NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Aku... Aku akan mengikat kontrak!!


Tidak lama setelah Flame mendaftar sebagai petualang, Ayah menyerahkan sepucuk surat untukku. Ternyata surat itu dikirim oleh pedagang budak tempatku membeli Flame dulu.

Segelnya masih utuh, jadi sepertinya Ayah pun belum mengetahui isinya.

Bagaimanapun juga, aku masih berusia enam tahun. Aku meminta Ayah untuk tetap di sana dan ikut memeriksa isi surat tersebut.

Kalau ini surat dari teman sih tidak masalah, tapi untuk urusan seperti ini, memang sebaiknya didampingi oleh wali.

Ngomong-ngomong, sejak saat itu aku sudah bertukar beberapa surat dengan Fran. Kami bahkan sudah berjanji untuk bertemu bulan depan.

Aku pun mengeluarkan surat dari pedagang budak itu dan mulai membacanya.

Intinya, dia menulis, "Ada budak baru yang masuk dan saya ingin Tuan membelinya. Saya sudah menyisihkannya untuk Tuan. Karena detailnya tidak bisa dituliskan di surat, akan saya jelaskan langsung di toko," dengan bahasa yang sangat sopan.

"Ba-bagaimana menurut Ayah?"

"Yah, kalau Lawrence tidak keberatan, tidak ada salahnya kita pergi melihatnya. Jangan khawatir soal uang."

Sepertinya Ayah sudah bisa menebak isi pikiranku. Beliau mengelus kepalaku sambil memintaku tak perlu mencemaskan masalah biaya.

Akhirnya, aku mengirim surat balasan yang menyatakan bahwa kami akan datang berkunjung satu minggu lagi.

Satu minggu kemudian, aku dan Ayah tiba di toko budak tersebut.

"Saya sudah menunggu Anda, Tuan Lawrence, juga Duke Westgaff."

"Terima kasih atas suratnya. Jadi, budak seperti apa yang Anda sisihkan untukku kali ini? Jarang-jarang ada budak dengan detail yang tidak bisa dituliskan di surat, jadi tolong jelaskan padaku."

Memang agak kurang sopan langsung menanyakan barang dagangan sesampainya di sana, tapi dalam kasus khusus seperti ini, kurasa tidak apa-apa. Aku harap dia bisa memaklumi kelancanganku kali ini.

"Baik, mari kita bicarakan soal budak tersebut... Tapi karena tempat ini kurang kondusif, maukah Anda mendengarkan penjelasannya di ruangan yang lebih dalam?"

"Aku tidak keberatan, tapi Anda tampak sangat berhati-hati. Apakah budak kali ini sebegitu berbahayanya jika sampai terdengar orang lain?"

"Tentu saja. Bukan hanya berbahaya, jika ada yang mendengar dan informasi ini bocor ke luar, saya bisa-bisa dibunuh."

Mendengar ucapan si pedagang budak, aku mendadak ingin pulang saja. Di saat yang sama, aku mulai paham kenapa dia ingin menjual budak ini padaku.

Dia pasti ingin segera melepaskan "bom" yang bisa membunuhnya jika ketahuan itu dari tangannya.

Saat aku menanyakan hal itu, dia menjawab, "Tentu saja itu salah satu alasannya. Tapi lebih dari itu, saya ingin dia bahagia. Saya tahu bagaimana keadaan Flame setelah Anda bawa, jadi saya merasa kalau Tuan Lawrence, mungkin saja Anda bisa menolongnya."

Sebagai catatan, orang-orang yang melihat simulasi tanding kemarin atau pedagang budak ini—yang berada di posisi yang mungkin menyadari keanehan kemampuanku—sudah kuikat dengan kontrak rahasia agar tidak membocorkan apa pun.

Melihat cara bicaranya, kurasa dia memang sudah sadar akan keanehan kemampuanku. Pasti budak kali ini juga memiliki "kelainan" pada tubuhnya.

Sambil memikirkan itu, aku dan Ayah dipandu masuk ke ruangan paling belakang.

"Mengenai budak ini, saya akan jelaskan secara langsung. Dia adalah Permaisuri Pertama dari Kerajaan tetangga kita, Kerajaan Caldonia."

"………………………………Hah?"

Aku tidak mengerti maksud perkataan pedagang budak ini. Pasti aku salah dengar. Harus begitu.

Jika tidak, bukan hanya aku yang membeli budak ini, tapi kepala Ayah dan Kakak juga bisa ikut melayang.

Belakangan ini, Kakak mulai membantu pekerjaan Ayah dan belajar mati-matian tanpa kenal lelah demi meneruskan kepemimpinan keluarga Westgaff.

Aku tidak ingin menyia-nyiakan usaha Kakak yang berjuang demi keluarga dan masa depan rakyat, dan tentu saja aku tidak mau menghancurkan masa depan keluargaku sendiri.

Aku percaya pedagang budak yang menjunjung tinggi kepercayaan ini tidak mungkin melempar bom semengerikan itu padaku.

Jadi, pasti aku salah dengar. Tolonglah, katakan aku salah dengar.

"Lebih tepatnya, mantan Permaisuri. Ceritanya cukup panjang..."

"Tolong ceritakan semuanya!"

Melihat ekspresi curigaku, Oaks—si pemilik toko—menambahkan kata 'mantan' di depan jabatan Permaisuri.

Hampir saja aku berteriak, "Permaisuri dan mantan Permaisuri itu beda jauh, tahu!!".

Jika ini adalah perintah dari Permaisuri yang masih menjabat, aku akan berkeringat dingin karena harus tunduk pada kekuasaan demi berselingkuh dengan Permaisuri negara tetangga sebagai ganti masa depan keluargaku.

Namun, karena dia sudah menjadi 'mantan', kemungkinan besar dia adalah produk cacat yang membawa 'bom' dalam arti lain.

