Chapter
9
Keresahan
di Festival Lister
Haaa... kemarin benar-benar hari yang terburuk.
Pingsan setelah mengompol di rumah hantu, lalu
langsung dibawa ke ruang medis... untungnya, Alice juga pingsan di saat yang
sama, jadi kegagalan memalukanku tidak ketahuan. Tapi sungguh, aku tidak mau
lagi mendekati rumah hantu itu.
Kudengar, saat kami sedang pingsan kemarin, ada
pertandingan yang mencapai puncak kemeriahan tertinggi dalam sejarah sekolah.
Pertarungan antara jagoan Sekolah Nasional Lister,
Ike, melawan putra mahkota keluarga Adipati Serance, Bladd, kabarnya adalah
duel yang sangat mengharukan dan membuat semua orang menahan napas...
"Kak!
Hari ini adalah jadwal Maid Cafe Kelas 1-S! Aku
tidak sabar bertemu Tuan Mars. Kira-kira dia masih ingat aku tidak, ya?"
Alice menggumamkan hal-hal yang persis seperti yang
dikatakan para wanita di antrean sesi jabat tangan waktu itu. Matanya berbinar,
dan kegembiraan samar terpancar darinya.
Sejak bertemu Mars, dia selalu sibuk menoleh ke
sana-kemari di dalam sekolah hanya untuk mencarinya. Melihat tingkahnya itu,
aku hanya bisa menghela napas sambil bergumam dalam hati.
Apa sih bagusnya pria yang cuma modal tampang itu...?
―Tidak, wajahnya memang benar-benar tampan. Malah
terlalu sempurna. Aku bisa menatap wajah itu selamanya... tidak, aku justru
ingin dia terus berada dalam jangkauan pandanganku...
Gawat! Kalau aku ikut-ikutan begini, aku tidak bisa
melindungi Alice dari taring beracun pria itu! Ah, tapi demi Alice, mungkin
sebaiknya aku dulu yang terkena taringnya... atau malah aku yang menyerang...
"Kakak, tidak apa-apa? Wajahmu merah sekali?"
Suara Alice membuatku kembali ke realitas.
"E-eh... aku cuma sedikit menyesal tidak bisa
melihat pertandingan kemarin. Kudengar, orang bernama Ike itu juga sangat
tampan. Terus, Miss Lister tahun lalu, Edin, juga anggota kelompok [Crimson]
yang sama dengan Ike. Kita tidak boleh melewatkannya. Hari ini akan jadi hari
yang sibuk!"
"Kakak memang suka pria tampan, tapi ternyata suka
wanita cantik juga ya~"
Tidak salah. Malah tepat sekali.
Aku ingin melihat lebih banyak hal indah untuk mengasah Aesthetic
Eye-ku. Impianku adalah menjadi pedagang atau desainer di masa depan.
Untuk itu, aku perlu mengumpulkan banyak pengalaman
selagi muda. Menjadi petualang adalah langkah pertama yang pas. Setelah lulus,
aku akan aktif sebagai petualang sebentar, lalu baru mengejar impianku yang
sesungguhnya.
"Kita masuk sesi jam 08.30, jadi kita harus
berangkat sekarang."
Maid Cafe ini sangat populer sehingga sistemnya
menggunakan undian yang dilakukan sehari sebelumnya; hanya pemenang yang boleh
masuk. Kabarnya tingkat persaingannya mencapai ratusan atau ribuan kali lipat,
dan tiketnya bisa laku terjual seharga lima koin emas!
Kemarin, saat hendak pulang, Alice iseng mendaftar,
dan tak disangka kami menang!
Sambil bersyukur atas keberuntungan Alice, aku
melangkah menuju tempat di mana pengalaman istimewa itu menanti.
◆◇◆
Hari ini pun kami membayar biaya masuk yang mahal
untuk masuk ke area sekolah.
Dalam seminggu, biaya masuk kami berdua saja sudah
mencapai empat belas koin perak... ditambah makan dan biaya masuk lainnya,
sudah pasti lewat dari dua puluh koin perak. Aku benar-benar bersyukur orang
tuaku kaya raya.
Sambil menikmati suasana sekolah, kami tiba di depan
gedung tempat Maid Cafe berada, dan suasananya tampak sangat gaduh. Jika
didengarkan baik-baik, terdengar suara lantang berteriak, "Satu tiket
kubeli sepuluh koin emas, serahkan sekarang!"
Katanya, yang memerintah dengan angkuh itu adalah
pangeran dari Kerajaan Zalkam. Dia bersama para petualang yang tampaknya adalah
ajudannya, terus mendatangi orang-orang yang memegang tiket.
