Chapter 11
Duel
── Sisi
Shirley ──
"Kamu sudah
dibeli oleh keluarga Westgaph, jadi cepat kemasi barang-barangmu dan angkat
kaki dari rumah ini sekarang juga!"
Setelah kejadian
itu, aku sempat pulang ke rumah, namun yang menantiku adalah ekspresi wajah
keluargaku yang tampak sangat gembira.
"Lihat, ini
tas yang berisi semua barangmu. Bawa itu dan cepatlah pergi ke kediaman
Westgaph."
Kata-kata yang
dilemparkan kepadaku adalah perintah untuk mengusirku. Sepertinya
barang-barangku sudah dikemas tanpa sepengetahuanku. Mereka melemparkan tas itu
padaku dan menyuruhku segera menuju ke sana.
Tampaknya
keluargaku sudah tidak sudi lagi melihatku menginjakkan kaki di rumah ini.
"Tapi ya
ampun, apa sih bagusnya pecundang tidak berguna seperti dia? Putra kedua
Westgaph itu benar-benar tidak punya selera ya."
"Meskipun
dia tidak punya bakat sihir, mungkin dia punya bakat untuk menggoda laki-laki,
kan?"
"Yah,
setidaknya dia sudah menghasilkan banyak uang untuk kita sebagai
kenang-kenangan terakhir, jadi mari kita maafkan dia. Toh, mereka hanya
menginginkan darah keluarga kita mengalir di keluarga Westgaph. Bukan berarti
mereka melihat nilai dalam diri Shirley, apalagi menginginkannya sebagai wanita
karena penampilannya jelas jauh di bawahku."
"Pahamilah
baik-baik bahwa satu-satunya nilai yang dimiliki oleh anak tidak berharga
sepertimu adalah darah keluarga kita. Bersyukurlah karena telah lahir di
keluarga ini dan jalani sisa hidupmu dengan rasa terima kasih itu sampai
mati."
Saat aku
menyandang tas yang dilemparkan tadi, kakak laki-laki dan kakak perempuanku
terus mencaciku dengan tatapan merendahkan. Aku memutuskan untuk mengabaikan
mereka dan melangkah keluar.
"Oi, kamu
mengabaikan kami?"
"Padahal
kami sudah susah payah memberimu nasihat... tapi satu kata terima kasih pun
tidak keluar."
"Itulah
sebabnya kamu memang anak yang gagal."
Benar-benar... Kenapa dulu aku begitu ingin dicintai oleh
orang-orang seperti ini?
Setelah menjadi budak Lawrence-kun, hal itu terasa sangat
tidak masuk akal bagiku sekarang.
"Shirley. Seperti yang dikatakan kakak-kakakmu, kamu
bisa menjadi selir putra kedua Westgaph hanya karena di tubuhmu mengalir darah
keluarga D'Artois. Oleh karena itu,
kirimkan tiga ratus keping emas setiap bulan sebagai tanda terima kasihmu
kepada keluarga ini."
"Hahaha!!
Luar biasa, Ayah!! Itu ide yang bagus!!"
"Dengan
begitu, kita bisa mengalirkan kekayaan keluarga Westgaph ke rumah ini setiap
bulan!!"
Ayahku ternyata
tidak puas hanya dengan mengusirku. Dia bahkan menuntut agar aku memeras uang
dari keluarga Westgaph.
"……Aku tidak
mau."
"Hah? Apa
katamu tadi?"
"Aku
bilang, aku tidak mau. Lawrence-kun berbeda dengan kalian. Dia mau memahami kegelisahanku dan
menyelesaikannya. Aku bukan lagi Shirley yang tidak berguna, dan aku sudah muak
dijadikan mainan sesuka hati oleh kalian!!"
Akhirnya aku
mengatakannya.
Sejujurnya, hanya
untuk mengucapkan itu saja butuh keberanian yang sangat besar. Namun sekali
terucap, semua emosi yang selama ini kupendam meledak dan mengalir begitu saja.
Permintaan itu
tidak hanya menghinaku, tapi juga menghina keluarga Westgaph dan tentu saja
Lawrence-kun.
Jika hanya aku
yang dihina, mungkin aku akan diam saja lalu pergi. Tapi aku bukan orang yang
sangat baik sampai bisa diam saja saat orang yang telah menolongku dihina
seperti itu.
"Kamu pikir
kamu sedang bicara dengan siapa, hah? Jangan bilang kamu sudah lupa budi karena
telah dibesarkan sampai sekarang?"
"……Dibesarkan?
Jangan bicara konyol, Ayah. Apa di usia ini Ayah sudah mulai pikun? Memori yang
kupunya hanyalah dicaci, dihina, dan diperas oleh kalian. Aku sama sekali tidak
punya ingatan tentang dibesarkan dengan layak. Justru jika kalian berpikir aku
akan bersyukur atau menghormati kalian setelah semua itu, berarti kalian
benar-benar bodoh yang tidak tertolong. Bagiku, bisa memutus hubungan dengan
orang-orang seperti kalian hari ini terasa sangat melegakan."
Lagipula, aku
yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang dulu. Berkat Lawrence-kun yang
menyembuhkan gangguan di tubuhku (penyebab aku tidak bisa menggunakan sihir),
kini aku bisa menggunakan sihir tanpa kendali.
Terlebih lagi,
berkat waktu yang kuhabiskan di lantai terbawah dungeon, seluruh kemampuanku
meningkat pesat hingga aku merasa seperti menjadi orang yang berbeda. Hal itu
menjadi sandaran mentalku.
Dan yang
terpenting, fakta bahwa Lawrence-kun berada di pihakku adalah dukungan
terbesar.
"Kamu...
beraninya bersikap begitu pada ayahmu sendiri—"
"Ayah mau
memukulku? Jika itu terjadi, aku akan melaporkannya kepada keluarga Westgaph.
Jangan lupa bahwa aku bukan lagi tempat sampah untuk meluapkan stres kalian,
melainkan milik keluarga Westgaph."
"──Grrr...
mentang-mentang punya dukungan Westgaph, kamu jadi besar kepala ya... padahal
kamu sendiri tidak bisa apa-apa!"
"Dasar ikan
teri...!"
"Paling-paling
dia hanya salah paham, mengira kekuatan keluarga Westgaph adalah kekuatannya
sendiri. Padahal dirimu sendiri tidak berubah sedikit pun... Menyedihkan
sekali."
Mungkin karena tidak menyangka aku akan membalas, Ayah
mencoba menggunakan kekerasan.
Namun begitu aku menyebutkan statusku sebagai orang
Westgaph, dia menurunkan tinjunya dengan kesal. Kakak-kakakku pun memandangku
dengan wajah kecut.
"……Jika kalian berkata sampai sejauh itu, baiklah. Tiga hari lagi, mari kita lakukan duel.
Aku melawan Kakak laki-laki dan Kakak perempuan sekaligus. Tentu saja, duel ini
akan diumumkan kepada seluruh siswa dan bertempat di area latihan
akademi."
Terus-menerus
dihina membuatku muak. Selain itu, aku juga ingin pamer kepada semua orang
tentang tubuhku yang sudah sembuh berkat Lawrence-kun.
Selama ini aku
telah dimanfaatkan oleh mereka, jadi sekarang giliranku memanfaatkan mereka
demi kepentinganku.
Mungkin aku
terlalu baik karena berniat memaafkan perbuatan mereka setelah duel ini
selesai.
