NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Awal Kehidupan Akademi


Lima tahun telah berlalu sejak Sicil sang Dark Elf menjalin kontrak pelayan denganku.

Kini aku telah berusia lima belas tahun, usia di mana aku harus masuk ke Akademi Sihir Negeri Kekaisaran.

"Bagaimana menurut Anda, Tuan Lawrence!?"

"Ya, seragam akademi itu sangat cocok untukmu. Fran memang terlihat pantas memakai apa saja."

"A-anu... terima kasih banyak. Ta-tapi, menurutku Tuan Lawrence juga sangat cocok mengenakan seragam akademi itu. Saking cocoknya, wajah pria lain jadi terlihat seperti kentang di mataku."

Saat mengatakan itu, rambut Fran hari ini pun berputar-putar dengan lincahnya.

Dalam lima tahun ini, Fran juga sudah terlihat jauh lebih dewasa. Pertumbuhan di bagian dadanya pun sangat menjanjikan, bahkan saat ini sudah terlihat jelas lekukan yang menonjol secara kasat mata.

Atau lebih tepatnya, ukurannya sudah lumayan besar.




Dan pertumbuhan itu bukan hanya soal lekukan tubuh, melainkan juga raut wajahnya.

Di balik sisa-sisa wajah kekanakannya, kini mulai terpancar aura kedewasaan yang sangat proporsional, tanda bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.

Fran pasti akan menjadi sangat populer nantinya.

Buktinya, meski saat ini dia sudah memiliki tunangan sepertiku, kudengar seminggu setelah dia menghadiri sebuah pesta bersamaku, ada begitu banyak surat lamaran pertunangan yang datang silih berganti.

Memang benar, dengan penampilannya yang sekarang, tidak aneh jika aku di kehidupan sebelumnya—saat masih seumuran dia—bakal jatuh cinta pada pandangan pertama.

Begitulah pesona Fran yang sekarang, seorang wanita yang begitu memikat.

Namun, meskipun sekarang Fran sedang memonopoli pandangan orang-orang di sekitarnya, aku tahu alasan mereka menatapnya bukan hanya karena kecantikannya semata.

Sama seperti Fran yang bertumbuh, rambut bor atau drill-nya pun ikut bertumbuh, dan dampak visualnya sungguh luar biasa.

Yah, siapa pun pasti bakal penasaran melihatnya, kan....

Aku sendiri pun sejak dulu selalu dibuat penasaran oleh pertumbuhan rambut bor itu.

"Jadi, Tuan Lawrence akan tinggal di mana selama di sini?"

"Keluargaku punya vila di Ibu Kota, aku berencana menggunakan tempat itu. Kakakku juga tinggal di sana sampai beberapa waktu lalu, jadi furnitur dan kebutuhan sehari-hari sudah lengkap."

"Mendengarnya membuatku merasa lega."

Mulai sekarang, kami akan tinggal jauh dari orang tua demi menghadiri akademi. Saat aku menjawab pertanyaan Fran tentang tempat tinggalku, dia memberikan jawaban yang terasa agak ganjil.

"Apa maksudmu dengan merasa lega?"

"Lho, dari reaksi Anda, sepertinya Tuan Lawrence memang belum dengar apa-apa, ya. Mulai hari ini, aku akan tinggal di vila yang sama dengan Tuan Lawrence—di bawah satu atap yang sama, lho."

"……Hah?"

"Ngomong-ngomong, ini sudah mendapat restu dari kedua keluarga, jadi Tuan Lawrence tidak perlu khawatir. Hanya saja..."

"…………Hanya saja apa……?"

"Ayahku sempat berkoar, 'Karena kalian tinggal bersama, kalian harus langsung menikah begitu lulus akademi. Tentu saja, kalau putriku sampai hamil saat masih sekolah, kalian harus segera menikah saat itu juga!' Begitu katanya!! Aku sendiri sebenarnya ingin segera menikah sekarang juga... jadi, anu... saat waktunya tiba nanti, mohon bersikap lembut padaku, ya……"

"…………Ehem, hal semacam itu sebaiknya kita lakukan setelah resmi menikah nanti, oke?"

"……M-maaf. Aku terlalu bersemangat sampai bicara melantur begitu.... A-apakah Anda menganggapku wanita tidak sopan?"

Bagi aku yang masih membawa nilai-nilai dari kehidupan sebelumnya, seberapa pun lazimnya hal itu di dunia ini, aku tidak sanggup bernafsu pada anak usia sekolah yang masih berumur dua belas sampai delapan belas tahun.

Memang benar di Jepang zaman dulu atau masa abad pertengahan, menikahi gadis yang masih sangat muda bukanlah hal aneh. Namun, bukan berarti nilai-nilai di dalam diriku ikut runtuh.

Jadi, ketika aku menegaskan pada Fran bahwa perbuatan semacam itu hanya boleh dilakukan setelah menikah secara resmi, dia sepertinya baru menyadari apa yang baru saja dia katakan. Wajahnya memerah padam sambil bertanya dengan cemas apakah aku menganggapnya tidak sopan.

