NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V3 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Popularitas Seorang Sahabat adalah Hasil dari Tindakannya


"……Ayah!"


Saat aku mendongakkan tubuh bagian atasku dengan tiba-tiba, barulah kusadari bahwa kesadaranku telah terbangun.


Kaos yang menempel lengket di kulit—sensasi tak menyenangkan. Aku berkeringat cukup banyak.


"Haa… haa…"


Ini benar-benar kebangkitan yang terburuk. Tak kusangka aku akan memimpikan kembali saat ayah meninggal dunia…


"Nggak apa-apa?"


Suara itu menarikku kembali dari mimpi ke dunia nyata. Saat menoleh ke samping, Hidaka Mikoto menatapku dengan mata penuh kecemasan.


Aku merasakan sentuhan handuk di pipiku. Dia pasti sedang mengkhawatirkanku. Dengan tangan yang lembut, dia mengusap keringatku dengan hati-hati.


"Ah, aku baik-baik saja…"


Kehidupan pertamaku. Setelah sandiwara penghakiman palsu yang terjadi pada upacara penutupan semester dua, duniaku berubah.


Aku bukan lagi sekadar figuran, melainkan hidup sebagai sampah yang boleh diinjak-injak. Keluargaku direnggut dariku.


Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi. Kali ini, aku pasti akan melindungi keluargaku.


Dengan tekad itu, aku mencoba bangun dari tempat tidur—namun gagal. Tanganku digenggam erat.


"Masih ada waktu kok, santai saja sebentar lagi juga tidak apa-apa."


Hidaka Mikoto memang punya sisi yang agak agresif, tapi dia gadis yang jujur, lurus, dan sangat menarik. Dalam kehidupan pertamaku, aku tak pernah tahu bahwa dia akan menjadi sekutu absolutku.


Bagi diriku, Hidaka adalah sosok yang sama berharganya dengan keluarga. Karena itulah, aku juga bertekad kuat untuk melindunginya—namun…


"Kenapa kamu masuk ke tempat tidurku?"


Perbedaannya terlalu ekstrem.


Baru saja terbangun dari mimpi neraka, kini aku dihadapkan pada agresivitas yang ribut.


Dengan mental seperti apa aku harus menerima situasi ini?


Aku—Ishii Kazuki—dan Hidaka Mikoto bukanlah sepasang kekasih. Tentu saja, aku punya perasaan khusus padanya. Jujur saja, dia gadis yang sangat penting bagiku.


Namun karena berbagai keadaan, kami belum sampai pada hubungan sebagai pasangan. Lagi pula, di lantai bawah ada ayah, ibu, dan Yuzu—malaikat kesayanganku. Tak mungkin ada "waktu bersenang-senang" di sini.


"Bagus sekali kau bertanya."


Dia tersenyum penuh percaya diri. Terlalu dekat. Terlalu dekat, Hidaka-san.


"Aku datang untuk membangunkan Kazupyon. Terus, Kazupyon sedang mengigau."


"Lalu?"


"Aku sangat khawatir, jadi aku menyelinap ke tempat tidur. Tenang saja, aku tidak melakukan apa-apa kok."


Dalam otak agresifnya, menyelinap ke tempat tidur tidak termasuk kategori "melakukan sesuatu".


"Tapi, kalau Kazupyon yang mau melakukan sesuatu, aku tidak keberatan."


Dia mengatakannya dengan wajah serius.


"Sesuatu itu apa?"


"Ciuman selamat pagi, chu~"


Di kamar Ishii Kazuki, sekali tiap tiga hari selalu muncul badut aneh.


"Aku menolak dengan hormat."


"Jadi, chuu~?"


"Bukan masalah pelafalan."


Aku keluar dari tempat tidur. Kaosku lengket oleh keringat, aku ingin cepat berganti baju. Namun, karena ada stalker yang siap siaga di atas tempat tidur, aku tidak bisa melakukannya.


Saat aku kebingungan, terdengar suara langkah kaki gaduh dari balik pintu.


"Kazu, kamu tidak apa-apa!? Tiba-tiba Miko-chan kabur dari ruang tamu dan—"


Suara malaikatku dari balik pintu.


Situasi saat ini: Hidaka di dalam tempat tidur. Aku berkeringat kuyup. Situasi yang lebih dari cukup untuk menimbulkan kesalahpahaman.


"Miko-chan, cepat keluar sekarang juga! Kazu jadi kesulitan, kan!"


Bahkan dalam situasi seperti ini, dia sama sekali tidak mencurigaiku. Benar-benar malaikat. Kenapa dia bisa selucu ini? Cara dia marah sambil manyun itu terlalu menggemaskan.


"Yuzu, terima kasih sudah tidak meragukanku."


"Hah? Orang pengecut yang sampai sekarang belum berani menghadapi perasaan Miko-chan itu memang tidak mungkin melakukan apa-apa, kan?"


Serangannya tanpa ampun, wahai malaikatku. Tapi kesalahpahaman tetap harus diluruskan.


"Bukannya aku tidak menghadapinya. Soal masa depan—"


"Tidak usah bicara yang aneh-aneh! Tetap saja jadi pengecut itu!"


"……Baiklah."


Yuzu memotong ucapanku dengan segenap tenaganya. Sementara itu, Hidaka memegang selimut dengan kedua tangan, menyembunyikan setengah wajahnya.


Pagi di kehidupan keduaku, semakin hari terasa semakin aneh.


◇ ◇ ◇


Pagi hari, setelah mengantar Hidaka—yang diseret pergi tanpa banyak bicara oleh Yuzu—aku mandi singkat untuk membersihkan keringat, lalu berganti ke seragam dan menuju ruang tamu.


Entah kenapa, Hidaka sedang duduk berlutut dengan rapi.

Dan ibu menatapnya dengan pandangan tajam.


Jelas terlihat beliau sedang marah. Tapi apa yang sudah dia lakukan? Harusnya tidak ada hal buruk—


"Miko-chan. Masuk ke tempat tidur Kazu-kun itu tidak boleh."


Aku tarik kembali ucapanku. Sepertinya, akal sehatku sendiri sudah rusak karena tak lagi menganggap orang menyusup ke tempat tidurku sebagai "perbuatan buruk".


"……Maaf."


Dimarahi ibu, Hidaka menunduk dan meminta maaf dengan lesu. Ayah tampak kebingungan, sementara Yuzu memasang wajah penuh rasa bersalah.


Mungkin Yuzu menceritakan apa yang terjadi di kamarku, itulah sebabnya ibu marah. Sampai sejauh itu dia memikirkanku—benar-benar malaikat.


"Kazuki-kun, Kazuki-kun!"


Ayah, yang tak tahan dengan suasana tegang, menghampiriku. Hanya dengan melihat wajah cerianya, air mataku hampir tumpah.


"Ibu sedang marah. Jadi di sini, kita pakai lelucon hebatku dan tanggapan hebatmu untuk mencairkan suasana dan meredakan amarahnya!"


Begitulah ayah selalu bersikap. Saat ibu marah, ayah sengaja bercanda untuk mencairkan suasana. Meski terlihat canggung dan kalah gaya, ayah adalah sosok yang paling keren dan paling baik hati.


"Kazuki-kun, kalau begini terus kita bisa tidak dapat sarapan! Sungguh menyedihkan!"


Aku memeluk ayah sekuat tenaga.


"Syukurlah Ayah masih hidup!"


"Kenapa tiba-tiba jadi begitu!?"


Dia hidup. Ayah masih hidup. 


Aku tidak akan membiarkan tragedi itu terulang. Kali ini, kami akan hidup bahagia sebagai keluarga.


Ceramah ibu pun berlanjut.


"Aku senang kamu selalu membantu menyiapkan sarapan, tapi itu bukan berarti kamu boleh melakukan apa saja. Bertindaklah dengan penuh kesadaran dan batasan."


"……Iya."


Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan kemarahan yang tenang. Justru karena ibu jarang marah, saat beliau marah rasanya sangat menakutkan.


"M, Miko-chan juga kelihatannya sudah menyesal, jadi tidak perlu marah sebesar itu—"


"Tidak boleh. Kalau melakukan kesalahan, harus ditegur dengan benar. Aku tidak akan memperlakukannya secara istimewa."


Mata Hidaka membelalak. Bulu matanya yang panjang berkedip-kedip saat dia dengan ragu bertanya pada ibu.


