Chapter 3
Sang Pemilik Emblem
Ren membasuh
wajahnya dengan sinar mentari yang tercurah di Ibu Kota, merasakan kedatangan
musim semi yang sudah di ambang pintu.
Mengenakan
pakaian yang sedikit lebih tipis dari biasanya, ia kini melangkahkan kaki ke
salah satu sudut Ibu Kota.
Tempat itu
memerlukan izin khusus untuk dimasuki. Izin tersebut terkadang diberikan pihak
istana kepada rakyat Leonel yang telah berjasa luar biasa, seperti Ren yang
dianugerahi medali dari Sacred Order of the Lion.
Pencapaian
langkanya di dunia Legend of the Seven Heroes dinilai tinggi, hingga ia
diperbolehkan menginjakkan kaki di sini.
Tempat yang
dimasuki Ren dengan izin yang terkesan berlebihan itu bukanlah fasilitas
rahasia negara, melainkan padang rumput hijau yang tetap subur meski di musim
dingin.
Tempat ini
terpisah dari kota di bawah kastil oleh sebuah jembatan besar. Di dalam Ibu
Kota, tidak ada alam lain yang menempati ruang seluas ini.
Di dataran itu
tidak ada bangunan apa pun, pun tidak ada harta karun yang tersembunyi.
Namun, tempat ini
adalah lokasi istimewa di mana konon sang Raja Singa dulu melatih ilmu
pedangnya, juga tempat beliau melamar sang permaisuri.
Inilah tempat tenang yang dijuluki Garden of Swords.
(Hari ini,
pukul dua lewat tiga puluh menit siang.)
Dalam garis waktu
Legend of the Seven Heroes I, ini adalah masa setelah cerita utama
berakhir, namun sebelum masuk ke seri kedua.
Secara
kronologis, ini bertepatan dengan hari-hari bebas setelah kepulangan ke Ibu
Kota usai pertempuran melawan Ulysses Ignat di Pegunungan Baldor.
Ren melangkah di
atas rumput yang sedikit lembap karena sisa salju, lalu menghela napas.
"……Tidak
mungkin semuanya berjalan persis seperti di game, ya."
Semuanya tidak
akan berjalan sesuai alur Legend of the Seven Heroes. Justru karena
selama ini ia bergerak agar hal itu tidak terjadi, Ren bergumam dengan nada
mencela diri sendiri, merasa kata-katanya barusan terdengar lucu.
Ren
menatap ke titik di mana seharusnya "dia" berdiri.
Sebuah
pohon berdiri tegak di salah satu sudut dataran, di atas tanah yang sedikit
menonjol seperti perbukitan kecil.
Saat ia berdiri
di samping pohon itu sembari menatap ke kejauhan────
"Mengapa
Anda ada di sini?"
Suara yang indah
terdengar dari arah belakang.
Mendengar suara
itu, Ren merasakan jantungnya berdegup kencang hingga ia sendiri terkejut. Sambil berusaha bersikap tenang
agar tidak ketahuan, ia pun berbalik.
"Aku
berpikir, mungkin saja aku bisa bertemu denganmu."
Sosok
yang berdiri di hadapannya adalah sang Tuan Putri Perak.
Semua
orang menganggapnya sebagai wanita yang melampaui batas kewajaran dan selalu
tenang. Namun saat ini, ia
tampak terpaku karena terkejut melihat keberadaan Ren di sini.
"……Bertemu denganku?"
"Benar.──── Sword King, Lutreche-sama."
Hari ini, jam ini.
Dalam Legend of the Seven Heroes, pertemuan ini
disebut sebagai 'Tantangan untuk Sword King', salah satu dari sedikit
kesempatan untuk bertemu dengan Lutreche.
(Ada apa ini────)
Lutreche memancarkan kecantikan yang mistis, namun lebih
dari sekadar cantik, ia tampak begitu rapuh. Ia sama sekali tidak terlihat seperti pemilik kekuatan besar yang Ren
ketahui.
Akan tetapi, ia
segera menghapus kerapuhan itu dan menatap Ren.
"Anda tidak
perlu menggunakan gelar kehormatan apa pun kepadaku."
"Bukannya
itu berarti aku akan memanggilmu tanpa sebutan?"
"Tidak masalah. ……Karena aku hanyalah seorang
Lutreche."
Memanggil Lutreche tanpa sebutan adalah sesuatu yang tidak
pernah terbayangkan oleh Ren. Meskipun
izin itu diberikan dengan nada datar, rasa bingung tetap lebih mendominasi.
Namun, gadis itu
melanjutkan pembicaraan tanpa memedulikan kegalauan Ren.
"Ren
Ashton, mengapa Anda datang menemui saya?"
"Karena
aku ingin mendengar penjelasan langsung darimu. Terakhir kali kita bertemu, aku tidak sempat
menanyakan apa pun."
Lutreche menduga
Ren akan bertanya soal insiden di Menara Jam Besar.
Itu adalah
insiden yang terjadi setelah Ren pindah ke Erendil.
Menara Jam Besar
yang menjadi kebanggaan Erendil diincar oleh Kultus Dewa Iblis. Namun
berkat Radius dan Ulysses yang berhasil mengendus rencana musuh, para lawan
sengaja dipancing ke sana untuk disapu bersih.
Kala itu,
Lutreche hanya menjelaskan bahwa ia meminjamkan kekuatannya karena 'penasaran
dengan pemuda yang sedang hangat dibicarakan'.
Ren sudah
mendengar hal itu dari Radius, jadi ia tidak berniat menanyakan hal yang sama
lagi.
"Jika soal
insiden di Menara Jam Besar, penjelasannya sudah seperti yang kusampaikan
kepada Pangeran Ketiga dan yang lainnya."
"Bukan. Aku
memang penasaran soal itu, tapi sekarang ada hal lain yang ingin
kutanyakan."
"Lalu…… hal seperti apa itu?"
Lutreche memiringkan kepalanya sedikit, membuatnya tampak
seperti gadis biasa. Untuk sesaat, celah di balik ketangguhannya terlihat.
"……Itu, apakah kamu tahu sesuatu tentang keluarga
Ashton?"
