NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Prolog

Prolog


Sejauh mata memandang, badai pasir membentang tanpa batas.

Bangunan-bangunan telah hancur total menjadi tumpukan puing, menyisakan hampir tidak ada tempat untuk memijakkan kaki. Hingga beberapa jam yang lalu, sebuah kota dari negara kecil masih berdiri di sini.

Di Benua Martel yang penuh konflik, kota ini tergolong istimewa karena memiliki kuil bersejarah tempat para pendeta diutus langsung dari tanah suci Benua Elfen.

Namun sekarang, tidak ada lagi sisa-sisa kemegahan yang menunjukkan bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah kota.

"Sudah berakhir?"

"Ya. Akhirnya."

"Tidak disangka mereka akan mengerahkan kekuatan tempur sebesar itu. Mungkin Kultus Dewa Iblis sedang merencanakan sesuatu yang berbeda dari biasanya."

Terdengar suara para pendeta.

Mereka semua adalah kekuatan tempur sekaligus praktisi hebat dari Gereja Elfen yang ahli dalam sihir dan pedang.

Bahkan saat dikirim ke Benua Martel yang rawan konflik, mereka adalah orang-orang yang mengemban tugas untuk melindungi para peziarah.

◇◇◇

Di sebuah tempat di mana tumpukan batu bata yang dulunya mungkin merupakan dinding rumah warga berada. Mereka sedang memandangi sosok seorang pria yang disalib di sana.

Tombak dan pedang yang digunakan untuk menyalib pria itu semuanya adalah milik para pendeta.

Selain itu, duri-duri batu yang tercipta dari sihir juga menembus seluruh tubuh pria itu tanpa ampun.

Sambil melirik ke arah banyak rekan mereka yang tergeletak tak bernyawa, para penyintas saling bertukar kata.

"Berapa banyak orang yang tewas?"

"……Melihat kehancuran ini, mungkin hanya kita yang tersisa."

"Ah…… Dewa Utama Elfen, berilah berkat-Mu kepada anak-anak-Mu."

Mereka meratapi kematian kawan-kawan mereka, dan menaruh kebencian mendalam pada pria yang disalib itu.

◇◇◇

Tak lama kemudian────. Tepat pada saat pandangan ketiga orang yang sedang berbincang itu beralih dari si pria secara bersamaan.

"Ini──── apa?"

Dada salah satu pendeta tertembus oleh tombak yang seharusnya merupakan milik mereka sendiri.

Orang kedua yang terkejut pun tidak sempat mengeluarkan suara sebelum berbagai senjata menembus tubuhnya.

Saat orang terakhir melihat ke arah pria yang disalib, pria itu sedang tertawa meski bagian tengah dadanya masih tertembus duri batu.

Pendeta yang tersisa segera menghunus pedang yang telah ditempa di tanah suci dan mengambil posisi kuda-kuda. Namun...

"Mohon maaf, tapi tubuh saya tidak bisa mati semudah itu."

Pria itu menjentikkan jarinya, lalu lengan-lengan yang terbuat dari mana hitam muncul dari dalam tanah dan merenggut kaki sang pendeta.

Pendeta itu terjatuh, namun guncangan belum berakhir; rumah-rumah yang belum hancur sepenuhnya kini berubah menjadi puing dan menghujaninya.

Dengan saksama, sang pendeta melihat pria itu mencabut sendiri senjata-senjata yang menyalib tubuhnya dengan tangan kosong.

"Begitu rupanya──── jadi kau adalah si Regeneration────!"

"Sebuah kehormatan Anda mengenal saya."

Pria itu tampak muda dan gagah, dengan penampilan seperti bangsawan dari negara besar.

Begitu ia turun dengan senyum di wajahnya, luka-lukanya pulih dengan sangat cepat, bahkan pakaiannya yang sobek kembali rapi seperti baru dalam sekejap.

Kemeja putih bersihnya tidak menyisakan satu noda pun, dengan dua kancing teratas terbuka. Pria itu mengambil saputangan dari saku rompi yang ia kenakan di luar kemejanya, lalu menyeka debu yang menempel di kacamatanya.

Meski hampir seluruh tubuhnya tertimbun puing, sang pendeta tetap melotot tajam ke arah pria itu.

"Bodohnya."

Gumam pendeta yang dahi dan pipinya basah oleh darah bercampur kerikil kepada pria yang sedang menyeka kacamata itu.

Sambil mengatur napasnya yang tersengal, ia tetap teguh pada kebanggaan sebagai pendeta.

"Hukuman Tuhan akan dijatuhkan pada Kultus Dewa Iblis…… Tuhan kami pasti akan────"

"Sudahlah, lebih baik Anda tutup mulut saja. Bukankah rasanya sesak?"

