Chapter 6
Kontrak Budak
"Aku
berani menjamin itu jauh lebih baik daripada hidupku selama ini. Jika menjadi
budak Lawrence-kun bisa membuatku tahu rahasia untuk menjadi kuat, aku tidak
keberatan……!"
Suara
Shirley bergema di lantai terdalam dungeon. Lingkungan seperti apa yang dialami
gadis berusia lima belas tahun ini sampai ia memohon untuk menjadi budakku demi
melarikan diri dari situasinya saat ini?
Bagaimana ia
bertahan hidup selama ini? Hanya dengan membayangkannya saja, aku bisa
merasakan amarah mulai menumpuk di dalam diriku.
Namun, bukan
berarti aku bisa membantunya begitu saja secara naif.
Jika informasi
tentang diriku—terutama Skill Slave Subjugation atau Skill Heal—bocor
ke luar meski sedikit pun, itu bukanlah langkah yang bijak. Begitu juga demi
keamanan para budakku yang lain.
Selain itu,
meskipun ini adalah keinginannya sendiri, menjadikan Shirley yang masih
anak-anak sebagai budak tanpa izin orang tuanya terasa kurang pantas.
"……Sicil."
"Saya di
sini."
"Bisakah kau
sampaikan pada Ayah kalau aku ingin menjadikan Shirley budakku? Tolong
sampaikan padanya untuk menghubungi kepala keluarga Dartoit dan katakan, 'Aku
ingin membeli Shirley, berapa harga yang kau minta? Aku akan membelinya sesuai
harga yang kau sebutkan'."
"Dimengerti,
Guru!! Selain itu, saya sudah menandai tempat ini jadi kita bisa berkunjung
kapan saja menggunakan Shadow Travel!! Bagaimana kalau kita pulang
sekali untuk menyiapkan perlengkapan dengan matang sebelum kembali ke
sini!?"
"Tidak,
sesekali menjelajah seperti ini terasa menyenangkan seperti petualangan
sungguhan, jadi aku akan lanjut menjelajah tanpa pulang dulu. Lagipula meski
tidak pulang, di dalam Storage ada barang dan makanan yang lebih dari
cukup. Tapi, aku sangat terbantu karena kau sudah menandai tempat ini."
"Sesuai
kehendak Anda!!"
Begitu aku
memberi instruksi pada Sicil, ia langsung menghilang ke dalam bayanganku.
"Si-siapa
wanita Dark Elf tadi……? Maksudku, dia keluar dari bayangan Lawrence-kun lalu
masuk lagi ke bayangan……!?"
Shirley
yang melihat kejadian itu bertanya dengan wajah terkejut. Memang, jika baru
pertama kali melihat Skill Shadow Travel, wajar saja kalau terkejut. Namun karena itu termasuk rahasia, aku
minta maaf pada Shirley karena belum bisa memberitahunya sekarang.
"Maaf, itu
rahasia perusahaan."
"Begitu ya……
tapi, kalau aku jadi budakmu, kau akan memberitahuku, kan……? Aku akan bersabar
sampai saat itu. Aku sudah terbiasa bersabar, jadi aku ahli dalam hal
itu……"
Shirley berkata
demikian dengan ekspresi sedih namun sekaligus menatapku dengan penuh harapan.
"Tentu saja
kalau sudah jadi budak aku akan menceritakan semuanya, dan aku akan bertanggung
jawab membuatmu kuat... tapi, apa kau tidak punya penyesalan terhadap
keluargamu?"
"Bohong
kalau kubilang tidak punya penyesalan. Tapi kebahagiaan sebagai anggota
keluarga Dartoit adalah permohonan yang tidak akan pernah terkabul seumur
hidupku. Jadi daripada itu, aku lebih ingin menjadi kuat dan membungkam
keluargaku serta orang-orang yang selama ini menghinaku!!"
"……Begitu
ya."
Aku
menyadari bahwa ini adalah wilayah yang tidak boleh dimasuki dengan
sembarangan, jadi aku hanya membalas singkat dan mengakhiri percakapan untuk
sementara.
"Lawrence-sama!!
Sepertinya jika kita mengalahkan naga merah ini, kita akan mendapatkan Skill
yang meningkatkan kekuatan sihir api!! Lalu naga biru untuk sihir air, naga
hijau untuk sihir angin, dan naga cokelat untuk sihir tanah!!"
"Baiklah,
kalau begitu mari kita berburu naga bersama-sama!!"
Kebetulan Fran
membawa topik yang bagus, jadi demi keluar dari atmosfer pembicaraan yang
suram, kami pergi berburu naga.
◆
── Sisi
Baronet Dartoit ──
Shirley, yang
selama ini kuanggap sampah tak berguna yang kontribusinya hanyalah untuk dijual
ke pedagang, siapa sangka ia justru bisa menghasilkan telur emas seperti ini?
"Jadi, boleh
aku dengar jawabanmu?"
"T-tentu
saja saya berniat menyerahkannya dengan harga itu…… tapi……"
Sepertinya
Shirley disukai oleh putra kedua keluarga Westgaph di akademi dan ia ingin
membelinya sebagai budak. Sekarang di depanku, Edward—kepala keluarga
Westgaph—datang sendiri ke kediamanku demi negosiasi ini. Namun jika aku
langsung setuju dengan mata berbinar, aku hanya akan mendapatkan 50 koin emas
seperti yang Edward tawarkan.
Gadis itu awalnya
akan kujual ke pedagang seharga 5 koin emas saja. Dengan begitu aku dapat uang
dan si pedagang bisa punya koneksi dengan bangsawan jika menikahi putriku. Yah,
terserah mau dijadikan pelayan atau budak.
Kudengar di
antara rakyat jelata yang kaya, ada yang hobi menjadikan putri bangsawan
sebagai budak seks, tapi bagiku selama putri yang tak berguna itu berubah
menjadi 5 koin emas, itu sudah cukup.