Pikiran sederhanaku langsung membayangkan sosok wanita sombong, boros, histeris jika keinginannya tidak dituruti, dan menjadikan pelayan sebagai pelampiasan stres sampai mereka berhenti bekerja.

Lagipula, pembatalan pernikahan—terutama turun dari takhta Permaisuri—melibatkan hubungan antar keluarga besar. Bagi bangsawan atau keluarga kerajaan yang menjunjung harga diri, hal itu tidak akan terjadi kecuali ada masalah yang sangat luar biasa.

Dan mantan Permaisuri ini bukan hanya diceraikan, tapi sampai dibuang ke pedagang budak. Jelas ada sesuatu di baliknya.

Aku tidak bisa asal bilang "Iya, saya mengerti" dan membawanya tanpa bertanya. Jadi, meskipun ceritanya panjang, aku meminta Oaks menceritakan kronologi bagaimana mantan Permaisuri itu diceraikan dan dijual.

"Baiklah. Sebenarnya, alasan mantan Permaisuri berakhir seperti ini bukan karena kesalahannya, melainkan karena dijebak oleh Raja dan selingkuhannya."

Oaks mulai bercerita dengan lancar. Dari nada bicaranya, aku bisa merasakan rasa hormat yang besar terhadap sang mantan Permaisuri. Aku baru ingat kalau Oaks sendiri berasal dari Kerajaan tersebut.

Mantan Permaisuri itu lahir dari keluarga Duke di Kerajaan. Sejak kecil, dia sering dianggap aneh karena mengaku bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Terlebih lagi, dia bisa memprediksi orang yang akan jatuh sakit dengan akurasi hampir seratus persen.

Karena itulah, di balik layar dia dijuluki sebagai Dewi Kematian atau pembawa sial. Orang-orang bilang, siapa pun yang disentuhnya pasti akan tertimpa kemalangan.

Meskipun begitu, dia memiliki kecantikan yang sanggup meruntuhkan negara.

Di masa kecil, sebelum kemampuannya tersebar luas, Raja saat ini jatuh cinta pada pandangan pertama dan menjadikannya tunangan karena statusnya sebagai putri Duke sangatlah cocok.

Namun seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai menyadari keanehannya. Raja pun mulai merasa takut kepadanya hingga akhirnya mereka tidak pernah bertemu lagi sampai hari pernikahan tiba.

Selama masa itu, Raja justru tergila-gila pada kandidat istri kedua. Setelah mereka menikah, sang istri kedua meminta Raja untuk menjual 'monster mengerikan' ini ke pedagang budak.

Bahkan, sang istri kedua kabarnya menyiramkan minyak mendidih ke pipi sang Permaisuri Pertama.

Alasannya, "Karena dia pernah menjadi Permaisuri Kerajaan, aku menyiramnya agar identitasnya tidak ketahuan."

Namun orang-orang berbisik bahwa itu adalah rencana yang disengaja. Sejak dulu istri kedua sering berucap, "Aku iri dengan kecantikannya. Suatu hari akan kuhancurkan wajah itu." Jadi, sudah pasti dia melakukannya karena cemburu.

Raja kemudian berkata, "Sekarang bukan hanya batinmu, tapi wajahmu pun sudah menjadi monster," lalu menjualnya ke pedagang budak. Begitulah garis besar ceritanya.

Gila... ini terlalu sadis sampai aku tidak bisa tertawa.

Ngomong-ngomong, karena Raja takut tertimpa sial, beliau tidak pernah menyentuh Permaisuri Pertama sama sekali sejak menikah. Jadi, meskipun dia sudah berusia tiga puluh tahun tahun ini, dia masih perawan. Hal itu juga menjadi bahan ejekan di belakang layar.

"……Aku mengerti. Kalau begitu, bisakah aku bertemu dengannya?"

Aku pun meminta Oaks untuk mempertemukanku dengan sang mantan Permaisuri.

"Tentu saja boleh. Tapi seperti yang saya katakan tadi, wajah beliau terkena minyak mendidih dan kondisinya tidak layak untuk diperlihatkan. Jika memungkinkan, tolong biarkan cadar renda yang menutupi wajahnya tetap terpasang..."

"Baiklah. Aku tidak keberatan. Tolong antar kami."

Namun, saat aku meminta bertemu, ekspresi Oaks mendung. Dia memohon agar aku tidak melihat wajahnya.

Apakah wajahnya sebegitu mengerikannya, atau sang mantan Permaisuri sendiri yang tidak ingin wajahnya dilihat? Atau mungkin keduanya?

Karena dia menutupi wajahnya dengan renda, ada kemungkinan luka bakarnya tidak sembuh dengan benar dan malah bernanah.

Meskipun Oaks mengambil risiko membuatku tersinggung sebagai pembeli karena menolak permintaanku, dia tetap bersikeras. Berarti kondisi wajahnya sudah di tahap yang benar-benar bisa membuat orang merasa jijik.

"Sebelah sini."

Saat masuk ke ruangan yang ditunjukkan Oaks, bau busuk menyengat hidungku. Bahkan tanpa melihat pun, aku tahu kalau wajah mantan Permaisuri itu sedang bernanah parah.

Menyadari ada orang yang masuk, sang mantan Permaisuri yang tadinya berbaring di tempat tidur berusaha bangkit. Dia sedikit menundukkan kepala ke arah yang agak meleset dari posisi kami.

"Mohon maaf. Karena luka bakar ini, mataku tidak bisa melihat lagi, jadi mungkin arah salamku agak keliru. Seperti yang mungkin sudah Anda dengar dari Tuan Oaks, wajahku hancur bernanah dan mengeluarkan bau busuk. Usiaku pun sudah tidak muda lagi. Di luar sana, orang seusiaku mungkin sudah punya anak atau bahkan cucu."

