Chapter 1
Awal Kehidupan
Akademi
Lima tahun telah berlalu sejak Sicil sang Dark Elf menjalin
kontrak pelayan denganku.
Kini aku telah
berusia lima belas tahun, usia di mana aku harus masuk ke Akademi Sihir Negeri
Kekaisaran.
"Bagaimana
menurut Anda, Tuan Lawrence!?"
"Ya, seragam
akademi itu sangat cocok untukmu. Fran memang terlihat pantas memakai apa
saja."
"A-anu...
terima kasih banyak. Ta-tapi, menurutku Tuan Lawrence juga sangat cocok
mengenakan seragam akademi itu. Saking cocoknya, wajah pria lain jadi terlihat
seperti kentang di mataku."
Saat
mengatakan itu, rambut Fran hari ini pun berputar-putar dengan lincahnya.
Dalam
lima tahun ini, Fran juga sudah terlihat jauh lebih dewasa. Pertumbuhan di
bagian dadanya pun sangat menjanjikan, bahkan saat ini sudah terlihat jelas
lekukan yang menonjol secara kasat mata.
Atau lebih tepatnya, ukurannya sudah lumayan besar.
Dan
pertumbuhan itu bukan hanya soal lekukan tubuh, melainkan juga raut wajahnya.
Di balik
sisa-sisa wajah kekanakannya, kini mulai terpancar aura kedewasaan yang sangat
proporsional, tanda bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi wanita yang sangat
cantik.
Fran
pasti akan menjadi sangat populer nantinya.
Buktinya,
meski saat ini dia sudah memiliki tunangan sepertiku, kudengar seminggu setelah
dia menghadiri sebuah pesta bersamaku, ada begitu banyak surat lamaran
pertunangan yang datang silih berganti.
Memang
benar, dengan penampilannya yang sekarang, tidak aneh jika aku di kehidupan
sebelumnya—saat masih seumuran dia—bakal jatuh cinta pada pandangan pertama.
Begitulah
pesona Fran yang sekarang, seorang wanita yang begitu memikat.
Namun,
meskipun sekarang Fran sedang memonopoli pandangan orang-orang di sekitarnya,
aku tahu alasan mereka menatapnya bukan hanya karena kecantikannya semata.
Sama
seperti Fran yang bertumbuh, rambut bor atau drill-nya pun ikut
bertumbuh, dan dampak visualnya sungguh luar biasa.
Yah, siapa pun
pasti bakal penasaran melihatnya, kan....
Aku sendiri pun
sejak dulu selalu dibuat penasaran oleh pertumbuhan rambut bor itu.
"Jadi, Tuan
Lawrence akan tinggal di mana selama di sini?"
"Keluargaku
punya vila di Ibu Kota, aku berencana menggunakan tempat itu. Kakakku juga
tinggal di sana sampai beberapa waktu lalu, jadi furnitur dan kebutuhan
sehari-hari sudah lengkap."
"Mendengarnya
membuatku merasa lega."
Mulai sekarang,
kami akan tinggal jauh dari orang tua demi menghadiri akademi. Saat aku
menjawab pertanyaan Fran tentang tempat tinggalku, dia memberikan jawaban yang
terasa agak ganjil.
"Apa
maksudmu dengan merasa lega?"
"Lho, dari
reaksi Anda, sepertinya Tuan Lawrence memang belum dengar apa-apa, ya. Mulai
hari ini, aku akan tinggal di vila yang sama dengan Tuan Lawrence—di bawah satu
atap yang sama, lho."
"……Hah?"
"Ngomong-ngomong,
ini sudah mendapat restu dari kedua keluarga, jadi Tuan Lawrence tidak perlu
khawatir. Hanya saja..."
"…………Hanya
saja apa……?"
"Ayahku
sempat berkoar, 'Karena kalian tinggal bersama, kalian harus langsung menikah
begitu lulus akademi. Tentu saja, kalau putriku sampai hamil saat masih
sekolah, kalian harus segera menikah saat itu juga!' Begitu katanya!!
Aku sendiri sebenarnya ingin segera menikah sekarang juga... jadi, anu... saat
waktunya tiba nanti, mohon bersikap lembut padaku, ya……"
"…………Ehem,
hal semacam itu sebaiknya kita lakukan setelah resmi menikah nanti, oke?"
"……M-maaf.
Aku terlalu bersemangat sampai bicara melantur begitu.... A-apakah Anda
menganggapku wanita tidak sopan?"
Bagi aku yang
masih membawa nilai-nilai dari kehidupan sebelumnya, seberapa pun lazimnya hal
itu di dunia ini, aku tidak sanggup bernafsu pada anak usia sekolah yang masih
berumur dua belas sampai delapan belas tahun.
Memang benar di
Jepang zaman dulu atau masa abad pertengahan, menikahi gadis yang masih sangat
muda bukanlah hal aneh. Namun, bukan berarti nilai-nilai di dalam diriku ikut
runtuh.
