Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 1
Orang yang Setia
Bagian 1
“Apa maksud dari semua ini, Pangeran Henrik?”
Di markas utama Henrik.
William baru saja tiba, dan melontarkan kata-kata itu sambil menatap Henrik dengan tajam.
Para jenderal di sekitarnya sampai berkeringat dingin karena tekanan yang memancar darinya.
Jelas dia sedang marah, dan alasannya pun sudah terang benderang.
Henrik tidak menyerahkan persediaan yang seharusnya diberikan kepada William dan pasukannya.
Namun menghadapi William, Henrik tetap bersikap tak acuh. Bukan karena tegar, melainkan lebih karena kebodohannya sendiri, tapi para jenderal yang membenci William justru menganggap sikap Henrik itu tampak dapat diandalkan.
“Ada keperluan apa, Pangeran William?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Seharusnya kamu yang membawa persediaan untuk menutup kekurangan pasukanku.”
“Itu benar. Namun persediaannya tidak cukup. Pasukanku hanya membawa jatah untuk pasukanku sendiri. Tidak ada sisa untuk pasukanmu.”
“Jangan main-main! Kamu ingin membuat para prajurit di garis depan kelaparan!?”
“Menyalahkan kami itu keliru. Soal perbekalan, awalnya sudah disepakati akan diserahkan pada Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian. Tapi perbekalan yang sampai itu jarang dan jumlahnya sedikit. Apa maksudnya ini?”
“Aku sudah menjelaskannya! Di Negara Bagian muncul seorang bandit baru yang secara khusus menargetkan perbekalan kami! Karena itu penjagaan konvoi perbekalan pun sudah kami tambah!”
“Tapi hasilnya tidak terlihat. Kenapa tidak kamu tanyakan langsung ke negaramu?”
“...Kamu mau aku meninggalkan garis depan?”
William langsung bisa membaca niat Henrik.
Tidak menyerahkan perbekalan berarti mencegah William bertempur lebih jauh.
Kalau William mundur, komandan di tempat ini otomatis adalah Henrik.
Ini adalah tindakan sabotase yang terang-terangan, namun fakta bahwa distribusi perbekalan memang tersendat membuatnya sulit untuk dibantah.
Reiner memang mengelola semuanya dengan baik, tetapi kondisi tidak begitu longgar. Terlebih, perbekalan milik William pernah dibakar.
Saat ini situasi yang mengarah pada William sangat buruk. Meskipun dia mengadukan Henrik, kecil kemungkinan dia akan mendapatkan banyak pihak yang membela.
Bahkan Gordon melihat ini hanya sebagai perebutan prestasi di garis depan dan tidak berniat mencampuri.
William benar-benar tidak punya kartu untuk dimainkan.
“Kamu adalah Pangeran Naga Persatuan Kerajaan. Kamu punya nama besar. Sekalipun mundur sekarang, tidak seorang pun akan mengira kamu gentar.”
“Itu tidak penting bagiku. Yang kupikirkan hanya Leonard yang bersembunyi di dalam benteng. Bisa kamu menekannya?”
“Sekalipun mereka mendapat perbekalan, pasukan yang sudah kalah dan jenderalnya bukanlah lawan bagiku.”
“Kalau begitu aku tanya... Bagaimana riwayat pertempuranmu?”
“Aku sudah menuntaskan debut pertamaku.”
“Lawanmu saat itu bukanlah Pangeran Pahlawan! Dia adalah pangeran yang di selatan pernah melawan Naga Laut, mengalahkan iblis di wilayah selatan Kekaisaran, dan menang atas Duke Kruger!”
“Memimpin pasukan besar dan meraih prestasi adalah perkara lain! Menjadi unggul sebagai individu tidak sama dengan unggul sebagai komandan!”
“Dia selalu bekerja sama dengan lingkungan sekitarnya untuk menyingkirkan keadaan yang tidak menguntungkan! Itulah bukti keunggulannya sebagai seorang panglima! Bahkan ketika garis pengepungan runtuh, bentengnya tidak berhasil ditembus!”
“Siapa pun bisa bertahan di dalam benteng!”
“Jangan melolong kalau kamu sendiri belum pernah melakukannya! Seorang pangeran yang tidak pernah merasakan lapar tentu tidak akan tahu! Pertahanan benteng itu berat dan penuh ketabahan! Dan justru dalam perang semacam itu kemampuan seorang komandan diuji! Tidak ada yang melarikan diri atau berkhianat dari pasukan Leonard! Itu bukti dia memegang kendali penuh atas seluruh pasukannya!”
Setelah membentak Henrik, William menatap para jenderal yang berdiri di belakangnya.
William bersikeras bukan demi dirinya sendiri.
Jika dia menyerahkan medan ini kepada Henrik dan terjadi kekalahan...
Keunggulan Gordon akan lenyap seketika.
Leonard akan terbebas untuk bergerak sesuka hati, dan mereka akan kehilangan kendali yang baru saja berhasil direbut kembali, terpaksa kembali ke posisi bertahan.
Mengembalikan momentum yang telah mengalir ke tangan musuh bukanlah perkara mudah. Para bangsawan utara yang saat ini hanya menunggu melihat arah angin bisa saja ikut bergerak.
Inilah yang membuat William begitu khawatir.
“Pangeran hanyalah panji. Yang menggerakkan pasukan adalah para jenderal. Kalian yakin pengepungan ini tidak akan ditembus?”
“Musuh hanya ingin mengulur waktu. Mereka tidak akan keluar menyerang. Tenang saja.”
“Benar, Pangeran William. Tidak ada yang bilang kita akan menyerang benteng. Kami hanya akan menerima mandat pengepungan selama Anda pergi meminta konfirmasi pada negeri pusat.”
Mendengar itu, William sampai menggigit giginya.
Mereka bilang musuh tidak akan keluar menyerang.
Siapa yang bisa menjaminnya?
Seorang pangeran yang menahan perbekalan demi meraih prestasi sendiri, siapa yang berani menjamin dia tidak akan memerintahkan serangan?
Dan para jenderal yang mengikutinya pun tampaknya tidak akan mampu menghentikannya.
Jika itu terjadi, yang menjadi korban adalah para prajurit di garis depan.
Di bawah komando langsung William, ada pasukan Kesatria Naga Hitam, beberapa pasukan Kesatria Naga lainnya, serta sekitar tiga ribu prajurit Persatuan Kerajaan.
Mereka bisa dia tarik mundur tanpa kesulitan. Tapi dia tidak bisa mengendalikan yang lain.
“...Baik. Aku akan pergi meminta konfirmasi ke negeriku. Pasukan di bawah komando langsungku dan para prajurit yang bersedia mengikutiku akan ditarik ke belakang. Kalian tidak keberatan, bukan?”
“Silakan saja. Kalau memang ada prajurit yang mau ikut denganmu.”
Dengan tatapan tajam penuh kebencian pada senyum mengejek Henrik, William akhirnya meninggalkan tempat itu.
* * *
Situasinya sudah sangat genting.
Pada awalnya, pasukan utama Leonard yang bertahan di dalam benteng berjumlah sekitar dua puluh ribu. Namun karena mereka adalah pasukan yang baru saja kalah dan banyak yang terluka, William memperkirakan hanya separuhnya, sekitar sepuluh ribu yang masih mampu bertempur.
Karena itu William menggunakan dua puluh ribu pasukan untuk mengepung mereka. Tidak ada pasukan musuh lain di sekitar yang bisa membongkar pengepungan.
Satu-satunya kekhawatiran, yaitu pasukan faksi keluarga kekaisaran, sudah dicegah oleh Gordon dengan dua puluh ribu prajurit.
Susunan strateginya sempurna. Namun perbekalan telah berhasil dikirim lewat jalur udara.
Dengan itu, jumlah prajurit Leonard yang mampu bergerak pasti meningkat, dan tingkat ancaman mereka pun melonjak.
Itulah mengapa bala bantuan dipanggil. Namun Henrik sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bekerja sama dengan William.
“Situasinya sudah aku jelaskan. Pasukan di bawah komando langsungku akan mundur ke belakang. Pangeran Henrik akan mengambil alih komando mulai sekarang. Siapa pun yang tidak bisa menerima itu, ikut denganku.”
Begitu dia menyampaikan perintah itu kepada para jenderal, William hanya bisa menghela napas dalam hati.
Dia yakin tidak ada seorang pun yang akan memilih mengikutinya.
Namun seorang jenderal tiba-tiba mengangkat suara.
“Di pasukanku banyak yang terluka. Aku ingin mundur ke belakang bersama Pangeran William.”
“Jenderal Fidesser...”
Nama yang tak pernah dia duga akan muncul.
Fidesser, yang bersama Barthel semasa hidupnya, dikenal membenci William.
Mengapa orang itu?
Pertanyaan itu memenuhi benak William.
“Tidak ada lagi yang ikut mundur?”
“Jenderal Fidesser, dengarkan nasihatku. Jangan lakukan itu.”
“Kenapa?”
“Pangeran Henrik adalah adik kandung Pangeran Gordon. Meski hanya seibu atau seayah, faktanya dia sangat diandalkan. Jika kamu menentangnya, posisimu bisa terancam.”
“Hmph... Nyawaku jauh lebih penting. Aku tidak mau mati hanya karena mengikuti komandan yang tidak becus.”
Setelah berkata begitu, Fidesser berjalan mendekat ke arah William.
Kemudian dia menunjukkan sebuah pedang.
“Ini pedang milik Barthel yang gugur. Aku telah bersumpah pada pedang ini untuk memenangkan Pangeran Gordon. Aku tidak bisa membiarkan sumpah itu berubah menjadi kematian yang sia-sia. Kumohon, izinkan pasukanku ikut bersamamu.”
“Aku mengerti. Akan kuatur.”
Setelah menjawab demikian, William kembali menatap para jenderal lainnya.
Tidak seorang pun mau menatap balik.
Menerima kenyataan itu, William akhirnya membubarkan pertemuan.
“...Kupikir kamu membenciku.”
“Kalau soal suka atau tidak, tentu aku tidak menyukaimu.”
“Lalu kenapa?”
“Pangeran tanpa pengalaman tempur tidak akan mampu menghentikan Pangeran Leonard. Ini bukan seperti saat aku dan Barthel menyerang. Di pihak sana, mereka sudah pulih. Begitu kamu pergi, mereka pasti melihatnya sebagai kesempatan emas.”
Itu sejalan dengan kekhawatiran William.
Baik Barthel maupun Fidesser, bukanlah jenderal yang menyerang tanpa perhitungan.
Walaupun akhirnya mereka dipukul mundur, mengejar pasukan yang kalah bukanlah strategi yang salah.
Sebagai seorang prajurit murni yang naik pangkat murni karena kemampuan, Fidesser melihat hal yang sama seperti yang dilihat William.
“Menurutmu mereka bisa menghentikannya?”
“Tidak mungkin. Para jenderal yang berada di dekat Pangeran Henrik adalah mereka yang menolak saat kamu hendak memimpin pasukan. Mereka tidak paham situasinya, dan tidak punya nyali untuk mengejar prestasi di garis depan.”
Kesalahan perhitungan terbesar dari kubu Gordon adalah bahwa jauh lebih sedikit jenderal yang pro-Gordon yang bersedia terjun dari yang diperkirakan.
Meskipun perlahan jumlah prajurit dan perwira yang bergabung bertambah, hampir tidak ada jenderal yang memiliki rekam jejak gemilang.
Setelah gagal dalam pemberontakan di ibu kota, peluang Gordon untuk menang sangat tipis.
Semakin cerdas seorang jenderal, semakin dia menyadari kenyataan itu dan memilih untuk tidak bergerak.
Akibatnya, kekurangan perwira kompeten sangat terasa.
“...Kita harus menghindari kekalahan besar.”
“Tentu.”
“Aku akan mundur ke belakang, tapi kamu tetap di dekat sini dengan pasukanmu. Kalau tidak terjadi apa-apa, bagus. Tapi jika pasukan kita tiba-tiba mundur kocar-kacir, tolong bantu mereka.”
“Rencana yang bijak.”
Setelah mempercayakan langkah darurat itu kepada Fidesser, William naik ke punggung naganya.
Masalah perbekalan memang sesuatu yang harus dia konfirmasi cepat atau lambat.
Dia hanya meyakinkan diri bahwa waktunya maju sedikit lebih cepat dari rencana.
Dengan itu, William terbang menuju langit.
“Sepertinya pertempuran ini masih belum berakhir, Leonard.”
Pemberontakan di ibu kota, dan rangkaian pertempuran di sini.
Melawan pangeran yang telah dia anggap sebagai musuh kuat, pertarungan mereka belum dapat diselesaikan.
Namun jika Henrik kalah di sini, pertemuan berikutnya pasti datang.
Sambil berbisik demikian ke arah benteng, William kemudian kembali menuju markas Henrik untuk melaporkan mundurnya pasukannya.
Tak lama kemudian, Leonard dan para pengikutnya memastikan bahwa para Kesatria Naga memang benar mundur ke garis belakang.
Bagian 2
“Mau berangkat?”
Pertemuan para bangsawan utara telah berakhir.
Mereka akan kembali ke wilayah masing-masing dan membawa serta para kesatria mereka.
Namun hal itu membutuhkan waktu.
Karena itu, diputuskan untuk lebih dulu mengirim bantuan dari para bangsawan yang wilayahnya dekat dengan garis depan.
Yang memimpin rombongan tersebut adalah Sharl, wakil resmi dari Marquis Zweig.
“Ya. Lebih cepat kalau aku sendiri yang pergi daripada memanggil para kesatria ke sini.”
“Begitu... kamu yakin kondisi tubuhmu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“...Hati-hati, ya?”
“Kamu juga. Justru bagian tersulit baru akan dimulai, tahu?”
“...Benar juga.”
Percakapan singkat itu berakhir, dan Sharl tersenyum sebelum membalikkan badan dariku.
Mulai sekarang tugasku adalah mengoordinasikan pasukan para bangsawan utara yang akan terus berdatangan.
Itu memang sulit, tetapi tidak berbahaya.
“Sharl.”
“Ada apa?”
“Bawa serta Narberitter.”
“Kamu menyuruhku membawa pasukan pengganti untuk pengawal dekatmu? Lalu penjagaanmu sendiri bagaimana?”
“Ada Sebas. Tidak masalah.”
“Menurutku itu justru sangat bermasalah...”
Sambil tersenyum getir, Sharl melirik ke arah belakang.
Di sana berdiri Lars, yang datang bersama para bawahannya.
“Aku tidak bisa meninggalkan Yang Mulia.”
“Aku mengerti perasaanmu, tapi yang membutuhkan kekuatan tempur adalah Sharl.”
“Meski begitu, aku tidak bisa membiarkan penjagaan Yang Mulia melemah.”
“...Kumohon. Demi membuatku tenang, pergilah bersamanya.”
Jika aku berbicara soal manfaat atau alasan logis, Lars pasti tidak akan bergeming.
Para bangsawan utara pun sama sifatnya.
Jika logika tidak mempan, maka aku hanya bisa menyentuh perasaannya.
“Kalau begitu izinkan aku membagi pasukanku menjadi dua.”
“Membagi seratus orang menjadi dua pasukan adalah tindakan bodoh. Pergilah semuanya.”
“...Aku ingin bertempur di bawah komando Yang Mulia.”
“Kita tidak punya kemewahan untuk membiarkan pasukan elite menganggur. Lagi pula, aku juga akan menyusul nanti. Kumohon, lindungi Leo dan Sharl.”
“...Baiklah. Jika itu perintah, aku akan patuh.”
