Chapter 4
Para Budak yang Bergerak di Balik Layar
── Sisi
Sicil ──
"Penguasa
Bayangan", sebuah organisasi rahasia yang hanya beranggotakan kami para
budak, dibentuk demi mewujudkan keinginan Guru.
Akhirnya,
kami mendapatkan izin dari Guru untuk mengeksekusi para bangsawan yang
melakukan tindak korupsi.
Omong-omong,
nama "Penguasa Bayangan" ini adalah hasil diskusi bersama dalam rapat
para budak.
Nama ini
sangat bagus karena mengandung makna bahwa kamilah yang akan mewujudkan ambisi
Guru untuk menguasai dunia dari balik layar (aku merasa Guru pernah
mengatakannya, meski mungkin itu cuma perasaanku saja).
Kembali
ke soal eksekusi para bangsawan. Guru memberikan salinan dokumen berisi daftar
nama bangsawan yang kemungkinan besar melakukan kecurangan beserta rincian
tindakannya.
"Saat
menghancurkan mereka, pastikan kalian mengumpulkan bukti, dan tangkap kepala
keluarganya hidup-hidup.
Kita harus
membawa mereka ke Istana Kekaisaran nanti untuk menebus dosa-dosa mereka. Kalau
mereka mati begitu saja, itu terlalu baik bagi mereka," begitu pesan Guru.
Karena itulah,
saat ini aku sedang menjalankan misi pengintaian dalam bayangan untuk
mengumpulkan bukti kejahatan kepala keluarga Language yang menjadi target kali
ini.
Belum sampai
seminggu membuntuti kepala keluarga Language, aku sudah menemukan betapa
busuknya dia karena semua bukti kecurangan sudah terkumpul lengkap.
Namun, butuh
waktu hampir satu bulan bagi seluruh rekan Dark Elf-ku untuk menyelamatkan para
korban. Aku harus berlatih lebih keras lagi agar selanjutnya bisa bergerak
lebih cepat.
Sekarang, aku
akan melaporkan hasil misi ini kepada Guru.
"Begitu ya... Jadi mereka menculik kaum Beastman dan
Sub-human untuk dijual sebagai budak ke negara lain.... Kalau memang memungkinkan, apa kau tahu ke mana
mereka dijual? Memang tidak mungkin menyelamatkan semuanya, tapi aku ingin
menolong siapa pun yang bisa ditolong."
"Mengenai
hal itu, kami sudah menyelamatkan mereka semua. Dan orang-orang dari negara
lain yang membeli para budak itu meski tahu itu ilegal, semuanya sudah kami
eksekusi."
"C-cepat
sekali.... Bukankah baru sebulan berlalu...? Tapi luar biasa ya. Kalian bukan
cuma membongkar kejahatan dan mengumpulkan bukti, tapi sampai menyelamatkan
para korbannya juga. Kalian hebat."
"Terima
kasih banyak...!"
Secara pribadi
aku merasa kemampuanku masih belum seberapa. Tapi jika hanya dengan ini saja
Guru sudah memujiku bahkan sampai mengelus kepalaku, apa yang akan terjadi
kalau aku berusaha lebih keras lagi...?
Pasti aku akan
mendapatkan hadiah yang lebih luar biasa, setidaknya lebih dari sekadar elusan
di kepala. Kalau begitu, aku harus berjuang lebih, lebih, dan lebih keras
lagi...!!
Memikirkan hal
itu membuatku semangat melakukan latihan tanding bersama Guru.
"Tapi, kalau
kau merasa dalam bahaya, segera lari ya? Aku lebih senang kalian pulang dengan
selamat daripada keberhasilan misi. Lagipula, menurutku kalian tidak perlu
mengambil risiko yang terlalu besar...."
Guru menasihatiku
dengan lembut sambil terus mengelus kepalaku. Karena Guru begitu baik, bukan
hanya kaum Dark Elf, semua budak sangat mencintai Guru dan ingin melakukan
sesuatu untuk membalas budinya.