Jadi, ketika aku
menegaskan pada Fran bahwa perbuatan semacam itu hanya boleh dilakukan setelah
menikah secara resmi, dia sepertinya baru menyadari apa yang baru saja dia
katakan. Wajahnya memerah padam sambil bertanya dengan cemas apakah aku
menganggapnya tidak sopan.
"Tidak,
bukan begitu kok. Aku juga senang dan menantikan waktu kita tinggal bersama
nanti."
Aku
benar-benar tidak menganggapnya tidak sopan. Meski awalnya sempat terkejut, aku jujur
menantikan kehidupan bersama kami, jadi kusampaikan saja perasaan itu padanya.
"B-benarkah? Sy-syukurlah. …………T-tapi, kalau cuma
ciuman…… tidak apa-apa, kan?"
"Eh? Maaf. Bagian terakhirnya sepertinya kurang
terdengar jelas. Bisa diulangi lagi?"
"T-tidak ada apa-apa kok!! O-oh, benar juga! Karena
kita akan mulai tinggal bersama di sarang cinta kita... maksudku, di vila
keluarga Westgaph, mari kita periksa barang kebutuhan apa saja yang perlu
dibeli! Kakak Anda baru saja tinggal di sana, jadi mungkin ada beberapa stok
yang perlu diisi ulang!"
Sepertinya Fran juga sudah berada di usia di mana ia mulai
tertarik pada urusan asmara seperti gadis seumurannya. Meski begitu, menurutku perbuatan 'seperti itu'
sebaiknya dilakukan saat usia kami sedikit lebih matang.
Meskipun hanya
ciuman, aku belum bisa membangkitkan perasaan semacam itu terhadap gadis
berusia lima belas tahun.
Maaf ya, Fran,
tapi kuharap kamu bisa bersabar untuk sementara waktu.
Sengaja
aku berpura-pura menjadi karakter utama harem yang bebal dan bertanya
balik. Karena tadi dia hanya bergumam sendiri, Fran sepertinya malu untuk
mengulanginya.
Dia segera
mengalihkan topik dan mengajakku memeriksa vila yang akan kami tempati. Aku pun
setuju.
Ngomong-ngomong,
Kakakku sudah mendapatkan pekerjaan tahun ini. Dia mulai bekerja sambil menetap
di asrama Penyihir Istana.
Katanya, dia akan
bekerja di sana selama beberapa tahun sebelum nantinya mewarisi rumah utama.
Dia sengaja bekerja untuk mendapatkan pengalaman di tempat lain serta gelar
sebagai mantan Penyihir Istana.
Dia sudah
mendapatkan tawaran pekerjaan di antara masa kelulusan dan sebelum upacara
pembukaan sekolah baru dimulai. Kakakku memang hebat sejak dulu, selalu
membuatku bangga.
Kalau aku, saking
inginnya jadi pelajar lebih lama, aku pasti akan memilih tetap bersekolah
sampai batas waktu terakhir jika memungkinkan.
Selain itu, kali
ini aku membawa para budak yang telah kusembuhkan untuk bekerja sebagai pelayan
dan pengawal pribadi.
Ayahku sempat
bertanya apakah jumlah pelayannya tidak terlalu sedikit. Wajar jika beliau
berpikir begitu menurut standar umum.
Membersihkan satu
vila saja sudah sangat melelahkan, belum lagi urusan makan, cuci baju,
menyiapkan air mandi, hingga merapikan tempat tidur.
Ada segunung
pekerjaan yang harus dilakukan, dan semakin besar rumahnya, semakin berat
bebannya.
Meski lebih kecil
dari rumah utama, vila milik keluarga Adipati tetaplah luas. Jauh lebih besar
daripada vila milik rakyat jelata yang kaya sekalipun.
Namun,
budak-budakku telah berkembang jauh melampaui imajinasiku.
Kecepatan belajar
mereka seperti spons kering yang menyerap air; mereka menguasai sihir dan ilmu
beladiri dengan cepat.
Untuk urusan
bersih-bersih, dengan bantuan sihir angin dan air, rumah sebesar vila kami bisa
diselesaikan dengan santai oleh satu orang budak saja dalam waktu kurang dari
satu jam.
Sihir memang
terlalu praktis. Namun, sepertinya arus utama di dunia ini masih menggunakan
sihir dengan atribut tunggal. Mereka belum menyadari luasnya manfaat dan
potensi dari penggunaan sihir dalam kehidupan sehari-hari.
Terlebih lagi,
nilai-nilai 'Sihir adalah untuk bertempur' masih tertanam kuat.
Akibatnya, meski
seseorang bisa menggunakan sihir api, menggunakan sihir untuk menyalakan kayu
bakar dianggap sebagai tindakan orang miskin yang tidak mampu membeli batu
ajaib—tindakan yang sering diejek oleh sesama bangsawan.
Karena budaya dan
nilai-nilai seperti itu, berdasarkan pengetahuan dari buku-buku di rumah, bisa
dibilang ilmu sihir hampir tidak mengalami kemajuan selama beberapa ratus tahun
terakhir.
Sebagai tambahan,
Sicil dan para Dark Elf lainnya bisa datang dan pergi kapan saja asalkan ada
bayanganku. Jadi, secara teknis, aku membawa pasukan rahasia berisi ratusan
Dark Elf ke Ibu Kota.
