Chapter 7
Istri Tercantik di Dunia
── Sisi
Marquis Language ──
"Apa yang
kau lakukan, putra bodoh!! Aku tidak menyangka kau benar-benar sebodoh ini!!"
Si bodoh
ini sama sekali tidak mengerti situasi yang sedang dihadapi keluarga kami
sekarang.
Padahal
tadi malam aku sudah memperingatkannya berkali-kali, 'Ada kemungkinan kita
sedang dicurigai, jadi diamlah dulu'.
Namun, ia
malah berkata telah menjatuhkan tiga orang murid ke 'Mulut Neraka' saat
pelajaran praktik di dungeon.
Terlebih
lagi, seolah tidak paham betapa gawatnya perbuatannya itu, ia menceritakannya
dengan wajah bangga yang membuatku hampir meledak karena amarah.
"Ayah
terlalu khawatir. Tidak mungkin ketahuan, kan? Orang-orang dari pihak Kekaisaran itu semuanya
bodoh, dan sulit membayangkan mereka akan berkhianat. Lagi pula, bagaimana
mereka bisa mendapatkan bukti? Bukankah kita menggunakan bandit sebagai kaki
tangan justru agar tidak meninggalkan jejak? Jika terjadi sesuatu, tinggal
singkirkan saja mereka seperti ekor kadal. Apalagi orang-orang yang kujatuhkan
ke 'Mulut Neraka' itu hanyalah putri ketiga, putra kedua, dan
tunangannya—semuanya dari keluarga bangsawan rendah yang tak berharga. Aku juga
menggunakan sihir angin untuk menerbangkan mereka agar tidak ada bukti fisik!!
Jika tidak ada bukti, siapa yang tahu itu perbuatanku?"
Meski begitu,
putraku tetap bersikap acuh tak acuh, bersikeras bahwa semuanya berjalan
sempurna dan tidak ada alasan untuk dicurigai.
Aku baru
menyadari betapa bodohnya dia sekarang. Selama ini aku memanjakannya karena
mengira dia berbakat, dan sekarang aku harus membayar mahal untuk kesalahan
itu.
"Damian, apa
kau benar-benar menganggap orang-orang Kekaisaran—terutama Yang Mulia Kaisar
dan orang-orang pilihan yang beliau gerakkan sendiri—sebagai orang bodoh?"
"Bukankah
begitu? Sampai sekarang keluarga kita baik-baik saja dan bahkan tidak pernah
dicurigai. Yah, itu juga karena keluarga kita menyembunyikannya dengan
sempurna. Menurutku Ayah terlalu penakut. Percuma bicara lebih lama lagi, aku
permisi."
"Hei!!
Pembicaraan belum selesai!!"
Damian
mengabaikan perintahku untuk berhenti dan keluar dari ruangan seolah-olah
pembicaraan ini sudah berakhir.
"Sialan!!"
Dia tidak
mengerti. Akhir-akhir ini, organisasi bawah tanah yang bersarang di Kekaisaran
sedang dibasmi satu per satu.
Tentu saja,
beberapa organisasi yang melakukan perdagangan budak ilegal seperti kami juga
telah dihancurkan, termasuk organisasi besar yang menduduki peringkat atas di
dunia bawah Kekaisaran.
Meski informan
mengatakan belum ada perintah resmi dari Kaisar, namun sudah pasti orang-orang
kepercayaan Kaisarlah yang melakukan pembersihan ini.
Jika tidak, siapa
yang mau melakukan hal yang memakan tenaga besar tanpa keuntungan nyata seperti
ini?
Satu-satunya
orang yang mendapatkan keuntungan terbesar adalah Kaisar itu sendiri. Dan
sangat jelas apa yang akan terjadi setelah organisasi bawah tanah selesai
dibasmi.
Selanjutnya
adalah pembersihan para bangsawan. Alih-alih menyadarinya, Damian justru tetap
optimis... Seharusnya aku mendidiknya dengan lebih keras, tapi sekarang
semuanya sudah terlambat.
Selain
itu, Damian tidak mengerti. Dosa keluarga kita bukanlah sekadar mengalirkan
budak ilegal ke negara besar.
Memang
perdagangan budak ke negara lain itu ilegal, tapi itu hanyalah penyamaran.
Demi
berjaga-jaga, aku sengaja membuat organisasi terpisah untuk dikorbankan agar
saat penyelidikan berlangsung, mereka hanya akan sampai ke sana dan tidak
menyentuh rencana utama kita.... Dan keluarga kita pun kemungkinan hanyalah
pihak yang akan dikorbankan agar penyelidikan tidak mencapai dalang yang
sebenarnya.
Sejak lama,
keluarga kita menerima permintaan untuk mengumpulkan budak secara ilegal guna
eksperimen tubuh manusia untuk penelitian rahasia.
Namun, belakangan
ini sama sekali tidak ada permintaan eksperimen yang datang. Dari situ, sudah
bisa dipastikan bahwa orang-orang yang memanfaatkan kita selama ini telah
membuang kita.
Artinya, jika
dipikir secara terbalik, kemungkinan besar kejahatan kita sudah terendus oleh
Kaisar. Atau, ada kemungkinan kita dibuang karena penelitian kita sudah
memasuki tahap akhir.
Mungkin mereka
berpikir tinggal menyelesaikan sendiri pembuatan 'Obat Penambah Mana Manusia
Sementara' yang sedang dikembangkan itu.