"Tidak, bukan begitu kok. Aku juga senang dan menantikan waktu kita tinggal bersama nanti."

Aku benar-benar tidak menganggapnya tidak sopan. Meski awalnya sempat terkejut, aku jujur menantikan kehidupan bersama kami, jadi kusampaikan saja perasaan itu padanya.

"B-benarkah? Sy-syukurlah. …………T-tapi, kalau cuma ciuman…… tidak apa-apa, kan?"

"Eh? Maaf. Bagian terakhirnya sepertinya kurang terdengar jelas. Bisa diulangi lagi?"

"T-tidak ada apa-apa kok!! O-oh, benar juga! Karena kita akan mulai tinggal bersama di sarang cinta kita... maksudku, di vila keluarga Westgaph, mari kita periksa barang kebutuhan apa saja yang perlu dibeli! Kakak Anda baru saja tinggal di sana, jadi mungkin ada beberapa stok yang perlu diisi ulang!"

Sepertinya Fran juga sudah berada di usia di mana ia mulai tertarik pada urusan asmara seperti gadis seumurannya. Meski begitu, menurutku perbuatan 'seperti itu' sebaiknya dilakukan saat usia kami sedikit lebih matang.

Meskipun hanya ciuman, aku belum bisa membangkitkan perasaan semacam itu terhadap gadis berusia lima belas tahun.

Maaf ya, Fran, tapi kuharap kamu bisa bersabar untuk sementara waktu.

Sengaja aku berpura-pura menjadi karakter utama harem yang bebal dan bertanya balik. Karena tadi dia hanya bergumam sendiri, Fran sepertinya malu untuk mengulanginya.

Dia segera mengalihkan topik dan mengajakku memeriksa vila yang akan kami tempati. Aku pun setuju.

Ngomong-ngomong, Kakakku sudah mendapatkan pekerjaan tahun ini. Dia mulai bekerja sambil menetap di asrama Penyihir Istana.

Katanya, dia akan bekerja di sana selama beberapa tahun sebelum nantinya mewarisi rumah utama. Dia sengaja bekerja untuk mendapatkan pengalaman di tempat lain serta gelar sebagai mantan Penyihir Istana.

Dia sudah mendapatkan tawaran pekerjaan di antara masa kelulusan dan sebelum upacara pembukaan sekolah baru dimulai. Kakakku memang hebat sejak dulu, selalu membuatku bangga.

Kalau aku, saking inginnya jadi pelajar lebih lama, aku pasti akan memilih tetap bersekolah sampai batas waktu terakhir jika memungkinkan.

Selain itu, kali ini aku membawa para budak yang telah kusembuhkan untuk bekerja sebagai pelayan dan pengawal pribadi.

Ayahku sempat bertanya apakah jumlah pelayannya tidak terlalu sedikit. Wajar jika beliau berpikir begitu menurut standar umum.

Membersihkan satu vila saja sudah sangat melelahkan, belum lagi urusan makan, cuci baju, menyiapkan air mandi, hingga merapikan tempat tidur.

Ada segunung pekerjaan yang harus dilakukan, dan semakin besar rumahnya, semakin berat bebannya.

Meski lebih kecil dari rumah utama, vila milik keluarga Adipati tetaplah luas. Jauh lebih besar daripada vila milik rakyat jelata yang kaya sekalipun.

Namun, budak-budakku telah berkembang jauh melampaui imajinasiku.

Kecepatan belajar mereka seperti spons kering yang menyerap air; mereka menguasai sihir dan ilmu beladiri dengan cepat.

Untuk urusan bersih-bersih, dengan bantuan sihir angin dan air, rumah sebesar vila kami bisa diselesaikan dengan santai oleh satu orang budak saja dalam waktu kurang dari satu jam.

Sihir memang terlalu praktis. Namun, sepertinya arus utama di dunia ini masih menggunakan sihir dengan atribut tunggal. Mereka belum menyadari luasnya manfaat dan potensi dari penggunaan sihir dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih lagi, nilai-nilai 'Sihir adalah untuk bertempur' masih tertanam kuat.

Akibatnya, meski seseorang bisa menggunakan sihir api, menggunakan sihir untuk menyalakan kayu bakar dianggap sebagai tindakan orang miskin yang tidak mampu membeli batu ajaib—tindakan yang sering diejek oleh sesama bangsawan.

Karena budaya dan nilai-nilai seperti itu, berdasarkan pengetahuan dari buku-buku di rumah, bisa dibilang ilmu sihir hampir tidak mengalami kemajuan selama beberapa ratus tahun terakhir.

Sebagai tambahan, Sicil dan para Dark Elf lainnya bisa datang dan pergi kapan saja asalkan ada bayanganku. Jadi, secara teknis, aku membawa pasukan rahasia berisi ratusan Dark Elf ke Ibu Kota.