Saat kami berdua lewat di sampingnya, Pangeran Zalkam
itu melirik kami sekilas dan berkata.
"Oi, kalian akan kujadikan selir.
Bersyukurlah."
...Apa sih mau pria ini?
Tentu saja aku pura-pura tidak dengar, dan bersama Alice,
aku bergegas menuju depan ruang kelas. Aku tidak sudi berurusan dengan mereka
lebih jauh lagi.
Tak lama kemudian, para pemegang tiket mulai berkumpul.
Dan sialnya, Pangeran Zalkam tadi beserta para ajudannya juga ada di antara
mereka.
Jujur, perasaanku mulai tidak enak...
Pukul 08.30. Para tamu dari sesi sebelumnya keluar dari
kelas.
Lalu di balik pintu, muncullah Clarice dengan balutan
baju maid.
"Pelanggan untuk sesi 08.30. Maaf telah membuat
menunggu lama. Silakan masuk."
Begitu dia bicara, atmosfer di tempat itu langsung
berubah.
Baju maid apa-apaan ini...?
Rok
baju maid Clarice luar biasa pendek. Namun, dengan memakai kaos kaki putih
panjang (high socks) sampai ke atas lutut, anehnya kesan mesumnya
berkurang tapi malah membuat mata kaum pria tidak bisa berpaling.
Tatapan
para pria bolak-balik antara wajah, dada, dan paha putihnya yang menyilaukan,
persis seperti gerakan latihan side-to-side jump.
Tentu saja aku pun terpaku. Daya hancur penampilan ini
terlalu berbahaya.
"Kak! Ayo cepat masuk! Nanti kursi yang bagus
diambil orang!"
Alice menarikku kembali ke kenyataan. Saat aku buru-buru
masuk ke kelas, pemandangan indah terbentang di depan mataku.
Bukan, ini sudah seperti surga. Surga dunia...!
Di dalam kelas ada lima pria memakai tuksedo dan tujuh
wanita berbaju maid. Pemandangan ini saja sudah tidak nyata, tapi yang lebih
mengejutkan, tamu wanita di sesi ini cuma kami berdua!
Artinya, lima pria tampan ini akan mengawal kami berdua. Ruang yang benar-benar seperti mimpi!
"Oh,
Sophia! Ada Alice juga! Kemarin kalian tiba-tiba hilang, aku sempat khawatir,
tahu. Ayo, duduk di sini!"
Yang menyapa adalah Dominic. Penampilannya yang memakai
tuksedo terasa jauh berbeda dari biasanya. Tapi, dialah satu-satunya pria yang
bisa kuajak bicara tanpa rasa tegang.
Dominic menuntun kami ke meja untuk enam orang di sudut
ruangan. Di sana
sudah ada tiga pria tampan yang menunggu... Mars, Baron... dan siapa pria
tampan berambut merah ini?
Hanya
satu pria yang usianya sedikit lebih tua—mungkin seorang guru—yang tampaknya
tidak ikut melayani tamu, tapi tetap saja bisa memonopoli empat pria tampan
adalah kemewahan yang tiada tara.
Aku
melihat sekeliling, tamu-tamu lain sudah duduk dan asyik mengobrol dengan para
wanita cantik.
Begitu kami duduk, pria-pria tampan itu duduk di kedua
sisi kami. Di sampingku ada Dominic dan Baron. Di samping Alice
ada Mars dan si pria berambut merah.
Tiba-tiba, pria berambut merah dan Mars memberi kode
pada Dominic. Dominic menyambut kode itu dan mulai berbicara dengan senyum yang
menyegarkan.
"Pertama, mari kita perkenalkan diri. Dimulai dari
sisi pria, bagaimana kalau berdasarkan urutan peringkat?"
Begitu Dominic bertanya pada pria berambut merah, pria
itu mengangguk tenang. Bahkan gerakan kecilnya saja memancarkan aura luar biasa
yang menarik perhatian orang di sekitar.
Sudah kuduga... berita bahwa Mars adalah peringkat
pertama Kelas 1-S pasti bohong. Tidak masuk akal... kalau pria berambut pirang
yang super tampan ini juga kuat, mana ada wanita yang tidak jatuh cinta
padanya!
Pria berambut merah itu berdiri perlahan.
Dia mengenakan tuksedo hitam pekat dengan kemeja
putih dan dasi kupu-kupu yang sangat serasi dengan wajah tampannya yang
sempurna. Dia meletakkan tangan di dada dan membungkuk hormat.
