NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 8

Chapter 8

Mereka yang Pernah Menjadi Manusia


── Sisi Damian ──

"Hei!! Ini penghinaan!! Memangnya kalian pikir aku ini siapa?!"

Beberapa hari setelah aku menjatuhkan bajingan-bajingan itu ke 'Mulut Neraka', entah bagaimana caranya Lawrence dan yang lainnya malah kembali ke permukaan dalam keadaan sehat walafiat.

Aku pikir mereka sudah mati, karena tidak mungkin ada yang bisa kembali dengan selamat. Jadi, saat pertama kali mendengar kabar mereka kembali, aku hanya menganggapnya sebagai 'kebohongan yang sangat kentara'.

Lagipula, satu-satunya orang yang tahu mereka jatuh ke 'Mulut Neraka' adalah aku.

Akulah satu-satunya orang yang bisa mendeteksi kebohongan itu dengan keyakinan penuh. Karena itu, jika aku membantahnya dengan terlalu percaya diri, aku malah bisa dicurigai.

Jadi, aku tidak berkomentar apa-apa dan hanya berpura-pura mengikuti pembicaraan di akademi.

Namun, beberapa jam kemudian, para penjaga mendatangi kelasku.

Mereka meringkusku di depan teman-teman sekelas dan melemparku ke penjara bawah tanah dengan tuduhan "Kejahatan menjatuhkan Lawrence, Fran, dan Shirley ke dalam Mulut Neraka".

Aku benar-benar tidak mengerti.

Mengapa orang sehebat aku harus menerima perlakuan seperti ini?! Jangan bercanda!!

"Hei!! Mana buktinya?! Mana?! Kalian memasukkan aku ke tempat seperti ini tanpa bukti, aku tidak akan memaafkan kalian!!"

"Dengar, Nak. Aku tidak bermaksud buruk. Kalau kau tidak ingin mati, diamlah dan setidaknya tunjukkan sikap menyesal. Terang saja, posisimu sekarang sudah tidak tertolong. Kau minta bukti, tapi tidak mungkin kami bertindak sejauh ini tanpa bukti."

"Biarpun sudah busuk, kau tetap putra seorang bangsawan. Kami sudah bertindak sangat hati-hati dan memastikan seratus persen bahwa ini bukan salah tangkap sebelum menjebloskanmu ke sel. Terlebih lagi, kasus ini adalah operasi besar yang melibatkan penandatanganan 'Kontrak Larangan Membocorkan Informasi', yang menunjukkan betapa seriusnya atasan kami."

"Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang disembunyikan oleh atasan, tapi yang jelas kau telah membuat Yang Mulia Kaisar dan keluarga Westgaph—salah satu dari Empat Bangsawan Besar Kekaisaran—murka. Jika terus begini, kau hampir pasti akan dieksekusi...."

"Makanya daritadi kubilang, tunjukkan buktinya!! Kalian pasti cuma menutup-nutupi fakta tidak adanya bukti dengan 'Kontrak' itu, kan?! Fakta bahwa kalian tidak bisa mengeluarkan bukti adalah bukti kalau aku tidak bersalah!"

Bagaimana pun aku memikirkannya, seharusnya tidak ada bukti bahwa aku adalah pelaku yang menjatuhkan Lawrence dan kawan-kawan.

Lagipula, kabar bahwa Lawrence dan yang lainnya kembali hidup-hidup itu sendiri sangat mencurigakan.

Pasti ini cuma informasi palsu dari orang bodoh yang iri pada kehebatanku, dan mereka menelan informasi itu mentah-mentah. Hanya itu penjelasan yang masuk akal.

"…………Nak, aku tidak akan bicara lagi. Aku tidak mau ikut dijebloskan ke sel hanya karena dianggap membelamu."

"Sialan!! Gunakan otakmu sedikit sebelum bertindak, dasar anjing Kekaisaran!!"

"…………"

Namun, setelah itu, seberapa keras pun aku berteriak dan memprotes, penjaga itu tetap bungkam.

"Hmph, ya sudahlah. Begitu Ayah tahu keadaan ini, beliau pasti akan segera datang menyelamatkanku!! Saat itu terjadi, rasakan pembalasanku!!"

Begitu aku terbukti tidak bersalah dan keluar dari kandang ini, aku akan mengeksekusi semua orang yang terlibat menjebloskanku ke penjara.

Tentu saja, termasuk penjaga kaku ini juga. Sambil memantapkan niat itu, aku berbaring di tempat tidur yang keras dan menunggu saat itu tiba.

"……Apakah di dalam sel nyaman?"

Sudah berapa hari berlalu sejak saat itu?

Karena ini di bawah tanah, cahaya matahari tidak masuk.

Dengan hanya bermodalkan cahaya lilin, aku tidak tahu pasti sudah berapa hari tepatnya aku terkurung di sini.

Meski begitu, aku yakin secara perasaan ini sudah lebih dari satu hari.

"……Lawrence…… kau masih hidup……?!"

Di saat itulah, aku mendengar suara langkah kaki seseorang menuruni penjara bawah tanah.

Aku pikir itu sudah waktunya pergantian penjaga, tapi yang muncul ternyata adalah si Lawrence itu.

"Tentu saja. Karena kami masih hiduplah, kau bisa menebus dosa atas perbuatan yang kau lakukan. Caramu menggunakan sihir angin untuk meniup kami ke 'Mulut Neraka' sebenarnya sudah bagus. Dengan sihir angin, tidak ada bukti yang tertinggal, dan kau bisa menjatuhkan kami bertiga sekaligus."

"……Jadi, kaulah penyebab aku mengalami nasib seperti ini, Lawrence?"

"Kau sebaiknya menjaga bicaramu. Saat ini, sudah diputuskan bahwa kau akan segera dieksekusi, dan satu-satunya yang bisa membatalkannya hanyalah kami sebagai korban."

"Kaulah yang harus menjaga bicaramu!! Kenapa kau bicara padaku dengan nada merendah begitu?! Apa kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah melakukan ini tanpa bukti?! Ayahku akan segera mengeluarkanku dari sini atas tuduhan salah tangkap!! Saat itu terjadi, Lawrence, aku sendiri yang akan menyeretmu ke tiang gantungan!!"

"Lalu kenapa, Damian, sampai sekarang kau belum keluar dari penjara bawah tanah? Jika kau bilang bisa keluar dengan kekuatan orang tuamu, mereka seharusnya segera bergerak begitu tahu kau dipenjara. Apalagi jika kau benar-benar tidak bersalah, kan?"