"Hmm, sepertinya tidak ada barang yang kurang. Kakak memang hebat. Dia pasti mengisi ulang stok kebutuhan sehari-hari sebelum pergi demi orang yang akan memakai tempat ini berikutnya."

"Benar-benar sosok kakak yang membanggakan bagi Tuan Lawrence ya!! ……Tapi, kalau begini kita jadi tidak bisa pergi kencan."

Ternyata Kakak sudah menyiapkan semuanya, jadi kami tidak perlu pergi belanja. Fran memujinya, namun setelah itu kudengar dia bergumam pelan tentang keinginannya pergi ke kota bersama.

Kalau aku karakter utama harem yang bebal, aku pasti akan menyahut 'Eh? Apa katamu?'. Tapi karena aku tidak bebal, keras kepala, ataupun tidak peka, aku mendengarnya dengan sangat jelas.

"Tapi karena stoknya sudah penuh, kita jadi punya waktu luang. Bagaimana kalau kita pergi ke kota bersama untuk mengisi waktu? Fran."

"I-iya!! Aku mau ikut!!"

Begitu aku mengajak Fran jalan-jalan ke kota sekalian melihat-lihat situasi Ibu Kota, wajahnya langsung berbinar bahagia dan menyetujuinya.

Fran juga membawa seorang pelayan wanita dari rumahnya untuk mengurus keperluan pribadinya.

Lagi pula, dengan adanya pelayan yang kami bawa, tidak mungkin terjadi 'apa-apa' di antara kami. Karena aku tidak punya keberanian maupun fantasi untuk melakukan hal mesum, sepertinya rencana orang tua kami bakal meleset.

Namun, orang tua kami menganggap pelayan sebagai manusia dari dunia yang berbeda, jadi mereka pikir kami tidak akan merasa malu meski dilihat saat sedang 'beraksi'. Mungkin begitulah cara pandang bangsawan yang sebenarnya.

Tapi bagiku, pelayan dan budak adalah manusia yang sama. Meski tidak terikat darah, mereka adalah bagian dari keluarga.

Hanya karena Ayah punya cara pandang berbeda, bukan berarti aku akan mengubah nilai-diriku terhadap pelayan dan budak.

Ini mungkin pengaruh besar dari lingkungan tempatku dibesarkan dulu. Dengan ingatan masa laluku, nilai-nilaiku sudah paten dan tidak akan berubah sekarang.

Apalagi saat melihat ekspresi mereka yang begitu bersemangat.

Dan coba bayangkan, apakah mungkin seseorang bisa bermesraan di rumah yang ada keluarganya? Tentu saja mustahil.

Ditambah lagi Fran masih terlalu muda, jauh di luar zona seleraku (wanita akhir usia 20-an), jadi bagaimanapun juga tidak akan terjadi apa-apa.

Sambil memikirkan hal itu, aku naik ke kereta kuda yang telah disiapkan Keith.

Fran sepertinya sama sekali tidak tahu apa yang sedang kupikirkan. Dia tampak sangat menantikan kunjungannya ke pusat Ibu Kota, terlihat dari dua rambut bornya yang berputar-putar dengan semangat.

Saat memperhatikan bor milik Fran, aku menyadari bahwa dibandingkan waktu kecil, putarannya sekarang jauh lebih stabil dan suaranya pun lebih halus.

Apa dia memasang bantalan peluru atau semacamnya?

"A-ada apa? Tuan Lawrence. Anda terus-menerus memandangi rambutku seperti itu……"

"Tidak, hanya terpikir kalau rambutmu (putarannya) indah sekali."

"Te-terima kasih banyak……"

"Tapi Fran jauh lebih cantik kok. Kita baru sebentar tidak bertemu, tapi kamu jadi semakin cantik ya."

"A-anu…… a-aku senang sekali. Ta-tapi Tuan Lawrence juga, itu…… sangat tampan……"

"Iya. Terima kasih."

Setidaknya dengan begini, aku berhasil menutupi fakta bahwa aku sebenarnya sedang memperhatikan kecepatan putaran rambut bornya.

Begitulah, aku dan Fran menghabiskan waktu dengan berkeliling Ibu Kota hingga hari upacara pembukaan akademi sihir tiba. Dihadiri oleh orang tua kedua belah pihak, aku dan Fran resmi menjadi murid Akademi Sihir Negeri Kekaisaran.

Dan hari ini adalah hari pertama kami bersekolah.

"Tuan Lawrence, Nona Fran, kereta kuda sudah siap."

"Terima kasih, Keith. Mari, Fran, kita berangkat."

"I-iya!"

Aku dan Fran naik ke kereta kuda yang disiapkan Keith.

Tapi sungguh, aku tidak menyangka Keith akan berkembang sejauh ini; tidak hanya bersikap layaknya kepala pelayan profesional, tapi dia juga ahli beladiri dan bahkan bisa menjadi kusir.

