Chapter 2
Teman Pertama
"""Selamat
datang di rumah, Tuan Muda."""
"Terima
kasih sudah menyambutku."
Setibanya di
rumah, para budak yang bertugas mengurus vilaku berbaris dalam dua lajur dan
membungkuk hormat. Aku berjalan melewati barisan mereka dan masuk ke dalam
rumah.
"Wah, wah,
wah!! Hebat sekali...! Benar-benar terasa seperti kediaman keluarga
Adipati!"
Hari ini aku
mengajak Shirley ke rumah ini, dan dia langsung setuju dengan penuh semangat.
Awalnya aku
sempat bertanya apakah tidak apa-apa jika dia tidak memberi kabar kepada orang
tuanya. Dia hanya tersenyum getir dan menjawab, "Aku dianggap aib
keluarga, jadi kurasa mereka tidak akan peduli apa pun yang kulakukan atau di
mana pun aku berada!!".
Mendengar
itu, aku ingin dia melupakan masalah tersebut dan bersenang-senang selama
berada di rumahku.
Meski
begitu, tidak memberi kabar sama sekali bukanlah pilihan yang bijak.
Aku
menggunakan alat sihir komunikasi untuk mengirim pesan kepada orang tuaku agar
mereka meneruskan informasi tersebut kepada pihak keluarga Dantois.
Jawaban
yang kembali dari orang tua Shirley justru berbunyi: "Malah lebih baik
jika Anda sekalian mengambilnya sebagai istri saja."
Dari
balasan itu, aku bisa membayangkan betapa buruknya perlakuan yang diterima
Shirley di rumahnya sendiri.
Karena
tidak enak jika tidak memberitahunya, aku menjelaskan bahwa aku sudah
menghubungi orang tuanya dan meminta izin, sekaligus meminta maaf karena telah
lancang bertanya tanpa persetujuannya.
"Sudah
kuduga. Justru aku yang minta maaf karena kehadiranku malah membuat Tuan
Lawrence harus repot-repot melakukan hal yang tidak perlu," sahut Shirley.
Dia benar-benar gadis yang berbudi pekerti baik.
Anak
sebaik ini diperlakukan begitu.... Ya, kurasa baik atau buruk, begitulah
nilai-nilai bangsawan pada umumnya.
Orang
tuaku dan orang tua Fran mungkin dianggap aneh dari sudut pandang bangsawan
lain karena mereka sangat menyayangi anak-anaknya.
Memikirkan
hal itu, aku hanya bisa bersyukur memiliki orang tua yang mengizinkanku
melakukan apa pun yang kusukai dan mencintaiku dengan tulus.
Saat ini Shirley
masih tampak terpukau dengan isi vila dan para pelayan di sini.
"Uwah... hebat sekali... Beda jauh dengan
rumahku," gumamnya sambil celingukan melihat sekeliling.
Wajar saja dia terkejut, aku sendiri saat pertama kali
datang ke sini sempat kaget dengan kemewahan yang berlebihan ini.
"Dengar,
Shirley. Bagaimana kalau hari ini kita memasak makan malam bersama? Akhir-akhir
ini aku sedang ketagihan membuat Udon, lho!!"
"Eh? Udon
itu... Udon yang sekarang sedang populer di Ibu Kota!?"
"Iya, benar sekali!!"
"Aku sudah lama ingin mencobanya... tapi aku tidak
punya uang jajan, dan antreannya sangat panjang jadi aku menyerah.... Wah,
hebat sekali Fran bisa membuatnya sendiri!!"
"Sebenarnya jauh lebih mudah dari bayanganmu, lho.
Hanya saja, kalau tidak dibuat dengan sungguh-sungguh, mienya akan putus saat
direbus atau teksturnya jadi lembek. Jadi kita tidak boleh malas saat proses pembuatannya!"
"Rasanya
sangat menyenangkan.... Semakin aku ingin membuat Udon yang lezat, semakin aku
menyadari betapa dalam dan kompleksnya seni membuat mie ini!! Pasti Shirley
juga akan ketagihan kalau sudah mencobanya!!"
Tadinya aku
sempat bingung bagaimana cara menjamu tamu wanita seumurannya setelah mendapat
izin (bahkan izin menginap) dari orang tua Shirley. Untungnya, Fran dengan
riang mengajaknya membuat Udon.
