NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 11

Chapter 11

Duel


── Sisi Shirley ──

"Kamu sudah dibeli oleh keluarga Westgaph, jadi cepat kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!"

Setelah kejadian itu, aku sempat pulang ke rumah, namun yang menantiku adalah ekspresi wajah keluargaku yang tampak sangat gembira.

"Lihat, ini tas yang berisi semua barangmu. Bawa itu dan cepatlah pergi ke kediaman Westgaph."

Kata-kata yang dilemparkan kepadaku adalah perintah untuk mengusirku. Sepertinya barang-barangku sudah dikemas tanpa sepengetahuanku. Mereka melemparkan tas itu padaku dan menyuruhku segera menuju ke sana.

Tampaknya keluargaku sudah tidak sudi lagi melihatku menginjakkan kaki di rumah ini.

"Tapi ya ampun, apa sih bagusnya pecundang tidak berguna seperti dia? Putra kedua Westgaph itu benar-benar tidak punya selera ya."

"Meskipun dia tidak punya bakat sihir, mungkin dia punya bakat untuk menggoda laki-laki, kan?"

"Yah, setidaknya dia sudah menghasilkan banyak uang untuk kita sebagai kenang-kenangan terakhir, jadi mari kita maafkan dia. Toh, mereka hanya menginginkan darah keluarga kita mengalir di keluarga Westgaph. Bukan berarti mereka melihat nilai dalam diri Shirley, apalagi menginginkannya sebagai wanita karena penampilannya jelas jauh di bawahku."

"Pahamilah baik-baik bahwa satu-satunya nilai yang dimiliki oleh anak tidak berharga sepertimu adalah darah keluarga kita. Bersyukurlah karena telah lahir di keluarga ini dan jalani sisa hidupmu dengan rasa terima kasih itu sampai mati."

Saat aku menyandang tas yang dilemparkan tadi, kakak laki-laki dan kakak perempuanku terus mencaciku dengan tatapan merendahkan. Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka dan melangkah keluar.

"Oi, kamu mengabaikan kami?"

"Padahal kami sudah susah payah memberimu nasihat... tapi satu kata terima kasih pun tidak keluar."

"Itulah sebabnya kamu memang anak yang gagal."

Benar-benar... Kenapa dulu aku begitu ingin dicintai oleh orang-orang seperti ini?

Setelah menjadi budak Lawrence-kun, hal itu terasa sangat tidak masuk akal bagiku sekarang.

"Shirley. Seperti yang dikatakan kakak-kakakmu, kamu bisa menjadi selir putra kedua Westgaph hanya karena di tubuhmu mengalir darah keluarga D'Artois. Oleh karena itu, kirimkan tiga ratus keping emas setiap bulan sebagai tanda terima kasihmu kepada keluarga ini."

"Hahaha!! Luar biasa, Ayah!! Itu ide yang bagus!!"

"Dengan begitu, kita bisa mengalirkan kekayaan keluarga Westgaph ke rumah ini setiap bulan!!"

Ayahku ternyata tidak puas hanya dengan mengusirku. Dia bahkan menuntut agar aku memeras uang dari keluarga Westgaph.

"……Aku tidak mau."

"Hah? Apa katamu tadi?"

"Aku bilang, aku tidak mau. Lawrence-kun berbeda dengan kalian. Dia mau memahami kegelisahanku dan menyelesaikannya. Aku bukan lagi Shirley yang tidak berguna, dan aku sudah muak dijadikan mainan sesuka hati oleh kalian!!"

Akhirnya aku mengatakannya.

Sejujurnya, hanya untuk mengucapkan itu saja butuh keberanian yang sangat besar. Namun sekali terucap, semua emosi yang selama ini kupendam meledak dan mengalir begitu saja.

Permintaan itu tidak hanya menghinaku, tapi juga menghina keluarga Westgaph dan tentu saja Lawrence-kun.

Jika hanya aku yang dihina, mungkin aku akan diam saja lalu pergi. Tapi aku bukan orang yang sangat baik sampai bisa diam saja saat orang yang telah menolongku dihina seperti itu.

"Kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa, hah? Jangan bilang kamu sudah lupa budi karena telah dibesarkan sampai sekarang?"

"……Dibesarkan? Jangan bicara konyol, Ayah. Apa di usia ini Ayah sudah mulai pikun? Memori yang kupunya hanyalah dicaci, dihina, dan diperas oleh kalian. Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang dibesarkan dengan layak. Justru jika kalian berpikir aku akan bersyukur atau menghormati kalian setelah semua itu, berarti kalian benar-benar bodoh yang tidak tertolong. Bagiku, bisa memutus hubungan dengan orang-orang seperti kalian hari ini terasa sangat melegakan."

Lagipula, aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang dulu. Berkat Lawrence-kun yang menyembuhkan gangguan di tubuhku (penyebab aku tidak bisa menggunakan sihir), kini aku bisa menggunakan sihir tanpa kendali.

Terlebih lagi, berkat waktu yang kuhabiskan di lantai terbawah dungeon, seluruh kemampuanku meningkat pesat hingga aku merasa seperti menjadi orang yang berbeda. Hal itu menjadi sandaran mentalku.

Dan yang terpenting, fakta bahwa Lawrence-kun berada di pihakku adalah dukungan terbesar.

"Kamu... beraninya bersikap begitu pada ayahmu sendiri—"

"Ayah mau memukulku? Jika itu terjadi, aku akan melaporkannya kepada keluarga Westgaph. Jangan lupa bahwa aku bukan lagi tempat sampah untuk meluapkan stres kalian, melainkan milik keluarga Westgaph."

"──Grrr... mentang-mentang punya dukungan Westgaph, kamu jadi besar kepala ya... padahal kamu sendiri tidak bisa apa-apa!"

"Dasar ikan teri...!"

"Paling-paling dia hanya salah paham, mengira kekuatan keluarga Westgaph adalah kekuatannya sendiri. Padahal dirimu sendiri tidak berubah sedikit pun... Menyedihkan sekali."

Mungkin karena tidak menyangka aku akan membalas, Ayah mencoba menggunakan kekerasan.

Namun begitu aku menyebutkan statusku sebagai orang Westgaph, dia menurunkan tinjunya dengan kesal. Kakak-kakakku pun memandangku dengan wajah kecut.

"……Jika kalian berkata sampai sejauh itu, baiklah. Tiga hari lagi, mari kita lakukan duel. Aku melawan Kakak laki-laki dan Kakak perempuan sekaligus. Tentu saja, duel ini akan diumumkan kepada seluruh siswa dan bertempat di area latihan akademi."

Terus-menerus dihina membuatku muak. Selain itu, aku juga ingin pamer kepada semua orang tentang tubuhku yang sudah sembuh berkat Lawrence-kun.

Selama ini aku telah dimanfaatkan oleh mereka, jadi sekarang giliranku memanfaatkan mereka demi kepentinganku.

Mungkin aku terlalu baik karena berniat memaafkan perbuatan mereka setelah duel ini selesai.

"Hahahaha!! Aku tidak menyangka kamu sebodoh ini!! Baru jadi orang Westgaph saja sudah lupa diri, padahal kamu sama sekali tidak berubah!!"