"Selain itu, tenang saja, buktinya ada banyak kok. Yah, karena akan timbul masalah jika dunia tahu kalau aku 'dijatuhkan ke Mulut Neraka dan kembali hidup-hidup', makanya informasi itu disembunyikan. Bukannya kami tidak mengeluarkan bukti karena ingin menjatuhkanmu atau karena memang tidak punya bukti. Lagipula, orang sepertimu tidak mungkin sampai membuat Yang Mulia Kaisar bergerak sendiri. Harusnya kau paham jika berpikir sedikit saja, tapi karena kau tidak mampu memikirkannya, makanya kau melakukan tindakan gegabah seperti itu."

Memang benar, fakta bahwa Ayah belum juga datang menyelamatkanku adalah sebuah tanda tanya.

"Hmph, paling kalian yang menghalangi Ayah saat beliau mencoba menolongku, kan?! Jangan bercanda……!"

Benar-benar keterlaluan. Atas dasar pemikiran egois seperti itu, mereka mengurungku di penjara dan mencoba mengeksekusiku. Sudah jelas siapa yang jahat di sini. Aku harus memperjelas itu, lalu menjebloskan dan mengeksekusi bajingan ini sebagai gantinya.

"Hei? Apa kau sedang bercanda?"

"Hie……?!"

A-apa ini?

Haus darah dari Lawrence ini……?!

Rasanya aku hampir hancur hanya karena tekanan haus darahnya saja……!

Tubuhku kaku karena takut, gemetar hebat, mulutku kering dan tenggorokanku tercekat. Instingku menjerit agar jangan pernah melawan orang ini……!

Terkena haus darah ini, barulah aku mulai berpikir bahwa 'jika Lawrence ini, mungkin dia memang bisa kembali hidup-hidup dari dasar dungeon'.

Awalnya, aku pikir dia menggunakan semacam alat sihir teleportasi atau cara tertentu untuk mencegah dirinya jatuh sampai ke dasar. Tapi jika dia benar-benar kembali dari dasar dungeon, berarti aku telah salah memilih lawan……!

Fenomena tidak bisa bernapas karena haus darah adalah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Jangan-jangan, dia berada di level yang setara dengan makhluk yang disebut naga?

Kalau aku tahu dia semenakutkan itu, aku tidak akan mencari gara-gara dengannya dari awal. Aku cukup meniup Shirley saja…… Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal kalau kau sekuat itu……!!

"Kau meniup kami dan melibatkan Shirley juga, padahal urusanmu hanya denganku atau Fran. Untungnya aku ikut jatuh bersamanya jadi tidak terjadi hal serius. Tapi jika hanya Shirley sendirian, dia pasti sudah mati. Dan jika aku atau Fran hanyalah anak bangsawan biasa yang tidak punya kemampuan sepertiku sekarang, kami juga pasti mati."

"Mengingat hal itu, kau mencoba membunuh tiga orang tapi tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun, malah berteriak-teriak soal tidak bersalah. Jangan keterlaluan ya, bocah sialan. Tadinya kalau kau menyesal dan meminta maaf padaku, aku berniat melupakan masalah ini dan membebaskanmu. Tapi sepertinya kedatanganku ke sini sia-sia."

"To-to-tolong ampuni aku……!! A-aku yang salah……!!"

"Minta ampun? Kenapa kau pikir aku akan memaafkanmu? Seperti yang kukatakan tadi, karena kau tidak terlihat menyesal, aku tidak punya niat lagi untuk memaafkanmu. Lagipula, kau mencoba membunuh kami, jadi kenapa aku yang hampir kau bunuh harus menolongmu? Mana mungkin kumaafkan, kan?"

Kenapa bisa jadi begini……?

Kalau akan berakhir seperti ini, setidaknya seharusnya aku menyampaikan perasaanku yang sejujurnya pada Shirley dari dulu…… Aku hanya ingin menjadikan Shirley milikku sendiri sejak pertama kali bertemu…… Sambil memikirkan hal itu, kesadaranku pun mulai memudar.

── Sisi Sicil ──

Malam ini Sicil sedang dalam suasana hati yang baik. Bagaimanapun juga, hari ini adalah puncak dari misi yang dipercayakan padaku, mulai dari pengumpulan bukti hingga pembersihan.

Mengingat musuh kali ini adalah bangsawan, kemungkinan besar mereka akan melawan dengan menjijikkan sampai akhir.

Namun justru itu, aku bisa membuat mereka menyadari betapa berdosa perbuatan mereka.

Meski begitu, bagiku semua itu hanyalah bonus. Membayangkan aku akan dipuji oleh Guru setelah pembersihan ini selesai membuat sudut bibirku hampir menyeringai.

"Nah, aku ini kan orang yang tahu tata krama. Jadi aku akan masuk secara jantan lewat gerbang depan!"

"Siapa kau?! Berhenti!!"

"Orang mencurigakan bertopeng!! Kubilang berhenti!!"

"Itu tidak mungkin."

Aku mengenakan topeng pemberian Guru dan mencoba masuk melalui gerbang depan kediaman target pembersihan. Dua orang penjaga mencoba menghentikanku, namun aku mengabaikan mereka dan masuk dengan paksa.

"A-apa-apaan ini?!"

"Tu-tubuhku tidak bisa bergerak……?!"

Begitu aku mengunci gerakan mereka dengan Sihir Kegelapan Tingkat 1, Shadow Bind, mereka jadi tidak berdaya. Lebih aman begini karena aku tidak perlu melukai atau—yang terburuk—membunuh mereka.

"Selamat malam!! Aku ingin kalian membuka pintunya!! Jika dalam tiga puluh detik tidak dibuka, aku akan mendobrak masuk begitu saja!!"

…………Tidak ada jawaban.

Karena aku sudah memperingatkan akan mendobrak masuk jika tidak dibuka dalam tiga puluh detik, tidak masalah kan kalau aku menghancurkannya.

Lalu aku menggunakan sihir yang diajarkan Guru, Sihir Kegelapan Tingkat 3, Shadow Manifestation, untuk mengumpulkan bayangan di sekitar dan membentuk sebuah palu raksasa. Aku pun mengayunkannya dengan kuat ke arah pintu.

Banyak yang mengira tidak ada bayangan saat malam karena minim cahaya, tapi menurut Guru, kegelapan malam itu sendiri sebenarnya adalah bayangan dari planet tempat kita tinggal, jadi sihir ini tetap bisa digunakan secara normal.

Hal yang sama berlaku dalam kegelapan ruang tertutup. Sama seperti ketiadaan bayangan bukan berarti tidak ada cahaya, ketiadaan cahaya juga bukan berarti tidak ada bayangan.

