Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter 8
Aku, si Kakak-Adik, dan Perjalanan Pemandian Air Panas……
──Dan akhirnya, akhir pekan yang sudah lama ditunggu pun tiba.
Aku
dan dua saudari teman masa kecilku, entah bagaimana bisa berakhir pergi bertiga
untuk perjalanan ke pemandian air panas.
Tidak,
kalau dipikir-pikir, mungkin istilah yang lebih tepat adalah
"terseret".
Memang
sih, aku juga tidak punya alasan kuat untuk menolak. Ditambah lagi, bujukan
berupa "penginapan onsen yang dulu sering kita datangi bareng keluarga
waktu kecil" benar-benar kena di hatiku. Alhasil, aku pun ikut dengan
setengah terbawa arus.
Cuacanya
cerah. Baru masuk bulan September, tapi nuansa musim panas masih terasa kuat.
Panas.
"Ta-daaaan!
Kita sampai~! Gawat! Aku jadi semangat banget~♩"
"Oh!
Rasanya aku masih agak ingat tempat ini!!"
"Masa
sih~? Fufu♡ Ayo kita senang-senang sepuasnya sebelum pulang~♡"
Begitu
rasa nostalgia itu keluar, aku yang tadinya tidak terlalu antusias pun tanpa
sadar langkahku jadi ringan, dan semangatku ikut naik.
"Eh,
tujuan utama hari ini kan makan keliling, ya♡ Katanya banyak toko baru, jadi
aku sudah riset banyak lewat video~♩ Hebat, kan♡"
"Miu-chan
memang jago~♡ Kalau begitu, ayo langsung makan sesuatu♡ Demi ini aku dari pagi
tidak makan apa-apa. Lapar banget~"
(Ohh……
jadi ini yang namanya perjalanan cewek……)
Awalnya
aku agak khawatir, perjalanan onsen dua cewek satu cowok bakal jadi canggung.
Tapi ternyata tidak ada suasana aneh sama sekali, malah kelihatannya bakal
seru.
Sambil
menikmati suara aliran sungai yang terlihat dari jembatan, kami melangkah
menuju toko tujuan.
"Ta-daan♩
Di sini~! Aku benar-benar ingin coba senbei mentah dari toko ini~♡ Dari dulu
sudah tidak sabar~♡"
"Senbei
mentah……?"
"Iya
iya♡ Coba saja, nanti juga ngerti~♩"
"Oh……?"
Di
papan depan toko tertulis besar-besar: Masa simpan 5 detik.
(……Maksudnya
harus dimakan habis dalam lima detik!?)
"Permisi!
Tiga buah ya!"
"Baik~♩
Tolong langsung dimakan setelah diterima ya! Hati-hati panas~!"
Dengan
penuh semangat, pegawai menyerahkan senbei yang baru saja dipanggang.
──Panas
banget!!
"Panas!
Ham!"
"Gimana
gimana? Katanya senbei mentah yang baru dipanggang itu kenyal dan
lembut~♡"
"Gila……
jadi ini maksudnya masa simpan lima detik……!? Dalam sekejap langsung jadi
renyah!"
"Kalau
begitu, giliranku♡"
Momo-nee
menerima senbei itu dan langsung membawanya ke mulut.
"P-panas……
ngm…… enaak~♡"
"Kalau
begitu…… giliranku……"
"Ini
dia~!"
"Wah!
Ham…… panas!"
"Hahaha…..
Miu, kamu kelamaan makannya, sudah jadi renyah kan."
"Hmm.
Tapi enak~♡ Rasanya lembut dan sedikit manis♩"
Waktu
yang mengalir terasa jauh lebih lambat dibanding keseharian yang sibuk.
Sesekali,
waktu seperti ini mungkin memang perlu……
Walaupun
kami sudah bukan anak-anak lagi dan tidak bisa sepenuhnya seperti dulu, bisa
berbagi kenangan seperti ini dengan mereka berdua—yang rasanya sudah seperti
keluarga—mungkin adalah kebahagiaan tersendiri.
Melihat
senyum ceria mereka, aku merasakan itu dengan tulus.
"Eh,
mau coba manju yang di sana juga?"
"Boleh~!
Sekalian kita habisin semua!"
◆◇◆
"Uuh……
sepertinya kebanyakan makan……"
"Gawat,
kalau tidak salah makan malam jam enam…… eh sekarang jam berapa…… jam empat!?
Check-in jam lima, berarti kita harus ke penginapan sekarang."
Sejak
tiba lewat tengah hari, kami terus berkeliling, melahap apa saja yang
ada—manju, kroket panas, es krim—tanpa henti.
"Uuh……
benar-benar kekenyangan…… mungkin kalau jalan terus, sedikit tercerna……
uh."
"Ini
jelas kebanyakan makan, level perlu refleksi."