"Benar-benar adik yang tidak tertolong. Baiklah, mari kita nantikan tiga hari lagi."

"Cih, tak kusangka kamu sendiri yang membuat panggung penghakimanmu. Lagipula, daripada memberimu pelajaran di sini, lebih baik melakukannya di depan umum agar tidak ada lagi yang berani melawan kami."

"Begitu ya... Jadi ini cara daruratmu membalas budi pada kami? Dengan memberikan nama buruk kepada keluarga Westgaph karena telah memungut 'sampah tidak berguna' sepertimu di depan semua orang, ya!!"

Akhirnya kedua kakakku, juga ayah dan ibuku, menyetujui usulan duel tersebut.

"Terserah kalian mau berpikir apa. Silakan nikmati pemikiran itu sampai hari duel tiba."

Sejujurnya, jika aku berkonsultasi dengan Lawrence-kun, dia pasti bisa membereskan ini. Namun jika ini adalah masalah yang menimpaku dan aku bisa menyelesaikannya sendiri, maka aku harus melakukannya tanpa bergantung padanya.

Sambil memikirkan hal itu, aku mulai membakar semangat untuk duel tiga hari lagi.

"Eh? Kamu menantang kakak-kakakmu berduel tiga hari lagi dan ingin aku mengajarimu cara bertarung dengan sihir?"

"Iya. Maaf aku memutuskannya sendiri, tapi karena sudah diputuskan, aku benar-benar ingin menang...!"

Setelah meletakkan barang-barang di kamar yang disiapkan Lawrence-kun untukku, aku segera menuju kamarnya untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini.

Kebetulan Fran juga ada di sana. Sepertinya mereka berdua sedang asyik bermain permainan kartu.

"Begitu ya... aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa meningkatkan kemampuanmu dalam waktu singkat, tapi mumpung ada kesempatan, mari kita pergi ke lantai terbawah dungeon menggunakan Shadow Walk untuk latihan. Mempelajari gerakan dasar saja sudah akan membuat perbedaan besar. Yah, sebenarnya tanpa itu pun aku rasa Shirley bisa menang."

"Aku juga berpikir begitu, tapi kalau bisa, aku ingin menumbangkan mereka dengan kemenangan yang sangat telak!"

Selama ini, meski ingin membalas, aku tidak punya kekuatan. Pilihanku hanyalah menjadi samsak tinju mereka.

Karena aku akan meluapkan semua kemarahan ini, aku ingin memberikan kerusakan sebesar mungkin kepada mereka. Kebencianku sudah tumbuh sebesar itu.

Aku bisa menyadari besarnya kebencian ini berkat Lawrence-kun. Dulu, aku bahkan tidak terpikir untuk membalas karena merasa itu sia-sia dan hanya akan membuat penderitaanku berlipat ganda. Aku secara tidak sadar memendam emosi negatif itu agar tidak meledak, namun ternyata stres itu justru terus menumpuk.

Emosi negatif yang selama ini kusembunyikan ternyata jauh lebih besar dari dugaanku.

"Baiklah kalau begitu, karena waktu kita sedikit, ayo segera mulai latihan dasarnya."

"Terima kasih, Lawrence-kun!!"

"Kalau begitu, aku juga akan mendukungmu dengan sepenuh hati!!"

"Terima kasih, Fran. Karena Shirley adalah perempuan, mungkin ada hal-hal yang sulit ditanyakan kepadaku yang laki-laki ini."

"Terima kasih juga, Fran!!"

Mendengar percakapan kami, Fran juga menawarkan bantuan. Ini benar-benar seperti mendapat kekuatan tambahan yang luar biasa.

Tiga hari lagi. Aku sudah tidak sabar menantikannya.

── Sisi Count D'Artois ──

Anak bodoh itu berani melawanku. Awalnya aku terkejut, tapi itu pasti karena pengaruh keluarga Westgaph.

"Heh, jadi putri Anda diambil oleh keluarga Westgaph itu ya..."

"Benar-benar transaksi yang menguntungkan. Dia anak bodoh yang tidak punya bakat, aku tidak tahu bagaimana dia bisa merayu putra kedua Westgaph itu. Tapi melihat gelagatnya, kemungkinan besar dia berbohong dengan bilang 'karena aku keluarga D'Artois, kemampuanku tinggi'. Itulah sebabnya dia berani bersikap menantang pada kakak-kakaknya."

"Hoho... fufu, kepala keluarga Westgaph benar-benar melakukan pembelian yang bodoh. Mungkin dia membelinya karena terlalu memanjakan putranya... kasihan sekali masa depan keluarga itu jika dipimpin oleh orang tua yang terlalu memanjakan anak. Pasti dia mengira apa yang dikatakan putranya adalah kebenaran mutlak."

Hari ini aku mengadakan pesta dan segera menyebarkan berita ini ke orang-orang di sekitar.

Pihak Westgaph mungkin berpikir jika duel diadakan dalam waktu singkat (tiga hari), beritanya tidak akan menyebar luas.

Tapi jika aku yang bilang akan mengadakan pesta, orang-orang akan tetap berkumpul keesokan harinya.

Hal ini membuktikan betapa keluarga Westgaph terlalu meremehkan kekuatanku.

Aku terus menyebarkan rumor kepada para bangsawan yang datang: "Keluarga Westgaph telah tertipu membeli anak tidak berguna yang mereka kira 'berbakat'.

Dan anak itu, karena percaya diri yang salah, menantang kedua kakaknya yang merupakan kandidat Penyihir Istana untuk berduel dua lawan satu."

Pihak lawan mungkin menetapkan waktu duel yang sangat dekat karena takut kalah jika kami punya waktu persiapan, tapi cara naif seperti itu tidak akan mempan melawanku.

Ah, aku seolah bisa mendengar suara keluarga Westgaph yang runtuh berkeping-keping karena kesalahan kecil ini.

Bersamaan dengan itu, aku juga mendengar suara kejayaan keluarga D'Artois yang semakin membubung.

Melihat saingan yang selama ini menjadi duri dalam daging hancur seperti ini, benar-benar perasaan yang luar biasa.

"Anggur hari ini terasa sangat nikmat!!"

Aku menghabiskan malam itu di pesta dengan perasaan yang sangat puas.

── Sisi Shirley ──

Tiga hari telah berlalu dengan cepat.

"Hebat juga kamu tidak melarikan diri. Tadinya aku pikir kamu akan ketakutan dan kabur di saat terakhir."

"Benar sekali. Setidaknya aku akan memujimu karena berani datang ke sini. Yah, mungkin ini adalah hal pertama dan terakhir yang bisa kupuji darimu, baik di masa lalu maupun masa depan."

Kakak laki-laki dan perempuan tetap memperlakukanku sebagai 'adik bodoh yang tidak punya kemampuan'.

Caci maki dan sikap mereka yang sebenarnya sudah biasa kudengar ini, kini memicu percikan amarah di dalam hatiku.

Sejak hari itu, aku menyadari adanya kemarahan besar dalam diriku. Namun aku menahannya sekuat tenaga sampai hari ini agar tidak mengganggu latihan. Tapi sekarang, tidak ada alasan lagi untuk menahannya.