Namun, jika kami
berhasil menyelesaikan obat tersebut, sekalipun Kaisar mengirim algojo untuk
membersihkan kami, kami bisa membalas mereka lalu membelot ke negara lain
bersama hasil penelitian ini.
Meski saat ini
obat yang belum sempurna itu memiliki efek samping besar, efeknya tidak sampai
membunuh dan masih bisa digunakan.
Karena efek
peningkatan mananya nyata, kami bisa menggunakannya untuk membalas serangan
sebelum kabur.
Beberapa waktu
lalu aku sempat berpikir untuk membawa putraku membelot bersama... tapi
sekarang dia sudah tidak tertolong.
Terlalu
merepotkan untuk melatih otaknya yang tidak berguna itu sekarang, dan sudah
pasti dia akan menjadi beban saat waktunya tiba nanti. Kalau begitu, yang harus
kulakukan sekarang adalah mendekatkan obat ini menuju kesempurnaan.
Setelah sampai
pada pemikiran itu, aku segera mengaktifkan alat sihir yang tersembunyi di
dalam buku di ruang kerja, membuka pintu rahasia di balik rak buku, dan
menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.
"Mungkin
hanya sebentar lagi aku bisa melihat pemandangan indah ini…… Mengenang hal itu
membuatku terharu. Selama hampir dua puluh tahun sejak aku menjadi kepala
keluarga Language, waktu yang kulewati benar-benar seperti mimpi."
Awalnya, tujuanku
adalah untuk menyembuhkan tubuh istriku yang sakit-sakitan.
Namun tanpa
kusadari, daripada istriku yang lemah, aku justru lebih terbuai oleh perasaan
saat aku memegang nyawa orang lain di tanganku.
Seberapa kuat pun
seseorang, begitu dijadikan budak, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Rasanya seperti
aku menjadi dewa mahakuasa yang memiliki hak atas hidup dan mati seseorang.
Benar-benar
perasaan yang luar biasa. Ya, setidaknya di dalam ruangan ini, aku bisa
dikatakan sebagai dewa.
"A…… u……"
"Bu-bunuh aku……"
"Sakit……… Sakit sekali……"
"…………Uu……"
Jika aku menajamkan pendengaran, aku bisa mendengar rintihan
para budak.
Tiba-tiba diculik dari kehidupan sehari-hari mereka, dan
suatu hari tiba-tiba neraka dimulai.... Membayangkan perasaan para budak itu,
rasanya sangat menyedihkan sampai-sampai aku tidak bisa menahan kegembiraanku.
Melalui ekspresi, atmosfer, reaksi mereka saat melihatku,
dan udara berat di sini, aku bisa merasakan bahwa akulah pemegang keputusan
atas hidup dan mati mereka.
"Apa kau
baik-baik saja? Sheria cintaku……"
"Au…… aua……"
Saat aku berjalan ke tengah ruangan—di mana satu sisinya
dipenuhi jeruji berisi rakyat jelata yang ditangkap untuk eksperimen—sosok
istriku yang terbaring di tempat tidur mulai terlihat.
Meski istriku tidak berada di dalam jeruji, kedua tangan dan
kakinya terikat rantai.
Rambutnya yang dulu indah kini hampir rontok habis, tubuhnya
kurus kering tinggal tulang dan kulit karena kekurangan nutrisi, dan wajahnya
sangat tirus hingga area matanya cekung seperti tengkorak.
Meskipun sudah
diberi makan, dia tetap kurus. Aku tahu dia akan mati jika tidak segera diberi
obat, tapi tanpa kusadari, aku mulai menganggap penampilan istriku saat inilah
yang tercantik sepanjang sejarah.
Sosok yang tidak
tahu apakah akan hidup sampai besok itu... tidak mungkin tidak indah. Di
samping istri tercantik di dunia itu, aku mulai meracik obat dengan penuh kasih
sayang.
"Nah,
sekarang waktunya minum obat."
Aku menyuntikkan
obat cair kepada istriku.
"AGYAAAAAAHHHHHH!!!!"
Obat itu bukanlah
untuk menyembuhkan penyakitnya, melainkan untuk melonjakkan pertahanan fisik
dan vitalitas secara drastis untuk sementara.
Efeknya bertahan
sekitar satu hari, jadi durasinya cukup bagus, namun efek sampingnya
menghancurkan mental penggunanya sehingga tidak bisa digunakan secara praktis.
Mungkin bisa
digunakan sebagai racun untuk disuntikkan kepada musuh agar mereka hancur
bersama rekan-rekan mereka?
Kedengarannya
mungkin berguna untuk pertempuran, tapi obat ini harus digunakan dalam waktu
satu jam setelah diracik, yang berarti obat harus dibuat di tengah medan
perang.
Obat ini memiliki
kerugian yang menghapus semua keuntungannya.
Namun, itu
hanyalah aturan di luar rumah ini. Jika aku menggunakannya tepat setelah
membuatnya di rumah, waktu satu jam itu justru terasa sangat lama.
Begitu obat
disuntikkan, vitalitas dan penguatan fisik yang melonjak drastis mulai menguras
semua nutrisi yang didapat dari makanan yang kuberikan dengan susah payah.
Aku bisa melihat
dengan mata kepala sendiri betapa staminanya terkuras habis hingga uap mulai
keluar dari tubuh istriku. Ah, sosok yang membakar nyawanya sendiri itu pun
sungguh indah....