Jika bukan soal Menara Jam Besar, maka hal yang harus
ditanyakan haruslah jauh lebih dalam.
(Sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti.)
Wilayah Marquis Ignat, Kota Tua.
Dari informasi di panti asuhan yang ditemukan di kota yang
tenggelam itu, Raguna, peneliti hebat dari Departemen Misteri, telah
menyelidiki banyak hal.
Tentang pria bernama Cecil Ashton, dan sang Putri Erosi.
Mungkin saja Lutreche mengetahui sesuatu tentang hal-hal
ini. Dan jika digali lebih dalam lagi, mungkin ia juga tahu tentang silsilah
keluarga Ashton.
Menanggapi
pertanyaan Ren, Lutreche menjawab singkat tanpa ragu sedikit pun.
"────Aku
tidak punya alasan untuk mengatakannya."
Namun, ia tidak
bilang bahwa ia tidak tahu.
Berbeda saat ia
bicara dengan Radius, ia tidak memberikan jawaban yang ambigu.
Sebagai gantinya,
ia menolak mentah-mentah dengan alasan tidak punya motif untuk bicara.
"Akan
tetapi, saya bisa membuat Anda melangkah maju."
Kain yang membungkus pedang panjang yang dipegangnya selama ini perlahan terlepas dan jatuh ke tanah.
"Membuatku
melangkah maju?"
"Benar.
Tapi, sebelum melakukannya, biarkan aku bertanya."
Sembari menatap
lurus ke arah Ren, dia berujar.
"Ren
Ashton──── mampukah kamu menjadi lebih kuat dariku?"
Itu adalah pedang
mahsyur di bawah kolong langit, yang membuat sang pandai besi legendaris,
Uhrich, mengakui bahwa ia tidak akan bisa menempa pedang yang lebih hebat dari
itu.
Nama pedang itu adalah God Devourer. Siluet bilah
pedangnya berwarna putih bersih tak bernoda.
Putih yang begitu murni, hingga Uhrich memujinya sebagai
sesuatu yang membangkitkan imajinasi tentang awal mula terciptanya dunia.
God Devourer ditancapkan di atas rumput, namun tidak
ada niat darinya untuk melihat kemampuan Ren melalui pertarungan saat ini.
Lutreche
hanya ingin mendengar keteguhan tekad Ren.
"Aku…… lebih kuat darimu."
Ren tidak bisa langsung memberikan jawaban yang tegas karena
ia sempat bimbang dalam memilih kata-kata.
Namun tak lama
kemudian, keraguan itu sirna. Kata-kata yang ia rangkai akhirnya berhasil
menarik minat Lutreche.
"Sejak dulu
aku tidak berubah. Aku hanya akan menjadi kuat jika memang diperlukan."
"Kalau
begitu────"
"Iya. Jika
memang aku perlu menjadi lebih kuat darimu, maka aku pasti akan
melampauimu."
Ren tidak
ingin mengatakan sesuatu yang menghina sang Sword King.
Ia
menghindari cara bicara yang tidak sopan, dan lebih memilih untuk menyatakan
kembali pemikirannya... sebuah perasaan yang telah ia tetapkan sejak memutuskan
menjadi Sword King dan berhasil mencapai tingkat Sword Saint.
"────"
Sang Tuan
Putri Perak menatap tajam ke arah Ren dengan kedua matanya.
Ia
menggerakkan ujung jarinya dengan ringan, membuat kain yang jatuh di atas
rumput melayang di udara, lalu membungkus kembali God Devourer sebelum
mengambilnya.
Setelah
itu, ia langsung berbalik membelakangi Ren.
"……Anu!"
Bibir
Lutreche bergerak saat ia mulai melangkah menjauhi pemuda itu.
"Cobalah cari Emblem bertanda. Mungkin itu akan
membantu."
Suaranya perlahan melebur bersama angin.
◇◇◇
Sesaat setelah Ren selesai berbicara dengan Lutreche, di
sebuah aula kapal sihir yang sedang mendekati Ibu Kota.
Jika seandainya ini adalah Legend of the Seven Heroes I,
maka ini adalah momen perjalanan pulang menuju Ibu Kota setelah berhasil
menghentikan Ulysses Ignat yang mencoba membangkitkan Naga Merah Asvar di
Pegunungan Baldor.
Ini adalah peristiwa tepat sebelum lagu penutup seri pertama
dimulai.
Di tengah perjalanan kembali ke keseharian dari
ketidakhadiran pertempuran yang mempertaruhkan nyawa... topik pembicaraan
rombongan yang berkumpul di aula adalah tentang kekuatan yang ditunjukkan Vain
dalam pertempuran sebelumnya.
Mengenai kekuatan tersebut, Kaito Leonard, pemuda yang ahli
dalam menggunakan perisai, berujar.
"Sudah
kuduga, Vain, jangan-jangan kamu itu memang keturunan Pahlawan Ruin……"
"……Entahlah.
Aku sama sekali tidak merasakannya."
Menanggapi
jawaban Vain yang tampak ragu, Sarah Riohard membuka suara.
Gadis bangsawan
ini memiliki rambut cokelat yang memancarkan kesan mulia dan mata yang
menyerupai amber. Wajahnya yang rupawan menyiratkan keteguhan hati yang kuat.
"Cahaya
itu…… mirip seperti saat kamu menolongku di dalam hutan dulu."
Itu adalah
insiden masa lalu yang menjadi awal mula hubungan mereka berdua.
"Dengan itu,
kamu berhasil mencegah kebangkitan sempurna Asvar…… tapi itu adalah kekuatan
yang tidak terasa seperti sihir suci maupun sihir putih."
"Ah,
Nemu juga berpikir begitu!"
Seru Nemu
Altia, keturunan Seven Heroes yang juga dijuluki jenius dalam peralatan
sihir.
"Benar
juga ya, aku sudah berkali-kali ke kuil untuk urusan keluarga Rofelia, tapi
tidak ada pendeta yang bisa menggunakan kekuatan seperti itu."
Sahut
Charlotte Rofelia, keturunan Seven Heroes yang merupakan ahli memanah.
