Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 4
Langkah Kaki Kehancuran
"Hmm, seperti dugaanku, Onee-sama sendirian saja sudah cukup, ya."
Nada suara Karen mengandung cukup banyak rasa heran.
Di ujung pandangannya, Yulia sedang menari dengan anggun sambil memegang pedang panjang di satu tangan.
Tiap kali terdengar satu langkah kaki ringan, cipratan darah berhamburan ke udara.
Bunga merah cerah bermekaran tanpa henti, dan jeritan monster menjadi musik latar, menciptakan pemandangan mengerikan yang membuat orang ingin menutup telinga.
Namun, itu indah.
Pemandangan spektakuler yang sayang untuk dilewatkan meski hanya sekejap mata.
Itu adalah tarian pedang, yang mewarnai dunia setiap kali kilatan cahaya memancar.
Wanita cantik jelita yang menghadapi monster raksasa, pemandangan itu seolah melompat keluar dari lukisan.
Pemandangan menakjubkan yang hanya bisa diciptakan oleh dia yang dicintai oleh cahaya.
Melihat sosok kakaknya yang menunjukkan kekuatan mutlak, Karen hanya bisa tersenyum kecut.
Karena itu, cengkeraman tangan pada senjatanya—tombak kesayangannya—mengendur secara alami.
"Benar sekali. Pertumbuhan Yulia-sama sungguh cepat."
Elsa juga menatap sosok Yulia seolah terpesona oleh pertarungannya.
Seolah menyetujui perkataannya, Karen juga mengangguk pelan.
"Itulah yang disebut jenius, ya."
Bukan berarti Karen melalaikan latihannya.
Namun, dia tidak merasa bisa mengejar Yulia.
Dibandingkan saat baru datang ke Kota Sihir, Yulia telah menjadi beberapa kali lipat, tidak, puluhan kali lipat lebih kuat.
Apakah karena sudah terbiasa menggunakan Gift-nya, atau karena ada punggung seseorang yang tidak boleh sampai dia kehilangan jejaknya.
Dia berkembang secepat cahaya, sama seperti Gift miliknya.
"Menurut saya Karen-sama juga jenius, lho?"
"Aku repot kalau disamakan. Lagipula, jenius bukan kata yang boleh digunakan sembarangan."
Jenius, bocah ajaib, prodigy, orang berbakat, luar biasa—tokoh-tokoh yang disebut demikian ada banyak dalam sejarah.
Namun, tidak ada yang tahu pasti ada berapa banyak yang asli.
Tapi, selama hidup Karen, hanya ada dua orang yang bisa dia pastikan sebagai jenius.
Keberadaan yang bahkan membuat para Demon Lord terlihat kalah hebat.
Satu adalah kakaknya, Yulia, dan satu lagi adalah Ars.
"Kalau ada tingkat di atas jenius, Ars itu di luar nalar, dan Onee-sama itu tidak masuk akal, ya."
Dalam kasus Ars, kita baru bisa mengetahui kekuatannya yang di luar nalar itu setelah bertarung.
Di sisi lain, mengenai Yulia, kita baru menyadari kekuatannya yang mutlak setelah menjemput ajal.
Tanpa merasakan sensasi ditebas, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sudah mati.
Baru pada saat daging terkoyak dan darah menyembur, orang itu menyadari kematiannya sendiri.
Di hadapan Gift [Light] milik Yulia, waktu nyaris tidak ada artinya.
Menyadari kematian, sembari diliputi penyesalan, kesadaran pun menghilang.
Sampai detik terakhir, dipaksa merasakan keputusasaan yang setara dengan keabadian.
Singkatnya, Gift [Light] adalah perwujudan ketidakmasukakalan.
Penggunanya, Yulia, juga tidak melalaikan usaha, terus menempa diri, dan terus berkembang dengan kecepatan cahaya, jadi benar-benar tak tertangani.
"Tapi, karena Anda tetap berusaha tanpa menjadi putus asa meski berada di dekat dua orang itu, menurut saya Karen-sama juga sudah cukup hebat."
"Begitu ya? Kalau dipuji sejujur itu aku jadi malu, kan."
"Tidak, itu benar-benar hal yang patut dikagumi. Jika melihat perbedaan kekuatan sebesar itu, biasanya hati seseorang akan patah... namun, Karen-sama tidak menjadi rendah diri dan tetap menatap ke depan. Itu adalah hal yang patut dipuji dengan tulus, dan menurut saya boleh dibanggakan."
Orang-orang yang disebut jenius nyentrik, orang aneh, dan jenius berkumpul di Kota Sihir.
Semuanya memiliki kepribadian yang kuat, dan merupakan orang-orang yang sulit dihadapi.
Justru karena itulah, tidak sedikit yang hatinya patah saat menemukan keberadaan yang levelnya di atas mereka.
Contoh orang yang di kampung halamannya tak terkalahkan, namun di Kota Sihir harus puas berada di peringkat bawah, ada tak terhitung banyaknya.
Karen dan Elsa baru tinggal di Kota Sihir sekitar tiga tahun, namun meski begitu, mereka telah melihat banyak orang yang meninggalkan kota ini setelah putus asa.
Karena itulah, Elsa memuji Karen yang terus menjaga hatinya tetap kuat.
"Yah... kalau dua orang itu mendapatkan kekuatan itu tanpa usaha, mungkin aku akan punya pendapat lain."
Karen mengatakannya sambil melihat ke kakinya.
Di sana, tergeletak mayat Minosmander yang baru saja dikalahkannya.
Minosmander adalah monster raksasa bertubuh seperti sapi.
Tubuhnya seperti manusia yang memiliki sisik naga, dan memiliki kepala buruk rupa yang seperti gabungan sapi dan iblis. Ditambah lagi ada tanduk melengkung yang tajam, memancarkan intimidasi liar.
Tubuh bagian atasnya diselimuti otot kekar, dan fisik tangguhnya itu bisa diketahui dalam sekali lihat.
Seluruh tubuhnya berwarna cokelat kehitaman, dan tubuh besar serta otot-otot yang menonjol itu tertutup bulu.
Terutama di punggung dan lengan tumbuh bulu panjang, memadukan kekuatan dan keganasan liar yang pantas bagi Penguasa Wilayah. Namun, kini ia terdiam. Mata merah yang memancarkan sorot tajam kini keruh memutih, dan cahaya yang membuat orang merasakan keganasannya juga telah hilang.
Sebab, ia sudah mati.
Yang menembus kepala Minosmander adalah tombak kesayangan Karen. Darah yang menetes dari luka itu menyebar di tanah seolah mekar menjadi bunga merah.
"Aku bukan lagi diriku yang dulu tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga tidak kalah, kok. Lagipula, aku harus berusaha agar tidak tertinggal lebih jauh lagi. Karena itu, daripada terbelenggu emosi tidak berguna seperti cemburu, aku akan menggunakan tenagaku untuk mengembangkan diri."
Saat dia mencabut tombak dengan kuat dari kepala Minosmander, darah segar menyembur keluar.
Namun, pemandangan yang sudah biasa dilihat itu tidak lagi mengguncang hati Karen.
Dia berbeda dengan masa-masa pendatang baru yang masih polos.
Masa-masa di mana dia disiksa oleh sisa-sisa rasa takut sudah menjadi masa lalu.
Jika perasaan yang Karen rasakan saat itu disebut ketakutan dan ketegangan, perasaan macam apa yang dirasakan Ars dan Yulia?
Namun, sekarang itu tidak penting lagi.
Kini tidak perlu lagi menanyakannya.
Meski baru bergaul beberapa bulan, dia sudah memahami kepribadian Ars secara garis besar, dan mengenai Yulia, dia adalah kakaknya.
Ars pasti menikmati pertarungan pertamanya.
Mengenai kakaknya, Yulia,
——Hampa.
Justru karena dia adalah adiknya, dia bisa mengerti.
Dia mengetahui keberadaan kegelapan yang membara di lubuk hati kakaknya.
Di samping menebar senyum kepada rakyat.
Di balik perintahnya kepada bawahan dengan ekspresi gagah.
Dia juga tahu bahwa kakaknya menatap ayah mereka, Sang Raja, dengan mata dingin penuh niat membunuh.
Saat itulah. Pertama kalinya dia merasa takut pada kakaknya.
Namun, di saat yang sama, dia juga merasa kagum pada keindahan wajah sampingnya.
Lalu, tanpa disadari kedua perasaan itu menyatu, tersublimasi menjadi "ideal".
Kakak tercinta menjadi simbol kesempurnaan yang bersinar lebih terang dari siapa pun bagi Karen.
Dia tidak berniat mengejarnya. Karena jika melakukannya, dia akan terbakar habis.
