NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Kencan Berkedok "Bermain"


Dua tahun telah berlalu sejak saat itu, dan aku pun sudah menginjak usia delapan tahun.

Berkat bantuan Marianne, produk-produk yang awalnya membuatku cemas seperti kecap asin, miso, mirin, sake, yoghurt, hingga keju, kini telah berhasil mencapai tahap prototipe kedua.

Sisanya, kami hanya perlu terus melakukan uji coba untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menyempurnakan rasanya hingga layak jual.

Selebihnya, hari-hariku berlalu dengan sangat damai, bahkan saking tenangnya sampai tidak ada hal khusus yang patut diceritakan.

Kalau dipaksa mencari kejadian, paling-paling hanya soal Kakak yang cintanya kandas bersamaan dengan rivalnya, yang membuat beliau terpuruk dalam depresi selama sekitar satu minggu.

Namun, menurut pemikiran logisku, meminta seseorang membuat keju di wilayah yang bukan sentra peternakan itu sebenarnya adalah cara halus untuk menolak sebuah lamaran. Jadi bagiku, hasilnya sudah bisa ditebak.

Beginilah caranya seorang pria menjadi dewasa, Kak.

Berbanding terbalik dengan Kakak yang malang, aku sendiri justru hidup dalam kemalasan yang hakiki.

Meski aku tidak pernah absen melatih kemampuan bela diri dan sihir setiap hari, sisa waktuku hanya kuhabiskan dengan bermalas-malam di rumah.

Hanya karena embel-embel pewaris takhta, setidaknya sebulan dua kali Kakak harus ikut Ayah pergi ke pesta sana-sini untuk memperkenalkan diri sekaligus mencari tunangan.

Memikirkannya saja sudah membuat lambungku perih.

Kakak pun sekarang sudah berusia tiga belas tahun. Sejak musim semi lalu, beliau sudah pindah ke asrama untuk bersekolah di Akademi Sihir Kekaisaran yang terletak di Ibu Kota.

Jadi, beliau menghabiskan hari kerja untuk belajar dan hari libur untuk pesta tanpa ada waktu untuk pulang. Benar-benar terlihat sangat merepotkan.

"Tuan Muda, anginnya terasa sangat sejuk, ya."

"Tuan Muda! Tuan Muda! Ayo cepat ke halaman!! Hari ini aku ingin mencoba permainan yang namanya 'yakyu' itu!!"

Saat ini aku sedang apa? Aku sedang duduk di sofa besar sambil dipeluk oleh Flame dari belakang—merasakan kehangatan "aset berharga" miliknya—sambil memandangi Marianne yang lincah dan enerjik dengan tatapan bak kakek yang menyayangi cucunya.

Sebenarnya aku harus segera menemani Marianne, tapi beratnya "kelembutan" khas wanita yang kurasakan di bahu dan punggungku menciptakan gravitasi yang luar biasa hingga aku sulit beranjak.

Inilah yang disebut Gravity Bind. Tidak heran jika jurus ini dilarang.

Inilah dia, inilah keseharian yang kucari. Walau aku tahu slow life ini hanya bersifat sementara sampai aku dewasa nanti, aku berpikir harus menambah jumlah budak lagi untuk persiapan saat mandiri nanti.

Tapi ya, hanya sebatas berpikir. Untuk urusan merepotkan seperti itu, besok-besok juga bisa, begitu terus aku menundanya setiap hari.

Tentu saja ada pengecualian dalam hidup santaiku, yaitu sebuah badai besar. Bukan, lebih tepatnya level angin topan. Sosok ini memanfaatkan hubungan resmi antar keluarga kami untuk datang tiba-tiba tanpa janji temu.

"Ternyata kamu di sini, Lawrence!! Hari ini permainan apa—maksudku, kencan seperti apa yang akan kamu berikan padaku!?"

Sejak saat itu, tunanganku, Fran, tumbuh besar dengan sehat dan kini menjadi teman main yang baik bagi Marianne.

Ngomong-ngomong, dua bor yang terpasang di kepalanya juga ikut tumbuh subur.

"Ah, aku baru mau main bisbol. Karena orangnya sedikit, jadi cuma bisbol-bisbolan saja sih. Kalau Fran mau, bagaimana kalau ikut main juga?"

Begitu aku menjelaskan aturan bisbol secara singkat kepada gadis yang sangat cocok dengan kata ceria itu, dia langsung berseru, "Aku mau!!" dan berlari gagah menuju halaman.

"Nah, sepertinya kita juga harus segera ke halaman."