"Hmm,
sepertinya tidak ada barang yang kurang. Kakak memang hebat. Dia pasti mengisi
ulang stok kebutuhan sehari-hari sebelum pergi demi orang yang akan memakai
tempat ini berikutnya."
"Benar-benar sosok kakak yang membanggakan bagi Tuan
Lawrence ya!! ……Tapi, kalau begini kita jadi tidak bisa pergi kencan."
Ternyata Kakak sudah menyiapkan semuanya, jadi kami tidak
perlu pergi belanja. Fran memujinya, namun setelah itu kudengar dia bergumam
pelan tentang keinginannya pergi ke kota bersama.
Kalau aku
karakter utama harem yang bebal, aku pasti akan menyahut 'Eh? Apa
katamu?'. Tapi karena aku tidak bebal, keras kepala, ataupun tidak peka, aku
mendengarnya dengan sangat jelas.
"Tapi karena
stoknya sudah penuh, kita jadi punya waktu luang. Bagaimana kalau kita pergi ke
kota bersama untuk mengisi waktu? Fran."
"I-iya!! Aku
mau ikut!!"
Begitu aku
mengajak Fran jalan-jalan ke kota sekalian melihat-lihat situasi Ibu Kota,
wajahnya langsung berbinar bahagia dan menyetujuinya.
Fran juga membawa
seorang pelayan wanita dari rumahnya untuk mengurus keperluan pribadinya.
Lagi pula, dengan
adanya pelayan yang kami bawa, tidak mungkin terjadi 'apa-apa' di antara kami.
Karena aku tidak punya keberanian maupun fantasi untuk melakukan hal mesum,
sepertinya rencana orang tua kami bakal meleset.
Namun, orang tua
kami menganggap pelayan sebagai manusia dari dunia yang berbeda, jadi mereka
pikir kami tidak akan merasa malu meski dilihat saat sedang 'beraksi'. Mungkin
begitulah cara pandang bangsawan yang sebenarnya.
Tapi bagiku,
pelayan dan budak adalah manusia yang sama. Meski tidak terikat darah, mereka
adalah bagian dari keluarga.
Hanya karena Ayah
punya cara pandang berbeda, bukan berarti aku akan mengubah nilai-diriku
terhadap pelayan dan budak.
Ini mungkin
pengaruh besar dari lingkungan tempatku dibesarkan dulu. Dengan ingatan masa
laluku, nilai-nilaiku sudah paten dan tidak akan berubah sekarang.
Apalagi
saat melihat ekspresi mereka yang begitu bersemangat.
Dan coba
bayangkan, apakah mungkin seseorang bisa bermesraan di rumah yang ada
keluarganya? Tentu saja mustahil.
Ditambah
lagi Fran masih terlalu muda, jauh di luar zona seleraku (wanita akhir usia
20-an), jadi bagaimanapun juga tidak akan terjadi apa-apa.
Sambil
memikirkan hal itu, aku naik ke kereta kuda yang telah disiapkan Keith.
Fran
sepertinya sama sekali tidak tahu apa yang sedang kupikirkan. Dia tampak sangat
menantikan kunjungannya ke pusat Ibu Kota, terlihat dari dua rambut bornya yang
berputar-putar dengan semangat.
Saat
memperhatikan bor milik Fran, aku menyadari bahwa dibandingkan waktu kecil,
putarannya sekarang jauh lebih stabil dan suaranya pun lebih halus.
Apa dia memasang
bantalan peluru atau semacamnya?
"A-ada apa?
Tuan Lawrence. Anda terus-menerus memandangi rambutku seperti itu……"
"Tidak,
hanya terpikir kalau rambutmu (putarannya) indah sekali."
"Te-terima
kasih banyak……"
"Tapi Fran
jauh lebih cantik kok. Kita baru sebentar tidak bertemu, tapi kamu jadi semakin
cantik ya."
"A-anu…… a-aku senang sekali. Ta-tapi Tuan Lawrence juga, itu…… sangat
tampan……"
"Iya. Terima
kasih."
Setidaknya dengan
begini, aku berhasil menutupi fakta bahwa aku sebenarnya sedang memperhatikan
kecepatan putaran rambut bornya.
◆
Begitulah, aku
dan Fran menghabiskan waktu dengan berkeliling Ibu Kota hingga hari upacara
pembukaan akademi sihir tiba. Dihadiri oleh orang tua kedua belah pihak, aku
dan Fran resmi menjadi murid Akademi Sihir Negeri Kekaisaran.
Dan hari ini
adalah hari pertama kami bersekolah.
"Tuan
Lawrence, Nona Fran, kereta kuda sudah siap."
"Terima
kasih, Keith. Mari,
Fran, kita berangkat."
"I-iya!"
Aku dan
Fran naik ke kereta kuda yang disiapkan Keith.
Tapi
sungguh, aku tidak menyangka Keith akan berkembang sejauh ini; tidak hanya
bersikap layaknya kepala pelayan profesional, tapi dia juga ahli beladiri dan
bahkan bisa menjadi kusir.