Hanya saja, setidaknya dia ingin bertarung bahu-membahu bersama kakaknya—Karen bersumpah dalam hati untuk menjadi kuat, tanpa mengatakannya kepada siapa pun.
"Aku bersyukur bisa merasakan perkembanganku dalam perburuan kali ini."
Dulu para Schuler yang menarik perhatian, dan Karen hanya memberikan serangan terakhir.
Namun, kali ini dia berhasil mengalahkan Minosmander sendirian.
Takdir masa lalu, kemajuan ke Area Tinggi, dan pertarungan berulang kali melawan musuh kuat telah membuat Karen menjadi kuat.
Dia pasti telah berkembang setelah melewati berbagai medan pertempuran sengit.
Dan, memahami bahwa dipaksa menemani perburuan Ars adalah faktor utama pertumbuhan pesat itu, Karen terpaksa tersenyum kecut.
"Jangan-jangan... apakah Anda datang bertiga hanya untuk memastikan hal itu?"
"Tu, tunggu, terlalu dekat, terlalu dekat! Menakutkan tahu! Kenapa tiba-tiba begini!?"
Karena Elsa mendekat dengan ekspresi serius entah kenapa, Karen terkejut namun mengarahkan kedua tangan untuk menahannya. Namun, meski sudah berhenti, Elsa tetap menatap Karen dengan tatapan serius.
Seolah tidak akan membiarkan kebohongan lolos, tatapan tajamnya tetap menusuk Karen.
"Tolong jelaskan. Apakah Anda datang ke sini demi bertarung sendirian?"
"Y-ya, memastikan kekuatanku saat ini memang salah satu faktornya, tapi alasan utamanya adalah untuk mengistirahatkan para Schuler, lho."
Karen tidak mengerti mengapa dia menanyakan alasannya dengan begitu mendesak.
Namun, mendengar perkataan Karen, Elsa menunjukkan ekspresi lega yang sangat jelas.
"...Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?"
Karena sepertinya dia sudah tenang, Karen bertanya sambil memiringkan kepala.
Lalu, Elsa menghela napas satu kali dan mulai menceritakan alasannya.
"Tidak, saya bukan marah... saya hanya berpikir jangan-jangan seperti Ars-san, Karen-sama juga mulai menyukai pertarungan."
"Ah... jadi begitu, ya."
Karen tidak tahu harus berkata apa, tidak menemukan kata-kata yang tepat, dan hanya bisa tersenyum kecut.
Kalau dipikir kembali, perkataan Karen sudah cukup untuk membuat Elsa cemas.
Dia pasti khawatir apakah pola pikir Karen berubah menjadi suka menerjang sendirian seperti Ars.
Itu pasti merupakan ketakutan baginya.
Jika sosok yang memimpin guild dikuasai naluri bertarung dan hanya mengamuk mengikuti insting, dia pasti membayangkan situasi terburuk mengenai dampak buruk apa yang akan timbul.
Karen menepuk bahu Elsa untuk menenangkannya.
"Tidak mungkin begitu, kan. Kalau aku jadi seperti Ars, besok aku sudah mati, tahu."
Gaya bertarung yang bisa dibilang nekat itu hanya mungkin dilakukan karena Ars memiliki kemampuan.
Jika Karen melakukan tindakan yang sama, jangankan besok, hari ini pun dia akan menjadi pupuk bagi 'Lost Land'.
Selain itu, jika dia mati dengan cara konyol yang jelas bagi siapa pun, itu tidak akan diceritakan sebagai tragedi melainkan komedi, dan akan menjadi bahan tertawaan selamanya.
"Aku menolak ditertawakan sebagai orang bodoh oleh generasi mendatang."
"Mendengar itu saya jadi lega. Karen-sama tetaplah menjadi Karen-sama. Tolong jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu."
"...Hei, percayalah padaku."
Mungkin Elsa hanya ingin menegaskan, tapi dibilang seserius itu membuat rasa tidak puas menumpuk.
Namun, Karen menerima bahwa dirinya salah karena mengatakan hal yang menimbulkan kesalahpahaman, dan untuk mencoba mengalihkan topik pembicaraan sebagai penyegaran suasana, dia kembali mengalihkan pandangan pada Yulia yang sedang melawan Minosmander.
"Tapi, Onee-sama benar-benar tidak masuk akal, ya."
Yang terpantul di mata Karen adalah sosok kakaknya yang dengan mudah mengalahkan Minosmander.
Anggota tubuh Minosmander yang ambruk ke tanah telah terpotong, bahkan kepalanya pun terpenggal.
Padahal dia bisa mengakhiri nyawanya kapan saja, namun Yulia memilih cara paling kejam bagaikan mencabuti sayap serangga.
Apakah dia ingin mencoba ketajaman pedang panjangnya, ataukah dia sedang membayangkan musuh yang akan ditemui di masa depan? Apa pun itu, Karen terlalu takut untuk menanyakan alasannya pada kakaknya yang berlari mendekat sambil tersenyum.
"Karen! Aku berhasil!"
Sosok Yulia yang mengayunkan pedang panjang dengan sembarangan terlihat sangat membahayakan.
Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja menaklukkan Minosmander.
Justru, dengan wajah yang seolah tidak tega membunuh serangga pun, kecantikannya setara dengan wanita cantik yang bisa meruntuhkan negara.
Meski senyumnya tak pernah pudar bagaikan ibu yang penyayang, terkadang dia menunjukkan senyuman yang kejam.
Kontradiksi semacam itu, secara aneh mencengkeram hati dan tak mau lepas.
"Are, Karen kenapa? Kali ini aku menyisakan materialnya, lho?"
Yulia memiringkan kepala dengan heran sambil mengintip wajah Karen.
"Ah, etto, memang Onee-sama hebat, ya!"
Di benak Karen yang berusaha menguasai diri kembali, kegagalan yang pernah dilakukan Yulia dulu bangkit kembali dengan jelas.
Insiden Cairan Minotaur—dia mencincang Minotaur dengan kecepatan [Light] yang luar biasa hingga mengubahnya menjadi air lumpur. Itu adalah salah satu episode kepolosan Yulia.
"Iya, kan? Aku juga berkembang, tahu!"
Yulia membusungkan dada dengan bangga. Dada raksasa yang disebut-sebut masih dalam masa pertumbuhan itu berguncang hebat.
Karen yang sesama wanita pun tak bisa tidak kagum melihat pergerakan dua bukit indah yang tanpa sadar mencuri pandangan itu.
"Ya, Onee-sama itu, berbagai bagiannya tumbuh dengan luar biasa, ya."
Saat mulai tenang, dua bukit yang membal di depan mata itu mulai terasa menyebalkan.
Dada Karen sama sekali tidak kecil, namun jika dibandingkan dengan Yulia, itu terlihat sederhana.
Saat Karen tanpa sadar mengulurkan tangan hendak meremasnya hingga hancur—.
——Udara berubah.
Itu terjadi secara tiba-tiba.
Karen merasakan tekanan yang dahsyat dan niat membunuh murni yang bercampur di dalamnya.
"Hah? Tiba-tiba ada apa?"
Rasa dingin menjalar di punggung, dan Karen segera mengedarkan pandangan mencari sosok aslinya.
Pelakunya segera ditemukan.
Entah memang tidak berniat sembunyi, dia menampakkan diri dengan percaya diri dan berjalan mendekati Karen dan yang lainnya.
"Oya, oya, Nona-nona yang cantik, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengganggu waktu santai Anda sekalian."
Seorang pria tua mengenakan pakaian pelayan—sosok yang sangat tidak pada tempatnya di 'Lost Land'.
Terlebih lagi, intimidasi aneh yang memancar dari tubuhnya itu tidaklah wajar.
Sambil merasa seolah akan remuk oleh tekanan yang dahsyat, Karen dan yang lainnya seketika mengambil kuda-kuda bertarung.
"...Ada perlu apa Iblis di sini?"
Sambil bertanya, Karen menyerap informasi lawan sebanyak mungkin melalui penglihatannya.
Dua tanduk tumbuh dari dahi, dan hanya dengan berdiri diam saja, dia memancarkan aura layaknya seorang ahli.
Bertolak belakang dengan penampilannya yang seperti orang tua, ketebalan tubuhnya yang ditempa dengan baik bisa dipahami dengan jelas meski mengenakan pakaian pelayan.
Iblis Tingkat Atas.
Keberadaan yang berada di puncak bahkan di antara golongan itu, Karen meningkatkan kewaspadaannya hingga batas maksimal.
Namun, dalam sekejap dia menyadarinya.
——Aku tidak bisa menang.
Terlalu jauh. Rasanya menyentuhnya dengan satu jari pun aku takkan mampu.
