Chapter 3
Sandiwara Konyol
"Oho, jadi
kamu si anak sombong yang sudah berani mencari gara-gara dengan Tuan
Damian?"
"Kelihatannya
lemah sekali ya!!"
Keesokan harinya,
kabar tentang duelku dengan Damian sepertinya sudah menyebar luas.
Aku dihujani
tatapan penuh rasa ingin tahu dari sekeliling, dan para pengikut Damian pun
mulai datang mencegatku seperti ini.
"Kalian ini,
kasihan dia, hentikanlah. Lagipula dalam setengah hari lagi dia bakal didepak
dari akademi ini. Biarkan dia menikmati saat-saat terakhirnya dengan
tenang."
"Benar juga!
Tuan Damian!!"
"Luar biasa,
Tuan Damian!! Anda
benar-benar berjiwa besar!!"
"Terima
kasih banyak sudah jauh-jauh datang menyapa. Kalau begitu, mohon bantuannya nanti setelah
pulang sekolah ya."
"Guh...!"
"Kenapa
kau bersikap tenang begitu, hah!? Kau tidak sadar posisi, ya!?"
"Paling
juga cuma gertak sambal!"
Orang-orang
macam mereka ini memang sengaja melakukan perundungan karena ingin melihat
korbannya menderita.
Jadi,
kalau aku menunjukkan sikap tidak peduli, mereka tidak akan mendapatkan reaksi
yang diharapkan.
Pilihan mereka biasanya cuma dua: mundur atau malah makin
bertindak agresif.
"Hmph, nikmatilah ilusi bahwa kau lebih unggul dariku
selagi bisa!! Shirley, jangan menyesal nanti saat pecundang ini kalah!! Masih
ada waktu kalau kau ingin kembali padaku sekarang!!"
"……Aku
percaya pada Lawrence-kun……"
"Guh…… ayo pergi, kalian!!"
"Berani-beraninya
dia menolak kemurahan hati Tuan Damian……"
"Ternyata
dia sebodoh itu ya."
"Benar-benar
orang yang keras kepala."
Karena duel akan
berlangsung sepulang sekolah, kemungkinan mereka memilih opsi pertama lebih
besar.
Ditambah lagi
dengan Shirley yang menolak mereka mentah-mentah, komplotan Damian akhirnya
pergi sambil melontarkan makian terakhir.
"Maaf
ya? Gara-gara aku... kamu jadi harus duel segala..."
"Tidak
perlu dipikirkan. Lagipula yang salah itu jelas Damian dan
kawan-kawannya."
"Benar
sekali! Lawrence-sama pasti akan menghajar mereka semua!! Aku jadi tidak sabar
menunggu duel nanti!!"
◆
"Baguslah
kau tidak lari dan benar-benar datang ke sini."
"Yah, tidak
ada alasan bagiku untuk lari, kan?"
Sepulang sekolah,
kami menuju Arena Ketiga yang sudah ditentukan oleh Damian. Aku sedikit
terkejut melihat jumlah penonton yang jauh lebih banyak dari perkiraanku.
Dibandingkan
dengan kehidupan laluku, hiburan di dunia ini memang sangat sedikit, jadi duel
antarsiswa pasti dianggap sebagai acara hiburan tingkat tinggi.
Akibatnya,
berita duelku dengan Damian tersebar dalam sekejap mata.
Sebenarnya
aku tidak berniat menyembunyikannya, tapi kalau tahu penontonnya bakal sebanyak
ini, harusnya aku mengaturnya secara diam-diam. Tapi ya sudahlah, sudah telat
juga.
"Kenapa?
Apa kau mulai gemetar melihat jumlah penonton sebanyak ini?"
"Tidak,
aku hanya terkejut saja... malah aku merasa kasihan kalau Damian-san kalah di
depan orang sebanyak ini. Kalau tahu begini, harusnya aku mengatur agar duelnya
tidak ketahuan orang lain."
Yah,
karena Damian sendiri tidak mengambil tindakan untuk meminimalisir risiko itu,
itu salahnya sendiri. Aku tidak perlu merasa tidak enak.