"Benarkah… aku tidak akan diperlakukan istimewa?"


"Tentu saja. Kamu benar-benar menyesal, kan?"


"…………Iya."


Suaranya terdengar seolah sedang mengecap kebahagiaan. Aku memang tidak sepenuhnya memahami Hidaka Mikoto. Tapi ada satu hal yang kupahami.


Bagi Hidaka, tidak diperlakukan secara istimewa—itulah perlakuan istimewa baginya.


Matanya sedikit berkaca-kaca. Mungkin karena malu air matanya terlihat, dia menundukkan wajahnya.


Ibu lalu dengan lembut mengusap kepala Hidaka.


"Kalau begitu, mari kita sarapan."


Saat sedang sarapan, ayah—yang sudah berganti ke setelan jas baru—tersenyum sambil mengajukan sebuah usulan.


"Eh, eh. Nanti kalau liburan musim panas, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan bareng? Ayo liburan, liburan!"


Di keluarga Ishii, setiap tahun kami selalu bepergian saat liburan musim panas, liburan musim dingin, dan liburan musim semi.


Sebentar lagi akan memasuki liburan musim panas, jadi sepertinya ayah ingin mulai merencanakan liburan itu.


Ibu menjawab,


"Boleh juga. Mau ke mana?"


"Hm~. Belum sampai sejauh itu sih, belum ditentukan. Kalau Mikoto-chan punya waktu, ikut juga ya!"


"Aku juga boleh ikut?"


"Tentu saja!"


Jawaban penuh senyum dari ayah. Sepertinya dia tidak menyangka akan diajak, matanya sempat terlihat gelisah sebelum akhirnya tertuju padaku.


"Kazupyon, boleh?"


"Kalau bisa ikut, ikut saja."


"……Iya. Aku pasti ikut!"


Tak kusangka Hidaka akan ikut dalam liburan keluarga kami.

Kalau diriku di kehidupan pertama tahu, mungkin matanya akan melotot keluar.


"Hehe! Ini sedikit kemajuan ya? Kamarnya dua… ah, satu juga tidak apa-apa!"


Ngomong-ngomong, saat liburan musim panas nanti, aku juga punya janji untuk pergi ke vila milik Tsukiyama.


Di kehidupan pertama, aku belum pernah ke rumah Tsukiyama apalagi vilanya—aku hanya mendengarnya dari Amada. Namun di kehidupan kedua ini, apakah aku benar-benar akan pergi ke sana…?


Aku bahkan bertanya-tanya apakah aku benar-benar bisa pergi.


"Kamar yang sama untuk semua orang… menyenangkan."


Entah kenapa, kata-kata Hidaka terasa mengusikku.


Dia memang datang ke rumah kami setiap pagi, tapi Hidaka juga punya keluarganya sendiri. Kalau punya keluarga, berbagi kamar saat liburan seharusnya hal yang biasa.


"Sekalian saja, mungkin seru juga kalau kita liburan dengan road trip! Keliling ke banyak tempat naik mobil!"


"Tidak capek menyetirnya?"


"Tenang saja, Bu! Ayah bisa nyetir tanpa tidur—eh, kenapa, Kazuki-kun?"


Tanpa sadar, aku menggenggam tangan ayah dengan kuat dari seberang meja.


"Ayah, bagaimana kalau segera menyerahkan SIM saja?"


"Sebenci itu kamu sama road trip!?"


◇ ◇ ◇


Saat kehidupan keduaku dimulai, aku sengaja menghindari semua interaksi dengan Amada Teruhito, sang protagonis komedi romantis.


Di kehidupan pertamaku, aku kehilangan nyawa karena terlibat dalam romansa Amada.


Dan bukan cuma aku—seluruh keluargaku juga.


Namun, penyebabnya bukan Amada secara langsung, melainkan ulah para heroine yang jatuh cinta padanya dan bertindak di luar kendali. Setidaknya, itulah yang kupikirkan dulu.


Tapi ternyata, akar dari semua kejahatan itu adalah Amada Teruhito sendiri. Dialah yang memanfaatkan para heroine untuk merenggut nyawaku dan keluargaku.


Setelah menyadari hal itu, aku memutuskan untuk tidak lari dari komedi romantis—melainkan menghancurkannya.


Berkat perjuanganku, aku berhasil menghancurkan flag kematianku sendiri, serta flag kematian Yuzu.


Sudah hampir tiga bulan sejak aku mulai menjalani kehidupan keduaku.


Komedi romantis Amada Teruhito telah musnah sepenuhnya. Seharusnya ini menjadi awal kehidupan kedua yang menyenangkan—namun aku tahu situasinya belum sepenuhnya aman.


Amada Teruhito adalah protagonis romcom yang luar biasa diberkahi. Meski ditinggalkan para heroine di semester pertama, masih ada heroine lain yang akan muncul di semester kedua dan seterusnya.


Artinya, semuanya belum benar-benar berakhir.


Masih ada perempuan-perempuan berbahaya yang akan membenarkan Amada tanpa syarat dan bahkan tak ragu melakukan hal kotor demi dirinya…


"Kazu, kamu ngapain ke Miko-chan?"


Saat aku murung memikirkan masa depan yang mungkin datang, Yuzu melontarkan pertanyaan dengan suara dingin.


Penyebabnya bukan aku—melainkan Hidaka.


Waktu berangkat sekolah pun tiba. Kami bertiga berjalan bersama sambil mengobrol ringan, tapi tiba-tiba Hidaka berhenti melangkah. Sesaat kemudian, dia menatapku dengan mata berbinar seolah penuh harap.


"Yuzu, seharusnya yang benar itu bertanya ke Hidaka, ‘Ada apa?’ bukan?"


"Aku menduga Kazu melakukan sesuatu yang aneh, dan Miko-chan jadi ketagihan."


Seperti yang diharapkan dari malaikat maha tahu. Tajamnya luar biasa.


"Ini jelas tanda kalau dia ingin jalan sambil bergandengan tangan."


Kalau hanya ingin menggandeng tangan, sebenarnya dia bisa melakukannya sendiri. Namun dia tidak memilih cara itu—artinya dia ingin aku yang lebih dulu menggandeng tangannya.


Sebelumnya, setelah masalah Hitsujitani selesai, aku pernah sekali menggandeng tangan Hidaka.


Sejak saat itu, kadang-kadang dia berhenti seperti ini, menunggu aku menggandeng tangannya.


Seharusnya sampai sejauh ini tidak mungkin ketahuan oleh Yuzu—


"Jadi, setelah Kazu sekali menggandeng tangan, dia jadi begini ya."


Kenapa bisa ketahuan!?


"Kamu bilang aku yang nomor satu padahal…"


"Daripada marah, caramu kelihatan kesepian itu terlalu imut, aku boleh memelukmu tidak?"


"Nggak usah! Aku nggak kesepian! Sama sekali tidak!"


"Yuzu, itu langkah yang salah. Jantungku jadi tidak bisa berhenti berdebar."


"Jangan elus kepalaku!"


Yuzu menepis tanganku dengan kasar.


Kata-kata apa yang bisa kugunakan untuk menggema-kan kehebatan Yuzu ke seluruh galaksi? Sungguh menyedihkan betapa miskinnya kosakataku.


"Hidaka, ayo cepat jalan."


Aku tak ingin membuat Yuzu merasa kesepian lebih lama, jadi aku memanggil Hidaka. Namun ada yang aneh.


Biasanya, Hidaka pendiam saat berangkat sekolah pagi. Dia hanya berhenti seperti ini saat kami berdua pergi atau pulang dari tempat kerja paruh waktu.


Meski begitu, kenapa hari ini sejak pagi-pagi sudah begini…?


"Kazupyon, ini situasi serius. Aku terlalu bahagia sampai tidak ingin berjalan."


Tidak diperlakukan istimewa oleh ibu, dan diajak liburan oleh ayah. Karena terlalu senang, keinginannya pun semakin meluap.


"Makanya, demi kebahagiaan yang lebih lagi, ayo bergandengan tangan—"


"Ayo, jalan."


"Baik."


Yuzu menggenggam tangan Hidaka. Hidaka pun terlihat sangat senang dengan itu.


"Yuzu-chan, menurutku manusia punya dua tangan itu supaya bisa menggandeng dua orang."


"Aku juga berpikir begitu. Jadi, aku akan begini."


