Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 5
Dibenci, Terus Dibenci, Menjadi Lemah
Aku masuk ke ruang kelas 1-C sedikit lebih awal dari biasanya.
Teman-teman sekelas yang sudah datang lebih dulu hanya melirik sekilas ke arahku, lalu kembali melanjutkan percakapan mereka seperti semula.
Beberapa saat kemudian, Amada juga masuk ke kelas.
Setelah meletakkan tas di bangkunya, ia menyapa kelompok Tsugo-ren dengan nada malas, "Pagi," lalu ikut bergabung dalam obrolan mereka.
"Ujian itu melelahkan."
"Aku sama sekali nggak belajar."
"Santai aja lah."
"Hari ini dia bakal tetap kayak gitu, ya?"
"Gimana nih? Kita bilang aja nggak mau pergi?"
"Tapi kan kita yang ngajak duluan…"
Percakapan yang terdengar sebagian besar membahas ujian akhir semester yang semakin dekat. Namun, kelompok Kanie berbeda. Sepertinya, dibanding ujian, urusan Tsukiyama justru terasa jauh lebih merepotkan bagi mereka.
Sebenarnya mereka tidak ingin terlalu terlibat. Namun, karena merekalah yang lebih dulu mendekat, menjauh sekarang terasa canggung. Rasa bersalah mengikat mereka hingga tak bisa berbuat apa-apa.
Salah satu gadis dari kelompok Kanie menatapku dengan sedikit harapan sambil berkata, "Andai saja ada pemicunya, ya…." Menyebalkan.
Saat aku mulai kesal dengan tatapan para gadis itu, Tsukiyama masuk ke kelas bersama Hidaka.
Dengan sikap sombong seolah-olah dialah penguasa kelas, ia meletakkan tasnya, lalu langsung menghampiri kelompok Kanie dan menyapa, "Pagi."
Ketika para gadis menjawab pelan, "Pagi…," Tsukiyama sengaja memasang wajah heran dan bertanya, "Aku melakukan sesuatu, ya?"
Tentu saja, pada kenyataannya, dia memang melakukan "sesuatu".
Namun, tak ada seorang pun di kelas ini yang bisa menunjuknya secara langsung.
Para gadis itu hanya tersenyum kaku sambil berkata, "Nggak kok." Merasa puas karena mereka tidak berani melawannya, Tsukiyama berbicara dengan nada memerintah, "Iya, kan? Habis sekolah nanti, datang lagi ke rumahku."
"…Terlalu dibuat-buat."
Aku bergumam pelan, suaraku cukup kecil agar tak terdengar siapa pun.
Tingkah Tsukiyama sudah keterlaluan. Tidak mungkin dia tidak sadar bahwa dengan berbuat seperti itu, dia akan dibenci seluruh kelas. Meski begitu, dia tetap melakukannya—demi membuat posisinya sendiri semakin tidak menguntungkan… dan posisiku semakin menguntungkan. Dasar idiot.
"Ishii, pagi!"
Suara itu memotong pikiranku. Kobayakawa.
Entah kenapa, wajahnya tampak seperti orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu, dan itu sedikit membuatku kesal.
"Dengar, aku lihat Tsukiyama dan Hidaka dari stasiun, tapi mereka sama sekali nggak ngobrol."
"Terus?"
"Itu artinya Hidaka nggak diapa apain. Gimana, lega kan?"
"Usaha sia-sia. Kerja bagus."
"Keji banget! Aku sudah berusaha, tahu!"
"Usaha itu dilakukan untuk menghasilkan hasil, bukan untuk dipuji. Kalau mau dipuji, tunjukkan hasil."
"Aku kan sudah nunjukin!"
Berisik sekali sejak pagi.
Sejak awal aku sudah tahu Tsukiyama tidak akan melakukan apa pun pada Hidaka.
Tak perlu Kobayakawa menyelidikinya. Lagipula, aku tidak pernah memintanya.
"Hei, Ishii. Ayo cepat ambil kembali Hidaka. Tenang aja, kalau kamu pasti bisa."
"Kau nggak ada hubungannya. Apa pun yang dilakukan Hidaka adalah keputusan Hidaka sendiri."
"Ya sih, tapi… tetap saja, Ishii dan Hidaka itu lebih baik bersama. Rasanya… memang sudah seharusnya begitu."
Sudah seharusnya, ya…
Mungkin aku memang terlalu bergantung pada "hal yang sudah seharusnya" itu.
Dia menyukaiku, jadi dia tidak akan pergi.
Padahal, di kehidupan pertamaku aku hanyalah figuran, tapi kini aku malah jadi begitu sombong. Dan mungkin, kesombonganku itulah yang memicu semua ini.
Itulah sebabnya, aku…
"Ishii?"
Karena aku tiba-tiba terdiam, Kobayakawa menatapku dengan wajah bingung.
"Tenang saja. Hari ini semuanya akan kuselesaikan."
"Oh! Keren banget, Ishii! Memang bisa diandalkan!"
