Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 3
Geliat
Seiring terbitnya matahari, aktivitas manusia berangsur-angsur menjadi semakin hidup.
Meski kedatangan musim panas sudah di depan mata, pagi hari masih terasa dingin, membuat orang-orang merasa enggan untuk beranjak dari kasur di musim yang serba tanggung ini.
Kedai minum yang ramai hingga tengah malam—'Villeut Sisters Lampfire'—kini juga diselimuti keheningan.
Meski begitu, di dapur, orang-orang yang membuat sarapan sudah bergerak dengan sibuk.
Para Schuler yang biasanya berisik pun kini tampak tenang, mungkin karena rasa kantuk pagi masih tersisa, dan di aula, orang-orang yang menyantap sarapan berkumpul dalam diam.
Di antara mereka juga terdapat sosok Ars dan teman-temannya.
Mereka menempati meja yang menjadi posisi tetap mereka seperti biasa, dan yang menata hidangan adalah Elsa, yang hari ini pun bangun pagi-pagi untuk melakukan persiapan.
"Ngomong-ngomong, apa hari ini kalian ada rencana?"
Saat sedang makan dalam diam, mungkin karena bosan dengan keheningan, Karen membuka suara.
"Aku tidak ada rencana apa-apa. Kalau senggang, aku berencana pergi ke Menara Babel untuk melihat-lihat."
Menara Babel berisi berbagai macam toko dari lantai dua ke atas. Karena itu, jika penduduk Kota Sihir memiliki waktu luang, mereka akan mengunjungi Menara Babel di mana segala sesuatu tersedia.
"Ars sedang luang, ya. Yang lain bagaimana?"
"Aku sih berniat tidur lagi setelah sarapan."
"Bukan, bukan, kamu kan bukan bayi... jadi Shion juga sedang luang, ya."
Menanggapi ucapan Shion yang seperti biasa menumpuk piring kosong di atas meja, Karen memasang wajah tak habis pikir namun tetap memasukkannya ke dalam kelompok tanpa membiarkannya membantah.
"Aku juga tidak masalah. Hari ini aku berniat menghabiskan waktu bersama Ars... bagaimana dengan Elsa?"
Saat Yulia bertanya, Elsa mengangguk.
"Ya. Saya berniat mengurus Ars-san hari ini, jadi jika bergerak bersama-sama tidak ada masalah."
"Ya. Sebenarnya ada banyak yang ingin kukatakan, tapi intinya semua sedang luang ya. Kalau begitu, ayo kita pergi berlima setelah sekian lama. Kalau ada tempat yang ingin dituju atau harapan tertentu, bilang saja, ya."
Saat Karen berkata dengan semangat, Gretia dari Schuler mendekat ke sana.
"Ars-san. Ada pegawai Asosiasi Sihir yang datang mencari Anda."
"Mencari aku?"
"Ya. Saya sudah memintanya masuk ke kedai, jadi saya akan memintanya ke sini."
Gretia berkata begitu lalu mengangkat tangan ke arah wanita yang menunggu di pintu masuk.
Saat Ars berdiri, wanita itu pas sekali sedang mendekat.
"Terima kasih untuk yang kemarin."
Wajah pegawai Asosiasi Sihir yang menunduk itu terlihat familier.
"Ya, Elemita, ya. Ada apa sampai repot-repot datang hari ini?"
"Maaf atas kunjungan yang mendadak ini. Karena saya ingin menyampaikannya sesegera mungkin, saya jadi datang ke sini."
Dengan ekspresi tersipu, Elemita menyodorkan amplop kepada Ars.
"Apa ini?"
"Permintaan promosi guild telah diterbitkan untuk Ars-sama."
"Bohong!? Sudah!?"
Yang berdiri dengan ekspresi terkejut adalah Karen.
Kepada Karen, Elemita mengangguk.
"Ya. Jika menyelesaikan permintaan promosi ini, urutan akan menjadi tiga digit, dan naik dari Peringkat D menjadi Peringkat C."
"Ternyata guild ada peringkatnya, ya."
"Mohon maaf. Saya lupa menjelaskannya kemarin."
Saat Ars memiringkan kepala, Elemita menunduk.
"Sebutan urutan satu digit atau empat digit terkadang tidak berlaku di negara lain, jadi empat digit disebut Peringkat D, tiga digit Peringkat C, dua digit Peringkat B, dan satu digit Peringkat A. Jadi, jika permintaan promosi guild kali ini berhasil diselesaikan, urutan akan naik ke tiga digit, dan menjadi Peringkat C."
Artinya sama dengan Tingkatan.
Bagi penyihir yang tergabung dalam Asosiasi Sihir, terdapat urutan dua belas tahap yang disebut Tingkatan, namun di saat yang sama juga ditetapkan klasifikasi tingkatan (Kelas).
Tingkat 1 adalah Penyihir Kelas S, Tingkat 2 adalah Penyihir Kelas A, Tingkat 3 hingga 5 adalah Penyihir Kelas B, Tingkat 6 hingga 9 adalah Penyihir Kelas C, Tingkat 10 hingga 12 adalah Penyihir Kelas D.
Yang menggunakan klasifikasi kelas untuk penyihir adalah negara-negara yang tidak familier dengan sistem Tingkatan.
Tingkatan adalah urutan yang dibuat sendiri oleh Asosiasi Sihir, sedangkan negara lain membedakan kekuatan penyihir dengan klasifikasi kelas. Karena baik Kelas maupun Tingkatan sudah ada sejak dulu, di Asosiasi Sihir keduanya bisa digunakan, namun ada negara yang hanya mengerti sistem Kelas. Karena itulah peringkat guild pasti dibuat dengan alasan yang sama.
"Kalau jadi Peringkat C, apakah permintaannya juga berubah?"
"Ya. Anda akan bisa menerima permintaan Area Menengah atau Area Tinggi—permintaan Tingkat 4 hingga Tingkat 3."
"Peringkat tiga digit papan atas itu tidak beda jauh dengan dua digit, jadi bisa menerima permintaan Area Tinggi juga, lho."
Karen-lah yang menambahkan penjelasan Elemita.
Dia berjalan menghampiri Ars lalu menepuk kedua bahunya.
"Bagus, kan. Kemarin didirikan dan hari ini sudah dapat permintaan promosi, bukankah ini belum pernah terjadi sebelumnya?"
"Begitukah?"
Karen menyampaikannya dengan bersemangat, tapi Ars yang kurang paham apa hebatnya hanya memiringkan kepala dengan tanda tanya di wajahnya.
"Nona Elemita, apakah yang dikatakan Karen itu benar?"
Saat Shion bertanya pada pegawai itu, Elemita mengangguk.
"Ya. Benar seperti yang dikatakan Karen-sama. Ada rekor satu minggu sejak pendirian—namun, peringkat naik hanya dalam waktu kemarin dan hari ini adalah hal yang pertama kali terjadi. Hanya saja untuk kasus kali ini, karena Ars-sama adalah 'Tingkat 4', dan wakilnya Shion-sama adalah mantan 24 Council Keryukeion, pihak atas mempertimbangkan bahwa tempat berburu saat ini kurang memadai."
Meski Elemita menjelaskan dengan datar, karena ini kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, suaranya terdengar menyiratkan sedikit semangat.
"Jadi, meski mendadak, permintaan promosi peringkat telah diterbitkan. Bagaimana Ars-sama, apakah Anda bersedia menerima permintaan ini?"
"Ya, aku terima. Jujur saja, Area Rendah terasa kurang menantang."
"Kalau begitu, silakan periksa isi amplop yang tadi saya berikan untuk melihat detail permintaannya. Saya permisi dulu."
Nona Elemita menunduk lalu meninggalkan 'Villeut Sisters Lampfire'.
Setelah mengantarnya dengan pandangan, Ars duduk kembali di kursinya. Lalu, tatapan semua orang tertuju pada amplop di tangannya.
"Hei, permintaannya seperti apa?"
Karen berjalan ke belakang Ars dan meletakkan tangan di bahunya.
Bereaksi terhadap pertanyaan itu, Ars membuka amplop, mengeluarkan surat permintaan di dalamnya, dan memeriksanya.
"Lokasinya di Area Rendah—tapi, ini penaklukan Penguasa Wilayah."
"Hee..."
Karen menumpukan dagu di bahu Ars dan mengintip surat permintaan. Namun, setelah memeriksa isinya, dia memasang ekspresi aneh. Ars yang melihatnya dari sudut mata tampak bingung.
"Ada apa? Wajahmu aneh begitu, apa ada yang ganjil?"
"Harus bilang bagaimana, ya... hmm, ini bukan permintaan biasa, lho."
"Apa maksudnya? Karena ini permintaan promosi peringkat, wajar saja kalau tidak biasa, kan?"
"Ah... bukan itu maksudnya. Bagi Ars yang sekarang, penaklukan Penguasa Wilayah Area Rendah itu perkara mudah, kan? Makanya mungkin kamu tidak merasa aneh, tapi biasanya tingkat kesulitannya lebih rendah, seperti penaklukan sepuluh Cyclops atau pengumpulan material."
Karen mengerang sambil menekan-nekan bahu Ars dengan ujung dagunya. Hal itu membuat rambut belakang Karen bergoyang dan aroma manisnya menyebar di sekitar.
"Hmm... lagipula seingatku permintaan promosi guild kami juga cuma penaklukan sepuluh Cyclops. Jujur saja, menyuruh guild baru menaklukkan Penguasa Wilayah itu terlalu nekat, kan."
"Apa mungkin targetnya jadi Penguasa Wilayah karena penilaian individual?"
Ars adalah 'Tingkat 4', dan Shion adalah 'Tingkat 3'. Jika mempertimbangkan hal itu, penaklukan Penguasa Wilayah tampaknya wajar. Namun, Karen sepertinya tidak puas, ekspresi manisnya tetap terlihat muram.
"Entahlah. Apa perlu sengaja dijadikan Penguasa Wilayah? Bagi Ars, sepuluh Cyclops dan penaklukan Penguasa Wilayah Area Rendah tidak ada bedanya, kan?"
Intinya, Karen ingin mengatakan bahwa ini adalah permintaan yang serba tanggung.
Jika mempertimbangkan kemampuan Ars dan kawan-kawan, menetapkan Penguasa Wilayah Area Tinggi adalah hal yang wajar.
Meski begitu, instruksi menaklukkan Penguasa Wilayah Area Rendah itu sama saja dengan menaklukkan Cyclops. Karena ada masalah jarak juga, wajar jika ini dianggap sekadar gangguan.
"Kalau dipikir-pikir benar juga, sih..."
"Yah, soal masalah jarak, aku akan pinjamkan cincin yang terukir koordinat Penguasa Wilayah, jadi pakai saja batu sihir 'Teleportasi'."
"Tidak, ini permintaan promosi guild-ku. Kami akan coba menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri dulu."
Seharusnya itulah jalan yang benar.
Meminta bantuan Karen dan yang lain rasanya agak kurang tepat.
"Lagipula, menumpang markas saja ceritanya sudah aneh, kok. Padahal tidak perlu sungkan."
Karen memanyunkan bibir seolah merajuk, lalu menjauh dari Ars dan duduk di kursinya sendiri.
Tak bisa membantahnya, Ars hanya mengangkat bahu.
"Lagipula berburu di Area Rendah mungkin ini yang pertama dan terakhir. Jadi aku ingin menikmatinya selagi bisa."
Di Area Rendah banyak monster raksasa, jadi secara penampilan memang terasa mengintimidasi, tapi saat benar-benar dilawan, sering kali kekuatannya di bawah ekspektasi.
Area Rendah benar-benar kurang menantang dan tidak memuaskan.
Karena itu, di masa depan, kecuali ada permintaan paksa, tidak akan ada kesempatan lagi mengunjungi Area Rendah.
"Selain itu, aku akan mengambil permintaan lain dan mengumpulkan material."
Dana guild juga diperlukan.
Tidak mungkin selamanya menumpang markas.
