NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Chapter 2

Chapter 2

Teman yang Akan Menjadi Putra Mahkota


Tiga orang remaja tampak berjalan menyusuri koridor penghubung di akademi.

Jika bukan masa libur panjang, koridor ini pasti akan dipadati para murid, namun sekarang suasananya hampir sepi tanpa lalu lalang.

Hanya terlihat satu-dua murid yang datang untuk mengikuti kelas tambahan selama liburan musim dingin seperti Ren dan kawan-kawan, membuat suara langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong.

Begitu Ren selesai menceritakan kejadian tempo hari sembari berjalan, Fiona pun menyahut.

"Ren-kun, kamu memang terus memikirkan soal Magic Sword itu, ya."

Water Magic Sword adalah pedang yang didapatkan dari batu sihir milik roh air, Undine.

Lebih tepatnya, kekuatan itu didapatkan secara tidak langsung setelah mengalahkan Wadatsumi, utusan dewa raksasa yang diduga telah diperkuat dengan memakan batu sihir tersebut.

Namun, seperti yang sudah diuji, kekuatannya terlalu lemah untuk disebut sebagai Magic Sword.

"Sejujurnya, aku merasa seharusnya aku bisa menggunakan kekuatan air yang sedikit lebih kuat dari itu."

"Ahaha…… benar juga, ya……"

Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan Flame Magic Sword, perbedaannya sangat jauh hingga rasanya tidak sopan untuk menyandingkan keduanya.

Seandainya mereka mencoba membandingkannya, mungkin Asvar—sumber kekuatan Flame Magic Sword—akan bangkit kembali karena saking murkanya.

"Tapi, mungkinkah Flame Magic Sword itu yang memang terlalu luar biasa?"

"Aku juga berpikir begitu! Bagaimana menurutmu, Ren?"

Fiona menyaksikannya di Pegunungan Baldor, sedangkan Licia di Roses Kaitas; keduanya melihat sendiri betapa dahsyatnya kekuatan Flame Magic Sword itu. Karena itulah ingatan tersebut masih sangat segar.

"Mungkin saja, tapi…… kalau benar begitu, rasanya agak menyedihkan."

Karena pedang itu menyandang nama sebuah atribut, Ren pun tidak bisa menahan diri untuk menaruh harapan besar padanya.

"────Ngomong-ngomong, apa kamu bisa langsung menguasai Flame Magic Sword sejak awal?"

"Tidak, awalnya aku sama sekali tidak bisa memakainya. Saat di Pegunungan Baldor itu ada alasan lain…… lagipula, waktu itu wujudnya bukan sekadar Flame Magic Sword biasa."

"Maksudnya?"

"Kekuatannya jauh lebih hebat dari Flame Magic Sword yang biasanya, tapi aku sendiri sama sekali tidak tahu detailnya."

Ren tidak pernah lupa nama pedang api Asvar, namun meski tahun demi tahun telah berlalu, ia tetap tidak tahu alasan mengapa namanya berubah. Di sudut hatinya, ia merasa kekuatan Black Priestess milik Fiona sempat bereaksi saat itu, namun hal tersebut masih belum pasti.

Sang Saintess dan Miko yang mengetahui rahasia kekuatan Ren bertanya-tanya, apakah itu merupakan fenomena yang mirip dengan evolusi Magic Sword.

Fiona yang menyimak cerita itu kembali bertanya kepada Ren.

"Apa ada pemicu tertentu sampai kamu bisa mahir menggunakan Flame Magic Sword?"

"Beberapa tahun lalu, setelah aku membuat pelindung tubuh dari material milik Asvar."

Namun belakangan ini, meski tidak mengenakan perlengkapan tersebut, ia sudah jauh lebih mahir menguasai Flame Magic Sword dibanding dulu. Hal itu kemungkinan besar karena ia sudah terbiasa dan adanya faktor pertumbuhan Ren sendiri.

"Dulu Flame Magic Sword itu sangat merepotkan karena konsumsi tenaganya terlalu besar. Berkat perlengkapan itu, bebannya sedikit berkurang sehingga jadi lebih mudah digunakan…… kira-kira begitu."