"Hahahaha!!
Aku tidak menyangka kamu sebodoh ini!! Baru jadi orang Westgaph saja sudah lupa
diri, padahal kamu sama sekali tidak berubah!!"
"Benar-benar
adik yang tidak tertolong. Baiklah,
mari kita nantikan tiga hari lagi."
"Cih, tak
kusangka kamu sendiri yang membuat panggung penghakimanmu. Lagipula, daripada
memberimu pelajaran di sini, lebih baik melakukannya di depan umum agar tidak
ada lagi yang berani melawan kami."
"Begitu ya... Jadi ini cara daruratmu membalas budi
pada kami? Dengan memberikan nama buruk kepada keluarga Westgaph karena telah
memungut 'sampah tidak berguna' sepertimu di depan semua orang, ya!!"
Akhirnya kedua kakakku, juga ayah dan ibuku, menyetujui
usulan duel tersebut.
"Terserah
kalian mau berpikir apa. Silakan nikmati pemikiran itu sampai hari duel
tiba."
Sejujurnya, jika
aku berkonsultasi dengan Lawrence-kun, dia pasti bisa membereskan ini. Namun
jika ini adalah masalah yang menimpaku dan aku bisa menyelesaikannya sendiri,
maka aku harus melakukannya tanpa bergantung padanya.
Sambil memikirkan
hal itu, aku mulai membakar semangat untuk duel tiga hari lagi.
◆
"Eh? Kamu
menantang kakak-kakakmu berduel tiga hari lagi dan ingin aku mengajarimu cara
bertarung dengan sihir?"
"Iya. Maaf
aku memutuskannya sendiri, tapi karena sudah diputuskan, aku benar-benar ingin
menang...!"
Setelah
meletakkan barang-barang di kamar yang disiapkan Lawrence-kun untukku, aku
segera menuju kamarnya untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini.
Kebetulan Fran
juga ada di sana. Sepertinya mereka berdua sedang asyik bermain permainan
kartu.
"Begitu
ya... aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa meningkatkan kemampuanmu dalam
waktu singkat, tapi mumpung ada kesempatan, mari kita pergi ke lantai terbawah
dungeon menggunakan Shadow Walk untuk latihan. Mempelajari gerakan dasar
saja sudah akan membuat perbedaan besar. Yah, sebenarnya tanpa itu pun aku rasa
Shirley bisa menang."
"Aku juga
berpikir begitu, tapi kalau bisa, aku ingin menumbangkan mereka dengan
kemenangan yang sangat telak!"
Selama ini, meski
ingin membalas, aku tidak punya kekuatan. Pilihanku hanyalah menjadi samsak
tinju mereka.
Karena aku akan
meluapkan semua kemarahan ini, aku ingin memberikan kerusakan sebesar mungkin
kepada mereka. Kebencianku sudah tumbuh sebesar itu.
Aku bisa
menyadari besarnya kebencian ini berkat Lawrence-kun. Dulu, aku bahkan tidak
terpikir untuk membalas karena merasa itu sia-sia dan hanya akan membuat
penderitaanku berlipat ganda. Aku secara tidak sadar memendam emosi negatif itu
agar tidak meledak, namun ternyata stres itu justru terus menumpuk.
Emosi negatif
yang selama ini kusembunyikan ternyata jauh lebih besar dari dugaanku.
"Baiklah
kalau begitu, karena waktu kita sedikit, ayo segera mulai latihan
dasarnya."
"Terima
kasih, Lawrence-kun!!"
"Kalau
begitu, aku juga akan mendukungmu dengan sepenuh hati!!"
"Terima
kasih, Fran. Karena Shirley adalah perempuan, mungkin ada hal-hal yang sulit
ditanyakan kepadaku yang laki-laki ini."
"Terima
kasih juga, Fran!!"
Mendengar
percakapan kami, Fran juga menawarkan bantuan. Ini benar-benar seperti mendapat
kekuatan tambahan yang luar biasa.
Tiga hari
lagi. Aku sudah tidak sabar menantikannya.
◆
──
Sisi Count D'Artois ──
Anak
bodoh itu berani melawanku. Awalnya aku terkejut, tapi itu pasti karena
pengaruh keluarga Westgaph.
"Heh,
jadi putri Anda diambil oleh keluarga Westgaph itu ya..."
"Benar-benar
transaksi yang menguntungkan. Dia anak bodoh yang tidak punya bakat, aku tidak
tahu bagaimana dia bisa merayu putra kedua Westgaph itu. Tapi melihat
gelagatnya, kemungkinan besar dia berbohong dengan bilang 'karena aku keluarga
D'Artois, kemampuanku tinggi'. Itulah sebabnya dia berani bersikap menantang
pada kakak-kakaknya."
"Hoho...
fufu, kepala keluarga Westgaph benar-benar melakukan pembelian yang bodoh.
Mungkin dia membelinya karena terlalu memanjakan putranya... kasihan sekali
masa depan keluarga itu jika dipimpin oleh orang tua yang terlalu memanjakan
anak. Pasti dia mengira apa
yang dikatakan putranya adalah kebenaran mutlak."
Hari ini
aku mengadakan pesta dan segera menyebarkan berita ini ke orang-orang di
sekitar.
Pihak
Westgaph mungkin berpikir jika duel diadakan dalam waktu singkat (tiga hari),
beritanya tidak akan menyebar luas.
Tapi jika
aku yang bilang akan mengadakan pesta, orang-orang akan tetap berkumpul
keesokan harinya.
Hal ini
membuktikan betapa keluarga Westgaph terlalu meremehkan kekuatanku.
Aku terus
menyebarkan rumor kepada para bangsawan yang datang: "Keluarga Westgaph
telah tertipu membeli anak tidak berguna yang mereka kira 'berbakat'.
Dan anak
itu, karena percaya diri yang salah, menantang kedua kakaknya yang merupakan
kandidat Penyihir Istana untuk berduel dua lawan satu."
Pihak
lawan mungkin menetapkan waktu duel yang sangat dekat karena takut kalah jika
kami punya waktu persiapan, tapi cara naif seperti itu tidak akan mempan
melawanku.
Ah, aku
seolah bisa mendengar suara keluarga Westgaph yang runtuh berkeping-keping
karena kesalahan kecil ini.
Bersamaan
dengan itu, aku juga mendengar suara kejayaan keluarga D'Artois yang semakin
membubung.
Melihat
saingan yang selama ini menjadi duri dalam daging hancur seperti ini,
benar-benar perasaan yang luar biasa.
"Anggur hari
ini terasa sangat nikmat!!"
Aku menghabiskan
malam itu di pesta dengan perasaan yang sangat puas.
◆
── Sisi
Shirley ──
Tiga hari telah
berlalu dengan cepat.
"Hebat
juga kamu tidak melarikan diri. Tadinya aku pikir kamu akan ketakutan dan kabur di saat terakhir."
"Benar
sekali. Setidaknya aku akan memujimu karena berani datang ke sini. Yah, mungkin
ini adalah hal pertama dan terakhir yang bisa kupuji darimu, baik di masa lalu
maupun masa depan."
Kakak laki-laki
dan perempuan tetap memperlakukanku sebagai 'adik bodoh yang tidak punya
kemampuan'.
Caci maki dan
sikap mereka yang sebenarnya sudah biasa kudengar ini, kini memicu percikan
amarah di dalam hatiku.