"Eh! Yuzu!"


"Hari ini saja, istimewa kok…"


Yeeees!! Yuzu menggandeng tanganku! Kami bergandengan tangan!


Ini sudah bukan sekadar bergandengan tangan—boleh dibilang hati kami juga saling terhubung.


Tidak, itu berlebihan. Karena sejak awal, hati kami memang sudah terhubung. Aku mencintaimu, Yuzu. Aku pasti akan membuatmu bahagia.


"Eh, kalian berdua mau ke mana kalau liburan?"


Sambil berjalan, Yuzu melemparkan pertanyaan itu kepada kami.


"Aku ke mana saja tidak masalah. Tempat di mana Yuzu berada, di situlah negeri impian."


"Aku juga ke mana saja. Tempat di mana Kazupyon berada, di situlah negeri impian."


"Aku yang bertanya ini bodoh ya…"


Bagiku, yang penting dalam sebuah perjalanan bukan ke mana perginya, melainkan dengan siapa aku pergi.


Pergi ke tempat yang berbeda dari keseharian bersama orang yang penting—itulah yang memberiku kebahagiaan.


"Yuzu sendiri tidak ada tempat yang ingin dikunjungi?"


"Hmm, ya… oh, mungkin aku ingin ke Okinawa!"


"Ah…"


"Ada apa? Bukankah itu tempat yang cukup umum?"


Yuzu benar. Kalau liburan musim panas dikaitkan dengan laut, Okinawa adalah pilihan yang paling umum.


Jadi, usul Yuzu tidak bermasalah—namun…


"Sebetulnya, aku sudah janji pergi ke Okinawa bareng anak-anak sekolah saat liburan musim panas."


Belum benar-benar pasti—bahkan ada kemungkinan rencananya dibatalkan.


"Haaaaaaa!?"


Suara luar biasa keras keluar dari Yuzu.


"Apa itu! Kazu saja yang boleh, tidak adil! Miko-chan juga ikut, kan?"


"Iya. Liburan bareng teman-teman. Aku sangat menantikannya."


Teman-teman. Aku langsung tahu dia merujuk pada Iba dan yang lainnya, tapi perasaanku menjadi campur aduk.


Di kehidupan pertama, karena mereka aku jatuh ke neraka. Di kehidupan kedua, berkat mereka aku bisa melindungi Yuzu.


Bagi diriku, sebenarnya mereka itu apa?


Saat aku memikirkan hal itu, Yuzu bergumam dengan kesal.


"……Aku juga mau ikut."


"Yuzu juga? Tapi yang pergi itu anak-anak dari sekolah kami—"


"Aku juga mau ikut! Mau ikut mau ikut mau ikut mau ikut!"


Hah? Terlalu imut, kan?


Anak ini sebenarnya mau bikin jantungku berdebar sampai sejauh mana sih?


"Baiklah. Kalau begitu, nanti akan kubicarakan supaya Yuzu juga bisa ikut."


"Hore!"


Rencananya kami akan memakai vila milik ayah Tsukiyama, jadi dari segi jumlah orang seharusnya tidak masalah. Di kehidupan pertamaku pun, seluruh harem Amada masih muat di sana.


"Hei, Miko-chan. Kamu punya baju renang? Kalau belum, nanti kita beli bareng ya."


"Aku juga berencana beli baju renang baru. Ayo pergi bersama."


"…Hah!"


"Ada apa, Kazu?"


"Aku menyadari sesuatu yang sangat penting dan sekaligus sangat berbahaya…"


Benar juga. Aku sempat lupa, tapi ada masalah besar di sini.


Di Okinawa ada laut. Dan untuk bermain di laut, tentu harus berganti ke baju renang. Artinya, bukan cuma Hidaka—Yuzu juga akan mengenakan baju renang…


"Hal berbahaya?"


"Iya. Ini harus benar-benar kumintakan tolong pada Tsukiyama…"


Baju renang Yuzu. Ushimaki dan Iba tidak masalah, karena mereka sesama perempuan. Tapi di sana juga ada Tsukiyama—seorang pria.


Bahkan aku yang masih saudara kandungnya saja setiap hari terdorong untuk terus memuja Yuzu. Kalau Tsukiyama yang tidak punya hubungan darah sampai melihat Yuzu, pasti bakal jadi masalah besar.


Karena itu, aku harus bertindak lebih dulu. Harus mengambil langkah yang pasti.


Saat aku berpikir serius, Yuzu menatapku dengan wajah cemas.


"Kazu… kalau aku ikut malah merepotkan…"


Aduh, Yuzu memang terlalu khawatiran. Padahal bagiku, kemungkinan Yuzu tidak ikut itu sama sekali tidak ada.


"Tidak apa-apa. Sama sekali tidak merepotkan. Justru Yuzu boleh merepotkanku sebanyak yang kamu mau."


"Hmm."


Yuzu menggenggam tanganku sedikit lebih erat.


"Ngomong-ngomong, kamu mau minta apa ke Tsukiyama-san?"


"Bukan hal besar. Cuma mau minta supaya dia membiarkan bola matanya dicungkil saja."


"Itu sudah jauh melampaui ‘bukan hal besar’!"


Kalau dipikir-pikir, memang benar. Turunnya Yuzu dengan baju renang itu setara dengan bencana alam besar.


Memang Yuzu luar biasa. Adikku benar-benar imut tanpa batas.


◇ ◇ ◇


"—Jadi begitulah, menurutmu bagaimana kalau kita cungkil saja bola matanya?"


"Kupikir itu gila."


"Kupikir itu sangat gila."


Di kelas 1-C pagi hari, dua orang bodoh menanggapi usulku yang sangat masuk akal ini dengan jawaban ngawur.


Mereka adalah Ushimaki Fuuka dan Iba Kouki.


Memang, kedua orang ini kurang akal sehat. Yang bodoh itu aku karena mengajak bicara.


"Mengesampingkan dulu cinta obsesif Ishii-san pada adiknya, aku juga ingin baju renang baru sih."


"Ah! Aku juga!"


Ushimaki berasal dari kelas A, Iba dari kelas B, tapi entah kenapa mereka selalu ada di kelasku. Bagian ini sama saja seperti di kehidupan pertama.


"Kazupyon, anu…"


Nada suara ragu-ragu. Dari situ saja aku sudah langsung tahu apa yang ingin dikatakan Hidaka. Dia ingin mengajak Iba dan Ushimaki juga, pergi berempat untuk beli baju renang.


"Bagaimana kalau kita pergi berempat?"


"Hah!? Boleh!?"


Mata Ushimaki berbinar. Hidaka tersenyum bahagia.


Sampai di sini masih baik-baik saja, tapi kenapa Iba malah memasang wajah sombong?


"Artinya, kami berdua sudah cukup dipercaya sampai boleh bertemu dengan adik Ishii-san, ya. Memang butuh waktu, tapi akhirnya fase dere-nya datang juga."


"Kenapa sih kamu selalu bicara yang tidak perlu!?"


"Eh~? Aku dipercaya sejauh itu yaa~? Waduh, terpaksa deh~"


Sekarang Ushimaki juga mulai besar kepala… tapi tidak apa-apa kan?


Senyum polos itu tidak akan dilewatkan Hidaka.


"Kazupyon, kita bertiga saja. Ushi tidak perlu."


"Aku belum ngapa-ngapain!"


"Belum?"


"…Hah!"


"Ushi tidak perlu ikut."


"Aku ikut! Pokoknya aku ikut juga!"


Seperti biasa, Ushimaki diperlakukan dengan menyedihkan oleh Hidaka, tapi mungkin justru karena itu mereka akrab. Kalau benar-benar membenci, Hidaka pasti akan menolaknya jauh lebih keras.


"Mikoto-san, sebaiknya Moka-san ikut juga."


Jarang sekali. Biasanya Iba selalu di pihak Hidaka, tapi hari ini malah membela Ushimaki.


"Kalau kami lengah, ada kemungkinan dia membeli baju renang yang tidak pantas."


"Kalau dipikir-pikir… benar juga. Seperti biasa, Hime-chan bisa diandalkan."


"Serahkan saja padaku."


"Baju renang tidak pantas itu apa? Aku kan cuma mau pilih yang lucu saja."


"Ya ampun… itu justru masalahnya…"


Iba menghela napas, lalu menatap Ushimaki dengan pandangan jengah.


