NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 8

Chapter 8

Kegembiraan di Festival Lister


Hari Ketiga Festival Lister

"Ada apa ya dengan kenalan Dominic kemarin?"

Sambil menyelesaikan lari maraton, aku bergumam teringat akan kakak-beradik teman masa kecil yang diperkenalkan Dominic kemarin.

"Entahlah…… mungkin mereka tiba-tiba teringat ada urusan mendesak?"

Clarice menjawab dengan nada tenang, sambil melirik Dominic yang tergeletak kelelahan dengan posisi telentang di sampingnya.

"Untungnya, pihak ksatria melihat mereka berdua keluar gerbang dengan kaki sendiri, jadi kurasa mereka tidak terlibat insiden apa pun."

Kemarin, kepanikan Dominic setelah mereka berdua tiba-tiba menghilang benar-benar tidak tega untuk dilihat. Wajar saja. Mengingat insiden Johann dan Joseph di masa lalu, tidak heran jika dia menjadi sangat khawatir.

Karena tidak tega melihatnya, Clarice meminta bantuan Adipati Reagan agar pihak ksatria memastikan keselamatan mereka. Begitu mengetahui mereka baik-baik saja, kami semua baru bisa bernapas lega.

"Tapi, mereka cantik, kan?"

Dominic akhirnya mulai bicara setelah napasnya teratur.

"Wanita pertama yang berjabat tangan, yang rambutnya berwarna lavender bergelombang, adalah cinta pertamaku. Dia akan dewasa tahun depan, jadi usianya dua tahun di atas kita. Yang rambut kuncir kuda merah muda itu Alice. Dia setahun di bawah kita."

Misha tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar hal itu.

"Dia baru sebelas tahun? Tapi bagaimanapun aku melihatnya, dia tampak lebih dewasa dariku?"

"Iya, kakak-beradik itu memang sudah terkenal sejak dulu. Kakaknya dijuluki Sophia si Great Flower, dan adiknya dijuluki Alice si Flash. Sejujurnya, aku pun terbelalak melihat pertumbuhan Alice."

"Heh…… Great Flower dan Flash…… keren banget ya…… Aku juga ingin punya julukan."

Misha berkata dengan nada kagum. Ngomong-ngomong, di samping nama Misha pada spanduk kali ini tertulis Fairy.

Yah, karena dia dari ras Elf, nama itu dipilih secara sederhana, tapi sejujurnya dia lebih terasa seperti lokomotif liar―bukan, lebih tepatnya Elf liar.

Di tengah pembicaraan, Karen memotong sambil mencambuk Baron yang sedang merangkak.

"Jadi? Apa mereka masuk kriteria Mars?"

"Aku tidak melihat mereka dari sudut pandang seperti itu. Cuma……"

Saat aku menggantungkan kalimatku, Clarice dan Eris menatapku dengan mata penuh rasa ingin tahu. Karena tidak tahan dengan tekanan dari tatapan mereka, aku memaksa untuk mengalihkan topik.

"Aku tidak bisa mengatakannya kalau ditatap begini. Ayo, hari ini kita harus masuk sekolah satu jam lebih awal dari biasanya! Cepat kembali dan bersiap!"

Hari ini adalah hari pertama Maid Cafe. Kami dijadwalkan berkumpul di kelas lebih dari satu jam sebelumnya untuk melakukan pengecekan terakhir.

◆◇◆

Setelah kembali ke asrama untuk mandi, sarapan, dan tiba di sekolah, suara Misha menggema di dalam kelas.

"Erilyn! Kamu tidak boleh pakai itu!"

Aku melihat Misha sedang melayangkan protes sambil menunjuk celana pendek yang menyembul dari balik rok Eris. Semua anggota Kelas S sudah berkumpul; yang laki-laki memakai tuksedo, sedangkan yang perempuan memakai baju maid.

Sempat ada perdebatan antara memakai tailcoat atau tuksedo, namun begitu Clarice berkata, "Tuksedo lebih keren," ruang diskusi langsung lenyap seketika.

