NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Chapter 4

Chapter 4

Kembali ke Tanah Kuno yang Pernah Kupijak


Hari hangat di awal Februari, Ren melangkah di jalan setapak yang menuju Garden of Swords.

Ia terus terpikir mengapa Lutreche memberinya saran seperti itu. Ia juga penasaran sejauh mana wanita itu mengetahui segalanya.

Rasanya mustahil dia akan menjawab jika ditanya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

Namun, setiap kali menyelidiki tentang keluarga Ashton, sebuah peristiwa dari masa lalu selalu terlintas di benaknya.

Mengapa Saintess Licia harus kehilangan nyawa di tangan Ren Ashton?

Kejadian yang bisa dibilang sebagai awal mula kisahnya itu tak pernah lepas dari kesadarannya.

Terkadang ia sengaja mencoba melupakannya, tapi seiring mendekatnya musim semi tahun kedua, pikiran itu justru semakin kuat menghantui.

"Jangan lupakan────"

Sensasi itu terasa begitu nyata, seolah dunia sendiri yang sedang memperingatkannya.

Langkah kakinya di atas jembatan terdengar begitu keras di telinganya sendiri.

Ren terus melangkah sembari berpura-pura tidak menyadari gejolak di hatinya, hingga akhirnya ia menginjakkan kaki di Garden of Swords.

Mungkin karena salju yang mencair akibat kehangatan hari ini, hamparan rumput di sana terlihat lebih hijau dan segar dibanding sebelumnya, menciptakan nuansa musim semi yang kental.

Seperti sebelumnya, Ren menuju bukit kecil di mana sebuah pohon berdiri tegak. Namun, meski telah menunggu hampir satu jam, sosok Lutreche tak kunjung muncul.

Tentu saja, tidak ada jaminan dia bisa bertemu wanita itu setiap kali datang ke sini. Karena niat awalnya pun hanya "kalau beruntung bisa bertemu", Ren akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi.

(……Pada akhirnya, apakah Emblem bertanda itu memang merujuk pada permintaan dari Raguna-san?)

Ia pun meninggalkan Garden of Swords belasan detik kemudian.

◇◇◇

Setelah meninggalkan taman itu, ia menaiki kereta sihir menuju stasiun terdekat dari Akademi Militer Kekaisaran.

Ini masih masa libur musim dingin, jadi tujuannya bukan untuk belajar. Sesampainya di akademi, Ren langsung menuju ruang kepala sekolah.

Ia sudah mengirim surat sebelumnya untuk membuat janji temu dengan Chronoa.

"Selamat datang, Ren-kun! Silakan duduk di sini!"

"Maaf, ya. Padahal mendadak sekali, tapi Anda mau meluangkan waktu."

"Tidak apa-apa! Justru aku yang menyarankan ini pada Ren-kun, jadi santai saja!"

Pemilik suara bening itu adalah Chronoa Highland, sang kepala sekolah.

Rambut panjangnya yang terurai tampak berkilau layaknya benang emas yang ditenun halus.

Wajahnya yang mungil dan cantik seperti boneka sering kali membuat orang lupa bahwa dia adalah salah satu penyihir terhebat di dunia.

Begitu wanita yang cantik jelita bak putri raja itu mempersilakan Ren duduk────

"Jadi, langsung saja ke inti pembicaraan hari ini."

Senyum ramah yang sedari tadi menghiasi wajah Chronoa sedikit memudar mendengar ucapan Ren.

"Hae……?" Suaranya terdengar lemah dan sedikit konyol. Ia menatap Ren dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Jangan-jangan, kamu mau langsung bicara serius nih?"

"Tentu saja. Anda sudah meluangkan waktu berharga untukku, jadi aku tidak ingin membuangnya."

"Tidak boleh! Bukan begitu caranya! Dengar ya, Ren-kun kan baru saja menjadi Sword Saint di awal libur musim dingin ini, kan!?"

Chronoa memang tahu mereka akan membicarakannya setelah liburan usai, tapi dia sudah tidak sabar dan ingin segera mengobrol dengan Ren.

Inti pembicaraan yang Ren maksud adalah hal lain.

Namun, Chronoa juga sangat ingin mendengar cerita tentang bagaimana Ren menjadi lebih kuat. Meski begitu, melihat Ren yang tetap tenang dengan kecepatannya sendiri seperti biasanya membuat Chronoa tanpa sadar tersenyum kecil.

"Yah, memang aku sudah menjadi Sword Saint, tapi selain itu tidak ada yang berubah kok……"

"Ahaha…… cara bicaramu itu sangat khas Ren-kun ya."

Chronoa memberikan senyum lembutnya, lalu mereka pun beralih ke topik utama.

Alasan Ren meminta waktu Chronoa adalah untuk menanyakan tentang Relik Dewi Air yang sempat ia bicarakan dengan Raguna.

 

Chronoa berjalan di samping Ren yang baru saja keluar ke area terbuka. Ia mengenakan jubah yang biasa dipakainya saat bepergian. Langkah kakinya terasa ringan dan ceria saat mereka melintasi Ibu Kota.

Di sampingnya, Ren menatap langit awal musim semi.

"Sebentar lagi upacara kelulusan, ya."

"Iya…… tahun ini pun banyak anak-anak yang akan meninggalkan akademi."

Meski suaranya terdengar sedikit sedih, Chronoa juga tampak bahagia.

Sebagai pendidik, ia tak bisa tidak merasa bangga sekaligus terharu melihat para murid yang telah berjuang selama empat tahun akhirnya lulus. Sebentar lagi, bunga-bunga di taman akademi dan pepohonan di pinggir jalan akan mekar, menandakan datangnya musim semi.

Tujuan mereka berdua adalah terminal kapal sihir Ibu Kota.

Karena skalanya kalah jauh dari Taman Gantung di Erendil, kebanyakan orang lebih memilih pergi ke sana, sehingga terminal ini tidak terlalu ramai.

◇◇◇

Setelah perjalanan udara singkat, mereka tiba di terminal kapal sihir yang terletak di dekat Roses Kaitas.