Namun anehnya, jika tiga hari lalu aku merasa sangat marah, sekarang emosi itu tidak terasa sebesar itu. Jika diibaratkan, rasanya seperti mendengar suara kepakan sayap nyamuk saat ingin tidur.

Memang tidak menyenangkan dan menyebalkan, tapi tidak sampai membuat kepalaku putih karena marah. Hanya sebatas itu.

Mungkin karena di dalam diriku, aku tidak lagi menganggap kakak-kakakku sebagai ancaman.

Mereka hanyalah keberadaan yang bisa kubereskan kapan saja jika aku mau. Itulah perasaanku terhadap mereka saat ini.

Dulu, saat aku merasa tidak mungkin menang, aku menutup rapat emosi ini. Saat aku yakin bisa menang, aku membuka tutup itu dan menyadari perasaanku. Dan ketika aku tahu mereka bukan apa-apa, ketertarikanku pun memudar.

Meski begitu, aku tidak bisa membiarkan mereka menghina teman sekaligus penyelamatku, Lawrence-kun, dan keluarga Westgaph yang telah mengangkatku menjadi anak.

Aku harus memberi mereka pelajaran dengan tanganku sendiri sebagai bentuk kesetiaanku.

Sambil memikirkan hal itu, aku melihat sekeliling. Kursi penonton di area latihan penuh sesak, tidak hanya oleh siswa, tapi juga banyak bangsawan dewasa yang hadir.

Melihat kasak-kusuk di akademi, ini pasti ulah ayahku yang menyebarkan berita ini ke mana-mana.

Dia benar-benar orang yang picik, tapi untuk kali ini aku ingin memujinya.

Berkat perbuatannya, aku bisa menunjukkan kepada semua orang di sini 'betapa tidak kompetennya kepala keluarga D'Artois dalam menilai kemampuan orang' dan 'betapa dia telah memperlakukanku dengan tidak adil selama ini'.

Sebaliknya, aku juga bisa membuktikan bahwa 'keluarga Westgaph memiliki mata yang jauh lebih tajam dibandingkan D'Artois'. Berita ini akan menyebar luas secara instan.

Tanpa perlu bersusah payah, aku bisa menggiring keluarga D'Artois menuju kejatuhan berkat bantuan ayahku sendiri. Sungguh menguntungkan.

Sejujurnya, aku tidak berniat bertindak sejauh itu. Selama aku bisa memutus hubungan dengan D'Artois dan membuat orang tua serta kakak-kakakku berhenti menggangguku, itu sudah cukup.

Tapi karena mereka sendiri yang memancing keributan, biarlah mereka jatuh dan hancur sesuka hati.

Ini adalah konsekuensi yang harus mereka tanggung sendiri karena tidak mempertimbangkan risiko jika kalah dariku. Aku sama sekali tidak berniat menolong mereka.

Karena mereka yang mengacaukannya, mereka harus bangkit sendiri.

Lagipula Ayah selalu bilang, 'Aku adalah orang berbakat dan jenius, tapi Kaisar dan bangsawan lain terlalu meremehkanku'. Jadi dia pasti bisa mengembalikan kepercayaan yang hilang itu, kan?

"Oi, katakan sesuatu!"

"Sudahlah, Kak. Mungkin Sasha sekarang sedang sangat ketakutan dan menyesal sampai-sampai tidak bisa bicara."

"Benar juga ya."

"Tapi ya, meskipun sekarang dia menangis minta maaf, aku tidak akan pernah memaafkannya."

Memanfaatkan diamnya aku, mereka berdua mulai berasumsi sesuka hati.

Tanpa tahu bahwa semakin mereka merendahkanku sekarang, semakin besar serangan balik yang akan menghantam mereka nanti...

Aku tahu kemampuan mereka, jadi yang perlu kulakukan hanyalah fokus bertarung dan menumbangkan mereka tanpa bersikap lengah sedikit pun.

Namun, aku juga harus mempertimbangkan kemungkinan sekecil apa pun jika mereka ternyata juga berkembang pesat tanpa sepengetahuanku.

Aku berbeda dengan mereka. Hidupku menjadi taruhannya, jadi sekecil apa pun kemungkinannya, aku akan bergerak dengan penuh perhitungan.

"Sudah selesai bicaranya? Kalau begitu, ayo segera mulai duelnya."

Terus-menerus menerima fitnah dan hinaan di tempat seperti ini hanya membuang-buang waktu, jadi aku mendesak mereka untuk segera mulai.

"Cih, sok jagoan. Padahal mau bergaya seperti apa pun, masa depanmu tidak akan berubah."

"Mari kita selesaikan sandiwara ini dengan cepat, Kak."

"Tentu saja. Wasit... tolong beri aba-aba mulai."

"B-Baiklah. Harap keduanya menuju ke tengah. Peraturannya adalah duel menggunakan serangan sihir saja. Serangan fisik seperti pedang atau pukulan adalah pelanggaran dan akan dikenakan pengurangan poin—"

Seorang pria yang merupakan pengajar di akademi mulai membacakan peraturan atas instruksi kakakku.

Ada tiga hal yang harus kupastikan: kemungkinan kakak-kakakku berkembang lebih dari dugaanku, kemungkinan mereka menyuap wasit untuk menyelundupkan senjata, serta bertarung sesuai dengan apa yang diajarkan Lawrence-kun tanpa bersikap lengah.

Jika aku waspada terhadap tiga hal ini, aku pasti bisa merespons meski ada serangan mendadak atau gangguan dari wasit. Kekalahan hampir tidak mungkin terjadi.

"Kalau begitu………… MULAI!!"

"Akhirnya aku bisa menghajarmu secara legal!! Selama ini kamu benar-benar merusak pemandangan!! Dasar noda keluarga D'Artois!!"

"Benar sekali! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu sendiri reputasi keluarga D'Artois jadi menurun?!"

Begitu wasit memberi aba-aba mulai, kakak-kakakku langsung merapal sihir sambil melontarkan cacian yang sudah biasa kudengar.

Aku bisa melihat aliran mana mereka dengan jelas. Ini berkat latihan bersama Lawrence-kun.

Dalam tiga hari ini, aku mempelajari tiga hal: memvisualisasikan mana lawan, mempelajari Counter Spell, dan merapal Counter Spell secara Chantless.

Lawrence-kun bilang, hanya dengan menguasai tiga hal ini, akan tercipta perbedaan kekuatan yang sangat jauh dibandingkan orang yang tidak menguasainya.

Oleh karena itu, Lawrence-kun sempat heran dan berkata, "Padahal ini adalah dasar dari segala dasar bagi seorang penyihir untuk bertarung, tapi anehnya hampir tidak ada orang yang mempelajarinya ya."

Dan sekarang, aku bisa memahami perasaan Lawrence-kun.

Kenapa kakak-kakakku yang begitu membanggakan kelahiran mereka di keluarga D'Artois yang legendaris dalam sihir—dan menjadikannya alasan untuk menindasku—malah tidak menguasai tiga hal dasar ini?

Memang sulit untuk mempelajarinya (terutama teknik Chantless), tapi sekali saja menguasai triknya, itu akan terasa mudah.

