NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Chapter 8

Chapter 8

Kota yang Terlelap


Akademi di hari libur, waktu menunjukkan sesaat sebelum pukul satu siang. Di lapangan latihan yang biasanya digunakan untuk mengasah sihir.

"Ugh…… kamu masih bisa menyerangnya!?"

"Justru Licia-sama yang hebat! Berapa kali Anda akan menebas sihirku!?"

"Habisnya, kamu terus-terusan menggunakan sihir……!"

"I-itu kan karena kita berdua memang melakukannya!"

Suara Licia dan Fiona bersahutan di sana, diiringi dentuman bunyi dari pedang dan sihir.

Tempat duduk penonton yang semakin rendah ke arah tengah disusun melingkar mengelilingi lapangan utama.

Ren, yang baru saja tiba di barisan depan, mendengarkan suara mereka sambil merasakan hawa dingin yang kuat dan tekanan dari benturan senjata.

"Sekarang giliranku!"

"Ugh…… aku juga tidak akan kalah!"

Licia mengayunkan pedang latihannya dengan gerakan tubuh yang ringan.

Lawan tandingnya adalah Fiona. Gadis itu sangat mahir menggunakan sihir es, sama seperti saat pertama kali Ren bertemu dengannya.

Berbeda dengan teknik bertarung menggunakan sihir es yang pernah diperlihatkan Edgar kepada Ren.

Es yang dilepaskan Fiona muncul di udara lalu tumbuh dari tanah, menciptakan angin es berkilauan yang mengingatkan pada diamond dust.

Pertarungan yang sangat indah. Tanpa sadar, Ren terpaku dan terpesona hingga lupa mempertanyakan alasan kenapa mereka berdua melakukan latihan semacam ini.

Licia yang berada di tingkat Swordmaster mampu menggunakan teknik Star Slayer seperti Ren, namun sisa-sisa sihir es yang tidak tertebas mulai mendesak posisinya. Pertarungan itu tampak seimbang, namun────

Akhirnya, semua selesai dalam sekejap. Punggung Fiona jatuh terduduk di lantai lapangan latihan.

Licia berdiri tepat di depan mata Fiona. Ia menurunkan ujung pedangnya, lalu mengulurkan tangan kepada gadis itu.

"……Aku merasa tidak lengah sedikit pun, tapi dalam sekejap aku langsung kalah."

"Aku juga mengayunkan pedangku sampai batas maksimal, tahu."

Licia membantu Fiona berdiri, lalu mereka berdua menepuk-nepuk kotoran yang menempel di seragam masing-masing.

Setelah mengatur napas, keduanya berjalan menghampiri Ren yang sedari tadi menonton dengan tenang.

"Maaf membuatmu menunggu, Ren."

"Maafkan saya. Kami membuat Anda menunggu lama."

Aksi pertarungan mereka berdua terbayang jelas di balik kelopak mata Ren dan sulit dilupakan.

"Eh, eh, menurutmu bagaimana pertarungan tadi, Ren?"

"Aku terkejut karena ternyata jauh lebih intens dari bayanganku. Karena bilangnya cuma latihan, kupikir akan lebih tenang."

"Ahaha…… sepertinya aku dan Licia-sama jadi agak terlalu bersemangat."

Ren teringat pernah melihat Fiona berlatih pagi-pagi sekali di sini dulu. Kalau tidak salah, itu saat pagi hari ketika ia mengajak Fiona menjadi panitia pelaksana Festival Besar Raja Singa.

Sisi pekerja keras gadis itu tidak berubah sedikit pun sejak dulu, dan ketajaman sihirnya semakin meningkat dibandingkan saat ia memperlihatkannya di Eupeheim musim dingin lalu.

"Lalu, kenapa kalian berdua berlatih bersama hari ini?"

Inilah latihan yang diceritakan Fiona beberapa hari lalu. Saat pertama mendengar, Ren hanya berpikir "oh, mereka latihan ya", tapi sekarang ia jadi penasaran bagaimana awal mula mereka bisa berlatih bersama.

"Kan Ren sendiri yang mengatakannya dulu. Benar, kan?"

"Iya. Mengingat apa yang akan terjadi ke depannya, mungkin tidak ada salahnya mencoba berbagai jenis latihan, begitu katanya."

"……Sepertinya aku memang pernah bilang begitu, sih."

Ren tidak mengatakannya dengan maksud khusus, tapi ia ingat pernah membicarakannya di depan mereka berdua sesaat setelah kembali dari Windea.

"Jadi kalian latihan hari ini karena perkataanku waktu itu……"

"……"

"……"

"K-kenapa kalian berdua mendadak diam!? Apa aku salah bicara!?"

Entah kenapa mereka memalingkan wajah, dan meski ditanya alasannya, keduanya tidak mau menjawab.

……Bagi Ren, mereka hanya terlihat seperti dua orang teman yang membuat janji untuk berlatih bersama.

Namun kenyataannya, Ren tidak tahu bahwa ada motivasi lain di balik itu semua.

Kalau Ren datang menonton, aku tidak boleh memperlihatkan kekalahanku.

Aku pun merasakan hal yang sama.

Sambil mengakui kemampuan masing-masing, ada bagian dalam hati mereka yang tidak ingin mengalah karena ingin menunjukkan sisi terbaik di depan Ren. Interaksi rahasia itulah yang menyulut api semangat mereka berdua.

"T-tidak ada ruginya melakukan latihan, kan!"