Lars menghela napas, menyerah, lalu menerima permintaanku.
Narberitter pun segera bersiap untuk keberangkatan.
“Kalau nanti pemimpin Aliansi Bangsawan Utara sampai terbunuh, itu akan jadi bencana, tahu?”
“Keberadaanku tetap dirahasiakan sampai saat terakhir. Aku sudah menginstruksikan para bangsawan agar merahasiakannya. Mereka tidak akan mengirim pembunuh khusus untuk mencariku. Gordon dan yang lain tidak punya waktu untuk itu. Justru para bangsawan yang mungkin mengirim bala bantuanlah yang lebih mungkin mereka incar.”
“Karena itu kamu menugaskan pengawal kepadaku?”
“Kira-kira begitu.”
Setelah menjawab demikian, aku membalikkan badan.
Jika aku berbicara lebih lama, aku pasti tak tahan dan menyuruhnya membatalkan keberangkatan. Dan itu justru berbahaya.
Ketika aku berbalik, Sharl memanggilku dari belakang.
“Bukankah kamu sekarang pemimpin Aliansi Bangsawan Utara? Tidak ada yang ingin kamu komentari soal cara bicaraku?”
“Aku tidak suka orang yang tiba-tiba berubah sikap.”
“Begitu ya... Jadi tetap seperti ini saja?”
“Iya. Seseorang yang bisa berbicara santai denganku itu sangat berharga. Kalau kamu bisa tetap memperlakukanku seperti seorang teman... aku sangat senang. Sungguh.”
“Kalau kamu meminta begitu, ya sudah. Aku akan tetap menjadi temanmu.”
Dengan mengatakan itu, Sharl pun pergi.
Di belakangku, Sebas bergumam pelan.
“Dengan ini, kita bisa bergerak lebih leluasa.”
“Benar juga...”
“Jika Anda mengkhawatirkan beliau, akankah Anda bergerak sebagai Silver?”
“Aku tidak akan ikut campur dalam perang. Itu akan membuat semua usahaku pergi ke markas pusat jadi sia-sia.”
“Namun tampaknya Anda sangat khawatir.”
“Sharl itu temanku... dan cucu dari orang yang berjasa padaku. Kalau dia mati... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.”
Aku bisa saja menahannya tetap di sisiku. Namun itu akan melukai kehendak Sharl sendiri.
Demi ketenanganku, aku akan merenggut haknya untuk bertindak.
Duke Lowenstein mempertaruhkan nyawanya. Sangat wajar jika Sharl juga ingin berbuat sesuatu.
“Lalu, apa yang akan Anda lakukan? Hanya diam di sini tidak akan mengubah keadaan.”
“Benar... Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.”
“Dari mana kita mulai?”
“Kirim orang ke kota Thale untuk mengambil penemuan Menteri Kuber yang kubawa dari ibu kota. Di sana juga ada kartu truf kita.”
“Benar juga. Meski kalau bisa tidak digunakan, lebih baik tidak dipakai. Demi keselamatan kepala Menteri Teknologi.”
“Aku rasa lebih baik dipakai. Kita bisa bilang ini memang diperlukan. Lagipula, hasil perang akan menutupi fakta bahwa kita membawanya diam-diam.”
“Itu benar-benar alasan yang dipaksakan. Tapi sangat khas Anda, Tuan Arnold.”
Sebas mengangkat bahu.
Bagaimana musuh akan bergerak?
Kita bisa menebak, tapi tidak bisa memastikan.
Musuh kita adalah William. Di ibu kota saja dia berhasil kabur lewat celah sempit.
Dia sangat mungkin bergerak dengan cara yang di luar perkiraan.
Namun apa yang mungkin dilakukan Gordon, hampir semuanya bisa kubaca.
Bahkan saat masih di ibu kota, aku bisa menebak apa yang akan dia lakukan jika terdesak.
Dan karena itu, aku sudah membawa cara untuk menghadapinya.
Dia akan mengeluarkan kartu pamungkasnya untuk menang, aku pun akan menggunakan punyaku.
Jika sampai tahap itu, kemenangan hampir pasti di pihak kami.
“Yah... Bagaimanapun juga dia kakakku. Aku ingin percaya kalau dia belum jatuh sedalam itu.”
“Yang Mulia Gordon yang saya ingat adalah seseorang yang membenci perilaku pengecut di medan perang...”
“Gordon yang sekarang bukan lagi Gordon yang dulu. Dia sudah menjadi seperti Kak Zandra...”
“Hati-hati, Tuan. Jika Paduka Kaisar mendengarnya, bisa jadi masalah. Putri Zandra adalah seorang pengkhianat.”
“Benar juga...”
Aku bahkan tidak bisa lagi menyebutnya kakak.
Aku tahu bahwa semua itu adalah perbuatannya sendiri. Dia pantas mendapat akibatnya. Ada bagian dari diriku yang menerima itu. Namun pada saat yang sama, ada pula diriku yang percaya bahwa ada dalang yang membuatnya tersesat.
Gordon pun pasti sama. Semakin aku meyakini bahwa aslinya tidak seperti itu, semakin sulit rasanya menerima kenyataan.
Dosa adalah dosa. Sekacau apa pun dia sekarang, Gordon tetap memberontak. Dan Kak Zandra mendukungnya. Hukuman mati memang sudah sewajarnya.
Aku mengerti, tapi tidak bisa menerimanya sepenuh hati.
“Kapan ya perebutan takhta mulai menjadi kacau? Hanya kali ini? Atau dari awal sudah ada yang aneh?”
“Saya tidak bisa memastikannya. Namun jelas bahwa perebutan takhta kali ini memang aneh. Para pewaris takhta mungkin tidak menyadarinya, tapi orang-orang di luar berkata demikian. Kalau begitu, pasti ada sesuatu yang ikut campur.”
“...Grimoire.”
“Belum bisa dipastikan sebelum kita menyelidikinya lebih jauh. Saya mengikuti pergerakan mereka, tapi untuk saat ini, kita harus menuntaskan perang saudara terlebih dahulu.”
“Benar juga. Demi mengakhiri perebutan takhta secepat mungkin...”
Aku harus memastikan Leo mendapatkan prestasi besar.
Artinya, dialah yang harus membunuh Gordon.
Pikiran itu saja membuat hatiku sedikit bergejolak.
Kalau saja dia seperti Kakak Zandra waktu itu...
Masa depan yang kejam pasti sudah menunggunya.
“Pihak yang ikut campur dalam perebutan takhta menyerang keluarga kekaisaran satu per satu. Seolah... keberadaan keluarga kekaisaran adalah penghalang. Bukan begitu?”
“Tidak ada keluarga yang lebih banyak menuai dendam daripada keluarga Ardler.”
“Dendam yang telah menumpuk, ya. Tapi sebenarnya tidak penting. Apa pun alasannya... mereka yang menyerang lebih dulu. Tidak bisa kita biarkan mereka terus bersembunyi sambil menghantam dari balik bayang-bayang. Kita akan menyeret keluar siapa pun itu.”
Sambil mengatakan itu, aku mengulurkan tangan ke ruang kosong.
Untuk bisa melakukan hal itu, perang saudara ini harus diakhiri.
Tidak ada pilihan lain. Mereka yang menciptakan situasi yang menyesakkan ini membangkitkan amarah di dadaku.
“Setelah perang saudara ini berakhir... aku akan menemukan mereka. Dan menghancurkan semuanya.”
Aku mengepalkan tangan, menyuarakan tekadku.
Saat aku mengucapkannya, terdengar suara derap kuda dalam jumlah besar meninggalkan markas.
Pasti Sharl dan pasukannya.
“Semoga tidak terjadi apa-apa.”
“Anda benar-benar khawatir. Tenanglah. Di garis depan bukan hanya ada musuh. Ada pula adik Anda yang sangat Anda banggakan.”
“...Benar juga.”
Merasa hatiku sedikit ringan, aku menatap langit biru.
Lalu, setelah menenangkan diri, aku berbicara pada Sebas.
“Aku akan kembali ke ibu kota.”
“Baik.”
Setelah percakapan singkat itu, aku kembali ke tenda pribadiku dan langsung melakukan teleportasi menuju ibu kota.
Bagian 3
Dari dalam benteng tempat dia bertahan, Leo memperhatikan para Kesatria Naga yang mundur, lalu segera mengadakan rapat perang.
“Bagaimana pendapatmu, Marquis Gleisner?”
“Ini pasti jebakan. Atau mungkin karena bala bantuan telah tiba, mereka mengganti pasukan.”
“Jadi begitu pandanganmu.”
“Kesatria Naga bisa datang seketika meski berada agak jauh. Jika kita anggap ini kesempatan dan keluar, mereka pasti sudah menyiapkan serangan balasan.”
“...Berapa banyak pasukan musuh yang mundur?”
“Menurut laporan, sekitar tujuh ribu hingga delapan ribu.”
“...Banyak juga.”
Leo tidak bisa menghilangkan rasa mengganjal itu.
Mengapa mereka sengaja menarik pasukan pada saat bala bantuan tiba?
Kalau mereka menarik mundur prajurit yang terluka, masih masuk akal. Namun yang turun ke belakang adalah sebagian besar Kesatria Naga.
Dia tidak bisa mengerti maksud di baliknya.
Marquis Gleisner bilang itu jebakan, tapi jika memang jebakan, ini terlalu mencolok.
Mereka tentu tidak akan berharap Leo gegabah keluar sekarang.
Tak mungkin sang Pangeran Naga keliru menilai kemampuan lawan.
Segalanya terasa tidak wajar.
“Kamu sendiri bagaimana, Katrina?”
Dari semua yang ikut dalam rapat perang, hanya Katrina yang tampak larut dalam pemikiran rumit.
Sepertinya dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, sama seperti Leo.
Karena itu Leo meminta pendapatnya.
“Normalnya, ini memang jebakan. Tapi bala bantuan sepuluh ribu datang, lalu mereka menarik delapan ribu. Dan begitu terang-terangan pula. Jika ini siasatnya Pangeran Naga, rasanya terlalu ceroboh.”
“Aku juga berpikir begitu. Dia bukan orang yang mengira kita akan keluar hanya karena Kesatria Naga mundur. Tapi faktanya, mereka mundur dengan cara yang jelas-jelas ingin kita lihat.”
“Mungkin tujuan mereka membuat kita ragu.”
“Tapi Katrina, apa keuntungan mereka membuat kita ragu? Bala bantuan sepuluh ribu telah datang dan pengepungan kini sempurna. Bahkan setelah delapan ribu mundur pun, jumlah mereka masih dua ribu lebih banyak dari sebelumnya. Bukankah kita yang seharusnya membuat mereka ragu?”
“Benar, Ayah. Itu yang menggangguku. Kenapa? Pertanyaan itu selalu muncul.”
Pihak yang sedang di atas angin tidak perlu melakukan tipu muslihat.
Dan meski tujuan Leo adalah mengulur waktu, ini belum waktunya bagi William untuk merasa terdesak. Aksi mereka sekarang sulit dimengerti.
Jika bukan soal waktu, berarti masalahnya adalah logistik.
Namun.
“Bala bantuan datang membawa banyak kereta. Persediaan makanan mereka pasti cukup.”
“Waktu dan logistik bukan masalah. Tapi mereka masih menggunakan muslihat, apa alasannya...?”
Leo termenung dalam, menutup telinganya dari segala suara.
Dia menyelam dalam lautan pikirannya, mencoba mengurai alasan William melakukan hal seperti itu.
Sebuah trik yang tidak terlalu efektif, dilakukan padahal tidak perlu. Artinya mereka melakukannya karena memang perlu.
Jika begitu, apa alasannya?
Bukan waktu. Bukan persediaan.
Kalau begitu, kenapa harus berpura-pura mundur...
“Karena mundurnya itu benar-benar terjadi...?”
“Apa maksudnya?”
“Kesatria Naga musuh benar-benar mundur. Dan ribuan prajurit juga. Jadi mereka sengaja membuatnya tampak besar-besaran untuk membingungkan kita.”
“Tapi meski begitu, keunggulan mereka tidak berubah, bukan?”
“Benar. Tidak seharusnya keunggulan itu berubah. Tetapi mereka masih memakai trik. Artinya keadaan internal mereka jauh lebih buruk daripada yang kita kira.”
“...Jadi bukan hanya Kesatria Naga, Pangeran Naga sendiri juga mundur?”
“Itu masuk akal. Jika komandan digantikan, mereka pasti tidak ingin diserang. Karena rantai komando sedang kacau.”
Sambil berkata demikian, Leo menatap peta yang terbentang di atas meja.
Dia menunjuk satu bidak besar milik musuh.
“Siapa panglima bala bantuan?”
“Belum diketahui.”
“Cari tahu segera. Jika sesuai dugaanku, ini bisa menjadi kesempatan emas bagi kita.”
Kelemahan William adalah statusnya sebagai pangeran negara asing.
Ini adalah pemberontakan Gordon. Jika William menonjol terlalu jauh, siapa yang sebenarnya menjadi tokoh utama akan dipertanyakan.
Meski Gordon mungkin tidak keberatan, para petinggi di sekelilingnya belum tentu menerima.
Selama ini mereka tidak punya alasan untuk menahan peran William. Namun kini dia melakukan kesalahan fatal, mereka membiarkan musuh membakar dan mengirim logistik.
Meski bukan salah William sepenuhnya, celah itu cukup bagi pihak lain untuk menyerangnya.
“Gordon tidak ada di sini. Para jenderal yang tersisa akan mencari sosok yang bisa mereka junjung, entah itu Conrad atau Henrik.”
“Jika komandan musuh bukan lagi Pangeran Naga, melainkan pangeran yang tidak punya pengalaman, kekuatan musuh pasti menurun drastis.”
“Jika benar komandan musuh kini seorang pangeran, apakah kita akan keluar menyerang?”
Atas pertanyaan Katrina, Leo menggeleng.
Meski tampaknya keadaan menguntungkan mereka, keuntungan ini bisa berbalik menjadi jebakan.
Jika salah menanggapi, mereka bisa saja sedang dipancing keluar.
“Kalau panglima bala bantuan adalah Henrik, kita serang. Tapi kalau Conrad, kita tidak bergerak. Hampir pasti jebakan.”
“Mengapa begitu?”
“Henrik punya harga diri tinggi. Bentrok dengan Pangeran William sangat mungkin. Tapi Conrad berbeda. Dia melakukan sesuatu asal setengah hati, tapi tidak akan mengusir orang yang ahli lalu membahayakan dirinya sendiri. Jadi kalau Conrad yang memimpin bala bantuan, kemungkinan besar ini jebakan.”
Mengingat Conrad yang senantiasa tersenyum santai, Leo menjelaskan penilaiannya.
Dari semua pangeran, dialah yang paling mirip Al. Itu adalah penilaian tertinggi yang bisa diberikan Leo.
“Apakah Anda benar-benar menaruh waspada pada Pangeran Conrad? Padahal reputasinya tidak begitu baik...”
“Ingatlah baik-baik. Pangeran yang reputasinya buruk justru yang paling harus diwaspadai.”
Traugott maupun Al, reputasi mereka yang paling buruk.
Namun reputasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan.
Dan Leo mencium aroma yang sama pada Conrad.
“Kalau begitu, kami akan meningkatkan pengintaian. Tanpa Kesatria Naga, pengintaian dari udara pun akan lebih mudah.”
“Kupercayakan padamu. Pastikan jangan sampai ketahuan.”
“Ini akan memakan waktu. Tidak apa-apa?”
