NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 1 Chapter 8

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 8

Aku, si Kakak-Adik, dan Perjalanan Pemandian Air Panas……

──Dan akhirnya, akhir pekan yang sudah lama ditunggu pun tiba.

 

Aku dan dua saudari teman masa kecilku, entah bagaimana bisa berakhir pergi bertiga untuk perjalanan ke pemandian air panas.

 

Tidak, kalau dipikir-pikir, mungkin istilah yang lebih tepat adalah "terseret".

 

Memang sih, aku juga tidak punya alasan kuat untuk menolak. Ditambah lagi, bujukan berupa "penginapan onsen yang dulu sering kita datangi bareng keluarga waktu kecil" benar-benar kena di hatiku. Alhasil, aku pun ikut dengan setengah terbawa arus.

 

Cuacanya cerah. Baru masuk bulan September, tapi nuansa musim panas masih terasa kuat. Panas.

 

"Ta-daaaan! Kita sampai~! Gawat! Aku jadi semangat banget~♩"

 

"Oh! Rasanya aku masih agak ingat tempat ini!!"

 

"Masa sih~? Fufu♡ Ayo kita senang-senang sepuasnya sebelum pulang~♡"

 

Begitu rasa nostalgia itu keluar, aku yang tadinya tidak terlalu antusias pun tanpa sadar langkahku jadi ringan, dan semangatku ikut naik.

 

"Eh, tujuan utama hari ini kan makan keliling, ya♡ Katanya banyak toko baru, jadi aku sudah riset banyak lewat video~♩ Hebat, kan♡"

 

"Miu-chan memang jago~♡ Kalau begitu, ayo langsung makan sesuatu♡ Demi ini aku dari pagi tidak makan apa-apa. Lapar banget~"

 

(Ohh…… jadi ini yang namanya perjalanan cewek……)

 

Awalnya aku agak khawatir, perjalanan onsen dua cewek satu cowok bakal jadi canggung. Tapi ternyata tidak ada suasana aneh sama sekali, malah kelihatannya bakal seru.

 

Sambil menikmati suara aliran sungai yang terlihat dari jembatan, kami melangkah menuju toko tujuan.

 

"Ta-daan♩ Di sini~! Aku benar-benar ingin coba senbei mentah dari toko ini~♡ Dari dulu sudah tidak sabar~♡"

 

"Senbei mentah……?"

 

"Iya iya♡ Coba saja, nanti juga ngerti~♩"

 

"Oh……?"

 

Di papan depan toko tertulis besar-besar: Masa simpan 5 detik.

 

(……Maksudnya harus dimakan habis dalam lima detik!?)

 

"Permisi! Tiga buah ya!"

 

"Baik~♩ Tolong langsung dimakan setelah diterima ya! Hati-hati panas~!"

 

Dengan penuh semangat, pegawai menyerahkan senbei yang baru saja dipanggang.

 

──Panas banget!!

 

"Panas! Ham!"

 

"Gimana gimana? Katanya senbei mentah yang baru dipanggang itu kenyal dan lembut~♡"

 

"Gila…… jadi ini maksudnya masa simpan lima detik……!? Dalam sekejap langsung jadi renyah!"

 

"Kalau begitu, giliranku♡"

 

Momo-nee menerima senbei itu dan langsung membawanya ke mulut.

 

"P-panas…… ngm…… enaak~♡"

 

"Kalau begitu…… giliranku……"

 

"Ini dia~!"

 

"Wah! Ham…… panas!"

 

"Hahaha….. Miu, kamu kelamaan makannya, sudah jadi renyah kan."

 

"Hmm. Tapi enak~♡ Rasanya lembut dan sedikit manis♩"

 

Waktu yang mengalir terasa jauh lebih lambat dibanding keseharian yang sibuk.

 

Sesekali, waktu seperti ini mungkin memang perlu……

 

Walaupun kami sudah bukan anak-anak lagi dan tidak bisa sepenuhnya seperti dulu, bisa berbagi kenangan seperti ini dengan mereka berdua—yang rasanya sudah seperti keluarga—mungkin adalah kebahagiaan tersendiri.

 

Melihat senyum ceria mereka, aku merasakan itu dengan tulus.

 

"Eh, mau coba manju yang di sana juga?"

 

"Boleh~! Sekalian kita habisin semua!"

 

◆◇◆

 

"Uuh…… sepertinya kebanyakan makan……"

 

"Gawat, kalau tidak salah makan malam jam enam…… eh sekarang jam berapa…… jam empat!? Check-in jam lima, berarti kita harus ke penginapan sekarang."

 

Sejak tiba lewat tengah hari, kami terus berkeliling, melahap apa saja yang ada—manju, kroket panas, es krim—tanpa henti.

 

"Uuh…… benar-benar kekenyangan…… mungkin kalau jalan terus, sedikit tercerna…… uh."

 

"Ini jelas kebanyakan makan, level perlu refleksi."