Bahkan saat berhadapan dengan Demon Lord Grimm, dia tidak pernah merasakan perbedaan yang begitu mutlak seperti ini.
"Hah, hah, haa—h!"
Dia sadar napasnya menjadi kasar. Detak jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa bising.
Apakah harus menyerang duluan, apakah harus mengamati situasi, ataukah harus lari.
Jawabannya tidak ditemukan. Pertanyaan yang berlanjut selamanya berputar-putar di dalam kepala.
Pandangan menyempit, kesadaran menipis.
Sesaat sebelum warna menghilang dari dunia, guncangan ringan terasa di bahu Karen.
"Karen, tenanglah. Situasi seperti ini bukan yang pertama kali, kan."
Suara yang jernih.
Itu sama sekali bukan jenis suara yang membakar semangat orang lain.
Namun, nada suara yang nyaman itu cukup untuk menenangkan hati yang kacau, suara yang memberikan ketenangan hingga membuat ingin terus mendengarnya.
Sepengetahuan Karen, pemilik suara seperti itu hanya ada satu orang.
Saat Karen memastikan lewat sudut mata, di sana berdiri Yulia yang sedang tersenyum.
"Tidak perlu takut berlebihan. Kamu lihat saja dari situ."
Setelah mengayunkan pedang panjang dengan ringan, Yulia mendekati Iblis Tingkat Atas itu.
"Saya Yulia. Sekadar formalitas, tolong beritahu nama Anda. Setidaknya saya ingin tahu nama orang yang saya bunuh."
"Hoho, sungguh sopan sekali, Yulia-sama, nama saya adalah Sebas. Namun, membunuh saya... tampaknya Anda sangat percaya diri, ya."
Sambil mengelus janggut putihnya, Sebas mendengus senang di tenggorokannya.
Namun, meski sedang ditertawakan, mengapa hal itu tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan?
Mungkin karena dia tidak sedang meremehkan, melainkan murni menikmati reaksi Yulia.
Akan tetapi, jika diperlihatkan ketenangan orang kuat seperti itu, meski tidak merasa kesal pun, tetap saja rasanya menyebalkan.
"Sebas-san, siapa pun lawannya—meski tingkatnya lebih tinggi dari diri sendiri, jika tidak memiliki rasa percaya diri, kita tidak akan bisa meraih kemenangan. Aku hanya bertarung dengan pemikiran bahwa aku pasti menang."
"Hoh... pemikiran yang luar biasa."
Sebas yang mengangguk setuju, melangkah maju satu langkah.
Hanya satu langkah, namun langkah itu memangkas jarak dengan Yulia dalam sekejap.
"Namun, saya rasa itu sedikit terlalu percaya diri."
Tangan yang disodorkan Sebas mengincar jantung Yulia.
Akan tetapi, tanpa goyah, Yulia mundur selangkah dan menepis tangan itu dengan pedang panjangnya.
"Fumu, kecepatan reaksinya memang tidak buruk. Sepertinya ucapan tadi bukanlah omong kosong belaka."
Setelah melirik sekilas tangannya yang ditepis, Sebas perlahan mengarahkan pandangannya pada Yulia.
"Namun, sepertinya Anda belum menggunakan kekuatan Gift [Light], ya."
"Tanpa perlu dibilang pun, sekarang aku akan menggunakannya."
Di depan Sebas, Yulia sedikit menggerakkan tubuhnya.
Di saat yang sama, Sebas memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan memperdalam senyumannya.
"Begitu ya, kecepatan [Light] itu merepotkan. Bagi saya mungkin bebannya terlalu berat."
"Tenang saja. Aku akan memenggal lehermu dalam sekejap, jadi tidak akan terasa sakit."
Saat Yulia melangkah maju, lengan Sebas terlihat kabur.
"Untuk kali ini, izinkan saya menolak. Bukan bermaksud sebagai permintaan maaf, tapi saya sudah menyiapkan lawan lain untuk Yulia-sama."
Benda yang dilemparkan Sebas adalah sebuah batu sihir.
Melihat itu, mata Karen terbelalak.
"Onee-sama!"
Bersamaan dengan teriakan Karen, batu sihir itu bersinar. Karen menyipitkan mata secara refleks karena cahaya yang dahsyat itu.
Saat cahaya itu benar-benar reda, sosok Yulia telah menghilang.
Yang baru saja diaktifkan adalah sihir 'Teleportasi Paksa'.
Sesuai namanya, itu adalah sihir yang sangat langka dan bernilai tinggi yang dapat memindahkan target yang ditentukan secara paksa.
"...Karen-sama, Anda baik-baik saja?"
Elsa berlari menghampiri Karen.
Mungkin dia mengkhawatirkan Karen yang tadi sempat memperlihatkan ketakutan.
Dia mungkin berpikir Karen akan panik karena Yulia, yang menjadi sandaran hatinya, telah menghilang.
Melihat Elsa yang biasanya tanpa ekspresi kini terlihat terguncang, Karen tanpa sadar tersenyum kecut, berpikir apakah kondisinya tadi terlihat separah itu.
"...Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir."
Jujur saja, sekarang setelah Yulia menghilang, kecemasannya justru lebih besar dari sebelumnya.
Namun, dia tidak terguncang sampai kehilangan kendali.
Karena Yulia sudah membantunya bangkit sekali, dia tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama.
Dia tidak boleh memperlihatkan sosok yang memalukan lagi.
"Aku ingin mengkhawatirkan Onee-sama, tapi... Onee-sama yang sekarang seharusnya aman ke mana pun dia dilempar."
"Ya. Lagipula saya rasa dia tidak dilempar ke tempat yang jauh. Tergantung lokasinya, saya rasa kita bisa segera bergabung kembali."
Akibat pengaruh Miasma, teleportasi ke Area Tinggi atau Area Terdalam akan terhambat.
Jadi, lokasinya terbatas pada Area Tengah atau Area Rendah. Jaraknya bergantung pada Mana, tapi mustahil memindahkannya ke tempat yang begitu jauh.
Sebab, menghadapi lawan yang akan dilawan mulai sekarang—Karen dan Elsa—seharusnya dia tidak akan menghabiskan Mana dalam jumlah besar.
"...Jadi, apa maksudmu memisahkan Onee-sama dari kami?"
Karen memancarkan amarah, dan Elsa mengangkat busurnya, bersiap menembak kapan saja.
"Saya sudah menyapa Yulia-sama, tapi belum menyapa Nona-nona sekalian. Nama saya Sebas. Salam kenal mulai sekarang."
Sambil mengelus kumisnya, Sebas membungkuk dengan anggun. Sosok itu benar-benar seperti seorang kepala pelayan yang sedang melayani nona mudanya di taman. Hawa membunuh yang tadi terasa kini tidak tersisa sedikit pun, dan ekspresinya yang seperti kakek tua yang baik hati itu terlihat sangat tenang, seolah orang yang berbeda.
Justru karena itulah, dia terasa menyeramkan.
Entah apa yang direncanakannya di balik sosok anggun itu, Sebas menjulurkan lengannya dengan senyum yang masih tertempel di wajah. Dia mengarahkan tangan seolah memprovokasi, lalu menyipitkan matanya tajam bagaikan elang.
"Kalau begitu, silakan maju. Mulai sekarang, saya yang akan melayani Nona-nona sekalian."
Sebas merendahkan kuda-kudanya.
Tidak ada celah sedikit pun pada sosok itu, dan Mana yang dahsyat menggetarkan udara.
*
'Lost Land'—Area Rendah Distrik 50.
Itu adalah medan perang yang dipenuhi bau darah.
Noda merah yang menyebar di atas tanah kering terlihat sangat mencolok.
Sinar matahari yang mengguyur semakin mempertegas tragedi kejam itu.
Bau karat besi yang menusuk rongga hidung pasti akan membuat orang biasa mengernyitkan wajah.
Di sana, kawanan Manticore jantan dan betina tergeletak mengenaskan.
Tubuh raksasa layaknya singa, serta cakar tajam mereka, kini menjadi tak berguna, hanya diam menjemput kematian.
Monster yang telah meneror banyak petualang itu kini tak lebih dari gumpalan daging tak berdaya.
Luka yang terukir di bumi dan puing-puing yang berserakan menceritakan jejak pertarungan sengit yang terjadi.
Pertarungan yang terjadi di bawah langit cerah melukiskan pemandangan kejam yang kontras dengan langit biru yang indah itu. Bau darah dan daging yang terbawa angin semakin mempertegas betapa tragisnya medan perang ini.
Manticore jantan adalah Penguasa Wilayah yang membentuk kawanan, hal yang jarang terjadi di Area Rendah.
Tingkat Kesulitan Penaklukan Lv. 5.
Bagi petualang, ini adalah tembok pertama sekaligus keputusasaan pertama.
