Chapter 7
Perayaan
Dimulai! Festival Lister
5 November 2032, Fajar
"Antreannya jadi lebih panjang dari kemarin
ya……"
Saat lari maraton pagi dan melewati gerbang utama seperti
biasa, kerumunan besar orang sudah berkumpul di sana. Meskipun hari masih
remang-remang, barisan tersebut mengular hingga jauh ke depan. Dilihat dari
jauh, aku bisa langsung tahu kalau jumlahnya paling sedikit seribu orang lebih.
"Wah, aku tidak menyangka bakal sebanyak ini
yang mengantre."
Aku bergumam dengan nada terkejut.
Sejak dua hari yang lalu aku memang sudah melihat
bayangan orang-orang di sekitar gerbang utama, tapi aku tidak membayangkan
massa akan membeludak sampai skala begini. Sepertinya mereka adalah orang-orang
yang sudah tidak sabar menantikan pembukaan Festival Lister hari ini.
"Hah……
hah…… aku tidak pernah dengar…… hah…… ada antrean sepanjang ini…… hah…… Itu
artinya Festival Lister tahun ini sangat menarik perhatian……"
Karen memberitahuku sambil terengah-engah.
Mungkin karena itulah, jumlah Ksatria Reagan yang
berjaga di dalam sekolah bertambah dua kali lipat dari biasanya. Di setiap
sudut pandanganku, para ksatria yang mengenakan zirah dengan lambang buku
sedang bersiaga dengan tatapan tajam.
Di tengah situasi siaga ketat tersebut, latihan lari
pagi berakhir dan rutinitas kembali berjalan. Akhir-akhir ini, pemandangan yang
biasa terlihat kembali terjadi.
"Baron……? Hari ini mau melakukannya juga?"
Karen yang baru saja finis bertanya sambil
mengayunkan cambuk di tangannya.
Arah pandangannya tertuju pada Baron yang sedang
tersungkur kelelahan sambil mencium tanah bersama Dominic yang sama-sama tepar
di sebelahnya.
"Ya, aku mohon……"
Baron mengangguk seolah memohon. Di matanya tersirat
tekad seorang pria yang telah membuang segala keraguan.
"Baiklah. Kalau begitu, aku mulai ya!"
Bersamaan dengan suaranya, Karen mengayunkan cambuk
dengan satu lecutan kilat. Bunyi kering terdengar saat cambuk itu menghantam
punggung Baron. Seketika itu juga, Baron yang tadinya sangat kelelahan
menunjukkan kekuatan pantang menyerah, bangkit berdiri, dan mulai berlari lagi.
Benar, Baron sedang berusaha melampaui batas kemampuannya
dengan cara benar-benar mencambuk tubuhnya yang kelelahan. Terlebih lagi, telah
terkonfirmasi bahwa dicambuk dapat melatih poin Durability.
Baron sendiri sepertinya memahami hal tersebut. Meski
staminanya sudah habis total, setiap kali ia dicambuk, wajahnya yang meringis
kesakitan juga menampakkan senyum penuh kenikmatan.
◆◇◆
Saat tiba di kelas, Adipati Reagan bersama Lorenz,
Reiner, Bram, dan Sasha sudah menunggu. Ekspresi para guru menunjukkan
ekspektasi tinggi terhadap Festival Lister yang dimulai hari ini.
"Semuanya, selamat pagi. Berjuanglah untuk Festival
Lister yang dimulai hari ini."
Persiapan pagi dimulai dengan kata-kata penyemangat yang
hangat dari Adipati Reagan. Penjelasan mendetail mengenai urutan baris jabat
tangan dan sistem keamanan pun diberikan.
Urutan barisannya adalah meja disusun berderet dari pintu
masuk kelas berdasarkan urutan peringkat yang menurun. Di depan meja tergantung spanduk kecil bertuliskan julukan
masing-masing.
Misalnya,
di spanduk Baron tertulis Hero of the North, di spanduk Karen tertulis Abyss
Lady, dan seterusnya. Kemudian, di depan mejaku terpampang tulisan Sword
Saint.
Sejujurnya,
aku jarang menunjukkan kemampuanku menggunakan pedang di luar sana. Namun,
alasan mengapa aku menginginkan julukan ini tetap sama seperti sebelumnya.
Dengan menyandang nama Sword Saint, aku bertujuan
menyembunyikan identitasku yang sebenarnya sebagai penyihir.
Ngomong-ngomong,
di spanduk Clarice terukir tulisan Goddess of Beauty, bukannya sekadar Beautiful
Woman. Kabarnya, orang-orang yang melihat sosoknya di TurNaman Bela Diri
Siswa Baru memberikan nama ini karena kecantikannya yang sangat suci.
Tentu
saja Clarice menolak keras, tapi karena didesak oleh semua orang, dia akhirnya
menerimanya dengan enggan.
Aku
sempat mengira sesi jabat tangan adalah acara sederhana di mana aku hanya perlu
menjulurkan tangan untuk membalas mereka.