Sembari
mendengarkan suara mereka, Vain yang menjadi pusat pembicaraan menatap telapak
tangannya sendiri sambil duduk di sofa.
Ia
berkali-kali mengenang waktu yang dihabiskan di Pegunungan Baldor, memikirkan
dampak insiden yang meluas ke seluruh Kekaisaran Leomel, dan kini merenungkan
kata-kata teman-temannya.
"Karena
kejadian itu baru saja berlalu, aku belum bisa berpikir dengan tenang. ……Saat ini, aku hanya merasa cukup karena
bisa pulang dengan selamat bersama kalian semua."
Semua orang
mengangguk mendengar perkataan Vain, mensyukuri akhir dari perjalanan yang
berat itu.
◇◇◇
Setelah itu,
perhatian Vain teralihkan oleh pemandangan yang terlihat dari jendela kapal
sihir.
Itu adalah
wilayah yang jauh dari pemukiman manusia. Meski berada di daratan yang hampir
rata, terbentang topografi langka di mana beberapa sungai raksasa bertemu.
Alam megah yang
berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan kapal sihir menuju Ibu Kota────
bukan hanya itu. Ia terpaku pada pemandangan spektakuler yang belum pernah ia
lihat sebelumnya.
"Sarah, itu
apa?"
"Itu tempat
bernama Windea. Katanya itu tempat di mana air dan angin
bersemayam……"
Di pusat
topografi yang membuat Vain penasaran, sungai-sungai raksasa bertemu.
"Lihat
saja."
Ujung pertemuan
sungai itu adalah sebuah danau raksasa, begitu luas hingga sebuah kota kecil
mungkin bisa tenggelam di dalamnya. Danau itu dikelilingi oleh hutan hijau yang
rimbun dan dataran luas.
Di tengah danau
tersebut, berdiri sebuah gunung serupa menara dengan tebing batu yang tajam.
Puncaknya lebih
tinggi dari ketinggian jelajah kapal sihir yang ditumpangi Vain dan
kawan-kawan. Di atas gunung yang menembus awan itu, partikel cahaya yang
mengingatkan pada mana berwarna biru dan dedaunan musim panas menari-nari
tertiup angin.
"Katanya,
air dan angin yang ada di Benua Elfen pada akhirnya akan menuju ke tempat
itu."
Aku tidak tahu
itu benar atau tidak, sih, Sarah tertawa.
"Jadi cahaya
yang terlihat di atas awan itu adalah mana yang terkumpul?"
"Sepertinya
begitu."
Sarah melanjutkan
penjelasannya.
"Air yang
terhisap ke gunung dari danau itu berubah menjadi mana murni, lalu dilepaskan
kembali ke dunia. Angin akan melebur ke dalam mana tersebut, terlahir kembali
seperti air, dan terbang dari langit ke seluruh benua. Legenda mengatakan bahwa
Windea adalah wilayah yang diciptakan oleh Dewi Air."
Itu adalah sebuah
event di mana Vain, yang mewarisi darah Pahlawan Ruin, akan diperkuat di
sana dan bisa menggunakan kekuatan baru.
◇◇◇
Dan,
sekarang.
Di garis
waktu ini pun, percakapan serupa sedang berlangsung.
Perbedaannya
dengan Legend of the Seven Heroes adalah rombongan ini bukan berasal
dari Pegunungan Baldor, melainkan dalam perjalanan pulang dari wilayah Duke
Leonard.
"Hee…… ada tempat seperti itu ya."
"Iya. Aku juga sudah lama tidak melihatnya seperti
ini────"
Saat Vain menunjukkan kekagumannya, Sarah berdiri di
sampingnya dengan wajah bangga untuk melanjutkan cerita.
Melihat hal itu, Charlotte yang ingin mengganggu langsung
memeluk Sarah dari belakang, membuat Sarah menggeliat mencoba melepaskan diri.
"Sudah kubilang, kan! Shalo itu selalu saja
tiba-tiba!"
"Aduh,
jangan kasar-kasar begitu dong~"
Akhirnya, Sarah
yang tidak bisa melepaskan diri hanya bisa menghela napas. Napas yang sangat
panjang.
Setelah menyerah,
Sarah memilih pasrah dengan posisi menggendong Charlotte dan menganggap gadis
di punggungnya itu tidak ada. "Habisnya mau bagaimana lagi," katanya
sambil memulai kembali pembicaraan.
"Katanya,
setiap beberapa ratus tahun sekali, sebuah mata air di samping kuil di puncak
gunung yang biasanya kering akan terisi air."
"Bukan
karena air hujan, kan?"
"Tentu saja
bukan. Air itu mengandung sifat suci, dan konon punya kekuatan untuk menjauhkan
keberadaan jahat. Sepertinya air itu memancar entah dari mana. Terutama,
katanya air itu bereaksi kuat terhadap kekuatan Pahlawan……"
Seketika, gerakan
semua orang kecuali Vain terhenti. Lalu kali ini, seolah sudah direncanakan,
mereka semua menatap Vain.
Sementara itu,
Vain yang menjadi pusat perhatian mengangguk dengan mantap.
"Jika
kekuatanku bisa berguna untuk melawan Kultus Dewa Iblis, aku rasa aku
harus menyelidikinya."
Jika itu sudah
menjadi keputusan Vain, maka tidak ada yang mengajukan keberatan.
Jika dia berkata
begitu, mereka ingin menanggapi perasaan itu.
"Kalau
begitu sudah diputuskan! Mari kita pergi ke Windea dalam waktu dekat!"
"Mu-mustahil,
mustahil! Sarah-chan, mendaki gunung seperti itu di musim seperti ini
benar-benar gila!"
"Benar juga…… bahkan ototku pun akan kesulitan. Tempat
itu dikatakan lebih parah daripada Pegunungan Baldor yang disebut gunung paling
terjal di negara kita. Lebih baik setelah musim semi tiba."
"Bukankah saat libur panjang berikutnya saja? Kita
tinggal pergi bersama setelah anak-anak itu masuk sekolah."
"……Benar
juga. Belum tentu mata airnya akan terisi tahun ini……"
Penyebutan yang
penuh teka-teki itu pasti memiliki makna tertentu.