Jika ada
kerugian di pihakku, mungkin itu hanya rasa sedikit perih di hati saat
membayangkan betapa malunya Damian setelah kalah dariku nanti.
"Baiklah,
masing-masing silakan ambil posisi……"
Karena
ini adalah duel resmi antar-bangsawan, kami meminta guru yang sedang luang
untuk menjadi wasit sekaligus saksi.
Seorang
instruktur wanita yang sepertinya pengajar mata pelajaran sihir melangkah ke
tengah arena sambil menguap bosan, lalu menginstruksikan aku dan Damian untuk
bersiap.
"Akan
kuselesaikan dalam sekejap!!"
"Semoga saja
kamu bisa."
"Hmph,
menggonggonglah selagi kau masih bisa bersikap sombong."
Sepertinya Damian
yang lebih banyak bicara, atau lebih tepatnya dia yang terus memancingku.
Tapi kalau aku
meladeni ucapannya, dia pasti akan membalas dengan hinaan yang lebih parah,
jadi aku diam saja.
"………Mulai……!!"
"Hmph,
rasakan penyesalan karena sudah berani menantangku, dasar sampah yang bahkan
tidak bisa muncul di publik!! Sihir Api Tingkat 1: Fireball!!"
"Sihir Api
Tingkat 1: Fireball."
"Ugyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!
Panas, panas, panas, panas, panassss!!"
"Sihir Air
Tingkat 1: Waterball."
"Ababababababa
o-o-t-t-t-t-tenggelam abababa!!"
Segera setelah
guru memberi aba-aba, aku melihat Damian merapal Fireball, jadi aku
memutuskan untuk membalas dengan sihir yang sama.
Saat ini aku
menerima manfaat dari berbagai Skill milik para budakku, jadi aku ingin
memastikan seberapa besar perbedaan kekuatan yang dihasilkan meski menggunakan
sihir yang sama. Sejujurnya, hanya hal itulah yang kurasakan sebagai keuntungan
dari duel ini.
Hasilnya, sihir
Damian tentu saja tidak mampu menahan sihirku. Dia langsung dilalap api dan berguling-guling
di tanah sambil menjerit histeris.
Karena
merasa ini bisa berbahaya, aku segera menggunakan Waterball untuk
memadamkan apinya. Aku juga buru-buru menolongnya karena melihat guru wasit itu
hendak menghentikan pertandingan.
Jujur saja, aku
juga manusia. Dihina terus-menerus tentu membuatku kesal. Hanya dengan satu
serangan sihir saja belum cukup untuk meluapkan kekesalanku, jadi aku ingin
Damian menemaniku sedikit lebih lama.
"Guh…… k-kau, apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"Apa
maksudmu? Aku hanya menggunakan sihir yang sama."
"Tidak
mungkin!! Mana mungkin ada perbedaan kekuatan sebesar itu kalau menggunakan
sihir yang sama!! Kau pasti pakai cara curang!! Hei, Guru!! Jangan bengong
saja, diskualifikasi dia karena melakukan pelanggaran!!"
"Hmm~~... Sejujurnya aku juga kaget dengan kekuatan
tadi. Itu jelas bukan kekuatan Fireball Tingkat 1 pada umumnya—"
"Lalu kenapa tidak langsung didiskualifikasi sekarang
juga!? Apa kau sebodoh itu sampai tidak mengerti hal sesederhana ini!?"
"Ya ampun, Damian-kun baru saja menghina wasit, jadi
ini peringatan keras ya~~... Kalau sekali lagi, kau akan dianggap
diskualifikasi dan kalah.... Dan juga, jangan memotong pembicaraanku.... Memang
kekuatannya tidak wajar, tapi dia tidak melakukan pelanggaran apa pun. Mungkin dia punya Skill
tertentu~~..."
"Mana
ada Skill seperti itu!! Kekuatannya
berkali-kali lipat dari Fireball biasa!! Pasti ada kecurangan di
sini!!"
