Chapter 5
Festival Musim Semi dan Hari-Hari yang Baru
Sejak
keributan tentang Wadatsumi, utusan dewa raksasa itu, aliran waktu
terasa berputar sangat cepat.
Hari-hari
di musim dingin berlalu dalam sekejap mata, dan begitu memasuki bulan Maret,
upacara kelulusan pun segera diselenggarakan.
Sebagai
akademi ternama yang namanya tersohor di seluruh dunia, upacara yang dihadiri
oleh banyak tamu undangan ini berlangsung dengan sangat khidmat…… setidaknya
sampai di pertengahan acara.
Langit-langit
dan dinding aula besar, serta hampir seluruh bagian ruangan kecuali kursi yang
diduduki para hadirin, tiba-tiba menjadi transparan.
Sebagai
gantinya, yang terpampang adalah pemandangan langit biru yang membentang luas.
Langit
biru yang mengalir itu seolah menyelimuti seluruh aula, sementara kelopak bunga
yang bercahaya redup tampak berguguran entah dari mana.
Jika
disentuh, kelopak itu terasa hangat, lalu seketika berubah menjadi partikel
cahaya dan menghilang.
Suasana
kaku pun lenyap tak bersisa, digantikan oleh sorak-sorai para lulusan yang
menggema di seluruh aula.
Mereka tidak akan
lagi menimba ilmu di sekolah ini.
Pertemuan
terakhir dengan para sahabat pun diwarnai dengan tawa dan haru, seolah ingin
mengenang setiap detik yang tersisa.
Di luar gedung
sekolah, para lulusan, siswa tingkat bawah, hingga staf pengajar berkumpul
untuk saling bertukar kata perpisahan.
Pepohonan yang
ditanam di taman sekolah telah ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna. Di bawah
langit biru yang cerah, para lulusan pun mulai melangkah menuju dunia luar.
Sore hari di hari
yang cerah itu, tak lama setelah upacara kelulusan berakhir────.
Ren sedang
berjalan di taman yang dihiasi nuansa musim semi yang kental. Di kedua sisinya,
Licia dan Fiona tampak menemaninya, memperhatikan kerumunan lulusan yang riuh
dari kejauhan.
"Sihir
Chronoa-san tadi mirip seperti saat upacara penerimaan siswa baru ya."
Ucap Ren merujuk
pada pertunjukan sihir di tengah upacara tadi.
Ketiganya merasa
takjub menyadari bahwa sudah setahun berlalu sejak Ren dan Licia terpana
melihat sihir Chronoa pada upacara penerimaan tahun lalu.
"Tapi, tamu
undangannya terasa lebih banyak daripada saat upacara penerimaan, kan?"
"Benar
juga, kalau dibandingkan sepertinya memang lebih banyak."
"Sebab
banyak anggota keluarga dari para lulusan serta pihak-pihak yang berkaitan
dengan jenjang karier mereka yang datang berkunjung."
Sesuai kata-kata
mereka, Ren pun dibuat terkejut oleh deretan tamu undangan yang luar biasa.
Pemandangan yang seolah menyimbolkan otoritas Akademi Militer Kekaisaran itu
masih bisa terlihat di berbagai sudut area sekolah.
Namun, mereka
bertiga melangkah menjauh dari keramaian menuju sudut taman. Area air mancur
yang tersembunyi di balik pagar tanaman ini biasanya menjadi tempat favorit
para siswa menikmati makan siang.
Pada hari
kelulusan ini, tidak ada satu orang pun selain mereka bertiga, menciptakan
ketenangan yang sesuai dengan perkiraan.
Tepat
saat Ren hendak duduk di tepi air mancur,
"Ren!"
Suara
sahabat yang sudah agak lama tidak ia dengar itu pun memanggilnya. Di belakang
pria yang berlari itu, tampak Sarah dan anggota keluarga tujuh bangsawan agung
lainnya.
"Vain? Ada
apa? Kenapa terburu-buru begitu?"
"Tentu saja
karena aku ingin bicara dengan Ren……!"
Sebelumnya,
tinggi badan Ren dan Vain hampir sama. Namun sekarang, sudut pandang mata Ren
sedikit lebih tinggi.
Meski
perbedaannya sangat tipis sampai tidak akan disadari jika tidak diberitahu,
ternyata ada perubahan antara sebelum dan sesudah libur musim dingin.
"Musim
dingin kemarin pasti sangat berat, kan? Jadi aku ingin mendengar banyak hal……!"
Meskipun
upacara kelulusan dilakukan tak lama setelah libur musim dingin berakhir, bukan
berarti tidak ada kelas biasa sampai hari ini.
Hanya
saja, karena di awal musim semi mereka sering sibuk menghadiri pesta atau
mengerjakan tugas bangsawan, jadwal mereka tidak cocok sehingga jarang bertemu
di kelas.
Pada hari
upacara kelulusan ini pun, para siswa tingkat bawah langsung menuju aula besar,
sehingga mereka tidak sempat bertatap muka di kelas.
Karena Vain
terus-menerus diajak bicara oleh teman sekelasnya soal libur musim dingin, ia
baru bisa menemukan Ren sekarang.
"Jadi itu
alasanmu terburu-buru ya."
Senyum kecut yang
ditunjukkan Ren yang berwajah netral itu terlihat manis. Namun di balik itu,
terdapat kekuatan yang tertanam jauh di dalam dirinya yang mampu menggugah
insting Vain.
"Tapi yang
mengalami masa sulit bukan cuma aku, kok."