Di sekitar area ini, fasilitas sederhana yang dibangun untuk para peziarah saat Festival Raja Singa musim panas lalu masih dibiarkan berdiri.

Tempat ini sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali Ren datang ke sini bersama Licia untuk mendengarkan paduan suara.

Setelah menuruni tangga dan menapak di tanah, Ren dan Chronoa melangkah menuju Roses Kaitas tanpa memedulikan para peziarah di sekitar mereka.

"Sekarang tempat ini dikelola bersama oleh Leomel dan Gereja Elfen. Sama seperti sebelum insiden itu terjadi."

"Tapi, sepertinya jumlah ksatria yang berjaga lebih banyak dari sebelumnya ya."

"Karena jumlah peziarah meningkat, penjagaan memang diperketat."

Meski begitu, para peziarah hanya diperbolehkan mendekat sampai batas sebelum jembatan menuju Roses Kaitas.

Ren melihat para peziarah yang berdiri di dekat para ksatria yang menjaga jembatan sembari memanjatkan doa.

Namun berkat keberadaan Chronoa di sampingnya, Ren bisa melewati jembatan itu tanpa hambatan sama sekali.

"Kebetulan sekali, mereka memang memintaku untuk mampir sesekali."

"……Mendengarnya membuatku merasa sedikit lega."

"Ahaha! Ini kan permintaan dari Ren-kun tercinta. Serahkan semuanya pada Kakak!"

Chronoa dulu pernah bekerja di istana suci perak, pusat dari Gereja Elfen.

Bahkan sekarang, ia terkadang masih menerima permintaan dari negara untuk memeriksa kondisi Roses Kaitas. Saat mereka hendak memasuki Roses Kaitas, seorang ksatria penjaga menyapa mereka.

"Nona Highland, ya."

"Benar sekali," jawab Chronoa singkat.

"Pria yang bersama Anda juga sepertinya pernah saya lihat di sekitar markas Sacred Order of the Lion. Jangan-jangan, Anda adalah Sword Saint yang sedang dibicarakan itu?"

Ksatria itu bertanya sembari menatap Ren.

Sebelum Ren sempat menjawab, Chronoa sudah mendahuluinya.

"Tebakanmu tepat. Boleh kan dia ikut denganku?"

"Tentu saja. Identitasnya sudah terverifikasi di sini, jadi tidak ada masalah, tapi……"

"Hmm? Ada apa?"

"Tidak, hanya saja... dia tidak terlihat seperti pengawal Nona Highland."

Meskipun Ren sudah menjadi Sword Saint dengan teknik pedang yang hebat, tidak ada alasan baginya untuk menjadi pengawal seseorang sekuat Chronoa.

"Anak ini ikut karena aku yang ingin dia menemaniku."

"O-oh, begitu rupanya……"

"Ah, tapi kalau alasannya cuma itu, aku takut dimarahi nanti. Jadi tolong tulis saja kalau dia itu pengawalku, oke?"

"Tidak masalah. Kami sudah diperintahkan untuk mengikuti segala keinginan Nona Highland."

Normalnya alasan seperti itu tidak akan lolos, tapi ini Chronoa.

Ksatria itu berpikir bahwa di balik sifat jenakanya, mungkin penyihir agung ini memiliki rencana tertentu. Meski Chronoa tidak memiliki aura intimidasi seperti Sword King, ksatria itu merasa tidak bijak untuk bertanya lebih jauh.

"Silakan lewat."

Ini adalah kedua kalinya Ren menuju alun-alun patung dewa di pusat Roses Kaitas.

Meskipun ini kali pertama ia melewati jalur resmi pendakian gunung ini, karena segelnya baru saja lepas, bagi siapa pun tempat ini akan terasa seperti pengalaman baru.

……Melihat pemandangan luar membuatku merasa sangat tenang.

Pikir Ren sembari menoleh ke belakang saat mereka berjalan.

Saat terjebak selama Festival Raja Singa, ia berada di dalam segel. Ia bahkan tidak bisa melihat jalur keluar, apalagi pemandangan di luar Roses Kaitas.

Dibandingkan saat itu, kehadiran Chronoa di sisinya sekarang memberikan rasa aman yang jauh lebih besar.

"Masih saja ya, di mana-mana hancur berantakan."

Gumam Chronoa melihat kondisi Roses Kaitas yang mengenaskan.

Sisa-sisa pertempuran Ren dan Licia melawan Sword Demon masih membekas di berbagai sudut. Kondisinya jauh lebih parah dibanding saat mereka tersesat dulu. Kini lereng-lereng gunung tampak terkoyak, dengan retakan besar menganga di mana-mana.

Chronoa yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh ke arah Ren.

"Kamu baik-baik saja? Tidak memaksakan diri, kan?"

Ia menatap Ren dengan cemas, suaranya terdengar lembut dan menenangkan.

"Ren-kun dan Licia-chan kan pernah mengalami kejadian berat di sini. Aku takut suasana hatimu jadi buruk. Jangan memaksakan diri, ya?"

"Terima kasih. Aku baik-baik saja kok. ……Ya, walaupun ada perasaan yang sulit dijelaskan kalau mengingat pertempuran di sini atau tentang Gereja Elfen."

Senyum kecut Ren tidak menyiratkan kepalsuan. Chronoa mencoba memahami perasaan pemuda itu.

"Tapi, sejak melewati jembatan tadi, kita tidak bertemu siapa pun ya. Aku kira setidaknya akan ada beberapa pendeta yang lewat."

"Mungkin karena mereka sibuk memburu Kultus Dewa Iblis?"

"Ah, benar juga. Aku pernah dengar soal itu."

Itu adalah cerita yang Ren dengar dari Kaito saat berada di kapal Gardiknight dalam perjalanan menuju Eupheim tahun lalu. Kabarnya, belakangan ini Gereja Elfen sangat gencar bertempur melawan Kultus Dewa Iblis.

(Apakah ini soal harga diri, atau ada hal lain?)

Sejak Roses Kaitas terbuka, mereka memang lebih sering memiliki kesempatan untuk bertarung melawan Kultus Dewa Iblis.

