Chapter 1
Skill [Slave Mastery] dan [Heal]
Tiga tahun telah
berlalu sejak saat itu.
Menghabiskan
waktu selama tiga tahun di dunia ini membuatku memahami banyak hal.
Pertama-tama, sepertinya di kehidupanku yang sebelumnya, aku mati karena stres
pekerjaan dan gaya hidup yang berantakan setiap hari.
Yah, wajar saja
kalau aku mati jika setiap hari hanya makan-minum berlebihan tanpa olahraga,
ditambah lagi stres yang tak tertahankan dari perusahaan hitam (black
company).
Lalu, namaku yang sekarang adalah Lawrence Westgaff.
Sepertinya aku terlahir di keluarga bangsawan, kedua orang tuaku pun sangat
baik. Bisa dibilang ini adalah lingkungan yang ideal.
Mungkin Tuhan merasa kasihan melihat kehidupanku sebelumnya,
jadi Dia memberiku perlakuan istimewa di kehidupan kali ini.
Terlebih lagi, dunia ini sangat mirip dengan dunia VRMMORPG
yang sangat kugandrungi dulu. Tak
pernah sekalipun aku merasa sebersyukur ini kepada Tuhan dan Buddha.
Oke, kembali ke
topik. Aku punya seorang kakak laki-laki yang terpaut lima tahun dariku, dia
dijuluki sebagai bocah ajaib.
Biasanya, dalam
situasi seperti ini, tidak bisa mewarisi bisnis keluarga adalah sebuah
kerugian. Namun, mengingat dunia ini sangat mirip dengan gim yang dulu
kumainkan, bagiku ini justru keuntungan.
Aku bisa
melimpahkan segala urusan bangsawan yang merepotkan dan tetek bengek lainnya
kepada Kakak. Jujur saja, ini benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba.
Kalau ditanya apa
aku ingin mencicipi gemerlapnya dunia bangsawan, tentu saja aku mau. Tapi,
daripada itu, di kehidupan kali ini aku ingin sebisa mungkin tidak bekerja.
Aku tidak perlu
membandingkannya dengan kemewahan hidup bangsawan, aku tetap memilih slow
life.
Lagipula, di
kehidupan sebelumnya aku sudah bekerja sampai mati secara harfiah. Jadi, aku
tidak mau bekerja lagi setelah terlahir kembali dan mulai menyusun rencana.
Rencananya adalah
memanfaatkan pengetahuan dari kehidupanku yang dulu untuk hidup santai dan
bermalas-malasan tanpa perlu bekerja sebisa mungkin.
Bisa dibilang,
menjadikan hal ini sebagai tujuan utama adalah misiku di kehidupan sekarang.
Untuk saat ini,
jika dunia ini memang sesuai dengan dunia gim, sebentar lagi aku akan menjalani
upacara pemberian Skill di gereja untuk memastikan Skill apa yang dianugerahkan
padaku.
Kurasa memikirkan
metode konkret untuk hidup slow life bisa menunggu sampai aku tahu Skill
apa yang kupunya. Sembari menunggu, akan lebih bermanfaat jika aku mempelajari
satu atau dua sihir dari buku sihir yang ada di ruang kerja Ayah.
Mengenai
upacara pemberian Skill ini, setiap orang setidaknya memiliki satu Skill.
Misalnya, jika seseorang memiliki Fire Friend, maka kekuatan sihir
elemen api akan meningkat sepuluh persen. Jika Fire User, maka akan
meningkat dua puluh persen.
Skill-skill
tersebut sangat beragam. Jika kau berhasil mendapatkan Skill seperti Knight
yang meningkatkan seluruh kemampuan fisik sebesar tiga puluh persen, itu bisa
dianggap sebagai rezeki nomplok.
Ngomong-ngomong,
Kakak memiliki Skill Extreme Flame, yang efeknya meningkatkan kekuatan
sihir elemen api sebesar lima puluh persen.
Berdasarkan
pengetahuan gimku, Skill elemen api yang paling tinggi adalah Flame Emperor,
dan Extreme Flame adalah Skill dengan peningkatan status tertinggi kedua
setelahnya.
Efek
Skill Flame Emperor bukan lagi sekadar kuat, tapi benar-benar curang
karena melipatgandakan kekuatan sihir api. Namun, Skill itu mustahil didapatkan
tanpa pengetahuan gim, dan biasanya hanya dimiliki oleh ras tingkat tinggi
seperti Naga sejak lahir.
Dengan kata lain,
Kakak memiliki Skill elemen api tertinggi yang bisa dimiliki oleh ras manusia.
Pantas saja dia dipuja-puji sebagai bocah ajaib.
Sebaliknya, aku
justru berharap mendapatkan Skill sampah.
Alasannya,
sepertinya orang tuaku maupun Kakak tidak tahu, tapi kita bisa menambahkan
hingga maksimal lima Skill, dan kita juga bisa membuang Skill yang dirasa tidak
perlu.
Itu pun jika
aturannya sama persis seperti di gim.
Karena itu,
rencanaku adalah semakin buruk Skill yang kudapat, maka aku tidak akan menonjol
dan bisa bersembunyi di balik bayang-bayang Skill Kakak yang cemerlang.
Singkatnya, aku ingin menjadikan Kakak sebagai tameng.
Biar
bagaimanapun, aku tetaplah bangsawan. Akan sangat merepotkan jika aku
mendapatkan Skill yang terlalu bagus lalu dipaksa bertunangan dengan seseorang.
Secara mental aku
tidak akan kuat jika harus melibatkan orang lain yang tidak ada hubungannya
dengan hobiku.
Untuk apa aku
bersusah payah bebas dari perusahaan hitam jika di kehidupan ini aku harus
tetap hidup dalam stres? Targetku adalah hidup bebas stres.
Waktu pun
berlalu, dan akhirnya tiba hari di mana upacara pemberian Skill akan
dilaksanakan esok hari.
"Tidak
apa-apa, Lawrence. Kamu sudah banyak membaca buku sihir dan bahkan sudah
menguasai sihir dasar api, air, tanah, dan angin. Padahal Kakakmu, Thomas, baru
bisa menguasai sihir dasar api saat dia seumuran denganmu."
"Apa kau
tidak malah membuatnya makin cemas dengan memberi harapan setinggi itu,
Penny?"
"Benar juga,
Edward. Lawrence, kami bersumpah akan tetap menyayangimu apa pun Skill yang kau
dapatkan nanti. Jadi, pergilah ke upacara itu dengan kepala tegak."
Saat aku terlihat
gelisah, orang tuaku yang mengira aku gugup menghadapi upacara besok pun
menghiburku sambil mengelus kepalaku.
Mereka
benar-benar orang tua yang baik. Mereka pasti tidak menyangka kalau anak mereka
ini justru sedang berdoa, 'Semoga besok aku dapat Skill sampah'.
"Iya,
Ibu! Ayah juga, terima kasih banyak sudah mengkhawatirkanku!"
Tentu saja aku
tidak memberitahu mereka apa yang kupikirkan. Hari itu kami sekeluarga
menghabiskan waktu dengan santai.
◆
Meski gugup, hari
yang dinanti pun tiba. Cuaca sangat cerah tanpa awan sedikit pun. Seolah-olah
langit pun ikut merayakan langkah awal perjalananku.
"Berjuanglah,
Lawrence. Kami akan menunggumu di luar ruangan, ya?"
"Apa pun
hasilnya, kembalilah dengan bangga sebagai anggota keluarga Westgaff."
"Ingatlah,
apa pun Skill-mu, kau tetap adik kebanggaanku."
Begitu sampai di
gereja bergaya Gotik di kota, keluargaku langsung menunjukkan rasa cemas
mereka. Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang baik, tapi jika
dilakukan di depan umum begini, rasanya agak memalukan. Aku lebih suka jika
mereka melakukannya di dalam kereta tadi.
Setelah kami
sekeluarga sampai di gereja, kami menjelaskan keperluan kami kepada seorang
pendeta wanita dan diantar ke sebuah ruang terpisah.
Di ruangan itu
tidak ada apa pun selain meja panjang setinggi pinggang dengan sebuah kristal
di atasnya. Dinding dan lantainya berwarna putih bersih, menciptakan atmosfer
yang tidak biasa.
"Silakan
letakkan tanganmu di atas kristal ini. Dalam beberapa detik, Skill-mu akan
muncul."
"Baik!
Saya mengerti!"
Lihatlah
kekuatan shota yang sudah mendarah daging ini. Dari sisi mana pun, aku
terlihat seperti anak kecil yang aktif dan ramah.
Melihatku
yang begitu penuh energi, sang pendeta pun membalas dengan senyuman. Jika bisa,
aku ingin memanfaatkan status anak kecil ini untuk memeluk sang pendeta, tapi
aku menahan hasrat itu.
Sesuai
instruksi, aku meletakkan tangan di atas kristal sambil menyusun sebuah
hipotesis. Alasan mengapa penduduk dunia ini tidak terlalu paham soal Skill
kemungkinan besar karena upacara pemberian Skill ini.
Di dalam
gim, kita bisa mengecek Skill kapan saja melalui layar status. Tapi itu hanya
bisa dilakukan di gim. Di dunia nyata, untuk mengecek Skill, kau harus pergi ke
gereja dan meletakkan tangan di atas kristal seperti ini.
Jujur
saja, ini merepotkan. Selain itu, konsep bahwa Skill adalah sesuatu yang
permanen juga memperparah keadaan. Setelah melakukan upacara sekali, tidak akan
ada orang yang mau membayar lagi (gratis hanya saat ulang tahun ketiga) untuk
mengecek Skill mereka.
Banyak
orang menganggap upacara ini hanya untuk anak-anak, jadi hampir tidak ada orang
dewasa yang melakukannya.
"Mu-muncul... Ta-tapi ini..."
Saat aku sedang berpikir, sepertinya Skill-ku sudah muncul. Sambil menahan debar jantung, aku
mengeceknya. Di sana muncul dua Skill: Slave Mastery dan Heal.
Skill ganda, ya... Ini cukup langka, jadi aku sedikit
khawatir akan dipuja-puji. Tapi
jika dibandingkan dengan Kakak, Skill ini jelas terlihat lebih lemah.
Aku
merasa lega karena sepertinya aku bisa tetap berada di posisi adik yang
biasa-biasa saja di bawah bayang-bayang Kakak, sesuai target awal.
Padahal
di dunia ini Skill tersebut dianggap tidak berguna, tapi menurutku Slave
Mastery dan Heal adalah Skill yang cukup praktis.
Sang
pendeta yang tidak tahu hal itu mulai berkeringat dingin dan gemetar. Wajahnya
pucat saat dia bergegas keluar ruangan menuju orang tuaku.
"Lawrence-sayang!"
"Lawrence!!"
"Lo-Lawrence!!"
Entah apa yang dijelaskan padanya, orang tua dan Kakakku
masuk ke ruangan dengan wajah pucat sambil memanggil namaku, lalu mereka semua
memelukku dengan sangat erat.
Hari itu, melalui diskusi keluarga, diputuskan bahwa dari
semua Skill-ku, Slave Mastery akan dirahasiakan dari publik.
◆
Satu minggu telah
berlalu sejak saat itu. Keluargaku masih sering menghiburku dan menatapku dari
kejauhan dengan tatapan sedih.
Bagiku, aku punya
kepercayaan diri untuk bertahan hidup bahkan tanpa Skill sekalipun, jadi
kebaikan mereka ini justru terasa menyesakkan.
Ini seperti saat
kau bercanda bilang, "Barang pentingmu tidak sengaja kurusak,"
padahal barang itu sebenarnya tidak terlalu penting bagi mereka. Tapi candaan
itu ditanggapi serius.
Orang tuaku
memberiku uang jajan yang tidak sedikit sambil berkata, "Mungkin ini tidak
bisa menggantikannya, tapi belilah apa pun yang kau mau." Kakakku bahkan
memberikan barang berharganya padaku sambil berkata, "Sebagai gantinya,
ambillah barang berhargaku ini."
