NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 10

Chapter 10

Anak-Anakku yang Berbakat


── Sisi Seorang Miliarder ──

"Heh!! Jangan lelet begitu, Dasar Dongok!! Benar-benar nggak berguna ya, kamu!! Kamu tahu nggak, berapa harga yang harus kubayar buat membelimu, hah?!"

Aku berteriak kasar sambil menendang budak di depanku hingga terpental.

Budak itu hanya meringkuk ketakutan sambil terus bergumam seperti kaset rusak, "Mohon maaf, Tuan... Mohon maaf..."

Yah, wajar saja dia begitu. Aku memang tidak memberikan instruksi spesifik tentang apa yang harus dia lakukan.

Tentu saja dia tidak paham apa yang salah, atau apa yang harus diperbaiki. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah meringkuk dan memohon ampun.

Aku menatap budak itu sembari menyesap wine. Sisa isinya sengaja kutumpahkan tepat di atas kepalanya.

Momen seperti ini selalu berhasil membuat sekujur tubuhku bergetar karena sensasi kesenangan yang luar biasa.

"Kalau kamu cuma bisa meringkuk nggak jelas begini, besok mending kubuang saja kali, ya?"

"Mohon maaf, Tuan! Mohon maaf!"

"Cih, aku bahkan ragu apa kamu benar-benar merasa bersalah. Kalau iya, harusnya kamu berusaha memperbaiki diri biar nggak kena semprot begini. Tapi lihat dirimu?"

"Sampai sekarang pun kamu masih nggak paham maksudku dan terus-terusan kena marah... Itu karena kamu berpikir, 'yang penting minta maaf biar masalah cepat kelar', kan?"

Ah, aku seolah bisa mendengarnya. Jeritan keputusasaan yang memancar dari jiwa budak ini.

Budak ini hasil curian dari desa di negara tetangga. Aku membelinya dengan harga selangit lewat jalur ilegal.

Bayangkan saja. Suatu hari tiba-tiba diculik, dibawa ke negara asing, dijadikan budak, lalu disiksa habis-habisan.

Hanya dengan membayangkan situasinya saja, rasa nikmat langsung menjalar ke seluruh sarafku.

Ah, rasanya benar-benar seperti menjadi Tuhan saat aku bisa mengendalikan hidup orang lain sesukaku.

"Kalau begitu, sekarang coba kamu pikirkan baik-baik. Kenapa sebentar lagi aku akan menghajarmu? Jawab!"

"Ugh-ekh?!"

Tepat di saat suasana hatiku sedang berada di puncak, tiba-tiba seseorang meninju pipi kananku dari belakang.

Benturan itu begitu keras hingga beberapa gerahamku patah dan terpental ke lantai.

"Siapa... siapa kalian...?! Di mana para pengawal?!"

"Begitu masuk ke ruangan ini, aku sudah memasang Barrier yang hanya mengizinkan orang-orang pilihanku untuk lewat. Jangan berharap pada pengawalmu."

"Yah, sebenarnya tanpa Barrier pun, pengawal sewaanmu itu bukan tandingan kami. Tapi aku sedang berusaha meminimalisir pembunuhan yang tidak perlu. Lagipula, ini adalah bagian dari Atonement-ku, jadi terasa aneh kalau aku malah menambah dosa baru."

"Oh, ya. Kalau kamu tanya siapa aku, anggap saja aku adalah orang yang datang untuk mengeksekusimu."

Aku mencoba mengenali siapa orang yang baru saja mematahkan gigiku. Ternyata ada seorang pria bertopeng dan tiga orang wanita.

Mereka semua memakai topeng dan pakaian dengan desain yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku mencoba bertanya siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka bisa menyelinap melewati penjagaanku. Tapi si pria itu hanya menjawab bahwa pengawalku bukan tandingannya.

"Masa, sih? Bukannya kamu memasang Barrier karena takut kalah lawan pengawalku? Asal kamu tahu, mereka semua mantan petualang Rank B. Yah, meskipun semuanya dipecat dari Guild karena perilaku buruk."

Karena ada Barrier misterius itu, sepertinya aku tidak bisa melarikan diri ke luar. Jadi, aku sengaja memprovokasinya agar dia melepaskan segel tersebut.

"Kalau mau berpikir begitu, silakan saja. Aku yang sekarang sudah tidak punya harga diri setinggi gunung sepertimu, jadi provokasi murahan begitu sama sekali tidak mempan..."

"Jadi, sudah ketemu jawabannya? Kenapa kamu dipukul?"

"Hah? Mana kutahu! Lagipula hal sepele begitu nggak perlu di—ugh?!"

Namun, dia tidak terpancing. Dia malah mengulangi pertanyaannya. Saat aku menjawab tidak tahu, dia menghajarku lagi.

"Sialan... kamu pikir bakal selamat setelah ini? Akan kutangkap kamu hidup-hidup, lalu kusiksa sampai kamu menyesal telah menyentuhku sebelum akhirnya kubunuh. Camkan itu!"

Sejak awal aku tidak melakukan kesalahan apa pun yang pantas membuatku dipukul, tapi orang ini terus saja menghajarku.

