NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Sandiwara Konyol


"Oho, jadi kamu si anak sombong yang sudah berani mencari gara-gara dengan Tuan Damian?"

"Kelihatannya lemah sekali ya!!"

Keesokan harinya, kabar tentang duelku dengan Damian sepertinya sudah menyebar luas.

Aku dihujani tatapan penuh rasa ingin tahu dari sekeliling, dan para pengikut Damian pun mulai datang mencegatku seperti ini.

"Kalian ini, kasihan dia, hentikanlah. Lagipula dalam setengah hari lagi dia bakal didepak dari akademi ini. Biarkan dia menikmati saat-saat terakhirnya dengan tenang."

"Benar juga! Tuan Damian!!"

"Luar biasa, Tuan Damian!! Anda benar-benar berjiwa besar!!"

"Terima kasih banyak sudah jauh-jauh datang menyapa. Kalau begitu, mohon bantuannya nanti setelah pulang sekolah ya."

"Guh...!"

"Kenapa kau bersikap tenang begitu, hah!? Kau tidak sadar posisi, ya!?"

"Paling juga cuma gertak sambal!"

Orang-orang macam mereka ini memang sengaja melakukan perundungan karena ingin melihat korbannya menderita.

Jadi, kalau aku menunjukkan sikap tidak peduli, mereka tidak akan mendapatkan reaksi yang diharapkan.

Pilihan mereka biasanya cuma dua: mundur atau malah makin bertindak agresif.

"Hmph, nikmatilah ilusi bahwa kau lebih unggul dariku selagi bisa!! Shirley, jangan menyesal nanti saat pecundang ini kalah!! Masih ada waktu kalau kau ingin kembali padaku sekarang!!"

"……Aku percaya pada Lawrence-kun……"

"Guh…… ayo pergi, kalian!!"

"Berani-beraninya dia menolak kemurahan hati Tuan Damian……"

"Ternyata dia sebodoh itu ya."

"Benar-benar orang yang keras kepala."

Karena duel akan berlangsung sepulang sekolah, kemungkinan mereka memilih opsi pertama lebih besar.

Ditambah lagi dengan Shirley yang menolak mereka mentah-mentah, komplotan Damian akhirnya pergi sambil melontarkan makian terakhir.

"Maaf ya? Gara-gara aku... kamu jadi harus duel segala..."

"Tidak perlu dipikirkan. Lagipula yang salah itu jelas Damian dan kawan-kawannya."

"Benar sekali! Lawrence-sama pasti akan menghajar mereka semua!! Aku jadi tidak sabar menunggu duel nanti!!"

"Baguslah kau tidak lari dan benar-benar datang ke sini."

"Yah, tidak ada alasan bagiku untuk lari, kan?"

Sepulang sekolah, kami menuju Arena Ketiga yang sudah ditentukan oleh Damian. Aku sedikit terkejut melihat jumlah penonton yang jauh lebih banyak dari perkiraanku.

Dibandingkan dengan kehidupan laluku, hiburan di dunia ini memang sangat sedikit, jadi duel antarsiswa pasti dianggap sebagai acara hiburan tingkat tinggi.

Akibatnya, berita duelku dengan Damian tersebar dalam sekejap mata.

Sebenarnya aku tidak berniat menyembunyikannya, tapi kalau tahu penontonnya bakal sebanyak ini, harusnya aku mengaturnya secara diam-diam. Tapi ya sudahlah, sudah telat juga.

"Kenapa? Apa kau mulai gemetar melihat jumlah penonton sebanyak ini?"

"Tidak, aku hanya terkejut saja... malah aku merasa kasihan kalau Damian-san kalah di depan orang sebanyak ini. Kalau tahu begini, harusnya aku mengatur agar duelnya tidak ketahuan orang lain."

Yah, karena Damian sendiri tidak mengambil tindakan untuk meminimalisir risiko itu, itu salahnya sendiri. Aku tidak perlu merasa tidak enak.