Meski masalah antara aku dan Tsukiyama selesai pun, kau tidak mendapat keuntungan apa pun.
Namun, melihat Kobayakawa tersenyum polos seperti itu, entah kenapa aku tidak merasa buruk.
Aku tidak akan mengatakannya secara langsung, tapi… terima kasih sudah berada di sisiku.
◇ ◇ ◇
Saat jam makan siang, begitu pelajaran selesai, Kobayakawa menghampiriku dengan ekspresi (menurutnya) serius dan bertanya,
"Kita jalan sekarang?"
Aku mengabaikannya sepenuhnya dan meninggalkan kelas.
Bukan karena wajah sok kerennya yang mengganggu sehingga aku tidak bertindak. Hanya saja, waktu makan siang bukanlah saat yang tepat untuk bergerak.
"Lalu, bagaimana keadaan Mikoto-san?"
Di meja luar ruangan yang biasa, aku menjawab pertanyaan Iba.
"Sama seperti kemarin. Terus berada di sisi Tsukiyama."
"Tapi kamu tidak berniat membiarkannya begitu saja, kan?"
Ushimaki menatapku dengan sorot mata penuh antusias.
"Iya. Aku akan mengakhirinya sepulang sekolah."
"Yess! Kalau begitu, besok semuanya kembali normal!"
"Itu rencananya."
Mereka tampak puas dengan jawabanku.
Mungkin karena senang lingkungan lama akan kembali, Ushimaki menatapku dengan ceria.
"Kalau kamu nggak bergerak hari ini, aku yang bakal turun tangan, lho."
Bagi teman-teman sekelas, aku yang kehilangan Hidaka mungkin terlihat berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Yang terpojok sekarang adalah Tsukiyama.
Aku sudah mengamati situasinya, dan jelas baik para siswa laki-laki maupun perempuan mulai menjauh dari tingkah Tsukiyama. Bahkan lebih parah dibanding masa ketika, di kehidupan pertamaku, dia dijuluki "Pangeran Mengecewakan".
Dulu, Tsukiyama adalah "orang yang terpaksa ditanggapi kalau dia mendekat". Sekarang, dia turun peringkat menjadi "orang yang sebaiknya tidak mendekat sama sekali".
Buktinya, saat jam istirahat Tsukiyama mengusulkan untuk merencanakan liburan musim panas, tapi orang-orang di sekitarnya menolak dengan halus, berkata, "Kami belum tahu jadwal lain."
Kalau aku tidak melakukan apa pun sekalipun, saat semester pertama berakhir, Tsukiyama sudah tamat.
Begitu ujian selesai, aku bisa bertemu Hidaka di tempat kerja paruh waktu, dan kami juga bisa menghabiskan liburan musim panas bersama.
Sementara Tsukiyama akan kehilangan semua teman yang seharusnya masih bersamanya, dan menghabiskan liburan musim panas sendirian.
"Hei, Ishii. Ada nggak sesuatu yang bisa kulakukan juga?"
Kobayakawa bertanya dengan nada penuh semangat.
"Kalau dipaksakan, jadi tameng daging saat Tsukiyama mengamuk."
"Perlakuanmu ke aku keterlaluan!"
Mungkin merasa tak sanggup melawan sendirian, Kobayakawa melirik ke arah Iba dan Ushimaki meminta bantuan. Namun, kenyataan kejam.
"Kobayakawa-san, tatapanmu menjijikkan. Bolehkah kami mencungkil bola matamu?"
"Jangan lihat ke sini. Kamu itu agak menjijikkan."
"Hiii! Kalau begitu, terserah deh!"
Sambil menggerutu, Kobayakawa berdiri dan pergi.
Kemanapun dia pergi, kasihan juga—sekarang dia bahkan tidak punya teman yang benar-benar bisa diajak bicara.
"Jadi, sejauh apa kamu akan melakukannya?"
Saat Kobayakawa pergi, Iba bertanya dengan tatapan serius.
"Aku akan menghancurkan Tsukiyama sampai tuntas. Sekalian dengan tujuan aslinya."
"Begitu ya… yah, aku kira Ishii-san memang akan melakukan itu."
Iba menunjukkan ekspresi sedikit rumit. Ushimaki yang duduk di sebelahnya juga sama.
Pagi ini, aku akhirnya sampai pada tujuan Tsukiyama yang sebenarnya. Dan informasi itu sudah kusampaikan kepada Ushimaki dan Iba. Tidak kepada Kobayakawa.
Kalau dia tahu, rasanya dia akan melakukan hal-hal yang tidak perlu.
◇ ◇ ◇
── Sepulang sekolah.
Jam pelajaran terakhir (HR) berakhir, dan guru wali kelas pun meninggalkan ruang kelas. Para siswa lain—terutama para siswi dari faksi Kanie—menunjukkan ekspresi agak jengah, mungkin karena acara yang akan berlangsung setelah ini terasa merepotkan bagi mereka.