“Tidak masalah. Karena William sampai memakai trik hanya untuk membuat kita ragu, berarti komandan yang menggantikan dia tidak bisa dipercaya. Hampir pasti itu Henrik. Dan kalau itu Henrik, pasti banyak celahnya.”
“Tapi Pangeran Henrik telah mengambil sebagian anak buah Putri Zandra. Mungkin dia membentuk pasukan penyihir.”
“Dia tidak akan jadi ancaman. Seandainya Henrik belajar siasat dari ibu dan kakaknya mungkin lain cerita. Tapi reputasi buruk ibunya justru membuatnya menjauh dari keduanya. Henrik tidak punya kemampuan yang perlu dikhawatirkan di medan perang.”
Dengan penuh keyakinan, Leo kembali menatap peta.
Dalam benaknya kini hanya ada bagaimana menumbangkan musuh.
Baginya, Henrik bukanlah sosok yang patut ditakuti.
Henrik, yang selama ini tekun menimba ilmu dan melatih kemampuan bertarung, sebenarnya cukup berbakat. Namun karena tidak memiliki sesuatu yang benar-benar menonjol, dia tidak pernah mampu menarik perhatian.
Seimbang, tapi serba tanggung.
Andai semua kemampuannya dapat berkembang serempak, mungkin dia bisa disebut serba bisa. Namun dia tidak pernah mencapai tingkat itu.
Hal itu pun disadari Henrik sendiri.
Karena itulah dia memandang Leo sebagai rivalnya.
Secara garis besar, mereka memang berada dalam kategori yang sama.
Namun Leo telah mengasah dirinya sampai ke tingkat yang layak disebut sebagai sosok yang serba bisa.
Bagi Leo, lawan yang perlu diwaspadai adalah mereka yang ahli dalam satu bidang tertentu.
Sementara lawan yang setengah-setengah seperti Henrik justru merupakan orang yang paling mudah dihadapi.
“Karena posisinya tidak aman, dia jadi ingin meraih prestasi...”
Perebutan prestasi hanya terjadi ketika keadaan menguntungkan.
Namun dalam perang, untung dan rugi bisa berubah dalam sekejap.
Seorang jenderal yang berpengalaman di garis depan tahu betul sejauh mana dia boleh menonjolkan diri. Kalau sampai kalah, segala ambisi pun tidak berarti lagi.
Tetapi Henrik tidak memiliki naluri seperti itu.
“Kalau dipikir sedikit saja, seharusnya mereka bisa tahu bahwa Henrik tidak akan cocok dengan Pangeran William...”
Gordon tidak pernah sampai pada pemikiran itu.
Leo pun mengerti.
Bagi Gordon, William adalah sekutunya, bahkan sahabat. Pikiran bahwa seorang seperti Henrik akan berani menentang William tentu tidak terpikir olehnya.
Namun orang-orang di sekitar Gordon seharusnya bisa menyadari hal itu.
“Jadi pihak musuh juga tidak benar-benar solid...”
Membayangkan William yang pasti sedang kesulitan, Leo menghela napas.
Kubu Gordon memang tidak bersatu sepenuhnya, tetapi begitu pula pihak Kekaisaran.
Eric, yang paling piawai bernegosiasi dengan Kekaisaran Suci, sampai saat ini masih belum bisa menyelesaikan perundingan, itu sudah menjadi bukti yang cukup jelas.
Belakangan terdengar kabar bahwa monster raksasa muncul di wilayah Kekaisaran Suci. Kerusakan yang ditimbulkannya pun cukup besar.
Bagi pihak Kekaisaran Suci, bekerja sama dengan Kekaisaran sebenarnya bukanlah pilihan yang buruk.
Meski kepentingan mereka sejalan, negosiasi tetap berjalan alot. Itu karena ada pihak yang dengan sengaja menunda.
Leo memperkirakan bahwa negosiasi itu tidak akan selesai sampai dia sendiri dipaksa mundur dari medan perang.
Namun hal itu masih dalam batas perkiraannya.
Lagipula, bala bantuan yang ditunggu Leo bukanlah pasukan penjaga perbatasan timur yang dipimpin Lize.
“Sekarang... sebaiknya mulai kupikirkan rencana serangan balasan.”
Dengan itu, Leo pun mulai menggerakkan bidak-bidaknya.
Bagian 4
Kedua pasukan berhadapan tanpa bergerak, dan beberapa hari pun berlalu.
Pihak yang lebih dulu kehilangan kesabaran adalah Henrik.
“Aku mendapat pesan dari Kak Conrad agar mendukung Kak Gordon. Karena itu, aku akan memastikan Kakak Gordon naik ke takhta.”
Henrik menyatakan itu di hadapan para jenderal yang berkumpul.
Dalam dirinya, telah tumbuh rasa terima kasih terhadap Conrad, yang dulu mengangkatnya dari ketidakberartian.
Dan rasa itu perlahan berubah menjadi kesetiaan.
Demi Conrad, Henrik merasa berkewajiban membantu Gordon, menyingkirkan penghalang apa pun. Karena itu, situasi diam seperti ini sangat tidak disukainya.
“Ini... adalah perang Kekaisaran. Selama Pangeran Naga hanya mengepung Leonard yang telah dia kepung sebelumnya, prestasi Pangeran Naga tidak akan hilang... Setelah takhta diperoleh, jika dia memamerkan prestasinya sendiri, bukankah itu akan menjadi aib bagi nama Kekaisaran!? Aku akan bertindak! Serangan besar-besaran!”
“Luar biasa! Izinkan aku menjadi barisan depan!”
“Tidak! biarkan aku!”
Lebih dari separuh jenderal menyetujui kata-kata Henrik, bahkan berebut untuk menjadi barisan terdepan.
Sisanya, meski menyimpan kecemasan, tidak berani mengutarakan penolakan.
Karena untuk meredam prestasi William, seperti kata Henrik, mereka memang harus menyerang sekarang.
Bahkan jika Leonard dikalahkan melalui pengepungan jangka panjang, orang yang membawa keadaan itu—William—akan dinobatkan sebagai pemilik prestasi terbesar. Jika mereka ingin mencegah itu, maka mereka harus mengalahkan Leonard secara langsung.
Ada juga rasa pasrah. Mereka tahu bahwa protes kepada Henrik tidak akan didengarkan.
Sebagian dari mereka berpikir bahwa jika serangan pertama mereka dipukul mundur, Henrik mungkin akan mengubah pendapatnya. Akhirnya semua jenderal membuang rasa cemasnya.
Setelah perebutan posisi barisan depan berlangsung cukup lama, Henrik akhirnya memberi keputusan.
“Barisan depan akan kupercayakan pada Jenderal Ruhman!”
“Dengan penuh kehormatan!”
“Baik! Sajikan anggur dan makanan untuk para prajurit! Besok mereka akan bekerja sebaik-baiknya!”
“Yang Mulia, untuk seluruh pasukan?”
“Tentu saja! Tidak boleh ada perbedaan! Perlakukan semua dengan setara!”
“Namun... kita masih memiliki pasukan penjaga.”
“Bagaimana kalau mereka merasa tidak puas? Itu akan memengaruhi moral!”
“Sebelum muncul keluhan, justru akan timbul kecemasan. Mohon pertimbangkan kembali.”
“Baiklah. Pasukan penjaga cukup diberi makanan saja.”
Mendengar keputusan itu, para jenderal menundukkan kepala.
Henrik menerima nasihat, dan tidak melupakan kesejahteraan prajurit. Hal itu membuatnya merasa sedang mengambil keputusan yang tepat.
Dia merasa mampu melihat keadaan sekitar dengan baik dan bertindak sesuai kebutuhan.
Ada alasan dia menyingkirkan William, dan ada alasan pula untuk serangan yang akan dilakukan.
“Bagaimana menurutmu, Geed? Apa aku sudah menjalankan tugas panglima dengan baik?”
“Luar biasa, Yang Mulia. Tidak banyak panglima yang memperhatikan sampai prajurit biasa.”
Mendengar pujian dari Geed yang berdiri di sisinya, Henrik semakin yakin.
Dia merasa darah Ardler yang terkenal akan kejayaannya mengalir dalam dirinya, dan kini dia sedang mekar sepenuhnya.
Dia bahkan yakin tidak kalah dari Leonard.
“Jadi besok akhirnya kita menghadapi Leonard. Bolehkah aku ikut maju ke depan?”
“Hah, jangan memaksakan diri. Jika terjadi sesuatu padamu, aku takkan bisa menjelaskan diri pada Duke Holtzwart.”
“Kita akan berhati-hati.”
Sambil tertawa kecil, keduanya pun saling berbicara panjang lebar mengenai hari esok.
* * *
Sementara itu, di dalam benteng, laporan masuk kepada Leo.
“Panglima bantuan musuh adalah Pangeran Henrik.”
“Sepertinya begitu.”
Sambil mendengarkan laporan dari Marquis Gleisner, Leo menatap ke arah pasukan lawan.
Asap dari dapur lapangan tampak membubung ke langit.
Hal itu sendiri bukan sesuatu yang aneh.
Namun Leo merasakan jelas adanya perubahan di sana.
“Bagaimana menurutmu, Marquis Gleisner?”
“Ya...? Menurut saya mereka hanya sedang menyiapkan makanan...”
“Terlalu banyak. Sejak kita saling berhadapan, jumlah asap tidak pernah sebanyak itu. Selama persediaan bahan makanan terbatas, tidak mungkin jumlahnya meningkat drastis dalam satu hari. Kecuali mereka menyajikan makanan untuk seluruh pasukan demi menaikkan moral.”
“Apa!? Jadi musuh hendak menyerang!?”
“Henrik memang begitu. Sepertinya dia tidak ingin membiarkan Pangeran William mendapatkan seluruh prestasi. Sikapnya benar-benar menunjukkan bahwa dia merasa pemberontakan ini sudah dimenangkan.”
Hasil perang tidak pernah pasti sampai detik terakhir.
Berbicara tentang prestasi berarti memikirkan apa yang terjadi setelah semuanya berakhir.
Tidak salah, tapi jika seorang komandan yang memimpin puluhan ribu prajurit membiarkan hal itu memenuhi pikirannya, dia akan kehilangan kemenangan yang sudah berada dalam jangkauan.
Hanya seorang jenius sejati yang mampu melakukannya.
“Kirim pasukan kavaleri keluar lewat gerbang belakang. Gerak diam-diam. Jangan menimbulkan suara sedikit pun.”
“Menyerang lebih dulu, ya. Mengerti.”
“Katrina dan para Kesatria Naga lainnya berjaga di udara. Perintahkan mereka untuk melapor segera jika ada tanda-tanda bahaya.”
“Baik! Apakah kita memberitahu Tuan Wynfried di benteng kedua?”
“Aku tidak ingin mengambil risiko diketahui musuh. Jika itu Wyn, dia bisa menyesuaikan gerakannya dengan kita hanya dengan melihat keadaan. Lakukan seperti biasa.”
“Baik! Akan saya atur dengan hati-hati.”
Setelah berkata demikian, Marquis Gleisner menunduk hormat lalu pergi.
Begitu dia keluar, sosok seekor beruang kecil muncul, bertengger di atas bahu Leo.
“Kamu akan bergerak duluan?”
“Iya, aku juga butuh bantuanmu, Sieg.”
“Akhirnya kita bisa menyerang. Terus bertahan saja membuat pundakku pegal.”
“Mau kupijat?”
“Kalau laki-laki yang memijatku aku tidak mau. Tetap saja, tangan lembut seorang wanita itu yang paling enak.”
“Hahaha, kalau begitu kita harus cepat kembali ke ibu kota. Di medan perang begini, sangat jarang bertemu wanita cantik.”
Sambil tertawa kecil, Leo kembali menatap ke arah pasukan musuh.
* * *
Sekitar waktu yang sama, Sharl yang memimpin lima ribu pasukan bantuan dari sebuah wilayah bangsawan dekat garis depan, telah tiba di titik di mana dia bisa melihat posisi musuh.
“Ada laporan bahwa asap dari persiapan makanan mereka sangat banyak. Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku juga sudah melihatnya. Bagaimanapun, jumlahnya terlalu berlebihan. Besok mungkin akan ada pergerakan, jadi kita bersiaga dalam kondisi siaga penuh.”
Setelah menerima laporan dari para anggota Narberitter yang dikirim untuk mengintai, Sharl sendiri memastikan keadaan dengan matanya.
Seluruh pasukan musuh sedang dibagikan makanan, dan bahkan dari kejauhan terlihat suasana mereka riuh. Mungkin mereka juga mengeluarkan arak.
Hal-hal seperti itu sengaja dilakukan untuk menaikkan moral pasukan.
Biasanya, itu dilakukan sesaat sebelum memulai serangan.
Karena itu, Sharl memerintahkan seluruh pasukannya untuk siaga.
Agar mereka bisa bergerak kapan pun sesuatu terjadi.
“Kalau aku, aku akan mengincar markas besar musuh.”
“Aku juga akan melakukan itu. Tapi kita ini pasukan bantuan. Yang bergerak adalah Pangeran Leonard. Kita menunggu langkah beliau, lalu menyesuaikan diri.”
“Jika kita tidak bergerak, kita akan terjebak dalam keadaan buntu.”
“Kita bukan pasukan elite. Mungkin Narberitter bisa mengatasi situasi apa pun, tapi kita hanyalah pasukan gabungan. Dengan lima ribu orang pun, kalau kita menerjang, kita tidak akan mampu memaksa mereka mundur. Jika situasinya berlarut, kita tunggu saja kedatangan pasukan utama Aliansi Bangsawan Utara.”
“Aku mengerti. Aku ceroboh. Mohon maaf.”
“Tidak apa-apa. Jika Pangeran Leonard sampai menghadapi keadaan yang tidak bisa dia tahan, beliau mungkin akan memerintahkan serangan mendadak ke markas besar musuh. Saat itu, aku menyerahkannya pada kalian.”
“Serahkan saja pada kami. Pertahanan seperti itu bisa kami dobrak sambil menguap.”
Mendengar kata-kata Lars itu, Sharl hanya bisa tersenyum masam, lalu mulai memikirkan langkah mereka jika Leonard benar-benar memutuskan untuk maju.
Bagian 5
Keesokan paginya.
Geed keluar dari tenda sambil merasakan gigil udara pagi.
“Selamat pagi, Tuan Geed.”
“Hmph... Sepertinya aku terlalu bersemangat sampai tidak bisa menahan diri.”
Dengan nada seakan mabuk oleh dirinya sendiri, Geed mengusap rambutnya ke belakang.
Lalu dia memberi perintah kepada prajurit yang berjaga di depan tenda.
“Siapkan kudaku. Aku akan pergi ke markas besar.”
“Baik!”
Sambil menunggu kudanya dibawa, Geed menatap ke arah benteng.
Dia membayangkan dirinya menghalau serangan balasan musuh dengan gemilang dan naik ke puncak tembok benteng dalam kemenangan.
Dan seolah memberkati khayalannya itu, dari garis depan terdengar sorakan keras.
“Para prajurit pun tampaknya sudah terbakar semangat... Perang ini sudah pasti kita menangkan.”
Moral pasukan luar biasa tinggi.
Pasukan Leonard, yang pernah kalah dari Pangeran Naga dan hanya mampu melarikan diri ke dalam benteng, tidak mungkin mampu menandingi mereka.
Sambil membayangkan hal itu, Geed mendengar suara derap kuda.
Tapi suaranya terlalu keras.
“A-Apa...?”
“Lapor! Musuh menyerang! Musuh menyerbu!!”