Namun, bahkan itu pun bukan lawan bagi Ars, dan dia berdiri di tengah mayat-mayat dengan wajah bosan.
"Dulu mereka kabur, lho."
Saat datang bersama Karen dan yang lain, Manticore jantan tidak keluar sampai malam hari.
Tapi kali ini mereka memimpin kawanan dan menyerang dari depan.
Meski begitu, mereka tidak bisa memberikan satu pun luka gores pada Ars.
"Mungkin karena kali ini kita hanya berdua," Shion menjelaskan sambil mengumpulkan material.
Manticore memang tidak punya taring, tapi mereka memiliki gigi seperti manusia. Ini adalah target pengumpulan yang sering digunakan kembali sebagai gigi palsu atau gigi tiruan, dan juga digunakan sebagai bahan baku pasta gigi.
Ngomong-ngomong, gigi Manticore jantan semuanya terbuat dari emas, jadi karena bisa dijual mahal, mereka cukup populer di antara para monster.
"Manticore jantan itu penakut dan sangat waspada, tapi otaknya tidak terlalu pintar. Kalau melihat keuntungan, mereka akan menyerang tanpa memikirkan jebakan."
Ada keuntungan jumlah dan keuntungan lokasi, wajar saja jika mereka menyerang.
Terlebih lagi jika bisa menyerang mangsa secara tiba-tiba, itu sempurna.
Cara menyerangnya seperti bandit, tapi monster juga binatang buas yang hidup berdasarkan insting.
Dalam hal itu, manusia dan monster tidak ada bedanya. Keduanya mungkin memiliki sifat yang mirip.
"Jadi, Ars, bagaimana dengan itu?"
"Ah... dia?"
Saat Ars memiringkan kepala, Shion mengarahkan pandangan ke suatu tempat.
Di sana berdiri seorang Iblis dengan dua tanduk di dahinya.
"Dia terus melihat ke sini kan, bagaimana kalau disapa?"
Sejak kawanan Manticore dimusnahkan, Iblis Tingkat Atas itu mengamati keadaan kami dengan terang-terangan. Karena tidak menyerang, Ars membiarkannya, tapi sepertinya Shion tidak tahan dan menunjukkannya.
"Hei Iblis Tingkat Atas di sana, ada perlu apa denganku?"
"Aku datang untuk membunuhmu."
Karena tidak ada pilihan lain, Ars bertanya, dan jawaban berbahaya pun kembali.
Ars tersenyum karena sudah lama tidak menerima niat membunuh secara terang-terangan dari selain monster.
"Begitu ya... Aku Ars. Sekadar formalitas, aku juga akan tanya namamu."
Saat Ars menyebutkan nama, Iblis Tingkat Atas itu menyibakkan rambut sampingnya dan memperlihatkan angka yang terukir di sana.
"Aku 'Antitesis Buangan No. IX' Nau."
Setelah menyebutkan nama, seolah tak mau buang waktu, Nau menyelimuti lengannya dengan Mana dan menerjang maju.
"Orang yang tidak sabaran."
Karena dia menunggu sampai Manticore dikalahkan, Ars mengira dia orang yang rajin, tapi sepertinya itu salah. Sejak awal Ars tidak berpikir bisa berdiskusi, tapi setidaknya dia ingin tahu alasan nyawanya diincar.
"Matilah."
Dengan datar seolah hendak memencet serangga, Nau menghunjamkan tangan ke arah jantung Ars.
Tangan itu diselimuti Mana yang dahsyat.
Biasanya, serangan itu pasti akan menembus dada Ars dengan mudah.
Namun, ujung jari Nau tidak bisa mengoyak daging, bahkan tidak bisa merobek pakaian Ars.
"...! Manusia menggunakan 'Dinding Sihir Anmut'!?"
"Kenapa kaget? Begini saja wajar, kan?"
"Kau bicara serius!?"
Di antara berbagai ras, manusia dikatakan sebagai keberadaan yang paling tidak pandai menggunakan Mana.
Sebaliknya, ras seperti Beastkin, Elf, dan Iblis yang lahir dan tumbuh bersama Mana, telah menguasai cara memanipulasi Mana dengan bebas.
Karena itulah, manusia jarang menggunakan 'Dinding Sihir Anmut'. Banyak yang berpikir daripada membuang Mana dengan sia-sia, lebih efisien menggunakannya untuk sihir itu sendiri.
Namun, penyihir yang terbelenggu pemikiran seperti itu sering kali tidak bisa berkembang.
Sebab, penyihir yang menduduki posisi puncak pasti ahli dalam mengendalikan 'Dinding Sihir Anmut', dan teknik terlatih itulah yang semakin menonjolkan kekuatan mereka.
"Bukannya kau menonton pertarunganku dengan Manticore?"
Ars memiringkan kepala.
Selama pertarungan dengan Manticore, dia merasakan tatapan Nau dari awal sampai akhir.
Saat itu, Ars bertarung dengan menggunakan 'Dinding Sihir Anmut'.
Jika dia mengamati, seharusnya dia melihat sosok itu.
Tapi jika dia melewatkannya, berarti kemampuan Nau, meski termasuk satu digit 'Antitesis Buangan', mungkin tidak terlalu tinggi.
"Berikutnya giliranku, ya."
Ars yang menahan serangan Nau mengayunkan belati dengan kecepatan luar biasa.
Karena kecepatan yang mutlak itu, dada Nau tersayat tanpa sempat menghindar.
Namun, lukanya dangkal. Meski darah menyembur hebat, Ars menyadari dari sensasi di tangannya bahwa lukanya tidak dalam.
"Hee, melompat mundur secara refleks, ya—boleh juga."
Niatnya mau membelah jadi dua, tapi sepertinya kecepatan reaksi Nau lumayan juga.
Kalau begini sepertinya bisa dinikmati sedikit lebih lama, pikir Ars sambil membasahi bibir dengan lidahnya.
"Jangan berhenti. Aku akan menyerang lagi, lho."
"Hah? Tu, tunggu!?"
Ekspresi Nau yang tadi sama sekali tidak bergerak, kini terdistorsi karena posisi menyerang dan bertahan yang berbalik dalam sekejap.
Nau berusaha melancarkan serangan sambil menghindar mati-matian, namun gerakan Ars terlalu cepat hingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya diwarnai kepanikan dan ketakutan, dan keringat dingin perlahan mengalir di dahinya.
Nau hanya bisa dipermainkan oleh gerakan Ars yang secepat angin.
Shion menatap pertarungan mereka berdua dengan tenang.
"...Kenapa 'Antitesis Buangan' muncul? Seharusnya mereka bukan kelompok yang muncul semudah itu."
'Lost Land' bagaikan taman bagi Ratu Hel, penguasa 'Helheim'. Para 'Antitesis Buangan' yang menginjakkan kaki di tanah itu ditakdirkan untuk dideteksi seketika, dan bawahan setia Ratu akan segera dikirim untuk membasmi mereka.
Jika ada waktu, terkadang Ratu Hel sendiri yang turun tangan untuk membereskan 'Antitesis Buangan'.
Oleh karena itu, para 'Antitesis Buangan' yang terusir tidak mencoba mendekati 'Lost Land' agar tidak membuang nyawa mereka dengan sia-sia. Sebab, mereka mengetahui kengerian Ratu Hel sampai ke tulang sumsum.
Karena itulah, bagi 'Antitesis Buangan', nama sang Ratu adalah simbol ketakutan yang membuat gemetar hanya dengan mendengarnya.
Rasa takut telah terukir begitu dalam di hati mereka agar tidak pernah menginjakkan kaki lagi di 'Lost Land'.
"Padahal begitu, kenapa aku jadi sering sekali berpapasan dengan 'Antitesis Buangan' begini?"
Baru beberapa hari yang lalu 'Antitesis Buangan No. III' muncul dan terjadilah pertarungan.
Mereka bisa menang justru karena ada Ars. Jika dia tidak ada, pasti sudah terjadi bencana besar.
"Di 'Lost Land'—tidak, di 'Helheim', sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Ini situasi yang terlalu tidak normal. Namun pergerakan 'Helheim' lambat.
Tidak, lebih tepat dikatakan mereka sama sekali tidak bergerak.
"Aku mengira itu hanya sekadar rumor, tapi apakah 'Antitesis Buangan' dan Ratu Hel benar-benar terhubung? Tidak, meskipun tidak begitu, jika mereka menjalin hubungan kerja sama, logikanya masuk akal. Tapi, apa tujuannya?"
Shion tidak bisa memahami niat di balik mengirimkan 'Antitesis Buangan No. IX' Nau untuk melawan Ars yang telah mengalahkan 'Antitesis Buangan No. III'. Biasanya mereka akan memilih 'Antitesis Buangan' dengan peringkat yang lebih tinggi, namun entah kenapa mereka mengirimkan peringkat bawah.