Sebaliknya, anggota faksi Hitsujitani yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian kali ini terlihat asyik mengobrol riang di dalam kelas, sementara faksi Kanie memandang mereka dengan tatapan iri.
Padahal mereka pun seharusnya bisa menikmati waktu yang menyenangkan.
Kenapa jadinya begini?
Tatapan yang sarat dengan perasaan itulah yang mereka pancarkan.
Dan Tsukiyama—yang seolah sama sekali tidak menyadari (atau pura-pura tidak menyadari) suasana kelas seperti itu—melangkah dengan penuh semangat menuju tempat para siswi faksi Kanie berkumpul.
Di sana tidak ada Hidaka. Hidaka tetap duduk di kursinya sendiri, memilih diam tanpa berkata apa pun.
"Pergi."
"Ah… iya…"
Tak mampu menolak ajakan yang nyaris seperti perintah itu, pemimpin para siswi faksi Kanie menjawab dengan suara lemah.
Perasaan suka samar yang dulu mereka miliki terhadap Tsukiyama tampaknya sudah benar-benar lenyap.
"Dulu pernah ada kejadian yang mirip seperti ini…"
Yang terlintas di benakku adalah drama penghakiman palsu yang dilakukan Amada pada kehidupan keduaku.
Saat itu, begitu jam pelajaran berakhir, Amada mendatangiku dan tiba-tiba menuduhku.
Katanya, aku telah memotret Ushimaki diam-diam saat berganti pakaian dan memerasnya. Namun, aku justru memanfaatkan jebakan itu untuk menjatuhkan Amada.
Dan pukulan penentu yang membuat Amada terpojok saat itu adalah keberadaan Tsukiyama.
Karena sudah memprediksi cara yang akan dipakai Amada, aku menukar ponselku dengan ponsel Tsukiyama sebelumnya, sehingga berhasil melewati drama penghakiman palsu itu.
Saat itu, Tsukiyama berkata: "Tidak mungkin Teru melakukan hal seperti itu. Aku ingin percaya pada temanku…"
Tsukiyama mempercayai Amada hingga detik terakhir. Namun, kepercayaan itu dikhianati dengan cara yang paling buruk.
Meski begitu, Tsukiyama tetap mempercayai kebenarannya sendiri dan menyelesaikan semuanya tanpa terbawa perasaan.
Meski dia dijuluki "Pangeran Mengecewakan", aku sebenarnya mempercayai sisi lurus dan jujurnya itu.
Lalu kenapa… dengan orang sepertimu, semuanya bisa berakhir seperti ini?
Aku mendengar suara Tsukiyama. Mungkin dia sengaja meninggikan suaranya agar terdengar olehku.
"Baiklah, selanjutnya tinggal Hidaka."
Aku sebenarnya ingin menunggu sampai jumlah siswa berkurang agar tidak terlalu mencolok, tapi sepertinya itu terlalu naif.
Sialan… Hitsujitani, cepat bawa yang lain keluar kelas sana—aku melampiaskan amarah yang tidak masuk akal itu dalam hati, tapi jelas tidak ada gunanya.
Kalau dibiarkan seperti ini, hari ini pun Hidaka akan kembali diajak Tsukiyama ikut belajar kelompok.
Sayangnya, waktunya sudah habis.
Aku berdiri dan melangkah menuju seseorang.
"Hidaka, pulang yuk."
"…Kazupyon."
Mungkin karena sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Hidaka menatapku dengan mata yang terlihat sedih.
Hidaka pasti sudah menyadari tujuan sebenarnya Tsukiyama. Karena itulah dia tidak melawan secara ceroboh dan memilih menuruti kata-kata Tsukiyama.
Di sana pasti ada perasaan tidak ingin menyakitiku.
Aku tidak tahu apakah tindakan yang akan kuambil mulai sekarang akan benar-benar mewujudkan keinginan Hidaka.
Namun, ada satu hal yang aku tahu pasti.
Apa yang akan dimulai sekarang bukanlah cerita penuh pembersihan yang menyenangkan.
Ini bukan akhir bahagia di mana semua orang bisa tersenyum. Yang menanti hanyalah akhir pahit yang meninggalkan luka besar di hati.
Tidak apa-apa, kan, Tsukiyama? Bukankah itu yang kau inginkan?
"Hoi, Ishii. Apa yang sedang kau lakukan?"
Sebuah suara datang dari belakang.
Saat aku menoleh, Tsukiyama berdiri di sana, menatapku dengan sorot mata yang entah kenapa tampak penuh harap.
Berhentilah… aku memohon dalam hati, tapi tentu saja tidak sampai padanya.
"Aku cuma mengajak Hidaka. Ada masalah?"
"Tentu saja ada. Hidaka akan datang ke kelompok belajar kami."
"Sayangnya, rencana itu dibatalkan."
"Jangan memutuskan sepihak!"
Tsukiyama melangkah satu langkah ke depan. Bersamaan dengan itu, para siswi di belakangnya mundur satu langkah.