Dia kemudian mengangkat sendiri cadar rendanya yang sudah agak menguning agar wajahnya terlihat.

"Tuan Putri Marianne!?"

"Tidak apa-apa, Tuan Oaks. Memberikan pilihan kepada pembeli tanpa memperlihatkan kondisi asliku adalah tindakan yang tidak jujur."

"Ta-tapi!"

"Tuan Oaks, aku sudah menjadi budak sekarang. Maka aku harus bertindak selayaknya budak."

Oaks mencoba menghentikan tindakan Marianne, tapi tekad wanita itu sudah bulat. Dia terus memperlihatkan wajahnya.

Wajah Marianne memang bernanah, persis dugaanku. Cairan nanah itulah yang membuat rendanya menguning dan memenuhi ruangan dengan bau tak sedap.

"Gelar mantan Permaisuri, usia yang sudah tua, wajah hancur, dan tidak bisa melihat. Dengan kondisi seperti ini, Anda pasti akan kerepotan mengurusku. Untuk urusan ranjang pun, wajah ini tidak akan berguna. Apalagi Tuan Lawrence baru berusia enam tahun; saat Tuan mencapai usia matang, aku akan semakin tua lagi. Apakah Anda benar-benar yakin?"

"Tapi, aku dengar mantan Permaisuri adalah seorang Quarter Elf, keturunan manusia yang memiliki seperempat darah Elf."

"Anda sangat berpengetahuan luas."

"Yah, bagaimanapun aku adalah bagian dari keluarga Duke, jadi aku sedikit mempelajari tentang bangsawan negara tetangga."

"Begitu ya... Benar, kakekku adalah Elf. Tapi aku tidak bisa mempertahankan penampilan muda selama puluhan tahun seperti Elf atau Half-Elf. Proses penuaanku memang lebih lambat dari manusia biasa, tapi sebagai Quarter Elf, aku tidak bisa awet muda selamanya. Mungkin keriput akan mulai muncul di usia lima puluh atau enam puluhan."

Marianne menjelaskan bahwa meski usianya tiga puluh tahun ini, dia baru akan menua dua puluh atau tiga puluh tahun lagi.

Bagiku itu masih sangat masuk akal, aku tidak paham kenapa dia menganggapnya sebagai kekurangan. Mungkin karena dia merasa akan menua lebih cepat dibanding ibu atau neneknya, itu menjadi semacam kompleks baginya.

"Lagipula, dengan wajah seperti ini, masalah penuaan sudah tidak relevan lagi..."

Aku merasa sesak melihat Marianne yang terus merendahkan dirinya sendiri.

Tentu saja melihatnya seperti itu membuatku ingin menolongnya. Tapi jika aku mulai menolong orang hanya berdasarkan emosi, aku akan segera bangkrut. Aku menahan diri dan mencoba mencari nilai plus darinya.

Oaks sebelumnya memberitahuku bahwa Skill Marianne adalah Liquid User, yang di dunia ini dianggap hanya meningkatkan kekuatan sihir elemen air secara umum.

Tapi selain Skill itu, pasti ada alasan utama kenapa dia sampai tidak bisa melanjutkan pernikahannya dengan Raja.

"Nona Marianne, apakah ada yang Anda sembunyikan dariku? Misalnya, di luar sana Anda dianggap hanya memiliki satu Skill, tapi aku menduga Anda sebenarnya memiliki dua Skill. Maukah Anda mengatakannya sendiri padaku?"

Aku bertanya dengan nada serius. Aku ingin dia mengatakannya dengan kata-katanya sendiri.

Ekspresi Marianne tampak terkejut sejenak. Entah karena dia merasa sudah tidak bisa mengelak atau memang sudah siap, dia pun mulai menceritakan Skill yang disembunyikannya.

"Kamu... apa kamu benar-benar baru berusia enam tahun? Ah, lupakan saja. Aku minta maaf karena menyembunyikan satu hal darimu. Benar, aku memiliki satu Skill lagi. Namanya adalah Microbe Appraisal."

"Sebelum seseorang jatuh sakit, aku selalu melihat 'sesuatu' yang hanya bisa kulihat menyerang tubuh orang itu. Aku bahkan bisa mengetahui jenis penyakitnya berdasarkan bakteri atau virus yang menyerang. Tapi ya, hanya sampai di situ. Meski aku tahu penyakitnya, aku tidak bisa menyembuhkannya ataupun menghentikannya. Ini adalah Skill iblis. Karena itulah aku tidak heran dengan keadaanku sekarang. Bahkan aku sendiri merasa Skill ini menjijikkan."

"Miso, kecap asin, sake, dan mirin! Lalu natto! Nona Marianne! Tuan Oaks! Aku, siap kontrak!! Tidak, tolong biarkan aku kontrak dengannya!! Sekarang juga!! Ayo!!"

Begitu mendengar Skill Marianne, jiwaku sebagai orang Jepang langsung membara.

Bayangkan saja, aku sudah berada di dunia ini selama enam tahun. Itu artinya enam tahun aku tidak merasakan masakan Jepang.

Belakangan ini, memikirkan makanan Jepang saja sudah memberiku gejala sakau, sampai-sampai aku harus mengubur ingatan itu dalam-dalam. Tapi dengan Skill-nya, semua masalah selesai!

Bahkan, jika aku bisa menunjukkan kegunaan Skill-nya, aku punya alasan untuk meminjam uang pada Ayah demi membangun fasilitas produksi berbagai bumbu dan sake.

Selama ini, meski aku tahu cara membuatnya, prosesnya terlalu sulit untuk dilakukan anak kecil sendirian. Paling banter hanya bisa membuat natto atau keju.