Terutama,
pasti banyak pria yang ingin bertemu Clarice, namun untuk mengikuti acara ini
mereka harus membayar satu koin perak, setara dengan sepuluh ribu Yen (sekitar
satu juta Rupiah).
Ditambah
lagi, saat melewati gerbang utama Sekolah Nasional Lister pun dibutuhkan satu
koin perak. Karena itu, aku menduga pesertanya hanya terbatas pada kaum
bangsawan yang ingin membangun koneksi dengan kami.
Namun,
prediksi tersebut meleset jauh. Hanya beberapa menit setelah acara dimulai,
antrean panjang langsung muncul di depan kelas.
Saat
laporan masuk bahwa antrean itu mengular berkali-kali di sepanjang koridor
bahkan sampai memanjang ke luar gedung sekolah, aku hampir tidak percaya pada
telingaku.
Tapi karena ini adalah kenyataan, aku tidak punya pilihan
selain menerimanya. Sambil merasa bingung dengan situasi yang jauh melampaui
imajinasi ini, kami memutuskan untuk fokus pada tugas di depan mata. Menyambut
pelanggan dengan ramah sambil menebar senyuman.
"Saya Clarice. Mohon bantuannya."
Benar-benar mantan pegawai minimarket. Clarice menjabat
tangan para pria dengan senyum sempurna dan memikat mereka satu demi satu. Jika
Clarice meminta sesuatu, mereka pasti akan melakukannya dengan senang hati.
Tapi
bukan hanya Clarice yang menarik perhatian.
Eris
juga sangat populer. Terutama para Beastman yang menunjukkan rasa hormat
kepadanya dengan berlutut saat meminta jabat tangan. Bahkan ada yang sampai
menangis saking terharunya.
Karen
disapa dengan sopan oleh para bangsawan pria maupun wanita, memikat orang-orang
dengan martabat alami dan aura berkelas yang dimilikinya. Sementara itu, Misha
memikat banyak orang dengan kepribadiannya yang ceria dan kecantikan khas ras
Elf.
Di sisi lain, kami para pria juga diperhatikan.
Dominic cukup populer, tapi Baron selangkah lebih maju.
Ternyata julukan Hero of the North bukan sekadar pajangan, aku kembali
kagum dengan tingginya popularitasnya.
Namun, perhatian kepadaku terasa lebih luar biasa……
menurutku sendiri. Meski agak tidak enak mengatakannya sendiri, terlalu banyak
gadis yang memberikan tatapan penuh gairah padaku. Ada yang tidak mau
melepaskan tangan setelah berjabat tangan, dan ada yang terus menatap wajahku
sambil tersipu malu.
Yang paling parah adalah gadis-gadis yang menyelipkan
surat kecil saat berjabat tangan. Isinya biasanya seperti, "Malam ini, aku
menunggu di OO."
Aku berusaha keras memasang wajah bingung, tapi pipiku
terus saja memanas. Melihatku seperti itu, Clarice yang berada di sebelahku
memberikan tatapan tajam. Di bawah tekanan bisu itu, aku terus melayani sambil
berkeringat dingin.
◆◇◆
Akhirnya jam dua belas siang tiba, dan sesi jabat tangan
diistirahatkan sejenak. Clarice pun langsung melayangkan protes kepada para
guru.
"Guru, tidak bisakah kita melakukan sesuatu terhadap
gadis-gadis yang menjabat tangan Mars? Kalau cuma menyelipkan surat masih
mending, tapi mereka ada yang mencoba mengarahkan tangan Mars ke dada mereka
secara paksa, itu tidak bisa dimaafkan!"
Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu, tapi
masalahnya adalah sebagian gadis itu mungkin saja ingin menjadikannya sebagai
fakta yang sudah terjadi. Clarice mungkin memprotes karena sudah mengantisipasi
risiko tersebut. Sambil berterima kasih atas sikapnya, aku sendiri juga
memiliki kekhawatiran.
Pria-pria yang berjabat tangan dengan Clarice jelas-jelas
sudah melakukan tindakan yang kelewat batas.
Ada yang menyelipkan jari seolah ingin menjilat
tangannya, atau menarik tangannya dengan paksa, jujur saja itu sangat
mengganggu.
Dan bajingan-bajingan seperti itu biasanya memandangku
sebagai musuh, mereka menatapku tajam sambil meremas tanganku sekuat tenaga
saat giliran berjabat tangan denganku.
Sejujurnya, diremas sekuat apa pun oleh manusia yang poin
Strength-nya sepersepuluh dariku tidak akan terasa sakit, tapi tetap
saja rasanya tidak enak.
Saat aku menceritakannya sambil tertawa kecut, Clarice
juga mengaku mengalami gangguan serupa.
"Saat menjabat tangan para gadis, mereka meremas
tanganku sekuat tenaga sambil tersenyum. Kalau cuma itu sih tidak apa-apa, tapi
ada yang sampai hampir mencakar dengan kukunya."