"Fufu♡
Ini juga bakal jadi kenangan indah kok, pasti~♩"
Karena
masih ada sedikit waktu, kami berjalan santai menyusuri jalan berbatu yang
penuh nuansa, menuju penginapan.
Setibanya
di sana, kami melewati gerbang, check-in di lobi penginapan, lalu seorang
pelayan mengantar kami ke kamar sambil memberi penjelasan fasilitas.
Dan
kamar yang kami tempati ternyata…… kamar tamu dengan pemandian terbuka!
"Uoooo……!!
Serius? Tidak apa-apa kita menginap di kamar sebagus ini!?"
Aku
tidak bisa menahan diri untuk berseru kegirangan.
"Iya♡
Kata Mama, sekalian saja menginap di kamar yang bagus♩ Cocok kan buat penutup
kenangan musim panas♩"
"Serius……
rasanya aku terlalu dimanjakan kan……"
"Fufu♡
Dari sudut pandang orang tuaku, kamu itu masih seperti anak sendiri, Shintarou.
Jadi tidak perlu sungkan♡"
"Uuh……
Paman, Bibi, terima kasih…… tapi tetap saja, kamar ini terlalu sempurna!!"
Setelah
penjelasan selesai dan pelayan berkata, "Silakan menikmati waktu
Anda," sambil membungkuk, ia pun meninggalkan kamar.
Di
atas meja sudah tersedia cangkir berisi teh dingin dan piring kecil untuk
masing-masing.
Di
atas piring itu ada manju yang bening dan cantik.
"Ahh……
benar-benar sempurna…… AC-nya juga adem banget……"
"Iya,
bikin rileks~"
"Eh,
kita lupa rendam kaki di pemandian kaki!"
"Benar~!
Kalau nanti ada waktu sebelum pulang, mampir yuk♩"
"Iya,
sekalian!"
Kami
pun beristirahat di kamar sambil menunggu waktu makan malam.
──Guling.
"Berbaring
di atas tatami itu enak banget…… kalian juga coba tiduran."
"Kalau
begitu aku numpang di sebelah…… ah, menyembuhkan banget……"
"Aku
rasanya mau ketiduran……"
Kami
bertiga berbaring sejajar di atas tatami.
Mengingat
dulu mungkin kami juga menghabiskan waktu seperti ini, entah kenapa perasaan
nostalgia sedikit menyelinap.
"Aku
tidak sabar sama makan malam♩ Aku suka banget makanan penginapan~♡ Aduh,
kepikiran saja sudah lapar lagi."
"Eh!?
Miu-chan, kamu sudah lapar lagi?"
"Serius…
memang khas Miu. Rakus."
"Shintarou!
Ngomong begitu ke cewek itu tidak sopan!"
Sambil
tertawa dengan obrolan sepele, aku menatap pola kayu di langit-langit dengan
kosong.
(Beginilah……
momen seperti ini benar-benar yang paling menyembuhkan. Tidak sehari-hari, tapi
bersama orang-orang yang bikin nyaman, tertawa soal hal sepele…… waktu yang
terlalu mewah.)
"Sedikit
memejamkan mata tidak apa-apa kan…… ngantuk……"
Begitu
berkata, Miu perlahan menutup matanya.
Perut
kami sudah terisi pas dari makan keliling tadi, tubuh juga lelah dengan nyaman,
dan tanpa sadar────
──kami
tertidur.
"…Hah?"
Aroma
tatami dan ketenangan senja…… kami benar-benar lengah.
"Gawat!!
Kalian berdua! Sudah jam enam!"
Aku
langsung terbangun dan membangunkan mereka.
"Hmm……
biarin aku tidur sebentar lagi……"
"Eh,
benar juga…… aku juga ketiduran…… haa. Miu-chan, bangun!"
"Hmm……"
"Ayo,
kita pergi!"
Momo-nee
mengangkat tubuh Miu, dan akhirnya dia pun terbangun, tampak masih setengah
sadar saat perlahan bangkit.
Dengan
rambut kusut jelas bekas tidur dan wajah mengantuk, dia berjalan menuju ruang
makan.
"Garis
tipis, tapi selamat!"
Bahkan
sampai terpikir kalau kami justru yang datang paling awal, karena belum
terlihat tamu lain sama sekali.
"Shibano-sama,
silahkan ke sini! Akan saya antar."
Seorang
pelayan penginapan menyapa dengan senyum ramah. Sepertinya dia sudah
benar-benar mengingat nama Momo-nee dan yang lain. Profesional sekali.
Dengan
suara lembutnya, kami dipandu masuk ke bagian dalam ruang makan.
Ruangannya
adalah kamar pribadi sepenuhnya, dan dari jendela kaca besar terbentang
pemandangan indah yang bisa dinikmati sepuasnya.
Saat
Momo-nee memberi isyarat tangan agar aku duduk di bagian dalam, aku pun
mengambil tempat di dekat jendela.
Di
depanku sudah tersaji berbagai hidangan pembuka dalam mangkuk-mangkuk kecil
berwarna-warni.