Dulu aku
pikir kalau dia bisa membantu urusan petualang sebagai asisten Flame saja sudah
syukur, jadi perkembangan ini sangat memuaskanku.
Kereta
yang membawa aku, Fran, dan para pelayan menempuh perjalanan selama setengah
jam hingga sampai di Akademi Sihir.
Meski
sudah pernah berkunjung sekali saat upacara pembukaan bersama orang tua,
melewati gerbang besar yang menjadi simbol akademi ini sebagai seorang murid
tanpa pendampingan orang tua tetap memberikan kesan yang mendalam.
Mungkin
Fran merasakan hal yang sama, tangannya yang menggenggam tanganku terasa
sedikit lebih erat.
"Kalau
begitu Tuan Lawrence, saya akan memarkir kereta kuda dulu."
"Terima
kasih, Keith."
Aku
menggenggam tangan Fran dan melangkah masuk ke area akademi.
"R-rasanya
agak gugup ya……"
"Tenang
saja, Fran. Selama beberapa tahun ini kamu sudah diajari banyak hal oleh Flame.
Dalam hal sihir maupun beladiri, aku yakin kamu sudah lebih kuat daripada kakak
kelas di sini. Lagipula, ada aku bersamamu."
"Iya,
Anda benar! Ada Tuan Lawrence bersamaku!! Lagipula, aku punya ilmu sihir dan
beladiri yang diajarkan Kakak Flame!! Tidak ada yang perlu ditakutkan!!"
Ya. Fran
yang penuh semangat seperti biasa telah kembali. Putaran bornya pun sudah
berputar-putar dengan mantap.
Lalu kami
memeriksa nama dan kelas kami di papan pengumuman yang diletakkan di depan
gedung sekolah.
Berhubung
aku dan Fran adalah tunangan, sudah ditetapkan bahwa kami akan berada di kelas
yang sama. Aku sangat bersyukur kami tidak terpisah.
Baik aku
maupun Fran selama ini jarang menghadiri pesta-pesta bangsawan (karena kami
sudah punya tunangan, jadi tidak perlu mencari pasangan, dan karena kami tidak
akan mewarisi gelar, jadi tidak perlu pamer wajah), jadi kami tidak punya
kenalan sama sekali.
Menghadapi
hari pertama sekolah dan pelajaran pertama tanpa ada kenalan itu cukup
mencemaskan, jadi kehadiran Fran benar-benar membantuku secara mental.
Kami
menuju kelas yang telah ditentukan.
Di kelas
itu, terdapat papan tulis persegi panjang di dekat pintu masuk, dan di
sekelilingnya terdapat meja panjang melengkung yang semakin tinggi ke arah
belakang.
Sudah ada
beberapa murid yang datang. Begitu mereka menyadari ada yang masuk, mereka
memeriksa wajah kami. Namun segera setelah itu, mereka semua seolah kehilangan
minat, memalingkan muka, dan melanjutkan obrolan dengan orang di dekat mereka.
Meskipun
kami putra dan putri dari keluarga Adipati dan Baron, sepertinya karena kami
tidak akan mewarisi keluarga, kami diperlakukan selayaknya rakyat jelata. Aku
sudah menduganya, tapi melihatnya secara langsung membuatku sedikit kecewa.
Sebab, masa-masa
paling bersinar di kehidupan laluku adalah saat-saat menjadi pelajar.
Dari SD sampai
kuliah, masa itu berkali-kali lipat lebih menyenangkan daripada saat aku
bekerja di perusahaan hitam (black company) di mana aku pulang ke rumah
hanya untuk tidur. Dulu aku percaya tanpa ragu bahwa masa depan cerah sebagai
pekerja kantoran yang bahagia sudah menanti.
Menikah di usia
pertengahan 20-an, punya anak, lalu membeli rumah di usia 30-an... Kalau
dipikir-pikir sekarang, saat itu aku benar-benar bahagia sampai bisa berpikiran
seperti itu.
Itulah sebabnya
aku tidak pernah bermimpi bahwa perusahaan semacam itu benar-benar ada.
"Ada apa,
Tuan Lawrence?"
"Tidak ada
apa-apa kok. Mari kita duduk."
"Iya!"
Saat aku sedang
terpaku karena teringat kenangan indah sekaligus pahit secara bersamaan, Fran
bertanya dengan nada cemas. Aku berhenti bernostalgia dan memilih duduk di
kursi barisan belakang dekat jendela.
Alasan memilih
kursi belakang dekat jendela adalah karena aku sangat mendambakannya gara-gara
pengaruh komik dan anime. Tidak ada alasan khusus lain. Jika ingin fokus
belajar, jelas barisan depan jauh lebih baik, jadi sebenarnya duduk di belakang
tidak punya keuntungan apa pun.
Aku sempat
bertanya pada Fran apakah dia tidak keberatan duduk di belakang, dan dia
menjawab 'Tidak masalah sama sekali', jadi aku langsung duduk di sana tanpa
ragu.
