ren."
Nona muda yang
dikenal dengan nama White Saintess──── Licia Krauzel.
Rambutnya yang
sewarna campuran amethyst dan perak berkilau lembut diterpa lampu malam,
dan sepasang mata sapphire yang mampu meredupkan permata apa pun
berkilau dengan penuh kebanggaan.
Penampilannya
yang anggun dan semarak itu tampak memesona seperti peri, membuatnya menjadi
sosok yang paling pantas menyandang gelar Saintess.
Ren yang baru
bertemu kembali dengan gadis itu setelah berpisah sejak pagi tadi menyapa,
"Aku pulang," lalu bertanya.
"Keretanya
tidak ada di luar, ke mana Lezard-sama dan yang lainnya?"
"Mereka
pergi ke Ibukota untuk urusan pekerjaan. Kalau tidak salah, berangkatnya sesaat sebelum
sore tadi."
"Begitu
ya... pantas saja."
Sambil
berkata demikian, Ren memandang ke luar jendela. Di sampingnya, Licia menatap
profil wajah pemuda itu dari samping.
Licia
menyadari kalau dirinya sekarang harus sedikit lebih mendongak untuk menatap
Ren dibandingkan sebelum libur musim dingin dimulai. Padahal hal seperti ini pasti sudah ia alami
setiap kali musim berganti, tapi ia tetap saja merasa segar merasakannya.
"Apa kamu
berhasil menemukan buku yang ingin kamu baca?"
"Ketemu
kok. Tapi────"
Ren
mengangguk sambil mengingat kembali.
"Sepertinya
buku itu sangat populer. Pustakawan bilang buku itu baru saja dipinjam orang
lain sampai kemarin."
"Begitu
ya... aku jadi ikut penasaran."
"Mau coba
baca duluan?"
"Ih. Itu kan
buku yang kamu pinjam. Aku baca setelah kamu selesai saja tidak apa-apa."
"Kalau
begitu, nanti kalau aku sudah selesai baca akan kubawakan ya."
"Iya. Aku
menantikannya."
Licia merasa
senang meski hanya karena janji kecil yang mereka buat. Kemudian, ia mengubah
topik pembicaraan dengan sikap yang lebih serius.
"────Lalu,
apa hari ini kita juga akan melakukannya sebelum tidur?"
Ren yang sudah
bisa menebak apa yang dimaksud langsung menjawab, "Mari kita
lakukan."
Waktu telah
melewati pukul sepuluh malam. Tak lama lagi akan tiba waktunya bagi Ren dan
Licia untuk tidur.
Saat ini, Licia
dan Ren sedang tekun menjalani sebuah latihan di aula kediaman.
Semenjak insiden
Roses Kaitas, Licia sempat merasa enggan untuk menggunakan Holy Magic.
Ia
mengonsultasikan hal itu kepada Kepala Akademi, Chronoa.
Selain itu,
setelah berbicara dengan seorang peneliti bernama Lagna—si pengembara tas yang
mengepalai laboratorium di Departemen Misteri—saat di Eupheim, Licia akhirnya
memulai kembali latihan Holy Magic sejak memasuki libur musim dingin.
Atas saran Kepala
Akademi Chronoa, Ren dan Licia melakukannya sedikit demi sedikit berdua.
"Hei, hei,
tidakkah menurutmu efeknya jadi lebih kuat kalau aku menggunakannya
padamu?"
Hal itu mulai
mereka sadari setelah memasuki paruh kedua libur musim dingin ini.
Terkadang, Yuno
juga ikut menemani latihan Licia. Namun, meski Licia merapal Holy Magic
dengan tingkatan yang sama, entah kenapa sihir itu mengeluarkan khasiat yang
jauh lebih tinggi jika ditujukan kepada Ren.
"Aku sempat
mengira itu cuma perasaanku saja, tapi ternyata benar ya."
"Tapi...
kenapa bisa begitu ya?"
"……Aku juga
kurang paham, tapi mungkin karena saat di Roses Kaitas dulu, aku sempat memaksa
batu sihirmu untuk patuh."