Dulu aku pikir kalau dia bisa membantu urusan petualang sebagai asisten Flame saja sudah syukur, jadi perkembangan ini sangat memuaskanku.

Kereta yang membawa aku, Fran, dan para pelayan menempuh perjalanan selama setengah jam hingga sampai di Akademi Sihir.

Meski sudah pernah berkunjung sekali saat upacara pembukaan bersama orang tua, melewati gerbang besar yang menjadi simbol akademi ini sebagai seorang murid tanpa pendampingan orang tua tetap memberikan kesan yang mendalam.

Mungkin Fran merasakan hal yang sama, tangannya yang menggenggam tanganku terasa sedikit lebih erat.

"Kalau begitu Tuan Lawrence, saya akan memarkir kereta kuda dulu."

"Terima kasih, Keith."

Aku menggenggam tangan Fran dan melangkah masuk ke area akademi.

"R-rasanya agak gugup ya……"

"Tenang saja, Fran. Selama beberapa tahun ini kamu sudah diajari banyak hal oleh Flame. Dalam hal sihir maupun beladiri, aku yakin kamu sudah lebih kuat daripada kakak kelas di sini. Lagipula, ada aku bersamamu."

"Iya, Anda benar! Ada Tuan Lawrence bersamaku!! Lagipula, aku punya ilmu sihir dan beladiri yang diajarkan Kakak Flame!! Tidak ada yang perlu ditakutkan!!"

Ya. Fran yang penuh semangat seperti biasa telah kembali. Putaran bornya pun sudah berputar-putar dengan mantap.

Lalu kami memeriksa nama dan kelas kami di papan pengumuman yang diletakkan di depan gedung sekolah.

Berhubung aku dan Fran adalah tunangan, sudah ditetapkan bahwa kami akan berada di kelas yang sama. Aku sangat bersyukur kami tidak terpisah.

Baik aku maupun Fran selama ini jarang menghadiri pesta-pesta bangsawan (karena kami sudah punya tunangan, jadi tidak perlu mencari pasangan, dan karena kami tidak akan mewarisi gelar, jadi tidak perlu pamer wajah), jadi kami tidak punya kenalan sama sekali.

Menghadapi hari pertama sekolah dan pelajaran pertama tanpa ada kenalan itu cukup mencemaskan, jadi kehadiran Fran benar-benar membantuku secara mental.

Kami menuju kelas yang telah ditentukan.

Di kelas itu, terdapat papan tulis persegi panjang di dekat pintu masuk, dan di sekelilingnya terdapat meja panjang melengkung yang semakin tinggi ke arah belakang.

Sudah ada beberapa murid yang datang. Begitu mereka menyadari ada yang masuk, mereka memeriksa wajah kami. Namun segera setelah itu, mereka semua seolah kehilangan minat, memalingkan muka, dan melanjutkan obrolan dengan orang di dekat mereka.

Meskipun kami putra dan putri dari keluarga Adipati dan Baron, sepertinya karena kami tidak akan mewarisi keluarga, kami diperlakukan selayaknya rakyat jelata. Aku sudah menduganya, tapi melihatnya secara langsung membuatku sedikit kecewa.

Sebab, masa-masa paling bersinar di kehidupan laluku adalah saat-saat menjadi pelajar.

Dari SD sampai kuliah, masa itu berkali-kali lipat lebih menyenangkan daripada saat aku bekerja di perusahaan hitam (black company) di mana aku pulang ke rumah hanya untuk tidur. Dulu aku percaya tanpa ragu bahwa masa depan cerah sebagai pekerja kantoran yang bahagia sudah menanti.

Menikah di usia pertengahan 20-an, punya anak, lalu membeli rumah di usia 30-an... Kalau dipikir-pikir sekarang, saat itu aku benar-benar bahagia sampai bisa berpikiran seperti itu.

Itulah sebabnya aku tidak pernah bermimpi bahwa perusahaan semacam itu benar-benar ada.

"Ada apa, Tuan Lawrence?"

"Tidak ada apa-apa kok. Mari kita duduk."

"Iya!"

Saat aku sedang terpaku karena teringat kenangan indah sekaligus pahit secara bersamaan, Fran bertanya dengan nada cemas. Aku berhenti bernostalgia dan memilih duduk di kursi barisan belakang dekat jendela.

Alasan memilih kursi belakang dekat jendela adalah karena aku sangat mendambakannya gara-gara pengaruh komik dan anime. Tidak ada alasan khusus lain. Jika ingin fokus belajar, jelas barisan depan jauh lebih baik, jadi sebenarnya duduk di belakang tidak punya keuntungan apa pun.

Aku sempat bertanya pada Fran apakah dia tidak keberatan duduk di belakang, dan dia menjawab 'Tidak masalah sama sekali', jadi aku langsung duduk di sana tanpa ragu.

