NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Mulut Neraka


── Sisi Damian ──

Belakangan ini Ayah tampak semakin lesu dari hari ke hari, situasinya benar-benar tidak memungkinkan bagiku untuk meminta bantuan untuk rencana kali ini.

Sejujurnya aku ingin bantuan finansial, tapi karena rencana kali ini cuma "sekadar mendorong mereka", kurasa tanpa bantuan uang pun akan tetap berhasil.

Kalau ada uang, aku tadinya berniat menyuap teman-teman sekelas yang bodoh itu untuk bekerja sama, tapi mengingat mereka bisa saja mengacaukan rencana ini, aku akan menganggap situasi ini justru lebih baik.

Rencananya adalah mendorong Lawrence dan Shirley sekaligus ke dasar jurang di dungeon yang akan kami kunjungi untuk pelajaran luar ruangan.

Jika Shirley lebih memilih Lawrence daripada aku, maka aku akan membantu mewujudkannya. Yah, meskipun mereka baru bisa bersatu di dunia sana.

"Hei, lihat!! Damian datang!!"

"Pria itu, gayanya selangit tapi ternyata dihajar habis-habisan oleh orang baru. Benar-benar memalukan. Berani sekali dia menampakkan muka di akademi."

Sudah kuduga hal ini akan terjadi, tapi tetap saja, aku tidak bisa menahan diri saat mendengar gunjingan seperti itu.

"Hah? Kalau punya keluhan, bilang langsung di depanku. Atau kalian mau duel denganku?"

"Cih, mengganggu saja. Ayo pergi."

"Siapa juga yang mau duel dengan pecundang sepertimu. Tidak ada untungnya sama sekali bagi kami."

"Sudah curang tapi tetap kalah, kau benar-benar menjijikkan."

Aku mencoba melabrak mereka dengan nada tinggi, namun mereka justru menatapku dengan pandangan merendah seolah-olah sedang diganggu oleh orang gila yang merepotkan, lalu pergi begitu saja.

Sikap mereka bukanlah "lari karena takut padaku", melainkan "murni karena merasa aku merepotkan" dan aku sama sekali tidak dianggap.

"Sialan!!"

Dulu, jika aku melabrak seseorang, wajah mereka akan pucat pasi karena ketakutan dan mereka akan memohon maaf dengan menjilat demi mengambil hatiku.

Kenapa hanya karena satu kekalahan dari Lawrence, sikap orang-orang di sekitarku berubah drastis begini?

Lagipula, mereka bilang aku curang, tapi jelas-jelas Lawrence juga berbuat curang!

Kenapa hanya aku yang harus dihina sampai seperti ini....

Aku memukul dinding koridor untuk meluapkan kekesalan. Setelah aku menghancurkan Lawrence nanti, aku akan menantang mereka semua satu per satu dalam duel dan menghancurkan mereka sampai berkeping-keping...!

Aku menahan diri sekuat tenaga. Akan jadi masalah kalau aku berbuat onar sekarang dan didepak dari akademi sebelum sempat menghabisi Lawrence.

Setelah wali kelas selesai berbicara, kami berangkat menggunakan kereta kuda menuju lokasi dungeon untuk pelajaran luar ruangan.

Dalam pelajaran kali ini, guru menginstruksikan para siswa untuk membentuk kelompok yang terdiri dari tiga orang. Aku sudah tahu ini akan terjadi, tapi melihat Shirley langsung menghampiri Lawrence dan Fran tanpa melirikku sedikit pun membuat perutku mual karena marah.

Namun, jika Shirley berada di kelompok yang sama dengan Lawrence, itu artinya aku bisa menjatuhkan mereka sekaligus—ini jauh lebih efisien dan meningkatkan peluang keberhasilan.

Seolah-olah Tuhan sendiri yang menyiapkan panggung agar aku bisa membalas dendam.

Omong-omong, tidak ada satu orang pun yang mengajakku bicara, bahkan tidak ada yang berani mendekat seolah aku ini adalah wabah penyakit, jadi aku harus menjelajah sendirian.

