NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 chapter 7

Chapter 7

Istri Tercantik di Dunia


── Sisi Marquis Language ──

"Apa yang kau lakukan, putra bodoh!! Aku tidak menyangka kau benar-benar sebodoh ini!!"

Si bodoh ini sama sekali tidak mengerti situasi yang sedang dihadapi keluarga kami sekarang.

Padahal tadi malam aku sudah memperingatkannya berkali-kali, 'Ada kemungkinan kita sedang dicurigai, jadi diamlah dulu'.

Namun, ia malah berkata telah menjatuhkan tiga orang murid ke 'Mulut Neraka' saat pelajaran praktik di dungeon.

Terlebih lagi, seolah tidak paham betapa gawatnya perbuatannya itu, ia menceritakannya dengan wajah bangga yang membuatku hampir meledak karena amarah.

"Ayah terlalu khawatir. Tidak mungkin ketahuan, kan? Orang-orang dari pihak Kekaisaran itu semuanya bodoh, dan sulit membayangkan mereka akan berkhianat. Lagi pula, bagaimana mereka bisa mendapatkan bukti? Bukankah kita menggunakan bandit sebagai kaki tangan justru agar tidak meninggalkan jejak? Jika terjadi sesuatu, tinggal singkirkan saja mereka seperti ekor kadal. Apalagi orang-orang yang kujatuhkan ke 'Mulut Neraka' itu hanyalah putri ketiga, putra kedua, dan tunangannya—semuanya dari keluarga bangsawan rendah yang tak berharga. Aku juga menggunakan sihir angin untuk menerbangkan mereka agar tidak ada bukti fisik!! Jika tidak ada bukti, siapa yang tahu itu perbuatanku?"

Meski begitu, putraku tetap bersikap acuh tak acuh, bersikeras bahwa semuanya berjalan sempurna dan tidak ada alasan untuk dicurigai.

Aku baru menyadari betapa bodohnya dia sekarang. Selama ini aku memanjakannya karena mengira dia berbakat, dan sekarang aku harus membayar mahal untuk kesalahan itu.

"Damian, apa kau benar-benar menganggap orang-orang Kekaisaran—terutama Yang Mulia Kaisar dan orang-orang pilihan yang beliau gerakkan sendiri—sebagai orang bodoh?"

"Bukankah begitu? Sampai sekarang keluarga kita baik-baik saja dan bahkan tidak pernah dicurigai. Yah, itu juga karena keluarga kita menyembunyikannya dengan sempurna. Menurutku Ayah terlalu penakut. Percuma bicara lebih lama lagi, aku permisi."

"Hei!! Pembicaraan belum selesai!!"

Damian mengabaikan perintahku untuk berhenti dan keluar dari ruangan seolah-olah pembicaraan ini sudah berakhir.

"Sialan!!"

Dia tidak mengerti. Akhir-akhir ini, organisasi bawah tanah yang bersarang di Kekaisaran sedang dibasmi satu per satu.

Tentu saja, beberapa organisasi yang melakukan perdagangan budak ilegal seperti kami juga telah dihancurkan, termasuk organisasi besar yang menduduki peringkat atas di dunia bawah Kekaisaran.

Meski informan mengatakan belum ada perintah resmi dari Kaisar, namun sudah pasti orang-orang kepercayaan Kaisarlah yang melakukan pembersihan ini.

Jika tidak, siapa yang mau melakukan hal yang memakan tenaga besar tanpa keuntungan nyata seperti ini?

Satu-satunya orang yang mendapatkan keuntungan terbesar adalah Kaisar itu sendiri. Dan sangat jelas apa yang akan terjadi setelah organisasi bawah tanah selesai dibasmi.

Selanjutnya adalah pembersihan para bangsawan. Alih-alih menyadarinya, Damian justru tetap optimis... Seharusnya aku mendidiknya dengan lebih keras, tapi sekarang semuanya sudah terlambat.

Selain itu, Damian tidak mengerti. Dosa keluarga kita bukanlah sekadar mengalirkan budak ilegal ke negara besar.

Memang perdagangan budak ke negara lain itu ilegal, tapi itu hanyalah penyamaran.

Demi berjaga-jaga, aku sengaja membuat organisasi terpisah untuk dikorbankan agar saat penyelidikan berlangsung, mereka hanya akan sampai ke sana dan tidak menyentuh rencana utama kita.... Dan keluarga kita pun kemungkinan hanyalah pihak yang akan dikorbankan agar penyelidikan tidak mencapai dalang yang sebenarnya.

Sejak lama, keluarga kita menerima permintaan untuk mengumpulkan budak secara ilegal guna eksperimen tubuh manusia untuk penelitian rahasia.

Namun, belakangan ini sama sekali tidak ada permintaan eksperimen yang datang. Dari situ, sudah bisa dipastikan bahwa orang-orang yang memanfaatkan kita selama ini telah membuang kita.

Artinya, jika dipikir secara terbalik, kemungkinan besar kejahatan kita sudah terendus oleh Kaisar. Atau, ada kemungkinan kita dibuang karena penelitian kita sudah memasuki tahap akhir.