Sejak hari itu,
aku menyadari adanya kemarahan besar dalam diriku. Namun aku menahannya sekuat
tenaga sampai hari ini agar tidak mengganggu latihan. Tapi sekarang, tidak ada
alasan lagi untuk menahannya.
Namun anehnya,
jika tiga hari lalu aku merasa sangat marah, sekarang emosi itu tidak terasa
sebesar itu. Jika diibaratkan, rasanya seperti mendengar suara kepakan sayap
nyamuk saat ingin tidur.
Memang tidak
menyenangkan dan menyebalkan, tapi tidak sampai membuat kepalaku putih karena
marah. Hanya sebatas itu.
Mungkin karena di
dalam diriku, aku tidak lagi menganggap kakak-kakakku sebagai ancaman.
Mereka hanyalah
keberadaan yang bisa kubereskan kapan saja jika aku mau. Itulah perasaanku
terhadap mereka saat ini.
Dulu, saat aku
merasa tidak mungkin menang, aku menutup rapat emosi ini. Saat aku yakin bisa
menang, aku membuka tutup itu dan menyadari perasaanku. Dan ketika aku tahu
mereka bukan apa-apa, ketertarikanku pun memudar.
Meski begitu, aku
tidak bisa membiarkan mereka menghina teman sekaligus penyelamatku,
Lawrence-kun, dan keluarga Westgaph yang telah mengangkatku menjadi anak.
Aku harus memberi
mereka pelajaran dengan tanganku sendiri sebagai bentuk kesetiaanku.
Sambil memikirkan
hal itu, aku melihat sekeliling. Kursi penonton di area latihan penuh sesak,
tidak hanya oleh siswa, tapi juga banyak bangsawan dewasa yang hadir.
Melihat
kasak-kusuk di akademi, ini pasti ulah ayahku yang menyebarkan berita ini ke
mana-mana.
Dia benar-benar
orang yang picik, tapi untuk kali ini aku ingin memujinya.
Berkat
perbuatannya, aku bisa menunjukkan kepada semua orang di sini 'betapa tidak
kompetennya kepala keluarga D'Artois dalam menilai kemampuan orang' dan 'betapa
dia telah memperlakukanku dengan tidak adil selama ini'.
Sebaliknya, aku
juga bisa membuktikan bahwa 'keluarga Westgaph memiliki mata yang jauh lebih
tajam dibandingkan D'Artois'. Berita ini akan menyebar luas secara instan.
Tanpa perlu
bersusah payah, aku bisa menggiring keluarga D'Artois menuju kejatuhan berkat
bantuan ayahku sendiri. Sungguh menguntungkan.
Sejujurnya, aku
tidak berniat bertindak sejauh itu. Selama aku bisa memutus hubungan dengan
D'Artois dan membuat orang tua serta kakak-kakakku berhenti menggangguku, itu
sudah cukup.
Tapi karena
mereka sendiri yang memancing keributan, biarlah mereka jatuh dan hancur sesuka
hati.
Ini adalah
konsekuensi yang harus mereka tanggung sendiri karena tidak mempertimbangkan
risiko jika kalah dariku. Aku sama sekali tidak berniat menolong mereka.
Karena mereka
yang mengacaukannya, mereka harus bangkit sendiri.
Lagipula Ayah
selalu bilang, 'Aku adalah orang berbakat dan jenius, tapi Kaisar dan bangsawan
lain terlalu meremehkanku'. Jadi dia pasti bisa mengembalikan kepercayaan yang
hilang itu, kan?
"Oi, katakan
sesuatu!"
"Sudahlah,
Kak. Mungkin Sasha sekarang sedang sangat ketakutan dan menyesal sampai-sampai
tidak bisa bicara."
"Benar juga
ya."
"Tapi ya,
meskipun sekarang dia menangis minta maaf, aku tidak akan pernah
memaafkannya."
Memanfaatkan
diamnya aku, mereka berdua mulai berasumsi sesuka hati.
Tanpa tahu bahwa
semakin mereka merendahkanku sekarang, semakin besar serangan balik yang akan
menghantam mereka nanti...
Aku tahu
kemampuan mereka, jadi yang perlu kulakukan hanyalah fokus bertarung dan
menumbangkan mereka tanpa bersikap lengah sedikit pun.
Namun, aku juga
harus mempertimbangkan kemungkinan sekecil apa pun jika mereka ternyata juga
berkembang pesat tanpa sepengetahuanku.
Aku berbeda
dengan mereka. Hidupku menjadi taruhannya, jadi sekecil apa pun kemungkinannya,
aku akan bergerak dengan penuh perhitungan.
"Sudah
selesai bicaranya? Kalau begitu, ayo segera mulai duelnya."
Terus-menerus
menerima fitnah dan hinaan di tempat seperti ini hanya membuang-buang waktu,
jadi aku mendesak mereka untuk segera mulai.
"Cih, sok
jagoan. Padahal mau bergaya seperti apa pun, masa depanmu tidak akan
berubah."
"Mari kita
selesaikan sandiwara ini dengan cepat, Kak."
"Tentu saja. Wasit... tolong beri aba-aba mulai."
"B-Baiklah. Harap keduanya menuju ke tengah.
Peraturannya adalah duel menggunakan serangan sihir saja. Serangan fisik
seperti pedang atau pukulan adalah pelanggaran dan akan dikenakan pengurangan
poin—"
Seorang pria yang merupakan pengajar di akademi mulai
membacakan peraturan atas instruksi kakakku.
Ada tiga hal yang harus kupastikan: kemungkinan
kakak-kakakku berkembang lebih dari dugaanku, kemungkinan mereka menyuap wasit
untuk menyelundupkan senjata, serta bertarung sesuai dengan apa yang diajarkan
Lawrence-kun tanpa bersikap lengah.
Jika aku waspada terhadap tiga hal ini, aku pasti bisa
merespons meski ada serangan mendadak atau gangguan dari wasit. Kekalahan
hampir tidak mungkin terjadi.
"Kalau begitu………… MULAI!!"
"Akhirnya aku bisa menghajarmu secara legal!! Selama
ini kamu benar-benar merusak pemandangan!! Dasar noda keluarga D'Artois!!"
"Benar sekali! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu sendiri
reputasi keluarga D'Artois jadi menurun?!"
Begitu wasit memberi aba-aba mulai, kakak-kakakku langsung
merapal sihir sambil melontarkan cacian yang sudah biasa kudengar.
Aku bisa melihat
aliran mana mereka dengan jelas. Ini berkat latihan bersama Lawrence-kun.
Dalam tiga hari
ini, aku mempelajari tiga hal: memvisualisasikan mana lawan, mempelajari Counter
Spell, dan merapal Counter Spell secara Chantless.
Lawrence-kun
bilang, hanya dengan menguasai tiga hal ini, akan tercipta perbedaan kekuatan
yang sangat jauh dibandingkan orang yang tidak menguasainya.
Oleh karena itu,
Lawrence-kun sempat heran dan berkata, "Padahal ini adalah dasar dari
segala dasar bagi seorang penyihir untuk bertarung, tapi anehnya hampir tidak
ada orang yang mempelajarinya ya."
Dan sekarang, aku
bisa memahami perasaan Lawrence-kun.
Kenapa
kakak-kakakku yang begitu membanggakan kelahiran mereka di keluarga D'Artois
yang legendaris dalam sihir—dan menjadikannya alasan untuk menindasku—malah
tidak menguasai tiga hal dasar ini?