"Moka-san. Demi mencegah adik Ishii-san dan Mikoto-san digoda pria-pria tidak benar, aku ingin kamu mengenakan baju renang dengan tingkat keterbukaan ekstrem—yang bahkan lebih pantas disebut tali saja."


"Kekhawatiranku mana!?"


Usulan yang gila, tapi kalau demi melindungi Yuzu… mungkin bisa diterima.


"Ini kesempatan untuk membuat Ishii-san tergila-gila, tahu?"


"Kalau begitu… eh, bukan! Bukan begitu! Aku sama sekali tidak punya perasaan apa pun pada Ishii! Dan aku juga tidak senang bisa main bareng dia saat liburan musim panas!"


"Begitu ya. Kalau aku sendiri, aku senang bisa menghabiskan waktu bersama Ishii-san dan Mikoto-san."


"Aku juga senang, tahu! Kamu itu benar-benar menyebalkan!"


Ushimaki berteriak setengah putus asa. 


Di kehidupan kedua ini, posisi para heroine Amada di sekolah memang berubah, tapi di antara mereka, Ushimaki terasa paling kasihan.


"Pokoknya, sebelum itu, ada ujian akhir semester, kan. Dapat nilai merah sampai remedial itu bukan lelucon."


"Jadi, selain ujian akhir semester, tidak akan ada masalah lain di semester pertama, ya?"


"…Mungkin."


Kadang-kadang, Iba melempar pertanyaan seolah-olah dia tahu aku sedang menjalani kehidupan kedua.


Pernah terpikir, jangan-jangan dia juga… tapi tidak mungkin.


Kalau seseorang menjalani kehidupan kedua, pasti ada syarat mutlak yang harus terpenuhi. Dan Iba di kehidupan pertama jelas tidak memenuhi syarat itu.


"Kalau Ishii-san yang bilang begitu, aku jadi sedikit tenang."


Semester pertama yang bisa dibilang penuh gejolak ini juga sudah mendekati akhir.


Di kehidupan pertama, pada titik ini Iba, Ushimaki, Kanie, dan Hitsujitani, telah bergabung ke dalam harem Amada. Sementara aku menghabiskan waktu bersama anggota ‘Aliansi Ingin Akrab dengan Cewek Secara Praktis’—alias Tsugo-ren—sambil iri melihat dari kejauhan.


Namun di kehidupan kedua, semuanya berbeda. Karena aku mengubah tindakanku demi mencegah tragedi yang terjadi di kehidupan pertama, hubungan antarmanusia pun ikut berubah drastis.


Pertama, Amada—yang bagiku hanyalah objek kebencian—telah sepenuhnya turun menjadi karakter sampingan.


Tidak ada satu pun gadis di sekelilingnya. Dia menghabiskan waktu dengan anggota Tsugo-ren yang dulu juga kuikuti bersama Amada versi awal, tanpa ada yang menonjol. 


Amada sekarang tidak berdaya—atau lebih tepatnya, karena tidak ada heroine yang bisa dimasukkan ke romcom-nya, dia tidak punya apa-apa untuk dilakukan.


Dan aku tahu, selama semester pertama, heroine semacam itu tidak akan muncul. Itulah alasan besar kenapa aku menjawab "mungkin" pada Iba.


Jadi meski tetap waspada, setidaknya sampai semester kedua dimulai, Amada bukanlah ancaman.


Selanjutnya soal para siswi di kelas—di sini juga hubungannya berubah drastis dibandingkan kehidupan pertama.


Di kehidupan pertama, ada satu kelompok besar perempuan, dan siswi pendiam yang tersisih membentuk kelompok kecil sendiri.


Namun di kehidupan kedua, ada dua kelompok perempuan.

Faksi Hitsujitani dan faksi Kanie.


Hitsujitani—yang wajah aslinya adalah Vtuber super populer—memimpin kelompok yang ramah terhadap siapa pun tanpa memandang gender. Para siswi yang dulu berada di kelompok kecil juga bergabung ke dalam kelompoknya. Meski begitu, Hitsujitani tidak benar-benar berdiri sebagai pemimpin mutlak; setidaknya di permukaan, mereka terlihat akrab dan rukun.


Sementara faksi Kanie memiliki pemimpin yang jelas. Namun bukan Kanie sendiri. Kanie hanya bertingkah seperti gadis pendiam (atau menyamar sebagai itu), lebih seperti maskot. Meski begitu, karena dialah yang paling mencolok, kelompok ini diam-diam disebut faksi Kanie.


Sebelumnya, kelompok ini memancarkan aura "laki-laki dilarang masuk" dan fokus melindungi Kanie dari orang-orang berbahaya. Namun belakangan, situasinya mulai sedikit berubah.


"Gimana belajar buat ujian? Aku lumayan gawat sih…"


"Yoshi, kamu kan tidur terus pas pelajaran. Coba lebih serius dengar dong?"


"Karena itu, aku sedang mencari orang baik hati yang mau menolongku."


"Ih, jijik… Oouchi, tolong atur dia."


"Entahlah, susah juga ya."


Yang terlihat sedang berbincang akrab dengan para gadis dari faksi Kanie adalah Yoshikawa dan Oouchi. Selain mereka, ada juga beberapa murid laki-laki lainnya.


Keduanya dulu pernah terobsesi pada Kanie, dan karena itu mereka dikeluarkan secara total dari faksi Kanie. Namun akhir-akhir ini, mereka justru bergaul dengan baik bersama para gadis dari faksi Kanie.


Kenapa orang-orang ini bisa diterima kembali? Di balik itu ada alasan kecil dan alasan besar.


Alasan kecilnya adalah karena Yoshikawa dan Oouchi sama sekali sudah tidak terobsesi pada Kanie.


Belakangan ini, keduanya malah lebih sering berinteraksi dengan gadis-gadis lain. Namun, itu hanya alasan tambahan saja agar mereka tidak ditolak.


"Eh, ada hal yang sedikit menggangguku."


Ushimaki menatap ke arah faksi Kanie.


Hanya dari kata-kata itu saja, kami bertiga langsung tahu apa yang ingin ia katakan.


Kami sudah berjanji akan pergi berlibur ke Okinawa saat liburan musim panas. 


Tempat menginapnya adalah vila milik ayah Tsukiyama. Namun—


"Apa kita benar-benar bisa pergi?"


Dalam kondisi sekarang, wajar jika muncul keraguan seperti itu. Kami kembali menyimak percakapan di faksi Kanie.


"Eh, bagaimana kalau kita bikin kelompok belajar buat persiapan ujian akhir?"


"Itu ide bagus. Aku kurang percaya diri di matematika, jadi pengen diajarin seseorang."


"Kalau Yoshi lagi kesulitan, aku bisa bantu, lho? Tentu saja dengan imbalan."


Percakapan yang terdengar ramai. Sekilas terlihat seperti obrolan soal belajar ujian, tapi sebenarnya ada tujuan lain yang jelas, dan semua ini hanyalah langkah awal untuk mencapainya.


"Tapi, jumlahnya lumayan banyak, kan? Ada tempat yang bisa dipakai buat berkumpul nggak ya?"


Seorang siswi, berpura-pura menyampaikan kekhawatiran, sebenarnya sedang mengungkapkan harapan.


Dan seorang siswa laki-laki menjawab harapan itu.


"Kalau begitu, bagaimana kalau di rumahku?"


Itu adalah Tsukiyama Ouji.


"Boleh, Tsukiyama-kun? Makasih~!"


Rencana sukses. Tujuan pun tercapai dengan sempurna.


"Kalau begitu, sebagai balasan aku bakal ngajarin kalian belajar. Kalian boleh berterima kasih, lho?"


"Kenapa tiba-tiba jadi sok hebat sih? Hahaha!"


Baik di kehidupan pertama maupun kehidupan kedua, Tsukiyama selalu disebut "pangeran mengecewakan" karena sifatnya yang kurang peka, dan dijauhi semua orang.


Namun, Tsukiyama yang sekarang berbeda. Dia telah menjadi idola kelas—bahkan idola satu angkatan.


Bagi diriku yang mengetahui kehidupan pertama, ini adalah kejutan yang luar biasa. Tak kusangka Tsukiyama bisa sepopuler ini…


"Hei, Tsukiyama. Kalau gitu, kami boleh ikut juga nggak?"