 

"Fufu♡ Ini juga bakal jadi kenangan indah kok, pasti~♩"

 

Karena masih ada sedikit waktu, kami berjalan santai menyusuri jalan berbatu yang penuh nuansa, menuju penginapan.

 

Setibanya di sana, kami melewati gerbang, check-in di lobi penginapan, lalu seorang pelayan mengantar kami ke kamar sambil memberi penjelasan fasilitas.

 

Dan kamar yang kami tempati ternyata…… kamar tamu dengan pemandian terbuka!

 

"Uoooo……!! Serius? Tidak apa-apa kita menginap di kamar sebagus ini!?"

 

Aku tidak bisa menahan diri untuk berseru kegirangan.

 

"Iya♡ Kata Mama, sekalian saja menginap di kamar yang bagus♩ Cocok kan buat penutup kenangan musim panas♩"

 

"Serius…… rasanya aku terlalu dimanjakan kan……"

 

"Fufu♡ Dari sudut pandang orang tuaku, kamu itu masih seperti anak sendiri, Shintarou. Jadi tidak perlu sungkan♡"

 

"Uuh…… Paman, Bibi, terima kasih…… tapi tetap saja, kamar ini terlalu sempurna!!"

 

Setelah penjelasan selesai dan pelayan berkata, "Silakan menikmati waktu Anda," sambil membungkuk, ia pun meninggalkan kamar.

 

Di atas meja sudah tersedia cangkir berisi teh dingin dan piring kecil untuk masing-masing.

 

Di atas piring itu ada manju yang bening dan cantik.

 

"Ahh…… benar-benar sempurna…… AC-nya juga adem banget……"

 

"Iya, bikin rileks~"

 

"Eh, kita lupa rendam kaki di pemandian kaki!"

 

"Benar~! Kalau nanti ada waktu sebelum pulang, mampir yuk♩"

 

"Iya, sekalian!"

 

Kami pun beristirahat di kamar sambil menunggu waktu makan malam.

 

──Guling.

 

"Berbaring di atas tatami itu enak banget…… kalian juga coba tiduran."

 

"Kalau begitu aku numpang di sebelah…… ah, menyembuhkan banget……"

 

"Aku rasanya mau ketiduran……"

 

Kami bertiga berbaring sejajar di atas tatami.

 

Mengingat dulu mungkin kami juga menghabiskan waktu seperti ini, entah kenapa perasaan nostalgia sedikit menyelinap.

 

"Aku tidak sabar sama makan malam♩ Aku suka banget makanan penginapan~♡ Aduh, kepikiran saja sudah lapar lagi."

 

"Eh!? Miu-chan, kamu sudah lapar lagi?"

 

"Serius… memang khas Miu. Rakus."

 

"Shintarou! Ngomong begitu ke cewek itu tidak sopan!"

 

Sambil tertawa dengan obrolan sepele, aku menatap pola kayu di langit-langit dengan kosong.

 

(Beginilah…… momen seperti ini benar-benar yang paling menyembuhkan. Tidak sehari-hari, tapi bersama orang-orang yang bikin nyaman, tertawa soal hal sepele…… waktu yang terlalu mewah.)

 

"Sedikit memejamkan mata tidak apa-apa kan…… ngantuk……"

 

Begitu berkata, Miu perlahan menutup matanya.

 

Perut kami sudah terisi pas dari makan keliling tadi, tubuh juga lelah dengan nyaman, dan tanpa sadar────

 

──kami tertidur.

 

"…Hah?"

 

Aroma tatami dan ketenangan senja…… kami benar-benar lengah.

 

"Gawat!! Kalian berdua! Sudah jam enam!"

 

Aku langsung terbangun dan membangunkan mereka.

 

"Hmm…… biarin aku tidur sebentar lagi……"

 

"Eh, benar juga…… aku juga ketiduran…… haa. Miu-chan, bangun!"

 

"Hmm……"

 

"Ayo, kita pergi!"

 

Momo-nee mengangkat tubuh Miu, dan akhirnya dia pun terbangun, tampak masih setengah sadar saat perlahan bangkit.

 

Dengan rambut kusut jelas bekas tidur dan wajah mengantuk, dia berjalan menuju ruang makan.

 

"Garis tipis, tapi selamat!"

 

Bahkan sampai terpikir kalau kami justru yang datang paling awal, karena belum terlihat tamu lain sama sekali.

 

"Shibano-sama, silahkan ke sini! Akan saya antar."

 

Seorang pelayan penginapan menyapa dengan senyum ramah. Sepertinya dia sudah benar-benar mengingat nama Momo-nee dan yang lain. Profesional sekali.

 

Dengan suara lembutnya, kami dipandu masuk ke bagian dalam ruang makan.

 

Ruangannya adalah kamar pribadi sepenuhnya, dan dari jendela kaca besar terbentang pemandangan indah yang bisa dinikmati sepuasnya.

 

Saat Momo-nee memberi isyarat tangan agar aku duduk di bagian dalam, aku pun mengambil tempat di dekat jendela.