Kalau kalian berharap aku akan membereskan Tsukiyama, silakan berharap sesuka kalian. Tapi sebagai gantinya, aku juga akan memanfaatkan kalian.
"Aku kembalikan kata-katamu, Tsukiyama. Yang memutuskan itu Hidaka, bukan?"
"Kalau begitu, kita tanya saja langsung ke Hidaka?"
Pandangan Tsukiyama secara alami beralih ke arah Hidaka.
Saat ini, aku sedang diancam Tsukiyama dengan masalah ayahku. Dan Hidaka juga tahu itu.
Itulah alasan kenapa Hidaka tidak bisa melawan Tsukiyama. Demi melindungiku, Hidaka terpaksa menuruti perintah Tsukiyama.
Karena itu, aku tidak boleh membiarkan Hidaka bicara di sini.
Aku melangkah maju satu langkah.
"Hei, Tsukiyama…"
Bersamaan dengan kata-kataku, aku meletakkan kedua tanganku di pundak Tsukiyama.
Dengan sikap memohon yang menyedihkan, aku berkata kepadanya dengan suara lemah:
"Sudah… jangan ancam aku lagi."
"Hah?"
Tsukiyama menjawab dengan suara kaget yang dibuat-buat.
Ini benar-benar mirip dengan kejadian sebelumnya. Saat aku menanyainya kenapa dia tidak mengirimkan foto-foto acara keakraban, Tsukiyama juga memasang ekspresi seperti ini.
"Mengancam apaan? Aku tidak melakukan hal seperti itu…"
"Ayahku bekerja di Tsukitachi Manufacturing."
Aku sengaja meninggikan sedikit volume suaraku agar terdengar oleh seluruh kelas.
"……!!"
Hanya dengan kalimat itu saja, para siswi di belakangnya tampaknya langsung mengerti.
Bagaimana Tsukiyama mendapatkan Hidaka. Dan bagaimana dia membungkamku.
"Terus kenapa? Meskipun ayahmu bekerja di perusahaan ayahku…"
"Ayahmu itu, kalau demi dirimu, mau melakukan apa saja, kan?"
Para siswi faksi Kanie yang sering berkunjung ke rumah Tsukiyama tahu betul hal itu.
Bahwa ayah Tsukiyama sangat memanjakan putranya.
Dan bahwa demi anaknya, dia adalah orang yang sanggup melakukan tindakan berlebihan tanpa ragu.
"Ti-tidak mungkin dia mau mendengarkan! Lagipula, aku tidak akan meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu!"
"Aku juga tidak mengatakan apa-apa, kan?"
"……Ah!"
Wajah Tsukiyama langsung pucat setelah menyadari kesalahan ucapannya sendiri.
Yang kukatakan hanyalah bahwa ayahku bekerja di Tsukitachi Manufacturing.
Aku tidak mengatakan apa pun lebih dari itu.
"Hei, Tsukiyama. Hal yang tidak masuk akal itu apa? Sebenarnya, apa yang ingin kau minta?"
"B-bukan begitu! Aku tidak bermaksud apa-apa…! Kalian salah paham!"
Dengan panik dia membalikkan badan dan mencoba menjelaskan kepada para siswi di belakangnya, tapi sudah terlambat.
Para siswi faksi Kanie yang sebelumnya mempercayainya kini menatap Tsukiyama dengan pandangan penuh hina, bersamaan.
"……Menjijikkan."
Orang yang pertama kali bersuara adalah siswi pemimpin faksi Kanie.
Selama ini para siswi faksi Kanie tidak pernah menolak ajakan Tsukiyama secara terang-terangan karena mereka memiliki "kelemahan": merekalah yang lebih dulu mendekati Tsukiyama. Rasa bersalah itulah yang membuat mereka tidak bisa bergerak bebas.
Karena itulah, kini mereka memperoleh pembenaran.
Tsukiyama Ouji adalah orang yang memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk mengancam teman sekelas.
Kalau memang dia tipe orang seperti itu, maka mereka bisa memutuskan hubungan tanpa menyisakan sedikitpun rasa bersalah.
"Tsukiyama-kun. Kami tidak akan ikut belajar kelompok lagi."
"……A-apa?!"
Begitu kata-kata itu terucap, mata Tsukiyama terbelalak.
Karena dia sadar, popularitas yang baru saja berhasil ia rebut kembali kini hilang lagi.
Namun, apakah dia benar-benar terlihat terpukul…?
Tidak juga.
"Tu-tunggu dulu! Aku tidak melakukan apa-apa… bukan begitu, Ishii! Sungguh bukan begitu! Kalau sikapku buruk, aku akan minta maaf! Nih, lihat!"
Dengan panik, Tsukiyama meminta maaf kepadaku. Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
"Tolong maafkan aku, Ishii! Aku tidak—"
"Cukup sampai di sini sandiwara ini, ya?"
Aku memotong kata-kata Tsukiyama dan berkata demikian.
Semua percakapan ini tak lebih dari sebuah sandiwara.
"S-sandiwara? Apa maksudmu, Ishii?"