◇◇◇

Alun-alun di mana patung-patung dewa yang dulu tersegel bersama Sword Demon berada.

Area ini hampir seluruhnya runtuh, meninggalkan lubang-lubang besar yang menuju ke sungai bawah tanah dan danau bawah tanah. Patung-patung dewa di sana rata-rata hancur berkeping-keping.

Tanpa melupakan tujuannya, Ren melompati bebatuan yang tersisa bersama Chronoa untuk mencari patung Dewi Air.

Tidak ada ksatria Leomel maupun pendeta Elfen. Hanya ada Ren dan Chronoa di tempat ini. Suara percakapan mereka dan dentingan kerikil yang mereka tendang menggema pelan.

"Dulu saat aku sering ke sini masih ada orang, tapi sekarang sudah lewat berbulan-bulan ya."

Chronoa berkata dengan nada ceria, lalu mengeluarkan tongkat dari balik jubahnya dan mengayunkannya ringan. Sebuah gambaran bercahaya emas terbentuk di udara.

"Ini adalah wujud dari patung Dewi Air."

"Sangat mudah dimengerti, tapi…… itu……"

Sembari melangkah di atas pijakan yang sulit, Ren menatap ke arah yang sama dengan Chronoa.

"Jelas sekali itu patungnya, kan?"

"Kamu sudah sadar? Itu memang patung yang kita cari, tapiー……"

Saat Ren berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari objek di depannya, Chronoa hanya bisa tersenyum kecut di sampingnya.

"……Benar-benar tidak berwujud lagi ya."

Apa yang ia lihat adalah patung Dewi Air yang telah hancur mengenaskan.

……Yah, setidaknya pola pakaiannya masih bisa dikenali.

Ukuran patung Dewi Air itu sangat besar. Dari sisa-sisa reruntuhan yang tidak jatuh ke lubang besar, bisa diperkirakan tingginya saat masih utuh mencapai tiga puluh meil.

Yang tersisa di alun-alun hanyalah bagian kaki patung dan pecahan pahatan pakaian. Karena itulah Ren bisa segera mengenalinya.

Chronoa mengulurkan tangannya, mencoba merasakan mana di sekelilingnya.

"E-eh…… ayo kita cari sedikit lagi! Ya!"

Namun, karena situasinya tidak terlihat bagus, ia hanya bisa memaksakan senyum. Selama beberapa menit mencari di sekitar patung Dewi Air, Chronoa sama sekali tidak mengatakan hal yang positif.

Ren juga memunguti puing-puing, mencoba mencari apakah ada benda yang mirip dengan Relik Dewi Waktu yang dulu menyegel Roses Kaitas.

……Tentu saja tidak ada ya.

Ren membatin kecewa.

Jika dipikir-pikir, Gereja Elfen pasti sudah melakukan penyelidikan di Roses Kaitas, jadi tidak mungkin benda berharga seperti itu dibiarkan tertinggal. Apalagi ini adalah puing patung dewa, tidak mungkin mereka membiarkannya begitu saja.

Saat sedang memperhatikan sekeliling dengan tenang, mata Ren tertuju pada sebuah patung yang kerusakannya lebih sedikit dibanding yang lain.

Meskipun alasnya hancur dan patung itu tergeletak menyamping, semakin dilihat, patung itu tampak tidak terlalu hancur.

"Chronoa-san! Mengapa hanya patung ini yang terlihat cukup utuh?"

"Mungkin karena ini patung Dewi Regenerasi. Karena bersemayam mana milik sang dewi, sepertinya ia mencoba kembali ke wujud aslinya sedikit demi sedikit."

"────Jadi, ini adalah kekuatan Regeneration ya."

"Iya. Berbeda dengan kekuatan penyembuhan yang ada pada sihir putih."

"……Soal kekuatan Regeneration, apakah ada buku referensinya di akademi?"

"Sepertinya ada beberapa buku di perpustakaan. Selain itu, di rumahku juga ada────"

Chronoa melirik profil wajah Ren yang tampak sangat tertarik pada patung Dewi Regenerasi, lalu ia pun berbicara.

"Kalau Ren-kun penasaran, mau aku bantu selidiki juga?"

"Boleh? Sebenarnya aku memang sangat penasaran, jadi itu akan sangat membantu."

"Tentu saja! Untuk Ren-kun yang rajin belajar, aku akan berusaha sekuat tenaga!"

Meski di mata Chronoa ia tampak rajin, sebenarnya Ren memiliki niat lain sehingga ia sangat tertarik dengan topik ini.

Ren merasa senang di dalam hati karena Chronoa menawarkan bantuan secara alami.

"Aku ingin mempelajari perbedaan antara kekuatan suci dan penyembuhan sihir putih dengan benar."

"Wah, kedengarannya sangat teknis ya. Kalau begitu aku juga harus membaca ulang materinya dengan serius!"

Jubah Chronoa berkibar ringan saat ia melangkah lincah memeriksa keadaan sekitar.

Di dekatnya, tatapan Ren tertuju pada lubang raksasa di tengah alun-alun.

Mengingat bagaimana di akhir pertarungan ia jatuh ke bawah sana bersama Sword Demon dan mengakhirinya. Mengingat kini ia telah menjadi Sword Saint dan bisa menggunakan teknik milik Sword Demon.

Saat berbagai kenangan melintas di benaknya, Ren berhenti sejenak untuk beristirahat dan melirik ke arah kristal pada gelang di lengannya.

Perubahan yang patut dicatat adalah peningkatan Proficiency berkat latihan luar ruangan bersama Estelle di musim dingin, dan yang terpenting, berkat mengalahkan dua utusan dewa raksasa, Wadatsumi.

Serta, keberadaan Water Magic Sword.