"Begitu rupanya…… mungkinkah karena itu berhubungan dengan kekuatan Asvar?"

Berbeda dengan saat itu, Water Magic Sword kali ini bukannya sulit dikendalikan karena menguras tenaga secara berlebihan. Justru, kekuatan yang memenuhi tubuh Ren hampir tidak terkuras sama sekali.

"Mungkin saja…… ada sesuatu yang diperlukan, seperti material Asvar dulu."

Fiona menggumamkan itu dengan nada suara seolah baru saja menyadari sesuatu.

Licia, bahkan Ren sendiri, berpikir bahwa kemungkinan tersebut memang ada.

Namun, jika hipotesis yang diucapkan Fiona benar, maka akan muncul masalah baru.

"Kalau begitu, aku harus mulai dari mencari Undine, dong."

"Ahaha…… tapi rasanya mustahil mencarinya, dan kalaupun ketemu, dia bukan lawan yang bisa diajak bertarung, kan……"

Jika dibiarkan begini, Water Magic Sword hampir tidak ada gunanya, dan rasanya sulit membayangkan pedang itu akan berperan besar di masa depan.

Ketiganya tidak mengatakannya secara gamblang, namun fakta itu sudah sangat jelas.

"Daripada mencari Undine, aku rasa lebih baik mencari barang-barang yang berkaitan dengan Dewi Air."

Ide itu muncul di benak Ren karena kalimat yang menyertai Water Magic Sword tersebut.

“Itu adalah kekuatan yang dijatuhkan oleh Dewi Air.”

Mungkin karena merasa hipotesis kali ini masuk akal, kedua gadis itu mengangguk pelan.

"Jadi itu sebabnya kemarin kamu pergi jauh diam-diam?"

"……Kok nadanya agak tajam, ya?"

"Masa? Perasaanmu saja kali."

"……"

"Jangan melihatku dengan tatapan curiga begitu, kubilang itu cuma perasaanmu."

Meskipun itu Ren, ia tahu jelas bahwa itu bukan sekadar perasaannya saja.

Karena ia pun sempat berpikir seharusnya ia berpamitan dulu pada Licia sebelum berangkat, Ren tidak berniat membela diri.

Saat Ren memalingkan wajah dari sang White Saintess yang sedang tersenyum manis, pandangannya tertuju pada sang Black Priestess yang sedang menempelkan telunjuk di bibir ranumnya sembari berpikir, lalu berkata.

"Aku juga──── karena sekarang mumpung liburan musim dingin, aku akan senang jika kamu memberitahuku."

Meski ada perbedaan nuansa emosi di antara kedua gadis itu, inti pemikiran mereka hampir sama.

"Justru karena liburan musim dingin, aku merasa tidak enak kalau sampai mengganggu kalian……"

"……Mungkin di situ letak kesalahanmu?"

"Kenapa jadi begitu!?"

"……Jawabannya rahasia."

Ren mencoba mengungkapkan isi hatinya yang tulus bukannya sekadar alasan basa-basi, namun niatnya malah bertolak belakang dengan perasaan para gadis yang justru ingin diajak pergi karena sekarang adalah masa liburan.

Tentu saja, baik Licia maupun Fiona tidak benar-benar marah; mereka hanya sedang menggodanya.

"Selain itu, kita juga harus memastikan tentang Sword of Authority, kan?"

"Benar juga…… aku harus mencari cara untuk memastikan efeknya."

Sword of Authority adalah bukti bahwa seorang pengguna pedang besar telah menjadi Sword Saint. Sebuah Arts tempur baru yang sempat ia lepaskan saat melawan Wadatsumi, sang utusan dewa raksasa.

Berbeda dengan Star Slasher yang bisa melenyapkan sihir, efek dari teknik ini konon berbeda-beda tergantung penggunanya. Selain daya hancur yang luar biasa, teknik ini juga menghasilkan gelombang energi dengan kekuatan spesial.

"Sejauh ini, yang kita tahu baru warna gelombangnya saja."

Warna gelombang energi itu pun memiliki perbedaan individu, dan dalam kasus Ren, warnanya tergolong sangat langka.