Kami kaum Dark
Elf sangat bersemangat menggunakan kekuatan yang telah diberikan Guru untuk
membalas jasanya—sosok yang telah memberikan kami kekuatan hingga kami tidak
perlu lagi takut atau terganggu dalam menjalani keseharian kami.
Namun, dengan
kekuatan sebesar ini, mana mungkin aku berada dalam situasi bahaya? Itu
artinya, Guru ingin aku terus mengeksekusi orang-orang jahat dan menguasai sisi
gelap dunia ini... Ya, pasti begitu maksudnya.
Sambil berpikir demikian, aku menatap Guru seolah ingin
berkata, "Aku pasti akan mewujudkan ambisi Anda, Guru!!".
◆
── Sisi Lawrence ──
Sekitar satu bulan sebelum masuk ke Akademi Sihir
Kekaisaran, aku mendapat kesempatan untuk beraudiensi dengan Kaisar atas ajakan
Ayah. Awalnya aku mengira akan ada banyak bangsawan atau ajudan lain di sana.
Namun di luar
dugaan, yang ada hanya Kaisar, dua pengawal minimalis, serta Komandan Ksatria
Kekaisaran dan Komandan Pasukan Penyihir Istana. Ayah yang menyadari
kebingunganku segera menjelaskan—
"Tujuan hari
ini adalah memberitahu Kaisar soal Skill Slave Slavery milikmu, serta
menunjukkan kekuatanmu dan para budakmu. Kita akan melakukan kontrak sihir
kerahasiaan, tapi tetap saja, lebih sedikit orang yang melihat kemampuanmu akan
lebih baik, kan?"
Begitu katanya.
Benar juga, meski mereka ajudan atau bangsawan sekalipun, semakin banyak
jumlahnya, maka semakin sulit untuk menjaga kesolidan mereka.
Ditambah lagi
frekuensi kontrak sihir kerahasiaan akan meningkat.
Dan meski sudah
terikat kontrak, tidak ada jaminan tidak ada orang yang menemukan cara untuk
mengakali kontrak tersebut, atau bahkan nekat melanggarnya meski taruhannya
nyawa.
Di tengah
audiensi, kami sempat melakukan latih tanding. Setelah audiensi hampir berakhir
tanpa kendala, Kaisar memberikan dokumen kepadaku.
Saat aku
memeriksanya, ternyata itu adalah daftar nama bangsawan Kekaisaran yang diduga
melakukan tindak korupsi beserta rincian kejahatannya.
Aku sempat
bingung apa maksudnya, tapi Kaisar berkata, "Orang-orang di dokumen itu,
jika kau menemukan bukti nyata kecurangan mereka, kau bebas melakukan apa pun
pada mereka. Tentu saja, kau juga boleh tidak melakukan apa pun."
Setelah
kupikir-pikir, bukankah ini bisa menjadi alasan untuk menggerakkan organisasi
rahasia yang kubentuk secara iseng demi para budakku? Ini bisa menjadi alasan
untuk memberi mereka "mainan".
Banyak budakku
yang datang kepadaku setelah melalui penderitaan hebat.
Memberi mereka
kesempatan untuk meluapkan dendam bisa menjadi pelampiasan yang baik, sekaligus
membuat Kaisar berutang budi padaku. Benar-benar sekali dayung, dua tiga pulau
terlampaui.
Itulah sebabnya
aku menerima dokumen dari Kaisar dengan senang hati.
Ini jauh lebih
baik daripada membiarkan stres mereka menumpuk di dalam, dan aku juga bisa
membasmi benih-benih penderitaan agar tidak ada anak-anak lain yang bernasib
sama dengan mereka.
Tentu saja,
bagiku ini murni demi pelampiasan stres dan alasan menggerakkan organisasi
rahasia. Masalah membasmi bangsawan korup hanyalah prioritas kedua.
Jadi, aku
memberikan perintah—bukan sekadar permintaan—agar mereka segera kabur
menggunakan Shadow Walk milik Dark Elf jika nyawa mereka terancam.
Di saat yang
sama, aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa menang melawan Kaisar yang
sudah terbiasa berurusan dengan berbagai macam intrik.