Aku merasa sangat
bersalah. Tapi jika aku bilang, "Sebenarnya dunia ini mirip dengan gim
yang kumainkan dulu, dan aku bisa mengganti Skill sesukaku," mereka pasti
tidak akan percaya.
Mereka justru
akan mengira aku sedang mencoba lari dari kenyataan pahit hasil upacara itu,
dan itu hanya akan membuat mereka semakin cemas.
Karena itu, aku
berpikir untuk terus menunjukkan bahwa aku "sama sekali tidak
keberatan" sampai kecemasan mereka hilang. Tepat saat itulah, Ayah
memanggilku ke ruang kerjanya.
"Lawrence.
Kau baru berusia tiga tahun, jadi mungkin kau belum mengerti situasi ini. Tapi
saat kau dewasa nanti, ketahuilah bahwa keluarga akan selalu memihakmu—"
Ayah mulai
memulai pembicaraan dengan topik yang sudah kudengar berkali-kali belakangan
ini.
Inti dari
pembicaraan ini ada dua poin yang dijelaskan secara sederhana agar aku yang
masih berusia tiga tahun bisa paham.
Pertama, Skill
yang kudapatkan adalah Slave Mastery—yang sekarang dianggap tidak
berguna karena sihir kontrak budak sudah ditemukan—dan Skill Heal—yang
hanya sedikit meningkatkan kemampuan penyembuhan target. Dengan kata lain, kondisiku hampir
sama dengan orang yang tidak punya Skill.
Kedua, meskipun
begitu, keluargaku akan selalu mendukungku.
Jika mau, Ayah
bisa saja membohongiku dengan cara apa pun. Namun, beliau memilih untuk tidak
lari dan menghadapiku yang masih berusia tiga tahun ini sebagai seorang manusia
dewasa.
Lari itu mudah,
dan membohongi anak kecil itu sangat gampang. Beliau benar-benar ayah yang luar
biasa, sampai-sampai aku merasa tidak pantas memilikinya.
Karena itulah,
aku pun memutuskan untuk merespons Ayah sebagai sesama pria. Aku bertekad untuk
menceritakan segalanya tentang kedua Skill-ku ini kepada Ayah.
Aku percaya Ayah
tidak akan menertawakanku atau menganggap ini hanya bualan anak kecil. Alasan
"karena aku merasa begitu" saja sudah cukup bagiku.
Aku menarik napas
dalam-dalam, lalu menatap Edward Westgaff, ayahku. Untuk pertama kalinya sejak
datang ke dunia ini, aku melepaskan topeng anak kecilku dan menatapnya dengan
ekspresi serius.
"Ayah, ada
yang ingin aku bicarakan mengenai hal itu."
"............Siapa kau sebenarnya... Tidak, siapa pun
kau, kau adalah Lawrence, anakku dan istriku. Maaf. Jadi, apa yang ingin kau
bicarakan?"
Ayah sempat terlihat curiga sejenak melihat perubahanku,
tapi beliau segera menghapus ekspresi itu dan kembali menatapku.
"Ini
mengenai kegunaan dari Skill Slave Mastery dan Skill Heal."
Lalu aku
mulai menjelaskan tentang kedua Skill ini. Tentu saja aku tidak bisa bicara
soal mengganti Skill karena itu bisa merusak tatanan dunia ini. Aku baru akan mengatakannya jika suatu
saat nanti benar-benar diperlukan.
Pertama,
mengenai Skill Slave Mastery. Kemampuan ini memungkinkan penggunanya
menggunakan Skill yang dimiliki oleh budak tersebut jika tingkat kesetiaan sang
budak sudah mencapai maksimal.
Sejujurnya,
jika hanya mendengar kemampuannya saja, ini adalah Skill yang curang. Namun di
dunia gim, tidak banyak budak yang memiliki Skill yang benar-benar berguna.
Selain itu, memilih Skill yang sesuai dengan Job kita melalui
penggantian Skill juga sangat merepotkan.
Singkatnya,
setelah melakukan Gacha untuk mendapatkan unit budak yang bagus, kau
harus melakukan Gacha Skill budak lagi (karena berbeda dengan pemain,
budak tidak bisa mendapatkan Skill lewat cerita, jadi harus menggunakan item
berbayar tertentu untuk menukarnya secara acak).
Di dalam
gim, sistem membatasi jumlah budak yang bisa dikontrak maksimal hanya dua
orang. Jadi, jika kau punya banyak waktu dan uang, kemampuan Slave Mastery
ini sebenarnya hanya setara dengan "memiliki dua Skill tambahan yang
lumayan kuat".
Namun, di dunia
nyata ini tentu saja tidak ada batasan jumlah budak. Di dunia nyata, kau tidak
perlu khawatir soal delay atau crash meskipun mengontrak banyak
budak, dan tentu saja tidak ada regulasi keseimbangan gim.
Berikutnya adalah
Skill Heal. Ini adalah Skill serbaguna yang jika dirapalkan setiap hari,
penyakit parah apa pun tidak akan bertambah parah. Bahkan jika level Skill-nya
ditingkatkan, kesembuhan total pun sangat mungkin terjadi.
Alasan mengapa
hal ini tidak banyak diketahui adalah karena adanya Skill seperti Saint
atau Priest.
Skill Saint
memang langka, tapi setidaknya ada satu orang yang lahir setiap lima puluh
tahun sekali. Sedangkan Skill Priest, meski cukup jarang, rasionya
sekitar satu banding dua ratus orang setiap tahunnya.
Saat terluka atau
sakit, semua orang lebih memilih pergi ke pemilik Skill Priest daripada
pemilik Skill Heal.
Sebagai catatan,
Skill Priest bisa memulihkan kerusakan yang diderita seseorang, tapi
berbeda dengan Heal, ia tidak bisa menyembuhkan luka atau penyakit itu
sendiri hingga ke akarnya.
Namun, memulihkan
kerusakan berarti juga memulihkan stamina orang tersebut. Saat Skill Priest
dirapalkan, orang itu akan langsung merasa baikan. Sementara Skill Heal
tidak memulihkan stamina, sehingga orang-orang cenderung berpikir Skill Priest
lebih efektif.
Dalam
gim, kita bisa melihat parameter status, jadi kita tahu kapan harus menggunakan
Priest untuk memulihkan HP dan kapan harus menggunakan Heal untuk
memulihkan status abnormal. Memiliki kedua Skill ini adalah syarat minimal
untuk menjadi seorang Healer.
Sementara
itu, Skill Saint memiliki kedua efek tersebut, namun kekuatannya terbagi
dua sehingga terasa kurang maksimal di saat-saat kritis.
Aku menjelaskan
semua itu kepada Ayah dengan sangat mendetail dan sopan. Ayah yang awalnya
memasang wajah kaku mulai melunak. Meski tidak lantas percaya sepenuhnya, aku
bisa melihat ekspresinya berubah menjadi lebih terbuka untuk percaya.
Bisa dibilang
tujuanku sudah tercapai. Lalu, di sini aku mengajukan permohonan yang
mempertaruhkan hidupku kepada Ayah.
"Namun, aku
mengerti bahwa mustahil bagi Ayah untuk langsung memercayai semua perkataan
anak berusia tiga tahun ini. Karena itu Ayah, maukah Ayah membelikan budak
untukku?"
Normalnya,
memberikan budak kepada anak berusia tiga tahun adalah hal yang mustahil. Orang
tua biasa pasti akan langsung menceramahiku.
Namun, karena ini
adalah Ayah yang sudah mendengarkan perkataan anak tiga tahun dengan serius,
aku percaya beliau akan mengabulkan permintaanku.
"............Baiklah.
Bagaimana kalau hari libur minggu depan?"
"I-iya!
Terima kasih banyak!"
Setelah berpikir
sejenak, Ayah setuju untuk membelikanku budak pada hari libur nanti.
◆
Dan
akhirnya, hari libur yang kunantikan tiba. Sejujurnya semalam aku terlalu
bersemangat sampai tidak bisa tidur nyenyak. Tapi rasa semangatku mengalahkan rasa kantuk, aku
bahkan tidak merasa mengantuk sedikit pun.
"Kau tidak apa-apa, Lawrence? Jika kau merasa kurang sehat, kita bisa menundanya
ke lain hari."
"Tidak,
aku tidak apa-apa. Sejak hari itu, aku hidup hanya untuk menantikan hari ini
datang."
Melihat
kondisiku, Ayah mengkhawatirkan kesehatanku dan menawarkan untuk menundanya.
Namun aku langsung menolaknya mentah-mentah dengan tegas.
Aku
menghargai kebaikan Ayah, tapi jujur saja, hari ini aku sudah bertekad untuk
pergi meski harus merangkak sekalipun.
"Begitu
ya. Tapi kalau kau merasa tidak kuat, segera bilang pada Ayah, ya? Tidak harus hari ini juga, kok. Kita bisa
pergi lain kali kalau kau sudah merasa lebih baik."
Ayah memang
sangat baik hati, tapi bukannya sombong, aku tidak punya cukup ketabahan untuk
menunggu hari libur berikutnya sementara barang yang kuinginkan sudah
terpampang di depan mata.
"Baik. Kalau
aku merasa benar-benar tidak kuat, aku pasti akan bilang pada Ayah."
"Bagus.
Kalau begitu, ini adalah janji antar lelaki."
Ayah mengangguk
mantap mendengar jawabanku. Beliau mengepalkan tangan kanannya dan
mengarahkannya padaku sebagai tanda 'janji lelaki', jadi aku pun mengepalkan
tangan kananku dan membenturkannya pelan ke kepalan tangan Ayah.
"Aduh, aduh.
Baru ditinggal sebentar saja Lawrence sudah jadi laki-laki dewasa, ya."
Ibu hanya bisa
memandangi pemandangan itu dengan senyum simpul.
◆
Toko budak yang
baru pertama kali kukunjungi ini ternyata sangat megah, berbeda jauh dari
bayanganku. Bagian dalamnya pun tertata rapi dan bersih.
"Toko budak
itu ada kelasnya masing-masing. Karena budak ini untukmu, aku membawamu ke toko
langganan para bangsawan. Tentu saja eksterior dan interiornya terawat, dan
budak-budak di sini adalah kualitas kelas satu. Harganya memang sedikit lebih
mahal, tapi kau tidak perlu khawatir soal pemalsuan ras atau budak
ilegal."
"……Begitu
ya."
Ayah menjelaskan
hal itu setelah melihatku yang tampak tegang. Mungkin berkat pembicaraan soal
Skill tempo hari, Ayah menilai aku sudah cukup dewasa untuk memahami hal ini.
Beliau tidak lagi menggunakan bahasa kekanak-kanakan dan bicara padaku seperti
bicara pada orang dewasa.
Singkatnya, toko
budak ini menjual kualitas dan keamanan sebagai satu paket terpisah dari barang
dagangannya.
"Ada apa,
Lawrence? Wajahmu terlihat sedikit kecewa. Apa ada toko budak lain yang ingin
kau kunjungi?"
"Tidak,
bukan begitu. Hanya saja, aku berniat menaikkan level kedua Skill-ku, Slave
Mastery dan Heal, secara bersamaan. Tapi kalau toko ini hanya
menjual budak berkualitas tinggi, aku takut tidak ada budak yang butuh diobati
dengan Heal. Tapi, aku juga tidak mau membeli budak ilegal, jadi aku
bingung harus bagaimana..."
Ayah tidak
melewatkan sedikit pun perubahan ekspresiku. Saat aku menjawab dengan jujur,
beliau hanya bergumam "Begitu ya" sambil tampak berpikir keras.
Apa beliau punya
rencana? Sambil memikirkan hal itu, aku berjalan bersama Ayah menuju meja
resepsionis.
Saat sedang
menunggu di ruang tamu, terdengar suara ketukan pintu. Seorang manajer pria dan seorang
asisten wanita masuk ke ruangan.
"Perkenalkan,
saya Oaks, manajer yang bertanggung jawab di sini. Dan ini adalah Sara, asisten
manajer kami."