"Maksudnya,
batu sihirku sudah direbut oleh Ren?"
Licia bertanya
sambil melemparkan senyuman.
"Lebih ke
arah, 'karena terpaksa, aku akan mendengarkanmu sedikit', mungkin seperti
itu?"
"He-hei!
Kurasa aku jauh lebih jujur kepada Ren, tahu!"
"I-itu kan
cuma perumpamaan saja!"
"……Hmph.
Tapi bagaimanapun juga, intinya Holy Magic milikku bekerja lebih kuat
padamu, kan?"
Meski jelas
sekali kejadian di Roses Kaitas ada hubungannya, alasan pastinya masih belum
diketahui. Bahkan Chronoa pun hanya bisa memiringkan kepala saat mendengar hal
ini.
Setelah itu,
latihan pun berlanjut, namun lama-kelamaan waktu untuk mengobrol jadi lebih
banyak.
Karena ini demi
Licia yang sempat enggan memakai Holy Magic, berlatih sambil bersantai
seperti ini justru memberikan efek yang lebih baik.
Hanya saja, demi
merapal Holy Magic dengan lebih maksimal, terkadang Licia harus
menggenggam tangan Ren. Dan jika terus melakukannya...
"……Ah."
"Licia? Ada
apa?"
"Tidak! Aku
cuma berpikir... kalau latihannya sudah selesai hari ini!"
Saat latihan
berakhir dan pegangan tangan mereka terlepas, Licia merasa sedikit sulit karena
rasa enggan untuk berpisah jadi lebih kuat dari sebelumnya.
"Kalau
dipaksakan nanti kamu malah kelelahan."
"……Karena
pikiran kita benar-benar tidak sejalan, aku hampir saja keceplosan
mengatakannya."
"Tidak
sejalan?"
"Iya. Tapi
tidak apa-apa. Ini semua cuma masalah perasaanku saja."
Padahal
masalahnya bisa selesai hanya dengan menggenggam tangan Ren tanpa memikirkan
soal latihan.
Namun, bagi
Licia, kesulitannya justru ada pada ketidakmampuannya untuk melakukan hal itu
secara terang-terangan.
Saat Licia masih
merasa enggan untuk mengakhiri momen itu, terdengar suara dari luar aula.
Karena latihan
memang baru saja selesai, mereka berdua keluar dan bertemu dengan seorang pria
di koridor.
Lezard Krauzel.
Ayah Licia yang belum lama ini diangkat menjadi Viscount. Beliau adalah
bangsawan dari faksi netral yang mengelola dua wilayah sekaligus: Erendil dan
wilayah Krauzel yang letaknya cukup jauh.
"Apa
kalian berdua berlatih lagi hari ini?"
"Baru saja
selesai. Bagaimana dengan pekerjaan Ayah?"
"Pekerjaan
sih, tapi lebih ke arah diskusi. Para bangsawan berkumpul untuk membahas
hal-hal mendesak pasca-insiden Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung."
Pertemuan itu
memang sudah dijadwalkan terkait dengan keributan yang terjadi di musim dingin.
Teringat akan
suasana rapat tersebut, Lezard menghela napas dengan ekspresi pahit yang sulit
dijelaskan.
"Ada yang
mengeluh soal siapa yang mengirim lebih banyak pasukan, siapa yang tidak... Aku mengerti perasaan mereka, tapi
hal seperti ini tidak bisa dihindari."
Semenjak
insiden di Pegunungan Baldur, konflik terbuka antar faksi mulai berkurang.
Saat
keributan kala itu, banyak bangsawan yang bekerja sama tanpa memandang faksi
demi menyelamatkan anak-anak mereka, dan pengalaman tersebut membawa pengaruh
yang tidak kecil bagi masyarakat bangsawan. Meski begitu, percikan konflik
faksi terkadang masih terlihat di sana-sini.
"Diskusi
di balai sidang sempat memanas sampai atmosfernya terasa berbahaya. Tapi, tepat
saat itu, Marquis Ignat datang."
