Chapter 4
Kembali ke Tanah Kuno yang Pernah Kupijak
Hari hangat di
awal Februari, Ren melangkah di jalan setapak yang menuju Garden of Swords.
Ia terus terpikir
mengapa Lutreche memberinya saran seperti itu. Ia juga penasaran sejauh mana
wanita itu mengetahui segalanya.
Rasanya mustahil
dia akan menjawab jika ditanya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.
Namun, setiap
kali menyelidiki tentang keluarga Ashton, sebuah peristiwa dari masa lalu
selalu terlintas di benaknya.
Mengapa Saintess
Licia harus kehilangan nyawa di tangan Ren Ashton?
Kejadian yang
bisa dibilang sebagai awal mula kisahnya itu tak pernah lepas dari
kesadarannya.
Terkadang ia
sengaja mencoba melupakannya, tapi seiring mendekatnya musim semi tahun kedua,
pikiran itu justru semakin kuat menghantui.
"Jangan
lupakan────"
Sensasi itu
terasa begitu nyata, seolah dunia sendiri yang sedang memperingatkannya.
Langkah kakinya
di atas jembatan terdengar begitu keras di telinganya sendiri.
Ren terus
melangkah sembari berpura-pura tidak menyadari gejolak di hatinya, hingga
akhirnya ia menginjakkan kaki di Garden of Swords.
Mungkin karena
salju yang mencair akibat kehangatan hari ini, hamparan rumput di sana terlihat
lebih hijau dan segar dibanding sebelumnya, menciptakan nuansa musim semi yang
kental.
Seperti
sebelumnya, Ren menuju bukit kecil di mana sebuah pohon berdiri tegak. Namun,
meski telah menunggu hampir satu jam, sosok Lutreche tak kunjung muncul.
Tentu saja, tidak
ada jaminan dia bisa bertemu wanita itu setiap kali datang ke sini. Karena niat
awalnya pun hanya "kalau beruntung bisa bertemu", Ren akhirnya
memutuskan untuk beranjak pergi.
(……Pada
akhirnya, apakah Emblem bertanda itu memang merujuk pada permintaan dari
Raguna-san?)
Ia pun
meninggalkan Garden of Swords belasan detik kemudian.
◇◇◇
Setelah
meninggalkan taman itu, ia menaiki kereta sihir menuju stasiun terdekat dari
Akademi Militer Kekaisaran.
Ini masih masa
libur musim dingin, jadi tujuannya bukan untuk belajar. Sesampainya di akademi,
Ren langsung menuju ruang kepala sekolah.
Ia sudah mengirim
surat sebelumnya untuk membuat janji temu dengan Chronoa.
"Selamat
datang, Ren-kun! Silakan duduk di sini!"
"Maaf, ya.
Padahal mendadak sekali, tapi Anda mau meluangkan waktu."
"Tidak
apa-apa! Justru aku yang menyarankan ini pada Ren-kun, jadi santai saja!"
Pemilik suara
bening itu adalah Chronoa Highland, sang kepala sekolah.
Rambut panjangnya
yang terurai tampak berkilau layaknya benang emas yang ditenun halus.
Wajahnya yang
mungil dan cantik seperti boneka sering kali membuat orang lupa bahwa dia
adalah salah satu penyihir terhebat di dunia.
Begitu wanita
yang cantik jelita bak putri raja itu mempersilakan Ren duduk────
"Jadi,
langsung saja ke inti pembicaraan hari ini."
Senyum ramah yang
sedari tadi menghiasi wajah Chronoa sedikit memudar mendengar ucapan Ren.
"Hae……?"
Suaranya terdengar lemah dan sedikit konyol. Ia menatap Ren dengan ekspresi yang sulit
dijelaskan.
"Jangan-jangan,
kamu mau langsung bicara serius nih?"
"Tentu saja.
Anda sudah meluangkan waktu berharga untukku, jadi aku tidak ingin
membuangnya."
"Tidak
boleh! Bukan begitu caranya! Dengar ya, Ren-kun kan baru saja menjadi Sword
Saint di awal libur musim dingin ini, kan!?"
Chronoa
memang tahu mereka akan membicarakannya setelah liburan usai, tapi dia sudah
tidak sabar dan ingin segera mengobrol dengan Ren.
Inti pembicaraan
yang Ren maksud adalah hal lain.
Namun, Chronoa
juga sangat ingin mendengar cerita tentang bagaimana Ren menjadi lebih kuat.
Meski begitu, melihat Ren yang tetap tenang dengan kecepatannya sendiri seperti
biasanya membuat Chronoa tanpa sadar tersenyum kecil.
"Yah, memang
aku sudah menjadi Sword Saint, tapi selain itu tidak ada yang berubah
kok……"
"Ahaha…… cara bicaramu itu sangat khas Ren-kun
ya."
Chronoa memberikan senyum lembutnya, lalu mereka pun beralih
ke topik utama.
Alasan Ren meminta waktu Chronoa adalah untuk menanyakan
tentang Relik Dewi Air yang sempat ia bicarakan dengan Raguna.
Chronoa berjalan di samping Ren yang baru saja keluar ke
area terbuka. Ia mengenakan jubah
yang biasa dipakainya saat bepergian. Langkah kakinya terasa ringan dan ceria
saat mereka melintasi Ibu Kota.
Di sampingnya,
Ren menatap langit awal musim semi.
"Sebentar
lagi upacara kelulusan, ya."
"Iya…… tahun ini pun banyak anak-anak
yang akan meninggalkan akademi."
Meski
suaranya terdengar sedikit sedih, Chronoa juga tampak bahagia.
Sebagai
pendidik, ia tak bisa tidak merasa bangga sekaligus terharu melihat para murid
yang telah berjuang selama empat tahun akhirnya lulus. Sebentar lagi,
bunga-bunga di taman akademi dan pepohonan di pinggir jalan akan mekar,
menandakan datangnya musim semi.
Tujuan
mereka berdua adalah terminal kapal sihir Ibu Kota.
Karena
skalanya kalah jauh dari Taman Gantung di Erendil, kebanyakan orang lebih
memilih pergi ke sana, sehingga terminal ini tidak terlalu ramai.
◇◇◇
Setelah
perjalanan udara singkat, mereka tiba di terminal kapal sihir yang terletak di
dekat Roses Kaitas.