Dengan suara bergetar, Tsukiyama menelan ludahnya keras-keras sebelum berkata demikian.
Itu berbeda dari sikap dibuat-buatnya tadi—kali ini dia benar-benar terlihat ketakutan.
Kalau ini bukan sandiwara, lalu apa?
"Kau sejak awal bergerak dengan tujuan agar aku menjatuhkanmu, kan?"
"……!!"
Aku merasa Tsukiyama mengeluarkan jeritan tanpa suara. Namun aku tidak peduli, dan terus melanjutkan.
"Sejak awal semuanya aneh. Seberapa pun besar urusan ayahku, menggunakan itu sebagai ancaman sama sekali tidak cocok dengan caramu. Artinya, kau punya tujuan lain, kan."
"Tidak! Tidak ada tujuan seperti itu!"
Kali ini bukan akting—dia benar-benar panik.
Maaf, Tsukiyama. Aku sudah sampai pada kesimpulan tentang tujuan sebenarnya dari semua ini.
"Dan tujuan itu adalah…"
"……"
Dengan mata yang seolah memohon agar aku tidak menyadarinya, Tsukiyama menatapku.
Para siswi di belakangnya memang tampak meremehkannya, tapi mereka juga jelas penasaran dengan "tujuan lain" itu.
Kalau begitu, akan kulanjutkan.
"Sejak awal, kau memang ingin dibenci oleh semua orang, kan?"
Inilah tujuan Tsukiyama.
Dia tidak ingin berada di posisi sebagai orang populer. Dia ingin dibenci.
Secara normal, itu hanya membawa kerugian, tapi sebenarnya ada keuntungan yang jelas di sana.
Entah pantas atau tidak disebut keuntungan, tapi bagi Tsukiyama, itu pasti merupakan sesuatu yang besar.
Tsukiyama bertanya kepadaku:
"D-dibenci? Maksudnya… bagaimana itu…?"
"Kau sudah tidak bisa lagi mempercayai orang lain, kan?"
"……!!"
"Wajar saja. Sampai beberapa waktu lalu, kau dipanggil ‘Pangeran Mengecewakan’ dan berada di posisi yang agak terasing di kelas. Tapi tiba-tiba sekarang kau jadi populer. Senang, tapi juga menjengkelkan, bukan? Setelah begitu membencimu, mereka tiba-tiba bersikap akrab seolah tak pernah terjadi apa-apa."
"Itu…"
"Karena itulah kau sengaja bertindak agar dibenci. Kau mengancamku, menahan Hidaka di sisimu, bersikap sewenang-wenang, supaya orang-orang menjauh darimu."
"Benar… seperti itu…"
Mungkin karena sebelumnya dia sudah pernah aku hajar habis-habisan, Tsukiyama tidak melakukan perlawanan sia-sia dan langsung mengakui kata-kataku.
"Aku senang semua orang berkumpul di sekitarku. Tapi aku tetap berpikir… setelah menghindariku begitu lama, mereka tiba-tiba bersikap akrab seolah tak pernah terjadi apa-apa—itu terlalu oportunis, kan? Kalau saja ada satu kata… satu saja, semuanya pasti berbeda…"
Mendengar kata-kata itu, para siswi faksi Kanie memasang ekspresi pahit.
Memang, dulu Tsukiyama terasing di kelas karena ulahnya sendiri. Tapi diperlakukan seolah semua itu tidak pernah terjadi tetap terasa menyakitkan.
Setidaknya, dia ingin mendengar satu kalimat: "Maaf karena dulu bersikap dingin."
"Selain itu, aku juga takut… dan merasa tidak nyaman. Aku berpikir, mungkin aku sedang dimanfaatkan oleh seseorang."
Perasaan "dimanfaatkan" itu mungkin muncul karena Amada.
Di awal semester pertama, Tsukiyama memang menjadi sahabat Amada—tapi itu hanyalah persahabatan sepihak.
Tsukiyama menganggap Amada sebagai sahabat sejati, sementara Amada hanya memperlakukannya sebagai ‘teman dekat’ semata.
Jadi dia juga menyadari hal itu, ya…
"Dan ternyata benar! Kau ingat kejadian Yoshikawa dan Oouchi beberapa waktu lalu? Mereka berpura-pura akrab denganku, lalu melakukan hal aneh pada Kanie! Sejak awal mereka tidak berniat berteman denganku—mereka hanya memanfaatkanku untuk mendekati Kanie!"
Itu memang fakta. Yoshikawa dan Oouchi mendekati Tsukiyama dengan tujuan tersebut.
"Makanya aku muak! Orang-orang yang sekarang tersenyum di sampingku mungkin suatu hari akan mengkhianatiku! Tanpa kusadari, aku bisa dimanfaatkan lagi! Mereka memaksakan ideal mereka sendiri, lalu menjadikanku ‘Tsukiyama si populer’ sesuka hati! Jadi aku…!"
"Makanya kau mencoba kembali dengan cara dibenci? …Kembali ke tempat kami?"
"……Iya."
