NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Teman Pertama


"""Selamat datang di rumah, Tuan Muda."""

"Terima kasih sudah menyambutku."

Setibanya di rumah, para budak yang bertugas mengurus vilaku berbaris dalam dua lajur dan membungkuk hormat. Aku berjalan melewati barisan mereka dan masuk ke dalam rumah.

"Wah, wah, wah!! Hebat sekali...! Benar-benar terasa seperti kediaman keluarga Adipati!"

Hari ini aku mengajak Shirley ke rumah ini, dan dia langsung setuju dengan penuh semangat.

Awalnya aku sempat bertanya apakah tidak apa-apa jika dia tidak memberi kabar kepada orang tuanya. Dia hanya tersenyum getir dan menjawab, "Aku dianggap aib keluarga, jadi kurasa mereka tidak akan peduli apa pun yang kulakukan atau di mana pun aku berada!!".

Mendengar itu, aku ingin dia melupakan masalah tersebut dan bersenang-senang selama berada di rumahku.

Meski begitu, tidak memberi kabar sama sekali bukanlah pilihan yang bijak.

Aku menggunakan alat sihir komunikasi untuk mengirim pesan kepada orang tuaku agar mereka meneruskan informasi tersebut kepada pihak keluarga Dantois.

Jawaban yang kembali dari orang tua Shirley justru berbunyi: "Malah lebih baik jika Anda sekalian mengambilnya sebagai istri saja."

Dari balasan itu, aku bisa membayangkan betapa buruknya perlakuan yang diterima Shirley di rumahnya sendiri.

Karena tidak enak jika tidak memberitahunya, aku menjelaskan bahwa aku sudah menghubungi orang tuanya dan meminta izin, sekaligus meminta maaf karena telah lancang bertanya tanpa persetujuannya.

"Sudah kuduga. Justru aku yang minta maaf karena kehadiranku malah membuat Tuan Lawrence harus repot-repot melakukan hal yang tidak perlu," sahut Shirley. Dia benar-benar gadis yang berbudi pekerti baik.

Anak sebaik ini diperlakukan begitu.... Ya, kurasa baik atau buruk, begitulah nilai-nilai bangsawan pada umumnya.

Orang tuaku dan orang tua Fran mungkin dianggap aneh dari sudut pandang bangsawan lain karena mereka sangat menyayangi anak-anaknya.

Memikirkan hal itu, aku hanya bisa bersyukur memiliki orang tua yang mengizinkanku melakukan apa pun yang kusukai dan mencintaiku dengan tulus.

Saat ini Shirley masih tampak terpukau dengan isi vila dan para pelayan di sini.

"Uwah... hebat sekali... Beda jauh dengan rumahku," gumamnya sambil celingukan melihat sekeliling.

Wajar saja dia terkejut, aku sendiri saat pertama kali datang ke sini sempat kaget dengan kemewahan yang berlebihan ini.

"Dengar, Shirley. Bagaimana kalau hari ini kita memasak makan malam bersama? Akhir-akhir ini aku sedang ketagihan membuat Udon, lho!!"

"Eh? Udon itu... Udon yang sekarang sedang populer di Ibu Kota!?"

"Iya, benar sekali!!"

"Aku sudah lama ingin mencobanya... tapi aku tidak punya uang jajan, dan antreannya sangat panjang jadi aku menyerah.... Wah, hebat sekali Fran bisa membuatnya sendiri!!"

"Sebenarnya jauh lebih mudah dari bayanganmu, lho. Hanya saja, kalau tidak dibuat dengan sungguh-sungguh, mienya akan putus saat direbus atau teksturnya jadi lembek. Jadi kita tidak boleh malas saat proses pembuatannya!"

"Rasanya sangat menyenangkan.... Semakin aku ingin membuat Udon yang lezat, semakin aku menyadari betapa dalam dan kompleksnya seni membuat mie ini!! Pasti Shirley juga akan ketagihan kalau sudah mencobanya!!"