Di
sekitar area ini, fasilitas sederhana yang dibangun untuk para peziarah saat
Festival Raja Singa musim panas lalu masih dibiarkan berdiri.
Tempat
ini sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali Ren datang ke sini bersama
Licia untuk mendengarkan paduan suara.
Setelah
menuruni tangga dan menapak di tanah, Ren dan Chronoa melangkah menuju Roses
Kaitas tanpa memedulikan para peziarah di sekitar mereka.
"Sekarang
tempat ini dikelola bersama oleh Leomel dan Gereja Elfen. Sama seperti sebelum
insiden itu terjadi."
"Tapi,
sepertinya jumlah ksatria yang berjaga lebih banyak dari sebelumnya ya."
"Karena
jumlah peziarah meningkat, penjagaan memang diperketat."
Meski
begitu, para peziarah hanya diperbolehkan mendekat sampai batas sebelum
jembatan menuju Roses Kaitas.
Ren
melihat para peziarah yang berdiri di dekat para ksatria yang menjaga jembatan
sembari memanjatkan doa.
Namun
berkat keberadaan Chronoa di sampingnya, Ren bisa melewati jembatan itu tanpa
hambatan sama sekali.
"Kebetulan
sekali, mereka memang memintaku untuk mampir sesekali."
"……Mendengarnya
membuatku merasa sedikit lega."
"Ahaha! Ini
kan permintaan dari Ren-kun tercinta. Serahkan semuanya pada Kakak!"
Chronoa dulu
pernah bekerja di istana suci perak, pusat dari Gereja Elfen.
Bahkan sekarang,
ia terkadang masih menerima permintaan dari negara untuk memeriksa kondisi
Roses Kaitas. Saat mereka hendak memasuki Roses Kaitas, seorang ksatria penjaga
menyapa mereka.
"Nona
Highland, ya."
"Benar
sekali," jawab Chronoa singkat.
"Pria yang
bersama Anda juga sepertinya pernah saya lihat di sekitar markas Sacred
Order of the Lion. Jangan-jangan, Anda adalah Sword Saint yang
sedang dibicarakan itu?"
Ksatria itu
bertanya sembari menatap Ren.
Sebelum Ren
sempat menjawab, Chronoa sudah mendahuluinya.
"Tebakanmu
tepat. Boleh kan dia ikut denganku?"
"Tentu saja.
Identitasnya sudah terverifikasi di sini, jadi tidak ada masalah, tapi……"
"Hmm? Ada
apa?"
"Tidak,
hanya saja... dia tidak terlihat seperti pengawal Nona Highland."
Meskipun Ren
sudah menjadi Sword Saint dengan teknik pedang yang hebat, tidak ada
alasan baginya untuk menjadi pengawal seseorang sekuat Chronoa.
"Anak ini
ikut karena aku yang ingin dia menemaniku."
"O-oh,
begitu rupanya……"
"Ah, tapi
kalau alasannya cuma itu, aku takut dimarahi nanti. Jadi tolong tulis saja
kalau dia itu pengawalku, oke?"
"Tidak
masalah. Kami sudah diperintahkan untuk mengikuti segala keinginan Nona
Highland."
Normalnya alasan
seperti itu tidak akan lolos, tapi ini Chronoa.
Ksatria itu
berpikir bahwa di balik sifat jenakanya, mungkin penyihir agung ini memiliki
rencana tertentu. Meski Chronoa tidak memiliki aura intimidasi seperti Sword
King, ksatria itu merasa tidak bijak untuk bertanya lebih jauh.
"Silakan
lewat."
Ini adalah kedua
kalinya Ren menuju alun-alun patung dewa di pusat Roses Kaitas.
Meskipun ini kali
pertama ia melewati jalur resmi pendakian gunung ini, karena segelnya baru saja
lepas, bagi siapa pun tempat ini akan terasa seperti pengalaman baru.
……Melihat
pemandangan luar membuatku merasa sangat tenang.
Pikir Ren sembari
menoleh ke belakang saat mereka berjalan.
Saat terjebak
selama Festival Raja Singa, ia berada di dalam segel. Ia bahkan tidak bisa
melihat jalur keluar, apalagi pemandangan di luar Roses Kaitas.
Dibandingkan saat
itu, kehadiran Chronoa di sisinya sekarang memberikan rasa aman yang jauh lebih
besar.
"Masih saja
ya, di mana-mana hancur berantakan."
Gumam Chronoa
melihat kondisi Roses Kaitas yang mengenaskan.
Sisa-sisa
pertempuran Ren dan Licia melawan Sword Demon masih membekas di berbagai
sudut. Kondisinya jauh lebih parah dibanding saat mereka tersesat dulu. Kini
lereng-lereng gunung tampak terkoyak, dengan retakan besar menganga di
mana-mana.
Chronoa yang
berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh ke arah Ren.
"Kamu
baik-baik saja? Tidak memaksakan diri, kan?"
Ia
menatap Ren dengan cemas, suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
"Ren-kun dan
Licia-chan kan pernah mengalami kejadian berat di sini. Aku takut suasana
hatimu jadi buruk. Jangan memaksakan diri, ya?"
"Terima
kasih. Aku baik-baik saja kok. ……Ya, walaupun ada perasaan yang sulit
dijelaskan kalau mengingat pertempuran di sini atau tentang Gereja Elfen."
Senyum kecut Ren
tidak menyiratkan kepalsuan. Chronoa mencoba memahami perasaan pemuda itu.
"Tapi, sejak
melewati jembatan tadi, kita tidak bertemu siapa pun ya. Aku kira setidaknya
akan ada beberapa pendeta yang lewat."
"Mungkin
karena mereka sibuk memburu Kultus Dewa Iblis?"
"Ah, benar
juga. Aku pernah dengar soal itu."
Itu adalah cerita
yang Ren dengar dari Kaito saat berada di kapal Gardiknight dalam perjalanan
menuju Eupheim tahun lalu. Kabarnya, belakangan ini Gereja Elfen sangat gencar
bertempur melawan Kultus Dewa Iblis.
(Apakah ini
soal harga diri, atau ada hal lain?)
Sejak Roses
Kaitas terbuka, mereka memang lebih sering memiliki kesempatan untuk bertarung
melawan Kultus Dewa Iblis.