Ternyata meski sesama perempuan, bukan berarti bisa
tenang begitu saja. Menanggapi situasi ini, setelah berdiskusi dengan para
guru, diputuskan bahwa mulai siang hari, sesi jabat tangan akan dipisah antara
pria dan wanita. Selain itu, sistem keamanan juga diperkuat secara drastis.
Sebelumnya, di belakang Clarice dan para gadis lainnya
sudah berdiri Reiner, Bram, dan Lorenz untuk mengawasi. Mulai siang ini,
ksatria juga ditempatkan di belakang para pelanggan. Jika ada gerakan
mencurigakan, hukuman akan langsung dijatuhkan di tempat.
Tentu saja, di dekat kami para pria, Sasha dan guru-guru
wanita lainnya berdiri untuk berjaga. Aku pikir ini akan membuatku tenang,
namun pembagian pria dan wanita ini malah menghasilkan "salah
perhitungan" yang menyenangkan?
Yaitu, aliran pelanggan menjadi dua kali lebih cepat, dan
hasilnya pendapatan sekolah meningkat drastis.
Pada akhirnya, hari ini kami meraup 1.400 koin perak
dalam empat jam di pagi hari, dan luar biasanya, 2.100 koin perak dalam tiga
jam di siang hari, totalnya 3.500 koin perak.
Lebih mengejutkan lagi, orang-orang yang berjabat tangan
hari ini hanyalah mereka yang sudah mulai mengantre dalam waktu satu jam sejak
pembukaan.
Orang-orang yang mencoba mengantre setelah itu
dihentikan dan dikontrol agar barisan tidak bertambah panjang. Jumlah mereka
dikabarkan mencapai lebih dari seribu orang.
Artinya, hampir dipastikan besok pun akan sesibuk
hari ini. Melihat situasi tersebut, mata Adipati Reagan berbinar dengan simbol
$, menatap tumpukan koin perak dengan penuh kepuasan.
Kegiatan Festival Lister ditetapkan hingga pukul
16.00, dan masyarakat umum harus meninggalkan sekolah sebelum pukul 17.00 atau
akan dikenakan hukuman berat.
Namun, tetap saja ada orang-orang yang terus mencoba
bersembunyi di dalam sekolah untuk mengintip. Untungnya, semua orang tertangkap
oleh sihir Search milik Sasha dan penyihir angin lainnya, lalu langsung
diamankan.
Kami para siswa juga dilarang meninggalkan kelas atau
tempat yang ditentukan sampai masyarakat umum benar-benar keluar dari
lingkungan sekolah. Karena ada instruksi ketat untuk sebisa mungkin tidak
keluar selama periode Festival Lister, untuk sementara kami tetap berada di
kelas dan merenungkan kejadian hari ini.
Suasana di dalam kelas terasa hangat. Meski ada berbagai
masalah, hasilnya sangat baik. Ekspresi semua orang tampak puas.
"Ngomong-ngomong, popularitas Mars luar biasa ya!
Aku jadi ikut senang!"
Misha kegirangan, dan Minerva pun menyetujuinya.
"Benar juga. Popularitas Mars dan Clarice di
Federasi Lister ternyata melampaui dugaan. Jangan-jangan, sudah melampaui
popularitas Baron ya?"
Yah, kalau soal popularitas saja menurutku Baron masih di
atas. Namun tidak diragukan lagi bahwa bintang utama Festival Lister hari ini
adalah kami. Paling tidak, hal itu terlihat jelas dari semangat para pelanggan.
"Saat ini Adipati Reagan pasti sedang menangis
bahagia. Acara sesukses ini, sudah pasti jumlah pendaftar tahun depan akan
meningkat dibanding tahun ini."
Karen berkata sambil tersenyum. Benar, semakin banyak
pendaftar, semakin besar pendapatan sekolah. Pasalnya, biaya Appraisal
untuk ujian masuk saja seharga satu koin emas—setara seratus ribu Yen.
Saat pukul 17.00 tiba dan keamanan sekolah
terkonfirmasi, para siswa pun diizinkan bebas bergerak di dalam sekolah. Namun,
jam malam tetap seperti biasa, dan yang benar-benar bisa menikmati waktu bebas
tersebut hanyalah kami, Kelas S.
Kami yang masih merasakan euforia hari pertama, langsung
menuju lantai tiga kantin. Ternyata, para anggota Kelas 4-S—partai [Guren]—juga
sudah naik ke lantai tiga.
"Mars, kudengar acaranya sangat sukses ya!"
Orang yang menyapa adalah Ike. Kakakku itu duduk di kursi
dekat kami, merasa senang seolah itu adalah pencapaiannya sendiri.
"Tadi aku bertemu Adipati Reagan, beliau sangat
bersemangat bilang kalau ini pendapatan tertinggi sepanjang sejarah."
Aku
membalasnya dengan tawa kecut.
"Aku
merasa lega karena besok adalah hari terakhir sesi jabat tangan…… sejujurnya,
aku meremehkan betapa melelahkannya acara ini. Bagaimana dengan stan Kak
Ike?"