Biasanya,
bukankah gadis-gadis seumuran mereka lebih suka membuat kue yang manis? Tapi
melihat Shirley tampak senang diajak, kurasa Udon pun tidak masalah.
Bicara soal Udon,
sebelumnya saat aku mengunjungi rumah Fran, aku sempat membuat kontrak dengan
Tuan Daniel mengenai resep Udon dan segala urusan bisnisnya.
Kedainya di Ibu
Kota ternyata sangat sukses, bahkan kedai-kedai di sekitarnya mulai menjual
makanan serupa. Udon benar-benar sudah menjadi makanan populer seperti yang
dikatakan Shirley.
Namun, karena
mereka tidak tahu cara membuat kuah Tsuyu, cara menghasilkan tekstur mie
yang kenyal, atau bahkan tidak tahu apa itu Wasabi yang disajikan di
sampingnya, banyak bermunculan "Udon modifikasi" yang lebih mirip
seperti adonan tepung rebus (Suitton).
Itulah sebabnya
kedai Tuan Daniel semakin laris sebagai "Kedai Udon Autentik".
Mendengar
desas-desus itu, wajar jika orang-orang ingin mencobanya. Karena itulah aku
berencana mampir ke sana bersama Fran pada hari libur nanti.
Singkat cerita, kedua gadis itu mulai membuat Udon dengan
ceria mulai dari tepung.
Hanya saja... untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, adonan
yang sudah dilapisi sihir Barrier diletakkan di lantai, lalu mereka
menginjak-injaknya dengan kaki yang juga sudah dilapisi sihir pelindung secara
berulang-ulang....
Bukan hanya Fran, tapi ukuran dada Shirley pun tidak kalah
besarnya... atau malah lebih besar dari Fran, sehingga aku bingung harus
membuang muka ke mana....
Ditambah
lagi, pemandangan mereka yang mengangkat rok agar tidak kotor benar-benar
terasa... erotis.... Terlebih lagi, aku ini punya fetish kaki, dan melihat kaki
jenjang dua gadis cantik ini benar-benar ujian bagiku....
Karena rangsangannya terlalu kuat, aku sengaja memalingkan mata dari aktivitas pembuatan Udon mereka dan mulai fokus meracik kuah Tsuyu.
Pemandangan
yang dulu terasa biasa saja karena kami masih terlalu kecil, kini mulai memicu
"kekuatan misterius" yang sulit dilawan oleh kaum lelaki.
Meskipun
mereka belum masuk ke dalam zona seleraku, tetap saja, payudara besar dan kaki
jenjang memiliki daya tarik yang luar biasa.
Namun,
aku bukanlah pria sampah bermental lemah yang akan membiarkan hawa nafsu
mengambil alih.
Aku
menahannya sekuat tenaga dengan logika dan akal sehat. Sebagai seorang gentleman,
ini sudah menjadi kewajiban.
Terlepas
dari itu, melihat sosok Fran yang mengenakan celemek terasa sangat manis. Ada
kontras yang menarik antara penampilannya sekarang dengan sifatnya yang
biasanya ceria dan lincah.
Awalnya
aku sempat ragu saat kami baru bertunangan, namun belakangan ini aku mulai
berpikir; jika Fran tidak keberatan, aku tidak masalah jika kami benar-benar
menikah nanti.
"Sudah
jadiiiii!!"
"Wah……!!
Kelihatannya enak sekali!! Ini
pertama kalinya aku memakan masakan yang kubuat sendiri!!"
"Kalau
begitu, mari kita segera makan."
Setelah melewati
waktu yang terasa seperti latihan mental bagiku, Udon yang tersaji di depan
mata tampak jauh lebih lezat dari Udon mana pun.
...Ini bukan
karena mie itu diinjak-injak oleh kaki dua gadis cantik, lho... sungguh, bukan
karena itu.
"Nnggh!!
Mienya kenyal sekali, tapi tingkat kekerasannya juga pas, enak banget!! Kuahnya
juga terasa segar tapi punya cita rasa yang dalam!! Aku baru pertama kali makan
yang seperti ini!!"