Mungkin mereka berpikir tinggal menyelesaikan sendiri pembuatan 'Obat Penambah Mana Manusia Sementara' yang sedang dikembangkan itu.

Namun, jika kami berhasil menyelesaikan obat tersebut, sekalipun Kaisar mengirim algojo untuk membersihkan kami, kami bisa membalas mereka lalu membelot ke negara lain bersama hasil penelitian ini.

Meski saat ini obat yang belum sempurna itu memiliki efek samping besar, efeknya tidak sampai membunuh dan masih bisa digunakan.

Karena efek peningkatan mananya nyata, kami bisa menggunakannya untuk membalas serangan sebelum kabur.

Beberapa waktu lalu aku sempat berpikir untuk membawa putraku membelot bersama... tapi sekarang dia sudah tidak tertolong.

Terlalu merepotkan untuk melatih otaknya yang tidak berguna itu sekarang, dan sudah pasti dia akan menjadi beban saat waktunya tiba nanti. Kalau begitu, yang harus kulakukan sekarang adalah mendekatkan obat ini menuju kesempurnaan.

Setelah sampai pada pemikiran itu, aku segera mengaktifkan alat sihir yang tersembunyi di dalam buku di ruang kerja, membuka pintu rahasia di balik rak buku, dan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.

"Mungkin hanya sebentar lagi aku bisa melihat pemandangan indah ini…… Mengenang hal itu membuatku terharu. Selama hampir dua puluh tahun sejak aku menjadi kepala keluarga Language, waktu yang kulewati benar-benar seperti mimpi."

Awalnya, tujuanku adalah untuk menyembuhkan tubuh istriku yang sakit-sakitan.

Namun tanpa kusadari, daripada istriku yang lemah, aku justru lebih terbuai oleh perasaan saat aku memegang nyawa orang lain di tanganku.

Seberapa kuat pun seseorang, begitu dijadikan budak, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Rasanya seperti aku menjadi dewa mahakuasa yang memiliki hak atas hidup dan mati seseorang.

Benar-benar perasaan yang luar biasa. Ya, setidaknya di dalam ruangan ini, aku bisa dikatakan sebagai dewa.

"A…… u……"

"Bu-bunuh aku……"

"Sakit……… Sakit sekali……"

"…………Uu……"

Jika aku menajamkan pendengaran, aku bisa mendengar rintihan para budak.

Tiba-tiba diculik dari kehidupan sehari-hari mereka, dan suatu hari tiba-tiba neraka dimulai.... Membayangkan perasaan para budak itu, rasanya sangat menyedihkan sampai-sampai aku tidak bisa menahan kegembiraanku.

Melalui ekspresi, atmosfer, reaksi mereka saat melihatku, dan udara berat di sini, aku bisa merasakan bahwa akulah pemegang keputusan atas hidup dan mati mereka.

"Apa kau baik-baik saja? Sheria cintaku……"

"Au…… aua……"

Saat aku berjalan ke tengah ruangan—di mana satu sisinya dipenuhi jeruji berisi rakyat jelata yang ditangkap untuk eksperimen—sosok istriku yang terbaring di tempat tidur mulai terlihat.

Meski istriku tidak berada di dalam jeruji, kedua tangan dan kakinya terikat rantai.

Rambutnya yang dulu indah kini hampir rontok habis, tubuhnya kurus kering tinggal tulang dan kulit karena kekurangan nutrisi, dan wajahnya sangat tirus hingga area matanya cekung seperti tengkorak.

Meskipun sudah diberi makan, dia tetap kurus. Aku tahu dia akan mati jika tidak segera diberi obat, tapi tanpa kusadari, aku mulai menganggap penampilan istriku saat inilah yang tercantik sepanjang sejarah.

Sosok yang tidak tahu apakah akan hidup sampai besok itu... tidak mungkin tidak indah. Di samping istri tercantik di dunia itu, aku mulai meracik obat dengan penuh kasih sayang.

"Nah, sekarang waktunya minum obat."

Aku menyuntikkan obat cair kepada istriku.

"AGYAAAAAAHHHHHH!!!!"

Obat itu bukanlah untuk menyembuhkan penyakitnya, melainkan untuk melonjakkan pertahanan fisik dan vitalitas secara drastis untuk sementara.

Efeknya bertahan sekitar satu hari, jadi durasinya cukup bagus, namun efek sampingnya menghancurkan mental penggunanya sehingga tidak bisa digunakan secara praktis.

Mungkin bisa digunakan sebagai racun untuk disuntikkan kepada musuh agar mereka hancur bersama rekan-rekan mereka?

Kedengarannya mungkin berguna untuk pertempuran, tapi obat ini harus digunakan dalam waktu satu jam setelah diracik, yang berarti obat harus dibuat di tengah medan perang.

Obat ini memiliki kerugian yang menghapus semua keuntungannya.

Namun, itu hanyalah aturan di luar rumah ini. Jika aku menggunakannya tepat setelah membuatnya di rumah, waktu satu jam itu justru terasa sangat lama.

Begitu obat disuntikkan, vitalitas dan penguatan fisik yang melonjak drastis mulai menguras semua nutrisi yang didapat dari makanan yang kuberikan dengan susah payah.

Aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri betapa staminanya terkuras habis hingga uap mulai keluar dari tubuh istriku. Ah, sosok yang membakar nyawanya sendiri itu pun sungguh indah....

"Nah, perawatan istriku sudah selesai, sekarang aku harus meneliti obatnya……"

Setelah selesai membersihkan kotoran istriku, mengganti sprei, dan mengelap tubuhnya dengan handuk basah secara teliti, aku mengelus lembut kepalanya yang kini botak berantakan.

Kemudian, aku mengeluarkan seorang budak yang masih segar dari jeruji untuk dibawa ke ruang penelitian bersama budak yang gemetar dengan ekspresi indah tersebut.

── Sisi Thomas ──

Aku memiliki seorang adik laki-laki yang berusia lima tahun lebih muda dariku.

Sejak kecil dia sudah pintar, bahkan aku merasa secara insting bahwa bakat terpendamnya jauh lebih tinggi dariku yang disebut-sebut sebagai anak ajaib.

Berkat adikku itulah aku tidak menjadi sombong dan tidak terlalu percaya diri dengan bakatku sendiri, melainkan terus membangun usaha sedikit demi sedikit.

"Ada apa, Thomas-sama? Anda terlihat seperti sedang memikirkan hal lain."

Sambil mendukung Ayah sebagai sekretaris, aku menyempatkan diri pergi ke kastil Kekaisaran di waktu luang untuk berlatih bersama para penyihir istana.

Sebagai catatan, sampai aku mewarisi keluarga Westgaph, aku masih menjadi bagian dari penyihir istana sehingga diizinkan untuk berlatih bersama mereka.

"Tidak, sepertinya adikku dijatuhkan ke 'Mulut Neraka'──"

"EEHHHHHHHH!? Bukankah itu gawat sekali!?"

Di tengah latihan, Coeli Muse—seorang junior penyihir istana yang terpaut satu tahun dariku dan sudah menganggapku seperti kakak sendiri—menyadari ada yang aneh dengan sikapku.

Aku berniat menceritakan kegelisahanku karena itu bukan hal yang harus dirahasiakan, tapi Coeli langsung memotong dengan teriakan terkejut.

"Tunggu dulu. Aku kan baru mulai bicara?"

"Habisnya, kenapa Anda bersikap biasa saja begitu!? Lagipula kenapa Anda malah datang ke sini!? Adik Anda dijatuhkan ke 'Mulut Neraka', kan!?"

"Iya, kan sudah kubilang begitu?"

"Bukan 'begitu' masalahnya!!"

"Makanya kubilang tunggu. Tenangkan dirimu dulu."

Aku mencoba melanjutkan bicara, tapi karena dia terlalu bersemangat dan tidak bisa tenang, aku menyentil keningnya dengan ringan.

"Sakit!?"

"Ada apa ini? Adikmu dijatuhkan ke 'Mulut Neraka'?"

Mungkin karena mendengar percakapan kami, Kepala Penyihir ikut bergabung. Aku pun menceritakan kegelisahanku dalam aliran pembicaraan itu.

"Ah, iya. Begitulah, Kepala Penyihir. Aku jadi tidak sabar menunggu oleh-oleh cerita apa yang akan dia bawa nanti.... Di samping itu, adikku bukanlah tipe orang yang bisa melakukan kesalahan konyol sampai dijatuhkan oleh orang lain. Jadi aku pikir, mungkinkah dia sengaja membiarkan dirinya dijatuhkan agar bisa sampai ke dasar 'Mulut Neraka'? Sebagai kakaknya, aku harus memarahinya karena telah membuat orang-orang di sekitarnya khawatir."

"Eh? Apa adik Anda sekuat itu!? Katanya siapa pun yang jatuh ke 'Mulut Neraka', tidak ada satu pun yang pernah kembali, kan!? Di antara mereka yang pernah mencoba menantangnya dulu ada penyihir istana, ksatria Kekaisaran, bahkan petualang peringkat atas, kan!?"

"Yah, begitulah... tapi sebenarnya sekarang adikku sepertinya sedang bersenang-senang di dasar 'Mulut Neraka' itu, jadi bukankah dia pasti akan pulang dengan selamat? Malah tidak aneh jika dia berhasil menaklukkan dungeon itu sekalian."

Normalnya, hal seperti ini tidak bisa kukatakan kepada orang lain.

Namun, saat bergabung dengan korps penyihir istana, ada kontrak sihir yang menyatakan bahwa apa pun yang dibicarakan di sini tidak boleh dibocorkan.

Jadi, aku sangat terbantu karena bisa mendiskusikan hal yang sebenarnya cukup berbahaya jika bocor ke luar.

"Hou…… Thomas saja sudah sangat kuat, tapi dia lebih dari itu…… Namun, menaklukkan dungeon itu dianggap mustahil. Apakah dia sekuat itu?"

"Thomas-senpai juga sangat kuat, kan? Bahkan sampai level di mana Anda bisa mencapai status pahlawan jika terus begini. Padahal menaklukkan dungeon dianggap mustahil... Sebenarnya seberapa kuat adik Anda itu?"

"Ah, kata kuat saja tidak cukup untuk menggambarkan adikku. Mungkin tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menang melawannya."