"Nah,
perawatan istriku sudah selesai, sekarang aku harus meneliti obatnya……"
Setelah selesai
membersihkan kotoran istriku, mengganti sprei, dan mengelap tubuhnya dengan
handuk basah secara teliti, aku mengelus lembut kepalanya yang kini botak
berantakan.
Kemudian, aku
mengeluarkan seorang budak yang masih segar dari jeruji untuk dibawa ke ruang
penelitian bersama budak yang gemetar dengan ekspresi indah tersebut.
◆
── Sisi Thomas
──
Aku memiliki
seorang adik laki-laki yang berusia lima tahun lebih muda dariku.
Sejak kecil dia
sudah pintar, bahkan aku merasa secara insting bahwa bakat terpendamnya jauh
lebih tinggi dariku yang disebut-sebut sebagai anak ajaib.
Berkat adikku
itulah aku tidak menjadi sombong dan tidak terlalu percaya diri dengan bakatku
sendiri, melainkan terus membangun usaha sedikit demi sedikit.
"Ada apa,
Thomas-sama? Anda terlihat seperti sedang memikirkan hal lain."
Sambil mendukung
Ayah sebagai sekretaris, aku menyempatkan diri pergi ke kastil Kekaisaran di
waktu luang untuk berlatih bersama para penyihir istana.
Sebagai catatan,
sampai aku mewarisi keluarga Westgaph, aku masih menjadi bagian dari penyihir
istana sehingga diizinkan untuk berlatih bersama mereka.
"Tidak,
sepertinya adikku dijatuhkan ke 'Mulut Neraka'──"
"EEHHHHHHHH!?
Bukankah itu gawat sekali!?"
Di tengah
latihan, Coeli Muse—seorang junior penyihir istana yang terpaut satu tahun
dariku dan sudah menganggapku seperti kakak sendiri—menyadari ada yang aneh
dengan sikapku.
Aku berniat
menceritakan kegelisahanku karena itu bukan hal yang harus dirahasiakan, tapi
Coeli langsung memotong dengan teriakan terkejut.
"Tunggu
dulu. Aku kan baru mulai bicara?"
"Habisnya,
kenapa Anda bersikap biasa saja begitu!? Lagipula kenapa Anda malah datang ke
sini!? Adik Anda
dijatuhkan ke 'Mulut Neraka', kan!?"
"Iya,
kan sudah kubilang begitu?"
"Bukan
'begitu' masalahnya!!"
"Makanya
kubilang tunggu. Tenangkan dirimu dulu."
Aku
mencoba melanjutkan bicara, tapi karena dia terlalu bersemangat dan tidak bisa
tenang, aku menyentil keningnya dengan ringan.
"Sakit!?"
"Ada apa
ini? Adikmu dijatuhkan ke 'Mulut Neraka'?"
Mungkin karena
mendengar percakapan kami, Kepala Penyihir ikut bergabung. Aku pun menceritakan
kegelisahanku dalam aliran pembicaraan itu.
"Ah, iya.
Begitulah, Kepala Penyihir. Aku jadi tidak sabar menunggu oleh-oleh cerita apa
yang akan dia bawa nanti.... Di samping itu, adikku bukanlah tipe orang yang
bisa melakukan kesalahan konyol sampai dijatuhkan oleh orang lain. Jadi aku
pikir, mungkinkah dia sengaja membiarkan dirinya dijatuhkan agar bisa sampai ke
dasar 'Mulut Neraka'? Sebagai kakaknya, aku harus memarahinya karena telah
membuat orang-orang di sekitarnya khawatir."
"Eh? Apa
adik Anda sekuat itu!? Katanya siapa pun yang jatuh ke 'Mulut Neraka', tidak
ada satu pun yang pernah kembali, kan!? Di antara mereka yang pernah mencoba
menantangnya dulu ada penyihir istana, ksatria Kekaisaran, bahkan petualang
peringkat atas, kan!?"
"Yah,
begitulah... tapi sebenarnya sekarang adikku sepertinya sedang bersenang-senang
di dasar 'Mulut Neraka' itu, jadi bukankah dia pasti akan pulang dengan
selamat? Malah tidak aneh jika dia berhasil menaklukkan dungeon itu
sekalian."
Normalnya, hal
seperti ini tidak bisa kukatakan kepada orang lain.
Namun, saat
bergabung dengan korps penyihir istana, ada kontrak sihir yang menyatakan bahwa
apa pun yang dibicarakan di sini tidak boleh dibocorkan.
Jadi, aku sangat
terbantu karena bisa mendiskusikan hal yang sebenarnya cukup berbahaya jika
bocor ke luar.
"Hou…… Thomas saja sudah sangat kuat, tapi dia lebih
dari itu…… Namun, menaklukkan dungeon itu dianggap mustahil. Apakah dia sekuat itu?"
"Thomas-senpai
juga sangat kuat, kan? Bahkan sampai level di mana Anda bisa mencapai status
pahlawan jika terus begini. Padahal menaklukkan dungeon dianggap
mustahil... Sebenarnya seberapa kuat adik Anda itu?"
"Ah, kata
kuat saja tidak cukup untuk menggambarkan adikku. Mungkin tidak ada seorang pun di dunia ini
yang bisa menang melawannya."
Saat ini, aku
yakin meski kami semua mengeroyoknya pun kami tidak akan bisa menang.