Banyak pemain menganggap event ini sebagai pembuka
untuk Legend of the Seven Heroes II. Dan itu benar adanya.
Legend of the Seven Heroes II · Bab 1 "Garis
Darah Sang Pahlawan".
Setelah melewati seri pertama, dimulailah kisah para pemuda
dan pemudi yang telah tumbuh dewasa.
Hal yang harus
mereka bicarakan bukan hanya itu saja.
"Setelah
libur musim dingin berakhir, aku ingin mengobrol dengan Ren juga."
"Ouh! Benar,
itu!"
"Tunggu dulu
Kaito-kun, jangan tiba-tiba berteriak keras begitu!"
"Maaf, maaf.
Tapi, sebenarnya apa yang terjadi dengan Ashton? Kalau rumor itu benar, berarti
dia mengalahkan Wadatsumi, utusan dewa raksasa, sendirian."
Kaito berujar
dengan semangat, sementara Charlotte menimpali sambil terus bermanja di
punggung Sarah.
Sarah yang
menggendongnya sudah menyerah sepenuhnya, dan kini malah memainkan poni
Charlotte yang menjuntai dengan ujung jarinya.
"Itu bukan
rumor. Jika melihat kekuatan tempur yang ada di tempat itu, tidak salah lagi
itu pasti dia."
"Katanya komandan Sacred Order of the Lion juga
ada di sana, kan? Begitu juga kepala pelayan keluarga Ignat."
"Aku juga tahu itu. Tapi katanya Pak Komandan ada di
dalam kota, dan paman pelayan itu juga berjaga di samping Marquis Ignat,
kan?"
"Hooh…… jadi benar ya, Ashton yang melakukannya."
Waktu di musim dingin berlalu dengan lambat.
◇◇◇
Sekitar waktu kapal sihir yang ditumpangi Vain terbang di
langit jauh, Ren mempercayai kata-kata yang diucapkan Lutreche dan mendatangi
Guild Petualang di Ibu Kota.
Di tengah keramaian orang, ia melangkah lurus menuju
resepsionis tanpa memedulikan sekeliling.
Resepsionis wanita yang pernah menyapanya tempo hari
menunjukkan sambutan hangat dengan senyuman.
"Aku datang
untuk menanyakan hal yang kita bicarakan kemarin, apa boleh?"
"Tentu saja,
Tuan Ashton."
Setelah menjawab
demikian, resepsionis itu membawa Ren menuju bagian dalam guild.
"Silakan
lewat sini."
Meskipun disebut
bagian dalam, itu bukan ruang yang biasa digunakan karyawan.
Di dalam guild
tersebut, terdapat sebuah guild spesial dengan interior yang tidak kalah
mewah dari penginapan kelas atas. Bahkan kertas-kertas permintaan yang ditempel
di dinding pun memancarkan kesan mewah.
Selain Ren, ada
beberapa petualang lain di sini, juga terlihat sosok bangsawan, orang kaya, dan
ksatria yang datang untuk mengajukan permintaan.
"Apakah ada
keinginan tertentu?"
Ditanya oleh
resepsionis yang memandunya, Ren tampak berpikir keras.
(Kalau ditanya
begitu pun aku bingung……)
Karena Lutreche
tidak menceritakan detailnya, sulit untuk menentukan langkah selanjutnya dari
sini.
"Aku ingin
melihat-lihat dulu pelan-pelan."
"Baiklah.
Jika ada yang tidak dimengerti, silakan hubungi kami kapan saja."
Setelah
resepsionis itu pergi, Ren mengalihkan pandangannya pada permintaan yang
dipajang.
Di sana berjejer permintaan-permintaan yang pernah Ren lihat
di Legend of the Seven Heroes suatu saat nanti.
- 『Membasmi
monster di jalur udara menuju Benua Iblis. Pertempuran direncanakan di dek kapal
sihir. Upah harian
5.000.000 G + hasil pembasmian dibagi rata di antara peserta』
- 『Pergi ke wilayah kekuasaan Behemoth
bertanduk hitam, dan ambil tanduk yang terlepas karena pergantian alami.
Imbalan berdasarkan kesepakatan. Karena ini adalah individu kuat
kategori S-Rank, terdapat banyak catatan khusus』
- 『Ingin mendengar nyanyian
Siren. Meminta
pengawalan di laut yang tidak dikunjungi manusia. Upah harian
17.000.000 G』
……Dan lain-lain.
Semuanya adalah kasus spesial yang hanya bisa ditemukan di
sini, membuat perasaan Ren berbeda dari saat biasanya melihat lembar
permintaan.
Namun, jika hanya ini, sepertinya tidak ada hubungannya
dengan saran yang diucapkan Lutreche.
Ren terus
melihat-lihat permintaan itu sambil bergumam... selama beberapa menit.
"Ini
kan────"
Matanya terpaku
pada salah satu permintaan.
- 『Membantu menyusun dokumen. Dan
tugas-tugas lainnya. Imbalan berdasarkan kesepakatan』
Dibandingkan dengan lembar permintaan lainnya, yang satu ini
terasa terlalu hambar, atau memberikan kesan yang dingin.
……Namun, hal yang
patut diperhatikan bukan hanya itu saja. Ia sangat mengenali nama pemohonnya.
"Raguna-san?"
Nama yang tercantum adalah Sang Pengelana Tas. Peneliti yang
tergabung dalam Departemen Misteri, Raguna.
Karena tidak ada
permintaan lain yang menarik baginya, Ren mencabut kertas permintaan Raguna.
Saat ia menyerahkannya ke resepsionis, resepsionis wanita tadi berujar.
"Untuk yang
satu ini, sepertinya diperlukan wawancara langsung dengan pemohon."
"……Sudah
kuduga."
"Jika Anda
berkenan, kami akan menghubungkan Anda dengan pemohon────"
Sebelum
resepsionis itu selesai bicara, pintu ruangan terbuka. Di waktu yang sangat tepat, Raguna
muncul dengan wujud Sang Pengelana Tas.
Tanpa
memedulikan Ren yang berdiri di depan resepsionis, Raguna melangkah lurus
menuju dinding tempat lembar permintaan dipajang, dan langsung menyadari bahwa
lembar permintaannya sudah hilang.