Melihat semangat
para budakku yang sudah berhasil menyudutkan salah satu bangsawan hanya dalam
waktu sebulan setelah kuberikan salinan dokumen itu, aku berpikir bahwa mereka
pasti sangat stres selama ini. Aku merasa lega telah memberi mereka kesempatan
untuk meluapkannya.
◆
── Sisi
Marquis Language ──
Apa yang
sebenarnya terjadi....
Belakangan ini,
aku kehilangan kontak dengan para perantara dari negara lain yang membantuku
menyalurkan budak Sub-human dan Beastman ilegal. Ini terjadi secara mendadak
dalam sebulan terakhir.
Sial...
mungkinkah rahasia ini terbongkar?
Tapi kalau memang
begitu, mustahil bagi hukum Kekaisaran untuk menghakimi para perantara di
negara lain. Lagi pula, jika ketahuan, seharusnya aku yang ditangkap lebih
dulu.
Namun, tidak ada
alasan lain yang terpikirkan mengapa seluruh perantara di berbagai negara
kehilangan kontak di waktu yang hampir bersamaan.
"Apa yang
sebenarnya terjadi...!"
Seberapa sering
pun aku menggumamkan itu, jawabannya tidak kunjung datang. Hanya rasa kesal dan
cemas yang terus menumpuk.
Memang aku sudah
menyewa pengawal untuk situasi seperti ini, tapi para perantara di luar sana
pasti juga melakukan hal yang sama.
Apalagi aku
mendengar bahwa belakangan ini organisasi bawah tanah dan serikat gelap
dihancurkan satu per satu, bahkan organisasi lain yang menangani budak ilegal
juga bernasib sama.
Menyewa pengawal
tidak membuatku merasa tenang, tapi tidak menyewa pengawal bukanlah pilihan.
Terlebih lagi,
putra sulungku, Damian, baru saja masuk sekolah dan langsung menantang duel
putra kedua keluarga Westgaph, lalu kalah dan datang menangis padaku.
Benar-benar
anak tidak berguna yang hanya menambah masalah di saat seperti ini.
Padahal
lawan kita adalah keluarga Adipati. Meskipun dia hanya putra kedua, gelar keluarga mereka lebih tinggi dari
kita.
Kenapa dia malah
mencari gara-gara dan bukannya mencoba menjadikannya sekutu?
Yang terburuk
adalah, kudengar putraku melakukan kecurangan dalam duel tersebut.
Kalau kalah duel,
aku masih bisa mentoleransinya. Aku bisa beralasan karena lawannya adalah putra
keluarga Adipati.
Tapi kalau dia
sendiri yang menantang duel lalu kalah meskipun sudah berbuat curang, aku tidak
punya cara untuk membelanya.
Gara-gara itu,
fraksi musuh mendapatkan kesempatan emas untuk menjatuhkan namaku dengan dalih:
"Anak bertindak sesuai apa yang dia lihat dari orang tuanya. Jika anaknya
begitu, mungkinkah keluarga Language juga melakukan kecurangan? Kita harus
menyelidikinya."
Kalau aku berada
di posisi mereka, aku pasti akan melakukan hal yang sama.
Meski tuduhan itu
tidak berdasar, selama masa penyelidikan gerak-gerikku akan terbatas, jadi ini
adalah cara yang sangat efektif untuk menggangguku.
"......Kenapa
jadi begini!"
Aku hanya bisa
memegang kepala sambil berharap ini semua hanya perasaanku saja.
Stres yang
menumpuk hari demi hari membuatku merasa seolah akan hancur, dan aku hanya bisa
menjambak rambutku sendiri karena frustrasi.
◆
── Sisi Damian
──
Sudah menjadi
rahasia umum bahwa Akademi Sihir Kekaisaran adalah tempat yang menjunjung
tinggi meritokrasi.
Di sana, anggota
OSIS dipilih hanya dari orang-orang berkemampuan terbaik, sehingga masa depan
mereka sudah dijamin cerah.