Namun, tentu saja aku belum bisa mengendalikan seluruh bayangan planet, jadi aku hanya menggunakan sebagian kecil saja.

Prosesnya juga lebih panjang karena harus memotong bagian bayangan itu. Biasanya aku lebih suka menggunakan bayangan bangunan atau pepohonan yang tercipta dari cahaya bintang dan bulan, atau bayangan tubuhku sendiri.

Sihir ini memungkinkan objek yang diwujudkan untuk digunakan sebagai senjata terus-menerus hingga sihirnya dilepas. Terlebih lagi, massa dari bayangan tersebut setara dengan objek aslinya.

Karena palu ini kubuat dari bayangan dua pohon besar yang masing-masing sebatang tubuh orang dewasa, kekuatannya sudah lebih dari cukup untuk meledakkan pintu itu.

Sebagai pengendali bayangan tersebut, aku sama sekali tidak merasakan beratnya…… Sungguh menakjubkan ini hanya sihir Tingkat 3. Guru yang mengetahui sihir seperti ini memang luar biasa.

"Nah, aku ini tipe orang yang tidak suka repot…… aku tidak mau membuang waktu secara percuma!! Aku tidak punya niat bermain petak umpet, jadi terserah kalau mau sembunyi, tapi jangan harap kalian bisa terus bersembunyi dariku!!"

Namun, meskipun aku sudah meledakkan pintu dan masuk ke dalam, tidak ada yang menyambutku. Aku pun mulai mencari target buruanku menggunakan bayangan di kediaman ini.

"Aku penasaran tikus macam apa yang masuk, ternyata cuma satu ekor ya. Mengecewakan. Padahal kalau datang lebih banyak, aku bisa membunuh lebih banyak juga……"

"………………Siapa kamu? Urusanku adalah dengan pemilik rumah ini!! Sayang sekali, itu bukan kamu!! Aku tidak ingin melakukan pembunuhan yang tidak perlu, jadi jika tidak ingin mati sebaiknya kau………… Kamu, sepertinya sudah membunuh cukup banyak orang ya. Sayang sekali, saat ini juga kamu masuk ke dalam daftar target pembersihanku!! Sesalilah dosa-dosa yang telah kau lakukan selama ini!!"

Tiba-tiba, sebuah tebasan meluncur ke arahku. Aku menghindarinya dengan backstep sambil melihat ke arah datangnya serangan.

Seorang pria raksasa dengan otot berlebihan setinggi lebih dari dua meter sedang berjalan ke arahku sambil memanggul pedang besar sepanjang tinggi tubuhnya.

"Kau pikir bisa menang melawanku? Wanita kecil yang tingginya bahkan tidak seberapa dan ototnya tidak ada apa-apanya dibanding aku? Lawan aku? Bermimpilah! Yah, nanti setelah puas bermain-main denganku, baru aku akan membunuhmu!!"

"Terserah kalau kau ingin berasumsi soal kekuatanku, tapi saat kau menilai seseorang hanya dari penampilan, kau bukan lagi kelas tiga, tapi sudah di bawah kelas empat."

Aku langsung melompat ke arah pria raksasa yang merasa sudah menang hanya dari penampilan luar itu. Aku mengubah paluku menjadi bentuk pedang dan mengayunkannya ke bawah.

"Hmph, serangan monoton begitu mana mungkin mengenaku? Tak disangka orang yang berani menyerang kediaman bangsawan ternyata cuma amatir dalam bertarung……… Gnugh?!"

"Luar biasa, tidak salah kau disewa sebagai pengawal! Dalam sekejap kau menyadari tidak bisa menahan seranganku dan langsung mengubah arah untuk menepisnya! Tapi, kesalahan penilaianmu saat mencoba 'menahan' seranganku meski hanya sesaat, sepertinya harus dibayar mahal ya!"

Pria itu mencoba menahan seranganku secara frontal, tapi tentu saja dia tidak kuat menahan tebasan pedang yang dibuat dari bayangan dua batang pohon.

Dia memang sempat mengubah arah untuk menepisnya, namun kesalahan penilaian sekejap itu membuat bahu kirinya tertebas putus.

"Lagi pula, membuang waktu melawan kroco sepertimu hanya akan membuat target utamaku kabur, jadi mari kita selesaikan dengan cepat!"

"Berhenti…… Agyakh!"

Aku mengeluarkan bayangan batu besar dari bukit belakang desaku yang sudah kusimpan dalam Shadow Manifestation di dalam kantong kecilku.

Aku membentuknya menjadi plat datar lalu menjatuhkannya tepat di atas pria raksasa itu. Dia mencoba menahannya dengan Physical Boost, namun sia-sia; dia hancur tergilas dengan mudah.

"……Bahkan dengan Physical Boost pun kau tidak sanggup menahan berat segini, payah sekali."

Taktik 'mewujudkan bayangan benda bermassa besar dan membawanya untuk berjaga-jaga' ini juga diajarkan oleh Guru.

Aku kagum dengan cara penggunaan karakteristik Shadow Manifestation yang membuat benda tersebut tidak terasa berat bagi penggunanya sendiri.

Terang saja, orang yang bisa menahan serangan ini secara telak mungkin hanyalah Guru dan para budaknya. Memang benar-benar Guru.

"Sicil, semua barang berharga sudah kumasukkan ke dalam bayangan!"

"Semua budak yang dikurung juga sudah dibebaskan!"

"Ada pengawal lain tadi tapi mereka lemah banget!"

"Pemasangan penghalang agar target tidak kabur sudah selesai!"

Tepat di saat itu, anggota tim yang bertugas bersamaku dalam misi ini telah menyelesaikan tugas mereka masing-masing dan berkumpul di dekatku.

"Sepertinya aku yang paling terakhir selesai ya, tapi ini salah orang bodoh yang hancur di sini. Dan target pembersihan adalah mangsaku, jadi jangan ikut campur kecuali aku benar-benar dalam bahaya!"

Karena seolah-olah aku yang paling lambat bekerja, aku melemparkan semua tanggung jawab pada onggokan daging mantan pria raksasa yang sudah hancur seperti katak ini. Kami pun menuju ruang bawah tanah tempat target berada.

"……Ini mengerikan……"

Begitu turun ke bawah tanah, bau tak sedap yang belum pernah kucium sebelumnya langsung menusuk hidung.

Di hadapanku terbentang sosok-sosok yang dulunya manusia, yang sepertinya telah menjadi subjek eksperimen tubuh manusia dan kini hanya sekadar 'masih hidup'.