Bahkan aku pun bisa menggunakannya secara stabil dalam tiga hari. Harusnya orang lain pun bisa mempelajarinya...

"Fire Magic Rank 3: Flame Spear!"

"Ice Magic Rank 3: Ice Spear!"

Kakak-kakakku dengan jujur merapal mantra mereka lewat mulut.

Meski aku baru bisa menggunakan beberapa jenis sihir secara Chantless, melihat mereka yang selama ini sombong ternyata tidak bisa menggunakan sihir andalan mereka tanpa mantra, membuat kepercayaan diriku meningkat.

Rasanya seperti aku sedang mengambil kembali hal-hal yang pernah mereka rampas dariku satu per satu.

Lalu, aku menggunakan Water Magic Rank 2: Cancel secara Chantless untuk melenyapkan sihir yang mereka lepaskan.

Benar-benar berbeda jauh jika teknik ini bisa dilakukan secara Chantless... Dan untuk menggunakan Cancel secara efektif, teknik visualisasi mana lawan memang mutlak diperlukan.

Dengan mengetahui apa yang akan dilakukan lawan, aku bisa mendominasi pertarungan dengan sangat mudah.

Sekarang, setelah mempraktikkannya secara langsung, aku paham kenapa Lawrence-kun menyebut ini sebagai 'dasar' dan melatihku dengan sangat keras.

"Eh? Hah? Kenapa sihirnya gagal?"

"Apa? Apa yang terjadi?"

"Kalau hanya aku mungkin wajar, tapi bahkan Adikku pun tidak bisa menggunakannya... ini aneh!"

"Ja-Jangan-jangan, Shirley...!! Kamu berbuat sejauh ini hanya karena tidak mau kalah... Memalukan sekali!!"

"Oi Wasit! Sepertinya Shirley membawa Magic Item atau semacamnya yang mencegah sihir diaktifkan. Periksa dia!"

Sepertinya mereka berdua menyadari bahwa akulah penyebab sihir mereka gagal, namun mereka malah menuduhku melanggar peraturan dan mengadu pada wasit.

"……Oi, kamu! Apa yang kamu bawa! Keluarkan sekarang juga!"

"Aku tidak membawa apa-apa. Aku hanya membatalkan sihir kakak-kakakku dengan sihirku sendiri."

"Jangan bohong!! Kamu bahkan tidak terlihat merapal mantra tadi!!"

"Benar!! Kalau mau bohong, cari yang lebih masuk akal!! Itu sama saja kamu bilang kalau anak tidak berbakat sepertimu bisa merapal sihir secara Chantless!!"

"Iya, memang itu yang kukatakan. Sekarang aku sudah bisa menggunakan sihir secara Chantless."

Namun, sepertinya mereka tetap tidak percaya. Untuk membuktikannya kepada mereka yang terus menuduhku, aku melepaskan Fire Magic Rank 1: Fireball secara Chantless.

"Ugh?! Cu-Curang sekali! Tiba-tiba menyerang begitu!!"

"Kyaa?! Menyerang di saat kami lengah, benar-benar rendah!!"

"Tidak... Bukankah itu karena kalian yang pertama kali menghinaku dengan bilang 'mana mungkin orang sepertimu bisa merapal sihir secara Chantless'? Makanya, agar orang bodoh pun bisa paham, aku menggunakan sihir serangan tingkat paling rendah secara Chantless... Tapi sekarang kalian sudah paham, kan? Bahwa aku memang bisa melakukannya."

Karena mereka terus protes, aku membalas bahwa ini semua karena kecurigaan mereka sendiri.

Sambil bicara, aku merapal Fireball dalam jumlah besar secara Chantless, namun tidak menembakkannya, melainkan membiarkannya mengambang di udara.

"……Oi Wasit!! Lakukan sesuatu!! Bukankah ini pelanggaran?!"

"B-Benar!! Masih ada kecurigaan kalau Shirley membawa Magic Item, jadi hentikan pertandingan sekarang dan periksa dia!!"

Melihat pemandangan itu, kakak-kakakku panik dan berteriak memohon kepada wasit untuk menghentikan duel.

"B-Baiklah..."

"Aku sama sekali tidak mengerti bagian mana yang 'baiklah'. Bukankah aku sudah menunjukkan kemampuanku merapal sihir secara Chantless demi membersihkan kecurigaan itu? Dan bukankah menghentikan pertandingan setelah aku mengeluarkan sihir sebanyak ini adalah pelanggaran peraturan? Bagaimana dengan mana yang sudah kukeluarkan? Mempertahankan sihir-sihir ini saja terus mengonsumsi mana-ku, tahu?"

Sepertinya wasit memang sudah disuap oleh keluarga D'Artois. Meskipun kecurigaan sudah kubuktikan tidak benar lewat tindakanku, dia tetap mengikuti instruksi kakak-kakakku dan mencoba menghentikan duel untuk memeriksaku lagi.

"Tapi jika kamu tidak mematuhi instruksiku, maka—"

"Memangnya apa yang akan terjadi jika aku tidak patuh? Dengar ya, aku hanya akan mengatakannya sekali. Sekarang aku bukan lagi 'anak gagal keluarga D'Artois', melainkan milik keluarga Westgaph. Tindakan yang kamu lakukan ini jelas-jelas pelanggaran, dan fakta bahwa kamu berusaha menguntungkan D'Artois membuktikan bahwa kamu telah disuap..."

"……H-Hentikan fitnahmu itu!!!"

"Silakan saja berpura-pura tidak tahu lalu menghentikan pertandingan dan memeriksaku. Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula, aku tidak merasa akan kalah dari kakak-kakakku yang pengecut karena terus berlindung di balik wasit hanya karena tidak bisa mengatasi sihir tingkat ini. Kehilangan mana sebanyak ini pun tidak terasa apa-apa bagiku. Tapi, apakah Ayah serta calon kepala keluarga Westgaph yang sedang menonton duel ini akan memaafkan perbuatanmu?"

"………………U-Ugh…… Pertandingan dihentikan sementara……"

Kakak-kakakku yang tadinya cemas melihat perdebatan antara aku dan wasit, kini menunjukkan ekspresi lega setelah wasit memutuskan untuk menghentikan duel.

"Dan... karena aku secara tidak bertanggung jawab telah mengganggu Nona Shirley sehingga ia kehilangan mana, aku mengizinkannya untuk memulihkan mana terlebih dahulu. Duel akan dilanjutkan segera setelah pemulihan selesai."

Namun, begitu mendengar kelanjutan perkataan wasit, wajah kakak-kakakku langsung memerah karena marah.

Padahal mereka sendiri yang menyuap wasit untuk menindasku, tapi sekarang mereka malah marah karena si wasit tidak bisa bergerak sesuai keinginan mereka setelah rahasianya terbongkar... Rasanya akulah yang ingin marah.

Tidak, aku memang sudah marah.

Aku tidak akan membiarkan mereka pulang dengan tenang.

Awalnya aku berpikir akan memaafkan mereka setelah memberi sedikit pelajaran, tapi itu sepertinya terlalu lembek.