“Musuh!? Mereka seharusnya tetap berada di dalam benteng!”
“Mereka keluar menyerang! Garis depan telah ditembus dengan mudah, dan pasukan kita kacau balau!”
Prajurit yang datang sambil menuntun kuda melirik wajah Geed, mencari reaksi.
Serangan itu benar-benar sebuah kejutan total.
Untuk memulihkan keadaan, sang komandan harus segera turun ke garis depan atau memerintahkan seluruh pasukan mundur untuk menata ulang.
Namun Geed tidak mengeluarkan salah satu dari dua perintah itu.
“Sial! Berikan itu!”
“Tuan Geed!?”
Geed merebut tali kendali kuda dan langsung melompat naik.
Dia menatap prajurit yang terkejut itu dan berteriak.
“Tahan mereka! Jangan biarkan mereka lewat! Aku akan pergi menemui Pangeran Henrik!”
“Kita tidak akan bisa bertahan lama!”
“Setidaknya tahan satu menit! Jangan berani bilang tidak bisa!”
Setelah itu Geed langsung memacu kudanya menuju markas besar.
Komandan di tempat itu pun pergi.
Tanpa memberi instruksi yang berarti.
Prajurit tersebut mengerutkan wajahnya, sementara suara derap kuda semakin keras.
Pasukan penyerbu sudah hampir tiba.
“Sial!”
Prajurit itu menggenggam tombaknya dan berlari ke arah suara kuda.
Saat itu dia melihat seorang kesatria muda memimpin barisan dan melaju paling depan.
Dia mengacungkan tombaknya ke arah kesatria itu.
“Yaaaaaahhh!!”
Namun tombaknya terbelah dua sebelum mencapai sasaran.
Gerakan pedang itu terlalu cepat untuk ditangkap mata.
Menyadari kematiannya sudah di depan mata, sang prajurit memejamkan mata.
Namun tidak ada serangan lanjutan.
“Jangan sia-siakan nyawamu. Jika kamu tidak melawan, kami tidak akan menyentuhmu.”
“...Eh?”
“Jangan buang waktu pada kroco! Sasaran kita adalah markas besar musuh! Hanya yang siap mempertaruhkan nyawanya untuk Leonard yang ikut denganku!!”
Sambil meneriakkan komando itu, kesatria muda Leonard melaju melewati sang prajurit.
Deretan kavaleri lain mengikuti di belakangnya.
Mengetahui bahwa orang yang baru saja dia serang adalah panglima tertinggi musuh, prajurit itu merasa seolah lututnya runtuh.
Tidak ada kemenangan bagi pihak mereka, tidak dengan komandan yang kabur saat musuh datang.
* * *
“Yang Mulia Henrik!”
“Geed! Ada serangan mendadak! Leonard pengecut itu, berani-beraninya melancarkan serangan kejutan!”
“Ya! Saya sudah menerima laporan itu!”
Di dalam tenda markas besar.
Sementara Henrik kebingungan dan panik, Geed berlutut di hadapannya.
Dan tanpa ragu, dia segera mengajukan usulan.
“Musuh pasti mengincar Yang Mulia. Untuk saat ini, bagaimana jika kita menarik markas besar ke belakang?”
“Jangan mengada-ada! Jika kita melakukan itu, seluruh pasukan akan hancur! Pangeran! Kita harus dorong markas besar ke depan dan lakukan serangan balasan!”
Jenderal yang berjaga di sisi Henrik meraung marah mendengar usulan Geed.
Hanya markas besar yang mundur itu sama saja dengan panglima tertinggi kabur. Jika itu terjadi, tidak satu pun prajurit yang mau bertarung.
Namun.
“Geed benar... Leonard pasti mengincarku... Kita mundur!”
“Sebagaimana mestinya, Yang Mulia!”
“Yang Mulia! Kalau begitu, mohon perintahkan seluruh pasukan untuk mundur! Tidak boleh ada situasi di mana hanya markas besar yang mundur!”
“Kalau seluruh pasukan mundur, lalu siapa yang akan menahan Leonard!? Aku ini panglima tertinggi! Bila aku tewas, semuanya berakhir!”
“Kalau hanya markas besar yang mundur, seluruh pasukan akan runtuh! Kita langsung berada dalam posisi tak terpulihkan! Apakah Yang Mulia ingin dikenang sebagai biang kehancuran bangsa!? Bahkan sebagai adik Pangeran Gordon, nyawa Anda tidak akan selamat!”
“T-Tidak mungkin...”
“Yang Mulia Henrik! Tidak masalah! Semua ini salah William! Kalau saja dia tidak mundur ke belakang, hal ini tidak akan terjadi!”
Padahal mereka sendiri yang memaksa William mundur sebelumnya, tetapi Geed tanpa malu melontarkan kebohongan itu.
Namun bagi Henrik, kebohongan itu terdengar masuk akal.
Kalau semuanya disalahkan pada William.
Maka dirinya bisa lari.
Maka dia pun mengangguk berulang-ulang, bergetar.
Dia terus menganggap Leonhardt sebagai rival karena dia takut pada dirinya sendiri yang tidak bisa tidak mengakui kemampuan Leonard.
Henrik tahu betul, betapa hebatnya sosok Leonard itu.
Baik itu seni bela diri maupun kemampuan akademik.
Leonard selalu melihat ke puncak yang lebih tinggi.
Jika ada seseorang yang akan memimpin serangan dari depan, sudah pasti itu Leonard. Gambaran pedang Leonard menebas lehernya muncul begitu jelas di benaknya.
“Yang Mulia! Anda tidak boleh kalah oleh rasa takut! Lihatlah! Para jenderal sedang bertarung di berbagai titik! Musuh adalah pasukan penggempur, jumlah mereka tidak besar! Dorong markas besar maju, perkuat komunikasi, dan bertahanlah! Jika kita melewati ini, Yang Mulia akan menjadi pahlawan!”
“Pahlawan... Benar... aku...”
Henrik yang hampir terbawa angin takut itu teringat tujuan dirinya berada di medan perang.
Demi Conrad, dan untuk mengangkat namanya sendiri.
Melihat perubahan pada wajah Henrik, Geed merasakan pipinya berkedut.
Jika Henrik tidak melarikan diri, maka Geed juga tidak bisa lari.
Namun di saat Henrik mulai bangkit dari rasa takutnya, suara yang menghancurkan harapan itu menggema dari kejauhan.
Suara rendah dari terompet.
“A-Apa itu!?”
“Terompet... Jangan-jangan...”
“Pasukan kita tidak menggunakan terompet! Itu bangsawan-bangsawan utara!”
Saat Geed menjeritkan kenyataan itu.
Dari arah datangnya suara terompet, sebuah kilat raksasa menyambar turun ke medan perang.
* * *
“Wahai petir yang melintasi langit.
“Tunjukkan wujudmu yang menggelegar di atas bumi.
“Cahaya yang berkilau,
“Berkumpullah menjadi satu garis.
“Hanguskan dan terangi seluruh bumi.
“Thunder Fall!”
Mantra petir lima baris.
Selesai melantunkan seluruh baitnya di atas pelana, Sharl mengayunkan tangan kanannya ke bawah.
Pada saat yang sama, dari langit turun sebuah kilat raksasa yang menghantam pasukan musuh.
Menembus barisan lawan yang telah kacau-balau, Sharl dan para prajuritnya memacu kuda menuju markas besar musuh.
Melihat mereka datang, para prajurit musuh yang sejak awal sudah berada dalam keadaan panik, berteriak ketakutan sambil berlarian tak tentu arah.
“Dewa Petir! Dewa Petir muncul!”
“Itu Duke Lowenstein!”
Mereka sama sekali tidak memastikannya.
Hanya karena melihat sihir petir yang luar biasa dahsyat itu, para prajurit pun langsung mengaitkannya dengan Duke Lowenstein.
Dan desas-desus itu menyebar seketika ke seluruh barisan musuh.
“Berhasil dengan baik.”
“Belum. Selama mereka masih kacau, kita harus menyerang markas besar musuh.”
“Lapor! Markas besar musuh mulai mundur!”
“Apa?”
Mendengar laporan itu, Lars mengerutkan kening.
Tidak ada tanda bahwa seluruh pasukan akan mundur.
Jika laporan itu benar, berarti hanya markas besar yang ditarik ke belakang.
Kemungkinan itu sempat terlintas dalam benaknya, tetapi dia ragu untuk mengatakannya. Adakah panglima yang akan melakukan hal sebodoh itu?
Namun Sharl, yang bukan orang militer, tidak memiliki keraguan seperti Lars.
“Markas mereka mundur! Kalian masih mau bertarung demi komandan yang meninggalkan kalian!? Jika tidak melawan, kami tidak akan mengambil nyawa kalian! Singkirkan diri kalian dari jalan!”
Sharl berseru lantang, menumpulkan semangat tempur pasukan musuh.
Melihat panji markas besar mereka ditarik ke belakang, para prajurit benar-benar kehilangan tekad.
Wajar saja. Mereka berusaha menghentikan musuh, tetapi tidak ada bala bantuan, dan mereka hanya dibiarkan untuk dikorbankan.
Tidak ada yang mau membakar nyawa demi menjadi umpan waktu. Terlebih karena Henrik tidak memiliki kesetiaan sebesar itu dari para prajuritnya.
“Seluruh pasukan, maju! Kejar markas besar musuh!”
Melihat pasukan musuh yang akhirnya menghentikan perlawanan sepenuhnya, Sharl memberi aba-aba dengan lantang.
Lars menggerakkan kudanya dan maju ke hadapan Sharl.
“Mohon mundur sedikit. Bisa saja ada pasukan penyergap.”
“Kalau ada, tinggal kuhabisi saja!”
“Sungguh...”
Sharl mengabaikan peringatan Lars dan melajukan kudanya.
Dengan napas panjang, Lars menempatkan anak buahnya mengelilingi Sharl.
Tanpa berhenti, Sharl dan pasukannya menerobos sisi formasi musuh, menerjang hingga menembus barisan utama mereka.
Bagian 6
Medan tempur penuh kekacauan.
Pasukan Henrik yang mengepung benteng berjumlah dua puluh dua ribu.
Ke dalam formasi itu, pasukan kavaleri lima ribu orang yang dipimpin Leonard melancarkan serangan mendadak.
Tentara Henrik yang malam sebelumnya minum-minum dan sama sekali tidak ragu bahwa merekalah pihak yang akan menyerbu, tidak mampu bereaksi sedikit pun terhadap kejutan itu.
Garis depan mereka runtuh dengan mudah, dan perlawanan terorganisir nyaris tidak terjadi.
Ditambah lagi, dari sisi sayap kanan pasukan Henrik, lima ribu pasukan bangsawan yang dipimpin Charlotte menyerbu masuk.
Gelombang sihir petir menerjang mereka, dan para prajurit yang salah mengira bahwa Duke Lowenstein telah muncul pun dilanda kepanikan hebat.
Untuk memperparah keadaan, barisan komando utama justru memerintahkan mundur.
Para jenderal yang berusaha mengatur ulang formasi di berbagai titik hanya bisa mengumpat melihat betapa bodohnya keputusan itu.
Meski begitu, mereka tetap memimpin pasukan masing-masing. Jika kalah, mereka akan dianggap penanggung jawab perang dan kehilangan nyawa.
Mereka sudah menyingkirkan William, kalah setelah itu sama sekali tidak boleh terjadi.
Di antara para jenderal itu, mereka yang berada di sisi kiri masih berhasil menyatukan satuan-satuan yang tidak terlalu kacau, dan hendak menyerang bagian belakang pasukan Leonard yang sedang berupaya menerobos pusat musuh.
Karena barisan komando utama mundur, Leonard dan pasukannya justru harus masuk lebih jauh ke dalam, membuka celah untuk sayap kiri Henrik berputar ke sisi belakang mereka.
Mundurnya markas besar itu hanyalah pemanfaatan situasi oleh jenderal-jenderal di lapangan, bukan strategi apa pun.
Namun bagi Sharl dan pasukannya yang tak mengetahui kondisi musuh, itu terlihat seperti taktik yang disengaja.
“Pasukan Yang Mulia Leonard yang menerobos pusat sedang dalam bahaya!”
“Markas utama mereka mundur untuk menarik Yang Mulia lebih dalam rupanya!”
Lars menilai kemunduran itu sebagai bagian dari strategi musuh.
Memang, taktik semacam itu bukan tidak ada.
Jika berhasil sempurna, pasukan penyerbu bisa dikepung dan dihancurkan.
Namun Sharl berkata kepadanya, “Itu keputusan di tempat. Kalau itu memang taktik mereka, mereka pasti melakukannya lebih rapi.”
“Tapi...”
“Dan sepertinya sudah ada yang mengantisipasinya. Kita ikuti ke arah markas utama.”
Sharl berkata sambil menatap ke langit.
Pasukan sayap kiri musuh yang hendak memutar untuk menyergap bagian belakang pasukan Leo.
Mereka diterjang dari udara oleh Kesatria Naga.
Dilihat dari langit, pergerakan musuh terlihat jelas.
Para Kesatria Naga dari keluarga Marquis Gleisner tidak sebodoh itu untuk membiarkan musuh bergerak sesukanya.
Dan satu lagi.
Ada satu pasukan lain yang bergerak untuk menggagalkan manuver tersebut.
* * *
“Yah, yah... mengharapkan orang bisa langsung paham situasi di tengah medan perang itu rasanya agak berlebihan.”
“Mereka pasti sangat mempercayai Tuan Wynfried,” tambah Lynfia, mencoba menenangkan Wyn yang menarik napas panjang di atas kudanya.
Wyn, yang ditugaskan menjaga benteng pendukung, langsung memimpin seribu pasukan elite untuk keluar begitu menyadari Leo telah bergerak.
Keterlambatan kecil mereka bukan karena butuh waktu untuk bersiap, melainkan agar bisa mengalahkan musuh yang mungkin menyerang benteng saat Leo pergi, atau yang berusaha mengejar punggung pasukan Leo.
Dan benar saja, sayap kiri musuh tengah berusaha memutar untuk menyerang dari belakang.
“Apakah mundurnya markas utama itu bagian dari strategi?”
“Entahlah. Di antara para pangeran, Henrik memang yang paling biasa-biasa saja, tapi bagaimanapun dia tetap seorang Ardler. Tidak aneh kalau dia bisa melakukan hal selevel ini. Asalkan dia tenang.”
“Jadi menurut Anda dia tidak tenang?”
“Meski sudah pernah merasakan pertempuran pertamanya, dia hampir tidak punya pengalaman di medan perang. Dia berniat menyerang, tapi tiba-tiba justru disergap. Dan Leo yang memimpin serangan itu. Kalau dia sadar bahwa nyawanya benar-benar terancam, wajar kalau mentalnya goyah.”
“Kalau begitu, ini keputusan para jenderal di lapangan, ya. Sepertinya musuh juga punya jenderal yang lumayan.”
“Lumayan, ya cuma lumayan. Kalau mereka benar-benar cerdas, mereka tidak akan membiarkan Gordon menggantungkan segalanya pada Pangeran Naga, dan mereka juga tidak akan menyerahkan komando pada Henrik.”
Sayap kiri yang gerakannya terhenti karena serangan para Kesatria Naga kembali diterjang hujan panah. Wyn memerintahkan serangan lanjutan.
Menerjang dengan seribu orang hanya akan berakhir menjadi pertempuran jarak dekat.
Dia memilih menciptakan kebingungan tambahan dengan panah, karena perhatian musuh sedang tertuju ke langit.
Itu saja sudah cukup.