Aku pun percaya
sepenuhnya bahwa aku akan menjadi anggota OSIS, bahkan menjadi ketua OSIS di
masa depan.
Untuk mewujudkan
masa depan yang sudah dijanjikan itu secepat mungkin, Lawrence adalah target
yang sempurna.
Dia berasal dari
keluarga Adipati tapi dibuang karena tidak pernah diperlihatkan di pesta mana
pun.
Jika aku
mengalahkannya dalam duel, aku akan mendapatkan reputasi sebagai orang yang
mengalahkan putra Adipati. Itu seharusnya menjadi kesempatan emas untuk
meningkatkan namaku.
Namun
kenyataannya, duel itu berakhir dengan kekalahan telak bagiku. Bahkan alat
sihir yang kupersiapkan untuk berjaga-jara pun terbongkar. Ini adalah hasil terburuk yang
bisa dibayangkan.
"Sialan!!
Sial, sial, sial, sial!!"
Apa yang
harus kulakukan!?
Belakangan
ini Ayah menghentikan tunjangan untukku karena menggunakan uangnya untuk
menyewa pengawal pribadi, sehingga aku bahkan tidak bisa membeli wanita bodoh
untuk meluapkan stresku.
Ayah sepertinya
takut akan sesuatu. Dia khawatir bisnis penjualan budak ilegalnya terbongkar,
jadi aku mengerti kenapa dia menyewa pengawal untuk berjaga-jaga. Tapi aku
tidak paham kenapa uang jajanku harus dipotong juga.
Mungkin
kekalahanku dalam duel juga menjadi salah satu alasannya. Tapi kalau aku
membahas itu, dia pasti akan mengungkit kekalahanku lagi, dan itu hanya akan
menambah stresku. Ditambah lagi, aku cemas jika Ayah mulai membuangku.
Semua ini
gara-gara Lawrence. Seharusnya dengan tingkat sihir yang sama dan bantuan alat
sihir, kekuatanku jauh lebih unggul.
Fakta bahwa
sihirnya lebih kuat membuktikan bahwa dialah yang berbuat curang, tapi dia
malah lolos dengan alasan "kemampuan Skill".
Kemampuan Skill
apaan! Mustahil kekuatannya melampaui pemilik Skill Hellfire. Jika dia
punya Skill sehebat itu, keluarga Westgaph pasti akan memperkenalkannya sebagai
pewaris sah, bukannya Thomas.
Fakta bahwa dia
tidak pernah muncul di pesta bangsawan mana pun membuktikan bahwa dia tidak
punya Skill semacam itu. Jadi sudah pasti Lawrence-lah yang curang. Namun
setelah diselidiki, dia tidak mendapatkan hukuman apa pun. Aku benar-benar
tidak terima.
Dan yang paling
tidak bisa kumaafkan adalah Shirley. Alih-alih mengkhawatirkanku, dia bahkan
tidak sudi mendatangiku.
Padahal aku sudah
berniat menjadikannya selir setelah lulus nanti sebagai bentuk kemurahan
hatiku.
Sikapnya yang
menginjak-injak perasaanku benar-benar membuat kesabaranku habis. Ini seperti
digigit oleh anjing peliharaan sendiri.
Saat aku sedang
berpikir bagaimana cara menyingkirkan mereka berdua sekaligus, aku teringat
sesuatu.
"Kalau tidak
salah, sebentar lagi akan ada pelajaran luar ruangan ke dungeon yang dikelola
Kekaisaran...."
Sepertinya Tuhan
belum meninggalkanku.
"Kukakakakaka!!
Akan kubuat kalian menyesal karena telah meremehkanku!! Jika Shirley tidak mau
menjadi milikku, lebih baik dia mati saja!! Bersyukurlah karena kau bisa mati
bersama Lawrence di akhir nanti!!"
Aku tertawa
terbahak-bahak karena merasa keberuntunganku masih belum habis.
◆
── Sisi Sicil
──
"Ini
mengerikan...!"