Kala itu,
sang Marquis yang menampakkan diri di balai sidang berujar dengan nada seolah
merasa bersalah.
"Suara
kalian terdengar sampai ke luar, ya. Rapatnya terlihat sangat penuh
gairah."
Entah
karena merasa disindir untuk mendinginkan kepala, atau karena merasakan tekanan
bawah sadar dari sosok bernama Ulysses Ignat itu. Setelahnya, diskusi berlanjut
dengan suasana tenang dan mereka bisa menghabiskan waktu dengan konstruktif.
◇◇◇
Keesokan
paginya, angin yang sangat dingin menerpa pipi Ren saat ia membuka jendela. Ia
segera mandi, bersiap-siap, lalu sarapan.
Dalam
perjalanan menuju aula depan, Yuno sang pelayan menampakkan diri.
"Oya?
Ren-sama?"
Sama seperti Ren
dan Licia, wanita ini juga pindah dari Krauzel ke Erendil. Bagi Licia, sosok
Yuno yang sudah menemaninya sejak kecil sudah seperti kakak sendiri.
"Penampilan
Anda tidak terlihat seperti orang yang akan pergi ke jalan utama atau Ibukota,
ya."
"Aku
berencana pergi ke luar kota sebentar."
"Begitu ya.
Saljunya sudah mulai reda, tapi tolong berhati-hatilah──── meski rasanya agak
lancang jika aku yang mengatakannya."
Mungkin
kekhawatiran semacam itu tidak perlu diberikan kepada Ren yang kini telah
menjadi seorang Sword Saint.
Ren memberikan
senyum kecut kepada Yuno yang tertawa manis itu.
"Tidak
begitu kok. Aku senang karena kamu mengkhawatirkanku."
Setelah itu,
barulah Ren benar-benar meninggalkan kediaman.
Saat menuju ke
kandang kuda di bagian belakang rumah, ia melihat Io, seekor kuda yang baru
saja menyelesaikan sarapannya.
Io awalnya adalah
kuda yang dibawa oleh Yerukuk, tapi sekarang ia sudah sangat jinak kepada
orang-orang keluarga Krauzel.
Karena memiliki
darah monster, pertumbuhannya sangat cepat. Ukuran tubuhnya kini lebih besar
dari kuda biasa, dengan bulu indah yang berkilau seperti sutra di bawah sinar
matahari musim dingin.
Begitu
Ren mengulurkan tangan, Io meringkik pendek dengan nada senang.
Sambil
menuntun Io, Ren melewati gerbang depan dan berjalan menyusuri jalan utama.
Karena
memacu kuda di tengah kota saat situasi tenang akan sangat mengganggu, ia
berjalan pelan sampai ke gerbang yang menuju ke luar kota.
Begitu
meninggalkan Erendil, ia menaiki punggung Io dan merasakan hembusan angin.
Awalnya pelan.
Namun lama-kelamaan ia membiarkan Io berlari sesuka hatinya, memacu langkah di
sepanjang jalan raya yang tertutup salju.
Untungnya,
saljunya tidak terlalu dalam. Karena hari ini relatif hangat, salju pun mulai
mencair sedikit demi sedikit.
Meski salju tetap
menumpuk pun sebenarnya tidak masalah bagi Io, tapi tentu lebih baik jika
jalannya mudah dilalui.
Beberapa lama
kemudian──── Ren menghabiskan waktu lebih banyak daripada saat tidak ada salju.
Yang terlihat di
depan mata Ren sekarang adalah gunung tempat para pengikut Kultus Dewa Iblis
bersembunyi sebelumnya.
Gunung itu
dipenuhi lubang-lubang hasil galian monster bernama Forest Worm, dan para
pengikut sekte tersebut menggunakan lubang yang sudah ditinggalkan sebagai
tempat persembunyian.
Namun, Ren tidak
datang ke bekas markas mereka, melainkan terus melaju masuk lebih dalam ke
pegunungan.