Intinya aku ingin
menjualnya dengan cara yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, tapi
lihatlah ini. Harganya sepuluh kali lipat dari rencana awalku!
Apalagi dalam
kasus ini, aku tidak hanya mendapat uang tapi juga koneksi dengan keluarga
Adipati. Keuntungan bagi keluargaku berlipat ganda dibanding menjualnya ke
pedagang, jadi tidak ada pilihan untuk menolak.
Terlebih lagi,
aku bisa mendapatkan senjata berupa rumor bahwa "Keluarga Adipati
menggunakan kekuasaannya untuk mengancam bangsawan rendah demi membeli
putrinya".
Ke depannya jika
aku kesulitan uang, aku tinggal mengancam mereka dengan menyinggung masalah ini
secara halus.
Meski begitu,
langsung menerima demi keuntungan di depan mata adalah ciri kelas dua. Kelas
satu akan menaikkan harga lebih tinggi lagi sebelum menjual putrinya.
"Ada apa?
Apa ada keberatan? Katakan saja."
"Itu…… bagaimanapun dia adalah putriku yang berharga……
Tidak peduli bagaimana pun, jika hanya 50 koin emas…… Setidaknya aku butuh 300
koin emas atau aku──"
"Baiklah.
300 koin emas. Terimalah."
"──T-terima
kasih banyak!!"
"Kalau
begitu silakan tanda tangani kontrak sihir yang sudah kusiapkan ini. Kau juga
tidak mau kan kalau nanti aku meminta uangnya kembali atau kau bilang tidak
pernah ada kontrak seperti ini?"
Hmph,
dasar orang-orang bodoh yang tidak tahu nilai uang dan mengira uang bisa muncul
seperti air mengalir. Namun berkat kebodohan mereka, aku bisa untung besar,
jadi akan kuanggap ini hal bagus.
◆
── Sisi
Edward ──
"Apakah
tadi tidak apa-apa?"
Di kereta
kuda dalam perjalanan pulang, Thomas—yang sekarang berada di sampingku sebagai
asisten untuk menimba pengalaman sebagai pewaris—bertanya karena merasa tidak
puas dengan transaksi tadi.
"Thomas,
apa pendapatmu setelah melihat Baronet Dartoit?"
"……Meskipun
bobrok dia tetap bangsawan, licik dan cerdik. Dan dia adalah sampah yang dengan
senang hati menyerahkan putrinya demi uang? Karena itulah, membayar 300 koin
emas tanpa negosiasi untuk kebohongan nyata soal 'putri yang berharga' itu
terasa seperti kita sedang dipermainkan olehnya. Aku merasa tidak nyaman."
Mendengar
itu, aku bertanya balik dan Thomas memberikan jawaban yang penuh rasa keadilan
khas dirinya.
"Thomas, kau
terlalu lurus, baik dalam arti positif maupun negatif. Jika terus begitu,
kakimu akan mudah dijegal di masa depan."
"Tapi……"
"Pikirkanlah
baik-baik. Orang itu bahkan belum tahu kalau putrinya jatuh ke 'Mulut Neraka'.
Padahal dalam keadaan normal, harusnya dia sudah tahu sejak tadi. Itu
membuktikan betapa dia tidak punya kasih sayang pada putrinya. Namun, bangsawan
yang kehilangan minat pada anak yang tidak berprestasi bukanlah hal aneh. Itu
berarti nilai-nilai Baronet Dartoit adalah hal umum di masyarakat bangsawan
ini. Jika kita bergerak hanya berdasarkan rasa keadilan, kita justru bisa
mendapat penolakan dari mayoritas bangsawan nantinya. Mungkin bagimu 'biarkan
saja orang-orang seperti itu', tapi bangsawan adalah makhluk yang suka
membentuk faksi. Jika mereka membawa masalah ini ke pemungutan suara dengan
cara legal, kita akan jatuh ke dalam situasi yang tidak bisa ditangani."
Benar, jika
bergerak hanya karena rasa keadilan sementara lawan bergerak dengan metode
legal yang sah, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa.
"Ja-jadi
apakah tadi itu adalah jawaban yang benar……?"
"Jika
menggunakan cara jujur bukanlah langkah bijak, maka kita hanya perlu
menghancurkan lawan dengan sedikit cara licik. Dengan begitu, 300 koin emas
yang kuberikan padanya akan kembali ke tanganku. Jika sejak awal aku tahu uang
itu akan kembali, 300 koin emas bukanlah kerugian."
Thomas tumbuh
besar di lingkungan yang diberkati, tapi untuk menjadi kepala keluarga Adipati,
ia harus belajar sedikit kelicikan agar tidak mudah dijegal.
"Begitu ya…… mata ganti mata, gigi ganti gigi……
kejahatan lawan kejahatan, begitu kan?"
"Bukan
jawaban sempurna, tapi ya, sudah mencapai nilai kelulusan."
Bagi aku sendiri,
aku ingin dia menjawab bahwa cara licik, cara kotor, bahkan cara yang melanggar
hukum harus selalu dipertimbangkan sebagai opsi demi mendapatkan jawaban
terbaik.
Jika dia menjawab
begitu, aku akan merasa tenang untuk segera pensiun dan menyerahkan takhta
keluarga padanya... tapi ya sudahlah, jika dia bisa mencerna dan tumbuh
pelan-pelan dengan caranya sendiri, mari kita awasi perkembangannya. Lagipula
aku juga masih muda.
Namun, yang
mengerikan adalah Lawrence dan para budaknya. Terutama selama ada budak Dark
Elf itu, mendapatkan bukti kejahatan lawan adalah hal mudah.
Aku benar-benar bersyukur Lawrence lahir di keluarga kami. Bukti seberat ini, Baronet Dartoit
tidak akan bisa lolos dari hukuman mati.... Sambil berpikir begitu, aku
menyampaikan pesan ke bayanganku sendiri bahwa "Izin untuk menjadikan
Shirley budak sudah didapat".