Saat ini kami
berada di wilayah yang dikelola keluarga Language atas perintah Guru (tepatnya,
kami para budak dan muridnya yang melakukan analisis dan bergerak sebelum Guru
sempat mengatakannya).
Meski penguasanya
busuk, aku pikir itu tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan rakyat
karena kejahatannya adalah penjualan budak ilegal.
Namun, begitu
memasuki wilayah ini, aku bisa merasakan suasana berat dan kurangnya vitalitas.
Desa kami dulu
saat masih diserang monster pun masih terasa lebih bersemangat karena kami
punya keinginan kuat untuk bertahan hidup.
Namun desa ini
terasa sesak, seolah-olah penduduknya sudah kehilangan harapan dan tidak
menantikan masa depan apa pun.
"Satu hal
yang pasti, ayo kita ke Serikat Petualang dulu!"
""
Baik!""
"Saya
mengerti!"
"Oke."
Untuk mengetahui
lebih detail apa yang sebenarnya terjadi di wilayah ini, aku menyarankan untuk
pergi ke Serikat Petualang, dan rekan-rekan yang ikut bersamaku menyetujuinya.
Kami memang ingin
menghukum orang-orang busuk, tapi tujuan utama kami bukanlah sekadar
"membasmi orang jahat", melainkan "memahami apa yang diinginkan
Guru lalu bertindak untuk membuatnya senang (dan dipuji ← ini penting)".
Masalah membasmi penguasa sampah bisa dilakukan kapan saja.
Lalu, apa yang
harus kami lakukan?
Jawabannya akan
muncul jika kami memikirkan apa yang diinginkan Guru. Ya, Guru menganggap
membasmi kejahatan itu penting, tapi dia tidak akan suka jika rakyat menderita
akibat hal itu.
Seperti istilah
"kejahatan yang diperlukan", tidak semua organisasi atau orang jahat
harus dibasmi begitu saja.
Itulah sebabnya
saat memberikan salinan dokumen dari Kaisar, Guru berpesan agar kami mencari
bukti yang kuat.
Itu bukan sekadar
mencari bukti kejahatan, tapi juga untuk menyelidiki "apakah mereka
benar-benar layak dibasmi", dan "dukungan apa yang harus diberikan
setelah kejahatan itu dibasmi".
Meski sepertinya
Guru bakal bilang "Bukan begitu, lho?", tapi sebagai murid nomor
satu, aku yakin itulah maksudnya. Aku yang selalu memikirkan Guru setiap hari
tidak mungkin salah.
Jadi, alih-alih
hanya menyeret penguasa wilayah ini ke depan Guru bersama buktinya, kami
mengumpulkan informasi di Serikat Petualang untuk mempertimbangkan kerugian
yang mungkin muncul, agar Guru bisa membuat keputusan akhir.
Omong-omong,
anggota misi hari ini terdiri dari lima orang: tiga orang Dark Elf (termasuk
aku) yang mendapatkan peringkat teratas dalam latih tanding di desa, dan dua
orang budak manusia.
Jika hanya berisi
Dark Elf, kami akan dicurigai dan sulit mengumpulkan informasi. Jadi, membawa
dua budak manusia adalah penyamaran yang bagus.
Dengan begini,
meski jumlah Dark Elf lebih banyak, kami hanya akan dianggap sebagai kelompok
petualang yang unik saja.
Meski aku sangat
sadar bahwa dalam pengumpulan informasi seperti ini cara terbaik adalah
"tidak meninggalkan kesan di ingatan lawan", namun ini jauh lebih
baik daripada membiarkan para Dark Elf di desa (terutama para wanita) mengamuk
karena merasa "Hanya Sicil yang boleh curang!".
Aku benar-benar
ingin menghindari Guru melihat sisi memalukan dari warga desaku sendiri.
"Hei, lihat itu... Tiga wanita Dark Elf dan dua wanita
manusia, semuanya cantik tingkat tinggi...!"
"Ah, benar-benar level dewi. Dan ada lima orang
sekaligus, luar biasa."
"Wajah-wajah baru, sepertinya mereka baru saja sampai
di kota ini... Bagaimana?"