Sepertinya ada properti yang ingin dibeli Shion, tapi karena harganya lumayan mahal, dia ingin mengumpulkan dananya.
"Yah, berjuanglah mulai besok."
"Tidak, aku akan pergi hari ini. Elemita sudah repot-repot mengantarnya pagi-pagi, kan."
"Hah!? Bukannya kita sudah janji akan pergi bersama hari ini!"
"Aku pasti akan menebusnya nanti, jadi maafkan aku."
Saat Ars menyatukan kedua tangan meminta maaf, Karen menghela napas bercampur heran.
"............Ya sudahlah. Lain kali kita harus benar-benar pergi bersama, lho."
"Maaf, sungguh."
"Sudah tidak usah minta maaf lagi, sebagai gantinya kalau nanti kamu membelikanku sesuatu sebagai permintaan maaf, masalah selesai."
"Ya, aku akan belikan barang yang kamu suka."
"Hmm, begitu ya... boleh beli barang yang aku suka, ya."
Di wajah Karen tersungging senyum licik, namun Ars melewatkannya karena dia sedang berdiri.
"Tolong pikirkan apa yang kamu inginkan."
"Baiklah. Ars, berjuanglah mencari uang, ya."
Ars yang menerima senyuman terbaik hari ini, entah kenapa merasakan hawa dingin di punggungnya, namun dia tidak tahu penyebabnya. Shion menatap Ars dengan tatapan kasihan, namun Ars tidak mengerti mengapa dia ditatap seperti itu.
"Apa ada sesuatu di wajahku?"
Berpikir mungkin ada sisa sarapan yang menempel, Ars menutup mulut dengan tangannya, namun Shion menggelengkan kepala menyangkalnya.
"Tidak, wajahmu bersih seperti biasa kok. Daripada itu, kita harus mencari uang. Ayo segera berangkat."
"Ara, Shion juga ikut?"
"Kalau membiarkan Ars pergi sendiri, tidak tahu kapan dia akan pulang."
"Benar juga, ya. Pilihlah permintaan yang bayarannya bagus dengan cermat."
Entah kenapa tertekan oleh senyuman Karen yang mengintimidasi, Shion mengangguk.
"A, aku mengerti. Aku akan menyeleksi permintaan dengan ketat agar Karen bisa membeli barang yang disukainya."
"Kupercayakan padamu, ya. Ars juga harus mendengarkan perkataan Shion dengan baik."
"............Aa."
Merasa ada sesuatu yang mengganjal seperti duri ikan tersangkut di tenggorokan, Ars hanya bisa memberikan anggukan samar. Ars mencoba mencari tahu apa penyebabnya, namun Karen tidak memberinya waktu untuk berpikir.
"Kalau begitu, kalian berdua hati-hati di jalan ya~"
Saat Karen melambaikan tangan dengan penuh semangat, Ars pun tidak dalam suasana bisa mengatakan apa-apa lagi, jadi dia balas melambaikan tangan lalu keluar bersama Shion dari 'Villeut Sisters Lampfire' seolah diusir.
Setelah mengantar kepergian mereka, Karen mengalihkan pandangan kepada Yulia dan Elsa yang tertinggal.
"Sayang sekali berkurang dua orang, tapi ayo kita ubah suasana hati. Kalau sudah begini, ayo kita bersenang-senang hari ini sampai Ars dan Shion iri! Jadi, Onee-sama dan Elsa, ada tempat yang ingin dikunjungi?"
Sebagai sesama pengelola guild, Karen sangat memahami keinginan untuk menaikkan peringkat guild secepatnya. Meski sayang, tapi apa boleh buat, jadi dia mengubah pola pikirnya untuk menikmati hari ini bertiga saja bersama Yulia dan Elsa setelah sekian lama.
Karena itu, dia menatap kakaknya, Yulia, namun Yulia dan Elsa saling berpandangan dan mengangguk.
Karen merasakan firasat buruk dan memperhatikan gerak-gerik kakaknya, namun tiba-tiba Yulia berdiri.
"Eh... Onee-sama, ada apa?"
"Karen, maaf. Aku juga ada urusan."
"Bohong, kan. Kenapa tiba-tiba!?"
Lebih cepat dari Karen menanyakan alasannya, Yulia membawa Elsa dan naik ke lantai dua.
"Cepat banget!? Tunggu... Onee-sama... Tunggu—Elsa... Eeh~..."
Karen hanya bisa terpaku melihat kejadian yang berlangsung sekejap mata itu.
Di sebelah Karen yang memasang wajah bodoh itu, Gretia dari Schuler berhenti.
"Lehrer, ada apa?"
Di tangannya ada kue stroberi. Kue spons lembut yang diolesi krim manis tebal dan dihiasi stroberi merah cerah.
Artinya, itu hidangan penutup setelah sarapan—melihat itu, Karen dengan sigap merebutnya.
"Tunggu, Lehrer apa yang Anda lakukan!?"
"Hmph, kalau semua orang mengabaikanku, aku juga akan melakukan sesukaku!"
"Tunggu, jangan melampiaskannya padaku dong!?"
"Berisik, berisik! Daripada itu, Gretia ikut aku. Hari ini kita akan keliling makan kue!"
Karen memakan kue rampasannya dalam dua suapan, dan dengan krim masih menempel di sudut bibir, dia mencengkeram leher Gretia yang kebingungan dan menyeretnya ke pintu keluar.
"To, tolong aku!"
Begitu tertangkap kekuatan super Karen, tamatlah riwayatnya. Para Schuler lain yang ingin menghindari menjadi korban memalingkan wajah dari Gretia.
"Orang-orang tak punya hati! Tolong teman kalian dong!"
"Kenapa menolak sih. Aku traktir lho, harusnya kamu berterima kasih. Sebagai gantinya kamu harus menemaniku makan pelampiasan!"
"Lehrer sih enak tubuhnya tidak bisa gemuk walau makan sebanyak apa pun, tapi aku kan beda, jadi tolong lepaskan! Waktu itu juga dipaksa menemani makan pelampiasan, susah payah lho mengembalikan berat badannya!"
"Tenang saja. Nanti aku ajak berburu bareng, itu cukup buat diet, kan."
Di tengah jeritan dan bentakan yang bersahutan, Karen membawa Gretia dan menghilang.
*
Kota Sihir—Menara Babel.
Demon Lord Lilith memandang dunia bawah dari kamarnya yang terletak di Menara Babel.
Di ruangan yang dipenuhi perabotan mewah, lampu gantung megah berkilauan dari langit-langit, dan satu sisi dinding terbuat dari kaca. Di ujung pandangannya, terbentang Distrik Hiburan.
Distrik Hiburan yang berisik di malam hari, saat siang hari lalu lalang orang menjadi sedikit dan diselimuti ketenangan.
Karena itu, sosok seorang pemuda dan wanita yang keluar dari 'Villeut Sisters Lampfire' dan berjalan terlihat sangat mencolok.
Dengan munculnya sosok yang dituju, Lilith menyipitkan mata.
"Apakah sesuai rencana?"
Tangan kanan sekaligus kepala pelayan Lilith, Sebas, muncul dari sudut pandangan sambil mendorong kereta dorong.
Biasanya, dia yang seorang Iblis tidak mungkin bisa menginjakkan kaki di Kota Sihir.
Namun, Sebas saat ini menyembunyikan tanduk di dahi yang merupakan bukti Iblis dengan cerdik, sehingga dilihat dari mana pun dia hanya tampak seperti manusia. Disapa oleh Sebas yang seperti itu, Lilith tersenyum menggoda.
"Ya, aku menggerakkan 24 Council Keryukeion untuk menerbitkan permintaan promosi bagi guild Ars-san. Dengan ini aku berhasil memisahkannya dari Sang Saint."
"Langkah yang berani. Apakah tidak dicurigai?"
"Karena berbeda dengan Demon Lord lain, aku rajin bekerja, jadi tidak ada yang curiga secara khusus."
Berkat persiapan yang matang, tidak ada masalah yang timbul.
Meskipun wajar jika ada yang sedikit curiga, fakta bahwa Ars mengaku sebagai 'Mimir, Essence of Magic' menjadi penentu yang meyakinkan.
Saat dia bilang ingin memberikan ujian untuk memastikan apakah dia asli, ternyata banyak anggota 24 Council Keryukeion yang memiliki pendapat serupa, sehingga usulan Lilith disetujui dengan mudah.
"Sebenarnya idealnya menyuruh mereka ke Area Tinggi... tapi karena itu pasti akan dicurigai, terpaksa hanya bisa menjadikan Penguasa Wilayah Area Rendah sebagai target."
"Meskipun berhasil memisahkannya dari Sang Saint, jika lokasinya di Area Rendah... meski Penguasa Wilayah sekalipun, bukankah itu tidak akan mengulur waktu?"
Kekhawatiran Sebas bisa dimengerti, tapi Lilith tidak secemas itu.
Mungkin menyadari perasaan Lilith dari sikapnya, Sebas menyipitkan mata dan mengelus janggutnya.
"Begitu ya, Yang Mulia Ratu memandang itu tidak akan menjadi masalah besar. Namun, saya rasa Sang Saint juga sudah menyadari rencana kali ini, jika dia menceritakannya pada pemuda itu, rencana ini akan menjadi sia-sia."
"Dia tidak akan bicara."
Yulia tidak mungkin berterus terang pada Ars. Justru sebaliknya, Yulia takut menyeret Ars ke dalam masalahnya sendiri.
Justru karena itulah, di satu sisi Lilith menganggap Yulia sebagai gadis yang tegar, namun di sisi lain dia juga merasa Yulia adalah sosok yang tangguh dan penuh perhitungan. Sebab, itu juga merupakan wujud kepercayaan dirinya bahwa dia bisa menang melawan Lilith seorang diri.
"Akan tetapi, pengaruh Miasma di Area Rendah itu sedikit. Berbeda dengan Area Tinggi, batu sihir bisa digunakan di sana, apakah itu tidak masalah?"
"Jika ingin menyegel 'Teleportasi' dan sejenisnya, aku harus memancing mereka sampai ke Area Tinggi. Seperti yang kukatakan tadi, jika memaksakan permintaan semacam itu pada permintaan promosi Peringkat C, mata 24 Council Keryukeion tidak akan bisa dikelabui lagi."
"Fumu, kalau begitu, jika memperhitungkan waktu penaklukan dan lainnya, paling lama sekitar dua hari, ya?"
"Itu sudah cukup. Lagipula meski sederhana, aku sudah memasang perangkap. Jadi, aku bisa mengamankan waktu yang cukup banyak, sehingga penyelesaian dengan Saint pasti akan terjadi."
"Saya pikir jika Anda menggerakkan guild, ini akan berakhir dalam waktu yang lebih singkat?"
Guild Demon Lord Lilith berada di peringkat satu digit—peringkat ketiga, dan merupakan yang terbesar di Kota Sihir.
Karena memiliki orang-orang kuat, jika menyerang dengan kekerasan berupa jumlah, mereka pasti bisa menghancurkannya. Namun, mempertimbangkan berbagai keadaan, Lilith tidak berniat menggerakkan guild kali ini.
"Sudah kukatakan sejak dulu, kan. Aku tidak bisa melakukan itu dari posisiku."
Rahasia bahwa Demon Lord Lilith adalah Ratu Hel.
Meskipun dibongkar oleh orang lain, dia masih bisa mengelak dengan berbagai cara.
Namun, mengungkapkan rahasia itu sendiri adalah puncak kebodohan.
"Meski begitu, aku sudah menggerakkan jumlah orang seminimal mungkin untuk memasang perangkap, tapi aku tidak berniat membiarkan mereka melakukan lebih dari itu."
"Jangan-jangan, Anda menahan diri karena dia melepaskan 'Antitesis Buangan No. V' tanpa luka?"
"Bohong jika kubilang tidak, tapi akan merepotkan jika Gereja Hukum Suci sampai turun tangan."