Menghajar mereka, mengalahkan mereka, lalu membiarkan mereka kehilangan kepercayaan dari para bangsawan dan relasi yang selama ini mereka banggakan... lalu menyisakan pilihan agar mereka bisa membangun kembali reputasi dari nol jika membuang harga diri mereka... Ternyata aku terlalu baik.

Aku akan menanamkan trauma yang membuat kakak-kakakku tidak akan pernah bisa bangkit lagi seumur hidup mereka.

"Oi!! Jangan bercanda!! Kamu pikir keluarga D'Artois sudah memberimu uang berapa banyak, hah?!"

"B-Benar!! Bekerjalah yang benar sesuai dengan keping emas yang kami berikan!!"

Sambil memikirkan hal itu, aku melihat kakak dan kakak perempuanku malah menggali lubang kubur mereka sendiri.

Sepertinya amarah telah membuat tingkat kecerdasan mereka merosot tajam.

Apakah mereka bodoh? Ya, mereka memang bodoh.

"Eh? Bukannya bahaya ya kalau menyuap wasit begitu?"

"Aku memang sering dengar rumor buruk tentang keluarga D'Artois... tapi sekarang aku paham kenapa."

"Uwah... benar-benar menjijikkan..."

"Bahkan tidak punya harga diri sebagai bangsawan..."

"Orang-orang seperti ini tidak pantas melakukan duel suci. Aku harap gelar bangsawan mereka dicabut saja..."

Jika aku mempertajam pendengaran, suara-suara kecaman terhadap keluarga D'Artois terdengar dari segala penjuru.

"Bu-Bukan, kalian salah paham! Itu cuma salah ucap saja!!"

"Be-Benar!! Mana mungkin keluarga D'Artois melakukan hal memalukan seperti itu!!"

Sepertinya kakak dan kakak perempuanku juga mendengar suara-suara itu.

Mereka mati-matian membuat alasan untuk mengelak, tapi tentu saja alasan seperti itu tidak akan mempan.

Sebaliknya, tindakan mereka yang mencoba lari dari dosa sendiri justru memancing kecaman yang lebih besar.

"Awalnya aku berniat meruntuhkan kepercayaan para bangsawan dengan cara menghajar kalian, tapi tak disangka kalian justru menghancurkan kepercayaan itu sendiri... Bahkan menghancurkan kepercayaan para siswa yang akan menjadi penerus generasi berikutnya. Ini di luar dugaanku. Luar biasa, Kakak-kakakku sayang."

"Gu... gi...!"

"I-Ini semua salahmu!! Lakukan sesuatu, Dasar Dongok!!"

"Be-Benar!! Semuanya salahmu karena kamu itu tidak berguna!!"

"Wasit, sepertinya Kakak-kakakku sudah tidak sabar ingin kuhancurkan, jadi tolong lanjutkan duelnya. Soal mana, aku tidak butuh pemulihan. Melawan dua orang ini saja sih tidak masalah."

"Ba... Baiklah..."

Sejujurnya mereka sudah mulai menjengkelkan, jadi aku mendesak wasit untuk melanjutkan duel demi menumbangkan mereka. Wasit pun menyetujuinya dengan suara yang lemas.

Berbeda dengan kakak-kakakku, wasit ini sepertinya sadar akan nasib yang menantinya nanti.

Dia paham bahwa gara-gara kebodohan mereka, dia kini terpojok dalam situasi yang tidak bisa disangkal lagi.

Namun, menanggung risiko saat penyuapan terbongkar adalah konsekuensi yang sudah dia ketahui sejak awal saat menerima tawaran itu, jadi ini adalah Self-Inflicted.

Mungkin dia akan dipecat dari posisi pengajar akademi dan mendekam di penjara selama beberapa tahun.

Tapi jika dia mengaku telah diancam oleh keluarga D'Artois, mungkin dia bisa keluar dalam beberapa bulan. Setelah itu, aku harap dia hidup dengan benar dan tidak lagi tergiur keuntungan sesaat untuk berbuat jahat.

"Aduh, be-berhenti! Kami mengaku kalah, jadi berhenti sekarang juga!!"

"Agh, sakit... su-sudah hentikan! Memangnya apa yang sudah kami lakukan, hah?! Abeh!"

Setelah itu, aku terus menghujani mereka dengan Fire Magic Rank 1 Fireball selama sepuluh menit penuh.

Tentu saja aku tidak memberikannya satu demi satu dengan lembut, melainkan mengguyur mereka dengan rentetan serangan yang bisa disebut sebagai hujan peluru Fireball.

Kakak-kakakku sepertinya sudah menyerah sebelum genap satu menit, tapi aku mengabaikan suara mereka dan terus menyerang.

Tentu saja, aku sudah memerintahkan wasit agar jangan menghentikan duel sampai aku bilang berhenti.

Para penonton pun menganggap ini adalah kesalahan mereka sendiri karena melanggar aturan sejak awal.

Di titik ini, mereka tidak lagi menganggap ini sebagai duel resmi, melainkan hanya pertengkaran internal keluarga.

Karena itu, saat kakak-kakakku mengaku kalah, tidak ada satu pun orang yang menyuruhku berhenti. Sebaliknya, lebih banyak orang yang meneriakkan ejekan agar aku menyiksa mereka lebih parah lagi.

"Waktu kalian merundungku dulu, apa kalian pernah berhenti sekali saja saat aku memohon agar kalian berhenti?"

"Ma-Maafkan aku... aku minta maaf, jadi hentikan sekarang juga!! Panas!!"

"Aku sudah tidak mau lagi! Rambut kebanggaanku jadi terbakar habis, kan!! Bagaimana kamu mau tanggung jawab!!"

"Oi!! Kenapa kamu malah cari ribut begitu! Sejak awal yang tidak berhenti meski Shirley memohon itu kan kamu!!"

"Hah?! Jangan limpahkan kesalahanmu padaku! Agyah!!"

"Hah... di akhir pun kalian malah saling tuduh dan bertengkar... Ternyata level kalian sebagai manusia serendah ini. Melanjutkan ini hanya buang-buang waktu, jadi mari kita akhiri sekarang."

Ternyata pada akhirnya kakak dan kakak perempuanku malah mulai bertengkar sendiri.

Lama-lama ini hanya akan berubah menjadi komedi murahan. Selain itu, meski aku membenci mereka, rasanya memalukan memperlihatkan aib keluarga lebih lama lagi di depan orang banyak. Aku memutuskan untuk segera menyudahi duel ini.

"Te-Terima kasih! Sudah kuduga kamu memang adikku... itu bohong, Dasar Bodoh!! Lagipula ini sudah bukan duel lagi, jadi jangan protes kalau aku menyerangmu dengan senjata yang kusisipkan—hah?"

"Tak disangka kamu selengah ini!! Shirley yang menunjukkan celah dialah yang salah! Mati kau... eh?"

Karena tidak akan ada habisnya jika aku terus menembakkan Fireball, aku berniat menggantinya dengan sihir tingkat tinggi untuk mengakhiri segalanya.

Namun, kakak-kakakku sepertinya salah paham dan mengira aku telah memaafkan mereka lalu berhenti menyerang.