 

Di depanku sudah tersaji berbagai hidangan pembuka dalam mangkuk-mangkuk kecil berwarna-warni.

 

(...Luar biasa... entah kenapa suasana seperti ini bikin agak tegang...)

 

Dengan sedikit malu, aku hampir saja menggumamkan isi pikiranku sendiri.

 

"Kalau begitu, izinkan saya menjelaskan hidangannya—"

 

Sambil mendengarkan penjelasan pelayan yang menjabarkan setiap menu dengan teliti, aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa antusias, bingung harus mulai dari mana.

 

"Padahal tadi kita makan banyak banget sampai kenyang, tapi begitu lihat makanan seenak ini di depan mata, langsung lapar lagi. Bukannya ini luar biasa banget...? Rasanya perutku bisa makan apa saja, malah jadi agak takut sendiri."

 

"Aku juga aku juga! Kalau begitu, kita langsung makan saja♡"

 

Hidangan pembuka, sashimi musiman, hidangan laut panggang, nabe—satu per satu makanan diantar tanpa jeda. Semuanya tampak menggugah selera.

 

Aku benar-benar suka nabe porsi satu orang yang biasanya cuma bisa dimakan di tempat seperti ini.

 

Aroma bahan bakar padat kecil berwarna biru itu makin membuatku merasa, ah, aku benar-benar sedang menginap di penginapan.

 

Aku menarik napas sejenak, lalu mengulurkan sumpit ke hidangan pembuka.

 

"──Enak."

 

Rasa bahan alaminya tetap terasa, dengan bumbu yang halus dan seimbang. Porsinya juga pas… jelas sudah diperhitungkan agar masih bisa menikmati hidangan berikutnya.

 

Sashiminya tersaji cantik, berisi ikan tai, tuna, dan ikan layur.

 

"Hnng~ ♡ Segar dan enak banget~ ♡"

 

Momo-nee juga terlihat memasang wajah penuh kenikmatan.

 

Berikutnya yang kucoba adalah hidangan panggang—ikan sawara dengan miso Saikyo. Ini benar-benar luar biasa enaknya. Lemaknya pas, dan aroma panggangnya langsung membangkitkan selera.

 

Dan kemudian—saat nabe mulai matang…

 

"Yay~ ♡ Ini sukiyaki~ ♡"

 

"Miu, kamu benar-benar dengar penjelasan pelayannya tadi?"

 

"Tentu saja…! Tapi mungkin karena terlalu fokus sama makanannya, jadi nggak terlalu dengar sih…"

 

"Haha, dasar kamu memang doyan makan."

 

Dengan pipi sedikit menggembung, Miu melotot ke arahku. Memang fakta sih kalau dia doyan makan.

 

Saat hampir semua hidangan habis, penutupnya adalah tai-meshi. Begitu tutup panci tanah liat dibuka, uap hangat mengepul ke udara.

 

Daging ikan kakap merah (tai) yang matang sempurna diurai, lalu nasi tai-meshi disajikan ke dalam mangkuk dengan porsi yang pas.

 

Dengan bumbu pelengkap dan kaldu yang sudah disiapkan, aku juga mencobanya ala ochazuke.

 

Rasanya lembut dan menenangkan, sebenarnya masih sanggup nambah satu mangkuk lagi, tapi jujur saja perutku sudah benar-benar penuh, jadi aku menahan diri sampai di sini.

 

Hati dan perut sama-sama terasa puas, membuatku menghela napas lega.

 

"Huu~ kenyang banget…"

 

"Tapi serius, kamu makan banyak juga, Miu… sampai dessert-ku pun kamu habiskan…"

 

"Soalnya wajahmu kelihatan nggak sanggup makan lagi, jadi aku yang makan saja sebagai gantinya?"

 

"Y-ya, sih… memang begitu…"

 

Kami meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.

Sepertinya selama kami makan malam, pelayan sudah menyiapkan futon untuk kami.

 

Melihat futon putih bersih yang empuk disusun berjajar membentuk pola , semangatku langsung mencapai puncaknya.

 

"Shintarou, aku bilang dulu ya, kita nggak akan main lempar bantal."

 

Sambil berkata, "kita kan bukan anak-anak lagi," aku sempat dimarahi… tapi sebenarnya, yang kekanak-kanakan itu siapa sih?

 

"Jujur saja, aku bahkan nggak kepikiran ke arah sana. Yang kekanak-kanakan itu siapa?"

 

"Fufu. Miu-chan kan dulu suka main lempar bantal, ya? Sampai sering dimarahi ibu…"

 

"Iya, padahal kami cuma ikut-ikutan, tapi malah ikut dimarahi juga…"

 

"Apaan sih!! Kalian berdua juga menikmatinya, kan! Aku masih ingat!!"

 

"Ya ya."

 

Miu masih menyimpan sisi polosnya, dan setiap kali bersama Momo-nee, sifat kekanak-kanakannya jadi makin terlihat.

 

Tapi mungkin, bagi Momo-nee, justru itulah bagian menggemaskan dari diri Miu.