Saat ini, aku yakin meski kami semua mengeroyoknya pun kami tidak akan bisa menang.

"Hee…… aku jadi ingin melihatnya sekali."

"Kalau sampai kau berkata begitu, aku jadi ingin mencoba beradu kekuatan dengannya."

"Karena itulah, aku merasa harus berusaha lebih keras lagi.... Aku yang akan mewarisi gelar keluarga, tapi aku merasa adikku sama sekali tidak tertarik pada gelar tersebut, atau mungkin dia sengaja mengalah demi aku.... Terlebih lagi, dia sangat konsisten sampai tidak pernah menghadiri pesta bangsawan.... Alasannya karena malas, tapi gara-gara itu, sekarang di akademi dia dicap sebagai 'anak tak berguna yang disembunyikan keluarga'...."

Aku tidak membenci adikku, justru karena aku menyayanginya makanya kegelisahan ini terasa mewah.

Namun kenyataannya, di sudut hatiku selalu ada ketakutan dan tekanan bahwa 'apakah aku telah merebut semua hal yang seharusnya dimiliki adikku?'.

Mengeluh pun tidak akan mengubah apa pun, tapi sekali aku mulai bicara, aku tidak bisa berhenti.

"Begitu ya, jadi kegelisahanmu berasal dari fakta bahwa adikmu terlalu jenius, berkepribadian baik, dan bahkan menghormatimu sebagai kakaknya."

"Tapi, aku agak sulit percaya kalau ada yang lebih hebat dari Thomas-senpai. Kalau orang seperti itu ada, dia pasti monster."

"Karena itulah, fakta bahwa Thomas-lah yang mewarisi keluarga dan bukan si monster itu yang menjadi tekanannya, dan itu berarti dia telah berusaha dua kali lipat lebih keras, kan? Apa yang kau dengarkan sedari tadi?"

"Begitu ya…… ternyata Thomas-senpai juga manusia biasa."

"Kau menganggapku apa selama ini……"

Beberapa waktu lalu Ayah sudah menceritakan tentang adikku kepada Kaisar dan bahkan sudah melakukan audiensi.

Jadi, selama masih berada di dalam lingkup kontrak sihir ini, kurasa tidak masalah membicarakan adikku. Aku pun tanpa sengaja terus bercerita, tapi aku lupa satu hal.

"Hou, pembicaraan yang sangat menarik ya! Itu berarti dia lebih kuat dariku, kan? Bisakah kau mempertemukan aku dengannya? Adikmu itu."

Aku lupa kalau di dalam korps penyihir istana ini ada penyihir gila perang yang belum laku-laku, Amma Fernandez.

"Lalu, sepertinya tadi aku baru saja mendengar kata 'belum laku'. Apa itu hanya perasaanku saja?"

"Mungkin hanya perasaan Anda saja?"

"Hmph, entahlah. Tapi alasannya aku belum laku adalah karena kalian para pria terlalu lemah, jadi menurutku tidak pantas jika kalian bicara seolah-olah ini salahku. Keinginanku cuma satu, aku hanya ingin menikah dengan pria yang lebih kuat dariku... cuma itu. Kalau dia lebih kuat dariku, tidak peduli jika sifatnya sampah, suka main perempuan, pengangguran, wajahnya buruk rupa, bahkan penjahat sekalipun, aku tidak masalah. Bukankah pria yang tidak bisa memenuhi satu syarat itu justru yang salah? Benar, kan?"

"Iya. Persis seperti yang Anda katakan."

"Kan!?"

Tidak, menurutku satu syarat itu saja sudah mustahil dipenuhi, sama saja seperti menyuruh seseorang memburu naga sendirian. Kekuatannya pasti berada di puncak korps penyihir istana.

Ksatria Kekaisaran, petualang peringkat atas, atau bahkan orang dunia bawah dari negara sekitar pun kurasa tidak ada pria yang lebih kuat darinya kecuali adikku.

Dan karena dia mengajukan syarat mustahil itu sambil mengklaim tidak peduli hal lainnya, tentu saja hal mustahil tetaplah mustahil. Itulah alasannya dia belum laku.

"……Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja langsung padaku, lho?"

"Tidak, tidak ada."

"Begitu ya. Yah, karena Thomas mungkin akan menjadi kakak iparku, untuk sekarang aku maafkan. Meski agak aneh punya kakak ipar yang lebih muda, tapi itu hal indah yang hanya bisa dirasakan jika menikah. Oh, dan aku masih berusia dua puluh empat tahun yang segar. Bukan belum laku, tapi aku ini seorang kakak perempuan yang masih dalam usia ideal untuk menikah. Jangan sampai salah."

Aku pun berlatih sambil mencoba mengalihkan perhatian Amma yang terus mencecar pertanyaan tentang adikku.

── Sisi Kaisar ──

"Tak kusangka dia sekuat itu…… Sulit dipercaya."

"Saya pun merasakan hal yang sama. Saya tahu putra saya Lawrence memiliki kekuatan yang tidak masuk akal…… tapi menaklukkan dungeon dan kembali pulang……"

Saat mendengar dari Edward—kepala keluarga Westgaph—bahwa putra keduanya, Lawrence, dijatuhkan ke 'Mulut Neraka', jantungku sempat terasa berhenti sesaat.