Dengan lemah, Tsukiyama mengiyakan kata-kataku.
Sejak menjadi populer, banyak orang mulai berkumpul di sekeliling Tsukiyama.
Sebagai gantinya, dia tidak bisa lagi menghabiskan waktu bersama kami. Bukan berarti hubungan kami renggang, tapi hasil akhirnya sama saja. Dan Tsukiyama membenci hal itu.
"Aku ingin bersama Kazuki dan yang lain! Saat bersama Kazuki, aku paling menikmati waktu! Tapi kalau ada banyak orang, aku tidak bisa bersama Kazuki! Kalau begitu, satu-satunya cara ya harus dibenci, kan?!"
Benar. Itulah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan saat itu.
Tak peduli bagaimana kau berjuang, Tsukiyama tidak punya pilihan lain.
Sekarang setelah aku memahami tujuannya, semuanya terasa masuk akal.
"Hei, Kazuki. Tidak apa-apa, kan? Aku tidak melakukan apa pun pada Hidaka. Aku hanya memintanya tetap di sisiku. Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali! Sungguh! Percayalah!"
"Iya, aku percaya kok. Kau bukan tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu."
Begitu aku berkata demikian, cahaya kembali muncul di mata Tsukiyama.
"Kalau begitu—"
"Lalu, kau pikir aku akan memaafkanmu?"
"……!!"
Saat menjalani kehidupan keduaku dan mengetahui kebenaran tentang Amada, aku sudah memutuskan.
Siapa pun yang bersikap bermusuhan terhadapku atau orang-orang di sekitarku akan kuhancurkan sampai tuntas.
Terutama…
"Aku paling benci orang yang memanfaatkan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri."
"Aku tidak berniat seperti itu! Aku hanya—"
"Meski tidak berniat, kalau hasilnya sama, tidak ada bedanya."
"……!!"
Berbicara lebih lama dengan Tsukiyama hanyalah buang-buang waktu.
Tak peduli seberapa keras dia meronta, tak mungkin aku akan menerimanya.
"Kalau memang benar-benar tidak suka, seharusnya kau mengatakannya dengan mulutmu sendiri. Tapi kau tidak mengatakan apa pun. Dengan sikap setengah-setengah itu, kau malah mengatur supaya bukan dirimu yang bergerak, melainkan orang-orang di sekitarmu yang bergerak. Siapa pula yang mau bersama bajingan pengecut seperti itu?"
"Ah, aah……"
"Aku benci orang yang hanya sibuk membaca ekspresi orang lain dan tidak bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan. Kalau memang ada sesuatu yang benar-benar ingin kau sampaikan, katakanlah dengan benar, dengan kesiapan untuk melukai dirimu sendiri dan lawan bicaramu."
Pada akhirnya, dia menyalahkan orang lain atas alasan dirinya tidak lagi menjadi sosok populer. Padahal sebenarnya, dialah yang paling memikirkan hal itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa, si populer. Syukurlah, sekarang kau tidak akan dimanfaatkan lagi. Kalau kau bisa menumpahkan isi hatimu sejauh ini, tak akan ada lagi orang yang mau berkumpul di sekitarmu. …Benar, kan?"
Aku mengalihkan pandanganku bukan ke Tsukiyama, melainkan ke teman-teman sekelas yang berdiri di belakangnya.
Ada yang menunjukkan ekspresi rumit, seolah memikirkan sesuatu setelah mengetahui perasaan Tsukiyama yang sebenarnya, tapi mungkin apa yang mereka pikirkan kurang lebih sama.
Mulai sekarang, aku tidak akan berurusan dengan Tsukiyama lebih dari yang perlu.
Pada saat ini, Tsukiyama jatuh ke dalam keadaan yang jauh lebih buruk dibanding julukan "Pangeran Mengecewakan" yang ia dapatkan di kehidupan pertamanya.
"Hidaka, ayo pulang."
"…………Iya."
Mungkin karena ia sudah menyadari akhir dari semua ini, Hidaka mengangguk dengan tatapan yang bercampur antara kekecewaan dan keputusasaan.
Padahal, korban terbesar dalam kejadian ini jelas adalah Hidaka, tapi dia malah lebih mengkhawatirkan aku daripada dirinya sendiri.
"Kazupyon, kekecewaan itu—"
"Ayo pergi."
Tanpa mendengarkan kata-kata Hidaka sampai akhir, aku mulai berjalan.
Sesaat sebelum keluar dari kelas, Kobayakawa menyusulku dan berkata, "Keren!" dengan senyum penuh rasa pencapaian.
Begitu kami keluar ke lorong, Iba dan Ushimaki memperlihatkan ekspresi rumit yang bertolak belakang dengan Kobayakawa.
"Ishii-san, ini memang sudah yang terbaik, ya?"
Aku menjawab konfirmasi terakhir dari Iba dengan tenang.
"Yup."
Setelah ini, aku tidak tahu bagaimana Tsukiyama akan diperlakukan di dalam kelas.