"Ah,
kami juga dapat banyak pemasukan. Bukan cuma dari Federasi Lister, siswa
dari negara lain pun datang untuk menguji kemampuan mereka melawan kami."
"Apakah Kak Ike sempat turun bertarung?"
Saat aku bertanya, sebelum Ike menjawab, Gar sang
Dwarf bersuara.
"Mana mungkin tantangannya sampai ke Ike! Jangan
remehkan kami!"
Nada bicaranya seperti biasa galak, tapi dia tidak
benar-benar marah.
"Tapi, para penantang pasti ingin bertarung
dengan Kak Ike juga…… Kalau dibuat sistem di mana mereka bisa melawan Kak Ike
jika membayar uang yang banyak, bukankah bisa menghasilkan uang lebih banyak
lagi?"
Saat aku mengusulkan itu dengan setengah bercanda,
tiba-tiba dari belakang terdengar bunyi—GASHAAAN!
Terkejut, aku menoleh dan yang tertangkap mata adalah
tumpukan makanan yang berserakan di lantai. Dan di sampingnya, berdiri Adipati
Reagan yang tubuhnya gemetar.
"I-ide yang jenius……!"
Mata sang Adipati berbinar-binar, ia bergumam dengan
nada penuh gairah.
"Benar, pasti banyak yang ingin bertarung dengan
Ike…… dua koin
perak…… bukan, bahkan satu koin emas pun pasti ada yang mau mencoba…… Jika
mereka bangsawan, mereka mungkin mau membayar lebih mahal lagi agar bisa
sombong bahwa anak mereka pernah bertarung melawan Guren……"
Sepertinya beliau sengaja datang ke kantin siswa untuk
mengapresiasi kerja keras kami.
Namun, candaan ringanku sepertinya memberikan inspirasi
yang tak terduga, dan sang Adipati pun bergegas pergi dengan langkah cepat
sambil masih terlihat sangat bersemangat.
Melihat hal itu, Ike menatapku sambil tertawa kecut dan
membuka mulut.
"Wah, sepertinya gara-gara Mars, mulai besok aku
bakal sibuk ya."
Ucapannya terdengar seperti candaan, tapi ada firasat
yang sangat nyata di dalamnya. Tapi, aku yakin aku tidak salah dengar kalau
suaranya tadi terdengar sangat bersemangat.
◆◇◆
Keesok harinya―
Hari ini pun saat lari maraton, aku mencoba mengintip
keadaan gerbang utama, dan antreannya ternyata jauh lebih panjang dari kemarin.
Kudengar, orang-orang yang kemarin tidak bisa masuk sesi
jabat tangan sudah mulai mengantre tepat setelah penutupan, dan jumlahnya
dikabarkan sudah melampaui dua ribu orang.
Sambil terheran-heran melihat pemandangan yang mirip
antrean pembukaan taman hiburan itu, aku melanjutkan latihan lari.
Begitu jam pembukaan tiba, para pelanggan langsung
menyerbu masuk dari gerbang utama.
Meski intensitasnya luar biasa, berkat penambahan guru
dan ksatria, sesi jabat tangan berjalan lebih lancar dibanding kemarin. Tidak
ada masalah besar, semuanya lancar-lancar saja.
Saat jam makan siang tiba, ketika kami sedang menikmati
makan siang yang diantar ke kelas sambil mengobrol santai, Ike muncul.
"Selamat siang, Kak Ike! Bagaimana
perkembangannya?"
Aku segera menyapanya, khawatir kalau candaanku kemarin
benar-benar membuatnya jadi sangat sibuk.
"Ah, kemarin kan aku bosan terus, jadi ini latihan
fisik yang menyenangkan kok. Adipati Reagan juga sangat senang. Beliau bilang bakal memberikan hadiah khusus untukku dan Mars."
Hadiah……? Berarti hasilnya benar-benar luar biasa ya?
Sesi jabat tangan di siang hari pun berjalan lancar,
hingga akhirnya pelanggan terakhir berdiri di depan Dominic. Saat itu, suara
terkejut Dominic menggema di dalam kelas.
"Sophia? Kamu Sophia, kan! Kamu datang ke
sini?!"
Seketika perhatian semua orang tertuju pada suara itu. Di
sana berdiri wanita yang dipanggil Sophia, dan satu orang lagi. Seorang gadis
cantik dengan aura yang misterius.
◆◇◆
[Sudut Pandang Sophia]
Kemarin adalah pertama kalinya aku datang ke Sekolah
Nasional Lister, tapi memang pantas sekolah ini disebut sebagai sekolah nomor
satu di benua ini…… skala gedung, fasilitas, hingga atmosfer para siswa dan
gurunya semuanya sangat luar biasa.
Terutama pertandingan di arena kemarin benar-benar
memukau. Bahkan aku yang tidak terlalu tertarik pada pertempuran pun sampai
menahan napas melihat semangat dan kekuatannya.