Baik Shirley yang mengabaikanku maupun sikap teman sekelas yang menjauhiku, semuanya memang menjengkelkan, tapi khusus hari ini aku justru bersyukur.

"Sekarang, silakan masuk ke dungeon per kelompok! Jika merasa bahaya, segera kembali! Mengerti? Nyawa adalah yang utama! Yang penting dalam penjelajahan dungeon bukanlah membawa hasil, melainkan pulang dengan selamat! Meskipun kali ini rutenya adalah kursus tingkat rendah, ingatlah bahwa kalian menghadapi alam, jadi jangan pernah merasa benar-benar aman!! Dan jangan sekali-kali pergi ke rute selain tingkat rendah!! Paham!!"

Guru terus memberikan instruksi keselamatan kepada para siswa.

Karena ini adalah dungeon tingkat rendah yang bahkan bisa dimasuki bocah, tidak ada siswa yang mendengarkan dengan serius; semuanya tampak masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Begitu juga dengan Lawrence dan kelompoknya.

Padahal untuk kalian, mungkin sebaiknya kalian mendengarkan instruksi itu baik-baik.

Setelah memastikan Lawrence dan yang lainnya masuk ke dalam, aku menghapus hawa keberadaanku dan membuntuti mereka secara diam-diam tanpa ada yang menyadari.

Namun, melihat Shirley... melihatnya tersenyum begitu cerah dan berbicara dengan ekspresi yang begitu kaya saat bersama Lawrence, dadaku tiba-tiba terasa sesak.... Aku tidak tahu gejala apa ini, tapi entah kenapa, aku merasa jika aku melenyapkan mereka berdua, perasaan ini akan sembuh.

"............Kenapa kau tidak pernah menunjukkan senyum itu padaku.... Kenapa kau kelihatan begitu bahagia saat bersamanya.... Sialan!!"

Dengan perasaan berlumpur yang belum pernah kurasakan sebelumnya, aku menahan napas dan terus membuntuti mereka sampai ke lokasi tujuan.

"Ini tempat yang disebut 'Mulut Neraka' dan katanya ini tempat wisata ya!!"

"Ooh, ini benar-benar luar biasa. Kedalamannya sampai dasarnya tidak terlihat sama sekali...."

"Wah... kira-kira dasar lubang raksasa ini terhubung ke mana ya!!"

Sambil berpikir apakah aku harus ke dokter nanti untuk memeriksa sesak di dadaku, aku melihat Lawrence dan yang lainnya sudah sampai di 'Mulut Neraka'.

Inilah saatnya. Aku pun menampakkan diri di hadapan mereka.

"Oya, oya, Lawrence, dan juga Shirley. Sepertinya kalian senang sekali ya, padahal aku menderita secara mental gara-gara kalian!!"

"Bukankah itu akibat perbuatanmu sendiri? Lagipula Shirley tidak ada hubungannya dengan ini."

"Hah? Shirley yang bukan cuma menolak kebaikanku, tapi juga membalas budiku dengan menginjak wajahku, mana mungkin dia tidak ada hubungannya? Apa kau bodoh?"

Astaga, kenapa semua orang selain aku begitu bodoh? Hal semudah ini saja mereka tidak mengerti, sudah jelas seberapa rendah level mereka.

Itulah sebabnya kau menggunakan kecurangan yang begitu mencolok untuk menang dariku.

Dan tak lama lagi, kecuranganmu pasti akan terbongkar dan aku akan dipuji sekali lagi.

Saat itu, aku akan membuat orang-orang yang menghinaku, wasit kemarin, dan pihak akademi yang tidak menyadari kecuranganmu untuk bersujud meminta maaf padaku.

Tentu saja itu tidak cukup, aku akan menuntut uang kompensasi dan posisi di OSIS.

Kalau mereka menolak, aku akan meminta Ayah untuk menekan mereka.