"Salam kenal. Nama saya Ike Bryant, peringkat
pertama Kelas 4-S Sekolah Nasional Lister. Meskipun
singkat, saya harap kalian bisa menikmati waktu di sini."
―Hah...? Eh...? Dia bilang apa tadi? Aku tidak dengar
kalau ada anak kelas empat di sini...?!
Sambil masih terkejut, aku menoleh ke Alice, dan adikku
pun memberanikan diri untuk bicara.
"Tuan Ike... apa Anda adalah orang yang
dipanggil Glen?"
Mendengar suara Alice yang tegang, Ike tersenyum
ramah dan mengangguk.
Eeehhhhh! Misi hari ini hampir selesai, dong?! Tinggal
melihat si cantik Edin, maka hidupku tidak akan ada penyesalan lagi!
Meski begitu, gila juga ya ada orang sehebat dan
setampan ini... Dominic memang tampan, tapi Ike ini berada di level yang
berbeda...
Saat aku sedang berpikir begitu, si pria pirang super
tampan―Mars, mulai bicara.
"Saya Mars Bryant, peringkat pertama Kelas 1-S.
Mungkin kalian sudah tahu, saya adalah adik Kak Ike. Sekali lagi, mohon
bantuannya."
―Eh...? Bersaudara...? Si rambut merah itu dan si
pirang tampan ini...?!
Apalagi yang duduk di antara mereka berdua adalah
Alice, adikku sendiri...! Apa ada wanita lain yang lebih
beruntung darinya di dunia ini...? Aku juga ingin duduk di sana... eh, tidak,
tidak...
Alice pun saking terkejutnya menatap Ike dan Mars
bergantian. Melihat reaksi adikku, Ike tertawa kecil.
"Lho? Kalian tidak tahu? Sepertinya kami masih
harus berusaha keras mempromosikan nama dan wajah kami, ya."
―Jangan-jangan...
Mars ini benar-benar kuat?
"Tuan Mars? Lain kali, bolehkah saya berlatih
tanding dengan Anda? Saya pernah dipuji kalau saya punya bakat."
Alice melancarkan pendekatan agresif.
Namun, kata-kata balasan dari Mars membuat alarm di
hatiku berbunyi kencang.
"Tentu saja. Mari kita lakukan. Tapi sebelumnya,
bolehkah aku menggunakan Appraisal padamu?"
―Ternyata dia punya mata sihir! Kalau Alice sampai di-Appraisal...
aku panik dan baru saja mau bilang "Jangan!", tapi di saat itu juga,
suara benda pecah yang memekakkan telinga bergema di ruangan.
PRANG!
Suara barang hancur diikuti dengan teriakan marah dan
jeritan menyayat hati. Atmosfer seketika mencekam, semua orang menoleh ke arah
sumber suara.
Di sana, terlihat sang Pangeran yang sedang mengamuk,
Clarice dengan darah mengalir di pipinya, serta Eris yang dahinya berdarah―
"Jangan bercanda! Aku ini pangeran ketiga Kerajaan
Zalkam, tahu?! Aku datang ke sini membayar dua puluh koin emas! Bawa semua maid
itu ke hadapanku!"
Teriakan kemarahan itu menggetarkan ruangan. Bersamaan
dengan itu, suara gelas yang dihantamkan ke lantai kembali terdengar.
Pecahan gelas terbang ke udara, dan salah satunya
menyayat pipi Clarice. Kulit putihnya pun tergores luka merah yang mengucurkan
darah segar.
Ditambah lagi, dahi Eris juga terkena pecahan, darah
mulai merembes dari luka kecilnya.
Tamu-tamu lain juga terkena serpihan kaca dan beberapa
terluka. Namun, para tamu yang terluka segera mendapat pertolongan pertama dari
Misha dan Minerva. Anehnya, mereka malah tampak memasang ekspresi sangat
bahagia setelah dirawat.
Namun, dalam diriku, kemarahan mulai meluap-luap.
Aku mengepalkan tangan dan mengertakkan gigi, berusaha
sekuat tenaga menahan diri. Aku tahu kalau emosi mengambil alih sekarang,
keadaan akan makin kacau―tapi melihat Clarice dan Eris terluka, perasaan
negatif yang belum pernah kurasakan sebelumnya menguasai hatiku.
Beraninya kamu... melukai Clarice dan Eris
kesayanganku...
Clarice tampak sedang menahan diri sekuat tenaga.
Eris terlihat menyimpan niat membunuh di matanya, meski tampaknya dia belum
benar-benar marah besar.
Aku menoleh ke arah Ike. Ike mengangguk pelan. Isyarat
itu adalah pesan tanpa kata bahwa dia menyerahkan urusan ini padaku.