Sepertinya Damian
sudah menyadari bahwa dia tidak bisa menang melawanku jika pertandingan
berlanjut. Dia berusaha membuatku didiskualifikasi, atau setidaknya
menghentikan caraku memperkuat sihir. Namun seperti yang dikatakan guru, aku tidak
melanggar aturan apa pun. Alih-alih
permintaannya dikabulkan, sikap sombongnya malah membuahkan peringatan keras.
"……Benar-benar
menyedihkan. Memang benar aku menggunakan Skill untuk memperkuat sihir, dan Fireball
tadi sudah kutahan kekuatannya agar tidak sampai membunuhmu. Tapi itu bukan
pelanggaran. Menuduh orang curang tanpa bukti, apa itu pantas dilakukan seorang
bangsawan? Justru menurutku, Damian-san, kamulah yang melakukan
kecurangan."
"Hah!?
Kekuatan tadi itu sudah kau tahan!? Kalau ada Skill sehebat itu, harusnya sejak
dulu……… Jangan-jangan!?"
"Akhirnya
kau sadar ya? Itulah alasan kenapa aku tidak pernah muncul di panggung publik.
Jika Skill-ku ketahui orang lain, aku takut secara tidak sengaja akan
mengganggu Kakakku yang kucintai dalam mewarisi gelar keluarga."
Tentu saja itu
adalah alasan yang masuk akal, tapi aku tidak perlu berbaik hati menjelaskan
bahwa aku punya Skill Slave Slavery.
Aku tidak berniat
memberitahukannya pada siapa pun kecuali orang yang benar-benar bisa kupercaya.
Ngomong-ngomong,
Kaisar adalah ayah dari Ibuku, alias kakekku. Aku sudah menjelaskan tentang Slave
Slavery kepadanya di bawah kontrak kerahasiaan. Sebagai ganti agar dia
tidak mengganggu cita-citaku menjalani slow life, aku terikat kontrak
untuk bertarung sebagai benteng terakhir Kekaisaran.
Benteng
terakhir berarti benar-benar pilihan terakhir. Lagipula tanpa kontrak itu pun,
aku pasti akan bergerak demi kenyamanan hidupku serta keamanan keluarga dan
budak-budakku.
Jadi
kontrak itu sebenarnya formalitas saja, tapi bagi Kaisar, itu adalah jaminan
rasa aman.
Maka dari
itu, meskipun Skill-ku terdengar oleh Kaisar melalui duel ini, keseharianku
tidak akan berubah. Itulah sebabnya aku bisa bereksperimen dalam duel melawan
Damian ini.
Selain
itu, Kakakku sudah dalam tahap pendampingan sebagai sekretaris Ayah untuk
mempelajari pengelolaan wilayah. Selama Kakak tidak mati, aku tidak akan
mewarisi gelar.
Jadi
memperlihatkan sedikit kemampuanku di sini bukanlah masalah besar.
"Lagi pula,
rapalanmu terlalu lambat dan kekuatannya terlalu lemah untuk bisa
mengalahkanku. Bagaimana kalau kau menyerah saja sekarang sebelum merasakan
sakit yang lebih parah? Kalau hasilnya sama-sama kalah, bukankah lebih baik
kalah tanpa rasa sakit?"
Namun, aku tidak
ingin Damian menyerah sekarang. Aku belum selesai membalas semua hinaan yang
dia lontarkan tadi. Aku ingin dia menemaniku sebentar lagi. Karena itu, aku
memprovokasinya agar rasa takutnya tergantikan oleh amarah.
"Guh…… k-kurang ajar!! Meskipun sihirmu lebih kuat karena bantuan Skill, itu bukan kekuatanmu
sendiri, itu kekuatan Skill!!"
"Ya, memang
benar. Tapi akulah pemilik Skill itu, jadi bukankah itu kekuatanku? Kamu juga
pakai Skill, kan? Kalau tidak salah Skill yang sedikit meningkatkan kekuatan
sihir api? Kamu sendiri pakai Skill, tapi bilang aku curang karena pakai Skill,
bukankah itu tidak masuk akal? Selain itu, jangan kira aku tidak tahu kalau
kamu memakai cara tidak jujur. Aku akan melaporkannya segera setelah duel ini
selesai."
Dia terpancing
provokasiku. Wajahnya memerah padam karena amarah.