◇◇◇
Alun-alun di mana
patung-patung dewa yang dulu tersegel bersama Sword Demon berada.
Area ini hampir
seluruhnya runtuh, meninggalkan lubang-lubang besar yang menuju ke sungai bawah
tanah dan danau bawah tanah. Patung-patung dewa di sana rata-rata hancur
berkeping-keping.
Tanpa melupakan
tujuannya, Ren melompati bebatuan yang tersisa bersama Chronoa untuk mencari
patung Dewi Air.
Tidak ada ksatria
Leomel maupun pendeta Elfen. Hanya ada Ren dan Chronoa di tempat ini. Suara
percakapan mereka dan dentingan kerikil yang mereka tendang menggema pelan.
"Dulu saat
aku sering ke sini masih ada orang, tapi sekarang sudah lewat berbulan-bulan
ya."
Chronoa berkata
dengan nada ceria, lalu mengeluarkan tongkat dari balik jubahnya dan
mengayunkannya ringan. Sebuah gambaran bercahaya emas terbentuk di udara.
"Ini adalah
wujud dari patung Dewi Air."
"Sangat mudah dimengerti, tapi…… itu……"
Sembari melangkah di atas pijakan yang sulit, Ren menatap ke
arah yang sama dengan Chronoa.
"Jelas
sekali itu patungnya, kan?"
"Kamu sudah
sadar? Itu memang patung yang kita cari, tapiー……"
Saat Ren
berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari objek di depannya, Chronoa hanya
bisa tersenyum kecut di sampingnya.
"……Benar-benar
tidak berwujud lagi ya."
Apa yang
ia lihat adalah patung Dewi Air yang telah hancur mengenaskan.
……Yah,
setidaknya pola pakaiannya masih bisa dikenali.
Ukuran
patung Dewi Air itu sangat besar. Dari sisa-sisa reruntuhan yang tidak jatuh ke
lubang besar, bisa diperkirakan tingginya saat masih utuh mencapai tiga puluh
meil.
Yang tersisa di
alun-alun hanyalah bagian kaki patung dan pecahan pahatan pakaian. Karena
itulah Ren bisa segera mengenalinya.
Chronoa
mengulurkan tangannya, mencoba merasakan mana di sekelilingnya.
"E-eh…… ayo kita cari sedikit lagi! Ya!"
Namun, karena
situasinya tidak terlihat bagus, ia hanya bisa memaksakan senyum. Selama
beberapa menit mencari di sekitar patung Dewi Air, Chronoa sama sekali tidak
mengatakan hal yang positif.
Ren juga
memunguti puing-puing, mencoba mencari apakah ada benda yang mirip dengan Relik
Dewi Waktu yang dulu menyegel Roses Kaitas.
……Tentu saja
tidak ada ya.
Ren membatin
kecewa.
Jika
dipikir-pikir, Gereja Elfen pasti sudah melakukan penyelidikan di Roses Kaitas,
jadi tidak mungkin benda berharga seperti itu dibiarkan tertinggal. Apalagi ini
adalah puing patung dewa, tidak mungkin mereka membiarkannya begitu saja.
Saat sedang
memperhatikan sekeliling dengan tenang, mata Ren tertuju pada sebuah patung
yang kerusakannya lebih sedikit dibanding yang lain.
Meskipun alasnya
hancur dan patung itu tergeletak menyamping, semakin dilihat, patung itu tampak
tidak terlalu hancur.
"Chronoa-san! Mengapa hanya patung ini yang terlihat
cukup utuh?"
"Mungkin karena ini patung Dewi Regenerasi. Karena
bersemayam mana milik sang dewi, sepertinya ia mencoba kembali ke wujud aslinya
sedikit demi sedikit."
"────Jadi,
ini adalah kekuatan Regeneration ya."
"Iya.
Berbeda dengan kekuatan penyembuhan yang ada pada sihir putih."
"……Soal
kekuatan Regeneration, apakah ada buku referensinya di akademi?"
"Sepertinya
ada beberapa buku di perpustakaan. Selain itu, di rumahku juga ada────"
Chronoa melirik
profil wajah Ren yang tampak sangat tertarik pada patung Dewi Regenerasi, lalu
ia pun berbicara.
"Kalau
Ren-kun penasaran, mau aku bantu selidiki juga?"
"Boleh?
Sebenarnya aku memang sangat penasaran, jadi itu akan sangat membantu."
"Tentu saja!
Untuk Ren-kun yang rajin belajar, aku akan berusaha sekuat tenaga!"
Meski di mata
Chronoa ia tampak rajin, sebenarnya Ren memiliki niat lain sehingga ia sangat
tertarik dengan topik ini.
Ren merasa senang
di dalam hati karena Chronoa menawarkan bantuan secara alami.
"Aku ingin
mempelajari perbedaan antara kekuatan suci dan penyembuhan sihir putih dengan
benar."
"Wah,
kedengarannya sangat teknis ya. Kalau begitu aku juga harus membaca ulang
materinya dengan serius!"
Jubah Chronoa
berkibar ringan saat ia melangkah lincah memeriksa keadaan sekitar.
Di dekatnya,
tatapan Ren tertuju pada lubang raksasa di tengah alun-alun.
Mengingat
bagaimana di akhir pertarungan ia jatuh ke bawah sana bersama Sword Demon
dan mengakhirinya. Mengingat kini ia telah menjadi Sword Saint dan bisa
menggunakan teknik milik Sword Demon.
Saat berbagai
kenangan melintas di benaknya, Ren berhenti sejenak untuk beristirahat dan
melirik ke arah kristal pada gelang di lengannya.
Perubahan yang
patut dicatat adalah peningkatan Proficiency berkat latihan luar ruangan
bersama Estelle di musim dingin, dan yang terpenting, berkat mengalahkan dua
utusan dewa raksasa, Wadatsumi.
Serta, keberadaan Water Magic Sword.
[NAME] Ren Ashton
[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton
[ SKILL ]
■ Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)
■ Magic Sword Summoning Arts Lv. 6 (5112 /
6500)
- Mendapatkan kemahiran dengan menggunakan Magic Sword yang dipanggil.
- Level 1: Dapat memanggil [Satu] Magic Sword.
- Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
- Level 3: Dapat memanggil [Dua] Magic Sword.
- Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
- Level 5: Membuka Evolusi Magic Sword.