[NAME] Ren Ashton

[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton


[ SKILL ]

Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)

Magic Sword Summoning Arts Lv. 6 (5112 / 6500)

  • Mendapatkan kemahiran dengan menggunakan Magic Sword yang dipanggil.
  • Level 1: Dapat memanggil [Satu] Magic Sword.
  • Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
  • Level 3: Dapat memanggil [Dua] Magic Sword.
  • Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
  • Level 5: Membuka Evolusi Magic Sword.
  • Level 6: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Large)] saat memanggil gelang.
  • Level 7: Dapat memanggil [Tiga] Magic Sword.
  • Level 8: ********************

 

[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]

Great Tree Magic Sword Lv. 5 (2864 / 5000)

  • Memungkinkan serangan setingkat Nature Magic (Medium).
  • Jangkauan efek serangan akan meluas seiring meningkatnya level.

Mithril Magic Sword Lv. 5 (289 / 8500)

  • Ketajaman meningkat seiring dengan kenaikan level.

Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)

  • Merampas item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.

Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)

  • Membentangkan dinding sihir pelindung. Kekuatannya meningkat dan jangkauan efeknya meluas seiring kenaikan level.

Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)

  • Api nerakanya adalah perwujudan dari kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.

Water Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)

  • Ini adalah kekuatan yang dijatuhkan oleh sang Dewi Air.


Sambil menatap kristal pada gelang di lengannya, Ren mengenang kembali kejadian-kejadian yang telah ia lalui di tempat ini.

"Apa sebaiknya aku memberi nama untuk teknik bertarung milik Sword Demon itu?"

Ia baru menyadari sekarang bahwa teknik tersebut belum memiliki nama. Gumaman pelannya itu rupanya sempat tertangkap oleh indra pendengaran Chronoa.

"Ren-kuun? Kamu bilang sesuatu?"

"Tidak! Aku cuma berpikir jalannya sangat terjal!"

"Jangan khawatir! Kalau kamu sampai jatuh, aku akan membuatmu melayang pelan-pelan!"

"……Benar-benar bisa diandalkan, Chronoa-san."

Padahal tanpa itu pun, kalaupun jatuh ke air, Ren pasti akan baik-baik saja.

Meski sempat mencoba berkelit, belasan detik kemudian Ren akhirnya mengubah keputusannya.

"Chronoa-san, boleh minta waktunya sebentar?"

"Hmm? Ada apa, ada apa?"

"Setelah bertarung dengan Sword Demon, aku jadi bisa menggunakan teknik yang dulu dia pakai."

"……Benarkah?"

"Iya. Sebenarnya……"

Sang Kepala Sekolah yang tadinya sedang melihat sekeliling kini berbalik ke arah Ren. Ia mengerjapkan matanya berulang kali dengan wajah melongo.

"Aneh ya. Rasanya ini pertama kalinya aku mendengar hal itu."

"Maaf. Aku lupa memberitahu."

"Begitu ya…… ternyata kamu lupa ya……"

Ren mengira akan dimaafkan begitu saja, namun Chronoa justru menghampiri tepat di depan wajahnya. "Dengar ya," ucapnya.

"Hal seperti itu harus dibicarakan dengan benar, tahu!"

Ucap Chronoa sembari mencubit pelan hidung Ren.

Ren sekali lagi mengucapkan "Maaf" yang membuat Chronoa akhirnya tertawa.

"Baiklah, aku maafkan. Jadi, ada apa dengan teknik milik Sword Demon itu?"

"Rasanya kurang pas kalau terus-menerus memanggilnya teknik Sword Demon. Jadi aku ingin tahu apakah Chronoa-san tahu identitas asli dari teknik itu."

"Begitu ya. Jadi, seperti apa tekniknya?"

Saat Ren menjelaskan pemandangan yang ia lihat saat sang monster melakukannya dan saat ia sendiri menggunakannya, Chronoa tampak menyimak dengan antusias sambil melipat tangan. Jemari yang ia tempelkan ke bibir memancarkan pesona yang dewasa.

Meski informasi tentang Sword Demon sangat sedikit, Chronoa berusaha keras menggali pengetahuannya hingga akhirnya ia menemukan sebuah jawaban.

"Mungkin namanya Sanctuary Fall."

Nama itu diberikan bukan karena Chronoa tidak memiliki kesan baik terhadap tanah suci, bukan juga karena Sword Demon telah menghancurkan Roses Kaitas ini.

Faktanya, nama tersebut memiliki sejarah yang kuat.

"Katanya penyair Mudie pernah menyanyikannya. Dulu, ia melihat tempat penting milik Gereja Elfen di Benua Martel hancur lebur oleh sang monster pedang, lalu ia menyebutnya 'Sanctuary Fall'."

"……Namanya terdengar sangat mengerikan, tapi aku lega karena setidaknya sekarang teknik itu punya sebutan resmi."

Walaupun benda yang mengandung kekuatan Dewi Air tidak ditemukan seperti dugaannya, Ren merasa mungkin itu memang yang terbaik.

Sebab jika menemukannya pun, membawa pergi benda suci tanpa izin Gereja Elfen pasti akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari.

 

Ren kembali ke Erendil saat waktu biasanya ia sudah selesai makan malam. Jarum jam sudah melewati angka tujuh dan langit telah benar-benar gelap.

Sambil mengembuskan napas yang memutih di udara dingin, ia pulang ke kediaman Clausel, mandi, lalu setelah makan malam dan menyelesaikan belajar, ia tetap duduk di meja untuk menatap peta Kekaisaran Leomel.

Windea, tempat bersemayamnya air dan angin.

Ini adalah panggung petualangan pertama yang akan dikunjungi setelah cerita Legend of the Seven Heroes II dimulai.

Ren menggerakkan penanya di atas peta, memastikan jarak antar wilayah.

Dari Ibu Kota menuju Windea memakan waktu sekitar dua jam dengan kapal sihir. Jarak yang bisa ditempuh pulang-pergi dalam sehari. Memang lebih lama dari waktu tempuhnya ke akademi, namun rencana itu tidak terasa mustahil.

Hanya saja, yang mengganggunya adalah apa yang harus dilakukan di Windea.

Akan sangat mudah jika ia bisa langsung menuju tempat Cincin Dewi Air berada dan membawanya pulang, namun ada alasan mengapa ia tidak bisa melakukan hal semudah itu.