Bagi keluarga kami, mencoreng wajah putra sulung sepertiku adalah masalah serius yang mengharuskan orang tua turun tangan.

Lawrence dan yang lainnya menatapku dengan ekspresi "Apa yang sedang dibicarakan orang ini?".

Tapi ya sudahlah, aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan pada mereka satu per satu. Karena setelah ini, aku akan menjatuhkan mereka ke dasar neraka.

"Hmph, kalau kalian tidak paham, ya sudah. Ternyata kalian lebih bodoh dari dugaanku. Selamat tinggal...... Sihir Angin Tingkat 1: Gust!"

"Ah, hei!?"

"Kyaa!?"

"Eh!? Apa!? Kyaaaa!!"

Jarak sampai ke dasar neraka itu sangat jauh, jadi kurasa kalian punya cukup waktu untuk menyesali kebodohan kalian sendiri sambil terjatuh.

Dan karena aku menggunakan sihir angin, tidak akan ada bukti bahwa akulah yang mendorong kalian. Benar-benar rencana yang sempurna.

Saat memikirkan rencana ini, aku merasa diriku memang jenius. Aku sempat ragu soal kehilangan Shirley, tapi daripada dia menjadi milik orang lain, lebih baik aku melenyapkannya dengan tanganku sendiri.

"Hmph, dasar orang-orang bodoh..."

Begitulah gumamku ke arah 'Mulut Neraka'.

── Sisi Ketua OSIS (Olivia de Lorraine) ──

"Bagaimana menurut Anda, Olivia-sama?"

"Begitulah... rasanya mustahil jika kekuatan semua sihirnya meningkat. Mungkin hanya sihir tingkat satu saja yang kekuatannya bertambah? Tetap saja, rasio peningkatannya sangat tidak wajar, tapi jika dipikir seperti itu, bukankah terdengar lebih masuk akal?"

Setelah pulang sekolah, saat aku sedang mengurus tugas-tugas OSIS, asistenku sekaligus teman masa kecilku, Lilia Lauren, menanyakan pendapatku soal duel antara Damian Language dan Lawrence Westgaph kemarin.

Pertanyaan Lilia soal "pendapat" pastilah merujuk pada kekuatan sihir dan Skill yang dilepaskan oleh Lawrence, jadi aku mengutarakan apa yang kupikirkan saat ini.

"Kalau dipikir-pikir, mungkin memang benar begitu.... Anggota OSIS lain dan para instruktur juga terus membicarakan Skill Lawrence sejak kemarin, dan sepertinya mereka sampai pada kesimpulan yang sama dengan Anda."

"Jika semua tingkat sihirnya bisa diperkuat, keluarga Westgaph pasti sudah memberitahu Kaisar dan pihak akademi sejak awal. Fakta bahwa mereka merahasiakannya berarti ada semacam kecacatan. Lagi pula, jika dia bisa memperkuat sihir setidaknya sampai tingkat dua secara drastis, tidak berlebihan jika dikatakan dia punya bakat untuk menjadi penyihir nomor satu di Kekaisaran, jadi tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Bagi bangsawan yang sangat menjunjung tinggi harga diri, jika mereka tidak mempublikasikannya sampai sekarang, itu sudah menjelaskan segalanya."

Mungkin ada alasan lain, tapi berdasarkan informasi yang tersedia sekarang, kesimpulannya adalah "dia hanya bisa memperkuat sihir tingkat satu".




Tentu saja, jika ia hanya bisa menggunakan sihir tingkat satu, meski dengan kekuatan sedahsyat itu, ia mungkin hanya akan dianggap sebagai salah satu penyihir papan atas dalam sejarah Kekaisaran.

Namun, jika ternyata sihir yang bisa dikuasai Lawrence hanyalah tingkat rendah, ia akan berakhir sebagai penyihir kelas menengah yang cuma bisa melepaskan sihir level bawah dengan daya hancur tinggi.

Bagi kaum bangsawan yang menjunjung tinggi harga diri, sangat masuk laku jika mereka memilih untuk "merahasiakannya sebentar".