"Justru aku pengen kalian datang. Kalau isinya cuma cewek semua, aku juga capek."


"Bantu banget deh. Makasih!"


Inilah alasan besar mengapa Yoshikawa dan Oouchi tidak ditolak oleh faksi Kanie. Mereka berdua dekat dengan Tsukiyama. Kalau mereka terlihat memanfaatkan Tsukiyama demi mendekati Kanie, pasti sudah dikeluarkan. Tapi karena tidak begitu, maka tak masalah menerima mereka.


Demi tujuan mereka sendiri—itulah cara pikir para gadis faksi Kanie.


"Eh~, cewek doang juga nggak apa-apa, kan? Tsukiyama-kun bisa bikin harem, tuh."


"Hahaha! Apaan sih itu."


Lonjakan popularitas Tsukiyama bermula dari insiden penguntitan yang menimpa Hitsujitani sebelumnya.


Saat itu, Tsukiyama mempertaruhkan tubuhnya untuk menyelamatkan Amada yang sedang dipukuli stalker.


Ditambah lagi, setelah pernah terasing di kelas, Tsukiyama belajar menjadi rendah hati. Ucapan arogan dan komentar tak peka pun berkurang, dan penilaiannya di kelas perlahan naik.


"Eh, jangan-jangan Tsukiyama-kun itu keren?"


Rumor seperti itu menyebar di kelas, lalu merambah ke kelas lain. Dan yang benar-benar memantapkan popularitas Tsukiyama adalah kejadian dengan Koshimizu Yukari dari kelas B minggu lalu.


Sama seperti di kehidupan pertama, Koshimizu Yukari jatuh cinta pada Tsukiyama. Sama seperti sebelumnya, ia datang sendirian ke kelas 1-C dan mengajaknya makan siang.


Kata-kata Tsukiyama yang super tidak peka akan keluar—itulah yang kupikirkan, karena aku tahu kehidupan pertama. Namun, hasilnya justru berbeda dari perkiraan.


Tsukiyama menerima ajakan makan siang itu tanpa berkata hal yang tidak perlu.


Setelah itu, aku tidak tahu percakapan apa yang terjadi, tetapi sepulang sekolah, Koshimizu menyatakan perasaannya pada Tsukiyama.


"Maaf karena bersikap ambigu. Tapi aku tidak bisa berpacaran denganmu."


Dengan kata-kata itu, Tsukiyama menolak pengakuannya.


Namun ia tidak berhenti sampai di situ. Diam-diam, ia mendatangi kelas B dan bahkan meminta pada teman dekat Koshimizu,


"Dia terluka karena aku, jadi tolong dukung dia."


Tindakan yang penuh kepedulian namun juga berisiko. Tapi bagi Tsukiyama sekarang, itu bukan masalah.


Orang yang sudah punya citra positif biasanya akan ditafsirkan secara positif apa pun yang mereka lakukan.


Kalau Tsukiyama yang dulu melakukan hal ini, penilaiannya pasti jatuh. Tapi Tsukiyama yang sekarang justru melonjak drastis.


Koshimizu yang ditolak bahkan menangis terharu dan berkata,

"Aku senang bisa mengalami cinta yang begitu indah."


Biasanya orang tidak mau menceritakan kisah penolakan cintanya, tapi dia dengan senang hati menceritakannya ke teman-temannya, dan kabar itu pun menyebar ke seluruh angkatan. Popularitas Tsukiyama meledak.


Karena itulah Tsukiyama kini menjadi sangat populer—dan justru karena itu kami merasa cemas.


Sekarang Tsukiyama adalah orang populer. Liburan musim panas adalah kesempatan emas untuk menghabiskan waktu bersama orang populer.


Kalau ada yang bilang, "Aku ingin ke vila Tsukiyama," apa yang akan terjadi?


Di kehidupan pertama, semua orang pasti menolak. Namun di kehidupan kedua, semua orang justru ingin pergi. 


Kalau sampai harus diundi karena keterbatasan jumlah orang, itu bakal merepotkan. Lagipula, aku ingin menjalani hidup sekolah dengan interaksi minimum dengan teman sekelas.


Karena itu, jika sampai terjadi hal seperti itu, keputusan kami sudah bulat.


Kalau orang lain ikut, kami tidak akan pergi—


Saat aku sedang berpikir begitu, Tsukiyama datang menghampiri. Entah kenapa, senyumnya luar biasa cerah.


"Kazukiiii~!"


Cara orang terlihat bisa berubah hanya karena satu filter.


Bagi diriku, senyum Tsukiyama hanyalah senyum orang bodoh, tapi bagi para gadis, itu adalah senyum Tsukiyama-kun yang menyegarkan.


"Sabtu ini kamu kosong nggak~?"


Aku tahu Tsukiyama di kehidupan kedua ini bukan orang jahat. 


Tapi di kehidupan pertama, dialah penyebab ayahku… hentikan. Jangan dipikirkan.


"Cara nanyanya nggak enak. Kalau aku jawab ‘kosong’, kamu pasti mau ngajak sesuatu, kan? Jangan ambil langkah aman cuma karena nggak mau terluka. Bilang saja langsung urusannya."


"Nggak perlu sejauh itu juga, kan!?"


Kalau dilihat dari cara bicaranya, dia tetap pangeran mengecewakan yang sama. Yang berubah bukan dirinya—melainkan orang-orang di sekitarnya.


"Aku ngumpulin keberanian buat ngajak orang penting yang bisa bikin aku terluka, lho!"


"Menjijikkan. Aku nggak kosong. Ada urusan."


"Yang pertama nggak usah diucapin dong!"


Hari Sabtu, Yuzu dan Hidaka akan pergi memilih baju renang. 


Meskipun aku sendiri tidak punya jadwal, aku tidak mau pergi ke tempat yang ada gadis lain kalau Hidaka tidak ikut.


"Kalau rencana itu tiba-tiba batal dan kamu bisa main ke rumahku hari Sabtu…"


"Nggak."


"Ya… kupikir juga begitu…"


Dengan sangat jelas, Tsukiyama terlihat sangat kecewa. Namun seperti burung phoenix, ia bangkit lagi, menyalakan cahaya di matanya.


"Hey, Kazuki. Kalau ada kesempatan, datanglah ke rumahku setidaknya sekali…"


"…Kalau ada."


—Datanglah… tidak, tolong datang. Kalau perlu aku menunduk, aku akan melakukannya…


Entah kenapa, aku teringat mimpi tadi pagi dan merasa tidak enak.


Baik di kehidupan pertama maupun kedua, entah populer atau tidak, Tsukiyama Ouji selalu ingin mengundang teman sekelas ke rumahnya. Orang yang aneh.


"Ngomong-ngomong, Ushimaki dan Iba gimana? Kita mau belajar bareng soalnya…"


Hidaka tidak diajak, ya… Jangan aneh-aneh pakai perhatian segala.


"Maaf, aku dan Hime juga ada urusan."


"Oh… ya, ngerti."


Iba dan Ushimaki juga akan ikut memilih baju renang bersama Hidaka dan Yuzu.


"Tenang saja, Pangeran-kun. Bukan berarti kami merasa jijik sampai ingin muntah karena ikut ajakanmu, lalu berbohong bilang ada jadwal padahal sebenarnya tidak. …Sungguh, benar-benar sungguh, lho?"


"Kalau dibilang sejauh itu, malah bikin aku makin nggak tenang!"


Sejak pagi buta sudah berisik saja orang itu.


Lagipula, kenapa justru kamu yang seenaknya memasukkan jadwal belajar bersama segala?


Dalam rencana awal, seharusnya aku pergi membeli baju renang bersamamu.


Sambil memendam kemarahan yang tidak masuk akal itu di dalam hati, aku menatap punggung Tsukiyama yang pergi dengan bahu terkulai.


◇ ◇ ◇


Sepulang sekolah, aku bersama Hidaka pergi ke minimarket tempat kami bekerja paruh waktu.


Karena sebentar lagi ujian akan dimulai, aku harus mengurangi jumlah shift, tetapi rasanya tidak enak kalau menambah hari libur hanya demi kepentinganku sendiri, mengingat manajer toko kesulitan menyusun jadwal.


Karena itu, aku tidak benar-benar berhenti bekerja, melainkan hanya mengurangi frekuensinya.


Ini kehidupan keduaku, jadi belajar itu gampang—aku bisa ambil banyak shift!