- Level 6: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Large)] saat memanggil gelang.
- Level 7: Dapat memanggil [Tiga] Magic Sword.
- Level 8: ********************
[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]
■ Great Tree Magic Sword Lv. 5 (2864 / 5000)
- Memungkinkan
serangan setingkat Nature Magic (Medium).
- Jangkauan efek serangan akan
meluas seiring meningkatnya level.
■ Mithril Magic Sword Lv. 5 (289 / 8500)
- Ketajaman
meningkat seiring dengan kenaikan level.
■ Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)
- Merampas
item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.
■ Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)
- Membentangkan
dinding sihir pelindung. Kekuatannya meningkat dan jangkauan efeknya
meluas seiring kenaikan level.
■ Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)
- Api nerakanya adalah perwujudan dari
kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.
■ Water Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)
- Ini adalah kekuatan yang dijatuhkan oleh sang Dewi Air.
Sambil menatap kristal pada gelang di lengannya, Ren
mengenang kembali kejadian-kejadian yang telah ia lalui di tempat ini.
"Apa sebaiknya aku memberi nama untuk teknik bertarung
milik Sword Demon itu?"
Ia baru menyadari sekarang bahwa teknik tersebut belum
memiliki nama. Gumaman pelannya itu rupanya sempat tertangkap oleh indra
pendengaran Chronoa.
"Ren-kuun?
Kamu bilang sesuatu?"
"Tidak! Aku
cuma berpikir jalannya sangat terjal!"
"Jangan
khawatir! Kalau kamu sampai jatuh, aku akan membuatmu melayang
pelan-pelan!"
"……Benar-benar bisa diandalkan, Chronoa-san."
Padahal tanpa itu
pun, kalaupun jatuh ke air, Ren pasti akan baik-baik saja.
Meski sempat
mencoba berkelit, belasan detik kemudian Ren akhirnya mengubah keputusannya.
"Chronoa-san, boleh minta waktunya sebentar?"
"Hmm? Ada
apa, ada apa?"
"Setelah
bertarung dengan Sword Demon, aku jadi bisa menggunakan teknik yang dulu
dia pakai."
"……Benarkah?"
"Iya.
Sebenarnya……"
Sang Kepala
Sekolah yang tadinya sedang melihat sekeliling kini berbalik ke arah Ren. Ia
mengerjapkan matanya berulang kali dengan wajah melongo.
"Aneh ya.
Rasanya ini pertama kalinya aku mendengar hal itu."
"Maaf. Aku
lupa memberitahu."
"Begitu ya……
ternyata kamu lupa ya……"
Ren mengira akan
dimaafkan begitu saja, namun Chronoa justru menghampiri tepat di depan
wajahnya. "Dengar ya," ucapnya.
"Hal seperti
itu harus dibicarakan dengan benar, tahu!"
Ucap Chronoa
sembari mencubit pelan hidung Ren.
Ren sekali lagi
mengucapkan "Maaf" yang membuat Chronoa akhirnya tertawa.
"Baiklah,
aku maafkan. Jadi, ada apa dengan teknik milik Sword Demon itu?"
"Rasanya
kurang pas kalau terus-menerus memanggilnya teknik Sword Demon. Jadi aku
ingin tahu apakah Chronoa-san tahu identitas asli dari teknik itu."
"Begitu ya.
Jadi, seperti apa tekniknya?"
Saat Ren
menjelaskan pemandangan yang ia lihat saat sang monster melakukannya dan saat
ia sendiri menggunakannya, Chronoa tampak menyimak dengan antusias sambil
melipat tangan. Jemari yang ia tempelkan ke bibir memancarkan pesona yang
dewasa.
Meski informasi
tentang Sword Demon sangat sedikit, Chronoa berusaha keras menggali
pengetahuannya hingga akhirnya ia menemukan sebuah jawaban.
"Mungkin
namanya Sanctuary Fall."
Nama itu
diberikan bukan karena Chronoa tidak memiliki kesan baik terhadap tanah suci,
bukan juga karena Sword Demon telah menghancurkan Roses Kaitas ini.
Faktanya, nama
tersebut memiliki sejarah yang kuat.
"Katanya
penyair Mudie pernah menyanyikannya. Dulu, ia melihat tempat penting milik
Gereja Elfen di Benua Martel hancur lebur oleh sang monster pedang, lalu ia
menyebutnya 'Sanctuary Fall'."
"……Namanya
terdengar sangat mengerikan, tapi aku lega karena setidaknya sekarang teknik
itu punya sebutan resmi."
Walaupun benda
yang mengandung kekuatan Dewi Air tidak ditemukan seperti dugaannya, Ren merasa
mungkin itu memang yang terbaik.
Sebab jika
menemukannya pun, membawa pergi benda suci tanpa izin Gereja Elfen pasti akan
menimbulkan masalah besar di kemudian hari.
Ren kembali ke Erendil
saat waktu biasanya ia sudah selesai makan malam. Jarum jam sudah melewati
angka tujuh dan langit telah benar-benar gelap.
Sambil
mengembuskan napas yang memutih di udara dingin, ia pulang ke kediaman Clausel,
mandi, lalu setelah makan malam dan menyelesaikan belajar, ia tetap duduk di
meja untuk menatap peta Kekaisaran Leomel.
Windea, tempat bersemayamnya air dan angin.
Ini adalah panggung petualangan pertama yang akan dikunjungi
setelah cerita Legend of the Seven Heroes II dimulai.
Ren menggerakkan penanya di atas peta, memastikan jarak
antar wilayah.
Dari Ibu Kota menuju Windea memakan waktu sekitar dua jam
dengan kapal sihir. Jarak yang bisa ditempuh pulang-pergi dalam sehari. Memang
lebih lama dari waktu tempuhnya ke akademi, namun rencana itu tidak terasa
mustahil.
Hanya saja, yang mengganggunya adalah apa yang harus
dilakukan di Windea.
Akan sangat mudah jika ia bisa langsung menuju tempat Cincin
Dewi Air berada dan membawanya pulang, namun ada alasan mengapa ia tidak bisa
melakukan hal semudah itu.
Karena alasan
tersebut, ia harus menginap selama beberapa hari. Selain itu...
"Lalu, soal
kapal sihir juga ya."