Mereka terkurung di dalam jeruji, mengeluarkan suara-suara rintihan yang bahkan tidak lagi terdengar seperti kata-kata.

Aku tahu target pembersihan ini melakukan eksperimen manusia, tapi melihatnya secara langsung memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar informasi tertulis.

"Huekk……!!"

"…………Tak dimaafkan……!"

"……Tega sekali melakukan hal sekejam ini……"

"Ini perbuatan iblis……"

Pemandangan ini juga sangat mengguncang bagi para bawahan yang ikut bersamaku, dan terlihat jelas kemarahan di mata mereka. Untungnya, tidak ada dari mereka yang dalam kondisi akan mati saat ini juga.

Namun itu artinya, jika kami tidak datang, mereka akan terus menderita selama bertahun-tahun di sini…… Kenyataan itu membuat kami semakin geram. Mari kita bunuh dia. Pasti.

Di bagian terdalam ruangan yang sepertinya dibuat sebagai arena latihan, target pembersihan kami berada di sana.

"…………Selamat datang, kalian semua. Tapi sayang sekali, kalian akan mati di sini. Karena aku akan mati, lebih baik kalian ikut menemaniku!"

Target pembersihan kami, Brett Language, berkata demikian sambil membuka botol di tangannya dan menenggak habis isinya.

"Ugugugugagagaga, ugugigigigigiaaaaaahhhhhhhhh!!!!"

Seketika, tubuh Brett berubah menjadi hitam, bertransformasi dari tubuh manusia menjadi sosok seperti monster.

"Meminum ini akan membuatku mati dalam beberapa jam, tapi sampai saat itu tiba, aku akan memiliki kekuatan yang mendekati dewa…… Rasanya benar-benar luar biasa!! Sekarang aku merasa sanggup menjatuhkan Kekaisaran sendirian!!"

"Sayangnya, itu tidak mungkin!"

"Hah?"

"Karena ada Guruku!!"

"…………Aku tidak tahu seberapa kuat gurumu, tapi akan kuajarkan padamu lewat kematianmu bahwa aku jauh lebih kuat!! Dasar anjing Kaisar!!"

Brett pun menerjang ke arahku.

"Jika kau pikir aku tidak menyiapkan apa-apa, kau terlalu meremehkanku! Saat kau meminum cairan aneh, berubah menjadi sosok buruk rupa, dan bicara omong kosong, mana mungkin aku tidak menyiapkan serangan balasan!!"

Begitu aku selesai bicara, tubuh Brett langsung terpotong-potong menjadi kotak-kotak kecil seperti daging dadu.

"Aga…………… Ahe?"

Itulah penggunaan sihir Shadow Manifestation yang diajarkan Guru. Kegunaannya bukan hanya untuk menciptakan senjata berat.

Sihir ini bisa digunakan untuk membuat bentuk burung atau kuda untuk transportasi, atau seperti yang kulakukan pada Brett barusan: menciptakan benang-benang yang sangat tipis hingga tak kasat mata.

Brett yang menerjang dengan energinya sendiri malah terpotong-potong oleh benang-benang itu.

"………………………Ha, hampir saja…… kalau bukan karena tubuh ini, aku pasti sudah mati saat itu juga. …………Beraninya, beraninya kau melukaiku!! Luka yang sangat dalam pula!! Gara-gara ini, waktu durasi tubuh ini berkurang sampai setengahnya!!"

"Sepertinya memang tidak bisa mati hanya dengan dipotong-potong ya! Tapi tidak masalah!! Bajingan sepertimu tidak akan bisa menang melawanku, apalagi melawan Guru. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa diubah!!"

Benar saja, potongan-potongan daging itu mulai bergerak dan menyatu kembali seperti slime. Brett kembali ke wujud buruk rupanya. Namun Brett tidak menyadari sesuatu.

"Kalau begitu giliran seranganku. Karena menerjang membabi buta hanya akan berakhir sama, sekarang aku akan menyerang dengan sihir!! Lihat dan gemetarlah!! Sihir Tingkat 8 yang melampaui ranah manusia!! Fire Magic Tingkat 8──"

"Aku tidak bisa membiarkanmu menggunakan sihir skala besar di bawah tanah begini!! Dark Magic Tingkat 2, Exploding Darkness."

"Agyakh?!"

Tentu saja aku tidak bisa membiarkan sihir Tingkat 8 digunakan di bawah tanah.

Di saat potongan terakhir daging Brett baru saja akan menyatu kembali, aku sudah memasang sihirku di dalam tubuhnya. Begitu dia utuh, aku mengaktifkannya.

Sihir yang kupasang adalah sihir yang akan meledak saat diaktifkan.

Kekuatan ledakannya memang tidak seberapa jika hanya satu, tapi dengan jumlah sebanyak itu, Brett yang sudah membuang kemanusiaannya pun tidak punya cara untuk bertahan.

Potongan daging Brett kembali beterbangan ke segala arah. Untungnya, rekan-rekan setimku menyadari niatku dan memasang penghalang, sehingga kami tidak terkena cipratan dagingnya.

"Hampir saja…… kalau mau meledakkan sesuatu bilang-bilang dong, ih! Untung aku sadar, kalau tidak sekarang kita sudah mandi potongan daging Brett!!"

"Tapi hasilnya kita aman kan, jadi tidak masalah!! Lagipula aku percaya padamu, kau pasti bisa menahan hal sekecil ini!!"

"……Memujiku tidak akan memberikanmu apa-apa tahu! Yah, karena kalau bilang-bilang musuh juga jadi tahu, kali ini kumaafkan."

"Umu, baguslah kalau paham!"

Meskipun aku ditegur karena tidak berdiskusi sebelum memasang sihir ledakan di dalam tubuh Brett, aku bisa melihat potongan daging Brett yang terpental tadi mulai mengumpul lagi.

Kali ini gerakannya terlihat lebih hati-hati dan lambat, sepertinya dia waspada jangan-sampai aku memasang sihir aneh lagi di tubuhnya.

Kami hanya menonton pemandangan itu dengan tatapan dingin.

"Kh…… sial, butuh waktu lebih lama dari yang kukira, dan ukuran tubuhku menyusut jadi dua pertiga dari sebelumnya…… tapi sepertinya tidak ada sihir aneh yang dipasang lagi. Tubuhku memang menyusut, tapi pilihan untuk bergerak hati-hati sepertinya benar. Dan kalian sudah kehilangan kesempatan emas untuk membunuhku!! Dasar rakyat jelata bodoh!! Karena bodohlah kalian tidak mendengarkan perintah bangsawan sepertiku, padahal kalau kalian patuh, kalian tidak perlu mati di sini!!"