"Ternyata
ada yang tertarik dengan permintaan seperti itu. Benar-benar orang yang
aneh."
Setelah bergumam
demikian, ia menemukan Ren di meja resepsionis.
Sudut bibir yang
terlihat dari balik tudung yang dikenakannya melengkung dengan perasaan senang.
Lalu, sambil menyandang tas di punggungnya, ia melangkah lebar ke arah sini.
"Kebetulan
sekali, orang yang baru saja datang adalah pemohonnya."
"……Sepertinya
begitu."
Tepat saat
resepsionis hendak menyarankan wawancara, Raguna sudah sampai di samping Ren
dan meletakkan tangannya di atas lembar permintaan yang masih ada di meja
resepsionis.
Resepsionis itu
terkejut melihat pemohon yang biasanya sulit didekati itu sedang tersenyum
dengan suasana hati yang sangat baik.
"Wawancara
tidak perlu. Aku akan bekerja dengan pemuda ini."
"Apakah
tidak apa-apa?"
Resepsionis itu
hampir terperangah, namun ia tetap berujar tanpa menunjukkan ekspresinya.
"Dia
kenalanku. Akan sangat membantu jika dia yang menerimanya. Sebenarnya ada
banyak hal yang membuatku sungkan untuk memintanya langsung, tapi ini adalah
situasi terbaik."
"Baiklah
kalau begitu. Tuan Ashton────"
"Aku
juga tidak keberatan."
"Bagus.
Kalau begitu mari kita segera
bicarakan detailnya."
Sepertinya Raguna
tidak berniat membicarakannya di ruangan ini. Ia dan Ren memberi hormat pada
resepsionis lalu berjalan keluar dari guild.
◇◇◇
Setelah Raguna
dan Ren keluar dari guild.
"Aku sempat
berpikir untuk memintamu langsung, tapi aku mengurungkan niat karena tidak
ingin terlalu sering merepotkanmu demi kepentinganku sendiri."
Namun, melihat
Ren yang tertarik pada Emblem bertanda, ia akhirnya memutuskan untuk
menyapanya.
"Apa kamu
penasaran dengan apa yang sedang kulakukan? Ataukah kamu melihat lembar
permintaan itu karena penasaran dengan namaku?"
"Bisa
dibilang keduanya."
Itu bukan bohong.
Sebenarnya karena
ia merasa ini ada hubungannya dengan saran Lutreche, namun ia memilih untuk
tidak membahasnya dan menyimpannya sendiri.
"Tidak
buruk. Aku mendapatkan jawaban yang kusukai."
"Itu bagus
sih, tapi sebenarnya apa maksud dari permintaan itu?"
"Ada
barang yang sedang kucari dengan segera. Bukan sampai tingkat asisten, tapi
seperti yang tertulis, aku butuh bantuan untuk menyusun dokumen dan tugas-tugas
lainnya."
Alasan Raguna
mengajukan permintaan dengan konten tugas-tugas kasar sepertinya karena pada
dasarnya ia berniat melakukannya sendiri.
"Sepertinya
ini bukan hanya soal mencari romansa petualangan ya."
"Bukannya
aku tidak mencarinya, tapi kali ini lebih karena rasa ingin tahu intelektual.
Dan sekadar informasi, jika aku memintamu, aku tidak berniat menyuruhmu
melakukan tugas-tugas kasar kok."
Ia menambahkan
bahwa Ren boleh memutuskan untuk menerima atau tidak setelah mendengar
detailnya.
"Kalau
begitu, apa Anda akan memberitahuku tentang barang yang sedang dicari?"
"Tentu.
Aku tidak berniat menyembunyikan informasi seperti yang tertulis di lembar
permintaan."
Saat memasuki
gang sempit, Raguna berjalan sambil memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
"Apa kamu
ingat panti asuhan yang ada di Kota Tua?"
"Iya. Tempat
yang pintunya kubuka itu, kan."
Ren ingat bahwa
di ruangan kepala panti bernama Geno tersebut, ditemukan surat-surat yang
saling dikirim antara kepala panti dengan petualang Ashton, alias Cecil Ashton.
Lukisan yang
ditemukan di kamar kepala panti itu sekarang terpajang di kamar Ren.
"Anda
menemukan sesuatu di sana ya."
"Benar.
Setelah itu penyelidikan terus dilanjutkan, dan beberapa barang menarik
ditemukan."
Sampai di situ,
Raguna mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya.
Kunci itu
berbentuk batang yang memancarkan kilauan seperti kristal biru…… menyerupai
batu safir, dengan gerigi kunci di ujungnya. Bagian di sekitar kepala kunci
tampak pecah sehingga tampilannya kurang bagus.
"Kunci ini
ditemukan di kamar kepala panti. Ini bukan sekadar kunci biasa, melainkan kunci
peralatan sihir."
"Karena
sekarang sedang rusak, berarti ia tidak bisa berfungsi dengan benar ya."
"Seperti
biasa, pemahamanmu yang cepat sangat membantu."
Sambil
merasakan ciri khas Raguna yang langsung berbicara pada intinya, Ren
mendengarkan dengan tenang karena merasa tertarik.
Melangkah
lebih jauh ke dalam gang, Raguna berhenti dan meletakkan tasnya di atas jalan
batu. Saat ia menjentikkan
jarinya, mulut tas raksasa itu terbuka dengan sendirinya.
Ia mengeluarkan
sebuah amplop kertas tua dari dalam tas.
Di dalamnya, yang
kemudian ia perlihatkan pada Ren, terdapat selembar perkamen tua.
"Apa kamu
tahu tentang penyair Mudie?"
"Aku tahu.
Wanita dari zaman saat Seven Heroes masih hidup, kan."
Itu adalah nama
yang baru saja Ren ceritakan kepada Kukuru dan Io tempo hari.
Lagu-lagu yang
disenandungkan Mudie bukan hanya memiliki kesempurnaan dalam komposisinya,
namun bukan sekadar kata-kata melainkan sihir. Dikatakan bahwa lagu-lagu itu
menyembuhkan mereka yang mendengarnya, dan terkadang membangkitkan semangat.