Jika ada kerugian di pihakku, mungkin itu hanya rasa sedikit perih di hati saat membayangkan betapa malunya Damian setelah kalah dariku nanti.

"Baiklah, masing-masing silakan ambil posisi……"

Karena ini adalah duel resmi antar-bangsawan, kami meminta guru yang sedang luang untuk menjadi wasit sekaligus saksi.

Seorang instruktur wanita yang sepertinya pengajar mata pelajaran sihir melangkah ke tengah arena sambil menguap bosan, lalu menginstruksikan aku dan Damian untuk bersiap.

"Akan kuselesaikan dalam sekejap!!"

"Semoga saja kamu bisa."

"Hmph, menggonggonglah selagi kau masih bisa bersikap sombong."

Sepertinya Damian yang lebih banyak bicara, atau lebih tepatnya dia yang terus memancingku.

Tapi kalau aku meladeni ucapannya, dia pasti akan membalas dengan hinaan yang lebih parah, jadi aku diam saja.

"………Mulai……!!"

"Hmph, rasakan penyesalan karena sudah berani menantangku, dasar sampah yang bahkan tidak bisa muncul di publik!! Sihir Api Tingkat 1: Fireball!!"

"Sihir Api Tingkat 1: Fireball."

"Ugyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! Panas, panas, panas, panas, panassss!!"

"Sihir Air Tingkat 1: Waterball."

"Ababababababa o-o-t-t-t-t-tenggelam abababa!!"

Segera setelah guru memberi aba-aba, aku melihat Damian merapal Fireball, jadi aku memutuskan untuk membalas dengan sihir yang sama.

Saat ini aku menerima manfaat dari berbagai Skill milik para budakku, jadi aku ingin memastikan seberapa besar perbedaan kekuatan yang dihasilkan meski menggunakan sihir yang sama. Sejujurnya, hanya hal itulah yang kurasakan sebagai keuntungan dari duel ini.

Hasilnya, sihir Damian tentu saja tidak mampu menahan sihirku. Dia langsung dilalap api dan berguling-guling di tanah sambil menjerit histeris.

Karena merasa ini bisa berbahaya, aku segera menggunakan Waterball untuk memadamkan apinya. Aku juga buru-buru menolongnya karena melihat guru wasit itu hendak menghentikan pertandingan.

Jujur saja, aku juga manusia. Dihina terus-menerus tentu membuatku kesal. Hanya dengan satu serangan sihir saja belum cukup untuk meluapkan kekesalanku, jadi aku ingin Damian menemaniku sedikit lebih lama.

"Guh…… k-kau, apa yang sebenarnya kau lakukan?"

"Apa maksudmu? Aku hanya menggunakan sihir yang sama."

"Tidak mungkin!! Mana mungkin ada perbedaan kekuatan sebesar itu kalau menggunakan sihir yang sama!! Kau pasti pakai cara curang!! Hei, Guru!! Jangan bengong saja, diskualifikasi dia karena melakukan pelanggaran!!"

"Hmm~~... Sejujurnya aku juga kaget dengan kekuatan tadi. Itu jelas bukan kekuatan Fireball Tingkat 1 pada umumnya—"

"Lalu kenapa tidak langsung didiskualifikasi sekarang juga!? Apa kau sebodoh itu sampai tidak mengerti hal sesederhana ini!?"

"Ya ampun, Damian-kun baru saja menghina wasit, jadi ini peringatan keras ya~~... Kalau sekali lagi, kau akan dianggap diskualifikasi dan kalah.... Dan juga, jangan memotong pembicaraanku.... Memang kekuatannya tidak wajar, tapi dia tidak melakukan pelanggaran apa pun. Mungkin dia punya Skill tertentu~~..."

"Mana ada Skill seperti itu!! Kekuatannya berkali-kali lipat dari Fireball biasa!! Pasti ada kecurangan di sini!!"