Karena alasan tersebut, ia harus menginap selama beberapa hari. Selain itu...

"Lalu, soal kapal sihir juga ya."

Ini sangat diperlukan untuk berpindah di sekitar Windea, jadi ia tidak boleh melupakannya.

Ren merebahkan tubuhnya di atas meja, sembari menggeram "Aah……" karena menyadari ternyata banyak sekali yang harus dipikirkan.

Ingin mendinginkan kepalanya, ia keluar dari kamar dan menuju taman di malam hari. Ia ingin menjernihkan pikiran sambil diterpa angin malam.

……Mungkin soal kapal sihir, Raguna-san bisa mengaturnya.

Sebagai sosok yang memiliki sisi sebagai pengelana tas, menyiapkan satu kapal sihir seharusnya bukan masalah baginya. Untuk tempat menginap pun, di dalam kapal sihir sudah cukup.

Ren menghela napas panjang dan memikirkan satu hal lagi.

"……Rasanya tidak perlu──── pergi bersama Vain dan yang lainnya, kan?"

Kekuatan spesial yang digunakan Vain sudah pasti adalah kekuatan Pahlawan.

Di musim semi nanti, para keturunan Seven Heroes pasti akan menuju Windea untuk menguji kekuatan Vain, sekaligus memperkuat kekuatan Pahlawan yang bersemayam di dalamnya.

Ikut pergi bersama mereka namun kemudian memisahkan diri di lokasi rasanya terlalu mencurigakan. Jika begitu, lebih baik ia berterus terang meminta Ulysses untuk meminjamkan kapal sihir.

Hanya karena tujuannya sama, bukan berarti mereka harus bertindak bersama-sama…….

Ren yang harus mencari Cincin Dewi Air memiliki tujuan yang berbeda dengan rombongan Vain yang akan langsung menuju kuil. Karena itulah, bergerak sendiri jauh lebih baik. Ren sendiri masih mengingat cara untuk mendapatkan cincin tersebut.

Serta, ia masih ingat samar-samar bahwa ada beberapa prosedur merepotkan yang harus dilalui.

"Aku bisa bergerak sendiri……"

Gumamannya yang sedang menyatukan pikiran itu tiba-tiba ditimpali oleh suara seorang gadis.

"Apa yang 'bisa'?"

"Aku berpikir, sepertinya aku boleh bergerak sesukaku sendiri."

"Aku tidak begitu paham, tapi apa kali ini kamu mau merahasiakannya dari kami lagi?"

"Tidak, lebih tepatnya merahasiakannya dari Vain dan yang──── lho, Licia?"

"Iya. Ini aku."

Ren yang sedari tadi mengobrol secara alami dengan Licia—yang entah sejak kapan sudah ada di taman—kini menatap ke arah gadis di sampingnya itu.

Jarak mereka begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.

Mungkin karena baru selesai mandi, kulit Licia tampak sedikit merona.

Gadis itu hanya mengenakan kardigan tipis, pakaian yang terasa kurang memadai untuk menghadapi hawa musim dingin. Ren pun melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Licia.

"A…… terima kasih."

"Sama-sama."

Karena tidak perlu mengobrol di luar dalam waktu lama, mereka kembali masuk ke dalam kediaman. Licia berjalan di samping Ren dengan langkah ringan. Dengan kedua bahu yang terbungkus jas milik Ren, ia mencengkeram bagian dalamnya seolah sedang mendekap benda berharga.

"Kita mau ke mana?"

"Tadinya aku berniat mengantarmu kembali ke kamar seperti biasa."

"Haa…… sudah kuduga."

Licia melanjutkan kalimatnya dengan senyum kecut.

"Lewat sini."

Tangan Licia menjulur dari balik jas dan menarik Ren untuk mengubah arah jalan mereka.

 

Tujuan mereka adalah dapur, yang saat itu sedang kosong.

Mungkin jika dipanggil, pelayan akan datang menyiapkan minuman atau makanan, namun malam ini Licia sendiri yang menyiapkan minuman hangat.

Sambil menyandarkan punggung ke dinding dapur, Licia menyesap minumannya dengan kedua tangan memegang cangkir. Ren pun melakukan hal yang sama setelah memperhatikannya sejenak.

Setelah menghela napas lega, Licia membuka suara.

"Gumamamu tadi, jangan-jangan tentang Relik yang kita bicarakan tempo hari?"

"Anu, bagaimana kamu bisa tahu?"

"Memang sudah seharusnya begitu, kan?"

Karena dijawab seperti itu, Ren akhirnya menerima saja tanpa berpikir terlalu dalam.

Ia pun segera menceritakan tentang permintaan Emblem bertanda yang ia terima.

"Raguna-san sedang mencari sesuatu."

"Nama itu…… orang dari Departemen Misteri, kan? Dia yang dulu membantuku soal fenomena malaikat itu……"

'Fenomena malaikat' adalah istilah sementara untuk kejadian saat kekuatan Licia lepas kendali saat melawan Sword Demon.

Tahun lalu, karena menduga hal itu berkaitan dengan White Saintess dan sihir suci, Ren meminta Radius untuk mengenalkannya pada ahli sihir tanpa memberitahu detail tentang fenomena malaikat tersebut.

Licia pun tidak melupakan sosok Raguna yang diperkenalkan kepadanya.

Ren menceritakan untuk tujuan apa dan barang seperti apa yang sedang dicari oleh Raguna.

"Jadi kalian akan pergi bersama karena tujuannya sama ya."

Mencari barang yang berkaitan dengan Dewi Air dilakukan demi Water Magic Sword, juga untuk menuju tempat persembunyian penyair legendaris. Licia memahami alasan-alasan tersebut.

"Tapi, mau pergi ke mana?"

"Ke Windea. Karena musim ini tidak memungkinkan, rencananya saat musim semi nanti."

"Huum…… begitu ya."

Suara yang terdengar penuh selidik itu diiringi dengan tatapan mata yang mendongak lucu.

"Aku paham kenapa kamu harus pergi ke sana, tapi……"

"Supaya tidak salah paham, aku memang berniat membicarakan ini dengan benar kepadamu, Licia."