“Uwaaah!? Panah! Panah datang!”
“Sial! Jangan cuma lihat ke atas, awasi para Kesatria Naga juga!”
Wyn menatap para Kesatria Naga yang bebas melesat ke segala arah di langit.
Di antara mereka, tidak ada wyvern putih.
“Si Leo itu... Dia sudah memperhitungkan kalau markas musuh akan mundur, ya?”
“Tuan Wynfried, sebagian musuh bergerak ke arah benteng.”
“Jumlahnya sedikit. Mereka tidak akan bisa merebut benteng. Lagi pula, sepertinya kita sudah menyiapkan pertahanan.”
Wyn hanya melirik benteng itu sebentar sebelum memalingkan wajah.
Di atas tembok benteng, Regu Keenam terbang rendah, menghujani pasukan musuh dengan tembakan terfokus dari tongkat sihir mereka.
Dengan serangan sekuat itu, pasukan kecil mana pun tidak mungkin mendekat ke benteng.
Sementara itu, markas komando yang seharusnya mengambil keputusan malah mundur.
Masing-masing unit harus bergerak sendiri-sendiri, membuat koordinasi mereka berantakan.
Serangan terpisah-pisah seperti itu tidak akan mengubah keadaan.
“Kita lanjutkan saja gangguan ini. Lynfia, ambil seratus orang. Bunuh sang jenderal.”
“Sepuluh orang saja cukup. Aku tidak ingin terlalu mencolok.”
“Itu justru sangat membantu.”
Sambil mengangkat bahu, Wyn memberi perintah perubahan arah pada pasukannya.
Dia bermaksud menyerang unit-unit musuh yang mulai pulih, memperlama kekacauan sebisa mungkin.
Lynfia kemudian berpisah dari pasukan Wyn, menyusup masuk ke barisan musuh.
Dia berlari menembus para prajurit yang panik dan berhamburan, menebas para komandan yang masih sempat memberi instruksi. Jika dia terus melakukannya, cepat atau lambat dia akan menemukan sang jenderal.
Kemenangan hanya tinggal menunggu waktu.
* * *
Para Kesatria Naga sejak awal sudah mengikuti instruksi Leonard untuk mengawasi medan perang dari udara.
Jika musuh menunjukkan tanda-tanda bergerak, tugas mereka adalah menghalanginya.
Namun, ada satu Kesatria Naga yang menerima perintah berbeda.
Tanpa mengetahui hal itu, markas utama pasukan Henrik yang sedang mundur telah memasuki pegunungan.
Henrik berencana melintasi pegunungan itu dan terus mundur hingga mencapai kota yang terletak di belakang mereka.
Henrik sangat mengerti Leonard. Jika pria itu sudah memutuskan sesuatu, dia akan menuntaskannya sampai habis.
Dia tidak akan pernah melakukan serangan setengah-setengah.
Jika markas utama menjadi targetnya, maka Leonard pasti akan menggunakan segala cara untuk memburunya.
Demi menyelamatkan diri, Henrik memutar otaknya sekuat tenaga.
Dia memilih memasuki pegunungan tanpa memutar arah karena pasukan Leonard terdiri atas unit berkuda.
Di medan yang tidak rata, kekuatan kavaleri akan menurun drastis.
Selain itu, pegunungan adalah lokasi ideal untuk melakukan penyergapan.
Jika lawan khawatir terhadap kemungkinan serangan mendadak, mereka mungkin memperlambat pengejaran.
Jumlah pasukan Henrik juga lebih banyak. Kekacauan tidak akan bertahan lama.
Jika para jenderal di garis depan berhasil memulihkan pasukan, Leonard tidak akan punya pilihan selain mundur.
Henrik hanya perlu melarikan diri sampai saat itu tiba.
Pemikirannya tidak salah. Faktanya, Leonard memang menempatkan para Kesatria Naga di udara untuk menghambat pemulihan pasukan lawan, sementara Wyn memperparah kekacauan di darat.
Namun itu bukan satu-satunya langkah yang diambil Leonard.
Selain memperlama kekacauan, dia juga telah menyiapkan langkah cepat untuk mengakhiri semuanya sekaligus.
“Haa haa!! Lari! Pokoknya lari!!”
Sambil memaksa para pengawalnya mempercepat langkah, Henrik berlari menembus jalan setapak di gunung.
Dia sudah terpisah dari Geed, tetapi itu tidak penting baginya.
Yang penting hanyalah nyawanya sendiri.
Jadi meski dia melihat salah satu pengawalnya disambar petir dari udara, Henrik tetap berlari tanpa berhenti.
Karena dia tahu.
Leonard telah mengerahkan kartu pamungkas terkuatnya untuk menghabisinya.
“Kesatria Naga Putih!!!”
“Hadang dia! Hadang!!”
“Tidak mungkin! Dia!? Dia terbang menembus celah-celah pepohonan! Uwaaah!!”
Yang turun dari langit adalah Finn.
Melesat di antara batang dan cabang pohon, Finn menerjang markas utama Henrik.
Pasukan yang hanya fokus pada pelarian itu sama sekali tidak mampu menahan serangan tersebut.
Bagian 7
Finn telah menerima perintah untuk segera mengejar markas utama musuh kalau mereka mundur.
Karena itu, dia langsung mengarahkan serangannya pada bagian markas musuh yang memiliki penjagaan paling ketat.
Sebagian besar pengawal adalah prajurit biasa.
Namun Finn bisa merasakan keberadaan lain di antara mereka.
“Nova!”
Sambil mengunci arah pandang pada sosok Henrik, Finn menarik tali kekang Nova dan terbang naik ke udara.
Sesaat setelah Finn meninggalkan titik itu, sebuah pisau meluncur nyaris mengenai dirinya.
Para pembunuh yang menjadi pengawal khusus Henrik.
Henrik mewarisi sekitar tiga puluh persen dari orang-orang Zandra, termasuk para pembunuh yang melayaninya.
Pemimpin mereka adalah Gunther, mantan tangan kanan Zandra.
Dalam pemberontakan di ibu kota tempo hari, Gunther sempat dikalahkan oleh Sebas, tetapi dia berhasil dirawat dan melarikan diri.
Akhirnya dia bergabung di bawah Henrik.
“Yang Mulia, silakan pergi!”
“Gunther! Aku serahkan ini padamu!”
Dengan wajah lega, Henrik berlari menyingkir bersama pengawal lainnya.
Finn mencoba mengejarnya, namun pada saat dia hampir meraih Henrik.
Sebuah pisau sihir melesat dari belakang.
Dia menghindar tepat pada waktunya, dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengejaran.
Dia memutuskan jika membelakangi pria ini bisa berbahaya, tidak seperti pembunuh lainnya.
Finn bisa saja kembali ke udara dan melakukan serangan susulan. Tapi hasilnya hanya akan sama seperti sebelumnya.
“Kenapa? Kamu tidak kabur ke udara?”
“Bukan hanya aku yang mengejarnya... Tugasku... adalah menghentikan langkahmu.”
“Justru aku yang menghentikan langkahmu di sini. Tidak ada lawan yang lebih merepotkan daripada dirimu, Kesatria Naga Putih.”
Finn bisa terbang bebas di udara dan menyerang dari jarak jauh.
Tidak mungkin mereka bisa mundur jika Finn masih bisa bergerak bebas sesuka hatinya.
Hampir tidak ada orang di pihak Gordon yang mampu menghentikan Finn dan Nova secara paksa.
Yang bisa mereka lakukan hanyalah menarik perhatian Finn dan memaksanya berhenti.
Dan taktik itu berhasil.
Yang tersisa adalah mengulur waktu.
“Ayo!”
Gunther melemparkan beberapa pisau sekaligus.
Finn menghindar ke samping, namun pisau lain sudah menunggu di jalur geraknya.
Finn menangkisnya dengan tongkat sihirnya dan melepaskan sambaran petir.
Namun Gunther melompat ringan ke atas batang pohon dan menghilang.
Dia tidak terlihat. Tapi dia pasti ada di sekitar.
“Nova. Aku serahkan padamu.”
“Kyu!”
Sebagai Kesatria Naga, Finn termasuk yang terbaik. Namun di darat, keunggulannya jauh berkurang.
Dia memang lebih kuat daripada prajurit biasa, dan kemampuannya mengendalikan tongkat sihir membuatnya setara dengan penyihir cepat.
Tapi melawan petarung sejati seperti Gunther, situasinya menjadi jauh lebih sulit.
Sihir yang ditembakkan tongkat sihir memang kuat, tetapi bukan sesuatu yang asing.
Gunther sudah sering bertarung melawan penyihir. Dibandingkan dengan mereka, kekuatan tongkat sihir itu tidak jauh berbeda. Yang membuat Finn merepotkan hanyalah kecepatan tembaknya.
Namun, selama Gunther menghilang dari pandangan, keunggulan itu lenyap.
Serangan mendadak adalah keahlian seorang pembunuh.
Memanfaatkan bidang keahliannya sendiri, Gunther melepaskan serangan dari titik buta Finn.
Dua pisau sekaligus. Pisau pertama adalah pisau nyata. Pisau kedua adalah pisau sihir yang tersembunyi tepat di belakangnya.
Menangkisnya satu akan membuat yang kedua menembus.
Itulah gaya bertarung andalannya.
Namun Finn tidak menoleh. Dia menghindari keduanya.
Tepatnya, bukan Finn yang menghindar, melainkan Nova.
Dalam sekejap, Nova menukik dan berbalik arah.
Manusia mungkin bisa bersembunyi dari pandangan dan melakukan serangan kejutan.
Namun menghadapi seekor wyvern, itu pengalaman yang tidak dimiliki Gunther.
Mata Gunther terbuka lebar, kemudian Finn langsung menembakkan rentetan petir.
Gunther melompat turun dari pohon, tetapi salah satu sambaran mengenai bahu kanannya di udara.
“Ghh!!”
Rasa sakit membuat gerakannya melambat sejenak.
Finn tidak melewatkan kesempatan itu.
Nova melesat, menerjang dengan kecepatan tinggi.
Nova hampir saja melukai Gunther dengan cakarnya.
Entah bagaimana Gunther bisa menghindarinya, tetapi dia tidak bisa menghindari tubuh besar wyvern itu.
Dia terpental keras dan terhempas ke tanah, tidak mampu bergerak.
Namun sebuah senyum terbentuk di wajah Gunther.
“Apa yang lucu?”
“Tentu saja... Tidak kusangka semuanya berjalan sesuai rencana...”
“Sesuai rencana?”
“Tidak seorang pun dari kami percaya Yang Mulia Henrik bisa menang... Kami hanyalah bawahan pinjaman... Tidak ada yang mau mati demi dirinya... Karena itu kami merancang rencana melarikan diri sejak awal...”
Begitu Gunther berkata demikian.
Para pembunuh lainnya muncul dari balik pepohonan dan berkumpul di sisinya.
Pada saat bersamaan, dinding api bangkit di antara Finn dan Gunther.
“Sial!”
Finn segera mundur saat melihat dinding api itu.
Memang terkesan sepele, tapi mereka sekarang berada di pegunungan.
Sihir api bisa memicu kebakaran dengan cepat.
Namun Finn segera menyadari sesuatu yang lebih buruk.
Api tidak hanya berkobar di sini.
“Jangan-jangan!?”
“Cepat beri tahu pasukanmu... Api akan menyebar...”
“Kamu gila!? Kalian tidak bisa keluar hidup-hidup!”
Finn bisa terbang kapan saja. Tapi Gunther dan sekutunya harus melarikan diri lewat darat. Jika api menjalar dengan cepat, mereka akan mati.
Namun Gunther justru tertawa.
“Kami sudah lama membuang hidup kami... Tuan kami telah pergi lebih dulu. Tidak ada keraguan untuk menyusulnya...!”
“Sial!”
Tatapan Gunther bukanlah tatapan orang yang bercanda.
Bukan gertakan.
Mereka berniat menahan pengejaran meski itu membuat mereka sendiri tidak bisa melarikan diri.
Menyadari ini, Finn segera memutuskan untuk menghentikan pertempuran.
Pasukan Leo sudah berada di dalam pegunungan.
Jika mereka tidak segera mundur, mereka akan tersapu oleh kebakaran hutan. Bahkan, sebagian besar pasukan musuh masih tertinggal.
Mengejar Henrik memang memungkinkan, tetapi sekalipun Henrik berhasil dihabisi, pertempuran tidak akan berakhir.
Namun bila Leo sampai gugur, semuanya akan selesai.
Demi melindungi Leo dan pasukannya, Finn terbang naik ke udara.
Melihat Finn pergi, Gunther mulai bersiap menuruni gunung bersama para pembunuh.
Bergantung pada situasi, nyawa mereka mungkin tidak akan selamat. Meski begitu, Henrik masih membutuhkan bantuan.
Dengan kematian Zandra, satu-satunya orang yang layak dia layani hanyalah Henrik.
“Ayo... Walau kita berhasil menahan mereka di sini, pengejaran tidak akan berhenti...”
Menahan rasa sakit, Gunther pun memulai proses mundur.
Pasukan Leo yang telah memasuki gunung bergerak cepat menarik diri, merapikan formasi, lalu memilih rute memutar untuk menghindari kawasan yang terbakar.
Pada saat itu, pasukan Henrik sudah mulai mundur, masing-masing jenderal memimpin unitnya untuk mundur.
Selama mereka tetap tinggal, mereka akan terus menjadi sasaran serangan. Keputusan mundur adalah satu-satunya pilihan.
Jumlah prajurit yang melarikan diri juga semakin banyak, sehingga bertahan pun tidak akan menghasilkan perlawanan berarti.
Demikianlah, pasukan Henrik akhirnya lenyap dari depan benteng.
Bagian 8
Markas besar Henrik terus melarikan diri hingga akhirnya memasuki sebuah kota kecil bernama Lage.
Saat mereka tiba di sana, jumlah pasukan di markas besarnya telah menyusut menjadi kurang dari lima ratus orang, semuanya kelelahan dan nyaris tidak lagi mampu bertempur.
Leo mengetahui posisi Henrik dengan tepat.
“Dari atas, jumlah musuh kurang dari lima ratus. Mereka kelelahan dan duduk tidak berdaya.”
“Begitu ya...”
Di dekat kota Lage, Leo menempatkan lima ribu pasukan pengejar yang siap menyerbu kapan pun dia memberi komando.
Namun Leo tidak bergerak.
“Yang Mulia... Ini kesempatan yang baik untuk menyerang, menurut saya...”
Karena kebakaran hutan tadi, mereka sempat tertinggal. Tetapi Leo sudah memperkirakan bahwa Henrik akan melarikan diri ke Lage, sehingga dia menempuh rute tercepat. Berkat itu jarak mereka bisa sedekat ini.
Pasukan musuh tercerai-berai dalam proses mundur, dan tidak ada indikasi bahwa mereka akan berkumpul kembali dengan markas besar.
Karena yang diburu adalah markas besar itu sendiri.
Tidaj ada jenderal yang mau kembali menolong markas yang meninggalkan anak buahnya dan menjadi pihak pertama yang melarikan diri.
Bagaimanapun, ini tampak seperti peluang emas.
Tetapi.
“Terasa terlalu sunyi.”
“Terlalu sunyi, Yang Mulia? Musuh kelelahan, mungkin itu sebabnya?”
“Ya, tapi rakyat kota berbeda. Mereka tahu tempat ini akan jadi medan perang, namun tidak ada seorang pun yang melarikan diri atau bahkan panik. Apa kamu melihat warga kota dari udara?”
“Benar juga... Akan saya cek sekali lagi.”