Jawab Ren singkat
sembari menunggu napas Vain kembali teratur, lalu ia menatap Kaito.
"Leonard-senpai
dan yang lainnya juga, kan? Katanya kalian diserang Wadatsumi sebelum
sampai di terminal kapal sihir."
"……Yah,
begitulah. Saat sedang terbang dengan kapal sihir, tiba-tiba sekelompok Sea
Link Line dan monster lainnya menyerang kami."
"Aah…… mendengarnya secara langsung begini terasa
sangat berbahaya ya."
"Bicara apa kamu, bukannya pihak Ashton juga mengalami
hal yang sama? Lagipula Ashton itu, apa ya namanya... itu lho!"
Beritanya sudah tertulis di koran, dan informasi pun sudah
sampai ke telinga para bangsawan agung.
Kabar bahwa sang pengguna pedang hebat Ren Ashton telah
menjadi Sword Saint dan dianugerahi medali pedang Saint Grimdoll
dari Lion Sanctuary bukanlah sekadar rumor belaka.
Tanpa berbasa-basi lagi, Vain menatap lurus ke arah Ren dan
bertanya.
"Ren, apakah berita tentang musim dingin itu
benar?"
Pertanyaan untuk memastikan kebenaran rumor bahwa ia telah
menumpas Wadatsumi seorang diri. Nada suaranya penuh keyakinan, seolah
ia sudah tahu jawabannya meski tanpa penjelasan panjang lebar.
Ren
mengangguk pelan sebelum membuka suara.
"Iya.
Itu benar."
Tidak ada
alasan baginya untuk merahasiakan hal itu, namun bukan sifat Ren untuk
mengumbar pencapaiannya secara terang-terangan di depan umum.
Vain dan
yang lainnya yang mendengarkan Ren merasa bahwa jawaban singkat itu sudah
mewakili segalanya.
Vain
tampak ingin mengobrol lebih banyak, namun Ren dan yang lainnya tidak bisa
terus berada di sini.
"Maaf
memotong pembicaraan kalian. Ren, sepertinya sudah waktunya."
"Ah────
benar juga."
Ren
melirik jam tangannya setelah melihat Vain dan anak-anak bangsawan lainnya
terdiam.
"Maaf ya.
Padahal kalian baru saja datang, tapi setelah ini aku ada urusan."
"T-tidak
apa-apa kok! Justru
kami yang minta maaf karena datang tiba-tiba!"
Para anggota
panitia pelaksana Festival Raja Singa telah menyiapkan acara perpisahan
kecil-kecilan untuk merayakan kelulusan Mirei.
Ren datang ke
area air mancur ini hanya untuk membunuh waktu, namun ternyata mereka mengobrol
lebih lama dari dugaannya.
"Ayo kita
mengobrol lagi nanti. Aku juga ada hal yang ingin kubicarakan dengan
Vain."
Ren bersama Licia
dan Fiona pun melangkah menyusuri jalan yang tadi dilewati Vain dan
rombongannya.
Bahkan setelah
mereka pergi, Vain dan yang lainnya masih terus menatap ke arah kepergian
mereka.
Beberapa hari
setelah perayaan musim semi tersebut.
Di area pintu
masuk lantai satu gedung sekolah, dua orang pria sedang berbincang.
"……Hei,
Ashton."
"Iya, iya,
ada apa?"
Kaito, yang kini
berada di tingkat tiga, menyapa Ren yang sudah naik ke tingkat dua sesaat
setelah mereka tiba di sekolah.
"Rasanya
ada yang kurang, nggak sih?"
"Anu…… tiba-tiba bicara apa?"
"Maksudku
begini, pertama ada upacara kelulusan, kan?"
"Memang
ada," Ren mengangguk setuju.
"Lalu
kemarin ada upacara penerimaan siswa baru. Ditambah lagi selain acara sekolah,
pesta musim semi juga ada banyak sekali sampai rasanya mau gila, kan?"
"Karena ini awal musim semi, sepertinya memang ada
cukup banyak pesta ya."
"Nah, itu dia. Di mana-mana suasananya seperti itu,
kan?"
Ren sendiri sempat menghadiri beberapa pesta bersama Licia.
Kebanyakan bangsawan yang datang menyapa adalah mereka yang
ingin menjalin hubungan dengan Viscount Lezard Clausel yang pengaruhnya semakin
meningkat setiap tahun, namun ada juga beberapa yang memang mengincar Ren.
Tapi, hal itu bisa ditangani oleh Lezard, begitu juga dengan
pria berotot itu. Bayangan
Ulysses bagi orang yang melihatnya mungkin tampak seperti sesosok iblis.
Namun,
yang ingin disampaikan Kaito adalah hal yang berbeda dari pesta-pesta tersebut.
"Aku itu
suka suasana yang ramai. Terutama dari musim semi sampai musim panas tahun
lalu, itu yang terbaik."
"Saat
Festival Raja Singa memang sangat luar biasa sih. Tapi kurasa itu kasus yang
istimewa."
"Yah, memang
tidak bisa disamakan dengan festival yang cuma ada beberapa tahun sekali. Tapi
masalahnya, setelah keramaian itu berakhir, semuanya kembali seperti biasa,
kan?"
"Meski sudah
naik tingkat, suasana di dalam kelas memang tidak banyak berubah ya."
"Nah, itu
dia! Berbeda dengan kelas umum, kelas beasiswa tidak ada pengocokan kelas.
Memang jadi lebih santai, tapi rasanya ada yang kurang."
Seperti yang
dikatakan Kaito, suasana di kelas beasiswa memang cenderung monoton.