Memang sulit
untuk mempelajarinya (terutama teknik Chantless), tapi sekali saja
menguasai triknya, itu akan terasa mudah.
Bahkan aku pun
bisa menggunakannya secara stabil dalam tiga hari. Harusnya orang lain
pun bisa mempelajarinya...
"Fire Magic Rank 3: Flame Spear!"
"Ice Magic Rank 3: Ice Spear!"
Kakak-kakakku dengan jujur merapal mantra mereka lewat
mulut.
Meski aku baru bisa menggunakan beberapa jenis sihir secara Chantless,
melihat mereka yang selama ini sombong ternyata tidak bisa menggunakan sihir
andalan mereka tanpa mantra, membuat kepercayaan diriku meningkat.
Rasanya seperti aku sedang mengambil kembali hal-hal yang
pernah mereka rampas dariku satu per satu.
Lalu, aku menggunakan Water Magic Rank 2: Cancel
secara Chantless untuk melenyapkan sihir yang mereka lepaskan.
Benar-benar berbeda jauh jika teknik ini bisa dilakukan
secara Chantless... Dan untuk menggunakan Cancel secara efektif,
teknik visualisasi mana lawan memang mutlak diperlukan.
Dengan mengetahui apa yang akan dilakukan lawan, aku bisa
mendominasi pertarungan dengan sangat mudah.
Sekarang, setelah mempraktikkannya secara langsung, aku
paham kenapa Lawrence-kun menyebut ini sebagai 'dasar' dan melatihku dengan
sangat keras.
"Eh? Hah?
Kenapa sihirnya gagal?"
"Apa? Apa
yang terjadi?"
"Kalau hanya
aku mungkin wajar, tapi bahkan Adikku pun tidak bisa menggunakannya... ini
aneh!"
"Ja-Jangan-jangan,
Shirley...!! Kamu berbuat sejauh ini hanya karena tidak mau kalah... Memalukan
sekali!!"
"Oi Wasit!
Sepertinya Shirley membawa Magic Item atau semacamnya yang mencegah sihir
diaktifkan. Periksa dia!"
Sepertinya mereka
berdua menyadari bahwa akulah penyebab sihir mereka gagal, namun mereka malah
menuduhku melanggar peraturan dan mengadu pada wasit.
"……Oi, kamu!
Apa yang kamu bawa! Keluarkan sekarang juga!"
"Aku tidak
membawa apa-apa. Aku hanya membatalkan sihir kakak-kakakku dengan sihirku
sendiri."
"Jangan
bohong!! Kamu bahkan tidak terlihat merapal mantra tadi!!"
"Benar!!
Kalau mau bohong, cari yang lebih masuk akal!! Itu sama saja kamu bilang kalau
anak tidak berbakat sepertimu bisa merapal sihir secara Chantless!!"
"Iya,
memang itu yang kukatakan. Sekarang aku sudah bisa menggunakan sihir secara Chantless."
Namun,
sepertinya mereka tetap tidak percaya. Untuk membuktikannya kepada mereka yang
terus menuduhku, aku melepaskan Fire Magic Rank 1: Fireball secara Chantless.
"Ugh?!
Cu-Curang sekali! Tiba-tiba menyerang begitu!!"
"Kyaa?!
Menyerang di saat kami lengah, benar-benar rendah!!"
"Tidak... Bukankah itu karena kalian yang pertama kali
menghinaku dengan bilang 'mana mungkin orang sepertimu bisa merapal sihir
secara Chantless'? Makanya, agar orang bodoh pun bisa paham, aku
menggunakan sihir serangan tingkat paling rendah secara Chantless...
Tapi sekarang kalian sudah paham, kan? Bahwa aku memang bisa
melakukannya."
Karena mereka terus protes, aku membalas bahwa ini semua
karena kecurigaan mereka sendiri.
Sambil bicara, aku merapal Fireball dalam jumlah
besar secara Chantless, namun tidak menembakkannya, melainkan
membiarkannya mengambang di udara.
"……Oi
Wasit!! Lakukan sesuatu!! Bukankah ini pelanggaran?!"
"B-Benar!!
Masih ada kecurigaan kalau Shirley membawa Magic Item, jadi hentikan
pertandingan sekarang dan periksa dia!!"
Melihat
pemandangan itu, kakak-kakakku panik dan berteriak memohon kepada wasit untuk
menghentikan duel.
"B-Baiklah..."
"Aku sama
sekali tidak mengerti bagian mana yang 'baiklah'. Bukankah aku sudah
menunjukkan kemampuanku merapal sihir secara Chantless demi membersihkan
kecurigaan itu? Dan bukankah menghentikan pertandingan setelah aku mengeluarkan
sihir sebanyak ini adalah pelanggaran peraturan? Bagaimana dengan mana yang
sudah kukeluarkan? Mempertahankan sihir-sihir ini saja terus mengonsumsi mana-ku,
tahu?"
Sepertinya wasit
memang sudah disuap oleh keluarga D'Artois. Meskipun kecurigaan sudah
kubuktikan tidak benar lewat tindakanku, dia tetap mengikuti instruksi
kakak-kakakku dan mencoba menghentikan duel untuk memeriksaku lagi.
"Tapi jika
kamu tidak mematuhi instruksiku, maka—"
"Memangnya
apa yang akan terjadi jika aku tidak patuh? Dengar ya, aku hanya akan
mengatakannya sekali. Sekarang aku bukan lagi 'anak gagal keluarga D'Artois',
melainkan milik keluarga Westgaph. Tindakan yang kamu lakukan ini jelas-jelas
pelanggaran, dan fakta bahwa kamu berusaha menguntungkan D'Artois membuktikan
bahwa kamu telah disuap..."
"……H-Hentikan
fitnahmu itu!!!"
"Silakan
saja berpura-pura tidak tahu lalu menghentikan pertandingan dan memeriksaku.
Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula, aku tidak merasa akan kalah dari
kakak-kakakku yang pengecut karena terus berlindung di balik wasit hanya karena
tidak bisa mengatasi sihir tingkat ini. Kehilangan mana sebanyak ini pun tidak
terasa apa-apa bagiku. Tapi, apakah Ayah serta calon kepala keluarga Westgaph
yang sedang menonton duel ini akan memaafkan perbuatanmu?"
"………………U-Ugh…… Pertandingan dihentikan
sementara……"
Kakak-kakakku yang tadinya cemas melihat perdebatan antara
aku dan wasit, kini menunjukkan ekspresi lega setelah wasit memutuskan untuk
menghentikan duel.
"Dan... karena aku secara tidak bertanggung jawab telah
mengganggu Nona Shirley sehingga ia kehilangan mana, aku mengizinkannya untuk
memulihkan mana terlebih dahulu. Duel akan dilanjutkan segera setelah pemulihan
selesai."
Namun, begitu mendengar kelanjutan perkataan wasit, wajah
kakak-kakakku langsung memerah karena marah.
Padahal mereka sendiri yang menyuap wasit untuk menindasku,
tapi sekarang mereka malah marah karena si wasit tidak bisa bergerak sesuai
keinginan mereka setelah rahasianya terbongkar... Rasanya akulah yang ingin
marah.
Tidak, aku memang sudah marah.
Aku tidak
akan membiarkan mereka pulang dengan tenang.
Awalnya
aku berpikir akan memaafkan mereka setelah memberi sedikit pelajaran, tapi itu
sepertinya terlalu lembek.