"Tapi kami akan dijadikan subjek eksperimen, kan?"

Brett bilang tidak perlu mati, tapi paling kami hanya akan dibiarkan hidup untuk disiksa sebagai kelinci percobaan. Saat aku menanyakan hal itu, ekspresi Brett mendadak cerah seperti anak kecil yang memamerkan hasil karyanya pada orang tua.

"Ah, kau sudah melihat ke sana? Bagaimana menurutmu mahakarya-mahakaryaku? Indah, bukan?! Aku bukan hanya mengubah sampah-sampah itu menjadi karya seni, tapi aku juga memberikan makna bagi eksistensi sampah-sampah itu lahir ke dunia!! Kekuatan ini aku dapatkan dari obat yang tercipta berkat sampah-sampah itu…… sayang sekali aku belum bisa menyempurnakannya!!"

Singkatnya, orang ini memang sampah.

"Begitu ya…… tapi kalau kau cuma bisa membuat benda sampah seperti itu, berarti kau memang tidak punya bakat! Kasihan sekali mereka dipermainkan oleh orang yang tidak berbakat sepertimu……"

Bahkan jika itu Guru, aku yakin beliau pasti bisa membuat sesuatu yang jauh lebih baik.

Tanpa harus membuat orang-orang itu menjadi buruk rupa, dan sejak awal beliau tidak akan melakukan eksperimen kejam seperti itu…… Membandingkannya dengan Guru memang seperti membandingkan Dewa dengan manusia; perbedaannya terlalu jauh.

Tapi karena orang ini menyebut dirinya Dewa atau mendekati Dewa, mau bagaimana lagi jika aku membandingkannya.

"…………Sepertinya kau jadi besar kepala karena tadi bisa bergerak sesukamu melawanku, tapi mulai sekarang tidak akan semudah itu! Aku sudah melihat semua trikmu, aku tidak sebodoh itu sampai terkena trik yang sama dua kali."

Sepertinya provokasiku benar-benar menusuk egonya. Bahkan dengan wajah yang hampir tidak berbentuk manusia lagi, sangat mudah melihat betapa marahnya Brett sekarang.

"Sederhana sekali ya. Jika tidak bisa mengumpulkan seluruh potongan daging, kau membuat klon berukuran sepertiga dari sisa daging tersebut, lalu saat perhatianku tertuju pada tubuh aslimu, klon itu akan menyerang…… bahkan aku pun terpikir taktik semudah itu!"

"Pigyakh?!"

"Sekalian saja, tubuh aslimu akan kubakar sampai jadi abu!! Fire Magic Tingkat 4, Hellfire of Wrath."

"Kenapa bisa ketahuan…… kh, panaz panaz panaz panaz panaz panaz panaz panaz panaaaaaaazzzzzzzzz…………!"

Brett mungkin mengira serangan kejutannya akan berhasil, tapi tatapan matanya terlalu jujur.

Lagipula, aku tidak percaya potongan daging yang tidak ikut menyatu akan lenyap begitu saja, jadi dugaanku soal dia membuat klon terbukti benar.

Klon yang baru saja akan menyerangku langsung kuhancurkan dengan mengubah bayangan menjadi palu, sementara tubuh aslinya kubakar dengan sihir api sampai hangus tak bersisa.

"Ih!! Kan sudah dibilang berkali-kali oleh Guru kalau memakai sihir api di ruang bawah tanah atau tertutup itu berbahaya karena 'nisankatanso' atau 'issankatanso' apalah itu!!"

"U-uh, maaf. Aku agak keasyikan tadi……"

Sebagai beres-beres, rekan Dark Elf-ku menggunakan sihir angin untuk ventilasi sambil mengomel padaku.

Memang aku ingat saat Guru menggali lubang dalam dan luas untuk menaruh monster sebagai eksperimen.

Saat sihir api terus digunakan di dalam lubang dengan jarak yang tidak melukai monster, entah kenapa monster yang seharusnya tidak terluka itu tiba-tiba mati seolah-olah tertidur.

Saat itu dia menjelaskan banyak hal, tapi aku ingat ringkasan singkatnya di akhir; katanya, membakar api akan meningkatkan jumlah racun (sejenis itu) yang tidak terlihat.

Di antaranya, zat bernama Carbon Dioxide itu lebih berat dari udara, sehingga monster yang ada di dalam lubang itu mati.

Racun itu sangat kuat, dan konon jika mencapai konsentrasi tertentu, seseorang akan pingsan lalu mati tanpa pernah terbangun lagi.

Mengingat aku hampir saja membunuh teman-temanku, keringat dingin mengalir saat aku menyadari betapa gawatnya situasi tadi.

"Tapi, Tuan berpesan agar kita bergerak dalam tim dan bukan sendirian supaya jika ada yang berbuat salah, yang lain bisa membantu. Kurasa tidak masalah asal kamu berhati-hati lain kali. Terkadang Tuan memang terasa terlalu protektif, tapi itu semua demi keselamatan kita."

Rekan timku yang berwujud manusia segera menimpaku dengan kata-kata yang menenangkan.

Bagaimanapun, ini adalah tim yang solid dan saling peduli. Aku berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak menjadi manja pada mereka dan kembali memantapkan fokus.

Sebagai pemimpin, tidak keren rasanya kalau aku hanya menjadi beban bagi tim.

"Terima kasih...! Kalau nanti aku mulai kehilangan kendali lagi, tidak apa-apa pukul saja aku agar berhenti!!"

Aku kembali memastikan ikatan di antara anggota tim kami, memperdalamnya sembari menunggu Brett beregenerasi sekali lagi.

── Sisi Brett ──

Sudah berapa kali aku bangkit kembali...?

Setiap kali bangkit, wanita di depanku ini akan menghancurkanku, mencincangku, membakarku, membekukanku, lalu meremukkanku. Aku bahkan sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali aku telah beregenerasi.

"I-Iblis... beraninya kau memperlakukanku seperti ini... Kau pikir Tuhan akan memaafkanmu...?! Tidak, bahkan jika Tuhan memaafkanmu, Beliau tidak akan tinggal diam!!"

"Hanya itu yang ingin kau katakan? Kalau begitu, sekarang kau ingin tubuhmu dihancurkan dengan metode apa?"