 

"Kalau begitu, sebentar lagi kita ke onsen, ya ♩ Sebelum makin ngantuk habis makan, mending dinikmati dulu~ ♩"

 

"Benar juga. Aku juga mau berendam santai."

 

──Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali ke onsen… sampai-sampai aku sudah tak benar-benar ingat.

 

Momo-nee dan Miu pasti akan berganti yukata dulu sebelum menuju pemandian, dan aku merasa kurang enak kalau ikut mengganggu, jadi aku mengambil keranjang khusus dan keluar kamar sendirian.

 

Menyusuri lorong, aku mengecek peta dalam lift untuk melihat rute menuju pemandian. Bahkan proses seperti ini saja terasa menyenangkan dan membuatku berdebar penuh antusias.

 

◆◇◆

 

"Aah enak banget…… pemandian air panas terbuka emang yang terbaik……"

 

Awalnya berencana menikmati pemandian air panas setelah sekian lama, tapi mungkin karena tidak tahan panas, aku cepat sekali pusing dan akhirnya meninggalkan pemandian lebih cepat dari perkiraan.

 

(Yah, mereka berdua pasti masih di pemandian… istirahat santai di kamar aja deh)

 

Begitu kembali ke kamar, aku langsung terjun ke futon.

 

Futon lembut yang didinginkan AC terasa sangat nyaman. Badanku juga hangat setelah mandi, dan aku mulai mengantuk, hampir saja tertidur di saat seperti itu…………

 

"Hei~ Onee-chan berhenti dong"

 

"Fufu♡ Sesekali gapapa kan♡ Biar onee-chan yang bersihkan punggungmu~?"

 

(…………Hah!? Apa!?)

 

Di tengah kantuk yang nyaman, yang kudengar adalah suara kedua kakak-beradik itu.

 

"Hey~ udah ah! Aku bilang geli~!"

 

(Hah? Mereka berdua mandi di pemandian terbuka kamar?)

 

Tunggu tunggu… kalau geli, berarti Momo-nee sedang memandikan tubuh Miu? Dulu waktu kecil sering melihat pemandangan seperti itu, tapi bahkan sekarang sudah dewasa…?

 

Boleh apa gitu sih!? Momo-nee, jangan-jangan memperlakukan Miu seperti anak kecil terus…!?

 

──Aku tahu ini pasti tidak baik.

 

Tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaran, dan mendekat ke area pemandian untuk menyimak. Sekali lagi kukatakan, aku tahu ini pasti tidak baik.

 

"Sudah lama ya kita berdua mandi bareng♡? Miu-chan juga sudah besar ya♩"

 

"Besar… dibanding onee-chan masih jauh banget"

 

"Enggak kok♩ Apalagi, nanti mungkin bisa tambah besar lho?"

 

────Bisa tambah besar?

 

(Bahas apa sih… soal tinggi badan? Atau…………)

 

"Aku nggak bisa menang sama dada onee-chan deh. Ukurannya kayak 10 kali lipat punyaku!"

 

"Fufu, nggak segitu besar kok (ketawa)"

 

"Gede banget! Boleh coba pegang sebentar?"

 

"Hah? Boleh sih… sini~, nih!"

 

"Wahaaaa~~~!! Tunggu bahaya! Lembut banget sih ini!!"

 

"Miu-chan~, agak geli nih"

 

"Balas dendam yang barusan~! Nih♩"

 

"Aduh jangan! Beneran jangan…!"

 

(Bahaya. Pasti sekarang hidungku keliatan banget. Aku yang menyimak obrolan mesra bersaudari kayak gini… jijik banget ya…? Tapi aku nggak bisa bergerak… penasaran banget lanjutannya…)

 

Kalau sampai ketahuan sedang menguping seperti ini, mungkin aku sudah tidak akan ada lagi di dunia ini.

 

Pasti dimarahi Miu, 'Kamu tuh beneran rendah banget!!'

 

…Tunggu dulu, tapi kalau dipikir normal, mereka pasti tahu kalau aku akan kembali, tapi tetap mandi di kamar dengan risiko itu…?

 

(Kalau gitu aku nggak salah dong…!? Malah, aku yang korban…!?)

 

Aku nggak salah…!! Aku… nggak sala──

 

"Hei, Miu-chan♡ Kamu tahu nggak, gimana caranya biar dada jadi besar?"

 

"Hmm? Dada…? Gimana ya… emangnya bukan faktor keturunan?"

 

"Itu juga sih─, tapi sebenarnya………… katanya kalau disentuh orang bisa jadi besar lho!"

 

"Su, sudahlah onee-chan! Jangan tiba-tiba dari belakang gitu…!"

 

"Gimana? Nggak kerasa kayak gitu? Apalagi─, katanya paling efektif kalau disentuh sama orang yang disukai~♩"

 

"Orang yang disukai… he, heeh… gitu ya… udah ah onee-chan! Udah tahu kok"

 

"Fufu♡ Apa~ ya, yang benernya juga nggak tahu sih♡"

 

"Apaan tuh… kalau gitu dada onee-chan yang segede ini karena sering disentuh orang yang disukai?"