Karena bisa juga menguras stamina monster, kemampuannya itu diwariskan sebagai
bakat unik miliknya sendiri.
"Ada apa
dengan Mudie?"
"Ternyata
ada hubungannya dengan petualang Ashton yang kita bicarakan. Kalau sudah
begitu, aku tidak bisa mengabaikannya."
"Tapi, jika
kuncinya hanya ada di panti asuhan────"
"Mungkin
saja Mudie hanya sekadar kenalan dengan Kepala Panti Geno, begitu?"
Ren mengangguk
pelan. Pertanyaannya memang wajar, namun Raguna sepertinya sudah mendapatkan
bukti yang kuat.
"Di panti
asuhan itu, ditemukan juga surat dari Mudie. Di dalamnya tertulis tentang Cecil
Ashton, jadi aku menyimpulkan bahwa itu akan menjadi informasi penting untuk
melacak sang petualang tersebut."
"……Kalau
begitu, memang benar. Ngomong-ngomong, bagaimana cara menggunakan kunci
itu?"
"Menurut
suratnya, benda ini adalah kunci untuk menuju tempat persembunyian Mudie,"
lanjut Raguna.
"Hubungan
mereka memang masih sangat samar, tapi aku ingin menghargai fakta bahwa kunci
ini berhasil ditemukan."
"Bukankah
lebih baik dihancurkan saja pintunya tanpa memedulikan kuncinya? Kalau cuma
pintu, rasanya masih bisa dimaafkan," sahut Ren.
"Aduh, aduh,
Ren... kamu masih saja menyukai cara-cara liar dan gagah seperti itu ya. Aku
pun terkadang menyukai cara itu tergantung waktu dan situasinya, tapi……"
(……Sejak
bertemu di Departemen Misteri, sepertinya dia selalu menganggapku suka main
kasar.)
Sebenarnya itu
adalah cara yang paling praktis, tapi ada alasan mengapa hal itu tidak bisa
dilakukan.
"Untuk
yang satu ini, tidak bisa begitu. Coba lihat ini baik-baik."
Raguna
mengeluarkan selembar perkamen tua yang kosong. Saat kunci didekatkan, kertas
itu memancarkan cahaya redup sesaat, namun cahayanya langsung padam.
"Meskipun
kelihatannya seperti kunci, ini bukan untuk penggunaan biasa. Ini adalah kunci
untuk mengaktifkan peralatan sihir yang selaras dengannya."
"……Berarti,
kertas ini adalah petanya ya."
"Ya. Itulah
fungsinya."
Dua benda menjadi
satu. Sebuah peralatan sihir yang berpasangan.
Namun, peta itu
hanya bercahaya sedikit tanpa menunjukkan lokasi mana pun. Hanya garis-garis
topografi samar yang seolah terlihat sekilas.
"Meski kita
ingin menghancurkan pintunya, kita bahkan tidak tahu di mana pintu itu berada.
Kita bahkan belum sampai di tahap itu."
"Jadi, Anda
mencari material yang dibutuhkan untuk memperbaiki kuncinya……"
"Benar. Tapi
kunci ini dibuat dengan mengolah permata yang diberkati oleh Dewi Air secara
mewah. Perbaikannya tidak akan berhasil kecuali kita mengekstrak kekuatan dari
Relik yang serupa. Inilah
repotnya jika berurusan dengan benda-benda yang berkaitan dengan Relik."
Singkatnya,
yang dicari adalah benda yang berkaitan dengan Dewi Air di antara sekian banyak
Relik.
Di gudang
harta karun Gereja Elfen pasti ada banyak, tapi tidak mungkin mereka akan
memperlihatkannya apalagi menjualnya dengan mudah.
"Di
Departemen Misteri sepertinya ada Relik seperti itu."
"Ada
sih, tapi mungkin karena hubungannya dengan Dewi Air terlalu tipis, tidak ada
efeknya. Konsentrasi kekuatan yang hanya setingkat partikel di udara sepertinya
tidak ada harganya."
"……Begitu
rupanya."
Mendengar
penjelasan itu, Ren merasa tempat yang ia datangi bersama Io dan Kukuru tempo
hari pun mungkin tidak akan berguna.
(Bagaimana dengan Water Magic Sword?)
Karena pedang itu juga menyimpan kekuatan Dewi Air, mungkin
bisa dimanfaatkan. Namun karena saat ini ia tidak sedang memanggilnya, Ren
memutuskan untuk mencobanya di lain hari saat ia diperlihatkan kunci itu lagi.
……Meski sebenarnya itu pun tidak akan membuahkan hasil,
namun Ren baru akan mengetahui hasilnya beberapa hari kemudian.
Bagaimanapun, ia tidak menyangka akan secepat ini berurusan
dengan Relik, hal yang belakangan ini sering ia pikirkan.
Namun, ia tidak merasa ini adalah sebuah kebetulan.
Pergi ke Eupheim dan diperlihatkan pemandangan dari garis
waktu lain, melangkah ke Kota Tua, lalu sampai pada nama Cecil Ashton.
Hal-hal kecil yang tampak seperti kejadian terpisah,
semuanya seolah terhubung oleh benang tipis…….
……Mungkin
sebaiknya aku memastikan apakah ada hubungannya.
Ren tertawa
kecut, namun tak disangka, masa depannya tidaklah sesuram itu.
Sebuah item terlintas di kepalanya.
"Aku
tahu Relik yang sepertinya bisa digunakan."
"────Hou.
Di mana Relik itu berada?"
Nada
suara Raguna berubah. Ia melepas tudungnya dan menatap Ren.
Wajah
tampan Raguna memang terlihat seumuran dengan Ren, namun karena dia adalah ras
Shelgrad dari Benua Langit yang dikenal berumur panjang, usia aslinya jauh di
atas Ren.
"Apakah
Anda tahu tentang kuil di Windea?"
"Tentu
saja. Tempat di mana mata airnya hanya akan terisi penuh setiap beberapa ratus
tahun sekali, kan?"
Bersamaan
dengan itu, air akan mulai mengalir di berbagai penjuru Windea, menciptakan
pemandangan yang indah.