"Pakai tanya
lagi, sudah jelas kan apa yang harus kita lakukan?"
Begitu
masuk ke Serikat Petualang, bisikan-bisikan semacam itu langsung terdengar.
Seandainya
saja Guru bisa sejujur pria-pria ini soal nafsu, hidupku pasti akan lebih
mudah.
Selama
ini aku berpikir "Wajar saja karena dia masih muda", tapi melihat
wajahnya yang memerah padam karena malu saat kami mandi bersama tempo hari, aku
merasa senang karena dia sudah berada di usia yang mulai menyadari keberadaan
lawan jenis.
Aku
sempat benar-benar khawatir, bagaimana kalau dia punya kecenderungan menyukai
sesama jenis?
Haruskah aku
mulai mengembangkan sihir perubahan kelamin sekarang?
Atau kalau itu
mustahil, haruskah aku mengasah teknik menyamar menjadi laki-laki?
Karena aku serius
memikirkan hal itu, saat tahu dia normal, aku merasa lega sekaligus merasa
semangatku berkobar seketika.
Saking
bersemangatnya, malam itu aku sampai harus melakukan "pembangkitan energi
mandiri" dengan sangat giat.
Terlepas dari
itu, alasan mengapa orang-orang di sini begitu terpukau bukan hanya karena
kecantikan alami kami, tapi juga berkat produk uji coba yang sedang
dikembangkan Guru menggunakan kemampuan para budak.
Sampo dan bilasan
khusus rambut, ditambah treatment tanpa bilas membuat rambut kami
berkilau.
Kulit kami pun
menjadi kenyal dan lembap berkat losion dan emulsi, ditambah kosmetik buatan
Guru yang membuat wajah yang aslinya sudah cantik ini jadi berkali-kali lipat
lebih menawan.
Aku sempat heran
bagaimana Guru bisa melakukan semua ini, dan ternyata dia mendapatkan Skill Search
di sebuah dungeon.
Guru merendah
dengan mengatakan Skill itulah yang hebat dan bukan dirinya, tapi faktanya dia
tahu "Skill bisa didapatkan secara buatan" saja sudah membuktikan
betapa luar biasanya dia.
Begitu mendengar
caranya adalah dengan "Menaklukkan Dungeon tingkat A atau lebih
tinggi", aku baru paham mengapa dunia menganggap mustahil mendapatkan
Skill secara buatan.
Di saat yang
sama, aku menyadari bahwa Guru telah melakukan pencapaian luar biasa dengan
menaklukkan Dungeon tingkat A ke atas.
Prestasi itu
pastinya adalah yang pertama dalam sejarah.
Benar-benar Guru
kebanggaanku.
"Hei, kalian
para wanita. Mau menjalankan quest bersama kami?"
"Kami akan
mengajari kalian dengan lembut, lho?"
"Ah! Hei!!
Jangan mendahului, dong!! Kami yang menandai mereka duluan!!"
"Hah? Itu
kalimatku!! Kami yang akan merekrut mereka, jadi pergilah sana!!"
"Apa...? Mau
cari ribut?"
"Hah? Tidur
saja sana kalau mau mengigau."
"Kalau
berani melawan, kami tidak akan segan-segan, ya!"
Sesuai dugaan,
sekelompok orang bodoh muncul untuk mengganggu.
Saat aku sedang
menghela napas, dua kelompok lain ikut mencampur dan ketiganya mulai terlibat
perkelahian fisik.
Aku
mengabaikan para idiot itu dan langsung melangkah ke konter resepsionis.
"Maafkan
ketidaksopanannya. Nanti pihak Serikat akan memberi pelajaran keras kepada
orang-orang bodoh itu..."
Resepsionis
wanita itu tampaknya melihat semuanya.
Dia menghela
napas dengan urat kemarahan yang muncul di dahinya.
"Tolong urus
mereka. Mengenai keperluanku, apakah ada quest dengan tingkat kesulitan rendah?
Kami lelah karena perjalanan panjang... Sambil mencari penginapan, aku
ingin menyelesaikan quest yang bisa dilakukan di dalam kota saja untuk hari
ini."