 

"Uhm, keturunan mungkin ya"

 

"Lah! Ternyata keturunan ya~!"

 

Syukurlah… kirain Momo-nee sering disentuh cowok yang nggak dikenal… eh. Itu mah nggak penting. Kayaknya kalau nggak segera pergi bakal sangat BA-HA-YA.

 

Aku berusaha tidak membuat suara langkah, menghilangkan kehadiranku, dan menjauh dari area pemandian dengan diam-diam agar tidak ketahuan kedua bersaudari itu.

 

Akhirnya aku berhasil keluar dari kamar dan lolos dari situasi berbahaya itu, namun──

 

"Ngapain ya ngisi waktu… badan dan nyali juga sudah keburu dingin, apa aku berendam lagi saja?"

 

◆◇◆

 

────── pun.

 

Sambil berendam di onsen, aku teringat kembali kejadian barusan. Walau dibilang kejadian, sebenarnya aku tidak melihatnya langsung.

 

Dengan bersandar pada pintu pemandian, aku cuma mencuri dengar percakapan kakak beradik itu… tapi entah kenapa, adegannya bisa terputar begitu nyata di kepalaku.

 

Padahal ingin mengusirnya dari pikiran, tapi malah terus kepikiran sampai rasanya canggung membayangkan bertemu mereka berdua lagi…

 

"Panas! Sudah mentok ini!"

 

"Hahaha. Kamu nggak apa-apa, Nak? Wajahmu merah sekali, kayak gurita direbus."

 

…Sampai seorang kakek asing mengkhawatirkanku, sepertinya aku benar-benar kepanasan.

 

"Hehe, nggak apa-apa kok. Terima kasih…"

 

Saat melirik jam di ruang ganti, ternyata sudah lewat lebih dari tiga puluh menit sejak tadi. Padahal biasanya aku cuma mandi sekitar sepuluh menit… pantas saja dibilang gurita rebus.

 

Ah, rasanya mau pingsan. Jelas kelewatan.

 

Aku pengen minum yang dingin… oh iya, tadi di peta gedung tertulis ada semacam minuman bebas di lobi. Mampir ke sana saja, deh…

 

Dengan langkah lemas aku tiba di sana… dan ternyata dua orang itu sudah ada lebih dulu.

 

"Lho, Shintarou juga datang!"

 

"Selamat datang kembali, Shin-chan~♩"

 

Miu menyapaku sambil memakan es krim layanan gratis. Sementara Momo-nee… memegang minuman dingin, entah jus atau alkohol.

 

"Shintarou, wajah dan badanmu merah banget! Kamu berendam lama, ya?"

 

"Eh, iya… begitulah…"

 

"Hmm, ternyata kamu suka mandi, ya."

 

(Bukan begitu juga sih… tapi mana mungkin aku bilang yang sebenarnya…)

 

Miu duduk di sofa satu orang, sedangkan Momo-nee di sofa dua-tiga orang. Mau tak mau aku pun duduk di sebelah Momo-nee.

 

Begitu Miu berdiri mengambil minuman, Momo-nee langsung mendekat ke telingaku dan berbisik pelan.

 

"Shin-chan………… lama sekali mandinya, ya♡?"

 

"Eh… m-masa sih!? Soalnya onsen itu enak, jadi keterusan… haha♩"

 

Tapi── minuman yang diminum Momo-nee ini, sepertinya alkohol.

 

Ada aroma alkohol samar tercium.

 

"Fufu♡ Sampai dua kali berendam… kamu memang suka ya, onsen♡"

 

(Dua kali… maksudnya apa? Eh!? Jangan-jangan dia tahu aku tadi ada di kamar!?)

 

"K-kenapa Momo-nee tahu aku dua kali──!?"

 

"Kenapa? ♡ Soalnya soal Shin-chan itu, semuanya sudah ketahuan~♡"

 

"Berarti tadi aku ada di kamar──"

 

"Hm? Lagi bahas apa? Tadi di kamar ada apa?"

 

Miu kembali tepat waktu seperti biasa. Seolah dia mendengar semuanya.

 

"Ah, Miu!! B-bukan apa-apa! Cuma merasa kayak ada sesuatu di kamar!"

 

"Hah!? Apa maksudnya!? Hantu!?"

 

"Ya nggak mungkinlah…"

 

"Jangan ngomong aneh-aneh! Aku aja sudah nggak nyaman tidur di luar rumah!"

 

"Oh gitu… (padahal kesannya dia bisa tidur di mana saja)"

 

"Yah, terserah sih, tapi kita balik ke kamar saja? Sudah lewat jam sepuluh, anak baik waktunya tidur~… fuaa~ aku ngantuk."

 

Miu berdiri sambil mengucek mata dengan wajah mengantuk. Tubuhnya bergoyang ke kanan-kiri menunggu kami berdiri, mirip maskot santai.

 

"Momo-nee, ayo balik ke kamar."