Meski begitu,
pelajaran baru tetap dimulai, dan karena ada mata pelajaran spesialisasi untuk
setiap tingkat, bukan berarti tidak ada kesegaran sama sekali.
Namun jika
mengingat kejadian di musim dingin ini, rasanya sejak musim semi tahun lalu
suasananya memang terus-menerus ramai.
"Musim
dingin kemarin kan sudah banyak kejadian, jadi kurasa begini saja sudah cukup,
kan? Kedamaian adalah yang terbaik."
"Aku tahu kok…… tapi maksudku, aku ingin keramaian yang
damai."
"E-eeh…… meski Anda bilang begitu……"
Kaito yang menjawab dengan lemas menyandarkan seluruh berat
tubuhnya ke dinding.
Saat Ren menyadari ada suara-suara di sekitar dan menoleh,
ia melihat beberapa siswa sedang tertawa sambil memperhatikan mereka.
Mungkin posisi tubuh kedua siswa laki-laki yang tidak
seimbang itu terlihat lucu bagi mereka.
Kaito segera
mulai berjalan kembali, namun langkah kakinya sama sekali tidak menunjukkan
semangat.
"Ngomong-ngomong,
kemarin langsung ada kuis mendadak, kan. Tingkat dua juga, kan?"
"Iya.
Jangan-jangan, hari ini Anda tidak bersemangat karena hal itu?"
"Nilai-nilaiku
memang membaik dari sebelumnya, tapi tetap saja masih jauh dari harapan."
"Jadi
karena itu……. Posisi Anda tadi ditertawakan orang-orang lho."
"Tidak
perlu dipikirkan. Di sini kan tidak ada Ayah atau yang lainnya."
"……Kalau
Leonard-senpai merasa tidak masalah sih, tidak apa-apa."
Mereka
berhenti di sebuah lantai bordes yang luas. Ruangan ini saking luasnya mungkin
bisa menampung seluruh kamar Ren yang ada di kediaman Ashton di desa.
Kaito
berdiri di depan jendela besar, membiarkan tubuhnya disinari matahari sembari
meregangkan punggungnya lebar-lebar di tengah embusan angin musim semi.
"Yooshi!
Kalau begitu, hari ini aku juga akan berju────"
Tepat di
saat Kaito yang sudah kembali bersemangat itu berbalik dari arah jendela.
"Beburaa!?"
Itu suara seorang
gadis.
Di samping Ren
yang mendengar jeritan aneh tersebut, Kaito dengan panik segera meminta maaf,
"Maafkan aku!"
"Ku,
kuuuh~~!!"
Seorang gadis
berdiri di sana sembari memegangi ujung hidungnya, menatap Kaito dengan mata
berkaca-kaca yang penuh rasa kesal.
Gadis itu mengenakan jubah berukuran oversized berwarna biru dengan hiasan benang emas, sembari mendekap topi penyihir berpinggiran lebar.
Tubuhnya
berukuran rata-rata dengan perawakan ramping. Wajahnya yang cantik dengan fitur
wajah proporsional pasti akan membuat siapa pun setuju bahwa dia sangat imut.
Gadis itu
memiliki rambut berwarna terang, perpaduan antara warna teh susu dan merah muda
sakura, yang panjangnya mencapai bahu.
(Tunggu...
anak ini)
Ren
membatin, ia mengenali gadis itu.
"Fuguu...
boleh juga ya, Kaito! Bisa menyadari kehadiranku yang mendekat, kau benar-benar
pria keturunan Leonard!"
Ren tidak
memotong pembicaraan gadis yang cara bicaranya sangat bersemangat itu, ia hanya
tersenyum tipis melihat vitalitasnya.
"Lho,
Lizred!? Kenapa kau ada di belakangku!?"
"Aku melihat
Kaito sedang bermalas-malasan dengan postur tubuh yang menyedihkan, jadi aku
berniat menusuk pinggangmu!"
"……Jadi
karena itu kau sedekat ini."
"Tapi...
karena kau tiba-tiba berbalik, ujung hidungku jadi tertabrak. Rasanya lumayan
sakit, tahu."
Mendengar
pengakuan gadis yang ujung hidungnya masih memerah itu, Kaito hanya memberikan
balasan canggung, "O-oh. Begitu ya."
Setelah kembali
tenang, gadis itu teringat rasa sakit di hidungnya dan matanya mulai
berkaca-kaca lagi.
"I-ityakit……"
Ren yang sedari
tadi hanya mengamati, akhirnya angkat bicara karena khawatir melihatnya
merintih.
"Kamu
baik-baik saja?"
"A-ah,
terima kasih atas perhatiannya... tapi aku baik-baik saja... ini bukan masalah
besar. Dibandingkan
latihan dari Nenek, ini jauh lebih mending……"
"Memang
benar. Keluarga Arkay
sepertinya sangat keras dalam mengajarkan sihir."
"Mumu! Kamu
tahu nama keluargaku?"
Gadis yang baru
saja berucap itu bernama Lizred Arkay.
Leluhurnya adalah
salah satu dari Tujuh Pahlawan bernama Lino Arkay, seorang penyihir yang ikut
menumbangkan Raja Iblis.
Ia juga dikenal
sebagai sosok yang membangun fondasi pendidikan sihir modern.
Lizred yang ada
di sini pun sudah menjadi ahli sihir di usianya yang sekarang, dan mampu
menggunakan berbagai macam kekuatan.
Lizred baru saja
hendak memperkenalkan diri secara resmi, namun niatnya langsung dipatahkan.