◆
── Sisi
Lawrence ──
Semenjak
saat itu, kami bertiga terus memburu monster di lantai terdalam dungeon
sehingga level kami pasti sudah naik drastis.
Namun
yang membuatku heran, Shirley sama sekali tidak bisa menggunakan sihir dengan
baik.
Berdasarkan
Skill Appraisal, level Shirley sudah jauh melampaui rata-rata penyihir
istana, tapi fakta bahwa ia bahkan tidak bisa menggunakan sihir tingkat satu
dengan benar menunjukkan bahwa pasti ada semacam kecacatan pada tubuhnya.
Saat
itulah Sicil datang menyampaikan laporan dari Ayah bahwa "Shirley sudah
dibeli seharga 300 koin emas jadi dia boleh dijadikan budak".
Begitu
aku menyampaikannya pada Shirley, wajahnya sempat terlihat sedih sesaat sebelum
kemudian tampak mantap.
"Dengan
ini, aku bisa jadi budak Lawrence-kun…… Kau bisa membuatku kuat, kan!!"
"Kau boleh
menolak, lho? Aku tidak akan marah kalau kau menolak."
"Aku senang
kau berkata begitu, tapi saat ini keinginanku untuk menjadi kuat jauh lebih
besar. Malah, aku ingin kau segera menjadikanku budak sekarang juga."
"Padahal
kalau sudah kembali ke permukaan, kau tidak perlu jadi budak, cukup tanda
tangan kontrak saja sudah cukup?"
"Bagaimanapun
aku sudah dibeli oleh keluarga Westgaph. Entah sebagai pelayan atau budak, aku
akan tetap mengabdi pada keluarga Westgaph seumur hidup. Selain itu, aku
percaya Lawrence-kun tidak akan melakukan hal kejam padaku meski aku jadi
budak. Jadi bagiku ini cuma masalah sekarang atau nanti. Kalau begitu, aku
ingin menjadi kuat secepat mungkin……!"
Mendengar
kata-kata itu dari seorang gadis berusia lima belas tahun, aku membayangkan
lingkungan tempat ia tumbuh dan merasa orang tua serta saudara-saudaranya harus
menebus dosa mereka dengan pantas.
"Baiklah.
Kalau begitu aku akan melepaskan sihir Subjugation sekarang."
Akhirnya aku
kalah oleh desakan Shirley dan menggunakan sihir Subjugation untuk
menjadikannya budak.
"…………Begitu
ya, jadi ini sebabnya."
Begitu
Shirley menjadi budakku, aku bisa melihat Skill tersembunyi berlabel Magic
Ineptitude.
Namun
kenapa ini menjadi Skill tersembunyi?
Apa
sebenarnya Skill tersembunyi itu?
Jika
Skill adalah visualisasi dari bakat atau bidang keahlian yang dimiliki
seseorang sejak lahir, mungkinkah Skill tersembunyi adalah representasi dari
bidang yang paling tidak dikuasai seseorang?
Akan
tetapi, Beastman yang tidak ahli sihir tidak memiliki Skill semacam ini. Dari
situ aku menyimpulkan bahwa "hal yang secara ras memang tidak dikuasai
tidak akan menjadi Skill".
Dengan kata lain,
itu berarti jika aku bisa melakukan sesuatu terhadap Skill ini, maka ia akan
bisa menggunakan sihir?
Jadi, jika alasan
Beastman tidak ahli sihir adalah karena mereka punya Skill Magic Ineptitude,
maka jika Skill itu dihapus, mereka bisa menggunakan sihir tanpa masalah.
Namun, alasan
Beastman tidak bisa sihir bukan soal Skill, tapi masalah yang lebih
fundamental, sama seperti manusia tidak bisa bernapas di dalam air.
Bukan soal Skill,
tapi struktur tubuhnya memang tidak memungkinkan; itu masalah sebelum soal ahli
atau tidak ahli.
Jika hipotesis
ini benar, fakta bahwa Shirley tidak bisa menggunakan sihir tingkat satu meski
levelnya sudah naik tinggi berarti alasannya bukan sekadar "tidak
ahli".
"A-apa
maksudnya?"
"Saya juga
penasaran!!"
"Kemungkinan
Shirley memiliki semacam kecacatan lahir pada organ yang diperlukan untuk
menggunakan sihir. Itulah sebabnya seberapa tinggi pun levelmu, kau tidak bisa
menggunakan sihir dengan benar...."
Jika dipikir
begitu, semuanya jadi masuk akal. Kecacatan fisik bawaan itu kini terlihat oleh
mataku sebagai Skill tersembunyi.
"Begitu rupanya!!"
"Ja-jadi…… seberapa keras pun aku berusaha, aku tidak
akan pernah bisa menggunakan sihir……?"
"Nah, ini adalah hal yang tidak bisa kuberitahu kecuali
kau tanda tangan kontrak atau jadi budak──"
"Kalau itu Lawrence-sama, mungkin saja beliau bisa
menyembuhkan kecacatan fisik Shirley!!"
"──Tepat sekali. Namun, aku bisa mengembalikan cacat
yang didapat setelah lahir ke kondisi sehat semula. Masalahnya, untuk cacat
bawaan lahir, jika kondisi itu dianggap 'normal' oleh sistem, maka pilihannya
bukan menyembuhkan, melainkan mengubahnya ke kondisi yang berbeda. Aku tidak
tahu apakah Skill Heal-ku bisa melakukannya...."
Satu-satunya masalah adalah Skill-ku hanya bisa
mengembalikan ke kondisi semula. Singkatnya, aku tidak bisa menambah tinggi
badan atau memperbesar dada seseorang. Karena itu, aku tidak tahu apakah cacat
bawaan lahir bisa disembuhkan atau tidak....
"Ah, tunggu
sebentar. Mungkin aku bisa melakukan sesuatu...."