Oaks,
sang manajer, adalah pria jangkung ramping dengan rambut yang disisir rapi ke
belakang dan mengenakan kacamata. Kesannya benar-benar seperti pria yang
kompeten dalam bekerja. Sara, sang asisten, juga tampak seperti wanita karier
yang handal dengan rambut panjang yang diikat rapi dan setelan jas yang pas di
tubuhnya.
"Ah,
salam kenal. Kalian pasti sudah tahu siapa aku, Edward Westgaff. Dan di
sampingku ini adalah putraku, Lawrence."
Setelah
saling memperkenalkan diri, Oaks duduk di kursi seberang meja dan hendak
menyodorkan berkas berisi daftar budak, namun Ayah menghentikannya dengan
tangan. Seolah-olah Ayah sudah menentukan budak mana yang ingin dibeli sejak
awal.
"Tidak
perlu berkasnya. Langsung saja, apakah ada penyintas yang kembali dari
budak-budak yang dijual kepada Fulda, mantan Ketua Asosiasi Sihir yang
dieksekusi kemarin?"
"I-iya. Ada
satu orang, tapi... kondisinya sama sekali tidak layak untuk dijual. Saya mohon
maaf yang sebesar-besarnya—"
"Tidak
masalah. Jika perlu, kita bisa membuat kontrak sihir yang menyatakan bahwa
'segala hal yang terjadi adalah tanggung jawab kami, tidak akan merugikan pihak
Anda, dan kami tidak akan menyebarkan rumor apa pun'. Aku bahkan bersedia membayar di atas harga
pasar."
"……Sa-saya
mengerti. Tapi jika saya menjual orang itu, risiko terburuknya adalah
kepercayaan yang telah dibangun perusahaan kami bisa hancur. Mohon beri saya
waktu untuk menghubungi pemilik toko dan meminta konfirmasi."
Oaks
tampaknya merasa terjepit di antara permintaan Ayah yang seorang Duke dan
prinsip perusahaannya sendiri. Karena merasa tidak bisa memutuskannya sendiri,
dia pamit keluar ruangan bersama Sara untuk berkonsultasi dengan pemilik toko.
"Lawrence."
"Ada
apa, Ayah?"
"Aku
paham kalau efeknya akan meningkat seiring naiknya level Skill. Tapi, untuk
Skill Heal milikmu, apakah itu berarti jika levelnya naik dari sekadar
mempertahankan kondisi menjadi penyembuhan total, ia juga bisa menumbuhkan
bagian tubuh yang hilang?"
"Ah,
iya. Meski butuh waktu bertahun-tahun sampai bisa menumbuhkan bagian tubuh yang
hilang."
"Begitu ya... Baiklah. Jika semua perkataanmu ini
benar, maka informasi ini akan kujadikan rahasia keluarga yang paling krusial
dan tidak boleh bocor ke luar."
Menurutku pribadi, informasi ini lebih baik disebarkan. Tapi
untuk informasi yang bisa mengguncang tatanan dunia seperti ini, memang
seringkali lebih baik jika dirahasiakan saja.
"Mohon maaf
telah menunggu lama. Setelah berdiskusi dengan pemilik toko, kami diizinkan
untuk menjualnya dengan syarat Anda menandatangani kontrak yang diajukan tadi,
serta berjanji tidak akan menyebarkan hal ini kepada publik apa pun yang
terjadi. Silakan tanda tangan di dokumen ini."
Sepertinya izin
penjualan budak tersebut sudah keluar. Ayah membaca dokumen itu, lalu
mengalirkan kekuatan sihir ke penanya untuk menandatangani berkas tersebut.
Oaks kemudian menyimpannya dengan hati-hati.
"Kalau
begitu, silakan lewat sini. Saya akan mengantar Anda."
Oaks
membawa kami ke sebuah kamar. Di sana, seorang wanita ras Dragonoid terbaring
di atas tempat tidur dengan kondisi sangat lemah, sampai-sampai aku ragu apakah
dia masih hidup atau tidak.
"Seperti
yang Anda lihat. Dia adalah korban dari Fulda, mantan Ketua Asosiasi Sihir.
Organ sihirnya (Mana Organ) telah diambil paksa, dan dia bisa mati kapan
saja. Saya tanya sekali lagi, apakah Anda benar-benar yakin?"
"Tidak
masalah. Aku akan membelinya sesuai harga yang kau tawarkan."
Oaks melakukan
konfirmasi terakhir setelah melihat kondisi sang budak, namun Ayah menegaskan
bahwa tekadnya tidak berubah. Dan hari itu, aku mendapatkan budak pertamaku.
◆
Setelah dibelikan
budak oleh Ayah, aku segera melakukan kontrak budak dengan wanita Dragonoid
yang masih pingsan itu. Di dalam kereta dalam perjalanan pulang, aku
menggenggam tangannya dan mengaktifkan Skill Heal secara terus-menerus.
Mengenai budak
pertamaku ini, kata Oaks, dia dibuang oleh orang tuanya karena dianggap produk
gagal. Ditambah lagi organ sihirnya diambil sehingga dia bisa mati
sewaktu-waktu. Karena itulah, harganya hampir mendekati gratis.
Bahkan sebenarnya
pihak toko tidak keberatan memberikannya cuma-cuma demi mengurangi beban biaya
perawatan. Namun, karena di dunia ini "barang gratisan adalah yang paling
mahal", Ayah tetap membelinya seharga sepuluh keping koin perunggu sebagai
bukti sah kepemilikan.
Alasan lain
mengapa dia murah adalah karena "dia tidak punya kemampuan sejak awal,
sehingga nilai aslinya memang rendah". Tapi bagi Fulda, hal itu justru
menjadi keuntungan karena ia bisa mendapatkan organ sihir Dragonoid yang
berkualitas.
Mendengar betapa
malangnya hidup wanita ini, tanpa sadar aku mempererat genggamanku. Aku
berjanji dalam hati akan membuatnya merasa bersyukur karena telah dilahirkan ke
dunia ini.
Namun, bicara
soal ras Dragonoid, meski dia punya sisik naga di leher, pipi, serta ujung
tangan dan kakinya, serta ekor besar dan sayap megah di punggungnya... aku
merasa sedikit bersalah karena merasa antusias. Melihat bagian tubuhnya yang
bukan manusia itu membuatku sadar sepenuhnya bahwa aku benar-benar berada di
dunia lain.
Meski tujuannya
untuk menaikkan level, mengaktifkan Skill terus-menerus ternyata jauh lebih
melelahkan daripada bayanganku. Pantas saja selama ini tidak ada orang yang mau
melakukannya, karena biasanya orang-orang hanya menggunakan Skill Heal
sekali saja lalu selesai.
Ternyata tanpa
penggunaan terus-menerus, level Skill Heal tidak akan pernah naik.
Itulah mengapa selama ini Skill ini hanya dianggap sebagai pengganjal sampai
mereka menemukan Saint atau Priest.
Sepertinya aku
sudah mencapai batas kemampuanku hingga tanpa sadar aku tertidur. Aku baru
tersadar saat Ayah mengguncang bahuku pelan, menandakan kereta sudah sampai di
rumah.
"Kerja
bagus. Untuk hari ini, istirahatlah dulu."
"Baik, Ayah.
Aku akan melakukannya. Tolong bawa dia ke kamarku dan siapkan tempat tidur baru
untuknya."
Wanita itu dibawa
oleh pelayan, sementara aku digendong oleh Ayah menuju kamarku.
◆
"……A-aku
masih hidup? Apa aku benar-benar masih hidup? Ataukah ini surga?"
Sekitar setengah
tahun sejak Ayah membelikannya untukku, wanita Dragonoid itu akhirnya
terbangun. Dia menatap sekeliling dengan bingung, seolah tidak percaya dengan
apa yang dia alami.
Wajar saja.
Setelah organ sihirmu dicuri lalu kau terbangun di tempat asing dengan
langit-langit yang tak dikenal, siapa pun pasti mengira mereka sudah berada di
dunia setelah kematian.
"Sy-syukurlah…… benar-benar syukurlah……!"
Namun bagiku, kesembuhannya adalah kabar terbaik di atas
segalanya. Aku segera membunyikan lonceng pemanggil pelayan dan
menginstruksikan mereka untuk melapor pada Ayah bahwa dia sudah sadar.
Ayah datang
berlari kurang dari satu menit. Tentu saja. Kesembuhan wanita ini membuktikan
bahwa penjelasanku soal Skill Heal tempo hari adalah benar. Ini adalah
momen di mana akal sehat dunia ini jungkir balik, jadi wajar jika beliau sangat
bersemangat.
Atau begitulah
pikirku. Namun, Ayah tiba-tiba berhenti saat melihat wanita itu yang masih
tampak linglung.
"Syukurlah,
benar-benar syukurlah," gumam Ayah pelan dengan mata berkaca-kaca.
Ayah memang tahu
bahwa ini membuktikan teoriku benar, tapi beliau jauh lebih bahagia karena
nyawa wanita ini berhasil diselamatkan. Melihat sosok Ayah yang seperti itu,
aku merasa sangat bangga terlahir sebagai putra di keluarga ini.
"Jadi, Anda
adalah orang yang telah mengobati tubuh saya, sekaligus majikan saya
sekarang?"
Setelah kepala
pelayan wanita datang, para pria diminta keluar sebentar agar dia bisa berganti
pakaian. Setelah itu, Ayah menjelaskan segala kronologi yang terjadi.
Wanita Dragonoid
itu menatapku dengan ekspresi tidak percaya setelah mendengar penjelasan Ayah.
Tapi aku tidak marah. Jika aku di posisinya, aku pun tidak akan percaya jika
diselamatkan oleh anak yang baru berusia tiga tahun lewat sedikit.
"Benar. Aku
adalah majikanmu, dan aku juga yang mengobatimu. Namun, aku tidak memintamu
untuk langsung memercayai kata-kata anak kecil sepertiku, dan aku tidak akan
memerintahmu untuk percaya. Aku ingin kau melihatnya sendiri mulai sekarang dan
mulai memercayaiku sedikit demi sedikit."
"Ba-baik.
Saya mengerti."
"Lalu, jika
kau tidak keberatan, bolehkah aku tahu namamu? Namaku Lawrence
Westgaff."
"Ah, i-itu…… nama saya adalah…… anu……"
"Jika tidak
mau mengatakannya, kau tidak perlu memaksakan diri."
Aku berniat
menanyakan namanya segera setelah dia bangun, tapi sepertinya suasananya tidak
memungkinkan. Dia pasti punya masa lalu yang tidak ingin diingat, dan mungkin
namanya berkaitan erat dengan kenangan pahit itu.
Jika begitu,
daripada memaksanya bicara, lebih baik aku memberinya nama panggilan baru saja.
Namun, tepat saat aku berpikir demikian, dia mulai bicara terbata-bata.
"Sa-saya…… adalah Dragonoid…… tapi, saya sangat buruk
dalam menggunakan sihir…… Terutama sihir elemen api yang merupakan keahlian ras
kami, saya benar-benar tidak bisa…… Padahal, nama saya adalah Flame. Orang tua
saya memberikan nama itu dengan harapan saya menjadi Dragonoid yang paling ahli
dalam sihir api……"
"Tapi, hasilnya orang tua saya menyebut saya aib
keluarga. Nama itu benar-benar tidak cocok untuk saya…… Di saat kakak dan adik
saya semuanya punya Skill elemen api, hanya saya yang punya Skill elemen
angin……"
Flame menceritakan hal itu dengan nada mencela diri sendiri.
Padahal menurutku, elemen api dan angin adalah kombinasi yang sangat serasi.
Tapi mungkin bagi mereka, tidak bisa menggunakan sihir api adalah sebuah
kegagalan total.
Seandainya aku bisa mengecek statusnya seperti di gim,
segalanya pasti lebih mudah. Tapi
ini bukan dunia gim, jadi tidak ada fitur praktis seperti itu.