Namun, setidaknya dia tidak akan mengalami hal yang sama seperti yang kualami di kehidupan pertamaku.
Apa yang terjadi setelah itu, bukan lagi urusanku.
"Akhir yang membosankan……"
Akhir di mana tak seorang pun mendapatkan apa pun.
Akhir di mana hanya Tsukiyama yang kehilangan segalanya.
Aku sudah tahu ini akan terjadi. Tapi ketika benar-benar sampai di titik ini, rasanya jauh lebih tidak enak dari yang kubayangkan.
Benar-benar yang terburuk. Tapi… inilah yang benar.
Tsukiyama, kau puas, kan?
Sesuai keinginanmu, sekarang kau bukan lagi orang populer.
[POV Tsukiyama Ouji]
"……Aku pulang."
"Selamat datang, Ouji! Dan teman-tem—"
Ucapan ayah terhenti.
Wajar saja. Sampai kemarin, teman-teman yang datang setiap hari kini tidak ada satu pun.
Yang pulang ke rumah hanya aku seorang diri.
Aku… sendirian.
Ayah mengernyitkan dahi dan bertanya padaku.
"Ouji, bukankah hari ini juga teman-temanmu akan datang?"
"Ah… soal itu……"
Semua orang sudah pergi……
Tidak. Aku yang menghancurkannya sendiri. Aku sendiri yang menghancurkan hubungan dengan mereka semua.
"Jadwal kami tidak cocok saja."
"Ada sesuatu yang terjadi di sekolah?"
"Hahaha. Tidak ada apa-apa kok. Ayah ini……"
Ayah terlalu khawatir.
Aku hendak mengatakan itu, tapi kata-kataku terhenti. Dorongan untuk menyampaikan kata-kata lain muncul.
Tidak boleh. Kalau aku mengatakannya, ayah akan terluka.
Ayah yang selama ini selalu memaksakan diri demi aku. Dari siapa pun di dunia ini, aku paling menghormati ayah. Aku tidak ingin membuat ayah yang berharga bagiku merasa khawatir.
Aku selalu ingin menunjukkan senyum pada ayah—
—Kalau memang ada sesuatu yang benar-benar ingin kau katakan, katakanlah dengan benar, dengan kesiapan untuk melukai dirimu sendiri dan lawan bicaramu.
……Benar. Itu benar.
"Ouji?"
Aku tidak bisa langsung menjawab panggilan ayah. Tapi aku harus menyampaikannya dengan benar.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menumpahkan semuanya sekaligus.
Untuk membuang kebohongan yang selama ini kupendam.
"Maaf, Yah. Selama ini aku memaksakan diri……"
"Eh?"
Mendengar kata-kataku yang tiba-tiba, mata ayah membelalak.
"S-sebenarnya, orang-orang yang datang sampai kemarin itu… aku tidak terlalu suka mereka. Tentu saja, aku tahu mereka bukan orang jahat. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mempercayai mereka……"
Ah… aku mengatakannya. Padahal aku berniat tidak akan pernah mengatakannya seumur hidupku.
Maaf, Ayah. Aku yakin mulai sekarang aku akan melukai perasaan ayah. Tapi tetap saja, aku ingin menyampaikannya dengan benar.
"Aku sebenarnya—"
"Tunggu."
Ayah menghentikan ucapanku.
"Masuklah ke kamar mandi, ganti baju. Kita bicara setelah itu."
Seperti biasa… ayah memang baik hati. Padahal, sebenarnya dia pasti ingin langsung mendengarkannya, tapi dia selalu mengutamakanku.
Terima kasih…… maaf……
Aku mandi, lalu berganti dari seragam ke baju olahraga.
Biasanya, saat teman-teman datang, aku tetap mengenakan seragam, tapi sekarang hanya ada aku dan ayah.
Kalau begitu, tidak perlu tetap memakai seragam yang kaku, kan.
Setelah mengeringkan rambut dengan pengering dan menuju ruang tamu, ayah sudah menyiapkan cokelat panas.
"Lebih enak yang dingin?"
Tidak. Yang hangat lebih baik. Yang hangat memang lebih baik.
"Kalau Ouji tidak mau bicara, tidak apa-apa, tahu?"
"Tidak. Aku akan bicara dengan benar."
Aku tidak ingin berbohong lagi pada ayah yang begitu menyayangiku. Aku tidak ingin menyimpan rahasia lagi. Karena itu, aku mengatakannya.
"Aku dibenci di sekolah."
"…………!"
Ah, ayah terkejut. Ya, tentu saja.
Sampai kemarin, begitu banyak teman yang datang, jadi tidak mungkin terpikirkan bahwa sebenarnya aku dibenci.
Siapa pun pasti akan berpikir begitu.
"Tapi kemarin masih banyak teman yang—"
"Iya. Itu setelah aku dibenci. Sebenarnya, aku—"
Setelah itu, aku menceritakan semuanya dengan jujur pada ayah.
Tentang bagaimana aku selalu salah mengira bahwa dirikulah yang benar dan bersikap sok hebat di sekolah.