Di sisi lain, baju maid para gadis memadukan sisi imut dan seksi, dengan panjang rok yang sependek milik Clarice biasanya. Tentu saja Eris tidak akan mau memakainya dengan senang hati, jadi dia memakai celana pendek yang sebenarnya dilarang oleh peraturan sekolah.

Misha mendekati Eris dengan wajah serius.

"Clarice selalu bilang, kan?! Absolute Territory itu sangat penting!"

Aku merasa agak cemas mendengar percakapan itu dan melirik Clarice. Mata kami bertemu, tapi dia segera memalingkan wajahnya perlahan. Pada akhirnya, Eris menyerah dengan enggan dan melepas celana pendeknya.

Meski begitu, aku tetap penasaran dengan isi percakapan mereka di kamar [Dawn]. Topik seperti apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Kalah oleh rasa penasaran, aku pun bertanya pada Clarice.

"Hei, Clarice? Biasanya kalian membicarakan apa saja di kamar?"

Pertanyaan itu membuat Clarice tampak sangat gugup.

"I-itu bukan hal yang penting kok! Cuma obrolan gadis-gadis biasa!"

Begitu dia menyadari tatapanku tidak beralih, dia tiba-tiba berputar di tempat untuk mengalihkan pembicaraan.

"I-itu tidak penting! Ngomong-ngomong, bagaimana penampilanku dengan baju maid ini?"

Roknya mengembang tertiup angin, memperlihatkan sekilas Absolute Territory yang menyilaukan, sementara rambut peraknya yang indah bergoyang lembut.

"Eh? Ah, iya…… cantik kok…… cantik sekali……"

Karena saking cantiknya, aku jadi malu untuk menatapnya langsung dan refleks menunduk. Aku bisa merasakan wajahku sendiri memanas.

"Te-terima kasih……"

Saat aku sedikit mengangkat pandangan, Clarice juga sedang menunduk dengan wajah memerah seperti aku. Keheningan sesaat menyelimuti kelas. Di tengah atmosfer canggung itu, suara tenang Sasha-sensei yang mengenakan baju maid dengan sempurna memecah suasana.

"Ayo, mari kita lanjutkan persiapan. Waktu kita terbatas."

Sebenarnya, Sasha-sensei juga ikut serta sebagai pemeran dalam acara kali ini. Alasannya karena kecantikannya terlalu sayang jika hanya dijadikan penjaga keamanan, namun ada alasan yang lebih sederhana lagi.

Anggota kami yang menjadi pemeran hanya delapan orang. Semakin banyak tenaga bantuan, akan semakin menolong. Karena alasan itulah, Reiner-sensei juga memakai tuksedo dan berpartisipasi sebagai pemeran.

Terselamatkan oleh suara Sasha-sensei, kami pun mulai bekerja.

◆◇◆

Lokasi Maid Cafe tetap menggunakan ruang kelas Kelas S seperti kemarin. Namun, kami melakukan beberapa improvisasi pada kebijakan operasional.

Pertama, belajar dari pengalaman kemarin, sistem masuk diubah dari siapa cepat dia dapat menjadi sistem undian. Undiannya sendiri gratis, namun kami memungut biaya kursi sebesar satu koin perak.

Selain itu, frasa klasik Maid Cafe seperti "Selamat datang kembali, Tuan" dilarang. Alasannya adalah pertimbangan bagi para Transmigrator.

Tidak menutup kemungkinan ada Transmigrator yang dulunya perampok minimarket menyelinap masuk sebagai tamu. Karena Maid Cafe ini berasal dari ide Clarice, selama dia tidak mengatakannya, frasa itu tidak akan muncul.

Setelah memastikan hal tersebut, lima puluh orang yang berhasil memenangkan undian dipandu masuk ke kelas dengan penuh semangat. Benar-benar awal dari waktu yang terasa seperti mimpi.

Batas waktunya lima belas menit. Mungkin terasa singkat, tapi ini lebih lama daripada sesi jabat tangan, apalagi tamu bisa menikmati obrolan langsung. Kami pikir ini sudah cukup memberikan kepuasan.

Di dalam kelas, para pemeran sibuk melayani pelanggan. Terutama area di sekitar Clarice, Misha, dan Minerva yang terlihat paling meriah. Sepertinya mereka bertiga sangat pandai membuat para pria terbawa suasana.