Sambil berpikir
begitu, aku melihat Skill Heal melalui Appraisal, dan tiba-tiba
muncul opsi 'Evolusi'.
Saat aku
menyentuh opsi tersebut, Skill Heal berubah menjadi Skill Heal (+
Treatment). Dengan ini, jika penyebab Shirley tidak bisa sihir adalah cacat
bawaan, mengubahnya menjadi kondisi normal adalah bagian dari 'Treatment'
(pengobatan), jadi kemungkinan besar bisa disembuhkan.
"Syu-syukurlah……"
"Tapi ini
masih belum pasti karena kita baru tahu penyebabnya, ini baru dugaan...
bagaimana kalau kita coba sekali?"
"Iya!!"
"Kalau
begitu, saya akan memasang penghalang dan berjaga-jaga agar tidak ada monster
yang menyerang!!"
Bagaimanapun, aku
harus mencobanya dulu. Meskipun ini lantai terdalam dungeon, aku merasa tenang
karena ada Fran yang berjaga.
Paling buruk, aku
tinggal memanggil para budakku yang lain dari bayangan. Aku mengeluarkan tempat tidur dari
Storage dan menginstruksikan Shirley untuk berbaring.
"Eh? D-dari
mana tempat tidur itu muncul!?"
"Sudahlah,
jangan dipikirkan. Mari kita periksa sekarang, kalau bisa kusembuhkan akan
langsung kubereskan."
"To-tolong…… nngh, ah…… nngh!!"
"Ya, dugaanku benar. Ini bisa disembuhkan."
"I-itu…… syukurlah…… ah…… nngh…… A-aku bisa merasakan tubuhku…… nngh……
sedang diubah…… aahh!!"
Setelah menyembuhkan begitu banyak budak selama ini, kini
aku sanggup menyembuhkan tubuh Shirley hanya dalam beberapa menit.
Aku lega karena dugaanku soal 'bisa disembuhkan' ternyata
benar, tapi di samping itu, aku bisa melihat mana milik Shirley yang sekarang
memiliki tubuh normal menjadi sesuatu yang sangat luar biasa sampai bisa
terlihat oleh mata telanjang.
"L-luar biasa……! Mananya meluap dari tubuh Shirley
sampai bisa terlihat!!"
Sepertinya jika Shirley lahir dengan tubuh normal, ia pasti
punya bakat yang membuatnya disebut sebagai jenius langka.
Tidak heran, mengingat ia berasal dari keluarga ternama yang
melahirkan banyak penyihir istana.
Jika Shirley lahir tanpa cacat bawaan... saat ini ia pasti
sudah menjadi penyihir yang luar biasa, dan mungkin hidup rukun bersama
keluarganya.
Dan kurasa, belum
terlambat untuk memulainya sekarang──
"Terima
kasih Lawrence-kun!! Dengan ini aku bisa membungkam keluarga dan orang-orang
yang menghinaku selama ini!! Aku juga ingin belajar sihir agar orang tuaku
menyesal karena telah menjualku. Mungkin aku tidak tahu malu karena baru saja
disembuhkan, tapi bisakah kau mengajariku sihir juga? Apa tidak boleh?"
──Tapi sepertinya
Shirley sudah benar-benar muak pada keluarganya, jadi pilihan untuk kembali ke
pelukan mereka sepertinya sudah tidak ada.
Yah, andai pun ia
ingin kembali, meski kontrak budak tidak bisa dibatalkan, aku tidak akan
melarangnya jika ia ingin tinggal bersama keluarganya seperti biasa.
"Tentu saja
boleh. Jangan merasa tidak tahu malu, aku justru berterima kasih kalau kau mau
belajar sihir dengan giat!"
"Meski begitu…… kita harus melakukan sesuatu terhadap
kondisi mana yang terlihat ini."
"Benar juga. Sebelum kembali ke permukaan, prioritas
utama adalah kau harus bisa menekan mana agar tidak meluap dari tubuhmu."
"Menekan mana…… tunggu sebentar, sepertinya aku bisa……
Ah, lihat, aku bisa! Memang
masih agak tidak stabil, tapi kurasa aku akan segera terbiasa."
Ga-gadis ini…… bisa dibilang dia adalah seorang jenius!!
Setelah itu, sambil mengajarkan dasar-dasar sihir pada
Shirley, kami menuju jantung terdalam dungeon, tempat Dungeon Core
berada.
Aku terus dibuat terkejut oleh selera sihir Shirley yang
luar biasa menonjol. Memikirkan bahwa jenius seperti ini akan berakhir sebagai
orang tak berguna jika tidak bertemu denganku, rasanya sungguh aneh.
"Nah, kurasa ini adalah ruangan bos yang menjaga Dungeon
Core. Shirley, ini masih berbahaya jadi perhatikan dari tempat aman saja.
Fran, tolong lindungi Shirley jika terjadi sesuatu."
"Iya……!! Tapi, kalau aku sudah jadi lebih kuat nanti,
mari kita ke sini lagi untuk mengalahkan bosnya bersama-sama ya!!"
"Dimengerti!! Saya akan melindungi Shirley dengan baik,
jadi Lawrence-sama silakan bertarung sepuas hati tanpa rasa khawatir!!"
Meskipun aku mendapatkan harta karun berupa Shirley dengan
cara yang tidak terduga, untuk sekarang aku harus fokus pada bos yang menjaga Dungeon
Core.
Aku tidak merasa akan kalah, tapi untuk berjaga-jaga dari
kemungkinan terburuk—lagipula Fran sudah kuat tapi Shirley masih minim
pengalaman bertarung—aku menginstruksikan mereka untuk tetap berada di zona
aman yang jauh.
"Kalau
begitu, mari kita mulai."
Kami pun masuk ke
dalam ruangan bos. Di dalamnya terdapat kuil raksasa yang terbuat dari batu
putih, di mana seekor naga hitam besar sedang bersemayam.