 

Momo-nee menatap kami dengan wajah agak berat meninggalkan tempat itu…

 

"Hmm~ aku kayaknya belum ngantuk… masih mau minum sedikit lagi, jadi kalian duluan saja ke kamar."

 

"Boleh sih, tapi jangan kebanyakan minum. Momo-nee kan nggak kuat alkohol, kan."

 

"Tenang♡ Ini rasanya kayak soda biasa kok♩"

 

"Itu lagi itu lagi! Dulu waktu festival juga bilang begitu, terus malah kacau kan~!"

 

"Iya, Kak! Justru minuman begitu yang bahaya, tahu-tahu sudah mabuk. Aku lihat di berita!"

 

"Huh… ya sudah deh, karena lagi liburan. Sekali-sekali boleh♩ Tapi tetap secukupnya ya~"

 

Haa… entah bakal jadi apa. Kayaknya belum satu jam juga dia sudah jadi pemabuk. Aku tidur dulu, nanti baru cek keadaannya…

 

Akhirnya kami meninggalkan Momo-nee di lounge dan kembali ke kamar.

 

"Ngantuk banget… rasanya mau langsung tidur. Onee-chan itu kok masih segar sih."

 

"Ya, mungkin kalau sudah dewasa, kamu bakal ngerti enaknya minum sendirian."

 

"Hmm… bisa jadi."

 

──shaka-shaka shuko-shuko……

 

Aku dan Miu berdiri berdampingan di wastafel sambil menggosok gigi.

 

"Kenapa aku harus gosok gigi sebelahan sama kamu sih?"

 

"Biar cepat. Lagi pula, nostalgia kan."

 

"Haa… nggak ngerti."

 

Kelihatannya akrab sekali, sampai mirip rutinitas sebelum tidur pasangan YouTutu. Tapi justru karena kami teman masa kecil yang sudah lama bersama, kami bisa melakukan hal-hal biasa tanpa sungkan.

 

Walau kalau Morishita melihatnya, mungkin bakal heboh lagi dengan jarak sedekat ini. Ada rasa kedekatan khas teman masa kecil yang cuma kami berdua yang paham.

 

──── buf.

 

"Aah~!! Kasur itu yang terbaik~! Rasanya badanku mau meleleh dan nyatu saja… hmm… mnya-mnya…"

 

"Wh, Miu? Sudah mau tidur? …………Miu?"

 

"……………………supya"

 

"Cepat amat! Sudah tidur ya!?"

 

"Gwooo… supya"

 

"Kamu… ngorok juga, ya. Besok aku bilangin deh…"

 

Aku merapikan selimutnya perlahan dan mengintip wajah tidurnya. Mungkin karena sangat lelah, dia tidur pulas sampai ada air liur di sudut mulutnya.

 

Benar-benar kekanak-kanakan.

 

Momo-nee masih minum sendirian, ya?

 

Aku harus cek keadaannya…

 

Agar tidak membangunkan Miu, aku keluar kamar dengan pelan dan menuju lounge.

 

"Kalau sudah lewat jam sepuluh, orang memang makin sedikit… tapi Momo-nee di mana ya?"

 

Sofa tempat dia duduk tadi sudah kosong.

 

Jangan-jangan dia mabuk lalu pergi entah ke mana…? Ah, masa sih… tapi lalu ke mana?

 

Aku mengamati sekitar sebentar. Sepertinya lounge lantai satu ini terhubung ke luar. Mungkin Momo-nee ada di sana.

 

Saat kubuka pelan pintu kaca, terbentang dek kayu yang terasa lapang.

 

Lampu oranye hangat, beberapa sofa, bahkan ada semacam hammock. Suasananya bagus sekali.

 

Berbeda dengan panas siang hari, angin malam yang sejuk menyentuh kulit dengan nyaman.

 

"Ah, benar… Momo-nee memang ada di sini…!"

 

Di sudut paling ujung, di tempat dengan pemandangan paling indah, Momo-nee berdiri sendirian, tampak kecil dan rapuh.

 

Punggungnya terlihat lebih mungil dari biasanya, sampai tanpa sadar membuatku ingin melindunginya.

 

Yukata pinjaman penginapan dan gelas di tangannya yang ramping tampak begitu cantik diterangi cahaya lampu hangat.

 

"Shin-chan datang juga ya…?"

 

"Tentu saja. Aku nggak mungkin membiarkan Momo-nee sendirian."

 

"Maaf ya, jadi kakak yang payah begini."

 

Momo-nee menunjukkan ekspresi sedikit murung, wajah yang jarang sekali dia perlihatkan.

 

"Bukan begitu… cuma… Momo-nee kebanyakan minum, kan…?"

 

"Hmm~ Shin-chan itu terlalu baik."

 

(Aku juga nggak baik ke semua orang… ini karena Momo-nee…)

 

Begitu aku duduk di sampingnya, dia langsung menempel erat. Sepertinya dia memang sudah cukup mabuk… tubuhnya juga terasa hangat.