Bukan berarti Ike lepas tangan. Justru, dia menilai
bahwa aku sendirilah yang harus menyelesaikan masalah ini demi masa depan kami.
Di sisi lain, Karen tampak sudah siap menerjang, tapi dia
mengurungkan niat setelah melihat wajahku. Sepertinya pesanku tersampaikan:
"Aku yang akan melakukannya. Jangan ikut campur."
Kemarahan meluap dari dasar hatiku, siap mengambil alih
seluruh tubuhku.
Namun, sisi lain diriku yang tenang berusaha keras
menahannya. Meski begitu, mustahil untuk ditahan. Ketenangan itu pun mulai
tertelan oleh amarah.
Tepat saat aku hendak berdiri, Reiner yang memakai
tuksedo langsung menghunuskan pedang ke arah pria yang menghancurkan gelas
tadi.
"Segera pergi dari sini! Kalau tidak, akan
kutebas!"
Suara Reiner dipenuhi dengan hawa amarah yang nyata.
Meski ketakutan melihat ujung pedang itu, si pria membalas dengan suara
bergetar.
"Aku adalah pangeran ketiga Zalkam, Doaho Zalkam! Mengarahkan pedang padaku berarti menyatakan perang terhadap negaraku!
Apa guru rendahan sepertimu paham?!"
Tapi Reiner tidak gentar sedikit pun.
"Kubilang sekali lagi. Enyahlah dari sini!"
Suara Reiner semakin tajam, bilah pedangnya menyentuh
pipi Doaho.
Saat itu, petualang yang berjaga di samping Doaho
angkat bicara. Aku seperti pernah melihat pria ini, tapi aku tidak punya waktu
untuk mengingatnya sekarang.
"Pangeran... lawan kita terlalu tangguh. Dia adalah
'Sword Hunter' Reiner. Mustahil bagiku sendirian untuk melawannya..."
Mendengar itu, Doaho menahan kekesalannya dan hendak
berdiri untuk pergi.
Seharusnya masalah ini selesai sampai di sini. Tapi,
fakta bahwa Clarice dan Eris―dua tunanganku yang kucintai―telah terluka, terasa
seperti duri yang menancap dalam di dadaku.
Memang benar tindakan Reiner sangat membantu. Jika
dia tidak bergerak, mungkin aku sudah mengamuk tanpa kendali. Namun,
ada satu penyesalan yang tersisa.
Kenapa bukan aku yang maju duluan? Seharusnya saat
tunanganku dalam bahaya, akulah yang pertama kali bergerak―
"Tunggu sebentar!"
Mungkin karena perasaan itu, suaraku menggema di dalam
ruangan dengan sangat keras.
Di ruangan yang sunyi itu, kata-kataku terdengar jelas.
"Setelah melukai orang, kalian mau pergi begitu saja
tanpa minta maaf?!"
Suasana langsung berubah drastis. Saat perhatian semua
orang tertuju padaku, aku melihat Clarice dan Eris tersenyum. Senyum mereka
membuat hatiku sedikit menghangat.
"Hah? Aku ini anggota keluarga kerajaan, tahu?!
Memangnya kamu pikir kamu siapa!"
Si pria bernama Doaho itu menggonggong dengan nada
mengancam. Tapi sama sekali tidak ada wibawa kerajaan dalam dirinya.
"Itu berlaku di Kerajaan Zalkam, kan? Di sini adalah
Federasi Lister."
Begitu aku membalasnya, wajah pria itu sesaat berubah
masam, lalu dia langsung memasang senyum provokatif.
"Hooo... kalau mau aku minta maaf, tunjukkan
kekuatanmu! Paling-paling kamu cuma pengecut yang bersembunyi di
balik bayang-bayang si Reiner itu, kan?"
Amarahku makin berkobar. Tapi aku tidak boleh
kehilangan kendali.
"Baiklah. Apa yang harus kulakukan?"
Dalam kesunyian yang semakin dalam, aku menjawab dengan
suara rendah.
"Ah? Kamu serius? Baiklah."
Doaho memelototiku, tapi wajahnya masih terlihat
kekanak-kanakan. Mungkin
seumuran denganku.
"Aku
membawa dua party Rank-B. Di sampingku ini adalah Olygo, pemimpin party [Moonlight
Darkness]. Dan satu lagi adalah [Abyss]. Kalau kamu bisa menang
sendirian melawan salah satu dari dua party ini, aku akan sujud minta maaf
sambil menjilat tanah!"
Doaho meludah dengan nada sombong.