"Hee…… aku jadi ingin melihatnya sekali."
"Kalau sampai kau berkata begitu, aku jadi ingin
mencoba beradu kekuatan dengannya."
"Karena
itulah, aku merasa harus berusaha lebih keras lagi.... Aku yang akan mewarisi
gelar keluarga, tapi aku merasa adikku sama sekali tidak tertarik pada gelar
tersebut, atau mungkin dia sengaja mengalah demi aku.... Terlebih lagi, dia sangat
konsisten sampai tidak pernah menghadiri pesta bangsawan.... Alasannya karena
malas, tapi gara-gara itu, sekarang di akademi dia dicap sebagai 'anak tak
berguna yang disembunyikan keluarga'...."
Aku tidak
membenci adikku, justru karena aku menyayanginya makanya kegelisahan ini terasa
mewah.
Namun
kenyataannya, di sudut hatiku selalu ada ketakutan dan tekanan bahwa 'apakah
aku telah merebut semua hal yang seharusnya dimiliki adikku?'.
Mengeluh
pun tidak akan mengubah apa pun, tapi sekali aku mulai bicara, aku tidak bisa
berhenti.
"Begitu
ya, jadi kegelisahanmu berasal dari fakta bahwa adikmu terlalu jenius,
berkepribadian baik, dan bahkan menghormatimu sebagai kakaknya."
"Tapi,
aku agak sulit percaya kalau ada yang lebih hebat dari Thomas-senpai. Kalau
orang seperti itu ada, dia pasti monster."
"Karena
itulah, fakta bahwa Thomas-lah yang mewarisi keluarga dan bukan si monster itu
yang menjadi tekanannya, dan itu berarti dia telah berusaha dua kali lipat
lebih keras, kan? Apa yang kau dengarkan sedari tadi?"
"Begitu ya…… ternyata Thomas-senpai juga manusia
biasa."
"Kau
menganggapku apa selama ini……"
Beberapa waktu
lalu Ayah sudah menceritakan tentang adikku kepada Kaisar dan bahkan sudah
melakukan audiensi.
Jadi, selama
masih berada di dalam lingkup kontrak sihir ini, kurasa tidak masalah
membicarakan adikku. Aku pun tanpa sengaja terus bercerita, tapi aku lupa satu
hal.
"Hou,
pembicaraan yang sangat menarik ya! Itu berarti dia lebih kuat dariku, kan? Bisakah kau mempertemukan aku
dengannya? Adikmu itu."
Aku lupa
kalau di dalam korps penyihir istana ini ada penyihir gila perang yang belum
laku-laku, Amma Fernandez.
"Lalu,
sepertinya tadi aku baru saja mendengar kata 'belum laku'. Apa itu hanya perasaanku saja?"
"Mungkin
hanya perasaan Anda saja?"
"Hmph,
entahlah. Tapi alasannya aku belum laku adalah karena kalian para pria terlalu
lemah, jadi menurutku tidak pantas jika kalian bicara seolah-olah ini salahku.
Keinginanku cuma satu, aku hanya ingin menikah dengan pria yang lebih kuat
dariku... cuma itu. Kalau dia lebih kuat dariku, tidak peduli jika sifatnya
sampah, suka main perempuan, pengangguran, wajahnya buruk rupa, bahkan penjahat
sekalipun, aku tidak masalah. Bukankah pria yang tidak bisa memenuhi satu
syarat itu justru yang salah? Benar, kan?"
"Iya. Persis
seperti yang Anda katakan."
"Kan!?"
Tidak, menurutku
satu syarat itu saja sudah mustahil dipenuhi, sama saja seperti menyuruh
seseorang memburu naga sendirian. Kekuatannya pasti berada di puncak korps
penyihir istana.
Ksatria
Kekaisaran, petualang peringkat atas, atau bahkan orang dunia bawah dari negara
sekitar pun kurasa tidak ada pria yang lebih kuat darinya kecuali adikku.
Dan karena dia
mengajukan syarat mustahil itu sambil mengklaim tidak peduli hal lainnya, tentu
saja hal mustahil tetaplah mustahil. Itulah alasannya dia belum laku.
"……Kalau ada
yang ingin kau katakan, katakan saja langsung padaku, lho?"
"Tidak,
tidak ada."
"Begitu
ya. Yah, karena Thomas
mungkin akan menjadi kakak iparku, untuk sekarang aku maafkan. Meski agak aneh
punya kakak ipar yang lebih muda, tapi itu hal indah yang hanya bisa dirasakan
jika menikah. Oh, dan aku masih berusia dua puluh empat tahun yang segar. Bukan
belum laku, tapi aku ini seorang kakak perempuan yang masih dalam usia ideal
untuk menikah. Jangan sampai salah."
Aku pun berlatih
sambil mencoba mengalihkan perhatian Amma yang terus mencecar pertanyaan
tentang adikku.
◆
── Sisi Kaisar
──
"Tak
kusangka dia sekuat itu…… Sulit dipercaya."
"Saya pun
merasakan hal yang sama. Saya tahu putra saya Lawrence memiliki kekuatan yang
tidak masuk akal…… tapi menaklukkan dungeon dan kembali pulang……"
Saat mendengar
dari Edward—kepala keluarga Westgaph—bahwa putra keduanya, Lawrence, dijatuhkan
ke 'Mulut Neraka', jantungku sempat terasa berhenti sesaat.