Lagipula, mereka yang mampu menggunakan sihir tingkat tinggi hanyalah segelintir orang di antara para bangsawan. Jadi, tidaklah aneh jika Lawrence dikatakan hanya bisa menggunakan sihir tingkat rendah.

Bahkan jika ia berasal dari keluarga Adipati yang diberkati garis keturunan hebat sekalipun.

Apalagi, putra sulung keluarga Westgaph, Thomas, adalah monster yang lulus dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah Akademi Sihir Kekaisaran ini dan meninggalkan prestasi gemilang sebagai ketua OSIS.

Tentu saja ia memiliki Skill Extreme Flame, yang efeknya sangat tidak masuk akal karena bisa meningkatkan kekuatan sihir elemen api sebesar lima puluh persen.

Bagi keluarga Adipati, mereka pasti berpikir lebih baik mencurahkan segala upaya untuk sang kakak daripada mengangkat sang adik yang cuma terasa "lumayan hebat".

Pada akhirnya, aku sendiri tidak pernah bisa menang melawan Thomas sampai ia lulus dan menyerahkan kursi ketua OSIS kepadaku.

Karena aku sudah berulang kali berduel dengannya, aku sangat mengerti. Dialah penyihir nomor satu dalam sejarah Kekaisaran.

Melihat adiknya juga memiliki Skill yang berguna, harus kuakui keluarga Adipati memang sangat diberkati garis keturunannya. Hanya saja sang kakak terlalu luar biasa.

Jika dipikir secara normal, meski kepribadiannya berantakan, Lawrence tetap memiliki kemampuan nyata karena sanggup mengalahkan Damian yang digadang-gadang bakal menjadi anggota OSIS berikutnya.

"Karena dia sudah mengalahkan Damian, mungkin saja dia akan terpilih sebagai anggota OSIS berikutnya."

"Meskipun belum bisa menggunakan tingkat tinggi, jika dia sanggup menggunakan sihir tingkat menengah, kemungkinan itu ada."

"Fufu, jika ada kesempatan untuk berduel dengannya, kita akan tahu sampai tingkat mana sihir yang bisa ia kuasai. Aku jadi tidak sabar."

"Aku juga penasaran, tapi tolong jangan sampai kelepasan dan menghancurkan murid baru yang menjanjikan, ya?"

"Itu tergantung dirinya sendiri."

Sambil berbincang, kami menyelesaikan tugas-tugas OSIS yang menumpuk.

Jika tidak mencicil tugas-tugas prioritas rendah di waktu luang seperti ini, pekerjaan hanya akan terus menggunung.

Aku pun sudah mulai berpikir untuk merekrut anggota baru sebagai tenaga bantuan administrasi, jadi mungkin tak ada salahnya mencoba mendekati Lawrence dalam waktu dekat.

Olivia berpikir bahwa saat itulah ia akan mengajaknya berduel.

── Sisi Shirley ──

Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang terjadi.

Tak pernah terbayang olehku kalau Damian, orang yang kukenal, sanggup membunuh orang dengan begitu mudah tanpa ragu sedikit pun.

Saat tubuhku terempas oleh sihir angin menuju "Mulut Neraka", logikaku tidak sanggup mengejar keadaan dan aku mulai panik.

Wajah Damian yang terlihat kesepian namun sekaligus tampak lega saat menatapku, terpatri jelas di ingatanku. Sebenarnya, apa yang telah kuperbuat padanya?

Apakah aku melakukan sesuatu yang pantas membuatku dijatuhkan ke "Mulut Neraka", bahkan sampai menyeret teman-temanku seperti Lawrence-kun dan Fran?

Seberapa keras pun aku memeras otak, aku tidak merasa pernah melakukannya, bahkan tidak ada satu pun hal yang terlintas di pikiranku sebagai penyebabnya.

Belakangan ini, hal yang "tidak kulakukan" pada Damian hanyalah mengabaikan perintahnya untuk terus berada di sisinya, dan lebih memilih bersama Lawrence-kun dan Fran.