Pria itu bicara tanpa melirik sang pendeta, tangannya tetap sibuk bergerak.

"Kata 'Hukuman Tuhan' itu sangat praktis. Dalam situasi apa pun, kata itu menjadi sandaran hati yang membangkitkan semangat kalian para pendeta. Tapi di sisi lain, itu sama saja dengan mengumumkan ketidakhadiran Tuhan, lho."

Karena,

"Fakta bahwa tidak ada hukuman Tuhan yang turun di sini adalah buktinya."

"……Benar-benar arogan, khas Kultus Dewa Iblis."

"Aduh, aduh."

Pria itu tertawa.

"Itu juga kata-kata yang bagus. Betapa arogannya orang-orang yang salah mengira keagungan Tuhan sebagai kekuatan mereka sendiri."

Ia selesai menyeka kacamatanya dan memakainya kembali. Pria itu melipat saputangannya, memasukkannya ke saku rompi, lalu melangkah maju tanpa memedulikan sang pendeta lagi.

Ia merasa seolah mendengar suara "Tunggu" dari belakang beberapa kali, atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

"Yah, tidak masalah juga, sih."

Toh semuanya akan tertimbun oleh badai pasir.

◇◇◇

Beberapa hari kemudian, di sebuah kota di Kerajaan Leomel. Skalanya jauh lebih besar dari Klausel, namun masih kalah dari Erendil.

Di sebuah jalan yang ramai dengan pasar siang hari, ada seorang gadis yang sedang berjalan.

Setiap kali ia melangkah, rambut perak mengilap dengan semburat hitam legam terayun ringan.

Wajahnya cantik dan memesona, dengan mata heterochromia berwarna merah tua dan perak yang hanya dimiliki olehnya di dunia ini.

Kecantikan yang memancarkan keanggunan sekaligus harga diri tinggi itu membuat kata "penghancur negara" sangat cocok untuknya.

Namun jangankan para pria, tidak ada satu pun orang yang menoleh ke arahnya.

Pria yang kebetulan berpapasan mata dengannya akan langsung terpesona, namun anehnya, begitu mereka berkedip, sosok gadis itu sudah menghilang dari pandangan.

"……Anak-anak bodoh."

Suara yang menyerupai desahan itu ditujukan kepada orang-orang yang tidak ada di sini.

"Meskipun kalian mengincar negara Leomel ini, Baginda tidak akan kembali."

Gadis itu berkata dengan lesu, diikuti keheningan yang menyiratkan kerinduan.

Kesedihan yang terkandung dalam senyum anggunnya tidak memiliki tujuan, dan tetap terpendam di dalam hatinya.

◇◇◇

Melihat seorang pria yang duduk di bangku pinggir jalan, gadis itu duduk di sampingnya.

Pria itu memiliki suasana perkotaan, ditambah dengan sikap lembut yang menunjukkan kebaikan hati.

Ia sama sekali tidak terlihat seperti sosok yang baru saja merenggut banyak nyawa di Benua Martel beberapa hari lalu.

Pria itu melirik sang gadis, lalu seolah meragukan matanya sendiri, ia menggerakkan bibirnya.

"Mengapa Anda bisa berada di sini?"

"Entahlah? Aku tidak merasa perlu memberitahumu, kan."

Meski gugup, pria itu menyembunyikannya.

"Kudengar saat aku berada di Benua Martel, di sini juga cukup ramai."

"Benua Martel? Apa kau merindukan tempat kelahiranmu?"

"────Mustahil. Tidak ada cinta yang tersisa di tubuh ini untuk negara atau benua yang telah membuangku. Aku hanya pergi ke sana untuk mewarnai tanah itu dengan kegelapan."

Pria itu hendak bertanya balik sebelum sang gadis mengatakan sesuatu yang lain.

"Ini kesempatan bagus. Aku benar-benar ingin mendengarnya."

"Aku tidak tahu akan menjawabnya atau tidak, tapi silakan bicara."

"Terima kasih kalau begitu."

Karena terlalu gugup, pria itu menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik-turun. Gadis itu tahu alasan pria itu ragu, namun ia tidak mengatakannya dan hanya tertawa kecil.

"Ara, ada apa? Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, lanjutkanlah."

Karena jeda yang terlalu lama, gadis itu bertanya lagi. Baru setelah beberapa detik berlalu, pria itu sanggup menggerakkan bibirnya.

"Terjadi anomali pada Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung yang kami lepaskan ke lepas pantai Eupheim. Bukankah Anda telah melakukan sesuatu?"

"Jika iya, memangnya kenapa?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya sekadar memastikan."

"Huum…… cuma itu saja. Kau menanyakan hal yang membosankan ya."