"...Mengulur waktu?"
Saat Shion hendak mendapatkan jawabannya, duel antara Ars dan Nau tengah menyambut momen penyelesaian.
Terhadap Nau yang tubuhnya penuh luka hingga ajaib dia masih bisa berdiri, Ars mengayunkan belatinya dengan gerakan santai namun dingin. Dia bukan lagi menyayat, melainkan hendak memutus. Dan, serangan tanpa belas kasihan itu membuat kedua lengan Nau yang dipasang untuk bertahan melayang ke udara.
"A, gaa!?"
Wajah Nau terdistorsi karena rasa sakit yang luar biasa, namun di saat itu juga, tendangan Ars mendarat di dadanya, membuatnya terguling di tanah.
"Sial, sial, aku tidak dengar soal ini. Seharusnya tidak begini—kenapa manusia sepertinya...!"
Nau mencoba bangkit dari tanah, namun karena kehilangan kedua lengannya, dia gagal berkali-kali.
Ars menatap sosok itu dengan tatapan dingin.
Padahal dia menyerang dengan penuh percaya diri, tapi saat benar-benar dilawan, kemampuannya bahkan di bawah Manticore.
Dan, memperlihatkan sosok yang menyedihkan seperti ini benar-benar tidak enak dipandang.
Sulit dipercaya bahwa ini adalah 'Antitesis Buangan' satu digit.
Para 'Antitesis Buangan' yang pernah dilawan sebelumnya tidak pernah memperlihatkan sosok memalukan seperti ini, mereka menantang Ars dengan tekad membuang nyawa.
"Hei, Nau kalau tidak salah, sebelum kubunuh, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu."
"Apa yang... kau katakan... bu, bunuh? Tu, tunggu dulu."
"'Antitesis Buangan No. III' bersikap gagah sampai ajal menjemput, lho. Dia tidak mengemis nyawa sepertimu."
Ars dengan dingin mengayunkan belati ke bawah, hendak memutus nyawa Nau.
Akan tetapi—.
"Tunggu!"
Suara Shion bergema menahannya, dan Ars menghentikan lengannya tepat sebelum memenggal leher Nau.
Lalu, dia hanya mengarahkan pandangan pada Shion.
"Ada apa?"
"Aku ingin menanyakan alasan kenapa dia datang ke sini."
Shion mendekati 'Antitesis Buangan No. IX' Nau, mencengkeram dagunya, dan memaksanya mendongak.
Ekspresi Nau terdistorsi karena penderitaan akibat rasa sakit kehilangan kedua lengan.
Namun, ada emosi lain yang juga muncul.
Dia merasa terhina dan dipenuhi amarah karena dagunya dicengkeram oleh Shion.
"Ada yang ingin kutanyakan. Tergantung isinya, aku mungkin akan melepaskanmu. Ars juga tidak keberatan, kan?"
"Ya, tidak masalah. Terserah Shion saja."
Meskipun persetujuannya belakangan, Ars tidak merasa tidak puas, dan karena dia tidak punya alasan khusus untuk membunuhnya, dia menyetujuinya.
"............Aku akan menjawab, jadi jangan bunuh aku."
Nau menyerah begitu saja dengan sangat mudah hingga membuat bengong.
"...Begitu, ya."
Shion tersenyum kecut, mungkin karena mengira dia akan melawan lebih keras.
Di tangannya terdapat cakar yang dibuat dari pemadatan Mana.
Jika lawannya keras kepala, dia berniat melakukan penyiksaan, namun karena gilirannya selesai tanpa sempat digunakan, cakar itu hanya membelah angin dengan hampa.
"Ternyata dia buka mulut semudah itu, ya."
Saat Ars berkata dengan sedikit nada kecewa, Nau menatapnya dengan mata yang dikuasai ketakutan.
Melihat keadaan itu, Shion bisa memahaminya.
Menghadapi kekerasan mutlak itu, hati Nau telah patah sepenuhnya.
Mungkin ini pengalaman pertamanya dikalahkan telak tanpa bisa membalas sedikit pun. Atau mungkin, fakta bahwa Ars tidak ragu untuk membunuh dan sudah tidak lagi menunjukkan minat pada Nau, justru semakin memicu ketakutannya.
Iblis Tingkat Atas—keberadaan yang dalam artian tertentu berada di puncak rantai makanan, tiba-tiba menjadi tidak berdaya melawan manusia yang dipandangnya rendah, jadi wajar jika mentalnya hancur.
Setelah memahami alasan kenapa Nau menjadi jujur, Shion melontarkan pertanyaannya.
"Jadi, kenapa kau menyerang?"
"...Perintah 'Antitesis Buangan No. IV'."
"Kenapa mengincar kami?"
"Bukan kau. Tapi bocah itu—aku diminta menahan Ars."
"Untuk apa?"
"Entahlah... aku tidak tahu sampai sejauh itu."
Dugaan yang dipikirkan Shion tadi ternyata tidak salah.
Karena itu, dia tidak terkejut saat diberitahu jawaban yang sebenarnya, namun karena tidak mendapatkan jawaban intinya, ganjalan di hatinya tidak hilang.
"Kalau tujuannya menahan Ars, berarti targetnya bukan kita, tapi Karen atau Yulia, ya."
Memisahkan Ars, berarti mereka mengincar sosok yang akan menyulitkan jika Ars ada di dekatnya.
Jika begitu, kemungkinan besar yang diincar adalah Karen atau Yulia yang selalu bergerak bersama.
"Yulia sendirian tidak masalah, tapi kalau Karen yang diincar, aku khawatir."
Yulia pasti akan marah jika mendengar perkataan Shion ini.
Namun, karena tidak bisa menyangkalnya, Ars hanya bisa mengangguk.
"Karen sedang dalam masa pertumbuhan. Dia mungkin bisa menepis sebagian besar niat jahat, tapi kalau lawannya 'Antitesis Buangan', mungkin akan agak berat."
Jika Yulia bersamanya, keselamatan Karen bisa dibilang terjamin, tapi kalau mereka dipisahkan, tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Ars, bagaimana?"
"Ayo pulang. Situasinya belum jelas. Memastikan keadaan Yulia dan yang lain belum terlambat."
"Benar juga. Pemikiranku mungkin hanya kekhawatiran yang tidak berdasar. Mari kembali ke 'Villeut Sisters Lampfire' dulu."
"Lagipula, ini bukan Area Tinggi. Batu sihir 'Return' bisa digunakan, jadi kita bisa segera tahu apakah itu kekhawatiran tak berdasar atau bukan."
Ars memutuskan untuk pulang dan mengeluarkan cincin yang terukir koordinat 'Villeut Sisters Lampfire'.
Kemudian dia menggenggam batu sihir 'Return' yang dibeli di 'Badger's Nest'.
"Oi, apa aku sudah boleh pergi?"
Yang bertanya dengan nada bingung adalah 'Antitesis Buangan No. IX' Nau.
Karena sudah kehilangan minat, Ars dan Shion benar-benar melupakannya.
Menyerahkan keputusan pada Shion, Ars memberi isyarat mata, dan Shion mengangguk lalu mulai bicara.
"Ya, aku tidak akan mengambil nyawamu. Pergilah seka—!?"
Shion tidak bisa mengucapkan kata-katanya sampai akhir.
Itu karena Ars mendorongnya hingga jatuh.
Di atas kepala Shion yang kebingungan dan tidak mengerti apa yang terjadi, kata-kata Ars berjatuhan.
"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit? Kalau terluka jangan ditahan, bilang saja."
"E, aa... ti, tidak apa-apa."
Sambil mengeluarkan suara bengong, Shion berusaha keras mencerna situasi.
Lalu, beban di tubuhnya menghilang.
Dia mengerti bahwa Ars yang tadi menutupi tubuhnya telah berdiri.
Ars mengulurkan tangan, dan saat Shion tanpa sadar balas menggenggamnya, Ars membantunya berdiri.
"......Apa ini."
Shion yang sudah berdiri mengeluarkan suara tercengang.
Dari tempat Shion dan Ars berada tadi, debu tanah yang hebat membubung tinggi.
"'Antitesis Buangan No. IX' bagaimana?"
"Sepertinya mati."
Seolah menjawab keraguan Shion, Ars menunjuk ke suatu tempat.
Di lokasi yang sedikit melenceng dari batas debu tanah itu, terlihat potongan daging yang berserakan dengan mengenaskan.
"Sebenarnya apa yang..."
"Sepertinya ulah dia."
Debu tanah tersapu angin, dan jarak pandang berangsur-angsur membaik.