Anehnya, meski
aku sempat mengira teman sekelas bakal mendatangi dan memancing keributan, hal
itu tidak terjadi. Pelajaran berjalan lancar tanpa hambatan dan tiba-tiba saja
sudah waktu pulang.
Mungkin mereka
memang tidak tertarik pada kami, atau mungkin tidak punya nyali untuk mencari
gara-gara.
Aku pikir bakal
ada kejadian 'diajak berantem di hari pertama sekolah' seperti di cerita-cerita
dunia lain, tapi sepertinya hidup memang tidak selalu sesuai ekspektasi.
Ini sebenarnya
bagus, tapi aku jadi merasa cemas; apakah kehidupan sekolahku akan berakhir
tanpa punya teman satu pun?
Bagiku sih tidak
masalah, tapi aku ingin Fran punya kenangan sekolah yang indah, tidak seperti
aku di kehidupan sebelumnya.
◆
── Sisi
Shirley Dantois ──
"Hei
Shirley, kau itu beban di keluarga Dantois, jadi bekerjalah dengan benar demi
kami!! Sialan, kenapa di keluarga kita bisa lahir orang yang tidak punya bakat
sihir sepertimu."
"M-mohon maaf... Kakak."
Aku lahir di keluarga yang unggul dalam ilmu sihir di
Kekaisaran. Orang tuaku, kakak
laki-laki, dan kakak perempuanku semuanya jenius sihir. Hanya aku yang sampai
sekarang hanya bisa menggunakan sihir tingkat dasar untuk keperluan sehari-hari
di semua atribut. Benar-benar memalukan.
Sejak kecil, aku
berjuang keras hanya karena ingin diakui orang tua, ingin mereka
memperhatikanku, dan ingin masuk ke dalam lingkaran keluarga.
Berkat kerja
kerasku dalam ilmu sihir maupun akademik, aku berhasil masuk ke Akademi Sihir
dengan peringkat atas.
Meski di usia
lima belas tahun ini kemampuanku dalam sihir masih nol, aku sempat merasa
senang karena setidaknya bisa memberikan hasil dalam bidang akademik. Namun aku
segera sadar betapa bodohnya aku.
Akhirnya orang
tua akan memujiku. Akhirnya aku bisa diterima di keluarga. Ternyata hanya aku
yang berpikir begitu.
Saat aku
memberitahu orang tuaku bahwa nilai tes tertulisku berada di peringkat atas—
'Terus kenapa?
Apa hal seperti itu berguna di medan perang?'
'Sudah sewajarnya
kau dapat nilai bagus di tes. Tanpa bakat sihir yang unggul, semua itu tidak
ada artinya...'
'Benar-benar
memalukan punya adik yang sengaja melaporkan hal sepele seperti ini.'
'Iya,
benar sekali. Kau juga berpikir begitu, kan?'
'Tentu saja,
Kak.'
Orang tua, kakak
laki-laki, dan kedua kakak perempuanku semuanya mencemoohku.
Aku yang mengira
akhirnya akan diakui sebagai anggota keluarga, mulai merasa patah hati. Apa
gunanya semua kerja kerasku selama ini? Namun di saat itu, ada orang yang
menyapaku.
Mereka adalah
Lawrence Westgaph dan tunangannya, Fran Quvist.
Sejujurnya, aku
pikir tidak akan ada orang di akademi ini yang mau bicara denganku. Aku sudah
menyerah untuk mencari teman.
Fakta bahwa aku
adalah produk gagal sudah menjadi rahasia umum, begitu pula bagaimana
keluargaku memperlakukanku.
Awalnya aku
waspada saat mereka menyapaku, tapi saat mengobrol, tidak ada niat jahat atau
tatapan merendahkan. Rasanya seperti pertama kalinya seseorang melihat 'diriku
sebagai pribadi'.
Aku merasa sangat
senang sampai tanpa sadar aku selalu berada di dekat mereka. Namun, aku merasa
bersalah karena belum menjelaskan 'manusia seperti apa aku ini'. Aku merasa
seperti sedang menipu mereka.
"A-anu...!!"
"Ada apa?
Tiba-tiba serius sekali."
"Sebenarnya..."
Maka, aku
memantapkan tekad untuk menceritakan segalanya kepada mereka berdua yang telah
memperlakukanku sebagai manusia untuk pertama kalinya.
Jika itu mereka,
meski setelah menceritakan semuanya mereka tidak mau lagi berteman denganku,
aku akan menerimanya. Meski akan merasa kesepian, aku hanya akan kembali ke
kehidupanku yang lama. Begitulah perasaan pasrah yang kupendam.
◆
── Sisi
Lawrence ──
"Sebenarnya...
aku memang putri ketiga keluarga Dantois, tapi... anu, aku sama sekali tidak
berbakat dalam sihir dan hanya bisa memakai sihir dasar sehari-hari
saja...!!"
Selama ini,
karena Kakakku yang akan mewarisi keluarga, aku dan tunanganku Fran hampir
tidak pernah muncul di masyarakat bangsawan. Kami hanya melakukan apa yang kami
suka dan melimpahkan semua urusan pertemuan bangsawan yang merepotkan kepada
Kakak.