"Liz ini
dianggap sebagai posisi 'adik perempuan' sampai-sampai dijadikan bantal peluk,
lho. Tapi cuma oleh Shalo saja."
"Tunggu-tunggu-tunggu!
Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu di depan orang yang baru pertama
kali bertemu! Kalau mau cari ribut, biar Kaito pun akan kuhadapi, ya!?"
Dilihat sekilas,
dia tampak seperti gadis kecil yang sedang dipermainkan oleh kakak kelas
laki-lakinya.
Untungnya, bagi
para siswa yang sedari tadi melihat dari kejauhan, mereka hanya terlihat
seperti teman akrab yang sedang bercanda────.
Saat Ren dan
Radius mengobrol di kantin saat jam istirahat makan siang, mereka terlihat
cukup mencolok.
Namun, keduanya
sama sekali tidak peduli.
"Begitulah,
dia anak yang sangat energetik."
"Lagi-lagi,
cara pertemuan yang unik ya."
Selagi mereka
mengobrol, salah satu sudut kantin tiba-tiba menjadi ramai. Itu karena Kaito,
Vain, Charlotte, dan si gadis yang sedang dibicarakan, Lizred, masuk ke kantin.
Wajar saja jika
mereka menarik perhatian. Mengingat Vain yang sedang menjadi topik hangat
berjalan bersama para bangsawan agung, hal itu tidak bisa dihindari.
Mereka──── atau
lebih tepatnya Lizred, begitu melihat sosok Ren langsung berseru.
"Ah!"
Ia segera
memanggil dan berlari kecil mendekat.
Namun
langkahnya terhenti saat melihat Radius yang berada di samping Ren. Seluruh
tubuhnya tampak membeku karena saking gugupnya.
Melihat
jarak yang agak canggung itu, Ren bertanya pada Pangeran Ketiga yang duduk di
hadapannya.
"Apa kamu
melakukan sesuatu padanya?"
"……Mana
mungkin. Bicara dengannya saja belum pernah."
Pangeran Ketiga
memberikan jawaban singkat sambil bangkit dari kursinya.
"Kamu sudah
mau pergi?"
"Aku sudah
selesai makan. Aku akan pergi ke perpustakaan sekarang. Ada sedikit urusan
publik yang harus kubicarakan dengan Mirei, staf baru di sana."
"Jadi karena
ini Mirei-san menjadi staf paruh waktu ya."
"Begitulah.
Kalau begitu, aku permisi duluan."
Memang benar dia
ada urusan dengan Mirei, tapi dia juga melakukan itu untuk memberi ruang bagi
Lizred.
Radius beranjak
dan meninggalkan kantin tanpa melirik ke sekelilingnya.
Setelah Radius
pergi, Lizred memperhatikan situasi sejenak sebelum berjalan perlahan mendekati
Ren. Beberapa langkah di belakangnya, Vain dan yang lainnya menyusul.
"Maaf soal
keributan tadi pagi."
Ia membungkuk
kecil namun sopan dan manis, seolah-olah terdengar efek suara 'pekori'.
"Nama saya
Lizred Arkay. Seperti yang Anda tahu, saya keturunan Lino Arkay, dan saya juga
penyihir yang lumayan hebat."
"Aku Ren
Ashton. Salam kenal."
Setelah
perkenalan keduanya selesai, Charlotte tidak melewatkan perkataan Lizred.
"Apa kamu
tidak malu menyebut dirimu sendiri penyihir hebat?"
"Makanya aku
tambahkan kata 'lumayan', kan. Lagipula, kalau ditunjukkan secara
terang-terangan begitu aku jadi sedikit malu, jadi tolong jangan dibahas."
"Iya, iya.
Nanti akan kulakukan begitu."
"Astaga... Shalo ini cuma tubuhnya saja yang tumbuh
besar. Untuk menjadi lady yang pantas di mana pun, perhatian terhadap
lawan bicara itu sangat penting, lho."
"Tidak masalah bagiku. Karena aku bisa bersikap baik
kepada selain Liz."
"R-rasanya
itu jawaban yang sangat tidak mengenakkan... tapi kali ini akan
kumaafkan."
Setelah
mengakhiri percakapannya dengan Charlotte, Lizred menoleh ke arah Ren.
"Ada
permintaan yang ingin saya sampaikan, Ashton-senpai."
Ren
jarang dipanggil seperti itu. Dipanggil 'Senpai' membuatnya kembali sadar bahwa
dia kini sudah menjadi siswa tingkat dua.
"Permintaan
untukku? Dan lagi, ternyata kamu tahu tentang aku."
"Sama
seperti Ashton-senpai yang tahu tentangku, ada banyak alasan bagiku untuk
mengenal Ashton-senpai. Terutama karena keluarga kami memiliki kecoco—
maksudku, takdir yang buruk dengan pengguna Sword Master!"
"Apa karena
kami yang menggunakan Hoshisagi (Star Slasher) adalah musuh alami bagi
penyihir?"
"U-uguu……"
Hoshisagi adalah teknik bertarung pengguna Sword
Master yang memanfaatkan kekuatan Mana Shroud untuk menebas sihir
sekalipun.
Karena teknik ini
juga merupakan bukti seseorang telah menjadi Swordmaster, mereka yang
menggunakannya pasti sangat ahli dalam pedang. Bagi penyihir yang pada dasarnya
lemah dalam pertarungan jarak dekat, mereka tidak lebih dari musuh alami.
Gadis
penyihir itu mengerang singkat lalu berseru kencang.
"Itu
dia! Teknik seperti itu curang!"