"Ah, kalau begitu, bagaimana dengan pencarian kucing
peliharaan yang hilang ini?"
"Oh, itu pas sekali. Aku ambil yang itu. Ini Kartu Serikatku."
Mencari kucing
hilang adalah cara paling cocok untuk mengumpulkan informasi di kota ini.
Tanpa alasan
untuk menolak, aku mengeluarkan Kartu Serikatku, namun saat itu juga si
resepsionis mematung.
"Baik, saya mengerti............ Eh, Rank A!?"
"Ma-maafkan
saya. Ini pertama kalinya saya melihat petualang Rank A secara
langsung..."
"Tidak
apa-apa, asal selanjutnya kau lebih berhati-hati. Jadi, apakah Rank A tidak
boleh mengambil permintaan ini?"
"Bukan
begitu, saya akan segera memprosesnya... Kalau begitu, semoga beruntung dengan
permintaannya."
Sepertinya
dia hanya terkejut dengan peringkatku. Setelah itu prosesnya lancar dan kami keluar dari Serikat menuju rumah
pemohon.
Ngomong-ngomong,
pria-pria bodoh tadi sepertinya mendengar kalau aku Rank A.
Mereka langsung
menjauh dengan terburu-buru dan bahkan tidak berani menatap mataku. Yah,
setidaknya mereka masih punya insting bertahan hidup sebagai petualang.
Padahal kalau
mereka bersikeras menggoda, aku mungkin tidak akan membunuh mereka, tapi
setidaknya aku akan meremukkan "telur emas" mereka. Kemampuan deteksi
bahaya mereka patut dipuji.
Setelah itu,
teriakan kemarahan sang resepsionis terdengar sampai ke luar Serikat. Syukurlah
mereka diberi pelajaran yang sangat mendalam.
◆
"Sicil-san,
bukankah ini sudah saatnya kita segera melakukan eksekusi?"
Setelah mencari
kucing hilang sambil mengumpulkan informasi dari warga melalui obrolan santai,
rekan budak manusiaku memberikan usul.
Rekan-rekan lain
juga menatapku, menunggu jawaban dengan pandangan setuju.
Omong-omong,
kucing yang hilang sudah berhasil kutemukan dan kukembalikan ke pemiliknya.
"Ya, aku
juga setuju dengan itu!!"
Target kali ini,
kepala keluarga Language, Brett Language, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dia
secara rutin menggunakan bandit untuk menyerang desa Sub-human dan Beastman
untuk dijadikan budak.
Selain itu, dia
menaikkan pajak sesuka hati, memberikan keringanan pajak hanya pada orang yang
memihaknya, dan menangkap siapa pun yang mengkritik keluarga Language untuk
disiksa lalu dieksekusi di alun-alun sebagai peringatan.
Anaknya, Damian,
mengumpulkan gadis-gadis yang terpaksa menjual diri karena kemiskinan dengan
kata-kata manis, lalu mempermainkan mereka dan melakukan kekerasan sesuka hati.
Bukan itu saja,
dia menyita barang milik orang yang tidak disukainya dengan alasan yang
dibuat-buat, lalu memberikan tanah tersebut kepada orang pilihannya dan
mengusir pemilik aslinya tanpa ampun.
Makhluk yang
lebih rendah dari sampah ini sebenarnya tidak punya alasan untuk hidup. Namun,
kenyataannya dia adalah penguasa wilayah.
Jika dia
tiba-tiba menghilang, tidak akan ada yang mengontrol kota ini dan keadaan bisa
menjadi lebih buruk dari sekarang.
Aku teringat
ajaran Guru bahwa "Keyakinan bahwa membunuh orang jahat akan membuat
segalanya menjadi baik hanyalah fantasi dan teori idealis belaka".
Kemungkinan
besar, jika Brett Language dieksekusi sekarang, situasi terburuk yang akan
terjadi adalah para bandit yang selama ini dikendalikan keluarga Language dan
orang-orang yang selama ini diuntungkan oleh mereka akan lepas kendali.