Pada saat itu, sosok yang menampakkan diri adalah monster raksasa yang panjang tubuhnya dengan mudah melampaui sepuluh meter.
"Manticore... kan?"
Secara tak terduga, Ars-lah yang mengeluarkan suara bingung.
Wajar saja.
Monster yang muncul di depan mata memiliki sosok yang persis sama dengan Manticore yang baru saja mereka kalahkan. Hanya saja, tubuh raksasanya benar-benar jauh lebih besar. Karena itu, mungkin muncul keraguan bahwa itu bukan monster yang sama.
"...Memang benar, tapi itu berbeda."
Shion menggelengkan kepala.
Dia sama sekali tidak mengerti mengapa makhluk itu muncul di tempat ini.
Ini bukan monster yang seharusnya ada di sini.
Seharusnya ini adalah monster yang hidup di bagian dalam 'Lost Land'.
"Ars, awas!"
Bersamaan dengan teriakan Shion, monster raksasa itu meraung.
Di mulut besarnya berderet taring tajam.
"Itu adalah Spesies Irregular Mutan!"
Monster itu adalah salah satu monster kuat yang mendiami Area Dalam.
——Maneater.
*
"Di sini...?"
Saat Yulia yang dipindahkan secara paksa membuka mata, di sana terbentang padang rumput yang luas.
Di kejauhan, cakrawala terlihat samar-samar berkabut.
Di antara rerumputan yang bergoyang tertiup angin, bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran mengintip, menyebarkan aroma lembut ke sekeliling.
Di tengah ladang bunga itu, sebuah meja dan kursi putih berdiri dengan tenang.
Pemandangan furnitur putih yang bersinar bermandikan sinar matahari itu berpadu sempurna dengan alam layaknya sebuah lukisan. Tempat yang dikelilingi padang rumput, cakrawala, dan bunga-bunga itu memancarkan keindahan seolah-olah tersesat di dunia fantasi.
"Fufuf, tempat yang indah, bukan?"
Saat Yulia mengarahkan pandangan karena terpancing suara itu, di sana Demon Lord Lilith sedang duduk di kursi.
"Silakan duduk. Ada sedikit hal yang ingin saya bicarakan."
Lilith mengulurkan tangan ke kursi di hadapannya, mempersilakan Yulia untuk duduk.
"...Permisi."
Pertarungan tidak dimulai secara tiba-tiba, dan tidak ada tanda-tanda akan diserang.
Sama sekali tidak menyangka akan diminta duduk, Yulia memasang ekspresi curiga, bertanya-tanya apa yang sebenarnya direncanakan Lilith.
Meski begitu, dia tidak menurunkan kewaspadaannya.
Pandangan Yulia tertuju pada setiap gerak-gerik lawannya.
Karena itu, menyerang lebih dulu demi kemenangan—dia sempat berpikir sesaat untuk memenggal lehernya, namun karena atmosfer yang anehnya tenang dan pemandangan indah di sekitar, niat itu sepenuhnya luntur.
Lagipula, karena sudah dikatakan ada hal yang ingin dibicarakan, Yulia bukanlah orang yang tidak tahu tata krama hingga mengabaikannya.
"Silakan."
Demon Lord Lilith menyodorkan cangkir. Uap teh hitam mengepul dengan anggun.
Pandangan Yulia bolak-balik antara cangkir dan wajah Demon Lord Lilith berkali-kali.
Di ekspresinya bercampur kewaspadaan dan kebingungan, dan keheningan sesaat mengalir di tengah aroma teh hitam yang menyeruak.
(...Apakah Karen dan Elsa baik-baik saja? Rasanya Iblis Tingkat Atas itu cukup ahli. Lagipula, apakah situasi ini ada artinya?)
Senyum penuh teka-teki Lilith masih tertuju pada Yulia.
Pikiran Yulia sangat kacau.
Tanpa bisa menangkap maksud sebenarnya, Yulia terus menatap cangkir yang diselimuti uap itu.
"...Apa yang sedang Anda pikirkan, Demon Lord Lilith?"
"Minumlah dulu tehnya. Tentu saja tidak ada racunnya. Silakan, saya akan senang jika Anda menikmatinya perlahan."
Yulia menyadari bahwa dirinya terbawa arus lawan.
Padahal sudah bicara sok hebat pada Karen, tapi sungguh menyedihkan saat dirinya sendiri menghadapi situasi mendadak malah jadi bingung. Namun, mungkin karena merasa muak pada diri sendiri, dia justru bisa mendapatkan kembali ketenangannya.
"...Terima kasih. Kalau begitu, saya minum."
Yulia menunjukkan keraguan sesaat, namun akhirnya membulatkan tekad dan meminum teh itu seteguk.
"...Enak."
Kesan jujur terucap dari mulutnya.
Memang benar, itu teh yang enak—aroma bunga yang lembut menyebar, rasa manis samar dan sepat yang menyegarkan berpadu dengan sempurna.
Mendengar kata-kata tulus itu, Lilith menyunggingkan senyum anggun dengan puas.
"Syukurlah. Daun teh ini adalah favorit saya, dan hobi saya adalah meminumnya sesekali di tempat ini."
"Kenapa Anda memanggil saya ke tempat ini?"
"Jawabannya seharusnya sudah Anda ketahui."
Lilith memberikan jawaban ambigu yang terdengar seperti teka-teki, atau mungkin provokasi.
Yulia mengerutkan alis, merasa kesal karena kendali dipegang lawan, namun tetap memikirkan makna sebenarnya dari perkataan Lilith.
Namun, jawabannya tidak segera ditemukan.
Karena itulah, dia memutuskan untuk mencari titik temu, mengaburkan kendali pembicaraan, dan memancing informasi dari Lilith.
"Tentang Ars, ya... Anda juga mengatakannya saat pesta perayaan. Bolehkah saya tanya kenapa Anda mengincarnya?"
Tidak mungkin dia menjawab dengan jujur.
Begitulah pikir Yulia, namun saat melihat senyum penuh kemenangan Lilith, dia sadar bahwa jawaban tak terduga akan terlontar.
"——Pembunuh Dewa."
Suara dingin bergema di udara, dan keheningan yang menyakitkan pun datang.
Di tengah tekanan aneh yang menguasai tempat itu, Yulia memiringkan kepala.
"Apa maksudnya? Apa itu Pembunuh Dewa?"
"Fufuf, Anda orang yang manis, ya."
Yulia tidak bisa menilai apakah perkataan Lilith itu pujian murni ataukah sindiran.
Karena itu, dia hanya terus menatap Lilith dalam diam seolah mendesaknya untuk melanjutkan.
Lalu, seolah berkata 'baiklah', dia mengangguk dan mulai menjelaskan pada Yulia.
"Apakah Anda tahu bahwa para Dewa itu ada?"
"Ya, saya tahu, tapi memangnya kenapa?"
Tanya jawab ini seperti sebuah pencocokan jawaban.
Gift adalah anugerah yang diberikan oleh para Dewa.
Ada tingkatan seperti Langka, Keturunan, dan Standar, dan jenisnya sebanyak jumlah Dewa yang ada.
Karena itu, tidak ada orang yang menyangkal keberadaan Dewa.
Terlebih lagi, untuk menggunakan Sihir Pamungkas—'Heavenly Domain Expansion', seseorang perlu diundang ke wilayah Dewa yang memberikan Gift tersebut. Di sana, setelah dianugerahi Norito—mantra oleh Dewa, barulah seseorang bisa menguasai 'Heavenly Domain Expansion'.
Namun, jalan itu sangatlah terjal.
Tidak semua orang bisa menguasai 'Heavenly Domain Expansion'.
Hanya mereka yang telah membangkitkan Gift dan terpilih yang bisa mendapatkan kekuatan tertinggi itu.
Singkatnya, pertanyaan Demon Lord Lilith ditujukan kepada orang yang telah menguasai 'Heavenly Domain Expansion'.
Konfirmasi bagi mereka yang pernah bertemu Dewa secara langsung, dan jawaban Yulia juga mengandung makna tersebut.
"Kalau begitu, pembicaraannya jadi lebih cepat."
Lilith mengambil satu kue kering yang disiapkan di tengah meja dan menggigitnya.
"Para Dewa bukanlah keberadaan yang akan mengabulkan permohonan. Anda juga tahu hal itu, bukan?"
"Ya, para Dewa memang meminjamkan kekuatan, tapi mereka tidak berniat mengabulkan permohonan."
"Dan, takdir manusia ditentukan oleh para Dewa. Bagaimana cara lolos dari samsara itu, bagaimana cara melawannya, hanya ada satu cara."
——Membunuh Dewa.
Bahu Yulia gemetar.
Mata yang menatap Lilith itu meragukan kewarasannya.