Namun,
ada hal yang mengganjal. Dragonoid bersisik merah biasanya bertarung dengan
sihir api sebagai pusat kekuatannya. Mungkinkah cacat pada organ sihirnya sejak
lahir yang membuatnya sulit mengalirkan mana?
Jika
begitu, seiring pulihnya organ sihir itu berkat Heal, mungkin kekuatan
sihirnya juga akan meningkat. Namun, tidak ada gunanya memikirkan hal yang
belum pasti, jadi aku terus menggunakan Skill Heal padanya sambil
berharap yang terbaik.
◆
Satu
minggu telah berlalu sejak Flame terbangun.
Sejak
awal pengobatan, aku selalu memastikan sendi-sendinya dirawat agar tidak kaku.
Namun, otot yang melemah karena terbaring selama setengah tahun tidak bisa
dihindari. Awalnya Flame bahkan tidak bisa berdiri.
Tapi
hanya dalam satu minggu, sekarang dia tidak hanya bisa berjalan, tapi juga
berlari, bahkan terbang. Ras Dragonoid memang luar biasa.
Sekarang,
setiap pagi Flame dilatih oleh kepala pelayan wanita tentang cara menjadi
pelayan yang baik, dan siang harinya dia dilatih bela diri oleh kepala pelayan
pria sebagai pengawal pribadiku. Jadwalnya sangat padat.
Aku
sempat khawatir dia akan kelelahan, tapi saat aku mengintip, wajahnya terlihat
sangat cerah dan bersemangat.
Bela diri
yang dia pelajari berpusat pada teknik fisik. Berkat atletisitas ras Dragonoid,
kecepatan pertumbuhannya sangat luar biasa hingga kepala pelayan pria pun
memujinya.
"Ah,
Tuan!"
Pandangannya
luas dan instingnya tajam. Padahal aku hanya ingin mengintip sebentar agar
tidak mengganggu latihannya, tapi Flame langsung menyadarinya dalam sekejap.
Wajah
Flame langsung merekah dengan senyum lebar. Sayap megah di punggungnya
mengepak, membawanya terbang ke arahku dengan kecepatan tinggi.
"Tuan!
Tuan!" Dia memelukku erat hingga aku bisa merasakan kelembutan dadanya
yang luar biasa.
"Kau tidak
perlu terburu-buru begitu, aku tidak akan lari ke mana-mana, kok."
"Semakin
cepat saya sampai, semakin lama saya bisa bersentuhan dengan Tuan!"
Aduh, aku senang
dia sudah sehat, tapi apa dia tidak terlalu menyukaiku? Perasaanku saja atau
bagaimana?
"Baiklah,
karena momennya pas, latihan hari ini kita cukupkan sampai di sini saja."
"Ba-baik!!
Tuan Sebas! Terima kasih banyak! Mohon bantuannya lagi besok!"
"Maaf,
Sebas. Gara-gara aku latihannya jadi berhenti di tengah jalan."
"Tidak masalah, Tuan Muda. Flame sangat cepat belajar dan kemampuan fisiknya luar biasa. Saya bahkan sangat menikmati saat melatihnya. Libur sehari atau dua hari tidak akan jadi masalah besar."
Setelah meminta
maaf kepada Sebas karena kehadiranku membuat latihan mereka terhenti, Sebas
justru balas memuji tingginya kemampuan Flame. Mendengarnya, aku merasa bangga
seolah-olah akulah yang sedang dipuji.
"Flame
memang hebat, ya!"
"I-itu
tidak benar... Saya masih belum apa-apa."
Melihat
ekspresi wajahnya, meski mulutnya merendah, emosi 'aku sangat senang dipuji'
terpancar jelas dari dirinya.
Mungkin
bergerak secara tidak sadar, tapi sebagai buktinya, ekor Flame bergoyang-goyang
ke kanan dan ke kiri persis seperti seekor anjing.
"Tentu
saja hebat. Bagaimanapun, kamu adalah Flame kebanggaanku!"
"Te-terima
kasih banyak! Mu-mulai sekarang, saya akan belajar lebih giat lagi sebagai
pelayan dan berlatih lebih keras agar Tuan selalu bisa berkata seperti
itu!"
"Iya,
semangat itu bagus. Tapi perhatikan juga kondisi tubuhmu, jangan sampai
memaksakan diri, ya."
"Baik!"
Ya, itu
benar-benar jawaban dan ekspresi yang bagus. Justru karena itulah aku khawatir
dia akan bekerja terlalu keras (overwork), jadi aku merasa perlu
mengingatkannya.
Yah, kalaupun
terjadi sesuatu, aku punya Skill Heal, jadi kurasa tidak akan ada
masalah. Selain itu, aku merasa melayaniku telah menjadi tujuan hidup sekaligus
penggerak utama bagi Flame sekarang, jadi aku berniat membiarkannya melakukan
apa yang dia suka.
Hanya saja,
karena aku masih berusia enam tahun, mungkin ini tidak bisa dihindari, tapi
digendong oleh seorang wanita itu rasanya cukup memalukan. Namun, jika Flame
memang ingin melakukannya, aku tidak keberatan digendong terus-menerus.
Tolong pahami
baik-baik, ini bukan karena aku ingin menikmati kelembutan 'buah dada' ranum
milik Flame secara legal berkat tubuh anak kecilku ini. Sama sekali tidak
terpikirkan hal semacam itu, sungguh.
"Ada pepatah
yang mengatakan bahwa pahlawan sejati menyukai wanita cantik. Tuan Muda mungkin
akan menjadi orang besar di masa depan. Saya, Sebas, sudah tidak sabar
menantikan masa depan Tuan Muda."
Intinya, aku
memutuskan untuk memberikan suap—maksudku, hadiah sebagai tanda terima kasih
atas kerja keras Sebas suatu hari nanti.
◆
Begitulah, bahkan
setelah kondisi Flame membaik, aku terus menghabiskan sisa sihirku setiap hari
untuk menggunakan Skill Heal padanya. Kurasa sekarang level Skill Heal
milikku sudah naik satu tingkat.
Berkat itulah
kondisi Flame bisa berkembang dari sekadar 'mempertahankan kondisi' menjadi
'regenerasi organ sihir', dan kini staminanya pun telah pulih. Aku yakin
dugaanku tidak salah.
Namun, alasan
Flame masih belum bisa menggunakan sihir dengan lancar kemungkinan karena level
Skill Heal-ku belum mencapai tingkat di mana aku bisa menyembuhkan organ
sihirnya ke kondisi normal seutuhnya.
Sambil memegang
secercah harapan bahwa organ sihirnya akan sembuh total jika levelku naik lagi,
tiga tahun berlalu dalam keseharian yang damai.
Kini aku berusia
enam tahun. Ibu bahkan sudah memberiku jaminan bahwa kemampuan sihirku sudah
setara dengan level kelulusan Ksatria Penyihir Istana.
Ngomong-ngomong, Ibu dulu adalah seorang penyembuh (Healer)
yang sangat tersohor. Kabarnya, berkat kecantikannya, ia bahkan sempat
dirumorkan sebagai Orang Suci (Saint) Kekaisaran.
Tentu saja itu hebat, tapi sejujurnya, aku malas mendengar
Ayah kandungku sendiri yang terus-menerus memamerkan kemesraan dan membanggakan
Ibu.
Hari ini pun, setelah aku selesai belajar teori dan praktik
sihir bersama Ibu, serta Flame selesai berlatih dengan Sebas, aku melakukan
rutinitas biasa di kamarku—memijat Flame sambil menggunakan Skill Heal.
Tiba-tiba, aku merasakan jumlah Mana yang terserap melonjak drastis secara
mendadak.
"Ah,
Tu-Tuan!? Hari ini terasa luar biasa... sangat intens!"
Flame sepertinya
juga merasakan hal yang berbeda dari Skill Heal biasanya, tapi aku jadi
berpikir; tidak bisakah dia mencari pilihan kata yang lebih baik?
Meski begitu,
menurut Flame, rasanya seolah tubuhnya sedang berubah, dan itu bukan sensasi
yang buruk. Mendengar hal itu, aku terus mengerahkan sisa sihirku hingga batas
minimal agar tetap bisa bergerak normal. Setelah selesai, aku memberikan
instruksi kepada Flame untuk mencoba menggunakan sihir tingkat rendah.
"Ta-tapi
saya... paling-paling hanya bisa mengeluarkan api seukuran lilin, lho?"
"Tidak
apa-apa, coba saja dulu. Buka jendelanya, lalu arahkan sihir elemen api tingkat rendah, Fireball,
ke langit."
"Ba-baiklah.
Jika Tuan berkata demikian, pasti ada alasannya. Tapi, tolong jangan benci saya
meskipun Fireball-nya nanti cuma seukuran api lilin, ya?"
"Jangan
khawatir. Meskipun kau tidak bisa mengeluarkan api seukuran lilin sekalipun,
aku tidak akan pernah membencimu. Malah, aku bisa pastikan kalau aku akan tetap
sangat menyukaimu."
"Ba-baik...!"
Sepertinya
kata-kataku telah memantapkan tekadnya. Flame membuka jendela dan merapalkan sihir
elemen api tingkat rendah, Fireball, ke arah langit.
Seketika
itu juga, suasana senja yang mulai menggelap menjelang malam langsung terang
benderang oleh Fireball raksasa yang dilepaskan Flame. Cahaya itu terus
menerangi sekitar, seolah-olah ada matahari kecil yang muncul.
Melihat
pemandangan itu, aku menghela napas lega dari lubuk hatiku yang terdalam.
Ternyata hipotesis-ku memang benar.
"Fla-Flame!
Flame! Flame! Kau berhasil!!"
"Awawawawa!? Tu-Tuan!! Ini... barusan itu Fireball
saya!?"
Aku sendiri terkejut karena dia bisa mengeluarkan Fireball
sebesar itu, tapi Flame sendiri jauh lebih terkejut hingga akhirnya dia
berjongkok dan mulai menangis sesenggukan.
Mengingat perjalanan hidup yang telah dilalui Flame sejauh
ini, aku sangat paham mengapa dia menangis. Aku mendekat dan menggunakan tubuh
kecilku ini untuk memeluknya yang masih bersimpuh. Aku mengelus kepalanya dengan lembut untuk
menenangkannya sampai dia berhenti menangis.
"Te-terima
kasih, Tuan. Ma-maafkan saya. Sa-saya sedikit kehilangan kendali."
Bukan cuma
sedikit, sih—pikirku. Tapi pria idaman tidak akan mengatakan hal seperti itu.
Jadi, aku menelan kembali kata-kata yang sudah di ujung lidah itu. Bagaimanapun
juga, aku ini kan pria idaman.
"Tidak
apa-apa. Jangan dipikirkan. Tapi kau hebat, lho, bisa mengeluarkan Fireball
dengan daya hancur yang jauh di atas rata-rata. Tidak ada yang perlu dimaafkan,
justru ini kabar gembira yang harus kita rayakan! Benar! Aku akan beritahu
semua orang dan besok kita buat pesta perayaan besar-besaran!"
Keesokan harinya,
aku menjelaskan kepada orang tuaku bahwa peningkatan level Skill Heal-ku
telah menyembuhkan organ sihir Flame secara total.
Aku juga
menjelaskan bahwa Flame kini bisa menggunakan sihir dengan normal, yang berarti
organ sihirnya dulu hanya mengalami kelainan sejak lahir, bukan karena
kapasitas Mana-nya yang sedikit. Sebaliknya, dia justru memiliki Mana yang luar
biasa besar.
Saat aku
mengusulkan pesta perayaan, orang tuaku ikut senang seolah itu adalah
keberhasilan mereka sendiri. Ibu memeluk Flame sambil terus bergumam
"Syukurlah", sementara Flame yang kemarin sudah menangis
habis-habisan kembali menangis tersedu-sedu. Akhirnya terjadilah siklus di mana
orang tuaku kembali menenangkannya.
Alhasil,
diputuskan bahwa malam ini akan diadakan pesta perayaan sembuhnya organ sihir
Flame. Para pelayan sibuk bukan main sejak pagi untuk mempersiapkannya.