Ini sangat
diperlukan untuk berpindah di sekitar Windea, jadi ia tidak boleh melupakannya.
Ren merebahkan tubuhnya di atas meja, sembari menggeram
"Aah……" karena menyadari ternyata banyak sekali yang harus
dipikirkan.
Ingin
mendinginkan kepalanya, ia keluar dari kamar dan menuju taman di malam hari. Ia
ingin menjernihkan pikiran sambil diterpa angin malam.
……Mungkin soal
kapal sihir, Raguna-san bisa mengaturnya.
Sebagai sosok
yang memiliki sisi sebagai pengelana tas, menyiapkan satu kapal sihir
seharusnya bukan masalah baginya. Untuk tempat menginap pun, di dalam kapal
sihir sudah cukup.
Ren menghela
napas panjang dan memikirkan satu hal lagi.
"……Rasanya
tidak perlu──── pergi bersama Vain dan yang lainnya, kan?"
Kekuatan spesial
yang digunakan Vain sudah pasti adalah kekuatan Pahlawan.
Di musim semi
nanti, para keturunan Seven Heroes pasti akan menuju Windea untuk
menguji kekuatan Vain, sekaligus memperkuat kekuatan Pahlawan yang bersemayam
di dalamnya.
Ikut pergi
bersama mereka namun kemudian memisahkan diri di lokasi rasanya terlalu
mencurigakan. Jika begitu, lebih baik ia berterus terang meminta Ulysses untuk
meminjamkan kapal sihir.
Hanya karena
tujuannya sama, bukan berarti mereka harus bertindak bersama-sama…….
Ren yang harus
mencari Cincin Dewi Air memiliki tujuan yang berbeda dengan rombongan Vain yang
akan langsung menuju kuil. Karena itulah, bergerak sendiri jauh lebih baik. Ren
sendiri masih mengingat cara untuk mendapatkan cincin tersebut.
Serta, ia masih
ingat samar-samar bahwa ada beberapa prosedur merepotkan yang harus dilalui.
"Aku bisa
bergerak sendiri……"
Gumamannya yang
sedang menyatukan pikiran itu tiba-tiba ditimpali oleh suara seorang gadis.
"Apa yang
'bisa'?"
"Aku
berpikir, sepertinya aku boleh bergerak sesukaku sendiri."
"Aku tidak
begitu paham, tapi apa kali ini kamu mau merahasiakannya dari kami lagi?"
"Tidak,
lebih tepatnya merahasiakannya dari Vain dan yang──── lho, Licia?"
"Iya. Ini
aku."
Ren yang sedari
tadi mengobrol secara alami dengan Licia—yang entah sejak kapan sudah ada di
taman—kini menatap ke arah gadis di sampingnya itu.
Jarak
mereka begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
Mungkin karena
baru selesai mandi, kulit Licia tampak sedikit merona.
Gadis itu hanya
mengenakan kardigan tipis, pakaian yang terasa kurang memadai untuk menghadapi
hawa musim dingin. Ren pun melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Licia.
"A…… terima
kasih."
"Sama-sama."
Karena tidak
perlu mengobrol di luar dalam waktu lama, mereka kembali masuk ke dalam
kediaman. Licia berjalan di samping Ren dengan langkah ringan. Dengan kedua
bahu yang terbungkus jas milik Ren, ia mencengkeram bagian dalamnya seolah
sedang mendekap benda berharga.
"Kita mau ke
mana?"
"Tadinya aku
berniat mengantarmu kembali ke kamar seperti biasa."
"Haa…… sudah kuduga."
Licia melanjutkan
kalimatnya dengan senyum kecut.
"Lewat
sini."
Tangan Licia
menjulur dari balik jas dan menarik Ren untuk mengubah arah jalan mereka.
Tujuan mereka
adalah dapur, yang saat itu sedang kosong.
Mungkin jika
dipanggil, pelayan akan datang menyiapkan minuman atau makanan, namun malam ini
Licia sendiri yang menyiapkan minuman hangat.
Sambil
menyandarkan punggung ke dinding dapur, Licia menyesap minumannya dengan kedua
tangan memegang cangkir. Ren pun melakukan hal yang sama setelah
memperhatikannya sejenak.
Setelah menghela
napas lega, Licia membuka suara.
"Gumamamu
tadi, jangan-jangan tentang Relik yang kita bicarakan tempo hari?"
"Anu,
bagaimana kamu bisa tahu?"
"Memang
sudah seharusnya begitu, kan?"
Karena dijawab
seperti itu, Ren akhirnya menerima saja tanpa berpikir terlalu dalam.
Ia pun segera
menceritakan tentang permintaan Emblem bertanda yang ia terima.
"Raguna-san
sedang mencari sesuatu."
"Nama itu…… orang dari Departemen Misteri, kan? Dia yang dulu membantuku soal fenomena
malaikat itu……"
'Fenomena
malaikat' adalah istilah sementara untuk kejadian saat kekuatan Licia lepas
kendali saat melawan Sword Demon.
Tahun lalu,
karena menduga hal itu berkaitan dengan White Saintess dan sihir suci, Ren
meminta Radius untuk mengenalkannya pada ahli sihir tanpa memberitahu detail
tentang fenomena malaikat tersebut.
Licia pun tidak
melupakan sosok Raguna yang diperkenalkan kepadanya.
Ren menceritakan
untuk tujuan apa dan barang seperti apa yang sedang dicari oleh Raguna.
"Jadi kalian
akan pergi bersama karena tujuannya sama ya."
Mencari barang
yang berkaitan dengan Dewi Air dilakukan demi Water Magic Sword, juga
untuk menuju tempat persembunyian penyair legendaris. Licia memahami
alasan-alasan tersebut.
"Tapi, mau
pergi ke mana?"
"Ke Windea.
Karena musim ini tidak memungkinkan, rencananya saat musim semi nanti."
"Huum…… begitu ya."
Suara yang terdengar penuh selidik itu diiringi dengan
tatapan mata yang mendongak lucu.
"Aku paham
kenapa kamu harus pergi ke sana, tapi……"
"Supaya
tidak salah paham, aku memang berniat membicarakan ini dengan benar kepadamu,
Licia."
"I-iya, aku
tahu! Aku cuma kaget karena ternyata tempatnya tidak terduga!"