Di Kekaisaran,
masakan dengan rasa yang kuat menggunakan keju, mentega, susu, dan
rempah-rempah sangatlah dominan.
Karena itulah,
Udon yang menggunakan kuah dari kaldu, kecap asin, dan mirin terasa sangat baru
bagi mereka.
Beberapa orang
terkadang tidak suka dengan aroma amis ikan karena bumbunya yang minimalis,
jadi aku merasa lega saat melihat Shirley menikmatinya.
Saat aku
mencicipinya sendiri, aku harus mengakui bahwa ini adalah Udon terlezat yang
pernah kumakan seumur hidupku.
Itu murni karena
Fran dan Shirley yang membuatnya, tidak ada maksud lain.
"Terima
kasih atas makanannya!"
"Aku makan
banyak sekali... Mungkin ini pertama kalinya aku makan sebanyak ini……"
"Cara
membuatnya ternyata cukup mudah, kan? Jadi lain kali kamu bisa membuatnya di
rumah... ah, kalau di rumahmu sulit, kamu boleh datang ke sini kapan saja untuk
membuat Udon lagi."
"Ide bagus!!
Kami akan selalu menyambutmu!! Aku juga sangat senang bisa membuat Udon bersama
teman sendiri!!"
"A-aku juga
menantikan saat-saat kita membuat Udon bersama lagi!! Ini pertama
kalinya aku merasa sebahagia ini... Aku benar-benar bersyukur karena teman
pertama yang kumiliki adalah Lawrence-kun dan Fran!!"
"Aku juga senang karena teman pertama yang kudapatkan
di akademi adalah Shirley!!"
"……Fran."
"……Shirley."
Sepertinya mereka berdua sudah asyik masuk ke dunia mereka
sendiri, jadi aku memutuskan untuk mandi duluan saja.
Sejujurnya aku ingin terus melihat keakraban dua gadis
cantik ini, tapi aku merasa tidak enak jika mengganggu ruang mereka. Sebagai satu-satunya laki-laki di sini,
lebih baik aku mundur perlahan.
"Ini
perlengkapan mandi Anda."
"……Terima
kasih, Anna."
"Tidak perlu
sungkan. Melayani Tuan Lawrence yang merupakan tunangan sekaligus calon suami
Nona Fran adalah kewajiban saya sebagai pelayan yang mengabdi pada Nona
Fran."
"O-begitu
ya. Pokoknya terima kasih."
Seolah bisa membaca pikiranku, Anna mengeluarkan perlengkapan mandi dari balik rok panjangnya di waktu yang sangat tepat. Aku pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih padanya.
Saat itu, Anna
memancarkan aura seolah berkata, "Misi pertama selesai," sambil
membetulkan kacamatanya yang tampak berkilat. Tapi, kurasa itu cuma perasaanku
saja.
Lagi pula,
kalaupun "Misi Pertama" itu benar-benar ada dan sudah selesai,
memangnya kenapa?
Omong-omong, aku
sudah terbiasa melihat Anna mengeluarkan berbagai macam benda dari balik
roknya, jadi aku tidak kaget lagi.
Namun, aku tetap
penasaran bagaimana prinsip kerjanya. Sambil berharap suatu saat dia mau
memberitahuku, aku membawa perlengkapan mandi—berupa handuk dan pakaian
ganti—yang sudah disiapkan Anna menuju kamar mandi.
"Aaahhh~~
Segarnya rasanya seperti hidup kembali...."
Memang benar,
karena di kehidupan sebelumnya aku adalah orang Jepang, berendam di bak mandi
air panas rasanya seperti membasuh jiwa. Rasanya luar biasa nyaman.
Di Kekaisaran,
kebanyakan orang hanya mandi dengan air dingin, atau paling-pilih hanya
menyiramkan air hangat ke tubuh—semacam "mandi bebek" atau
menggunakan pancuran. Bisa dibilang, selain rakyat jelata, di kalangan
bangsawan pun mungkin hanya aku yang berendam setiap hari.
Nah, kurasa
tubuhku sudah cukup hangat, sebaiknya aku keluar... Tepat saat aku berpikir begitu, aku menyadari
sesuatu.
Dari
ruang ganti—
"A-apa kita
benar-benar akan melakukannya?"