Namun tak lama
kemudian aku merasa tenang karena berpikir 'kalau dia, pasti bisa keluar dengan
mudah'.
Tapi ketenangan
itu tidak bertahan lama karena saat berikutnya Edward berkata 'Lawrence telah
menaklukkan dungeon'. Dalam sejarah Kekaisaran, tidak ada seorang pun yang
pernah menaklukkan dungeon.
Tidak, itu adalah
pencapaian luar biasa yang belum pernah diraih siapa pun di dunia ini.
Namun, jika hal
ini diketahui publik, sudah pasti akan memicu kekacauan yang melibatkan negara
lain, jadi informasi ini tidak boleh dibocorkan.
"Untuk
sementara, demi menjaga segala kemungkinan, aku ingin semua orang yang ada di
sini menandatangani kontrak sihir agar tidak membocorkan pembicaraan ini kepada
pihak ketiga."
Dari lubuk hatiku
yang terdalam, aku bersyukur kepada Dewa karena orang sehebat ini lahir di
Kekaisaran dan bukannya di negara lain.
Aku bahkan tidak
sudi membayangkan jika Lawrence lahir di negara seperti Kerajaan yang terus
berkonflik di perbatasan dengan Kekaisaran.
"Lalu,
Edward……"
"Ada apa,
Yang Mulia?"
"Apakah
Lawrence sudah memiliki tunangan……?"
"Sudah. Dia
sudah bertunangan dengan putri sulung keluarga Kvist, Fran Kvist. Sejauh ini
hubungan mereka sangat baik, dan dengan kecepatan saat ini, saya rasa mereka
akan menikah begitu lulus akademi."
Mata Edward saat
menjawab seolah berkata kepadaku, 'Apakah ada masalah?'.
"Begitu ya…… ya, sebenarnya aku ingin menjodohkannya
dengan putriku, tapi jika dia sudah punya tunangan, kemungkinan besar putriku
hanya akan menjadi istri kedua. Itu akan memicu protes dari banyak orang....
Jika memungkinkan, aku ingin semuanya berjalan lancar tanpa masalah.... Namun,
terlalu banyak orang yang hanya memprotes hal yang tidak sesuai dengan pikiran
mereka dan terlalu sedikit yang bisa melihat esensi masalah. Itulah yang
membuatku pusing sekarang. Lagipula, jika aku memaksakan putriku menjadi istri
pertama, itu sama saja seperti menyalahgunakan kekuasaan.... Dan jika hubungan
mereka baik-baik saja, itu berarti kecocokan Fran dan Lawrence sangat bagus.
Jika aku menghancurkannya hanya demi egoku sendiri dan menyebabkan harta karun
seperti Lawrence mengalir keluar dari Kekaisaran, aku akan menjadi kaisar
paling bodoh sepanjang sejarah…… Sulit sekali ya."
Oleh karena itu,
aku menyampaikan apa yang kupikirkan secara jujur kepada Edward. Instingku
mengatakan bahwa berbelit-belit adalah langkah yang salah, selain itu aku
merasa hal itu akan menjadi bentuk ketidakjujuran terhadap bawahanku sendiri. Justru karena kami terikat kontrak
sihir, aku bisa bicara dari hati ke hati....
"Begitu ya…… Anda ingin menikahkan Putri Pertama agar
bisa memberi 'kalung leher' (ikatan) pada putra saya Lawrence, ya.... Memang
benar jika hanya Fran dari keluarga Kvist, mungkin ikatannya terasa sedikit
lemah. Namun, Lawrence sangat membenci tindakan yang mencoba memanipulasi orang
lain. Jadi meskipun itu sebagai istri kedua, dia pasti akan menyadari niat
terselubung untuk 'menjadikannya sulit mengkhianati Kekaisaran melalui putri
kaisar', dan ada kemungkinan besar hal itu justru akan memberikan efek sebaliknya……"
"Dia
benar-benar sosok yang langka…… sungguh. Biasanya orang-orang akan kegirangan
hanya karena bisa bertunangan dengan putri kaisar.... Bahkan para orang tua di
luar sana sedang bersaing di balik layar untuk menjodohkan anak mereka dengan
putriku.... Aku ingin menyuruh mereka mencontoh Lawrence sedikit saja, tapi
dalam kasus ini, sikap Lawrence justru membuat rencana ini sulit berjalan.
Benar-benar tidak mudah."
Normalnya,
dengan kekuatan level menaklukkan dungeon, pasti akan muncul sedikit rasa
sombong.
Bahkan
mereka yang dikenal memiliki kepribadian mulia pun seringkali bukannya tidak
sombong, melainkan hanya menyembunyikannya saja.
Seiring
bertambahnya usia, orang-orang seperti itu akan berkurang, namun biasanya saat
itu mereka sudah melewati masa keemasan.
Karena itu mereka
menutupi penurunan fisik dengan aspek mental dan teknik agar bisa
mempertahankan masa puncak selama mungkin.... Tapi Lawrence yang masih muda
sudah memiliki kekuatan sebesar itu dan pola pikir seperti ksatria veteran yang
berpengalaman.... Bukan hanya demi Kekaisaran, tapi demi kebahagiaan putriku
sendiri pun aku semakin ingin menjadikan Lawrence menantuku.