Tadinya aku sempat bingung bagaimana cara menjamu tamu wanita seumurannya setelah mendapat izin (bahkan izin menginap) dari orang tua Shirley. Untungnya, Fran dengan riang mengajaknya membuat Udon.

Biasanya, bukankah gadis-gadis seumuran mereka lebih suka membuat kue yang manis? Tapi melihat Shirley tampak senang diajak, kurasa Udon pun tidak masalah.

Bicara soal Udon, sebelumnya saat aku mengunjungi rumah Fran, aku sempat membuat kontrak dengan Tuan Daniel mengenai resep Udon dan segala urusan bisnisnya.

Kedainya di Ibu Kota ternyata sangat sukses, bahkan kedai-kedai di sekitarnya mulai menjual makanan serupa. Udon benar-benar sudah menjadi makanan populer seperti yang dikatakan Shirley.

Namun, karena mereka tidak tahu cara membuat kuah Tsuyu, cara menghasilkan tekstur mie yang kenyal, atau bahkan tidak tahu apa itu Wasabi yang disajikan di sampingnya, banyak bermunculan "Udon modifikasi" yang lebih mirip seperti adonan tepung rebus (Suitton).

Itulah sebabnya kedai Tuan Daniel semakin laris sebagai "Kedai Udon Autentik".

Mendengar desas-desus itu, wajar jika orang-orang ingin mencobanya. Karena itulah aku berencana mampir ke sana bersama Fran pada hari libur nanti.

Singkat cerita, kedua gadis itu mulai membuat Udon dengan ceria mulai dari tepung.

Hanya saja... untuk menghasilkan tekstur yang kenyal, adonan yang sudah dilapisi sihir Barrier diletakkan di lantai, lalu mereka menginjak-injaknya dengan kaki yang juga sudah dilapisi sihir pelindung secara berulang-ulang....

Bukan hanya Fran, tapi ukuran dada Shirley pun tidak kalah besarnya... atau malah lebih besar dari Fran, sehingga aku bingung harus membuang muka ke mana....

Ditambah lagi, pemandangan mereka yang mengangkat rok agar tidak kotor benar-benar terasa... erotis.... Terlebih lagi, aku ini punya fetish kaki, dan melihat kaki jenjang dua gadis cantik ini benar-benar ujian bagiku....

Karena rangsangannya terlalu kuat, aku sengaja memalingkan mata dari aktivitas pembuatan Udon mereka dan mulai fokus meracik kuah Tsuyu.




Pemandangan yang dulu terasa biasa saja karena kami masih terlalu kecil, kini mulai memicu "kekuatan misterius" yang sulit dilawan oleh kaum lelaki.

Meskipun mereka belum masuk ke dalam zona seleraku, tetap saja, payudara besar dan kaki jenjang memiliki daya tarik yang luar biasa.

Namun, aku bukanlah pria sampah bermental lemah yang akan membiarkan hawa nafsu mengambil alih.

Aku menahannya sekuat tenaga dengan logika dan akal sehat. Sebagai seorang gentleman, ini sudah menjadi kewajiban.

Terlepas dari itu, melihat sosok Fran yang mengenakan celemek terasa sangat manis. Ada kontras yang menarik antara penampilannya sekarang dengan sifatnya yang biasanya ceria dan lincah.

Awalnya aku sempat ragu saat kami baru bertunangan, namun belakangan ini aku mulai berpikir; jika Fran tidak keberatan, aku tidak masalah jika kami benar-benar menikah nanti.

"Sudah jadiiiii!!"

"Wah……!! Kelihatannya enak sekali!! Ini pertama kalinya aku memakan masakan yang kubuat sendiri!!"

"Kalau begitu, mari kita segera makan."

Setelah melewati waktu yang terasa seperti latihan mental bagiku, Udon yang tersaji di depan mata tampak jauh lebih lezat dari Udon mana pun.

...Ini bukan karena mie itu diinjak-injak oleh kaki dua gadis cantik, lho... sungguh, bukan karena itu.

"Nnggh!! Mienya kenyal sekali, tapi tingkat kekerasannya juga pas, enak banget!! Kuahnya juga terasa segar tapi punya cita rasa yang dalam!! Aku baru pertama kali makan yang seperti ini!!"