Tentang bagaimana teman-teman sekelas menunjukkan kesalahanku dan akhirnya mereka membenciku.
Tentang bagaimana masih ada teman sekelas yang tetap mau berteman denganku, dan saat menghabiskan waktu bersamanya, aku akhirnya benar-benar menjadi populer.
Namun, sebenarnya aku tidak ingin bersama semua orang itu, dan meskipun aku ingin menghabiskan waktu dengan teman sekelas yang benar-benar dekat denganku, semuanya tidak berjalan dengan baik.
"Awalnya aku berpikir, kalau ayah senang, aku akan mencoba bergaul dengan mereka. Tapi ternyata, orang yang benar-benar ingin bersamaku itu orang lain……"
"…………"
"Karena itu, aku sengaja melakukan hal-hal yang membuat semua orang membenciku. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa mempercayai mereka……"
Ayah mendengarkan ceritaku tanpa berkata apa pun.
Pasti ayah terluka. Pasti ayah mengira ini semua salahnya.
Padahal bukan begitu. Ini semua karena keputusanku sendiri.
"…………Maaf."
Ah… seperti yang kuduga.
Padahal aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu, tapi tetap saja aku selalu gagal melakukannya dengan baik.
"Bukan begitu, Yah! Ini semua kulakukan atas kemauanku sendiri! Aku benar-benar berterima kasih pada Ayah, aku ingin Ayah selalu tersenyum……! Jadi, Ayah tidak perlu minta maaf!"
"Ouji……"
"Lagipula, aku tidak apa-apa meski kehilangan teman! Soalnya, aku masih punya Ayah! Kalau Ayah ada…… aku tidak akan…… kesepian……"
Penglihatanku mulai kabur. Padahal aku tidak berniat begitu, tapi entah kenapa sesuatu terus meluap keluar dari mataku.
Sebenarnya, aku tidak mau kalau hanya ada Ayah saja. Ada seseorang yang ingin selalu bersamaku.
Tapi aku sudah tidak bisa bersama dengannya lagi. Aku tidak bisa lagi berada di sisinya.
Aku sempat berpikir, bagaimana kalau masih ada harapan. Karena itu, aku mempertaruhkan segalanya untuk yang terakhir kalinya.
Namun, karena aku memang orang yang tidak berguna…… pada akhirnya, itu pun gagal.
"Ugh! Hiks!!"
Tahan, tahan saja. Kenapa sih semua ini keluar dengan sendirinya.
Aku sudah tahu sejak awal kalau ini akan berakhir seperti ini, kan. Ini semua akibat perbuatanku sendiri.
Ayah memelukku erat.
"Kamu tidak perlu menahannya."
Dengan kata-kata itu, sesuatu di dalam diriku runtuh.
"A, aaaaaaaah!! S-sebenarnya aku nggak mau! Ada orang yang ingin selalu bersamaku! Tapi… aku jadi dibenci……! Aku jadi nggak bisa bersama dia lagi……!"
"Tidak apa-apa. Aku ada di sini. Aku akan selalu ada……"
"Maaf! Maafkan aku, Yah…… gara-gara aku, gara-gara aku Ayah jadi kerepotan……"
"Ayah tidak kerepotan sama sekali. Ayah senang kamu mau mengatakan yang sebenarnya."
Sedih, sepi, menyakitkan—tapi Ayah tetap memelukku.
Setidaknya Ayah selalu berada di pihakku. Itu adalah kebahagiaan terbesar bagiku.
Ada banyak hal buruk yang terjadi. Banyak juga hal yang membuatku menyesal. Namun, setidaknya aku masih bisa menjaga ikatan antara aku dan Ayah.
Kalau begitu…… tujuan ini sudah tercapai, kan?
Rasakan itu, Kazuki. Sampai detik terakhir pun aku berhasil menipumu.
Kau tidak menyadari niatku—tapi itu tidak apa-apa. Memang lebih baik seperti itu…….
Aku ini mudah terlena, sering bertingkah aneh, dan selalu merepotkanmu, Kazuki.
Karena itu, kau jalani saja hidupmu dengan bahagia bersama Hidaka.
Bahkan saat kau bersamaku, wajahmu selalu terlihat kesepian, jadi rawatlah dia dengan lembut sampai rasa sepinya benar-benar terisi—tanpa perlu aku katakan pun, kau pasti akan melakukannya, kan.
Aku pasti akan dimarahi karena mengatakan hal-hal yang tidak perlu…… atau mungkin, itu sudah tidak akan terjadi lagi.
"Oi, Ouji. Liburan musim panas nanti, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan berdua? Gimana kalau vila kita di Okinawa?"
"Iya! Aku mau! Ayo pergi bareng, Yah!"
Segalanya memang telah hilang.
Tapi setidaknya, Ayah masih ada di sisiku.
Karena itu, tidak apa-apa. Meski sekarang terasa menyakitkan, suatu hari nanti pasti akan baik-baik saja…….




Post a Comment