Karena bukan hal
yang perlu dirahasiakan, Ren menceritakan detail Emblem bertanda lebih
jauh lagi.
Tentang kunci
baru yang ditemukan di panti asuhan tempat mereka melakukan investigasi
bersama, dan tentang memperbaikinya. Juga kemungkinan adanya informasi keluarga
Ashton yang tersisa di tempat persembunyian penyair Mudie.
Licia juga sudah mendengar tentang Cecil Ashton dan Putri
Erosi. Jelas sekali bahwa pria dan wanita yang digambarkan dalam lukisan di
kamar Ren adalah mereka berdua.
"Aku berencana meminta Raguna-san menyiapkan kapal
sihir, atau meminjamnya dari Tuan Ulysses."
Meskipun ia sudah menerima imbalan yang cukup atas kasus
Wadatsumi, Ren yakin Ulysses pasti akan merasa berutang budi dan mau
meminjamkan satu atau dua kapal sihir.
Namun, di saat seperti ini ia berharap keluarga Clausel juga
memiliki kapal sihir sendiri.
Saat mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama dalam
diam, Yuno muncul di dapur. Sepertinya ia datang untuk menyiapkan camilan dan
minuman hangat bagi Lezard yang sedang sibuk bekerja.
"Kalau
begitu, saya akan mengantarkan ini kepada Tuan Besar────"
Saat hendak
pergi, Yuno teringat sesuatu.
"Ah
benar juga, ada surat yang datang untuk kalian berdua."
"Musim
seperti ini, apakah undangan pesta?"
"Bukan,
surat itu dari Tuan Uhrich. Beliau juga sudah menghubungi Tuan Besar, katanya
beliau ingin melakukan uji coba terbang di suatu tempat."
"Uji coba
terbang?"
Suara Ren dan
Licia yang terdengar bersamaan terasa lucu bagi Yuno, hingga ia tak bisa
menahan senyum.
"Apa
kalian lupa dengan barang yang sedang diperbaiki di dermaga Taman
Gantung?"
Seketika
itu juga,
"────Ah!"
Suara
mereka kembali berbarengan.
Kapal
sihir Lemuria. Kapal sihir megah yang menyerupai kapal layar yang indah.
Kapal
sihir buatan Uhrich yang sedang diperbaiki menggunakan material dari Asvar itu
kini siap untuk kembali mengudara.
Karena
kabar tersebut datang di waktu yang sangat tepat, Ren dan Licia hanya bisa
tertawa kecut secara bersamaan.
Pemilik pertama
Lemuria adalah anggota keluarga kekaisaran di masa lalu.
Uhrich membuatnya
atas permintaan mereka, namun karena pemilik tersebut menggunakannya secara
serampangan, tungku sihirnya rusak parah dan meninggalkan luka dalam pada
kerangka kapal.
Kini,
perbaikannya telah mencapai tahap di mana uji coba terbang bisa dilakukan.
"Hebat, kan!
Inilah Lemuria yang sudah melewati berbagai perbaikan dan modifikasi!"
Di salah satu
sudut dermaga Taman Gantung, Uhrich sang pandai besi sekaligus teknisi kapal
sihir berseru dengan lantang. Ia tertawa sembari melipat kedua tangan berotot
khas ras kurcacinya dengan bangga.
Tadi
malam, setelah mendengar kabar tentang uji coba terbang, Ren dan Licia segera
datang ke sini. Mata mereka
kini terpaku pada Lemuria yang hampir selesai diperbaiki.
Berdiri di atas
lantai logam yang kokoh, mereka berdua kehilangan kata-kata.
Membayangkan
betapa indahnya kapal ini saat terbang di angkasa kelak.
"Saat musim
semi nanti, kapal ini sudah bisa melakukan penerbangan jarak jauh! Dalam waktu
dekat aku akan melakukan uji coba──── hei kalian berdua! Kenapa diam
saja?"
"Maaf. Aku
benar-benar kagum."
"Aku juga.
……Ini pertama kalinya aku melihat kapal sihir seindah ini."
Mendengar reaksi
mereka, Uhrich menggaruk ujung hidungnya dengan malu-malu—pemandangan yang
langka—lalu menatap Lemuria dengan bangga.
"Ouh. Keren,
kan?"
Tampilan luar
Lemuria hampir tidak berubah sejak terakhir kali Ren melihatnya.
Bagian dalamnya
terbagi menjadi beberapa ruangan, namun ukurannya lebih kecil dibandingkan
kapal sihir penumpang pada umumnya.
Bagian atas yang
berbentuk menyerupai peluru memiliki sayap transparan serupa sirip ikan yang
terlipat, berkilau layaknya kristal yang dipoles. Mungkin karena asalnya
sebagai kapal keluarga kekaisaran, beberapa dekorasi di sana masih tetap
dipertahankan.
Bagian bawah yang
menyatu dengan bagian atas terlihat seperti kapal layar tanpa layar. Sosok yang
seolah menegaskan jati dirinya sebagai kapal terbang itu kini terlihat lebih
canggih.
"Tampilan
dan ukurannya memang tidak banyak berubah, tapi karena aku memodifikasi output
tungkunya, bagian dalam banyak yang kuubah. Pertama, nilai sensitivitas tungku
utama terhadap mana──── lalu koefisien untuk menaikkan output juga sudah
kuhitung ulang────"
Meski tidak bisa
memahami penjelasannya secara teknis, ada satu hal yang bisa ditangkap dari
suasananya.
Lemuria ini telah
dimodifikasi secara besar-besaran seperti yang dikatakan Uhrich, dan secara
performa bisa dikatakan sudah menjadi benda yang berbeda dari sebelumnya.
Tanduk Asvar,
lalu Dragon Vein Furnace yang Ren terima dari Raguna tahun lalu, berpadu
dengan keahlian teknisi seperti Uhrich, membuat Lemuria terlahir kembali dengan
kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
"Aku sudah
mendaftarkan namaku sebagai pilotnya. Mengendalikan kapal ini sangat sulit,
jadi lebih baik begitu."
"Apakah
pendaftaran seperti itu memang diperlukan untuk kapal sihir?"
"Apa yang
kamu bicarakan, tentu saja perlu. Bahkan kapal sihir milik Nona pun, selain
anggota keluarga Drake, namaku juga terdaftar di sana. Hal seperti itu harus
dilakukan dengan benar."