Memang benar hal itu memicu Damian menantang duel Lawrence-kun dan berakhir kalah, tapi bagi orang normal, menjatuhkan seseorang ke "Mulut Neraka" hanya karena alasan itu benar-benar tidak masuk akal.

Kalau diingat lagi, saat pertama kali bertemu, Damian jauh lebih baik daripada sekarang.

Namun entah sejak kapan, ia mulai sering mengerjaiku, lalu mulai memerintahku untuk "tetap berada di sisinya" saat di pesta, hingga akhirnya meledak marah hanya karena aku menyapa laki-laki lain.

Aku tidak tahu kenapa ia berubah seperti itu, tidak tahu juga kenapa ia begitu terobsesi padaku.

Meski begitu, memang benar bahwa waktu yang kuhabiskan bersama Damian sebelum ia berubah adalah kenangan berharga bagiku.

Karena itulah aku terus bertahan selama ini, berpikir "mungkin suatu saat ia akan kembali ke dirinya yang dulu", tapi nyatanya hari itu tidak pernah datang...

Sebenarnya untuk apa aku hidup?

Ingatanku tentang orang tua dan saudara hanya berisi hinaan atau perlakuan yang mendekati penyiksaan.

Damian pun mulai aneh dan memperlakukanku seperti barang.

Saat akhirnya aku mendapatkan dua orang teman sejati, saat aku mulai merasa "ternyata setiap hari bisa semenyenangkan ini", dan mulai bersemangat membayangkan masa depan akademi yang ceria... Damian justru mengempaskan aku bersama teman-temanku ke "Mulut Neraka".

Andai hanya aku yang terempas, mungkin tidak apa-apa. Namun, aku merasa sangat menyesal karena telah melibatkan Lawrence-kun dan Fran.

Jika akan berakhir seperti ini, harusnya sejak awal aku menurut saja pada perkataan Damian. Dengan begitu, Lawrence-kun dan Fran tidak perlu terseret dalam masalah ini.

"Maaf, saya lancang ya."

"……Eh? Eh? Eeh!?"

Saat aku mengira akan mati bersama Lawrence-kun dan Fran, sambil menangis menyesali masa lalu yang terlintas seperti film pendek, tiba-tiba Fran menggendong tubuhku ala putri di udara.

Ia lalu memutar dua helai rambutnya dengan sangat kencang hingga ia terbang—tepatnya, jatuh dengan sangat lambat—di angkasa.

"Ter-terbang……!?"

"Syukurlah saya sudah diajarkan cara terbang di udara oleh Flame. Namun, sepertinya saya belum sanggup membawa seseorang sambil terbang naik, jadi kita tidak bisa kembali ke atas. Tapi selama kita bisa menghindari jatuh dan mati, ini sudah hasil yang sangat bagus, kan?"

"Ba-bagaimana dengan Lawrence-kun!?"

"Aku tidak apa-apa. Kalau sendirian sih aku bisa saja kembali ke atas, tapi tidak mungkin aku meninggalkan kalian berdua. Jadi aku ikut turun saja ke dasar 'Mulut Neraka' bersama kalian... Lagipula, dasar 'Mulut Neraka' aslinya adalah area terlarang, jadi tidak ada kesempatan berkunjung kecuali dalam situasi darurat seperti ini. Kalau soal ini, jika kita jelaskan alasannya nanti, pasti akan dimaafkan."

Aku merasa lega sesaat karena sepertinya kami akan selamat. Namun saat teringat Lawrence-kun dan refleks berteriak, aku melihatnya sedang terbang biasa saja di sampingku.

Bahkan, ia menyebut kejadian dilempar oleh Damian ini sebagai "kesempatan bagus".

"Eh……? Itu…… dasar 'Mulut Neraka' bukannya lubang raksasa yang terbentuk akibat serangan salah satu ras naga di bagian terdalam dungeon? Dengan kata lain, kita akan langsung mendarat di dasar terdalam... yang berarti ada monster-monster seperti yang membuat lubang ini, kan……?"