Ngomong-ngomong, beras dan gandum banyak dijual di sini, tapi karena tidak ada kecap asin yang cocok untuk natto, aku terpaksa menyerah.

Semua masalah itu akan teratasi jika aku menjadikan Marianne budakku. Pilihan untuk tidak membelinya sudah lenyap sepenuhnya dari kepalaku.

"Anu, Tuan Oaks? Anda dengar tidak? Aku ingin membelinya."

Karena tidak ada jawaban meski aku sudah menyatakan keinginan dengan sangat jelas, aku memanggil Oaks lagi.

"Ah! Ma-maaf! Anda mau membelinya, ya. Baik, saya mengerti. Saya akan segera menyiapkan kontrak budaknya, mohon tunggu sebentar."

Oaks yang baru tersadar segera menyiapkan kontrak dengan ekspresi yang tampak gembira.

"Benarkah Anda ingin membeli orang sepertiku? Jika ini hanya karena kasihan, Anda pasti akan menyesal di masa depan, jadi sebaiknya batalkan saja—"

"Tidak kontrak dengan Nona Marianne? Jangan bicara sembarangan. Bagiku, Anda jauh lebih berharga dan bernilai daripada permata mana pun, itulah alasan aku membelimu. Ini bukan karena rasa kasihan."

"Tapi aku tidak mengerti kenapa Anda sangat menginginkanku. Jika ini hanya kebohongan untuk menghiburku—"

"Ini bukan bohong! Kenapa Anda tidak paham!? Tidak berlebihan jika kukatakan aku sudah mencari orang sepertimu selama ini!! Jika Anda tidak percaya pada kata-kataku, diamlah dan biarkan aku membelimu!! Aku akan membuktikan bahwa kata-kataku ini benar!!"

"……Ah, maaf. Aku jadi agak emosional. Aku akan mencoba tenang sedikit."

Aku tersadar bahwa aku baru saja berbicara dengan nada tinggi dan cepat kepada seorang mantan Permaisuri.

Rasa malu dan bersalah membuatku terdiam sampai Oaks menyelesaikan persiapan kontrak.

Namun, mau seberapa keras pun Marianne merendahkan diri, aku tidak akan mundur. Aku akan membelinya apa pun yang terjadi.

Setelah kontrak selesai, Marianne masih bertanya, "Apa ini bukan karena kasihan? Apa Anda tidak menyesal?". Aku hanya menjawab, "Tidak apa-apa. Tak ada masalah," dan segera menyelesaikan urusan kontrak.

Mau seberapa negatif pun pemikirannya, begitu dia jadi budakku, semuanya aman. Akhirnya, jumlah budakku bertambah satu lagi.

Selingan──Jawaban yang Dikeluarkan Flame──

Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Tuan Lawrence di masa depan?

Tuan Lawrence sangat cerdas, beliau pasti memikirkan hal-hal yang tidak akan pernah terpikirkan olehku.

Buktinya banyak, tapi yang paling mencolok adalah beliau hanya menerima dua puluh persen dari uang hasil kerjaku.

Biasanya, majikan budak akan mengambil seluruh penghasilan untuk diri sendiri. Ya, hanya menerima dua puluh persen itu sangatlah tidak normal.

Ketidaknormalan ini adalah bukti bahwa Tuan Lawrence sedang membayangkan sesuatu yang tidak sanggup dipahami oleh orang biasa sepertiku.

Namun, tidak peduli seberapa keras aku memikirkannya, aku tidak akan pernah mengerti pikiran beliau. Jadi, aku memutuskan untuk bertanya langsung saja.

Sebenarnya, aku ingin menjadi 'budak yang bisa diandalkan' yang bisa membaca situasi sebelum diperintah, tapi itu baru sebatas idealisme. Saat ini, kemampuanku masih jauh dari kata cukup.

Wajar saja, aku masih belum cukup mengenal Tuan Lawrence. Aku harus mengenalnya sedikit demi sedikit mulai sekarang.

Daripada terlalu bersemangat dan malah melakukan sesuatu yang mengganggu rencana Tuan Muda, lebih baik aku memprioritaskan tindakan agar tidak menjadi penghalang bagi beliau.

Budak yang hebat tidak terbentuk dalam semalam. Aku hanya perlu melakukan apa yang bisa kulakukan tanpa memaksakan diri.

Dan tugas pertamaku saat ini adalah bekerja sebagai petualang dan mencari uang sebanyak-banyaknya. Itulah yang akan kulakukan sekuat tenaga sekarang.

"Ayah, Kakak, ada yang ingin aku bicarakan."

Keesokan harinya setelah membeli Marianne, aku membuka pembicaraan di meja makan saat Ayah dan Kakak sedang berkumpul.

Sebenarnya ini lebih ke arah meminta bantuan atau bahasa kasarnya meminta uang, tapi langsung bilang "pinjam uang" di awal itu langkah buruk. Jadi aku memulainya dengan dalih 'ingin berdiskusi'.

"Ada apa, Lawrence? Katakan saja."

"Bukan cuma Ayah, tapi denganku juga? Jarang-jarang, ya."

Mungkin karena biasanya aku mengurus segala sesuatunya sendiri, mereka tampak sangat tertarik dengan apa yang ingin kusampaikan.

Terutama Kakak, beliau bahkan tampak bersemangat karena merasa diandalkan oleh adiknya.

"Mengenai Marianne yang aku beli kemarin, aku ingin menggunakan Skill-nya untuk menciptakan produk khas baru di Westgaff ini. Aku ingin meminta izin untuk membangun fasilitas produksinya."

Mendengar penjelasanku, Ayah dan Kakak memasang ekspresi 'Kenapa Skill Marianne bisa menghasilkan produk khas?'.

Bagi Ayah yang tahu alasan kenapa Marianne dianggap menjijikkan, hal ini pasti membingungkan.