Ah, aku ingat sekarang. Orang-orang ini adalah mereka
yang kulihat di lelang budak... kalau tidak salah, Waltz sang penyihir tidur
juga bagian dari mereka.
Waltz sudah tobat, tapi orang-orang ini masih saja
bertingkah seperti ini.
"Baiklah. Kalau begitu, aku sendiri yang akan
melawan party [Moonlight Darkness] dan [Abyss] sekaligus. Kalau
aku menang, kalian harus minta maaf."
Semua orang di sana tercengang, termasuk Doaho.
"Apa otakmu sudah miring karena terlalu takut? Tapi
kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik lagi! Menyesallah di
neraka!"
Doaho berteriak, membuat tamu lain gemetar.
Tapi aku tidak memedulikan reaksi mereka.
"Kak Ike, apa arenanya bisa digunakan setelah
ini?"
Aku berbalik meminta bantuan pada Ike.
Ike mengangguk dan segera membuat pengaturan.
"Sophia, Alice, aku akan menebus waktu kalian
yang terbuang setelah ini, ya?"
Kakak-beradik itu tampak sangat terkejut, tapi mereka
mengangguk pelan.
Setelah meninggalkan Sasha-sensei untuk menjaga toko,
Reiner-sensei dan Bram menuntun Doaho dan gerombolannya menuju arena gladiator
terlebih dahulu.
Lalu, aku membawa Clarice dan Eris ke ruang belakang.
Tentu saja untuk mengobati mereka.
Begitu pintu ruang belakang tertutup, Clarice dan
Eris langsung memelukku bersamaan.
"Mars, terima kasih."
"...Aku senang..."
Suara lembut mereka terdengar di telingaku. Sambil merasa
lega di dalam hati, aku merapalkan Heal pada pipi Clarice dan dahi Eris.
Saat aku memeriksa seluruh tubuh mereka, aku menemukan
luka sayatan kecil di Absolute Territory―bagian paha mereka yang
terbuka.
Aku segera berlutut, merapalkan Heal, lalu
membalutnya dengan perban secara hati-hati.
"Kalian berdua, apa ada bagian lain yang..."
Saat selesai membalut paha Clarice dan sedang membalut
paha Eris, aku mendongak untuk bertanya―dan saat itulah yang terlihat di mataku
adalah pemandangan gradasi warna merah muda dan kuning cerah di balik rok mini
mereka.
"M-maaf! Aku tidak bermaksud...!"
Aku buru-buru memalingkan muka dengan perasaan kacau.
Tidak menyangka dalam situasi begini aku malah pertama kali melihat pakaian
dalam mereka.
Melihat tingkahku, Clarice dan Eris tersenyum lembut.
Mereka pun berlutut sehingga posisi mata kami sejajar,
lalu memelukku lagi.
"Iya, kami tahu kok. Benar-benar terima kasih ya.
Aku makin jatuh cinta lagi padamu."
"...Terima kasih sudah menjagaku..."
Kata-kata mereka membuat hatiku terasa hangat.
Meski aku membuat masalah ini jadi besar, tindakanku
tidaklah salah―aku ingin percaya itu.
Dan jika situasi yang sama terulang, aku pasti akan
mengambil pilihan yang sama.
Setelah selesai membalut paha Eris dengan hati-hati, aku
menempelkan plester pada pipi Clarice dan dahi Eris.
Berkat Heal yang kurapalkan berulang kali,
seharusnya bekas lukanya sudah hilang total.
Tapi, akan aneh kalau kami kembali tanpa luka sama
sekali, dan itu bisa membocorkan fakta bahwa salah satu dari kami bertiga
adalah penyihir suci.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalian berdua tolong
saling periksa tubuh masing-masing. Mungkin ada luka di bagian yang tidak
terlihat."
Setelah berkata begitu, aku meninggalkan ruang belakang.
Saat kembali ke Maid Cafe, Sasha-sensei sudah membereskan
serpihan kaca dengan sihir angin, dan para tamu pria ikut membantu merapikan
kursi dan meja.
"Semuanya, saya mohon maaf sebesar-besarnya."
Saat aku membungkuk dalam, para tamu malah menyahut
dengan ramah.
"Kamu keren sekali tadi!"
"Rasanya lega melihatnya!"
"Hajar saja mereka dengan seratus orang!"
Didorong oleh dukungan hangat itu, aku membungkuk sekali
lagi dan berlari menuju arena gladiator.
Aku tidak boleh mengecewakan harapan mereka. Dan yang
terpenting―
Hukuman karena telah melukai Clarice dan Eris, akan kujatuhkan sendiri dengan tangan ini!



Post a Comment