Seandainya hanya sampai di situ, mungkin mereka masih punya harapan.

Namun, mereka justru menganggap ini kesempatan emas, lalu mengeluarkan senjata yang sudah mereka sembunyikan dan menerjang ke arahku.

"Uwah... karena sudah menyuap wasit, aku sudah curiga sih... tapi ini benar-benar menjijikkan."

"Padahal mereka sendiri yang menuduh lawan curang, tapi mereka sendiri yang menyuap wasit dan menyelundupkan senjata..."

"Benar-benar sampah ya mereka ini..."

Para penonton mulai melontarkan ejekan tajam, tapi kakak-kakakku mengabaikan itu semua dan terus menerjangku.

Namun, saat melihat Fire Magic Rank 6 Crimson Lotus yang kurapal secara Chantless, langkah mereka terhenti dan wajah mereka berubah pucat pasi.

"Ke-Kenapa kamu bisa menggunakan sihir ini...?! Ini mustahil, kan?!"

"Ti-Tidak mungkin... Padahal aku pun jangankan sihir itu, menggunakan sihir Rank 6 saja belum bisa... Kenapa?!"

"Bukankah alasannya sederhana, yaitu bakat sihirku jauh di atas kalian?"

"Ja-Jangan bercanda!! Aku tidak akan pernah mengakuinya!!"

"Mustahil! Hal seperti ini tidak mungkin terjadi!!"

Melihat keterkejutan mereka, rasanya pengorbananku memaksa Lawrence-kun untuk mengajariku sihir representatif dari Rank 6 ini tidak sia-sia.

Tapi sungguh, aku tidak menyangka ada metode belajar seperti "mengalahkan lebih dari sepuluh naga berelemen api" untuk menguasainya... Entah dari mana Lawrence-kun mendapatkan informasi seperti itu. Apa pun itu, kehebatan Lawrence-kun memang tidak terbantahkan, jadi aku berhenti memikirkannya.

Tahu pun tidak akan membuatku bisa melakukan hal yang sama sepertinya, kan.

Lalu, kepada kakak dan kakak perempuanku yang masih tidak mau menerima kenyataan, aku pun melepaskan Crimson Lotus tersebut.

── Sisi Count D'Artois ──

Hari ini suasana hatiku benar-benar sangat bagus.

"Terima kasih atas Shirley tempo hari. Saya baru saja mengangkatnya menjadi anak angkat kemarin."

Alasannya adalah karena hari ini adalah hari duel yang diusulkan oleh Shirley sendiri.

Dengan suasana hati yang riang, aku pergi menuju tempat menonton area latihan di dalam ruangan.

Saat aku duduk di sana dengan perasaan senang, beberapa bangsawan sudah ada di sana dan sedang berbincang denganku.

Tiba-tiba, Edward—kepala keluarga Westgaph yang sedang menjadi topik pembicaraan—datang menyapaku.

Padahal seharusnya aku yang memiliki gelar lebih rendah yang harus pergi menyambutnya. Tapi sepertinya dia begitu senang mendapatkan Shirley sampai-sampai Edward sendiri yang datang menyapaku...




Para bangsawan di sekitarku, yang tahu betul betapa payah dan tidak bergunanya Shirley, mulai terkikik geli melihat tindakan Edward.

"Aduh, Tuan Edward! Ya ampun, kami sendiri dulu benar-benar kewalahan menangani si bodoh itu! Justru kami harus berterima kasih karena keluarga Westgaph sudah mau memungutnya gara-gara salah sangka mengira dia 'berbakat'!"

Aku melanjutkan dengan nada mengejek.

"Tapi, jangan harap Anda bisa membatalkan transaksi ini sekarang, ya? Tentu saja tidak bisa. Begitulah aturan kontrak antar bangsawan!"

"Payah... Anda bilang? Shirley anak itu? Hmm... Jika Anda sanggup menyebut Shirley anak yang payah, maka anak-anak Count D'Artois yang bertarung hari ini pasti memiliki bakat yang melampaui imajinasi saya."

Mendengar kata-kataku, Edward sempat menunjukkan ekspresi terkejut sejenak. Mungkin dia baru sadar kalau dirinya baru saja dipaksa memegang 'kartu mati'.

Seolah ingin meminimalisir kerusakan reputasi keluarga Westgaph jika kalah dalam duel ini, Edward membalas telak. "Mungkin saking hebatnya lawan Shirley hari ini, sampai-sampai Shirley yang hebat pun terlihat payah di mata Anda."

Kemampuannya menilai situasi dan memilih kata-kata yang tepat dalam sekejap memang layak disebut sebagai kualitas keluarga Duke.

Namun, begitu dia melabeli Shirley sebagai orang hebat, harga diri keluarga Westgaph dipastikan tidak akan bisa selamat dari kejatuhan.

Sebab Shirley itu payah dan tidak berguna dalam arti yang sebenarnya.

Edward akan menyesal seumur hidup karena sudah menganggap orang seperti itu berbakat, bahkan sampai mengangkatnya menjadi anak.

Dia akan terus menjadi bahan tertawaan di masyarakat bangsawan selamanya.

Hanya dengan membayangkan masa depan yang sudah di depan mata itu saja, aku tidak bisa menahan senyum lebar yang tersungging di wajahku.

"Tentu saja. Semua anakku, kecuali Shirley, adalah anak-anak yang luar biasa."

"Kalau begitu, saya sangat menantikannya."

"……Ti-tidak mungkin. Hal seperti ini tidak boleh terjadi!"

Duel pun dimulai.

Sejak awal pertandingan, Shirley terus-menerus mempermainkan anak-anak kesayanganku secara sepihak.

Caranya menyerang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia sedang menahan diri, persis seperti orang dewasa yang menghadapi anak kecil.

Akhirnya, Shirley menggunakan sihir tingkat enam dan memenangkan pertandingan.

Pada dasarnya, sihir tingkat enam di elemen apa pun membutuhkan waktu lama untuk dirapal dan tidak bisa digunakan secara instan.

Namun, Shirley melakukan sebuah keajaiban dengan melakukan Chantless Casting, mengabaikan seluruh proses mantra yang menjadi kelemahan sihir tersebut.

Mustahil. Tidak mungkin sihir tingkat enam bisa digunakan tanpa mantra sama sekali.

Bahkan aku pun tidak bisa melakukan teknik seperti itu. Jika begini, bukankah artinya aku berada di bawah level Shirley?

Lagipula, aku sudah membayar mahal untuk menyuap wasit itu! Apa sih yang sebenarnya dia lakukan?!

"……Count D'Artois."

"Eish! Jangan ajak aku bicara sekarang, mengganggu saja!"

Di tengah kepanikanku, salah satu pengikutku memanggil. Aku menjawab dengan nada penuh amarah sambil menoleh ke arahnya.

Namun, yang kulihat adalah tatapan mata yang jelas-jelas mengandung penghinaan.

"……Oi, kamu. Apa-apaan tatapan itu? Hah? Kenapa kalian semua juga menatapku seperti itu?! Kalian pikir aku ini siapa, hah?!"

Bukan hanya dia saja yang memberikan tatapan merendahkan. Saat aku melihat sekeliling, aku menyadari bahwa semua orang di ruangan ini sedang menatapku dengan cara yang sama.