Saint adalah keberadaan simbolis bagi Gereja Hukum Suci.
Wanita yang dulunya melayani para dewa, dan gadis suci yang menyokong ambisi Sacred Emperor Zeus.
——White Saint.
Fakta bahwa dia manusia akan menimbulkan guncangan besar dan penolakan, namun para Elf tidak bisa menyangkal kelahiran Sang Saint.
Itu karena hal tersebut sama saja dengan menyangkal Dewa yang menganugerahkan Gift [Light] kepada Yulia.
Mereka yang terobsesi dengan Gift tipe Putih tidak mungkin bisa melakukan hal itu.
Karena itu, meski menentang, pada akhirnya para Elf akan mematuhi perintah Sang Saint.
"Benar juga... Seperti yang Yang Mulia Ratu katakan, sepertinya saat ini Gereja Hukum Suci sedang terguncang."
"Masih belum ada informasi yang masuk?"
"Mohon maaf. Penjagaan di 'Great Forest' sangat ketat, dan informasinya simpang siur sehingga penyelidikan tidak mengalami kemajuan. Hanya saja, ada informasi bahwa 'Third Apostle' telah meninggalkan 'Great Forest', dan saya baru saja mengeluarkan perintah untuk melakukan kontak."
"Kepergian 'Third Apostle'... sepertinya rumor bahwa 'First Apostle Wahed' telah dibunuh mungkin benar adanya. Kalau begitu, itu cocok dengan kekacauan yang terjadi di 'Great Forest'."
"...Apakah 'Saint' mampu membunuh 'First Apostle Wahed'? Kalau dia amatir yang baru belajar 'Heavenly Domain' sih masuk akal, tapi Wahed adalah orang kuat yang pernah bertarung seimbang dengan Demon Lord Schlaht, lho."
Sebas menunjukkan ekspresi bingung seolah meragukannya.
Terhadapnya, Lilith tersenyum sedikit sinis.
"Sebas, kamu juga tahu, kan. Jika tidak pilih-pilih cara membunuh, bahkan 'First Apostle Wahed' pun bisa dibunuh."
"...Itu memang benar."
Menerima perkataan Lilith, Sebas menunjukkan ekspresi rumit seolah ada duri ikan tersangkut di tenggorokan. Perasaan Sebas bukan tidak bisa dimengerti. Dia sudah sering bertarung dengan 'First Apostle Wahed'. Dia dibuat menderita bukan cuma satu atau dua kali.
Namun, mendengar bahwa dia dibunuh dengan mudah oleh Saint yang baru muncul belakangan ini, hatinya pasti tidak tenang. Itu mungkin bukan karena rasa sesama rekan, melainkan semacam rasa hormat atau kedekatan terhadap rival.
"Namun, jika itu fakta, meski kita menghubungi 'Third Apostle', saya rasa kita tidak akan mendapat jawaban yang bagus. Malah, kemungkinan besar hanya akan jadi pelampiasan amarahnya."
"Tentu saja. Elf lebih membenci Iblis daripada manusia. Terlebih lagi, aku tidak yakin 'Third Apostle' yang baru saja kerabatnya dibunuh bisa membuat keputusan yang normal."
Sebas dan Lilith menyatukan pendapat, dan memutuskan untuk menunda kontak dengan 'Third Apostle' untuk sementara waktu.
"Omong-omong, penjagaan 'Great Forest' yang ketat itu sama saja dengan memberikan jawabannya, tapi apa yang mereka pikirkan, ya."
Penjagaan 'Great Forest' saat ini yang begitu ketat hingga tikus pun tak bisa masuk, berarti mereka akan kesulitan jika diselidiki. Artinya telah terjadi masalah besar, dan untuk sementara waktu Gereja Hukum Suci tidak bisa bergerak.
"Ada kemungkinan tujuannya untuk memancing kekacauan. Tapi, kalau dilihat dari sisi sebaliknya, bisa dinilai bahwa mereka bergerak demi Sang Saint."
Jika menyangkut krisis Sang Saint, ada kemungkinan mereka bersatu padu. Mungkin saja bisa menjerumuskan ke dalam kekacauan lebih lanjut, tapi memikirkan risiko kegagalan, Lilith tidak punya hobi mengusik semak dan memancing ular keluar.
"Harapan itu sering kali dikhianati. Karena itu, jika bergerak berdasarkan spekulasi, pasti akan menyesal. Sekarang adalah tahap melihat situasi. Yang terbaik adalah mengamati dengan cermat, melihat mereka melemah, lalu memangsanya di saat yang paling tepat."
"Saya mengerti kekhawatiran Yang Mulia Ratu. Jika menggerakkan guild dalam situasi sekarang, kemungkinan besar akan menderita kerugian, ya."
Jika Lilith menggerakkan guild, Gereja Hukum Suci juga akan bergerak, dan Asosiasi Sihir akan ikut campur.
Jika itu terjadi, 'Helheim' juga terpaksa harus bergerak.
Jika menjadi pertempuran skala besar, mau tidak mau akan memberikan berbagai dampak, dan kalau salah langkah akan memicu perang dunia.
Kekaisaran yang selama ini bersembunyi di balik Gereja Hukum Suci dan mengamuk sesukanya, kini juga menunjukkan pergerakan mencurigakan. Ambisi mereka sudah tidak bisa ditekan lagi bahkan oleh Elf.
Seolah terpicu oleh pergerakan Kekaisaran, negara-negara sekitar juga mengincar 'Helheim' dengan penuh nafsu. Dalam situasi saat ini yang terbentuk dari keseimbangan yang rapuh, jika Lilith melempar satu batu bernama guild, riaknya akan meluas besar, dan kemungkinan besar bendungan danau bernama dunia akan jebol.
"Benar kan, lebih baik menahan diri dari pergerakan besar."
Sambil melilitkan rambut samping ke telunjuknya, Lilith bergumam seolah mengingatkan dirinya sendiri.
Pertarungan dengan Saint Yulia harus diakhiri dalam waktu singkat, jika tidak, dia tidak tahu dari mana dia akan diserang.
"Akan tetapi, kondisi itu juga berlaku bagi pihak lawan. Justru karena itulah, aku yang menyiapkan panggungnya untuk mereka."
"Sisanya tinggal memisahkan adik Yulia-san—Karen-san kalau tidak salah, yang mengelola 'Guild Villeut', maka semuanya selesai."
Tentu saja Lilith sudah melakukan persiapan dan menerbitkan permintaan paksa untuk 'Guild Villeut'.
Dia sudah mengaturnya agar informasi itu sampai ke guild Ars terlebih dahulu, dan sekarang mungkin sudah saatnya pegawai lain memberitahu 'Guild Villeut'.
"Memancing Sang Saint keluar, apakah akan berjalan lancar?"
"Ya, kartu yang kita miliki sedikit. Pihak sana pun sepertinya tidak terlalu ingin melibatkan adiknya, jadi mereka pasti akan mengikuti rencana ini."
Lokasi permintaan paksa adalah penaklukan Penguasa Wilayah di Distrik 50 Area Menengah.
Rencana Lilith adalah menyerang Yulia di tengah perjalanan dan memisahkannya dari rombongan Karen.
"Jika lawannya Penguasa Wilayah Area Menengah, mereka pasti bergerak dalam kelompok kecil."
"Tentu saja begitu. Aku sudah mempermudah pergerakan mereka, jadi aku akan repot jika mereka tidak melakukannya."
Rencana yang sederhana, namun jika Yulia berubah pikiran, rencana ini akan hancur dalam sekejap.
"Sebas, aku ingin kau juga bergerak."
"Nyawa Sebas ini ada demi Nona Muda, silakan gunakan sesuka hati Anda."
"Terima kasih."
Panggung mulai tertata.
Waktu untuk menyelesaikan urusan dengan Saint Yulia semakin dekat.
"Sebas, bagaimana kabar 'Antitesis Buangan'?"
"Baru saja ada kontak dari 'Antitesis Buangan No. I'. Sepertinya dia sudah bersiap di Area Rendah."
"Ara, cepat sekali kerjanya."
Di masyarakat beredar rumor bahwa Lilith terhubung dengan 'Antitesis Buangan'.
Itu benar sekaligus salah.
Saat ini hanya hubungan kerja sama karena kesamaan kepentingan, ada kalanya bermusuhan, ada kalanya bekerja sama.
Tidak ada paksaan khusus. Jika mereka menerima permintaan, sebagai imbalannya Demon Lord Lilith mengatur agar mereka lebih mudah beraktivitas di 'Lost Land'. Alasan mereka bisa bertahan hidup tanpa ditumpas adalah karena Demon Lord Lilith mengatur dari balik layar dan memberikan informasi kepada mereka.
Ratu Hel sengaja menciptakan masalah, dan Demon Lord Lilith yang menyelesaikannya.
Singkatnya, sandiwara sendiri.
Namun, trik kasar ini dimungkinkan justru karena tidak ada yang menganggap kedua wanita itu adalah orang yang sama.
"Nah, menarilah."
Lilith memandang dunia bawah dari jendela.
Di ujung pandangannya terdapat 'Villeut Sisters Lampfire'.
"Yang pada akhirnya akan mendapatkan permata itu adalah aku ini."
Semua itu diperlukan demi mendapatkan seluruh pengetahuannya tanpa sisa.
"Ayahanda... penyesalanmu, pasti akan kubalaskan."
*
Kamar itu sungguh sederhana.
Lantai yang menonjolkan tekstur kayu dialasi karpet yang tidak mencolok.
Tidak ada hiasan apa pun di dinding, hanya terlihat serat kayu.
Cahaya redup yang masuk dari jendela menerangi setiap sudut ruangan, namun perabotannya sangat minim. Hanya ada meja dan kursi kayu kecil, serta satu rak tua.
Di rak itu, tersusun rapi beberapa buku dan tembikar.
Tempat tidurnya sederhana, hanya ditutupi selembar selimut.
Secara keseluruhan terasa bersih, namun hanya mengutamakan kepraktisan dengan meniadakan kemewahan dan kesia-siaan.
Ini adalah kamar Yulia di lantai tiga 'Villeut Sisters Lampfire'.
Pintu kayu terbuka dengan suara berderit.
Yang masuk adalah Elsa, diikuti oleh Yulia.
"Yulia-sama, kita telah melakukan hal yang tidak enak pada Karen-sama, ya."
"Nanti kita harus mengirimkan sesuatu sebagai permintaan maaf pada Karen. Aku benar-benar minta maaf telah merenggut kesenangan anak itu. Mari lampiaskan kemarahan ini pada Ratu—bukan, Demon Lord Lilith."
"Apakah Yulia-sama menduga permintaan promosi peringkat guild Ars kali ini adalah ulah dia?"
"Sepertinya begitu. Aku rasa tujuannya adalah memisahkan Ars dariku."
Selain isinya, waktunya juga aneh, jadi ini pasti rencana Demon Lord Lilith.
"Kita tidak boleh lengah."
"Apa dia akan menyerang di tengah kota?"
"Kemungkinannya kecil, tapi karena kita tidak mengetahui seluruh kartu yang dimilikinya, jika kewaspadaan kita tidak setingkat itu, kita bisa dijegal."
Saat ini mungkin tahap persiapan awal.
Begitu persiapan selesai, tak salah lagi Demon Lord Lilith akan menyerang.
Namun masalahnya, mereka tidak tahu kapan dan di mana dia akan menyerang.
Seperti Albert dari 'Five Imperial Swords' yang dulu mencoba menahan Yulia, ada kemungkinan dia menyerang terang-terangan di siang bolong.
"Dia tidak akan melakukan kebodohan seperti mengungkap identitasnya sendiri, tapi dia cukup berhati-hati untuk ukuran Demon Lord. Aku pikir dia akan menyerang dengan lebih berani."
"Melihat ekspresi Yulia-sama, tidak terlihat banyak kebingungan. Jangan-jangan, Anda tahu alasannya?"