Menyadari
kehadiran kami, ia melepaskan raungan yang menggelegar. Berdasarkan Skill Appraisal,
ia memang bos yang menjaga Dungeon Core di sini.
Kekuatannya
berada di level di mana sekelompok penyihir istana atau ksatria Kekaisaran pun
tidak akan sanggup menang melawannya.
"Suaranya
dahsyat sekali ya……"
"Kira-kira
gendang telingaku pecah tidak ya."
Keduanya berkata
sambil menutup telinga, lalu bergerak ke pinggir ruangan sesuai instruksiku.
"Ayo kita
lakukan!!"
Pertama-tama
sebagai pembuka, aku melepaskan sihir api tingkat tiga Flame Spear ke
arah naga tersebut. Saat ini, berkat para budakku, kekuatan sihir apiku
melonjak delapan kali lipat.
Karena aku telah
menyuruh para budak menaikkan level Skill mereka, kenaikan yang awalnya hanya
sekitar dua kali lipat kini bisa mencapai angka tersebut.
Sebagai
informasi, meskipun ini adalah Skill jenis peningkatan kemampuan, levelnya
tidak akan naik hanya dengan terus menggunakan sihir dari elemen tersebut.
Sebaliknya,
levelnya naik dengan cara mengalahkan monster dengan elemen yang berlawanan.
Untuk
menaikkan level Skill peningkatan kekuatan sihir api, aku harus memburu monster
elemen air.
Namun
karena alasan ini, sangat sedikit orang di dunia ini yang sanggup menaikkan
level Skill peningkatan kemampuan yang sebenarnya cukup populer.
Kalaupun
ada yang levelnya naik, mereka menganggap itu sebagai hasil latihan, bukan
karena level Skill yang meningkat.
Wajar
saja karena sedikit orang yang mau bersusah payah membunuh monster menggunakan
sihir elemen yang tidak efektif atau sulit mempan sebagai ganti dari elemen
kelemahan monster tersebut.
Bahkan di
kehidupanku yang sebelumnya, ide-ide revolusioner seringkali berasal dari
"hal sesederhana itu". Mungkin ini yang disebut 'sulit melihat apa
yang ada di depan mata'.
Sambil
berpikir demikian, naga itu memutar tubuhnya dan menyerang menggunakan ekornya
seperti cambuk. Aku menghindarinya sambil melepaskan sihir serangan berikutnya.
"Ternyata
kulitnya keras juga ya…… Padahal meski ini sihir tingkat tiga, kekuatannya
sudah naik drastis berkat efek Skill Slave Subjugation. Tapi justru
itulah yang membuatnya menarik. Kalau begitu, bagaimana dengan ini? Sihir Es
Tingkat Empat: Ice Prison."
Sihir
yang kugunakan adalah sihir es tingkat empat Ice Prison, yang mengurung
target di dalam jeruji es sambil perlahan menyedot staminanya dan akhirnya
membeku sampai mati.
Jika
dalam kondisi kekuatan meningkat berkat Slave Subjugation, penyihir
biasa pun akan membeku dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
"Hmm,
harus kuakui kau adalah petarung tangguh yang pantas mencapai tempat ini. Kau
memiliki kekuatan yang nyata."
Namun,
tepat saat tubuhnya mulai membeku sedikit demi sedikit, naga itu mengeluarkan
semacam aura keberanian yang menghancurkan penjara es tersebut, lalu ia mulai
berbicara dengan suara berat.
Sesaat
aku tercengang karena hal ini mustahil terjadi di dalam game, tapi aku segera
mengubah pola pikirku bahwa dunia ini memang bukanlah game.
"Karena
aku mengakuimu sebagai orang kuat, aku akan memberitahumu namaku. Namaku adalah
Hayron. Penjaga Dungeon Core yang ada di balik ruangan ini."
"Terima
kasih atas kesopanannya. Namaku Lawrence Westgaph."
"Lawrence Westgaph…… akan kuingat!!"
Begitu perkenalan diri selesai, Hayron mengayunkan tangannya
yang lebih besar dari tubuhku dan melepaskan tebasan cakar.
"Berbahaya sekali ya…… Tapi, seberapa kuat pun bos
dungeon, selama kau makhluk hidup, racun pasti tetap mempan, kan?"
Harus kuakui ia
adalah ras naga. Serangan dari luar sulit menembus sisiknya yang keras,
terbukti dari Ice Prison tadi yang tidak memberikan banyak kerusakan.
Kalau begitu,
bagaimana jika menyerang dari dalam?
Berdasarkan
pemikiran itu, aku mencoba memberikan berbagai racun kepada Hayron, racun-racun
yang selama ini kubuat setiap hari menggunakan Skill Marianne Germ Appraisal
(Jamur, Bakteri, Virus) dan kusimpan di Storage.
Masalahnya adalah
bagaimana cara memasukkan racun ke dalam tubuh Hayron.
Karena ia adalah
makhluk hidup, bernapas adalah hal yang krusial. Jadi aku tinggal menguapkan
racun tersebut dan mengirimnya ke dalam tubuh naga menggunakan sihir angin.
"Sihir Angin Tingkat Tiga: Tornado."
"Hou, kekuatan sihir yang kau lepaskan memang luar
biasa. Kekuatannya sama sekali tidak
terlihat seperti sihir tingkat tiga. Namun, apakah kau sudah lupa bahwa sihir
tingkat empatmu tadi pun tidak sanggup memberikan luka sedikit pun
padaku?"
"Tidak, aku
tidak lupa. Justru karena itulah aku melakukan ini."
Seiring
berjalannya waktu, mengingat tubuhnya yang raksasa, sepertinya ia belum
merasakan apa-apa di saat manusia biasa seharusnya sudah mulai tumbang.
Namun, aku merasa
ucapan Hayron sedikit melantur, jadi bukannya racun ini tidak mempan. Aku hanya
perlu mengulur waktu sampai racunnya bekerja sepenuhnya.