Menghajar
mereka, mengalahkan mereka, lalu membiarkan mereka kehilangan kepercayaan dari
para bangsawan dan relasi yang selama ini mereka banggakan... lalu menyisakan
pilihan agar mereka bisa membangun kembali reputasi dari nol jika membuang
harga diri mereka... Ternyata aku terlalu baik.
Aku akan
menanamkan trauma yang membuat kakak-kakakku tidak akan pernah bisa bangkit
lagi seumur hidup mereka.
"Oi!!
Jangan bercanda!! Kamu pikir keluarga D'Artois sudah memberimu uang berapa
banyak, hah?!"
"B-Benar!!
Bekerjalah yang benar sesuai dengan keping emas yang kami berikan!!"
Sambil
memikirkan hal itu, aku melihat kakak dan kakak perempuanku malah menggali
lubang kubur mereka sendiri.
Sepertinya amarah
telah membuat tingkat kecerdasan mereka merosot tajam.
Apakah mereka
bodoh? Ya, mereka memang bodoh.
"Eh?
Bukannya bahaya ya kalau menyuap wasit begitu?"
"Aku memang
sering dengar rumor buruk tentang keluarga D'Artois... tapi sekarang aku paham
kenapa."
"Uwah...
benar-benar menjijikkan..."
"Bahkan
tidak punya harga diri sebagai bangsawan..."
"Orang-orang
seperti ini tidak pantas melakukan duel suci. Aku harap gelar bangsawan mereka
dicabut saja..."
Jika aku
mempertajam pendengaran, suara-suara kecaman terhadap keluarga D'Artois
terdengar dari segala penjuru.
"Bu-Bukan,
kalian salah paham! Itu cuma salah ucap saja!!"
"Be-Benar!!
Mana mungkin keluarga D'Artois melakukan hal memalukan seperti itu!!"
Sepertinya kakak
dan kakak perempuanku juga mendengar suara-suara itu.
Mereka
mati-matian membuat alasan untuk mengelak, tapi tentu saja alasan seperti itu
tidak akan mempan.
Sebaliknya,
tindakan mereka yang mencoba lari dari dosa sendiri justru memancing kecaman
yang lebih besar.
"Awalnya aku
berniat meruntuhkan kepercayaan para bangsawan dengan cara menghajar kalian,
tapi tak disangka kalian justru menghancurkan kepercayaan itu sendiri... Bahkan
menghancurkan kepercayaan para siswa yang akan menjadi penerus generasi berikutnya.
Ini di luar dugaanku. Luar biasa, Kakak-kakakku sayang."
"Gu...
gi...!"
"I-Ini semua
salahmu!! Lakukan sesuatu, Dasar Dongok!!"
"Be-Benar!!
Semuanya salahmu karena kamu itu tidak berguna!!"
"Wasit,
sepertinya Kakak-kakakku sudah tidak sabar ingin kuhancurkan, jadi tolong
lanjutkan duelnya. Soal mana, aku tidak butuh pemulihan. Melawan dua orang ini
saja sih tidak masalah."
"Ba...
Baiklah..."
Sejujurnya mereka
sudah mulai menjengkelkan, jadi aku mendesak wasit untuk melanjutkan duel demi
menumbangkan mereka. Wasit pun menyetujuinya dengan suara yang lemas.
Berbeda dengan
kakak-kakakku, wasit ini sepertinya sadar akan nasib yang menantinya nanti.
Dia paham bahwa
gara-gara kebodohan mereka, dia kini terpojok dalam situasi yang tidak bisa
disangkal lagi.
Namun, menanggung
risiko saat penyuapan terbongkar adalah konsekuensi yang sudah dia ketahui
sejak awal saat menerima tawaran itu, jadi ini adalah Self-Inflicted.
Mungkin dia akan
dipecat dari posisi pengajar akademi dan mendekam di penjara selama beberapa
tahun.
Tapi jika dia
mengaku telah diancam oleh keluarga D'Artois, mungkin dia bisa keluar dalam
beberapa bulan. Setelah itu, aku harap dia hidup dengan benar dan tidak lagi
tergiur keuntungan sesaat untuk berbuat jahat.
◆
"Aduh,
be-berhenti! Kami mengaku kalah, jadi berhenti sekarang juga!!"
"Agh,
sakit... su-sudah hentikan! Memangnya apa yang sudah kami lakukan, hah?!
Abeh!"
Setelah itu, aku
terus menghujani mereka dengan Fire Magic Rank 1 Fireball selama sepuluh
menit penuh.
Tentu saja aku
tidak memberikannya satu demi satu dengan lembut, melainkan mengguyur mereka
dengan rentetan serangan yang bisa disebut sebagai hujan peluru Fireball.
Kakak-kakakku
sepertinya sudah menyerah sebelum genap satu menit, tapi aku mengabaikan suara
mereka dan terus menyerang.
Tentu saja, aku
sudah memerintahkan wasit agar jangan menghentikan duel sampai aku bilang
berhenti.
Para penonton pun
menganggap ini adalah kesalahan mereka sendiri karena melanggar aturan sejak
awal.
Di titik ini,
mereka tidak lagi menganggap ini sebagai duel resmi, melainkan hanya
pertengkaran internal keluarga.
Karena itu, saat
kakak-kakakku mengaku kalah, tidak ada satu pun orang yang menyuruhku berhenti.
Sebaliknya, lebih banyak orang yang meneriakkan ejekan agar aku menyiksa mereka
lebih parah lagi.
"Waktu
kalian merundungku dulu, apa kalian pernah berhenti sekali saja saat aku
memohon agar kalian berhenti?"
"Ma-Maafkan
aku... aku minta maaf, jadi hentikan sekarang juga!! Panas!!"
"Aku sudah
tidak mau lagi! Rambut kebanggaanku jadi terbakar habis, kan!! Bagaimana kamu
mau tanggung jawab!!"
"Oi!! Kenapa
kamu malah cari ribut begitu! Sejak awal yang tidak berhenti meski Shirley
memohon itu kan kamu!!"
"Hah?!
Jangan limpahkan kesalahanmu padaku! Agyah!!"
"Hah...
di akhir pun kalian malah saling tuduh dan bertengkar... Ternyata level kalian
sebagai manusia serendah ini. Melanjutkan ini hanya buang-buang waktu, jadi
mari kita akhiri sekarang."
Ternyata
pada akhirnya kakak dan kakak perempuanku malah mulai bertengkar sendiri.
Lama-lama ini
hanya akan berubah menjadi komedi murahan. Selain itu, meski aku membenci
mereka, rasanya memalukan memperlihatkan aib keluarga lebih lama lagi di depan
orang banyak. Aku memutuskan untuk segera menyudahi duel ini.
"Te-Terima
kasih! Sudah kuduga kamu memang adikku... itu bohong, Dasar Bodoh!! Lagipula
ini sudah bukan duel lagi, jadi jangan protes kalau aku menyerangmu dengan
senjata yang kusisipkan—hah?"
"Tak
disangka kamu selengah ini!! Shirley yang menunjukkan celah dialah yang salah!
Mati kau... eh?"
Karena tidak akan
ada habisnya jika aku terus menembakkan Fireball, aku berniat
menggantinya dengan sihir tingkat tinggi untuk mengakhiri segalanya.
Namun,
kakak-kakakku sepertinya salah paham dan mengira aku telah memaafkan mereka
lalu berhenti menyerang.