"Ya, situasi saat ini masih dalam dugaan. Ini hanya spekulasi, tapi secara garis besar aku rasa pemikiranku tidak salah. Kemungkinan besar, pihak sana juga menginginkan cara penyelesaian yang sama dengan yang kuharapkan. Aku tidak suka, tapi mungkin pemikiran Demon Lord Lilith dan aku sedikit mirip."
Yulia berkata begitu, lalu mendekatkan mulut ke telinga Elsa dan membisikkan jawabannya.
Seketika itu juga, mata Elsa terbelalak lebar.
Yulia yang puas dengan ekspresi terkejut itu tersenyum sambil menjauh.
"Ini benar-benar hanya dugaan, lho."
Elsa berpikir sejenak, lalu berkata,
"Saya rasa pemikiran Yulia-sama tidak salah. Tidak, pasti hanya itu kemungkinannya."
"Kalau begitu, untuk sementara kita tidak punya pilihan selain menari sebagai salah satu bidak demi dia, ya."
Memikirkan ke depannya, Yulia kagum bahwa Lilith juga berpikir dengan cerdik.
"Apa kita perlu memberitahu 'Ninth Apostle Teisa' Verg?"
Elsa menyarankan, tapi wajahnya menunjukkan rasa jijik.
Mungkin dia tidak mau memberitahunya. Tapi, itu bagian yang bisa dipahami Yulia juga.
"Tidak perlu. Aku tidak terlalu ingin mempercayainya."
Elsa mendengarkan cerita Yulia dalam diam.
"Justru, memikirkan masa depan, aku rasa tidak baik mengandalkan Gereja Hukum Suci—organisasi yang berpusat pada Elf."
Karena itulah, Yulia melirik keberadaan bernama Lilith.
"Aku yang sekarang hanya punya gelar."
Sejak dulu Yulia memikirkannya.
Dia ingin kekuatan tempur yang bisa digerakkan hanya demi dirinya sendiri.
Meski punya wewenang menggerakkan 'Miko' Sacred Heaven, Yulia tetaplah orang luar—meski dipuja sebagai Saint, dia belum bisa menguasai hati para 'Miko' sepenuhnya.
Makanya 'Faksi Priestess' juga tidak terlalu bisa diandalkan.
"Bisa jadi 'Priestess' mengetahui pergerakanku."
"Benarkah... saya belum dengar cerita dia keluar dari 'Sacred Area'."
"Tapi, ini terlalu menyeramkan. Dia bergerak cuma sekali, saat aku ditangkap Kekaisaran dan dia mengajukan protes. Sejak itu, dia terus diam."
Saat Yulia bicara sampai di situ, Elsa membelalakkan mata kaget seolah menyadari sesuatu.
"...Jangan-jangan."
"Ya, dia mengurung diri di 'Sacred Area' setelah aku bergabung dengan Ars."
Sampai Yulia menduduki posisi Saint, dukungan 'Holy Priestess' sangat sempurna.
Dia mengirimkan ajudannya, 'Third Miko' Elsa, dan melaporkan situasi tiap negara yang sulit didapat Yulia satu per satu.
Terutama mengenai informasi 'Mimir, Essence of Magic', dia selangkah lebih maju dari siapa pun dan mulai mendekati identitas aslinya. Buktinya, informasi bahwa ada keberadaan yang mirip 'Mimir, Essence of Magic' di Kekaisaran—Ars—juga berasal darinya.
Saat Kerajaan Villeut hancur dan Yulia ditangkap oleh 'First Seat' dari 'Five Imperial Swords' pun, dia bertindak cepat dengan segera melobi berbagai faksi dan mengirimkan 'Ninth Apostle' Verg.
Namun, sejak Yulia bergabung dengan Ars, dia sama sekali tidak berhubungan lagi.
Tentu saja Yulia menyadarinya, tapi dia sudah siap bahwa selama dia memanfaatkan orang, dia juga akan dimanfaatkan.
"Jadi... maksudnya ada kemungkinan kita menari di atas telapak tangannya?"
"Mungkin saja. Situasi ini pun ada kemungkinan diciptakan oleh 'Priestess'."
"Tapi, tidak ada caranya. Jika 'Priestess' keluar dari 'Sacred Area', para 'Miko' akan menyadarinya. Tanpa ada kabar seperti itu, bagaimana caranya dia mengendalikan kita?"
Elsa menyangkal dengan keras. Diberitahu bahwa situasi ini adalah rekayasa, mungkin dia teringat dirinya di masa lalu dan menunjukkan reaksi penolakan.
Agar tidak memprovokasinya, Yulia melanjutkan penjelasan dengan nada tenang.
"Tergantung Gift-nya, itu mungkin saja. Kita harus memikirkan skenario terburuk. Ke depannya, salah memilih satu opsi saja bisa membuat kita jatuh ke dasar jurang. Kita harus memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatasi situasi apa pun yang terjadi."
"............Makanya, Yulia-sama melirik Demon Lord Lilith?"
"Ya, pihak sana juga sepertinya putus asa ingin mendapatkan keberadaan bernama Ars, meski aku tidak tahu alasannya. Karena itu dia mengincarku. Ironisnya kepentingan kami jadi sejalan, tapi—"
Saat Yulia tersenyum kecut—pintu diketuk.
"Onee-sama! Dengarkan aku! Jahat banget tahu!"
Karen masuk tanpa menunggu jawaban.
Mata merah indahnya berkaca-kaca seolah air mata akan tumpah kapan saja.
"...Karen, mengetuk pintu itu bagus, tapi tunggulah jawaban dengan benar."
"Daripada itu, dengarkan ceritaku!"
"Uugh!?"
Yulia menangkap Karen yang melompat menerjang dengan kuat.
Namun, karena momentumnya terlalu kuat, dia terdorong sampai ke tempat tidur dan kesadarannya sempat hilang sesaat.
"...Ka, Karen, aku memang merasa bersalah karena melanggar janji, tapi menurut aku menggunakan kekerasan itu tidak baik."
Awalnya berencana pergi berlima, tapi tiba-tiba ditinggal sendirian, wajar jika Karen marah. Karena itu, Yulia tidak bisa bicara keras, dan kata-katanya pun lemah.
Namun, Karen membenamkan wajah di dada Yulia sambil menggelengkan wajah dengan keras seolah menyangkal. Karena gerakannya terlalu kuat, gesekan menimbulkan panas, membuat Yulia meringis.
"P, panas. Karen, tenanglah."
"Bukan itu!"
"Karen-sama, harap tenang. Lagipula, apa yang bukan, kalau tidak dikatakan dengan jelas kami tidak tahu, lho."
Elsa yang menyela di antara keduanya mencengkeram leher Karen dan melepaskannya dari Yulia.
"Uuh... dada Onee-sama... Elsa lebih galak dari biasanya."
Karen mengulurkan kedua tangan ke dada Yulia dengan enggan, tapi,
"Karen-sama, saya minta penjelasannya. Nanti baru Dada Yulia-sama."
"Tidak, walau nanti juga tidak akan aku biarkan disentuh, lho?"
Yulia mengungkapkan penolakan ringan, tapi diabaikan oleh keduanya.
Sementara itu, mungkin karena menyerah setelah menerima tatapan tajam Elsa, Karen menurunkan kedua tangannya dengan diam sambil memasang ekspresi kecewa.
"Aku mengerti. Aku cuma bersemangat karena sudah lama tidak mendapatkan asupan Onee-sama, tahu."
"Haa... Karen, jadi sebenarnya apa yang terjadi?"
Karena pembicaraan tak kunjung maju, Yulia mendesak menanyakan alasannya. Lalu, Karen menempelkan telunjuk di dagu dan menatap langit-langit seolah sedang mengingat sesuatu.
"Hmm, harus mulai jelaskan dari mana, ya. Mungkin sejak Ars dan yang lain pergi, lalu Onee-sama dan Elsa juga menghilang. Aku berniat makan kue sebagai pelampiasan. Tapi saat keluar, pegawai Asosiasi Sihir datang dan menyerahkan ini."
Yang disodorkan Karen adalah sebuah amplop cokelat.
Di sudut amplop terukir lambang Asosiasi Sihir.
Saat Yulia bertanya lewat tatapan mata apakah boleh melihat isinya, Karen mengangguk pelan.
"...Ini."
Mengeluarkan selembar kertas dari amplop, Yulia membaca isinya dan membelalakkan mata.
"Benar, itu permintaan paksa dari Asosiasi Sihir. Bukan cuma Ars, tapi sampai datang ke tempat kita juga, gangguan macam apa ini? Makanya aku datang ke sini sambil marah-marah. Benar-benar deh, permintaan paksa itu cuma bikin repot saja, bikin kesal."
Saat Karen menjulurkan lidah dengan wajah muak, Yulia meletakkan tangan di dagu dengan ekspresi serius.
"Meski begitu, penaklukan Penguasa Wilayah di Area Menengah, ya..."
Yulia dan Elsa saling pandang dan mengangguk.
Jelas-jelas memancing. Ini pasti bagian dari siasat Demon Lord Lilith.
"Onee-sama mau bagaimana? Sekarang setelah maju ke Area Tinggi, ini mungkin terasa kurang menantang bagi Onee-sama, jadi kali ini mau jaga rumah saja?"
Bagi kelompok Karen yang sudah maju ke Area Tinggi, penaklukan Penguasa Wilayah Area Menengah bukanlah hal sulit.
Memang bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi pasti bisa ditumpas tanpa masalah berarti.
"Cuma mengambil material saja, jadi Onee-sama tidak perlu memaksakan diri untuk ikut—"
Saat dia baru bicara sampai di situ, Yulia mendesak Karen.
"Aku ikut."
Karen mundur seolah tertekan. Sosok Yulia yang terlalu bersemangat itu sangat aneh, namun dia kewalahan oleh tekanannya. Meski merasakan keganjilan, dia tidak bisa memastikannya dan hanya bisa mengangguk.
"Ba-baiklah. Tumben sekali Onee-sama begitu positif soal berburu. Kalau begitu, Elsa, mau bantu aku bersiap untuk berangkat?"
"Baik. Lalu berapa banyak Schuler yang akan dibawa?"
"Hmm... Kita tidak akan bawa siapa-siapa, lho."
"Apa maksudnya?"
Tidak mengerti maksud perkataan Karen, Elsa sontak memiringkan kepala.
Meski sudah maju ke Area Tinggi, Penguasa Wilayah Area Menengah bukanlah keberadaan yang boleh diremehkan.
Untuk memastikan penyelesaian permintaan paksa, menghancurkannya dengan kekerasan jumlah itu lebih cepat.
Namun, melihat ekspresi Karen, sepertinya dia tidak berniat memanggil para Schuler.
"Makanya, aku, Onee-sama, dan Elsa, kita bertiga yang akan menaklukkan Penguasa Wilayah."
"...Boleh saya tanya alasannya?"
"Kalau Onee-sama jaga rumah, aku berniat mengajak beberapa Schuler, tapi karena Onee-sama ikut, untuk Penguasa Wilayah Area Menengah, bertiga saja—tidak, Onee-sama sendiri saja sudah cukup, kan. Ditambah aku dan Elsa, kalau sampai bawa Schuler juga, itu kelebihan kekuatan tempur, bukan?"
"Memang benar begitu... tapi Karen-sama, jangan lengah. Bukankah sebaiknya tetap membawa para Schuler untuk berjaga-jaga?"
"Kalau begitu persiapan butuh waktu lama. Mereka baru pulang kemarin lusa, dan kita tidak pergi ke Area Tinggi, jadi ayo pergi cepat dan segera pulang."
"Benar juga. Elsa, aku rasa kita bertiga saja sudah cukup. Sekalian bisa menghemat 'Batu Sihir', kan."
"Sasuga, Onee-sama! Kamu paham ya. Benar. Kalau memikirkan uang pembagian untuk para Schuler, permintaan paksa kali ini sama sekali tidak menguntungkan. Kalau ditambah biaya batu sihir 'Teleportasi' untuk semua orang, bisa rugi bandar."