Aku jadi tahu betapa tingginya level para siswa di
sekolah ini, suka atau tidak. Bunyi benturan pedang, kilatan sihir, semuanya
menyatu, membuatku merasa seperti melangkah ke dunia lain.
Para siswa yang ikut bertanding, tak satu pun dari mereka
yang kalah teliti dibanding para elite dari sekolah lain, bahkan mereka tampak
lebih unggul.
Aku bahkan merasa sedikit menyesal, bertanya-tanya apakah
seharusnya aku bersekolah di sini saja. Tapi tahun depan aku sudah dewasa dan
masuk tahun keempat. Sudah terlambat untuk pindah sekolah sekarang.
Lebih baik aku memikirkan adikku, Alice. Untuk adikku
Alice yang akan masuk tahun depan, lingkungan ini mungkin lebih cocok untuknya.
"Hei, Kak! Hari ini juga antreannya panjang banget
lho!"
Di sampingku, Alice menarik lengan bajuku dengan
semangat.
"Iya
ya…… antrean apa itu?"
Saat
aku bertanya-tanya, seorang pria yang tampak seperti staf berdiri di ujung
antrean berteriak dengan suara lantang.
"Sesi jabat tangan Kelas 1-S sudah ditutup!"
Mendengar itu, orang-orang yang baru mau mengantre
langsung gaduh. Suara keluhan terdengar dari sana-sini.
"Padahal baru saja dibuka!" "Kemarin juga
aku tidak bisa ikut karena sudah tutup!"
Padahal baru sebentar dibuka tapi sudah ditutup. Bagi
mereka yang sangat menantikan ini, wajar saja kalau mereka mengeluh sedikit.
Aku sendiri sebenarnya tertarik, tapi jujur saja aku
tidak sanggup mengantre sepanjang itu.
Sebagai gantinya, hari ini aku memutuskan untuk pergi ke
arena lagi. Namun, di sini pun suara kekecewaan terdengar dari segala penjuru.
"Kursi penonton sudah penuh?!"
"Kenapa sih, sesi jabat tangan tidak bisa, di arena
pun tidak bisa!"
Ternyata arena yang bisa menampung ribuan orang itu sudah
penuh dan diberlakukan pembatasan masuk. Kudengar, mulai hari ini sang
megabintang sekolah ini, Guren, akan tampil di arena.
Padahal pertarungan kemarin saja sudah membuatku
bersemangat, apalagi kalau bisa melihat pertarungan yang lebih dari itu…… Aku
merasa kecewa, tapi mau bagaimana lagi.
Selain itu, Festival Lister ini punya banyak daya tarik
lain. Mumpung sudah di sini, aku memutuskan untuk menikmati stan yang lain.
Di
antaranya yang menarik perhatian adalah atraksi bernama Wind Travel.
Sepertinya ini stan gabungan antara Ksatria Reagan dan para penyihir angin
Sekolah Nasional Lister.
Kabarnya,
kita naik ke kereta wagon, lalu wagon itu akan melayang di udara dan melaju
berkat kekuatan sihir angin.
Biasanya
atraksi ini sangat populer hingga antreannya panjang, tapi karena hari ini
massa terfokus pada sesi jabat tangan dan arena, aku bisa naik tanpa perlu
mengantre lama.
Terbang
di udara bersama angin—memikirkan pengalaman itu membuat dadaku berdebar penuh
ekspektasi…… itu sih pikiran tadi.
Apa-apaan
itu tadi……!
Karena
semua orang menyarankan setidaknya mencoba sekali seumur hidup, aku pun naik,
tapi itu tadi hampir saja jadi perjalanan menuju akhirat! Aku tidak percaya
kalau itu adalah atraksi andalan Sekolah Nasional Lister.
Namun, reaksi Alice di sebelahku benar-benar berbeda.
"Seru banget ya! Berikutnya aku mau naik Water
Travel, versi sihir airnya!"
……A-anak
ini bodoh ya? Setelah mengalami hal mengerikan tadi, dia masih mau
naik lagi.
"Tidak pantas bagi seorang gadis untuk
berteriak-teriak histeris begitu. Wajahmu tadi jelek sekali tahu?"
Sambil berkata begitu, sejujurnya aku sendiri tidak
punya tenaga untuk mempedulikan kondisi Alice. Karena tadi aku memejamkan mata
erat-erat dan berpegangan pada pagar dengan sekuat tenaga.
"Wah, ketahuan ya. Aku memang takut, tapi saking
serunya suaraku keluar sendiri!"
Takut tapi seru katamu? Aku tadi saking takutnya hampir
saja mengompol tahu! Benar-benar dasar anak-anak……
"Sudahlah, ayo pergi. Kita makan siang saja. Ayo
makan Salad Elf yang kemarin tidak sempat kita makan."
Sambil menarik tangan Alice yang masih memandangi Water
Travel dengan penuh penyesalan, aku melangkah masuk ke gedung sekolah tahun
pertama.