"Biarpun
dibilang curang, yang menciptakan teknik itu kan Lion King."
"Guh...
bahkan aku pun tidak bisa protes apa-apa pada Lion King!"
Lizred sebenarnya
tidak berniat mengutarakan keluhannya pada pengguna Sword Master.
Setelah pembicaraan sedikit melantur, ia segera kembali ke permintaan yang
ingin ia sampaikan.
"Begini,
lho."
Kali ini
mukadimahnya terasa lebih formal.
"Pada hari
libur panjang nanti, maukah Anda pergi ke Windea bersama kami?"
"Sepertinya
tidak."
"……Eh?"
Mulut Lizred
ternganga karena jawaban yang terlalu cepat di luar dugaannya. Karena setiap
reaksinya sangat menarik, Ren tidak bisa menahan tawa.
"Jawabanmu
terlalu cepat! Kenapa tidak bisa!?"
"Maaf ya,
soalnya aku sudah punya rencana lain sebelumnya."
"R-rencana
ya... kalau begitu, aku tidak bisa memaksa."
Lizred menyerah
dengan cukup mudah dan membungkuk sekali lagi pada Ren.
"Maaf karena
tiba-tiba mengajakmu. Kali ini aku menyerah."
"Aku juga
minta maaf karena memberikan jawaban seperti itu."
"Tidak
apa-apa. Tapi lain kali, Anda harus ikut bersama kami. ────Kalau begitu ayo
kita pergi, Kaito."
"Tunggu
dulu! Tiba-tiba mau ke mana!?"
"Tentu saja
latihan di jam istirahat siang!"
"Kalau
sekarang kita tidak sempat makan siang, tahu! Setidaknya lakukan saat pulang
sekolah!"
"Waduh...
benar juga kalau dipikir-pikir."
Di tengah
keramaian interaksi mereka berdua, Vain menatap Ren.
"Maaf ya
tiba-tiba. Sepertinya dia mendengar rumor tentang Ren dan berpikir akan bagus
jika kita pergi bersama."
"Kalau
begitu, aku jadi merasa tidak enak sudah menjawab seperti tadi."
"Tidak
apa-apa, kok. Aku juga senang kalau bisa pergi bersama Ren, tapi kami yang
salah karena mengajak tiba-tiba."
Meskipun Ren
punya rencana ke Windea, bergerak terpisah dari rombongan Vain lebih
menguntungkan baginya, jadi ini tidak bisa dihindari.
"Liz,
latihan boleh saja, tapi sepulang sekolah nanti kita sudah janji mau belanja,
kan."
"Aku tahu!
Tapi setelah latihan juga tidak apa-apa, kan?"
"Tidak
boleh. Sudah saatnya kau membeli baju musim semi yang layak."
Tampaknya
Charlotte menusuk titik lemahnya, karena Lizred sedikit tersentak saat
menjawab.
"Aneh ya...
rasa maluku terpampang di depan Ashton-senpai sudah dua kali sejak pagi tadi.
Ini terlalu cepat."
"Tidak
apa-apa. Itu terlihat menggemaskan, kok."
"Agua……"
"Padahal aku
selalu menyuruhnya beli setiap tahun, tapi sepertinya dia terlalu malas atau
memang tidak suka belanja," keluh Charlotte.
"Hah? Apa
yang kamu bicarakan? Setiap tahun aku selalu punya baju baru, tahu?"
"Kalau yang
kamu maksud adalah baju latihan sihir, aku tidak tahu harus bilang apa
lagi."
"……Entahlah."
Karena tebakannya
tepat sasaran, Lizred sengaja membuang muka ke arah lain.
"Lagipula,
karena ukuranku tidak banyak berubah, tidak perlu beli gaun baru segala. Itu
cuma buang-buang uang! Benar kan, Ashton-senpai?"
"Tolong
jangan tanya hal seperti itu padaku yang laki-laki."
Apalagi jika
pembahasannya menyangkut perubahan bentuk tubuh.
Melihat Ren yang
tampak kesulitan menjawab, Charlotte tersenyum penuh maaf.
"Abaikan
saja dia."
"I-itu kejam
sekali! Itu kan cuma lelucon kecil yang elegan!"
Lizred tampak
tidak puas dan berkacak pinggang dengan napas yang memburu kesal.
"Memangnya
kenapa... baju yang biasa dipakai itu yang paling enak. Kain yang sudah sering
dicuci itu terasa lembut dan nyaman, tahu……"
"Aku paham
maksudmu. Seperti handuk untuk latihan misalnya."
"Benar!
Handuk itu contoh klasik barang yang makin enak dipakai setelah sering
dicuci!"
"Baju rumah
dan handuk terserah kamu mau bagaimana. Yang kubicarakan itu baju untuk dipakai
di luar."
Terhadap
argumen yang tidak bisa dibantah itu,
"Fugyu……"
Suara seperti
sesuatu yang terhimpit keluar dari mulut Lizred.
"Vain, lebih
baik kita makan dulu saja?"
"Ah... iya,
sebaiknya begitu."
Karena ini adalah
kesempatan langka mereka berkumpul, Ren ikut makan bersama, namun waktu itu
berakhir dalam waktu kurang dari dua puluh menit.
Sebenarnya masih
ada waktu sebelum jam istirahat berakhir. Namun, Ren yang teringat pelajaran
siang nanti bangkit lebih dulu bersama Vain.
Pelajaran
Herbologi yang terus berlanjut di tingkat dua dilaksanakan di ruang kelas
khusus.