"...Baiklah."
Elsa berhenti membantah dan memutuskan untuk mengalah.
Karena dia merasa argumen Karen ada benarnya.
Terlebih lagi, para Schuler baru saja kembali dari ekspedisi dua hari yang lalu.
Karena itu pertama kalinya maju ke Area Tinggi, sebagian besar dari mereka kelelahan luar biasa.
Meski kemarin diberi libur, itu belum bisa dibilang istirahat yang cukup.
Masih butuh waktu untuk menghilangkan kelelahan sepenuhnya, dan meski kelelahan fisik hilang, pemulihan mental butuh waktu.
Dan, meski Yulia adalah pengecualian, Karen dan Elsa tidak menyisakan rasa lelah.
Justru, tubuh terasa ringan.
Alasannya ada beberapa, tapi yang paling besar adalah apakah menerima pijatan Ars atau tidak. Buktinya adalah Shion, yang sejak ekspedisi hingga hari ini berkali-kali menerima pijatan dari Ars yang memiliki tangan dewa, sama sekali tidak merasa lelah dan hari ini pun berangkat berburu dengan semangat bersama Ars.
Namun, alasan utama Elsa mengalah adalah karena Yulia setuju.
Terlebih lagi, jika permintaan paksa kali ini adalah siasat Demon Lord Lilith, membawa para Schuler justru mungkin terlalu berbahaya. Karena sampai pada pemikiran itulah dia menyetujui untuk pergi bertiga.
"Karen-sama, untung kemarin dijadikan hari libur, ya."
Belakangan ini Elsa dan Karen melarikan diri dari pijatan Ars.
Jadi, kalau kemarin bukan hari libur, mungkin rasa lelah masih tersisa.
Dalam hal itu, Yulia yang menerima perawatan dari Ars kemarin lusa kulitnya tampak berkilau, dan meski kemarin kakinya gemetar seperti anak rusa, hari ini kakinya menapak kokoh di lantai.
"Benar sekali. Kalau lelahnya belum hilang, bisa gawat."
"...Apa kita akan menuju Area Menengah dengan berjalan kaki?"
Sambil menatap penuh dendam karena merasa dijadikan tumbal sementara mereka bicara seenaknya, Yulia menelan apa yang ingin dikatakannya dan melontarkan pertanyaan.
"Tidak seperti Ars, kita akan menggunakan batu sihir 'Teleportasi', lho. Repot kan kalau harus menembus Area Rendah segala."
Menanggapi pertanyaan Yulia, Karen mengangkat bahu lalu melanjutkan kata-katanya.
"Kalau begitu ada banyak yang harus disiapkan, Onee-sama juga kalau sudah siap datanglah ke aula, ya."
"Baik. Aku pasti akan ke sana."
Karen membawa Elsa dan keluar dari kamar.
Yulia menundukkan pandangan ke kertas permintaan paksa itu, lalu senyumnya semakin melebar.
"Dia sudah mulai bergerak, ya... Memisahkan Ars dariku, menjadikan Karen sebagai perisai, dan memancingku ke wilayah kekuasaannya, 'Lost Land'. Dia benar-benar telah menyiapkan panggung yang luar biasa."
Dia tidak akan menyebutnya licik.
Siapa pun pasti memilih tempat yang menguntungkan bagi dirinya sebagai medan perang.
Waktu yang tepat, keuntungan lokasi, dan dukungan manusia.
Yulia-lah yang menyerahkan semua itu kepada Demon Lord Lilith.
Artinya, kendali ada di tangannya, dan satu-satunya cara yang tersisa bagi Yulia adalah menyerahkan diri pada arus.
"Akan tetapi, aku berhasil membawa pertarungan ini menjadi seimbang."
Sejak awal ini adalah pertarungan yang tidak menguntungkan.
Bahkan bisa dikatakan situasi di mana kekalahan sudah pasti.
Jika sejak awal Demon Lord Lilith menyerang dengan kekuatan penuh, Yulia pasti sudah dihancurkan tanpa bisa melawan.
Namun, dengan mengungkapkan rahasia sebagai Saint dan menyerahkan kendali, dia berhasil membawa situasi menjadi seimbang.
Rahasia bahwa Demon Lord Lilith adalah Ratu Hel—dengan membuat Lilith sangat sadar akan hal itu, dia berhasil mengalihkan pandangan Lilith dari tujuan sebenarnya.
Saat Yulia mengetahuinya, rahasia Lilith bukan lagi rahasia.
Diungkapkan atau diungkapkan orang lain tidak ada artinya, justru bersikap masa bodoh adalah jawaban yang benar.
Itu sama saja meskipun dia mengungkapkannya sendiri. Jika Demon Lord Lilith berteriak bahwa dia adalah Ratu Hel, dia tinggal menyangkalnya sendiri, dan masalah selesai.
"......Dengan begini aku bisa bertarung tanpa gangguan."
Tujuannya adalah membuat Demon Lord Lilith sendirian.
Memang benar di masa lalu itu adalah rahasia penting, namun Lilith luput menyadari bahwa rahasia itu kini telah kehilangan nilainya. Dan, meski telah menyusun berbagai tipu daya, dia justru membuang cara yang paling pasti untuk mengubur Yulia—waktu yang tepat, keuntungan lokasi, dan dukungan manusia; dia membuang ketiga keuntungan itu.
"Fufu, padahal aku sudah bilang bahwa rahasia itu memiliki tanggal kedaluwarsa, dan kukira dia memahaminya—ternyata, meskipun dia adalah eksistensi yang telah hidup lama, tampaknya dia pun bisa kehilangan kebenaran jika menyangkut dirinya sendiri."
Mungkin ada orang yang mencurigai identitas asli Ratu Hel selama ini, namun jika hanya Yulia yang berhasil sampai pada jawabannya, wajar jika dia tidak bisa menanganinya.
"Aku juga menjalani kehidupan ganda sama sepertinya, jadi aku rasa aku memahaminya."
Sama seperti Demon Lord Lilith, Yulia juga menjalani kehidupan ganda sebagai Saint dan Putri Kerajaan di masa lalu.
Sekarang setelah Kerajaan Villeut hancur, gelar Putri Kerajaan sudah menjadi masa lalu, namun meskipun peran dan situasinya berubah, tindakannya tidak banyak berubah.
Karena itulah, ada hal yang selalu dia rasakan.
Jika perilaku sehari-hari baik, meskipun melakukan kejahatan apa pun, ternyata tak ada seorang pun yang curiga.
Manusia hanya mempercayai apa yang ingin mereka lihat.
Seharusnya Iblis pun tidak terkecuali.
Mungkin karena terlalu menghargai posisinya, Demon Lord Lilith tidak bisa sampai pada jawaban yang sederhana. Justru karena itulah, dia berhasil mengarahkan kesadaran Demon Lord Lilith dengan baik.
Jika sudah sampai di sini, jalan yang tersisa hanya satu.
"Sisanya tinggal menang saja."
Menyiapkan panggung dengan dipaksa menyiapkan panggung, maknanya sungguh berbeda.
Dari sisi sana, mereka mungkin berpikir mangsa akan melompat masuk ke dalam perangkap.
Tapi, itu salah. Jelas salah.
Pemburu yang menunggu mangsa masuk perangkap—aku harus memberitahunya bahwa di belakangnya, sang mangsa sedang mengasah taring.
"Akan aku beritahu bahwa dirinyalah yang sebenarnya menjadi mangsa."
Yulia menyunggingkan senyum yang dalam, semakin dalam, hingga menyerupai kegilaan.
*
Hutan hijau tua terbentang luas.
Pohon-pohon tua menjulang menusuk langit, dahan dan dedaunan saling membelit, menghalangi sinar matahari dan menciptakan bayangan remang-remang.
Di tanah terhampar karpet dedaunan gugur yang tebal, dan jika berjalan di atasnya, sensasi lembut tersalurkan dari telapak kaki.
Distrik 25 Area Rendah 'Lost Land'.
Ars terus berlari tanpa menghentikan langkahnya.
Melompat dengan menjadikan batu berlumut sebagai tumpuan, angin tercipta, suara gesekan daun terdengar samar, dan kicauan burung kecil terdengar dari kejauhan.
Dari lubuk hutan terdalam, hawa keberadaan monster tak henti-hentinya terasa, dan keberadaan itu menambah kesan menyeramkan hutan ini.
"Shion, kau baik-baik saja?"
Ars menoleh lewat bahunya. Di belakang, Shion mengikuti.
"Karena tidak banyak bertarung, tenagaku masih banyak."
Mendengar jawaban Shion, Ars menghentikan langkahnya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti? Apa ada barang yang ketinggalan?"
Biasanya orang akan khawatir apakah kakinya terkilir, namun karena lawannya Ars, Shion tampaknya berasumsi Ars tidak mungkin terluka.
Namun, karena kenyataannya dia memang tidak terluka, Ars tersenyum kecut sebelum membuka mulut.
"Tidak, tidak ada yang ketinggalan. Hanya saja ini Area Rendah, kurasa tidak ada alasan khusus untuk terburu-buru."
Lain cerita jika tujuannya Area Tinggi atau Area Dalam, tapi ini hanyalah Penguasa Wilayah Area Rendah.
"Benar juga. Meski rasanya agak aneh kau mengatakannya setelah membantai begitu banyak monster..."
Shion menoleh ke belakang.
Melihat jalan yang baru saja mereka lalui sambil berlari.
Mayat-mayat bertumpuk.
Jalan kematian dengan bau bangkai yang menyengat terbentang.
Potongan daging monster dibiarkan begitu saja dalam kondisi mengenaskan yang membuat orang ingin menutup mata.
Mengingat Area Rendah memiliki banyak monster berukuran besar, dalam arti tertentu bisa dibilang ini pemandangan yang spektakuler.
"Benar saja, kalau dibandingkan dengan Area Tinggi, kemudahannya beda jauh ya. Benar-benar bisa ditebas dengan mudah seperti kertas. Atau mungkin, ini berkat Legi yang sudah merawat belati ini, ya."
Ars duduk di akar pohon, dan Shion pun mengikutinya.
"Tidak, aku tidak berniat meragukan kemampuan Legi, tapi dipikir bagaimana pun itu karena Ars menyelimutinya dengan sihir, kan. Asal tahu saja, tidak wajar kalau bahan perunggu bisa memiliki ketajaman sebaik itu."
Seperti biasa, Shion menatap Ars dengan tatapan heran seolah berkata 'apa sih yang dibicarakan orang ini'.
"Yah, terlepas dari itu, wajar jika kita tidak merasa monster Area Rendah itu kuat. Kita sudah bertarung di Area Tinggi selama ini, jadi kalau dibandingkan pasti terasa lemah, dan kekuatan fisik kita juga pasti sudah berubah."
"Karena tidak perlu menggunakan sihir, Mana-ku juga sama sekali tidak berkurang. Tapi, kalau dilihat dari sisi sebaliknya, rasanya dulu di awal-awal aku lebih kesulitan. Mungkin itu artinya aku sudah berkembang, ya."
Sampai sejauh ini Ars terus maju hanya menggunakan belati tanpa menggunakan sihir.
Hampir tidak ada perlawanan dari monster, dan rasanya jauh lebih mudah dibandingkan saat awal-awal dulu.
Namun, kesan Shion tampaknya berbeda, dia menatap dengan mata penuh keraguan.
"Ya. Kamu memperindah masa lalu dalam arti yang berkebalikan. Aku memang tidak ada di sana saat itu, jadi ini cuma imajinasi saja, tapi aku yakin kamu pasti tidak kesulitan."
Shion menegaskan. Sepertinya dia sangat yakin dengan ucapannya sendiri.
Ars hendak membantah, tapi Shion bicara lebih dulu.
Dia pasti menilai kalau membiarkan Ars bicara malah akan jadi perdebatan yang tidak berguna.