"Ya, justru karena itulah dari dulu aku ingin ke sini. Kesempatan untuk membasmi monster di lantai terdalam hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih seperti petualang Rank SSS, penyihir istana, atau Tujuh Ksatria Kekaisaran. Aku sudah tidak sabar membayangkan material apa yang bisa kudapatkan!! Aku sampai ingin berterima kasih pada Damian karena memberiku kesempatan ini!!"

Melihat Lawrence-kun yang entah kenapa malah senang bisa ke lantai terdalam, aku bertanya, "Bukankah itu berarti ada monster dengan kekuatan di luar nalar?". Dan ia malah menjawab, "Justru itu alasannya aku ingin ke sini dari dulu."

Memang benar Lawrence-kun sangat kuat sampai bisa menang mudah melawan Damian, tapi lantai terdalam dungeon—kecuali yang kami kunjungi sekarang—semuanya dikelola oleh Kekaisaran.

Hanya orang-orang yang setara dengan pahlawan yang diizinkan masuk. Dengan kata lain, bagi siapapun di bawah level itu, bukankah ini tingkat kesulitan yang pasti akan berujung kematian……?

Saat aku menanyakan hal itu, Fran menjawab dengan penuh percaya diri, "Tidak apa-apa, kok!!". Entah dari mana datangnya kepercayaan diri itu……?

Bagi kami yang hanya siswa, apalagi baru masuk akademi, kurasa ini mustahil untuk dihadapi. Namun, baik Lawrence-kun maupun Fran sama sekali tidak terlihat tegang.

Sebaliknya, mereka berekspresi seperti anak kecil yang baru diberi mainan. Melihat mereka berdua, anehnya aku mulai merasa "mungkin memang tidak apa-apa".

"Saya juga tidak sabar ingin memastikan sejauh mana saya telah menjadi kuat!!"

Meski mereka berdua bilang sangat menantikan jatuh ke "Mulut Neraka", tetap saja aku tidak bisa menahan rasa cemas.

Seberapa pun kuatnya mereka berdua, tempat ini adalah area terlarang karena dianggap berbahaya bahkan bagi mereka yang telah mencapai level pahlawan.

Bukannya aku tidak percaya, tapi merasa cemas adalah hal yang manusiawi, kan?

"Aku mengerti, meskipun aku bilang jangan khawatir, rasanya sulit mempercayai kata-kata dua orang siswa biasa. Jadi, biar membuat Shirley tenang, aku akan tunjukkan kemampuanku. Sihir Es Tingkat Tujuh: Setsugekka."

Begitu Lawrence-kun mendarat di dasar "Mulut Neraka", ia langsung membekukan monster-monster yang mengepung kami—seolah mereka sudah merasakan sihir Lawrence dan menunggu kami jatuh—dengan satu sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya. Es yang menutupi monster-monster itu membentuk rupa bunga, lalu pecah berkeping-keping.

"L-luar biasa……"

Siapa sangka ia punya kekuatan sebesar ini…… tak heran Damian tidak bisa menang.

Malah, aku sangsi apakah ada orang lain yang sanggup menggunakan sihir tingkat tujuh?

Meski menggunakan sihir tingkat tinggi seperti itu, Lawrence-kun sama sekali tidak terlihat lelah.

Melihat sosoknya, dalam hati aku merasa "iri". Andai saja aku punya bakat seperti Lawrence-kun, mungkin aku bisa hidup bahagia bersama keluargaku... Aku sampai memikirkan pengandaian semacam itu.

"Hei, bagaimana caranya agar bisa menjadi kuat seperti Lawrence-kun?"

Tanpa sadar, aku menanyakan hal itu padanya.

"…………"

"Ah, ma-maaf!! Kalau tidak mau memberitahu, tidak apa──"

Saat aku menyadari bahwa pertanyaanku sangat tidak sopan, semuanya sudah terlambat.

