NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 9

Chapter 9

Keresahan di Festival Lister


Haaa... kemarin benar-benar hari yang terburuk.

Pingsan setelah mengompol di rumah hantu, lalu langsung dibawa ke ruang medis... untungnya, Alice juga pingsan di saat yang sama, jadi kegagalan memalukanku tidak ketahuan. Tapi sungguh, aku tidak mau lagi mendekati rumah hantu itu.

Kudengar, saat kami sedang pingsan kemarin, ada pertandingan yang mencapai puncak kemeriahan tertinggi dalam sejarah sekolah.

Pertarungan antara jagoan Sekolah Nasional Lister, Ike, melawan putra mahkota keluarga Adipati Serance, Bladd, kabarnya adalah duel yang sangat mengharukan dan membuat semua orang menahan napas...

"Kak! Hari ini adalah jadwal Maid Cafe Kelas 1-S! Aku tidak sabar bertemu Tuan Mars. Kira-kira dia masih ingat aku tidak, ya?"

Alice menggumamkan hal-hal yang persis seperti yang dikatakan para wanita di antrean sesi jabat tangan waktu itu. Matanya berbinar, dan kegembiraan samar terpancar darinya.

Sejak bertemu Mars, dia selalu sibuk menoleh ke sana-kemari di dalam sekolah hanya untuk mencarinya. Melihat tingkahnya itu, aku hanya bisa menghela napas sambil bergumam dalam hati.

Apa sih bagusnya pria yang cuma modal tampang itu...?

―Tidak, wajahnya memang benar-benar tampan. Malah terlalu sempurna. Aku bisa menatap wajah itu selamanya... tidak, aku justru ingin dia terus berada dalam jangkauan pandanganku...

Gawat! Kalau aku ikut-ikutan begini, aku tidak bisa melindungi Alice dari taring beracun pria itu! Ah, tapi demi Alice, mungkin sebaiknya aku dulu yang terkena taringnya... atau malah aku yang menyerang...

"Kakak, tidak apa-apa? Wajahmu merah sekali?"

Suara Alice membuatku kembali ke realitas.

"E-eh... aku cuma sedikit menyesal tidak bisa melihat pertandingan kemarin. Kudengar, orang bernama Ike itu juga sangat tampan. Terus, Miss Lister tahun lalu, Edin, juga anggota kelompok [Crimson] yang sama dengan Ike. Kita tidak boleh melewatkannya. Hari ini akan jadi hari yang sibuk!"

"Kakak memang suka pria tampan, tapi ternyata suka wanita cantik juga ya~"

Tidak salah. Malah tepat sekali.

Aku ingin melihat lebih banyak hal indah untuk mengasah Aesthetic Eye-ku. Impianku adalah menjadi pedagang atau desainer di masa depan.

Untuk itu, aku perlu mengumpulkan banyak pengalaman selagi muda. Menjadi petualang adalah langkah pertama yang pas. Setelah lulus, aku akan aktif sebagai petualang sebentar, lalu baru mengejar impianku yang sesungguhnya.

"Kita masuk sesi jam 08.30, jadi kita harus berangkat sekarang."

Maid Cafe ini sangat populer sehingga sistemnya menggunakan undian yang dilakukan sehari sebelumnya; hanya pemenang yang boleh masuk. Kabarnya tingkat persaingannya mencapai ratusan atau ribuan kali lipat, dan tiketnya bisa laku terjual seharga lima koin emas!

Kemarin, saat hendak pulang, Alice iseng mendaftar, dan tak disangka kami menang!

Sambil bersyukur atas keberuntungan Alice, aku melangkah menuju tempat di mana pengalaman istimewa itu menanti.

◆◇◆

Hari ini pun kami membayar biaya masuk yang mahal untuk masuk ke area sekolah.

Dalam seminggu, biaya masuk kami berdua saja sudah mencapai empat belas koin perak... ditambah makan dan biaya masuk lainnya, sudah pasti lewat dari dua puluh koin perak. Aku benar-benar bersyukur orang tuaku kaya raya.

Sambil menikmati suasana sekolah, kami tiba di depan gedung tempat Maid Cafe berada, dan suasananya tampak sangat gaduh. Jika didengarkan baik-baik, terdengar suara lantang berteriak, "Satu tiket kubeli sepuluh koin emas, serahkan sekarang!"

Katanya, yang memerintah dengan angkuh itu adalah pangeran dari Kerajaan Zalkam. Dia bersama para petualang yang tampaknya adalah ajudannya, terus mendatangi orang-orang yang memegang tiket.