"Saya harap Anda tidak menatap saya dengan mata seperti itu. Lalu, untuk menguasai 'Heavenly Domain Expansion', Anda tentu tahu caranya, kan?"
"Dialog dengan Dewa, lalu mantra yang dianugerahkan menjadi rapalan, dan mencapai 'Heavenly Domain Expansion'."
"Tepat. Ternyata Anda juga begitu, ya. Sama seperti saya."
Lilith tertawa riang.
Namun, daripada merasa kesal, Yulia justru tertarik dengan isi pembicaraannya.
"Bukankah semua orang sama? Pasti melakukan kontak dengan Dewa."
"Mungkin Anda berpikir begitu, tapi meski prosesnya sama, hasilnya berbeda. Artinya, ada juga pengecualian."
"Pengecualian?"
"Fufuf, seperti yang saya bilang tadi, terkadang ada orang yang membunuh Dewa yang menganugerahkan 'Heavenly Domain Expansion'."
"Jadi itu terhubung dengan pembunuhan Dewa yang tadi, ya... Tapi, membunuh Dewa itu seharusnya mustahil. Terlebih lagi, kita hanya bisa bertemu Dewa saat diundang ke wilayah suci, bagaimana caranya membunuh mereka di wilayah mereka sendiri?"
Menanggapi keraguan Yulia, Lilith membuka suara.
"Ara, Anda tidak tahu? Ada cara untuk membedakan orang yang telah membunuh Dewa, lho."
Sambil menggetarkan tenggorokan bagaikan lonceng, Lilith menyunggingkan senyum riang.
"Apa itu sebenarnya...?"
"——Kualitas Mana."
Wajah Yulia berubah.
Lalu, saat memasang ekspresi tersadar,
"Kalau begitu, Magic Emperor adalah—!"
Perkataan Yulia yang hendak melanjutkannya terpotong.
Sebab, Lilith yang tadi ada di hadapannya tiba-tiba menghilang, lalu muncul di belakang dan menempelkan jari di bibir Yulia.
"Sesuai dugaan Anda. Dia adalah pembunuh Dewa yang pertama."
Fakta yang mengejutkan—namun, Yulia segera mendapatkan kembali ketenangannya.
Sebab, itu bukanlah hal yang aneh.
Magic Emperor yang memberontak melawan para Dewa, pertarungan itu membawa kerusakan besar bagi dunia.
Maka, tidak aneh jika beberapa Dewa menjadi korban.
"Kenapa para Elf memuja 'Magic Emperor' dengan sebutan 'Black Star: Flaven Earth'?"
Bibir Lilith yang melingkarkan kedua lengan di leher Yulia bergerak di dekat telinganya.
"Kenapa Miasma di 'Lost Land' sampai bisa menggerogoti manusia, itu adalah bukti kematian para Dewa."
Bersamaan dengan tawa yang memikat, napas manis dihembuskan ke telinga Yulia.
"Kalau dibilang sampai sejauh ini, Anda paham, kan?"
"...Apakah itu artinya Ars yang diselimuti Mana mirip Miasma juga sama?"
Siapa pun yang merasakan Mana Ars dari dekat pasti akan merasa janggal karena keanehannya yang luar biasa.
Baik mereka yang pernah melawannya, maupun Yulia dan yang lain, juga berpikir ada misteri di balik Mana miliknya.
"Tebakan bagus, itulah bukti telah membunuh Dewa."
Mudah untuk menganggap jawaban Lilith sebagai kebohongan.
Namun, tidak ada satu pun bahan untuk menyangkalnya.
Terlebih lagi, dia pernah sekali melihat sosok yang tampak seperti Dewa milik Ars.
Bukan kebetulan. Banyak orang pasti telah menyaksikan sosok wanita itu.
Dalam wujud terbelenggu, memancarkan aura Dewa yang dahsyat, dan menciptakan keajaiban bagi mereka yang sekarat.
"Kalau begitu, alasan Anda mengincar Ars adalah—mmph!?"
Yulia hendak mengucapkan jawabannya, namun mulutnya dibekap oleh tangan Lilith.
Lalu, dia kembali berbisik manis di dekat telinganya.
"Tunggulah. Mumpung ada kesempatan, akan saya beritahu."
Tiap kali Lilith merangkai satu kata, dua kata, tiga kata di telinga Yulia, mata Yulia terbelalak semakin lebar.
Akhirnya, Lilith yang telah menyampaikan semuanya menjauh dari Yulia.
"Karena itulah, saya sangat menginginkan Ars-san apa pun yang terjadi."
Setelah mendengar kata-kata terakhir yang ditambahkan itu, Yulia bangkit dari kursinya.
Saat menoleh, Demon Lord Lilith berdiri dengan sikap wajar di tempat yang berjarak.
Keheningan menyelimuti sekitar, dan senyum Lilith yang memikat serta menawan semakin melebar.
"Kalau begitu, Yulia-san, mari kita selesaikan ini."
Dengan tenang, Demon Lord Lilith mengarahkan pedang cambuknya ke arah Yulia.
Yulia pun mengangkat pedang panjangnya.
"Ya, Demon Lord Lilith. Demi hal yang tak bisa kita relakan masing-masing, mari kita selesaikan di sini."
*
——Pembunuh Dewa.
Grimm merasa terguncang.
Sampai-sampai dia tanpa sadar menghentikan serangannya.
Begitu sulit dipercaya kata-kata yang terlontar dari mulut orang tua itu.
"Kakek, bercandamu keterlaluan, tahu."
Grimm meletakkan senjata andalannya, sabit besar, di bahunya sambil tersenyum kecut.
Namun, ekspresi Schlaht yang berdiri di hadapannya benar-benar serius.
"Mana mungkin aku mengatakan hal seperti itu sebagai candaan."
Grimm terus bertahan di 'Area Terdalam' dari 'Lost Land' hari ini pun demi menguasai 'Heavenly Domain Expansion'.
Dan dia sedang diajari cara mempelajarinya oleh Schlaht, tapi tiba-tiba orang tua itu melontarkan kalimat berbahaya.
"Dengar, ada beberapa cara untuk mencapai 'Heavenly Domain Expansion'. Yang paling pasti adalah berdialog dengan para Dewa dan dianugerahi 'Heavenly Domain Expansion'."
"Kakek, kau bicara gampang saja. Justru itu yang paling sulit. Kalau bisa bertemu Dewa dengan mudah, aku tidak akan susah payah."
"Benar juga. Kalau tidak, kau tidak akan datang ke tempatku, kan."
Sambil mengelus janggutnya, Schlaht tertawa geli.
Grimm merasa kesal dengan kata-kata sindiran itu.
Namun, karena itu fakta, dia menahannya meski ingin melontarkan makian.
Dia harus bersabar.
Jika dia membuat suasana hati Schlaht buruk, jalan harapan Grimm akan terputus.
"Akan tetapi. Dulu ada satu orang yang menentang Dewa."
Meski tidak dikatakan dengan berbelit-belit, jika dikatakan menentang Dewa, hanya ada satu tokoh yang terlintas di benak.
Namun, Grimm tidak mengucapkan jawabannya.
Karena dia merasa tidak seharusnya menyela di sini.
"Orang itu dikatakan merebut kekuatan Dewa dan mencapai 'Heavenly Domain Expansion'."
Schlaht menusuk kayu bakar dengan ujung senjatanya—sebuah Katana—dan melemparkannya ke dalam api unggun.
Meskipun itu Katana berkualitas tinggi yang bisa diketahui hanya dalam sekali lihat, Grimm mengerutkan kening melihat Schlaht memperlakukannya dengan kasar.
"Oi, oi, Katana itu senjata langka, kan? Bukankah sebaiknya digunakan dengan lebih hati-hati?"
Ditegur oleh Grimm, Schlaht mengarahkan Katana itu ke cahaya api unggun.
Mata pedang bajanya memadukan ketajaman dan kehalusan, memanjang lurus dan membentuk kurva yang indah.
Meski diperlakukan kasar, perawatannya tampaknya tidak diabaikan, dan keindahannya membuat hati bergetar.
"Anak ini, ya. Kalau tidak dipakai begini dia bakal ngambek. Sepertinya dia tidak sabar ingin mengurusku. Kalau disimpan baik-baik, dia malah tidak akan bisa memotong apa pun."
Bunga api berhamburan seolah menjawab ucapan Schlaht.
Schlaht mengikuti cahaya kecil yang naik tinggi ke langit dengan matanya.
Saat Grimm ikut menengadah ke langit, langit biru tanpa awan terbentang di sana.
"Yah, kalau senjatanya menginginkan itu, aku tidak bisa bicara apa-apa lagi."