(...Luar
biasa... entah kenapa suasana seperti ini bikin agak tegang...)
Dengan
sedikit malu, aku hampir saja menggumamkan isi pikiranku sendiri.
"Kalau
begitu, izinkan saya menjelaskan hidangannya—"
Sambil
mendengarkan penjelasan pelayan yang menjabarkan setiap menu dengan teliti, aku
sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa antusias, bingung harus mulai dari
mana.
"Padahal
tadi kita makan banyak banget sampai kenyang, tapi begitu lihat makanan seenak
ini di depan mata, langsung lapar lagi. Bukannya ini luar biasa banget...?
Rasanya perutku bisa makan apa saja, malah jadi agak takut sendiri."
"Aku
juga aku juga! Kalau begitu, kita langsung makan saja♡"
Hidangan
pembuka, sashimi musiman, hidangan laut panggang, nabe—satu per satu makanan
diantar tanpa jeda. Semuanya tampak menggugah selera.
Aku
benar-benar suka nabe porsi satu orang yang biasanya cuma bisa dimakan di
tempat seperti ini.
Aroma
bahan bakar padat kecil berwarna biru itu makin membuatku merasa, ah, aku
benar-benar sedang menginap di penginapan.
Aku
menarik napas sejenak, lalu mengulurkan sumpit ke hidangan pembuka.
"──Enak."
Rasa
bahan alaminya tetap terasa, dengan bumbu yang halus dan seimbang. Porsinya
juga pas… jelas sudah diperhitungkan agar masih bisa menikmati hidangan
berikutnya.
Sashiminya
tersaji cantik, berisi ikan tai, tuna, dan ikan layur.
"Hnng~
♡ Segar dan enak banget~ ♡"
Momo-nee
juga terlihat memasang wajah penuh kenikmatan.
Berikutnya
yang kucoba adalah hidangan panggang—ikan sawara dengan miso Saikyo. Ini
benar-benar luar biasa enaknya. Lemaknya pas, dan aroma panggangnya langsung
membangkitkan selera.
Dan
kemudian—saat nabe mulai matang…
"Yay~
♡ Ini sukiyaki~ ♡"
"Miu,
kamu benar-benar dengar penjelasan pelayannya tadi?"
"Tentu
saja…! Tapi mungkin karena terlalu fokus sama makanannya, jadi nggak terlalu
dengar sih…"
"Haha,
dasar kamu memang doyan makan."
Dengan
pipi sedikit menggembung, Miu melotot ke arahku. Memang fakta sih kalau dia
doyan makan.
Saat
hampir semua hidangan habis, penutupnya adalah tai-meshi. Begitu tutup panci
tanah liat dibuka, uap hangat mengepul ke udara.
Daging
ikan kakap merah (tai) yang matang sempurna diurai, lalu nasi tai-meshi
disajikan ke dalam mangkuk dengan porsi yang pas.
Dengan
bumbu pelengkap dan kaldu yang sudah disiapkan, aku juga mencobanya ala
ochazuke.
Rasanya
lembut dan menenangkan, sebenarnya masih sanggup nambah satu mangkuk lagi, tapi
jujur saja perutku sudah benar-benar penuh, jadi aku menahan diri sampai di
sini.
Hati
dan perut sama-sama terasa puas, membuatku menghela napas lega.
"Huu~
kenyang banget…"
"Tapi
serius, kamu makan banyak juga, Miu… sampai dessert-ku pun kamu habiskan…"
"Soalnya
wajahmu kelihatan nggak sanggup makan lagi, jadi aku yang makan saja sebagai
gantinya?"
"Y-ya,
sih… memang begitu…"
Kami
meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.
Sepertinya
selama kami makan malam, pelayan sudah menyiapkan futon untuk kami.
Melihat futon putih
bersih yang empuk disusun berjajar membentuk pola 川,
semangatku langsung mencapai puncaknya.
"Shintarou,
aku bilang dulu ya, kita nggak akan main lempar bantal."
Sambil
berkata, "kita kan bukan anak-anak lagi," aku sempat dimarahi… tapi
sebenarnya, yang kekanak-kanakan itu siapa sih?
"Jujur
saja, aku bahkan nggak kepikiran ke arah sana. Yang kekanak-kanakan itu
siapa?"
"Fufu.
Miu-chan kan dulu suka main lempar bantal, ya? Sampai sering dimarahi
ibu…"
"Iya,
padahal kami cuma ikut-ikutan, tapi malah ikut dimarahi juga…"
"Apaan
sih!! Kalian berdua juga menikmatinya, kan! Aku masih ingat!!"
"Ya
ya."
Miu
masih menyimpan sisi polosnya, dan setiap kali bersama Momo-nee, sifat
kekanak-kanakannya jadi makin terlihat.
Tapi
mungkin, bagi Momo-nee, justru itulah bagian menggemaskan dari diri Miu.