Mana mungkin aku bisa menjawab pertanyaannya.

Ini artinya dia 'menghajarku hanya karena ingin'. Dan apa pun yang kujawab, dia pasti akan bilang salah lalu memukulku lagi.

Aku bersumpah dalam hati akan memberinya siksaan neraka sebelum nyawanya kucabut.

"Ho... siksaan yang membuatku menyesal, ya? Dangkal sekali. Siksaan macam apa pun itu, selama diciptakan manusia, pada akhirnya hanya bisa menyakiti raga. Apalagi ada 'kematian' sebagai garis finis. Benar-benar dangkal."

"……Hah?"

"Hei, apa kamu pernah merasakan neraka yang sesungguhnya? Di mana raga, jiwa, dan mentalmu dibakar habis?"

"Apa sih yang kamu bicarakan—ugeakh?!"

Dia mulai bicara melantur seolah pernah pergi ke neraka. Saat aku ingin menyanggahnya, pipi kananku dipukul lagi.

Karena sejak tadi hanya pipi kanan yang dihajar, wajahku mulai membengkak parah dan hampir seluruh gigi di sisi kanan sudah rontok.

"Yah, mana mungkin kamu pernah. Jadi, sudah paham kenapa kamu dipukul?"

"…………Mana ku—"

"Ngomong-ngomong, aku akan terus memukul sampai kamu paham."

"──Hah?! Jangan bercanda!! Mana mungkin aku paham hal nggak jelas begitu!! Lagian kenapa kamu melakukan ini?!"

"Memangnya apa salahku?!"

"Hah? Bukannya itu tindakan yang baru saja kamu lakukan pada budak itu? Kamu sendiri yang harusnya paling paham kenapa ini terjadi, kan?"

"Yah, meskipun aku tidak punya hobi menjijikkan sepertimu, jadi aku tidak benar-benar mengerti rasanya."

"Abeagh?!"

"Tapi, benar juga... sepertinya terus-terusan menghajar sampah nggak tertolong sepertimu rasanya lumayan juga."

"Hiiih...! Kenapa... kenapa... Aku kan cuma memukul budakku, barang milikku sendiri...! Mau diapakan pun itu kan terserah aku!!"

"Itu kalau kamu membelinya lewat transaksi resmi. Yah, kalau lewat jalur resmi, budak tetap punya hak asasi manusia, jadi kalau kamu memukulnya tanpa alasan, kepalamu bisa melayang. Makanya kamu nggak bisa melakukan itu."

"Tapi, apa bedanya membeli budak ilegal lalu melakukan kekerasan, dengan aku yang melakukan kekerasan padamu sekarang? Tiba-tiba dipukuli oleh orang asing tanpa alasan jelas. Apa bedanya?"

"Sakit... berhenti... ugh... Ma-maaf! Aku minta maaf! Agh! Jadi tolong berhenti memukulku!"

"Lihat! Aku bahkan sampai bersujud begini!! Kamu sudah puas, kan?! Ogh?! Sakit... maaf... Maafkan aku! Maafkan aku! Aku nggak bakal mengulanginya lagi! Jadi tolong jangan pukul lagi!"

"………Waktu budak itu memohon maaf padamu, apa kamu berhenti menyiksanya? Tidak, kan? Bagaimana rasanya berada di posisi yang sama?"

"Ngomong-ngomong, aku bukan orang baik, jadi aku akan terus memukulmu sampai mati."

Sudah berapa kali aku dipukul?

Tulang rahangku sudah hancur berkeping-keping. Jangankan mengunyah, bicara pun sudah tidak bisa. Gendang telinga kananku sepertinya pecah karena guncangan tinjunya hingga aku tidak bisa mendengar apa pun.

Mata kananku juga sudah hancur akibat retaknya tulang rongga mata. Penglihatanku hilang. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi, entah karena rasa sakit atau apa.

Mungkin guncangan di otakku sudah terlalu parah...

Tepat di saat aku memikirkan itu, sebuah benturan yang jauh lebih keras menghantamku dan pandanganku menjadi gelap────────

── Sisi Brett ──

Akhirnya selesai juga. Ternyata lebih cepat dari dugaanku.

Sambil membatin begitu, aku menatap rendah pria yang sudah tak bernyawa itu.

"Sudah selesai?"

"Ya. Sudah."

"Astaga, kamu repot-repot sekali melakukan hal seperti itu. 'Menghabisi lawan dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan'... Tapi yah, rasanya lumayan melegakan. Ayo cepat, kita selamatkan anak berikutnya."

"……Ah, benar juga."

Meskipun aku menyiksa dan membunuh mereka dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan, orang-orang seperti ini tidak akan pernah benar-benar paham betapa menjijikkannya perbuatan mereka.

Mungkin ini hanyalah bentuk kepuasan pribadiku saja.

Meski begitu, aku merasa ini adalah salah satu cara untuk menebus dosaku.

Rasanya terlalu mewah jika orang-orang seperti ini mati dengan cepat tanpa merasakan sakit atau penderitaan sedikit pun.

Sambil memikirkan hal itu, aku pun beranjak menuju lokasi target berikutnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close