Sambil mencari Salad Elf yang kami incar, di sana
lagi-lagi ada antrean panjang yang sepertinya adalah sesi jabat tangan Kelas S.
Tepat saat aku hendak melewati barisan itu, suara cemas
Alice tertangkap telingaku.
"Anda tidak apa-apa? Wajah Anda terlihat sangat
pucat……"
Alice sedang menghampiri seorang wanita di dalam antrean.
Melihat wajah wanita itu yang membiru, aku pun langsung tahu kalau dia sedang
sakit. Orang-orang lain yang begitu bersemangat menunggu sesi jabat tangan
tidak ada satu pun yang menyadari kondisi wanita itu.
Sambil memegangi dadanya dan bernapas terengah-engah,
aku pun mendekatinya.
"Biar saya yang gantikan mengantre, Anda
pergilah ke ruang medis. Alice, tolong antar dia sampai ke ruang medis."
Alice sempat ragu namun ia mengangguk, tapi ia hampir
saja mengatakan hal yang konyol.
"Tapi, kalau aku di sini—"
Untuk memotong perkataan Alice, aku segera membungkam
mulut adikku dengan tangan.
"Sudah lakukan saja. Mintalah bantuan ksatria untuk
menunjukkan jalan ke ruang medis. Jangan khawatir, nanti kalau sudah kembali
kita bisa bergantian."
Wanita di depanku sepertinya berat hati meninggalkan
antrean, tapi melihat kondisinya, aku tidak bisa membiarkannya terus berdiri di
sana. Setelah terus membujuknya dengan lembut, akhirnya wanita itu menyerah dan
menyandarkan tubuhnya pada bahu Alice.
Alice memapah wanita itu dengan mantap menuju ksatria
terdekat. Sambil melihat punggung mereka menjauh, aku melambaikan tangan kecil
pada Alice yang menoleh, sambil mendoakan keselamatan wanita tersebut.
"Kakak!"
Alice baru kembali setelah lebih dari tiga puluh menit
berlalu. Sementara itu, antrean terus bergerak maju dan sudah sampai di lantai
tempat kelas Kelas S berada.
"Bagaimana kondisinya?"
Tanyaku, Alice mengangguk sambil mengatur napasnya yang
sedikit memburu.
"Iya! Katanya kalau terlambat sedikit saja tadi
bakal bahaya. Sekarang dia sedang istirahat dan ditangani dokter.
Katanya sebentar lagi pengguna sihir suci akan datang jadi pasti aman!"
Mendengar laporan Alice, aku merasa lega.
"Terus ya, wanita tadi bilang sebagai rasa terima
kasih kita boleh ikut sesi jabat tangan, bagaimana menurut Kakak?"
Aku berpikir sejenak mendengar usulan Alice.
"Tapi, wanita tadi kan cuma satu orang? Sedangkan
kita berdua. Rasanya tidak adil ya?"
Saat aku membalas begitu, seorang pria yang tampak
seperti staf yang mendengar percakapan kami ikut menimpali.
"Saya sudah dengar situasinya. Kalian silakan
mengantre terus di sini tidak apa-apa."
Meski itu tawaran yang baik, aku tetap merasa tidak enak.
Orang-orang di dalam barisan ini sudah menunggu
berjam-jam. Rasanya tidak adil kalau kami memotong antrean begitu saja.
Namun, di sebelahku wajah Alice bersinar terang.
Adikku sepertinya sangat menantikannya.
Membayangkan kesempatan bertemu siswa Kelas S yang
begitu populer, aku juga ragu untuk menolak jika memikirkan perasaan Alice.
Karena itu, aku mengusulkan pada staf tersebut.
"Terima kasih banyak. Tapi, bolehkah kami mengantre
ulang dari barisan paling belakang? Rasanya kami juga harus mengantre dengan
benar……"
Mendengar usulanku, bukan hanya staf, tapi orang-orang
lain di sekitar yang mendengar percakapan kami juga tampak lega dan tersenyum.
Salah satu alasan aku mengusulkan itu adalah karena aku merasa risi dengan
tatapan mereka.
Mereka tadi terus menajamkan telinga mendengar percakapan
kami, dan sesekali menunjukkan ekspresi sinis seolah takut kami akan menyerobot
antrean. Aku bisa merasakan perasaan kesal dari mereka, tapi setelah mendengar
usulanku, mereka sepertinya bisa menerimanya.
Saat mengantre ulang di barisan paling belakang,
suara dua gadis di depan yang sedang mengobrol dengan semangat terdengar
olehku.
"Hah……
hari ini pun aku bisa memegang tangan Tuan Mars…… apa dia ingat aku ya?"
Gadis
itu memasang wajah melamun dengan pipi merona. Sosoknya sangat manis, menurutku
dia adalah gadis cantik yang cukup menonjol. Mungkin bisa dibilang yang
tercantik di kelasnya.
Namun,
kata-kata yang mematahkan dugaanku justru keluar dari mulut gadis satunya.