"Benar juga…… namun karena itulah hidup jadi tidak
terduga dan menarik. Hidup yang semuanya bisa diprediksi pasti sangat
membosankan. Di samping itu, meskipun tidak menjodohkan Putri kepada Lawrence,
ada cara untuk membuat Lawrence tetap tinggal di Kekaisaran. Dan meski mustahil
menjadikannya istri pertama, masih ada cara agar Putri tetap bisa bertunangan
dengannya."
"Ooh!! Bagaimana caranya!?"
Saat aku sedang pusing memikirkan cara mengikat Lawrence
agar tetap tinggal di Kekaisaran, Edward bilang dia punya ide. Terlebih lagi,
ada cara untuk menjodohkannya dengan putriku.
Tanpa sadar aku memajukan tubuhku—tindakan yang kurang
pantas bagi kaisar—demi menanyakan metode tersebut karena itulah informasi yang
paling ingin kuketahui saat ini.
"Caranya adalah menjadikan rakyat sebagai 'kalung
leher'nya. Lawrence tidak tertarik pada gelar bangsawan maupun memiliki wilayah
kekuasaan, namun kurasa dia cukup suka berinteraksi dengan orang lain, dan yang
terpenting, dia merasa bahagia saat bisa membahagiakan orang lain. Jadi, jika
kita menciptakan lingkungan di Kekaisaran di mana dia bisa memiliki banyak
orang yang berharga baginya, maka setiap individu di sekitar Lawrence secara
alami akan menjadi ikatan yang menahannya tetap tinggal di Kekaisaran. Namun
seperti yang saya katakan, dia tidak akan mau jika diberi gelar atau wilayah,
jadi kita harus memikirkan cara lain……"
"Begitu ya…… tapi semakin kudengar, dia benar-benar
tidak punya ambisi pada kekuasaan.... Sampai-sampai aku ragu apakah dia
benar-benar lahir sebagai bangsawan. Baiklah. Aku akan coba memikirkan ide
bagus mengenai metode itu. Lalu, tolong beritahu juga cara agar putriku bisa
bertunangan dengan Lawrence."
Apa ya…… tidak punya ambisi memang sebuah kebajikan, tapi
jika sampai tidak punya keinginan pada kekuasaan, dia jadi sangat sulit untuk
dikendalikan.
Seandainya dia punya sedikit ambisi, aku tidak akan sesulit
ini.... Namun metode yang dikatakan Edward memang sangat efektif justru karena
dia adalah orang yang tidak tertarik pada kekuasaan.
Di samping itu, poin utamanya adalah cara menjodohkan
putriku dengan Lawrence. Tentu saja sejak kecil aku sudah mendidik putriku
bahwa putri kaisar adalah bidak bagi Kekaisaran.
Aku pun mempertimbangkan untuk menjodohkannya dengan
pangeran negara lain demi Kekaisaran, dan sebagai kaisar, prinsipku bahwa
kedamaian Kekaisaran lebih penting daripada kebahagiaan putriku tidak akan
berubah.
Namun
bukan berarti aku tidak mendoakan kebahagiaannya. Jika gelar kaisar ini
dilepaskan, aku hanyalah seorang ayah. Mendoakan kebahagiaan anak sendiri
adalah hal yang wajar.
Dan
menikahkannya dengan Lawrence berarti mewujudkan kedamaian Kekaisaran sekaligus
kebahagiaan putriku secara bersamaan. Oleh karena itu, aku menjadi sangat serius agar tidak melewatkan satu kata
pun dari penjelasan Edward.
"Intinya,
tindakan orang tua yang memaksa mereka untuk bersatu adalah hal yang dilarang.
Jika ada kesempatan bagi mereka untuk berteman secara alami, maka kemungkinan
hubungan itu akan berkembang menjadi pertunangan dengan sendirinya."
"…………Begitu
rupanya. Berdiskusi denganmu adalah keputusan yang tepat. Aku akan memberimu
hadiah!!"
"Terima
kasih banyak……"
Ternyata ada cara
seperti itu!! Aku
hampir saja berteriak karena girang tapi berhasil kutahan.
Namun aku
tidak bisa menahan kegembiraanku dan langsung menepuk-nepuk bahu Edward sambil
menjanjikan hadiah.
Ya,
seperti yang dikatakan Edward, aku tinggal mengatur agar mereka berdua merasa
seolah 'bertemu secara kebetulan', 'berteman secara kebetulan', dan 'jatuh
cinta secara kebetulan'.
Proses
menuju ke sana tidak harus benar-benar sebuah kebetulan, aku hanya perlu
mengaturnya sedemikian rupa agar terlihat seperti itu.
Sisanya
adalah masalah mereka berdua dan hanya Dewa yang tahu, tapi jika
kebetulan-kebetulan itu menumpuk, hanya masalah waktu sampai mereka mulai
menyadari perasaan masing-masing. Dan aku pun menyadarinya.
Kini aku
mengerti. Mengapa para pelayan tua di istana selalu bersemangat membahas topik
seperti, "Ayo jodohkan putra si ini dengan putri si itu," atau,
"Ada yang mau dicarikan jodoh lewat biro jodoh istana?".
Sebab,
menjadi dalang di balik layar yang menyatukan dua insan muda ternyata sangat
menyenangkan.
Jika
dilihat dari sudut pandang hiburan, memikirkan siasat seperti ini benar-benar
hiburan tingkat tinggi.