Anehnya, meski aku sempat mengira teman sekelas bakal mendatangi dan memancing keributan, hal itu tidak terjadi. Pelajaran berjalan lancar tanpa hambatan dan tiba-tiba saja sudah waktu pulang.

Mungkin mereka memang tidak tertarik pada kami, atau mungkin tidak punya nyali untuk mencari gara-gara.

Aku pikir bakal ada kejadian 'diajak berantem di hari pertama sekolah' seperti di cerita-cerita dunia lain, tapi sepertinya hidup memang tidak selalu sesuai ekspektasi.

Ini sebenarnya bagus, tapi aku jadi merasa cemas; apakah kehidupan sekolahku akan berakhir tanpa punya teman satu pun?

Bagiku sih tidak masalah, tapi aku ingin Fran punya kenangan sekolah yang indah, tidak seperti aku di kehidupan sebelumnya.

── Sisi Shirley Dantois ──

"Hei Shirley, kau itu beban di keluarga Dantois, jadi bekerjalah dengan benar demi kami!! Sialan, kenapa di keluarga kita bisa lahir orang yang tidak punya bakat sihir sepertimu."

"M-mohon maaf... Kakak."

Aku lahir di keluarga yang unggul dalam ilmu sihir di Kekaisaran. Orang tuaku, kakak laki-laki, dan kakak perempuanku semuanya jenius sihir. Hanya aku yang sampai sekarang hanya bisa menggunakan sihir tingkat dasar untuk keperluan sehari-hari di semua atribut. Benar-benar memalukan.

Sejak kecil, aku berjuang keras hanya karena ingin diakui orang tua, ingin mereka memperhatikanku, dan ingin masuk ke dalam lingkaran keluarga.

Berkat kerja kerasku dalam ilmu sihir maupun akademik, aku berhasil masuk ke Akademi Sihir dengan peringkat atas.

Meski di usia lima belas tahun ini kemampuanku dalam sihir masih nol, aku sempat merasa senang karena setidaknya bisa memberikan hasil dalam bidang akademik. Namun aku segera sadar betapa bodohnya aku.

Akhirnya orang tua akan memujiku. Akhirnya aku bisa diterima di keluarga. Ternyata hanya aku yang berpikir begitu.

Saat aku memberitahu orang tuaku bahwa nilai tes tertulisku berada di peringkat atas—

'Terus kenapa? Apa hal seperti itu berguna di medan perang?'

'Sudah sewajarnya kau dapat nilai bagus di tes. Tanpa bakat sihir yang unggul, semua itu tidak ada artinya...'

'Benar-benar memalukan punya adik yang sengaja melaporkan hal sepele seperti ini.'

'Iya, benar sekali. Kau juga berpikir begitu, kan?'

'Tentu saja, Kak.'

Orang tua, kakak laki-laki, dan kedua kakak perempuanku semuanya mencemoohku.

Aku yang mengira akhirnya akan diakui sebagai anggota keluarga, mulai merasa patah hati. Apa gunanya semua kerja kerasku selama ini? Namun di saat itu, ada orang yang menyapaku.

Mereka adalah Lawrence Westgaph dan tunangannya, Fran Quvist.

Sejujurnya, aku pikir tidak akan ada orang di akademi ini yang mau bicara denganku. Aku sudah menyerah untuk mencari teman.

Fakta bahwa aku adalah produk gagal sudah menjadi rahasia umum, begitu pula bagaimana keluargaku memperlakukanku.

Awalnya aku waspada saat mereka menyapaku, tapi saat mengobrol, tidak ada niat jahat atau tatapan merendahkan. Rasanya seperti pertama kalinya seseorang melihat 'diriku sebagai pribadi'.

Aku merasa sangat senang sampai tanpa sadar aku selalu berada di dekat mereka. Namun, aku merasa bersalah karena belum menjelaskan 'manusia seperti apa aku ini'. Aku merasa seperti sedang menipu mereka.

"A-anu...!!"

"Ada apa? Tiba-tiba serius sekali."

"Sebenarnya..."

Maka, aku memantapkan tekad untuk menceritakan segalanya kepada mereka berdua yang telah memperlakukanku sebagai manusia untuk pertama kalinya.

Jika itu mereka, meski setelah menceritakan semuanya mereka tidak mau lagi berteman denganku, aku akan menerimanya. Meski akan merasa kesepian, aku hanya akan kembali ke kehidupanku yang lama. Begitulah perasaan pasrah yang kupendam.

── Sisi Lawrence ──

"Sebenarnya... aku memang putri ketiga keluarga Dantois, tapi... anu, aku sama sekali tidak berbakat dalam sihir dan hanya bisa memakai sihir dasar sehari-hari saja...!!"

Selama ini, karena Kakakku yang akan mewarisi keluarga, aku dan tunanganku Fran hampir tidak pernah muncul di masyarakat bangsawan. Kami hanya melakukan apa yang kami suka dan melimpahkan semua urusan pertemuan bangsawan yang merepotkan kepada Kakak.