Saat kami berdua lewat di sampingnya, Pangeran Zalkam itu melirik kami sekilas dan berkata.

"Oi, kalian akan kujadikan selir. Bersyukurlah."

...Apa sih mau pria ini?

Tentu saja aku pura-pura tidak dengar, dan bersama Alice, aku bergegas menuju depan ruang kelas. Aku tidak sudi berurusan dengan mereka lebih jauh lagi.

Tak lama kemudian, para pemegang tiket mulai berkumpul. Dan sialnya, Pangeran Zalkam tadi beserta para ajudannya juga ada di antara mereka.

Jujur, perasaanku mulai tidak enak...

Pukul 08.30. Para tamu dari sesi sebelumnya keluar dari kelas.

Lalu di balik pintu, muncullah Clarice dengan balutan baju maid.

"Pelanggan untuk sesi 08.30. Maaf telah membuat menunggu lama. Silakan masuk."

Begitu dia bicara, atmosfer di tempat itu langsung berubah.

Baju maid apa-apaan ini...?

Rok baju maid Clarice luar biasa pendek. Namun, dengan memakai kaos kaki putih panjang (high socks) sampai ke atas lutut, anehnya kesan mesumnya berkurang tapi malah membuat mata kaum pria tidak bisa berpaling.

Tatapan para pria bolak-balik antara wajah, dada, dan paha putihnya yang menyilaukan, persis seperti gerakan latihan side-to-side jump.

Tentu saja aku pun terpaku. Daya hancur penampilan ini terlalu berbahaya.

"Kak! Ayo cepat masuk! Nanti kursi yang bagus diambil orang!"

Alice menarikku kembali ke kenyataan. Saat aku buru-buru masuk ke kelas, pemandangan indah terbentang di depan mataku.

Bukan, ini sudah seperti surga. Surga dunia...!

Di dalam kelas ada lima pria memakai tuksedo dan tujuh wanita berbaju maid. Pemandangan ini saja sudah tidak nyata, tapi yang lebih mengejutkan, tamu wanita di sesi ini cuma kami berdua!

Artinya, lima pria tampan ini akan mengawal kami berdua. Ruang yang benar-benar seperti mimpi!

"Oh, Sophia! Ada Alice juga! Kemarin kalian tiba-tiba hilang, aku sempat khawatir, tahu. Ayo, duduk di sini!"

Yang menyapa adalah Dominic. Penampilannya yang memakai tuksedo terasa jauh berbeda dari biasanya. Tapi, dialah satu-satunya pria yang bisa kuajak bicara tanpa rasa tegang.

Dominic menuntun kami ke meja untuk enam orang di sudut ruangan. Di sana sudah ada tiga pria tampan yang menunggu... Mars, Baron... dan siapa pria tampan berambut merah ini?

Hanya satu pria yang usianya sedikit lebih tua—mungkin seorang guru—yang tampaknya tidak ikut melayani tamu, tapi tetap saja bisa memonopoli empat pria tampan adalah kemewahan yang tiada tara.

Aku melihat sekeliling, tamu-tamu lain sudah duduk dan asyik mengobrol dengan para wanita cantik.

Begitu kami duduk, pria-pria tampan itu duduk di kedua sisi kami. Di sampingku ada Dominic dan Baron. Di samping Alice ada Mars dan si pria berambut merah.

Tiba-tiba, pria berambut merah dan Mars memberi kode pada Dominic. Dominic menyambut kode itu dan mulai berbicara dengan senyum yang menyegarkan.

"Pertama, mari kita perkenalkan diri. Dimulai dari sisi pria, bagaimana kalau berdasarkan urutan peringkat?"

Begitu Dominic bertanya pada pria berambut merah, pria itu mengangguk tenang. Bahkan gerakan kecilnya saja memancarkan aura luar biasa yang menarik perhatian orang di sekitar.

Sudah kuduga... berita bahwa Mars adalah peringkat pertama Kelas 1-S pasti bohong. Tidak masuk akal... kalau pria berambut pirang yang super tampan ini juga kuat, mana ada wanita yang tidak jatuh cinta padanya!

Pria berambut merah itu berdiri perlahan.

Dia mengenakan tuksedo hitam pekat dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang sangat serasi dengan wajah tampannya yang sempurna. Dia meletakkan tangan di dada dan membungkuk hormat.