Sepertinya Damian sudah menyadari bahwa dia tidak bisa menang melawanku jika pertandingan berlanjut. Dia berusaha membuatku didiskualifikasi, atau setidaknya menghentikan caraku memperkuat sihir. Namun seperti yang dikatakan guru, aku tidak melanggar aturan apa pun. Alih-alih permintaannya dikabulkan, sikap sombongnya malah membuahkan peringatan keras.

"……Benar-benar menyedihkan. Memang benar aku menggunakan Skill untuk memperkuat sihir, dan Fireball tadi sudah kutahan kekuatannya agar tidak sampai membunuhmu. Tapi itu bukan pelanggaran. Menuduh orang curang tanpa bukti, apa itu pantas dilakukan seorang bangsawan? Justru menurutku, Damian-san, kamulah yang melakukan kecurangan."

"Hah!? Kekuatan tadi itu sudah kau tahan!? Kalau ada Skill sehebat itu, harusnya sejak dulu……… Jangan-jangan!?"

"Akhirnya kau sadar ya? Itulah alasan kenapa aku tidak pernah muncul di panggung publik. Jika Skill-ku ketahui orang lain, aku takut secara tidak sengaja akan mengganggu Kakakku yang kucintai dalam mewarisi gelar keluarga."

Tentu saja itu adalah alasan yang masuk akal, tapi aku tidak perlu berbaik hati menjelaskan bahwa aku punya Skill Slave Slavery.

Aku tidak berniat memberitahukannya pada siapa pun kecuali orang yang benar-benar bisa kupercaya.

Ngomong-ngomong, Kaisar adalah ayah dari Ibuku, alias kakekku. Aku sudah menjelaskan tentang Slave Slavery kepadanya di bawah kontrak kerahasiaan. Sebagai ganti agar dia tidak mengganggu cita-citaku menjalani slow life, aku terikat kontrak untuk bertarung sebagai benteng terakhir Kekaisaran.

Benteng terakhir berarti benar-benar pilihan terakhir. Lagipula tanpa kontrak itu pun, aku pasti akan bergerak demi kenyamanan hidupku serta keamanan keluarga dan budak-budakku.

Jadi kontrak itu sebenarnya formalitas saja, tapi bagi Kaisar, itu adalah jaminan rasa aman.

Maka dari itu, meskipun Skill-ku terdengar oleh Kaisar melalui duel ini, keseharianku tidak akan berubah. Itulah sebabnya aku bisa bereksperimen dalam duel melawan Damian ini.

Selain itu, Kakakku sudah dalam tahap pendampingan sebagai sekretaris Ayah untuk mempelajari pengelolaan wilayah. Selama Kakak tidak mati, aku tidak akan mewarisi gelar.

Jadi memperlihatkan sedikit kemampuanku di sini bukanlah masalah besar.

"Lagi pula, rapalanmu terlalu lambat dan kekuatannya terlalu lemah untuk bisa mengalahkanku. Bagaimana kalau kau menyerah saja sekarang sebelum merasakan sakit yang lebih parah? Kalau hasilnya sama-sama kalah, bukankah lebih baik kalah tanpa rasa sakit?"

Namun, aku tidak ingin Damian menyerah sekarang. Aku belum selesai membalas semua hinaan yang dia lontarkan tadi. Aku ingin dia menemaniku sebentar lagi. Karena itu, aku memprovokasinya agar rasa takutnya tergantikan oleh amarah.

"Guh…… k-kurang ajar!! Meskipun sihirmu lebih kuat karena bantuan Skill, itu bukan kekuatanmu sendiri, itu kekuatan Skill!!"

"Ya, memang benar. Tapi akulah pemilik Skill itu, jadi bukankah itu kekuatanku? Kamu juga pakai Skill, kan? Kalau tidak salah Skill yang sedikit meningkatkan kekuatan sihir api? Kamu sendiri pakai Skill, tapi bilang aku curang karena pakai Skill, bukankah itu tidak masuk akal? Selain itu, jangan kira aku tidak tahu kalau kamu memakai cara tidak jujur. Aku akan melaporkannya segera setelah duel ini selesai."