"I-ini menjadi latihan bagiku untuk melawan pengguna pedang, dan bagi Licia-sama untuk melawan pengguna sihir!"

Setelah mereka berdua menutup pembicaraan dengan alasan tersebut, Licia bertanya pada Ren.

"Kami akan lanjut lagi setelah istirahat sebentar, Ren mau ikut?"

"Aku tidak apa-apa. Melihat kalian saja sudah memberiku banyak pelajaran."

"……Begitu?"

"Kalau begitu…… aku akan menerima tawaranmu."

Mereka berdua memulai kembali latihan dan menghadapi duel kedua. Tebasan pedang yang elegan dan sihir es yang fantastis kembali menyatu dalam pertempuran.

Beberapa saat kemudian, Ren pamit sebentar dari lapangan latihan menuju kantin sekolah.

Meskipun hari libur, kantin tetap buka bagi para staf dan siswa yang melakukan kegiatan klub.

Di sana ia memilih beberapa makanan ringan, lalu memintanya dibungkus dalam kantong kertas sebelum kembali ke lapangan latihan.

Tepat saat itu, mereka berdua baru saja menyelesaikan latihan terakhir dan sedang mengatur napas.

Di luar hari mulai gelap, waktu yang pas untuk menyantap makanan ringan.

"Ini, silakan dinikmati."

Harusnya mereka bisa makan sambil duduk di kursi lapangan latihan, namun kedua gadis yang menaruh hati padanya itu merasa sungkan.

Saat menerima minuman dingin dari tangan Ren, mereka mengucapkan terima kasih, namun sepertinya mereka merasa tidak nyaman karena baru saja selesai berlatih.

"Kami harus membersihkan keringat dulu!"

"I-iya, benar!"

Sambil berkata demikian, mereka bergegas menuju ruang pancuran yang menyatu dengan lapangan latihan.

Ren yang ditinggal sendirian duduk di kursi menunggu Licia dan yang lainnya, sembari meminum teh perlahan dan mengenang duel mereka tadi.

◇◇◇

Itu adalah ruang pancuran dengan dinding ubin putih. Di dalamnya masih tersisa sedikit uap panas.

Dua gadis yang baru selesai mandi itu duduk berdampingan di kursi depan cermin besar.

"……"

"……"

Licia dan Fiona sama-sama bangga dengan rambut panjang mereka, namun mengeringkannya adalah perjuangan tersendiri.

Dulu hal serupa pernah terjadi. Saat itu Licia hanya menyisir rambut Fiona, tapi hari ini setelah mengeringkan rambut dengan alat sihir, mereka bergantian menyisir rambut masing-masing.

Keheningan menyelimuti selama beberapa menit. Tak lama kemudian, karena merasa tidak nyaman dengan kesunyian, mereka mulai mengobrol sambil merapikan diri.

"Apa Licia-sama juga berlatih dengan Estelle-sama?"

"Iya. Terutama sejak musim dingin lalu, beliau jadi lebih sering mengawasiku. Kalau Fiona-sama dengan Chronoa-sama, kan?"

Latihan seperti hari ini adalah yang pertama bagi mereka berdua, namun rasanya tidak buruk. Mereka jadi ingin mengadakan kesempatan seperti ini lagi. Namun, di sisi lain, ada juga rasa persaingan.

"Lain kali aku yang akan menang," ucap Fiona yang sempat menderita beberapa kali kekalahan.

"Tidak. Lain kali pun aku yang akan menang," balas Licia tegas.

Sesaat setelah menunjukkan sikap keras kepala masing-masing, Fiona mengenang kembali latihan tadi.

"Tapi, karena ini pertama kalinya aku melakukan latihan seperti tadi, tanpa sadar aku jadi terlalu bersemangat."

Mendengar suara malu-malu yang manis itu, Licia setuju dan berkata, "Aku juga."

Duel dengan Fiona memberikan ketegangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, namun ada hal lain yang mengganjal di hati mereka.

"……Apa alasanmu bersemangat cuma karena ini duel yang belum pernah dilakukan sebelumnya?" tanya Licia pelan.

Seketika itu juga, pandangan mata mereka yang tadinya bertemu melalui cermin langsung terputus.

Fiona memalingkan wajahnya agar Licia tidak melihat ekspresinya. Karena jelas-jelas ada yang disembunyikan, Licia mendesaknya.

"Ah! Itu karena ada Ren juga, kan!?"

"T-tidak tahu! Apa maksud Anda!?"

"Hei! Jangan bicara sambil memalingkan muka begitu!"

Mungkin karena suasana yang santai atau sisa-sisa semangat dari duel tadi, Licia berbicara dengan nada yang biasa ia gunakan saat bersama Ren.

Kalau diingat-ingat, dulu mereka juga pernah bersikap santai seperti ini saat berbagi perasaan suka terhadap Ren.

"Maaf! Tiba-tiba aku……"

Namun Licia segera menyadarinya dan meminta maaf dengan ekspresi menyesal. Mendengar permintaan maaf itu, Fiona bergegas menatap Licia kembali.

"Jangan dipikirkan! Aku suka kalau Licia-sama bicara padaku seperti tadi!"

"……Haa. Kamu selalu saja bicara begitu."

Benar-benar, Licia merasa gadis ini sangat "curang". Imut, cantik, dan murni…… Hatinya yang sangat tulus dan penampilannya yang bersahaja bahkan membuat Licia yang sesama perempuan pun terpesona.