"Kalau
begitu, sebentar lagi kita ke onsen, ya ♩ Sebelum makin ngantuk habis makan,
mending dinikmati dulu~ ♩"
"Benar
juga. Aku juga mau berendam santai."
──Sudah
berapa lama ya sejak terakhir kali ke onsen… sampai-sampai aku sudah tak
benar-benar ingat.
Momo-nee
dan Miu pasti akan berganti yukata dulu sebelum menuju pemandian, dan aku
merasa kurang enak kalau ikut mengganggu, jadi aku mengambil keranjang khusus
dan keluar kamar sendirian.
Menyusuri
lorong, aku mengecek peta dalam lift untuk melihat rute menuju pemandian.
Bahkan proses seperti ini saja terasa menyenangkan dan membuatku berdebar penuh
antusias.
◆◇◆
"Aah
enak banget…… pemandian air panas terbuka emang yang terbaik……"
Awalnya
berencana menikmati pemandian air panas setelah sekian lama, tapi mungkin
karena tidak tahan panas, aku cepat sekali pusing dan akhirnya meninggalkan
pemandian lebih cepat dari perkiraan.
(Yah,
mereka berdua pasti masih di pemandian… istirahat santai di kamar aja deh)
Begitu
kembali ke kamar, aku langsung terjun ke futon.
Futon
lembut yang didinginkan AC terasa sangat nyaman. Badanku juga hangat setelah
mandi, dan aku mulai mengantuk, hampir saja tertidur di saat seperti itu…………
"Hei~
Onee-chan berhenti dong"
"Fufu♡
Sesekali gapapa kan♡ Biar onee-chan yang bersihkan punggungmu~?"
(…………Hah!?
Apa!?)
Di
tengah kantuk yang nyaman, yang kudengar adalah suara kedua kakak-beradik itu.
"Hey~
udah ah! Aku bilang geli~!"
(Hah?
Mereka berdua mandi di pemandian terbuka kamar?)
Tunggu
tunggu… kalau geli, berarti Momo-nee sedang memandikan tubuh Miu? Dulu waktu
kecil sering melihat pemandangan seperti itu, tapi bahkan sekarang sudah
dewasa…?
Boleh
apa gitu sih!? Momo-nee, jangan-jangan memperlakukan Miu seperti anak kecil
terus…!?
──Aku
tahu ini pasti tidak baik.
Tapi
aku tidak bisa menahan rasa penasaran, dan mendekat ke area pemandian untuk
menyimak. Sekali lagi kukatakan, aku tahu ini pasti tidak baik.
"Sudah
lama ya kita berdua mandi bareng♡? Miu-chan juga sudah besar ya♩"
"Besar…
dibanding onee-chan masih jauh banget"
"Enggak
kok♩ Apalagi, nanti mungkin bisa tambah besar lho?"
────Bisa
tambah besar?
(Bahas
apa sih… soal tinggi badan? Atau…………)
"Aku
nggak bisa menang sama dada onee-chan deh. Ukurannya kayak 10 kali lipat
punyaku!"
"Fufu,
nggak segitu besar kok (ketawa)"
"Gede
banget! Boleh coba pegang sebentar?"
"Hah?
Boleh sih… sini~, nih!"
"Wahaaaa~~~!!
Tunggu bahaya! Lembut banget sih ini!!"
"Miu-chan~,
agak geli nih"
"Balas
dendam yang barusan~! Nih♩"
"Aduh
jangan! Beneran jangan…!"
(Bahaya.
Pasti sekarang hidungku keliatan banget. Aku yang menyimak obrolan mesra
bersaudari kayak gini… jijik banget ya…? Tapi aku nggak bisa bergerak…
penasaran banget lanjutannya…)
Kalau
sampai ketahuan sedang menguping seperti ini, mungkin aku sudah tidak akan ada
lagi di dunia ini.
Pasti
dimarahi Miu, 'Kamu tuh beneran rendah banget!!'
…Tunggu
dulu, tapi kalau dipikir normal, mereka pasti tahu kalau aku akan kembali, tapi
tetap mandi di kamar dengan risiko itu…?
(Kalau
gitu aku nggak salah dong…!? Malah, aku yang korban…!?)
Aku
nggak salah…!! Aku… nggak sala──
"Hei,
Miu-chan♡ Kamu tahu nggak, gimana caranya biar dada jadi besar?"
"Hmm?
Dada…? Gimana ya… emangnya bukan faktor keturunan?"
"Itu
juga sih─, tapi sebenarnya………… katanya kalau disentuh orang bisa jadi besar
lho!"
"Su,
sudahlah onee-chan! Jangan tiba-tiba dari belakang gitu…!"
"Gimana?