Di saat yang
sama, aku menyentil soal penggunaan alat sihir terlarang yang dia pakai tanpa
izin untuk meningkatkan kemampuannya. Ekspresi marahnya seketika berubah
menjadi panik.
"Jangan bercanda………… dasar pecundang, jangan berlagak!!
Kalau aku menang di sini, semuanya
bukan masalah!! Jangan kira kekuatanku cuma sihir!!"
Tikus yang
terdesak akan menggigit kucing. Meski dia sudah tahu perbedaan kekuatan kami
dari serangan tadi, dia tetap menyerang saat jalan larinya ditutup. Menarik
juga.
"Ditambah
lagi, tunanganmu dengan rambut aneh itu—"
"Jika sekali
lagi kau menghina Fran-ku, berikutnya bukan pedangmu yang kupatahkan, tapi
lehermu yang akan kupenggal."
"──Hii…………!?"
Aku tidak
keberatan kalau dia menghinaku pecundang, tapi menghina Fran adalah batas
kesabaranku. Damian mencabut pedang di pinggangnya dan menyerang, namun aku
menangkisnya dengan pedang yang kuambil dari Storage.
Dengan satu
tebasan horizontal, aku memotong pedangnya menjadi dua tepat di tengah.
Aku melepaskan
sedikit haus darah untuk mengancamnya. Damian seketika tersungkur lemas dan
genangan air mulai muncul di sekitar celananya.
Storage adalah salah satu Skill yang berfungsi
sama dengan tas penyimpanan. Aku mendapatkannya dari budak yang dijual murah di
toko langgananku dan sekarang bisa kugunakan melalui Skill Slave Slavery.
Awalnya aku hanya
bisa menyimpan benda seukuran kepalan tangan, tapi dengan menaikkan level
Skill-nya, sekarang kapasitasnya sudah sangat besar dan sangat praktis.
Cara menaikkan
level Storage cukup mudah, hanya perlu mengalirkan kekuatan sihir secara
terus-menerus.
Tentu saja, bagi
orang biasa menaikkan levelnya mungkin mustahil. Orang dengan kapasitas sihir
besar mungkin hanya bisa menaikkan levelnya sampai satu atau dua, dan level
Penyihir Istana mungkin hanya sampai empat atau lima.
Namun dalam
kasusku, aku menggunakan kekuatan sihir para budakku sehingga aku berhasil
menaikkan level Storage sampai level 20.
Level ini juga
berlaku bagi budak pemilik Skill aslinya, jadi secara teknis aku punya dua Storage
dengan kapasitas yang sama.
"Ibu Guru,
sepertinya Damian sudah kehilangan keinginan bertarung, jadi bisakah aku
dianggap pemenang? Oh iya, Damian sepertinya membawa alat sihir ilegal untuk
meningkatkan kemampuannya sendiri."
"Memang
benar, dia sudah tidak punya semangat bertarung lagi………… pertandingan selesai.
Dan Damian, setelah ini datanglah ke ruang guru. Aku ingin mendengar penjelasan
lengkap soal kecuranganmu~~……"
Guru itu
pun mengumumkan hasil duel dengan suaranya yang terdengar malas dan tidak
bersemangat.
◆
── Sisi
Kaisar ──
"Oho,
jadi Lawrence ditantang duel oleh putra bodoh keluarga Language?"
"Benar,
Yang Mulia. Sepertinya duel akan dilaksanakan esok hari."
Pertama
kali aku mendengar cerita tentang Lawrence dari Thomas, aku sulit
mempercayainya. Namun setelah bertemu langsung, dia benar-benar sosok yang jauh
melampaui imajinasiku.
Saat kami
bertemu, dia sudah mengelola berbagai bisnis, terutama di bidang makanan dan
minuman, bumbu dapur baru, hingga minuman keras. Jujur aku terkejut. Belakangan
ini tren kuliner dan minuman baru memang sedang booming, dan siapa
sangka pemicunya adalah Lawrence.