Kalau aku berpikir begitu, mungkin aku bukan orang biasa. Memang ada sedikit yang kuingat, tapi hanya sedikit. Pada akhirnya, tetap perlu belajar.


"Terima kasih banyak~"


Karena sudah tidak ada pelanggan di dalam toko, aku berniat mengisi ulang barang dagangan… sekalian memberi tahu Hidaka.


"Hidaka, aku mau mengisi stok barang dulu."


"Ya."


Saat kami mulai bekerja di minimarket ini, aku yang waspada terhadap Amada sempat meminta agar "jangan sampai ketahuan kalau Hidaka bekerja di tempat yang sama."


Waktu itu, sebagai penyamaran, Hidaka mengenakan kacamata tanpa lensa dan rambut dikepang. Entah kenapa, sampai sekarang gaya itu masih dipertahankan.


Melihat sisi Hidaka yang berbeda dari di sekolah seperti ini, entah kenapa aku menyukainya.


"Hati-hati, Kazupyon."


"Ya. Aku berangkat."


Setelah pertukaran singkat yang membuatku merasakan kebahagiaan kecil, aku meninggalkan kasir.


Awalnya aku sempat menyerahkan tugas pengisian barang agar Hidaka tidak diganggu pelanggan aneh—karena dia sering jadi sasaran—tetapi entah kenapa justru jumlah orang yang menyapanya bertambah. Sebuah keajaiban.


Sejak itu, sebisa mungkin aku membiarkan Hidaka tetap di kasir.


Saat sedang mengisi stok ebi mangetsu (krupuk udang), wajah Tsukiyama tiba-tiba terlintas di pikiranku.


"Tak kusangka dia bisa jadi orang populer…"


Perubahan hubungan antarmanusia yang terjadi karena aku bertindak berbeda dari kehidupan pertama. Namun, aku tak pernah menyangka penilaian terhadap Tsukiyama sendiri bisa berubah sejauh ini.


Para gadis faksi Kanie yang akrab dengan Tsukiyama. Mungkin bukan cinta yang serius, lebih ke arah "kalau Tsukiyama-kun yang sekarang sih, mungkin oke," tapi tetap saja, itu berarti dia populer. Dan di dalam lingkaran itu, ada juga beberapa murid laki-laki.


Mungkin niat mereka hanya ingin dekat dengan gadis-gadis, tapi bahkan tanpa itu pun, Tsukiyama sekarang memang terlihat menarik. Padahal dulu mereka semua menghindarinya—orang-orang yang oportunis.


Yah, tak apa sih. Selama Tsukiyama yang populer itu tidak membawa masalah ke sekitarku—


Oh, ada pelanggan datang.


"Selamat datang… eh?"


Di situ, pikiranku benar-benar membeku.


Yang masuk adalah siswa SMA Hirasaka. Jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Dan parahnya, semuanya adalah orang-orang yang kukenal—murid kelas 1-C.


Di depan rombongan itu, seorang pria dengan wajah agak bersalah—Tsukiyama—menyampaikan permintaan maaf.


"Maaf ya, Kazuki…"


Mengecewakan! Benar-benar mengecewakan!


Dengan tepat sasaran, mereka datang untuk mengganggu wilayahku—atau lebih tepatnya, menggangguku!


Karena banyak pelanggan datang sekaligus, aku kembali ke kasir tempat Hidaka berada.


Beberapa murid laki-laki menatap Hidaka yang berkacamata dan berkepang dengan wajah mesum, membuatku kesal.


Mereka tampaknya berniat mengajaknya bicara, tetapi dihentikan oleh peringatan para gadis, "Itu mengganggu, kan?"


Bagus. Kalau kalian tidak menghentikannya, aku yang akan menghentikannya secara fisik.


"H-hei… umm… kerja paruh waktumu… semangat ya…"


Melihat wajahku yang jelas-jelas kesal, Tsukiyama dengan gugup mendekat ke kasir tempat aku berdiri. Sikapnya benar-benar kebalikan saat dulu datang bersama Amada.


"Ngapain ke sini?"


Kalau aku cepat menanyakan urusannya, mungkin mereka akan segera pulang. Dengan pikiran itu, aku bertanya. Tsukiyama, masih dengan sikap lemah, menjawab:


"Kami mau belajar bareng lagi hari Minggu. Jadi… aku pengin Kazuki datang…"


Seberapa keras sih dia ingin mengajakku? Di kehidupan pertama pun dia pernah mengajakku, tapi tidak sampai segitunya.


Kenapa kamu begitu terobsesi padaku? Jangan menatapku dengan mata penuh perasaan seperti itu—menjijikkan.


"Sebenernya aku niat datang sendiri. Tapi yang lain juga pengen ikut lihat-lihat…"


Bohong. Kamu cuma ingin bersamaku. Setidaknya sadarlah akan itu, wahai si populer.


"Kami nggak bakal bikin repot kok, tenang aja, Ishii-kun!"


Kalau harus sampai dibilang begitu, mana bisa aku tenang.


Dulu, teman-teman sekelas ini takut padaku, tapi entah karena bersama Tsukiyama mereka jadi berani, hari ini tak seorang pun terlihat gentar.


"Gimana? Kamu mau datang?"


"Tidak. Aku tidak suka tempat yang ramai."


Kami sudah punya rencana liburan, jadi tidak perlu memaksakan diri ikut belajar bersama. Habiskan saja akhir pekan kalian dengan bahagia bersama yang lain.


"Kalau begitu…!"


"Tidak, tidak apa-apa…"


Dia hendak mengatakan sesuatu, lalu berhenti. Aku bisa menebak kelanjutannya, tapi kalau tebakan itu ternyata salah, entah kenapa aku akan sangat kesal, jadi aku menghapusnya dari pikiranku.


Tsukiyama menatapku dengan mata penuh kelemahan.


"Boleh aku mengajakmu lagi lain kali?"


Hampir pasti—tidak, sudah pasti—Amada tidak terlibat dalam hal ini.


Kalau dia terlibat, tokoh utama romcom itu pasti akan berada di posisi menyedihkan di tengah kerumunan, berdiri dengan sungkan.


Kalau Amada tidak terlibat, berarti aman… jadi boleh mengajakku lagi? Mana mungkin.


Dari sudut mana pun kulihat, ini cuma pertanda masalah.


"Jangan pernah mengajakku lagi."


"…!"


Hampir semua orang di sini pernah menggangguku di kehidupan pertama. Bagi diriku, mereka semua hanyalah musuh.


"Kalian mau akrab satu sama lain, terserah. Tapi jangan libatkan aku."


Aku berkata demikian sambil menatap tajam orang-orang di belakang Tsukiyama, bukan Tsukiyama sendiri.


"Ah… umm, kalau begitu kita pulang saja, ya! Ishii-kun, Hidaka-san, maaf sudah mengganggu!"


Pemimpin wanita dari faksi Kanie buru-buru meminta maaf. Ia menarik lengan Tsukiyama sambil berkata, "Ayo pergi," dan Tsukiyama pun pergi dengan wajah murung.


"Maaf ya, Kazuki…"


Kata-kata terakhirnya saat pergi. Sedikit rasa bersalah? Tidak, bukan. Mereka datang sendiri tanpa diundang.


Baiklah. Kalau sudah kukatakan sekeras ini, mereka pasti tidak akan mengajakku lagi. Acara penuh kehidupan sosial yang tidak jelas itu, biarlah mereka yang mengurusnya sendiri.


Kalaupun muncul masalah, Tsukiyama-kun kesayangan semua orang pasti akan menyelesaikannya.


Aku tidak akan terlibat. Maksudku, tidak mungkin ada satu pun di sana yang akan bergantung padaku—


…hmm?


"…………"


"Ada apa, Kanie?"


Yang lain sudah meninggalkan toko, lho? Kenapa kamu menatapku dengan ekspresi seakan sedang terdesak?


Acara Amada di semester ini sudah berakhir. 


Tinggal melewati ujian akhir, lalu menikmati liburan musim panas yang menyenangkan—


"Tapi ada sesuatu yang benar-benar ingin kudengar pendapatmu. Tolong luangkan waktu setelah selesai bekerja."


Sial!


[POV Tsukiyama Ouji]


Dalam situasi apa pun, di mana pun, aku selalu menjadi orang populer yang disukai semua orang.