Karena itulah, di
akademi ini sepertinya sulit mencari teman baru karena semua orang sudah punya
kelompok sendiri. Namun saat melihat sekitar, ada seorang gadis yang tampak
terkucil sendirian seperti kami, jadi aku menyapanya.
Aku sempat
terkejut karena dia ternyata sangat baik dan enak diajak bicara, sampai aku
heran kenapa dia bisa terkucil. Aku menduga pasti ada alasan tertentu.
Dan sekarang,
Shirley memberanikan diri menceritakan alasannya.
Menurutnya,
keluarga Dantois adalah keluarga penyihir hebat, tapi dia sebagai putri ketiga
hanyalah 'produk gagal' yang hanya bisa sihir dasar. Itulah sebabnya dia
diabaikan oleh keluarga maupun teman sekelasnya.
Soal keluarga
Shirley, menurut standar kehidupan laluku, itu jelas termasuk pelecehan.
Sedangkan soal teman sekelas, yah, mereka hanyalah anak bangsawan pada umumnya.
Mungkin mereka
punya nilai-diri untuk tidak menjalin hubungan dengan orang yang tidak
menguntungkan bagi keluarga mereka.
Kalau Shirley
putri sulung, mungkin ada alasan untuk mendekat. Tapi kalau putri ketiga yang
dianggap gagal, dia dinilai tidak berguna bahkan untuk sekadar menambah jumlah
pengikut faksi mereka.
Mungkin alasan
yang sama juga berlaku padaku. Kakakku sudah dipastikan jadi pewaris, dan aku
sudah punya tunangan, jadi tidak ada celah bagi gadis dari keluarga rendah
untuk masuk sebagai tunangan ataupun kepentingan warisan.
"…………"
Saat aku berpikir
begitu, aku menyadari Shirley sedang menunggu jawabanku dengan wajah yang
hampir menangis.
"……Tuan Lawrence."
"Ah, benar juga. Maaf aku lama menjawabnya. Aku juga
minta maaf sudah membuatmu cemas, Shirley."
"Ti-tidak...
aku mengerti kalau orang sepertiku memang tidak pantas ditemani..."
Namun
saat aku hendak menjawab, Shirley salah paham mengira aku akan memutus hubungan
dan dia mencoba beranjak pergi.
"Tunggu
sebentar. Aku sama sekali tidak berniat menjauh darimu. Aku justru ingin kita
tetap berteman akrab mulai sekarang."
"A-aku
juga!! Sebenarnya kami juga cemas apakah bisa punya teman di akademi
ini!!"
Aku menahan
Shirley dan menyatakan keinginan untuk tetap berteman, lalu Fran pun
mengungkapkan kecemasan yang sama padanya.
"I-iya!!
Aku juga sangat ingin tetap berteman dengan kalian berdua!!"
Meski
tidak sampai punya seratus teman, setidaknya aku sendiri ingin menghindari
punya nol teman. Dan karena Fran seolah sulit mencari teman gara-gara
keberadaanku, aku merasa lega setidaknya Shirley bisa menjadi teman bagi Fran.
Aku ingin
Fran punya banyak teman sekolah tanpa perlu terlalu mengkhawatirkanku.
◆
── Sisi
Damian Language ──
Aku
dibesarkan sebagai putra sulung keluarga Marsekal.
Tentu saja,
sebagai pewaris, didikan orang tua dan guru privatku sangat keras. Dulu aku
sering menangis.
Setiap kali itu
terjadi, aku selalu mengadu pada Shirley, putri ketiga keluarga Dantois dari
wilayah tetangga yang merupakan teman masa kecilku.
Dan sekarang,
Shirley yang kurindukan itu justru sedang menodai kenangan manis kami di depan
mataku. Hal itu terjadi setiap hari sejak masuk akademi.
Beraninya Shirley
berbicara dengan pria lain setiap hari padahal ada aku di sini. Sepertinya
sudah saatnya aku memberinya pelajaran.
"Hei,
Shirley."
"I-iya, ada
apa Tuan Damian?"
"Bahkan
tidak tahu kenapa dipanggil... Itulah sebabnya kau dianggap bodoh oleh
keluargamu. Sudahlah. Ada yang ingin kubicarakan nanti setelah sekolah,
tunggulah di kelas."
Aku memberitahu
Shirley untuk tetap di kelas setelah jam sekolah berakhir, lalu aku pergi dari
sana.
"Hmph,
kau tidak lari dan tetap di sini, ya..."
"Iya, karena
Tuan Damian memerintahkan saya untuk menunggu."
Setelah jam
sekolah berakhir, Shirley berada di kelas sendirian seperti yang kuperintahkan.
Sejujurnya, aku sempat berpikir dia tidak akan menunggu, jadi dalam hati aku
merasa lega.
Namun, sikap
Shirley membuatku kesal dan naik pitam.
Meski sikapnya
terlihat seperti biasa, raut wajahnya saat bersama si Lawrence yang payah
itu—pria pecundang yang tidak pernah terlihat di pesta mana pun—benar-benar
berbeda. Belum lagi nada suaranya dan caranya bicara yang santai, semuanya
membuatku muak.