Namun tak lama kemudian aku merasa tenang karena berpikir 'kalau dia, pasti bisa keluar dengan mudah'.

Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama karena saat berikutnya Edward berkata 'Lawrence telah menaklukkan dungeon'. Dalam sejarah Kekaisaran, tidak ada seorang pun yang pernah menaklukkan dungeon.

Tidak, itu adalah pencapaian luar biasa yang belum pernah diraih siapa pun di dunia ini.

Namun, jika hal ini diketahui publik, sudah pasti akan memicu kekacauan yang melibatkan negara lain, jadi informasi ini tidak boleh dibocorkan.

"Untuk sementara, demi menjaga segala kemungkinan, aku ingin semua orang yang ada di sini menandatangani kontrak sihir agar tidak membocorkan pembicaraan ini kepada pihak ketiga."

Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku bersyukur kepada Dewa karena orang sehebat ini lahir di Kekaisaran dan bukannya di negara lain.

Aku bahkan tidak sudi membayangkan jika Lawrence lahir di negara seperti Kerajaan yang terus berkonflik di perbatasan dengan Kekaisaran.

"Lalu, Edward……"

"Ada apa, Yang Mulia?"

"Apakah Lawrence sudah memiliki tunangan……?"

"Sudah. Dia sudah bertunangan dengan putri sulung keluarga Kvist, Fran Kvist. Sejauh ini hubungan mereka sangat baik, dan dengan kecepatan saat ini, saya rasa mereka akan menikah begitu lulus akademi."

Mata Edward saat menjawab seolah berkata kepadaku, 'Apakah ada masalah?'.

"Begitu ya…… ya, sebenarnya aku ingin menjodohkannya dengan putriku, tapi jika dia sudah punya tunangan, kemungkinan besar putriku hanya akan menjadi istri kedua. Itu akan memicu protes dari banyak orang.... Jika memungkinkan, aku ingin semuanya berjalan lancar tanpa masalah.... Namun, terlalu banyak orang yang hanya memprotes hal yang tidak sesuai dengan pikiran mereka dan terlalu sedikit yang bisa melihat esensi masalah. Itulah yang membuatku pusing sekarang. Lagipula, jika aku memaksakan putriku menjadi istri pertama, itu sama saja seperti menyalahgunakan kekuasaan.... Dan jika hubungan mereka baik-baik saja, itu berarti kecocokan Fran dan Lawrence sangat bagus. Jika aku menghancurkannya hanya demi egoku sendiri dan menyebabkan harta karun seperti Lawrence mengalir keluar dari Kekaisaran, aku akan menjadi kaisar paling bodoh sepanjang sejarah…… Sulit sekali ya."

Oleh karena itu, aku menyampaikan apa yang kupikirkan secara jujur kepada Edward. Instingku mengatakan bahwa berbelit-belit adalah langkah yang salah, selain itu aku merasa hal itu akan menjadi bentuk ketidakjujuran terhadap bawahanku sendiri. Justru karena kami terikat kontrak sihir, aku bisa bicara dari hati ke hati....

"Begitu ya…… Anda ingin menikahkan Putri Pertama agar bisa memberi 'kalung leher' (ikatan) pada putra saya Lawrence, ya.... Memang benar jika hanya Fran dari keluarga Kvist, mungkin ikatannya terasa sedikit lemah. Namun, Lawrence sangat membenci tindakan yang mencoba memanipulasi orang lain. Jadi meskipun itu sebagai istri kedua, dia pasti akan menyadari niat terselubung untuk 'menjadikannya sulit mengkhianati Kekaisaran melalui putri kaisar', dan ada kemungkinan besar hal itu justru akan memberikan efek sebaliknya……"

"Dia benar-benar sosok yang langka…… sungguh. Biasanya orang-orang akan kegirangan hanya karena bisa bertunangan dengan putri kaisar.... Bahkan para orang tua di luar sana sedang bersaing di balik layar untuk menjodohkan anak mereka dengan putriku.... Aku ingin menyuruh mereka mencontoh Lawrence sedikit saja, tapi dalam kasus ini, sikap Lawrence justru membuat rencana ini sulit berjalan. Benar-benar tidak mudah."

Normalnya, dengan kekuatan level menaklukkan dungeon, pasti akan muncul sedikit rasa sombong.

Bahkan mereka yang dikenal memiliki kepribadian mulia pun seringkali bukannya tidak sombong, melainkan hanya menyembunyikannya saja.

Seiring bertambahnya usia, orang-orang seperti itu akan berkurang, namun biasanya saat itu mereka sudah melewati masa keemasan.

Karena itu mereka menutupi penurunan fisik dengan aspek mental dan teknik agar bisa mempertahankan masa puncak selama mungkin.... Tapi Lawrence yang masih muda sudah memiliki kekuatan sebesar itu dan pola pikir seperti ksatria veteran yang berpengalaman.... Bukan hanya demi Kekaisaran, tapi demi kebahagiaan putriku sendiri pun aku semakin ingin menjadikan Lawrence menantuku.