"Sepertinya mereka berpikir, jika Anda menyuap wasit untuk berbuat curang sekarang, bukankah selama ini Anda juga naik ke atas dengan menyingkirkan orang lain menggunakan cara-cara kotor?"

"……Apa?"

"Selain itu, mereka pasti menganggap Anda orang bodoh yang bahkan tidak bisa menilai bakat anak sendiri. Membuang anak berbakat hanya karena mengira dia payah."

"Ja-jangan bercanda!! Dia itu benar-benar payah dan tidak berguna!! Sampai baru-baru ini pun, dia bahkan tidak bisa menggunakan sihir Torch dengan benar! Bagaimana mungkin dia tiba-tiba bisa menggunakan sihir tingkat enam, bahkan tanpa mantra pula!! Sejak awal ini sudah aneh, kan?!"

Aku berteriak histeris.

"Edward, kamu pasti sudah merencanakan sesuatu, kan!! Dasar licik... Hei!! Seseorang tangkap dia!! Ketahuilah bahwa dosa menodai duel suci itu berat!! Hah?! Kenapa malah aku yang ditahan oleh para penjaga?! Yang harus kalian tahan itu Edward, bukan aku!! Lagipula, beraninya penjaga rendahan sepertimu menyentuhku!!"

Ini benar-benar aneh. Pasti ada sesuatu yang sudah direncanakan.

Meski aku tidak tahu apa yang disiapkan, Edward pasti sudah melakukan kecurangan dalam duel suci ini.

Jika begitu, harusnya Edward yang ditahan. Namun, entah kenapa para penjaga yang datang ke ruangan justru meringkusku.

"Aku tidak melakukan kecurangan apa pun. Bukti bahwa aku bersih sudah ditunjukkan sendiri oleh Shirley dengan menggunakan sihirnya di arena duel tadi. Tapi, bagaimana denganmu? Fakta bahwa kamu menyuap wasit sudah terungkap di tengah duel tadi."

Edward berkata dengan tenang.

"Fakta bahwa kedua anakmu bisa menyelundupkan senjata juga pasti karena suap itu... Penggunaan senjata tersebut membuktikan bahwa ini bukan kelalaian wasit, melainkan memang sengaja dilakukan... Kau sudah tidak bisa mengelak lagi, kan?"

"JA-JANGAN BERCANDAAAAA!!!!!!"

Suaraku menggema di seluruh ruangan saat para penjaga menyeretku keluar.

── Sisi Pangeran Kedua ──

…………Brett kalah, ya?

Padahal dia bukan tipe orang yang bisa dikalahkan dengan mudah...

Padahal saat aku berhasil melakukan kudeta dan naik takhta menjadi Kaisar menggantikan kakakku nanti, aku berencana menjadikannya tangan kananku... Yah, sudahlah.

Eksperimennya juga sepertinya sedang buntu.

Namun, berkat eksperimen itu, aku berhasil mendapatkan kekuatan yang lebih besar. Sekarang, aku bahkan sudah memiliki empat Skill baru.

Bisa dibilang, kekuatanku sudah berada di wilayah para dewa.

Bahkan jika orang yang mengalahkan Brett datang untuk membunuhku, mustahil bagi mereka untuk menjatuhkanku yang memiliki empat Skill baru ini.

Tapi, masih terlalu dini untuk bergerak.

Lawan selanjutnya kemungkinan besar adalah Kakakku itu. Jika aku bergerak tanpa informasi tentang siapa yang mengalahkan Brett, aku bisa kalah karena buta kekuatan lawan.

Kalau begitu, aku tinggal mengumpulkan informasi tentang kartu as tersembunyi milik Kakak, sambil mengembangkan kartu as milikku sendiri.

Sambil memikirkan hal itu, aku menatap Damian, putra Brett, yang sedang teler karena obat-obatan dan terikat oleh rantai.

── Sisi Budak Baru ──

Sudah tiga bulan berlalu sejak aku menjadi budak Tuan Lawrence.

Awalnya aku terus-menerus dibuat terkejut. Namun, karena aku sadar bahwa menjadi budak berarti harus bekerja, aku tidak terlalu kaget saat Tuan Lawrence menjelaskan tentang pekerjaan.

Beliau bilang jika aku punya keinginan tentang tempat bekerja, beliau akan mengizinkannya sebisa mungkin. Aku pun memilih menjadi petualang.

Tapi begitu mulai bekerja, kejutan demi kejutan datang bertubi-tubi hingga pikiranku sulit mengejarnya.

Sampai sekarang pun aku masih sulit percaya dan merasa ada maksud terselubung di baliknya.

Kejutan yang kumaksud adalah lingkungan kerjanya.

Pertama, aku kaget karena ada jatah libur dua hari dalam seminggu. Makan siang pun disediakan dengan layak.

Tidak hanya itu, meski pekerjaan petualang berdasarkan hasil, bagi kami yang bekerja sebagai karyawan, ada yang namanya cuti tahunan dan tunjangan kesejahteraan—aku masih belum terlalu paham, tapi intinya kami bekerja di lingkungan yang sangat baik.

Tentu saja ada kenaikan gaji sesuai kemampuan, bahkan ada bonus. Beliau bahkan menyediakan tempat belajar bagi orang-orang yang bekerja di tempat usahanya.

Di sana, para rakyat jelata dan budak yang menjadi karyawan memanfaatkan hari libur untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.

Bagi kami, pengetahuan di dalam kepala adalah satu-satunya harta yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun, jadi semua orang mengikuti pelajaran dengan sangat serius.

Memberi gaji dan ilmu kepada budak... aku belum pernah mendengar hal seperti itu. Normalnya, itu tidak mungkin terjadi.

Aturan ini juga berlaku bagi mereka yang memilih pekerjaan petualang, jadi di dalam kelas pun terlihat orang-orang bertubuh kekar ikut belajar.

Alasan kenapa penjelasan dan peninjauan ini dilakukan di awal bahkan bagi calon petualang adalah agar jika mereka merasa tidak cocok, mereka bisa dengan mudah pindah menjadi karyawan biasa.

Begitu pula sebaliknya. Sepertinya ini adalah bentuk perhatian Tuan Lawrence agar kami bisa bekerja di tempat yang paling sesuai bagi kami.

Lagipula, gaji yang kami terima itu jumlahnya tidak masuk akal untuk ukuran budak, bahkan rakyat jelata sekalipun.

Setelah tiga bulan, tabunganku sudah setara dengan penghasilan satu tahun penuh saat aku masih menjadi rakyat jelata biasa.

Aku bingung uang itu harus digunakan untuk apa. Mau dihamburkan tetapi rasanya tidak enak pada Tuan Lawrence, tapi karena tidak tahu mau dipakai apa, aku menabung semuanya. Meski begitu, rasanya ada yang kurang.

Tentu menabung itu penting, tapi kalau begini terus, tidak ada artinya aku mendapat gaji sebesar ini...

Di tengah kebingungan itu, teman sesama budak menyarankan, "Bagaimana kalau kamu ambil cuti tahunan dan pulang kampung sebentar?"