"Selain itu, soal Mana, itu juga karena Ars itu monster, jadi tidak perlu khawatir kehabisan. Tapi, kalau kamu mau bilang Area Rendah itu kurang menantang, secara garis besar aku setuju."
Sepertinya hanya bagian terakhir itu Shion memiliki kesan yang sama.
Kalau Shion yang biasanya, dia tidak akan punya kelonggaran untuk bicara ketus begini, dan tidak akan bisa bicara lancar. Kalau di sini Area Tinggi, dia pasti sudah terlihat kurus kering kelelahan.
Karena itulah, berbeda dengan biasanya, kali ini dia terlihat cukup tenang.
"Kupikir bakal butuh dua hari, tapi mungkin penaklukan Penguasa Wilayah bisa selesai hari ini. Setelah itu mau lanjut ke Area Menengah?"
Sepertinya hari ini kondisinya benar-benar prima.
Shion menyampaikan hal yang biasanya tidak mungkin dia ucapkan.
"Tidak, ayo cepat pulang untuk melapor. Aku juga tidak merasa Area Tengah terlalu menarik."
Dia sudah bolak-balik ke Area Tengah beberapa kali, tapi tidak ingat pernah merasa kesulitan.
Kalau Area Rendah yang diperindah (dalam ingatan) masih bisa ditoleransi, tapi jika tidak ada alasan khusus seperti permintaan promosi peringkat guild, dia tidak merasa Area Menengah yang sudah sering ditaklukkan itu menarik.
"Kalau begitu, ayo jalan."
Ars berdiri. Shion juga memanggul tas besar di bahunya.
"Benar juga ya, aku ingin anggota yang punya Gift tipe Spasial..."
Kali ini mereka hanya mengambil material seminimal mungkin agar barang bawaan tidak mengganggu.
Meski begitu, kalau soal mengangkut material, seminimal apa pun itu, berlari sambil memanggul tas besar tetap terasa merepotkan.
Karena itu, wajar jika Shion sedikit mengeluh, dan bisa dimengerti jika dia menginginkan rekan dengan Gift tipe Spasial. Demi mengurangi bebannya, Ars meminta Shion tidak ikut bertarung dan hanya mengumpulkan material—tapi, jika monsternya selemah ini, menjadi pembawa barang pasti lebih melelahkan secara fisik maupun mental.
"Mau gantian? Tidak enak juga kalau cuma aku yang berburu."
"Ah, aku tidak bermaksud mengeluh kok. Sebentar lagi Penguasa Wilayah juga akan muncul, jadi jangan dipikirkan dan teruslah berburu dengan kecepatan seperti ini. Lebih cepat selesai kalau diserahkan pada Ars daripada aku yang berburu."
"Oke. Kalau mau gantian atau mau istirahat, bilang saja ya."
"Aku ingin kamu menunjukkan kebaikan seperti itu juga di Area Tinggi, ya."
Mustahil sih—kata-kata terakhir itu terucap pelan dan terhapus oleh angin.
Karena Ars tidak menikmati perburuan di Area Rendah dari lubuk hatinya, dia punya kelonggaran untuk mempedulikan Shion. Namun, jika ini di Area Tinggi, sikapnya akan berubah drastis. Dia akan memaksakan hal yang kejam tanpa sadar, jadi itu mengerikan.
"Tapi, kalau anggota sudah terkumpul, aku ingin mencoba melakukan semacam ekspedisi."
"Hoh, kamu tertarik ekspedisi ya... Kupikir Ars lebih nyaman bertarung sendirian, apa aku salah?"
"Tidak juga. Melihat suasana 'Guild Villeut', rasanya tidak buruk, dan kurasa suasana seperti di 'Guild Blowbadger' tempat Legi dan Shigi juga menyenangkan dan bagus."
Ars terus maju sambil membelah monster yang muncul di depan mata dengan dua bilah belatinya.
Kemarin dia juga berburu, tapi ketajamannya tidak berkurang sedikit pun.
"Shion bilang ini gara-gara sihirku, tapi menurutku ini memang karena keahlian Legi yang bagus. Ketajaman belati ini luar biasa lho. Beda jauh dibanding sebelum dirawat."
"Fumu, mungkin justru karena kamu penggunanya, kamu bisa paham perbedaan sekecil apa pun."
Shion tidak menyangkal.
Seperti yang dia katakan tadi, dia tahu kemampuan Legi sudah mencapai ranah pengrajin ternama.
Meski begitu, Shion berpikir sekitar enam puluh persen ketajamannya adalah berkat sihir Ars.
Bagaimanapun juga, itu senjata perunggu.
Meski ditempa oleh pengrajin ternama sekalipun, perunggu adalah tingkatan terendah di antara bijih tambang.
Namun, jika Ars menyelimutinya dengan sihir, ketajamannya menjadi setara dengan Hihirokane kelas tertinggi.
Tapi, berbeda dengan tadi, Shion tidak mengatakan kebenarannya.
Percuma saja, karena si tidak peka ini pasti akan merendah dan tidak mau mengakui kekuatannya sendiri.
"Karena bicara soal Legi jadi teringat, bagaimana kabar orang tua yang dipanggil kakek pelayan itu, ya."
Sepertinya Shion teringat pada kakek pengurus yang muncul waktu itu.
Orang tua itu dengan ekspresi penuh kesedihan, bahkan sampai bersujud demi membawa pulang Legi dan Shigi.
Kalau dia pakai kekerasan sih tidak akan muncul rasa simpati, tapi mungkin karena dia begitu putus asa, hal itu terpatri kuat bukan hanya di ingatan Shion, tapi juga Ars.
"Yah... masalah keluarga memang rumit."
Ars ingat bahwa dia sendiri tidak pernah dicintai oleh ayahnya.
Meskipun memiliki Gift yang langka, dia dikurung hanya karena Gift-nya adalah 'Pendengaran yang tajam'.
Hubungan orang tua dan anak pun bisa diwarnai kebencian.
Meski tidak ada hubungan darah, tidak ada cara untuk mengetahui bagaimana perasaan Legi dan Shigi terhadap sosok yang telah merawat mereka sejak kecil.
"Benar juga... karena ini menyangkut mereka berdua, kurasa mereka memiliki rasa sayang padanya. Tapi, menurut cerita yang kudengar dari Karen, sepertinya Legi dan Shigi kabur dari Kekaisaran Bawah Tanah karena ingin menguasai teknologi permukaan. Rasa ingin tahu Dwarf memang benar-benar luar biasa."
Sesuai penjelasan Shion, ras Dwarf adalah ras yang sangat tinggi rasa ingin tahunya.
Namun, mereka memiliki sejarah dipersekusi berkali-kali oleh Elf dan manusia di masa lalu, sehingga mereka membenci hubungan dengan ras lain dan hidup bersembunyi di bawah tanah.
Kini mereka telah membangun negara raksasa di bawah tanah, dan ras selain Dwarf tidak diizinkan masuk. Karena mereka memutus hubungan dengan ras lain, Dwarf yang keluar dari Kekaisaran Bawah Tanah seperti Legi dan Shigi adalah hal yang sangat langka.
Karena itulah, Dwarf seharusnya menjadi ras yang sangat waspada, namun melihat kakak beradik Dwarf itu, rasanya sulit untuk berpikir demikian.
"Jadi kakek pelayan itu mengejar mereka sampai ke sini?"
"Kalau melihat jangka waktunya... sepertinya agak berbeda dengan dibilang mengejar. Bagian itu sepertinya kurang jelas. Legi dan Shigi memang terlihat seperti gadis kecil, tapi sebenarnya mereka lebih tua dari kita, lho."
Yang mengejutkan, ucapan Shion adalah fakta.
Ars pun hanya bisa memiringkan kepala saat Shigi berkata, "Hormatilah yang lebih tua".
Dia mengira itu hanyalah ocehan anak kecil yang sok dewasa.
Namun, Legi dan Shigi bukan hanya sudah bergabung dengan Asosiasi Sihir selama lebih dari lima tahun, tapi mereka juga sengaja menunjukkan kartu identitas untuk memaksakan fakta tersebut.
"Sepertinya mereka bergabung dengan Asosiasi Sihir lebih dari lima tahun yang lalu, dan mulai tinggal di Kota Naga Altarl lebih dari empat tahun yang lalu. Kabarnya sampai saat itu tidak ada pengejar."
"Kalau baru muncul sekarang, berarti ada udang di balik batu, ya."
"Dua orang itu sepertinya berasal dari keluarga baik-baik. Mungkin saja mereka Bangsawan Penempa yang berpengaruh di Kekaisaran Bawah Tanah."
Bangsawan Penempa—di Kekaisaran Bawah Tanah, gelar kebangsawanan diberikan kepada Dwarf yang unggul dalam penempaan.
Tanpa Gift [Blacksmith], seseorang tidak bisa menjadi bangsawan, dan bahkan jika memilikinya, gelar itu bisa dicabut jika tidak menghasilkan prestasi yang memuaskan.
Kabarnya Kaisar pertama mereka juga merupakan seorang penempa yang namanya menggema sebagai pengrajin ternama.
Karena itulah, Dwarf dengan teknik luar biasa sangat dihormati, dan lahirlah kelas istimewa yang disebut Bangsawan Penempa di Kekaisaran Bawah Tanah.
Ars menunduk menatap belati yang telah dirawat oleh Legi.
"Memang benar, bisa membuat belati perunggu setajam ini, kemampuan menempa Legi memang hebat. Tidak, bagi Dwarf mungkin itu bukan hal yang bisa disimpulkan dengan kata-kata sederhana seperti itu."
"Itu benar, tapi fakta bahwa senjata itu bisa menahan Mana Ars saja sudah menunjukkan kehebatannya yang—"
Sepertinya menyadari sesuatu, Shion menghentikan kata-katanya.
"Shion, ada apa?"
"Tidak, jangan-jangan... kakek pelayan itu adalah..."
Sesaat Shion memasang ekspresi serius, namun segera menggelengkan kepala.
"Tidak, cuma perasaanku saja. Sekarang biarkan saja dulu. Ya."
Setelah mengangguk dengan nada seolah meyakinkan diri sendiri, Shion kembali memasang wajah santai seperti biasa.
"Kalau nanti terjadi masalah, kita tinggal bantu saja. Kita juga tidak bisa mengusir orang yang dipanggil kakek pelayan itu seenaknya, kan."
Mereka belum memahami situasinya.
Intervensi berdasarkan imajinasi sepihak atau rasa keadilan bisa saja malah memperkeruh suasana.
Sering kali hal seperti itu justru menjadi tindakan yang tidak perlu.
"Benar juga. Kita bergerak jika terjadi sesuatu pada Legi dan Shigi saja."
"Ya, itu lebih baik. Sekarang pikirkan saja soal menaklukkan Penguasa Wilayah."
*
Tempat di mana cahaya matahari tak terjangkau.
Alun-alun bawah tanah yang terbentang di ruang raksasa itu diselimuti keheningan.
Cahaya dari atas hanya terlihat samar-samar dan sama sekali tidak mencapai dasar tanah.
Sebagai gantinya, lampu batu sihir menyebarkan cahaya remang-remang di bawah tanah.
Karena ruangannya yang bisa dibilang suram itu, dinding-dindingnya ditumbuhi lumut lebat, dan udara dingin yang lembap mengambang berat.
Entah apakah dunia bawah tanah ini dulunya sebuah kota, di bawah kaki terhampar jalanan batu keras, dan dari celah-celahnya rumput kecil mengintip diam-diam.
Di tengah alun-alun terdapat air mancur tua, dan hanya suara airnya yang bergema di ruang sunyi itu.
Suara tetesan air yang terdengar dari kejauhan itu, berpadu dengan atmosfer yang tidak menyenangkan, menyebarkan semacam kengerian di seluruh alun-alun. Mungkin karena itu, saat menarik napas, terasa sensasi udara dingin nan lembap meresap ke dalam paru-paru.
Hal itu memaksa siapa pun menyadari bahwa tempat ini adalah dunia yang benar-benar berbeda dari permukaan.