 

Tanpa sadar aku melingkarkan tangan di pinggangnya, menopang tubuhnya.

 

"Nee, Shin-chan. Jantungmu berdetak kencang, ya♡?"

 

"Ya jelas…! Momo-nee itu orang yang penting dan spesial buat aku."

 

"Hmm… spesial itu perasaan yang bagaimana?"

 

"Uh… itu… maksudnya…"

 

Bagaimana harus menjelaskannya?

 

Terus terang, kalau dibilang suka, memang aku suka…

 

Tapi mungkin saat ini perasaanku masih samar, hanya terbuai oleh sosok kakak perempuan yang dewasa, perhatian, dan penuh kasih.

 

Tapi… dengan perasaan sebanyak ini, apa itu sudah bisa disebut cinta?

 

Aku kikuk, dan hampir tak punya pengalaman soal cinta… wajar kalau aku sendiri belum benar-benar paham.

 

Melihatku terdiam sambil menunduk, Momo-nee berbisik pelan.

 

"Hmm~ kalau begitu… calon istri di masa depan… gitu?"

 

"Eh…!?"

 

(C-calon istri di masa depan……!?)

 

"Cuma bercanda~"

 

"Oh…"

 

"Kecewa?"

 

"Bukan… ya… aku sudah terbiasa digoda… haha."

 

"Kalau begitu… gimana kalau aku serius?"

 

Serius…?

 

Soal calon istri…?

 

"Kalau aku bilang aku suka Shin-chan… kamu bakal gimana?"

 

…Hah!? Dia bilang suka aku…!?

 

Ini cuma bercanda karena mabuk, kan…? Tapi katanya orang justru jujur saat mabuk…

 

Berarti ini perasaan aslinya…?

 

"Ah~ mungkin aku bikin kamu makin deg-degan saja ya… misalnya, lanjutkan yang kemarin…"

 

"L-lanjutkan yang kemarin…?"

 

"Heeh~ masa sudah lupa?"

 

"Ah, bukan… maksudku…"

 

"Kalau begitu, aku bantu ingatkan. Nih, hadap ke sini…?"

 

"Eh!? Tunggu—"

 

"Shin-chan… aku menyukaimu…"

 

────── cup…

 

(Hah…!?)

 

Sentuhan lembut di bibir. Napas hangat. Aroma manis yang memikat…

 

"Haa…"

 

"Tunggu!! Eeeeeeh!?"

 

"Hah… kenapa ya… kok tiba-tiba pusing~"

 

Dengan suara bruk, Momo-nee menjatuhkan diri ke sofa dan berbaring.

 

(Hah!? Gawat… yang tadi itu benar-benar ciuman… jelas ciuman… A-aku… akhirnya ciuman… aku… aku!!)




Tapi ini jelas bukan saatnya melakukan hal-hal seperti itu.

 

"Mo—Momo-nee…! Kamu nggak apa-apa!? Masih hidup kan!!"

 

Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk memastikan dia baik-baik saja.

 

"Unya…… munya…"

 

…Sepertinya dia tertidur karena mabuk.

 

"S-seriusan…"

 

Tak ada pilihan lain, aku pun menggendong Momo-nee yang tertidur dan membawanya kembali ke kamar.

 

(…Tapi tadi itu ciuman. Sial… jangan-jangan itu cuma gara-gara mabuk doang!? Jadi cuma aku yang deg-degan setengah mati…? Haa… punggungnya hangat banget…)

 

Begitu sampai kamar, aku membaringkan Momo-nee dengan hati-hati di futon.

 

Di sampingnya, posisi tidur Miu sama sekali tidak berubah sejak dulu—benar-benar berantakan.

 

Kakinya terbuka lebar saat tidur, sampai yukatanya tersingkap dan jadi pemandangan yang bikin salah tingkah… tapi sekarang aku bahkan nggak punya ruang di kepala buat mikirin itu.

 

(Ah… sensasi ciuman tadi masih terasa di bibirku… mana mungkin aku bisa tidur begini! Sial!)

 

Sambil menatap dua orang yang tertidur pulas tanpa tahu perasaanku, aku akhirnya menyambut pagi tanpa tidur sama sekali.

 

──── Keesokan paginya.

 

"Hmmmmm! Tidurnya enak banget! Selamat pagi~♩ Semua bangun pagi~!!"

 

"Apaan sih Miu… pagi-pagi kok sudah se-energik itu…"

 

"Kenapa ya~? Kenapa ya~? Mungkin karena aku tidur nyenyak sembilan jam penuh♩ Ahaha!"

 

(Penuh semangat banget… aku nggak sanggup ngikutin. Orang aku hampir nggak tidur sama sekali…)

 

"Onee-chan~? Bangun~! Ayoo~"

 

"Hmm… sudah pagi…? Funyaa… selamat pagi…"

 

Momo-nee bangun sambil mengusap mata dengan wajah mengantuk.