Nilai ujianku selalu tinggi. Aku tidak pernah mendapat nilai di bawah 90.


Di acara olahraga, aku selalu menjadi pelari terakhir estafet. Saat berhasil membalikkan keadaan di akhir, sorak-sorai selalu ramai.


Sejak SD, teman-teman selalu datang dengan sendirinya. Kalau aku berkata, "Ayo kita lakukan," semua orang pasti setuju.


Banyak juga yang meniru gaya rambut dan pakaian yang kupakai.


Tsukiyama itu keren. Tsukiyama itu hebat. Tsukiyama itu patut di iri. Aku ingin menjadi seperti Tsukiyama.


Teman-temanku yang memberitahuku.


Katanya aku keren, hebat, patut diiri—sosok idaman semua orang. Namun, apakah semuanya benar-benar sempurna…?


Ternyata tidak juga.


Orang tuaku tidak akur. Ibuku hampir tidak pernah pulang ke rumah. Ia pulang hanya saat meminta uang dari ayah. Itupun kebanyakan cukup lewat telepon.


Dengan uang ayah, ia membeli barang-barang bermerek mahal, berdandan cantik, lalu membeli apartemen menara tempat para selebritas juga tinggal—semua dengan uang ayah—dan menjalani hidup serba nyaman.


Saat aku masih SD, ayah sering berbicara dengan ibu.


Ia memintanya untuk tinggal di rumah. Bukankah mereka pasangan suami istri?


"Bukankah sudah cukup aku menikah dengan wanita secantik aku dan punya anak?"


Dulu aku menganggap ibu itu cantik. Tapi sekarang, aku tak bisa lagi menganggapnya begitu.


"Kenapa Mama begitu egois?"


Aku pernah bertanya begitu saat kecil.


"Aku sudah menjalani hidup yang pahit. Jadi, wajar kalau aku melakukan hal ini."


Kalau seseorang menjalani hidup yang pahit, apakah itu berarti ia boleh menyakiti orang lain?


Aku tak tahu hidup seperti apa yang dijalani ibu, tapi menurutku itu salah.


Aku menyampaikannya apa adanya.


"Berisik. Kamu mengganggu, jangan ajak aku bicara terus."


Tak apa jika ia tak lembut. Tak apa jika ia membenciku. Tapi setidaknya, aku ingin ia akur dengan ayah.


Karena aku tak ingin melihat wajah ayah yang sedih…


"Memikirkan kalau kamu keluar dari tubuhku saja membuatku mual."


Aku mirip ayah. Rupanya, itu yang paling dibenci ibu.


Aku terpukul. Bukan karena aku ditolak, melainkan karena ayah dihina melalui diriku..Karena itu, aku menyerah pada ibu.


Ayah bersikap lembut padaku. Ia mencintaiku sepenuh hati.


Pasti hubungan ayah dengan ibu juga sangat mempengaruhi hal itu. Apa pun yang kuinginkan, ia belikan. Ke mana pun aku ingin pergi, ia ajak.


Meski sibuk sebagai presiden perusahaan besar, ia selalu pulang malam dan makan malam bersamaku.


Walau ibu tak ada, selama ada ayah aku tak merasa kesepian. Aku sangat bersyukur.


Karena itu, aku memutuskan untuk membalas budi pada ayah.


Jika aku mendapat nilai bagus, ayah akan senang. Maka aku belajar lebih keras daripada siapa pun. Jika aku menjadi pelari terakhir dalam estafet, ayah akan memotret dengan wajah gembira.


Maka aku berlatih agar bisa berlari lebih cepat daripada siapa pun. 


Aku tidak diminta. Aku tidak diperintah.


Aku sendiri yang memutuskan melakukannya, karena ingin membuat ayah senang.


Suatu malam, saat kami berdua makan di ruang tamu yang terasa sedikit terlalu luas, ayah bertanya,


"Ouji, bagaimana hubunganmu dengan teman-teman di sekolah? Kalian rukun, kan?"


"Tentu saja. Aku ini populer di sekolah, tahu?"


Mungkin karena gagal dalam urusan cinta, ayah cenderung menekankan pentingnya persahabatan.


"Pada akhirnya, yang akan menolongmu adalah teman. Jadi, pastikan kamu punya teman."


itu kebiasaan ucapannya. Karena itu, aku berusaha punya banyak teman. Jika aku punya banyak teman, ayah akan senang.


"Yah, akhir pekan ini kami berencana belajar kelompok. Aku ingin mengundang mereka ke rumah, boleh?"


"Ah, tentu saja! Silahkan datang!"


Setiap kali aku mengundang teman ke rumah, ayah selalu sangat senang.


Karena itu, aku mengundang semua orang. 


Namun, soal meminta izin memakai vila saat liburan musim panas, belum kusampaikan pada ayah. Jika ingin memakainya, aku ingin memperkenalkan dia pada ayah terlebih dulu.


Padahal aku sudah mengundangnya dengan sungguh-sungguh—kenapa dia tidak datang?


Dialah yang paling ingin kuajak datang… Aku ingin paling sering bersama dia…


"Akhir-akhir ini tak ada yang datang, jadi aku khawatir," kata ayah.


"Ada waktunya, Yah. Kalau tiap minggu datang, malah aneh."


"Hahaha! Benar juga!"


Perasaanku jadi campur aduk. Karena aku telah berbohong pada ayah yang sangat kucintai.


Beberapa waktu lalu, aku dibenci di sekolah.


Orang-orang yang sampai kemarin kuanggap teman tiba-tiba mulai menghindariku. Aku tahu pemicunya—karena aku berselisih dengannya.


Ishii Kazuki.


Kesan pertamaku padanya, aku tak ingat. Bagiku, Kazuki hanyalah orang yang tak penting.


Kesan berikutnya… mungkin orang yang merepotkan. Namun tak lama kemudian, Kazuki melakukan sesuatu yang tak bisa kumaafkan.


Dan kami pun bertabrakan.


……



"Hei, Ishii. Apa maksudmu?"


"Maksudku?"


Hari itu, aku menekan Kazuki.


Karena aku tak bisa memaafkannya—dia telah menyakiti temanku yang berharga.


"Sudah kubilang kemarin, kan? Ubah sedikit sikapmu pada Teru."


Saat itu, sedikit pun aku tak menganggap tindakanku salah.


Ishii Kazuki adalah orang yang menyakiti temanku, orang yang merusak keharmonisan kelas. Yang salah adalah Ishii Kazuki; aku adalah pembela keadilan. Semua orang pasti memihakku.


Aku bertindak dengan keyakinan seperti itu.


"Oh. Jadi aku sudah mengubah sikapku sesuai yang kau bilang."


"Bukan itu maksudnya!"


Amarahku makin memuncak. Dia menolak Teru habis-habisan, seberapa pun Teru berusaha akrab.


Bahkan, di depan semua orang, dia berkata pada Teru, "Aku benci kamu." Padahal Teru itu orang yang sangat baik, hanya tak tega membiarkan dia yang terasing di kelas.


Aku tak akan pernah memaafkan orang yang menginjak-injak kebaikan orang lain—apalagi jika itu temanku. Lebih dari itu, Kazuki mendekati gadis yang benar-benar disukai Teru.


Tentu saja, awalnya aku juga ingin berteman dengannya.


Namun setelah memahami perasaan Teru, aku segera menarik diri. Tapi dia…!


"Kalau dibilang ‘benci’ di depan seluruh kelas, siapa pun pasti terluka. Kemarin aku menahan diri demi menjaga muka Teru, tapi hari ini aku tidak akan memaafkanmu. Sekarang juga, minta maaf pada Teru."


"Kenapa?"


"Kalau berbuat salah, ya minta maaf. Itu hal yang wajar."


"Begitu ya…"


Saat melihat wajah Kazuki saat itu, aku merasakan sedikit kejanggalan. Padahal kerah bajunya dicengkeram dan seharusnya dia sedang menatapku dengan tajam, namun Kazuki sama sekali tidak menatapku.


Entah kenapa, dia justru dengan saksama mengamati teman-teman sekelas. Dan setelah selesai melakukan itu, dia menatapku dengan mata tanpa emosi.


"Hai, Tsukiyama. Bolehkah aku menanyakan satu hal?"


"Kalau sudah minta maaf pada Teru, baru akan kujawab."


Kukatakan dulu, meski ini berakhir jadi perkelahian, aku tidak akan kalah.