Dia terpancing provokasiku. Wajahnya memerah padam karena amarah.

Di saat yang sama, aku menyentil soal penggunaan alat sihir terlarang yang dia pakai tanpa izin untuk meningkatkan kemampuannya. Ekspresi marahnya seketika berubah menjadi panik.

"Jangan bercanda………… dasar pecundang, jangan berlagak!! Kalau aku menang di sini, semuanya bukan masalah!! Jangan kira kekuatanku cuma sihir!!"

Tikus yang terdesak akan menggigit kucing. Meski dia sudah tahu perbedaan kekuatan kami dari serangan tadi, dia tetap menyerang saat jalan larinya ditutup. Menarik juga.

"Ditambah lagi, tunanganmu dengan rambut aneh itu—"

"Jika sekali lagi kau menghina Fran-ku, berikutnya bukan pedangmu yang kupatahkan, tapi lehermu yang akan kupenggal."

"──Hii…………!?"

Aku tidak keberatan kalau dia menghinaku pecundang, tapi menghina Fran adalah batas kesabaranku. Damian mencabut pedang di pinggangnya dan menyerang, namun aku menangkisnya dengan pedang yang kuambil dari Storage.

Dengan satu tebasan horizontal, aku memotong pedangnya menjadi dua tepat di tengah.

Aku melepaskan sedikit haus darah untuk mengancamnya. Damian seketika tersungkur lemas dan genangan air mulai muncul di sekitar celananya.

Storage adalah salah satu Skill yang berfungsi sama dengan tas penyimpanan. Aku mendapatkannya dari budak yang dijual murah di toko langgananku dan sekarang bisa kugunakan melalui Skill Slave Slavery.

Awalnya aku hanya bisa menyimpan benda seukuran kepalan tangan, tapi dengan menaikkan level Skill-nya, sekarang kapasitasnya sudah sangat besar dan sangat praktis.

Cara menaikkan level Storage cukup mudah, hanya perlu mengalirkan kekuatan sihir secara terus-menerus.

Tentu saja, bagi orang biasa menaikkan levelnya mungkin mustahil. Orang dengan kapasitas sihir besar mungkin hanya bisa menaikkan levelnya sampai satu atau dua, dan level Penyihir Istana mungkin hanya sampai empat atau lima.

Namun dalam kasusku, aku menggunakan kekuatan sihir para budakku sehingga aku berhasil menaikkan level Storage sampai level 20.

Level ini juga berlaku bagi budak pemilik Skill aslinya, jadi secara teknis aku punya dua Storage dengan kapasitas yang sama.

"Ibu Guru, sepertinya Damian sudah kehilangan keinginan bertarung, jadi bisakah aku dianggap pemenang? Oh iya, Damian sepertinya membawa alat sihir ilegal untuk meningkatkan kemampuannya sendiri."

"Memang benar, dia sudah tidak punya semangat bertarung lagi………… pertandingan selesai. Dan Damian, setelah ini datanglah ke ruang guru. Aku ingin mendengar penjelasan lengkap soal kecuranganmu~~……"

Guru itu pun mengumumkan hasil duel dengan suaranya yang terdengar malas dan tidak bersemangat.

── Sisi Kaisar ──

"Oho, jadi Lawrence ditantang duel oleh putra bodoh keluarga Language?"

"Benar, Yang Mulia. Sepertinya duel akan dilaksanakan esok hari."

Pertama kali aku mendengar cerita tentang Lawrence dari Thomas, aku sulit mempercayainya. Namun setelah bertemu langsung, dia benar-benar sosok yang jauh melampaui imajinasiku.

Saat kami bertemu, dia sudah mengelola berbagai bisnis, terutama di bidang makanan dan minuman, bumbu dapur baru, hingga minuman keras. Jujur aku terkejut. Belakangan ini tren kuliner dan minuman baru memang sedang booming, dan siapa sangka pemicunya adalah Lawrence.