Aku bisa melihat Lawrence-kun tampak bingung bagaimana harus menjawab.

Hal seperti itu, ia pasti sudah melakukan usaha di luar nalarku sejak kecil. Aku pun tersadar bahwa aku masih saja bergantung pada khayalan kalau "aku yang tidak berbakat pun bisa segera menjadi kuat".

Rasanya memalukan, juga merasa bersalah…… apa yang sedang kulakukan, sih.

"Bukannya aku tidak mau memberitahu, tapi ini bukan sesuatu yang bisa dibocorkan ke luar... Tentu saja bukannya aku tidak mempercayai Shirley, tapi kita harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan."

Namun, Lawrence-kun tidak marah ataupun menegurku. Ia tetap menjawab. Nada bicaranya seolah mengisyaratkan bahwa memang ada cara untuk menjadi kuat.

Tentu saja aku lega karena tidak dibenci olehnya, tapi lebih dari itu, aku sangat penasaran dengan alasan tersiratnya.

"……Kau penasaran?"

"Aku sangat penasaran!! I-i-i-i-itu artinya aku pun…… aku yang tidak berbakat ini pun bisa menggunakan sihir seperti Lawrence-kun!? A-aku bersedia melakukan apa saja untuk itu!!"

Benar, untuk hal itu, aku bersedia melakukan apa saja. Jika disuruh meminum air lumpur pun akan kulakukan, menjilat kaki pun akan kulakukan, dan itu…… jika disuruh melayani di ranjang pun aku akan melakukannya dengan senang hati... maksudku, kalau orang pertamaku adalah Lawrence-kun, aku malah senang... eh, lupakan itu!

Intinya, aku ingin keluar dari situasiku yang sekarang. Setiap hari dihina dan diperlakukan kasar oleh orang tua serta saudara, direndahkan oleh Damian, dan ditatap dengan pandangan yang sama serta digunjingkan oleh bangsawan lain beserta anak-anak mereka……

Aku sudah muak……

Entah sudah berapa kali aku terpikir untuk mati. Tapi aku juga benci diriku yang bahkan tidak punya keberanian untuk mati. Aku benci segalanya.

Meski aku ingin mengubah dunia ini, aku yang tidak punya bakat sihir tidak pernah membuahkan hasil seberapa keras pun aku berusaha.

Akhirnya aku mencoba berjuang setidaknya dalam pelajaran, tapi bagi orang tua dan saudaraku, itu pun hal yang tidak berarti.

"Paham, aku paham, jadi tenanglah dulu!"

"Maafkan aku…… tapi aku──"

"Aku sangat mengerti perasaanmu, tapi apa harus sekarang? Bagaimana kalau setelah kita naik ke permukaan, kau menandatangani kontrak sihir, lalu aku jelaskan caranya, baru setelah itu kau pastikan apakah mau menerimanya atau tidak?"

"Ja-jadi benar-benar ada cara agar aku pun bisa kuat!! Aku tidak minta menjadi sekuat Lawrence-kun, tapi aku ingin menjadi lebih kuat dari orang tua dan saudara-saudaraku!! Jadi tolong beritahu aku caranya!! Jika isinya begitu rahasia sampai harus menandatangani kontrak, jadikan aku budakmu pun tidak apa-apa!! Aku sudah benar-benar tidak tahan lagi!!"

"…………Aku mengerti, jadi tenanglah dulu. Tapi apa benar kau bersedia dijadikan budak? Aku mungkin akan melakukan hal-hal yang kejam, lho?"

"Aku berani menjamin itu jauh lebih baik daripada hidupku selama ini. Jika menjadi budak Lawrence-kun bisa membuatku tahu rahasia untuk menjadi kuat, aku tidak keberatan……!"

Karena sudah bicara sejauh ini, aku hanya tinggal maju terus. Mungkin kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.

Sambil berpikir demikian, aku memohon dengan putus asa kepada Lawrence-kun.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close