Aku sudah berlatih. Tidak mungkin aku kalah dari orang sepertimu yang tidak melakukan apa-apa—


"Kenapa kamu tidak mengirimkan foto acara keakraban itu?"


"Hah? …………Ah!"


Saat kata-kata itu diucapkan, aku langsung berpikir, gawat!


Begitu masuk sekolah, aku mengadakan acara keakraban agar bisa akrab dengan semua orang di kelas.


Saat itu Kazuki bilang dia tidak bisa ikut, jadi sambil berpikir, "Orang ini tidak bisa membaca situasi ya," aku tetap mendengarkannya dan berkata, "Aku ingin mengirimkan fotonya, jadi beri aku kontakmu."


Namun, sebenarnya aku bukan ingin menanyakan kontaknya untuk mengirimkan foto pada Kazuki. Aku memanfaatkan Kazuki sebagai alasan untuk mendapatkan kontak gadis lain.


"Waktu itu aku senang, tahu. Meski aku tidak bisa datang karena urusanku sendiri, orang hebat sepertimu sampai repot-repot meminta kontakku dan bilang akan mengirimkan foto. Jadi aku menunggu terus… menunggu foto darimu, Tsukiyama. Bukan fotonya yang kuinginkan. Aku ingin kamu yang mengirimkannya padaku…"


"Itu…"


Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan!?


Aku melakukan hal yang licik. Ini sama sekali tidak benar.


Tenang! Lagipula, ini tidak ada hubungannya dengan masalah sekarang. Sekarang adalah waktunya menghakimi Kazuki karena telah bersikap kejam pada Teru—tidak ada hubungannya dengan ini.


Kelas pasti mengerti. Dengan harapan itu, aku melihat sekeliling. Namun hasilnya justru kebalikannya. Semua teman sekelas menatapku dengan pandangan menghina.


"…!"


Saat itu aku tersadar.


Selama ini aku selalu bertindak dengan keyakinan bahwa aku melakukan hal yang benar.


Namun, itu salah. Aku bertindak dengan memutuskan sendiri bahwa apa yang kulakukan adalah hal yang benar.


"A-aku lupa… Kalau kamu bilang, pasti akan kukirim! Harusnya bilang dari awal dong!"


Begitu mengucapkannya, rasa hina dan memalukan langsung meluap. Seharusnya aku minta maaf. Aku memang harus minta maaf.


Namun aku tetap berpegang pada "posisi benar" dan mencoba memaksakan "kesalahan" pada Kazuki. Dan Kazuki sama sekali tidak membiarkan kelemahanku lolos begitu saja.


"Hai, jangan-jangan kamu…"


"…! Hent—"


"Kamu memanfaatkan aku sebagai alasan untuk mendapatkan kontak orang lain, ya?"


……



Inilah yang disebut benar-benar dipermalukan habis-habisan.


Aku dikalahkan total oleh Kazuki dalam adu kata, sampai akhirnya dipaksa menyadari kesalahanku sendiri.


Aku menyesal. Sangat menyesal.


Namun, pemikiranku saat itu masih naif.


Aku sudah meminta maaf dengan benar pada Kazuki, dan kupikir mulai besok semuanya akan kembali normal—begitulah pikirku saat itu.


Tentu saja, kenyataannya tidak begitu.


Sejak keesokan harinya, semua orang mulai menghindariku.


Ini tidak masuk akal, kan? Masalah dengan Kazuki seharusnya tidak ada hubungannya dengan mereka.


Aku merasa telah memimpin semua orang sebagai sosok yang dikagumi, dan aku tidak berbohong. 


Aku selalu menyampaikan apa yang kupikirkan dengan jujur. Lalu kenapa aku harus dibenci?


Tidak apa-apa. Berteman dengan orang-orang seperti ini juga tidak menyenangkan. Aku masih punya temanku, Teru. Selama aku bisa bersama Teru—


"Aa~, Tsuki? Selamat pagi…"


Tunggu dulu… Kenapa kamu menatapku seperti itu?


Bukan tatapan merendahkan seperti teman sekelas lainnya.


Melainkan tatapan seolah melihat alat yang sudah tidak punya nilai guna—begitulah Teru menatapku.


Saat itu aku menyadari.


Bagiku, Teru adalah teman. Tapi baginya, aku bukan teman.


Baginya, aku adalah…


Awalnya aku putus asa. Aku tidak bisa menerima keadaan. Namun perasaan itu segera tertimpa oleh kepanikan.


Gawat. Kalau ayah tahu aku tidak punya teman, dia pasti akan sangat sedih.


Aku harus melakukan sesuatu. Harus…!


Karena itu aku bertanya pada teman sekelas, "Apa aku melakukan sesuatu? Kalau ada yang salah, akan kuperbaiki."


Lalu mereka berkata,


"Aku tidak tahu. Tidak ada apa-apa kok… ya, sepertinya tidak ada."


Bohong. Kalau memang tidak ada apa-apa, lalu kenapa mereka menjauh?


—Jangan berbohong pada teman. Kamu akan kehilangan kepercayaan.


Ayah yang mengajariku hal itu, jadi aku selalu menyampaikan apa yang kupikirkan dengan jujur. Namun justru semua orang berbohong padaku. Teru menjauh dariku.


Tak apa kalau mereka membenciku. Tapi jangan menyangkal ajaran ayahku.


Pada masa itu, aku tidak bisa mempercayai orang lain. Aku ingin berhubungan dengan seseorang, tapi juga tidak bisa berhubungan dengan siapa pun.


Namun, saat itu tiba-tiba aku terpikir..Kalau dipikir-pikir, sikap Kazuki tidak pernah berubah sejak awal.


Karena itu aku mendekatinya. Kupikir Kazuki mungkin akan memberiku jawaban.


Awalnya, aku dimaki habis-habisan (ya, sampai sekarang juga sih… ah, sudahlah).


Namun, tidak seperti yang lain, Kazuki menyampaikan kata-katanya secara jujur dan langsung padaku. Itu membuatku senang.


Selain itu, meski secara lisan dia terlihat tidak suka, dia tidak benar-benar mencoba menghindariku. Entah kenapa, aku bisa merasakan itu. Karena itulah aku tetap berada di dekatnya.


Seiring waktu berlalu, aku mulai sedikit demi sedikit memahami banyak hal. Mengatakan apa pun secara jujur terkadang bisa melukai orang lain.


Dikagumi bukanlah hal yang wajar, melainkan sesuatu yang istimewa—karena itu harus disyukuri.


Akibat kejadian dengan Kazuki, aku memang dibenci banyak orang.


Namun berkat Kazuki, aku bisa berubah.

Dan lagi… itu menyenangkan.


Lebih menyenangkan daripada waktu yang kuhabiskan bersama teman-teman lain, bahkan lebih menyenangkan daripada saat bersama Teru.


Waktu yang kuhabiskan bersama Kazuki dan yang lainnya jauh, jauh lebih menyenangkan…


"Jam berapa teman-temanmu akan datang?"


"Hm~ Mungkin sekitar sebelum tengah hari."


"Makan siang mau apa? Ayah bisa memasak sendiri, atau memanggil koki juga bisa."


Meski ayah adalah seorang direktur perusahaan, dia punya sisi kekeluargaan.


Untuk urusan bersih-bersih, karena rumahnya terlalu luas, kami memakai jasa asisten rumah tangga.


Namun untuk memasak, sebisa mungkin dia melakukannya sendiri. Tentu saja aku juga membantu. Memasak bersama ayah itu menyenangkan.


"Hmm… Kalau jumlahnya cukup banyak, sepertinya akan berat kalau ayah yang masak. Mungkin panggil koki saja?"


"Banyak orang ya! Wah, itu bagus!"


Mengetahui bahwa bukan satu orang, melainkan banyak teman yang akan datang, suasana hati ayah semakin ceria.


Padahal, orang-orang yang paling kuharapkan datang, tidak satu pun datang.


Kenapa kamu tidak datang, Kazuki…?


"Ayah senang kamu punya banyak teman, Ouji. Jaga baik-baik teman-temanmu."


"Iya, aku tahu."


Aku bisa kembali menjadi anak populer. Banyak teman lagi yang datang bermain ke rumahku. Namun… aku baru sadar. Aku tidak pernah sekalipun pergi bermain ke rumah siapa pun.


Apa aku benar-benar anak yang populer?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close