Nggak kerasa kayak gitu? Apalagi─, katanya paling efektif kalau disentuh sama
orang yang disukai~♩"
"Orang
yang disukai… he, heeh… gitu ya… udah ah onee-chan! Udah tahu kok"
"Fufu♡
Apa~ ya, yang benernya juga nggak tahu sih♡"
"Apaan
tuh… kalau gitu dada onee-chan yang segede ini karena sering disentuh orang
yang disukai?"
"Uhm,
keturunan mungkin ya"
"Lah!
Ternyata keturunan ya~!"
Syukurlah…
kirain Momo-nee sering disentuh cowok yang nggak dikenal… eh. Itu mah nggak
penting. Kayaknya kalau nggak segera pergi bakal sangat BA-HA-YA.
Aku
berusaha tidak membuat suara langkah, menghilangkan kehadiranku, dan menjauh
dari area pemandian dengan diam-diam agar tidak ketahuan kedua bersaudari itu.
Akhirnya
aku berhasil keluar dari kamar dan lolos dari situasi berbahaya itu, namun──
"Ngapain
ya ngisi waktu… badan dan nyali juga sudah keburu dingin, apa aku berendam lagi
saja?"
◆◇◆
──────
pun.
Sambil
berendam di onsen, aku teringat kembali kejadian barusan. Walau dibilang
kejadian, sebenarnya aku tidak melihatnya langsung.
Dengan
bersandar pada pintu pemandian, aku cuma mencuri dengar percakapan kakak
beradik itu… tapi entah kenapa, adegannya bisa terputar begitu nyata di
kepalaku.
Padahal
ingin mengusirnya dari pikiran, tapi malah terus kepikiran sampai rasanya
canggung membayangkan bertemu mereka berdua lagi…
"Panas!
Sudah mentok ini!"
"Hahaha.
Kamu nggak apa-apa, Nak? Wajahmu merah sekali, kayak gurita direbus."
…Sampai
seorang kakek asing mengkhawatirkanku, sepertinya aku benar-benar kepanasan.
"Hehe,
nggak apa-apa kok. Terima kasih…"
Saat
melirik jam di ruang ganti, ternyata sudah lewat lebih dari tiga puluh menit
sejak tadi. Padahal biasanya aku cuma mandi sekitar sepuluh menit… pantas saja
dibilang gurita rebus.
Ah,
rasanya mau pingsan. Jelas kelewatan.
Aku
pengen minum yang dingin… oh iya, tadi di peta gedung tertulis ada semacam
minuman bebas di lobi. Mampir ke sana saja, deh…
Dengan
langkah lemas aku tiba di sana… dan ternyata dua orang itu sudah ada lebih
dulu.
"Lho,
Shintarou juga datang!"
"Selamat
datang kembali, Shin-chan~♩"
Miu
menyapaku sambil memakan es krim layanan gratis. Sementara Momo-nee… memegang
minuman dingin, entah jus atau alkohol.
"Shintarou,
wajah dan badanmu merah banget! Kamu berendam lama, ya?"
"Eh,
iya… begitulah…"
"Hmm,
ternyata kamu suka mandi, ya."
(Bukan
begitu juga sih… tapi mana mungkin aku bilang yang sebenarnya…)
Miu
duduk di sofa satu orang, sedangkan Momo-nee di sofa dua-tiga orang. Mau tak
mau aku pun duduk di sebelah Momo-nee.
Begitu
Miu berdiri mengambil minuman, Momo-nee langsung mendekat ke telingaku dan
berbisik pelan.
"Shin-chan…………
lama sekali mandinya, ya♡?"
"Eh…
m-masa sih!? Soalnya onsen itu enak, jadi keterusan… haha♩"
Tapi──
minuman yang diminum Momo-nee ini, sepertinya alkohol.
Ada
aroma alkohol samar tercium.
"Fufu♡
Sampai dua kali berendam… kamu memang suka ya, onsen♡"
(Dua
kali… maksudnya apa? Eh!? Jangan-jangan dia tahu aku tadi ada di kamar!?)
"K-kenapa
Momo-nee tahu aku dua kali──!?"
"Kenapa?
♡ Soalnya soal Shin-chan itu, semuanya sudah ketahuan~♡"
"Berarti
tadi aku ada di kamar──"
"Hm?
Lagi bahas apa? Tadi di kamar ada apa?"
Miu
kembali tepat waktu seperti biasa. Seolah dia mendengar semuanya.
"Ah,
Miu!! B-bukan apa-apa! Cuma merasa kayak ada sesuatu di kamar!"
"Hah!?
Apa maksudnya!? Hantu!?"
"Ya
nggak mungkinlah…"
"Jangan
ngomong aneh-aneh! Aku aja sudah nggak nyaman tidur di luar rumah!"
"Oh
gitu… (padahal kesannya dia bisa tidur di mana saja)"
"Yah,
terserah sih, tapi kita balik ke kamar saja? Sudah lewat jam sepuluh, anak baik
waktunya tidur~… fuaa~ aku ngantuk."