Aku dan Flame pun
begitu. Saat ini, aku sedang digendong oleh Flame yang terbang di angkasa
menuju pusat kota di wilayah kekuasaan Ayah untuk belanja bahan makanan malam
ini. Melihat ini, aku jadi bertekad kuat untuk suatu saat bisa menguasai sihir
terbang atau semacamnya tanpa perlu bantuan Flame.
"Kita sudah
sampai, Tuan! Di sini selalu ramai ya!"
"Tentu saja,
karena ini adalah wilayah yang dipimpin Ayahku! Ayah benar-benar sosok yang
membanggakan!"
Meski sudah
sampai di kota tujuan, aku benar-benar kagum pada ras Dragonoid. Kecepatan
terbangnya tidak bisa dibandingkan dengan burung, perjalanan yang biasanya
memakan waktu tiga jam dengan kereta kuda bisa ditempuh dalam sekejap.
Selain
kecepatannya, fakta bahwa kami bisa bergerak lurus tanpa terhalang jalur darat
juga sangat berpengaruh.
"Halo, Flame-chan. Apa hari ini kau mau beli sayur? Akan kuberi diskon, lho!"
"Flame-chan,
hari ini kau bersama Tuan kesayanganmu, ya? Wah, ikut senang mendengarnya.
Karena suasananya lagi bagus, kalau kau beli daging di sini, akan kuberi
bonus!"
"Jarang
sekali Flame-chan datang jam segini... eh, bukankah itu putra Tuan Lord? Jadi,
anak ini adalah tuannya Flame-chan? Hmm, kelihatannya dia tuan yang baik
hati."
Saat kami
mulai menelusuri area pertokoan, orang-orang langsung menyapa Flame dengan
akrab. Sepertinya selain karena Flame sering ke sini untuk tugas pelayan,
kepribadiannya memang disukai, dan dia sudah diterima sebagai bagian dari warga
kota ini.
Sebagai
buktinya, anak-anak kecil langsung berkerumun di sekitar Flame. Sepertinya
mereka melihat Flame terbang sambil menggendongku tadi, dan sekarang mereka
merengek minta digendong terbang juga.
"Tu-Tuan,
bagaimana ini?"
"Yah,
aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal berbahaya pada anak orang lain,
sih..."
Flame
meminta bantuan padaku. Jika itu keluarga sendiri mungkin tidak masalah, tapi
aku tidak ingin dia melakukan sesuatu yang tidak bisa kami pertanggungjawabkan
jika terjadi kecelakaan pada anak orang lain.
Lagi
pula, jika terjadi sesuatu, bukan hanya aku yang akan dimintai
pertanggungjawaban, tapi pasti Ayah juga yang akan terkena dampaknya sebagai
penguasa. Aku tidak bisa mengizinkannya begitu saja.
Aku
mencoba menjelaskan hal itu kepada anak-anak dengan bahasa yang mudah
dimengerti, tapi ya namanya juga anak-anak.
Menemukan
anak kecil yang langsung menurut saat dibilang "tidak boleh karena
berbahaya" itu lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami.
Malahan, semakin dilarang, mereka semakin ingin melakukannya.
Ditambah
lagi, karena mereka sudah melihat bukti nyata saat Flame menggendongku terbang
tadi, meyakinkan mereka adalah misi yang mustahil.
Aku mulai
merasa jengah menghadapi anak-anak yang tidak mau mengerti ini.
"Hei,
kau! Dari tadi kudengar bicaramu sombong sekali! Katanya kau putra dari penguasa wilayah ini!? Jika
kau putra Lord, bagaimana mungkin kau tidak mendengarkan suara rakyatmu!?"
Kalau hanya
anak-anak biasa, aku bisa memberikan alasan asal-asalan lalu mengabaikan
mereka. Tapi masalahnya jadi semakin rumit karena ada seorang anak
perempuan—putri dari Lord tetangga—yang ikut campur.
Anak perempuan
itu sepertinya cukup cerdik, dia membantahku dengan argumen yang sedikit lebih
logis dibanding anak-anak lain. Tapi, ekspresi wajahnya seolah berteriak, 'Biarkan
aku merasakan terbang di angkasa juga! Aku tidak akan menyerah sampai kau
bilang "Iya"!'
Karena dia putri
bangsawan dari wilayah tetangga, aku khawatir jika menolaknya secara kasar, dia
akan mengadu yang tidak-tidak kepada orang tuanya dan secara tidak langsung
merepotkan Ayah. Aku harus mencari cara untuk membuatnya mengerti tanpa
menyinggungnya.
Padahal hari ini
adalah perayaan untuk Flame. Aku ingin hari ini berakhir tanpa masalah.
Akhirnya, sebuah ide muncul di kepalaku.
"Meski
kau bilang begitu, Flame adalah budakku. Ayah sudah menetapkan dalam kontrak
budak bahwa dia tidak boleh menggendong terbang siapa pun selain keluargaku
karena masalah tanggung jawab jika terjadi kecelakaan. Jadi, meski diminta berkali-kali pun, tetap tidak
bisa. Maaf ya!"
Inilah strategi
'Ini sudah aturan kontrak budak, jadi mau bagaimana lagi? Sebenarnya aku juga
ingin mengabulkan permintaan kalian, tapi apa daya. Aduh, maaf sekali ya'.
"……………Begitu
ya, ada benarnya juga!! Lagipula, meski masih anak-anak, seorang tuan muda
bangsawan sudah menundukkan kepala meminta maaf. Menarik diri di sini adalah
bagian dari etika seorang wanita dewasa."
Aku ingin
menyahut, "Kau kan juga masih anak-anak," tapi aku menahan diri
karena sadar itu hanya akan membuat keadaan makin runyam.
"Baiklah.
Kali ini aku akan mengalah demi permintaan maafmu itu!"
Sambil
memutar-mutar rambut pirangnya yang berbentuk bor (atau setidaknya terlihat
seperti berputar), dia membuka kipasnya untuk menutupi mulut dengan gaya penuh
kemenangan.
Sejujurnya, kalau
dia sudah dewasa nanti dan rambut bor itu diabaikan, dia punya paras cantik
yang luar biasa.
Tapi dengan sikap
seangkuh ini, aku yang masih enam tahun ini sudah terpikir, 'Kalau cuma
pacaran sih boleh, tapi kalau menikah... nanti dulu deh'.
"Namun,
ingat kata-katamu tadi. Jika lain kali kita bertemu dan kau bilang 'itu cuma
bercanda', kau tahu sendiri kan konsekuensinya...?"
"Te-tenang
saja, lelaki tidak akan menarik kata-katanya!"
Meskipun gadis
itu sepertinya sebaya denganku, tatapan matanya yang tajam membuatku refleks
mengangguk cepat karena ngeri. Melihat reaksiku, dia tampak puas. Dia menutup
kipasnya dan sudut matanya pun melunak.
Ngomong-ngomong,
dua bor di kepalanya berputar-putar dengan riang (atau setidaknya terlihat
seperti itu).
"Anna, apa
kamu sudah merekam percakapan tadi?"
"Sudah,
lhoo~ Semuanya sudah terekam dengan sempurna, Nona Fran~"
"Memang
pelayan pribadiku bisa diandalkan!! Kalau begitu, aku permisi dulu!!"
Fran dan gadis
yang dipanggil sebagai pelayan pribadinya itu kemudian naik ke kereta yang
sudah menunggu, lalu menghilang dari pandangan kami.
"Tadi
itu benar-benar... seperti badai..."
"Dia cantik
sekali, ya, mirip boneka!"
"Tapi
bukankah sifatnya agak terlalu galak?"
"Masa, sih?
Menurutku anak kecil yang seperti itu justru terlihat manis dan apa adanya.
Malahan, Tuan terlalu bersikap seperti orang dewasa. Tuan boleh, lho,
bermanja-manja padaku sesuka hati."
"……Akan
kuusahakan."
Kalau bisa, aku
ingin bermanja-manja setiap hari—tapi tentu saja aku tak bisa mengatakannya
secara gamblang. Aku hanya menggumamkan jawaban yang ambigu.
Meski sempat ada
insiden, perayaan kesembuhan Flame berakhir dengan sukses besar. Namun, seperti
yang sudah diduga, Flame ternyata tipe cengeng. Padahal siangnya dia menyuruhku
bermanja-manja padanya, tapi malamnya justru dia yang bermanja-manja padaku sambil
terus mengucap terima kasih.
◆
Satu bulan telah
berlalu sejak perayaan kesembuhan Flame.
Perubahan
terbesar dalam sebulan ini adalah Flame mulai belajar sihir secara serius
dengan Ibu sebagai gurunya. Menurut Flame, pengajaran Ibu sangat mudah
dimengerti. Saat dia menghadapi jalan buntu, Ibu tidak langsung memberi
jawaban, melainkan memberikan petunjuk di poin-poin penting agar dia bisa
menemukannya sendiri.
Terlepas dari
itu, Ibu pun mengakui bahwa Flame memiliki bakat yang luar biasa. Seperti kata
Ibu, kemampuan Flame meningkat pesat dalam sebulan ini. Kurasa sudah saatnya
aku mendaftarkan Flame ke Serikat Petualang.
Bagaimanapun,
salah satu alasanku membeli budak adalah agar aku bisa hidup menyendiri di
desa, swasembada pangan, dan sesekali bersantai menikmati hari dengan uang
hasil kerja budakku.
Saat aku sedang
melamunkan impian slow life di desa itu, tiba-tiba Ayah pulang ke rumah
padahal hari masih siang. Ini jarang terjadi.
Beliau tidak
sendirian; ada tamu bersamanya. Katanya tamu itu ingin menemuiku, tapi aku
benar-benar tidak punya petunjuk siapa orang itu. Aku pun mengikuti Ayah masuk
ke ruang tamu.
"Lama
sekali! Membuat seorang lady menunggu itu membuktikan kalau kamu masih
belum cukup mahir, ya!"
Begitu
aku masuk, suara yang sangat familier langsung menyambutku. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Fran
ada di sini, apalagi alasan dia ingin menemuiku.
"Kenapa diam
saja di sana sambil melamun? Di depanmu ini ada seorang lady yang
cantik, jadi... hm, begitu ya. Aku paham!"
Entah paham apa,
Fran sepertinya sudah menyimpulkan sendiri alasan aku bengong. Kalau boleh
jujur, aku lebih senang jika dia langsung pulang saja.
"Kalau
memang begitu, bilang saja: 'Aku melamun karena wanita yang membuatku jatuh
cinta pada pandangan pertama waktu itu muncul di depanku'. Tapi tenang saja,
aku adalah lady dewasa yang bisa memahami perasaan pria yang sulit
diungkapkan lewat kata-kata. Aku bukan anak kecil yang akan merengek minta
diucapkan."
Hmm, sedikit pun
tidak ada yang benar.
Awalnya aku
bingung kenapa dia bisa se-percaya diri itu. Tapi saat aku mengingat masa
laluku di usia segini, aku juga pernah sangat yakin kalau aku akan jadi
'Pahlawan Kebenaran!!'. Jadi, kurasa ini hal yang wajar.
Sama seperti aku
yang mengagumi pahlawan waktu itu, dia mungkin sedang di masa mengagumi sosok
wanita dewasa. Kalau dipikir begitu, tingkah laku kasarnya jadi terasa cukup
manis.
Tapi kalau
ditanya soal perasaan cinta, itu masalah lain. Jelas mustahil karena dia masih
terlalu kecil. Ini murni rasa sayang seperti menyayangi anak kecil, jadi jangan
sampai ada salah paham kalau aku punya selera aneh.
"Tepat
sekali. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah berpikir kalau Nona Fran
sangatlah cantik. Aku sempat mengira Dewi Kecantikan baru saja muncul di
depanku!"
Jadi, biarlah aku
yang aslinya sudah berumur kepala tiga ini menanggapi permintaan tuan putri
yang manis ini. Mengingat saat-saat menemani keponakan bermain di kehidupan
sebelumnya membuatku merasa sedikit bernostalgia.