Di Kekaisaran, masakan dengan rasa yang kuat menggunakan keju, mentega, susu, dan rempah-rempah sangatlah dominan.

Karena itulah, Udon yang menggunakan kuah dari kaldu, kecap asin, dan mirin terasa sangat baru bagi mereka.

Beberapa orang terkadang tidak suka dengan aroma amis ikan karena bumbunya yang minimalis, jadi aku merasa lega saat melihat Shirley menikmatinya.

Saat aku mencicipinya sendiri, aku harus mengakui bahwa ini adalah Udon terlezat yang pernah kumakan seumur hidupku.

Itu murni karena Fran dan Shirley yang membuatnya, tidak ada maksud lain.

"Terima kasih atas makanannya!"

"Aku makan banyak sekali... Mungkin ini pertama kalinya aku makan sebanyak ini……"

"Cara membuatnya ternyata cukup mudah, kan? Jadi lain kali kamu bisa membuatnya di rumah... ah, kalau di rumahmu sulit, kamu boleh datang ke sini kapan saja untuk membuat Udon lagi."

"Ide bagus!! Kami akan selalu menyambutmu!! Aku juga sangat senang bisa membuat Udon bersama teman sendiri!!"

"A-aku juga menantikan saat-saat kita membuat Udon bersama lagi!! Ini pertama kalinya aku merasa sebahagia ini... Aku benar-benar bersyukur karena teman pertama yang kumiliki adalah Lawrence-kun dan Fran!!"

"Aku juga senang karena teman pertama yang kudapatkan di akademi adalah Shirley!!"

"……Fran."

"……Shirley."

Sepertinya mereka berdua sudah asyik masuk ke dunia mereka sendiri, jadi aku memutuskan untuk mandi duluan saja.

Sejujurnya aku ingin terus melihat keakraban dua gadis cantik ini, tapi aku merasa tidak enak jika mengganggu ruang mereka. Sebagai satu-satunya laki-laki di sini, lebih baik aku mundur perlahan.

"Ini perlengkapan mandi Anda."

"……Terima kasih, Anna."

"Tidak perlu sungkan. Melayani Tuan Lawrence yang merupakan tunangan sekaligus calon suami Nona Fran adalah kewajiban saya sebagai pelayan yang mengabdi pada Nona Fran."

"O-begitu ya. Pokoknya terima kasih."

Seolah bisa membaca pikiranku, Anna mengeluarkan perlengkapan mandi dari balik rok panjangnya di waktu yang sangat tepat. Aku pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih padanya.




Saat itu, Anna memancarkan aura seolah berkata, "Misi pertama selesai," sambil membetulkan kacamatanya yang tampak berkilat. Tapi, kurasa itu cuma perasaanku saja.

Lagi pula, kalaupun "Misi Pertama" itu benar-benar ada dan sudah selesai, memangnya kenapa?

Omong-omong, aku sudah terbiasa melihat Anna mengeluarkan berbagai macam benda dari balik roknya, jadi aku tidak kaget lagi.

Namun, aku tetap penasaran bagaimana prinsip kerjanya. Sambil berharap suatu saat dia mau memberitahuku, aku membawa perlengkapan mandi—berupa handuk dan pakaian ganti—yang sudah disiapkan Anna menuju kamar mandi.

"Aaahhh~~ Segarnya rasanya seperti hidup kembali...."

Memang benar, karena di kehidupan sebelumnya aku adalah orang Jepang, berendam di bak mandi air panas rasanya seperti membasuh jiwa. Rasanya luar biasa nyaman.

Di Kekaisaran, kebanyakan orang hanya mandi dengan air dingin, atau paling-pilih hanya menyiramkan air hangat ke tubuh—semacam "mandi bebek" atau menggunakan pancuran. Bisa dibilang, selain rakyat jelata, di kalangan bangsawan pun mungkin hanya aku yang berendam setiap hari.

Nah, kurasa tubuhku sudah cukup hangat, sebaiknya aku keluar... Tepat saat aku berpikir begitu, aku menyadari sesuatu.