“Tolong.”
Sambil meminta Finn memeriksa keadaan, Leo membagi pasukannya menjadi dua untuk ditempatkan di sisi timur dan barat kota.
Derap kaki kuda selalu bising.
Biasanya penduduk awam akan menjerit ketakutan.
Namun tidak ada tanda-tanda kegaduhan di kota.
“Tidak ada tanda apa pun...”
Leo menunduk, berpikir.
Tak lama kemudian Finn kembali.
“Bagaimana?”
“Tak terlihat satu pun warga. Tidak ada reaksi terhadap pergerakan pasukan kita.”
“Baik. Sampaikan pada seluruh pasukan: kita mundur.”
“...Mundur?”
“Henrik tidak sepadan dengan risiko ini. Kemungkinan besar orang-orang yang bersembunyi di rumah bukan penduduk, melainkan para prajurit. Mungkin pasukan yang Pangeran William siapkan.”
Leo menghela napas dan bahunya merosot sedikit.
Dia sudah menduga lawan ini tidak mudah, tetapi ternyata lebih licin dari perkiraannya.
Begitu mereka mundur, pasukan lawan pasti bergerak sesuai skenario terburuk yang sudah disiapkan.
Sekalipun William tidak berada di medan perang, pengaruhnya dalam situasi ini tidak bisa diremehkan.
Jika mereka memaksa mengejar Henrik sekarang, serangan balik yang menyakitkan sudah menunggu.
“Kemenangan kita sudah pasti. Tidak perlu mengotori kemenangan itu. Biarkan tetap indah sampai akhir.”
“Baik.”
“...”
Leo merenung sejenak, kemudian memanggil para penyihir dalam pasukannya.
Dia meminta salah satu dari mereka menggunakan sihir penguat suara, lalu menatap ke arah kota.
“Kepada komandan pasukan yang bersembunyi di kota. Aku Leonard. Sungguh penyergapan yang mengesankan. Sampaikan pada Pangeran William bahwa aku mengakui kecakapannya. Dan Henrik, jika kamu masih ingin hidup, cari perlindungan pada Pangeran William. Dia mengerti situasinya dengan benar.”
Setelah menyampaikan pesan itu, Leo memimpin pasukannya untuk mundur.
Di sisi Leo, Finn yang terbang rendah mengajukan pertanyaan.
“Mengapa Anda memberi mereka nasihat? Karena beliau adik Anda?”
“Kedengarannya manis, ya?”
“Jika itu satu-satunya alasan, maka memang terdengar manis. Bagaimanapun, dia seorang pemberontak.”
“Benar. Alasannya memang sebagian karena dia adikku. Tapi bukan hanya itu.”
“Jika tidak keberatan, bolehkah saya tahu pemikiran Anda?”
“Mudah saja. Gordon akan mencoba membunuh Henrik sebagai peringatan. Tapi Pangeran William akan menghentikannya. Meskipun Henrik gagal total, para jenderal yang tidak mampu menghentikannya juga punya andil. Jika dia membunuh sang adik, dia sendiri akan dicurigai. William tidak akan membiarkannya. Apalagi jika Henrik datang meminta perlindungan.”
“Begitu rupanya. Walau demikian, tampak seperti Anda malah membantu musuh.”
“Kalau Henrik tetap hidup, dia mungkin akan membuat kesalahan besar lagi. Selain itu, dengan menyelamatkan Henrik, Pangeran William akan berselisih dengan Gordon. Bukankah itu menguntungkan?”
Di antara semua orang, Leo-lah yang paling memahami ancaman William.
Jika Gordon menaruh kepercayaan penuh pada William dan menyerahkan seluruh pasukan kepadanya, pertarungan di masa depan akan jauh lebih sulit.
Karena itu, Gordon perlu dibuat waspada terhadap William.
Yang diinginkan Persatuan Kerajaan hanyalah sebuah simbol yang bisa mereka kendalikan. Gordon terlalu kuat untuk itu.
Bukan mustahil mereka ingin mengangkat Henrik sebagai boneka.
Baik apakah itu gagasan pribadi William atau tidak, Persatuan Kerajaan tetap punya alasan untuk bertindak demikian.
Justru karena itulah Gordon harus mencurigai William.
“Yang Mulia bukan hanya unggul dalam seni perang, tetapi juga dalam siasat rupanya.”
“Aku tidak unggul. Hanya meniru saja... Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan ahli sejati.”
“Anda terlalu merendah.”
“Bukan merendah. Memang begitu kenyataannya.”
Leo tersenyum kecut.
Dia yakin, ahli siasat sejati itu, entah di mana dia berada sekarang, sedang sibuk menjalankan berbagai manuver di balik layar.
* * *
Jenderal Fidesser, yang bersembunyi di kota Lage, hanya bisa mengagumi Leonard yang berhasil menyadari keberadaan pasukan penyergap.
“Seperti yang diharapkan dari Pangeran Pahlawan...”
Markas besar musuh sedang melarikan diri.
Ini adalah momen yang, setelah pengejaran panjang, siap untuk dituntaskan dengan serangan cepat.
Untuk memanfaatkan celah itu, warga telah dievakuasi dan pasukan ditempatkan dalam posisi menunggu. Semua itu adalah usulan William.
Namun penyamaran itu terbongkar hanya karena sedikit saja kejanggalan.
Padahal, bila dirinya yang berada di posisi lawan, Fidesser pasti sudah memerintahkan pengejaran tanpa ragu.
“Tidak ada yang bisa menandinginya...”
Sambil bergumam, Fidesser keluar dari rumah tempat dia bersembunyi.
Meski begitu, lawan tetap mundur, dan Henrik pun berhasil diselamatkan.
Jika Leonard adalah seorang jenius, maka William pun sama.
Tanpa hadir di medan perang sekalipun, dia mampu menggagalkan langkah Leonard.
Sebagai jenderal, Fidesser tidak bisa tidak mengakui hal itu. Mereka berada pada tingkatan yang berbeda.
“Andai saja Yang Mulia itu pun mau mengakui hal ini...”
Dengan itu, Fidesser pergi menemui Henrik, yang tengah gemetar di bagian dalam kota.
Henrik berjongkok sambil membungkus dirinya dengan kain.
“Yang Mulia. Pasukan Leonard sudah mundur. Mari kita kembali ke markas.”
“T-Tidak mau... Kakak Gordon... akan membunuhku...”
“Kekalahan kita telak. Wajar bila kepala komandan dipertaruhkan.”
“B-Bukan salahku! Itu karena William mundur!”
“Anda lupa, Yang Mulia? Yang mendorongnya melakukan itu adalah Anda sendiri.”
“Semua orang setuju juga waktu itu!”
“Namun tetap saja Yang Mulia-lah komandannya. Leonard bahkan memberikan nasihat terakhir. Jika ingin hidup, mintalah perlindungan Pangeran William. Keputusan selanjutnya terserah Yang Mulia.”
Setelah mengatakan itu, Fidesser meninggalkan tempat tersebut.
Tak lama kemudian, pasukan berkuda memasuki kota Lage.
Di barisan paling depan adalah Geed.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Ini Geed!”
Geed bergegas hendak menuju Henrik dengan panik, tetapi Fidesser menahan bahunya.
“Hei! Apa-apaan!? Berani sekali kamu! Kamu pikir aku siapa!?”
“Putra sulung keluarga Duke Holtzwart, yang menjadi penasihat dekat Yang Mulia, bukan?”
“Kalau kamu tahu, lepaskan aku!”
“Ada satu pertanyaan. Kamu selama ini berada di mana?”
“Apa urusannya denganmu!?”
“Tolong jaga ucapanmu. Kami baru saja hampir bertempur melawan pasukan Leonard dan para prajurit sedang sensitif. Jadi, di mana kamu tadi?”
Melihat tatapan tajam Fidesser, Geed mengeluarkan jeritan kecil.
Prajurit-prajurit yang mengiringi Geed pun tidak bisa bergerak karena ditatap oleh orang-orang Fidesser.
Tak punya pilihan, Geed menjawab.
“A-Aku terpisah dari Yang Mulia dan berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh!”
“Oh ya? Meloloskan diri dari kepungan? Untuk seseorang yang baru saja lolos dari bahaya, zirahmu cukup bersih.”
Armor Geed tidak memiliki satu goresan pun.
Bahkan armor Henrik sendiri penuh lecet kecil akibat pelarian.
Fidesser menatap Geed dengan amarah.
“Aku tidak berniat membela Henrik yang kabur itu. Tapi aku juga takkan memaafkan orang yang menjadikan beliau umpan lalu melarikan diri ke tempat aman! Berapa banyak prajurit yang mati dalam kemunduran ini!? Dan kamu datang sekarang dengan wajah bangga!?”
“A-Apa!? Aku adalah putra sulung keluarga Holtzwart! Penghinaan seperti ini tidak akan kubiarkan!”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan!? Harusnya kamu yang berkata begitu pada dirimu sendiri! Kamu ini penasihat Yang Mulia, kenapa justru kamu yang melarikan diri!? Untuk apa kamu datang ke medan perang!? Dasar bocah tidak berguna!”
“T-Tidak berguna!? K-Kekalahan ini salah para jenderal! Bukan salahku!”
“Markas besar mundur lebih dulu! Tanpa memberi perintah apa pun! Apa yang bisa dilakukan para jenderal!? Saat itu, kamu sedang di mana!? Berdasarkan pengawal Yang Mulia, yang pertama mengusulkan mundur adalah putra sulung keluarga Holtzwart!”
“A-Aku... uwaaah!?!? Apa yang kamu lakukan!?”
Fidesser menjatuhkan Geed ke tanah, menindihnya dengan kasar.
Lalu dia menendang perut Geed.
“Zirahmu yang bersih, tubuhmu pun tanpa luka. Jika kamu muncul di hadapan Yang Mulia seperti ini, kamu bisa dianggap pengecut yang melarikan diri. Itu akan mencoreng nama keluarga Holtzwart. Kami hanya akan membuatmu tampak seperti orang yang keluar dari pertempuran sengit. Lakukan.”
“Aaaaahhh!? Berhenti! Sakit! Sakit!!”
Atas perintah Fidesser, anak buahnya memukuli Geed habis-habisan.
Prajurit bawahan Geed juga menerima hal yang sama.
Tak lama, mereka semua berlumuran tanah dan penuh luka kecil.
“Uuu... hentikan... cukup...”
“Sekarang kamu punya alasan. Kamu bisa bilang bahwa setelah terpisah dari Yang Mulia, kamu melewati pertempuran sengit.”
“Uuugh...”
Melihat Geed meringkuk, Fidesser harus menahan diri untuk tidak membunuhnya saat itu juga.
Pihak yang harus bertanggung jawab atas kekalahan besar ini bukanlah seorang jenderal biasa, melainkan seseorang yang berpangkat lebih tinggi.
Kesalahan Geed berarti kesalahan keluarga Holtzwart.
“Awasi dia. Jangan biarkan dia kabur. Pangeran William pasti tahu bagaimana memanfaatkannya.”
“Siap!”
Dengan itu, Fidesser mulai mempersiapkan diri untuk mundur.
Bagian 9
Ruang tersembunyi di Istana Pedang Kaisar.
Ke sanalah aku berpindah.
“Bagaimana kabarmu, Kakek?”
“Mana mungkin ada yang bisa disebut kabar untuk orang sepertiku. Sebaliknya, bukankah itu seharusnya pertanyaanku? Bagaimana kabarmu?”
“Lumayan.”
Ini adalah ruang milik kakek buyutku yang juga guruku.
Ruangan itu dipenuhi benda-benda sihir dan grimoire langka. Seorang penyihir biasa mungkin sudah pingsan hanya dengan melihatnya.
Namun, aku bukan datang untuk itu hari ini.
“Ada sedikit yang ingin kutanyakan.”
“Pertanyaan? Jarang sekali. Bahkan saat terjadi pemberontakan di ibu kota pun kamu tidak mencariku.”
“Ada terlalu banyak mata saat itu. Kalau aku meminta bantuanmu, keberadaanmu akan ketahuan. Lagipula, pemberontakan itu sudah bisa kuprediksi. Aku tidak membutuhkan bantuanmu.”
“Oh? Jadi sekarang kamu menghadapi sesuatu yang membuatmu butuh bantuanku?”
“Kira-kira begitu. Pertama, aku ingin tahu... apakah aktivasi sihir bawaan itu memang berbeda?”
Masih banyak hal tentang sihir bawaan yang belum diketahui.
Kenapa bisa digunakan?
Kenapa bisa muncul?
Bahkan hal paling mendasar saja belum terjawab.
Namun kakek menjawabnya tanpa ragu.
“Sihir bawaan tetaplah sihir. Cara mengaktifkannya tidak berbeda. Kamu hanya menggunakannya tanpa sadar. Itu pun sihir.”
“Begitu... syukurlah.”
“Tidak perlu kutanya alasanmu menanyakan itu. Ada lagi?”
“Aku ingin nasihat sebagai seseorang yang pernah memenangkan perebutan takhta. Kamu sudah dengar situasi di utara dari Sebas, kan?”
“Sudah. Putra ketiga membuat pangkalan di utara, dan para bangsawan utara memilih netral, bukan?”
“Aku sudah berhasil menyatukan para bangsawan utara. Sekarang tinggal menghancurkan pangkalan itu.”
“Lalu apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Situasi di utara sedang buntu. Kalau Kakek yang menghadapinya, apa yang akan Kakek lakukan?”
“Mudah. Membunuh Kaisar.”
Tentu saja.
Metode paling cepat untuk mengacaukan garis belakang musuh dan membalikkan keadaan.
Kekurangannya cuma satu, terlalu sulit.
“Siapa yang akan mengincarnya, ya? Ibu Gordon memiliki kemampuan pedang sekelas kapten kesatria pengawal. Ayahanda juga pasti sudah memperhitungkannya...”
“Sebagai mantan selir, dia tentu mengerti tabiat sang Kaisar. Kalau kamu, apa yang akan kamu lakukan?”
“...Melancarkan serangan pada rakyat di ibu kota sebagai pengalih perhatian. Ayahanda tidak akan mengabaikan keributan di wilayahnya sendiri.”
“Pengawalnya bisa menipis, dan itu mungkin yang mereka incar. Tapi ada penasihat di sekeliling Kaisar. Mereka tidak akan tertipu begitu saja.”
“Itu yang tidak membuatku khawatir. Pembunuhan itu tidak akan berhasil. Yang jadi masalah adalah kekacauan di ibu kota.”
Ibu kota sudah kacau saat pemberontakan kemarin.
Saat aku pingsan, situasinya mulai pulih, tapi belum sepenuhnya kembali normal.
Jika kejadian besar terjadi lagi sekarang, dampaknya akan menjalar ke seluruh negeri.
Ibu kota adalah pusat Kekaisaran, jalur utama logistik.
“Setelah pertempuran di utara selesai, kita butuh banyak orang dan suplai untuk pemulihan. Kalau ibu kota kacau, manusia dan barang tidak sampai ke utara.”
“Jika medan perang dekat, orang-orang harus meninggalkan rumah mereka. Banyak yang kehilangan rumah, pekerjaan, keluarga. Tentu saja kekacauan di ibu kota akan fatal.”
Kakek berkata seolah itu urusan orang lain.
Dia memang bukan kaisar lagi.
Saat tubuhnya direbut iblis pun dia sudah pensiun.
Tanggung jawab sebagai kaisar sudah lama dia lepaskan.
Tapi...
“Kalau ibu kota kacau, Sebas tidak bisa mendapatkan grimoire langka untukmu, ‘kan?”