"Kalau tidak salah, warna perak……"

"Dan hitam pekat…… kan?"

Dalam kasus Ren, warnanya terdiri dari dua warna yang disebutkan secara bersamaan oleh White Saintess dan sang Black Priestess.




"……Tapi, kenapa harus warna kami!?"

"……Yah, syukurlah bukan cuma satu warna sih……."

Tanpa mengucapkannya, mereka hanya menggumamkan itu di dalam hati.

Seandainya pancaran gelombang Sword of Authority milik Ren hanya berwarna perak murni, atau hitam pekat saja, mereka mungkin akan tenggelam dalam perasaan yang aneh.

Fakta bahwa itu adalah warna yang melambangkan mereka berdua, dalam arti tertentu, adalah hal yang bagus──── meski bisa juga dibilang mereka sudah terlalu nyaman dengan situasi ini.

"Tentang warna gelombang itu, pada akhirnya belum diketahui ya bagaimana cara menentukannya?"

"Sepertinya begitu. Estelle-sama bilang hal itu sudah diteliti sejak lama, tapi belum ada penjelasan yang pasti."

Itu adalah cerita yang baru saja Ren dengar saat ia dianugerahi medali tempo hari.

"Aku sudah mencoba beberapa kali, mengira mungkin efeknya mirip dengan sihir yang terlintas di pikiranku…… tapi semuanya berbeda. Sepertinya tidak ada cara lain selain mencobanya satu per satu, jadi aku akan melakukannya pelan-pelan."

"……Mencari tahu soal itu pun sepertinya sulit, ya."

Ada perasaan bahwa gelombang perak dan hitam itu menyimpan kekuatan yang spesial.

Ren berharap dalam waktu dekat perasaan itu bisa berubah menjadi sebuah kepastian.

Meski efek dari Sword of Authority milik Ren juga membuat penasaran, pembicaraan kembali beralih ke barang-barang yang berkaitan dengan Dewi Air.

"Kalau barang yang berkaitan dengan dewa, berarti itu adalah Relik. Kebanyakan pasti berada di bawah pengawasan kuil atau negara."

"Ada juga barang yang dimiliki oleh bangsawan, tapi tetap saja mencarinya mungkin akan sulit."

Meski masa depannya belum jelas, Ren yang mendengar hal itu tidak terlalu ambil pusing.

Beberapa hari lalu ia sempat kecewa karena tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, namun selain cara mendapatkan barang Dewi Air, ia juga teringat di mana letak barang yang ia pikirkan itu.

Yaitu tentang tempat bernama Windea yang sempat ia sebutkan hari itu.

(Sisanya, tinggal masalah kapan aku akan ke sana.)

Hanya itu yang mengganjal di pikirannya.

Padahal Ren berniat menyembunyikan ide ini, tapi—

"Apa kamu punya rencana?"

"Ren-kun, rencanamu terbaca di wajahmu, lho."

Tak disangka, kedua gadis itu menyadarinya dan langsung bertanya.

Karena bukan hal yang perlu disembunyikan, Ren hanya menjawab jujur, "Sebenarnya ada sedikit rencana," lalu melanjutkan bahwa ia tidak bisa melakukan apa pun saat ini.

"Lagi pula, tidak ada gunanya kalau aku pergi sekarang."

"Begitukah?"

"Untuk saat ini, sih."

Bukan hanya demi Water Magic Sword, ada tempat lain yang ingin ia kunjungi untuk tujuan berbeda.

Hanya saja, cara menuju ke sana sangat merepotkan, jadi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.

 

Ren melangkah masuk ke ruangan kecil di bagian dalam perpustakaan dan melihat sosok Pangeran Ketiga.

Kelas tambahan selesai di siang hari, namun Ren datang ke sini sendirian karena sudah berjanji untuk bicara dengan Radius.

Radius duduk di kursi, menghabiskan waktu dengan tenang sambil membaca buku. Sudah berapa kali mereka bertemu di ruangan yang juga pernah digunakan oleh panitia pelaksana Festival Raja Singa ini.

"Maaf, apa aku terlambat?"