Dari ruang ganti—

"A-apa kita benar-benar akan melakukannya?"

"Justru aku yang bertanya, apakah Shirley-san tidak keberatan? Aku ini tunangannya, jadi aku selalu punya tekad untuk itu, tapi..."

"Katanya laki-laki akan senang, dan aku juga ingin melakukannya sebagai tanda terima kasih, tapi tetap saja rasa maluku lebih besar...."

"Aku tidak akan memaksa. Dan meski kau tidak ikut sekarang, baik aku maupun Tuan Lawrence tidak akan marah, kok."

"Tidak, aku juga ikut!! Karena aku benar-benar berutang budi pada kalian berdua...! Lagi pula, setelah lulus nanti aku mungkin akan dijual kepada pedagang yang tidak kukenal. Anggap saja ini bentuk perlawanan kecilku... dan juga, mungkinkah..."

"Kau berpikir kalau besok Tuan Lawrence akan kalah dari pria bernama Damian itu?"

"U-uhm. Tentu saja aku tidak berpikir Lawrence-kun akan kalah, tapi... Damian tetaplah putra sulung bangsawan tulen, jadi aku cemas kalau ada kemungkinan buruk terjadi..."

"Tenang saja, Shirley. Tuan Lawrence tidak mungkin kalah dari orang yang bahkan tidak pantas disebut bangsawan seperti dia. Lagipula, Tuan Lawrence adalah yang nomor satu di Kekaisaran, bahkan di dunia."

—Aku bisa mendengar suara Fran dan Shirley dari sana.

Aku yakin sudah berpesan pada Anna, "Tolong beri tahu Fran dan yang lainnya kalau aku sedang mandi," agar tidak terjadi pertemuan yang canggung.

Lalu, kenapa mereka berdua sekarang ada di ruang ganti...?

"Biarkan saya menjawab pertanyaan itu."

"…………Eh? Anna?"

"Benar, ini saya, Anna. Ah, astaga. Meski itu Tuan Lawrence, memasukkan handuk ke dalam bak mandi adalah pelanggaran tata krama. Dilihat pun tidak akan berkurang, jadi sebagai calon suami Nona Fran di masa depan, saya harap Anda bisa lebih percaya diri."

"Bukannya percaya diri, biasanya orang bakal menutupinya, tahu!! Lagipula, kenapa Anna-san sendiri tidak menutupi apa-apa!?"

"Saya malu kalau wajah saya tanpa kacamata terlihat, jadi saya menutupi wajah asli saya, lho?"

"Bukan bagian itu! Kenapa Anda telanjang bulat!?"

"Tentu saja karena kalau handuk ikut masuk ke dalam bak mandi, itu melanggar etika. Ini sudah sewajarnya. Ini kan pengetahuan umum?"

...Pengetahuan umum macam apa itu? ...Tapi, untuk ukuran usianya, kulit Anna-san kencang juga ya—

"Untuk ukuran usia saya?"

—Begitulah yang kupikirkan, tapi bagi Anna-san, hal seperti ini mungkin biasa saja.

"......Lalu, bagaimana bisa Anda tiba-tiba muncul di sini?"

"Saya menggunakan celana dalam bekas pakai Tuan Lawrence untuk memancing Sicil-san agar bekerja sama."

...Oalah, jadi Sicil juga ikut terlibat, ya.

"Ah, tolong jangan marahi Sicil-san soal ini, ya? Tuan Lawrence tidak pernah melarang saya memberikan celana dalam bekas kepada budak, jadi saya harap Anda justru memuji kecerdasan saya yang berhasil menemukan celah dalam peraturan."

"Tidak, aku tidak akan memujimu."

"Benar itu, Guru! Guru memang kuat, dan dalam hal bertarung Guru memang tidak punya celah. Tapi dalam urusan asmara antara pria dan wanita, Guru benar-benar sangat payah! Itulah sebabnya aku berkonsultasi dengan Anna-san!! Ini adalah 'terapi kejut' dari muridmu yang imut ini karena mengkhawatirkan Gurunya!! Sering dikatakan bahwa pria adalah serigala, tapi sebaliknya pun berlaku, dan sepertinya Guru melupakan hal itu!! Sebagai seorang bangsawan, Guru harus waspada terhadap kemungkinan wanita yang menyerang dan mencuri benih Guru!!"