Aku sudah menduga Misha dan Minerva akan mahir melayani tamu, namun aku tidak menyangka Clarice bisa bergerak seluwes itu.

Saat aku mengatakan hal itu padanya, Clarice hanya mengangkat bahu sedikit dan menjawab sambil tertawa.

"Jangan remehkan mantan pegawai minimarket, tahu."

Aku benar-benar disadarkan betapa hebatnya pegawai minimarket di Jepang.

Di sisi lain, Eris dan Karen terlihat agak kaku, namun mereka tetap berusaha melayani tamu dengan baik.

Meski begitu, para tamu tampak sudah puas hanya dengan duduk di dekat mereka berdua. Misha dan Minerva bertindak sebagai pendukung, duduk di dekat mereka dan membantu menghidupkan suasana dengan lihai.

Para tamu wanita juga tampak puas. Terutama Baron yang sepertinya sangat ahli berbicara dengan wanita; tawa tidak pernah berhenti di sekelilingnya.

"Kamu datang dari mana?", "Sampai kapan di Reagan?", "Biasanya kegiatannya apa?"

Awalnya aku berpikir, apa dia sedang merayu mereka?

Namun ternyata percakapannya mengalir dengan sangat alami. Aku dan Dominic mencoba mengikuti jejak Baron, berusaha keras mengajak para wanita mengobrol.

Meski tidak bisa dipungkiri ada rasa kaku, aku bisa merasakan kalau mereka menikmati percakapan tersebut.

Lalu, saat satu jam berlalu, kejutan tak terduga menanti para tamu: Ike dan Senior Berkacamata muncul di kelas sebagai pemeran. Kemunculan mereka berdua membuat para tamu sangat heboh.

Tentu saja, kehadiran Ike dan Senior Berkacamata sudah direncanakan sebelumnya. Popularitas Ike tidak perlu dipertanyakan lagi, namun Senior Berkacamata juga tidak kalah saing.

Kombinasi antara baju maid dan kacamata mendapatkan respon positif dari banyak orang, dan yang terpenting, itu sangat memikat bagiku. Aku bahkan sampai berpikir ingin melihat Clarice memakai kacamata juga nanti.

Namun, operasional Maid Cafe ini memiliki satu masalah, yaitu sistem undian. Karena undian dilakukan tanpa memandang gender, terkadang terjadi ketimpangan.

Misalnya, ada keseimbangan di mana ada empat puluh tamu pria berbanding sepuluh tamu wanita.

Jika ini terjadi, jumlah pemeran wanita akan kurang dibandingkan tamu pria. Dalam kasus tersebut, para tamu terpaksa harus bersabar, namun terkadang situasinya menjadi sulit ditangani.

Saat tamu pria terlalu banyak, pemeran laki-laki yang tersisa akan berganti pakaian ke seragam sekolah lalu keluar untuk beristirahat. Dan di saat itulah, aku melihat keberadaan para Tengkulak.

Tak kusangka, di dunia ini pun ada Tengkulak……

Kenyataannya, tiket masuk seharga satu koin perak diperjualbelikan dengan harga satu koin emas, alias sepuluh kali lipat.

Para Tengkulak terus berdatangan untuk mengikuti undian demi mengincar keuntungan tersebut. Hanya sebagian kecil kaum kaya raya yang bisa mendapatkan tiket dengan harga yang naik tidak wajar itu.

Terlebih lagi, praktik tengkulak ini kabarnya dianggap legal di dunia ini, sehingga tidak ada sarana untuk menindaknya. Sejujurnya ada bagian yang terasa menjengkelkan, tapi sepertinya kami harus menerimanya sebagai bagian dari realitas.

Namun, tidak semuanya buruk. Berkat sistem undian, kami bisa mengatur waktu istirahat secara terencana. Hasilnya, pada hari ketiga Festival Lister ini, kami akhirnya bisa mengambil waktu istirahat di luar jam makan siang. Kami mengambil waktu istirahat yang cukup banyak hari ini, yaitu tiga jam mulai pukul sebelas siang.

