NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Side Story

Memori Entah di Mana yang Dilihat Licia


Setelah pertemuan seluruh murid tahun kedua berakhir, hanya mereka berdua yang masih berada di dalam Aula Besar untuk melanjutkan obrolan santai.

"Ren, ke sini."

Suara gadis itu menggema di dalam Aula Besar yang luas dan megah.

Mendengar panggilan itu, Ren melangkah perlahan di atas karpet merah tua yang menyelimuti lantai. Ia mendongak menatap panggung di depannya, merekam sosok White Saint yang bermandikan cahaya ke dalam ingatannya.

Pemuda pengguna Magic Sword itu bertanya kepada sang gadis jelita yang berdiri di atas panggung.

"Kenapa tiba-tiba berdiri di sana?"

"Melihat tempat ini membuatku teringat sedikit tentang masa-masa upacara penerimaan siswa baru dulu."

Saat ini, hanya ada mereka berdua di ruang yang luas ini.

Meski tidak sedang melakukan hal buruk, jantung Ren sedikit berdebar, merasa seolah dunia ini hanya milik mereka berdua saja.

Sepertinya Licia pun merasakan hal yang sama, ia tersenyum lebih nakal dari biasanya.

"Apa Ren masih ingat kejadian saat itu?"

"Maksudmu saat kita berdiri di sini sebagai perwakilan siswa, kan?"

"Iya. Aneh ya, padahal baru satu tahun berlalu. Rasanya ada begitu banyak hal yang terjadi meskipun baru sebentar."

"Bukan sekadar rasanya, tapi────"

"Fufu, memang benar-benar terjadi banyak hal, ya."

Sambil berkata demikian, Licia mengulurkan tangannya kepada Ren.

"Mumpung ada kesempatan, mau mencoba berdiri bersama lagi seperti saat upacara dulu?"

Sosok White Saintess yang berdiri di bawah cahaya terang yang menyilaukan, dengan rambut peraknya yang bergoyang lembut saat ia sedikit membungkukkan badannya.

Tanpa berlebihan, ia benar-benar terlihat seperti malaikat. Begitu cantik, suci, bahkan memancarkan aura keilahian.

"Ayo, Ren juga ke sini."

"Etto... apa boleh kita berdiri di sana sembarangan?"

"……Begitu kamu bilang begitu, aku jadi agak khawatir, tapi kalau cuma sebentar pasti tidak apa-apa…… kurasa!"

Begitu Ren menyambut tangan yang terulur itu, kehangatan Licia tersalurkan melalui ujung jarinya.

Licia menyembunyikan rasa sayangnya bahkan dalam gerakan jemarinya, mencoba menumpuk tangan mereka seolah ingin saling mengaitkan jari. Saat menyadari tindakannya sedikit terlalu berani, ia menutupinya dengan senyuman riang.

 

Tiba-tiba, Licia kehilangan kekuatan di kakinya dan kehilangan keseimbangan.

Saat tubuhnya terjatuh ke arah Ren yang bergegas mengulurkan tangan untuk menopangnya, ia merasa segala sesuatu yang tertangkap matanya bergerak jauh lebih lambat dari biasanya.

Pada saat itulah, ia merasa penglihatannya seolah tumpang tindih dengan sesuatu yang lain.

……Karena itulah, ya.

Tepat saat ia merasa mendengar suaranya sendiri dari suatu tempat, pemandangan di sekitarnya diselimuti cahaya yang semakin terang benderang.

Ren, sudah────

Ren menangkap Licia dengan seluruh tubuhnya saat gadis itu masih terbuai dalam sensasi tersebut.

Mereka berdua terjatuh di atas karpet yang tebal. Jemari mereka saling bertautan, dan karena Ren mendekapnya erat, jarak di antara keduanya nyaris menjadi nol.

Hembusan napas terasa lebih dekat dari sebelumnya, dan detak jantung masing-masing terdengar jelas dari dada yang saling bersentuhan.

Dalam keheningan itu, untuk sekali ini Ren terlihat sangat panik.

"A-apa kamu baik-baik saja!?"

"I-iya! Tidak apa-apa!"