“Apa!? Itu memang masalah...”
Buku-buku sihir di sini adalah koleksi lama sebelum dia disegel dan buku-buku yang Sebas temukan. Dia sudah menamatkan semuanya, memanfaatkannya untuk penelitian. Tapi itu tidak berarti dia tidak ingin buku baru.
Dia selalu menginginkannya. Karena itu dia meminta Sebas mencarikan grimoire baru. Hanya itulah hiburan hidupnya.
“Merepotkan... Jadi kamu ingin aku melakukan apa?”
“Sebagai Silver, minimal redamlah kekacauan di ibu kota. Aku tidak bisa meninggalkan utara.”
“Aduh... Aku ini sudah mati. Bisa berada di sini pun cuma kebetulan. Kalau kamu sampai bergantung pada kebetulan, berarti kamu masih jauh dari cukup.”
“Hanya kali ini saja. Sisanya akan kutangani sendiri.”
“Baiklah. Aku kira tidak terlalu buruk kalau aku terlibat sedikit dalam perebutan takhta kali ini.”
Dengan itu, Kakek menerima permintaanku.
Dia pernah mengajariku sihir kuno hanya sebagai balas budi dan karena tujuanku waktu itu untuk menyelamatkan ibuku.
Bukan untuk memenangkan perebutan takhta.
Baginya, dunia sekarang seharusnya diurus oleh orang-orang yang hidup di masa kini.
Dia mau meminjamkan pengetahuan, tapi tidak kekuatannya.
Karena itu aku tidak pernah mengandalkannya selama ini.
Namun.
“Kakek... Perebutan takhta kali ini ada yang aneh. Kakek tidak merasakannya?”
“Yang penting bukan apa pikiranku. Yang penting apa yang kamu pikirkan.”
“...Aku menganggap ini tidak normal. Aku tahu orang berubah saat menyangkut takhta. Tapi... kali ini berbeda.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Menghentikan perebutan takhta?”
“Sekarang sudah terlambat. Tidak ada pilihan... selain menyelesaikannya secepat mungkin.”
“Kalau yang harus kamu lakukan tidak berubah, jangan terlalu dipikirkan. Tapi kamu tetap harus bersiap.”
“Aku tahu. Karena itu aku bertanya. Kakek pernah dirasuki iblis. Itu terjadi karena kakek meneliti iblis bersama sihir kuno.”
“Itu benar. Karena itulah aku membuka grimoire yang berisi segel iblis.”
Dengan wajah menyesal, Kakek menghela napas.
Sebenarnya, alasan dia mulai meneliti sihir kuno adalah karena dia lebih dulu meneliti iblis.
Dia menilai sihir kuno adalah cara yang efektif untuk menghadapi mereka, sehingga dia memulai penelitiannya.
Hasil akhirnya memang tidak cukup untuk melawan iblis itu, tapi penelitiannya sendiri tidak sia-sia.
“Lima ratus tahun yang lalu, apakah benar Raja Iblis dibunuh oleh Sang Pahlawan?”
“Itu tidak diragukan lagi. Semua dokumen mencatat Raja Iblis telah terbunuh. Lagi pula, itu leluhur keluarga Pahlawan, bukan? Mereka tidak mungkin membiarkannya kabur.”
“Ya, benar juga... Lalu bagaimana dengan para pengikutnya?”
Raja Iblis datang dari dunia iblis dengan membawa banyak iblis kuat.
Iblis yang merasuki tubuh Kakek adalah salah satunya.
Dan bagaimanapun caranya, dia berhasil bertahan hidup.
Mungkin masih ada yang lain.
“Semua orang kepercayaannya telah dibunuh oleh Sang Pahlawan. Kegigihan tampaknya memang turun-temurun dalam keluarga itu.”
“Berarti tidak ada iblis kuat yang tersisa?”
“Sepertinya begitu. Hanya saja... ada satu iblis yang kucurigai.”
“Curiga?”
“Setiap kali meneliti iblis, terutama pasukan Raja Iblis,selalu ada satu iblis agung yang hanya disebut namanya. Mengapa hanya ada nama? Alasannya, iblis itu dibunuh oleh Raja Iblis sendiri. Karena dia memperingatkan bahaya Pahlawan dan menyarankan mundur.”
“Ada iblis seperti itu?”
“Benar. Dia adalah penasihat Raja Iblis sekaligus penguasa bayangan. Diberi gelar Duke Iblis Dantalion. Satu-satunya tangan kanan Raja Iblis yang tidak mati di tangan Pahlawan.”
Jika kita berpegang pada anggapan bahwa Pahlawan tidak mungkin melewatkan musuh, maka satu-satunya iblis yang tidak ditewaskan Pahlawan adalah kandidat yang paling mungkin selamat.
Meski demikian, aneh juga jika iblis yang dikabarkan dihabisi Raja Iblis sendiri ternyata selamat.
Kekuatan Raja Iblis dikatakan begitu besar hingga Sang Pahlawan pun tidak mungkin menang tanpa Pedang Suci. Lawannya berada pada tingkatan seperti itu.
“Apakah ada bukti?”
“Sama sekali tidak. Namun Dantalion pernah ada. Jika ada satu orang kepercayaan Raja Iblis yang mungkin bertahan hidup, itu hanya dia. Meskipun, jika dia benar-benar selamat dari eksekusi, dia pasti tidak selamat tanpa luka.”
“Lalu dia mengumpulkan kekuatan dan baru bergerak sekarang?”
“Bukan baru sekarang. Dia pasti sudah bergerak sejak lama. Jika Dantalion masih hidup dan memiliki ambisi... tubuhku yang dirasuki pun mungkin bukan kebetulan.”
Wajah Kakek terlihat lebih serius daripada biasanya.
Mungkin itu hanya kekhawatiran orang tua, tapi melihat keanehan dalam perebutan takhta, lebih masuk akal menganggap ada campur tangan iblis.
Lagipula, Kakek masih hidup dengan cara yang tidak wajar. Bukan tidak mungkin Dantalion juga bertahan dengan cara serupa.
Dan kalau begitu, dia pasti punya tempat untuk bersembunyi.
“Kakek, aku ingin memastikan satu hal. Bagaimana Kakek mendapatkan grimoire yang berisi iblis itu?”
“Aku mendapatkannya dari organisasi Grimoire. Katanya, grimoire itu baru ditemukan.”
“Ceroboh sekali.”
“Memang.”
Aku menghela napas panjang, dan Kakek pun ikut menghela napas.
Grimoire, ya.
Nama itu muncul lagi.
“Tampaknya kita harus menyelidikinya habis-habisan.”
“Kamu punya petunjuk?”
“Setidaknya satu.”
Dalam catatan harian yang Kakak Zandra tinggalkan, tertulis lokasi salah satu markas.
Setelah perang saudara ini berakhir, mungkin itu yang harus diprioritaskan.
“Kalau begitu, urusan ibu kota aku serahkan pada Kakek.”
“Kamu sudah mau pergi? Padahal aku baru memikirkan konstruksi sihir baru...”
“Nanti kalau aku kembali. Maaf, adikku sedang menunggu.”
Mengatakan itu, aku melambaikan tangan kepada Kakek dan meninggalkan ruangan itu.
Bagian 10
Beberapa hari kemudian.
Sebanyak dua belas ribu kesatria sekutu berkumpul di Bukit Gnade.
Jika kami menunggu sedikit lebih lama, jumlah itu pasti akan bertambah. Namun kami tidak bisa menunggu lagi.
“Kalau begitu, apakah kita siap berangkat, Yang Mulia?”
Duke Lowenstein datang ke tendaku untuk memastikan keputusan.
Keberadaanku hanya diketahui oleh para bangsawan yang hadir dalam pertemuan dan sebagian kesatria saja.
Sebenarnya aku bisa saja mengumumkannya secara besar-besaran sekarang, tapi itu hanya akan membuat mereka berusaha sekuat tenaga mencegahku bergabung dengan Leo.
Untuk saat ini, lebih baik mereka mengira bahwa para bangsawan utara baru mulai bergerak.
“Ya. Untuk sementara, kamu yang bertindak sebagai panglima, Duke.”
“Baik. Namun sebelum pertempuran besar dimulai, Anda harus tampil di hadapan pasukan. Itu menyangkut moral.”
“Kalau aku yang maju ke depan, mungkin moral pasukan akan turun.”
“Itulah yang harus Anda tangani sebagai panglima besar.”
Aku hanya bisa mengangkat bahu menerima balasan setegas itu.
Saat kami tengah berbicara, Sebas muncul di pintu tenda.
“Maaf mengganggu di tengah percakapan. Ada laporan.”
“Ada apa?”
“Sepertinya Tuan Leonard keluar menyerang.”
“Leo?”
Jadi ada pergerakan di garis depan.
Kupikir belum akan ada aksi besar sebelum pasukan utama tiba, meskipun Sharl dan yang lain sudah kukirim lebih dulu.
“Mereka bentrok dengan Pangeran Naga?”
Menanggapi pertanyaan Duke Lowenstein, Sebas menggeleng.
“Tidak. Pangeran William tampaknya meninggalkan garis depan. Yang memimpin pasukan pengepung adalah Pangeran Henrik.”
“Henrik? Bagaimana bisa?”
Benar-benar tidak masuk akal.
Keberadaan William membuat Leo tidak bisa bergerak bebas.
Tapi justru sang penahan itu mundur dari garis depan dan Henrik menggantikannya sebagai panglima.
Itu sama saja mereka meminta untuk diserang.
“Karena melihat gerakan musuh seperti itu, Tuan Leonard membawa lima ribu pasukan untuk serangan mendadak. Bersamaan dengan itu, Nona Charlotte dan pasukan lain juga melancarkan serangan. Musuh tidak bisa menahannya dan markas besar mereka mundur, yang berujung pada kekalahan dan pelarian seluruh pasukan.”
“Markas mundur, huh... Ya, itu memang gaya Henrik.”
Aku bergumam sambil berpikir.
Dengan ini Leo bisa bergerak bebas.
Kami juga tidak perlu repot-repot menuju benteng.
“Duke, menurutmu musuh akan bergerak bagaimana?”
“Jika mereka tidak bisa lagi menahan Pangeran Leonard, mereka tidak punya pilihan selain mengumpulkan pasukan di satu tempat dan menyusun strategi dari awal.”
“Sifat Gordon akan membuatnya ingin memaksa pertempuran penentu melawan Leo. Dan Pangeran William juga tidak akan menentangnya.”
Masalahnya, kapan dan di mana pertempuran itu terjadi.
Bisa saja Leo yang menyerang duluan, atau Gordon yang bergerak lebih dulu.
Kami harus memperkirakan itu untuk membuat situasi tetap menguntungkan.
“Sebas, selidiki kekuatan tempur musuh. Baik Gordon maupun William tidak akan membiarkan diri mereka berada dalam posisi yang kalah secara jumlah.”
“Apakah mereka akan meminta bantuan?”
“Ya. Mereka pasti sudah meminta. Untuk memecah kebuntuan itu. Tapi situasinya sudah berubah. Baik mereka maupun kita harus mengubah strategi.”
“Namun dari sini, kita tidak akan sempat bertindak jika sesuatu terjadi. Pasukan harus digerakkan ke garis depan.”
Aku mengangguk mendengar pendapat Duke.
Apa pun langkah yang diambil, kami harus berada di garis depan lebih dulu.
“Gerakkan seluruh pasukan ke garis depan. Jangan menunjukkan niat untuk bertempur aktif. Bergerak perlahan, sambil mengamati situasi.”
“Dengan kata lain, jangan mengalihkan perhatian musuh ke kita... Tapi dengan Nona Charlotte yang ikut bertempur, bukankah perhatian itu akan datang dengan sendirinya?”
“Kalau pada akhirnya perhatian mereka tertuju pada kita, tidak masalah. Yang penting, kita tidak sengaja mencarinya. Demi wilayah utara juga.”
Mendengar itu, Duke tampaknya memahami maksudku dan mengangguk sebelum keluar dari tenda.
Kedatangan bala bantuan bangsawan utara untuk membantu Leo berbeda kesannya dengan Leo yang datang membantu bangsawan utara.
Walaupun aku ragu musuh punya kelonggaran untuk memperhatikan kami sejauh itu.
“Dengan ini posisi Gordon semakin sulit.”
“Bagaimanapun caranya, kekalahan tetaplah kekalahan.”
“Sekarang aku ingin tahu bagaimana mereka menjaga moral. Jika Henrik mereka hukum mati, seluruh pasukan akan dipenuhi rasa takut. Tapi jika mereka membiarkannya begitu saja, berarti mereka mengakui mundurnya.”
Ini kesempatan bagi Gordon dan William untuk menunjukkan kepiawaian mereka.
Jika mereka menghukum Henrik, kami bisa mencoba merusak moral dengan siasat politik dan memecah para jenderal mereka.
Jika tidak menghukumnya dan justru meningkatkan moral, maka tipu muslihat takkan berfungsi.
“Baiklah, mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan.”
Saat aku mengatakan itu, Sebas menunduk memberi hormat lalu pergi.
Aku menatap peta wilayah utara, mulai menebak gerakan apa yang akan dilakukan Leo.
Bagian 11
“Aku beruntung tiba lebih dulu sebelum Gordon.”
William berkata begitu kepada Henrik, yang menunduk dalam-dalam.
Gordon, yang sebelumnya menahan pasukan Jenderal Harnisch, telah mendengar kabar penarikan mundur Henrik dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke markas utama di Vismar.
Jika dibiarkan terus seperti itu, mereka bisa saja terjepit antara Leonard dan Harnisch.
Itulah betapa besar dampak keputusan Henrik untuk mundur, pengaruhnya merambat ke seluruh medan perang.
Sebentar lagi, Gordon akan tiba di Vismar.
Henrik, yang dibawa ke Vismar layaknya seorang kriminal, menunggu kedatangan itu. Namun, begitu Gordon datang, saat itulah akhir bagi Henrik.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah memandang William dengan tatapan penuh harap.
Melihatnya begitu, William menghela napas.
William sebenarnya sedang menangani masalah pengiriman logistik di Negara Bagian.
Di sana ada dua bandit dermawan yang mengacau.
Pertama, seorang pemanah yang dijuluki Kesatria Bulan Merah, Vermilion, bandit dermawan giat yang sudah lama menargetkan bangsawan busuk di wilayah itu. Karena ulahnya, para bangsawan di sana tidak bisa bergerak semaunya.
Namun hanya itu saja tidak akan membuat pengiriman logistik tertunda.
Ada seorang bandit lain yang secara khusus menargetkan pasukan pengangkut bahan makanan.
Yang merepotkan, bandit ini bahkan tidak pernah menunjukkan wujudnya.
Yang pasti hanya satu, dia pemanah yang luar biasa, mampu memusnahkan satu unit pengangkut tanpa sekalipun memperlihatkan diri.
Karena si pemanah tidak bernama ini, para bangsawan Negara Bagian semakin enggan terlibat dalam urusan logistik. Akibatnya, Persatuan Kerajaan kesulitan mengalirkan bahan makanan melalui wilayah mereka.
William memberikan ancaman yang mudah dipahami kepada para bangsawan Negara Bagian, memaksa mereka berjanji untuk menindak para bandit itu dan memperlancar pengangkutan logistik.
Itu memang sesuatu yang kelak harus dia tangani. Namun jika dia meninggalkan garis depan, Leonard akan bergerak bebas, karena itu dia tidak bisa melakukannya lebih awal.
Dan ternyata itu bukan keputusan yang salah.