"Ap-! Be-! Tu-! Benar sekali!! Seperti yang kamu katakan, aku memang cantik
seperti dewi……"
Setelah
aku melemparkan pujian maut yang sangat terang-terangan tanpa basa-basi, dia
awalnya terdiam kaku seperti ikan mas koki, seolah tidak menyangka aku akan
benar-benar mengatakannya. Namun, saat dia mencoba menjawab, wajahnya mulai
memerah padam dan suaranya semakin mengecil di akhir.
"Ma-memalukan
sekali. Habisnya, ini pertama kalinya ada yang bilang begitu padaku."
Dia
berbisik pelan, mungkin mengira aku tidak dengar. Tapi telingaku menangkapnya
dengan jelas. Dasar anak enam tahun, perasaannya bocor ke mana-mana. Hmm, dia tipe yang asyik untuk digoda.
"Bagaimana
kalau kalian berdua jalan-jalan di taman? Cuaca di luar sedang bagus, dan banyak bunga
yang sedang mekar. Fran pasti akan senang, kan?"
Saat aku
sedang berpikir cara lain untuk menggoda Fran, Ayah tiba-tiba mengusulkan agar
kami jalan-jalan berdua. Bagus sekali, Ayah. Dengan begini, aku bisa memanjakan
Fran lebih bebas daripada di dalam ruang tamu.
Bagaimanapun,
ruangan di rumah orang asing—meskipun itu ruang tamu—pasti akan membuat tubuh
terasa kaku karena tegang. Di luar ruangan yang terbuka, Fran pasti akan
menunjukkan sisi kekanak-kanakannya dengan lebih santai.
"Baik! Aku
mengerti!"
Aku mengirim
pandangan 'bantuan yang bagus' kepada Ayah. Benar-benar ayah yang bisa diandalkan.
Ternyata aku
sangat suka anak-anak, ya. Seandainya di kehidupan sebelumnya aku bekerja di
bidang yang berhubungan dengan anak-anak, mungkin aku tidak akan mati seperti
itu. Aku benar-benar menyesal telah membuat keluarga dan kenalanku sedih waktu
itu, jadi di kehidupan ini, aku bertekad tidak akan membuat orang-orang di
sekitarku merasakan hal yang sama.
"Kalau
begitu Fran, maukah pergi ke luar bersamaku? Seperti kata Ayah tadi,
bunga-bunga di taman sedang mekar. Aku yakin Fran pasti suka."
"Ba-baik.
Tolong tuntun aku!"
Aku sengaja
memanggilnya tanpa sebutan formal agar kami bisa akrab dengan cepat. Aku
berlutut dan mengulurkan tangan untuk mengajaknya, dan Fran—yang wajahnya sudah
merah—semakin merona saat menyambut tanganku.
Meskipun dia
berusaha sok jaim, wajahnya yang merah padam dan dua bor rambutnya yang
berputar-putar (sepertinya begitu) membuatnya terlihat sangat manis, seperti
seekor anjing yang pura-pura tidak peduli tapi ekornya berkibas kencang.
"Tuan Muda
dan Nona Fran terlihat sangat serasi ya, Tuan Besar."
"Dulu aku
merasa senang sekaligus takut memikirkan akan jadi sehebat apa putraku di masa
depan. Tapi sekarang, aku takut dalam arti yang berbeda. Semoga dia tidak
menjadi tipe pria yang bakal ditusuk di jalanan di masa depan nanti."
Sepertinya aku
mendengar Ayah dan Flame membicarakan sesuatu di belakang, tapi kurasa itu cuma
perasaanku saja. Fokusku sekarang adalah Fran.
Aku tidak tahu
kenapa dia datang ke kediaman Westgaff hari ini, tapi daripada memikirkan hal
sepele itu, lebih baik aku menggunakan waktu untuk memanjakan Fran agar dia
menyukaiku.
Anak seumurannya,
jika sekali saja merasa tidak suka, biasanya akan sulit untuk akrab selamanya.
Jadi, demi
menyukseskan 'Operasi Membuat Fran Menyukaiku', alasan kedatangannya ataupun
obrolan Ayah dan Flame hanyalah masalah remeh-temeh.
"Mari, Fran.
Kita ke taman Westgaff. Hari ini aku akan menjadi pemandumu melihat bunga-bunga
yang indah."
Sambil
mengatakan itu, aku memberikan senyuman terbaik yang kubayangkan dari karakter
manga shoujo. Fran sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Ba-baik……
Tolong segera pandu aku! ……………Ah, dia benar-benar tampan. Ternyata pangeranku ada di sini. Tidak sia-sia
aku merengek pada Ayah dengan alasan 'permintaan seumur hidup sekali'."
Wajahnya merah
padam, mungkin karena sangat bersemangat ingin melihat bunga.
Memang sejak
dulu, kekaguman anak perempuan pada sosok dewasa dan benda indah itu setara
dengan obsesi belanja di toko mainan atau permen.
Aku mendengar dia
menggumamkan sesuatu di bagian akhir, tapi kurasa dia hanya sedang berimajinasi
tentang taman bunga nanti, jadi aku abaikan saja.
Lagipula rambut
bornya berputar secara tidak beraturan; pasti karena dia terlalu asyik melamun
sampai tidak konsisten memutar rambutnya.
Sungguh rambut
bor yang sangat mudah dibaca.
"Ayo
berangkat, Fran."
"I-iya!
Ayo!"
◆
──Sisi Ayah
(Edward)──
"Sudah lama
tidak bertemu, Duke Westgaff. Putriku terus merengek minta bertemu putramu
sesegera mungkin. Maafkan aku karena membiarkannya masuk lebih dulu."
Seorang pria dan
istrinya masuk ke ruang tamu dipandu oleh pelayan. Pria itu adalah Daniel
Kvist, kepala keluarga Kvist yang wilayahnya bertetangga di sebelah timur
Westgaff—ayah dari Fran.
"Tidak
masalah. Aku sudah menerima pesan kilatmu, jadi aku tahu Nona Fran akan datang.
Tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Terima
kasih. Tapi jujur, jarang sekali Fran bersikap manja seperti itu, apalagi untuk
permintaan semacam ini. Yah, anak perempuan memang cepat dewasa, tapi kurasa
ini terlalu cepat. Sebagai orang tua, aku egois ingin dia tetap bersamaku lebih
lama. Tapi melihat mereka berdua, sepertinya begitu lulus sekolah menengah, dia
akan langsung terbang meninggalkanku."
Daniel tertawa
dengan nada yang bercampur antara senang dan sedih. Aku sangat mengerti
perasaannya karena Lawrence pun suatu saat pasti akan meninggalkan kediaman
Westgaff.
"Kita berada
di posisi yang sama. Lawrence juga terlalu cerdas, aku merasa dia akan mandiri
dan meninggalkanku dalam waktu dekat."
Melihat
mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan dengan gembira di taman,
mereka memang terlihat sangat serasi.
"Aduh, aduh.
Kalau begini terus, sepertinya Fran-chan akan jadi menantuku, ya? Sekarang saja
dia sudah semanis itu, saat dewasa nanti dia pasti akan menjadi wanita yang
sangat cantik dan mempesona. Persis seperti Nona Lisha. Aku jadi tidak sabar!"
"Aduh,
Nyonya Penny, Anda bisa saja. Meskipun itu cuma pujian, saya sangat senang.
Tapi memang benar, Fran pasti akan tumbuh menjadi sangat cantik di masa depan.
Dan putra Anda, Tuan Lawrence, juga akan menjadi pria yang sangat tampan. Buktinya, dia bisa menaklukkan
hati Fran dalam sekali serang."
Aku
mendengar para ibu saling memuji dengan riang. Topik pembicaraan mereka berbeda
dengan para ayah; mereka tidak merasa sedih karena anak mereka akan mandiri,
melainkan murni menikmati kebersamaan kedua anak itu.
Sepertinya
para ibu sudah menyiapkan mental untuk melepas anak mereka sejak lama. Memang
benar kata orang, ibu adalah sosok yang kuat.
◆
Ada yang
aneh.
Setelah puas
memanjakan Fran selama tiga jam di taman, saat kembali, kedua orang tua kami
sudah menyambut kami. Sampai di sini masih normal. Namun, Ibu tiba-tiba
bertanya, "Lawrence, bagaimana pendapatmu tentang Fran-chan?"
Aku hanya menjawab, "Menurutku dia wanita yang sangat
manis dan luar biasa!"
Lalu Fran ditanya hal serupa dan dia menjawab, "Aku mau
orang ini saja!!"
Entah kenapa, tiba-tiba pertunangan kami diputuskan begitu
saja. Seandainya aku tahu kalau kedatangan Fran hari ini adalah untuk
perjodohan, aku tidak akan memanjakannya sampai segitu dan hanya akan bersikap
seperti pada anak tetangga biasa.
"A-Ayah!!"
"Ada apa, Lawrence?"
"Aku sama sekali tidak dengar kalau hari ini ada
perjodohan dengan Fran!"
Tentu saja aku tidak bisa bilang 'batalkan pertunanganku
dengan Fran' di depan orangnya langsung. Jadi aku mencoba memprotes Ayah secara
tidak langsung.
"Lawrence, apa kamu tidak suka bertunangan dengan Nona
Fran?"
Padahal aku sudah memprotes secara halus, tapi Ayah justru
bertanya terang-terangan di depan Fran apakah aku tidak suka pertunangan ini.
Aku terjebak.
Ayah pasti sudah tahu perasaanku, makanya beliau bertanya
dengan cara licik yang membuatku mustahil untuk menolak. Saat aku menyadarinya,
semuanya sudah terlambat. Benar-benar orang dewasa yang licik!
Meski aku mengumpat dalam hati, kenyataannya tidak akan
berubah. Malahan, diamnya aku membuat wajah Fran perlahan berubah drastis
seolah mau menangis.
"Bu-bukan
begitu! Aku senang kalau itu Fran!"
"Begitu
ya, kalau begitu Fran dan Lawrence saling menyukai, ya!"
Karena
tidak tega melihat wajah Fran yang hampir menangis, aku pun terpaksa setuju. Ayah tertawa sambil menyimpulkan kami
saling suka. Aku menatapnya tajam, tapi tidak mempan sama sekali.
Yah, meskipun
sekarang Fran punya perasaan cinta padaku, itu pasti cuma sebatas cinta monyet.
Saat dia dewasa nanti, dia pasti akan menemukan pria yang benar-benar dia
cintai. Kurasa pertunangan ini akan menjadi sekadar 'main tunang-tunangan'
sampai saat itu tiba.
Waktu
itu, aku benar-benar meremehkan kesetiaan seorang Fran.
◆
Perjodohan
itu berhasil dan Fran naik ke kereta dengan suasana hati yang sangat cerah.
Namun di tengah jalan, dia menyadari sesuatu.
Prioritas
awalnya adalah 'Bertunangan dengan Lawrence demi meminjam pelayan Dragonoid
untuk terbang', kini berubah menjadi 'Bertunangan dengan Lawrence, dan jika
memungkinkan, meminjam pelayan Dragonoid untuk terbang'.
Saking
senangnya karena berhasil bertunangan dengan Lawrence, dia lupa meminta janji
untuk dipinjami pelayan Dragonoid tersebut.
"Ayah,
putar balik sekarang juga!!" seru Fran setelah menjelaskan alasannya.
Ayahnya justru
menjawab, "Bagaimana kalau itu dijadikan alasan untuk menemuinya lagi
nanti?"
Fran pun berpikir
kalau ayahnya adalah seorang jenius. Dia segera mulai menyusun surat untuk
berkunjung ke rumah Lawrence lagi dengan alasan tersebut.
◆
Selingan──Kegelisahan
Flame──
Jika aku tidak
dipungut oleh Lawrence Westgaff, aku pasti sudah mati. Karena organ sihirku
telah diambil paksa oleh pemilik sebelumnya untuk bahan eksperimen, luka
luarnya mungkin bisa sembuh, tapi organ sihirnya sendiri tidak akan pernah
beregenerasi. Aku hanya tinggal menunggu ajal dalam sunyi.