"B-Berisik!! Melakukan tindakan sekejam, sebiadab, dan serendah ini dengan wajah datar... kalian pasti iblis yang tidak punya hati manusia!! Kalian pasti akan diadili oleh Tuhan, dan meski Tuhan memaafkan, kalian akan diadili oleh tangan mulia pendiri organisasi kami!!"

Mereka pikir manusia itu apa? Bermain-main dengan nyawa manusia sesuka hati seperti anak kecil yang menyiksa katak atau belalang.

Ini bukan perbuatan yang bisa dilakukan manusia.

Saat aku meneriakkan itu kepada wanita yang tampak senang mendiskusikan cara untuk meremukkan tubuhku berikutnya, wanita itu menyipitkan mata dengan gembira dan membuka mulutnya.

"Akhirnya kau paham juga, ya! Betapa kejam, biadab, rendah, dan menyerupai iblis tindakan yang kau lakukan terhadap budak-budak yang kau kumpulkan secara ilegal selama ini!!"

"A-Apa yang kau bicarakan...? Yang kujadikan bahan eksperimen itu rakyat jelata, tahu! Jangan samakan aku dengan mereka!!"

Lalu wanita itu bersikeras bahwa apa yang kulakukan selama ini adalah hal yang sama.

Aku benar-benar tidak mengerti.

Bukankah rakyat jelata itu adalah sesuatu yang bukan manusia? Apa salahnya melakukan eksperimen pada makhluk seperti itu? Aku bersumpah belum pernah sekalipun menjadikan bangsawan sebagai bahan eksperimen...

Di situ aku menyadarinya.

Mungkin saja mereka salah paham dan mengira aku telah melakukan eksperimen terhadap kaum bangsawan selama ini.

"...Begitu ya, pantas saja aku merasa aneh. Aku terus memikirkan alasan mengapa aku harus mengalami nasib seperti ini... sepertinya kalian salah paham...!! Semua yang kujadikan eksperimen selama ini adalah rakyat jelata, aku tidak pernah bereksperimen pada bangsawan!!"

Nah, sekarang kalian sudah tahu kalau ini salah paham, kan?

Sisanya, mereka hanya perlu meminta maaf padaku──

Kupekk.

"Karena aku sangat kesal, tanpa sadar aku meremukkannya dengan palu..."

"Yah, mau bagaimana lagi, aku pun sulit menahannya kalau ini."

"Bocah bodoh ini benar-benar menerima karma atas perbuatannya sendiri."

"Kalau Sicil-san tidak melakukannya, aku yang akan maju."

"Ada pepatah yang bilang kalau orang bodoh tidak akan sembuh sampai mati."

Kenapa...?

Padahal aku sama sekali tidak menyentuh bangsawan...

Kini aku bahkan tidak punya tenaga lagi untuk kembali ke wujud semula. Di tengah kesadaran yang kian memudar, aku tetap tidak mengerti mengapa aku harus diperlakukan sejauh ini, dan perlahan duniaku menjadi gelap.

Sekalipun bisa kembali ke wujud asal, mungkin ini adalah batas terakhirnya...

Tadinya aku tidak ingin menggunakan ini.

Jika aku meminum ramuan pemulih tingkat tinggi selagi masih sadar, mungkin masih ada peluang untuk kembali menjadi manusia meski dengan efek samping... Namun jika aku meminum cairan itu sekali lagi, aku tidak akan pernah bisa menjadi manusia lagi, bahkan jiwaku mungkin akan lenyap dari dunia ini...

Tapi, daripada terus dihina oleh mereka sampai eksistensiku lenyap... lebih baik aku membawa mereka mati bersamaku.

Dan seperti biasa, sambil memupuk niat membunuh terhadap empat wanita yang menatapku dengan pandangan merendahkan saat aku sedang berproses menyatu kembali, aku merogoh sisa satu botol kecil dari pakaianku yang jatuh di tanah dan meminumnya tanpa ragu.

"......Sepertinya level yang ini agak gawat juga..."

"Ini sudah level dewa jahat yang membuang wujud manusianya, ya."

Ah, rasanya luar biasa.

Melihat wajah-wajah mereka yang selama ini menjadikanku mainan kini berubah pucat karena ketakutan...

"Tapi tetap saja... penampilannya jauh lebih menjijikkan dari sebelumnya... Menjijikkan."

"Kelihatannya bau..."

"Kelihatannya juga bodoh."

Kenapa mereka bisa begitu tenang...?!

Aneh... aneh, aneh, aneh...!!

Seolah-olah mereka sama sekali tidak takut padaku!!

Tidak mungkin!!

Padahal aku sudah mengorbankan nyawa bahkan jiwaku untuk melakukan Physical Boost ini...!

Meskipun aku merasakan kekuatan yang luar biasa hingga merasa ini bukan tubuhku lagi, kegelisahan yang bergejolak di hatiku tidak kunjung hilang, malah semakin membesar saat menatap mereka.

"B-Berisik!! Mana mungkin aku kalah dari orang-orang seperti kalian!! Sudah pasti begitu!!"

Dengan tubuh ini, aku tidak perlu lagi merapal mantra untuk menggunakan sihir! Bahkan sihir Tingkat 10 pun bisa kugunakan setidaknya sekali!!

Jika aku harus mati, kita mati bersama. Karena aku akan mati juga, lebih baik kulepaskan sihir Tingkat 10 dan menyeret mereka semua!!

"Bahkan kalian pun tidak akan bisa menangkis sihir ini!!"

Sejak kecil, aku selalu ingin menggunakannya suatu saat nanti, dan aku percaya bahwa aku pasti bisa.

Seiring aku beranjak dewasa, aku tahu batas maksimal dari seluruh ras termasuk demi-human dan beastman adalah Tingkat 6 sampai 7. Itu pun hanya bagi mereka yang berbakat dari ras Elf atau iblis yang ahli sihir. Bagi manusia biasa tanpa darah Elf atau iblis, Tingkat 6 adalah batas mutlak.

Di saat itulah aku bertemu dengan organisasi milik orang-orang tertentu.

Tujuan mereka adalah mengubah dunia dengan menguasai sihir sepenuhnya, dan pertama-tama mereka meneliti cara agar manusia bisa melampaui batas Tingkat 6.

Di dalam organisasi itu ada Fluda, mantan ketua asosiasi penyihir. Isi penelitiannya benar-benar menjungkirbalikkan akal sehat, dan aku masih ingat betapa jantungku berdebar kencang saat itu.

Aku tidak punya alasan untuk menolak ajakan mereka, bahkan aku sendiri yang ingin bergabung, jadi aku memutuskan masuk tanpa ragu.