Karena itulah, di akademi ini sepertinya sulit mencari teman baru karena semua orang sudah punya kelompok sendiri. Namun saat melihat sekitar, ada seorang gadis yang tampak terkucil sendirian seperti kami, jadi aku menyapanya.

Aku sempat terkejut karena dia ternyata sangat baik dan enak diajak bicara, sampai aku heran kenapa dia bisa terkucil. Aku menduga pasti ada alasan tertentu.

Dan sekarang, Shirley memberanikan diri menceritakan alasannya.

Menurutnya, keluarga Dantois adalah keluarga penyihir hebat, tapi dia sebagai putri ketiga hanyalah 'produk gagal' yang hanya bisa sihir dasar. Itulah sebabnya dia diabaikan oleh keluarga maupun teman sekelasnya.

Soal keluarga Shirley, menurut standar kehidupan laluku, itu jelas termasuk pelecehan. Sedangkan soal teman sekelas, yah, mereka hanyalah anak bangsawan pada umumnya.

Mungkin mereka punya nilai-diri untuk tidak menjalin hubungan dengan orang yang tidak menguntungkan bagi keluarga mereka.

Kalau Shirley putri sulung, mungkin ada alasan untuk mendekat. Tapi kalau putri ketiga yang dianggap gagal, dia dinilai tidak berguna bahkan untuk sekadar menambah jumlah pengikut faksi mereka.

Mungkin alasan yang sama juga berlaku padaku. Kakakku sudah dipastikan jadi pewaris, dan aku sudah punya tunangan, jadi tidak ada celah bagi gadis dari keluarga rendah untuk masuk sebagai tunangan ataupun kepentingan warisan.

"…………"

Saat aku berpikir begitu, aku menyadari Shirley sedang menunggu jawabanku dengan wajah yang hampir menangis.

"……Tuan Lawrence."

"Ah, benar juga. Maaf aku lama menjawabnya. Aku juga minta maaf sudah membuatmu cemas, Shirley."

"Ti-tidak... aku mengerti kalau orang sepertiku memang tidak pantas ditemani..."

Namun saat aku hendak menjawab, Shirley salah paham mengira aku akan memutus hubungan dan dia mencoba beranjak pergi.

"Tunggu sebentar. Aku sama sekali tidak berniat menjauh darimu. Aku justru ingin kita tetap berteman akrab mulai sekarang."

"A-aku juga!! Sebenarnya kami juga cemas apakah bisa punya teman di akademi ini!!"

Aku menahan Shirley dan menyatakan keinginan untuk tetap berteman, lalu Fran pun mengungkapkan kecemasan yang sama padanya.

"I-iya!! Aku juga sangat ingin tetap berteman dengan kalian berdua!!"

Meski tidak sampai punya seratus teman, setidaknya aku sendiri ingin menghindari punya nol teman. Dan karena Fran seolah sulit mencari teman gara-gara keberadaanku, aku merasa lega setidaknya Shirley bisa menjadi teman bagi Fran.

Aku ingin Fran punya banyak teman sekolah tanpa perlu terlalu mengkhawatirkanku.

── Sisi Damian Language ──

Aku dibesarkan sebagai putra sulung keluarga Marsekal.

Tentu saja, sebagai pewaris, didikan orang tua dan guru privatku sangat keras. Dulu aku sering menangis.

Setiap kali itu terjadi, aku selalu mengadu pada Shirley, putri ketiga keluarga Dantois dari wilayah tetangga yang merupakan teman masa kecilku.

Dan sekarang, Shirley yang kurindukan itu justru sedang menodai kenangan manis kami di depan mataku. Hal itu terjadi setiap hari sejak masuk akademi.

Beraninya Shirley berbicara dengan pria lain setiap hari padahal ada aku di sini. Sepertinya sudah saatnya aku memberinya pelajaran.

"Hei, Shirley."

"I-iya, ada apa Tuan Damian?"

"Bahkan tidak tahu kenapa dipanggil... Itulah sebabnya kau dianggap bodoh oleh keluargamu. Sudahlah. Ada yang ingin kubicarakan nanti setelah sekolah, tunggulah di kelas."

Aku memberitahu Shirley untuk tetap di kelas setelah jam sekolah berakhir, lalu aku pergi dari sana.

"Hmph, kau tidak lari dan tetap di sini, ya..."

"Iya, karena Tuan Damian memerintahkan saya untuk menunggu."

Setelah jam sekolah berakhir, Shirley berada di kelas sendirian seperti yang kuperintahkan. Sejujurnya, aku sempat berpikir dia tidak akan menunggu, jadi dalam hati aku merasa lega.

Namun, sikap Shirley membuatku kesal dan naik pitam.

Meski sikapnya terlihat seperti biasa, raut wajahnya saat bersama si Lawrence yang payah itu—pria pecundang yang tidak pernah terlihat di pesta mana pun—benar-benar berbeda. Belum lagi nada suaranya dan caranya bicara yang santai, semuanya membuatku muak.