Area ini
seharusnya menjadi tempat munculnya monster yang lumayan kuat dibandingkan di
dekat jalan raya, tapi...
"……Mungkin
karena musim dingin, ya."
Hampir tidak ada
tanda-tanda keberadaan monster sama sekali.
Bukannya tidak
bertemu sama sekali, tapi monster-monster yang sesekali muncul bisa diusir
dengan mudah hanya dengan satu ayunan pedang Ren dari atas kuda. Terlebih lagi,
monster yang memahami perbedaan kekuatan sama sekali tidak berani menampakkan
diri.
"Rasanya
lebih sunyi dari perkiraanku."
"Prrrff."
Setelah melewati
area pegunungan dan menuruni dataran tinggi musim dingin, Io kembali membelah
angin dengan perasaan nyaman.
Ren
memasuki ngarai yang terlihat di ujung dataran.
Sudah
cukup lama sejak ia berangkat dari kediaman, namun ini lebih cepat dari jadwal
yang ia perkirakan untuk musim dingin. Ren dibuat takjub oleh ketangguhan Io.
"Hebat
ya, padahal ini musim dingin."
Meski jalannya
sulit, kekuatan kakinya luar biasa. Ren memuji Io dengan nada kagum.
Di sisi lain, Io
yang diajak bicara malah asyik mengunyah rumput yang tumbuh di tanah. Ia
sengaja menggali rumput yang tertimbun salju dan mengunyah rumput beku itu
dengan lahap.
"Kamu suka
rumput beku juga?"
"Prrrff."
"……Begitu
ya."
Kalau begitu,
tidak perlu dipaksa berhenti. Mengingat Io sudah sarapan dengan porsi cukup,
mungkin ini rasanya seperti sedang makan camilan.
Awalnya Ren ingin
melarangnya karena takut perutnya sakit jika makan terlalu banyak, tapi Io
cukup pintar sehingga Ren merasa kudanya bisa menahan diri sendiri.
"Sudah
waktunya berjalan kaki."
Meski Io bisa
berlari di pegunungan, Ren tidak berniat memaksanya berlari di medan seperti
ngarai.
Setelah turun
dari punggung Io, Ren menarik tali kekang dan menginjak salju sambil
memperhatikan sekeliling dengan saksama.
Kedalaman salju
yang menumpuk kira-kira setinggi mata kaki. Karena ini medan alami, Ren sempat
khawatir saljunya akan sangat dalam sampai tidak bisa dilewati, namun ternyata
kekhawatirannya tidak terbukti.
Sambil
berhati-hati agar tidak terpeleset di lereng bebatuan yang membentang di
kiri-kanan, ia menyelesaikan perjalanan selama satu jam itu.
Ke mana pun ia
memandang, pemandangan serba putih memenuhi penglihatan Ren. Meskipun yang
terlihat hanyalah pemandangan yang serupa secara terus-menerus, ia tidak merasa
bosan. Sebaliknya, ia dibuat kagum oleh keindahan alam yang tak tersentuh
manusia.
Di antara semua
itu, yang membuat Ren bergumam, "Jadi di sini────" adalah angin yang
berhembus di bagian terdalam ngarai.
Angin itu berwarna biru pucat. Setiap kali berhembus
mengikuti sinar matahari, angin itu akan berpendar biru redup—sebuah angin yang
bisa dilihat dengan mata telanjang.
Jalan menuju pedalaman akhirnya terputus, dan Ren
menghentikan langkahnya di tempat di mana ia bisa memandang seluruh ngarai.
Di sekitar sini, angin biru tersebut warnanya semakin pekat,
bertiup kencang dan saling melilit satu sama lain. Sebuah pemandangan alam liar
yang menyiratkan keganasan di balik pemandangan musim dingin yang indah.
Bahkan jika ingin melangkah lebih jauh pun, pandangan sudah
terhalang total sejauh sepuluh meter ke depan.
Perpaduan warna angin dan salju yang beterbangan memberikan
ilusi seolah-olah ia sedang berjalan di tengah badai salju yang mengamuk.
...Ternyata tempat ini tidak berubah ya.