Benar-benar harus
diakui, ini adalah senjata yang mengubah bentuk peperangan manusia setara
dengan tank, pesawat, dan kapal selam.
Tidak bisa
dilihat dengan mata telanjang, tidak bisa dicegah tanpa perlindungan yang
tepat, dan meski sembuh pun ada risiko cacat permanen; tidak heran ini disebut
senjata tidak manusiawi.
"Fran, untuk
berjaga-jaga gunakan ini bersama Shirley."
Karena jika salah
penggunaan racun ini bisa berbalik menyerangku, aku melemparkan alat sihir
berbentuk liontin yang bisa menciptakan penghalang yang menahan gas namun
mengalirkan oksigen kepada Fran dan Shirley, lalu aku pun mengaktifkan alat
sihir milikku sendiri.
"Sampai
kapan kau mau terus melepaskan sihir seperti semilir angin ini…… Ugh, apa
ini……!? Tenagaku terus berkurang……!? Bahkan saat aku mencoba menggunakan sihir
pemulihan, aku tidak bisa mengolah manaku dengan baik!?"
"Sepertinya racunnya mulai bekerja…… Aku menggunakan
dosis yang cukup untuk membunuh setidaknya lima ribu pria dewasa dengan mudah,
lho. Lagipula, dugaanku tepat kalau kau punya sihir tipe pemulihan, jadi
memasukkan racun penghambat manipulasi mana adalah keputusan yang benar."
"……Racun, katamu……!? Kenapa kau tidak bertarung secara
jantan dengan sihir atau teknik bela diri!?"
"Eh? Malas, ah. Memang aku bisa saja menggunakan sihir
untuk mengalahkanmu, Hayron. Tapi kalau aku melakukan itu, sisikmu akan hancur
dan jumlah yang bisa kujual jadi berkurang, kan? Kalau pakai racun, tubuhmu
tetap dalam kondisi cantik. Aku juga punya budak yang punya Skill untuk
menetralkan racun dari daging, jadi semuanya bisa bersih kembali. Lagipula
kalau matinya dalam bentuk yang bagus, aku bisa menjadikannya pajangan di
rumahku."
"Gunu, kurang ajar…… Kau tidak punya harga diri sebagai
seorang ksatria, hah!?"
Begitu racun akhirnya mulai bekerja, sepertinya Hayron
menyadarinya dan bertanya dengan nada penuh penyesalan apakah aku tidak punya
harga diri. Karena sepertinya dia
salah paham, aku memutuskan untuk meluruskan pikirannya.
"Sepertinya
kau salah paham. Bagiku ini bukan duel, tapi hanya sekadar berburu. Tentu saja,
pemburunya adalah aku dan yang diburu adalah kau, Hayron. Dan jika dunia ini
adalah hukum rimba, maka hak hidup dan mati ada di tangan yang kuat. Jadi cara
membunuhnya pun terserah padaku, dan kau yang lebih lemah dariku tidak punya
hak untuk protes, bukan?"
"Guu…… Jangan bercanda!! Jangan meremehkanku!!"
"Memang jika dibandingkan standar umum kau termasuk
golongan yang kuat, tapi sayangnya, selalu ada langit di atas langit."
"Omong kosong!! Kau hanya bisa menang dariku karena
menggunakan cara licik seperti racun!!"
"…………Sihir Api Tingkat Sepuluh: God's Purgatory……
Boleh aku tembakkan ini padamu, Hayron?"
Karena aku merasa sedikit kesal, aku menunjukkan sihir
dengan daya hancur maksimal yang bisa kugunakan saat ini. Begitu melihatnya, Hayron langsung berbaring
telentang sambil menunjukkan perutnya.
"Mohon
maafkan aku. Aku akui kau memang lebih kuat dariku. Tapi, tapi!! Aku masih belum mau mati!! Aku belum
mau mati sebelum merasakan pengalaman memiliki pasangan dan punya anak!! Sejak
aku memiliki kesadaran, aku tidak pernah keluar dari ruangan ini…… Aku tidak mau hidup naga seperti
ini, tidak mau, tidak mau!!"
Bukan
hanya itu, Hayron mulai merengek dengan suara beratnya sambil tetap dalam
posisi telentang. Mendengar isinya, aku mulai berpikir kalau membunuhnya
sekarang agak kasihan juga. Ini benar-benar merepotkan. Tapi ya, aku sangat
mengerti rasanya kalau tidak mau mati dalam keadaan masih perjaka.
"Yah, mau bagaimana lagi…… Ah, benar juga. Hayron, mau buat kontrak
pengabdian denganku? Kalau kau jadi budakku, aku akan membiarkanmu hidup dan
membawamu ke dunia luar."
"Ooh,
benarkah itu!? Kalau begitu cepat jadikan aku budak!!"
Begitu
aku menawarkan kontrak budak, Hayron menjawab dengan kecepatan luar biasa
supaya segera dijadikan budak.
"Baiklah,
tapi aku tidak tahu apa Hayron bisa dijadikan budak atau tidak…… Aku belum
pernah mencoba menjadikan bos dungeon sebagai budak……"
Dalam
dunia game, bos dungeon adalah karakter yang 'harus dikalahkan', jadi tidak
mungkin bisa diperbudak. Tapi itu hanyalah hasil dari pertimbangan keseimbangan
game.
Jika
dunia ini adalah realitas, maka tidak perlu memikirkan keseimbangan game
seperti saat aku mendapatkan berkah dari para budakku.
Seharusnya
Hayron pun bisa diperbudak, meski aku tidak akan tahu sebelum mencobanya.
"Kalau
begitu cepat coba saja!! Kau bisa memperbudakku, lho!!"
"Iya,
iya. Sabar sebentar, aku akan mencobanya."
"Hooh, inikah sihir pengabdian itu…… Rasanya bagian
dalam dadaku terasa hangat……"
Ketakutanku ternyata sia-sia; aku bisa menjadikan Hayron
sang bos dungeon sebagai budak dengan sangat mudah.