Di salah satu sudut alun-alun itu, terdapat meja marmer panjang tua yang penuh goresan dimakan waktu. Di sana, para 'Antitesis Buangan' duduk di kursi mereka.
Lalu, pria yang duduk di posisi dekat kursi utama membuka suara.
"Ada kontak dari No. I. Dia ingin kita menyerang seorang pemuda."
Di pipi pria berkacamata itu terukir angka 'IV'.
Namanya adalah Charle, 'Antitesis Buangan No. IV'.
Rambut yang ditata ke belakang, dan di balik mata dinginnya tersimpan kecerdasan.
Sorot matanya yang tajam mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum berhenti pada satu sosok, dan Charle melambaikan tangan memanggilnya mendekat.
Sosok itu matanya tertutup kain, dan dari dahinya tumbuh satu tanduk.
Itu adalah bukti Iblis tingkat menengah.
"No. IV—Charle. Apa maksudmu membawa orang itu?"
'Antitesis Buangan No. IV' yang dipanggil Charle meletakkan tangannya di atas kepala Iblis tingkat menengah itu.
"Informasi harus dibagikan. Karena sebelumnya kita tidak bisa meneliti informasi dengan cermat, saya tidak membawa Iblis tingkat menengah, tapi kali ini izin dari No. I sudah keluar, jadi saya akan mengirimkan wajah targetnya."
Setelah berkata begitu, Charle mengalirkan sihir yang dahsyat ke dalam tubuh Iblis tingkat menengah itu.
"Bupu—agaa, hi, hiii—!?"
Tubuh Iblis tingkat menengah itu bergetar, lalu darah menyembur dari setiap lubang yang ada di tubuhnya.
Meski begitu, Charle tidak berhenti mengalirkan sihirnya.
Menghadapi pemandangan kejam itu, mereka yang duduk di kursi tidak tampak menyalahkannya, mereka justru memejamkan mata secara serentak.
"Bagaimana? Apakah sudah terkonfirmasi?"
Saat Charle bertanya, yang lain mulai membuka mata.
Charle melepaskan tangannya dari kepala Iblis tingkat menengah itu. Seketika, Iblis tingkat menengah itu ambruk ke lantai tanpa sempat mengerang lagi.
"Karena penggantinya ada banyak, rusak seberapa parah pun tidak masalah, tapi tingkat menengah benar-benar mudah rusak, ya."
Setelah melemparkan tatapan merendahkan pada mayat Iblis tingkat menengah itu, Charle mengembalikan pandangannya.
"Jadi semuanya, saya tanya sekali lagi, bagaimana, apakah wajah pemuda itu sudah terkonfirmasi?"
"Sudah... sudah sih... tapi bukankah dia benar-benar cuma bocah? Kalau lawan selevel ini, kirim saja tingkat menengah."
Kakek yang di dahinya terukir angka 'II'—'Antitesis Buangan No. II' Dovie, melipat lengan kekarnya tanpa menyembunyikan ekspresi tidak puas.
Meskipun penampilannya tua, otot-ototnya menonjol dan kencang laksana baja. Rambutnya dipotong pendek rapi, dan matanya memancarkan cahaya pengalaman bertahun-tahun—cahaya kelicikan orang tua.
"Tidak bisa begitu. Karena No. I secara langsung menyuruh kita untuk membereskannya, jika kita mengirim kekuatan tempur yang setengah-setengah, kita akan dimarahi."
"Hmph, seperti biasa kau selalu menjilat dia ya. Charle, apa kau sebegitu takutnya pada No. I?"
Saat Dovie mendengus seolah meremehkan, Charle menyipitkan mata.
"Dovie, saya benci hal yang merepotkan. Apa ada gunanya melawan? Kalau bisa menang sih tidak masalah. Saya tidak mau menjadi orang bodoh yang takhtanya direbut sepertimu."
Melihat perdebatan keduanya, yang menghela napas adalah 'Antitesis Buangan No. VII'.
"Benar-benar deh, hubungan mereka berdua buruk sekali, ya. Kau tidak merasa begitu? No. VIII."
"...Sudah biasa."
"Ngomong-ngomong, bocah tadi, apa No. VIII kenal?"
Sambil mengetuk pelipisnya sendiri dengan telunjuk, 'Antitesis Buangan No. VII' bertanya pada 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Yah, soalnya kau yang paling pertama membuka mata. Itu artinya entah kau tidak tertarik, atau kau kenal."
"Hanya tidak tertarik."
'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld menjawab dengan datar, namun 'Antitesis Buangan No. VII' mengangkat sudut bibirnya.
"Kalau itu benar, kau tidak akan repot-repot menjawab. Pasti diabaikan. Sikap itu sembilan dari sepuluh berarti kenal."
"Hah... kalau itu fakta, kau mau apa?"
Saat 'Antitesis Buangan No. VIII' memelototinya, 'Antitesis Buangan No. VII' menautkan tangan di belakang kepala dan menyunggingkan senyum provokatif.
"Tidak ada, aku tidak berniat melakukan apa pun. Hanya ingin tahu saja."
Sikap yang santai dan ucapan yang memancing emosi lawan membuat 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld tampak sedikit kesal dan hendak membuka mulut.
"Kau—"
"Percuma bicara dengan Anda. Mari lanjut ke agenda. Sekalipun tidak puas dengan perintah No. I, kita harus mematuhinya. Itulah aturan kita 'Antitesis Buangan'."
Charle mengakhiri perdebatan dengan Dovie, lalu mengarahkan pandangan secara bergilir kepada para 'Antitesis Buangan' yang duduk di kursi.
"Jika ada yang ingin mengambil permintaan dari Tuan Hajarl ini, silakan angkat tangan."
"Seberapa hebat kemampuan bocah itu?"
Yang bertanya dengan nada tidak senang adalah 'Antitesis Buangan No. II' Dovie.
"Kata Tuan Hajarl... lokasi bocah itu ada di Area Rendah, jadi mungkin tidak terlalu kuat. Tidak perlu serius menghadapinya. Kalau bisa bunuh ya bunuh, kalau tidak bisa, sepertinya cukup ulur waktu saja."
"Isi macam apa yang ambigu itu... apa itu artinya si Hajarl itu juga tidak paham? Tidak, apa bocah itu cuma punya kemampuan berburu di Area Rendah?"
"...Kalau dia punya kekuatan yang tanggung akan merepotkan, jadi kita tidak bisa kirim Iblis tingkat menengah. Jadi, bagaimana Dovie-san?"
"Masa untuk membereskan bocah, aku yang 'No. II' ini harus pergi?"
"Lagi senggang, kan? Sampai mengumpulkan 'Nomor Ekstra' dan main rumah-rumahan begitu."
"Charle, aku tidak sebodoh itu untuk termakan provokasi murahan dan menjawabnya. Kalau mau bunuh bocah itu, minta yang lain saja sana."
"...Sayang sekali. Kalau begitu, mari minta orang lain."
Sepertinya dia memang tidak berharap mendapat jawaban yang memuaskan. Tanpa menunjukkan ekspresi kecewa sedikit pun, Charle mengangkat bahu dan mengalihkan pandangan ke 'Antitesis Buangan' lainnya.
Di antara mereka, hanya satu orang yang mengangkat tangan.
"Saya yang akan pergi."
Pria yang di lengan atasnya terukir angka 'IX'.
"Fumu... kalau No. IX sepertinya pas."
Dia termasuk kategori lemah di antara 'Antitesis Buangan', tapi sekumpulan Iblis tingkat menengah pun tidak akan bisa menandinginya.
Terlebih lagi, dia memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi syarat 'Antitesis Buangan No. I'.
Lalu, sekali lagi 'Antitesis Buangan No. IV' Charle menatap anggota lain, namun tidak ada lagi yang mengangkat tangan.
"Kalau begitu, serahkan pada No. IX."
"Terima kasih."
Charle tersenyum dan mengangguk pada No. IX yang sopan.
"Nanti saya akan berikan koordinat dan batu sihir 'Teleportasi' kepada No. IX, jadi silakan ikut dengan saya."
"Baik."
"Kalau begitu mari kita bubar. Sisanya silakan lakukan sesuka hati."
Begitu Charle mengumumkan akhir pertemuan, yang paling pertama keluar adalah 'Antitesis Buangan No. II' Dovie. Setelah itu, Charle dan No. IX menyusul menghilang dari alun-alun.
Di tengah situasi itu, 'Antitesis Buangan No. VII' mendekati 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld.
Melihat dia mendekat, Zeld menghela napas seolah merasa terganggu.
"Hah... masih ada urusan apa?"
'Antitesis Buangan No. VII' tertawa sambil mengetuk kepalanya sendiri dengan telunjuk.
"Tuan, Anda pernah terdesak sebelumnya, kan? Apakah tidak salah lagi bocah tadi adalah orangnya?"
Tatapannya menyelidik, namun nada bicaranya jelas penuh keyakinan.
Menyadari bahwa menyembunyikannya pun percuma, 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld memutuskan untuk berterus terang.
"Apa, kau menegurku barusan karena berpikir begitu? Sekalian saja kukatakan, yang membunuh No. III kemungkinan besar juga bocah itu."
"...Itu bocah yang tangguh juga, ya. Kalau begitu, apakah dia 'Mimir, Essence of Magic' yang sedang dirumorkan belakangan ini?"
"Pura-pura bodoh. Di dalam kepalamu pasti sudah mendapatkan jawabannya, kan."
"Meski begitu mencocokkan jawaban itu perlu. Jika seandainya salah, kan aku cuma jadi orang bodoh."
"Hmph, kalau begitu sudah cukup, kan. Saya permisi."
"Tunggu, tunggu sebentar, belum selesai."
"Apa lagi? Masih ada sesuatu?"
"Tidakkah kau merasa pembicaraan tadi aneh? Mereka pasti sudah tahu kalau No. III dibunuh. Kemungkinan besar mereka juga sadar bahwa bocah itulah yang membunuh No. III."
Dalam rapat tadi, 'Antitesis Buangan No. IV' mengakhirinya hanya dengan penjelasan yang ambigu.
Seharusnya, mengirim 'Antitesis Buangan No. IX' untuk melawan bocah yang telah membunuh 'Antitesis Buangan No. III' adalah tindakan yang terlalu nekat.
"Entah apa alasan mereka mengabaikan detailnya, atau mungkin informasinya berhenti di suatu tempat. Entah No. I atau No. IV, salah satu dari mereka pasti berbohong."
"Meskipun kita diberi nama 'Antitesis Buangan', di mata orang-orang tingkat atas, kita tidak beda jauh dengan 'Nomor Ekstra'. Keberadaan yang bisa digantikan kapan saja."
'Nomor Ekstra'—merujuk pada Iblis Tingkat Atas yang diusir dari 'Helheim' dan nomornya dirampas. Mereka terutama beraktivitas sebagai bawahan dari anggota 'Antitesis Buangan' peringkat atas.
"No. IX tidak punya pilihan selain menyerah."
No. IX adalah Iblis Tingkat Atas yang tergolong cukup serius di antara para 'Antitesis Buangan'.
Dia memiliki ambisi yang kuat untuk naik pangkat, dan alasan dia menerima permintaan kali ini pastilah karena mengincar posisi Zeld atau 'Antitesis Buangan No. VII'.
"Dia sendiri yang menarik undian zonk. Tidak perlu dipikirkan, kan. Atau jangan-jangan, kau berniat menolongnya?"
"Tidak mungkin... itu mustahil terjadi."
Karena sesama Iblis, bohong jika dibilang tidak ada rasa sesama rekan, namun berbeda dengan ras lain, dia tidak ingin menolong sampai harus mengorbankan nyawanya sendiri. Apalagi, dia tidak berniat mengulurkan tangan pada orang yang terjun ke tempat mematikan atas kemauannya sendiri.
"Aku tidak punya kewajiban untuk memperingatkannya, apalagi kewajiban untuk menolongnya."