"I-iya, aku tahu! Aku cuma kaget karena ternyata tempatnya tidak terduga!"

Karena bukan hal yang perlu dirahasiakan, Ren menceritakan detail Emblem bertanda lebih jauh lagi.

Tentang kunci baru yang ditemukan di panti asuhan tempat mereka melakukan investigasi bersama, dan tentang memperbaikinya. Juga kemungkinan adanya informasi keluarga Ashton yang tersisa di tempat persembunyian penyair Mudie.

Licia juga sudah mendengar tentang Cecil Ashton dan Putri Erosi. Jelas sekali bahwa pria dan wanita yang digambarkan dalam lukisan di kamar Ren adalah mereka berdua.

"Aku berencana meminta Raguna-san menyiapkan kapal sihir, atau meminjamnya dari Tuan Ulysses."

Meskipun ia sudah menerima imbalan yang cukup atas kasus Wadatsumi, Ren yakin Ulysses pasti akan merasa berutang budi dan mau meminjamkan satu atau dua kapal sihir.

Namun, di saat seperti ini ia berharap keluarga Clausel juga memiliki kapal sihir sendiri.

Saat mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama dalam diam, Yuno muncul di dapur. Sepertinya ia datang untuk menyiapkan camilan dan minuman hangat bagi Lezard yang sedang sibuk bekerja.

"Kalau begitu, saya akan mengantarkan ini kepada Tuan Besar────"

Saat hendak pergi, Yuno teringat sesuatu.

"Ah benar juga, ada surat yang datang untuk kalian berdua."

"Musim seperti ini, apakah undangan pesta?"

"Bukan, surat itu dari Tuan Uhrich. Beliau juga sudah menghubungi Tuan Besar, katanya beliau ingin melakukan uji coba terbang di suatu tempat."

"Uji coba terbang?"

Suara Ren dan Licia yang terdengar bersamaan terasa lucu bagi Yuno, hingga ia tak bisa menahan senyum.

"Apa kalian lupa dengan barang yang sedang diperbaiki di dermaga Taman Gantung?"

Seketika itu juga,

"────Ah!"

Suara mereka kembali berbarengan.

Kapal sihir Lemuria. Kapal sihir megah yang menyerupai kapal layar yang indah.

Kapal sihir buatan Uhrich yang sedang diperbaiki menggunakan material dari Asvar itu kini siap untuk kembali mengudara.

Karena kabar tersebut datang di waktu yang sangat tepat, Ren dan Licia hanya bisa tertawa kecut secara bersamaan.

 

Pemilik pertama Lemuria adalah anggota keluarga kekaisaran di masa lalu.

Uhrich membuatnya atas permintaan mereka, namun karena pemilik tersebut menggunakannya secara serampangan, tungku sihirnya rusak parah dan meninggalkan luka dalam pada kerangka kapal.

Kini, perbaikannya telah mencapai tahap di mana uji coba terbang bisa dilakukan.

"Hebat, kan! Inilah Lemuria yang sudah melewati berbagai perbaikan dan modifikasi!"

Di salah satu sudut dermaga Taman Gantung, Uhrich sang pandai besi sekaligus teknisi kapal sihir berseru dengan lantang. Ia tertawa sembari melipat kedua tangan berotot khas ras kurcacinya dengan bangga.

Tadi malam, setelah mendengar kabar tentang uji coba terbang, Ren dan Licia segera datang ke sini. Mata mereka kini terpaku pada Lemuria yang hampir selesai diperbaiki.

Berdiri di atas lantai logam yang kokoh, mereka berdua kehilangan kata-kata.

Membayangkan betapa indahnya kapal ini saat terbang di angkasa kelak.

"Saat musim semi nanti, kapal ini sudah bisa melakukan penerbangan jarak jauh! Dalam waktu dekat aku akan melakukan uji coba──── hei kalian berdua! Kenapa diam saja?"

"Maaf. Aku benar-benar kagum."

"Aku juga. ……Ini pertama kalinya aku melihat kapal sihir seindah ini."

Mendengar reaksi mereka, Uhrich menggaruk ujung hidungnya dengan malu-malu—pemandangan yang langka—lalu menatap Lemuria dengan bangga.

"Ouh. Keren, kan?"

Tampilan luar Lemuria hampir tidak berubah sejak terakhir kali Ren melihatnya.

Bagian dalamnya terbagi menjadi beberapa ruangan, namun ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal sihir penumpang pada umumnya.

Bagian atas yang berbentuk menyerupai peluru memiliki sayap transparan serupa sirip ikan yang terlipat, berkilau layaknya kristal yang dipoles. Mungkin karena asalnya sebagai kapal keluarga kekaisaran, beberapa dekorasi di sana masih tetap dipertahankan.

Bagian bawah yang menyatu dengan bagian atas terlihat seperti kapal layar tanpa layar. Sosok yang seolah menegaskan jati dirinya sebagai kapal terbang itu kini terlihat lebih canggih.

"Tampilan dan ukurannya memang tidak banyak berubah, tapi karena aku memodifikasi output tungkunya, bagian dalam banyak yang kuubah. Pertama, nilai sensitivitas tungku utama terhadap mana──── lalu koefisien untuk menaikkan output juga sudah kuhitung ulang────"

Meski tidak bisa memahami penjelasannya secara teknis, ada satu hal yang bisa ditangkap dari suasananya.

Lemuria ini telah dimodifikasi secara besar-besaran seperti yang dikatakan Uhrich, dan secara performa bisa dikatakan sudah menjadi benda yang berbeda dari sebelumnya.

Tanduk Asvar, lalu Dragon Vein Furnace yang Ren terima dari Raguna tahun lalu, berpadu dengan keahlian teknisi seperti Uhrich, membuat Lemuria terlahir kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

"Aku sudah mendaftarkan namaku sebagai pilotnya. Mengendalikan kapal ini sangat sulit, jadi lebih baik begitu."

"Apakah pendaftaran seperti itu memang diperlukan untuk kapal sihir?"