"Fumu, dengan ini aku sudah menjadi budakmu, kan!! Kalau begitu cepat perlihatkan dunia
padaku!!"
"Tunggu
dulu!! Kalau kau keluar dengan tubuh sepanjang sepuluh meter begitu, itu akan
jadi masalah. Setidaknya biarkan aku melapor dulu pada Kaisar kalau kau adalah
naga yang sudah kujinakkan."
"Tidak
mau, aku sudah tidak sabar. Kalau tubuh ini masalahnya…… bagaimana
dengan ini!?"
"Bagaimana dengan ini, katamu…… Eh? Ternyata kau betina?"
"Hah?
Dilihat dari mana pun aku ini pasti betina, kan?"
Jika dia muncul
di ibu kota dengan tubuh raksasa seperti itu, pasti akan merepotkan banyak
orang. Bukan hanya petualang, tentara Kekaisaran pun bisa bergerak untuk
membasminya. Jadi aku memintanya menunggu sampai aku melapor pada Kaisar, namun
Hayron malah berubah wujud.
Tinggi
badannya sekarang sedikit lebih pendek dariku. Kalau begini ukurannya tidak
masalah, tapi yang jadi soal adalah penampilannya. Hayron berubah dari naga
hitam raksasa yang gagah menjadi seorang wanita dewasa yang anggun dengan
rambut hitam panjang hingga ke pinggang, sepasang tanduk hitam di kepala,
sepasang sayap hitam di punggung, dan mengenakan gaun hitam yang memikat. Lagipula, dari cara bicaranya aku mengira
dia jantan, ternyata betina……
"Memang,
sekarang kau terlihat seperti wanita dari sudut pandang mana pun…… Dan dengan
wujud itu kurasa tidak masalah, tapi kota manusia punya aturan unik jadi masih
terlalu dini bagimu untuk bergerak sendiri. Aku akan memanggil budak Dragonoid
bernama Flame, kau boleh pergi asalkan sambil belajar banyak hal darinya. Tapi,
kau harus mematuhi instruksi Flame. Ini adalah perintah dariku."
"Paham, yang
penting cepat perlihatkan dunia luar padaku!!"
Dengan wujud
Hayron yang sekarang, tidak akan terasa aneh jika disebut Dragonoid, jadi
berjalan di kota pun tidak masalah. Apalagi jika ditemani Flame yang sesama
Dragonoid, mereka tidak akan mencolok.
"Wah, hebat,
hebat!! Aku kaget sekali kau bisa memperbudak bos dungeon!!"
"Memang luar biasa, Lawrence-sama!! Tadi wujud naganya
keren, tapi wujud sekarang juga sangat cantik ya!!"
Setidaknya untuk saat ini aku bisa membawa Shirley dan Fran
kembali ke permukaan dengan selamat, jadi anggap saja semuanya beres.
Beberapa hari kemudian, sebuah rumor menyebar dengan cepat
di guild petualang ibu kota tentang sebuah party yang berisikan dua Dragonoid
wanita yang sangat cantik dengan rambut merah dan hitam.
◆
Selingan ──
Potongan Keseharian Suku Serigala Putih ──
"Tapi ya,
kita benar-benar menjadi budak di tempat yang luar biasa……"
"……Kau tidak
salah."
Kalau teringat
hari di mana kami diselamatkan oleh Sicil-san, si Dark Elf yang merupakan budak
Tuan kami, aku masih sering berkeringat dingin.
Itulah sebabnya
rasa terima kasihku pada Tuan dan para budak lainnya tidak akan pernah cukup.
Namun, semakin hari aku semakin merasa kalau aku telah menjadi budak di tempat
yang tidak masuk akal.
Tapi ya, justru
karena mereka orang-orang yang tidak masuk akal itulah mereka bisa
menyelamatkan aku dan putriku hari itu.
"Aku juga ingin…… suatu saat nanti bisa menolong
seseorang seperti para senior itu……"
"Ya, benar. Selain ingin menjadi kuat untuk melindungi
desa atau demi Tuan, keinginan untuk menolong orang yang punya nasib sama
seperti kita juga sangat kuat di dalam hati ini……"
Benar, seiring dengan latihan yang kami jalani bersama para
senior, kami menjadi lebih kuat setiap harinya dan keinginan untuk membalas
budi dengan menolong orang lain pun tumbuh semakin besar.
Di dunia ini, tidak sedikit orang yang kesehariannya yang
damai tiba-tiba berubah menjadi tragedi.
Entah itu karena bandit yang menjual mereka secara ilegal
seperti kami, desa yang hancur karena bencana alam, atau serangan binatang
buas.
Jika lawannya
manusia atau monster, kita masih bisa melawan, tapi jika bencana alam, kita
hanya bisa pasrah pada takdir. Aku benar-benar ingin menghilangkan
ketidakberuntungan yang tak terlawan itu, meski hanya sedikit.
"Ayah,
selamat datang!!"
"Ah, Ayah
pulang. Apa kau jadi anak baik dan menuruti kata Ibu?"
"Iya!! Aku
jadi anak baik!!"
Saat aku berpisah
dengan Toza dan sampai di rumah, putriku langsung menghambur memelukku.
Untungnya,
putriku tidak trauma dengan kejadian hari itu dan tetap ceria seperti biasanya.
Namun, saat dia
mulai bilang, "Aku juga mau bekerja bersama Ayah di tempat
Lawrence-sama!!", aku jadi sedikit pusing.
Meski begitu,
rasa pusing itu pun terasa sebagai kebahagiaan bagiku sekarang. Kalau putriku
tidak selamat, aku tidak akan bisa merasa pusing memikirkannya.
Sebaliknya, kalau
aku tidak selamat, istri dan anakku mungkin sudah kesulitan makan hari ini.