Begitu mendengar Henrik mundur, William segera kembali ke Vismar.
Kembalinya dia sedikit lebih cepat daripada Gordon. Itu membuatnya sempat berbicara dengan Henrik sebelum Gordon tiba.
“...Tidak ada yang ingin kamu katakan padaku, Pangeran Henrik?”
“...Atas segala sikap tidak hormatku selama ini. Aku sungguh minta maaf...”
“Ketidaksopanan bukan masalah. Yang ingin kudengar adalah penyesalanmu.”
“...Aku hanya... tidak mau kamu mendapatkan prestasi itu... Itu adalah kesalahan besar...”
“Itu bukan kesalahan. Aku orang dari negara lain. Wajar jika sebagai anggota keluarga kekaisaran yang mendukung Gordon, kamu ingin menyingkirkanku. Itu bisa disebut pilihan strategis. Namun ada satu hal yang sangat kurang darimu. Tahu apa itu?”
“...Pengalaman... mungkin?”
Henrik menjawab ragu-ragu.
William menggeleng pelan.
“Sikap objektif terhadap diri sendiri. Jika kamu bisa melihat dirimu dengan tenang, kamu bisa melihat orang lain dengan tenang. Dan jika kamu bisa melihat orang lain dengan tenang, kamu bisa memahami situasi dengan tenang juga. Menyingkirkan aku dari garis depan bukanlah kesalahan mutlak. Tetapi dalam kondisi itu, jelas bahwa jika aku disingkirkan, Leonard akan langsung menyerang. Meski begitu, kamu tetap melakukannya. Karena kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Kamu tidak sehebat yang kamu bayangkan.”
“T-Tidak mungkin...!”
“Faktanya, bahkan setelah kalah seperti ini pun kamu tidak mau mengakuinya. Orang yang hebat belajar dari kegagalan.”
Ketidakmampuannya menerima kata-kata itu menunjukkan bahwa di dalam hati dia masih belum mengakui kekalahannya.
Henrik yakin dia tidak akan kalah dari Leonard. Bahkan, dia menganggap dirinya lebih hebat daripada Leonard, itulah mengapa dia tidak pernah bersikap waspada.
William melihat inti permasalahan Henrik. Penilaian diri yang terlalu tinggi.
“Aku... aku...!”
“Mundur dari markas besar sama saja dengan meninggalkan para prajurit. Jika pelarian prajurit dihukum, maka panglima besar yang melarikan diri juga harus dihukum. Gordon pasti akan membunuhmu.”
“Tidak...! Tolong selamatkan aku!”
“Cobalah ajukan sesuatu yang membuatku tertarik untuk menyelamatkanmu.”
“A-Aku... Aku seorang pangeran! Dari sudut pandang Persatuan Kerajaan, aku pasti mudah diperalat!”
“Kamu ini penyebab kekalahan besar. Mudah diperalat atau tidak, siapa yang mau mengangkatmu?”
“Tidak... aku... aku...”
“Kamu tidak punya prestasi. Tidak punya kekuatan. Tidak punya pengalaman atau kemampuan. Yang bisa kamu banggakan hanya darah keturunanmu. Jika itu satu-satunya bahan negosiasi ketika kamu terpojok, berarti memang hanya itu nilaimu.”
Kenyataan yang disodorkan William membuat bahu Henrik jatuh lemas.
Dia mati-matian mencoba membantah, tapi tak menemukan apa pun.
Dan akhirnya dia sadar.
Dia sadar kalau William benar.
“Aku ini... Sampah keluarga kekaisaran...”
“Keluarga Ardler itu unggul. Darah itu mengalir juga dalam dirimu. Tapi kamu tidak punya sikap untuk belajar. Seseorang yang tidak bisa memahami kemampuan dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi kuat.”
Henrik tidaklah sehina itu sehingga bisa dianggap sampah.
Masalahnya dia selalu membandingkan diri dengan orang yang terlalu jauh di atasnya.
Berusaha melebihi batas hanya membawa bencana.
Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing.
Jika dia sudah mengerti itu, masih ada kesempatan baginya untuk bangkit kembali.
“Aku akan menyelamatkan nyawamu. Belajarlah di sisiku. Jika kamu benar-benar memikirkan para prajurit yang mati, jangan biarkan kesalahanmu kali ini menjadi sia-sia.”
“Jika kamu menolongku... apa untungnya...?”
“Seorang sahabat tidak perlu membunuh adiknya sendiri. Lagipula... siapa yang akan mempercayai panglima besar yang tega menebas adiknya?”
Setelah mengatakan bahwa dia akan mengurus semuanya, William keluar dari ruangan itu.
* * *
Beberapa saat setelah itu, Gordon kembali ke Vismar.
Tujuannya kamar tempat Henrik berada.
Di tangannya, dia menggenggam sebilah pedang telanjang.
“Henrik!! Ada pesan terakhir sebelum kamu mati!?”
Menerjang masuk seolah menendang pintu, Gordon menghardik Henrik dengan suara menggelegar.
Henrik, tanpa membantah sedikit pun, menelungkupkan kepala hingga menyentuh lantai.
“Aku mohon maaf... Semua ini salahku.”
“Tentu saja! Serahkan kepalamu! Akan kupenggal sebagai peringatan bagi seluruh pasukan!”
Gordon mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Namun William bergerak cepat, mencengkeram lengannya.
“Hentikan, Gordon.”
“Kenapa kamu menghentikanku!?”
“Kalau kamu membunuhnya sekarang, para jenderal akan gentar dan takut akan pembersihan. Kamu tidak boleh memenggalnya.”
“Dia menarik mundur markas tanpa memberi komando! Kalau tidak menghukum panglima tertinggi yang meninggalkan pasukan di garis depan, itu tidak memberi contoh apa pun!”
“Pangeran Henrik hanya panglima tertinggi di nama saja! Dia didampingi para jenderal di kiri-kanannya! Seharusnya akulah panglima tertinggi! Para jenderal itu menyingkirkanku demi berebut prestasi! Jika kamu memenggal Pangeran Henrik, berarti kamu juga harus memenggal mereka!”
“Biar saja! Tidak ada gunanya mempertahankan orang-orang tolol yang tak mampu membaca situasi!”
“Sekarang bukan waktunya mengatakan itu! Pertempuran besar melawan Leonard sudah menunggu! Untuk saat ini lebih baik kita memaafkannya dan memberi kesempatan untuk menebus kesalahan!”
“Kenapa kamu membelanya sejauh ini? Ini perintah dari negerimu, hah!?”
Gordon tidak pernah meragukan persahabatannya dengan William.
Namun dia juga tidak sepenuhnya mempercayai Persatuan Kerajaan, tanah kelahiran William.
Dia sudah mengantisipasi adanya upaya mendorong Henrik sebagai penggantinya.
Akan tetapi.
“Kalau mereka mencoba mendorong siapa pun selain kamu, aku sendiri yang akan membunuh ayahku! Aku ada di sini karena kamu! Jangan salah paham! Aku membela Pangeran Henrik demi kamu dan demi pasukanmu!”
Tatapan William dan Gordon saling mengunci, saling menantang tanpa mundur.
Ketegangan pekat memenuhi ruangan, sampai-sampai para prajurit yang berada di sisi dinding merasa sesak napas.
Dalam rentang waktu yang terasa seperti selamanya, Henrik hanya bisa terus menunduk.
Jika Gordon menjatuhkan pedang itu, kepalanya akan terbang.
Tetapi kini dia tak punya pilihan selain menyerahkan nasibnya pada William.
Dan kemudian...
“...Kamu tidak merasa marah?”
“Apakah amarahku lebih berharga daripada kemenanganmu?”
“...Baik. Akan kuikuti pendapatmu. Henrik tidak akan kupenggal!”
Gordon menurunkan lengannya.
William pun melepaskan genggamannya.
Namun masalah jauh dari selesai.
“Kamu ingin memberinya kesempatan menebus diri, baiklah. Tapi apakah semua ini akan dibiarkan begitu saja?”
“Hukuman tetap perlu. Aku berniat agar rumah Holtzwart menanggungnya... Setuju, Duke?”
William menoleh pada Rolf yang menunggu di luar ruangan.
Rolf menunduk dalam.
“Sesuai kehendak Yang Mulia.”
“Aku dengar putramu, Geed, yang menyarankan Pangeran Henrik untuk mundur. Tidak keberatan jika aku memperlakukannya dengan cara apa pun, ‘kan? Tentu kamu juga tidak mungkin mempertahankan kedudukanmu saat ini.”
“Itu memang kesalahan putra saya. Saya menerimanya dengan lapang dada.”
William mengerutkan kening melihat sikap Rolf.
Dia tidak menyukai duke itu, sulit membaca isi hatinya.
Lagipula, meski putranya dalam bahaya, dia tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Itulah yang membuat William begitu tidak nyaman.
“Semua keluar. Aku ingin bicara berdua saja dengan Gordon.”
Setelah memastikan Henrik, Rolf, dan para prajurit keluar, William berbicara.
“Kamu lihat tingkah lakunya?”
“Dia bahkan tidak menunjukkan rasa cemas.”
“Wajahnya seolah berkata, ‘Silakan eksekusi putraku kalau mau.’ Dalam situasi terburuk, dia bisa memakai itu sebagai alasan untuk berkhianat.”
“Kalau begitu apa rencanamu? Jika Henrik tidak dipenggal, Geed adalah pilihan paling mudah.”
“Tidak selalu. Meningkatkan moral dan memperketat disiplin tidak selalu harus memakai kepala.”
William mengucapkan itu sambil perlahan meletakkan tangannya pada gagang pedang.
* * *
Gordon mengumpulkan seluruh pasukan yang berkemah di Vismar.
Lalu, menaiki podium, dia memulai pidatonya di hadapan seluruh prajurit.
“Seperti yang sudah kalian dengar, pasukan kita gagal menahan Leonard. Dan aku akan berkata terus terang! Ini adalah kekalahan!”
Gordon, yang biasanya tidak mau mengakui kekalahan, justru menyatakannya sendiri.
Para prajurit tampak terkejut dan gelisah, namun Gordon tidak memberi mereka waktu untuk tenggelam dalam keraguan.
“Aku tahu penyebab kekalahan ini! Panglima tertinggi kita, adikku sendiri Henrik, telah dikuasai rasa takut! Maka aku berniat memenggalnya! Itu hal yang wajar! Jika mengingat para prajurit yang gugur di garis depan, hubungan keluarga tidak ada artinya!”
Namun, Gordon melanjutkan.
Di tangannya, dia menggenggam sesuatu yang dibungkus kain.
Dia menyingkap kain itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Itu adalah lengan manusia.
“Ketika aku hendak memenggal Henrik, Geed von Holtzwart, salah satu pengiring Henrik, memotong lengannya sendiri! Dia memohon agar hukuman dijatuhkan pada lengan ini! Dia bersimpuh memohon agar Henrik diberi kesempatan kedua! Putra seorang bangsawan besar mengorbankan lengannya demi Henrik! Aku tahu kekalahan kali ini tidak sebanding dengan harga sebuah lengan! Tapi! Aku telah memutuskan memberi Henrik kesempatan! Kenapa!? Karena yang harus kita junjung adalah kesetiaan yang ditunjukkan Geed inilah!! Aku juga bersumpah! Atas nama kalian! Atas nama kesetiaan Geed! Aku akan bertempur tanpa pernah mencorengnya! Kita pasti menang!! Kita tidak akan kalah lagi!!”
Pidato Gordon membakar seluruh pasukan.
Sorak-sorai membahana, dan nama Geed menerbang di antara kerumunan.
Namun kenyataannya jauh dari kisah seindah itu.
“Menjadikan kakakku sebagai seseorang yang mempersembahkan lengan demi kesetiaan lalu menaikkan moral seluruh pasukan... Harus kuakui, ini memang kecerdikan Pangeran William.”
Di sebuah rumah kediaman di Vismar.
Pada salah satu kamarnya...
Reiner berbicara kepada William.
Di atas ranjang, Geed terbaring tidak sadarkan diri.
Di sekelilingnya, para tabib dan pelayan sibuk merawatnya.
Baru beberapa saat sebelumnya, dia hampir kehilangan nyawanya akibat pendarahan hebat.
Hal itu terjadi karena Geed menangis, meraung, meronta, hingga membuat pengobatan terlambat dilakukan.
Geed tentu saja tidak menerima usulan William. Mengorbankan lengannya sendiri jelas bukan sesuatu yang bisa dia lakukan.
Dia langsung menebas lengan Geed.
Bagi William, kehendak Geed tidak ada artinya.
Para prajurit yang berada di markas Henrik sudah diberi perintah untuk bungkam, lalu dipindahkan ke bawah komandonya. Mereka tidak akan menyebarkan kabar yang tidak perlu.
Para jenderal yang mengetahui kenyataannya pun akan sadar bahwa merekalah sasaran berikutnya jika lengah. Mereka akan berjuang habis-habisan. Inilah yang disebut William sebagai peningkatan moral sekaligus sebuah peringatan.
“Padahal kakakmu nyaris mati, tapi kamu tampak sangat tenang.”
“Kakakku itu orang gagal. Mati pun aku tidak keberatan. Aku dibesarkan oleh ayah, sedangkan kakakku dimanjakan oleh ibu. Cepat atau lambat dia memang akan mempermalukan diri. Meski ayah sepertinya sempat berharap padanya.”
“Begitu rupanya. Tidak heran kamu sama sulitnya dibaca seperti ayahmu.”
William menatap Reiner tajam.
Dia tidak percaya bahwa Rolf benar-benar menaruh harapan pada Geed yang tidak berguna itu.
Dan dari reaksi keduanya, William tiba pada satu kesimpulan.
“Kamu sudah memperhitungkan bahwa Geed akan membuat kesalahan, bukan? Tapi keluarga Holtzwart terlalu penting bagi faksi Gordon. Kalian tahu dia tidak mungkin dibunuh. Karena itulah kalian bisa bersikap setenang itu.”
Keluarga Holtzwart adalah pemimpin kelompok bangsawan yang mendukung Gordon.
Banyak bangsawan memihak Gordon karena kehadiran keluarga itu.
Membunuh mereka jauh lebih mustahil daripada membunuh Henrik.
Menempatkan Geed di posisi tidak penting pun sudah tidak mungkin. Gordon telah menjadikan Geed simbol kesetiaan.
Mereka tidak dapat dipercaya, tetapi tidak bisa disingkirkan.
Dan keluarga Holtzwart menyadari hal itu dengan sangat baik, itulah alasan mereka tetap tenang.
“Kalau memang begitu... apa yang akan kamu lakukan?”
“Jika kalian berkhianat, akan kubunuh kalian.”
Dalam sekejap, William menghunus pedangnya dan menempelkannya ke leher Reiner.
Reiner langsung berkeringat dingin, wajahnya tegang.
Setelah puas melihat ketakutannya, William menyarungkan kembali pedangnya dan melangkah pergi melewati sisi Reiner.
“Dalam pertempuran melawan Leonard, keluarga Holtzwart akan kutunjuk sebagai pasukan terdepan. Kerahkan kemampuan terbaik kalian. Tidak seorang pun akan menolak keluarga Holtzwart—simbol kesetiaan—menjadi barisan depan.”
“...Sebuah kehormatan bagi kami.”
Jika ada kemungkinan mereka berkhianat, maka dia akan menggunakan mereka sampai habis terlebih dahulu.
Memahami tepat apa yang William rencanakan, Reiner menatap punggung William yang pergi dengan penuh kebencian.





Post a Comment