Melihat Fran, aku pun menyeret tubuhku yang berat ini untuk bangkit dan pergi ke halaman.

Sebenarnya Fran tumbuh menjadi semakin cantik dalam dua tahun ini, jadi seandainya kami membatalkan pertunangan pun, dia pasti tidak akan kesulitan mencari pasangan baru. Namun, dia tetap mempertahankan pertunangan ini.

Tentu saja, sebelum keju bisa diproduksi di wilayah ini, aku sudah menjelaskan padanya secara mendalam.

"Aku tidak akan mewarisi wilayah ini dan tidak berniat tetap menjadi bangsawan. Besar kemungkinan aku akan hidup sebagai rakyat jelata di masa depan," kataku.

Aku bahkan bilang padanya bahwa tidak perlu membayar denda pembatalan dan dia boleh segera memutus hubungan ini jika menemukan pria hebat lain. Namun, Fran menolak mentah-mentah.

Entah kenapa, orang tuanya justru menyukaiku dan berkata, "Dia pria jujur yang langka di kalangan bangsawan karena berani menunjukkan sisi minusnya." Mereka bahkan berpesan pada Fran, "Pria seperti ini pasti sukses di masa depan, jangan sampai dilepaskan."

Bukannya pria jujur begini yang justru berisiko tertipu sampai jatuh miskin atau malah terlilit utang?

Pikirku saat itu. Namun ternyata, insting orang tuanya benar. Sekarang keju mulai menghasilkan keuntungan lumayan, ditambah lagi yoghurt sedang laris manis belakangan ini.

Pada tahap ini, aku sudah bisa hidup setara rakyat jelata yang cukup kaya.

Padahal aku masih punya "peluru simpanan" berupa bumbu masak dan minuman keras. Potensi penghasilanku akan terus melonjak, belum lagi pendapatan dari Flame yang jumlahnya mulai tidak bisa diremehkan.

Kembali ke soal Fran, setelah penolakan tegas itu, dia berkata, "Aku tidak bisa membayangkan orang lain selain Lawrence! Biar miskin sedikit pun asal bersama Lawrence, aku mau!!" Berkat itu, sampai sekarang dia tetap menjadi tunanganku.

Aku sendiri tidak tahu apa bagusnya diriku, tapi jujur saja, aku mulai menyukai Fran sampai pada tahap berpikir, 'Mungkin tidak buruk juga berjuang demi mereka semua'.

Dalam permainan bisbol, aku bertugas memunguti bola di belakang, Flame jadi catcher, sementara Marianne dan Fran bergantian menjadi pitcher dan batter.

Di tengah permainan, Marianne mulai menunjukkan sisi nakalnya dengan menggunakan sihir angin untuk memaksa bola menjadi bola melengkung (breaking ball). Aku sempat kaget, tapi yah, namanya juga dunia lain.

Melihat Marianne menggunakan "bola ajaib", Fran pun tidak mau kalah dan menggunakan sihir juga. Alhasil, terjadi adu taktik tingkat tinggi yang membuat waktu berlalu begitu cepat hingga senja tiba.

Sepertinya mereka sangat menikmatinya sampai tidak sadar hari sudah sore. Baru setelah aku memanggil, "Ayo kita kembali," mereka tersadar.

Marianne dan Fran segera meminta maaf karena menyadari aku dan Flame terus berada di posisi yang sama dan tidak mendapat giliran menjadi pitcher atau batter yang lebih seru.

Bagiku sendiri, melihat mereka semua bermain dengan ceria di luar sudah cukup menghibur. Aku menjelaskan hal itu dan meminta mereka untuk tidak memikirkannya.

Rasanya mirip seperti paman-paman yang menonton anak-anak main bisbol di pinggir sungai.

Dulu saat masih kecil di kehidupan sebelumnya, aku sering bingung melihat paman-paman yang betah menonton latihan bisbol anak-anak. Sekarang, aku akhirnya mengerti perasaan mereka.

Ngomong-ngomong, alasan Flame memilih jadi catcher adalah karena dia takut salah mengatur tenaganya.

Meskipun Flame sendiri bilang, "Berkat menyerap dampak bola yang dilempar pitcher dengan sihir angin, ini jadi latihan yang bagus untuk mengasah kontrol sihir halusku," ada kemungkinan dia sebenarnya ingin mencoba jadi pitcher atau batter. Jadi, aku berniat memanjakannya dengan cara lain suatu hari nanti.

Selingan──Flame Menghabiskan Hari Libur bersama Marianne──

Hari ini, aku dan Marianne akhirnya mengambil libur setelah sekian lama dan pergi ke kota.