Sebenarnya aku tertarik pada sihir di atas Tingkat 6, tapi urusan istriku adalah prioritas utama. Menggunakan petunjuk dari penelitian Fluda, aku mulai meneliti tentang kehidupan abadi.

Selama proses itu, banyak hal terjadi termasuk terbongkarnya kejahatan Fluda hingga dia dieksekusi, tapi aku akhirnya berhasil menyelesaikan obat ini.

Bisa dibilang, ini adalah hasil penelitian yang dipandu oleh istriku.

Puncak dari segalanya, sihir Tingkat 10 yang selalu kukejar... akhirnya bisa kugunakan dengan tanganku sendiri.

Bahkan jika itu harus dibayar dengan nyawaku, aku berani bilang bahwa ini sangat sepadan.

Namun, sihir yang seharusnya kulepaskan tanpa rapalan itu tidak kunjung aktif, waktu terus berlalu tanpa terjadi apa pun...

"......Apa yang sebenarnya terjadi?! Aku yakin telah merapalkan sihir Tingkat 10!!"

"Ah, sihir itu sudah kuhapus."

Saat aku menoleh ke arah suara itu, aku melihat seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun berjalan santai ke arah sini.

Di samping pemuda itu, para wanita bertopeng tadi berlutut dan menundukkan kepala mereka.

Hanya dengan melihat pemandangan itu, aku langsung tahu.

Siapa pemimpin dari orang-orang ini.

"O-Oooooohhh... Kau rupanya!! K-K-K-Kau yang telah menghalangiku!!"

Aku sadar suaraku bahkan sudah tidak bisa keluar dengan benar lagi.

Setelah menggunakan mana untuk sihir Tingkat 10 tadi, aku bisa merasakan tubuhku hancur lebih cepat dari sebelumnya.

"Soal itu, dibilang benar ya benar, dibilang salah ya salah. Memang aku yang mendidik mereka, tapi dalam kasus ini inisiatif mereka sangat tinggi. Terlebih lagi, dalang sebenarnya adalah orang yang mengirimkan daftar target pembersihan kepadaku. Tapi karena mereka yang memilihmu sebagai target dan aku yang memberi izin, kurasa bisa dibilang aku yang menghalangimu?"

"Guhhhhh... Itu semua t-t-t-tidak penting!! Bagaimana cara kau menghapus sihirku, sihir Tingkat 10?! Kenapa kau menghapusnya?! Padahal itu adalah puncak dari seluruh k-k-k-kehidupanku!!"

Pemuda itu menjawab pertanyaanku dengan sopan, tapi bagiku itu sudah tidak penting lagi. Aku berharap bisa melihat sihir Tingkat 10 tapi diganggu, dan kini aku hanya bisa menunggu eksistensiku lenyap tanpa bisa mencapainya. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Kemarahan dan kebencian yang belum pernah kurasakan sebelumnya bangkit dari lubuk hatiku terhadap pemuda ini.

"Tentu saja aku akan datang jika mendapat laporan dari rekan berhargaku bahwa ada kemungkinan bahaya nyawa. Dan jika di depanku akan dilepaskan sihir Tingkat 10, tentu akan kunetralkan, kan? Karena itu berbahaya. Untungnya, sihir yang ingin kau lepaskan tidak memperhitungkan Counter Spell, kau sama sekali tidak punya pertahanan terhadapnya. Berkat itu, aku bisa menghapusnya bahkan dengan sihir tingkat rendah seperti sihir air Tingkat 2. Semakin tinggi tingkatannya, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk merapalkannya, kan?"

Dan dengan santainya pemuda itu bilang dia menghapusnya dengan 'sihir air Tingkat 2'.

"T-Tidak mungkin... tidak boleh terjadi... h-h-h-hal seperti itu... Sihir Tingkat 2 menghapus sihir Tingkat 10... t-t-t-tidak mungkin itu boleh terjadi!!"

Jangan bercanda!!

Tubuhku mungkin tidak akan bertahan sepuluh menit lagi.

Tapi, harga diriku tidak mengizinkanku hanya menunggu binasa di sini.

Setidaknya aku harus memberikan satu serangan balasan kepada orang yang telah meremehkanku sampai sejauh ini.

Dengan tubuh ini memang sulit untuk merapal, tapi untungnya pikiranku masih jernih. Jika tanpa rapalan, aku masih bisa menggunakan sihir.

Meski tidak bisa Tingkat 10, sihir sampai Tingkat 7 masih bisa kugunakan tanpa rapalan dengan tubuh ini.

Tadi aku memang kaget saat sihir Tingkat 10-ku dihapus, tapi jika dipikir kembali, tidak mungkin menghapus sihir Tingkat 10 dengan Tingkat 2.

Jika kupikir sedikit saja, itu pasti bohong agar mental ku hancur.

Dan sihir yang bisa menetralkan Tingkat 10 pasti bukan sesuatu yang bisa digunakan berkali-kali.

Karena aku masih bisa menggunakan sihir yang mustahil dilakukan oleh tubuh manusia biasa, aku akan mengelupas topeng kepalsuannya.

"......Sepertinya kamu masih ingin mencoba."

"T-T-T-Tentu saja. Ma-ma-ma-mana mungkin aku mati begitu saja...! Aku akan me-me-me-menyeretmu bersamaku...!!"

Melihatku yang belum kehilangan semangat tempur, lawan menatapku dengan ekspresi sedikit terkejut.

Dia mungkin mengira mentalku sudah hancur dan aku hanya akan menonton diriku lenyap, tapi kesalahannya adalah meremehkan kegigihanku.

Sambil berpikir begitu, aku merapalkan sihir api Tingkat 7 tanpa rapalan, Jaw of Raging Fire.

Tingkat 7 adalah level yang mustahil dipelajari manusia, bahkan High Elf yang bisa menggunakannya pun bisa dihitung dengan jari.

Memang kekuatannya turun jika dibanding Tingkat 10, tapi ini tetap sihir level yang mustahil ditangani dengan cara biasa.

Dalam catatan sejarah perang masa lalu, satu sihir ini saja bisa menjatuhkan korban hingga ratusan orang.

Namun, dia justru merapalkan sihir air berbentuk tombak tanpa rapalan—setahuku itu Tingkat 3, Water Spear—dan menembakkannya ke arah Jaw of Raging Fire.

Hanya sihir Tingkat 3, meski itu elemen air yang unggul sekalipun, tidak mungkin bisa meniadakannya.

Mungkin lawan sengaja menggunakan sihir tingkat rendah yang unggul atas api demi menghemat mana, tapi menggunakan Tingkat 3 itu benar-benar terlalu meremehkanku.