"Tapi, bagaimana kalau aku memang bicara seperti ini setiap hari?" Licia melontarkan candaan yang hanya bisa dikatakan dalam hubungan mereka saat ini.

Meskipun itu hanya candaan, Fiona tidak menanggapinya demikian.

"Begitu ya……" Gadis itu meletakkan jari telunjuk di bibirnya, berpikir selama beberapa detik sebelum memberikan jawaban yang justru membuat Licia bingung.

"Kalau begitu, mungkin nanti aku akan merasa aneh jika Anda masih memanggilku dengan imbuhan '-sama'."

"Apa maksudnya?"

"Misalnya, mungkin lebih baik memanggilku dengan '-san', atau langsung panggil namaku saja."

"……Itu sama sekali bukan jawaban, tahu."

"Eh!? Bukan ya!?"

Licia dan Fiona. Hubungan mereka berdua yang pernah dibicarakan di asrama putri beberapa tahun lalu, mungkin sampai sekarang pun masih terasa rumit sekaligus sederhana.

Bahkan hingga kini, mereka berdua tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata hubungan seperti apa itu sebenarnya.

────Di sisi lain, Water Magic Sword kini tergenggam di tangan Ren yang masih berada di lapangan latihan.

Belum terlalu lama sejak ia kembali dari Windea tempo hari. Tentu saja, setelah kembali ia sudah memanggilnya beberapa kali untuk memastikan perubahannya.

 Seperti yang ia ceritakan pada dua orang di ruang pancuran tadi, akhirnya masa depan mulai terlihat cerah.

……Sedikit demi sedikit, ya.

Hanya ayunan ringan. Intensitasnya sebatas pemanasan. Namun entah karena kesadaran Ren atau pengaruh dari Cincin Dewi Air, jejak pedangnya kini menyisakan gelombang biru tipis.

Hanya dengan berkonsentrasi, ia bisa merasakan bahwa ia bisa menggunakan sihir air yang berbeda dari sebelumnya.

Ren pun tanpa sadar tenggelam dalam gerakan mengayunkan Water Magic Sword tersebut.

Hingga akhirnya, ia memasang kuda-kuda sambil mengendurkan kekuatan pada pedangnya.

"Sepertinya mereka sebentar lagi kembali." Ia memikirkan dua orang yang tadi pergi ke ruang pancuran.

Tiba-tiba, suara Licia terdengar dari dekatnya.

"Apa maksudmu kami?"

"Eh!? Se-sejak kapan kalian kembali!?"

"Sudah dari tadi. ……Bukannya aku bermaksud mengejutkanmu, lho?"

"Karena Ren-kun terlihat sangat fokus dengan pedang itu, jadi kami pikir sebaiknya jangan mengganggu……."

Ren tersenyum kecut karena merasa justru telah membuat mereka sungkan, lalu ia melenyapkan Water Magic Sword-nya. Setelah itu, ia mengobrol dengan mereka berdua sambil menyantap makanan ringan.

Sudah berapa kali mereka mengulang momen berjalan bersama sepulang sekolah ke Erendil seperti hari ini?

Terkadang, penduduk kota akan menyapa mereka berdua yang berjalan di jalan utama yang diwarnai sinar senja.

Mulai dari orang dewasa pemilik toko di sepanjang jalan, hingga ksatria yang sedang berpatroli…… Hari itu pun, banyak orang yang menyaksikan sosok mereka berjalan berdua.

"Apa Ayah dan yang lainnya masih di Ibu Kota, ya?"

"Kalau tidak salah, mereka dipanggil lagi karena urusan Kultus Dewa Iblis, kan?"

"Iya. Tadi pagi mereka sudah pergi ke Ibu Kota lebih dulu daripada kita."

Sambil berkata demikian, Licia menatap Ren.

"Soal Kultus Dewa Iblis itu, apa kita cuma bisa melakukan hal seperti mengumpulkan informasi saja ya?"

"……Kurasa begitu."

"Sudah kuduga…… mereka bersembunyi sampai insiden Pegunungan Balder, jadi pasti tidak akan mudah."

Meskipun berkata demikian, bukan berarti mereka menyelidiki tanpa petunjuk sama sekali.

Ren sendiri menyelidiki tempat-tempat di mana ia pernah bertemu dengan Kultus Dewa Iblis dalam cerita Seven Heroes' Legend.

Terkadang ia meminta bantuan Radius dan yang lainnya untuk mengirimkan pasukan, atau meminta disediakan orang untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam.

Berkat usaha itu, beberapa kekacauan yang seharusnya terjadi dalam Seven Heroes' Legend berhasil dicegah sebelum terjadi.

"Kita harus terus berusaha ya."

"Benar. Aku juga harus pergi menyelidiki lagi dalam waktu dekat."

"Bagaimana ya. Bagaimana kalau kali ini aku juga ikut pergi?"

"……Wajah itu, kamu mengatakannya padahal tahu pasti akan kutolak, kan?"

Licia menoleh ke arah wajah samping Ren sambil tersenyum, dan Ren pun membalas senyuman itu. Punggung tangan mereka berkali-kali bersentuhan di tengah keramaian jalan yang lebih padat dari biasanya.

Keduanya tidak melakukannya dengan sengaja karena ini murni akibat jarak fisik, namun hal itu justru terlihat lebih natural daripada sebelumnya.

Sesekali Licia tersenyum malu-malu ke arah Ren.

……Dengan menghabiskan waktu seperti ini, Ren jadi tidak perlu memikirkan tragedi dalam Seven Heroes' Legend.