Miu
berdiri sambil mengucek mata dengan wajah mengantuk. Tubuhnya bergoyang ke
kanan-kiri menunggu kami berdiri, mirip maskot santai.
"Momo-nee,
ayo balik ke kamar."
Momo-nee
menatap kami dengan wajah agak berat meninggalkan tempat itu…
"Hmm~
aku kayaknya belum ngantuk… masih mau minum sedikit lagi, jadi kalian duluan
saja ke kamar."
"Boleh
sih, tapi jangan kebanyakan minum. Momo-nee kan nggak kuat alkohol, kan."
"Tenang♡
Ini rasanya kayak soda biasa kok♩"
"Itu
lagi itu lagi! Dulu waktu festival juga bilang begitu, terus malah kacau
kan~!"
"Iya,
Kak! Justru minuman begitu yang bahaya, tahu-tahu sudah mabuk. Aku lihat di
berita!"
"Huh…
ya sudah deh, karena lagi liburan. Sekali-sekali boleh♩ Tapi tetap secukupnya
ya~"
Haa…
entah bakal jadi apa. Kayaknya belum satu jam juga dia sudah jadi pemabuk. Aku
tidur dulu, nanti baru cek keadaannya…
Akhirnya
kami meninggalkan Momo-nee di lounge dan kembali ke kamar.
"Ngantuk
banget… rasanya mau langsung tidur. Onee-chan itu kok masih segar sih."
"Ya,
mungkin kalau sudah dewasa, kamu bakal ngerti enaknya minum sendirian."
"Hmm…
bisa jadi."
──shaka-shaka
shuko-shuko……
Aku
dan Miu berdiri berdampingan di wastafel sambil menggosok gigi.
"Kenapa
aku harus gosok gigi sebelahan sama kamu sih?"
"Biar
cepat. Lagi pula, nostalgia kan."
"Haa…
nggak ngerti."
Kelihatannya
akrab sekali, sampai mirip rutinitas sebelum tidur pasangan YouTutu. Tapi
justru karena kami teman masa kecil yang sudah lama bersama, kami bisa
melakukan hal-hal biasa tanpa sungkan.
Walau
kalau Morishita melihatnya, mungkin bakal heboh lagi dengan jarak sedekat ini.
Ada rasa kedekatan khas teman masa kecil yang cuma kami berdua yang paham.
────
buf.
"Aah~!!
Kasur itu yang terbaik~! Rasanya badanku mau meleleh dan nyatu saja… hmm…
mnya-mnya…"
"Wh,
Miu? Sudah mau tidur? …………Miu?"
"……………………supya"
"Cepat
amat! Sudah tidur ya!?"
"Gwooo…
supya"
"Kamu…
ngorok juga, ya. Besok aku bilangin deh…"
Aku
merapikan selimutnya perlahan dan mengintip wajah tidurnya. Mungkin karena
sangat lelah, dia tidur pulas sampai ada air liur di sudut mulutnya.
Benar-benar
kekanak-kanakan.
Momo-nee
masih minum sendirian, ya?
Aku
harus cek keadaannya…
Agar
tidak membangunkan Miu, aku keluar kamar dengan pelan dan menuju lounge.
"Kalau
sudah lewat jam sepuluh, orang memang makin sedikit… tapi Momo-nee di mana
ya?"
Sofa
tempat dia duduk tadi sudah kosong.
Jangan-jangan
dia mabuk lalu pergi entah ke mana…? Ah, masa sih… tapi lalu ke mana?
Aku
mengamati sekitar sebentar. Sepertinya lounge lantai satu ini terhubung ke
luar. Mungkin Momo-nee ada di sana.
Saat
kubuka pelan pintu kaca, terbentang dek kayu yang terasa lapang.
Lampu
oranye hangat, beberapa sofa, bahkan ada semacam hammock. Suasananya bagus
sekali.
Berbeda
dengan panas siang hari, angin malam yang sejuk menyentuh kulit dengan nyaman.
"Ah,
benar… Momo-nee memang ada di sini…!"
Di
sudut paling ujung, di tempat dengan pemandangan paling indah, Momo-nee berdiri
sendirian, tampak kecil dan rapuh.
Punggungnya
terlihat lebih mungil dari biasanya, sampai tanpa sadar membuatku ingin
melindunginya.
Yukata
pinjaman penginapan dan gelas di tangannya yang ramping tampak begitu cantik
diterangi cahaya lampu hangat.
"Shin-chan
datang juga ya…?"
"Tentu
saja. Aku nggak mungkin membiarkan Momo-nee sendirian."
"Maaf
ya, jadi kakak yang payah begini."
Momo-nee
menunjukkan ekspresi sedikit murung, wajah yang jarang sekali dia perlihatkan.
"Bukan
begitu… cuma… Momo-nee kebanyakan minum, kan…?"
"Hmm~
Shin-chan itu terlalu baik."