Kemarin dan lusa kami hanya sibuk berjabat tangan dan tidak punya waktu luang sama sekali untuk menikmati Festival Lister, jadi waktu ini adalah saat yang kami nanti-nantikan. Sejujurnya, sistem undian ini diterapkan memang demi mendapatkan waktu istirahat ini.

Rasanya memang tidak enak beristirahat lama sementara pelanggan masih mengantre, tapi dengan sistem undian, kekhawatiran itu tidak ada.

"Nah, semuanya, ayo pergi."

Setelah berganti ke seragam sekolah dan berjalan-jalan di area sekolah, Ike dan Senior Berkacamata tiba-tiba dipanggil dan berlari terburu-buru menuju arena. Sepertinya ada permintaan khusus yang masuk.

Di tengah situasi itu, Misha mengusulkan sesuatu dengan penuh semangat.

"Hei, hei! Ayo pergi ke Wind Travel! Seru lho!"

Wind Travel adalah atraksi di mana wagon kereta meluncur menggunakan kekuatan sihir seperti roller coaster.

Karena tidak ada rel, atraksi ini sangat mendebarkan; satu kesalahan kecil dalam pengendalian sihir bisa berakibat fatal, namun kabarnya belum pernah terjadi kecelakaan sekalipun hingga saat ini.

Meski kami menuju ke sana dengan penuh harapan, antreannya ternyata jauh lebih panjang dari bayangan.

Sepertinya karena sesi jabat tangan sudah tidak ada dan Maid Cafe menggunakan sistem undian, para tamu beralih ke atraksi lain sehingga menyebabkan penumpukan seperti ini.

Mempertimbangkan waktu antre, kami memutuskan untuk membatalkan Wind Travel.

Sebagai gantinya, kami menuju atraksi paling populer di Festival Lister, sebuah wahana uji nyali bernama 'Makam Sekolah'.

Misha menjelaskan tentang Makam Sekolah itu, yang intinya adalah rumah hantu.

Dalam perjalanan menuju Makam Sekolah, Clarice menggandeng tanganku secara alami. Melihat hal itu, Karen meminta Eris untuk "bertukar posisi", lalu dia menggandeng tangan kiriku.




Semua orang tahu kalau dua orang ini adalah penakut.

Semakin kami mendekati rumah hantu, atmosfer di sekitar terasa semakin mencekam. Pencahayaan yang remang-remang serta dekorasi mengerikan yang dipasang di sana-sini benar-benar menghidupkan suasana.

Reaksi para pengunjung pun semakin menambah rasa ngeri. Gadis-gadis yang keluar dari rumah hantu itu semuanya tampak ketakutan tanpa pengecualian.

Para pria pun wajahnya tampak tegang, memperlihatkan rasa takut yang mendalam. Kudengar, ada kasus di mana saking takutnya, sang pacar malah melarikan diri dan meninggalkan gadisnya sendirian di dalam.

Salah satu alasan orang-orang tetap masuk ke rumah hantu ini adalah rumor yang mengatakan bahwa pasangan yang berhasil melewatinya akan memiliki ikatan yang lebih dalam. Yah, meski hanya rumor, tetap saja ada keinginan untuk mencobanya.

"Hei... apa kita benar-benar akan masuk?"

Mata Clarice berkaca-kaca, ia bertanya dengan suara yang sedikit bergetar. Karena dia tampak sangat cemas, aku pun membalas genggaman tangannya dengan lembut sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa, aku akan bersamamu."

Namun, di sini muncul satu masalah. 'Makam Sekolah' ini adalah rumah hantu yang menggunakan seluruh gedung sekolah, sehingga butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Apalagi antreannya bergerak sangat lambat. Kalau begini terus, sisa waktu istirahat kami bisa habis hanya di sini.

"Bagaimana kalau kita batalkan saja hari ini dan mencobanya lain kali?"

Begitu aku mengusulkannya, ekspresi Clarice dan Karen tampak sedikit lega.

Tepat saat kami hendak meninggalkan area Makam Sekolah, teriakan salah satu staf bergema di sekitar.

"Oi! Ada yang pingsan! Dua orang perempuan! Katanya laki-laki jangan mendekat! Para gadis, tolong bantu!"