Apalagi
karena subjeknya adalah putriku sendiri, tingkat keseriusanku pun melonjak
drastis.
Rasanya
aku ingin segera mengumpulkan orang-orang kepercayaanku dan mengadakan rapat
strategi untuk merencanakan masa depan mereka.
"Baiklah,
soal hadiah akan kusampaikan nanti. Sekarang, mari kita adakan rapat strategi.
Edward, bisakah kamu ikut memberikan sumbang saran? Lalu Organ, kalau tidak
salah ada pelayan yang dijuluki 'Makcomblang Seribu Pertempuran', kan? Tolong
bawa dia ke sini."
Karena sudah
tidak sabar lagi, aku memutuskan untuk memulai rapat strategi saat itu juga.
Pertama-tama aku mengajak Edward, lalu memerintahkan perdana menteri yang
sedang mendengarkan di dekatku untuk memanggil sosok yang dikenal sebagai
"Makcomblang Seribu Pertempuran" tersebut.
◆
── Sisi
Makcomblang Seribu Pertempuran ──
Sudah empat puluh
tahun berlalu sejak aku mulai bekerja di istana kekaisaran ini. Lahir sebagai
putri keempat dari keluarga bangsawan, posisiku cukup nanggung untuk dijadikan
alat pernikahan politik. Karena itu, aku dibesarkan dengan bebas dan jarang menghadiri
pesta-pesta bangsawan.
Lagipula, aku
memang tidak suka dunia yang penuh tipu muslihat dan saling baca pikiran itu,
jadi aku selalu mencari-cari alasan untuk menolak undangan.
Meski begitu,
orang tuaku tetap tidak mengizinkanku menikah dengan rakyat jelata karena
statusku sebagai putri bangsawan.
Akhirnya, setelah
bertunangan, aku menikah dengan suamiku sekarang—putra kelima dari keluarga
bangsawan yang posisinya mirip denganku. Kebanggaanku dalam hidup adalah
berhasil membesarkan tiga putri dan lima putra.
Kini anak-anakku
sudah berkeluarga sendiri dan sering membawakan cucu untuk menjengukku. Melihat
mereka semua bahagia membuat hatiku tenang.
Ada putriku yang
menikah dengan rakyat jelata, tapi aku sadar tidak mungkin memaksakan anak-anak
kami menikah dengan garis keturunan bangsawan langsung.
Selama mereka
bahagia, bagiku itu sudah cukup. Lagi pula, orang tua kami pun hanya bergelar
Baron dan Viscount, jadi baik atau buruk, ya memang begitulah jalannya.
Namun,
kebahagiaan terkadang berarti kurangnya stimulasi dalam hidup. Aku tahu betul
bahwa kedamaian itu patut disyukuri, tapi tanpa tantangan, hidup terasa agak
hambar.
Di saat itulah,
aku menemukan sebuah hobi yang luar biasa. Yaitu menjadi makcomblang yang
mengatur pertemuan jodoh. Menyatukan dua orang muda, tidak ada yang lebih
mengasyikkan dari itu!
Tentu saja aku
sangat serius memilihkan pasangan demi kebaikan mereka sendiri.
Namun, di sisi
lain, orang-orang muda ini seringkali bergerak di luar ekspektasi, berpikiran
sempit, atau malah melesat melampaui garis instruksiku.
Meski membuat
jantung berdebar kencang, rasa pencapaian saat berhasil menyatukan mereka itu
benar-benar…… ahhh!
Tanpa kusadari,
aku sudah mendapat julukan "Makcomblang Seribu Pertempuran".
Orang-orang
mulai bilang siapa pun bisa menikah jika aku yang turun tangan. Tapi, aku tidak
menyangka kalau Yang Mulia Kaisar sendiri yang akan memanggilku……!
"Ayo,
silakan masuk. Yang Mulia Kaisar sudah menunggu."
"Awawawawawa!
A-apa ini tidak apa-apa!? Aku bisa pulang dalam keadaan hidup, kan!?"
"…………"
"Katakan
sesuatu, dong!"
"Sepertinya
akan baik-baik saja, jadi ayo cepat masuk."
"Apa
maksudnya 'sepertinya'!? 'Sepertinya' itu apa!?"
Memangnya apa
yang sudah kuperbuat?
Meski aku mencoba
mengingat-ingat, aku sama sekali tidak merasa pernah melakukan sesuatu yang
membuatku pantas dipanggil langsung oleh Kaisar.
Tidak tahu alasan
di balik pemanggilan ini jauh lebih menakutkan dari yang kubayangkan.
Saking takutnya,
aku sampai mematung di depan pintu. Namun, aku sadar jika membuat Kaisar
menunggu lebih lama lagi, aku malah benar-benar bisa dihukum. Akhirnya aku
memantapkan hati dan melangkah masuk.
"Pe-per-per-permisi!"
Aku masuk dengan
lidah kelu karena rasa tegang yang luar biasa. Di dalam, ternyata Perdana
Menteri, Sang Adipati, dan Kaisar sendiri sudah menyambutku.
Melihat jajaran
petinggi itu, dalam hati aku berteriak, Sebenarnya apa yang sudah
kulakukan?! Namun, di luar dugaan, Kaisar justru berkata, "Aku
membutuhkanmu, tolong pinjamkan kekuatanmu."
Ternyata Kaisar
menungguku dengan maksud baik dan menyambutku dengan sangat ramah.