Tuan Lawrence
pasti tahu kalau aku tidak punya nilai guna. Namun, Tuan Lawrence tetap
membeliku dan memercayai Skill Heal-nya sendiri, terus menggunakannya
padaku setiap hari hingga sihirnya habis.
Mendengar hal
itu, aku bersumpah dalam hati akan membalas budi Tuan Lawrence seumur hidupku.
Namun, aku memiliki satu kegelisahan. Bagaimana cara membalas budi tersebut?
Tuan Lawrence
lahir di keluarga bangsawan, jadi memberikan sesuatu yang bersifat materi
sepertinya tidak ada gunanya. Aku sempat terpikir untuk menyerahkan tubuhku
sebagai pelayanan, tapi Tuan Lawrence masih terlalu kecil. Lagipula, aku adalah
budaknya; jika Tuan Lawrence menginginkannya, beliau cukup memberiku perintah
saja.
Aku terus
bertanya-tanya, apakah ada cara lain bagiku untuk membalas budi Tuan Lawrence?
◆
Satu minggu telah
berlalu sejak hari pertunangan dengan Fran. Aku memutuskan untuk berhenti
memikirkannya. Tidak ada gunanya membuang waktu untuk hal yang sudah tidak bisa
diubah.
Hal berikutnya
yang aku pikirkan adalah pendaftaran petualang Flame. Saat yang dinanti-nanti
akhirnya tiba. Aku merasa sangat bangga pada Flame yang sudah berkembang sejauh
ini.
"Jadi, ini
budak Dragonoid yang Anda maksud, Tuan Westgaff……"
"Benar. Dia
adalah produk kelas satu yang dibesarkan dengan penuh perhatian oleh putraku.
Aku menjamin kekuatannya setara, atau bahkan melebihi petualang terkuat di
Serikat Petualang Westgaff ini."
Sekarang aku,
Ayah, dan Flame yang menjadi tokoh utama hari ini berada di ruang tamu Serikat
Petualang. Ayah kembali menjelaskan apa yang sudah beliau tulis di surat
sebelumnya.
Dalam surat itu,
Ayah menjelaskan bahwa hari ini budakku akan mendaftar sebagai petualang, dan
meskipun dia baru mendaftar, kekuatannya adalah yang terbaik di Westgaff dan
termasuk kelas atas di Kekaisaran. Beliau meminta agar Flame bisa langsung
didaftarkan di peringkat yang cukup tinggi.
Master
Serikat tidak terlihat terkejut, namun dia menatap Flame seolah sedang menilai
harganya.
"Hmm,
memang secara ras dia adalah Dragonoid yang unggul. Tapi dunia ini tidak bisa
dihadapi hanya dengan modal ras saja…… Baiklah. Tidak ada gunanya berdebat di
sini sebelum melihat kekuatannya secara langsung."
Master Serikat
memutuskan untuk membawa kami ke arena latihan di belakang gedung karena dia
tidak bisa memutuskan apa pun tanpa melihat kemampuan Flame.
"Aduh,
Master Serikat, ada apa sih manggil mendadak begini? Aku baru saja
menyelesaikan tugas pembasmian yang makan waktu seminggu, tahu. Harusnya
sekarang aku sudah pulang."
Di sana
sudah ada seorang pria petualang yang dipanggil oleh anak buah Master Serikat. Dari bicaranya, dia sepertinya baru saja
pulang dari tugas jangka panjang.
Hah? Memanggil
orang yang baru selesai kerja paksa seminggu? Bukankah ini lingkungan kerja
yang beracun (black company)? Trauma masa laluku jadi teringat kembali.
"Bonusnya
besar."
"Paket
menginap satu malam di tempat hiburan kelas atas."
"…………Yah,
boleh juga."
"Wuih!!
Master Serikat memang mengerti saja!! Untung aku sempat protes dulu tadi!"
Ternyata cuma
perasaanku saja. Pria ini tipe orang yang bakal malas-malasan di pekerjaan
utama tapi semangat kalau ada 'sambilan' yang menguntungkan.
"Jadi, siapa
lawanku!? Jangan bilang bocah ingusan ini lawanku!? Aw, sakit!?"
"Bocah
ingusan matamu!! Beliau adalah putra Lord penguasa Westgaff ini!! Lawan
simulasi tandingmu hari ini adalah pelayan Dragonoid itu, Flame, dasar bodoh!!
Dan sudah kubilang berkali-kali, jaga sopan santunmu pada siapa pun!!"
Aku agak kesal
dipanggil bocah ingusan, tapi karena Master Serikat sudah memarahinya
habis-habisan dan pria itu sepertinya tidak bermaksud jahat, aku maafkan.
Master Serikat mungkin memarahinya demi melindunginya agar tidak terkena murka
bangsawan.
Sebagai
bangsawan, aku dan Ayah mengerti maksud tersebut. Itu semacam etika sosial.
Namun, yang membuatku khawatir adalah ekspresi Flame yang biasanya selalu
tersenyum kini menghilang.
Petualang
pria ini sepertinya cukup percaya diri dengan kekuatannya. Makanya dia berani
bersikap angkuh. Dia pasti
berpikir kalau ada masalah, dia tinggal menyelesaikannya dengan otot. Tipikal
pola pikir orang kuat.
"Kalau
begitu, mari kita selesaikan dengan cepat. Kau baru pertama kali mendaftar, kan? Jangan harap aku akan menahan diri hanya
karena kau cantik."
Pria itu
melangkah santai ke tengah arena. Dia terlihat sangat terbiasa dengan simulasi
tanding seperti ini dan sama sekali tidak tegang. Dia pasti mengira kami adalah
bangsawan yang menyalahgunakan kekuasaan untuk mendaftarkan budak tanpa
pengalaman di peringkat tinggi.
Yah, memang kami
menggunakan kekuasaan, tapi aku tahu kemampuan Flame adalah kelas satu. Dalam
bela diri dia diajar oleh Sebas, dan dalam sihir dia diajar oleh Ibu. Dia
adalah budak kebanggaanku yang sudah tidak ada lagi yang perlu diajarkan
padanya.
"Tuan……"
"Ada apa,
Flame? Kamu gugup?"
"Tidak, saya
tidak gugup. Hanya saja, bolehkah saya membantainya?"
"Oh, cuma
itu. Tentu saja, anggap saja ini latihan untuk menambah pengalamanmu."
Kenapa ya,
rasanya obrolanku dengan Flame agak sedikit tidak nyambung? Tapi kurasa itu
cuma perasaanku saja. Flame pasti hanya merasa tegang. Tapi aku percaya,
Flame-ku pasti bisa melakukannya dengan mudah.
Mendengar
jawabanku, Flame berkata "Serahkan padaku" dengan mantap dan
melangkah ke tengah arena.
"Heh,
ternyata kau tidak lari juga. Tapi punya majikan bocah ingusan seperti dia
pasti merepotkanmu ya, biarpun dia bangsawan."
"Dua
kali……"
"Hah?
Apa?"
"Jumlah
berapa kali kamu menyebut majikanku yang tercinta dengan sebutan 'bocah
ingusan'."
"Oh, cuma soal itu."
"………Cuma soal itu…… katamu…… Akan kuhancurkan kau
sampai berkeping-keping."
"Eh? Kamu bilang sesuatu?"
"Tidak, tidak ada apa-apa……"
"Hmm, begitu ya. Tapi sebagai budak, ada hal-hal yang
mungkin sulit kau katakan dan hanya bisa kau bisikkan agar tidak terdengar oleh
majikanmu, kan? Bagaimana kalau aku membebaskanmu dari status budak? Sebagai
gantinya, kau harus bergabung dengan klan petualangku. Kalau kau setuju,
bagaimana?"
"…………Saya menolak."
"Begitu ya, jadi keheningan di awal tadi adalah jawaban
yang sebenarnya. Oke, oke. Kalau begitu, sekarang sepertinya kau diperintah
untuk bertarung sekuat tenaga, tapi serahkan semuanya padaku. Aku pasti akan
menyelamatkanmu."
Aku memfokuskan Mana ke telingaku untuk mencuri dengar
percakapan dua orang yang berada di tengah arena itu. Jelas sekali ini sudah
melanggar aturan.
Sambil menahan diri agar tidak berteriak marah, aku
melaporkan hal itu kepada Master Serikat.
"Mohon maaf. Saya juga mendengar percakapan mereka, dan
jujur saja, kontennya benar-benar tidak bisa dimaafkan. Ini bukan yang pertama
kalinya, dan sebagai Master Serikat, saya tidak bisa lagi melindunginya.
Terlepas dari hasil simulasi tanding ini, saya akan mendaftarkan Nona Flame
mulai dari Peringkat E... Selebihnya, saya serahkan pada keputusan Tuan
Westgaff. Saya harap Anda bisa memberikan kebijakan yang murah hati terkait
kompensasi bagi Serikat."
Tampaknya Master Serikat pun sudah angkat tangan. Beliau
menawarkan 'kepala' orang itu kepada Ayah sebagai ganti permohonan maaf.
"Begitu ya. Kalau begitu, biarkan Lawrence yang
memutuskan apa yang harus dilakukan. Bagaimana, Lawrence?"
"Baik, Ayah!"
Tepat saat percakapan itu berakhir, suara nyaring peluit
tanda pertandingan dimulai pun bergema.
Flame
yang mengambil inisiatif pertama. Aku melihatnya berlari lurus menerjang ke
arah lawan.
Lawannya
mungkin mengira Flame yang berlari di area terbuka tanpa rintangan adalah
sasaran empuk, sehingga dia mencoba merapalkan sihir jarak jauh. Namun, pada
saat itu, Flame rupanya menggunakan sayapnya untuk terbang rendah, memangkas
jarak dalam sekejap, dan langsung menghantamkan pukulan telak ke ulu hati
lawannya.
Melihat
sosok Flame itu, aku sempat berpikir, 'Flame terlihat lebih garang dari
biasanya'. Tapi mungkin itu karena dia sedang tegang.
Memikirkan
ketegangan itu muncul karena keinginannya untuk memenuhi harapanku, Flame yang
sedang tegang itu justru terlihat semakin manis di mataku.
Setelah
simulasi tanding ini berakhir, entah dia menang atau kalah, aku berniat untuk
memanjakannya habis-habisan sebagai penghargaan atas kerja kerasnya.
Namun,
serangan Flame yang dilepaskan dengan kecepatan tinggi itu terlihat menghantam
telak. Aku jadi khawatir, apakah orang itu baik-baik saja?
"Haha,
ini luar biasa. Tidak sangka aku, John Vector, bisa terkena serangan telak
seperti ini!"
Begitu
debu mereda, pria yang mengaku bernama John Vector itu berdiri kembali setelah
menerima serangan Flame. Aku pun bisa bernapas lega.
Seandainya
Flame sampai membunuh orang, tidak peduli betapa kurang ajarnya pria narsis
itu, selama kita mengabaikan sikap tidak sopannya, dia tetaplah warga sipil
yang tidak berdosa. Aku benar-benar bersyukur hal buruk itu tidak terjadi.
"Luar
biasa! Meski aku langsung memasang lima lapis dinding pertahanan, kau masih
bisa menembus semuanya dan memberiku luka sebanyak ini! Kalau bukan aku, pasti
sudah mati!"
John
bicara dengan nada sombong, padahal kakinya gemetar hebat seperti anak rusa
yang baru lahir. Jelas sekali dia hanya sedang menjaga harga diri dengan
berpura-pura kuat, padahal untuk berdiri saja sudah susah payah.
"Cih, hama
yang ulet ya..."
Hmm? Sepertinya
aku mendengar kata 'hama' keluar dari mulut Flame saat merujuk pada John, tapi
mungkin itu cuma perasaanku saja. Mana mungkin Flame-ku menggunakan kata-kata
kasar seperti itu.
Pasti aku salah
dengar antara 'hama' dan 'tahan lama'.
Setelah melihat
John bangkit kembali, Flame mengepakkan sayap indahnya dan terbang tinggi ke
angkasa dalam sekali kepakan.