Di
sanalah Vain yang menyentuh air tersebut akan diperkuat, dan kehadirannya
sebagai keturunan Pahlawan akan semakin diakui.
Pada saat yang
sama, kepastian bahwa dia adalah keturunan Pahlawan akan didapatkan—terutama di
antara para karakter, bukan para pemain.
"Mungkin itu
adalah pengaruh dari Cincin Dewi Air yang dirumorkan tersembunyi di Windea.
Katanya cincin itu akan menampakkan diri jika sudah dipenuhi dengan mana."
"……"
"────Anu."
Melihat Raguna
yang terpaku dengan mata membelalak, Ren mencoba mencari alasan.
"Aku cuma
pernah menyelidikinya karena tertarik dulu! Aku cuma berkhayal, mungkinkah
rasanya bakal seperti itu……!"
Ren menjelaskan
dengan banyak gerakan tangan, menunjukkan kegugupan yang jarang ia perlihatkan.
"……"
"Anu…… tolong jangan diam saja, dong?"
"Maaf. Tadi aku sempat berpikir untuk memelukmu dan
memberimu kecupan di pipi."
"Tidak
perlu, terima kasih."
Raguna tertawa
dengan nada geli.
"Memang
benar ada legenda seperti itu. Bahwa di suatu tempat di Windea, terdapat cincin
seperti yang kamu katakan……"
Cincin
Dewi Air.
Sebuah
item berharga yang jika dikenakan akan meningkatkan kekuatan sihir air, namun
selain itu, ada deskripsi misterius yang berbunyi: 'Sepertinya masih ada
kekuatan spesial lainnya, tapi……'
"Aku pun
pernah memikirkan hal yang sama. Mengetahui Ren juga memikirkannya membuatku
merasa terbantu, tapi cincin itu belum pernah terlihat oleh mata manusia sampai
sekarang. Itu hanyalah legenda yang mengatakan bahwa benda itu 'mungkin
ada'."
Selain itu, ada
satu lagi legenda.
"Ditambah
lagi, katanya cincin itu sendiri tidak akan muncul kecuali saat ia sudah
dipenuhi dengan mana."
"Itu
dia! Aku juga pernah mendengar legenda itu!"
"Jadi karena
itu kamu ingin mencoba pergi ke sana. ……Meski terdengar meragukan, mungkin kali
ini bukan cerita yang bisa diremehkan. Tidak buruk juga untuk pergi mengeceknya
saat musim semi tiba."
"Lho?
Aku kira Raguna-san bakal bilang ingin pergi sekarang juga."
"Musim
ini terlalu sulit. Untuk mendaki Windea, kita harus menempuh jalur darat atau
menghentikan kapal sihir di suatu tebing…… tapi bergerak di Windea itu tidaklah
mudah."
Sekitar
Windea di musim seperti ini dipenuhi oleh mana angin dan air di mana-mana,
membuat pergerakan menjadi sangat sulit.
Jika
angin yang mengandung mana bercampur dengan mana air, wilayah itu akan berubah
menjadi medan di mana badai salju sedingin sihir mengamuk di mana-mana.
Baik
jalur darat maupun udara, cuacanya terlalu berbahaya.
"Ada
pekerjaan lain juga, jadi sulit jika harus segera. Lagipula Ren juga sebentar lagi liburannya
akan berakhir, kan. Aku rasa musim semi adalah waktu yang tepat."
Lalu,
Raguna menyadari sesuatu yang sempat ia lupakan.
"Awal
tahun ajaran baru sepertinya akan sulit bagi Ren yang merupakan seorang
murid."
"Tidak,
tidak! Tidak apa-apa! Justru aku ingin menjadikannya prioritas utama!"
"Begitukah? ……Jika kamu punya antusiasme setinggi itu,
aku tidak akan menghentikanmu lagi."
Ren yang biasanya tidak seaktif ini menghela napas lega,
sembari bergumam di dalam hati tentang alasannya bersikeras tadi.
(……Cincin itu kalau tidak salah, kita tidak boleh datang
lebih lambat dari Vain.)
Raguna memasukkan semua perlengkapannya ke dalam tas,
menyandang tas itu kembali, lalu mengenakan tudungnya lagi.
"Masalahnya
adalah kita tidak tahu kapan mata air itu akan terisi air."
Ren bisa bilang
ingin pergi karena ia tahu bahwa tahun ini adalah tahunnya, namun bagi orang
yang tidak tahu hal itu, wajar jika muncul keraguan. Bagi orang awam, ini
mungkin akan menjadi perjalanan sia-sia, namun bagi Raguna yang merupakan
perwujudan rasa ingin tahu intelektual, itu adalah hal sepele.
Lagipula, jika
memaksa pergi di musim ini, cincin itu belum akan muncul, jadi pada dasarnya
memang tidak ada alasan untuk pergi sekarang.
"Kalaupun
bisa menemukannya, aku merasa agak enggan untuk meminjam cincin itu. Membawa
pergi benda yang belum diteliti jenisnya rasanya cukup membebani hati."
"Anda
tidak bilang 'akan membawanya pergi untuk penelitian' ya."
"Aku
tidak suka Relik karena penanganannya merepotkan. Aku tidak berniat menjalin
hubungan lebih dalam dengan benda-benda itu."
Kalau
dipikir-pikir, pria ini memang sinis terhadap keberadaan dewa.
Saat
pertama kali bertemu di Departemen Misteri pun, dia sepertinya pernah
mengatakan hal yang serupa.
"Ingatlah
ini baik-baik. Kita harus menghormati sejarah dan romansa yang tersembunyi di
dalamnya, tapi jika dewa sudah terlibat, sebagian besar urusan akan menjadi
merepotkan."
"Kalau
begitu, tidak bisakah kita meminjam mana dari Dewi Air saja untuk memperbaiki
kuncinya?"
"Aku
akan menyiapkan segala sesuatunya di tanganku agar itu bisa dilakukan.
────Seandainya kekuatan Dewi Air masih tersisa di patung dewi di Roses Kaitas,
itu mungkin sudah cukup."