"Benar juga…… namun karena itulah hidup jadi tidak terduga dan menarik. Hidup yang semuanya bisa diprediksi pasti sangat membosankan. Di samping itu, meskipun tidak menjodohkan Putri kepada Lawrence, ada cara untuk membuat Lawrence tetap tinggal di Kekaisaran. Dan meski mustahil menjadikannya istri pertama, masih ada cara agar Putri tetap bisa bertunangan dengannya."

"Ooh!! Bagaimana caranya!?"

Saat aku sedang pusing memikirkan cara mengikat Lawrence agar tetap tinggal di Kekaisaran, Edward bilang dia punya ide. Terlebih lagi, ada cara untuk menjodohkannya dengan putriku.

Tanpa sadar aku memajukan tubuhku—tindakan yang kurang pantas bagi kaisar—demi menanyakan metode tersebut karena itulah informasi yang paling ingin kuketahui saat ini.

"Caranya adalah menjadikan rakyat sebagai 'kalung leher'nya. Lawrence tidak tertarik pada gelar bangsawan maupun memiliki wilayah kekuasaan, namun kurasa dia cukup suka berinteraksi dengan orang lain, dan yang terpenting, dia merasa bahagia saat bisa membahagiakan orang lain. Jadi, jika kita menciptakan lingkungan di Kekaisaran di mana dia bisa memiliki banyak orang yang berharga baginya, maka setiap individu di sekitar Lawrence secara alami akan menjadi ikatan yang menahannya tetap tinggal di Kekaisaran. Namun seperti yang saya katakan, dia tidak akan mau jika diberi gelar atau wilayah, jadi kita harus memikirkan cara lain……"

"Begitu ya…… tapi semakin kudengar, dia benar-benar tidak punya ambisi pada kekuasaan.... Sampai-sampai aku ragu apakah dia benar-benar lahir sebagai bangsawan. Baiklah. Aku akan coba memikirkan ide bagus mengenai metode itu. Lalu, tolong beritahu juga cara agar putriku bisa bertunangan dengan Lawrence."

Apa ya…… tidak punya ambisi memang sebuah kebajikan, tapi jika sampai tidak punya keinginan pada kekuasaan, dia jadi sangat sulit untuk dikendalikan.

Seandainya dia punya sedikit ambisi, aku tidak akan sesulit ini.... Namun metode yang dikatakan Edward memang sangat efektif justru karena dia adalah orang yang tidak tertarik pada kekuasaan.

Di samping itu, poin utamanya adalah cara menjodohkan putriku dengan Lawrence. Tentu saja sejak kecil aku sudah mendidik putriku bahwa putri kaisar adalah bidak bagi Kekaisaran.

Aku pun mempertimbangkan untuk menjodohkannya dengan pangeran negara lain demi Kekaisaran, dan sebagai kaisar, prinsipku bahwa kedamaian Kekaisaran lebih penting daripada kebahagiaan putriku tidak akan berubah.

Namun bukan berarti aku tidak mendoakan kebahagiaannya. Jika gelar kaisar ini dilepaskan, aku hanyalah seorang ayah. Mendoakan kebahagiaan anak sendiri adalah hal yang wajar.

Dan menikahkannya dengan Lawrence berarti mewujudkan kedamaian Kekaisaran sekaligus kebahagiaan putriku secara bersamaan. Oleh karena itu, aku menjadi sangat serius agar tidak melewatkan satu kata pun dari penjelasan Edward.

"Intinya, tindakan orang tua yang memaksa mereka untuk bersatu adalah hal yang dilarang. Jika ada kesempatan bagi mereka untuk berteman secara alami, maka kemungkinan hubungan itu akan berkembang menjadi pertunangan dengan sendirinya."

"…………Begitu rupanya. Berdiskusi denganmu adalah keputusan yang tepat. Aku akan memberimu hadiah!!"

"Terima kasih banyak……"

Ternyata ada cara seperti itu!! Aku hampir saja berteriak karena girang tapi berhasil kutahan.

Namun aku tidak bisa menahan kegembiraanku dan langsung menepuk-nepuk bahu Edward sambil menjanjikan hadiah.

Ya, seperti yang dikatakan Edward, aku tinggal mengatur agar mereka berdua merasa seolah 'bertemu secara kebetulan', 'berteman secara kebetulan', dan 'jatuh cinta secara kebetulan'.

Proses menuju ke sana tidak harus benar-benar sebuah kebetulan, aku hanya perlu mengaturnya sedemikian rupa agar terlihat seperti itu.

Sisanya adalah masalah mereka berdua dan hanya Dewa yang tahu, tapi jika kebetulan-kebetulan itu menumpuk, hanya masalah waktu sampai mereka mulai menyadari perasaan masing-masing. Dan aku pun menyadarinya.

Kini aku mengerti. Mengapa para pelayan tua di istana selalu bersemangat membahas topik seperti, "Ayo jodohkan putra si ini dengan putri si itu," atau, "Ada yang mau dicarikan jodoh lewat biro jodoh istana?".

Sebab, menjadi dalang di balik layar yang menyatukan dua insan muda ternyata sangat menyenangkan.

Jika dilihat dari sudut pandang hiburan, memikirkan siasat seperti ini benar-benar hiburan tingkat tinggi.