Seandainya hanya
sampai di situ, mungkin mereka masih punya harapan.
Namun, mereka
justru menganggap ini kesempatan emas, lalu mengeluarkan senjata yang sudah
mereka sembunyikan dan menerjang ke arahku.
"Uwah...
karena sudah menyuap wasit, aku sudah curiga sih... tapi ini benar-benar
menjijikkan."
"Padahal
mereka sendiri yang menuduh lawan curang, tapi mereka sendiri yang menyuap
wasit dan menyelundupkan senjata..."
"Benar-benar
sampah ya mereka ini..."
Para penonton
mulai melontarkan ejekan tajam, tapi kakak-kakakku mengabaikan itu semua dan
terus menerjangku.
Namun, saat
melihat Fire Magic Rank 6 Crimson Lotus yang kurapal secara Chantless,
langkah mereka terhenti dan wajah mereka berubah pucat pasi.
"Ke-Kenapa
kamu bisa menggunakan sihir ini...?! Ini mustahil, kan?!"
"Ti-Tidak
mungkin... Padahal aku pun
jangankan sihir itu, menggunakan sihir Rank 6 saja belum bisa... Kenapa?!"
"Bukankah
alasannya sederhana, yaitu bakat sihirku jauh di atas kalian?"
"Ja-Jangan
bercanda!! Aku tidak akan pernah mengakuinya!!"
"Mustahil!
Hal seperti ini tidak mungkin terjadi!!"
Melihat
keterkejutan mereka, rasanya pengorbananku memaksa Lawrence-kun untuk
mengajariku sihir representatif dari Rank 6 ini tidak sia-sia.
Tapi sungguh, aku
tidak menyangka ada metode belajar seperti "mengalahkan lebih dari sepuluh
naga berelemen api" untuk menguasainya... Entah dari mana Lawrence-kun
mendapatkan informasi seperti itu. Apa pun itu, kehebatan Lawrence-kun memang
tidak terbantahkan, jadi aku berhenti memikirkannya.
Tahu pun tidak
akan membuatku bisa melakukan hal yang sama sepertinya, kan.
Lalu, kepada
kakak dan kakak perempuanku yang masih tidak mau menerima kenyataan, aku pun
melepaskan Crimson Lotus tersebut.
◆
── Sisi Count
D'Artois ──
Hari ini suasana
hatiku benar-benar sangat bagus.
"Terima
kasih atas Shirley tempo hari. Saya baru saja mengangkatnya menjadi anak angkat
kemarin."
Alasannya adalah
karena hari ini adalah hari duel yang diusulkan oleh Shirley sendiri.
Dengan suasana
hati yang riang, aku pergi menuju tempat menonton area latihan di dalam
ruangan.
Saat aku duduk di
sana dengan perasaan senang, beberapa bangsawan sudah ada di sana dan sedang
berbincang denganku.
Tiba-tiba,
Edward—kepala keluarga Westgaph yang sedang menjadi topik pembicaraan—datang
menyapaku.
Padahal seharusnya aku yang memiliki gelar lebih rendah yang harus pergi menyambutnya. Tapi sepertinya dia begitu senang mendapatkan Shirley sampai-sampai Edward sendiri yang datang menyapaku...
Para bangsawan di
sekitarku, yang tahu betul betapa payah dan tidak bergunanya Shirley, mulai
terkikik geli melihat tindakan Edward.
"Aduh, Tuan
Edward! Ya ampun, kami sendiri dulu benar-benar kewalahan menangani si bodoh
itu! Justru kami harus berterima kasih karena keluarga Westgaph sudah mau
memungutnya gara-gara salah sangka mengira dia 'berbakat'!"
Aku
melanjutkan dengan nada mengejek.
"Tapi,
jangan harap Anda bisa membatalkan transaksi ini sekarang, ya? Tentu saja tidak bisa. Begitulah
aturan kontrak antar bangsawan!"
"Payah...
Anda bilang? Shirley anak itu? Hmm... Jika Anda sanggup menyebut Shirley anak
yang payah, maka anak-anak Count D'Artois yang bertarung hari ini pasti
memiliki bakat yang melampaui imajinasi saya."
Mendengar
kata-kataku, Edward sempat menunjukkan ekspresi terkejut sejenak. Mungkin dia
baru sadar kalau dirinya baru saja dipaksa memegang 'kartu mati'.
Seolah
ingin meminimalisir kerusakan reputasi keluarga Westgaph jika kalah dalam duel
ini, Edward membalas telak. "Mungkin saking hebatnya lawan Shirley hari
ini, sampai-sampai Shirley yang hebat pun terlihat payah di mata Anda."
Kemampuannya
menilai situasi dan memilih kata-kata yang tepat dalam sekejap memang layak
disebut sebagai kualitas keluarga Duke.
Namun,
begitu dia melabeli Shirley sebagai orang hebat, harga diri keluarga Westgaph
dipastikan tidak akan bisa selamat dari kejatuhan.
Sebab
Shirley itu payah dan tidak berguna dalam arti yang sebenarnya.
Edward
akan menyesal seumur hidup karena sudah menganggap orang seperti itu berbakat,
bahkan sampai mengangkatnya menjadi anak.
Dia akan terus
menjadi bahan tertawaan di masyarakat bangsawan selamanya.
Hanya dengan
membayangkan masa depan yang sudah di depan mata itu saja, aku tidak bisa
menahan senyum lebar yang tersungging di wajahku.
"Tentu saja.
Semua anakku, kecuali Shirley, adalah anak-anak yang luar biasa."
"Kalau
begitu, saya sangat menantikannya."
◆
"……Ti-tidak
mungkin. Hal seperti ini tidak boleh terjadi!"
Duel pun
dimulai.
Sejak
awal pertandingan, Shirley terus-menerus mempermainkan anak-anak kesayanganku
secara sepihak.
Caranya
menyerang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia sedang menahan diri, persis seperti
orang dewasa yang menghadapi anak kecil.
Akhirnya,
Shirley menggunakan sihir tingkat enam dan memenangkan pertandingan.
Pada
dasarnya, sihir tingkat enam di elemen apa pun membutuhkan waktu lama untuk
dirapal dan tidak bisa digunakan secara instan.
Namun,
Shirley melakukan sebuah keajaiban dengan melakukan Chantless Casting,
mengabaikan seluruh proses mantra yang menjadi kelemahan sihir tersebut.
Mustahil. Tidak
mungkin sihir tingkat enam bisa digunakan tanpa mantra sama sekali.
Bahkan aku pun
tidak bisa melakukan teknik seperti itu. Jika begini, bukankah artinya aku
berada di bawah level Shirley?
Lagipula, aku
sudah membayar mahal untuk menyuap wasit itu! Apa sih yang sebenarnya dia
lakukan?!
"……Count
D'Artois."
"Eish!
Jangan ajak aku bicara sekarang, mengganggu saja!"
Di tengah
kepanikanku, salah satu pengikutku memanggil. Aku menjawab dengan nada penuh
amarah sambil menoleh ke arahnya.
Namun, yang
kulihat adalah tatapan mata yang jelas-jelas mengandung penghinaan.
"……Oi, kamu.
Apa-apaan tatapan itu? Hah? Kenapa kalian semua juga menatapku seperti itu?!
Kalian pikir aku ini siapa, hah?!"
Bukan hanya dia
saja yang memberikan tatapan merendahkan. Saat aku melihat sekeliling, aku
menyadari bahwa semua orang di ruangan ini sedang menatapku dengan cara yang
sama.