"Justru aku yang bertanya, apakah Shirley-san tidak
keberatan? Aku ini tunangannya, jadi
aku selalu punya tekad untuk itu, tapi..."
"Katanya
laki-laki akan senang, dan aku juga ingin melakukannya sebagai tanda terima
kasih, tapi tetap saja rasa maluku lebih besar...."
"Aku tidak
akan memaksa. Dan meski kau tidak ikut sekarang, baik aku maupun Tuan Lawrence
tidak akan marah, kok."
"Tidak, aku
juga ikut!! Karena aku benar-benar berutang budi pada kalian berdua...! Lagi
pula, setelah lulus nanti aku mungkin akan dijual kepada pedagang yang tidak
kukenal. Anggap saja ini bentuk perlawanan kecilku... dan juga,
mungkinkah..."
"Kau
berpikir kalau besok Tuan Lawrence akan kalah dari pria bernama Damian
itu?"
"U-uhm.
Tentu saja aku tidak berpikir Lawrence-kun akan kalah, tapi... Damian tetaplah
putra sulung bangsawan tulen, jadi aku cemas kalau ada kemungkinan buruk
terjadi..."
"Tenang
saja, Shirley. Tuan Lawrence tidak mungkin kalah dari orang yang bahkan tidak
pantas disebut bangsawan seperti dia. Lagipula, Tuan Lawrence adalah yang nomor
satu di Kekaisaran, bahkan di dunia."
—Aku bisa
mendengar suara Fran dan Shirley dari sana.
Aku yakin
sudah berpesan pada Anna, "Tolong beri tahu Fran dan yang lainnya kalau
aku sedang mandi," agar tidak terjadi pertemuan yang canggung.
Lalu,
kenapa mereka berdua sekarang ada di ruang ganti...?
"Biarkan
saya menjawab pertanyaan itu."
"…………Eh?
Anna?"
"Benar, ini
saya, Anna. Ah, astaga. Meski itu Tuan Lawrence, memasukkan handuk ke dalam bak
mandi adalah pelanggaran tata krama. Dilihat pun tidak akan berkurang, jadi
sebagai calon suami Nona Fran di masa depan, saya harap Anda bisa lebih percaya
diri."
"Bukannya
percaya diri, biasanya orang bakal menutupinya, tahu!! Lagipula, kenapa
Anna-san sendiri tidak menutupi apa-apa!?"
"Saya malu
kalau wajah saya tanpa kacamata terlihat, jadi saya menutupi wajah asli saya,
lho?"
"Bukan
bagian itu! Kenapa Anda telanjang bulat!?"
"Tentu saja
karena kalau handuk ikut masuk ke dalam bak mandi, itu melanggar etika. Ini
sudah sewajarnya. Ini kan pengetahuan umum?"
...Pengetahuan
umum macam apa itu? ...Tapi, untuk ukuran usianya, kulit Anna-san kencang juga
ya—
"Untuk
ukuran usia saya?"
—Begitulah yang
kupikirkan, tapi bagi Anna-san, hal seperti ini mungkin biasa saja.
"......Lalu,
bagaimana bisa Anda tiba-tiba muncul di sini?"
"Saya
menggunakan celana dalam bekas pakai Tuan Lawrence untuk memancing Sicil-san
agar bekerja sama."
...Oalah, jadi
Sicil juga ikut terlibat, ya.
"Ah, tolong jangan marahi Sicil-san soal ini, ya? Tuan
Lawrence tidak pernah melarang saya memberikan celana dalam bekas kepada budak,
jadi saya harap Anda justru memuji kecerdasan saya yang berhasil menemukan
celah dalam peraturan."
"Tidak,
aku tidak akan memujimu."
"Benar
itu, Guru! Guru memang kuat, dan dalam hal bertarung Guru memang tidak punya
celah. Tapi dalam urusan asmara antara pria dan wanita, Guru benar-benar sangat
payah! Itulah sebabnya aku berkonsultasi dengan Anna-san!! Ini adalah 'terapi
kejut' dari muridmu yang imut ini karena mengkhawatirkan Gurunya!! Sering
dikatakan bahwa pria adalah serigala, tapi sebaliknya pun berlaku, dan
sepertinya Guru melupakan hal itu!! Sebagai seorang bangsawan, Guru harus
waspada terhadap kemungkinan wanita yang menyerang dan mencuri benih
Guru!!"