Sebagai
informasi, Dragonoid bisa terbang dengan memasok Mana ke dalam sayap besar
mereka. Flame pernah memberitahuku bahwa sebelum organ sihirnya sembuh, dia
bahkan tidak bisa terbang. Melihatnya terbang bebas di angkasa sekarang saja
sudah membuatku merasa sangat terharu.
"Hei!
Terbang itu curang, tahu! Turun
kau! Sihirku tidak akan sampai ke sana!"
Melihat John
berteriak menyuruh Flame turun karena sihirnya tidak sampai, aku bertanya
kepada Master Serikat apakah terbang itu pelanggaran. Ternyata tidak.
"Itu murni
karena kurangnya kemampuan John. Dia hanya meneriakkan keegoisannya agar lawan
bertarung di medan yang menguntungkan baginya. Benar-benar... sudah berapa
banyak dia ingin mencoreng wajah Serikat ini..."
Master Serikat
menjawab dengan nada penuh amarah. Pembuluh darah di kepala botaknya menyembul
kencang sampai-sampai aku khawatir beliau akan terkena perdarahan otak.
Tiba-tiba,
Mana yang terkandung di udara sekitar menipis dengan drastis. Aku mengalihkan
pandangan dari kepala botak Master Serikat ke arah Flame untuk mencari
penyebabnya. Ternyata, Flame sedang bersiap menggunakan sihir khusus yang hanya
bisa digunakan oleh kaum Dragonoid: Dragon Breath.
Mana di
udara memerah dan berkumpul menyelimuti wajah Flame, membentuk rupa seekor
naga.
Ah, yang
ini sepertinya benar-benar gawat.
Begitu
aku terpikir hal itu, aku segera menyelimuti Ayah dan Master Serikat dengan
dinding pertahanan. Detik berikutnya, sekeliling kami dilahap api dan pandangan
pun menjadi gelap.
"T-Tuan Lawrence!? A-apa yang terjadi!?"
"Maaf! Sepertinya Flame menggunakan sihir tanpa menahan
diri! Kelalaian budak adalah tanggung jawabku sebagai majikan. Jika ada
kerusakan yang timbul, silakan kirim tagihannya ke keluarga Westgaff. Lalu Ayah, jika ada kerugian kali ini, aku
pasti akan menggantinya suatu saat nanti. Untuk sekarang, bolehkah aku meminjam
uang Ayah terlebih dahulu?"
Dengan kekuatan
sebesar itu, sudah pasti ada kerusakan pada lingkungan sekitar. Bahkan ada
kemungkinan seseorang tewas.
Namun, karena hal
itu sudah terjadi, aku merasa harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku meminta
maaf kepada Master Serikat dan menundukkan kepala kepada Ayah.
"...Tidak,
meski saya terkejut, penyebab kejadian ini adalah ketidaksopanan John Vector
yang menghina Tuan Lawrence. Dia telah menyentuh 'sisik terbalik' (gekirin)
Nona Flame, dan ini adalah kegagalan dari pihak Serikat. Seharusnya saya yang
meminta maaf lebih dulu. Dan kalaupun si bodoh itu mati, itu adalah akibat dari
perbuatannya sendiri."
"Putraku,
bicara apa kau ini? Selama kau belum dewasa dan belum mandiri, kau masih berada
di bawah perlindunganku. Jadi, akulah wali sekaligus penanggung jawabmu. Jika
ada kerugian, itu karena keputusanku yang kurang matang. Selain itu, Lawrence
selalu mencoba melakukan segalanya sendiri, dan kau memang bisa melakukannya.
Itu membuatku bangga, tapi sebagai ayah, aku merasa sedikit kesepian. Sesekali,
bergantunglah pada ayahmu ini."
Benar-benar, aku
dikelilingi oleh orang-orang baik sampai aku merasa kewalahan.
"I-iya!
Terima kasih banyak!"
Begitu api
mereda, aku menggunakan Mana untuk mencengkeram udara dan melesat seperti
dorongan mesin jet menuju tempat John berada.
Aku merasa Ayah
baru saja menyadarkanku bahwa yang terpenting saat ini bukanlah mengurus
kompensasi, melainkan memastikan Flame tidak menjadi seorang pembunuh.
Kondisi John
cukup mengenaskan dengan paru-paru dan permukaan kulit yang terbakar hebat,
tapi untungnya dia masih bernyawa.
Dalam kondisi
normal, luka separah itu sulit untuk bertahan lama, namun berkat Skill Heal-ku
yang levelnya sudah naik, aku berhasil menyembuhkannya dengan sempurna—meskipun
dia harus kehilangan seluruh rambutnya.
◆
"Kalau
begitu, Nona Flame akan didaftarkan mulai dari Peringkat E. Sebenarnya dengan
kekuatan tempur seperti itu, memulai dari Peringkat A pun tidak masalah. Namun,
ada aturan negara yang menetapkan bahwa pendaftaran lewat jalur akselerasi
maksimal dimulai dari Peringkat E, karena ada pertimbangan mengenai posisi
petualang lain dan pengetahuan yang diperlukan selain kemampuan bertarung.
Mohon pengertiannya."
Setelah simulasi
tanding itu, aku dibawa oleh Master Serikat ke ruang terpisah untuk mengurus
pendaftaran Flame. Saat
ini kami sedang mendengarkan penjelasan dari sekretaris wanita Master Serikat
mengenai aturan petualang.
Sebagai
informasi, peringkat petualang tertinggi adalah SSS (Triple S). Saat ini
di Kekaisaran hanya ada satu orang peringkat SSS, dan tiga kelompok klan
petualang di peringkat tersebut.
Peringkat
terendah adalah Lisensi Sementara, yang bahkan belum dianggap sebagai
petualang.
Alurnya dimulai
dari tes kemampuan tempur untuk mendapatkan Lisensi Sementara.
Selama masa itu,
calon petualang harus mengikuti pelatihan dan ujian tertulis. Jika lulus,
mereka baru bisa memulai dari Peringkat G.
Oleh karena itu,
jika menghitung masa Lisensi Sementara, Peringkat G, dan Peringkat F, Flame
telah melompati tiga peringkat sekaligus.
Pendaftaran jalur
akselerasi ini sering kali mengundang rasa iri atau perundungan dari petualang
lain.
Karena itulah
simulasi tanding tadi diadakan, yakni untuk memastikan apakah pendaftar
memiliki kekuatan yang cukup untuk menepis gangguan-gangguan tersebut.
"Ini surat
kontraknya. Silakan dibaca terlebih dahulu. Jika tidak ada masalah, silakan
Nona Flame memberikan tanda tangan dan segel Mana di sini."
Sekretaris
tersebut menyodorkan setumpuk dokumen. Isinya mencakup larangan-larangan
Serikat—seperti larangan berkelahi antar petualang, kecuali dalam duel resmi
yang diawasi wasit dan tim medis.
Namun,
jika duel tersebut menyebabkan cacat permanen atau kematian, hal itu menjadi
tanggung jawab pribadi dan Serikat tidak akan ikut campur.
Tidak ada
aturan yang aneh selain aturan standar untuk mengatur orang-orang yang
temperamental. Aku terus membaca dokumen itu lalu memberikan pena kepada Flame
untuk ditandatangani.
Tentu
saja aku juga membiarkan Flame membacanya dan dia sudah setuju. Sangat tidak
mungkin jika Flame sebagai orang yang bersangkutan tidak membacanya.
Setelah
menandatangani dan membubuhkan segel Mana, Flame resmi menjadi Petualang
Peringkat E.
Rasanya
sangat emosional. Aku merasa selangkah lebih dekat dengan rencana slow life-ku
di masa depan.
Beberapa
hari kemudian, aku sedang bergelut dengan nuraniku sendiri, memikirkan
bagaimana cara memberitahu Flame bahwa aku ingin meminta sedikit bagian dari
upahnya sebagai 'uang jasa'. Saat itulah Flame, yang baru pulang setelah
menyelesaikan permintaan pertamanya, mencoba menyerahkan seluruh upahnya
padaku.
Tentu saja aku
tidak bisa menerima semuanya. Flame justru protes dengan nada hampir marah,
"Kalau begitu, saya tidak akan pernah bisa membalas budi Tuan sampai mati!
Jadi tolong terima semuanya!"
Setelah
perdebatan panjang, aku berhasil membujuknya dan kami sepakat bahwa aku akan
menerima dua puluh persen dari penghasilannya.
Awalnya aku hanya
menawarkan lima persen, tapi setelah tarik ulur dengan Flame yang bersikeras
memberikan semuanya, aku rasa aku sudah berusaha keras untuk menetapkannya di
angka dua puluh persen.
Tetap saja,
mengambil dua puluh persen dari Flame yang sudah bekerja keras berkeringat
membuat nuraniku merasa tertekan. Jadi, aku memutuskan untuk hanya mengambil
lima persen untukku, sementara sisanya akan kusimpan secara terpisah sebagai
tabungan khusus untuk masa depan Flame.
Aku merahasiakan
hal ini dari Flame, karena aku bisa membayangkan perdebatan panjang akan
terulang lagi jika dia tahu. Namun, aku juga merasa senang bisa melihat sisi
baru Flame yang ternyata cukup keras kepala.
◆
Selingan──Flame
adalah Budak yang Bisa Diandalkan──
Hari ini, aku
pergi ke Serikat Petualang bersama Tuan Muda dan Tuan Besar untuk mendaftar
sebagai petualang.
Sebenarnya aku
sudah menyampaikan keinginanku untuk menjadi petualang kepada Tuan Sebas dan
Nyonya Besar.
Entah karena
keinginanku tersampaikan, atau memang rencana mereka sejak awal adalah
menjadikanku petualang setelah Tuan Muda menyembuhkanku dan mereka melatihku,
aku tidak tahu. Yang pasti, kini aku bisa menjadi petualang dengan izin resmi
dari Tuan Muda.
Aku
sangat senang. Saking senangnya, aku bahkan tidak bisa tidur saat pertama kali
mendengar kabar ini.
Sebab,
ini artinya aku akhirnya bisa 'mencari uang sendiri'. Dengan kata lain, aku
bisa memberikan uang hasil kerjaku kepada Tuan Muda untuk membalas budi beliau,
meski mungkin hanya sedikit.
Aku sudah
sangat bersemangat, tapi Tuan Muda malah bilang bahwa sebagian besar uang itu
adalah milikku dan beliau hanya butuh sedikit saja.
Bahkan
Tuan Muda bilang aku bebas menggunakan uang itu sesukaku. Jadi aku menjawab,
"Kalau begitu, aku akan memberikan semua uangku untuk Tuan Muda."
Namun,
Tuan Muda bilang itu pun tidak boleh. Beliau malah menetapkan aturan baru bahwa
'dilarang memberikan uang sepenuhnya kepada Tuan Muda'.
Setelah
aku bersikeras, akhirnya kami sepakat bahwa aku boleh memberikan maksimal dua
puluh persen dari upahku kepada Tuan Muda.
Di situ aku
menyadari sesuatu. Mungkinkah Tuan Muda sengaja mengarahkanku agar berakhir
seperti ini?
Dengan kecerdasan
Tuan Muda, membolak-balikkan pikiranku pasti semudah membalikkan telapak
tangan. Aku sempat berpikir, kenapa beliau tidak bilang saja dari awal... tapi
itu artinya aku terlalu bergantung pada beliau.
Kalau
diingat-ingat, Tuan Muda sering memberikan petunjuk yang tersembunyi. Bukankah
budak yang 'bisa diandalkan' adalah mereka yang bisa bertindak sebelum
majikannya memberi perintah langsung?
Aku pun menyadari
bahwa Tuan Muda sengaja bertindak berputar-putar demi pertumbuhanku sendiri.
Menyadari hal itu saja sudah merupakan pencapaian besar bagiku.
Setelah
menyadarinya, yang tersisa hanyalah terus menempa diri. Aku pun merasa dipenuhi
dengan semangat yang meluap-luap.



Post a Comment