Apalagi karena subjeknya adalah putriku sendiri, tingkat keseriusanku pun melonjak drastis.

Rasanya aku ingin segera mengumpulkan orang-orang kepercayaanku dan mengadakan rapat strategi untuk merencanakan masa depan mereka.

"Baiklah, soal hadiah akan kusampaikan nanti. Sekarang, mari kita adakan rapat strategi. Edward, bisakah kamu ikut memberikan sumbang saran? Lalu Organ, kalau tidak salah ada pelayan yang dijuluki 'Makcomblang Seribu Pertempuran', kan? Tolong bawa dia ke sini."

Karena sudah tidak sabar lagi, aku memutuskan untuk memulai rapat strategi saat itu juga. Pertama-tama aku mengajak Edward, lalu memerintahkan perdana menteri yang sedang mendengarkan di dekatku untuk memanggil sosok yang dikenal sebagai "Makcomblang Seribu Pertempuran" tersebut.

── Sisi Makcomblang Seribu Pertempuran ──

Sudah empat puluh tahun berlalu sejak aku mulai bekerja di istana kekaisaran ini. Lahir sebagai putri keempat dari keluarga bangsawan, posisiku cukup nanggung untuk dijadikan alat pernikahan politik. Karena itu, aku dibesarkan dengan bebas dan jarang menghadiri pesta-pesta bangsawan.

Lagipula, aku memang tidak suka dunia yang penuh tipu muslihat dan saling baca pikiran itu, jadi aku selalu mencari-cari alasan untuk menolak undangan.

Meski begitu, orang tuaku tetap tidak mengizinkanku menikah dengan rakyat jelata karena statusku sebagai putri bangsawan.

Akhirnya, setelah bertunangan, aku menikah dengan suamiku sekarang—putra kelima dari keluarga bangsawan yang posisinya mirip denganku. Kebanggaanku dalam hidup adalah berhasil membesarkan tiga putri dan lima putra.

Kini anak-anakku sudah berkeluarga sendiri dan sering membawakan cucu untuk menjengukku. Melihat mereka semua bahagia membuat hatiku tenang.

Ada putriku yang menikah dengan rakyat jelata, tapi aku sadar tidak mungkin memaksakan anak-anak kami menikah dengan garis keturunan bangsawan langsung.

Selama mereka bahagia, bagiku itu sudah cukup. Lagi pula, orang tua kami pun hanya bergelar Baron dan Viscount, jadi baik atau buruk, ya memang begitulah jalannya.

Namun, kebahagiaan terkadang berarti kurangnya stimulasi dalam hidup. Aku tahu betul bahwa kedamaian itu patut disyukuri, tapi tanpa tantangan, hidup terasa agak hambar.

Di saat itulah, aku menemukan sebuah hobi yang luar biasa. Yaitu menjadi makcomblang yang mengatur pertemuan jodoh. Menyatukan dua orang muda, tidak ada yang lebih mengasyikkan dari itu!

Tentu saja aku sangat serius memilihkan pasangan demi kebaikan mereka sendiri.

Namun, di sisi lain, orang-orang muda ini seringkali bergerak di luar ekspektasi, berpikiran sempit, atau malah melesat melampaui garis instruksiku.

Meski membuat jantung berdebar kencang, rasa pencapaian saat berhasil menyatukan mereka itu benar-benar…… ahhh!

Tanpa kusadari, aku sudah mendapat julukan "Makcomblang Seribu Pertempuran".

Orang-orang mulai bilang siapa pun bisa menikah jika aku yang turun tangan. Tapi, aku tidak menyangka kalau Yang Mulia Kaisar sendiri yang akan memanggilku……!

"Ayo, silakan masuk. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu."

"Awawawawawa! A-apa ini tidak apa-apa!? Aku bisa pulang dalam keadaan hidup, kan!?"

"…………"

"Katakan sesuatu, dong!"

"Sepertinya akan baik-baik saja, jadi ayo cepat masuk."

"Apa maksudnya 'sepertinya'!? 'Sepertinya' itu apa!?"

Memangnya apa yang sudah kuperbuat?

Meski aku mencoba mengingat-ingat, aku sama sekali tidak merasa pernah melakukan sesuatu yang membuatku pantas dipanggil langsung oleh Kaisar.

Tidak tahu alasan di balik pemanggilan ini jauh lebih menakutkan dari yang kubayangkan.

Saking takutnya, aku sampai mematung di depan pintu. Namun, aku sadar jika membuat Kaisar menunggu lebih lama lagi, aku malah benar-benar bisa dihukum. Akhirnya aku memantapkan hati dan melangkah masuk.

"Pe-per-per-permisi!"

Aku masuk dengan lidah kelu karena rasa tegang yang luar biasa. Di dalam, ternyata Perdana Menteri, Sang Adipati, dan Kaisar sendiri sudah menyambutku.

Melihat jajaran petinggi itu, dalam hati aku berteriak, Sebenarnya apa yang sudah kulakukan?! Namun, di luar dugaan, Kaisar justru berkata, "Aku membutuhkanmu, tolong pinjamkan kekuatanmu."