"Salam kenal. Nama saya Ike Bryant, peringkat pertama Kelas 4-S Sekolah Nasional Lister. Meskipun singkat, saya harap kalian bisa menikmati waktu di sini."

―Hah...? Eh...? Dia bilang apa tadi? Aku tidak dengar kalau ada anak kelas empat di sini...?!

Sambil masih terkejut, aku menoleh ke Alice, dan adikku pun memberanikan diri untuk bicara.

"Tuan Ike... apa Anda adalah orang yang dipanggil Glen?"

Mendengar suara Alice yang tegang, Ike tersenyum ramah dan mengangguk.

Eeehhhhh! Misi hari ini hampir selesai, dong?! Tinggal melihat si cantik Edin, maka hidupku tidak akan ada penyesalan lagi!

Meski begitu, gila juga ya ada orang sehebat dan setampan ini... Dominic memang tampan, tapi Ike ini berada di level yang berbeda...

Saat aku sedang berpikir begitu, si pria pirang super tampan―Mars, mulai bicara.

"Saya Mars Bryant, peringkat pertama Kelas 1-S. Mungkin kalian sudah tahu, saya adalah adik Kak Ike. Sekali lagi, mohon bantuannya."

―Eh...? Bersaudara...? Si rambut merah itu dan si pirang tampan ini...?!

Apalagi yang duduk di antara mereka berdua adalah Alice, adikku sendiri...! Apa ada wanita lain yang lebih beruntung darinya di dunia ini...? Aku juga ingin duduk di sana... eh, tidak, tidak...

Alice pun saking terkejutnya menatap Ike dan Mars bergantian. Melihat reaksi adikku, Ike tertawa kecil.

"Lho? Kalian tidak tahu? Sepertinya kami masih harus berusaha keras mempromosikan nama dan wajah kami, ya."

―Jangan-jangan... Mars ini benar-benar kuat?

"Tuan Mars? Lain kali, bolehkah saya berlatih tanding dengan Anda? Saya pernah dipuji kalau saya punya bakat."

Alice melancarkan pendekatan agresif.

Namun, kata-kata balasan dari Mars membuat alarm di hatiku berbunyi kencang.

"Tentu saja. Mari kita lakukan. Tapi sebelumnya, bolehkah aku menggunakan Appraisal padamu?"

―Ternyata dia punya mata sihir! Kalau Alice sampai di-Appraisal... aku panik dan baru saja mau bilang "Jangan!", tapi di saat itu juga, suara benda pecah yang memekakkan telinga bergema di ruangan.

PRANG!

Suara barang hancur diikuti dengan teriakan marah dan jeritan menyayat hati. Atmosfer seketika mencekam, semua orang menoleh ke arah sumber suara.

Di sana, terlihat sang Pangeran yang sedang mengamuk, Clarice dengan darah mengalir di pipinya, serta Eris yang dahinya berdarah―

"Jangan bercanda! Aku ini pangeran ketiga Kerajaan Zalkam, tahu?! Aku datang ke sini membayar dua puluh koin emas! Bawa semua maid itu ke hadapanku!"

Teriakan kemarahan itu menggetarkan ruangan. Bersamaan dengan itu, suara gelas yang dihantamkan ke lantai kembali terdengar.

Pecahan gelas terbang ke udara, dan salah satunya menyayat pipi Clarice. Kulit putihnya pun tergores luka merah yang mengucurkan darah segar.

Ditambah lagi, dahi Eris juga terkena pecahan, darah mulai merembes dari luka kecilnya.

Tamu-tamu lain juga terkena serpihan kaca dan beberapa terluka. Namun, para tamu yang terluka segera mendapat pertolongan pertama dari Misha dan Minerva. Anehnya, mereka malah tampak memasang ekspresi sangat bahagia setelah dirawat.

Namun, dalam diriku, kemarahan mulai meluap-luap.

Aku mengepalkan tangan dan mengertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga menahan diri. Aku tahu kalau emosi mengambil alih sekarang, keadaan akan makin kacau―tapi melihat Clarice dan Eris terluka, perasaan negatif yang belum pernah kurasakan sebelumnya menguasai hatiku.

Beraninya kamu... melukai Clarice dan Eris kesayanganku...

Clarice tampak sedang menahan diri sekuat tenaga. Eris terlihat menyimpan niat membunuh di matanya, meski tampaknya dia belum benar-benar marah besar.

Aku menoleh ke arah Ike. Ike mengangguk pelan. Isyarat itu adalah pesan tanpa kata bahwa dia menyerahkan urusan ini padaku.