"Tidak, sama sekali tidak."

Mendengar suara Ren, sebuah senyuman terukir di wajah tampan Radius.

Rambut perak Radius sedikit bergoyang saat ia menoleh ke arah Ren yang baru tiba.

"Maaf soal surat yang kukirim mendadak kemarin."

"Tidak apa-apa. Jauh lebih baik daripada kita malah tidak berpapasan."

Surat yang dimaksud adalah pesan yang jarang sekali dikirim oleh Radius kepada Ren.

Yuno, sang pelayan, mendatangi Ren saat ia sedang menghabiskan waktu sebelum tidur di kamarnya.

Besok atau di hari sekolah lainnya, jika ada waktu aku ingin bertemu di akademi. Aku akan membaca buku di ruangan kecil yang biasa kita pakai, jadi bagaimana kalau sekitar tengah hari?

Surat itu berlanjut dengan pesan agar Ren tidak perlu memaksakan diri jika tidak punya waktu.

Radius yang tampak sangat sibuk sejak tahun lalu sepertinya mulai bisa bernapas lega, dan ia memutuskan untuk menghabiskan hari liburnya di akademi sambil membaca buku.

"Tapi, bagaimanapun juga, Ren tetaplah Ren ya."

Sesaat setelah mereka selesai saling menyapa, Radius berkata dengan nada senang.

"Kenapa tertawa?"

"Maaf. Soalnya Ren terlihat sangat biasa saja."

"? Apa maksudnya?"

"Coba pikirkan. Kapan terakhir kali kita bertemu?"

"Saat kita membicarakan soal pesta keluarga Leonard?"

"Benar. Tak lama setelah pusaka keluarga Leonard, Aegis of the Silver King, ditemukan. Atau lebih tepatnya, sebelum Ren mengalahkan Wadatsumi, utusan dewa raksasa."

Singkatnya, itu adalah sesaat sebelum liburan musim dingin dimulai.

Karena Radius sangat sibuk, ia tidak punya kesempatan bertemu Ren sampai hari ini.

Upacara penganugerahan medali adalah urusan lain karena berada di bawah wewenang Sacred Order of the Lion, bukan istana. Ditambah lagi kekacauan akibat Wadatsumi membuat jadwal Radius terisi penuh oleh hal-hal di luar rencana.

"Meskipun sudah melakukan pencapaian sehebat itu, menarik sekali melihat Ren tetap bersikap seperti biasa."

"Tidak, tidak, tidak. Justru aku harus berubah jadi seperti apa?"

"Benar juga sih. Tapi, meski kamu lebih muda dariku, mencapai tingkat Sword Saint dalam teknik pedang besar benar-benar membuatku terkesan."

Radius menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja.

Ren duduk di kursi yang biasa dan menaruh tasnya di tempat yang pas.

"Jadi, sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan, apa itu hal yang sangat formal?"

"Yah, bisa dibilang begitu."

Suara Radius yang menjawab singkat terdengar sedikit kaku.

"Banyak hal terjadi saat aku tidak bisa bertemu denganmu. Raguna sudah menyelidiki beberapa hal soal leluhur Ren, dan aku ingin membicarakan hal itu juga."

Selain topik utama, sebenarnya ia juga ingin sekadar mengobrol santai dengan sahabatnya itu.

"Kalau Raguna-san, berarti soal kota tua…… Institusi Geno, ya?"

Eupheim, kota besar yang dipimpin oleh Ulysses Ignat. Kota yang dikenal dengan julukan Mahkota Putih, tempat indah yang sering dikunjungi oleh keluarga kerajaan dari masa ke masa.

Ren sudah mengunjungi Eupheim dua kali.

Pertama, menaiki kapal Guardian Knight yang baru saja beroperasi. Kedua, saat ia sedang berlatih jauh bersama Estelle di musim dingin dan harus mengungsi karena badai salju hebat.

Pada kunjungan pertama, Ren mendatangi area yang disebut kota tua, sebuah area yang tenggelam di bawah air.