Bagi Kakak pun, wajar jika beliau bingung kenapa adiknya tiba-tiba bilang bisa membuat produk khas menggunakan Skill yang bukan tipe produksi.

Tapi itu semua karena dunia ini belum mengenal konsep bakteri atau virus. Wajar saja.

Bisa dibilang, ini adalah efek samping dari perkembangan sihir yang terlalu pesat dibanding ilmu pengetahuan, berbeda dengan duniaku sebelumnya. Keraguan mereka sangatlah wajar.

"Benar. Produk khas. Ada dua kategori yaitu minuman keras dan bumbu masak. Rencananya aku akan membuat satu jenis minuman keras dan tiga jenis bumbu. Dengan bumbu ini, Westgaff bisa menjadi destinasi wisata kuliner. Aku yakin bisa mewujudkannya."

Ngomong-ngomong, keju sudah ada di dunia ini, tapi cara pembuatannya adalah rahasia yang hanya diketahui pengrajin keju di wilayah lain. Di masa depan, aku bisa membuat keju khas Westgaff sendiri.

Begitu aku menyebut soal keju, Ayah dan Kakak langsung berteriak bersamaan, "Kamu bisa membuat keju juga!?"

Mereka tampak sangat antusias, padahal aku tidak merasa mereka sebegitu sukanya dengan keju.

Jika aku bertanya terlalu dalam, aku takut terseret masalah yang merepotkan, jadi aku tidak menanyakan alasan antusiasme mereka. Tak perlu menggali lubang untuk memancing ular, kan?

"E-eh, iya. Bahkan bisa membuat beberapa jenis. Tentu saja resepnya harus kita rahasiakan demi menjaga kehidupan pengrajin keju di wilayah lain."

"Baik, buatlah. Tidak, aku tidak akan sayang mengeluarkan uang, jadi tolong buatkan, ya? Tentu saja aku akan mendukung rencana lainnya juga. Tapi sebagai gantinya, bisakah kamu mulai dari membuat keju dulu?"

"Aku tidak keberatan, tapi—"

"Terima kasih, Adikku sayang!! Alasannya kenapa aku butuh keju adalah karena ada seorang bangsawan yang mengejek wilayah kita tidak punya pengrajin keju. Aku terpancing dan membalasnya dengan bilang, 'Kami punya resep rahasia kuno jadi bisa buat kapan saja', sekarang aku sedang pusing tujuh keliling."

Kakakku ini bisa melakukan apa saja, jadi mungkin beliau pikir beliau juga bisa membuatnya sendiri. Tapi dipikir-pikir, bukankah itu agak bodoh?

Lalu, sepertinya ularnya muncul sendiri tanpa perlu kupancing ya, Kak?

"Tapi Kak, Kakak harusnya sudah bisa memprediksi akan jadi seperti ini. Kenapa Kakak mau ikut dalam taruhan seperti itu?"

"I-itu karena... lawanku itu adalah sainganku dalam memperebutkan gadis impian..."

"…………Hah?"

"Maksudku, gadis yang aku sukai itu putri dari keluarga di wilayah peternakan yang kaya, dan waktu itu kami sedang membicarakan soal keju. Entah bagaimana ceritanya, rivalku yang berasal dari wilayah pertanian gandum mendadak mengaku sukses membuat keju... sebelum sadar, aku sudah terlanjur berteriak, 'Di wilayahku juga bisa buat keju, tahu!'"

Kakakku bercerita dengan wajah penuh penyesalan. Di mana gerangan wibawa seorang kakak yang beliau banggakan selama ini?

Kurasa bagian 'entah bagaimana' itu pastilah saat si gadis bilang, "Aku akan bertunangan dengan pria yang bisa membuatku terkesan dengan kejunya". Kakak yang tidak mau menyerah akhirnya melakukan pertaruhan nekat dan mengaku bisa membuatnya.

"Aku paham masalahnya. Tapi, berbeda dengan keju tipe fresh, pembuatan keju biasa membutuhkan proses fermentasi. Jadi, ini bukan sesuatu yang bisa jadi dalam satu atau dua hari.

Selain itu, aku harus menyelesaikan pengobatan Marianne terlebih dahulu agar dia bisa membantu mencari bakteri yang memicu fermentasi tersebut.

Aku sudah mulai mengobatinya sejak pulang kemarin, dan akan terus kulakukan setiap malam sampai Mana-ku hampir habis. Namun, aku belum bisa memastikan kapan dia akan sembuh total.

Oleh karena itu, ada kemungkinan butuh waktu lebih dari satu tahun sampai kejunya benar-benar jadi. Apa Kakak tidak keberatan?"

"Kalau soal itu, aku tidak masalah. Karena aku bilang akan membuat keju dari nol, kurasa lawan bicaraku juga tahu kalau itu butuh waktu lama..."

"Baiklah, kalau begitu kesepakatan tercapai. Tapi, ada satu hal yang ingin aku Kakak patuhi."

Aku dan Kakak saling berjabat tangan dengan erat. Namun, sebelum tangan kami terlepas, aku langsung mencecar beliau dengan syarat tambahan.

"Apa itu?"

"Maukah Kakak berjanji untuk tidak membawa masalah keributan antar bangsawan kepadaku di masa depan? Dan seandainya aku terseret ke dalam kesulitan yang melibatkan kaum bangsawan, maukah Kakak berdiri di garis depan untuk melindungiku? Jika Kakak setuju, tolong tanda tangani dokumen ini."

Terang saja, urusan bangsawan paling benar jika diselesaikan oleh sesama bangsawan.