"Apa yang kamu bicarakan, tentu saja perlu. Bahkan kapal sihir milik Nona pun, selain anggota keluarga Drake, namaku juga terdaftar di sana. Hal seperti itu harus dilakukan dengan benar."

"Aku mengerti──── tapi, sepertinya Tuan Lezard yang akan memastikan hal itu."

"Aku juga berpikir begitu…… tapi sebenarnya, bagaimana status kepemilikannya?"

Tentu saja itu milik keluarga Clausel.

Tepat saat Ren hendak mengatakannya, Licia lebih dulu membuka suara.

"Lemuria diberikan oleh Yang Mulia Kaisar bersama dengan Erendil, jadi kepemilikannya ada pada keluarga kami."

Namun, ada sisi lain di mana benda ini merupakan barang pemberian, berbeda dengan tanah wilayah.

"Tetapi, aku dengar untuk hak penggunaan dan beberapa poin lainnya, nama Ren akan ditulis berdampingan dengan nama Ayah."

"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku mendengar hal itu."

"Aku juga baru dengar tadi pagi, kok. Bukannya aku mau merahasiakannya, ya?"

"Gwahahahaha! Begitu ya! Yah, aku paham maksudnya! Lemuria bisa diperbaiki ini berkat bantuan Ren. Tentu saja Tuan Lezard akan melakukannya!"

Memberikan hak kepemilikan barang pemberian Kaisar secara sembarangan adalah hal yang tidak boleh dilakukan.

Namun setidaknya, akan tertulis dengan jelas bahwa kapal sihir ini juga milik Ren. Bagi Ren yang memang ingin menggunakannya di musim semi nanti, ini adalah hasil yang sangat memuaskan.

"Uji coba terbang akan kulakukan sendiri dalam waktu dekat. Karena belum bisa menjamin keamanannya seratus persen, aku akan melakukannya sendirian."

Uhrich menegaskan hal itu dengan keras kepala.

◇◇◇

Setelah kejadian di pagi hari itu, Licia menceritakan hal-hal di dermaga Taman Gantung kepada Fiona.

Mereka bertiga, termasuk Ren, kini berada di ruangan yang biasa mereka gunakan di akademi.

"Sepertinya uji coba terbang akan segera dilakukan."

"Aku juga ingin melihatnya kapan-kapan. ────Ngomong-ngomong,"

Di sisi lain, Ren tidak ikut dalam percakapan dan malah sibuk menatap peta.

"Hmm……"

Ia memutar-mutar penanya dengan wajah bingung, pemandangan yang jarang ia perlihatkan. Fiona pun teralihkan oleh tingkah lakunya itu.

"Apa yang terjadi dengan Ren-kun?"

"Mungkin, dia sedang bingung memikirkan sesuatu tentang perjalanannya ke Windea."

"Win, Windea? Kenapa dia harus pergi ke sana?"

Begitu Licia menjelaskan alasannya, Fiona langsung mengangguk paham.

Suara mereka berdua hampir tidak terdengar oleh telinga Ren. Alih-alih menyimak kata demi kata, kesadarannya hanya menangkap bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu.

Sambil terus menatap peta, Ren bergumam.

"Soal ini juga harus kukonsultasikan dengan Raguna-san."

Begitu pikirannya selaras, ia akhirnya mengembalikan kesadarannya ke ruangan tersebut. Menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh kedua gadis itu, Ren memiringkan kepalanya sedikit.

"Kalian berdua, ada apa?"

"Tidak. Bukan apa-apa."

"Iya. Tidak ada apa-apa kok."

Melihat Ren bertanya dengan wajah polos tanpa bermaksud berkelit, para gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman.

"Sepertinya Ren-kun sudah selesai melamun. Kalau begitu, boleh aku bicara sebentar?"

"Tentu, sudah tidak apa-apa. Ada apa?"

"Tolong terima ini. Silakan periksa bersama Licia-sama setelah kembali ke kediaman."

Fiona menyodorkan sebuah amplop tebal kepada Ren.

Amplop itu disegel dengan Magic Seal yang telah dimantrai; jika jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, isinya akan langsung terbakar habis.

"Ini mengenai apa yang sudah kita putuskan pada musim dingin lalu."

Hanya dengan kalimat itu, Ren dan Licia langsung mengerti segalanya.

Tanpa banyak bicara, Ren menyimpan amplop tersebut ke balik pakaiannya.

"Hasil penyelidikan kami juga akan segera kuringkas dan kutunjukkan pada Fiona-sama nanti."

"Iya. Aku akan menunggunya."

Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka.

"Oh? Ternyata kalian semua ada di sini."

Radius menyapa mereka begitu melihat Ren dan yang lainnya.

Di belakangnya, Mirei juga menampakkan diri. Sebagai keturunan campuran manusia dan Cait Sith, telinga kucingnya berdiri tegak sementara ekornya bergoyang perlahan.

Berkumpulnya orang-orang yang sama dengan saat Festival Raja Singa membuat suasana riuh musim semi dan musim panas tahun lalu kembali terasa.

"Hmm?"

Saat Radius hendak duduk di kursi sebelah Ren, matanya tertuju pada peta.

"Peta ya. Sepertinya itu area di sekitar Windea."

"Iya. Aku berencana pergi ke sana saat musim semi nanti."

"……Sepertinya bukan untuk sekadar jalan-jalan."

Setelah Ren menjelaskan alasannya, Radius mengangguk paham dengan wajah serius.

"Mungkin cuma Ren yang mau menerima Emblem bertanda sekacau itu."

"Mungkin saja. Tapi aku belum punya rencana apa pun di awal musim semi, dan karena ini hal yang membuatku penasaran, kupikir ini kesempatan bagus."

"Tapi tetap saja…… Ren selalu aktif seperti biasanya ya."

"Yah, setidaknya ada beberapa hal yang mulai terungkap."

Lalu, Radius bergumam sendiri, "Harusnya Raguna bicara padaku dulu."

"Bagaimana dengan kapal sihir menuju Windea?"

"Itu belum diputuskan. Aku sedang menimbang antara menggunakan Lemuria atau meminta Raguna-san menyiapkannya."