(Aku
juga nggak baik ke semua orang… ini karena Momo-nee…)
Begitu
aku duduk di sampingnya, dia langsung menempel erat. Sepertinya dia memang
sudah cukup mabuk… tubuhnya juga terasa hangat.
Tanpa
sadar aku melingkarkan tangan di pinggangnya, menopang tubuhnya.
"Nee,
Shin-chan. Jantungmu berdetak kencang, ya♡?"
"Ya
jelas…! Momo-nee itu orang yang penting dan spesial buat aku."
"Hmm…
spesial itu perasaan yang bagaimana?"
"Uh…
itu… maksudnya…"
Bagaimana
harus menjelaskannya?
Terus
terang, kalau dibilang suka, memang aku suka…
Tapi
mungkin saat ini perasaanku masih samar, hanya terbuai oleh sosok kakak
perempuan yang dewasa, perhatian, dan penuh kasih.
Tapi…
dengan perasaan sebanyak ini, apa itu sudah bisa disebut cinta?
Aku
kikuk, dan hampir tak punya pengalaman soal cinta… wajar kalau aku sendiri
belum benar-benar paham.
Melihatku
terdiam sambil menunduk, Momo-nee berbisik pelan.
"Hmm~
kalau begitu… calon istri di masa depan… gitu?"
"Eh…!?"
(C-calon
istri di masa depan……!?)
"Cuma
bercanda~"
"Oh…"
"Kecewa?"
"Bukan…
ya… aku sudah terbiasa digoda… haha."
"Kalau
begitu… gimana kalau aku serius?"
Serius…?
Soal
calon istri…?
"Kalau
aku bilang aku suka Shin-chan… kamu bakal gimana?"
…Hah!?
Dia bilang suka aku…!?
Ini
cuma bercanda karena mabuk, kan…? Tapi katanya orang justru jujur saat mabuk…
Berarti
ini perasaan aslinya…?
"Ah~
mungkin aku bikin kamu makin deg-degan saja ya… misalnya, lanjutkan yang
kemarin…"
"L-lanjutkan
yang kemarin…?"
"Heeh~
masa sudah lupa?"
"Ah,
bukan… maksudku…"
"Kalau
begitu, aku bantu ingatkan. Nih, hadap ke sini…?"
"Eh!?
Tunggu—"
"Shin-chan…
aku menyukaimu…"
──────
cup…
(Hah…!?)
Sentuhan
lembut di bibir. Napas hangat. Aroma manis yang memikat…
"Haa…"
"Tunggu!!
Eeeeeeh!?"
"Hah…
kenapa ya… kok tiba-tiba pusing~"
Dengan
suara bruk, Momo-nee menjatuhkan diri ke sofa dan berbaring.
(Hah!?
Gawat… yang tadi itu benar-benar ciuman… jelas ciuman… A-aku… akhirnya ciuman…
aku… aku!!)
Tapi
ini jelas bukan saatnya melakukan hal-hal seperti itu.
"Mo—Momo-nee…!
Kamu nggak apa-apa!? Masih hidup kan!!"
Aku
menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Unya……
munya…"
…Sepertinya
dia tertidur karena mabuk.
"S-seriusan…"
Tak
ada pilihan lain, aku pun menggendong Momo-nee yang tertidur dan membawanya
kembali ke kamar.
(…Tapi
tadi itu ciuman. Sial… jangan-jangan itu cuma gara-gara mabuk doang!? Jadi cuma
aku yang deg-degan setengah mati…? Haa… punggungnya hangat banget…)
Begitu
sampai kamar, aku membaringkan Momo-nee dengan hati-hati di futon.
Di
sampingnya, posisi tidur Miu sama sekali tidak berubah sejak dulu—benar-benar
berantakan.
Kakinya
terbuka lebar saat tidur, sampai yukatanya tersingkap dan jadi pemandangan yang
bikin salah tingkah… tapi sekarang aku bahkan nggak punya ruang di kepala buat
mikirin itu.
(Ah…
sensasi ciuman tadi masih terasa di bibirku… mana mungkin aku bisa tidur
begini! Sial!)
Sambil
menatap dua orang yang tertidur pulas tanpa tahu perasaanku, aku akhirnya
menyambut pagi tanpa tidur sama sekali.
────
Keesokan paginya.
"Hmmmmm!
Tidurnya enak banget! Selamat pagi~♩ Semua bangun pagi~!!"
"Apaan
sih Miu… pagi-pagi kok sudah se-energik itu…"
"Kenapa
ya~? Kenapa ya~? Mungkin karena aku tidur nyenyak sembilan jam penuh♩
Ahaha!"
(Penuh
semangat banget… aku nggak sanggup ngikutin. Orang aku hampir nggak tidur sama
sekali…)
"Onee-chan~?
Bangun~! Ayoo~"
"Hmm…
sudah pagi…? Funyaa… selamat pagi…"
Momo-nee
bangun sambil mengusap mata dengan wajah mengantuk.