"Sepertinya
mereka berpikir, jika Anda menyuap wasit untuk berbuat curang sekarang,
bukankah selama ini Anda juga naik ke atas dengan menyingkirkan orang lain
menggunakan cara-cara kotor?"
"……Apa?"
"Selain itu,
mereka pasti menganggap Anda orang bodoh yang bahkan tidak bisa menilai bakat
anak sendiri. Membuang anak berbakat hanya karena mengira dia payah."
"Ja-jangan
bercanda!! Dia itu
benar-benar payah dan tidak berguna!! Sampai baru-baru ini pun, dia bahkan
tidak bisa menggunakan sihir Torch dengan benar! Bagaimana mungkin dia tiba-tiba bisa menggunakan
sihir tingkat enam, bahkan tanpa mantra pula!! Sejak awal ini sudah aneh,
kan?!"
Aku berteriak
histeris.
"Edward,
kamu pasti sudah merencanakan sesuatu, kan!! Dasar licik... Hei!!
Seseorang tangkap dia!! Ketahuilah bahwa dosa menodai duel suci itu berat!! Hah?! Kenapa malah aku yang ditahan oleh
para penjaga?! Yang harus kalian tahan itu Edward, bukan aku!! Lagipula,
beraninya penjaga rendahan sepertimu menyentuhku!!"
Ini benar-benar
aneh. Pasti ada sesuatu yang sudah direncanakan.
Meski aku tidak
tahu apa yang disiapkan, Edward pasti sudah melakukan kecurangan dalam duel
suci ini.
Jika begitu,
harusnya Edward yang ditahan. Namun, entah kenapa para penjaga yang datang ke
ruangan justru meringkusku.
"Aku tidak
melakukan kecurangan apa pun. Bukti bahwa aku bersih sudah ditunjukkan sendiri
oleh Shirley dengan menggunakan sihirnya di arena duel tadi. Tapi, bagaimana
denganmu? Fakta bahwa kamu menyuap wasit sudah terungkap di tengah duel tadi."
Edward berkata
dengan tenang.
"Fakta bahwa
kedua anakmu bisa menyelundupkan senjata juga pasti karena suap itu...
Penggunaan senjata tersebut membuktikan bahwa ini bukan kelalaian wasit,
melainkan memang sengaja dilakukan... Kau sudah tidak bisa mengelak lagi,
kan?"
"JA-JANGAN
BERCANDAAAAA!!!!!!"
Suaraku menggema
di seluruh ruangan saat para penjaga menyeretku keluar.
◆
── Sisi
Pangeran Kedua ──
…………Brett kalah,
ya?
Padahal
dia bukan tipe orang yang bisa dikalahkan dengan mudah...
Padahal
saat aku berhasil melakukan kudeta dan naik takhta menjadi Kaisar menggantikan
kakakku nanti, aku berencana menjadikannya tangan kananku... Yah, sudahlah.
Eksperimennya
juga sepertinya sedang buntu.
Namun,
berkat eksperimen itu, aku berhasil mendapatkan kekuatan yang lebih besar.
Sekarang, aku bahkan sudah memiliki empat Skill baru.
Bisa
dibilang, kekuatanku sudah berada di wilayah para dewa.
Bahkan
jika orang yang mengalahkan Brett datang untuk membunuhku, mustahil bagi mereka
untuk menjatuhkanku yang memiliki empat Skill baru ini.
Tapi,
masih terlalu dini untuk bergerak.
Lawan
selanjutnya kemungkinan besar adalah Kakakku itu. Jika aku bergerak tanpa
informasi tentang siapa yang mengalahkan Brett, aku bisa kalah karena buta
kekuatan lawan.
Kalau
begitu, aku tinggal mengumpulkan informasi tentang kartu as tersembunyi milik
Kakak, sambil mengembangkan kartu as milikku sendiri.
Sambil
memikirkan hal itu, aku menatap Damian, putra Brett, yang sedang teler karena
obat-obatan dan terikat oleh rantai.
◆
──
Sisi Budak Baru ──
Sudah
tiga bulan berlalu sejak aku menjadi budak Tuan Lawrence.
Awalnya
aku terus-menerus dibuat terkejut. Namun, karena aku sadar bahwa menjadi budak
berarti harus bekerja, aku tidak terlalu kaget saat Tuan Lawrence menjelaskan
tentang pekerjaan.
Beliau
bilang jika aku punya keinginan tentang tempat bekerja, beliau akan
mengizinkannya sebisa mungkin. Aku pun memilih menjadi petualang.
Tapi
begitu mulai bekerja, kejutan demi kejutan datang bertubi-tubi hingga pikiranku
sulit mengejarnya.
Sampai
sekarang pun aku masih sulit percaya dan merasa ada maksud terselubung di
baliknya.
Kejutan
yang kumaksud adalah lingkungan kerjanya.
Pertama,
aku kaget karena ada jatah libur dua hari dalam seminggu. Makan siang pun
disediakan dengan layak.
Tidak
hanya itu, meski pekerjaan petualang berdasarkan hasil, bagi kami yang bekerja
sebagai karyawan, ada yang namanya cuti tahunan dan tunjangan kesejahteraan—aku
masih belum terlalu paham, tapi intinya kami bekerja di lingkungan yang sangat
baik.
Tentu saja ada
kenaikan gaji sesuai kemampuan, bahkan ada bonus. Beliau bahkan menyediakan
tempat belajar bagi orang-orang yang bekerja di tempat usahanya.
Di sana, para
rakyat jelata dan budak yang menjadi karyawan memanfaatkan hari libur untuk
belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Bagi kami,
pengetahuan di dalam kepala adalah satu-satunya harta yang tidak bisa dirampas
oleh siapa pun, jadi semua orang mengikuti pelajaran dengan sangat serius.
Memberi gaji dan
ilmu kepada budak... aku belum pernah mendengar hal seperti itu. Normalnya, itu
tidak mungkin terjadi.
Aturan ini juga
berlaku bagi mereka yang memilih pekerjaan petualang, jadi di dalam kelas pun
terlihat orang-orang bertubuh kekar ikut belajar.
Alasan kenapa
penjelasan dan peninjauan ini dilakukan di awal bahkan bagi calon petualang
adalah agar jika mereka merasa tidak cocok, mereka bisa dengan mudah pindah
menjadi karyawan biasa.
Begitu pula
sebaliknya. Sepertinya ini adalah bentuk perhatian Tuan Lawrence agar kami bisa
bekerja di tempat yang paling sesuai bagi kami.
Lagipula, gaji
yang kami terima itu jumlahnya tidak masuk akal untuk ukuran budak, bahkan
rakyat jelata sekalipun.
Setelah tiga
bulan, tabunganku sudah setara dengan penghasilan satu tahun penuh saat aku
masih menjadi rakyat jelata biasa.
Aku
bingung uang itu harus digunakan untuk apa. Mau dihamburkan tetapi rasanya
tidak enak pada Tuan Lawrence, tapi karena tidak tahu mau dipakai apa, aku
menabung semuanya. Meski begitu, rasanya ada yang kurang.
Tentu
menabung itu penting, tapi kalau begini terus, tidak ada artinya aku mendapat
gaji sebesar ini...
Di tengah
kebingungan itu, teman sesama budak menyarankan, "Bagaimana kalau kamu
ambil cuti tahunan dan pulang kampung sebentar?"