Sebab, setiap gerak-gerik yang Shirley tunjukkan pada si pecundang itu adalah sesuatu yang belum pernah dia tunjukkan padaku. Kenyataan itu membuatku sangat marah.

"Baguslah kalau kau sadar diri. Kalau begitu, kau pasti mengerti kenapa aku menyuruhmu menunggu, kan?"

"……Tidak, mohon maaf. Saya tidak mengerti mengapa orang seperti Tuan Damian menyuruh orang seperti saya untuk menunggu."

Namun, karena Shirley menuruti perintahku dan tetap berada di sini, aku mengira dia sedikit banyak sudah mengerti alasan mengapa aku menyuruhnya tinggal.

Tapi di luar dugaan, dia justru berani mengatakan bahwa dia tidak tahu.

Tolong, siapa pun, puji aku karena tidak melayangkan tangan saat itu juga.

"Tidak tahu, katamu? Apa kau sedang bercanda?"

"Tidak, saya tidak bermaksud..."

"Bagaimana bisa kau bilang tidak sedang bercanda, sementara alasan aku menyuruhmu tinggal saja kau tidak tahu!!"

"M-mohon maaf...!"

"...Hmph, sudahlah. Anggap saja ini tugasku sebagai sosok bangsawan yang luhur untuk mengajari orang bodoh sepertimu agar mengerti."

Sejujurnya aku hampir meledak mendengar ucapan Shirley.

Lagipula, Shirley adalah tipe wanita yang sudah pasti akan diusir dari rumahnya dan menjadi rakyat jelata setelah lulus nanti.

Wajar saja kalau dia sebodoh itu.

Justru karena itulah, tidak ada gunanya marah kepada orang bodoh seperti ini. Menjelaskan padanya dengan baik adalah bentuk kemurahan hati dari orang yang berada di posisi atas.

Berbeda dengan Shirley yang bodoh, aku ini pintar dan memiliki bakat sihir yang luar biasa hingga dipuja sebagai anak ajaib. Mungkin memang terlalu kejam jika aku menuntut Shirley untuk bisa mencapai levelku.

Kemampuanku untuk tidak marah dan malah memikirkan perasaan lawan bicara inilah yang membuktikan bahwa aku berada satu tingkat di atas putra-putra sulung bangsawan lainnya.

Tentu saja masih ada banyak bagian lain dariku yang lebih unggul dibanding orang-orang bodoh itu, tapi jika aku mulai menjabarkannya satu per satu, matahari bisa keburu terbenam. Jadi lebih baik cukup sampai di sini saja.

"Te-terima kasih banyak..."

"Alasanku menyuruhmu tinggal adalah karena belakangan ini, frekuensi kebersamaanmu dengan si pecundang Lawrence itu terlalu sering. Mengapa kau berada di sisi pecundang itu dan bukannya di sisiku? Secara logika itu aneh, kan?"

Aku melanjutkan penjelasanku.

"Lagipula, dia sudah punya tunangan bodoh bernama Fran yang tidak punya mata untuk menilai laki-laki. Memang benar, mereka berdua cocok sebagai sesama anak kedua dan ketiga, tapi jika dia sudah punya tunangan, tidak ada keuntungan bagimu untuk bersikap manis padanya."

"E-etoo... Lawrence-kun adalah temanku. Jadi, soal pertunangan atau... soal untung dan rugi, dia tidak memikirkan hal semacam itu dan memperlakukanku dengan setara. Aku pun ingin bersikap demikian padanya...!"

Aku sudah menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana agar si bodoh ini mengerti.

Namun ketika kutanya mengapa dia tetap berada di sisi Lawrence padahal tidak ada untungnya, jawaban yang kuterima malah alasan konyol seperti 'karena teman'.

"...Teman?"

"I-iya."

"Hanya karena hal tidak berguna seperti itu kau berada di sisi Lawrence sampai sekarang!? Cukup sudah bercandanya. Dengar, ya? Mulai besok, kau harus berada di sisiku."

Teman? Teman, katamu? Shirley tidak butuh hal seperti teman!

Mengapa dia merasa perlu mencari teman baru padahal ada sosok sehebat aku di sini? Aku benar-benar tidak paham.

"Ta-tapi..."

"Jangan banyak alasan yang tidak berguna!! Aku, putra sulung keluarga Marquis, sudah berbaik hati mau meladeni kau yang hanya putri ketiga dari keluarga Earl. Patuh saja tanpa banyak bicara!!"

"Kyaaa!?"

Padahal aku sudah memperingatkannya, tapi Shirley masih saja mencoba memberikan alasan berbelit-belit. Amarah membuat kepalaku memutih, dan tanpa sadar aku meneriakinya sambil menampar pipinya.

Semua ini salah Shirley karena tidak mau patuh padaku sejak awal. Aku tidak salah.