Menyusul Anna, Sicil pun muncul—kemungkinan besar lewat bayanganku—tanpa menutupi bagian tubuh mana pun, lalu mulai berceloteh panjang lebar dengan alasan yang terdengar dibuat-buat.

Tapi, bagaimanapun aku memikirkannya, alasan Sicil ini benar-benar dipaksakan....

"Tuan Lawrence!! Aku datang untuk menggosok punggung Anda!! Karena Anda selalu menolak, aku menggunakan cara yang sedikit memaksa. Tapi aku ini tunangan Tuan Lawrence. Hal seperti ini masih dianggap aman, kok!!"

"A-aku juga datang untuk menggosok punggungmu!!"

............Ternyata surga itu ada. Tempat ini adalah surga.

Dan begitulah, aku melewati ujian yang terasa antara surga dan neraka ini selama hampir satu jam sambil terus membayangkan wajah Ibuku agar tetap waras.

── Sisi Shirley ──

Hanya dalam waktu beberapa hari sejak kami bertemu—bahkan bisa dihitung dengan jari satu tangan—Lawrence-kun dan Fran sudah menjadi orang-orang yang sangat berharga dan tak tergantikan bagiku.

Mengingat mereka adalah teman pertama yang kumiliki, mungkin wajar jika aku merasa begitu. Namun, aku benar-benar tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hubungan yang disebut "teman" ini bisa terasa begitu luar biasa.

Terlahir di keluarga Dantois yang terkenal sebagai klan penyihir terkemuka namun tidak memiliki bakat sihir, aku tidak pernah sekalipun disapa dengan ramah di pesta mana pun yang kuhadiri.

Jika ada yang memperhatikanku, itu hanyalah tatapan penuh rasa ingin tahu yang merendahkan atau bisik-bisik gunjingan.

Karena itulah, aku tidak pernah bermimpi bisa mendapatkan teman saat masuk akademi.

Aku pikir aku hanya akan menjalani kehidupan sekolah sambil menahan diri dari gunjingan, lalu dijual ke antah-berantah setelah lulus. Aku tidak pernah membayangkan masa depan yang cerah dan berkilau seperti ini.

Itulah sebabnya, saat ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupku.

Rasa terima kasihku kepada Lawrence-kun dan Fran yang telah mengajariku berharganya hari-hari yang menyenangkan dan arti seorang teman benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Saking besarnya rasa terima kasih itu, aku bahkan tidak keberatan jika Lawrence-kun melihat tubuh polosku.

Di saat yang sama, aku mulai merasakan kemarahan yang luar biasa—sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya—terhadap Damian yang telah menghina Lawrence-kun dan Fran.

Padahal aku hanya punya waktu sekitar tiga tahun sebelum aku dijual, dan aku pikir aku bisa menghabiskan tiga tahun itu dengan hari-hari yang indah seperti harta karun.

Aku benar-benar tidak paham kenapa Damian berusaha menghancurkan semua itu. Aku hanya bisa berpikir kalau dia memang senang merundungku, dan itu membuatku sangat marah.

Sejak dulu Damian selalu merundungku dengan kata-kata seperti "tidak berguna", "tidak berbakat", "kau tidak punya nilai apa pun", "bersyukurlah aku masih mau meladeni orang sepertimu"...!

Mungkin dia merasa tidak mau mainannya diambil, tapi bagiku yang selama ini dijadikan mainan, aku hanya ingin dia membiarkanku tenang.

Dulu aku memang benci Damian, tapi sekarang, aku sangat membencinya.

── Sisi Damian ──

Kenapa jadi begini?

"Kyaaa!? Tolong hentikan...!!"

"Bising!! Kalau kau datang ke sini hanya demi mengincar uang keluargaku, jangan mengeluh apa pun yang kulakukan padamu, sampah!!"