Sebenarnya, aku maupun Marianne merasa 'tidak butuh hari libur' karena 'ingin mengabdi lebih lama kepada Tuan Muda'. Meski kami sudah memohon bahwa waktu yang kami habiskan untuk mengabdi adalah waktu paling membahagiakan, Tuan Muda tetap bersikeras memberikan libur.

Kata Tuan Muda, "Aku tidak berniat menciptakan lingkungan kerja yang black." Apa sebenarnya arti dari lingkungan black itu?

Dari alur pembicaraan, mungkin maksudnya lingkungan yang kejam atau buruk... mungkin.

Terkadang Tuan Muda menggunakan kata-kata yang tidak kami ketahui, dan dari percakapan santai seperti itulah kecerdasan beliau semakin terpancar.

"Padahal menurutku, mempelajari 'pembuatan makanan dan bumbu menggunakan mikroba atau jamur' yang sedang diajarkan Tuan Muda jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat sebagai cara menghabiskan waktu..."

Marianne menggembungkan pipinya dengan imut sambil menggerutu, mungkin teringat percakapannya dengan Tuan Muda tadi.

Saat pertama kali bertemu, dia masih memiliki wibawa sebagai mantan permaisuri.

Namun belakangan ini, dia berubah menjadi gadis lincah berusia dua belas atau tiga belas tahun. Mengingat ada darah Elf yang mengalir dalam dirinya, kurasa inilah jati diri Marianne yang asli.

Menjadi permaisuri pasti memberinya banyak tekanan dan belenggu.

"Benar juga, aku setuju. Tapi jika Tuan Muda berkata begitu, pasti ada alasan baik di baliknya."

"I-iya sih, aku tahu itu, tapi hatiku belum bisa terima...!"

Marianne tampaknya mengerti secara logika, namun secara emosional dia masih belum rela.

"Ah, bagaimana kalau kita melakukan ini saja?"

"Ini...?"

"Memikirkan tentang apa sebenarnya yang ingin dilakukan Tuan Muda dengan mengumpulkan budak seperti kita."

"Ide yang menarik!!"

Mendengar usulku, Marianne tampak sangat tertarik. Kami pun memutuskan untuk masuk ke sebuah kafe terdekat agar bisa mendiskusikannya dengan tenang.

"Sejak hari itu Kak Flame mengatakannya padaku, aku terus memperhatikan perkataan dan tindakan Tuan Muda dengan saksama...!"

"Oho... lalu?"

"Tuan Muda... pada dasarnya tidak melakukan hal yang mencurigakan. Tapi ada satu hal. Beliau mengajariku tentang bakteri yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi, seolah beliau sedang bilang 'gunakan pengetahuan ini di saat darurat'. Bukankah itu sangat mencurigakan!?"

"Hm...?"

Marianne bicara dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar. Jika apa yang dikatakannya benar, mengajarkan tentang bakteri berbahaya memang menimbulkan tanda tanya.

"Mungkin ini ada hubungannya dengan alasan beliau mengajariku bela diri dan sihir, meski awalnya aku tidak tahu cara bertarung...!"

"...Begitu ya. Jadi ada kemungkinan Tuan Muda bermaksud membangun organisasi tempur yang beranggotakan para budak?"

"Mungkinkah... Tuan Muda ingin kita menjadi organisasi bayangan yang menumpas orang-orang jahat di balik layar!?"

Marianne mulai bicara dengan mata berbinar-binar menanggapi dugaanku.

Namun, jika dipikir-pikir, semuanya jadi masuk akal. Jika Tuan Lawrence mengumpulkan budak untuk mengalahkan orang jahat yang sulit disentuh, maka alasannya mengajariku bela diri dan mengajari Marianne tentang bakteri berbahaya jadi sangat logis.

Meskipun alasan beliau tidak mau menerima uang dari budak masih belum kuketahui, mungkin itu untuk modal membeli peralatan tempur, atau sekadar meningkatkan moral budak agar risiko kalah saat melawan penjahat bisa berkurang.

Yah, suatu saat nanti tujuan Tuan Lawrence pasti akan terungkap, jadi untuk sekarang biarkan saja begitu.

Setelah itu, aku dan Marianne menikmati hari libur kami dengan berkeliling kota, jajan, dan melihat-lihat pernak-pernik menggunakan uang saku dari Tuan Lawrence (meskipun itu uang hasil kerja kami sendiri, bagi budak, harta miliknya adalah milik majikan, jadi kami menganggapnya sebagai uang saku pemberian beliau).




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close