(A-apa
dia ingat kejadian semalam…? Kok rasanya jadi canggung tiba-tiba…)
"Hei~
kalian berdua lama banget sih siapnya~! Aku sudah laper banget! Aku ke tempat
makan duluan ya! Soalnya sarapan prasmanan~♩ Fufuun♩"
Batan!
"Mm…
Miu memang selalu penuh energi ya."
"Dari
dulu memang begitu… ributnya kayak badai…"
"Ah,
Shin-chan… ngomong-ngomong soal semalam—kayaknya aku kebanyakan minum deh…
hehe♡"
Dengan
wajah seolah berkata aku sudah lupa, Momo-nee menjulurkan lidahnya sambil
tersenyum.
"Oh…
soal kamu mencium aku kemarin?"
Ya
sudah kuduga.
Merasa
itu tidak adil, aku membalas dengan nada sedikit jahil.
Ciuman
mendadak itu memang tak terlupakan, tapi yang paling mengganjal adalah kata
suka yang dia ucapkan saat itu.
Apa
itu juga cuma efek mabuk? Atau… perasaannya yang sebenarnya?
"Ah,
e-eh, iya… Miu sudah menunggu, jadi ayo kita cepat ke sana."
Dengan
wajah sedikit canggung, Momo-nee keluar kamar lebih dulu.
Walaupun
dia bilang lupa karena mabuk, entah kenapa aku merasa… dia mengingat semuanya
dengan jelas.
◆◇◆
Sambil
setengah mengantuk kami menyelesaikan sarapan, lalu mulai bersiap pulang.
Karena
cuma menginap semalam, tanpa terasa perjalanan onsen ini pun sudah berakhir.
"Uwaa~
harus berpisah sama onsen di kamar ini~! Harusnya aku mandi sekali lagi!"
"Nanti
kita ke sini lagi ya, Miu-chan♩"
Sambil
menarik Miu yang masih berat meninggalkan tempat itu, kami menuju lobi.
"Aku
urus check-out dulu ya. Kalian tunggu santai saja."
"Oke!
Makasih, onee-chan!"
"Kalau
begitu kita nunggu di tempat yang nggak ganggu orang."
Karena
area front desk cukup ramai, kami menunggu di sofa yang agak jauh.
"Eh,
Shintarou…"
Miu
menatapku dengan wajah sedikit cemberut sambil menarik lengan bajuku.
"Hm?
Kenapa?"
"Semalam…
kamu ciuman sama onee-chan, kan…?"
"──Hah!?
Apaan tiba-tiba!"
"Tadi
pagi sebelum sarapan, kalian kan keluar duluan? Aku balik ke kamar karena ada
yang ketinggalan… terus nggak sengaja dengar pembicaraan kalian."
"Itu…
lebih ke kecelakaan sih…"
"Kamu
suka onee-chan?"
"Hah!?
Kamu kenapa sih dari tadi!"
"Aku
juga, tahu! Aku ini… sama kamu…!! S-s-s-s…"
"S…?"
"S…
su… su… sushi!!"
"Sushi!?
────hng!"
Aku
masih di tengah bicara. Tapi tiba-tiba… bibirku tertutup.
Oleh
bibir Miu────!!
Lembut,
dengan aroma manis-asam yang segar seperti jeruk… berbeda dengan Momo-nee…
T-tunggu!!
Ini terlalu mendadak!!
Kepalaku
benar-benar kosong, sementara Miu tersenyum—nakal, tapi juga sedikit sedih.
"Bodoh.
Ciumanmu sama onee-chan, aku timpa pakai punyaku."
"A-apa-apaan
sih kamu!!"
Tanpa
sadar jantungku sempat berdebar… Tidak. Nggak mungkin. Sama sekali nggak
mungkin.
Saat
itu juga Momo-nee kembali, kelihatannya sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Eh?
Kalian kenapa mukanya begitu?"
"Hm~?
Nggak apa-apa kok. Ayo jalan~"
Miu
merangkul lengan Momo-nee dan pergi begitu saja.
Aku
pun tertinggal──terpaku di tempat.
(T-tunggu
tunggu tunggu!! Ditimpa!? Miu… jangan-jangan dia… aku!? Nggak, nggak mungkin!!
Terus itu apa!? Kalau dipikir-pikir… dari kecil dia memang selalu merebut apa
pun yang jadi milik Momo-nee. Jangan-jangan cuma itu alasannya!? Cuma karena
cemburu ke Kakaknya, dia mencium aku!? Apa sih maksudnya ini semua!! Aaargh!!
Aku sama sekali nggak ngerti!!)
"Sialaaaaaan!!"
"Hey,
kamu lama banget~! Nanti ditinggal lho~!"
"Fufu♡
Santai saja, Shin-chan. Kami nggak akan ke mana-mana kok♡"
Kedua
saudari itu menoleh ke arahku.
"T-tunggu
aku, kalian berdua~!"



Post a Comment