Bukan berarti Ike lepas tangan. Justru, dia menilai bahwa aku sendirilah yang harus menyelesaikan masalah ini demi masa depan kami.

Di sisi lain, Karen tampak sudah siap menerjang, tapi dia mengurungkan niat setelah melihat wajahku. Sepertinya pesanku tersampaikan: "Aku yang akan melakukannya. Jangan ikut campur."

Kemarahan meluap dari dasar hatiku, siap mengambil alih seluruh tubuhku.

Namun, sisi lain diriku yang tenang berusaha keras menahannya. Meski begitu, mustahil untuk ditahan. Ketenangan itu pun mulai tertelan oleh amarah.

Tepat saat aku hendak berdiri, Reiner yang memakai tuksedo langsung menghunuskan pedang ke arah pria yang menghancurkan gelas tadi.

"Segera pergi dari sini! Kalau tidak, akan kutebas!"

Suara Reiner dipenuhi dengan hawa amarah yang nyata. Meski ketakutan melihat ujung pedang itu, si pria membalas dengan suara bergetar.

"Aku adalah pangeran ketiga Zalkam, Doaho Zalkam! Mengarahkan pedang padaku berarti menyatakan perang terhadap negaraku! Apa guru rendahan sepertimu paham?!"

Tapi Reiner tidak gentar sedikit pun.

"Kubilang sekali lagi. Enyahlah dari sini!"

Suara Reiner semakin tajam, bilah pedangnya menyentuh pipi Doaho.

Saat itu, petualang yang berjaga di samping Doaho angkat bicara. Aku seperti pernah melihat pria ini, tapi aku tidak punya waktu untuk mengingatnya sekarang.

"Pangeran... lawan kita terlalu tangguh. Dia adalah 'Sword Hunter' Reiner. Mustahil bagiku sendirian untuk melawannya..."

Mendengar itu, Doaho menahan kekesalannya dan hendak berdiri untuk pergi.

Seharusnya masalah ini selesai sampai di sini. Tapi, fakta bahwa Clarice dan Eris―dua tunanganku yang kucintai―telah terluka, terasa seperti duri yang menancap dalam di dadaku.

Memang benar tindakan Reiner sangat membantu. Jika dia tidak bergerak, mungkin aku sudah mengamuk tanpa kendali. Namun, ada satu penyesalan yang tersisa.

Kenapa bukan aku yang maju duluan? Seharusnya saat tunanganku dalam bahaya, akulah yang pertama kali bergerak―

"Tunggu sebentar!"

Mungkin karena perasaan itu, suaraku menggema di dalam ruangan dengan sangat keras.

Di ruangan yang sunyi itu, kata-kataku terdengar jelas.

"Setelah melukai orang, kalian mau pergi begitu saja tanpa minta maaf?!"

Suasana langsung berubah drastis. Saat perhatian semua orang tertuju padaku, aku melihat Clarice dan Eris tersenyum. Senyum mereka membuat hatiku sedikit menghangat.

"Hah? Aku ini anggota keluarga kerajaan, tahu?! Memangnya kamu pikir kamu siapa!"

Si pria bernama Doaho itu menggonggong dengan nada mengancam. Tapi sama sekali tidak ada wibawa kerajaan dalam dirinya.

"Itu berlaku di Kerajaan Zalkam, kan? Di sini adalah Federasi Lister."

Begitu aku membalasnya, wajah pria itu sesaat berubah masam, lalu dia langsung memasang senyum provokatif.

"Hooo... kalau mau aku minta maaf, tunjukkan kekuatanmu! Paling-paling kamu cuma pengecut yang bersembunyi di balik bayang-bayang si Reiner itu, kan?"

Amarahku makin berkobar. Tapi aku tidak boleh kehilangan kendali.

"Baiklah. Apa yang harus kulakukan?"

Dalam kesunyian yang semakin dalam, aku menjawab dengan suara rendah.

"Ah? Kamu serius? Baiklah."

Doaho memelototiku, tapi wajahnya masih terlihat kekanak-kanakan. Mungkin seumuran denganku.

"Aku membawa dua party Rank-B. Di sampingku ini adalah Olygo, pemimpin party [Moonlight Darkness]. Dan satu lagi adalah [Abyss]. Kalau kamu bisa menang sendirian melawan salah satu dari dua party ini, aku akan sujud minta maaf sambil menjilat tanah!"

Doaho meludah dengan nada sombong.