(Hanya dengan melihatnya tersenyum di sampingku seperti ini, aku merasa sangat tenang.)

Hari-hari yang bisa dilalui tanpa bayang-bayang tragedi itu terasa sangat membahagiakan dan berharga baginya.

◇◇◇

Hari itu, Ren berada dalam mimpi.

Sebuah pemandangan yang terasa seperti kelanjutan dari mimpi yang ia lihat dalam perjalanan pulang setelah menerima lambang berukir Raguna tempo hari. Mungkin karena ini mimpi, dunianya tampak samar dan pudar.

Akhirnya, aku menemukanmu.

Ren Ashton, di suatu kota, pada malam hari. Ia menyapa seorang gadis yang berjalan di atas jembatan besar yang melintasi kota.

Kamu adalah……

Gadis yang berbalik itu sangat cantik. Rambut peraknya yang bercampur dengan warna hitam melambai lembut saat ia berbalik. Gadis itu menatap Ren, lalu tertawa riang.

Ara.

Meskipun ini pertemuan pertama mereka, gadis itu seolah-olah sudah mengetahui segalanya.

Selamat malam, Ren Ashton.

Ia menyambut Ren Ashton.

Hebat juga kamu bisa menemukanku.

Aku tidak mau bicara hal yang tidak perlu. Jawab saja apa yang kutanyakan.

Aduh, dingin sekali.

Jarak antara si gadis dan Ren Ashton sekitar sepuluh meil. Namun, karena dalam pertarungan jarak itu bisa dipangkas dalam sekejap, jarak tersebut seolah tidak berarti.

Apa tidak apa-apa? Kalau buronan sepertimu berjalan terang-terangan begini, kamu bisa tertangkap lho.

Mungkin saja, tapi ada yang ingin kubicarakan denganmu.

Hmm…… begitu ya.

Gadis itu menyahut dengan nada riang seolah memikirkan sesuatu.

Tenang saja. Aku akan membunuh siapa saja yang mengganggu pembicaraan kita.

Ren Ashton berkata bahwa ia tidak menginginkan hal itu, namun si gadis hanya tertawa.

Aku kan sedang bicara dengan keturunan Cecil. Tentu saja aku tidak mau diganggu.

……

Lalu, aku lupa. Aku harus memperkenalkan diri dulu.

Tidak perlu. Aku sudah tahu tentangmu.

Jangan bicara kejam begitu dong. Padahal aku sendiri yang ingin melakukannya, tidak ada salahnya kan kalau kamu mendengarkan dengan baik?

Bagaikan seorang putri bangsawan. Di tengah jembatan malam yang sepi tanpa ada orang lain selain Ren Ashton, gadis itu melakukan gerakan hormat curtsey. Dengan gerakan yang anggun, ia melanjutkan.

Namaku adalah────

Dunia yang dilihat Ren mulai kabur dengan hebat. Suara si gadis pun berubah menjadi sekadar kebisingan sebelum Ren sempat mendengarnya, lalu semuanya menjauh.

 Ren yang hanya menjadi pengamat dalam mimpi itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, namun ia berusaha keras mengulurkan tangan untuk menahan dunia itu agar tidak hilang.

Namun────

Akhirnya, ia merasakan kejutan seolah bagian belakang kepalanya dipukul dengan keras, lalu ia terbangun.

"Ugh……!?"

Saat terbangun, tubuhnya bersimbah keringat dingin.

Sambil merasa tidak nyaman dengan kemeja yang basah kuyup oleh keringat, Ren mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menatap jam di dinding.

"……Masih jam lima, ya."

Setelah melihat jam, ia melepas kemejanya yang menempel di kulit lalu turun dari tempat tidur.

Ia merasakan berat pada tubuhnya, yang jelas-jelas bukan karena baru bangun tidur.

"……Haa."

Ia berdiri di depan lukisan yang menggambarkan Cecil Ashton dan Sang Putri Wabah, lalu menghela napas panjang.

Kemarin ia baru saja pulang dengan bahagia bersama Licia, sehingga perbedaan drastis dengan mimpinya membuat hatinya tidak tenang.

"……Benar-benar penuh dengan hal yang tidak kumengerti ya, Leluhur."

Siapa sebenarnya gadis itu?

Kenapa Ren Ashton pergi menemuinya?

Ia merasa telah diperlihatkan mimpi yang sangat penuh teka-teki.

Karena ingin mengubah suasana hatinya meski hanya sedikit, Ren menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan menyiram kepalanya dengan air pancuran yang lebih panas dari biasanya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu bergumam.

"……Apa dia orang yang dianggap berbahaya oleh Raguna-san saat aku melihatnya sebelum musim semi dulu ya?"

Sosok yang disebut 'wanita itu' oleh Ren Ashton dalam pemandangan yang diperlihatkan waktu itu terlintas di benaknya. Kata-katanya adalah cara untuk merapikan pikirannya sendiri.

"Kenapa orang itu tahu tentang Cecil Ashton…… dan lagi, kenapa dia merasa perlu menemuinya……"

Ia baru keluar dari kamar setelah menenangkan diri sekitar pukul enam pagi.

Dalam perjalanan menuju kantin, Licia yang juga sudah merapikan penampilannya muncul dan menghampiri Ren dengan langkah ringan.

Mungkin karena baru saja melihat mimpi seperti itu, Ren melihat Licia dengan perasaan bahagia────

"Licia."

"Ren, selat────"

Ren meraih tangan Licia, lalu menghela napas lega. Syukurlah. Licia tidak apa-apa.