"Aku
mengerti──── tapi, sepertinya Tuan Lezard yang akan memastikan hal itu."
"Aku juga berpikir begitu…… tapi sebenarnya, bagaimana
status kepemilikannya?"
Tentu saja itu
milik keluarga Clausel.
Tepat saat Ren
hendak mengatakannya, Licia lebih dulu membuka suara.
"Lemuria
diberikan oleh Yang Mulia Kaisar bersama dengan Erendil, jadi kepemilikannya
ada pada keluarga kami."
Namun, ada sisi
lain di mana benda ini merupakan barang pemberian, berbeda dengan tanah
wilayah.
"Tetapi, aku
dengar untuk hak penggunaan dan beberapa poin lainnya, nama Ren akan ditulis
berdampingan dengan nama Ayah."
"Sepertinya
begitu. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku mendengar hal itu."
"Aku
juga baru dengar tadi pagi, kok. Bukannya aku mau merahasiakannya, ya?"
"Gwahahahaha!
Begitu ya! Yah, aku paham maksudnya! Lemuria bisa diperbaiki ini berkat bantuan
Ren. Tentu saja Tuan Lezard akan melakukannya!"
Memberikan hak
kepemilikan barang pemberian Kaisar secara sembarangan adalah hal yang tidak
boleh dilakukan.
Namun setidaknya,
akan tertulis dengan jelas bahwa kapal sihir ini juga milik Ren. Bagi Ren yang
memang ingin menggunakannya di musim semi nanti, ini adalah hasil yang sangat
memuaskan.
"Uji coba
terbang akan kulakukan sendiri dalam waktu dekat. Karena belum bisa menjamin
keamanannya seratus persen, aku akan melakukannya sendirian."
Uhrich menegaskan
hal itu dengan keras kepala.
◇◇◇
Setelah kejadian
di pagi hari itu, Licia menceritakan hal-hal di dermaga Taman Gantung kepada
Fiona.
Mereka bertiga,
termasuk Ren, kini berada di ruangan yang biasa mereka gunakan di akademi.
"Sepertinya
uji coba terbang akan segera dilakukan."
"Aku juga
ingin melihatnya kapan-kapan. ────Ngomong-ngomong,"
Di sisi lain, Ren
tidak ikut dalam percakapan dan malah sibuk menatap peta.
"Hmm……"
Ia memutar-mutar
penanya dengan wajah bingung, pemandangan yang jarang ia perlihatkan. Fiona pun
teralihkan oleh tingkah lakunya itu.
"Apa yang
terjadi dengan Ren-kun?"
"Mungkin, dia sedang bingung memikirkan sesuatu tentang
perjalanannya ke Windea."
"Win, Windea? Kenapa dia harus pergi ke sana?"
Begitu Licia
menjelaskan alasannya, Fiona langsung mengangguk paham.
Suara
mereka berdua hampir tidak terdengar oleh telinga Ren. Alih-alih menyimak kata
demi kata, kesadarannya hanya menangkap bahwa mereka sedang membicarakan
sesuatu.
Sambil
terus menatap peta, Ren bergumam.
"Soal
ini juga harus kukonsultasikan dengan Raguna-san."
Begitu
pikirannya selaras, ia akhirnya mengembalikan kesadarannya ke ruangan tersebut.
Menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh kedua gadis itu, Ren memiringkan
kepalanya sedikit.
"Kalian
berdua, ada apa?"
"Tidak.
Bukan apa-apa."
"Iya. Tidak
ada apa-apa kok."
Melihat Ren
bertanya dengan wajah polos tanpa bermaksud berkelit, para gadis itu hanya
membalasnya dengan senyuman.
"Sepertinya
Ren-kun sudah selesai melamun. Kalau begitu, boleh aku bicara sebentar?"
"Tentu,
sudah tidak apa-apa. Ada apa?"
"Tolong
terima ini. Silakan periksa bersama Licia-sama setelah kembali ke
kediaman."
Fiona menyodorkan
sebuah amplop tebal kepada Ren.
Amplop itu
disegel dengan Magic Seal yang telah dimantrai; jika jatuh ke tangan
orang yang tidak berhak, isinya akan langsung terbakar habis.
"Ini
mengenai apa yang sudah kita putuskan pada musim dingin lalu."
Hanya
dengan kalimat itu, Ren dan Licia langsung mengerti segalanya.
Tanpa
banyak bicara, Ren menyimpan amplop tersebut ke balik pakaiannya.
"Hasil
penyelidikan kami juga akan segera kuringkas dan kutunjukkan pada Fiona-sama
nanti."
"Iya. Aku
akan menunggunya."
Sepuluh menit
kemudian, pintu ruangan terbuka.
"Oh?
Ternyata kalian semua ada di sini."
Radius menyapa
mereka begitu melihat Ren dan yang lainnya.
Di belakangnya,
Mirei juga menampakkan diri. Sebagai keturunan campuran manusia dan Cait Sith,
telinga kucingnya berdiri tegak sementara ekornya bergoyang perlahan.
Berkumpulnya
orang-orang yang sama dengan saat Festival Raja Singa membuat suasana riuh
musim semi dan musim panas tahun lalu kembali terasa.
"Hmm?"
Saat Radius
hendak duduk di kursi sebelah Ren, matanya tertuju pada peta.
"Peta ya.
Sepertinya itu area di sekitar Windea."
"Iya. Aku
berencana pergi ke sana saat musim semi nanti."
"……Sepertinya
bukan untuk sekadar jalan-jalan."
Setelah Ren
menjelaskan alasannya, Radius mengangguk paham dengan wajah serius.
"Mungkin
cuma Ren yang mau menerima Emblem bertanda sekacau itu."
"Mungkin
saja. Tapi aku belum punya rencana apa pun di awal musim semi, dan karena ini
hal yang membuatku penasaran, kupikir ini kesempatan bagus."
"Tapi tetap saja…… Ren selalu aktif seperti biasanya
ya."
"Yah,
setidaknya ada beberapa hal yang mulai terungkap."
Lalu,
Radius bergumam sendiri, "Harusnya Raguna bicara padaku dulu."
"Bagaimana dengan kapal sihir menuju Windea?"
"Itu belum diputuskan. Aku sedang menimbang antara
menggunakan Lemuria atau meminta Raguna-san menyiapkannya."