Bangsawan setengah matang yang tidak akan mewarisi takhta sepertiku benar-benar enggan terlibat dalam kerumitan semacam itu. Jika Kakak—sebagai pewaris—tidak melindungiku, aku tidak akan bisa menangani masalah yang mungkin muncul nanti, dan ujung-ujungnya aku tetap harus bergantung padanya.

Jadi, sekalian saja aku minta perlindungan total sejak awal.

Bangsawan memang makhluk yang hidup demi harga diri, tapi mereka juga jenis yang tega menendang keluarga sendiri ke dalam kolam jika merasa posisi mereka terancam. Namun, ceritanya akan berbeda jika sudah ada tanda tangan di atas kontrak.

Jika melanggar janji tanpa kontrak tertulis, semuanya hanyalah janji mulut yang bisa berakhir dengan perdebatan tanpa ujung.

Tapi jika melanggar kontrak yang sudah ditandatangani, secara hukum ada sanksi denda. Lebih parah lagi, dia akan dicap sebagai 'orang yang tidak bisa memegang janji meski sudah tanda tangan kontrak'. Label semacam itu adalah luka fatal bagi seorang bangsawan.

Asalkan beliau tanda tangan, selama beliau tidak berniat menghancurkan nama baik keluarga, janji itu tidak akan dilanggar. Aku pun bisa bernapas lega.

Bisa dibilang, sekarang keselamatanku sudah terjamin jika sewaktu-waktu ada masalah yang menimpaku. Setelah itu, aku, Ayah, dan Kakak mulai merinci rencana lokasi pembangunan fasilitas, serta pembagian keuntungan dari hasil penjualan bumbu, minuman keras, dan keju tersebut.

Malam harinya, aku datang ke kamar Marianne bersama Flame untuk melanjutkan pengobatan.

Flame membawa ember berisi air hangat, handuk untuk menyeka tubuh, dan pakaian ganti.

Melihat Flame yang mengenakan seragam pelayan mendekap ember dengan kedua tangannya, sementara handuk dan keranjang pakaian ganti dikaitkan pada ekornya, membuatku merasakan sensasi luar biasa. "Dragonoid yang menjadi pelayan" benar-benar nyata, dan aku sedang meresapi kebahagiaan ini sedalam-dalamnya.

Jika bisa, rasanya aku ingin mengabadikan pemandangan ini dan menyimpannya di cloud storage.

Entah itu Maidragon atau Dragon Maid, intinya aku percaya setiap pria Jepang pasti akan merasa bersemangat secara insting melihat fetisisme yang terukir dalam jiwa mereka ini.

Meski begitu, aku tidak menyangka pengobatan kemarin akan langsung menyembuhkan segalanya. Memang tidak ada bagian yang memburuk, tapi anehnya, tidak ada satu pun bagian yang terlihat membaik.

Mungkin karena Skill Healing-ku baru naik satu tingkat dan sekarang berada di Level 2, jadi wajar jika tidak langsung sembuh dalam sekali jalan.

Analisisku mengatakan bahwa Skill ini mungkin mengharuskan penggunaan setiap hari dalam jangka waktu tertentu, dan jumlah hari yang dibutuhkan akan berkurang seiring naiknya Level.

Di dalam gim, kemampuan akan langsung aktif dan hasilnya terlihat dalam angka, tapi kenyataannya memang selalu ada perbedaan antara gim dan realitas.

Sambil memikirkan hal itu, aku kembali merapalkan Skill Healing pada Marianne. Setelah selesai, aku keluar sebentar agar Flame bisa menyeka tubuh Marianne.

Dalam kasus Marianne, kulit dari dagu, leher, hingga dadanya mengalami deformasi karena mulai sembuh secara alami namun tidak sempurna. Akibatnya, kulitnya terasa tertarik dan dia tidak bisa menggerakkan bagian atas tubuhnya.

Karena dia pada dasarnya hanya bisa terbaring di tempat tidur, membawa buku sihir dan membacanya di kamar Marianne menjadi rutinitas harianku.

Kejadian ini terus berlanjut selama sekitar satu minggu.

Flame dulu butuh waktu hampir setengah tahun untuk sadar, tapi kasusnya hanya berfokus pada organ sihir. Sementara itu, Marianne memiliki luka yang luas mulai dari wajah hingga dada, ditambah kedua matanya yang buta.

Meski levelku sudah naik, tidak menjamin dia akan sembuh lebih cepat daripada Flame karena banyaknya bagian yang harus diperbaiki.

Saat aku sedang merapalkan Skill Healing hingga Mana-ku hampir habis seperti biasa, tiba-tiba kulit Marianne yang tadinya hancur dan bernanah mulai berpendar hijau lembut.

"Ah... hangat..."

Marianne, yang meski buta, menyadari perubahan pada tubuhnya. Dia bilang bagian kulit yang terkena luka bakar mulai terasa hangat.

Cahaya redup itu bertahan selama beberapa menit. Saat pendarannya hilang, kulit yang tadinya hancur berubah menjadi halus, kencang, dan lembap seperti telur rebus yang baru dikupas, bahkan tanpa perlu disentuh pun keindahannya terlihat jelas.

Karena masih belum bisa melihat, Marianne meraba wajahnya dengan ragu-ragu. Dia memastikan sendiri bahwa bagian yang tadinya hancur dan bernanah kini telah sembuh total.

"Tu-Tuan Muda... anu, itu... wajahku... rasanya sudah sembuh?"

"Iya. Di mataku, kulitmu sekarang terlihat sangat cantik dan tampak sangat halus jika disentuh."

Marianne bertanya dengan nada suara yang gemetar penuh harap. Begitu aku mengonfirmasi bahwa kulitnya sudah sembuh, dia menangis tersedu-sedu.

"Tuan Muda, terima kasih... terima kasih banyak..."