Awalnya mereka
duduk di kursi masing-masing, namun di tengah pelajaran mereka sering berdiri
dan bolak-balik antara meja masing-masing dan rak di dinding untuk memproses
tanaman obat.
Karena ada
persiapan kelas, sebagian besar siswa menyudahi waktu istirahat lebih awal
dibandingkan pelajaran lainnya.
Mereka harus
menyiapkan tanaman obat dan peralatan yang diinstruksikan oleh profesor
Herbologi terlebih dahulu.
Di meja tempat
Ren berada sekarang, Licia ada di sampingnya, sementara Sarah dan Vain ada di
depannya. Nemu berdiri di antara mereka berempat.
"Sepertinya
pelajaran Herbologi masih menjadi sumber pusing bagi kalian yang sudah naik ke
tingkat dua ya. Tapi, aku ingin kalian tetap bersemangat belajar tahun ini.
Nah, kali ini buka buku teks halaman lima puluh enam."
Profesor
memunggungi para siswa dan mulai menulis di papan tulis.
"Herbologi,
tahun ini kita juga harus berjuang ya."
Licia berbisik di
telinga Ren di sela-sela itu. Jaraknya begitu dekat sampai-sampai siswa
laki-laki lain pasti akan merasa iri.
Tak lama kemudian
profesor berseru "Mulai", dan peracikan tanaman obat pun dimulai di
setiap meja.
Suasana pelajaran
ini relatif santai, profesor tidak keberatan jika siswa mengobrol sambil
meracik. Yang dituntut adalah hasilnya.
Ren pun mulai
meracik tanaman obat seperti siswa lainnya.
Ia bekerja sama
dengan Licia untuk memotong tanaman, menghancurkannya, lalu memasukkannya ke
dalam tungku penyulingan dan memantau kondisinya.
"Tunggu
Vain! Bukan yang itu!"
"M-maaf,
maaf!"
"Anu,
Sarah-chan juga salah, lho?"
"He!? Masa
sih!?"
Sambil
menyaksikan pemandangan teman-temannya di depan mata, Ren dan Licia
menyelesaikan tugas dengan lancar.
Begitu sampai
pada tahap di mana mereka hanya perlu menunggu proses di dalam tungku
penyulingan, keduanya menghentikan tangan mereka.
"Kh... tahun
ini pun kau masih jadi musuhku ya... Herbologi!"
"Tidak
perlu sampai mengertakkan gigi begitu."
"Tidak,
Licia! Bagiku Herbologi adalah musuh alami, jadi aku tidak boleh lengah!"
Seolah
baru saja diingatkan, asap hitam pekat mulai mengepul keluar dari tungku
penyulingan Sarah.
"Tu-tunggu!?"
Sarah buru-buru
mematikan apinya, namun ia sedikit terlambat.
Menyadari bahwa
ia harus mengulangi semuanya dari awal, ia hanya bisa menatap langit-langit
tanpa suara.
"Sesuai
dugaan Sarah-chan! Benar-benar tidak mengecewakan!"
"……Tidak
masalah. Masih ada waktu."
Sarah yang
berusaha menenangkan diri menghela napas, lalu melanjutkan praktiknya sambil
terus mengobrol.
"Haa...
sepertinya aku harus belajar mandiri lebih banyak dari biasanya. Bagaimana
dengan Nemu dan Vain? Mau belajar di perpustakaan dulu sebelum pulang?"
"Boleh juga.
Ayo lakukan itu."
"Aku juga
mau. Aku ingin melakukannya selagi masih ingat."
"Kalau
begitu sudah diputuskan ya. Licia dan Ren bagaimana? Setelah selesai, mau
mampir ke suatu tempat sebelum pulang?"
Itu adalah ajakan
yang menyenangkan, namun Ren dan Licia menunjukkan ekspresi menyesal.
"Maaf ya.
Sepulang sekolah kami ada urusan."
Urusan yang
dimaksud adalah soal Lemuria yang ada di Taman Gantung.
Tadi pagi, mereka
baru saja menerima pesan dari Uhrich.
Setelah beberapa
kali uji coba terbang, Uhrich mengumumkan bahwa perbaikan kapal sihir Lemuria
telah selesai.
Di dermaga Taman
Gantung, Uhrich bertolak pinggang dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya
menjulurkan selembar kertas ke arah Ren.
Verifikasi dari
pihak terkait juga telah selesai, dan dengan ini Lemuria secara resmi diizinkan
untuk mengudara di langit Leomel.
Penggunaan
terminal kapal sihir di setiap kota akan bergantung pada perjanjian dengan
masing-masing wilayah, namun karena itu melibatkan urusan dengan penguasa
daerah, semuanya adalah tugas Lezard.
Tentu saja,
urusan itu pun tampaknya sudah ditangani tanpa kendala.
"Maka dari
itu, Lemuria telah bangkit sepenuhnya!"
Meski tampilannya
tidak berbeda dari yang dilihat tempo hari, Lemuria tampak jauh lebih gagah
dari sebelumnya.
Di samping Ren
yang sedang memperhatikan surat izin itu dengan saksama, tampak Raguna yang
sudah datang karena dipanggil setelah menerima surat pagi tadi.
"Aku pernah
mendengarnya. Katanya ada kapal yang tidak bisa digunakan karena ulah anggota
keluarga kekaisaran yang ceroboh, jadi ini Lemuria yang legendaris itu ya.
Ternyata sehebat ini."
"Ouh ouh!
Kakak di sana punya mata yang bagus juga ya! Cantik, kan?"
"Iya,
sangat indah. Berpikir bahwa Dragon Vein Furnace yang kuberikan
digunakan di kapal ini, rasanya tidak buruk juga."