"Lemuria?
Apa perbaikannya sudah sampai pada tahap bisa dikendarai?"
"Iya.
Sebentar lagi akan ada uji coba terbang, jadi aku berniat mendiskusikannya juga
dengan Raguna-san."
Radius
mengucapkan selamat, lalu segera mengeluarkan secarik kertas memo dan mulai
menuliskan sesuatu dengan penanya.
"Ini
penginapan tempat Raguna tinggal. Mengingat sifat pria itu, dia pasti belum
memberitahumu di mana dia menginap."
Lalu, Radius
melanjutkan.
"Berbicara
soal Ashton sang petualang, seperti yang kukatakan tempo hari, hal yang paling
membuatku penasaran adalah Perpustakaan Terlarang."
"Tapi,
Radius baru bisa masuk ke Perpustakaan Terlarang paling cepat setelah musim
panas nanti, kan?"
"Benar.
Tidak akan ada cara lain kecuali aku menjadi Putra Mahkota."
Selain Kepala
Perpustakaan Kekaisaran, hanya Kaisar, Putra Mahkota, Menteri Pengadilan
Kekaisaran, dan para asistennya yang memiliki akses ke Perpustakaan Terlarang.
"……Aku ingin
segera pergi menyelidikinya."
Berbanding
terbalik dengan mereka berdua yang mengobrol dengan sangat alami, Licia dan
Fiona justru terdiam seribu bahasa.
"Kalian
berdua. Tolong jelaskan dengan benar, karena dua gadis di sini sedang
kebingungan, nya."
Tidak perlu lagi
menjelaskan apa arti kata 'Putra Mahkota'.
Hal yang perlu
dijelaskan adalah fakta bahwa Radius dijadwalkan untuk menjadi Putra Mahkota
tersebut, dan fakta bahwa Ren sudah mengetahui hal itu sebelumnya.
Soal poin
terakhir, mereka bisa membayangkan dari hubungan keduanya, dan mereka paham ada
situasi yang membuat hal itu tidak bisa dibicarakan sembarangan.
"Masih
sedikit orang yang mengetahuinya, tapi kelak aku akan menjadi Putra Mahkota.
Untuk sementara, tolong rahasiakan ini."
Karena diucapkan
dengan begitu santai, keterkejutan mereka justru semakin bertambah.
(Jadi
Ulysses-sama bahkan belum memberitahu Fiona-sama.)
Saat kedua gadis
itu menatapnya, Ren merasa mereka terlihat persis seperti dirinya beberapa hari
lalu.
Pembicaraan soal
Putra Mahkota tidak dibahas lebih detail. Radius sendiri yang mengakhirinya
dengan berkata, "Itu masih urusan nanti."
"Kami ke
sini untuk mengerjakan tugas liburan, kalau Radius dan Mirei sedang apa?"
"Soal
pekerjaan Mirei. Aku hanya mampir menemaninya."
"Pekerjaan
di perpustakaan? Melakukan
riset?"
"Bukan
itu. Libur musim dingin akan segera berakhir, kan? Dan setelah itu adalah upacara kelulusan."
"Karena
itulah, sebentar lagi aku bukan lagi seorang siswi, nya!"
Meski
diucapkan dengan ringan, Ren dan yang lainnya merasa sedih karena Mirei akan
pergi.
"Yah,
tapi aku bakal sering-sering mampir kok, nya~"
"Mengingat
posisi Mirei sebagai asistenku, dia tidak akan hanya diam menjadi pegawai sipil
di istana. Mulai musim semi, meski hanya paruh waktu, dia akan tetap terdaftar
di perpustakaan ini. Singkatnya, hubungan kita hampir tidak akan berubah."
"……Ternyata
begitu."
"Ada apa
Ren, kenapa jawabanmu lemas sekali? Tidak, bukan cuma Ren. Dua orang di sana
juga terlihat kehilangan semangat."
"A-ahaha…… maaf, aku dan Licia-sama baru saja merasa
sedih karena mengira akan berpisah……"
"Iya…… aku senang karena masih bisa bertemu dengan
Mirei-san……"
"Nyahaha! Tapi memang begitulah aturannya, nya! Akan aneh kalau asisten Yang Mulia
terus-terusan mendekam di istana, nya~!"
Setelah
diberikan argumen yang masuk akal, ketiganya pun mengangguk setuju.
Pangeran
Ketiga Radius dan asistennya, Mirei, tidak memiliki perbedaan usia yang jauh,
sehingga memudahkan pihak istana untuk melakukan penyesuaian. Alur seperti ini
bukanlah hal yang aneh.
"Setelah
upacara kelulusan, tak lama kemudian akan ada upacara penerimaan siswa baru
ya."
"Benar.
Musim seperti ini pasti selalu sibuk."
Akan menjadi
musim semi seperti apakah tahun ini?
Pikiran yang
sempat terlintas beberapa hari lalu kembali membayangi benak Ren.
◇◇◇
Pada suatu hari,
di tahun saat Ren dan Licia naik ke tingkat dua. Di aula besar Akademi Militer
Kekaisaran.
'Apa──── Re,
Ren!? Apa yang kamu lakukan!!'
Suara
teriakan yang menggema, dibalas dengan suara yang tenang.
'Kamu
bisa melihatnya sendiri, kan? Barusan, aku membunuhnya.'
Dialog
antara Ren Ashton—sebelum ia menghilang sambil mendekap jasad Licia—dengan Vain
sang keturunan Pahlawan dalam Legend of the Seven Heroes.
Bagi Ren,
itulah awal dari segalanya. Keputusan awal yang ia buat dengan penuh kesadaran
bahwa ia harus menghindari kejadian itu bagaimanapun caranya.
Jika
bicara soal waktu, hal itu seharusnya terjadi tahun ini.
Tiba-tiba,
"Ren?"
Ia
bertatapan dengan Licia yang sedang mengintip wajahnya.
"Kamu
tiba-tiba diam, ada apa?"
"E-eh…… tidak, bukan apa-apa kok!"
Ucap Ren dengan nada panik, seolah sedang meyakinkan dirinya
sendiri.
Licia tetap mendongak menatap Ren yang membantah dengan
terburu-buru, lalu ia tersenyum lembut.
"Fufu, kalau begitu syukurlah."



Post a Comment