"Mana
mungkin. Aku juga sampai kemarin merasa diriku cukup cantik, tapi gadis di
sebelah Tuan Mars—siapa namanya, Clarice ya? Apa dia benar-benar manusia yang
sama dengan kita? Cantiknya bukan main. Saking kesalnya aku meremas tangannya
sekuat tenaga, tapi dia malah membalas dengan senyuman yang seolah merangkul
semuanya…… padahal aku sesama perempuan tapi aku sampai deg-degan
sendiri."
Mendengar itu, aku tidak bisa menyembunyikan
keterkejutanku. Gadis satunya pun punya level kecantikan yang setara dengan
gadis tadi. Sampai-sampai
gadis secantik dia kehilangan rasa percaya diri…… aku jadi penasaran dengan
wanita bernama Clarice itu.
Sambil antrean bergerak perlahan, aku dan Alice
menunggu giliran sambil mendengarkan percakapan mereka.
Dan, giliran kami tiba lebih cepat dari jadwal. Saat itu
pukul 15.30. Tangan kami dibersihkan dengan sangat teliti oleh staf, dan
akhirnya kami melangkah masuk ke dalam kelas.
Hal pertama yang tertangkap mata adalah spanduk kecil.
[Sword
Saint dari Kerajaan Suci Deadore]
Di dalam benakku, hanya ada satu orang yang pantas
menyandang gelar Sword Saint.
Dengan perasaan geram sambil bertanya-tanya orang
macam apa yang berani memasang spanduk itu, aku mendongakkan pandangan. Dan di
sana, berdiri wajah yang terasa sangat akrab.
Begitu ia menyadari sosokku, ia pun berteriak
kencang.
"Sophia? Kamu Sophia, kan! Kamu datang ke
sini?!"
Mendengar suara itu, refleks aku pun bereaksi.
"Dominic! Sudah lama sekali ya!"
Pria yang berdiri di depanku ini, meski masih menyisakan
raut wajah masa lalunya, tapi ia tampak berubah seperti orang yang berbeda.
Dulu ia adalah bocah laki-laki yang bertubuh kecil dan
kurus, tapi sekarang ia tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tegap.
Di tangan yang aku jabat, aku bisa merasakan kapalan
keras di tangannya, bukti bahwa ia terus menggenggam pedang selama ini. Cinta
pertamaku ternyata masih mengingatku—hanya memikirkan itu saja dadaku terasa
hangat.
Namun yang lebih membahagiakan dari itu semua adalah
kenyataan bahwa ia selamat dan masih hidup.
Dua tahun lalu, aku mengira dia telah kehilangan nyawa
dalam tragedi mengerikan itu.
Kami pun tenggelam dalam reuni yang mengharukan.
Namun, sebuah suara dingin bergema dari belakang, seolah
menyabet atmosfer hangat yang menyelimuti kami.
"Waktu sudah habis. Silakan lanjut ke depan."
Saat aku menoleh ke arah pemilik suara kaku itu, di sana
berdirilah seorang wanita yang cantiknya bukan main.
―Ini adalah pertama kalinya kemampuanku, Aesthetic Eye,
menampilkan sebuah simbol.
Selama ini, nilai tertinggi hanyalah A yang dimiliki
Alice, tapi kecantikan wanita ini berada di dimensi yang berbeda.
Inikah Clarice― gumamku dalam hati. Kata 'imut' saja
rasanya benar-benar tidak cukup. Saat aku terpesona dan menahan napas melihat
kecantikannya yang luar biasa, Dominic mengatakan sesuatu yang tak terduga.
"Sasha-sensei, Sophia adalah teman masa kecilku!
Bolehkan aku memperkenalkannya kepada semuanya? Lalu, bolehkah aku meminta
waktunya sebentar setelah sesi jabat tangan berakhir?"
―Sasha-sensei? Jadi orang ini bukan Clarice?
Tanpa memedulikan kebingunganku, guru yang terlalu
cantik itu menjawab dengan tenang.
"Baiklah……
karena anak-anak ini yang terakhir dan tidak ada yang melihat…… akan kuizinkan
khusus untuk kali ini saja."
Begitu
izin guru turun, Dominic mengalihkan pandangannya ke belakangku dan berseru.
"Minerva, kemarilah! Ini teman masa kecilku!"
Gadis yang datang menghampiri itu sangat cantik―bahkan
dalam penilaian Aesthetic Eye-ku, dia mendapat nilai A. Apakah kelas ini
diseleksi berdasarkan wajah? Tingkatannya sangat tinggi sampai aku meragukan
hal itu.
Namun, itu belum berakhir. Rangkaian kejutan masih terus
berlanjut.
Orang berikutnya yang diperkenalkan adalah, tidak
disangka-sangka, Baron sang Hero of the North. Namanya menggema hingga
ke Kerajaan Suci Deadore; dia bukan hanya ahli pedang, tapi juga jenius yang
menguasai empat elemen sihir utama. Dia adalah sosok harapan muda yang
digadang-gadang pasti menjadi petualang Rank-A.
Perkenalan dari Dominic belum juga berhenti.