Namun, di luar dugaanku, sihir lawan dengan mudah menghancurkan Jaw of Raging Fire dan membuat lubang besar di perutku.

Tidak mungkin.

Secara teori, tingkat sihir yang bisa ditiadakan oleh elemen yang unggul adalah sihir dengan selisih dua tingkat di bawahnya. Dalam hal ini, secara logika setidaknya butuh Tingkat 5 untuk bisa meniadakannya.

Bagi sihir Tingkat 3 untuk bukan hanya meniadakan, tapi malah mengalahkan sihir Tingkat 7, meski dengan elemen yang unggul sekalipun, itu adalah hal yang tidak boleh terjadi.

"............A-A-Apa yang kau lakukan, hah?!"

Satu-satunya yang terpikir olehku adalah dia berpura-pura menggunakan Tingkat 3 padahal menggunakan sihir lain.

Itulah alasan kenapa dia repot-repot menggunakan sihir tanpa rapalan yang memakan banyak mana...

Namun, meski aku tahu metodenya, aku tetap tidak paham apa yang dilakukannya, sehingga aku reflek bertanya.

"Hah? Apa yang kulakukan? Aku cuma menggunakan sihir air Tingkat 3, Water Spear, kok."

"Ja-ja-ja-jangan bohong!!"

"Dibilang bohong pun... itu kenyataannya. Baiklah, kalau begitu kali ini aku akan merapalnya dengan benar. Sihir air Tingkat 3, Water Spear."

".............Apa?"

Lalu pemuda itu menjawab dengan nada malas, dan kali ini dia benar-benar merapal mantra untuk memanggil Water Spear.

Dan bukan hanya satu, tapi jumlahnya sampai menutupi seluruh area sekitarku.

Ja-jangan bercanda.

Dia memang memanggil Water Spear, tapi memanggil sebanyak itu sekaligus bukanlah kemampuan manusia.

Konon di dunia ini ada orang yang bisa menggunakan dua sihir yang sama sekaligus, tapi itu pun hanya sihir Tingkat 1. Aku tidak pernah mendengar ada penyihir yang bisa menggunakan lebih dari dua sekaligus.

Tapi pemuda ini, di depan mataku, benar-benar menggunakan sihir Tingkat 3 dalam jumlah yang tak terhitung.

Jika benar apa yang dikatakannya, bahwa dia mengalahkan Jaw of Raging Fire milikku hanya dengan Water Spear, saat memikirkan itu, alih-alih rasa takut, aku merasakan perasaan yang mendekati rasa kagum dari lubuk hatiku.

Dia adalah sosok yang bisa melakukan hal-hal luar biasa itu dengan wajar.

Mungkin bagi dia, mengalahkan Jaw of Raging Fire dengan Water Spear adalah hal yang sangat mudah.

Ternyata sihir jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Mengetahui hal itu di saat-saat terakhir, aku merasa sedikit menyesal, 'Seandainya aku bisa meneliti sihir lebih dalam lagi...'

Meski begitu, aku tidak akan menyerah sampai akhir.

Jika tadinya aku ingin membalas dendam padanya, sekarang alasanku berubah menjadi 'aku ingin mengintip sedikit saja ke dalam jurang terdalam sihir milik orang ini'.

Dan saat aku merapalkan Jaw of Raging Fire tanpa mantra, dengan lihainya dia hanya melepaskan satu Water Spear, menghancurkan sihirku, dan melubangi tubuhku untuk kedua kalinya.

Jika saja aku memiliki bakat dan kemampuan sehebat dia... apakah aku bisa menyelamatkan istriku...?

Sambil memikirkan itu, terakhir kalinya aku merapalkan sihir non-atribut tanpa mantra, Appraisal.

Lalu, apa yang kulihat?

Jumlah Skill yang dimiliki pemuda ini... jumlahnya jauh melampaui seratus.

Di dalamnya tentu ada skill untuk meningkatkan kekuatan sihir air, dan sepertinya dia juga punya skill untuk menggandakan sihir...

Pantas saja aku tidak bisa menang...

Dan di saat berikutnya, ribuan tombak air menembus tubuhku.

Karena ini bukan tubuh manusia, aku masih bisa mempertahankan kesadaran, tapi sepertinya aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk beregenerasi. Butiran cahaya mulai meluap dari tubuhku, dan aku mulai hancur.

Meski terhindar dari kematian instan, sepertinya tubuhku sudah mencapai batasnya.

Kini aku bahkan tidak bisa merapalkan sihir Tingkat 1 sekalipun.

"Guh............. Se-se-se-setidaknya, di saat terakhir, aku i-i-i-ingin melihat sihir Tingkat 10 dengan mataku sendiri...!"

"............Karena kasihan kalau kamu mati begitu saja, aku akan menunjukkannya di akhir. Sihir Kegelapan dan Api Tingkat 10, Infinite Hell."

"A-Apa...! Sihir yang menggabungkan dua elemen, a-a-a-aku belum pernah mendengarnya?! Sihir apa itu?! T-Tapi... itu tidak penting... Ini dia sihir Tingkat 10... dan seorang manusia sedang menggunakannya. Tanpa harus menyiksa jiwanya sendiri seperti aku...!"

Pemuda di depanku tampak berpikir sejenak, lalu setuju untuk memperlihatkan sihir Tingkat 10 padaku. Dia menggunakan sihir yang menggabungkan sifat kegelapan dan api.

Aku belum pernah mendengar sihir yang menggabungkan elemen berbeda, jadi sesaat aku merasa tertarik. Namun dibandingkan sihir Tingkat 10 itu sendiri, hal seperti penggabungan elemen terasa seperti masalah sepele.

"Ah, ini dia... ini sihir Tingkat 10... Sungguh agung!! Sepertinya aku telah salah memilih tuan untuk kulyani... Jika saja aku bertemu pemuda ini lebih cepat daripada Beliau... pasti masa depanku akan berbeda dan bahagia... penyakit istriku akan sembuh, dan putraku tidak akan melakukan hal bodoh..."

Pasti akan ada masa depan yang jauh lebih baik.

Konon iblis terkadang mendekati manusia dengan wajah seperti malaikat untuk menipu.

Jika begitu, mungkin Beliau adalah iblis bagiku.

Dan sekalipun pemuda ini adalah iblis, jika dia mau memperlihatkan sihir Tingkat 10 padaku, maka bagiku dia adalah malaikat.

............Ah...... satu-satunya penyesalanku di akhir adalah aku tidak bisa melihat senyuman istriku lagi...




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close