Mengetahui bahwa
aku tidak akan dihukum membuatku lega, tapi sebaliknya, aku jadi bingung
mengapa aku dipanggil ke sini. Melihat kebingunganku, Kaisar menjelaskan
alasannya.
"Ooh,
selamat datang! Kami sudah menunggumu! Benar, kaulah yang dijuluki 'Makcomblang
Seribu Pertempuran'! Aku ingin meminjam kekuatanmu, apa kau bersedia?
Sebenarnya, ada seseorang yang ingin kujodohkan dengan putriku. Tapi orang ini
akan bereaksi negatif jika dipaksa tunangan. Jadi, aku ingin mengatur skenario
agar mereka bertemu seolah secara kebetulan, membuat mereka saling menyadari
perasaan satu sama lain, dan akhirnya sampai ke jenjang pertunangan……"
Ternyata beliau
sedang merencanakan perjodohan antara putra kedua sang Adipati dengan Putri
Mahkota Pertama.
Dan aku dipilih
karena reputasiku sebagai makcomblang handal. Pertanyaan pertama yang muncul di
benakku adalah "Mengapa para orang tua tidak langsung menetapkan
pertunangannya saja?".
Tapi kabarnya,
Lawrence-sama, sang putra kedua itu, pasti tidak akan mau menerima pertunangan
yang tidak memedulikan perasaan pasangannya.
Alasan dia bisa
bertunangan dengan Fran-sama yang sekarang pun karena mereka sudah saling
mengenal dan memahami satu sama lain sejak lama.
Jadi, strateginya
adalah membuat Putri Mahkota Pertama memiliki titik temu dengan Lawrence-sama,
sama seperti Fran-sama dulu.
Setelah mereka
mulai saling menyadari perasaan masing-masing, barulah topik pertunangan akan
dimunculkan.
"Begitu ya…… Baiklah. Serahkan pada saya!!"
"Ooh!
Benarkah!? Luar biasa, memang tidak salah kau dijuluki 'Makcomblang Seribu
Pertempuran'! Sangat bisa diandalkan!"
"Ini
benar-benar membesarkan hati ya, Yang Mulia Kaisar."
Awalnya aku takut
akan dibunuh, tapi kalau alasannya adalah untuk menjembatani hubungan putra
kedua Adipati dengan Putri Mahkota Pertama, maka aku akan bekerja sekuat
tenaga!
Lagipula, mana
mungkin aku menolak tawaran semenarik ini?
Aku yakin teknik
yang kupelajari selama menyatukan sekian banyak pasangan muda selama ini memang
dipersiapkan untuk hari ini. Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku merasa
sedebas ini?
"Kalau
begitu, pertama-tama, besar kemungkinan Lawrence-sama adalah tipe monogami, hal
yang langka bagi kalangan bangsawan tinggi."
"Hou, kenapa
kamu berpikir begitu?"
"Aku juga
penasaran."
"Begini.
Pertama, dia tidak terlalu tertarik menjadi ahli waris utama. Salah satu tugas
bangsawan yang mewarisi gelar adalah menghasilkan anak laki-laki untuk generasi
penerus, yang secara alami cenderung mengarah pada poligami.
Ketidaktertarikannya pada ambisi atau status sosial kemungkinan besar sejalan
dengan ketidaktertarikannya pada poligami. Selain itu, berdasarkan pengalaman
saya, pria yang sangat memikirkan perasaan pasangannya cenderung tidak mau
melakukan hal yang dibenci istrinya. Jadi, jika dia menjadikan orang yang
diakui istrinya sebagai istri kedua mungkin tidak masalah, tapi jika tiba-tiba
disodori orang asing dan diminta 'mulai besok anggap dia keluarga', kedua pihak
istri akan bingung. Hubungan mereka akan dimulai dengan saling curiga dan stres
yang luar biasa, yang akhirnya bisa berujung pada ketidakharmonisan."
"Hmm, masuk
akal……"
"Tapi, kalau
begitu bagaimana baiknya? Aku sudah memberitahu Daniel, kepala keluarga Kvist,
bahwa aku berniat menjadikan Putri Mahkota Pertama sebagai kandidat istri kedua
dan sudah mendapat persetujuannya."
"Benar.
Karena itu, bukannya mendekatkan Putri dengan Lawrence-sama terlebih dahulu,
lebih baik kita dekatkan Putri dengan Fran-sama. Setelah mereka membangun
hubungan saling percaya, barulah kita selipkan Putri ke tengah hubungan mereka.
Seperti yang saya katakan, pria tipe ini tidak suka melakukan apa yang dibenci
istrinya, tapi sebaliknya, mereka sangat lemah jika dimintai tolong oleh
istrinya."
"Hooo!
Luar biasa! Memang benar-benar makcomblang seribu pertempuran! Julukanmu
bukan isapan jempol belaka!"
"Benar juga…… Pertunangannya dengan Fran pun sebenarnya
karena dia kalah telak oleh desakan Fran. Dengan strategi itu, kemungkinan
besar Lawrence akan menerima Putri Mahkota Pertama."
"Kalau begitu, mari kita susun rencana bagaimana Putri
Mahkota Pertama dan Fran-sama bisa bertemu dan menjadi sahabat karib!"
Maka, dengan jantung yang berdebar kencang, aku mulai
menyusun strategi untuk tugas terbesar dalam hidupku ini.



Post a Comment