Sejujurnya,
aku tidak terlalu ingin pergi ke desa itu. Bukan hanya karena aku menderita penyakit
mematikan, tapi karena orang-orang desa memberikan tatapan sinis dan mencoba
mengucilkan keluargaku.
Aku takut
kepulanganku justru akan merepotkan mereka.
Saat aku
mengutarakan hal itu, temanku berkata, "Makanya, pergi sekali dulu untuk
melihat situasinya. Kalau ternyata tidak memungkinkan, kamu bisa membawa
keluargamu pindah ke wilayah yang dikelola oleh ayah Tuan Lawrence. Itu juga
salah satu cara, kan?"
Mendengar itu,
mataku seolah terbuka lebar. Akhirnya, aku mengambil cuti tahunan dan pulang kampung.
"……Ka-kamu
masih hidup?!"
"Syukurlah...
Benar-benar syukurlah!"
"Ja-jadi...
bagaimana dengan keadaan tubuhmu?"
"Aku
dipungut oleh seorang bangsawan, dan beliau menyembuhkan penyakitku... Makanya
aku bisa pulang sebentar."
Ayah dan ibu
menerimaku dengan tangan terbuka sambil menangis. Begitu aku memberitahu bahwa
penyakitku sudah sembuh, mereka menangis semakin kencang.
Hanya dengan
melihat orang tuaku begitu bahagia saja, aku sudah merasa kepulanganku ini
sangat berharga. Aku sendiri sampai hampir ikut menangis.
"……Kamu,
penyakitmu benar-benar sembuh?"
"Sudah
sembuh. Sekarang aku sangat sehat, bahkan sudah bisa membaca, menulis,
berhitung, dan menggunakan sihir."
Di tengah reuni
yang mengharukan itu, Dan—teman masa kecil sekaligus mantan
tunanganku—memanggilku. Aku pun menjawabnya.
Begitu Dan
melihat wajahku dengan jelas, wajahnya langsung memerah padam dan dia mulai
bersikap gelisah.
Lalu aku
teringat.
Sekarang aku
menggunakan sabun rambut dan minyak wangi pemberian Tuan Lawrence setiap hari,
sehingga rambutku halus dan berkilau seperti permata.
Kulitku pun
terawat berkat produk kosmetik buatan Tuan Lawrence, bahkan aku sekarang
memakai riasan tipis di wajah.
Karena sekarang
semua budak di kediaman memiliki tingkat kecantikan yang hampir sama, aku jadi
tidak terlalu memikirkannya.
Tapi saat pertama
kali melihat cermin setelah memakai semua itu, aku sendiri sampai terpesona
melihat perubahanku.
Apa jadinya jika
Dan, seorang pria, melihatku yang sekarang?
Wajahnya yang
melongo itu sudah memberikan jawaban yang sangat jelas.
"He-hei...
kalau kamu sudah sehat, berarti pertunangan kita bisa kembali—"
"Dan, apa
kamu ingat apa yang kamu katakan padaku dan keluargaku saat aku jatuh sakit
dulu?"
"Eh...?
Tidak... itu... anu..."
"Aku
mengerti itu adalah kata-kata yang muncul karena rasa takut tinggal di sebelah
orang yang punya penyakit mematikan, dan aku tidak menaruh dendam soal itu
karena itu hal yang manusiawi. Tapi, fakta bahwa kamu sudah menyakiti aku dan
keluargaku tidak akan berubah. Menurutmu, apa aku mau bertunangan lagi dengan
orang seperti itu?"
"……Ma-maaf.
Waktu itu aku sedang kacau... atau apa ya..."
"Lagipula,
dulu kamu selalu bilang aku jelek, bilang nasibmu sial karena punya tunangan
sepertiku, lalu menyuruhku bersyukur karena kamu sudah mau memungutku. Aku
tidak mengerti kenapa sekarang kamu malah mengajak bertunangan lagi dengan 'si
jelek' yang dulu sangat tidak kamu inginkan ini."
Sejujurnya, aku
sadar kalau wajahku tanpa riasan memang tidak seberapa. Tapi dulu aku selalu
ingin menjadi cantik untuk membalas perbuatan Dan.
Sekarang,
rasa sesak di dadaku sudah hilang. Rasanya ingin sekali meneriakkan "Rasakan itu!" padanya.
"I-itu
karena... karena aku menyukaimu makanya aku mengejekmu. Aku senang melihat
reaksimu..."
"Tapi orang
yang diejek terus-menerus itu menderita, tahu. Kamu tidak tahu kan berapa kali aku menangis
di tengah malam setiap harinya?"
"Ma-maaf..."
"Sudah
terlambat kalau baru minta maaf sekarang. Diriku yang dulu sudah tidak ada.
Lagipula, sekarang aku adalah budak seorang bangsawan. Pertunangan dengan Dan
sudah tidak mungkin lagi."
"…………Hah?
Eh? Ja-jadi kamu... itu... sudah melakukan 'itu' dengan si bangsawan...?"
"Tentu saja,
kan? Namanya juga budak. Lagipula, meski aku sendiri yang mengatakannya, aku
ini kan sangat cantik."
Sebenarnya
jangankan melakukan hal 'itu', pelecehan seksual pun tidak pernah kualami.
Tapi aku merasa
tidak punya kewajiban untuk mengatakan yang sejujurnya pada Dan.
"Ti-tidak mungkin... Pa-padahal aku yang lebih dulu
menyukaimu...!"
"Mana
kutahu."
Setelah kukatakan
itu, Dan pergi sambil menggumamkan sesuatu.
Setelah itu, aku
menghabiskan waktu dengan membasmi monster di sekitar desa, membagikan
dagingnya secara gratis, membantu membersihkan sumber air di gunung,
menyebarkan betapa hebatnya Tuan Lawrence, hingga mengajari anak-anak membaca
dan berhitung.
Saat hari
kepulanganku tiba, orang-orang desa sudah percaya kalau penyakitku sembuh, dan
popularitas keluargaku pun melonjak drastis.
Dengan
begini, orang tuaku tidak perlu lagi hidup dengan perasaan terkucilkan di desa
ini.
Ngomong-ngomong,
sejak hari itu, sosok Dan yang biasanya ceria dan bersemangat benar-benar
hilang. Dia selalu mengendap-ngendap agar tidak berpapasan denganku.
"Dan!"
"……?!"
Karena
merasa sedikit kasihan, aku memanggilnya tepat sebelum aku kembali ke kediaman
Tuan Lawrence.
"Jika
nanti kamu punya tunangan atau orang yang kamu sukai lagi, bersikaplah yang
lembut padanya, ya? Meski aku bilang begitu, bagaimanapun kita ini teman masa
kecil, aku tahu kamu tidak benar-benar bermaksud jahat. Tapi tetap saja, kata-kata itu bisa menyakiti
orang."
"…………Maaf.
Dan, terima kasih. Lalu... karena aku teman masa kecilmu, aku juga sadar kalau
kamu sebenarnya jatuh cinta pada tuan bangsawannmu itu. Semoga kamu bisa
menarik perhatian tuanmu itu, ya!"
"……B-berisik
tahu!"
Mungkin itu
adalah balasan kecil darinya. Sambil berkata begitu, Dan tersenyum cerah.
Senyum
yang mengingatkanku pada hari-hari masa kecil kami sebelum bertunangan, saat
aku benar-benar menyukainya dulu.



Post a Comment