Sebuah pintu yang konon tidak bisa dibuka oleh siapa pun, mendadak terbuka saat Ren menyentuhnya. Bangunan itu dulunya adalah sebuah panti asuhan bernama Institusi Geno.

"Belum lewat beberapa bulan sejak surat-surat ditemukan di sana. Apa terjadi sesuatu?"

"Ya. Raguna selalu memberikan hasil dengan cepat meski itu tugas yang sulit. Walau penyelidikan setelahnya mungkin menemui hambatan, dia pasti akan memberikan hasil."

Radius mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya dan memberikannya kepada Ren.

Isinya sama dengan laporan penyelidikan yang diterima Radius dari Raguna sebelumnya.

Ren tidak butuh waktu lama untuk membacanya, namun ia butuh beberapa menit untuk mengumpulkan pemikirannya.

Ia menghela napas dan menatap Radius.

"Jadi, pada akhirnya siapa sebenarnya Cecil Ashton ini?"

"Siapa lagi, tentu saja leluhurmu."

"Bukan itu maksudku…… tapi identitasnya, atau orang seperti apa dia dulu."

"Entahlah. Aku tidak tahu pasti, tapi dia sepertinya sosok yang spesial. Begitu juga dengan Putri Erosi. Semuanya masih penuh misteri, tapi tidak diragukan lagi kita sudah mengambil langkah besar menuju inti masalahnya."

"Rasanya ini baru langkah pertama yang sangat awal."

"Itu jauh lebih baik daripada tidak melangkah sama sekali."

Hal-hal yang berkaitan dengan Cecil Ashton mungkin sebaiknya tidak dibicarakan secara terbuka.

Radius yang penasaran dengan bagian sejarah yang tidak tercatat, Raguna yang tidak ada di sini, dan juga Ren, semuanya memiliki pendapat yang sama.

Tanpa menatap ke arah mana pun, Radius menatap jauh ke luar jendela sambil berujar.

"Hei, Ren."

"Hm? Ada apa?"

"Selain soal keluarga Ashton, ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan."

Meski topik berubah mendadak, Ren menjawab dengan santai.

"Tentang apa?"

"Alasan kenapa aku sangat sibuk sampai kemarin. Karena pembicaraannya sudah final dan sekarang aku sudah bisa membicarakannya, aku ingin Ren juga mendengarnya."

Ren berdiri untuk menyeduh minuman hangat.

Ia menuangkan air panas dari alat sihir ke dalam teko hingga uapnya mengepul. Daun teh yang sudah disiapkan membuat uap itu menebarkan aroma yang harum.

Sambil terus menyiapkan teh, Ren mendengar suara sahabatnya itu.

"Aku sudah diputuskan untuk menjadi Putra Mahkota. Meski peresmiannya masih nanti."

"Hee, begitu ya. Hebat dong."

"Ya. Berkat usahaku sendiri dan segala lobi-lobi politik yang sudah selesai. Peresmianku sebagai Putra Mahkota mungkin di musim panas, musim gugur, atau mungkin sedikit setelah itu…… Namun, sepertinya banyak bangsawan tinggi sudah mulai menyadarinya."

"Situasinya seperti sudah ada janji tidak resmi, ya."

"Yah, begitulah."

Ren membawakan cangkir teh yang sudah siap. Cangkir itu diletakkan di depan Radius dengan suara kecil.

Sambil tetap memegang cangkirnya sendiri, Ren berdiri di depan jendela yang menampakkan pemandangan salju.

Ia meminumnya seteguk untuk membasahi tenggorokan.

 

Setelah terdiam sesaat, ia bergumam, "────Hm?"

"Ngomong-ngomong, tadi kamu bilang bakal jadi Putra Mahkota?"

"Iya. Aku bilang begitu."

Setelah keheningan di mana mereka saling menatap, Radius mengernyitkan alis dan bertanya pada Ren.

"Kenapa memangnya?"

Baru setelah itulah Ren benar-benar terkejut.

"Apanya yang 'kenapa'!? Jangan begitu dong!"

Ia terkejut pada dirinya sendiri yang sempat mengobrol dengan tenang, tapi situasinya berbeda setelah ia benar-benar mencerna kata-kata Radius.