Mendengar itu, Clarice yang sepertinya ketakutan langsung menarik tanganku dan mulai berjalan cepat seolah ingin melarikan diri. Sepertinya dia sudah tidak ingin berada di dekat sini lebih lama lagi.

Kami akhirnya berhenti setelah menjauh sedikit. Di depan kami, muncul antrean baru yang berujung ke arah arena gladiator. Sepertinya ini adalah pertunjukan kelompok Ike.

Bangku penonton sudah penuh, dan ini adalah antrean bagi mereka yang menunggu pembatalan kursi. Biaya masuk ke arena adalah satu koin perak, dan biaya bertanding pun sama.

Namun, jika berhasil mengalahkan lima orang berturut-turut, akan ada hadiah luar biasa sebesar seratus koin emas. Ini adalah bentuk rasa percaya diri bahwa tidak akan ada yang bisa menang lima kali berturut-turut.

Selain itu, syarat bertanding adalah berusia di bawah tujuh belas tahun—artinya, terbatas untuk siswa kelas lima ke bawah.

"Tempat-tempat populer memang penuh semua ya..."

Tepat saat aku bergumam dan hendak berbalik, sebuah suara menghentikanku dari belakang.

"Mars! Datang di waktu yang tepat! Kemarilah dan tonton pertarungan Ike! Ada orang yang berhasil sampai ke tahap melawan Ike melalui babak penyisihan, bukan karena membayar uang besar!"

Saat aku menoleh, Senior Berkacamata sudah berdiri di sana.

"Eh? Bukan cuma Senior Gull, apa Senior Berkacamata juga kalah?"

Sangat jarang ada orang yang bisa menang melawan kombinasi sihir tanah, Golem, dan Binding Eye milik Senior Berkacamata. Saking terkejutnya, aku sampai tidak sadar kalau baru saja salah bicara.

"Gull masih memulihkan HP dengan Potion. Eh, jangan-jangan... Senior Berkacamata itu maksudnya aku?"

Senior Berkacamata mencondongkan wajahnya ke arahku. Sadar kalau aku baru saja keceplosan, aku pun terburu-buru minta maaf.

"I-iya... karena kacamata sangat cocok untuk Senior, aku memanggilmu begitu di dalam hati... Maafkan aku."

Begitu aku minta maaf dengan jujur, Senior Berkacamata tampak tidak terlalu keberatan.

"Tidak apa-apa. Panggil saja aku Senior Berkacamata mulai sekarang. Aku juga tidak bisa maju bertanding sampai MP-ku pulih karena tadi sudah terkuras habis."

Memang benar. Bagi penyihir, kehabisan MP selalu menjadi masalah utama.

Sambil ditarik tangannya oleh Senior Berkacamata, kami melewati antrean dan menuju ke ruang khusus ofisial.

Di tengah jalan, aku diberi tahu bahwa Ike sekarang sedang melawan peserta keempat. Dan lawan Ike kali ini bukanlah penantang biasa.

Katanya, dia sesumbar akan mengalahkan Ike lalu menunjukku sebagai lawan berikutnya.

"Menunjukku... apa maksudnya?"

"Kamu akan tahu kalau melihat pertandingannya langsung. Pokoknya, nantikan saja."

Senyumannya mengandung kepercayaan diri yang aneh, membuatku merasakan campuran antara cemas dan antusias.

Menerima tuntutan dari seorang penantang adalah hal yang biasanya tidak masuk akal.

Namun, karena hal itu benar-benar terjadi, berarti sang lawan pasti memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat permintaannya dikabulkan.

Siapa sebenarnya lawan Ike itu? Dengan jantung yang berdebar kencang, aku melangkah menuju ruang ofisial.

"Mungkin saja, pertarungan ini akan menjadi acara utama di Festival Lister kali ini!"

Suara lantang sang komentator bergema di seluruh penjuru arena.

"Pria terkuat di Sekolah Nasional Lister kita muncul sebagai orang keempat! Gaya bertarungnya benar-benar seperti dewa perang! Pria yang telah menumbangkan banyak musuh kuat dengan tombaknya! Ikeeeeee Bryanttttt!"