Dari situ saja aku paham bahwa dia bukan orang sembarangan. Namun dalam hal pertempuran pun, Thomas sesumbar bahwa dia adalah yang terbaik di Kekaisaran. Aku memanggil Komandan Ksatria dan Komandan Penyihir Istana untuk melakukan latih tanding dengannya.

Thomas malah berkata, "Bagaimana kalau dia melawan keduanya sekaligus? Karena dia tidak mungkin menang, ini kesempatan bagus agar Yang Mulia bisa melihat seberapa kuat putraku, Lawrence!!"

Biasanya Komandan Ksatria dan Komandan Penyihir Istana selalu bertengkar, tapi saat itu mereka kompak ingin 'memberi pelajaran pada bocah sombong'. Namun hasilnya, Lawrence menang telak.

Saat itu pikiranku berputar keras mencari cara agar orang ini tidak keluar dari Kekaisaran. Dia adalah aset yang sangat menenangkan sekaligus menakutkan bagi Kekaisaran.

Jika boleh egois, aku ingin dia bekerja untuk negara, tapi jika itu membuatnya kabur ke negara lain, itu akan jadi bencana.

Hal pertama yang harus dipastikan adalah jangan sampai Lawrence meninggalkan Kekaisaran.

Di saat itulah Thomas menjatuhkan bom informasi lagi: "Pengawal yang dibawa Lawrence juga sangat kuat, lho? Saking kuatnya, bahkan dua komandan tadi pun tidak akan bisa menang melawan mereka."

Thomas tampak menikmati kebingunganku seperti anak kecil yang berhasil menjahili temannya, tapi aku tahu matanya menunjukkan kebenaran.

Itu artinya, Lawrence bisa saja menghancurkan Kekaisaran ini kapan saja dia mau.

Sekarang aku paham kenapa Thomas menuntutku menandatangani kontrak kerahasiaan di awal. Banyak informasi yang benar-benar tidak boleh bocor ke luar.

Selain itu, belakangan ini sering terjadi perburuan bandit di wilayah Kekaisaran.

Aku menduga itu perbuatan Lawrence dan orang-orangnya. Saat kutanyakan, dia menjawab, "Ya, budak-budakku yang berburu bandit... apakah harus saya hentikan?". Aku menyuruhnya melanjutkan dan memberikan sebuah dokumen padanya.

Dokumen itu berisi daftar nama bangsawan yang diduga melakukan korupsi beserta analisis kecurangannya.

Melihat Lawrence yang tampak bingung, aku berkata, "Orang-orang di dokumen itu, jika kau menemukan bukti nyata kecurangan mereka, kau bebas melakukan apa pun pada mereka. Tentu saja, kau juga boleh tidak melakukan apa pun."

Lawrence menjawab, "Baik, saya akan menggunakannya dengan senang hati," dan menyimpan dokumen itu.

Saat itu, aku melihat mata para budak di belakang Lawrence berkilat tajam. Kurasa sebentar lagi akan ada banyak laporan bagus yang datang.

Jika sulit memerintahnya dengan perintah dariku, cukup buat dia bergerak atas kemauannya sendiri. Dengan ini, hama yang merusak Kekaisaran dari luar maupun dalam bisa disingkirkan.

Mendengar Lawrence langsung berduel dengan putra bodoh keluarga Language di akademi, aku merasa kagum karena dia langsung memanfaatkan dokumen yang kuberikan.

Tadinya aku pikir dia mungkin akan memilih tidak ikut campur dalam urusan hama di dalam Kekaisaran, jadi laporan ini adalah berita yang sangat bagus.

"Hmm, kalau tidak salah orang 'itu' ada di akademi.... Beritahu dia untuk menjadi wasit dan kirimkan laporannya padaku nanti."

"Baik, Yang Mulia!!"

Bawahanku segera undur diri setelah menyampaikan pesan.

"……Benar-benar pemuda yang menarik."

Akhirnya aku bisa memberikan sanksi pada orang-orang bodoh yang korupsi dengan wajah tak berdosa itu... Memikirkan hal itu membuat sudut bibirku sedikit terangkat.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close