Meskipun merasa lega, Ren tidak melepaskan tangan gadis itu, melainkan menggenggamnya dengan kedua tangan seolah ingin merasakan suhu tubuhnya.

Tak lama kemudian, panas tubuh Ren mulai merambat ke arahnya.

"────amat pagi……?"

Licia yang terkejut dengan tindakan yang terlalu tiba-tiba itu akhirnya berhasil mengeluarkan suara meskipun tangannya masih digenggam.

Ah, benar, tangan mereka saling bertautan.

Ren merasa lega karena bisa merasakan suhu tubuh Licia, sementara Licia merasa setengah bermimpi, bertanya-tanya apakah boleh ia merasa sebahagia ini sejak pagi hari.

"……Padahal aku sudah benar-benar bangun."

Ia mengulurkan tangannya yang bebas lalu mencubit pipinya sendiri, memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.

Jika ia kembali tidur dengan perasaan seperti ini, pasti akan terasa sangat menyenangkan.

Yuno yang kebetulan lewat di dekat sana terkejut melihat tingkah mereka berdua, namun ia segera menyembunyikan diri sambil berkata "Aduh, aduh!" dengan nada riang.

"Hei! Ren!"

Sudah beberapa jam berlalu sejak kejadian itu, namun karena Ren yang berjalan di sampingnya tidak kunjung menjawab, Licia memanggilnya berkali-kali.

Kejadian itu berlangsung saat Ren dan Licia yang mengenakan seragam sedang berjalan di jalan utama Erendil menuju sekolah di pagi hari.

"……Iya."

"Ih, lama sekali menjawabnya."

Ren tersenyum canggung karena merasa tidak nyaman.

"Kamu dengar ceritaku tidak?"

"Dengar, kok."

"Kalau begitu beri tahu aku dong. Kenapa tiba-tiba tadi pagi kamu menggenggam tanganku?"

Licia berputar ke depan Ren yang sedari tadi berusaha menghindari kontak mata.

Ren kembali memalingkan wajahnya ke arah lain, dan kali ini Licia ikut menggerakkan tubuhnya ke arah tersebut.

Orang-orang di sekitar pun tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang seolah sedang berputar-putar.

"Asal kamu tahu ya, kalau sudah naik kereta nanti, kamu tidak akan bisa kabur lagi, lho."

Ren akhirnya menyerah dan meminta maaf, "Maaf karena tadi pagi tiba-tiba menyentuhmu."

"Tidak perlu minta maaf. Bukannya aku tidak suka tanganku digenggam atau apa…… tidak! Bukan itu yang mau kubicarakan! Aku cuma mau tahu alasan kenapa kamu tiba-tiba menggenggam tanganku!"

"Soal itu, seperti yang kukatakan tadi pagi, sepertinya aku masih mengantuk."

"……Kalau mengantuk, apa kamu akan melakukan hal seperti itu kepada siapa saja?"

Ren tidak pernah bersama wanita lain saat baru bangun tidur, namun Licia tetap ingin menanyakannya.

"Belum pernah kulakukan sebelumnya, dan mana mungkin aku melakukan hal semacam itu."

"Be-begitu ya…… kalau begitu syukurlah……"

Di tangan Licia masih tersisa sensasi dari kejadian tadi pagi. Karena ia menyerah untuk memancing kejujuran dari sikap Ren yang tidak jelas, ia jadi bertanya-tanya sendiri apa yang ia pikirkan pagi-pagi begini sambil berjalan menuju sekolah.

Namun, ia tidak bisa berhenti memikirkannya.

Misalnya, jika ia terus menautkan tangannya seperti tadi pagi dan berjalan di jalan yang sudah biasa ia lalui ini, perasaan seperti apa yang akan muncul?

"~~!?"

Namun, karena pipinya mendadak terasa panas, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

"Anu, Licia?"

"A-apa!?"

"Tidak, soalnya tiba-tiba kamu melihat ke arah lain."

"────Jangan dipikirkan. Itu cuma masalah perasaan saja."

Taman Gantung adalah stasiun pusat yang menghubungkan transportasi udara dan darat.

Di lantai dasar, terdapat peron untuk kereta sihir yang tidak hanya menuju Ibu Kota, tapi juga ke daerah lain.

Salah satunya adalah peron tempat kedatangan kereta Gardinite yang berangkat dari Ibu Kota menuju Eupeheim.

Ren dan Licia menuju peron tempat berhentinya kereta sihir yang akan menuju Ibu Kota.

Di jam seperti ini, tempat ini jauh lebih ramai oleh orang-orang yang akan menuju Ibu Kota dibandingkan peron lainnya.

Keduanya berdiri berdampingan di salah satu sudut, menunggu kereta sihir yang dijadwalkan tiba beberapa menit lagi.

"……Hoam."

Saat Licia menatap wajah Ren yang menguap, pemuda itu memang terlihat masih mengantuk.

"Tadi malam kurang tidur?"

"Waktu tidurku sebenarnya normal seperti biasa, tapi aku bermimpi buruk."

"Mimpi yang menakutkan?"

"Bukannya menakutkan, tapi lebih ke mimpi yang aneh."

Meskipun jawabannya tidak jelas, namun mimpi memang biasanya seperti itu.

Sebagian besar mimpi akan terlupakan begitu kita bangun tidur, jadi jawaban Ren barusan pun wajar saja.

"Jangan-jangan, alasan kamu bersikap seperti tadi pagi itu karena mimpi itu ya?"