 

(A-apa dia ingat kejadian semalam…? Kok rasanya jadi canggung tiba-tiba…)

 

"Hei~ kalian berdua lama banget sih siapnya~! Aku sudah laper banget! Aku ke tempat makan duluan ya! Soalnya sarapan prasmanan~♩ Fufuun♩"

 

Batan!

 

"Mm… Miu memang selalu penuh energi ya."

 

"Dari dulu memang begitu… ributnya kayak badai…"

 

"Ah, Shin-chan… ngomong-ngomong soal semalam—kayaknya aku kebanyakan minum deh… hehe♡"

 

Dengan wajah seolah berkata aku sudah lupa, Momo-nee menjulurkan lidahnya sambil tersenyum.

 

"Oh… soal kamu mencium aku kemarin?"

 

Ya sudah kuduga.

 

Merasa itu tidak adil, aku membalas dengan nada sedikit jahil.

 

Ciuman mendadak itu memang tak terlupakan, tapi yang paling mengganjal adalah kata suka yang dia ucapkan saat itu.

 

Apa itu juga cuma efek mabuk? Atau… perasaannya yang sebenarnya?

 

"Ah, e-eh, iya… Miu sudah menunggu, jadi ayo kita cepat ke sana."

 

Dengan wajah sedikit canggung, Momo-nee keluar kamar lebih dulu.

 

Walaupun dia bilang lupa karena mabuk, entah kenapa aku merasa… dia mengingat semuanya dengan jelas.

 

◆◇◆

 

Sambil setengah mengantuk kami menyelesaikan sarapan, lalu mulai bersiap pulang.

 

Karena cuma menginap semalam, tanpa terasa perjalanan onsen ini pun sudah berakhir.

 

"Uwaa~ harus berpisah sama onsen di kamar ini~! Harusnya aku mandi sekali lagi!"

 

"Nanti kita ke sini lagi ya, Miu-chan♩"

 

Sambil menarik Miu yang masih berat meninggalkan tempat itu, kami menuju lobi.

 

"Aku urus check-out dulu ya. Kalian tunggu santai saja."

 

"Oke! Makasih, onee-chan!"

 

"Kalau begitu kita nunggu di tempat yang nggak ganggu orang."

 

Karena area front desk cukup ramai, kami menunggu di sofa yang agak jauh.

 

"Eh, Shintarou…"

 

Miu menatapku dengan wajah sedikit cemberut sambil menarik lengan bajuku.

 

"Hm? Kenapa?"

 

"Semalam… kamu ciuman sama onee-chan, kan…?"

 

"──Hah!? Apaan tiba-tiba!"

 

"Tadi pagi sebelum sarapan, kalian kan keluar duluan? Aku balik ke kamar karena ada yang ketinggalan… terus nggak sengaja dengar pembicaraan kalian."

 

"Itu… lebih ke kecelakaan sih…"

 

"Kamu suka onee-chan?"

 

"Hah!? Kamu kenapa sih dari tadi!"

 

"Aku juga, tahu! Aku ini… sama kamu…!! S-s-s-s…"

 

"S…?"

 

"S… su… su… sushi!!"

 

"Sushi!? ────hng!"

 

Aku masih di tengah bicara. Tapi tiba-tiba… bibirku tertutup.

 

Oleh bibir Miu────!!

 

Lembut, dengan aroma manis-asam yang segar seperti jeruk… berbeda dengan Momo-nee…

 

T-tunggu!! Ini terlalu mendadak!!

 

Kepalaku benar-benar kosong, sementara Miu tersenyum—nakal, tapi juga sedikit sedih.




"Bodoh. Ciumanmu sama onee-chan, aku timpa pakai punyaku."

 

"A-apa-apaan sih kamu!!"

 

Tanpa sadar jantungku sempat berdebar… Tidak. Nggak mungkin. Sama sekali nggak mungkin.

 

Saat itu juga Momo-nee kembali, kelihatannya sama sekali tidak tahu apa-apa.

 

"Eh? Kalian kenapa mukanya begitu?"

 

"Hm~? Nggak apa-apa kok. Ayo jalan~"

 

Miu merangkul lengan Momo-nee dan pergi begitu saja.

 

Aku pun tertinggal──terpaku di tempat.

 

(T-tunggu tunggu tunggu!! Ditimpa!? Miu… jangan-jangan dia… aku!? Nggak, nggak mungkin!! Terus itu apa!? Kalau dipikir-pikir… dari kecil dia memang selalu merebut apa pun yang jadi milik Momo-nee. Jangan-jangan cuma itu alasannya!? Cuma karena cemburu ke Kakaknya, dia mencium aku!? Apa sih maksudnya ini semua!! Aaargh!! Aku sama sekali nggak ngerti!!)

 

"Sialaaaaaan!!"

 

"Hey, kamu lama banget~! Nanti ditinggal lho~!"

 

"Fufu♡ Santai saja, Shin-chan. Kami nggak akan ke mana-mana kok♡"

 

Kedua saudari itu menoleh ke arahku.

 

"T-tunggu aku, kalian berdua~!"




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close