Sebab, setiap
gerak-gerik yang Shirley tunjukkan pada si pecundang itu adalah sesuatu yang
belum pernah dia tunjukkan padaku. Kenyataan itu membuatku sangat marah.
"Baguslah
kalau kau sadar diri. Kalau begitu, kau pasti mengerti kenapa aku menyuruhmu
menunggu, kan?"
"……Tidak,
mohon maaf. Saya tidak mengerti mengapa orang seperti Tuan Damian menyuruh
orang seperti saya untuk menunggu."
Namun, karena
Shirley menuruti perintahku dan tetap berada di sini, aku mengira dia sedikit
banyak sudah mengerti alasan mengapa aku menyuruhnya tinggal.
Tapi di
luar dugaan, dia justru berani mengatakan bahwa dia tidak tahu.
Tolong, siapa
pun, puji aku karena tidak melayangkan tangan saat itu juga.
"Tidak tahu,
katamu? Apa kau sedang bercanda?"
"Tidak, saya
tidak bermaksud..."
"Bagaimana
bisa kau bilang tidak sedang bercanda, sementara alasan aku menyuruhmu tinggal
saja kau tidak tahu!!"
"M-mohon
maaf...!"
"...Hmph,
sudahlah. Anggap saja ini tugasku sebagai sosok bangsawan yang luhur untuk
mengajari orang bodoh sepertimu agar mengerti."
Sejujurnya aku
hampir meledak mendengar ucapan Shirley.
Lagipula, Shirley
adalah tipe wanita yang sudah pasti akan diusir dari rumahnya dan menjadi
rakyat jelata setelah lulus nanti.
Wajar saja kalau
dia sebodoh itu.
Justru karena
itulah, tidak ada gunanya marah kepada orang bodoh seperti ini. Menjelaskan
padanya dengan baik adalah bentuk kemurahan hati dari orang yang berada di
posisi atas.
Berbeda dengan
Shirley yang bodoh, aku ini pintar dan memiliki bakat sihir yang luar biasa
hingga dipuja sebagai anak ajaib. Mungkin memang terlalu kejam jika aku
menuntut Shirley untuk bisa mencapai levelku.
Kemampuanku untuk
tidak marah dan malah memikirkan perasaan lawan bicara inilah yang membuktikan
bahwa aku berada satu tingkat di atas putra-putra sulung bangsawan lainnya.
Tentu saja masih
ada banyak bagian lain dariku yang lebih unggul dibanding orang-orang bodoh
itu, tapi jika aku mulai menjabarkannya satu per satu, matahari bisa keburu
terbenam. Jadi lebih baik cukup sampai di sini saja.
"Te-terima
kasih banyak..."
"Alasanku
menyuruhmu tinggal adalah karena belakangan ini, frekuensi kebersamaanmu dengan
si pecundang Lawrence itu terlalu sering. Mengapa kau berada di sisi pecundang
itu dan bukannya di sisiku? Secara logika itu aneh, kan?"
Aku melanjutkan
penjelasanku.
"Lagipula,
dia sudah punya tunangan bodoh bernama Fran yang tidak punya mata untuk menilai
laki-laki. Memang benar, mereka berdua cocok sebagai sesama anak kedua dan
ketiga, tapi jika dia sudah punya tunangan, tidak ada keuntungan bagimu untuk
bersikap manis padanya."
"E-etoo... Lawrence-kun adalah temanku. Jadi, soal
pertunangan atau... soal untung dan rugi, dia tidak memikirkan hal semacam itu
dan memperlakukanku dengan setara. Aku pun ingin bersikap demikian
padanya...!"
Aku sudah menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana
agar si bodoh ini mengerti.
Namun ketika kutanya mengapa dia tetap berada di sisi
Lawrence padahal tidak ada untungnya, jawaban yang kuterima malah alasan konyol
seperti 'karena teman'.
"...Teman?"
"I-iya."
"Hanya karena hal tidak berguna seperti itu kau berada
di sisi Lawrence sampai sekarang!? Cukup sudah bercandanya. Dengar, ya? Mulai besok, kau harus berada di
sisiku."
Teman?
Teman, katamu? Shirley tidak butuh hal seperti teman!
Mengapa
dia merasa perlu mencari teman baru padahal ada sosok sehebat aku di sini? Aku
benar-benar tidak paham.
"Ta-tapi..."
"Jangan
banyak alasan yang tidak berguna!! Aku, putra sulung keluarga Marquis, sudah
berbaik hati mau meladeni kau yang hanya putri ketiga dari keluarga Earl. Patuh
saja tanpa banyak bicara!!"
"Kyaaa!?"
Padahal
aku sudah memperingatkannya, tapi Shirley masih saja mencoba memberikan alasan
berbelit-belit. Amarah membuat kepalaku memutih, dan tanpa sadar aku
meneriakinya sambil menampar pipinya.
Semua ini salah
Shirley karena tidak mau patuh padaku sejak awal. Aku tidak salah.