Mendengar kata "membosankan", pria itu tertawa kecut.

"Mengapa Anda bergerak secara rahasia di Eupheim seperti itu?"

"Tidak ada alasan khusus, aku hanya mencoba mencari barang-barang yang pernah dipakai oleh Seven Heroes. Lagipula, aku kebetulan melihat Wadatsumi, jadi aku memberinya Magic Stone. Tidak ada maksud lain."

"Sayang sekali. Padahal aku pikir Anda bersedia bekerja sama dengan kami."

"Bodohnya. Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi."

Pada saat itulah, lirikan mata gadis yang memesona itu tertuju pada sang pria.

"Karena aku sudah menjawabmu, sekarang gantian kau yang memberitahuku."

Pria itu mengangguk dengan jawaban singkat, "Baik."

"Harta karun rahasia yang katanya tersembunyi di Leomel, apa kalian masih mencarinya? Sepertinya akhir-akhir ini para pendeta sedang sangat bersemangat."

"Karena itu adalah hal yang sangat dibutuhkan agar Baginda bisa kembali kepada kita."

"……Oh, begitu."

Begitu mendengar jawaban yang diinginkannya, gadis itu bicara dengan suara dingin yang tidak menyiratkan ketertarikan lagi. Sepertinya ia sudah kehilangan hampir seluruh minatnya. Bahkan, ia membalas dengan nada kecewa atas jawaban pria itu.

"Ya sudah, lakukan saja sesuka kalian."

"Seperti biasa, sepertinya Anda tidak berkenan."

"Tentu saja. Makanya aku tidak mau bersama kalian, kan."

Gadis itu berdiri dari bangku dan mulai berjalan menuju gang belakang yang sepi. Pria yang masih ingin bicara segera mengejarnya.

"Kita seharusnya bergerak bersama!"

"Kalian salah kaprah sejak awal. Jika cara berpikir kita berbeda, tidak mungkin kita bisa menempuh jalan yang sama, kan."

"────Tapi!"

Kepada pria yang bersikeras itu, sang gadis berujar tanpa menoleh sambil terus berjalan.

"Aku akan meneruskan wasiat Baginda dengan caraku sendiri, jadi jangan ganggu aku."

Kata-kata selanjutnya diucapkan sambil menoleh ke arah si pria.

"Jika kalian menghalangiku, aku akan mengisap kalian sampai mati."

Seketika, darah menetes dari luka sayat yang entah sejak kapan muncul di pipi sang pria. Ujung jari perlahan memanjang dari tangan kanan sang gadis.

Sebuah gerakan anggun di mana ia melipat jari-jarinya satu per satu mulai dari kelingking, mengarahkannya pada dirinya sendiri.

Terakhir, jari telunjuknya diarahkan ke pipi sang pria.

Darah, mana, dan kekuatan hidup mulai tersedot sedikit demi sedikit.

Saat jarinya terlipat sempurna, pria itu pasti akan────.

"Anda sedang bercanda."

Mendengar suara yang dipaksakan keluar itu, sang gadis tertawa renyah.

"Bercanda atau peringatan, menurutmu yang mana?"

Pria itu tidak bisa bergerak sedikit pun, bahkan bibirnya kaku dan ia tidak bisa berkedip.

"Bagiku bercanda pun tidak masalah, tapi apa kau sanggup bercanda denganku? Sepertinya selain Baginda, tidak akan ada yang sanggup bercanda denganku──── bagaimana menurutmu?"

Lagipula, aku tidak punya niat untuk bercanda dengan siapa pun selain Baginda.

Setelah mengatakan itu, gadis itu kehilangan minat pada si pria dan menahan kekuatannya. Kali ini ia benar-benar pergi meninggalkan pria itu.

"Ke mana kau akan pergi selanjutnya?"

"……Ke Windea."

Gadis itu menyahut seolah tertarik.

"Sejak insiden 'Elven Tears', kalian jadi anehnya sangat terobsesi mengumpulkan Holy Relics, ya."

"Semuanya demi kepulangan Baginda. Namun, jika kita bersama seperti waktu itu, semuanya pasti akan berjalan dengan mudah."

"……Benar-benar bodoh ya."

Gadis itu tidak membalas lagi dan menghilang ke dalam kegelapan gang belakang.

"Waktu itu, aku hanya membantu karena aku tidak suka dengan Gereja Elfen."

Pria itu membetulkan posisi kacamatanya dengan menyentuh bagian tengah bingkai.

Sambil berdiri di gang belakang, ia menatap langit biru yang membentang tinggi.

Ia mengembuskan napas pendek sambil mengikuti jejak awan yang ditinggalkan oleh kapal sihir yang melintas di langit.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close