Ternyata Kaisar menungguku dengan maksud baik dan menyambutku dengan sangat ramah.

Mengetahui bahwa aku tidak akan dihukum membuatku lega, tapi sebaliknya, aku jadi bingung mengapa aku dipanggil ke sini. Melihat kebingunganku, Kaisar menjelaskan alasannya.

"Ooh, selamat datang! Kami sudah menunggumu! Benar, kaulah yang dijuluki 'Makcomblang Seribu Pertempuran'! Aku ingin meminjam kekuatanmu, apa kau bersedia? Sebenarnya, ada seseorang yang ingin kujodohkan dengan putriku. Tapi orang ini akan bereaksi negatif jika dipaksa tunangan. Jadi, aku ingin mengatur skenario agar mereka bertemu seolah secara kebetulan, membuat mereka saling menyadari perasaan satu sama lain, dan akhirnya sampai ke jenjang pertunangan……"

Ternyata beliau sedang merencanakan perjodohan antara putra kedua sang Adipati dengan Putri Mahkota Pertama.

Dan aku dipilih karena reputasiku sebagai makcomblang handal. Pertanyaan pertama yang muncul di benakku adalah "Mengapa para orang tua tidak langsung menetapkan pertunangannya saja?".

Tapi kabarnya, Lawrence-sama, sang putra kedua itu, pasti tidak akan mau menerima pertunangan yang tidak memedulikan perasaan pasangannya.

Alasan dia bisa bertunangan dengan Fran-sama yang sekarang pun karena mereka sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain sejak lama.

Jadi, strateginya adalah membuat Putri Mahkota Pertama memiliki titik temu dengan Lawrence-sama, sama seperti Fran-sama dulu.

Setelah mereka mulai saling menyadari perasaan masing-masing, barulah topik pertunangan akan dimunculkan.

"Begitu ya…… Baiklah. Serahkan pada saya!!"

"Ooh! Benarkah!? Luar biasa, memang tidak salah kau dijuluki 'Makcomblang Seribu Pertempuran'! Sangat bisa diandalkan!"

"Ini benar-benar membesarkan hati ya, Yang Mulia Kaisar."

Awalnya aku takut akan dibunuh, tapi kalau alasannya adalah untuk menjembatani hubungan putra kedua Adipati dengan Putri Mahkota Pertama, maka aku akan bekerja sekuat tenaga!

Lagipula, mana mungkin aku menolak tawaran semenarik ini?

Aku yakin teknik yang kupelajari selama menyatukan sekian banyak pasangan muda selama ini memang dipersiapkan untuk hari ini. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku merasa sedebas ini?

"Kalau begitu, pertama-tama, besar kemungkinan Lawrence-sama adalah tipe monogami, hal yang langka bagi kalangan bangsawan tinggi."

"Hou, kenapa kamu berpikir begitu?"

"Aku juga penasaran."

"Begini. Pertama, dia tidak terlalu tertarik menjadi ahli waris utama. Salah satu tugas bangsawan yang mewarisi gelar adalah menghasilkan anak laki-laki untuk generasi penerus, yang secara alami cenderung mengarah pada poligami. Ketidaktertarikannya pada ambisi atau status sosial kemungkinan besar sejalan dengan ketidaktertarikannya pada poligami. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya, pria yang sangat memikirkan perasaan pasangannya cenderung tidak mau melakukan hal yang dibenci istrinya. Jadi, jika dia menjadikan orang yang diakui istrinya sebagai istri kedua mungkin tidak masalah, tapi jika tiba-tiba disodori orang asing dan diminta 'mulai besok anggap dia keluarga', kedua pihak istri akan bingung. Hubungan mereka akan dimulai dengan saling curiga dan stres yang luar biasa, yang akhirnya bisa berujung pada ketidakharmonisan."

"Hmm, masuk akal……"

"Tapi, kalau begitu bagaimana baiknya? Aku sudah memberitahu Daniel, kepala keluarga Kvist, bahwa aku berniat menjadikan Putri Mahkota Pertama sebagai kandidat istri kedua dan sudah mendapat persetujuannya."

"Benar. Karena itu, bukannya mendekatkan Putri dengan Lawrence-sama terlebih dahulu, lebih baik kita dekatkan Putri dengan Fran-sama. Setelah mereka membangun hubungan saling percaya, barulah kita selipkan Putri ke tengah hubungan mereka. Seperti yang saya katakan, pria tipe ini tidak suka melakukan apa yang dibenci istrinya, tapi sebaliknya, mereka sangat lemah jika dimintai tolong oleh istrinya."

"Hooo! Luar biasa! Memang benar-benar makcomblang seribu pertempuran! Julukanmu bukan isapan jempol belaka!"

"Benar juga…… Pertunangannya dengan Fran pun sebenarnya karena dia kalah telak oleh desakan Fran. Dengan strategi itu, kemungkinan besar Lawrence akan menerima Putri Mahkota Pertama."

"Kalau begitu, mari kita susun rencana bagaimana Putri Mahkota Pertama dan Fran-sama bisa bertemu dan menjadi sahabat karib!"

Maka, dengan jantung yang berdebar kencang, aku mulai menyusun strategi untuk tugas terbesar dalam hidupku ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close