Putra Mahkota…… dengan kata lain, penerus Leomel.

"Be-benarkah!?"

"Buat apa aku berbohong soal ini. Lagi pula, Ren juga pernah bilang dulu, kan? Tentang apa yang akan terjadi kalau aku jadi Putra Mahkota, atau semacamnya?"

"Aku memang pernah bilang…… tapi saat itu benar-benar terjadi, rasa terkejutnya jadi berbeda……"

Meski sangat terkejut, ada hal pertama yang harus ia katakan.

Ren mengingat hal itu, lalu berujar dengan suara yang masih belum tenang.

"Selamat ya. Aku sudah tahu kalau Radius pasti akan jadi seperti itu."

"Ya. Terima kasih."

Mendapat ucapan selamat dari Ren, Radius tersenyum lebar. Itu adalah cara tertawa yang ramah khas anak seusianya, yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain.

"Aku memang ingin mendapat ucapan selamat darimu, tapi aku juga ingin melihatmu terkejut. Kedatanganmu hari ini tidak sia-sia."

"……Kalau begitu rasa terkejutku juga tidak sia-sia."

Jika Radius yang diberi ucapan selamat merasa tidak keberatan, maka ia pun tidak perlu memikirkannya lagi.

Setelah kembali tenang, Ren membawa cangkir teh yang sejak tadi ia pegang dengan hati-hati ke mulutnya, lalu membasahi tenggorokannya sekali lagi.

"Kuharap kamu sudah mengerti, tapi apa yang kukatakan tadi bukan berarti benar-benar terpisah dari urusan Cecil Ashton."

"Hm? Apanya?"

"Apa kamu lupa? Tentang Perpustakaan Terlarang."

Ren terdiam sejenak lalu tertawa kecut.

"Bukannya lupa, tapi mungkin rasa terkejut soal Putra Mahkota tadi jauh lebih besar."

Perpustakaan Terlarang adalah tempat spesial di lantai terbawah Perpustakaan Kerajaan yang aksesnya sangat terbatas.

Dulu Ren pernah bicara dengan Radius soal itu. Jika Radius berhasil menjadi Putra Mahkota, maka ia akan bisa masuk ke sana.

Waktu itu, mereka sempat bercanda, bagaimana jika silsilah keluarga Ashton tersimpan di sana.

"Setelah sampai di titik ini, aku pun jadi sangat penasaran. Aku berniat untuk terus menyelidikinya nanti."

"……Kalau informasi soal keluargaku benar-benar ada di Perpustakaan Terlarang, urusannya pasti bakal jadi makin heboh, ya."

"Tidak, di titik ini saja urusannya sudah cukup heboh, kok."

Radius menatap Ren sambil tertawa santai.

 

"Lagi pula, jika darah keluarga Ashton────"

Sambil menatap Ren, Radius merasakan sebuah firasat di dalam hatinya dan hendak mengatakan sesuatu.

Namun, ia berpura-pura tidak menyadari firasat itu. Ia mengendalikan dirinya dan menelan kembali kata-katanya, berpikir bahwa itulah yang terbaik untuk saat ini.

Agar tidak menimbulkan kebingungan yang tidak perlu dengan mengatakan hal yang belum pasti.

"Kenapa tidak jadi bicara?"

"Maaf. Aku hanya berharap semoga informasi lainnya bisa segera ditemukan."

Setelah berujar demikian, Radius mengganti topik pembicaraan.

"Omong-omong, sepertinya akademi setelah liburan musim dingin nanti tidak akan kekurangan topik hangat."

"Maksudmu soal Vain?"

"Wah, kamu sudah dengar?"

"Cuma sedikit, sih."

Ren menjawab dengan suara yang kurang jelas.

"Kamu terdengar ragu-ragu, tapi memang soal itu. Entah benar atau tidak, tapi kudengar dia melepaskan kekuatan suci yang luar biasa. Kudengar kekuatan Aegis of the Silver King bahkan ikut beresonansi…… itu benar-benar seperti────"

"Kerabat dari Seven Heroes, ya."