Menyusul
Anna, Sicil pun muncul—kemungkinan besar lewat bayanganku—tanpa menutupi bagian
tubuh mana pun, lalu mulai berceloteh panjang lebar dengan alasan yang
terdengar dibuat-buat.
Tapi,
bagaimanapun aku memikirkannya, alasan Sicil ini benar-benar dipaksakan....
"Tuan
Lawrence!! Aku datang untuk menggosok punggung Anda!! Karena Anda selalu menolak, aku menggunakan cara
yang sedikit memaksa. Tapi aku ini tunangan Tuan Lawrence. Hal seperti ini
masih dianggap aman, kok!!"
"A-aku juga
datang untuk menggosok punggungmu!!"
............Ternyata
surga itu ada. Tempat ini adalah surga.
Dan begitulah,
aku melewati ujian yang terasa antara surga dan neraka ini selama hampir satu
jam sambil terus membayangkan wajah Ibuku agar tetap waras.
◆
── Sisi
Shirley ──
Hanya dalam waktu
beberapa hari sejak kami bertemu—bahkan bisa dihitung dengan jari satu
tangan—Lawrence-kun dan Fran sudah menjadi orang-orang yang sangat berharga dan
tak tergantikan bagiku.
Mengingat mereka
adalah teman pertama yang kumiliki, mungkin wajar jika aku merasa begitu.
Namun, aku benar-benar tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hubungan yang
disebut "teman" ini bisa terasa begitu luar biasa.
Terlahir di
keluarga Dantois yang terkenal sebagai klan penyihir terkemuka namun tidak
memiliki bakat sihir, aku tidak pernah sekalipun disapa dengan ramah di pesta
mana pun yang kuhadiri.
Jika ada yang
memperhatikanku, itu hanyalah tatapan penuh rasa ingin tahu yang merendahkan
atau bisik-bisik gunjingan.
Karena itulah,
aku tidak pernah bermimpi bisa mendapatkan teman saat masuk akademi.
Aku pikir aku
hanya akan menjalani kehidupan sekolah sambil menahan diri dari gunjingan, lalu
dijual ke antah-berantah setelah lulus. Aku tidak pernah membayangkan masa
depan yang cerah dan berkilau seperti ini.
Itulah sebabnya,
saat ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku.
Rasa terima
kasihku kepada Lawrence-kun dan Fran yang telah mengajariku berharganya
hari-hari yang menyenangkan dan arti seorang teman benar-benar tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata.
Saking besarnya
rasa terima kasih itu, aku bahkan tidak keberatan jika Lawrence-kun melihat
tubuh polosku.
Di saat yang
sama, aku mulai merasakan kemarahan yang luar biasa—sesuatu yang belum pernah
kurasakan sebelumnya—terhadap Damian yang telah menghina Lawrence-kun dan Fran.
Padahal aku hanya
punya waktu sekitar tiga tahun sebelum aku dijual, dan aku pikir aku bisa
menghabiskan tiga tahun itu dengan hari-hari yang indah seperti harta karun.
Aku benar-benar
tidak paham kenapa Damian berusaha menghancurkan semua itu. Aku hanya bisa
berpikir kalau dia memang senang merundungku, dan itu membuatku sangat marah.
Sejak dulu Damian
selalu merundungku dengan kata-kata seperti "tidak berguna",
"tidak berbakat", "kau tidak punya nilai apa pun",
"bersyukurlah aku masih mau meladeni orang sepertimu"...!
Mungkin dia
merasa tidak mau mainannya diambil, tapi bagiku yang selama ini dijadikan
mainan, aku hanya ingin dia membiarkanku tenang.
Dulu aku memang
benci Damian, tapi sekarang, aku sangat membencinya.
◆
── Sisi Damian
──
Kenapa jadi
begini?
"Kyaaa!?
Tolong hentikan...!!"
"Bising!!
Kalau kau datang ke sini hanya demi mengincar uang keluargaku, jangan mengeluh
apa pun yang kulakukan padamu, sampah!!"
"Agh!?"