Ren teringat akan pemandangan yang tersisa di sudut
memorinya.
Setelah membiarkan Io menunggu di tempat yang jauh dari
hembusan angin, ia meletakkan tas yang selalu dibawanya saat bepergian ke atas
salju. Sambil membayangkan sebuah Magic Sword tertentu, ia mengulurkan
satu tangannya dengan ringan.
Yang terpanggil di hadapannya adalah Magic Sword yang
baru saja ia dapatkan belum lama ini.
Itu adalah salah satu fragmen musim dingin, tak lama setelah
pertempuran melawan Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung────.
Kejadiannya saat Ren dan dua orang gadis pergi untuk
memeriksa kondisi pantai tepat setelah meninggalkan Eupheim.
Setelah
pertempuran usai, beberapa kapal perang masih berpatroli di laut. Di sebuah
tempat sunyi yang tersembunyi di tanjung yang hancur sebagian akibat
pertempuran, tersembunyi dari pandangan kapal-kapal tersebut.
"……Indah
sekali."
"Hebat────
benar-benar seperti permata."
Fiona dan
Licia berujar serentak.
Yang
berada di ujung pandangan mereka adalah Water Magic Sword yang dipanggil
oleh Ren.
Water
Magic Sword itu
memiliki keagungan menyerupai permata yang warnanya bisa terlihat seperti
langit maupun warna laut yang pucat.
Sosoknya
yang mengingatkan pada permata yang dipoles sempurna itu mungkin bisa
dikategorikan sebagai pedang panjang.
"Sepertinya... ini adalah Water Magic Sword."
Magic Sword yang terpanggil itu melayang di depan
Ren. Saat ia menggenggam gagangnya, bilah pedang yang berwarna biru cerah itu
semakin bersinar. Pedang ini terasa lebih ringan dari Magic Sword mana
pun, dan saat diayunkan, sensasinya terasa sangat berkesan.
"Karena ini elemen air, apakah bisa menggunakan Water
Magic?"
"Mengingat Fire Magic Sword, aku juga jadi
penasaran soal itu."
Wajar saja jika
kedua gadis yang mengetahui kekuatan Ren itu merasa penasaran. Namun,
saat Ren mencoba mengayunkan Water Magic Sword tersebut...
"……Eh."
Melihat kekuatan
yang jauh lebih lemah dari bayangannya, Ren kehilangan kata-kata.
Air memang muncul
mengikuti ayunan pedang, tapi ombak yang mencapai garis pantai di musim dingin
jauh lebih bertenaga, sehingga pedang ini terlihat tidak bisa digunakan untuk
bertarung. Hanya percikan air lemah yang tercipta, bahkan rasanya enggan untuk menyebutnya
sebagai sebuah sihir.
"Pa-pasti
nanti akan berbeda kalau sudah terbiasa menggunakannya!"
"I-iya! Kan
ini masih pertama kalinya... ya?"
"……Be-benar
juga ya!"
Ren masih ingat
dengan jelas ekspresi dan suara mereka berdua yang mencoba menghiburnya.
◇◇◇
Setelah puas
mengenang kejadian di Eupheim, Ren menggenggam Water Magic Sword dan
menarik napas dalam-dalam.
Sesaat, aliran angin biru berubah. Angin itu menyadari
keberadaan Water Magic Sword dan mulai melilit bilahnya.
Meski Ren berharap sesuatu akan terjadi, hal itu hanya
berlangsung sesaat. Angin yang mendekati bilah pedang segera menjauh, kembali
mengalir saling bertumpuk seperti sepuluh detik yang lalu.
Alasannya sengaja datang jauh-jauh ke sini adalah karena ada
sesuatu yang ingin ia coba dengan memanggil Water Magic Sword.
Di sekitar sini, air yang memancar dari bawah tanah
menyimpan kekuatan sihir Dewi Air, sehingga warna angin di sekitarnya pun ikut
terpengaruh. Mengikuti aliran angin, titik di mana konsentrasinya paling tinggi
adalah tempat Ren berdiri sekarang.