Dia memelukku berkali-kali sambil terus menggumamkan rasa terima kasih. Sebagai jawaban, aku hanya mengelus kepalanya dengan lembut sampai akhirnya dia tertidur dalam pelukanku, mungkin karena kelelahan menangis.

Awalnya Marianne bersikap tegar dan seolah sudah menerima nasibnya sebagai budak, tapi ternyata itu semua hanya pura-pura kuat. Dia memaksakan diri untuk menerima takdirnya dengan sugesti diri bahwa hidupnya memang pantas hancur karena Skill-nya dikutuk.

Sambil memandangi Marianne yang tertidur, aku berpikir bahwa jika dalam satu minggu kulitnya sudah menunjukkan hasil, maka kedua matanya pun akan segera sembuh.

Dan benar saja, keesokan harinya, penglihatan Marianne pulih sepenuhnya.

Kesembuhan itu terjadi pada malam hari. Aku melepas perbannya di bawah cahaya satu lilin agar tidak mengejutkan matanya. Dia bilang dia sudah bisa melihat dengan sangat jelas, membuatku lega.

Dini hari berikutnya, di dalam kamar yang gordennya tertutup rapat agar sinar matahari tidak masuk, Marianne yang memakai penutup mata sebagai pengganti perban mulai merengek.

"Tuan Muda! Cepat lepaskan penutup mata ini! Aku ingin segera melihat dunia luar yang disinari matahari!"

"Meski kau minta begitu, matamu baru saja sembuh dan harus dibiasakan dengan cahaya. Jadi, ayo kita lakukan secara bertahap sebelum pergi ke luar."

"Ba-baiklah..."

Membawa Marianne langsung ke luar saat penglihatannya baru pulih akan berakibat buruk bagi matanya. Meski setuju, dia tampak sangat tidak sabar dan gelisah.

Benar-benar tidak terlihat seperti wanita berusia tiga puluh tahun.

Dilihat dari balik penutup mata saja, penampilannya tampak sangat awet muda.

Benar-benar kualitas Quarter Elf. Dari reaksi dan tampangnya, dia malah terlihat seperti siswi SMA.

Sambil membatin seperti itu, aku melepaskan penutup mata Marianne perlahan di dalam ruangan yang temaram.

Di sana, wajah asli Marianne yang kemarin hanya terlihat samar karena gelap, kini tampak bersinar meski ruangan ini minim cahaya. Kecantikannya benar-benar luar biasa.

Rambut perak panjang yang mengalir, bulu mata lentik, hidung dan bibir yang mungil, serta sepasang mata bulat besar yang menghiasi wajah kecilnya.

Dan sangat kontras dengan wajah mungil itu, bagian dadanya tampak sangat menonjol.

Sungguh berbahaya. Benar-benar berbahaya!

Aku bisa mengerti kenapa Raja negara tetangga sampai jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita di depanku ini benar-benar definisi kecantikan yang sanggup meruntuhkan sebuah negara.

Mungkin inilah yang disebut dengan kecantikan yang membuat orang terpana sampai lupa bernapas.

"Tuan Muda...?"




Marianne memiringkan kepalanya sedikit dengan cemas, seolah merasa tidak tenang melihatku yang hanya diam terpaku.

"Ah, maaf. Marianne, kamu cantik sekali sampai aku terpesona. Jadi, bagaimana keadaan matamu? Jika sudah terasa tidak apa-apa, aku akan mencoba membuka gordennya."

"Te-terima kasih banyak, Tuan Muda. Aku bisa melihat dengan sangat jelas... sampai-sampai aku bisa melihat betapa tampannya wajah Tuan Muda yang pasti akan sangat populer di masa depan nanti... Tidak kusangka, Anda benar-benar menyembuhkanku..."

Sambil berkata begitu, Marianne mulai menangis dalam diam—berbeda dengan tangisan kemarin—seraya menggumamkan rasa terima kasih yang entah sudah keberapa kalinya.

Sambil menghiburnya, aku mengamati Marianne selama beberapa menit setelah penutup matanya dilepas. Karena tampaknya tidak ada masalah, aku memegang tepian gorden.

"Baiklah, aku akan membukanya pelan-pelan ya. Kalau terlalu silau atau terasa tidak nyaman, aku akan segera menutupnya kembali, jadi tolong beri tahu aku dengan jujur. Jangan dipaksakan, karena kalau mata yang sudah sembuh ini jadi sakit lagi, kita harus mengulang semuanya dari awal."

"Ba-baik, aku mengerti!"

Begitu aku memintanya untuk tidak berpura-pura kuat, Marianne mengangguk setuju dengan ekspresi penuh tekad yang menggemaskan.

Merasa sudah aman, aku mulai menggeser gorden perlahan-lahan.

Selama sekitar sepuluh menit, aku membuka gorden itu secara bertahap hingga akhirnya terbuka lebar sepenuhnya. Sepanjang proses itu, Marianne tidak mengeluhkan adanya kelainan, jadi aku memberinya izin untuk keluar.

Begitu mendengar ucapanku, "Hari ini kamu boleh keluar sampai ke halaman saja," wajah Marianne langsung berseri-seri seperti anak kecil, lalu dia berlari kencang menuju halaman meski masih bertelanjang kaki.

Seorang pelayan yang melihatnya langsung mengejarnya sambil berteriak, "Setidaknya pakailah sepatu dulu!" Aku hanya bisa memandangi pemandangan dari kejauhan itu—melihat kaki telanjangnya dilap dengan handuk hingga wajahnya memerah, lalu dia berganti memakai sepatu.

Flame pun bergumam, "Syukurlah," seolah dia juga ikut merasa lega dari lubuk hatinya.

Ya, benar-benar syukurlah.

Sejak datang ke rumah ini, Marianne praktis hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Saking senangnya bisa melihat dan keluar rumah, sepertinya dia sampai lupa segalanya.