Sambil merasa malu dan panik, keduanya bersusah payah untuk menenangkan suara dan ekspresi wajah mereka.

Awalnya mereka berpikir perasaan ini akan tenang dengan sendirinya, tapi jarak yang sedekat ini membuat segalanya sulit.

Ditambah lagi, karena tubuh mereka masih lemas, mereka hanya bisa bergerak sedikit tanpa bisa menjauh.

Sedikit demi sedikit…… setelah kekakuan di ujung jari mulai pulih, akhirnya ketegangan di seluruh tubuh mereka mereda.

Namun, jarak di antara mereka tetap sama, masih sedekat sebelumnya.

Setelah merasa lebih tenang, Ren mencoba melepaskan tangannya yang masih bertautan dengan Licia untuk memberi jarak.

 

……Padahal, harusnya tangan itu masih terasa sakit.

Licia mendekap tangan Ren yang hendak terlepas itu dengan kedua tangannya.

Sambil menyalurkan cahaya Holy Magic ke tangan pemuda itu, ia mendekatkan wajahnya yang cantik sambil tetap menggenggam tangan Ren.

Hal itu ia lakukan bukan sekadar atas dasar belas kasih sebagai seorang Saint Putih, melainkan karena didorong oleh perasaan cinta.

"Licia?"

"……Maaf. Tunggu sebentar."

Ia seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatannya kepada pemuda itu.

Tanpa sadar mereka telah melepaskan tangan satu sama lain, lalu keduanya duduk tegak di atas karpet sambil saling menatap.

Seketika itu juga, Licia merasakan kepedihan yang tajam di hatinya.

Saat potongan penglihatan tadi melintas kembali di kepalanya, hanya dengan menatap Ren di depannya saja, air mata Licia seolah hendak tumpah.

Entah kenapa, ia tidak mengerti apa pun.

Saat air mata itu akhirnya mengalir di pipinya, Ren yang sesaat membelalakkan mata segera mengulurkan tangan.

Licia pun menyambutnya, sehingga kedua tangan mereka bertumpuk di atas pipi sang gadis.

"Kamu baik-baik saja?"

Mendengar suara lembut itu, rasa sesak yang sempat muncul di hatinya seolah sirna tak berbekas.

Belum pernah ia merasa begitu ingin disentuh oleh pemuda ini, dan begitu tidak ingin melepaskan tangannya.

Seolah ingin menjepit tangan Ren yang ada di pipinya, ia menekankan pipinya ke sana…… lalu mempererat genggaman pada tangan yang bertumpuk itu.

"Padahal tanganmu masih sakit, maaf ya."

"Aku tidak apa-apa. Tapi, kenapa Licia tiba-tiba……"

"Aku juga tidak apa-apa. Air mata ini…… aku tidak mengerti, tapi mungkin aku sedang merasa sedikit ingin bermanja-manja."

"Ma-manja……?"

"Memangnya tidak boleh? Aku pun punya saat-saat seperti itu, tahu!"

Setelah berkata demikian, Licia Krauzel menunjukkan senyuman yang seperti biasanya.

Ia berdiri meski seluruh indranya masih terasa sedikit tumpul, lalu menarik tangan Ren Ashton.

Ia tidak mampu merangkai satu kata pun untuk mengungkapkan perasaannya saat berdiri berhadapan dengan Ren dan berbicara seperti ini.

Padahal setiap pagi, bahkan setiap malam pun mereka bertukar kata…… namun sensasi ini benar-benar terasa ajaib.

 

Keheningan di antara mereka pecah oleh bunyi lonceng peringatan yang menandakan dimulainya pelajaran siang.

Suara yang tiba-tiba itu seketika mengubah suasana hati mereka berdua.

Setelah terbebas dari sensasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mereka pun saling melempar tawa kecut.

"Sebaiknya kita segera pergi."

"Iya! Kita bisa terlambat masuk kelas siang!"

Sang pemuda pengguna Magic Sword, dan sang Saint Putih.

Cahaya yang jatuh di atas panggung itu hanya akan terus menyinari mereka berdua selamanya.




Previous Chapter | ToC | Next Cahpter

Post a Comment

Post a Comment

close