Cih,
benar-benar rakyat jelata yang tidak berguna.
Mau
secantik apa pun rupa mereka, pada akhirnya mereka hanyalah parasit yang
mengerumuni uang keluargaku. Orang-orang seperti itu tidak perlu diperlakukan
sebagai manusia.
Lagipula,
rakyat jelata sendiri sudah merupakan kasta terendah sebagai manusia, dan
menjadi parasit membuat mereka benar-benar tidak tertolong.
Namun, di
luar itu, kecantikan mereka adalah hal yang patut dipuji secara terpisah.
Sungguh misterius bagaimana seekor kupu-kupu yang indah bisa lahir dari
keturunan campuran seperti rakyat jelata.
Kadang
ada yang lebih cantik daripada keturunan bangsawan, jadi aku mengumpulkan
rakyat jelata yang percaya diri dengan penampilan mereka untuk kujadikan
koleksi. Tapi sepertinya kali ini aku mendapatkan barang gagal.
Kalau
isinya cuma barang gagal, aku tidak butuh mereka lagi. Tapi, mereka masih bisa berguna sebagai samsak
latihan sihir.
"Beraninya
rakyat jelata sepertimu bilang 'tolong hentikan' kepadaku? Tugas kalian hanya
diam dan membiarkanku melakukan apa pun yang kumau!!"
"Kalau kau
merasa sakit dan ingin berhenti, seharusnya jangan datang merangkak ke sini
demi uang sejak awal!!"
"Maafkan
saya, maafkan saya, maafkan saya!!"
"Minta maaf
saja tidak akan menyelesaikan masalah!!"
"Aguh!?"
Aku merasa muak
dengan sikap rakyat jelata ini yang berpikir permintaan maaf akan mengubah
segalanya. Aku
menendang perutnya sampai dia mengerang kesakitan dan berguling-guling sambil
muntah.
"Cih,
siapa yang memberimu izin untuk mengotori lantai?"
"Gyaaaaaaaa!!"
Karena
orang yang tidak terdidik seperti ini butuh hukuman, aku meluncurkan sihir api
tingkat satu, Fireball, tepat ke wajahnya.
Dia
berteriak sambil berguling di lantai, lalu tak lama kemudian dia berhenti
bergerak dan hanya suara napas tersengal yang terdengar.
"Hei,
bereskan orang ini."
"Baik,
Tuan."
Wajah
cantiknya yang sekarang hancur terbakar sudah tidak punya nilai lagi. Aku
memerintahkan para pelayan untuk membuang sampah ini.
Rakyat
jelata lainnya menatap pemandangan itu dengan ekspresi penuh ketakutan.
Setidaknya,
sampah itu berguna sebagai peringatan bagi yang lain karena tidak ada satu pun
dari mereka yang berani bersuara lagi.
Aku memang jenius
karena bisa memanfaatkan sampah sekalipun secara efektif.
Namun, meskipun
aku berbakat, sikap Shirley hari ini benar-benar membuatku marah.
Meskipun sebagai
putri ketiga dia tidak bisa kujadikan tunangan bagi putra sulung sepertiku, aku
berniat menjadikannya selir untuk kusayangi.
Tapi dia tidak
hanya mencoreng kebaikanku, dia bahkan pergi bersama pecundang bernama Lawrence
itu.
Setiap kali
mengingat pemandangan itu, kepalaku rasanya mau meledak karena marah.
Dia diabaikan
oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya karena tidak peka terhadap niat
baik orang lain. Padahal aku sudah menawarkan diri untuk menjadikannya selir,
tapi dia bersikeras menolaknya sampai sekarang....
Tapi ya sudahlah,
kalau aku menghajar Lawrence yang sombong itu besok, dia pasti akan sadar.
Dalam hal ini, si
bodoh Lawrence itu setidaknya berguna sebagai alat.
Memikirkan hal
itu membuat kemarahanku sedikit mereda, namun fakta bahwa Shirley memilih
Lawrence tetap tidak bisa dimaafkan.
Aku harus
memberinya "pelajaran" yang tepat setelah duel besok berakhir. Sambil
memikirkan itu, aku terus meluapkan stresku pada rakyat jelata yang terpancing
datang demi uang.



Post a Comment