Ah, aku ingat sekarang. Orang-orang ini adalah mereka yang kulihat di lelang budak... kalau tidak salah, Waltz sang penyihir tidur juga bagian dari mereka.

Waltz sudah tobat, tapi orang-orang ini masih saja bertingkah seperti ini.

"Baiklah. Kalau begitu, aku sendiri yang akan melawan party [Moonlight Darkness] dan [Abyss] sekaligus. Kalau aku menang, kalian harus minta maaf."

Semua orang di sana tercengang, termasuk Doaho.

"Apa otakmu sudah miring karena terlalu takut? Tapi kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik lagi! Menyesallah di neraka!"

Doaho berteriak, membuat tamu lain gemetar.

Tapi aku tidak memedulikan reaksi mereka.

"Kak Ike, apa arenanya bisa digunakan setelah ini?"

Aku berbalik meminta bantuan pada Ike.

Ike mengangguk dan segera membuat pengaturan.

"Sophia, Alice, aku akan menebus waktu kalian yang terbuang setelah ini, ya?"

Kakak-beradik itu tampak sangat terkejut, tapi mereka mengangguk pelan.

Setelah meninggalkan Sasha-sensei untuk menjaga toko, Reiner-sensei dan Bram menuntun Doaho dan gerombolannya menuju arena gladiator terlebih dahulu.

Lalu, aku membawa Clarice dan Eris ke ruang belakang. Tentu saja untuk mengobati mereka.

Begitu pintu ruang belakang tertutup, Clarice dan Eris langsung memelukku bersamaan.

"Mars, terima kasih."

"...Aku senang..."

Suara lembut mereka terdengar di telingaku. Sambil merasa lega di dalam hati, aku merapalkan Heal pada pipi Clarice dan dahi Eris.

Saat aku memeriksa seluruh tubuh mereka, aku menemukan luka sayatan kecil di Absolute Territory―bagian paha mereka yang terbuka.

Aku segera berlutut, merapalkan Heal, lalu membalutnya dengan perban secara hati-hati.

"Kalian berdua, apa ada bagian lain yang..."

Saat selesai membalut paha Clarice dan sedang membalut paha Eris, aku mendongak untuk bertanya―dan saat itulah yang terlihat di mataku adalah pemandangan gradasi warna merah muda dan kuning cerah di balik rok mini mereka.

"M-maaf! Aku tidak bermaksud...!"

Aku buru-buru memalingkan muka dengan perasaan kacau. Tidak menyangka dalam situasi begini aku malah pertama kali melihat pakaian dalam mereka.

Melihat tingkahku, Clarice dan Eris tersenyum lembut.

Mereka pun berlutut sehingga posisi mata kami sejajar, lalu memelukku lagi.

"Iya, kami tahu kok. Benar-benar terima kasih ya. Aku makin jatuh cinta lagi padamu."

"...Terima kasih sudah menjagaku..."

Kata-kata mereka membuat hatiku terasa hangat.

Meski aku membuat masalah ini jadi besar, tindakanku tidaklah salah―aku ingin percaya itu.

Dan jika situasi yang sama terulang, aku pasti akan mengambil pilihan yang sama.

Setelah selesai membalut paha Eris dengan hati-hati, aku menempelkan plester pada pipi Clarice dan dahi Eris.

Berkat Heal yang kurapalkan berulang kali, seharusnya bekas lukanya sudah hilang total.

Tapi, akan aneh kalau kami kembali tanpa luka sama sekali, dan itu bisa membocorkan fakta bahwa salah satu dari kami bertiga adalah penyihir suci.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian berdua tolong saling periksa tubuh masing-masing. Mungkin ada luka di bagian yang tidak terlihat."

Setelah berkata begitu, aku meninggalkan ruang belakang.

Saat kembali ke Maid Cafe, Sasha-sensei sudah membereskan serpihan kaca dengan sihir angin, dan para tamu pria ikut membantu merapikan kursi dan meja.

"Semuanya, saya mohon maaf sebesar-besarnya."

Saat aku membungkuk dalam, para tamu malah menyahut dengan ramah.

"Kamu keren sekali tadi!"

"Rasanya lega melihatnya!"

"Hajar saja mereka dengan seratus orang!"

Didorong oleh dukungan hangat itu, aku membungkuk sekali lagi dan berlari menuju arena gladiator.

Aku tidak boleh mengecewakan harapan mereka. Dan yang terpenting―

Hukuman karena telah melukai Clarice dan Eris, akan kujatuhkan sendiri dengan tangan ini!




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close