"…………"

"Ah, jangan memalingkan muka lagi, ya."

Licia mengulurkan jari telunjuknya dan menekannya pelan di sekitar sikut Ren. Di sana, muncul secercah cahaya kecil.

"Meskipun bermimpi buruk, bukankah menggunakan sihir suci ini terlalu berlebihan?"

"Tidak apa-apa. Bukankah aku bebas menggunakan kekuatanku sendiri? Bagiku, ini adalah cara penggunaan yang paling tepat."

Wajah samping Licia yang diterangi sinar matahari pagi itu terlihat lebih berkilauan daripada apa pun.

◇◇◇

Benua Elfen, di suatu negara.

Seorang pria tampak duduk di dalam kereta kuda sewaan yang sedang melintasi jalan raya.

Penumpang di sana hanya ada dua orang. Pria itu sendiri dan seorang wanita berambut warna violet. Keduanya sama-sama mengenakan kacamata.

Berpadu dengan pemandangan pedesaan yang damai dari balik jendela, mereka terlihat seperti bangsawan yang sedang dalam perjalanan menikmati masa liburan ke desa.

"────Sudah bertemu dengan beliau?"

Wanita itu tiba-tiba menyapa si pria dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Di tangannya tergenggam sebuah buku, persis seperti buku yang pernah ia jatuhkan di sebuah kota netral waktu itu.

"Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kota. Seperti biasa, beliau tetap tidak mau memberikan jawaban bersedia untuk bergerak bersama kita."

"Sudah kuduga. Pasti dia cuma datang untuk mencari tahu apa yang sedang kita lakukan."

Setelah mengucapkan hal itu, si wanita memanggil kusir kereta. Padahal itu adalah jalan raya yang hampir tidak ada apa-apanya, namun ia berniat menghentikan kereta kuda tersebut.

"Cukup sampai di sini saja."

"Anda serius? Biarpun ini jalan raya, jarak ke pemukiman warga masih lumayan jauh, lho."

"Melihat pemandangan di luar membuatku ingin berjalan kaki. Jangan khawatir."

"Yah…… kalau Anda memaksa."

Melihat kereta telah berhenti, si wanita membuka pintu dengan tangannya sendiri lalu turun.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"Ya. Semoga Yang Mulia juga selalu berada dalam perlindungan Kaisar."

Pria itu tersenyum ramah dan lembut sembari melepas kepergian wanita tersebut.

Sambil merasakan hembusan angin musim semi yang masuk melalui jendela, ia mengangkat satu lutut dan menyandarkan lengannya di sana.

Saat membalik halaman buku yang sedang ia baca dalam posisi itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis karena belaian angin yang nyaman.

Setelah beberapa jam berlalu,

"Tuan!"

Kusir kereta memanggil dari luar.

"Sebentar lagi kita sampai di kota ────!"

"Terima kasih. Saya akan turun di sana."

"Siap! Tunggu sebentar lagi, ya!"

Kereta kuda itu berhenti tepat di depan kota tujuan si pria, setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit berikutnya.

Begitu kusir menampakkan wajah dari jendela depan kereta, si pria segera menyerahkan beberapa keping uang.

"Terima kasih banyak. Silakan gunakan jasa kami lagi."

"Sama-sama. Terima kasih atas perjalanannya yang menyenangkan."

Pria itu melangkah keluar, menyambut sinar matahari yang hangat dan angin sepoi-sepoi, lalu mulai menyusuri jalan menuju kota.

Skala kota ini sangat besar, kira-kira dua kali lipat lebih luas dari Clausel. Meski begitu, karena ini bukan kota di bawah kekuasaan Leomel, sulit untuk membuat perbandingan sederhana begitu saja.

Di gerbang masuk kota, berdiri sebuah pintu gerbang raksasa berwarna abu-abu.

Itu adalah tempat untuk memeriksa identitas para pengunjung, mulai dari petualang yang berkeliling negeri hingga wisatawan. Si pria menatap gerbang itu, lalu terus melangkah dengan ritme kaki yang santai.

Ia mengenakan celana panjang abu-abu dengan kemeja rapi yang dibalut rompi gilet. Di satu tangan ia memegang jas, sementara tangan lainnya menenteng tas kulit yang biasa digunakan untuk bepergian.

Seorang pengelana mendekatinya secara perlahan, mengambil alih tas kulit yang ia bawa, lalu berbisik.

"Orfide-sama."

"Ya. Ada apa?"

"Ada hal mendesak yang ingin saya bicarakan mengenai Cincin Dewi Air."

Sangat tenang.

Mereka berdua berjalan berdampingan layaknya sesama pengelana yang sedang mengobrol santai.

Pria yang dipanggil Orfide itu menyentuh batang kacamatanya untuk membetulkan posisinya.

"────Lanjutkan."

"Baik."

Si pengelana mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Orfide.

Orfide membuka kertas itu sambil terus berjalan, lalu sekali lagi merapikan posisi kacamatanya. Ia melakukannya lagi karena hal itu sudah menjadi semacam kebiasaan baginya.

Ia memasang ekspresi kecewa, lalu mendengus kesal. "Merepotkan saja."

Pengelana itu────bukan, penganut Kultus Dewa Iblis tersebut seketika jatuh ke dalam kondisi ketegangan ekstrem hanya karena mendengar suara itu, namun ia tetap berusaha menjaga ketenangan lahiriahnya sambil terus berjalan.