"Lho?
Jadi Dragon Vein Furnace itu milikmu?"
"Begitulah.
Itu adalah hadiah yang kuberikan pada Ren, tapi sepertinya digunakan dengan
cara yang jauh lebih bermanfaat dari bayanganku."
Di
samping Ren yang sedang membaca izin, kedua pria yang baru pertama kali bertemu
itu saling bertukar kata.
Keduanya
memiliki sisi yang sulit... bisa dibilang mereka tipe pria yang merepotkan,
namun sepertinya sesama orang yang unik memiliki kecocokan yang tidak buruk.
Setelah
Uhrich dan Raguna saling memperkenalkan diri, barulah pembicaraan berlanjut.
"Aku ingin
Anda membawa kami ke suatu tempat pada libur panjang nanti, apakah bisa? Aku
sudah mendapat izin dari Tuan Lezard."
"Tentu saja!
Sekarang aku bisa menerbangkannya sesuka hati!"
Ren melirik
sedikit ke arah Raguna, menyerahkan penjelasan padanya.
"Ren sudah
menerima Emblem bertanda. Tadinya aku yang akan menyiapkan kapal sihir,
tapi Lemuria ini jelas memiliki performa yang lebih baik, jadi kami setuju
untuk pergi dengan kapal ini jika memungkinkan."
"Yah, kapal
sihir biasa mana mungkin bisa menandingi yang satu ini."
Itu bukan rasa
percaya diri tanpa dasar.
Nada suaranya
menunjukkan keyakinan yang mutlak.
"Baiklah.
Lanjutkan."
"Tujuannya
adalah Windea. Itu adalah wilayah udara di mana aliran mana di atmosfer tidak
stabil, apa tidak masalah?"
Bagi kapal sihir
yang menggunakan kekuatan dari batu sihir sebagai tenaga penggerak, ruang yang
dipenuhi oleh mana air dan angin yang padat biasanya tidak cocok. Hal itu
karena bisa memengaruhi tungku di dalam kapal serta kendali badan kapal.
"Tidak
masalah. Tapi kalau ke Windea, sebaiknya jangan terbang terlalu tinggi."
"Karena
kepadatan mana di atmosfer ya?"
"Benar. Bagi
Lemuria sih bukan masalah besar, tapi karena ini baru saja diperbaiki, aku
ingin menerbangkannya sambil memantau kondisinya. Apa tidak apa-apa?"
Raguna melipat
tangan dan berpikir.
"Ren,
bagaimana?"
"Tidak
apa-apa. Jika sudah mendekati tebing di lapisan tengah Windea, biarkan kami
yang mengurus sisanya. Aku percaya diri dengan ketahanan fisikku."
"Baguslah.
Aku juga tidak keberatan."
"Ngomong-ngomong
Raguna-san, Anda tidak masalah kan jika harus berada di tempat yang ada
monsternya?"
"Kira-kira
apa yang akan kamu katakan, ternyata hal yang aneh."
Raguna
menjentikkan jarinya.
Beberapa rantai
melesat keluar dari distorsi ruang yang muncul di udara dan melilit tangan
kanan Ren.
Menyusul hal itu,
Ren yang berada di hadapan sihir istimewa tersebut justru mengeluarkan suara
yang tidak terdengar terkejut.
"────Kalau
dipikir-pikir, mana mungkin seorang Bag Traveler tidak bisa bertarung
ya."
"Astaga.
Jangan mengatakan hal yang sudah jelas secara formal begitu."
"Maaf,
aku hanya bertanya untuk memastikan──── hap."
Ren
mencengkeram rantai itu ringan dengan tangan kirinya, lalu memberikan tekanan
pada ujung jarinya hingga rantai itu hancur berkeping-keping. Kekuatan Mana Shroud yang semakin
terasah setelah melewati musim dingin menunjukkan taringnya di sini.
Raguna bersiul
senang dan menarik sudut bibirnya.
"Meskipun
itu sihir sederhana, rantai itu seharusnya bisa menahan pergerakan monster
kelas C sepenuhnya, lho."
"……Tolong
jangan gunakan kekuatan seperti itu tiba-tiba."
"Maaf, itu
jalan pintas untuk menunjukkan bahwa aku bisa bertarung. ……Tapi tetap saja, di antara para
pengguna pedang hebat, seorang Sword Saint memang benar-benar monster
ya."
Fakta
bahwa ikatannya dilepaskan dengan begitu mudah memberikan kejutan tersendiri
bagi Raguna.
"Seperti
yang kaulihat, aku bisa bertarung jadi tidak ada masalah. Setelah sampai di
lokasi, aku dan Ren hanya perlu berkemah saja."
"Begitulah,
Uhrich-san, bisakah Anda mengemudikan Lemuria?"
Setelah
diminta oleh Ren, Uhrich menepuk dadanya yang bidang sambil berseru
"Serahkan padaku!", namun ia justru terbatuk-batuk kecil.
Meskipun
tingkah laku Uhrich sedikit merusak suasana, setidaknya pembicaraan sudah
mencapai kesepakatan.
"……Sepertinya
kita bisa pergi ke Windea dengan selamat ya."
"Semua
berjalan lancar, syukurlah. ────Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan segera
menghubungimu setelah persiapannya selesai."
"Apa ada
yang perlu kulakukan?"
"Tidak ada,
aku akan mengurus semuanya jadi kamu cukup menunggu saja."
Sang Bag
Traveler memberitahu dengan singkat, lalu pergi dengan jubah yang berkibar
tertiup angin yang berembus di lantai atas.