Begitu perkenalan berakhir, arena bergetar oleh sorak-sorai yang seolah akan memecahkan telinga. Antusiasme penonton benar-benar luar biasa.

Ike yang mengenakan seragam putih dengan sulaman merah muncul dengan gagah, membuat sorakan semakin membahana.

Sorakan itu mengandung rasa hormat dan kepercayaan mutlak kepada sang kakak yang bisa dibilang sebagai kebanggaan Sekolah Nasional Lister. Nyanyian "Glen!" bergema di mana-mana, memperjelas bahwa Ike diakui sebagai sosok perwakilan sekolah ini.

Namun, ada satu hal yang mengganjal.

Kenapa Ike yang berada di pihak bertahan diperkenalkan lebih dulu? Biasanya penantanglah yang diperkenalkan pertama kali. Sepertinya lawannya memang orang besar yang sangat disegani—dan firasatku tepat sasaran.

"Dan pria yang akan menantang sosok terkuat ini adalah...!"

Komentator itu semakin meninggikan suaranya dan melanjutkan.

"Setengah tahun berlalu sejak pertandingan final TurNaman Siswa Baru! Pria yang kalah karena tak mampu membuat lawannya mencabut pedang telah kembali! Kalau dipukul, dia membalas! Meski tidak dipukul, tetap membalas! Meski tidak kenal, tetap membalas! Kalau mata bertemu, langsung membalas! Kalau merasa tidak bisa menang dari adiknya, dia membalas ke kakaknya! Pria yang akan melampiaskan amarahnya pada siapa saja! Milikmu adalah milikku! Kata arogan pun adalah miliknya! Bladddd Leooonnnn!"

Tribun penonton dipenuhi dengan campuran tawa dan ejekan. Kata-kata provokasi sang komentator terlalu hebat sampai-sampai urat kemarahan terlihat jelas di wajah Bladd.

Aku menatap situasi itu dengan perasaan antara heran dan kagum, sambil bersumpah dalam hati untuk tidak pernah menjadikan komentator ini sebagai musuh.

Lagipula, aku tidak menyangka Bladd akan datang ke sini. Padahal sudah jelas tempat ini akan menjadi medan laga yang sepenuhnya memusuhi dirinya.

Namun, menantang dengan berani seperti itu... apa dia punya rasa percaya diri yang tinggi? Aku tidak bisa setuju dengan paham supremasi beastman-nya, tapi aku harus mengagumi nyalinya untuk menantang.

Bladd dan Ike saling berhadapan di tengah ring. Di tengah ketegangan yang hening, Bladd membuka suara.

"Tak menyangka aku benar-benar bisa melawanmu sebagai orang keempat. Aku sedikit menghormatimu. Seseorang yang datang dari negara lain ke Sekolah Nasional Lister hanya dengan modal nyawa, lalu membangun posisimu sekarang dengan kekuatan sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Bisa mengalahkanmu akan menjadikannya hari terbaik bagiku!"

Kata-kata Bladd memiliki kejujuran yang berbeda dari keangkuhannya yang biasa. Tatapannya menunjukkan rasa hormat kepada lawan bertarungnya.

Bagi siapa pun yang mengetahui riwayat hidup Ike, mereka akan tahu bahwa perkataan Bladd bukanlah bualan. Ike telah mengasah kekuatannya dalam kesendirian dan membangun posisi yang absolut.

Aku memiliki dukungan dari Clarice dan Eris, juga ada Ike. Namun, Ike membuka jalannya sendiri dengan kekuatannya sendiri. Aku menyadari fakta itu sekali lagi.

Menanggapi kata-kata Bladd, Ike menjawab.

"Semangat yang bagus. Bladd, kamu tidak perlu malu karena kalah dari Mars. Karena kurasa tidak ada seorang pun di sekolah ini, termasuk aku, yang bisa mengalahkan Mars. Tapi, dibandingkan Mars, aku hanyalah orang biasa. Bagaimana kalau kamu kalah dariku?"

Kata-kata Ike terdengar seperti sebuah ujian.

"Tidak ada bagaimana-bagaimana! Aku tidak akan kalah! Kalaupun tidak menang, aku tinggal mengulangnya lagi dari nol!"