"Lemuria? Apa perbaikannya sudah sampai pada tahap bisa dikendarai?"

"Iya. Sebentar lagi akan ada uji coba terbang, jadi aku berniat mendiskusikannya juga dengan Raguna-san."

Radius mengucapkan selamat, lalu segera mengeluarkan secarik kertas memo dan mulai menuliskan sesuatu dengan penanya.

"Ini penginapan tempat Raguna tinggal. Mengingat sifat pria itu, dia pasti belum memberitahumu di mana dia menginap."

Lalu, Radius melanjutkan.

"Berbicara soal Ashton sang petualang, seperti yang kukatakan tempo hari, hal yang paling membuatku penasaran adalah Perpustakaan Terlarang."

"Tapi, Radius baru bisa masuk ke Perpustakaan Terlarang paling cepat setelah musim panas nanti, kan?"

"Benar. Tidak akan ada cara lain kecuali aku menjadi Putra Mahkota."

Selain Kepala Perpustakaan Kekaisaran, hanya Kaisar, Putra Mahkota, Menteri Pengadilan Kekaisaran, dan para asistennya yang memiliki akses ke Perpustakaan Terlarang.

"……Aku ingin segera pergi menyelidikinya."

Berbanding terbalik dengan mereka berdua yang mengobrol dengan sangat alami, Licia dan Fiona justru terdiam seribu bahasa.

"Kalian berdua. Tolong jelaskan dengan benar, karena dua gadis di sini sedang kebingungan, nya."

Tidak perlu lagi menjelaskan apa arti kata 'Putra Mahkota'.

Hal yang perlu dijelaskan adalah fakta bahwa Radius dijadwalkan untuk menjadi Putra Mahkota tersebut, dan fakta bahwa Ren sudah mengetahui hal itu sebelumnya.

Soal poin terakhir, mereka bisa membayangkan dari hubungan keduanya, dan mereka paham ada situasi yang membuat hal itu tidak bisa dibicarakan sembarangan.

"Masih sedikit orang yang mengetahuinya, tapi kelak aku akan menjadi Putra Mahkota. Untuk sementara, tolong rahasiakan ini."

Karena diucapkan dengan begitu santai, keterkejutan mereka justru semakin bertambah.

(Jadi Ulysses-sama bahkan belum memberitahu Fiona-sama.)

Saat kedua gadis itu menatapnya, Ren merasa mereka terlihat persis seperti dirinya beberapa hari lalu.

Pembicaraan soal Putra Mahkota tidak dibahas lebih detail. Radius sendiri yang mengakhirinya dengan berkata, "Itu masih urusan nanti."

"Kami ke sini untuk mengerjakan tugas liburan, kalau Radius dan Mirei sedang apa?"

"Soal pekerjaan Mirei. Aku hanya mampir menemaninya."

"Pekerjaan di perpustakaan? Melakukan riset?"

"Bukan itu. Libur musim dingin akan segera berakhir, kan? Dan setelah itu adalah upacara kelulusan."

"Karena itulah, sebentar lagi aku bukan lagi seorang siswi, nya!"

Meski diucapkan dengan ringan, Ren dan yang lainnya merasa sedih karena Mirei akan pergi.

"Yah, tapi aku bakal sering-sering mampir kok, nya~"

"Mengingat posisi Mirei sebagai asistenku, dia tidak akan hanya diam menjadi pegawai sipil di istana. Mulai musim semi, meski hanya paruh waktu, dia akan tetap terdaftar di perpustakaan ini. Singkatnya, hubungan kita hampir tidak akan berubah."

"……Ternyata begitu."

"Ada apa Ren, kenapa jawabanmu lemas sekali? Tidak, bukan cuma Ren. Dua orang di sana juga terlihat kehilangan semangat."

"A-ahaha…… maaf, aku dan Licia-sama baru saja merasa sedih karena mengira akan berpisah……"

"Iya…… aku senang karena masih bisa bertemu dengan Mirei-san……"

"Nyahaha! Tapi memang begitulah aturannya, nya! Akan aneh kalau asisten Yang Mulia terus-terusan mendekam di istana, nya~!"

Setelah diberikan argumen yang masuk akal, ketiganya pun mengangguk setuju.

Pangeran Ketiga Radius dan asistennya, Mirei, tidak memiliki perbedaan usia yang jauh, sehingga memudahkan pihak istana untuk melakukan penyesuaian. Alur seperti ini bukanlah hal yang aneh.

"Setelah upacara kelulusan, tak lama kemudian akan ada upacara penerimaan siswa baru ya."

"Benar. Musim seperti ini pasti selalu sibuk."

Akan menjadi musim semi seperti apakah tahun ini?

Pikiran yang sempat terlintas beberapa hari lalu kembali membayangi benak Ren.

◇◇◇

Pada suatu hari, di tahun saat Ren dan Licia naik ke tingkat dua. Di aula besar Akademi Militer Kekaisaran.

'Apa──── Re, Ren!? Apa yang kamu lakukan!!'

Suara teriakan yang menggema, dibalas dengan suara yang tenang.

'Kamu bisa melihatnya sendiri, kan? Barusan, aku membunuhnya.'

Dialog antara Ren Ashton—sebelum ia menghilang sambil mendekap jasad Licia—dengan Vain sang keturunan Pahlawan dalam Legend of the Seven Heroes.

Bagi Ren, itulah awal dari segalanya. Keputusan awal yang ia buat dengan penuh kesadaran bahwa ia harus menghindari kejadian itu bagaimanapun caranya.

Jika bicara soal waktu, hal itu seharusnya terjadi tahun ini.

Tiba-tiba,

"Ren?"

Ia bertatapan dengan Licia yang sedang mengintip wajahnya.

"Kamu tiba-tiba diam, ada apa?"

"E-eh…… tidak, bukan apa-apa kok!"

Ucap Ren dengan nada panik, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Licia tetap mendongak menatap Ren yang membantah dengan terburu-buru, lalu ia tersenyum lembut.

"Fufu, kalau begitu syukurlah."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close