Umur seorang Quarter Elf konon berkisar antara dua ratus sampai tiga ratus tahun.

Jika usia mentalnya berkembang secara lambat dalam kecepatan yang sama, aku menduga mungkin selama ini Marianne selalu menekan sisi kekanak-kanakannya dan dipaksa bertingkah dewasa.

Oleh karena itu, sosoknya yang sedang berlarian riang di luar sana mungkin adalah jati diri Marianne yang sebenarnya.

"Ayo kita juga ke luar."

"Baik, Tuan Muda."

Karena asal-usulnya, Marianne tidak diizinkan memakai nama keluarganya dan harus hidup sebagai orang lain yang berbeda dari mantan Permaisuri Kerajaan.

Namun, aku justru merasa itu bagus. Aku berharap mulai sekarang dia bisa hidup sebagai dirinya sendiri yang sebenarnya.

Selingan──Flame Mengadakan Rapat Strategi──

Untuk pertama kalinya, aku memiliki junior sesama budak bernama Marianne.

Aku sangat terkejut saat tahu bahwa juniorku ini adalah mantan Permaisuri dari negara tetangga.

Meski status kami sama-sama budak Tuan Lawrence, awalnya aku merasa minder dengan gelarnya tersebut, sehingga sikapku selalu kaku setiap kali berbicara dengannya.

Namun seiring berjalannya waktu, aku mengetahui kronologi Marianne jatuh menjadi budak hingga dipungut oleh Tuan Lawrence. Aku merasa nasibnya mirip denganku.

Bahkan, setelah mengetahui bahwa perlakuan yang diterima Marianne jauh lebih kejam dariku, rasa minderku pun lenyap. Sebaliknya, rasa solidaritas di antara kami justru semakin kuat.

Dan sekarang, kami berdua sedang mengadakan rapat strategi.

"Apa yang Tuan Muda inginkan dari kita...?"

"Benar. Apa yang beliau inginkan. Kali ini Marianne diberikan tanggung jawab untuk memproduksi, mengelola, dan menjual apa yang beliau sebut sebagai 'makanan fermentasi'. Namun, beliau tidak mengambil seluruh keuntungannya untuk kantong sendiri, melainkan menawarkan pembagian hasil kepada kita. Itu adalah perlakuan yang luar biasa murah hati bagi budak."

Benar sekali. Tuan Muda tidak hanya membagi hasil dari pekerjaanku sebagai petualang, tapi beliau juga bilang akan memberikan sebagian keuntungan dari bisnis makanan fermentasi yang dipimpin Marianne.

Orang biasa mungkin hanya akan berpikir, "Tuan Lawrence adalah majikan yang baik," lalu berhenti berpikir sampai di situ. Namun, aku yang bercita-cita menjadi 'budak yang bisa diandalkan' mulai memutar otak lebih jauh.

"Ya, benar... Sebenarnya memalukan untuk diakui, tapi selama ini aku hidup sebagai bangsawan, dan setelah menikah, aku hidup sebagai permaisuri. Aku pernah melihat budak saat bepergian dengan kereta kuda, tapi aku tidak pernah bicara langsung dengan mereka. Bagiku mereka adalah penghuni dunia yang berbeda, jadi aku tidak terlalu paham... Meski begitu, aku tahu betul kalau perlakuan Tuan Muda bukanlah cara memperlakukan budak pada umumnya."

Mendengar pertanyaanku, Marianne pun setuju bahwa perlakuan Tuan Muda sangatlah tidak wajar.

Bahkan jika dibandingkan dengan para karyawan yang bekerja di keluarga Westgaff, bukankah posisi kami justru lebih diuntungkan? Rasanya seperti itu.

"Tepat sekali. Dan menurutku, alasan beliau memberikan perlakuan sebaik ini bukan hanya karena kebaikannya saja, tapi karena beliau memiliki rencana tertentu di balik itu semua."

Jika beliau hanya sekadar baik hati, seharusnya beliau tidak perlu repot-repot mengumpulkan budak.

Pasti ada sesuatu yang ingin beliau capai dengan mengumpulkan kami.

Saat aku menyampaikan hal itu, Marianne tampak sangat tercerahkan. "Benar juga... kalau dipikir-pikir, itu masuk akal," gumamnya.

Apalagi, bahkan sebelum menjadikan Marianne budak, Tuan Muda sempat bergumam, "Aku harus menambah lebih banyak budak lagi..." Jelas sekali bahwa jumlah budak yang bertambah adalah hal penting bagi beliau.

"Dari situ, aku merasa Tuan Muda ingin melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kami para budak... Dan untuk melakukan itu, beliau membutuhkan banyak orang, sehingga kita berdua saja mungkin masih belum cukup."

"Luar biasa, Kak Flame!! Setelah Kakak bilang begitu, rasanya aku juga berpikir hal yang sama!"

"Terima kasih. Tapi, dugaanku baru sampai di situ. Masalah intinya adalah: 'apa sebenarnya yang ingin Tuan Muda lakukan dengan menggunakan budak seperti kita?'—itu yang masih menjadi misteri."

"...Benar juga... Sesuatu yang ingin Tuan Muda lakukan dengan budak... Untuk itu dibutuhkan banyak budak, dan budak-budak itu harus diperlakukan dengan sangat baik... Semakin dipikirkan, semakin aku tidak mengerti..."

Setelah berkata begitu, Marianne mulai melamun sambil memikirkan berbagai kemungkinan.

Melihat sikapnya, aku bisa merasakan betapa Marianne sangat menyukai Tuan Muda, dan entah kenapa aku ikut merasa senang seperti merasakannya sendiri.

Akhirnya, kami berdua pun tenggelam dalam kebingungan bersama, memikirkan apa sebenarnya cita-cita Tuan Muda dengan para budaknya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close