"Hmph. Jika
sudah mengerti, mulai besok kau harus berada di dekatku, bukan di dekat
pecundang Lawrence itu."
"Siapa yang kau sebut pecundang? Tidak mungkin
Damian-san yang lebih lemah dariku menyebutku pecundang, kan?"
Tepat saat aku hendak mencengkeram lengan Shirley yang
tersungkur di lantai akibat tamparanku, seseorang menepis tanganku dan
menghalangiku.
"Lo-Lawrence-kun...!"
"Hah? Kau yang tidak pernah terlihat di pesta mana pun
ini berani bilang kalau kau lebih kuat dariku?"
Orang yang menepis tanganku adalah si Lawrence itu. Terlebih
lagi, pecundang ini dengan sombongnya menyatakan bahwa dia lebih kuat dariku.
Paling-pilih dia hanyalah anak kedua yang tidak punya bakat
sihir maupun pedang, makanya dia tidak pernah muncul di panggung publik.
Berani-beraninya dia bicara lancang begini, dia harus membayar harga yang
setimpal.
Karena selama ini dia tidak pernah melihat dunia luar, dia
pasti merasa sudah hebat hanya karena belajar sedikit sihir dan teknik pedang.
"Iya, itulah yang kukatakan. Lagipula, bukankah hasil
ujian masukku untuk teknik pedang dan sihir jauh lebih tinggi darimu?"
"Hmph. Pecundang yang tidak punya pengalaman tempur
nyata sepertimu berani menyombongkan nilai ujian masuk? Tidak tahukah kau apa
itu rasa malu?"
Anak ini lahir di keluarga Duke, pasti dia memberikan suap
dalam jumlah besar kepada penguji saat ujian masuk.
Fakta bahwa dia hampir tidak pernah muncul di pesta
bangsawan mana pun memudahkan siapa pun untuk berimajinasi; bahwa keluarga Duke
menilainya 'tidak layak diperkenalkan ke keluarga lain' atau bahkan 'hanya akan
menjadi aib bagi keluarga Duke'.
Orang semacam itu berlagak seolah hasil ujian masuknya
adalah kebenaran yang mutlak. Bagiku, itu benar-benar konyol.
Selain itu, karena dia tidak pernah muncul di publik, itu
berarti dia hanya beraktivitas di dalam rumah. Dengan kata lain, dia hampir tidak memiliki
pengalaman bertarung yang nyata.
Jika dia
punya pengalaman, setidaknya akan ada desas-desus yang sampai ke telingaku
seperti 'Putra kedua Westgaph menaklukkan dungeon' atau 'Pergi memburu Orc'.
Karena
aku tidak pernah mendengar cerita seperti itu, sudah pasti si pecundang
Lawrence ini tidak punya pengalaman tempur.
Padahal
keluarganya sudah bersusah payah memberinya bantuan melalui suap agar tidak
mempermalukan nama baik mereka, dia justru melakukan tindakan yang mencoreng
nama keluarganya sendiri. Benar-benar malang.
"Malu,
katamu? Aku? Menurutku, kau yang menggunakan kekerasan dan mengabaikan
keinginan Shirley-san jauh lebih memalukan. Shirley-san bukan budakmu, tahu.
Yah, meskipun dia budak sekalipun, aku akan tetap membenci orang yang
memaksakan kehendak dan menggunakan kekerasan pada mereka."
"Heh,
berani juga mulutmu. Jika kau sudah sesumbar begitu, ayo lakukan duel denganku
besok setelah pulang sekolah. Tentu saja kau tidak akan lari setelah bicara
besar begitu, kan?"
Namun, pecundang bernama Lawrence ini sepertinya tidak paham
situasi. Dia malah berani mengatai kalau akulah sosok yang memalukan.
Padahal aku menamparnya demi kebaikan Shirley sendiri. Tidak
ada alasan bagi orang asing untuk mencampuri urusanku.
"Besok
setelah pulang sekolah, ya? Baiklah.
Kau sendiri jangan sampai kabur, ya. Ayo pergi, Shirley. Biarkan saja orang
yang menganggap orang lain sebagai mainan yang bisa digerakkan sesuka hati
ini."
"I-iya...!"
"He-hei!! Tunggu sebentar, Shirley!! Kenapa kau malah mengikutinya!? Bukankah baru saja
kuperingatkan!! Mulai sekarang kau harus di sisiku, bukan di sisi pecundang
ini!!"
"Maafkan
saya, Tuan Damian. Tapi saya bukan boneka milik Tuan Damian."
"Hah? Apa?
Hei!! Aku memikirkan kebaikanmu... Hei!!"
Tanpa
memedulikanku, Lawrence menggandeng tangan Shirley untuk membantunya berdiri,
lalu mencoba keluar dari kelas bersama-sama.
Shirley pun tidak
menunjukkan tanda-tanda menolak dan malah ikut pergi. Aku yang merasa sudah
memberikan peringatan pun berteriak agar dia tetap di sisiku, namun yang
kuterima hanyalah tatapan dingin Shirley dan kata-kata tajam bahwa dia 'bukan
boneka milikku'.



Post a Comment