"Hmph. Jika sudah mengerti, mulai besok kau harus berada di dekatku, bukan di dekat pecundang Lawrence itu."

"Siapa yang kau sebut pecundang? Tidak mungkin Damian-san yang lebih lemah dariku menyebutku pecundang, kan?"

Tepat saat aku hendak mencengkeram lengan Shirley yang tersungkur di lantai akibat tamparanku, seseorang menepis tanganku dan menghalangiku.

"Lo-Lawrence-kun...!"

"Hah? Kau yang tidak pernah terlihat di pesta mana pun ini berani bilang kalau kau lebih kuat dariku?"

Orang yang menepis tanganku adalah si Lawrence itu. Terlebih lagi, pecundang ini dengan sombongnya menyatakan bahwa dia lebih kuat dariku.

Paling-pilih dia hanyalah anak kedua yang tidak punya bakat sihir maupun pedang, makanya dia tidak pernah muncul di panggung publik. Berani-beraninya dia bicara lancang begini, dia harus membayar harga yang setimpal.

Karena selama ini dia tidak pernah melihat dunia luar, dia pasti merasa sudah hebat hanya karena belajar sedikit sihir dan teknik pedang.

"Iya, itulah yang kukatakan. Lagipula, bukankah hasil ujian masukku untuk teknik pedang dan sihir jauh lebih tinggi darimu?"

"Hmph. Pecundang yang tidak punya pengalaman tempur nyata sepertimu berani menyombongkan nilai ujian masuk? Tidak tahukah kau apa itu rasa malu?"

Anak ini lahir di keluarga Duke, pasti dia memberikan suap dalam jumlah besar kepada penguji saat ujian masuk.

Fakta bahwa dia hampir tidak pernah muncul di pesta bangsawan mana pun memudahkan siapa pun untuk berimajinasi; bahwa keluarga Duke menilainya 'tidak layak diperkenalkan ke keluarga lain' atau bahkan 'hanya akan menjadi aib bagi keluarga Duke'.

Orang semacam itu berlagak seolah hasil ujian masuknya adalah kebenaran yang mutlak. Bagiku, itu benar-benar konyol.

Selain itu, karena dia tidak pernah muncul di publik, itu berarti dia hanya beraktivitas di dalam rumah. Dengan kata lain, dia hampir tidak memiliki pengalaman bertarung yang nyata.

Jika dia punya pengalaman, setidaknya akan ada desas-desus yang sampai ke telingaku seperti 'Putra kedua Westgaph menaklukkan dungeon' atau 'Pergi memburu Orc'.

Karena aku tidak pernah mendengar cerita seperti itu, sudah pasti si pecundang Lawrence ini tidak punya pengalaman tempur.

Padahal keluarganya sudah bersusah payah memberinya bantuan melalui suap agar tidak mempermalukan nama baik mereka, dia justru melakukan tindakan yang mencoreng nama keluarganya sendiri. Benar-benar malang.

"Malu, katamu? Aku? Menurutku, kau yang menggunakan kekerasan dan mengabaikan keinginan Shirley-san jauh lebih memalukan. Shirley-san bukan budakmu, tahu. Yah, meskipun dia budak sekalipun, aku akan tetap membenci orang yang memaksakan kehendak dan menggunakan kekerasan pada mereka."

"Heh, berani juga mulutmu. Jika kau sudah sesumbar begitu, ayo lakukan duel denganku besok setelah pulang sekolah. Tentu saja kau tidak akan lari setelah bicara besar begitu, kan?"

Namun, pecundang bernama Lawrence ini sepertinya tidak paham situasi. Dia malah berani mengatai kalau akulah sosok yang memalukan.

Padahal aku menamparnya demi kebaikan Shirley sendiri. Tidak ada alasan bagi orang asing untuk mencampuri urusanku.

"Besok setelah pulang sekolah, ya? Baiklah. Kau sendiri jangan sampai kabur, ya. Ayo pergi, Shirley. Biarkan saja orang yang menganggap orang lain sebagai mainan yang bisa digerakkan sesuka hati ini."

"I-iya...!"

"He-hei!! Tunggu sebentar, Shirley!! Kenapa kau malah mengikutinya!? Bukankah baru saja kuperingatkan!! Mulai sekarang kau harus di sisiku, bukan di sisi pecundang ini!!"

"Maafkan saya, Tuan Damian. Tapi saya bukan boneka milik Tuan Damian."

"Hah? Apa? Hei!! Aku memikirkan kebaikanmu... Hei!!"

Tanpa memedulikanku, Lawrence menggandeng tangan Shirley untuk membantunya berdiri, lalu mencoba keluar dari kelas bersama-sama.

Shirley pun tidak menunjukkan tanda-tanda menolak dan malah ikut pergi. Aku yang merasa sudah memberikan peringatan pun berteriak agar dia tetap di sisiku, namun yang kuterima hanyalah tatapan dingin Shirley dan kata-kata tajam bahwa dia 'bukan boneka milikku'.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close