Itu logika yang tidak terlalu dipahami Grimm, tapi dia merasa jika ikut campur lebih jauh dia tidak akan bisa kembali. Karena itu, Grimm memutuskan untuk mengembalikan topik pembicaraan.
"Jadi, kelanjutan ceritanya?"
"Umu. Jika menantang Dewa dan kalah, nyawa akan melayang, tapi orang itu menang."
Schlaht mengembalikan pandangannya pada Grimm dan tertawa.
"Cuma satu orang, hanya satu orang."
Pria yang dulu menyerukan hegemoni di dunia dan memberontak melawan para Dewa.
Dia juga adalah keberadaan yang disebut Pembunuh Dewa.
"Kau pasti sudah tahu."
Schlaht mengeluarkan buku catatan yang sudah usang dari balik bajunya.
"Pembunuh Dewa yang pertama—itu adalah Magic Emperor."
Saat Grimm melihat buku catatan itu dengan ekspresi curiga, Schlaht mengangkat sudut bibirnya.
"Ini. Adalah memoar yang ditulis oleh seseorang."
"Apa isinya?"
"Banyak halaman yang dimakan serangga, tahu. Benar-benar butuh usaha untuk memecahkan kodenya."
"Ternyata kau punya hobi seperti itu, ya."
"Begini-begini, sebelum menjadi penyihir aku ingin menempuh jalan arkeologi, lho."
Karena pria yang bertahta di puncak para Demon Lord mengungkapkan hobi yang tak terduga, Grimm membelalakkan matanya.
Namun, Grimm yang teringat riwayat hidup Schlaht mengangguk tanda mengerti.
"Ah, ngomong-ngomong, kau memang telat berkembang, ya."
"Soalnya ada banyak hal yang terjadi."
Schlaht menyipitkan mata mengenang masa lalu yang jauh, sementara Grimm menggaruk kepala belakangnya sambil menghela napas.
"Kakek, mengenang masa lalu sih boleh saja, tapi beritahu aku isi buku harian memalukan itu."
"Isinya tidak memalukan, kok."
"Hah, tidak ada yang lebih memalukan daripada dibaca oleh manusia generasi mendatang, kan."
"...Itu memang benar."
Karena perkataan Grimm masuk akal, Schlaht mengangguk.
Lalu dia berdeham satu kali seolah ingin mengubah suasana.
"Di sini tertulis, lho. Kronologi bagaimana Magic Emperor sampai disebut Pembunuh Dewa."
Setelah mengatakannya, Schlaht menyimpannya kembali ke balik baju dengan hati-hati.
"Oi, bukannya kau mengeluarkannya untuk menyuruhku membacanya?"
"Jangan bicara bodoh. Masih terlalu cepat untukmu. Kalau kau sudah lebih kuat, akan kubiarkan kau membacanya."
"Hah, boleh juga, jadi, apa alasanmu memperlihatkan buku catatan itu padaku?"
"Di sini juga tertulis tentang hal di luar 'Heavenly Domain Expansion' yang kau bicarakan itu."
"Oi oi, apa buku harian itu milik Magic Emperor!?"
"Bukan. Ini ditulis oleh penenun sejarah yang menyedihkan."
——Catatan tangan White Saint.
"Hah?"
Schlaht tersenyum kecut pada Grimm yang tanpa sadar melongo.
"Fuh, masih terlalu dini bagimu untuk mengetahuinya. Pertama-tama, kuasailah 'Heavenly Domain Expansion'."
Schlaht melentingkan tubuhnya, lalu menebas ke arah Grimm dengan kecepatan yang tak terbayangkan untuk seorang kakek tua.
Dimulainya kembali latihan secara tiba-tiba, namun, Grimm memamerkan giginya tanpa merasa gentar.
"Boleh juga. Kakek! Akan kukirim kau ke alam baka!"
*
Bukit kecil—di bawah sana terhampar karpet hijau yang bergoyang tertiup angin.
Di kejauhan sana terlihat Istana Kecantikan, 'Semprema', yang mengapung bagaikan ilusi.
Dinding putih kapur bersinar diterangi matahari.
Cahayanya mewarnai pemandangan sekitar dengan megah, dan menerangi kota yang terhampar di dunia bawah.
Mereka berkumpul di atas bukit kecil di mana 'Helheim' bisa terlihat sejauh mata memandang.
"'Antitesis Buangan No. IV' Charle, telah hadir."
"'Antitesis Buangan No. II' Dovie, telah hadir."
Saat kedua 'Antitesis Buangan' itu berlutut, gerombolan Iblis yang berdiri di belakang juga bersujud secara serentak.
Di depan sana, seorang pria berdiri.
Dia diselimuti aura raja yang agung, memiliki kewibawaan yang membuat orang tunduk tanpa bantahan.
"Kerja bagus."
Pria yang memuji dengan singkat itu bernama 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl.
Pria yang bertahta di puncak 'Antitesis Buangan' dan terkenal sebagai yang terkuat.
Hanya dengan mengucapkan sepatah kata, tekanan dahsyat menyerang seluruh Iblis.
Dia tidak bermaksud mengintimidasi.
Itu hanya karena kemampuan mutlak yang dimiliki Hajarl—Mana miliknya terlalu besar.
"Sepertinya jumlahnya kurang... bagaimana dengan nomor lainnya?"
Yang menjawab pertanyaan Hajarl adalah Charle.
"No. VI tewas bersama No. III. No. V dibebaskan tapi kali ini tidak dibawa. No. IX sedang mengurus bocah itu, sisanya sedang berpatroli."
"Begitu, selama tidak mengganggu rencana, tidak masalah."
'Antitesis Buangan No. I' Hajarl menengadah ke langit dan tertawa terbahak-bahak.
"Kukkakaka, kami telah kembali!"
Di ujung pandangan Hajarl, kota besar yang indah bertahta dengan megah.
Satu-satunya surga di tanah yang keras, 'Helheim'.
Meski berkali-kali menghadapi krisis kehancuran, kota itu selalu bangkit, diperluas, dan berkembang.
Namun, setelah ratusan tahun berlalu, Iblis yang dibesarkan di dalam tembok menjadi keberadaan yang rapuh.
"Tiba saatnya menghancurkan sangkar penuh kebencian yang mengurung dan melemahkan kita, kaum Iblis."
Ras menyedihkan yang melindungi ras lain di 'Lost Land' padahal dipersekusi di 'Dunia Luar'. Tidak ada keberadaan yang lebih konyol daripada Iblis yang bertingkah seolah bebas padahal hanya bisa hidup di dunia terbatas ini.
"Dipasangkan kalung leher secara paksa, Mana terus diserap, dan kebebasan dirampas sepenuhnya. Tiba saatnya membebaskan saudara-saudara kita yang bodoh dan menyedihkan itu."
"Akan tetapi, Tuan Hajarl. Six Desire Heavens masih ada, bagaimana?"
Yang bertanya ke punggung Hajarl adalah 'Antitesis Buangan No. IV' Charle.
"Ratu Hel tidak ada. Ajudannya, Sebas, juga tidak ada. Itu sudah cukup, kan."
Kekecewaan terpancar di mata Hajarl yang menoleh.
"Atau jangan-jangan, kalian tidak bisa membereskan sekedar Six Desire Heavens?"
Six Desire Heavens adalah kekuatan tempur tertinggi 'Helheim'.
Memang benar mereka kuat, tapi menghadapi mereka pasti lebih mudah daripada menghadapi Ratu Hel atau Sebas.
"...Bukan, bukan itu maksud saya..."
Melihat Charle yang bingung, 'Antitesis Buangan No. II' Dovie mendengus.
"Hmph, tidak perlu takut pada Six Desire Heavens. Biar aku yang menghadapi semuanya pun tidak masalah."
"Kalau begitu, beritahu para Iblis yang terlena dalam kenyamanan itu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menghancurkan."
Saat Hajarl mengatakannya, Dovie mengangguk dan mengangkat satu tangan.
"Wahai pasukanku. Rebut kembali surga kita."
Saat Dovie menyerukan perintah, para Iblis yang berkumpul di belakang berlari menuruni bukit kecil secara serentak. Sosok mereka terkoordinasi layaknya satu makhluk hidup.
Suara langkah kaki yang mengguncang bumi bergema, dan api tekad membara di mata mereka.
'Helheim' ada di depan mata.
Hanya itu sudah cukup untuk membakar semangat mereka.
'Antitesis Buangan No. I' Hajarl yang menatap sosok itu dengan puas mulai melangkah.
Namun, arah yang ditujunya bukanlah 'Helheim'.
"Sisanya kuserahkan padamu."
"Hajarl, kau mau ke mana?"
Saat Dovie memanggilnya, Hajarl menoleh dengan senyum buas.
"Ke tempat untuk mengakhiri segalanya."




Post a Comment