"Kami sudah mencoba sampai sesaat sebelum orang-orang Leomel mendekat, namun dengan cara apa pun, cincin itu tidak bisa dikeluarkan."

"Menyedihkan. Mendapatkan satu cincin saja tidak bisa."

"Mohon maaf sebesar-besarnya. Saya berpikir untuk mencoba kembali sekali lagi."

Namun pria itu segera menolaknya.

"Sudah terlalu banyak waktu terbuang sejak Windea bereaksi terhadap kekuatan Pahlawan. Topografi di sana pasti sudah berubah sekarang."

"Tetapi────"

"Sudah mustahil bagi kalian untuk menuju tempat di mana cincin itu disegel. Pintu masuk gua itu pasti sudah ditutup."

Alasan kenapa Ren ingin mendapatkan cincin itu sebelum Vain dan yang lainnya mencapai kuil, serta alasan kenapa Kultus Dewa Iblis tidak menampakkan diri lagi di Windea setelah itu, semuanya terucap dari mulut pria ini.

"Saya sama sekali tidak bermaksud merepotkan Orfide-sama."

"Ya. Kalian sudah pergi ke Windea mengikuti instruksiku dan mencari cincin itu. Aku tidak meragukan kesetiaan kalian."

"……Siap."

Tanpa memedulikan si penganut kultus yang mengangguk berulang kali, pria itu melanjutkan dengan nada datar.

"Aku memuji kerja keras kalian dan tidak berniat merendahkannya. Namun, kesetiaan saja tidaklah cukup."

Tatapan mata yang tajam dan dingin terpancar dari balik kacamatanya.

"Kegagalan tidak diampuni dalam rencana ini. Kamu tidak melupakan hal itu, kan?"

"────Siap!"

Mendengar suara penganut Kultus Dewa Iblis itu, Orfide menyunggingkan senyum yang tampak ramah.

"Apa kamu ingat kalau aku pernah menetap di Leomel?"

"Tentu saja, saya ingat."

"Saat itu, aku bertemu dengan beliau. Sepertinya beliau masih sama seperti dulu, belum berminat untuk bergerak bersama kita, tapi suatu saat mungkin hatinya akan berubah. Karena itulah, kegagalan dalam rencana ini benar-benar tidak bisa dimaafkan."

Beliau. Dia.

Dari dua kata ini, penganut Kultus Dewa Iblis yang ada di sini segera memahami siapa yang dimaksud.

Jika penganut kultus itu hanyalah prajurit rendahan, mungkin ia tidak akan tahu siapa yang dimaksud, tapi bagi mereka yang dekat dengan Orfide, mustahil bagi mereka untuk tidak tahu.

"Lanjutkan rencananya. Pasti sudah ada persiapan untuk saat-saat seperti ini, kan?"

"Demi Raja Iblis yang agung, akan kami pertaruhkan jiwa dan raga kami."

"Bagus. Aku pun akan segera menuju Leomel sekali lagi setelah urusanku di sini selesai."

Penganut Kultus Dewa Iblis itu menghilang seolah-olah ia tidak pernah ada di sana sejak awal.

Orfide sendirian menghadapi pemeriksaan identitas yang sedang berlangsung di depan gerbang.

Saat gilirannya tiba, ksatria yang menjaga kota menatap pria itu.

"Tunjukkan tanda pengenalmu."

"Mohon maaf, saya tidak membawa benda semacam itu."

"Kalau begitu pergi sana. Kamu tidak diizinkan masuk ke kota ini."

Meski dihentikan oleh ksatria penjaga, Orfide dengan tenang terus berjalan menuju gerbang.

Bagi para ksatria, siapa pun yang mencoba masuk paksa ke kota adalah penjahat. Meskipun penampilannya rapi dan sekilas tampak seperti bangsawan, hal itu tidak mengubah apa pun. Paling-paling, mereka hanya akan menahan diri dari tindakan kekerasan yang berlebihan.

Salah satu ksatria mencabut pedangnya dan berdiri menghalangi jalan Orfide.

Orfide menjentikkan jarinya dan berujar dingin, "Maaf ya."

"────Eh?"

Gumpalan kekuatan sihir hitam muncul dari dalam tanah, berubah bentuk menyerupai tangan, dan melilit kaki si ksatria.

Ksatria itu seketika tertelan oleh kegelapan pekat dan menghilang begitu saja.

Melihat kejadian yang luar biasa itu, para ksatria lain, pelancong, maupun penduduk setempat tertegun tak percaya. Namun tak lama kemudian, jeritan pecah di berbagai sudut, dan para ksatria serentak menyiagakan senjata mereka.

"Panggil bantuan! Cepat!"

Namun, sebelum mereka sempat memanggil bantuan, Orfide justru tampak gembira melihat orang-orang yang datang berlari ke arahnya.

"Luar biasa. Padahal aku baru saja mau mencari mereka."

Yang mendekat bukanlah ksatria kota ini.

Paladin. Orang-orang terkuat yang menjadi kebanggaan Agama Elfen.

Mereka adalah kekuatan tempur yang mempelajari teknik pedang khusus di Istana Perak dan telah mengasah sihir mereka hingga ke puncaknya. Kekuatan individu mereka melampaui ksatria pengawal di negara besar mana pun.

Semuanya adalah ksatria yang melayani Dewa Utama Elfen, mengenakan jubah putih bersih.

Mereka tidak lain adalah ksatria yang mengawal paduan suara saat mengunjungi Roses Kaitas selama Festival Besar Raja Singa.