Karena itulah ia berharap akan terjadi perubahan pada Magic
Swordnya.
"……Gagal ya—"
Ren menjatuhkan bahunya karena kecewa, lalu tersenyum kecut.
Ia mencoba mengayunkan Magic Sword itu lagi, namun tidak ada perubahan
berarti yang ia rasakan. Tanpa sadar, suara kering "……Sayang sekali"
keluar dari mulutnya.
"Sepertinya tidak ada efek khusus meski di hari Holy
Day of Water sekalipun."
Itu adalah salah satu hari libur di Leomel, hari yang
diyakini sebagai kelahiran Dewi Air. Konon, pada malam hari Holy Day of
Water, kekuatan sihir air di berbagai tempat akan meningkat.
"Kuu~?"
Yang menyahut suara Ren barusan adalah Kukulu, yang biasanya
berada di kediaman.
Beberapa tahun
lalu saat Ren pergi berburu, Kukulu menyelinap secara rahasia. Namun hari ini,
ia sudah mendapatkan izin resmi dari Ren untuk ikut bersembunyi di dalam tas.
Melihat Ren yang
sudah selesai bersiap-siap untuk pergi, Kukulu memohon agar diizinkan ikut
masuk ke dalam tasnya.
"Tadinya aku
pikir akan berhasil, tapi sepertinya tidak bisa."
"Kuu~……"
Meski tidak paham
apa tujuan Ren, Kukulu mengerti kalau pemuda itu sedang kecewa. Ia melayang
perlahan mendekati pipi Ren, lalu membenturkan dahinya dengan lembut. Sosok
Kukulu yang menunjukkan rasa kasih sayang seperti seekor kucing itu terlihat
sangat manis.
"Terima
kasih."
Ren berujar
demikian sambil mengelus lembut dahi Kukulu.
Mengingat Kukulu
dan Io jarang bisa bebas bergerak di luar, Ren memutuskan untuk menghabiskan
waktu lebih lama di sini. Hari itu, suhu udara mulai naik seiring mendekatnya
tengah hari. Ren merasa sedikit gerah dan melepas beberapa kancing mantelnya.
Sambil bersantai
di atas batang kayu tumbang yang dijadikan kursi, Kukulu memperhatikan angin
yang berwarna pekat itu dengan penuh minat.
"────"
Sepertinya Kukulu
menyadari keberadaan jalan yang menuju lebih dalam lagi.
Namun, karena
anginnya terlalu kuat, mereka tidak bisa masuk lebih dalam di musim ini.
Ren memberi tahu
Kukulu kalau mereka baru bisa masuk saat musim semi tiba ketika anginnya lebih
tenang.
"Ini bukan
sihir, jadi Star Slasher milikku pun tidak bisa menghalaunya."
Kukulu sempat
menoleh ke arah Ren seolah ingin patuh, tapi kemudian ia menunjukkan ekspresi
yang seolah sedang membanggakan sesuatu.
Sambil tetap
melayang di udara, ia menggerakkan tubuhnya dengan lincah seolah sedang
membelai angin.
"Anu...
Kukulu?"
Meski Kukulu
sudah memantapkan posisinya sebagai monster peliharaan yang manis di keluarga
Krauzel, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.
“Sepertinya
ini adalah sebutir telur. Permukaannya yang tampak seperti cangkang sangat
keras hingga pedang ternama mana pun takkan sanggup melukainya, dan jika
disentuh, akan terasa kekuatan yang luar biasa. Jika dipersembahkan energi
sihir yang melimpah dan tanduk Naga yang agung, mungkin telur ini bisa
ditetaskan. Saat ia lahir kelak, ia pasti akan bersumpah setia sepenuhnya
kepada tuannya.”
Penjelasan
tentang Azure Orb of Selakia kembali terlintas di kepala Ren setelah
sekian lama.
Azure Orb konon merupakan telur tempat
bersemayamnya monster yang kekuatannya mampu menyulitkan Raja Iblis dengan
kekuatan es dan kegelapan yang absolut.