"Aku rasa
Raguna-san bisa pergi ke sana sebagai peneliti."
"Awalnya aku
berniat begitu, tapi Gereja Elfen sangat membenci kami para peneliti. Campur
tangan laboratorium kami ditolak mentah-mentah."
"……Ooh."
Kalau
dipikir-pikir, Chronoa seharusnya sudah beberapa kali mengunjungi Roses Kaitas.
Ren berpikir mungkin ia bisa mencoba berkonsultasi dengannya.
"Maaf baru
mengatakannya setelah menerima permintaan ini, tapi bolehkah aku menceritakan
isi permintaan ini kepada Licia dan yang lainnya nanti? Aku tidak enak kalau
pergi tanpa pamit."
"Jika itu
kepada orang-orang terdekatmu, tidak masalah. Lakukanlah sesukamu menurut
pertimbanganmu sendiri."
Pembicaraan soal
pekerjaan berakhir di sini, dilanjutkan dengan obrolan santai.
"Ngomong-ngomong,
Anda sedang di Ibu Kota ya."
"Aku
sedang berbelanja sambil mengajukan permintaan tadi. Karena tidak ada pilihan lain, tadinya aku berniat
mampir menemui Radius jika suasana hatiku sedang baik."
"Kalau
Anda bicara begitu, nanti Radius bakal marah lagi, lho."
Sambil
mengobrol, Ren teringat sesuatu.
Saat musim semi
tiba, yang mengincar Windea pasti bukan hanya mereka saja.
(Vain dan yang
lainnya juga, ya.)
Ren belum tahu
apa yang akan mereka lakukan di garis waktu ini, tapi ia yakin pasti akan
begitu.
Karena tidak ada
lagi hal yang perlu dikonsultasikan di tahap ini, mereka berdua berbalik untuk
kembali ke jalan utama.
"Kalau begitu…… aku juga akan pulang sekarang."
Sesaat setelah
mulai melangkah, angin musim dingin menerpa pipi Ren.
Tiba-tiba────.
Ren diserang oleh
sensasi pemandangan di depan matanya yang memudar, sesuatu yang sudah ia alami
berkali-kali sebelumnya.
Sesaat setelah ia
menyipitkan mata karena angin yang agak kencang, ia melihat pemandangan Ren
Ashton dari garis waktu lain yang sedang berbicara dengan Raguna di gang sempit
ini.
Samar-samar
terdengar percakapan orang-orang yang berjalan di jalan utama.
'Katanya
Ren Ashton itu dulunya cuma bocah ksatria yang melayani keluarga Clausel.'
'Bukan
cuma membunuh putri bangsawan yang sudah merawatnya, dia bahkan tega menghabisi
Chronoa Highland. Kenapa dia tidak segera ditangkap dan dihukum mati saja,
sih?'
Mendengar
itu, Raguna berujar kepada Ren Ashton.
'Dengarkan
suaraku saja.'
Menghadapi
Raguna yang berbicara dengan datar, Ren Ashton tampak hampir tanpa ekspresi.
Mereka berdua
melanjutkan pembicaraan di gang sempit itu.
'Sepertinya
kamu sudah berhasil bertemu dengan Edgar.'
'Begitulah,
meski susah payah. Sekarang kami sedang berpencar.'
Dari interaksi
itu, Ren menyadari bahwa pemandangan ini adalah kejadian setelah mimpi yang ia
lihat di Eupheim, berada dalam garis waktu yang sama.
'Aku terkejut
kamu benar-benar masih hidup. Jadi, bagaimana dengan para keturunan Seven
Heroes?'
'Sepertinya
mereka sedang melacak jejak Kultus Dewa Iblis lagi.'
'Baguslah.
Lalu, apa yang akan Ren lakukan sekarang?'
Ditanya demikian,
Ren Ashton mendongak ke arah langit dengan tatapan bimbang, lalu menjawab.
'Jika perlu,
aku akan membantu Vain dan yang lainnya. Tapi selain itu, aku berniat mencari
tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu.'
Mendengar
itu, Raguna terbelalak karena terkejut.
Setelah
beberapa detik, ia kembali tenang dan mencoba menasihati Ren Ashton.
'Hentikan.
Itu berbahaya. Aku sudah berkelana ke seluruh penjuru dunia dan melihat banyak
orang kuat, tapi dia itu berada di level yang berbeda.'
'Aku
tahu. Tapi, bukan berarti aku bisa mengabaikannya.'
Ren
Ashton mengenakan jubah yang tadi ia jepit di ketiaknya. Ia mengenakan tudung
itu dalam-dalam, membuat identitasnya tidak bisa dikenali sekilas.
Meski
begitu, ia adalah kriminal yang namanya terukir dalam sejarah Leomel.
Seharusnya berjalan di tengah Ibu Kota sangatlah berbahaya, namun ia tidak
menunjukkan tanda-tanda ketakutan.
'Apa kamu
waras? Kamu mungkin tidak akan sekadar berakhir dengan luka-luka, lho.'
'Hal semacam
itu sudah terlambat untuk dibahas sekarang.'
Senyum yang
tampak rapuh itu adalah sisa-sisa kecil dari sifat kekanak-kanakan yang
ditinggalkan Ren Ashton.
Di saat
berikutnya, ia menunjukkan ekspresi yang terlihat sudah terlalu dewasa, dan—
────"Soal
kematian, aku sudah tidak takut lagi sejak lama."
Ia mengatakannya
dengan mantap.
Pemandangan itu
lenyap layaknya fatamorgana. Entah apakah ungkapan "kembali ke dunia
asal" itu tepat, namun kata-kata tadi terus terngiang di hati Ren.
Merasa aneh
melihat Ren yang tiba-tiba diam, Raguna mencondongkan wajahnya dengan tatapan
khawatir yang jarang ia perlihatkan.
"Ada apa?
Apa kamu merasa tidak enak badan?"
"Tidak…… bukan begitu."
"Jika ada sesuatu yang mengganggu, jangan diremehkan. Tergantung gejalanya, segeralah
periksa ke dokter."
"Benar juga ya…… akan kupikirkan."
Angin musim dingin kembali menerpa pipi Ren.



Post a Comment