Ike mengangguk puas sambil mengambil tombaknya.

"Begitu ya. Kalau begitu aku tenang... Meskipun aku akan menghajarmu habis-habisan di sini, jangan menyerah ya! Kamu punya bakat dan keberanian untuk itu!"

Keduanya saling bertukar pandang, lalu menyiapkan senjata masing-masing seolah mengonfirmasi tekad dalam keheningan.

Bladd menggenggam palu besi di tangan kanan dan perisai latihan di tangan kiri. Kuda-kudanya memancarkan tekanan yang kuat, seolah itu bukan sekadar perlengkapan latihan.

Di sisi lain, Ike memegang tombak besi dengan ujung tumpul dengan ringan sambil terus mengawasi lawannya.

Di tengah atmosfer yang menegang di seluruh arena, suara komentator memecah kesunyian.

"—Mulai!"

Seketika, keduanya memperpendek jarak dan saling serang dengan sengit. Palu dan tombak—masing-masing senjata saling beradu, suara logam bergema di arena. Dari segi kecocokan senjata, tombak mungkin lebih unggul, namun tenaga raksasa dan serangan berat Bladd memiliki daya hancur yang mampu membalikkan logikaku.

Namun, teknik tombak Ike jauh di atas itu. Teknik yang terasah dan kegesitannya mulai mengunci pergerakan Bladd. Meski Bladd memukul jatuh tombak itu dengan seluruh tenaganya, Ike menggunakan momentum tersebut untuk menyambungnya ke serangan berikutnya.

Serangan membabi buta Bladd perlahan mulai terhambat oleh teknik dan kecepatan Ike yang luar biasa, ia tidak bisa merebut kembali inisiatif serangan.

Lalu, taktik Ike mulai terlihat. Sang kakak terus-menerus mengincar perisai Bladd, menusuk satu titik yang sama berulang kali. Setiap kali ujung tombak menghantam titik yang sama dengan akurat, perisai itu berderit seolah menjerit, hingga akhirnya mulai retak. Penonton di tribun pun mulai gaduh.

Meski terkejut dengan kerusakan perisainya, Bladd memantapkan tekad dan beralih menyerang.

Ia menerjang ke arah Ike dengan seluruh tenaga dan mengayunkan palu besinya ke bawah. Penonton pun menahan napas melihat kekuatan tersebut. Namun, Ike membaca serangan itu dan menghindar dengan tenang menggunakan backstep.

Tapi di sini Bladd memberikan kejutan.

Dia melemparkan perisainya yang sudah hampir hancur itu langsung ke arah Ike. Suara perisai yang membelah udara terdengar, dan Ike refleks menangkisnya dengan tombak. Namun, celah itu dimanfaatkan oleh kuku tajam Bladd yang menyambar lengan kanan Ike, hingga darah segar memercik.

Di tengah teriakan dan kegaduhan penonton, Ike segera menjaga jarak untuk menghindari luka fatal.

Sementara itu, Bladd kembali mengayunkan palunya untuk melanjutkan serangan.

Ike dengan tenang membaca gerakan Bladd, mengayunkan tombaknya dari atas dan menghantam palu tersebut. Benturan itu membuat palu besi tersebut tertanam di lantai ring, dan posisi tubuh Bladd menjadi sangat tidak seimbang.

Ike tidak menyia-nyiakan celah ini.

Sang kakak langsung melancarkan tendangan tajam ke arah Bladd.

Bladd yang kehilangan senjatanya berusaha keras memperbaiki posisi, namun Ike tidak memberinya kesempatan.

Sesaat kemudian, tombak Ike berhenti tepat di depan leher Bladd.

Serangan yang luar biasa akurat itu membuat seluruh tribun penonton terdiam seketika.

"Cukup sampai di sini! Pemenangnya, Ike Bryant!"

Begitu suara komentator bergema, sorak-sorai dan tepuk tangan meledak di seluruh arena.

Bladd menggigit bibir sambil mengepalkan tangan, lalu memukul lantai ring dengan perasaan kesal.

Sosoknya memperlihatkan penyesalan seorang pecundang sekaligus tekad untuk langkah berikutnya.