Itulah sebabnya semua emosi yang kurasakan saat bersama mereka terasa sangat
berharga bagiku sekarang.
"Wah, Ayah.
Apa yang kau bawa itu?"
Saat aku sedang
meresapi kebahagiaan itu, istriku menyadari ada sesuatu di tanganku.
"Oh, benar
juga!! Aku hampir lupa kalau Marianne-san menitipkan bumbu bernama 'Miso'
ini!!"
Atas teguran
istriku, aku teringat kalau Marianne-san memberiku satu guci miso untuk
dicicipi sebagai 'bumbu baru dari pengetahuan Tuan'. Aku pun menyerahkannya
pada istriku.
"……Miso?
A-apa ini aman? Bentuknya……"
Begitu istriku
membuka tutup gucinya, dia langsung ragu apakah ini aman untuk dimakan.
Aku pun dulu
berpikir hal yang sama, tapi saat diberitahu kalau ini adalah bahan dasar sup
miso yang sering diberikan Sicil-san saat latihan, aku merasa itu lucu sekali.
"Kenapa
tertawa? Apa aku salah bicara?"
"Maaf, maaf.
Tidak, aku hanya tertawa karena dulu aku juga berpikir hal yang sama saat
pertama kali melihatnya. Soal rasanya, aku jamin enak. Direbus jadi sup bersama
bahan lain oke, dioleskan langsung ke makanan juga enak. Sekarang bumbu ini
mulai populer di kota, lho."
"Be-begitu
ya. Kalau begitu aku mau mencobanya hari ini…… tapi, bisakah kau membantuku
membuat sup? Aku tidak tahu takarannya……"
Begitu aku
menjamin rasanya, wajah istriku langsung berubah ceria seperti anak kecil yang
mendapat hadiah.
"Tentu, akan
kubantu. Oh iya, selain miso, aku juga dapat sebotol minuman bernama 'Nihonshu'
untuk dicicipi, jadi mari kita minum bersama──"
"Ayo
minum……"
"……O-oke.
Katanya ini cocok dengan ikan bakar, jadi tadi aku sempat menangkap tiga ekor
ikan sungai saat jalan pulang."
Saat bicara soal
miso dia memang tertarik, tapi ketertarikannya pada minuman keras jauh di luar
dugaan.
Melihat
semangatnya, aku sampai agak ngeri kalau-kalau dia akan menghabiskannya
sendirian.
Memang bagi kami
yang tinggal di pegunungan, kesempatan minum alkohol sangat jarang kecuali saat
festival. Tapi aku tidak menyangka reaksinya akan seheboh ini.
Aku pun ditarik
ke dapur oleh istriku untuk mulai memasak sup miso dan ikan bakar. Sebenarnya
supnya hanya tinggal memotong bahan dan merebusnya saja, jadi masakannya cepat
selesai.
"Nah, mari
kita makan."
"I-iya……
mari makan."
"Aku sudah
lapar sekali!!"
Kami bertiga
mengelilingi meja makan, tapi sejak tadi mata istriku terus tertuju pada
'Nihonshu' yang kupegang.
Melihatnya, aku
jadi teringat saat festival dulu di mana semua orang tumbang kecuali istriku
yang terus minum sampai pagi.
Sejak kejadian
itu, ada aturan baru kalau minum alkohol hanya boleh sampai jam tiga pagi.
Aku mulai memakan
sup miso buatanku. Karena sudah terbiasa, aku meminum kuahnya dulu, lalu
memakan sayur dan daging di dalamnya.
Rasanya kurang
kental dibanding sup buatan para senior, tapi rasa gurih dari daging dan
sayurnya sudah cukup meresap dan enak.
"Ini enak sekali ya…… Mungkin kalau dimasukkan jamur
atau telur akan lebih enak lagi……"
"Benar
juga. Senior juga sering memasukkan itu. Nanti akan kutanya apa lagi yang cocok."
"Enak!!
Ayah, ini enak sekali!!"
"Oh,
syukurlah…… masih banyak, kalau kurang tambah saja sendiri ya."
"Siap!!"
Aku lega
keluargaku menyukai 'Miso' ini. Omong-omong, saat aku bercerita pada para
senior kalau supku kurang 'nendang' dibanding buatan mereka, mereka bilang aku
harus mengambil 'Dashi' dari bahan seperti 'Konbu' atau 'Katsuobushi'.
Mereka berjanji
akan mengajariku di waktu luang nanti. Katanya air rendaman jamur kering juga
bisa jadi pengganti, jadi meski sulit mendapatkan hasil laut di sini, aku tetap
bisa membuat sup yang lezat.
Dan sekarang,
istriku sedang menatapku dengan kode 'cepat keluarkan minumannya'.
"Iya, iya.
Akan kubuka sekarang, jadi jangan melotot begitu……"
Kalau aku
membuatnya menunggu lebih lama lagi, entah apa yang akan terjadi. Aku pun
membuka botol 'Nihonshu' itu dengan bunyi 'Pop!' yang nyaring.
"Ini,
gelasnya."
"Iya!!
Tolong tuangkan!!"
"Aku
juga mau!!"
Begitu
botol terbuka, istri dan anakku langsung menyodorkan gelas. Aku hanya
menuangkannya untuk istriku, sementara anakku kuberi permen sambil bilang kalau
dia baru boleh minum setelah dewasa.
"Sayang……"
"Ada
apa? Rasanya aneh?"
"Bukan!!
Bukan itu!! Minuman bernama 'Nihonshu' ini…… terlalu enak!! Dan ikan bakar
garam ini sangat cocok dengannya!!"
"Syukurlah
kalau begitu."
Aku pun
ikut minum, memakan ikan, dan menyeruput sup.
Sambil melihat istriku yang tampak sangat bahagia dan putriku yang ceria, aku merasa tidak ada teman minum yang lebih baik dari mereka. Di dalam hati, aku berjanji tidak akan pernah melepaskan mereka lagi.



Post a Comment