Kata-kata yang bisa dibilang tidak punya hati, namun itu adalah isi hati sesungguhnya dari 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld.
Pernah dikalahkan telak tanpa ampun, hatinya sudah benar-benar dipatahkan oleh Ars.
"Aku akan menonton dari belakang agar tidak ikut menjadi korban."
Meninggalkan kata-kata itu, Zeld pergi berlalu.
Mengantar punggung itu dengan tatapannya, 'Antitesis Buangan No. VII' menyunggingkan senyum penuh arti.
"Akan jadi seperti apa akhirnya—aku menantikannya."
*
Suara tawa riuh anak-anak bergema.
Senyum polos mereka menenangkan suasana sekitar, menyampaikan perasaan bahwa mereka benar-benar bahagia.
Para ibu menatap mereka dengan tatapan hangat, sesekali menyapa dengan lembut.
Di sekeliling terbentang padang rumput alami yang luas, dan warna hijau yang berlanjut hingga cakrawala terasa menyejukkan mata.
Sinar matahari yang memantul di dedaunan menerangi wajah dengan silau.
Banyak anak-anak dan ibu mereka berkumpul, namun jika diamati baik-baik, akan terlihat kejanggalan.
Di dahi anak-anak dan para ibu terdapat dua tanduk, yang menjadi bukti bahwa mereka adalah Iblis.
Namun, kejanggalannya bukan hanya satu. Di ruang ini tidak ada laki-laki.
Ini adalah tempat terlarang bagi laki-laki, yang diizinkan masuk hanyalah wanita dan anak-anak.
"Lama tidak berjumpa!"
Semua orang menoleh ke arah suara lantang yang tiba-tiba terdengar.
Wanita yang menjadi pusat perhatian itu tidak tampak malu, dia membusungkan dada dan dengan percaya diri mengangkat keranjang yang dipegangnya.
"Hari ini pun saya membawa kue!"
"Ratu Hel! Cantik!"
"Ratu, hari ini juga cantik."
"Minta kuenya. Ratu yang cantik!"
Anak-anak berlarian menghampiri wanita yang muncul itu—Ratu Hel.
"Fufufufu, anak yang memuji saya, akan saya beri satu lagi."
Sambil tersenyum, Ratu Hel membagikan bungkusan kue yang ada di dalam keranjang.
Namun, perkataan anak-anak itu aneh.
Sebab, ekspresi wajahnya tersembunyi di balik tudung.
Meskipun begitu, alasan mereka memuji penampilan Ratu Hel adalah karena atmosfer yang memancar darinya memiliki keindahan yang tak terlukiskan.
Namun, jika bicara blak-blakan, Ratu Hel lemah terhadap pujian dan dengan mudah memberikan kue, sehingga bagi anak-anak, dia dianggap sebagai sosok yang mudah dimanfaatkan.
"Cuci tangan dengan benar sebelum makan, ya."
Setelah selesai membagikan kue, anak-anak berlarian ke padang rumput sambil mengucapkan terima kasih.
Mereka tidak lagi memperhatikan Ratu Hel. Ketertarikan anak-anak telah beralih pada kue apa yang ada di dalam kantong teman-temannya.
Ratu Hel memandang pemandangan damai itu sambil tersenyum.
Jika ada orang yang mengenalnya dengan baik di tempat ini, mereka pasti akan terkejut.
Sebab, sangat jarang melihat sosoknya yang begitu lembut seperti ini.
"Yang Mulia Ratu, kami sungguh merasa terhormat atas kehadiran Anda hari ini."
Saat Ratu Hel menoleh, ibu dari anak-anak itu berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala.
Di barisan paling depan, terdapat seorang wanita Iblis Tingkat Atas yang memiliki dua tanduk gagah.
Dia adalah penanggung jawab yang diserahi tugas mengelola 'Area Terlarang' ini.
Tempat ini berada di Distrik 30, sama seperti 'Helheim'.
Namun, tempat ini dikelilingi oleh kekaisaran khusus dan dirahasiakan sedemikian rupa sehingga lokasinya tidak dapat dilacak.
Meskipun Iblis yang telah dewasa memiliki tubuh tangguh yang tak tertandingi, saat masih anak-anak mereka hanyalah keberadaan yang rapuh, tak ubahnya seperti manusia. Karena itulah, banyak pihak yang berencana mendapatkan kekuatan Iblis, dan di masa lalu, banyak anak-anak Iblis yang diculik.
Namun, situasi berubah drastis sejak Ratu Hel muncul. Di bawah perlindungannya, kaum Iblis mencapai kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski begitu, orang-orang yang memiliki niat jahat tidak pernah habis, sehingga dibentuklah 'Area Terlarang' untuk melindungi anak-anak sampai mereka mencapai usia tertentu.
"Di mana bayi-bayi yang baru lahir?"
"Ada di sebelah sini."
Menerima perkataan Ratu Hel, wanita penanggung jawab itu berdiri dengan tenang.
Mengikuti panduannya, Ratu Hel melangkah maju, namun di sekitarnya bahkan tidak terlihat bayangan bangunan. Meski begitu, Ratu Hel mengikutinya tanpa merasa curiga. Alasan mengapa dia bisa tetap tenang dalam situasi ajaib ini adalah karena dia mengetahui rahasia tempat ini.
Tak lama kemudian, wanita itu berhenti, dan saat dia mengulurkan tangan ke ruang hampa, pemandangan berubah drastis.
Di depan mata Ratu Hel, muncul sebuah rumah bergaya barat yang memancarkan kewibawaan.
Dinding luar dari batu yang kokoh, jendela besar yang memancarkan warna-warni indah, dan di pintu masuk terdapat pintu raksasa yang tidak hanya dihiasi perlengkapan logam yang rumit tetapi juga ukiran yang mendetail.
Suara bayi terdengar entah dari mana—Ratu Hel melangkah maju seolah dipandu oleh suara itu. Tak lama setelah melewati pintu masuk, dia berhenti di depan sebuah ruangan, dan wanita pemandu segera membukakan pintu.
Di dalam ruangan terlihat sosok wanita-wanita yang sedang menimang bayi—mereka mengenali Sang Ratu dan hendak menundukkan kepala, namun Hel melambaikan tangan untuk menghentikannya.
"Tetaplah seperti itu, tidak apa-apa."
Saat Ratu Hel mengatakannya, para wanita itu hanya memberi hormat lewat pandangan mata, lalu kembali mengurus bayi-bayi itu.
Setelah memandang pemandangan penuh kasih sayang itu dengan puas, Ratu Hel mengalihkan pandangan pada wanita pemandu.
"Lalu, bagaimana kondisi fisik bayi-bayi itu?"
"Awalnya kami khawatir akan jadi seperti apa, namun mereka pulih dengan lancar dan kini sudah sesehat bayi-bayi lainnya."
"Apakah saya boleh melihat kondisinya?"
"Tentu saja."
Sekali lagi mengikuti wanita pemandu, Ratu Hel mulai berjalan.
Namun, tempat yang dituju ada di ruangan sebelah, jadi tidak memakan waktu lama.
"Hanya saja, sepertinya mereka belum bisa mengendalikan Mana dengan baik. Mempertimbangkan kemungkinan melukai anak lain, kami merawatnya secara terpisah."
"Apa boleh buat. Anak yang lahir dengan Defisiensi Mana biasanya menyimpan kekuatan sihir yang sangat besar, jadi jika tidak dibesarkan secara terpisah, akan terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan."
Di dalam ruangan yang baru ditunjukkan itu, terdapat sekitar lima ayunan bayi.
Bayi yang lahir dengan Defisiensi Mana, sebagai ganti memperoleh Mana yang sangat besar, tidak memiliki cara untuk memulihkannya, dan karena menggunakan Mana secara tidak sadar, mereka ditakdirkan untuk mati muda.
Mereka tidak bisa hidup lama seperti Iblis buatan yang lahir dari Tiga Taboo Besar.
Namun, berkat perawatan yang diberikan Ratu Hel, Mana bayi-bayi di ruangan ini menjadi stabil, bahkan sudah bisa pulih secara alami.
"Tidak ada masalah, ya."
Saat Ratu Hel selesai memeriksa Mana setiap bayi satu per satu, wanita pemandu menghela napas lega.
"Saya lega mendengarnya."
"Meski begitu, jangan lengah, jika terjadi sesuatu segera beritahu saya."
"Baik. Kami sungguh merasa terhormat menerima belas kasih Yang Mulia Ratu."
Saat wanita pemandu menundukkan kepala, wanita-wanita lain juga bersujud.
Ratu Hel hendak menyuruh mereka mengangkat kepala, namun lebih cepat dari itu, seorang wanita masuk ke ruangan.
"Yang Mulia Ratu, Tuan Sebas telah tiba."
"Ara, sayang sekali. Padahal saya ingin melihat bayi-bayi ini sedikit lebih lama... tapi, kalau sudah waktunya apa boleh buat."
"Silakan datang kapan saja. Anak-anak juga pasti senang."
"Benar juga. Saya akan membawakan kue lagi nanti."
Ratu Hel meninggalkan pesan itu lalu keluar kamar.
"Yang Mulia Ratu, mohon tunggu. Saya akan mengantar Anda."
Wanita pemandu itu mengejar, namun Ratu Hel menggelengkan kepala.
"Tidak perlu. Lebih baik perketat penjagaan anak-anak."
"...Apakah akan terjadi sesuatu?"
"Untuk beberapa saat, saya tidak bisa mengawasi tempat ini. Memanfaatkan celah itu, mungkin akan muncul orang yang memiliki niat jahat, jadi tolong jangan lengah."
Wanita pemandu yang mendengarkan perkataan Ratu Hel mengeraskan ekspresinya, seolah merasakan kesulitan yang akan terjadi di masa depan.
"Jika terjadi suatu keanehan, tolong panggil siapa pun dari Six Desire Heavens. Saya sudah memberikan perintah tegas kepada mereka untuk memprioritaskan tempat ini apa pun yang terjadi. Jadi, jangan pernah mengambil keputusan sendiri, pastikan untuk berdiskusi dengan seseorang dalam menanganinya."
"Baik, saya mengerti."
"Kalau begitu, saya titip sisanya."
Ratu Hel mengatakan itu sebagai penutup, lalu meninggalkan rumah itu dengan tenang.
Saat dia keluar dan menoleh ke belakang, sosok rumah megah itu sudah menghilang dari pandangan.
Sebagai gantinya, yang muncul adalah cakrawala yang membentang tanpa batas.
Angin lembut membelai pipi, suara tawa anak-anak dan obrolan para ibu bergema dengan nyaman di padang rumput.
"...Aku akan membuat senyum anak-anak semakin bertambah."
Agar mereka bisa hidup dengan hati tenang tanpa takut pada pandangan siapa pun.
Agar mereka bisa menghabiskan waktu dengan damai tanpa memedulikan pandangan siapa pun.
Agar mereka bisa menikmati kebebasan dengan hati tenteram tanpa takut pada pandangan siapa pun.
"Memberikan hal itu adalah misi dan tanggung jawab aku."
Itu adalah hal yang sudah dia persiapkan sejak menduduki takhta Ratu.
Bagi mereka yang mulia, ada kewajiban yang pantas untuk posisi tersebut.
Kewajiban yang dulu dipikul manusia. Namun, mereka melepaskannya dengan mudah.
Ratu Hel bertekad pada saat itu.
Dia akan mewujudkan apa yang tidak bisa dicapai oleh manusia.
Kedamaian dan kemakmuran kaum Iblis.
Itulah takdir dan kewajiban yang dibebankan kepada Ratu Hel.
——Noblesse Oblige Sang Ratu.
"Tinggal bersabar sedikit lagi... Aku pasti akan memberikan dunia di mana kalian tidak perlu bersembunyi lagi."
Sambil memandangi anak-anak yang berlarian di padang rumput, Ratu Hel menyipitkan matanya.




Post a Comment