Orfide tetap melangkah maju tanpa memedulikan mereka yang mendekat.

Tiba-tiba, sebuah guncangan instan yang bukan berasal dari angin alami terjadi.

"Saya sangat ingin bertemu dengan Anda sekalian, para Paladin."

Bayangan mendekat dari arah depan, belakang, kiri, kanan, bahkan dari atas Orfide.

Sihir suci dilepaskan, senjata suci yang ditempa di Istana Perak diayunkan.

Berbagai serangan yang dipenuhi kekuatan khusus untuk membasmi pengikut Raja Iblis menusuk tubuh Orfide yang sedang berjalan dengan anggun seorang diri.

"Tanpa sapaan sedikit pun, sungguh menyedihkan."

"Tidak perlu."

"Tidak ada kata yang pantas diucapkan kepada makhluk najis sepertimu."

Tombak cahaya, bilah pedang yang indah, hingga mata panah yang telah direndam dalam air suci selama berhari-hari.

Serangan-serangan itu menusuk leher, bahu, perut, kaki, hingga tepat di antara kedua alis Orfide. Namun, serangan para Paladin tidak berhenti.

Anehnya, sebanyak apa pun tubuh Orfide terluka, tidak setetes pun darah yang mengalir.

Hal itu membuat para Paladin merasa merinding.

Serangan para Paladin terus meningkat intensitasnya hingga gerbang kota pun mulai retak karena tekanannya. Penduduk yang berada di lokasi segera mengungsi mengikuti instruksi ksatria kota.

Lantai batu pun amblas akibat kekuatan berbagai sihir dan tekanan senjata, dan cahaya jatuh ke dalam lubang tersebut. Gumpalan cahaya yang lebih terang dari sinar matahari musim panas itu menjadi sangkar yang mengurung Orfide.

Sacred Crest Formula.

Itu adalah teknik yang pernah digunakan oleh Leonidas, mantan uskup Agama Elfen yang menyerang Menara Jam Raksasa di Erendil. Yang digunakan saat ini adalah salah satu jenis dari teknik tersebut.

Teknik milik para Paladin ini memiliki daya hancur dan kekuatan penyucian yang jauh melampaui milik Leonidas.

Kekuatan luar biasa seperti itu dilepaskan oleh puluhan orang sekaligus ke arah Orfide.

Cahaya itu tidak kunjung padam.

Kekuatan penyucian yang telah diasah hingga puncak berusaha menunjukkan keagungan Tuhan.

Di dalam lubang tempat cahaya itu jatuh, Orfide────.

"Luar biasa. Aku terkejut kalian bisa membunuhku sampai dua kali."

Sambil seluruh tubuhnya diselimuti cahaya, ia bersuara tanpa sedikit pun nada kesakitan.

Salah satu Paladin tertelan oleh sihir hitam pekat yang bocor dari dalam cahaya tersebut.

Saat Paladin lain menyiagakan pedang untuk menghabisi Orfide, duri hitam pekat muncul dari dalam cahaya dan menembus dadanya.

Masih ada banyak Paladin di sana.

Cahaya itu akhirnya jatuh ke dalam kegelapan, dan sosok Orfide muncul kembali. Kemeja putih bersihnya telah hangus terbakar, memperlihatkan tubuhnya yang ramping namun berotot di depan umum.

Namun, pakaiannya segera pulih kembali dalam sekejap. Seolah-olah kulit yang sedang beregenerasi.

"Dasar Pendeta sesat."

Saat salah satu Paladin berujar penuh kebencian, Orfide hanya tersenyum simpul. "Oya."

"Suatu kehormatan Anda mengenalku."

"Tentu saja aku ta────"

"Tapi, biarpun kamu tahu, sepertinya itu tidak akan memberikan arti apa pun."

Sesaat sebelum si Paladin sempat menyelesaikan kalimatnya.

Sosok Orfide yang dipanggil Pendeta itu menghilang, dan tiba-tiba saja lengannya sudah menembus dada si Paladin dari belakang.

Mengenakan baju zirah yang kokoh seolah tidak memberikan perlindungan sama sekali di hadapannya.

Orfide segera menarik lengannya, lalu mulai melangkah sambil merapikan posisi kacamatanya dengan tangan yang bebas.

"Mari kita bunuh semua yang diciptakan oleh Dewa Utama Elfen."

Ia menatap kuil yang terlihat jauh di dalam kota ini.

"Mereka yang percaya padamu, Elfen, maupun mereka yang tidak percaya padamu, semuanya akan kubunuh."

Bertolak belakang dengan niat membunuh yang bersemayam dalam kata-katanya, ia berbicara dengan tenang layaknya seorang penyair yang berada di depan pemandangan indah.

"Anak-anak polos yang tidak tahu apa-apa pun akan kuhabisi dengan tanganku sendiri. Para orang tua yang sebentar lagi akan dipanggil ke sisi-Mu, tidak masalah jika aku yang melakukannya lebih awal sebagai gantinya. Orang-orang selain mereka pun, pasti akan kuhabisi juga dengan tanganku."

Tidak ada setetes pun darah merah yang membasahi kemeja Orfide.

"Wahai para pengikut Agama Elfen."

Kemejanya selalu berwarna putih bersih, tampak seperti baru saja dikeluarkan dari kemasan.

"Hari ini, aku datang untuk mengambil Relik Suci."

Pada hari itu, di sebuah negara di Benua Elfen──── satu kota besar musnah tanpa sisa.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close