"Agh!?"

Cih, benar-benar rakyat jelata yang tidak berguna.

Mau secantik apa pun rupa mereka, pada akhirnya mereka hanyalah parasit yang mengerumuni uang keluargaku. Orang-orang seperti itu tidak perlu diperlakukan sebagai manusia.

Lagipula, rakyat jelata sendiri sudah merupakan kasta terendah sebagai manusia, dan menjadi parasit membuat mereka benar-benar tidak tertolong.

Namun, di luar itu, kecantikan mereka adalah hal yang patut dipuji secara terpisah. Sungguh misterius bagaimana seekor kupu-kupu yang indah bisa lahir dari keturunan campuran seperti rakyat jelata.

Kadang ada yang lebih cantik daripada keturunan bangsawan, jadi aku mengumpulkan rakyat jelata yang percaya diri dengan penampilan mereka untuk kujadikan koleksi. Tapi sepertinya kali ini aku mendapatkan barang gagal.

Kalau isinya cuma barang gagal, aku tidak butuh mereka lagi. Tapi, mereka masih bisa berguna sebagai samsak latihan sihir.

"Beraninya rakyat jelata sepertimu bilang 'tolong hentikan' kepadaku? Tugas kalian hanya diam dan membiarkanku melakukan apa pun yang kumau!!"

"Kalau kau merasa sakit dan ingin berhenti, seharusnya jangan datang merangkak ke sini demi uang sejak awal!!"

"Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya!!"

"Minta maaf saja tidak akan menyelesaikan masalah!!"

"Aguh!?"

Aku merasa muak dengan sikap rakyat jelata ini yang berpikir permintaan maaf akan mengubah segalanya. Aku menendang perutnya sampai dia mengerang kesakitan dan berguling-guling sambil muntah.

"Cih, siapa yang memberimu izin untuk mengotori lantai?"

"Gyaaaaaaaa!!"

Karena orang yang tidak terdidik seperti ini butuh hukuman, aku meluncurkan sihir api tingkat satu, Fireball, tepat ke wajahnya.

Dia berteriak sambil berguling di lantai, lalu tak lama kemudian dia berhenti bergerak dan hanya suara napas tersengal yang terdengar.

"Hei, bereskan orang ini."

"Baik, Tuan."

Wajah cantiknya yang sekarang hancur terbakar sudah tidak punya nilai lagi. Aku memerintahkan para pelayan untuk membuang sampah ini.

Rakyat jelata lainnya menatap pemandangan itu dengan ekspresi penuh ketakutan.

Setidaknya, sampah itu berguna sebagai peringatan bagi yang lain karena tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara lagi.

Aku memang jenius karena bisa memanfaatkan sampah sekalipun secara efektif.

Namun, meskipun aku berbakat, sikap Shirley hari ini benar-benar membuatku marah.

Meskipun sebagai putri ketiga dia tidak bisa kujadikan tunangan bagi putra sulung sepertiku, aku berniat menjadikannya selir untuk kusayangi.

Tapi dia tidak hanya mencoreng kebaikanku, dia bahkan pergi bersama pecundang bernama Lawrence itu.

Setiap kali mengingat pemandangan itu, kepalaku rasanya mau meledak karena marah.

Dia diabaikan oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya karena tidak peka terhadap niat baik orang lain. Padahal aku sudah menawarkan diri untuk menjadikannya selir, tapi dia bersikeras menolaknya sampai sekarang....

Tapi ya sudahlah, kalau aku menghajar Lawrence yang sombong itu besok, dia pasti akan sadar.

Dalam hal ini, si bodoh Lawrence itu setidaknya berguna sebagai alat.

Memikirkan hal itu membuat kemarahanku sedikit mereda, namun fakta bahwa Shirley memilih Lawrence tetap tidak bisa dimaafkan.

Aku harus memberinya "pelajaran" yang tepat setelah duel besok berakhir. Sambil memikirkan itu, aku terus meluapkan stresku pada rakyat jelata yang terpancing datang demi uang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close