Sorak-sorai besar menyelimuti seluruh arena gladiator.

Suara dukungan yang bahkan lebih menggelegar daripada saat masuk tadi bergema, seolah seluruh arena bergetar menjadi satu.

Di tengah suasana itu, Ike mengambil mikrofon berisi batu sihir untuk melakukan wawancara pemenang.

Seketika, kebisingan tadi langsung senyap seolah-olah tidak pernah terjadi. Penonton menahan napas secara serentak, menunggu kata-kata berikutnya. Tatapan mereka terfokus sepenuhnya pada Ike, membuat atmosfer di tempat itu menjadi sangat tenang namun berwibawa.

"Pertama-tama, terima kasih atas dukungannya. Berkat sorakan kalian semua yang memberiku kekuatan, aku bisa menang."

Suara Ike bergema di tengah keheningan penonton. Sang kakak mengambil napas sejenak dan memandang ke seluruh penjuru arena.

"Ngomong-ngomong, aku ingin menanyakan satu hal kepada kalian. Apa pendapat kalian tentang Bladd yang baru saja bertarung denganku? Cara bertarungnya sangat ksatria dan luar biasa. Kalau kami bertarung besok, hasilnya mungkin saja akan berbeda. Saking hebatnya dia. Jadi, untuk saat ini saja, tolong berikan pujian dan rasa hormat yang sebesar-besarnya untuknya. Tanpa dia, pertandingan sehebat ini tidak akan terwujud."

Mendengar perkataan Ike, para penonton serentak berdiri dan memberikan tepuk tangan serta sorakan yang meriah kepada punggung Bladd yang mulai melangkah pergi. Mata Ike yang melihat hal itu tampak berkilat puas.

Bladd pun tidak berakhir hanya sebagai seorang pecundang. Cara bertarungnya menunjukkan tekad dan harga diri yang tak tergoyahkan, yang tidak hanya menggetarkan dadaku, tapi juga hati setiap penonton di sana.

"Pertandingan yang luar biasa ya... Aku baru pertama kali melihat pertarungan sehebat ini..."

Karen bergumam dengan mata berkaca-kaca, seolah terbawa suasana. Misha pun mengangguk penuh semangat setuju dengan perkataan itu.

"Iya! Bladd ternyata memang kuat ya!"

Benar sekali. Itu adalah pertandingan yang membuat semua orang mengakui kekuatan Bladd.

Mengingat perbedaan status dan keuntungan medan selama ini, perjuangan Bladd sangat layak untuk dipuji.

Eris yang memperhatikan jalannya pertandingan pun tampak lega karena semuanya baik-baik saja.

Tak lama kemudian, Ike yang telah selesai dengan wawancara pemenang kembali ke ruang ofisial. Dia tampak terkejut melihat kami di sana.

"Tak menyangka kalian ada di sini."

Mendengar itu, aku menjawab dengan senyuman.

"Selamat, Kak Ike! Benar-benar pertandingan yang hebat. Seperti yang dikatakan Karen, aku belum pernah melihat pertarungan sehebat ini!"

Saat aku dan Ike saling beradu kepalan tangan dengan ringan, anggota dari kelompok [Crimson], [Dawn], serta para ofisial turNaman pun satu per satu melakukan fist bump dengan Ike.

"Bladd itu kuat. Mars yang bisa mengalahkannya dengan tangan kosong tanpa menggunakan pedang memang hebat ya. Tapi, aku menikmati pertarunganku dengan Bladd. Ditambah dengan Senior Dival, sepertinya mereka berdua bisa menjadi rival yang baik bagiku."

Rival, ya. Memiliki lawan yang bisa membuat kita mengeluarkan seluruh kemampuan memang hal yang penting. Perasaan tidak ingin kalah akan memicu motivasi untuk berlatih lebih keras lagi.

Tiba-tiba Ike teringat sesuatu, ia menatapku dan mengembuskan napas.

"Baiklah, mari kembali ke Maid Cafe dan bersiap-siap."

Dengan semangat pertarungan yang masih membekas di hati, kami pun mulai melangkah kembali menuju Maid Cafe.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close