Kukulu yang
menetas dari telur itu tentu saja adalah monster yang istimewa.
Aliran angin biru
itu melambat, lalu berubah menjadi kabut putih yang jatuh ke tanah. Melihat hal
itu, Kukulu tertawa senang ke arah Ren.
"Sejak kapan
kamu jadi sekuat ini?"
"Kuu~?"
"……Melihat
reaksimu, sepertinya kamu pun tidak menyadarinya ya."
Ren merasa baru
saja diperlihatkan fenomena langka, entah Kukulu menghapus energi sihir di
udara dengan kekuatan yang lebih besar atau menimpanya.
Seolah ingin
menunjukkan eksistensinya sebagai monster langka, Kukulu yang sangat ingin
masuk ke bagian dalam terus terbang berputar-putar di sekitar kepala Ren.
Bagi Ren sendiri,
jika anginnya sudah tenang, tidak ada alasan baginya untuk ragu melangkah maju.
Jalan bersalju
yang ia lalui bersama Kukulu dan Io memiliki salju yang lebih dalam dari
sebelumnya karena tadinya terlindungi oleh angin.
Meski sempat
sedikit kesulitan saat berjalan, setelah beberapa puluh menit, mereka akhirnya
sampai di tepi tebing.
Yang menanti
mereka di sana adalah pemandangan terbuka luas di ujung ngarai. Hutan yang
membentang luas dan deretan pegunungan.
Alam liar tempat
sungai besar mengalir itu merupakan pemandangan musim dingin yang lebih megah,
agung, dan indah dari apa pun yang pernah mereka lihat.
Angin
berhembus dari ketinggian tempat Ren berdiri.
Angin pekat tadi
sudah tenang karena pengaruh Kukulu. Angin itu seolah-olah menjadi anak kucing
yang dipanggil oleh induknya, menuju ke arah suara itu──── memulai perjalanan
ke suatu tempat.
Seharusnya ini
adalah pemandangan yang tidak bisa dilihat selama musim dingin, namun berkat
jasa Kukulu, mereka bisa menyaksikannya.
Dulu, ada seorang
tokoh besar yang sangat menyukai pemandangan indah di sini. Dalam buku yang
pernah Ren baca, tertulis begini:
"Di zaman
Seven Heroes dulu, seorang penyair keliling bernama Mudie melihat pemandangan
dari sini dan berkata, 'Angin sedang pulang ke tempat peristirahatannya'."
Sambil
mendengarkan cerita itu, Kukulu mendongak ke langit, mengkhawatirkan ke mana
angin itu pergi.
Padahal Kukulu
mungkin tidak benar-benar paham, namun ia mengangguk seolah mengerti perkataan
Ren dan terus memperhatikan arah perginya angin.
"Mau coba
pergi ke sana?"
"……Kuu~."
Kukulu menjawab
dengan nada yang seolah tidak terlalu tertarik, lalu tak lama kemudian ia
terbang menuju Io yang sedang mencari makan di dekat sana.
Di sisi lain, Ren
menatap arah perginya angin sambil berujar pelan.
"Padahal aku
merasa bagaimanapun juga aku harus pergi ke sana."
Ia mengungkapkan
isi hatinya tanpa ditujukan kepada siapa pun. Seolah ingin menyahuti hatinya,
suara desiran angin melewati telinganya.
Tiba-tiba, dengan
lebih kuat dari sebelumnya──── angin yang berwarna-warni itu mengangkat rambut
Ren dengan lembut, lalu terbang tinggi menuju langit biru tua yang luas dan
awan-awan yang bertebaran di sana.
Ren yang menahan
poni rambutnya dengan satu tangan menatap arah perginya angin tersebut, lalu...
"────Windea,
tempat air dan angin bersemayam."
Sebuah nama dari tempat yang istimewa bahkan di dalam Leomel. Ia menghembuskan napas putih setelah menyebutkan nama tanah yang konon menjadi tempat energi sihir para dewa beristirahat itu.



Post a Comment