Tak lama setelah
Raguna pergi, Licia yang baru saja selesai melakukan pengecekan terkait Lemuria
di Taman Gantung datang berkunjung bersama Fiona yang ikut untuk belajar.
Hanya dengan
sekali lihat, Ren tahu bahwa mereka berdua sangat menantikan apa yang akan
terjadi selanjutnya.
"Ren,
katanya sekarang pun kita sudah boleh terbang!"
"Begitulah
katanya. Bagaimana?"
Uhrich terlihat
sangat tidak sabar untuk segera menuju angkasa. Tentu saja Ren pun sudah
menantikan hari ini selama bertahun-tahun.
Kedua sayap di
bagian atas yang menyerupai peluru terbuka, bergerak perlahan seolah sedang
berenang di udara. Lemuria perlahan menampakkan dirinya dari dermaga yang
terbuka, lalu menanjak naik dengan anggun.
Penerbangannya
begitu tenang, seumpama kereta kuda yang melaju di atas jalan yang ada di
langit. Saking tenangnya, mereka bahkan bisa keluar ke geladak dan melihat
pemandangan sekitar dari pagar pembatas.
Selain mereka
bertiga, hanya ada Uhrich seorang diri yang berada di ruang kemudi.
Setelah
ketinggian stabil dan penerbangan menjadi semakin lambat,
"Wah…… sangat cantik!"
"Ren, ke
sini! Ibu Kota terlihat sangat kecil dari sini!"
Ren menghampiri
para gadis yang tengah terpana itu dan ikut melihat pemandangan sekitar.
Ia sudah beberapa
kali melihat pemandangan dari atas langit Erendil, namun selalu dari balik
jendela. Berdiri di atas geladak dan menatap ke bawah memberinya perasaan
seolah berada di dunia lain.
"Apa tidak
apa-apa hanya kita saja yang pergi?"
Karena kapal ini
baru saja diperbaiki, muncul pembicaraan untuk mencoba terbang sekali bersama
Licia dan yang lainnya.
"Ayah dan
yang lainnya bilang mereka bisa ikut lain kali saja."
"Iya…… aku juga diberitahu untuk pergi bersenang-senang
bersama Ren-kun dan yang lainnya."
Sambil berterima kasih atas kebaikan hati para orang dewasa
yang ingin mereka bertiga bersenang-senang, Ren dan yang lainnya menikmati
perjalanan udara tersebut.
Burung-burung
putih terbang di dekat mereka. Saat melewati Licia, gadis itu menahan rambutnya
yang berkibar tertiup angin dengan tangannya.
Sementara
itu, Fiona yang menahan roknya yang berkibar lebih lebar dari biasanya tertiup
angin, melangkah ke samping Ren.
"Ini
pertama kalinya aku keluar ke geladak kapal sihir yang sedang terbang. Aku
terkejut ternyata anginnya terasa sesegar ini."
"Biasanya
memang tidak bisa keluar, sih. Kalau tidak salah Uhrich-san bilang ada banyak
alat sihir untuk keamanan juga……"
"Begitu ya…… pantas saja di ketinggian seperti ini pun
tetap terasa aman."
Sambil mengobrol, keduanya merasakan angin sepoi-sepoi di
sekujur tubuh mereka sembari menatap ke arah Windea.
"Dengan kapal sihir ini, sepertinya kita bisa pergi ke
Windea dengan tenang."
"Iya.
────Sebenarnya aku juga ingin ikut pergi bersama kalian, tapi……"
"Tapi,
kamu harus memprioritaskan ujianmu, kan?"
"I-iya,
benar juga sih……"
Fiona
yang sudah naik ke tingkat empat harus mengikuti ujian di saat siswa tingkat
lain sedang libur.
Namun
pada dasarnya, karena Ren-lah yang menerima permintaan Emblem bertanda,
Fiona tidak perlu membantunya.
Licia
sendiri berencana pergi ke akademi untuk bertemu Chronoa guna memastikan
kondisi sihir sucinya. Ada juga pembicaraan tentang mendapatkan latihan pedang
darinya, berkat kebaikan hati Estelle agar Licia bisa menghabiskan libur
panjangnya dengan bermanfaat.
"Tapi…… aku ingin kamu merasa sedikit lebih kehilangan,
lho……"
Ren tidak benar-benar mendengar gumaman jujur Fiona yang
terdengar seperti embusan napas itu, namun untungnya, kalimat yang diinginkan
gadis itu justru meluncur dari mulut Ren.
"Sejujurnya,
akan sangat menenangkan jika ada Fiona-sama seperti saat di Eupeheim
dulu."
"……Ren-kun,
apakah sebenarnya kamu bisa menggunakan sihir yang tidak pernah kamu ceritakan
pada kami?"
"Aku sama
sekali tidak bisa sihir, kok. Kenapa memangnya?"
"Itu────
seperti biasa, biarkan aku merahasiakannya."
"E-eh,
rahasia lagi!?"
Sang Black
Maiden yang menghindari jawaban dengan kata-kata andalannya itu membuang
muka dari Ren dengan wajah malu-malu.
Akhir dari waktu
di angkasa yang anggun itu ditemani oleh tirai malam. Saat Lemuria mulai
menurunkan ketinggiannya,
"Kami akan
mengurus hal itu di sini."
"Iya.
Jadi Ren tidak perlu khawatir dan pergilah."
Ketiganya
bertukar rahasia di tempat yang tidak akan terdengar oleh siapa pun, menyambut
malam yang baru.



Post a Comment