Dari situ
saja aku paham bahwa dia bukan orang sembarangan. Namun dalam hal pertempuran
pun, Thomas sesumbar bahwa dia adalah yang terbaik di Kekaisaran. Aku memanggil
Komandan Ksatria dan Komandan Penyihir Istana untuk melakukan latih tanding
dengannya.
Thomas
malah berkata, "Bagaimana kalau dia melawan keduanya sekaligus? Karena dia
tidak mungkin menang, ini kesempatan bagus agar Yang Mulia bisa melihat
seberapa kuat putraku, Lawrence!!"
Biasanya
Komandan Ksatria dan Komandan Penyihir Istana selalu bertengkar, tapi saat itu
mereka kompak ingin 'memberi pelajaran pada bocah sombong'. Namun hasilnya,
Lawrence menang telak.
Saat itu
pikiranku berputar keras mencari cara agar orang ini tidak keluar dari
Kekaisaran. Dia adalah aset
yang sangat menenangkan sekaligus menakutkan bagi Kekaisaran.
Jika boleh egois,
aku ingin dia bekerja untuk negara, tapi jika itu membuatnya kabur ke negara
lain, itu akan jadi bencana.
Hal pertama yang
harus dipastikan adalah jangan sampai Lawrence meninggalkan Kekaisaran.
Di saat itulah
Thomas menjatuhkan bom informasi lagi: "Pengawal yang dibawa Lawrence juga
sangat kuat, lho? Saking kuatnya, bahkan dua komandan tadi pun tidak akan bisa
menang melawan mereka."
Thomas tampak
menikmati kebingunganku seperti anak kecil yang berhasil menjahili temannya,
tapi aku tahu matanya menunjukkan kebenaran.
Itu artinya,
Lawrence bisa saja menghancurkan Kekaisaran ini kapan saja dia mau.
Sekarang aku
paham kenapa Thomas menuntutku menandatangani kontrak kerahasiaan di awal. Banyak informasi yang benar-benar
tidak boleh bocor ke luar.
Selain
itu, belakangan ini sering terjadi perburuan bandit di wilayah Kekaisaran.
Aku
menduga itu perbuatan Lawrence dan orang-orangnya. Saat kutanyakan, dia
menjawab, "Ya, budak-budakku yang berburu bandit... apakah harus saya
hentikan?". Aku menyuruhnya melanjutkan dan memberikan sebuah dokumen
padanya.
Dokumen
itu berisi daftar nama bangsawan yang diduga melakukan korupsi beserta analisis
kecurangannya.
Melihat
Lawrence yang tampak bingung, aku berkata, "Orang-orang di dokumen itu,
jika kau menemukan bukti nyata kecurangan mereka, kau bebas melakukan apa pun
pada mereka. Tentu saja, kau juga boleh tidak melakukan apa pun."
Lawrence
menjawab, "Baik, saya akan menggunakannya dengan senang hati," dan
menyimpan dokumen itu.
Saat itu, aku
melihat mata para budak di belakang Lawrence berkilat tajam. Kurasa sebentar lagi akan ada
banyak laporan bagus yang datang.
Jika
sulit memerintahnya dengan perintah dariku, cukup buat dia bergerak atas
kemauannya sendiri. Dengan ini, hama yang merusak Kekaisaran dari luar maupun
dalam bisa disingkirkan.
Mendengar
Lawrence langsung berduel dengan putra bodoh keluarga Language di akademi, aku
merasa kagum karena dia langsung memanfaatkan dokumen yang kuberikan.
Tadinya
aku pikir dia mungkin akan memilih tidak ikut campur dalam urusan hama di dalam
Kekaisaran, jadi laporan ini adalah berita yang sangat bagus.
"Hmm,
kalau tidak salah orang 'itu' ada di akademi.... Beritahu dia untuk menjadi wasit dan kirimkan
laporannya padaku nanti."
"Baik, Yang
Mulia!!"
Bawahanku segera
undur diri setelah menyampaikan pesan.
"……Benar-benar
pemuda yang menarik."
Akhirnya
aku bisa memberikan sanksi pada orang-orang bodoh yang korupsi dengan wajah tak
berdosa itu... Memikirkan hal itu membuat sudut bibirku sedikit terangkat.



Post a Comment