Sejujurnya, aku tidak terlalu ingin pergi ke desa itu. Bukan hanya karena aku menderita penyakit mematikan, tapi karena orang-orang desa memberikan tatapan sinis dan mencoba mengucilkan keluargaku.

Aku takut kepulanganku justru akan merepotkan mereka.

Saat aku mengutarakan hal itu, temanku berkata, "Makanya, pergi sekali dulu untuk melihat situasinya. Kalau ternyata tidak memungkinkan, kamu bisa membawa keluargamu pindah ke wilayah yang dikelola oleh ayah Tuan Lawrence. Itu juga salah satu cara, kan?"

Mendengar itu, mataku seolah terbuka lebar. Akhirnya, aku mengambil cuti tahunan dan pulang kampung.

"……Ka-kamu masih hidup?!"

"Syukurlah... Benar-benar syukurlah!"

"Ja-jadi... bagaimana dengan keadaan tubuhmu?"

"Aku dipungut oleh seorang bangsawan, dan beliau menyembuhkan penyakitku... Makanya aku bisa pulang sebentar."

Ayah dan ibu menerimaku dengan tangan terbuka sambil menangis. Begitu aku memberitahu bahwa penyakitku sudah sembuh, mereka menangis semakin kencang.

Hanya dengan melihat orang tuaku begitu bahagia saja, aku sudah merasa kepulanganku ini sangat berharga. Aku sendiri sampai hampir ikut menangis.

"……Kamu, penyakitmu benar-benar sembuh?"

"Sudah sembuh. Sekarang aku sangat sehat, bahkan sudah bisa membaca, menulis, berhitung, dan menggunakan sihir."

Di tengah reuni yang mengharukan itu, Dan—teman masa kecil sekaligus mantan tunanganku—memanggilku. Aku pun menjawabnya.

Begitu Dan melihat wajahku dengan jelas, wajahnya langsung memerah padam dan dia mulai bersikap gelisah.

Lalu aku teringat.

Sekarang aku menggunakan sabun rambut dan minyak wangi pemberian Tuan Lawrence setiap hari, sehingga rambutku halus dan berkilau seperti permata.

Kulitku pun terawat berkat produk kosmetik buatan Tuan Lawrence, bahkan aku sekarang memakai riasan tipis di wajah.

Karena sekarang semua budak di kediaman memiliki tingkat kecantikan yang hampir sama, aku jadi tidak terlalu memikirkannya.

Tapi saat pertama kali melihat cermin setelah memakai semua itu, aku sendiri sampai terpesona melihat perubahanku.

Apa jadinya jika Dan, seorang pria, melihatku yang sekarang?

Wajahnya yang melongo itu sudah memberikan jawaban yang sangat jelas.

"He-hei... kalau kamu sudah sehat, berarti pertunangan kita bisa kembali—"

"Dan, apa kamu ingat apa yang kamu katakan padaku dan keluargaku saat aku jatuh sakit dulu?"

"Eh...? Tidak... itu... anu..."

"Aku mengerti itu adalah kata-kata yang muncul karena rasa takut tinggal di sebelah orang yang punya penyakit mematikan, dan aku tidak menaruh dendam soal itu karena itu hal yang manusiawi. Tapi, fakta bahwa kamu sudah menyakiti aku dan keluargaku tidak akan berubah. Menurutmu, apa aku mau bertunangan lagi dengan orang seperti itu?"

"……Ma-maaf. Waktu itu aku sedang kacau... atau apa ya..."

"Lagipula, dulu kamu selalu bilang aku jelek, bilang nasibmu sial karena punya tunangan sepertiku, lalu menyuruhku bersyukur karena kamu sudah mau memungutku. Aku tidak mengerti kenapa sekarang kamu malah mengajak bertunangan lagi dengan 'si jelek' yang dulu sangat tidak kamu inginkan ini."

Sejujurnya, aku sadar kalau wajahku tanpa riasan memang tidak seberapa. Tapi dulu aku selalu ingin menjadi cantik untuk membalas perbuatan Dan.

Sekarang, rasa sesak di dadaku sudah hilang. Rasanya ingin sekali meneriakkan "Rasakan itu!" padanya.

"I-itu karena... karena aku menyukaimu makanya aku mengejekmu. Aku senang melihat reaksimu..."

"Tapi orang yang diejek terus-menerus itu menderita, tahu. Kamu tidak tahu kan berapa kali aku menangis di tengah malam setiap harinya?"

"Ma-maaf..."

"Sudah terlambat kalau baru minta maaf sekarang. Diriku yang dulu sudah tidak ada. Lagipula, sekarang aku adalah budak seorang bangsawan. Pertunangan dengan Dan sudah tidak mungkin lagi."

"…………Hah? Eh? Ja-jadi kamu... itu... sudah melakukan 'itu' dengan si bangsawan...?"

"Tentu saja, kan? Namanya juga budak. Lagipula, meski aku sendiri yang mengatakannya, aku ini kan sangat cantik."

Sebenarnya jangankan melakukan hal 'itu', pelecehan seksual pun tidak pernah kualami.

Tapi aku merasa tidak punya kewajiban untuk mengatakan yang sejujurnya pada Dan.

"Ti-tidak mungkin... Pa-padahal aku yang lebih dulu menyukaimu...!"

"Mana kutahu."

Setelah kukatakan itu, Dan pergi sambil menggumamkan sesuatu.

Setelah itu, aku menghabiskan waktu dengan membasmi monster di sekitar desa, membagikan dagingnya secara gratis, membantu membersihkan sumber air di gunung, menyebarkan betapa hebatnya Tuan Lawrence, hingga mengajari anak-anak membaca dan berhitung.

Saat hari kepulanganku tiba, orang-orang desa sudah percaya kalau penyakitku sembuh, dan popularitas keluargaku pun melonjak drastis.

Dengan begini, orang tuaku tidak perlu lagi hidup dengan perasaan terkucilkan di desa ini.

Ngomong-ngomong, sejak hari itu, sosok Dan yang biasanya ceria dan bersemangat benar-benar hilang. Dia selalu mengendap-ngendap agar tidak berpapasan denganku.

"Dan!"

"……?!"

Karena merasa sedikit kasihan, aku memanggilnya tepat sebelum aku kembali ke kediaman Tuan Lawrence.

"Jika nanti kamu punya tunangan atau orang yang kamu sukai lagi, bersikaplah yang lembut padanya, ya? Meski aku bilang begitu, bagaimanapun kita ini teman masa kecil, aku tahu kamu tidak benar-benar bermaksud jahat. Tapi tetap saja, kata-kata itu bisa menyakiti orang."

"…………Maaf. Dan, terima kasih. Lalu... karena aku teman masa kecilmu, aku juga sadar kalau kamu sebenarnya jatuh cinta pada tuan bangsawannmu itu. Semoga kamu bisa menarik perhatian tuanmu itu, ya!"

"……B-berisik tahu!"

Mungkin itu adalah balasan kecil darinya. Sambil berkata begitu, Dan tersenyum cerah.

Senyum yang mengingatkanku pada hari-hari masa kecil kami sebelum bertunangan, saat aku benar-benar menyukainya dulu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close