"Ya. Tapi jika begitu, hanya tersisa satu garis keturunan. Hubungan darah dari Pahlawan Ruin yang dikira sudah lenyap."

Setelah berkata demikian, Radius memperluas topik pembicaraannya.

"Omong-omong, apa kamu sudah dengar? Katanya dua orang sisa dari keluarga Duke juga akan masuk sekolah di musim semi nanti."

"Ah, sepertinya Leonard-senpai dan yang lainnya pernah membicarakan itu."

"Dengan begitu, semua keturunan Seven Heroes akan berkumpul di musim semi nanti. Yah, itu pun jika keturunan Pahlawan Ruin memang benar-benar sudah ada."

Jika benar begitu, faksi Hero pasti akan semakin ramai.

"Dalam hal ini, aku tidak peduli dengan persaingan faksi itu sendiri. Seandainya pemuda bernama Vain itu memang keturunan Pahlawan Ruin, itu adalah hal yang sangat luar biasa. Aku pun ikut senang…… tapi,"

"Aku penasaran dengan kelanjutan kata 'tapi' itu."

"Faksi Hero yang menjadi kuat itu bebas saja dan bisa berguna bagi rakyat. Hanya saja, aku berpikir akan merepotkan jika muncul bangsawan yang memikirkan hal-hal bodoh karena hal itu."

Demi rakyat, ramainya faksi Hero bukanlah hal buruk.

Namun di sisi lain, mungkin akan muncul bangsawan yang memanfaatkan kekuatan faksi untuk hal yang tidak baik. Radius menambahkan dengan nada mencela diri sendiri bahwa itu juga merupakan tanda kurangnya kekuatan mereka.

Ia kembali menenangkan diri dan berujar.

"Lalu, soal Ren juga."

Pemuda yang mengalahkan utusan dewa raksasa Wadatsumi sendirian tidak mungkin luput dari perhatian.

Meski tidak diumumkan secara resmi bahwa Ren yang mengalahkannya, para bangsawan pasti akan mendengarnya. Di surat kabar pun ada artikel yang mengarah ke sana, jadi siapa pun bisa membayangkannya.

"Targetmu selanjutnya adalah Sword King?"

"Sword King…… ya. Aku rasa tidak ada target lain."

Sambil merasakan ikatannya dengan Lutreche, Ren mengenang kembali saat pertama kali ia berbincang dengannya di distrik kuil.

"Mungkin karena aku baru saja bertemu dengannya, aku jadi lebih sering memikirkannya dibanding sebelumnya."

"────Tunggu. Kamu bilang kamu bertemu dengan White Dragon Princess?"

"Cuma kebetulan, kok. Kami cuma mengobrol sebentar, bahkan sangat sebentar."

Meskipun ia sudah menceritakannya kepada Licia, Ren juga menceritakan pertemuannya dengan Lutreche kepada Radius.

Sosok Radius yang tenang pun tidak menyangka Ren akan bertemu dengan Lutreche. Mengingat Lutreche juga terkejut saat bertemu Ren, itu benar-benar sebuah kebetulan.

"……Aku benar-benar tidak mengerti."

Baik soal Ren... keluarga Ashton, maupun niat dari Lutreche.

Meski dipikirkan sekeras apa pun tetap tidak ada jawaban, dan tanpa sadar mereka berdua telah menghabiskan teh mereka.

"Mungkin aku akan mencoba pergi menemuinya sekali lagi untuk menanyakan alasan kenapa dia membantuku."

"Ya ampun, kamu mengatakannya dengan enteng sekali."

"Apa gawat kalau aku pergi menemuinya tanpa izin?"

"Bukannya gawat. Aku tidak akan menghentikan apa pun yang kalian bicarakan jika dia sedang berjalan-jalan dan bertemu denganmu. Hanya saja, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan."

Pertama, bagaimana cara Ren menemuinya…… lalu, meski sudah bertemu, sepertinya dia tidak akan memberitahu alasannya……

Ada banyak kekhawatiran yang muncul, namun Ren sepertinya tidak akan diperlakukan dengan kasar.

Karena entah kenapa, Lutreche tampak menaruh perhatian pada Ren.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close