Prolog
"Wah, ternyata ini jauh lebih cocok dari bayanganku!!
Lawrence!!"
"Ah, kau benar. Melihatnya membuatku teringat saat aku
masih seumur Lawrence. Waktu itu, di akademi aku bertemu dengan Ibumu
dan—"
"Duh, Sayang, hentikan!! Memalukan sekali bicara begitu
di depan Lawrence!!"
Mulai musim semi ini, aku akan bersekolah di Akademi Sihir
Negeri Kekaisaran yang terletak di Ibu Kota. Begitu seragamnya tiba di rumah,
Ibuku langsung memohon, "Ibu ingin sekali melihat Lawrence memakai seragam
itu!!".
Jadi, sekarang aku sudah berganti pakaian dan sedang
memamerkan seragam ini kepada kedua orang tuaku.
Aku jadi teringat orang tuaku di kehidupan sebelumnya.
Persis seperti sekarang, mereka sangat ingin melihatku memakai seragam saat
akan masuk SMP, bahkan sampai mengambil foto dalam jumlah yang luar biasa
banyak.
Mungkin, melihat anak sendiri mengenakan seragam memang
merupakan sebuah tonggak pencapaian yang penting.
Dulu aku tidak memahami hal itu. Ditambah lagi dengan masa
puber, aku hanya melayani mereka dengan wajah cemberut, meski aku sadar mereka
sangat bahagia.
Di kehidupan sekarang, karena aku sudah mengerti betapa
berartinya momen ini, aku berniat membiarkan orang tuaku melakukan apa pun yang
mereka suka sepanjang hari. Namun, sebelum aku menyadarinya, mereka malah mulai
bermesraan di depan putra mereka sendiri.
Melihat orang tua sendiri sedang asyik memadu kasih itu
rasanya cukup berat, jadi aku hanya bisa mengosongkan pikiran dan menunggu
waktu berlalu.



Post a Comment