Mereka pasti akan
menyerang warga sipil demi memuaskan nafsu mereka sendiri. Dan jika mereka
sampai menguasai kota, habislah sudah.
Warga sipil pasti
akan jatuh ke dalam situasi yang jauh lebih mengerikan dari sekarang.
Di sini aku
kembali menyadari betapa hebatnya Guru yang telah menyadarkanku akan hal itu.
Jika bukan karena ajarannya, aku pasti sudah membantai semua orang jahat tanpa
pandu bulu.
Jika tidak ada
cara untuk mengubah situasi buruk tersebut, maka keluarga Language bisa disebut
sebagai "kejahatan yang diperlukan" (necessary evil).
Karena
setidaknya, warga tetap bisa hidup selama mereka berpura-pura tidak melihat
para korban dan membayar pajak yang tinggi.
Mungkin keluarga
Language sengaja menekan warga sampai batas di mana mereka tidak mati kelaparan
tapi juga tidak punya tenaga untuk bersatu melakukan pemberontakan.
Itulah alasan
mengapa pihak Kekaisaran tidak bisa bertindak tegas selama ini.
Namun, fakta
bahwa Kaisar memberikan dokumen korupsi keluarga Language kepada Guru berarti,
dengan kata lain, Kaisar percaya bahwa "Guru mampu melakukan sesuatu
terhadap situasi ini".
Benar! Sebelum
penguasa baru tiba, kami para budak Guru bisa membentuk korps penjaga keamanan
untuk menjaga ketertiban.
Begitu ya, jadi
itu maksud Anda, Guru!!
Sekarang aku
paham mengapa Guru mengatakan hal itu kepada kami.
Itu artinya Guru
sedang mengincar situasi ini sebagai batu loncatan untuk menguasai dunia bawah.
Maksudnya begini:
jika keamanan kota ini dijaga oleh korps bentukan para budak Guru, maka warga
wilayah ini pasti akan sangat berharap Guru menjadi penguasa mereka
selanjutnya.
Tentu saja hal
itu akan sampai ke telinga Kaisar yang memberikan tugas ini. Maka wajar jika
Guru akan ditunjuk sebagai penguasa baru wilayah ini.
Guru adalah putra
kedua, dan karena keluarga Westgaph akan diwarisi oleh kakaknya, Guru pasti
menginginkan wilayah sendiri sebagai markas barunya.
Luar biasa, Guru.
Siapa sangka dia
tidak hanya ingin mengeksekusi penguasa sampah, tapi sudah melihat jauh ke
depan untuk menjadikan wilayah ini miliknya sendiri...!
Aku pun
menjelaskan hal tersebut kepada rekan-rekanku dan mulai bergerak demi tujuan
Guru.
Eksekusi memang
lebih cepat lebih baik, tapi pertama-tama kami harus menghancurkan semua bandit
yang bekerja untuk keluarga Language satu per satu.
Dengan begitu,
saat Brett Language dieksekusi, tidak akan terjadi situasi terburuk di mana
para bandit mengamuk dan menimbulkan korban.
Tentu saja aku
bisa meminjam budak tambahan dari Guru untuk mengawasi kota agar bandit tidak
mengamuk, tapi jika Guru mengirim kami dan menganggap "jumlah ini sudah
cukup", maka sebagai murid nomor satu, aku harus memenuhi ekspektasi
tersebut.
Lagipula, apakah
menghancurkan bandit dulu atau mengeksekusi penguasa dulu, perbedaannya hanya
di urutan saja. Aku
tidak boleh merepotkan Guru dengan hal yang tidak perlu.
"……Begitu
ya, benar-benar luar biasa, Guru!!"
"Siapa
sangka dia sudah memikirkan sejauh itu……"
"Tapi,
Sicil-san juga hebat karena bisa menyadarinya!!"
Setelah
menyampaikan pemikiran Guru dan rencana ke depan kepada rekan-rekan, kami pun
segera berangkat untuk menghancurkan para bandit yang bekerja di bawah keluarga
Language.



Post a Comment