Kali ini yang diperkenalkan adalah seorang wanita dari
ras Elf yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Sasha-sensei.
Meski aku mengerti setelah mendengar bahwa dia adalah
putri Sasha-sensei, kecantikannya tetap membuatku tercengang.
Lalu di sebelahnya, berdiri Karen sang Abyss Lady
yang namanya disejajarkan dengan Hero of the North.
Yang mengejutkan, Misha dan Karen sama-sama mendapatkan
nilai S dari penilaianku, sama seperti Sasha-sensei. Aesthetic Eye-ku
rasanya ingin menjerit. Pikiranku tidak sanggup mengejar rekor-rekor tertinggi
yang terus diperbarui satu per satu ini.
Di samping mereka, berdirilah seorang wanita cantik
berambut pirang pendek dengan ekspresi tidak senang. Aku penasaran siapa dia,
hingga tanpa sadar aku menyapanya.
"A-apakah kamu Clarice?"
Mendengar pertanyaanku, dia menggeleng dan menjawab
dengan suara pelan.
"……Bukan……
Clarice…… cantik……"
Aku
tertegun mendengarnya. Kecantikan gadis ini pun tidak biasa, dan Aesthetic
Eye-ku mencatat rekor baru―S. Sekali lagi, nilai tertinggi sebelumnya
terlampaui.
Lalu,
suara yang terdengar dari sebelahnya benar-benar terdengar seperti alunan
melodi yang indah.
"Salam
kenal. Nama saya Clarice. Mohon bantuannya."
Saat
aku menoleh, di sana berdirilah seorang wanita cantik―bukan, seorang Dewi
Kecantikan. Jantungku serasa tertembus oleh kecantikannya yang mutlak―tak
disangka, nilainya adalah SS.
Aku
tidak bisa memalingkan wajah dari Clarice. Rasanya membuang muka darinya adalah
sebuah dosa, aku seolah terseret oleh daya tarik kecantikannya.
Namun, pada saat itu, sebuah suara terdengar dari
belakang.
"Jadi kamu teman masa kecil Dominic, ya. Salam kenal, namaku Mars."
Refleks aku berbalik mendengar kata-kata itu―dan
jantungku benar-benar tertembak telak.
Tidak terukur oleh Aesthetic Eye?! Apa
maksudnya ini?! Karena ini pertama kalinya, aku hampir saja berteriak.
Kemampuan Aesthetic Eye adalah menilai dan memberi
peringkat pada kecantikan target. Orang biasa akan mendapat C, dan nilai
terendahnya pun akan ditampilkan sebagai C.
Sampai hari ini aku mengira A adalah nilai tertinggi,
tapi setelah melihat Clarice, aku mengonfirmasi adanya peringkat SS. Tapi,
ternyata masih ada yang lebih tinggi dari itu……
Duniaku berubah dalam sekejap karena pria yang berdiri di
depanku ini―pria bernama Mars.
Pria itu menggenggam tanganku tanpa izin. Hangat dan lembut―tangannya persis seperti tangan seorang gadis.
Pada detik ini, aku merasa yakin.
Dia adalah seorang penipu.
Orang yang disebut Sword Saint tidak mungkin
memiliki tangan sehalus ini. Dia pasti selama ini menjalani hidup hanya dengan
modal tampang. Fakta bahwa dia berada di peringkat pertama pun pasti hasil dari
merayu orang-orang dengan wajahnya.
Aku pun punya rasa percaya diri bahwa aku akan menuruti
apa pun yang dia katakan. Dan aku rasa, gadis-gadis di kelas ini pun merasakan
hal yang sama.
Namun, jangan sampai Alice terkena taring beracunnya. Aku
harus melindungi adikku.
Tepat saat aku memikirkan hal itu dan menoleh ke arah
Alice, aku kehilangan kata-kata.
Sudah terlambat.
Sambil berjabat tangan dengan Mars, mata Alice
benar-benar sudah menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta.
Bahkan, air liur menetes dari wajah cantik adikku itu―ini
pertama kalinya aku melihatnya seperti ini.
I-ini gawat……
Memang wajah itu penting bagi laki-laki, tapi isi hati
juga tak kalah pentingnya. Alice jatuh cinta pada pria yang penuh kepalsuan ini―ya,
pria seperti Mars―hal itu benar-benar tidak boleh terjadi!
Begitu memastikan Alice selesai berjabat tangan
dengan Mars, aku langsung menarik tangan adikku.
Aku tidak boleh tenggelam dalam atmosfer tempat ini.
Pikiranku hanya fokus untuk segera membawa adikku keluar dari aula ini secepat
mungkin.
Sebenarnya aku berniat mengobrol dengan Dominic.
Namun, demi Alice, aku tidak punya waktu untuk itu.
―Semua ini demi melindungi adikku.
Aku bertindak tanpa ragu dan meninggalkan tempat itu.
Sambil meyakini dalam hati bahwa keputusanku sudah benar.



Post a Comment